A Thousand Paper Cranes | Chapter 7

Image

Title: A Thousand Paper Cranes

Parts: Chapter 1/Prologue | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

Author: Vanana

Genre: Romance, Drama

Length: Chaptered

Main Casts: Oh Sehun, Ahn Hayeon (OC/You), Kim Jongin

Note: Hooooi ini udah lama banget sejak terakhir kali aku update ff ini. Soalnya kemarin-kemarin sibuk UN. Maklum, kelas 3 SMA. Doain hasilnya memuaskan ya dan masuk di PTN yang diinginkan (maaf curhat tapi mohon doanya hihi). Aku takutnya kalian udah mulai bosen sama ff ini dan jadi males baca. Tapi semoga ngga bosen deh ya. Enzoyyy

**

Yang pertama kulihat ketika aku terbangun di kamarku adalah seorang suster. Sepertinya, ia sudah lama menungguku. Aku tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Yang terakhir kutahu adalah aku terjatuh di depan kamar Sehun.

 “Apa yang terjadi pada Sehun?” tanyaku pada suster itu, tanpa basa-basi.

 “Seharusnya kau menanyakan bagaimana keadaanmu,” katanya. Dia tidak terlihat senang.

 “Bagaimana keadaanku dan keadaan Sehun?” aku bertanya lagi, mengharapkan jawaban yang terbaik darinya.

Suster itu menghela nafas, “kau hanya terlalu lelah. Lain kali, jangan lupa minum obatmu.”

 “Bagaimana bisa aku terlalu lelah? Aku diam di kamar seharian, tidak melakukan apa-apa,” kataku, membantah si suster, “kau belum menjawab pertanyaanku tentang Sehun.”

 “Kau berpikir tentang banyak hal dan pikiranmu lelah,” katanya sambil berjalan menuju pintu. Sebelum dia membuka pintunya, ia menjawab pertanyaanku, “oh, dan Sehun, maksudmu anak di kamar sebelah itu kan? Dia baru saja bangun tadi.”

Aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Bangun? Setelah sekian lama, dia terbangun? Ini adalah hal yang paling kutunggu-tunggu selama ini. Namun, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Jika dia bangun, apakah itu berarti dia akan pulang? Jika dia pulang, siapa yang akan menjadi temanku? Di rumah sakit ini ada banyak orang yang membantuku dan selalu baik padaku. Tapi mereka hanyalah bintang. Sedangkan Sehun, dia adalah matahari bagiku.

Dengan membawa kotak yang berisi burung kertas, aku pergi ke kamar Sehun. Aku kira, keluarganya akan berkumpul disana, merayakan kembalinya Sehun. Tetapi ternyata tidak, ruangannya sepi, seperti biasanya. Tanpa mengetuk pintunya, aku masuk ke kamar Sehun. Betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang anak laki-laki seumuranku dengan rambut yang begitu hitam, dengan bibir yang begitu merah, dan bola mata yang begitu coklat, yang sedang bersandar di tempat tidur. Dia adalah Sehun, seseorang yang selama ini aku tunggu hanya untuk sekedar melihat matanya terbuka dan mendengar suaranya.

 “Sehun,” aku menyapanya dengan senyum di wajahku. Ketika ia tertidur, rasanya semua yang kukatakan padanya adalah sebuah pujian. Sedangkan sekarang, ketika ia bisa mendengar apa yang kukatakan, aku hanya bisa menyebutkan namanya. Itupun, aku melakukannya dengan susah payah.

Dia menatapku. Tatapannya seperti orang kebingungan.  Ah, aku baru menyadari sesuatu. Dia tidak mengenalku. Selama ini aku bicara dan menunggunya seakan-akan kami saling mengenal. Tetapi aku tidak pernah berpikir sejauh ini; bahwa ketika ia bangun, ia tidak akan mengenaliku.

Sehun hanya menatapku tanpa mengatakan apa-apa. Dia terlihat kaget, seperti baru saja melihat hantu. Apakah aku membuatnya takut?

 “Maaf,” dengan perasaan malu, aku menutup pintu kamarnya dan keluar dari sana. Kecewa rasanya, ketika ia tidak mengenaliku. Ekspektasiku selama ini salah. Dalam bayanganku, Sehun akan berteman baik denganku dan kami akan banyak menghabiskan waktu bersama. Tetapi ternyata ia bahkan tidak tahu siapa aku. Semuanya begitu bertolak belakang.

Begitu aku keluar dari kamarnya, seseorang tidak sengaja menabrakku sehingga burung kertas yang tersimpan dalam kotak yang sedang kubawa terjatuh kemana-mana. Tidak lain dan tidak bukan, orang itu adalah Kahi. Dia pasti hendak mengecek keadaan Sehun.

 “Hayeon?” Sepertinya Kahi terkejut ketika ia melihatku keluar dari kamar Sehun.

 “Aku hanya ingin melihatnya,” kataku pada Kahi.

Tanpa membantuku membereskan burung kertas yang berserakan di lantai, Kahi langsung masuk ke kamar Sehun. Aku terpaksa membereskannya sendiri dan jujur saja, aku terlihat seperti orang bodoh ketika memunguti burung kertas yang kulipat untuk orang yang tidak mengenalku.

Setelah membereskannya, aku segera pergi menuju kamarku. Jika saja ia mengenalku, ada banyak sekali hal yang ingin aku tanyakan padanya. Banyak sekali, hingga ia tak akan sanggup menjawabnya satu per satu.

Di dalam kamarku, rasanya aku ingin menangis. Sehun pasti akan segera pulang. Dan aku takut aku tidak akan bisa lagi bertemu dengannya. Aku takut kami tidak akan berbicara lagi sebelum dia pulang.

Sekarang, tidak akan ada lagi burung kertas bagiku. Tidak akan ada lagi mengunjungi kamar sebelah disaat aku bosan dan kesepian. Aku hanya akan diam di kamarku, menunggu kedatangan orang tuaku dan teman-temanku.

Beberapa saat kemudian, Kahi datang ke kamarku. Tetapi kali ini, ia tidak membawa apa-apa. Tidak seperti biasanya- tidak ada obat, tidak ada jarum suntik, tidak ada peralatan kedokteran apapun. Hanya Kahi.

 “Dia baru saja bangun dari koma beberapa jam yang lalu dan belum terbiasa dengan keadaannya sekarang. Dia masih harus beradaptasi,” kata Kahi.

 “Dimana keluarganya? Mengapa ia hanya sendirian?” tanyaku pada dokter berambut panjang itu. Aku penasaran mengapa keluarganya tidak merayakan kedatangannya.

Kahi menghela nafas sebelum menjawab pertanyaanku, “mereka tidak bisa dihubungi. Aku bingung mengapa hal itu bisa terjadi. Sudah lama sekali sejak terakhir kali seseorang menjenguk Sehun, kecuali perawatnya saat ia masih kecil, yaitu Song Minhee. Aku sendiri tidak tahu siapa yang menanggung biayanya disini.”

Aku terdiam mendengar semuanya. Ia baru saja bangun dari koma, namun keluarganya tidak dapat dihubungi. Aku bisa bayangkan apa yang kurasakan jika aku menjadi Sehun. Aku pasti akan merasa sangat sedih.

 “Kahi… sebenarnya, apakah orang yang dalam keadaan koma bisa mendengar kita?” tanyaku dengan penasaran. Aku ingin tahu apakah Sehun mungkin bisa mengenali suaraku nanti.

 “Kecil kemungkinannya untuk kita mengetahui itu, Hayeon. Mungkin saja mereka bisa mendengarnya, tetapi, ketika mereka bangun, mereka tidak akan ingat apa yang terjadi selama mereka dalam keadaan koma. Aku pernah bilang padamu bahwa orang yang dalam keadaan koma juga mengalami keadaan spiritual, bisa bergerak, dan bisa mengeluarkan suara. Tetapi tetap saja, mereka dalam keadaan tidak sadar,” Kahi menjelaskan padaku dengan panjang lebar, “dan kau juga harus tahu bahwa orang yang baru bangun dari koma belum sepenuhnya stabil. Mereka bisa saja jatuh koma lagi. Orang yang baru bangun dari koma tetap harus menjalani perawatan khusus.”

 “Kapan aku bisa menemuinya?”

 “Mungkin… besok pagi?” jawab Kahi tersenyum, lalu meninggalkanku sendiri di kamarku.

***

Keesokan paginya sekitar pukul 9 aku langsung pergi ke kamar Sehun dengan membawa kardus yang berisi burung kertas. Aku sudah memikirkan apa yang akan kukatakan jika nanti ia bertanya siapa aku. Aku sudah memikirkan semuanya, supaya aku tidak perlu merasa malu dan canggung.

Aku mengetuk pintu kamarnya lalu membuka pintunya. Aku melihat Sehun disana, sedang setengah berbaring. Jendela kamarnya terbuka. Ia pasti baru kali ini lagi menghirup udara segar.

Ketika Sehun melihatku, ia langsung tersenyum dan menyapaku, “kau yang kemarin ya?”

Dengan gugupnya aku mengangguk, “iya. Aku kesini untuk mengembalikan ini.”

Aku menyerahkan kotak itu pada Sehun dan ia terlihat sangat senang, walaupun wajahnya masih pucat. Ia bilang padaku, “aku rasa, aku belum melipat sebanyak ini.”

Aku hanya tersenyum saja mendengarnya. Biarkan saja dia tidak tahu bahwa aku membantunya melipat beberapa burung kertas. Lagipula, dia juga pasti sudah lupa berapa banyak burung kertas yang sudah ia lipat.

 “Sebenarnya… kau ini siapa?” Sehun bertanya padaku dengan pandangan penasaran. Ia tidak terlihat takut padaku.

Tentu saja aku tidak akan memberitahunya bahwa selama ini aku selalu menungguinya untuk bangun. Jika aku mengatakannya, tentu saja Sehun akan merasa risih dan menganggapku seperti seorang penguntit.

 “Aku Hayeon, aku dari kamar sebelah. Waktu itu, aku menemukan kotak itu di depan kamarmu. Aku mengambilnya dan membawanya ke kamarku. Aku lupa ingin mengembalikannya dan aku baru sempat melakukannya sekarang.”

 “Aku dulu berminat menyelesaikan 1000 burung kertas, supaya permintaanku terkabul. Tapi sekarang, aku sudah lupa apa permintaanku saat itu.”

Hening. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Mulutku rasanya terkunci begitu rapat sehingga aku tidak bisa berkata-kata. Rasanya aku meleleh, melebur, menguap, mengembun, dan membeku tepat ketika ia bicara padaku. Aku ingin waktu berputar lebih lama, supaya akupun bisa lebih lama berada bersamanya. Aku tidak peduli apakah dia orang asing yang kutemui di rumah sakit atau sudah berapa lama aku mengenalnya. Yang pasti, dia adalah alasan mengapa aku diam tanpa kata disini, sekarang, saat ini. Dia membuatku kehilangan akal sehatku hanya dengan berbicara dengannya. Aku tidak yakin, apakah aku memang gila, atau dia yang membuatku gila.

 “Kenapa kau diam seperti itu?” Sehun memecah keheningan dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang membuatku kembali sadar.

Jika aku memang harus menjawab pertanyaan itu, aku akan menguraikan semuanya; aku terdiam karenamu, Sehun. Karena baru saja hari ini aku bertemu orang yang selalu kutunggu. Mendengarmu bicara dan melihatmu hidup adalah hal yang selama ini kunanti. Jika kau tahu bagaimana aku menunggumu selagi kau tertidur panjang, kau pasti tidak akan heran mengapa aku terdiam sekarang.

 “Tidak apa-apa,” aku berbohong untuk menutupi semuanya, “aku… aku harus kembali ke kamarku.”

Karena malu, aku pamit keluar. Rasanya senang sekali bisa bicara dengannya, walaupun tidak banyak. Tidak ada kata-kata yang bisa menjelaskan betapa bahagianya aku saat ini. Aku bahkan tidak tahu harus berapa kali aku bilang pada semua orang bahwa aku bahagia, bukan hanya sekedar senang.

Sayang sekali, sekarang aku tidak bisa menemuinya kapanpun aku mau, karena aku takut aku mengganggunya. Yang bisa kulakukan hanyalah menunggu untuk hari dimana aku bisa berbicara dengannya lagi. Mungkin besok, mungkin lusa, atau mungkin hari setelah lusa. Aku tidak ingin ia merasa terganggu karena keberadaanku.

Dan semuanya gagal. Aku tidak bisa melewatkan satu hari pun tanpa bertemu dengannya. Setiap pagi, aku selalu pergi ke kamarnya untuk memberikan sebuah burung kertas dan sekedar bertanya bagaimana keadaannya. Tapi, lama kelamaan kami menjadi dekat dan saling bertukar cerita.

Pada awalnya, ketika Sehun bangun, ia belum bisa berjalan. Ia masih harus menggunakan kursi roda. Aku sering mengajaknya ke taman di rumah sakit sambil melihat bunga-bunga yang ada disana. Kami akan berbicara sambil menamai bunga-bunga paling cantik yang kami lihat. Sejak hari pertama aku melihatnya, pandanganku terhadapnya tidak pernah berubah. Ia masih Sehun yang dulu; dia yang begitu berharga bagiku. Dia yang terjebak pada malam hari, yang sekarang sudah secerah pagi hari.

 Aku merasa beruntung karena bisa berada bersamanya, melihatnya memulih selagi keadaanku memburuk.

39 responses to “A Thousand Paper Cranes | Chapter 7

  1. setelah sekian lama menunggu ini ff….akhirnya nemu next-nya……waaaaa ini makin asik aja….makin seru…tpi ikut sedih sama kata” terakhir hayeon yg bilang klo keadaan dia makin memburuk….

    next-nya selalu ku tunggu…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s