THE PORTAL [ Part 15 [FINAL] : Open or Close The Portal ]

The Portal 2 finals

Title :

The Portal

 

Author : Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as Hoya’s partner

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s Girlfriend

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

 

Before Story :

L dan Howon sepertinya memiliki pandangan berbeda tentang kapan mereka seharusnya mengungkapkan identitas mereka masing-masing. Dimana di part sebelumnya kita dapat melihat bagaimana L akhirnya mengungkapkan identitasnya pada Naeun dan Howon yang justru masih betah bermain-main dengan tiga identitasnya yang padahal sudah membuatnya kesusahan.

Pengakuan yang dibuat L bukan tanpa alasan, apa lagi jika bukan karena serangan sembunyi-sembunyi Hyoyeon yang menyamar menjadi Yookyung dan nyaris membunuhnya. Merasa bahwa ia sudah tak aman lagi, ia pun merasa sudah saatnya Naeun mengetahui siapa Myungsoo yang dikenalnya selama ini. Dan tentu saja bisa kita tebak, Naeun mengalami tekanan mental yang begitu hebat setelah mengetahuinya sampai harus mendekam di rumah sakit jiwa. Keadaan tersebut akhirnya membuat pertahanan Taeyeon sebagai penyihir jahat runtuh dan membuatnya menentang anaknya sendiri. Ya, ia mulai menunjukkan sisi empatinya pada Naeun, membuat L perlahan goyah namun masih tetap pada pendiriannya.

Lain halnya dengan Howon, Hoya, atau Jiwon. Kasus keracunan yang baru-baru ini dialaminya membuatnya menemui masalah baru, masalah yang lebih besar dari keadaan fisiknya yang melemah, yakni tuduhannya terhadap Eunji yang membuat tuan putrinya itu marah besar dan akhirnya berniat menjadi antifans Hoya. Dengan segala pengorbanan untuk menebus kesalahannya, Howon kembali berulah dengan kabur dari rumah sakit hanya untuk muncul sebagai Jiwon di hadapan tuan putrinya itu. Keadaan pun semakin sulit karena Minah, yang merasa Hoya sudah menjadi miliknya mulai berniat buruk untuk menjauhkan sang artis dari Eunji.

Di sisi lain, Woohyun dan Chorong yang beruntungnya selamat dari kekacauan villa Yookyung karena kumatnya penyakit Woohyun akhirnya mengetahui segalanya, segala tentang Myungsoo, Naeun, Hoya, dan Eunji berkat buku yang ditinggalkan Yookyung. Disaat mereka masih setengah tak percaya, Sungyeol membuat mereka akhirnya menganggap ini masalah serius karena kemunculan sang cenayang itu yang hanya bisa sebentar, entah pesan apa yang dikatakan Sungyeol pada kedua makhluk dunia nyata itu, dan sebenarnya apa yang telah terjadi pada Sungyeol sehingga ia hanya bisa muncul mendadak di dunia nyata dan menghilang dalam waktu singkat?

Tindakan apa yang akan diambil Woohyun dan Chorong?

Dan di sisi lain lagi, bagaimana kelanjutan kisah Howon yang masih belum juga unjuk identitas di depan Eunji? Akankah Howon melakukan sesuatu agar Eunji tak membenci Hoya? Akankah kisah mereka berakhir ‘happy ending’ agar memberi ‘kutukan’ baik bagi Kai dan Krystal yang mulai menjalin hubungan di istana negeri Junghwa?

Selain itu, bagaimana kelanjutan hidup Naeun setelah ia merasa semuanya telah hancur dalam sekejap karena pengakuan L? bukankah ia masih punya hutang ramuan pada Sungyeol? Apa yang akan ia perbuat?

Dan..

Benarkah ia melihat pemandangan mustahil tentang L di pagi hari?

 

Part panjang ini akan menjawab semuanya. Selamat membaca!

***************

 

Selengkapnya :

Part 1 : I Hate My Life

Part 2 : Big Decision

Part 3A : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4 : Another Me

Part 5 : Over Protective?

Part 6 : Faithfulness

Part 7 : Something New

Part 8 : The Hidden Truths

Part 9 : Unpredictable

Part 10 : The Scandals

Part 11 : Reality

Part 12 : True Love

Part 13 : It’s Time to..

Part 14 : The Real Story

Author POV

 

“ Aku bersyukur karena kalian sudah membaca buku itu sebelum aku datang, jadi aku tidak perlu repot-repot menjelaskan tentang ini semua. Dan..sekarang, dengar aku baik-baik..”

Dengan suara gemetar serta peluh dingin bercucuran, lelaki jangkung dan berkacamata besar itu mencoba merangkum segala yang ingin ia sampaikan sebelum waktunya habis. Chorong, sahabat perempuannya yang khawatir memegangi tangannya, memberi ketenangan.

“ Pertama.. jangan beritahu pertemuan ini pada siapapun, jangan sampai ada yang tahu aku masih terjebak dalam keadaan hidup disana… aku..aku terjebak sendirian di tempat itu. Myungsoo.. maksudku L, dan Naeun.. mereka sudah kembali kesini, L mencuri semua ramuan portal, jadi aku tidak bisa kembali kesini. aku hanya bisa muncul sebentar atas bantuan hantu Namjoo, anak penyihir Kim Hyoyeon, dengan menggunakan mantra sekali pakai. Dia tak tahu banyak tentang sihir, kemampuannya sangat terbatas..”

“ Penyihir Hyoyeon sudah mati?”tanya Woohyun, Sungyeol menggeleng seraya mengangkat bahunya.

“ Aku tidak tahu. Dia..masih tidak sadar, Namjoo bilang ia tak mungkin mati semudah itu. Jadi.. kurasa dia sekarat.”

“ Apa hanya dia yang bisa mengembalikanmu seutuhnya kesini?”tanya Chorong, kali ini Sungyeol mengangguk.

“ Ya, hanya dia. Karena dia yang bisa membuat ramuan portal itu. Sebenarnya aku ingin sekali mencuri lagi ramuan portal yang sudah ada di tangan L, tapi waktuku sangat terbatas.. jadi, aku minta bantuan kalian.”

“ Apa yang bisa kami lakukan?”

Sungyeol mengeluarkan dua botol kecil yang sudah kosong, menunjukkannya pada Woohyun dan Chorong.

“ Aku menemukan ini di kamar villa Naeun. Kalian lihat tulisannya?” Sungyeol menunjuk tulisan tangan Naeun di pinggang kedua botol tersebut, “…ramuan penyembuh, dan ramuan penyembuh+darah penyihir=ramuan pembangkit kematian. Ramuan yang kedua adalah ramuan yang aku minta padanya sejak lama, dan ramuan ini rupanya adalah tindak lanjut dari ramuan pertama yang awalnya dibuat oleh Hyoyeon, tapi ramuan ini habis.”

“ Mungkin untuk kelinci yang kubawakan padanya waktu itu.”tebak Woohyun, Sungyeol mengangguk.

“ Untuk apa kau meminta ramuan semacam ini pada Naeun?”tanya Chorong, Sungyeol mendadak gugup.

“ Chorong-ah, kau lupa dengan seseorang yang paling berharga bagi kita? Aku ingin mengembalikan kebersamaan kita yang dulu dengannya.”

Chorong terdiam, mencoba mencerna perkataan Sungyeol berulang-ulang karena tak percaya, sementara Woohyun mendadak tak suka mendengarnya karena berbagai pikiran buruk langsung menghantuinya.

“ Maksudmu.. Myungsoo?”tanya Woohyun langsung, Sungyeol tak ragu untuk mengangguk.

“ Bagaimana kau mau memberinya ramuan semacam ini kalau mayatnya saja belum ditemu……”

“ Aku menyimpannya di gudang bawah tanah asrama putra.”

“ Apa!?” Chorong dan Woohyun terbelalak, ingin langsung memberondong sang cenayang dengan ribuan pertanyaan tetapi sadar waktu mereka sangat terbatas. Sungyeol tak menghiraukan reaksi mereka, ia melanjutkan perkataannya.

“ Aku minta tolong, cari ramuan seperti ini di tempat tinggal Naeun, aku mencoba meramal dan aku yakin dia menyimpan cadangan, tapi aku tak tahu dimana. Jika dilihat dari setetes yang masih tersisa disini, ramuan penyembuh berwarna hijau, dan ramuan pembangkit kematian berwarna merah.”

“ Tapi…..”

“ Tempat tinggal Naeun yang kumaksud, kamar asramanya..dan rumah ini. Jika kalian hanya menemukan ramuan berwarna hijau, tinggal cari cara agar kalian mendapatkan darah Naeun untuk menjadikannya ramuan pembangkit kematian.”

“ Apa menurutmu keadaan akan membaik jika Myungsoo hidup lagi?”tanya Woohyun tiba-tiba, membuat Chorong berfirasat sepertinya ia mulai mengajak Sungyeol berdebat.

“ Membaik atau tidak, yang jelas aku menginginkannya kembali.”jawab Sungyeol seadanya, membuat Woohyun tertawa sinis.

“ Kau ingin rebutan dia lagi dengan Chorong? Apa kalian pikir kalian masih bisa bersahabat seperti dulu setelah kalian berdua sama-sama menyukainya?”

“ Hentikan!” Chorong memotong, perkataan Woohyun benar-benar menyinggung perasaannya. Sementara Sungyeol mencoba menahan emosinya karena tak punya banyak waktu untuk melawan Woohyun.

“ Aku meminta hal ini pada kalian agar seandainya aku tidak bisa lagi kembali ke dunia ini, setidaknya ada Myungsoo yang bisa menemani Chorong. Aku tidak mau persahabatan kami mati begitu saja hanya karena kehadiran makhluk-makhluk negeri lain itu. Apa kau paham!?” jelas Sungyeol dengan emosi tertahan.

“ Kalau begitu aku akan menggentayangimu setiap malam setelah aku mati karena kau membuat Chorong berpaling lagi dariku. Kau tahu sendiri kan Myungsoo adalah musuhku dalam segala hal termasuk hal seperti ini!?” balas Woohyun keras, ia tak peduli Sungyeol dalam situasi darurat dan berbahaya saat ini karena ia tak mau setelah ini Chorong lebih sibuk mencari ramuan tersebut demi Myungsoo daripada menemaninya di sisa-sisa hidupnya.

“ Woohyun, kau ini bicara apa!?” Chorong protes, Woohyun menoleh kearahnya dengan tatapan sinis.

“ Jangan pura-pura tidak tahu. Aku tahu Myungsoo adalah satu-satunya lelaki yang bisa merubahmu menjadi perempuan normal.”

Chorong terdiam, ia menggeleng tanda putus asa kearah Sungyeol, sementara Sungyeol mencoba untuk tidak memperpanjang debatnya dengan Woohyun.

“ Lebih baik pikirkan cara bagaimana agar kau bisa kembali lagi kesini dengan selamat agar kau tidak butuh orang yang sudah mati untuk menemani Chorong. Jika kau masih menginginkan ramuan semacam ini, aku akan membantumu. Bukan untuk menghidupkan Myungsoo, tetapi menghidupkan Yookyung. Myungsoo pasti akan lebih senang kalau kau hidup normal.”jelas Woohyun, Sungyeol dan Chorong sedikit menunduk karena ada benarnya. Tapi adanya harapan untuk mengembalikan Myungsoo membuat mereka memikirkan hal-hal lain.

“ Kukira kau menolak hal permintaanku karena kau sendiri butuh ramuan itu untuk menyembuhkan penyakitmu.”

“ Hah, aku bersyukur jika aku bisa mendapatkannya. Tapi jika tidak, itu bukan masalah. Aku sudah siap dengan kematianku, jadi jangan anggap aku picik.” jawab Woohyun tanpa beban, setelah itu ia menoleh kearah Chorong.

“…aku hanya tak siap jika kau cepat melupakanku setelah aku mati karena Myungsoo hadir lagi dalam kehidupanmu. Bagaimanapun juga aku adalah orang yang sudah memberimu segalanya yang aku punya. Dan kali ini aku menghitungnya dengan imbalan sederhana, kau hanya tak perlu mencari ramuan itu demi Myungsoo.”

Chorong mulai menangis, Sungyeol segera memeluknya. Ia tahu Chorong menganggap Woohyun berkata seperti itu karena berharap atau tidak, Woohyun juga butuh ramuan seperti itu untuk menyembuhkan kankernya, ia tahu Chorong dilema harus memilih Woohyun atau Myungsoo seandainya ramuan cadangan itu ditemukan. Ingin membagi dua ramuan tersebut? Woohyun tentu menolak karena pada dasarnya ia tak ingin Myungsoo hidup lagi.

“ Kau tidak tahu seberapa berharganya Myungsoo bagi kami. Kau hanya merasa dirugikan olehnya, padahal dia tidak salah apa-apa.”Sungyeol masih mengotot, ia terpaksa meladeni perkataan Woohyun karena ia memang ingin Myungsoo segera hidup kembali, meski ia sendiri tak yakin apakah ia bisa bertemu lagi dengan sahabatnya yang selama ini ia ‘simpan’ di ruang bawah tanah itu, ia tak tahu apakah Hyoyeon akan melepaskannya dengan mudah nantinya.

Woohyun berpikir sejenak.

“ Baiklah, aku menghargai kepentinganmu dan kepentingan Chorong. Tapi aku juga masih mengutamakan kepentinganku. Jadi untuk keadaan kedepannya, tergantung siapa yang menemukan ramuan itu, aku atau Chorong.”

Setelah itu dengan langkah yang sudah mulai lemah Woohyun meninggalkan mereka, berjalan menuju dapur rumah mewahnya dan sepertinya memulai pencariannya terhadap ramuan tersebut. Membuat Chorong panik.

“ Sungyeol-ah, bisakah kau kembali saja kesini dan kita anggap ramuan seperti ini tidak ada?”tanya Chorong disertai isak tangisnya, “…bahkan jika nanti aku yang menemukannya, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan..”

“ Mengapa kau ragu? Kau tidak ingin uri Myungsoo kembali lagi?”

“ Aku mau.. tapi Woohyun..”

“ Ada apa dengannya? Dia hanya menghalangi jalanmu! Bukankah kau membencinya?”

“ Sekarang ceritanya sudah berbeda, aku…”

“ Chorong-ah, jangan bercanda. Tidak seharusnya kau seperti ini, kau harus ikuti saranku! Segera temukan ramuan itu dan jangan dengar Woohyun, dia…”

“ Tapi aku mencintainya…”

“ A..apa?”

Chorong mengangguk pelan, “ Sungyeol-ah, kau harus pulang segera. Aku tidak bisa……”

“ Aku hanya tidak ingin kau kehilangan kami berdua. Jika aku tidak bisa kembali, setidaknya masih ada Myungsoo..aku menyimpannya dengan harapan dia bisa kembali lagi. Dan kesempatan itu datang, kau mau melewatkannya?”

“ Tapi aku.. Sungyeol? Sungyeol-ah!?”

Chorong terkejut karena Sungyeol menghilang begitu saja setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya, waktunya sudah habis.

 

End of flashback

***

 

“ Aku kembali..”

 

Seorang lelaki bertubuh jangkung dan berkacamata besar memasuki villa tua yang sepi itu dengan hati-hati, memasuki ruangan satu demi satu untuk mencari seorang gadis yang beberapa waktu lalu memberinya kesempatan untuk mengunjungi dunia nyata dengan kemampuan seadanya.

“ Aku disini.”

Sungyeol berbalik, dilihatnya sesosok gadis bertubuh agak transparan dengan luka tusuk yang membuat ulu hatinya berlubang hingga punggung. Lelaki itu menelan salivanya kuat-kuat, berusaha meminimalisir rasa takutnya.

“ Aku yakin kau sudah menggunakan waktumu dengan baik. Maaf hanya bisa mengirimmu ke dunia nyata sebentar saja, aku tak tahu banyak tentang sihir. Aku hanya mengucapkan mantra yang kuingat.” ucap Kim Namjoo, gadis itu. Sungyeol mengangguk pelan.

“ Apa dia belum sadar?”

Namjoo menggeleng, kemudian menghilang dan muncul di sebuah ruangan tempat Hyoyeon dibaringkan. Sungyeol menyusulnya, mendekati pembaringan sang penyihir dengan kaki gemetar.

“ Beruntung kau seorang cenayang, kalau tidak.. mungkin kau tidak bisa melihatku, mungkin kau tidak tahu kalau aku yang melarangmu untuk pergi dari sini..”kata Namjoo pelan.

“ Awalnya aku mengira Hyoyeon yang menahanku.”jawab Sungyeol tak kalah pelan.

“ Ibu masih belum sadar..” Namjoo nampak sedih, membuat Sungyeol merasa bersalah.

Tetapi berita bahwa Yookyung sudah tiada membuat ia tak sudi untuk meminta maaf kendati merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Hyoyeon. Saat muncul secara gaib menemui Woohyun dan Chorong, ia menerima kabar tentang mantan kekasihnya itu sebelum ia menitipkan pesan tentang ramuan hingga berujung pada konflik baru dengan Woohyun. Sebelum ia membujuk Chorong agar mengikuti apa yang ia inginkan, waktunya tak berlangsung lama, Namjoo sudah menariknya lagi ke negeri Junghwa, karena gadis hantu itu memang tak punya kemampuan khusus dan hanya menggunakan mantra seadanya, yang sering Hyoyeon ajarkan padanya. Lagipula ia sudah tak hidup lagi, kemampuannya benar-benar terbatas.

“ Apa kau tidak berpikir dia sudah.. mati?”tanya Sungyeol hati-hati sambil mencoba merasakan denyut nadi sang penyihir yang nyaris tak ada, Namjoo menggeleng kuat-kuat.

“ Ibu tak akan mati semudah ini. dia tak terkalahkan..”

“ Tapi..dia..”

“ Aku tahu, tapi aku yakin ia sedang berjuang melawan ramuannya sendiri..” ucap Namjoo yang mulai terisak memeluk Hyoyeon meski menembus badannya, ibu angkatnya yang merupakan penyihir terhebat itu masih saja tak bergeming dan mengalami kerusakan dan luka lepuh di sebagian wajah cantiknya karena ratusan botol ramuan berbahaya yang mengguyurnya dan pecahan-pecahan botol ramuannya yang membuat kulit wajahnya tergores-gores, membuatnya kini terlihat menyeramkan.

“…kau tidak minta maaf?” dengan sedikit dongkol Namjoo menatap Sungyeol yang sejak tadi diam saja, “…kau bahkan tidak berterimakasih atas bantuanku tadi. Walaupun hanya sebentar setidaknya itu berguna bagimu, kan?”

“ Aku berterimakasih, tapi ibumu sudah membunuh mantan kekasihku, menurutmu apa aku sudi meminta maaf? Anggap saja kami impas sekarang.”jawab lelaki itu dengan sedikit berani.

“ Baik. Katakanlah kalian impas, tapi apa salahnya meminta maaf? Suatu saat jika ibuku bangun, kau butuh dia untuk membebaskanmu dari sini, kan? Ramuan portal habis dicuri oleh L.”

“ Apa dia mau melakukan itu? Membebaskanku setelah apa yang aku lakukan?”

“ Secara logika, tentu saja tidak. sekalipun dia mau, pasti kau disuruh bertanggung jawab dulu atas apa yang kau lakukan, entah dalam bentuk apa.”

“ Lalu bagaimana dengan tanggung jawabnya atas kematian Yookyung?”Sungyeol tak mau kalah karena tak ingin menjadi satu-satunya yang disalahkan.

“ Aku tidak tahu. Buat saja kesepakatan saat dia sudah sadar.” Namjoo bersiap untuk menghilang, “…aku harus kembali ke sungai.”

“ Kau tidak tinggal disini?”

Namjoo menggeleng, “ Jasadku dihanyutkan di sungai, aku harus menjaganya.”

“ Kau tega meninggalkan aku sendiri di tempat ini?”

“ Kenapa? Kurasa kau akan nyaman jika tidak melihat hantu seperti aku.”

“ Tapi…”

“ Jaga ibuku.”

Namjoo menghilang, meninggalkan Sungyeol yang mulai putus asa.

***

 

Morning, 06.00 AM

 

“One.. and two.. and three.. and four.. yeah!!”

 

Sudah dari pagi buta Minah menari didepan Hoya dengan gerakan seksi dan pakaian minim yang memang menjadi ciri khasnya, musik elektro yang keluar dari tape membahana di ruang perawatan hingga kaca-kaca jendela bergetar. Jangankan kaca jendela, tiang infus Hoya pun mulai bergeser. Ia yakin satu bangsal terganggu karena mendengar suara tapenya, namun siapa yang berani menegur artis terkenal?

“ Kau kan bisa latihan di studio..”ucap lelaki itu sedikit kesal, namun suaranya tenggelam oleh suara musik yang terlalu keras.

“ Latihan di studio lalu membiarkanmu menghilang lagi? Begitu?”

Oh, dia mendengar rupanya. Tapi jawabannya membuat Hoya semakin kesal. Tentu saja, jika ia tak ada disini sekarang mungkin Hoya bisa menjadi Jiwon lagi dan berangkat sekolah untuk menemui Hyerim. Entah, meski sudah cukup menghabiskan hari dengan Eunji kemarin, Hoya cepat sekali merindukannya. Terlebih saat ini Hoya tahu Eunji pasti sedih dengan keadaan Yeoshin sekarang, ia pasti butuh seseorang yang bisa membuatnya senang.

Minah mematikan musiknya, menghapus peluhnya dengan handuk dan duduk disamping tempat tidur lelaki itu.

“ Setiap hari aku selalu latihan dari pagi buta seperti ini, aku bekerja keras karena tanggal pementasan babak final tidak diundur walaupun kau sakit.”ucapnya membuka pembicaraan, membuat Hoya nyaris jantungan.

“ Hah!? Yang benar saja!? Kau tahu darimana!??”pekiknya agak keras, karena sebelumnya mengira pihak televisi mengundur pentas mereka setelah apa yang terjadi padanya.

“ Dari penyelenggaranya langsung, lah! Kemarin saat kau masih hilang dia datang kesini, dan sepertinya dia kesal karena kau terus-terusan membuat masalah, jadi dia memutuskan untuk tidak memberimu dispensasi. Lagipula spanduk jadwal babak finalnya sudah ada dimana-mana, tiket juga sudah terjual habis.”

Kepala sang artis mendadak pening dan jantungnnya berdebar tak karuan, kebingungan. Tentu saja, karena ini artinya ia hanya punya waktu seminggu mempersiapkan penampilannya, apalagi ia harus tiga kali tampil solo dan juga duet dengan Minah, belum lagi kolaborasi dengan dancer-dancer terkenal. Mau tak mau ia harus memforsir tenaganya pekan ini. Tapi apa ia bisa tanpa memikirkan Hyerim?

“ Ayo pulang ke hotel. Aku harus latihan.”

Hoya bangkit dari tempat tidur dan mencabut jarum infus yang masih menancap di tangannya, membuat Minah terkejut.

“ YA! Apa tidak sakit!?” ia langsung memeriksa tangan Hoya, lelaki itu menggeleng saja sambil membereskan barang-barangnya sambil meringis karena sebenarnya bekas infusnya benar-benar sakit, Minah pun ikut membantu, ia juga langsung menghubungi salah satu kru, meminta mobil untuk menjemput.

“…kau yakin baik-baik saja?”tanya gadis itu selesai ia menelpon, Hoya mengangguk saja.

Lelaki itu tak punya pilihan. Bukan karena berambisi untuk memenangkan kompetisi, ia hanya tak ingin tampil memalukan, lagipula ia ingin menebus semua masalah yang sudah membuat media kacau akhir-akhir ini. Mau tak mau ia memang harus memikirkan reputasinya sendiri di dunia ini, meski Hyerim jauh lebih penting diatas itu semua.

***

 

“ Hei brengsek, kau masih di rumah sakit jiwa? Aku sudah pulang. Tidak usah balas pesanku kalau kau sedang asyik menyiksa Yeoshin.”

L tertawa pahit membaca sms dari Hoya, berani sekali artis papan atas itu kasar padanya. Mungkin masih marah karena kata-katanya kemarin tak didengar.

Penyihir tampan itu tak ambil pusing. Sesuai pesan Hoya, ia tak membalas pesannya. Tapi apa karena ia memang sedang menyiksa Naeun?

Tapi kenyataannya, saat ini gadis itu duduk di pangkuannya meski masih dengan wajah bingung. Tentu saja, karena pagi ini L menyambutnya dengan ‘senyuman’ bahkan mengajaknya bergabung untuk menghibur para pasien rumah sakit jiwa dengan sihirnya.

“ Kau mau lihat juga apa yang aku tunjukkan pada mereka? Hahaha.. ini biasa-biasa saja, kau sudah sering melihatnya di sekolah sihir.” L kembali membuka pembicaraan.

Bukan. Bukan aksinya yang ingin Naeun lihat, tapi gadis itu ingin melihat bagaimana bisa seorang penyihir terbiadab di negeri Junghwa yang sudah membuatnya gila bisa menghibur orang lain?

“…atau kau ingin membantuku? Ah.. iya, tongkatmu kan patah. Nanti aku perbaiki.”ia melanjutkan perkataannya kemudian menyerahkan tongkat sihir miliknya, “…pakai saja punyaku, aku bisa menyihir dengan tangan kosong.”

Naeun masih tertegun memandangnya, apa L sudah gila? Atau dia sendiri yang semakin gila sehingga merasakan ini seperti benar-benar nyata?

“ L, aku..”

“ Kau mau menghibur mereka kan?” ia mengalihkan pandangannya kearah para pasien rumah sakit jiwa yang sejak tadi menatap mereka dengan wajah kagum, memelas, heran, dan lain sebagainya.

“ Apa yang harus kulakukan? Tanganku diborgol.”ucap gadis itu pelan, lagipula masih merasa aneh jika harus bermain sihir dengan orang brengsek satu ini, bisa-bisa ia mendadak menyiksa gadis itu di depan banyak orang, siapa yang tahu? Ia lelaki berbahaya.

“ Baiklah, kau ucapkan mantranya.. aku yang menggerakkan tongkatnya.”

L memeluk Naeun dari belakang, memegang tangan gadis itu untuk membantu menggerakkan tongkatnya.

“ Wah..”

Para pasien mulai takjub melihat keduanya mengangkat beberapa benda di sekitar mereka tanpa disentuh, bahkan mendatangkan bunga dan kupu-kupu. Bukan sulap, tetapi memang sihir. Meski bisa membuat para pasien yang menyaksikan menjadi semakin gila, Naeun sendiri merasa terhibur dengan apa yang ia lakukan bersama orang yang ia takutkan.

“ Apa kau sudah sarapan?”lelaki itu sedikit berbisik, Naeun menggeleng pelan.

“ Hmm.. kalau begitu, karena istriku belum makan, sampai disini dulu acara kita. Aku akan mengantar kalian ke kamar.”ucap L ramah pada para pasien yang kecewa karena hiburan mereka berakhir, “…siap kuantar ke kamar?”

Para pasien mengangguk semangat.

TIK!

L menjentikkan jarinya, dan seketika itu pula para pasien dihadapannya menghilang, kembali ke kamar mereka masing-masing, membuat wajah cantik Naeun menganga.

“ L, kau..”

“ Kajja, kita ke kamar. Aku akan mengurusmu.”

*****

 

“ Lain kali jangan kau ulang lagi. Ini benar-benar fatal. Mau ditaruh dimana wajah kami jika wartawan tahu kami adalah orangtua angkatmu?”

“ Dan..jika kau tau kau sudah berbuat kriminal seperti itu, seharusnya kau mengamankan diri, bukan keluyuran sampai malam. Jung Eunji.. entah kami yang terlalu cepat mengadopsimu jadi kami tak tahu kelakuan aslimu seperti ini, atau..”

“ Hentikan..”

Cukup, sudah cukup. Eunji muak mendengarnya. Sudah sekitar lima menit ia duduk di bangku meja makan namun tak sesuap nasi-pun bisa ditelannya, omelan perdana Tuan Doojoon dan Nyonya Gayoon sudah cukup membuatnya kenyang, dan wajah ‘sok tak tahu apa-apa’ Bomi membuatnya merasa tak akan bisa makan seharian. Bagaimana bisa ia makan dengan lahap sementara ia mendengar dan melihat saudara angkatnya dicaci-maki karena kesalahannya? Ia bahkan tak takut jika Eunji mengadukan siapa pelaku minuman beracun itu pada Tuan Doojoon dan Nyonya Gayoon, mungkin karena Bomi sudah menganggapnya berjanji menjaga rahasianya.

Sialan, Eunji menyesal berjanji pada Bomi jika tahu keadaan akan seperti ini, dimana semua dosanya dilimpahkan padanya. Seandainya mereka tahu betapa lelah dan kacaunya ia kemarin, belum selesai kemarahannya pada Hoya, ia harus menerima kenyataan bahwa sekarang L semakin berbahaya dan membuat Naeun mendekam di rumah sakit jiwa. Seandainya mereka tahu begitu banyak hal yang ia pikirkan sekarang.

Para wartawan kompak memburunya kemarin, dan dari berita televisi Tuan Doojoon dan Nyonya Gayoon mengetahuinya. Jika bukan karena Jiwon, mungkin Eunji sudah depresi mendengar banyak pertanyaan tak masuk akal para wartawan, atau mungkin meninggal karena blitz kamera mereka yang merusak mata lemahnya dari segala penjuru. Kalau ini terus berlanjut sampai hari ini, sepertinya Eunji tak akan tinggal diam dan akan mengingkari janjinya pada Bomi. Sekarang Eunji masih sedikit kasihan padanya, dan tentu saja pada kedua orangtuanya, meski mereka sudah memakinya habis-habisan dan menganggapnya sebagai anak adopsi tidak tahu terima kasih.

Sebenarnya, tadi malam Eunji bisa saja langsung pulang ke asrama dan tidak pulang ke rumah ini karena sudah tahu pasti akan dimarahi, tetapi karena semalam ia pulang bersama madame Taeyeon, ia berpikir ribuan kali untuk ke asrama bersamanya. Jujur, meski kemarin madame Taeyeon terlihat menyedihkan, Eunji tetap saja masih takut padanya.

Lantas kemana Lee Jiwon yang kemarin juga bersamanya? Lagi-lagi ia menghilang, Eunji berharap ia baik-baik saja karena Eunji meninggalkannya saat ia sedang sakit di kantin rumah sakit.

Eunji meletakkan peralatan makannya dan berdiri lalu memakai jaket dan tas sekolahnya.

“ Aku berangkat duluan. Permisi.”

Meski sudah jelas raut jengkel di wajah gadis itu, ia harus tetap menghormati keluarga angkatnya.

Dan tanpa meminta persetujuan, gadis itu pergi.

***

 

“ Tuan Muda sudah pergi ke sekolah beberapa menit yang lalu.”

“ Benarkah?”

Chorong kecewa mendengar jawaban salah satu pelayan kediaman keluarga Nam, Woohyun pergi ke sekolah tanpa membangunkannya. Apa mungkin ia yang terlalu pulas tertidur karena hampir semalaman ia bertengkar hebat dengan lelaki itu? Mata indahnya saja begitu sembab sekarang. Meski demikian, ia bersyukur karena Woohyun tak mengusirnya tadi malam bahkan masih mau berbagi tempat tidur dengannya, hal yang sudah biasa mereka lakukan bahkan disaat bertengkar seperti ini.

Setelah kepergian Sungyeol, Woohyun dan Chorong berlomba-lomba mencari ramuan yang dimaksud sang cenayang di seluruh penjuru rumah terutama di tempat-tempat yang sering Naeun kunjungi setiap pulang. Tetapi hasilnya nihil, tak satupun dari mereka menemukannya, namun pertengkaran semakin besar hingga membuat seluruh pelayan di rumah kebingungan.

“ Apa Woohyun berangkat sendiri dengan mobilnya? Apa dia sudah minum obat sebelum ke sekolah?”

Chorong masih menyimpan kekhawatiran, dan seandainya Woohyun tahu hal itu. Selama bertengkar lelaki itu hanya berpikir ia akan segera dilupakan oleh Chorong jika Myungsoo berhasil dihidupkan kembali seperti harapan Sungyeol. Ia tak tahu bahwa Chorong mulai merubah pandangan tentangnya.

“ Tuan Muda pergi dengan temannya, D.O. soal obatnya sudah diminum atau belum.. mohon maaf nona, saya tidak tahu.”

“ Bagaimana kalau dia belum meminumnya!?” Chorong mendadak khawatir, “…apalagi dia sering bandel bermain basket. Bagaimana kalau kumat..”

Gadis itupun bangkit dari tempat tidurnya dengan terburu-buru, “ Aku harus ke sekolah juga. Terlambat sedikit tidak masalah, aku akan berisik lagi jika terjadi sesuatu dengannya..”

“ Nona, tuan muda bilang jika kau butuh sesuatu kau bisa beritahu kami.”

“ Benarkah?” Chorong tersenyum sungkan, ternyata lelaki itu masih juga memperhatikannya, “…kalau begitu aku minta tolong, ambil seragam dan tas di rumahku. Pakai saja mobilku dan ikuti GPSnya.”Chorong menyerahkan kunci mobilnya yang kebetulan dari sebelum mereka berangkat ke villa sudah terparkir di garasi rumah Woohyun.

Sang pelayan menurut dan keluar dari kamarnya, Chorong segera mengambil handuk Woohyun dan bersiap untuk mandi, namun langkahnya terhenti sejenak saat melihat botol berisi seperempat cairan berwarna kehijauan di samping pintu kamar mandi Woohyun.

“ Itu..”

***

 

“ Pasti dia sudah menemukannya.”

“ Menemukan apa?”

“ Eh, tidak.”Woohyun langsung menghindari pertanyaan D.O yang sedang menyetir dan kembali berpura-pura menatap jalanan lewat jendela.

“ Tumben sekali kau ingin berangkat denganku. Ada apa lagi dengan Chorong? Bertengkar lagi?”

“ Bukankah itu sudah biasa?”

“ Tapi bukannya kalian baru pulang liburan dari villa? Kenapa pulang-pulang langsung bertengkar?”

“ Hah..” Woohyun langsung memijat keningnya, “…tidak semua orang pulang liburan dengan bahagia.”

“ Ck, kebiasaan. Oh iya lalu dimana adik angkatmu?”

“ Aku..tidak tahu. Aku pulang duluan dengan Chorong, mungkin dia dengan L.. eh, Myungsoo.. aku tidak tahu.”

“ Benar tidak tahu?”

“ Kenapa memang?”

“ Ini.. aku.. aku dengar-dengar saja dari beberapa siswa di sekolah, katanya.. katanya Naeun masuk rumah sakit jiwa.”

“ Hah!?” Woohyun sontak terlonjak hingga berujung pada tulang-tulangnya yang kembali sakit, namun ia tak peduli.

“ Kau..kau tahu darimana?”

“ Siswa-siswa itu bilang kepala sekolah yang menitipkan surat izinnya langsung ke kelas Naeun, dan katanya.. surat itu ternyata surat dokter, dokter jiwa.”

“ Kepala sekolah? Pasti ada hubungannya dengan L.”pikir Woohyun, tentu karena ia tahu kepala sekolah yang saat ini ada adalah ibu dari L, sebab di buku pemberian Hyoyeon ia sudah mengetahui semuanya.

“…tapi kenapa sampai masuk rumah sakit jiwa?” Woohyun masih heran soal itu. Ingin mencari Naeun ke rumah sakit hari ini, nyalinya masih kecil karena takut L yang sedang menjaganya disana.

“ Apa yang dipikirkan adikmu itu? Kurasa seharusnya dia hidup bahagia. Tinggal bersama keluargamu yang kaya, berpacaran dengan orang sebaik Myungsoo. Apa yang membuatnya gila?”D.O bertanya dengan polos, “…kau benar-benar tidak tahu? Ahh jinjja, kurasa adikmu itu lebih sering bersama Myungsoo.”

Woohyun mengiyakan saja daripada ia salah bicara, meski sedang bertengkar ia dan Chorong sepakat untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa apalagi membocorkan kenyataan yang baru-baru ini mereka ketahui. Alasannya klise, mereka takut dengan penyihir seperti L dan Yeoshin, terutama L yang dideskripsikan sedemikian mengerikan oleh Hyoyeon di dalam bukunya.

“…eh.. bukankah itu Eunji?”D.O tiba-tiba mengalihkan pembicaraan ketika melihat sesosok gadis berseragam SMA Junghwa berjalan di trotoar beberapa meter di depan mobilnya.

“ Hah?”Woohyun menegakkan duduknya dan melihat, “…ah, benar. Si tuan putri itu.”

“ Biarkan saja ya, dalam kamusku tak ada yang namanya memberi tumpangan pada mantan. Lagipula kau masih membencinya kan?”

“ Mwo? Ya! Andwae. Berhenti.. berhenti.. beri dia tumpangan!”

“ Kau bercanda!?” D.O sedikit terkejut, Woohyun menggeleng saja, ia memaksa sahabatnya itu untuk menghentikan mobilnya. Alasannya klise lagi, ia ingin menebus rasa bersalahnya karena pernah memperlakukan seorang tuan putri dengan tidak baik.

D.O terpaksa menghentikan mobilnya dan menekan klakson untuk memanggil Eunji. Gadis itu menoleh dan agak terkejut karena mobil yang berhenti disampingnya adalah mobil mantan kekasihnya.

“ Eunji-ssi, kajja. Ikut kami.”Woohyun menurunkan kaca mobilnya dan meminta Eunji untuk masuk, Eunji semain terkejut karena baru kali ini Woohyun ramah padanya.

“ Ng.. tidak usah, sunbae. Aku jalan kaki saja”gadis itu nampak sungkan.

“ Kalau jalan kaki kau bisa terlambat. Cepat naik.” Woohyun sampai turun sebentar dari mobilnya dan membukakan pintu belakang untuk Eunji. Dengan terpaksa gadis itu naik dengan perasaan canggung.

*

“ Seoul FM, kembali lagi bersama saya Lim Soo Min di berita pagi. Berita utama kita pada pagi hari ini adalah kabar baru tentang grand finalis Seoul Dance Competition, Hoya, yang memutuskan untuk keluar dari rawat inap dan melanjutkan latihan untuk penampilannya di babak final minggu depan setelah tiga hari yang lalu mengalami insiden keracunan oleh minuman yang dibawa oleh anti-fan kompetitornya, Minah.

“ Hah, belum sempat kucekik lehernya dia sudah keluar dari rumah sakit.”cibir Eunji setelah mendengar radio yang baru saja dinyalakan oleh D.O di mobil.

“ Kau ada urusan dengannya?”tanya Woohyun yang mendengar perkataan pelan Eunji, tentu karena ia sudah tahu tentang Hoya yang sebenarnya adalah seorang pengawal di kerajaan Eunji, dan ia membaca bahwa Eunji sama sekali belum tahu akan hal itu.

“ Eh?”Eunji agak gugup menjawabnya karena ia malu jika harus menjelaskan tentang tuduhan media padanya akhir-akhir ini.

“ Kami pernah bertemu sebelumnya.”D.O yang menjawab pertanyaan Woohyun, “…disitu Eunji tahu hubunganku dengan Minah. Kukira hanya sampai situ, tapi setelah mendengar banyak berita kurasa Eunji tak mau kalah dariku untuk ikut menjalin hubungan dengan artis. Benar begitu?” kali ini D.O menatap Eunji lewat kaca spion dalam, membuat gadis itu kesal.

“ Tidak mau kalah apa? Aku dan Hoya tidak sedekat yang kau kira, wajahnya saja aku tak pernah lihat, lagipula dia yang mengajakku berkenalan.”jawab Eunji singkat dan ketus.

“ Lalu motivasi apa yang membuatmu sampai meracuninya? Maksudku.. meracuni Minah. Kau cemburu dengan hubungan kami? Kau masih menyukaiku?”

“ Ish..” Eunji memutar bola matanya, sementara Woohyun geleng-geleng kepala karena D.O terlalu blak-blakan.

“…bukan aku yang meracuninya! Media salah paham.”jawab Eunji tegas kemudian mencoba mengalihkan pandangannya ke jendela mobil karena D.O menertawainya dari spion dalam.

“ Tapi semua orang membicarakanmu. Maksudku, warga sekolah. Kemarin wartawan datang ke sekolah untuk mencarimu, tapi kau tidak ada. kau kemana? Kabur?”

Woohyun langsung menatap Eunji yang buru-buru menggeleng.

“ Aku tidak kabur! Aku ditugaskan kepala sekolah mencari temanku Jiwon karena dia sudah berhari-hari dia tidak masuk sekolah.”

“ Baiklah, anggap saja kau memang mencari Jiwon. Lalu kenapa tidak pulang ke asrama?”

“ Ya! Sekarang kau yang terkesan seperti wartawan.”tegur Woohyun pada D.O karena ia merasa kasihan melihat Eunji yang terkesan sedang diinterogasi.

“ Aku hanya ingin tahu cerita yang sebenarnya. Masalahnya di sekolah Eunji sudah jadi pembicaraan banyak siswa, mereka sudah menuduh macam-macam.”

“ Tidak usah didengarkan kalau tidak benar. Beres kan?”pesan Woohyun, Eunji mengangguk saja meski perkataan D.O langsung membuatnya takut masuk sekolah.

“ Katakan itu juga pada Naeun kalau besok dia masuk sekolah, dia juga sudah mulai dibicarakan warga sekolah.”kata D.O lagi, membuat Eunji heran.

“ Naeun? Kenapa dia ikut-ikutan dibicarakan!?”

“ Baru tadi pagi sih, gara-gara kepala sekolah yang menitipkan surat izinnya langsung ke kelas Naeun, dan surat itu ternyata surat dokter, dokter jiwa.”

“ Hah? Ish! Taeyeon.. kenapa dia ceroboh sekali, kenapa suratnya tidak diganti dengan surat izin biasa dulu!?”batin Eunji, ia mendadak gusar karena kasihan jika banyak yang tahu Naeun berada di rumah sakit jiwa sekarang. Gadis itupun mengeluarkan kertas dan pulpen dari tasnya, kemudian menulis surat izin baru untuk Naeun, sesampai di sekolah ia harus cepat-cepat menukarnya sebelum lebih banyak lagi yang tahu keberadaan Naeun sekarang.

Woohyun menatap sang Tuan Putri yang kini sibuk menulis, merasa kagum karena Eunji tidak begitu peduli dengan masalahnya sendiri dan justru lebih memikirkan Naeun. Benar-benar setia kawan, Woohyun jadi paham mengapa Chorong sempat menyukai Eunji.

*

“ Hyerim?”

Hoya semakin mendekat bahkan hampir menempelkan wajah tampannya ke kaca mobilnya, mencoba menatap lekat-lekat sosok seorang gadis yang berada di dalam mobil yang berhenti tepat di sebelah mobilnya karena lampu merah.

“ Siapa?”tanya Minah yang duduk di sebelahnya, Hoya tak menjawab karena sibuk dan tak berkedip menatap wajah Eunji yang begitu muram pagi ini. Minah yang melihatnya mulai merasa bad mood, apalagi setelah ia melihat siapa yang memegang kemudi mobil yang ditumpangi Eunji. D.O, mantan kekasihnya.

“ Kacamata hitamku mana?” tiba-tiba Hoya mengulurkan tangannya dan meminta kacamata hitamnya pada Minah.

“ Ya! Kau mau apa?! Cari masalah lagi!?”

“ Tidak. mana kacamataku!?”

Dengan terpaksa Minah mengambilkan dan memberikannya, Hoya segera memakainya dan tanpa meminta persetujuan Minah lelaki itu menurunkan kaca mobil mereka dan sedikit mengeluarkan dirinya dari sana, membuat semua orang di jalanan terkejut.

“ Hoya! Itu Hoya!!”

Eunji tersadar karena kini ia melihat artis itu ‘nangkring’ tepat di samping jendela mobilnya. D.O dan Woohyun pun ikut memperhatikannya dengan heran.

“ SELAMAT PAGI! AKU HOYA, AKU BARU SAJA KELUAR DARI RUMAH SAKIT DAN AKAN BEKERJA KERAS DEMI BABAK FINAL…! JADI TOLONG DUKUNG AKU!! KETIK SDC SPASI HOYA KIRIM KE 8040!” lelaki itu berteriak sambil melambaikan tangannya dan spontan membuat jalanan semakin ramai dan riuh meneriakkan namanya. Ia melirik kearah jendela mobil yang ada di sebelahnya, tepatnya kepada seorang gadis yang membuatnya nekat saat ini hanya demi mendapatkan perhatian.

“ Orang gila.” Eunji justru memutar bola matanya dan menunduk karena tak mau artis itu melihatnya. Woohyun yang melihatnya merasa gemas, tentu karena ia sudah tahu tentang mereka.

Minah yang tadinya terkejut dengan aksi Hoya rupanya tak mau kalah karena hal ini berhubungan dengan dukungan pemirsa, ia pun ikut keluar dari jendela dan jalanan pun semakin riuh dan padat saat ia melambaikan tangan dan melemparkan senyum manisnya pada semua orang.

“ JANGAN LUPA DUKUNG AKU JUGA!! AKU AKAN MENAMPILKAN YANG TERBAIK!!”teriaknya sembari sedikit melirik kearah pengendara mobil di samping mobilnya, D.O, si pengendara mobil hanya tersenyum tipis kearahnya.

“ Pasangan serasi!!! Kalian pasangan serasi!!!!” terdengar suara banyak orang bersahut-sahutan memuji Hoya dan Minah yang muncul tiba-tiba bersama-sama. Bahkan beberapa wartawan dan kameramen sangat sigap datang secepat kilat dan memenuhi jalanan hingga kini jalanan hampir seperti lautan manusia.

“ Pasangan serasi? Wow, menyakitkan.”D.O tertawa sinis mendengarnya, sementara Eunji yang masih menunduk dan berusaha tak peduli.

Hoya yang diam-diam masih memperhatikan gadis itu menghela nafas pasrah. Gagal sudah niatnya mencari perhatian, sepertinya Eunji malah akan semakin tidak menyukainya.

Hoya masuk lagi ke dalam mobilnya dengan tetap memperhatikan Eunji dari kaca mobilnya, hingga teringat dengan mudahnya ia mendapatkan hati Eunji saat mereka pertama kali bertemu di istana dan menjalin hubungan di hari yang sama.

 

“ Tidak. aku tidak boleh menyerah, mungkin ini waktunya untuk aku berjuang mendapatkannya. Karena saat di kerajaan, aku mendapatkan cintanya tanpa perjuangan.”

************

 

“ Wah, akhirnya dia menampakkan diri.”

“ Iya. Tidak tahu malu.”

“ Kemarin saat wartawan mencarinya ke sekolah, kemana dia pergi?”

Eunji menundukkan kepalanya sepanjang berjalan di koridor sekolah setelah menyadari begitu banyak siswa yang menggunjing dirinya saat ia baru saja tiba. D.O benar, dan meski Woohyun sudah menyarankan agar ia tidak mendengar, ia merasa tak tahan dengan pembicaraan mereka karena telinganya menolak untuk pura-pura tuli.

Ia tak peduli dan semakin mempercepat jalannya menuju kelas Naeun untuk menukar surat izin dokternya dengan surat yang sudah ia tulis. Tanpa ia sadari beberapa siswa mulai mengikutinya.

“ Kemana suratnya??” Eunji mencari-cari surat dokter yang sudah diletakkan Taeyeon di meja guru, sudah banyak siswa yang berkumpul di kelas dan menertawakannya.

“ Hei, nona Jung, kau mencari ini?” salah satu siswa di belakangnya menunjukkan surat izin Naeun sambil tertawa kearah Eunji.

“ Berikan padaku!” Eunji hendak mengambilnya namun dijauhkan.

“ Tidak perlu kau tukar, kami sudah tahu temanmu di rumah sakit jiwa sekarang. Hahahaha!!”

“ Hahahaha!!!” siswa-siswa yang lain ikut tertawa menghina, “…kenapa!? Temanmu menjadi gila karena tahu kau meracuni seorang artis? Hahaha!!”

“ Rasakan!”

“ Tapi.. kasihan Woohyun sunbae, punya adik yang gila.”

“ Lebih kasihan Myungsoo sunbae, sunbae sesempurna dia harus punya pacar yang gila!”

“ Hahaha! Lihat saja jika Son Naeun masuk sekolah nanti, bagaimana kalau kita paksa dia untuk keluar dari keluarga Nam dan putus dengan Myungsoo sunbae!?”

“ HENTIKAN!” Eunji merasa tak tahan, “…kalian boleh menghinaku kalau kalian percaya dengan berita yang kalian baca, tapi Naeun.. jangan ganggu dia apalagi mencampuri urusannya!!”

“ YA! Kalian harus sadar diri! Kau dan Naeun sama-sama memalukan!”balas semuanya, membuat Eunji tak bisa lagi membendung airmatanya. Ia kira selama ini tak satupun warga sekolah yang peduli dengannya maupun Naeun. Mungkin memang begitu sebelumnya, tapi kasus pemberian racun pada Hoya yang kebetulan membuat nama SMA Junghwa terangkat ke media karena Eunji membuat para siswa mulai menjadikannya pusat perhatian. Dan sialnya, Naeun yang merupakan sahabat Eunji ikut-ikutan jadi sasaran mereka yang selama ini iri dengan statusnya sebagai adik Woohyun dan kekasih Myungsoo.

Sepertinya hari-hari kedepan akan sangat berat bagi kedua sahabat itu di sekolah jika sudah seperti ini, dan satu-satunya hal yang Eunji khawatirkan adalah semakin rapuhnya jiwa Naeun jika tahu ia mendapat tekanan baru di sekolah.

Dan tentu saja, orang pertama yang Eunji salahkan adalah Bomi. Jika saja ia tak membuat masalah yang berhubungan dengan artis, seberat apapun masalahnya dengan Naeun, mungkin tetap tak ada yang peduli.

***

 

“ Kenapa menangis, Tuan Putri? Ada masalah?”Taeyeon agak heran melihat Eunji yang masuk ruangannya dengan airmata berlinang.

“ Ada apa memanggilku?”tanya Eunji tanpa menjawab pertanyaan Taeyeon.

“ Beritahu dulu kenapa kau menangis.”

“ Kau ceroboh.”

“ Mwo? Apa yang sudah kulakukan?”

“ Kenapa kau menaruh surat dari dokter di kelas Yeoshin?! Semua jadi tahu dia di rumah sakit jiwa sekarang!”

“ A..astaga aku lupa..!”Taeyeon menyesalinya, “…sudah kau tukar sebelum makin banyak yang tahu?”

Meski kenyataannya belum karena surat itu ditahan oleh siswa-siswa yang menghinanya barusan, Eunji memilih berbohong saja daripada Taeyeon melakukan hal-hal tak terduga pada mereka. Bagaimanapun juga sampai sekarang Eunji menganggap Taeyeon tidak jauh beda dari L.

“ Sudah..aku sudah menukarnya.”jawab Eunji, “…ng.. ada apa kau memanggilku kesini?”

“ Aku ingin memberitahumu, barusan L mengirim pesan padaku, dia bilang jangan ada yang mengganggunya dengan Naeun hari ini karena ia akan berada di rumah sakit seharian. Jika kita nekat datang, ia akan melakukan sesuatu yang tak terduga.”

“ Mwo!? Tidak, aku akan tetap datang kesana jam 10!”Eunji tak peduli.

“ Kau mau bunuh diri?!”

“ Daripada Naeun yang terbunuh oleh anakmu. Bayangkan betapa tersiksanya dia! Bahkan jika bisa aku ingin mengunjunginya sekarang juga! Mendengar anakmu ada disana membuatku tidak tenang.”

“ Tapi..”

“ Tapi apa!? Kau sendiri mengapa takut dengan ancaman L? padahal dia anakmu.”

“ Ini bukan masalah dia anakku atau bukan! kenapa? Pertama, karena dia dua kali lipat lebih hebat dariku, dan kedua.. karena selama ini ia membunuh siapapun tanpa memandang siapa orang itu baginya. Contohnya yang baru saja terjadi, Kim Hyoyeon.. Hyoyeon adalah bibinya, adik kandungku, tapi L tetap memandangnya sebagai musuh dan berbahagia atas kematiannya.”

“ A..apa katamu?”Eunji terkejut, “…Hyoyeon..mati!?”

Taeyeon mengangguk, “ L yang mengatakannya padaku.. saat di villa itu, mereka bertarung.. dan Hyoyeon mati terguyur satu rak ramuan pembunuh buatannya sendiri karena mereka bertarung di gudang ramuan, yang tadinya ingin Hyoyeon manfaatkan karena hal-hal yang berhubungan dengan ramuan adalah kelemahan L, justru menjadi bumerang baginya..”

Hanya sampai disana cerita Taeyeon dan yang diketahui Taeyeon, tentu karena L memang tidak menceritakan bahwa dibalik kejadian tersebut ada Lee Sungyeol yang tak sengaja membantunya. L memang merahasiakan hal tersebut dari siapapun agar semua orang mengakui bahwa kematian Hyoyeon adalah karena dirinya yang hebat, bukan karena cenayang itu.

“ Ini artinya sekarang anakmu yang menjadi penyihir nomor satu?”tanya Eunji lemas dan masih setengah tak percaya karena tak mungkin Hyoyeon mati semudah itu, Taeyeon mengangguk.

“ Maka itu, kau masih mau ke rumah sakit jam 10? Mengabaikan ancaman seseorang yang sudah menjadi nomor satu? Aku yang ibunya saja menganggapnya sangat berbahaya..”

“ Tapi bagaimana dengan Naeun?”

“ Naeun baik-baik saja. Berhenti membicarakanku.”

Tiba-tiba terdengar suara dari api dari perapian yang ada di ruangan Taeyeon, suara L. Rupanya sang penyihir mendengar semuanya dari jauh…

***

 

“ Apa yang kau lakukan dengan perapian itu?”

“ Oh..tidak.” L menjauh dari perapian di ruang perawatan Naeun ketika gadis itu muncul dan menegurnya, “…sudah selesai?”

Naeun mengangguk kecil dengan wajah yang masih cemas, ia baru selesai mandi. Tadinya L ingin memandikannya, tapi ia menolak karena takut L mencoba memperkosanya lagi seperti saat-saat mereka masih di negeri Junghwa. Lelaki itupun mengalah dan melakukan hal lain, menyiapkan sarapan pagi untuknya dan sekarang, mengeringkan rambutnya yang baru saja selesai dikeramas.

“ Biar rambutmu cepat kering, kau harus berjemur. Kajja, kita keluar.” L tiba-tiba menggandeng tangan istrinya itu keluar, Naeun menepisnya dengan takut.

“ Kau sedang mencoba menipuku lagi?”tanya gadis itu gemetar.

“ Kau mau duduk dan sarapan dimana? Ah.. di taman saja ya, disana banyak sinar matahari.” L tak menghiraukan perkataannya dan menariknya keluar dari ruang perawatan menuju taman rumah sakit.

***

 

“ Koreografernya belum datang, kita disuruh menunggu.”

Minah duduk didekat pintu kamar ganti Hoya di ruang latihan dan menunggu lelaki itu berganti pakaian.

“..ng..kau dengar tidak, tadi orang-orang memanggil kita pasangan serasi.”kata Minah lagi, namun Hoya menjawabnya dingin.

“ Lalu?”

“ Ng.. aku juga berpikir seperti itu.”

“ Aku tidak.”

“ YA! Kau lama sekali ganti pakaian!”teriak Minah mengalihkan pembicaraan karena malu.

Hoya tak menyahut. Gadis itupun mengambil skateboardnya di sudut ruangan.

BRAK!

Minah menggunakan benda itu untuk mendobrak pintu kamar ganti Hoya, dan mata gadis itu langsung membesar seketika.

“ YA! Apa-apaan kau!??”

“ Ada yang salah?”tanya lelaki itu dengan santainya.

“ Kau.. apa-apaan memakai seragam siswi Junghwa dan wig seperti itu!!” Minah menunjuk penampilan Hoya sekarang karena benar-benar kaget, lelaki itu tertawa.

“ Apa kau masih bisa menyebut kita pasangan serasi?”

“ K..kau apa-apaan sih!?”

“ Kau ilfeel melihatku seperti ini? kalau kau ilfeel kau tidak benar-benar menyukaiku.”

“ T..tapi..”

“ Aku ‘siswi’ di SMA Junghwa. Aku harus menyelesaikan urusanku dulu karena akan dikeluarkan. Tenang saja, ini pertama dan terakhir kalinya kau melihatku memakai wig dan seragam ini.”

“ Bagaimana bisa kau menjadi siswi……”

“ Ceritanya panjang. Aku pergi dulu! Latihan saja duluan, aku tidak akan kabur.”

Minah terdiam karena masih syok, Hoya tertawa melihat ekspresinya.

“ Aku tahu kau langsung ilfeel melihatku, itu artinya kita bukan pasangan serasi. Kau tidak benar-benar menyukaiku. Iya kan? Hahaha.”

Setelah itu Hoya mengambil sepatunya dari tas dan pergi melalui jendela, meninggalkan Minah yang masih tak bisa berkedip setelah melihat sosok ‘Jiwon’-nya.

 

“ Aku ilfeel. Tapi aku masih menyukaimu. Apa aku gila?”

*

 

“ Aku lebih mengkhawatirkan Yeoshin, aku akan ke rumah sakit sekarang. Kalau dia baik-baik saja baru aku bisa belajar dengan tenang.”

Eunji berdiri dari sofa ruangan kepala sekolah dan membuat Taeyeon hampir putus asa, wanita itupun berdiri dan menahannya.

“ Tuan Putri, aku tidak mau berurusan dengan keluarga kerajaan jika L mencelakaimu. Aku juga sama, aku mengkhawatirkan Yeoshin. Tapi aku…”

“ Kau tidak mengkhawatirkan Yeoshin, kau hanya takut pada anakmu sendiri.”potong Eunji sinis sembari menepis tangan Taeyeon untuk membiarkannya pergi, “…aku tetap kesana.”

Gadis itupun membuka pintu ruangan untuk keluar, hingga sosok seorang ‘gadis’ yang mendadak muncul di ambang pintu membuatnya terkejut. Tak hanya Eunji, Taeyeon pun terkejut melihatnya.

“ Jiwon? Sedang apa kau kesini?”

“ Aku? Ya.. kau kan bilang kalau aku akan dikeluarkan dari sekolah ini, jadi aku ingin menghadap kepala sekolah.”jawab ‘gadis’ itu salah tingkah sembari melirik penuh kode kearah Taeyeon, Taeyeon tertawa sinis.

“ Silahkan masuk, Lee Jiwon. Jung Eunji, kembali ke kelasmu. tak ada siswa yang kuperbolehkan keluar dari lingkungan sekolah hari ini.”putus Taeyeon. Eunji pasrah dan keluar dari ruangan Taeyeon.

“ YA! Ada apa dengan Hyerim? Apa dia sedang sedih? Apa itu karena aku?”tanya Jiwon langsung sesaat setelah Eunji pergi.

“ Jangan banyak tanya dan selesaikan dulu urusan sekolahmu, artis papan atas.” jawab Taeyeon sembari menunjuk sofanya agar Jiwon duduk disana.

“ Ck, baiklah.. kepala sekolah.”

***

 

“ Kau suka supnya?”

Naeun diam saja dan tetap memakan sarapannya sendiri, sup ayam dengan kuah darah yang disiapkan L untuknya. Sementara lelaki itu menyisirkan rambut istrinya dengan lembut, ia pun melanjutkan perkataannya.

“…rasanya pasti agak aneh karena itu darah penyihir. Tapi itu makanan yang bagus untuk ibu hamil, apalagi darah yang kau minum itu darah penyihir hebat.”

Naeun sontak menghentikan makannya sejenak, “ Ini..darahmu?”

L mengangguk seraya menunjukkan pergelangan tangannya yang dibalut perban, “ Agar anak kita bisa sehebat ayahnya nanti.”

“ Sehebat atau sejahat?”

“ Tidak.. sehebat ayahnya, sebaik ibunya. Kurasa itu lebih bagus.”

“ Eh?” Naeun sedikit tak percaya mendengarnya, L hanya tertawa kecil melihat ekspresi istrinya itu, hingga ia melihat di mulut kecil Naeun banyak terdapat noda darah yang sedang ia makan.

“ Ya! Kau itu sengaja atau apa?”

“ A..apa?”tanya Naeun tak mengerti.

“ Banyak sekali darahku tertinggal di sekitar mulutmu, kau kelihatan seperti habis memakan manusia.”

“ Oh ya? Ah, susah dihilangkan.. darahnya cepat sekali kering..”gadis itu agak panik setelah menyadarinya dan sulit menghilangkan noda tersebut dengan tisu.

“ Boleh aku mencicipi darahku sendiri?”L bertanya dengan mata yang terus menatap bibir Naeun, dan sebelum Naeun menjawabnya, lelaki itu sudah mendekat dan mulai ‘membersihkan’ noda-noda darah tersebut dengan bibir dan lidahnya secara bergantian di setiap inci bibir mungil istrinya itu.

“ Hentikan.”Naeun mendorongnya dan langsung menggunakan air minumnya untuk membersihkan mulutnya, ia masih takut berciuman dengan L. Lelaki itupun membiarkannya dan melakukan hal lain setelah istrinya selesai membersihkan mulutnya.

“ Nah, sudah bersih. Sekarang aku bisa meriasmu. Kau belum pakai apa-apa hari ini.”penyihir jahat itu membuat Naeun geleng-geleng kepala lagi karena tiba-tiba mendatangkan peralatan make up dengan tongkat sihirnya.

“ Tidak usah! Untuk apa aku merias diri? Lagipula apa sebenarnya tujuanmu sejak tadi………”

“ Seorang ibu yang sedang hamil harus tampil lebih cantik dan merawat diri lebih sering dari biasanya. Alasannya.. pertama, agar suaminya tidak berpaling meski badan istrinya mulai gemuk. Kedua, agar auranya tetap terpancar. Dan terakhir, agar si ibu hamil tidak kehilangan kepercayaan diri. Alasanku ingin kau merias diri bukan agar aku tidak berpaling pada siapapun, karena aku tak mungkin melakukannya, atau agar auramu terpancar, karena aku yang menyimpan auramu. Aku hanya ingin kau tetap percaya diri dan merasa bangga ketika bercermin, karena anak kita akan mempunyai ibu secantik dirimu.. lagipula dengan begitu, anak kita akan merasa bahagia dalam kandunganmu.”

Naeun tertegun mendengar penjelasan suaminya, karena terlalu memikirkan apa yang dikatakan L, ia pun tak menolak ketika lelaki itu mulai menata rambutnya dan memberi make up sederhana di wajah cantiknya.

“ Wow, seperti inikah wajah calon ibu dari anakku? Aku orang jahat yang beruntung…”

Naeun tersipu saat melihat wajahnya di cermin, L memberi pita hitam di rambutnya dan meriasnya dengan sangat sederhana namun membuatnya sadar bahwa ia memiliki wajah sangat cantik untuk ukuran penyihir. Apakah ini salah satu alasan L mengejarnya sejak dulu? Entahlah.

Namun gadis itu masih pada sikap dinginnya, segera ia turunkan kaca itu dan melihat kearah lain.

“ Wajahku memang begini sejak dulu, tidak ada yang istimewa.”ucapnya cuek. L mengiyakan saja dengan penuh pengertian, membuatnya semakin heran.

“ Oh ya, mana tongkatmu? Katanya patah, biar kuperbaiki.”rupanya si penyihir hebat yang sedang aneh ini hendak melakukan sesuatu yang lain lagi untuk menyenangkan hati istrinya.

“ Tidak usah, aku…”

“ Kau mau memperbaikinya di pasar negeri Junghwa nanti? Andwae, bahkan penyihir yang membuat tongkat saja tidak lebih hebat dariku.”L pun sedikit menarik paksa dua patahan tongkat sihir Naeun dari saku pakaian rumah sakit istrinya itu, lalu mencoba memperbaikinya dengan sihir tangan kosong, membuat Naeun tertarik untuk memperhatikannya. Gadis itupun mendekat dan meski masih ragu dengan hati-hati ia menyandarkan kepalanya di bahu L.

“ Kau yakin bisa memperbaikinya?”

“ Aku bahkan bisa memunculkan benda ini saat sudah terbakar. Kau ingat?”

Naeun menunduk, mengingat buruknya mimpi yang dikirimkan L saat itu dimana selain auranya direnggut ia juga menyaksikan tongkat sihirnya terbakar api. Mimpi itulah yang membuat niatnya bulat untuk kabur ke dunia nyata.

“ Aku mengingatnya, dan berharap mimpi semacam itu tidak lagi kualami.”ucap gadis itu pelan, membuat L tiba-tiba tertawa keji.

“ Sayangnya, kau mengalami mimpi semacam itu lagi.”

“ A..apa?”

“ Ambil.”L menjatuhkan tongkat sihir Naeun yang sudah ia perbaiki ke tanah, Naeun langsung menunduk untuk mengambilnya, namun ia kehilangan keseimbangan dan……

*

 

“ Aaaa!”

Naeun tersentak dan membuka matanya lalu kebingungan sambil memijiti kepalanya yang agak pening setelah mengalami hypnic jerk –mimpi seolah-olah hendak terjatuh yang biasanya dialami manusia-. Setelah itu terdengar tawa kecil dokter jiwa yang menanganinya.

“ Tenang, nona Son.. semua orang pernah mengalami hal seperti itu. Memangnya apa yang kau mimpikan barusan? Jatuh dari sepeda? Jatuh dari ketinggian? Atau….”

“ Aku hendak jatuh..saat mengambil tongkat sihir..”jawab Naeun dengan masih kebingungan, matanya mencari-cari sosok L.

“ Tongkat sihir?”sang dokter agak bingung mendengar jawaban pasiennya.

“ Dia memang sering memimpikan hal-hal yang berhubungan dengan sihir.” seseorang masuk ke dalam ruangan perawatan dan menjawab kebingungan dokter.

L, dengan senyum sinis menghampiri tempat tidur Naeun dan membuat gadis itu merasa kecewa saat melihat raut wajahnya, karena kebaikan L yang ia lihat sepertinya hanya terjadi dalam mimpinya barusan.

“ Benarkah? Wah, nona Son punya imajinasi yang bagus..”ucap sang dokter, L tertawa sinis dan mengangguk saja, sementara Naeun masih pucat.

“…jangan khawatir, mimpi seperti barusan itu pasti pernah dialami setiap orang. Kondisimu justru semakin membaik karena tidak lagi berteriak-teriak seperti kemarin. Kau tidur sangat lama hari ini, sepertinya jiwamu mulai tenang..”jelas dokter pada Naeun, membuat L lagi-lagi tertawa sinis secara sembunyi-sembunyi dan membuat Naeun takut.

“…hei, apa kau yang meriasnya saat dia tidur?” tanya dokter kemudian pada L saat menyadari Naeun bangun dengan riasan di rambut dan wajahnya. Naeun terkejut, ia segera menyambar kaca kecil di atas meja dekat tempat tidurnya dan melihat dirinya, setelah itu ia melihat L yang mengangguk pada sang dokter.

“…cara yang sangat bagus, sepertinya saat kau tidur kau tahu kau sedang dirias oleh kekasihmu, makanya kau bermimpi indah.. benar begitu, nona Son?”

Naeun masih diam dan L yang menjawab perkataan sang dokter.

“ Ya, aku yakin dia bermimpi indah barusan.”

“ Bagus kalau begitu. Sering-seringlah bermimpi indah agar kau sembuh dari stres.. pikirkan hal-hal yang membuatmu senang.”pesan sang dokter pada Naeun, gadis itu mengangguk saja.

“ Dokter! Dokter!”

Tiba-tiba terdengar suara ribut beberapa suster dari luar memanggil dokter bersamaan, membuat sang dokter sedikit kaget.

“ Silahkan temui mereka, aku akan mengurusnya dan segera membawanya pulang.”kata L, dokter mengangguk dan segera keluar dari ruang perawatan Naeun, meninggalkan Naeun yang sudah mulai ketakutan.

“ Dokter! Hampir semua pasien di bangsal ini berteriak-teriak saat mereka bangun tidur, mereka bilang mereka ingin melihat benda-benda yang bergerak lagi, mereka ingin melihat pertunjukan sihir lagi. Kami tidak mengerti mengapa masalah mereka semua sama..”

Terdengar suara keluhan para suster dari luar ruangan, L tersenyum licik mendengarnya, menatap Naeun yang terkejut dan bangun lalu terduduk di tempat tidurnya.

“ Mereka menyukai hiburan kita tadi pagi rupanya..”

“ Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Naeun gemetar, masih belum bisa membedakan apakah yang ia alami tadi mimpi atau kenyataan. Meski ia berfirasat itu mimpi, sebab tatapan L padanya sudah berbeda dan ia kembali merasakan takut melihat lelaki itu.

“ Bagaimana pendapatmu tentang mimpi yang kukirimkan tadi?”

“ Jadi benar itu mimpi? Dan kau..yang mengirimiku mimpi tadi..?”

“ Tentu saja aku. kau kira mimpi itu benar-benar terjadi? Cih, memangnya aku sudah gila mau bersikap baik padamu? Aku……..”

“ KELUAR! Aku membencimu!!! Keluar!!!!!”

L terkejut karena Naeun tiba-tiba nekat berteriak padanya bahkan disaat ia belum selesai mengeluarkan kata-kata kejamnya. Lelaki itu mendadak emosi dan mengeluarkan tongkatnya untuk menyakiti Naeun.

“ Berani-beraninya kau mengusirku!!” bentaknya keras dengan tongkat yang sudah mengarah ke wajah Naeun, namun tak disangka gadis turun dari tempat tidurnya dan berdiri menghadapinya.

“ Kau yang berani-beraninya!!!! Mengirimkan mimpi semacam itu padaku… membuatku menyesal seumur hidup karena sudah terbangun dari tidurku..”

“…hiks..hiks..”setelah menyelesaikan kata-katanya, Naeun menangis cukup keras, membuat L kebingungan. Ada apa dengan istrinya ini? mengapa sepertinya ia marah sekali setelah dikirimi mimpi indah barusan?

“ Yeoshin, kau kenap……”

“ Kau baru saja membawaku terbang ke awan dengan kebaikanmu itu, lalu tiba-tiba membantingku sampai ke dasar jurang dengan mengatakan bahwa itu hanya mimpi kiriman. Setan kau, L!!!”

BUK!

Setelah itu Naeun menendang L keras-keras tepat di betis penyihir jahat itu tanpa rasa takut, L terkejut karena baru kali ini Naeun berani melakukan tindakan sejauh ini padanya, sebelum ia balik menyiksa, Naeun meledakkan amarahnya lagi.

“ Dokter salah. Kondisiku tidak semakin membaik, aku semakin gila sekarang.. mimpi itu tidak membuat jiwaku tenang, mimpi itu membuatku jiwaku semakin sakit!”

L yang benar-benar tak paham dengan sikap istrinya sekarang akhirnya berbuat kasar lagi, didorongnya Naeun dinding dan ditatapnya gadis itu tajam-tajam.

“ Kau kenapa, hah!!?? Ada apa dengan mimpi yang kukirimkan itu!? Aku hanya ingin mempermainkan perasaanmu dengan mengirim mimpi it……”

PLAK!!

Naeun menamparnya, membuat emosinya semakin tersulut dan langsung hendak membalas, namun batal ketika kedua tangan Naeun kini memegangi wajah tampannya dan menatapnya dengan memelas. Sepertinya penyakit jiwa gadis itu kumat lagi.

“ Tega sekali kau mengirimkan mimpi itu padaku hanya untuk mempermainkan perasaanku..kau tidak tahu aku benar-benar terguncang!? Kau tidak tahu kalau isi mimpi itu adalah…”

Naeun memutuskan perkataannya karena tenggorokannya terasa tercekat untuk mengucapkan kelanjutannya, sedangkan L merasa penasaran.

“…isi mimpi itu adalah..adalah keinginanku sejak kita menikah..”Naeun melanjutkan perkataannya dengan gemetar, membuat L merasa heran.

“…sejak kita menikah, aku sangat putus asa karena menikahi orang jahat. Maka itu aku punya harapan besar untuk melihatmu menjadi penyihir yang baik meski itu seperti mengharapkan negeri Junghwa menjadi negeri modern, mustahil..” Naeun mencoba menahan isakan tangisnya dan melanjutkan perkataannya.

“…tapi aku terus berharap.. karena disaat kau menjadi penyihir baik kelak, saat itulah aku akan mencintaimu.. maka itu saat kau menjadi Myungsoo, aku cepat jatuh cinta padamu. Bukan karena wajahmu yang tampan, tapi kebaikan hatimu yang aku cari..”

L terdiam mendengar perkataan Naeun yang entah diucapkan gadis itu dalam keadaan waras atau tidak. jadi inikah alasan mengapa Naeun begitu marah dengan mimpi yang ia kirimkan tadi pagi? karena ia telah memberi istrinya itu harapan palsu dan kesenangan sesaat saja. Ia terkejut juga karena ini artinya satu-satunya cara untuk membuat Naeun menerima cintanya, menjadi penyihir baik, sesuatu yang sepertinya mustahil ia lakukan.

“ Tapi aku tak akan pernah menjadi seperti yang kau mau. Karena aku tidak seperti orang bodoh kebanyakan, yang merubah dirinya demi orang yang ia cintai. Aku tidak bisa seperti itu. Aku suka menjadi orang jahat. Jadi berhenti memikirkan mimpi tadi, berhenti juga memikirkan saat-saat aku menjadi Myungsoo.”

Airmata Naeun mengalir sesaat setelah mendengar perkataan lelaki itu. Entah ini sudah tangisan yang keberapa ribu kalinya untuk L. gadis itu saja sampai bosan mengeluarkan airmatanya yang sudah hampir habis itu.

“ Kalau kau begini terus, aku terus merasa takut. Bagaimana jika anak kita nanti bertanya mengapa ibunya sangat takut pada ayahnya? Bagaimana jika anak kita terlahir jahat dan ikut menyiksaku sepertimu? Padahal aku yang mengandungnya dengan susah payah..”

“ Ia memang harus terlahir jahat karena aku akan memanjakannya. Tapi jika dia mengikutimu, masa depannya akan suram.”

“ Jika dia mengikutiku, aku yang menentukan masa depannya. Bukan kau, penyihir bengis. Silahkan menjadi jahat, tapi jangan ajak anak yang akan kulahirkan dengan susah payah.”

L tak mau mendengarnya lagi karena setiap perkataan Naeun kini terus terbayang di kepalanya, ia pun menarik tubuh Naeun dan membanting gadis itu ke tempat tidur lalu mengeluarkan ponselnya, melempar benda itu kearah istrinya yang baru saja berbaring hingga menyakiti bahu kiri gadis itu. Perlakuan kasar yang ia anggap biasa.

“ Telepon saja Taeyeon untuk menjemputmu dengan itu, aku tidak bisa membawamu pulang.” L pun keluar dari ruang perawatan Naeun, meninggalkan gadis itu menangis sendirian karenanya.

Namun lelaki itu berhenti sejenak di depan jendela, mencoba melihat kondisi Naeun sekali lagi. Dilihatnya gadis itu tersenyum getir sembari mengelus perutnya, mencoba berbicara dengan janinnya.

“ Kau tahu siapa yang menyiksa ibumu barusan? Ya.. dia ayahmu. Menurutmu apakah dia kejam? Atau kau justru ingin mengikuti jejaknya?”

“…ayahmu yang tampan sangat terkenal di negeri kita. Tangannya berlumuran darah alias senang menghilangkan nyawa orang lain, dia sudah sering membuat kekacauan dimana-mana, dan dia punya cara yang unik dalam hal mencintai.. dia menyiksa orang yang dicintainya sebagai tanda rasa cintanya.. dan ibumu yang lemah inilah korbannya..”

Naeun berhenti bercerita dan menghapus airmatanya.

“ Ups. Maaf sayang.. kau masih kecil, kau masih belum pantas mendengar cerita tentang kehidupan ayah dan ibumu yang terlalu pahit. Yang jelas cukup ibumu saja yang menerima perlakuan seperti ini. Kau tidak boleh.. kau harus tumbuh dengan kasih sayang..”

 

L bergegas dari depan jendela sebelum airmatanya ikut turun.

***

 

“ Jadi kau benar-benar sudah keluar dari sekolah ini? YA! Kau tidak bisa sedikit merayu kepala sekolah? Kenapa kau pasrah saja dikeluarkan dari sini!?”

Jiwon tersenyum saat mendengar celotehan Eunji yang tak ingin ia keluar dari sekolah, ia memang baru saja selesai dengan urusannya di ruangan kepala sekolah dan resmi keluar dari SMA Junghwa karena jumlah absennya yang tak terhitung. Sebelum kembali ke hotel, Jiwon menyempatkan diri untuk menemani Eunji makan di kantin sekolah untuk yang terakhir kalinya. Ia juga masih ingin memandangi wajah tuan putrinya itu lebih lama sebelum nantinya ia tak akan bertemu lagi dengan gadis itu karena harus disibukkan dengan latihan untuk babak final kompetisinya.

“ Tidak apa-apa, sepertinya aku memang harus bekerja dulu daripada sekolah. Aku bisa ikut kursus apa saja kok nanti.”jawab Jiwon.

“ Tapi ini artinya kita tidak bisa bertemu lagi dong. Yah.. padahal kau salah satu teman terbaikku. Aku sedang membutuhkanmu..”

“ M..mwo? sedang..membutuhkanku?”

Eunji mengangguk pelan.

“…memangnya ada apa?”

“ Pokoknya aku sedang butuh..”Eunji tak mau cepat-cepat mengadu, hingga tiba-tiba seorang siswi lewat disamping mejanya dan membalik minumannya hingga tumpah. Jiwon terkejut, sementara Eunji langsung mengambil tisu dan membersihkan roknya yang terkena tumpahan minumannya tanpa bicara.

“ YA!!!!”Jiwon marah besar dan hampir memukul siswi tersebut.

“ Kau jangan ikut-ikutan! Aku ini fans beratnya Hoya dan aku tidak terima dia meracuni idolaku!”teriak si siswi itu, membuat Jiwon langsung menurunkan tangannya karena ia merasa tak tahu diri jika harus menghajar penggemarnya sendiri, yang mungkin sudah buang-buang pulsa untuk mengiriminya sms dukungan setiap minggu.

“ Dia tidak melakukannya.”

“ Kau tahu darimana!? Jangan sok tahu!”

Jiwon merasa gemas dan ingin sekali melepas wignya dan menghapus make-upnya saat itu juga agar semua tahu, tapi ia menahan diri.

“ Pokoknya bukan dia yang melakukannya. Kau tidak boleh seperti ini, Hoya tidak akan suka jika penggemarnya berbuat kasar.”

“ Terserah kau lah. Huuu..” siswi itupun pergi setelah sedikit mendorong bahu Eunji. Gadis itu diam saja. Sementara Jiwon merasa begitu bersalah karena Eunji seperti ini karena dirinya.

“ Eunji! Kau tidak apa-apa!?”tiba-tiba Bomi datang dan mencoba membantu membersihkan rok Eunji.

“ Tidak apa-apa.”jawab Eunji dingin sembari berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Bomi dan Jiwon. Bomi kelihatan sedih karena yakin Eunji pasti sangat marah padanya, membuat Jiwon tak tega memarahinya.

“ Eunji!!” panggil Jiwon sambil mengejar gadis itu dengan berlari kecil, Eunji berbalik dengan wajah yang sudah sembab.

“ Ada apa? Ngobrol saja dengan Bomi. Semoga kita bisa bertemu lagi. Aku memang membutuhkanmu, tapi kau kan sudah terlanjur keluar..”kata Eunji sambil sedikit menepuk bahu Jiwon, membuat Jiwon merasa agak sedih.

“ Kita pasti bertemu lagi di lain kesempatan.”

“ Ya, kalau ada..”Eunji pun berlalu.

“ Ada! ada kesempatan..”Jiwon menahannya lagi.

“ Kapan? Dimana?”

“ Minggu depan, Seoul Dance Competition. Kau.. bisa menonton live?

“ Hahaha, kau lupa aku merobek tiketnya didepanmu dan membuangnya ke tengah jalan kemarin?”Eunji tertawa.

“ Oh iya!” Jiwon baru ingat, benar-benar baru ingat. Ia sadar betapa marahnya Eunji pada Hoya sampai-sampai tiket yang dibeli sang artis mahal-mahal disobek dan dibuang ke jalan begitu saja oleh gadis itu. Yang membuat Jiwon panik, ia ingat tadi pagi Minah bilang tiket untuk pentas grand final mereka sudah terjual habis. Jadi bagaimana caranya ia mengundang Eunji dan memberi gadis itu kesempatan untuk melihatnya sebagai Howon?

“ Pokoknya kau harus datang!! Aku tidak mau tahu!” Jiwon memaksa sambil mengeluarkan saputangan dari saku kemejanya dan memberikannya pada Eunji, “…bersihkan rokmu pakai itu, nanti minggu depan di final SDC kau harus mengembalikannya padaku.”

“ Bagaimana bisa aku datang tanpa tiket? Ah sudahlah. Aku tidak ingin kesana. Bye, Jiwon. Semoga kita bisa bertemu lagi. Nonton saja final itu sendiri, aku bisa kembalikan saputanganmu lain waktu. Terimakasih ya.” Eunji menerima saputangan Jiwon kemudian berlalu karena tak ingin lama-lama melihat Bomi.

“ Hah, bagaimana caranya aku minta maaf..” Bomi terlihat lemas melihat sikap Eunji padanya. Sementara Jiwon melamun sejenak memikirkan sesuatu agar Eunji bisa melihatnya secara langsung di babak final nanti, hingga sebuah ide muncul di kepalanya saat melihat Bomi.

“ Bomi! Kau tahu kan aku sudah keluar dari sekolah ini, aku ingin ke kamar asramaku, membereskan barang-barang.”Jiwon menghampiri Bomi yang kebetulan adalah teman sekamarnya selama ini.

“ Oh iya. Yah.. aku tidur sendiri deh mulai sekarang. Ya sudah kalau mau beres-beres, ini kunc……”

“ Eh, aku tidak ingin sendirian ke asrama! Ayo ikut denganku.”

“ Mwo?! Ya.. sebentar lagi bel…..”

“ Ada yang ingin kubicarakan, kau akan menyesal kalau menolak ajakanku. Kajja!” Jiwon pun menarik paksa tangan Bomi, Bomi terpaksa mengalah dan merekapun berjalan menuju asrama putri.

*

“ Sebagai teman sekamarmu selama ini, aku agak menyesal tidak tahu alasanmu tiba-tiba keluar. Memangnya kau ada masalah apa?”tanya Bomi sambil memisahkan buku-bukunya dengan buku-buku Jiwon yang ada di meja belajar kamar mereka.

“ Aku..sibuk.”jawab Jiwon yang ada di balik pintu lemari dan membereskan beberapa pakaiannya sambil menghapus make up diwajahnya dengan tisu tanpa sepengetahuan Bomi.

“ Sibuk apa memangnya? Seperti artis saja.”

Jiwon hanya tertawa, kemudian melihat Bomi yang selesai membereskan buku-bukunya dan sekarang sedang membuka laptop di meja belajar.

“ Mumpung sedang di asrama, pakai dulu wifinya untuk lihat berita…~”gumam gadis itu sambil membuka internet, “…wah! Hoya sudah keluar dari rumah sakit!”

“ Yaiyalah, kalau belum mana mungkin aku ada disini.”

“ M..mwo?” Bomi terkejut karena Jiwon menyahutinya dengan suara yang berbeda, suara yang benar-benar ia kenal.

Suara artis idolanya, Hoya.

Pelan-pelan, Bomi berdiri dan beringsut menuju lemari, menggerakkan pintu lemarinya untuk melihat Jiwon.

“ Hei, bagaimana bisa suaramu mirip sekali dengan.. AAAAAAAAAA!!!! HOYA!! HOYAAAA!!!” Bomi tiba-tiba menjerit histeris ketika melihat Jiwon yang sudah melepas wignya, kakinya melemas dan hampir saja pingsan.

“ Ssstt..! jangan sampai ada yang dengar!! Pokoknya ini rahasia! Rahasia!”Hoya langsung berdiri dan buru-buru menutup mulut Bomi, namun ia justru semakin ingin menjerit karena dipegang oleh artis idolanya itu, Hoya sampai kebingungan bagaimana ia menyampaikan pesannya untuk Eunji lewat Bomi jika Bomi seperti ini terus.

“ K..kau..kau..kau..bagaimana bisa.. jadi.. selama ini kau adalah..~” Bomi gemetaran, Hoya mengangguk cepat sambil terus mengantisipasi agar Bomi tidak menjerit lagi.

“ Ya.. ya.. benar. Kau terkejut kan? Sama. Aku juga terkejut mendengar teriakanmu, hehe.”jawab Hoya salah tingkah karena baru kali ini ia berani buka kedok bahkan didepan fans beratnya.

“ Huaaaaaa!! Jangan keluar dulu!!!! Sekolahlah disini.. jadi Jiwon juga tidak apa-apa asal tetap sekamar denganku!! Ya? Ya? Ya!?? Huaaaa Bomi bodoh!! Selama ini aku sekamar dengan Hoya tapi aku tidak sadar.. huaaaa!!!” Bomi semakin gila saja dan memeluk Hoya erat-erat sambil melompat-lompat, “…aaaaaaaaaaaaa!!! Mimpi apa aku semalam!”

“ A..aduh.. B..Bomi-ssi.. mian, aku memang harus keluar dari sekolah ini. kau kan tahu sebentar lagi aku tampil. aku harus banyak latihan.”

“ T..tapi..tapi..tapi nanti.. tapi nanti kau dan Minah..”

“ Duh.. sudah sudah.. aku tidak punya hubungan apapun dengannya. Jadi berhentilah menjadi penggemar gila. Dukung aku saja! Oke?”

Bomi mengangguk dengan masih gemetaran dan mata yang tak berkedip serta berbinar-binar, “ Ya Tuhan.. ini bukan mimpi kan!? Cubit aku..cubit aku..aaaa!”

Hoya benar-benar mencubitnya, “ Sudah. Bukan mimpi, kan?”

“ Huaaaaaaaa aku dicubit Hoya!! Aku dicubit Hoya!” Bomi malah semakin girang, Hoya geleng-geleng kepala.

“…cubit lagi! Cubit aku lagiiii!”

“ Aduh..”Hoya semakin bingung menghadapinya, “…Bomi-ssi, waktuku tidak banyak. Aku harus kembali ke tempat latihan, jadi…”

“ Katakan, cepat katakan. Kau ingin bilang kau tidak punya hubungan apapun dengan Minah! Iya kan? Selama ini hanya itu yang ingin fans dengar darimu.. kami tidak suka kau berhubungan dengan Minah, kami benci!!! Huaaaaaa…!!” Bomi menjerit-jerit lagi. Ingin menenangkannya dengan cara dirangkul apalagi dipeluk hanya akan membuat teriakan gadis itu semakin kencang.

“ Iya! Iya..! aku kan sudah bilang tadi, aku sama sekali tak punya hubungan apapun dengan Minah. Jadi tenang saja.. tapi..”

“ Tapi apa?tapi apaaaa!!!??”

“ Tapi.. Eunji.”

“ EUNJI!!??” Bomi melotot, “…j..jangan bilang..jangan bilang kau..”

“ Aku ingin dia datang ke acara final nanti, tapi tiket sudah habis. Jadi.. apa kau punya tiket untuknya? Kau sudah beli kan?”

“ I..iya.. t..tapi..tapi aku punya satu saja untukku nanti….”

“ Bomi-ssi, kau sudah bertemu denganku, sekamar denganku selama ini, dan sekarang bertatapan denganku bahkan tanpa tiket. Kau bisa menonton final di rumah, tiketmu untuk Eunji saja ya?”

“ Tidak mau!! Aku..aku..”

“ Kalau begitu aku tidak memaafkanmu soal racun itu.”

“ M..mwo!? kau..kau tahu aku yang meracunimu!?”

Hoya mengangguk, “ Hanya itu cara agar aku memaafkanmu. Tiketmu itu, untuk Eunji saja. Oke? Kalau tidak aku akan melaporkan tindakan kriminalmu ke polisi. Bagaimana? Pasti rasanya sakit kan kalau idolamu sendiri melaporkanmu ke polisi..”

Bomi benar-benar dilema, “ Tapi aku sangat ingin menonton finalmu langsung..”

“ Banyak orang disana nanti, kau hanya akan berdesakan.”

“ Kalau begitu kenapa kau meminta Eunji datang?!”

 

“ Karena dia harus bertemu denganku hari itu, harus.”

***

 

Akhirnya, setelah memberi puluhan tanda tangan dan selfie berkali-kali dengan Bomi, Hoya bisa merasa tenang karena Bomi berjanji tidak akan memberitahu siapapun bahwa Jiwon adalah Hoya, ia juga berjanji akan memberi tiket nontonnya pada Eunji. Kini sang artis bisa pulang ke hotelnya dengan perasaan lega dan tentu saja berharap Eunji mau datang nantinya.

“ Lewat sana! Disana aman..” Bomi menunjuk salah satu jalan pintas agar idolannya itu bisa langsung pergi dan tidak lewat depan sekolah.

“ Baiklah. Terimakasih, Bomi..”

“ I..iya.. kau akan menemuiku lagi kan!?”

“ Jika ada kesempatan, aku akan mengadakan fanmeeting pribadi denganmu. Bagaimana?”

Bomi mengangguk semangat dan semakin girang mendengar ucapan Hoya. Hm, sepertinya Hoya mulai mengerti istilah fan service, sebab ia mulai belajar menyenangkan hati penggemarnya, terutama penggemar sejenis Bomi.

Hoya tertawa dan mengangguk, “ Yang penting sekarang dukung aku sebanyak-banyaknya, dan tiket itu.. jangan lupa.”

Bomi mengangguk cepat kemudian melambaikan tangannya dan tersenyum lebar saat Hoya pergi, setelah itu ia kembali ke sekolah dengan wajah bahagia bukan kepalang sambil menatap foto-fotonya dengan Hoya di kamar barusan.

“ Huaaa!! Selfie.. tanda tangan, dan dijanjikan fanmeet pribadi! Aku seorang lucky fan!!”

*

“ Semoga koreagraferku belum datang..”dengan agak terburu-buru Hoya memanjat tembok besar di halaman belakang asrama putri untuk pergi, hingga ketika ia sudah ada di atas tembok dan tinggal melompat keluar, ia teringat sesuatu.

“…ah, karena sepertinya aku tidak akan menginjak sekolah ini lagi.. aku jadi ingin ke asrama putra, memeriksa ruangan penyimpanan mayat itu. Apakah mantra L agar pintu itu aman masih bekerja?”

Hoya mengurungkan niatnya untuk pulang ke hotel sejenak, ia tak jadi memanjat tembok dan justru pergi menuju jalan pintas ke asrama putra. entah mengapa perasaannya mendadak tak enak.

 

Benar saja, ketika ia tiba di asrama putra dan hampir menghampiri pintu itu, seorang gadis yang ia kenal muncul dari koridor, ia segera mundur dan bersembunyi dibalik tembok karena gadis itu menghampiri pintu tersebut dengan tangan menggenggam sebuah botol berisi cairan berwarna hijau, yang langsung menarik perhatian Hoya.

“ Chorong? Bagaimana dia tahu tentang ruangan ini? bukannya hanya Sungyeol yang tahu..”

Hoya merasa heran dan merasa ada yang tidak beres karena Chorong sepertinya sudah tahu apa yang ada di dalam ruangan tersebut, gadis itu terlihat sedang membuka kawat yang melilit di pintunya dengan susah payah, Hoya agak panik karena takut ruangan itu sudah bisa terbuka.

Dengan terburu-buru, Hoya mengeluarkan ponselnya dan menelpon L untuk melaporkan apa yang ia lihat.

**

 

Drrt..drrt..

Setelah menghubungi Taeyeon untuk meminta dijemput dari rumah sakit menggunakan ponsel L, Naeun melihat panggilan masuk dari nomor yang belum diberi nama ke nomor suaminya itu. Meski ragu, gadis itu mengangkatnya.

“ Hei brengsek, L!? kau dimana?? Bahaya ini! bahaya!”

Naeun bingung karena seseorang yang menelpon L ini langsung panik ketika ia menjawab teleponnya. Ingin bertanya, ia tak mau ketahuan kalau ia yang sedang memegang ponsel L.

“…L! aku ada di sekolah dan melihat Chorong membuka pintu ruangan tempat mayat itu sekarang. Apa menurutmu mantramu masih bekerja untuk melindungi ruangan itu?? Kalau dia berhasil membuka pintunya bagaimana!?”

Mata indah Naeun melebar mendengarnya, ia tetap diam dan berharap orang di telepon itu melanjutkan informasinya.

“…L, bagaimana bisa Chorong tahu tentang ruangan itu? Bukannya katamu Sungyeol saja yang merahasiakan ini? kurasa ada yang tidak beres. Apalagi.. kulihat Chorong membawa botol berisi cairan yang mencurigakan.”

Naeun terkejut dan langsung mengingat ramuan pemberian Yookyung yang ia tinggalkan di rumahnya. Apa Woohyun atau Chorong menemukannya? Lalu mengapa Chorong membawa ramuan itu ke ruangan tempat Haeyeon dan Myungsoo ‘disimpan’? apa Chorong atau mungkin Woohyun sudah tahu sesuatu?

Pikiran Naeun mendadak kacau namun ia berusaha tenang dan diam, siapa tahu orang di telepon ini masih punya berita untuk disampaikan.

“…hei brengsek, kenapa daritadi aku bicara kau tidak menyahut hah!”si penelepon itu agak kesal, dan Naeun belum bisa menyadari kalau itu adalah suara Howon.

“…ck, terserah kau lah. Nih.. untungnya Chorong pergi dan tak jadi membuka pintunya, mungkin mantramu masih bekerja jadi dia gagal membuka pintunya. Tapi kau harus hati-hati, L. sepertinya mantramu sudah agak lemah, pintunya sudah sedikit terbuka saat Chorong pergi. Kalau bisa kau juga sebaiknya cari tahu cairan apa yang dia pegang sekarang, kalau menurutku sih itu ramuan..”

Telepon pun terputus, Naeun langsung dilanda rasa penasaran.

“ Kenapa ramuan itu ada di tangan Chorong sunbae? Dan.. siapa laki-laki yang bicara di telepon tadi ya? Apa L punya teman di dunia ini?”

**************

 

Keesokan harinya…

06.00 AM

 

“ Kau yakin mau sekolah hari ini? kau baik-baik saja kan?” Eunji agak cemas melihat Naeun yang baru kemarin pulang dari rumah sakit sudah ingin berangkat sekolah hari ini. apalagi Eunji sudah tahu saat ini mereka sedang disorot oleh siswa-siswa yang mulai membenci mereka.

Tetapi Naeun mengangguk yakin sambil terus sibuk merias wajah dan menata rambutnya di depan cermin dan membuatnya persis dengan riasan L padanya kemarin, membuat Eunji merasa heran.

“…kau bahkan berdandan seperti ini, kau tidak terlihat stress lagi karena L.”

“ Aku menyembunyikan semua kesedihanku demi dia..” jawab Naeun sembari mengelus perutnya, “…L bilang, seorang yang sedang hamil harus lebih cantik dan lebih sering merawat dirinya agak suaminya tidak berpaling, agar auranya terpancar, agar memiliki kepercayaan diri, dan agar anaknya bahagia di dalam kandungan.”

“ Mwo? Kapan dia mengatakan hal semacam itu?”

“ Dalam mimpi.. ia mengirimiku mimpi yang saaaangat indah, dimana aku bisa melihatnya sebagai orang baik dengan nama L, bukan Myungsoo. Tapi.. tetap saja, itu mimpi. Ia hanya mempermainkan perasaanku, tapi mimpi itu sangat membekas..”

Eunji merangkul sahabatnya itu, “ Berdoalah semoga suatu saat menjadi kenyataan.”

Naeun menggeleng, “ Kau tidak ingat analogi terkenal di negeri kita? Membuat penyihir L menjadi penyihir baik sama seperti membuat negeri Junghwa menjadi negeri modern. Mustahil. Tak ada satu penyihirpun di negeri kita yang memprediksi L akan menjadi baik suatu hari nanti, semua memprediksi ia akan semakin jahat saat ia semakin hebat..”

Eunji jadi ingat akan cerita Taeyeon kemarin, dimana ia sudah tahu bahwa L ‘katanya’ sudah mengalahkan Hyoyeon dan mengakui dirinya sebagai penyihir nomor satu saat ini. tadinya ia ingin mengatakan hal penting ini pada Naeun, namun ia tak mau sahabatnya merasa semakin putus asa dan takut pada L, yang ia yakini akan berbuat semaunya lagi mulai saat ini karena merasa tak terkalahkan.

Eunji segera memeluk Naeun, memberi kekuatan pada sahabatnya itu dan memutuskan untuk merahasiakan tentang Hyoyeon dari Naeun saat ini karena tak mau sahabatnya semakin tak semangat menjalani hidup. Ia tak mau merusak niat Naeun yang mencoba merawat diri dan tak menunjukkan kesedihannya demi anak yang dikandungnya.

Naeun membalas pelukannya, “ Aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.. tapi jika aku membiarkan diriku menangis hanya karena L setiap hari, apa anakku akan bahagia di dalam sini? Aku ingin menikmati masa mengandung ini, meski setiap melihat L.. aku merasa putus asa jika harus hidup dengannya..”

“ Cepat atau lambat kau pasti akan bahagia, karena setiap orang berhak untuk itu..”

Chorong yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat pemandangan itu dalam diam, tak ingin mengganggu sebab sudah tahu bahwa dua teman sekamarnya ini adalah seorang putri raja dan seorang penyihir. Semalaman saja ia tak bisa tidur karena perasaannya tak bisa tenang, yang gadis itu pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya mengamankan ramuan yang masih ia simpan dari penglihatan Eunji apalagi Naeun, sebab ramuan tersebut seharusnya ada di tangan Naeun. Chorong juga masih dalam dilemanya saat ini, dimana ia tak tahu harus menggunakan ramuan itu untuk menyembuhkan kanker Woohyun atau untuk membangunkan Myungsoo. Jika ia memilih untuk membangunkan Myungsoo seperti niatnya kemarin, ia harus meminta darah penyihir entah darah Naeun, L, atau Taeyeon agar ramuannya berubah fungsi dari penyembuh menjadi pembangkit kematian.

Namun Chorong bisa apa sekarang? Mendekati Naeun saja takut apalagi meminta darahnya. Apa ia minta darah L atau Taeyeon? itu sama saja dengan setor nyawa.

“ Chorong sunbae? Kau sudah mau berangkat?”tanya Eunji yang melihat Chorong keluar dari kamar mandi dan sudah berseragam.

“ Ng? ya.”jawab Chorong seadanya sambil pura-pura sibuk menyiapkan buku-bukunya, ia tak mau menatap Eunji lama-lama karena takut ketidaknormalannya kambuh lagi.

“…ayo, kita berangkat dan sarapan bersama.”ajak Eunji, Chorong mengangguk saja sementara Naeun diam dan menatap kakak kelasnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan, mungkin karena ia tak sengaja tahu bahwa Chorong memegang botol ramuan dari Yookyung saat ini. Ingin sekali Naeun menanyakan hal itu karena ia yakin Chorong sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan Eunji.

“ Sunbae, kemarin saat pulang aku tidak sempat melihat Woohyun oppa. Apa dia di rumah?”tanya Naeun berbasa-basi, Chorong buru-buru menggeleng.

“ Tidak.. dia di asrama putra sekarang.”

“ Mwo? Dia tidak beristirahat?”

“ Itu yang dia inginkan.”

“ Aku jadi khawatir. Kajja, kita berangkat. Aku ingin cepat bertemu Woohyun oppa. Eh, oppa!?” Naeun yang baru saja berdiri dan membuka pintu terkejut karena Woohyun muncul disana dengan merentangkan tangannya agar Naeun memeluknya.

“…oppa! kau baik-baik saja kan?”tanya Naeun seraya memeluk tubuh lemah Woohyun yang seharusnya sudah ia beri ramuan penyembuh dari jauh-jauh hari, Woohyun hanya tertawa kecil sambil mengelus rambut adik angkatnya itu.

“ Kau juga. Darimana bersama Myungsoo sampai sekarang baru pulang?”tanya lelaki itu sengaja, padahal ia sudah tahu Naeun keluar dari rumah sakit jiwa.

“ Tidak dari mana-mana.”jawab Naeun seadanya, “…kau kesini untuk menjemput Chorong sunbae?”

Woohyun dan Chorong langsung bertatapan, setelah itu saling membuang muka. Rupanya mereka masih saja bermusuhan gara-gara ramuan itu. Eunji yang melihat tatapan benci mereka merasa heran.

“ Eunji, ayo berangkat bersama.”Chorong menggandeng tangan Eunji dan mengajak gadis itu berangkat duluan, Eunji pasrah saja dan pergi dengan Chorong setelah melambaikan tangannya pada Naeun.

“ Aku masih cemas melihat mereka berduaan seperti itu.”kata Naeun sambil terus memandangi punggung Chorong dan Eunji yang semakin menjauh.

“ Kalaupun Chorong menyukai temanmu lagi ya sudah, biar saja.”jawab Woohyun cuek karena masih saja merasa kesal.

“ Mwo? Ada apa, oppa? Kau sedang ada masalah dengannya?”

“ Bukankah itu sudah biasa bagi kami?”

“ Masalah apa lagi sekarang?”

“ Sudahlaaah.. tidak penting.”Woohyun mengalihkan pembicaraan, “…ayo berangkat. Oppa antar ke kelas, jangan L terus yang menemanimu kemana-mana.”

“ Hah? L?”

“ Ehh.. Myungsoo, maksudku Myungsoo. L siapa? Hahaha.. aku salah bicara.” Woohyun nyaris saja membongkar rahasianya bahwa ia sudah tahu semuanya.

Mendengar nama Myungsoo, Naeun jadi sedih. Mulai saat ini sepertinya akan berat menyebut nama itu karena ia sudah tahu siapa Myungsoo yang selama ini ia cintai. Bukan Kim Myungsoo, melainkan L.Kim.

Naeun terus memegangi Woohyun selama mereka berjalan bersama menuju sekolah karena khawatir dengan kondisi Woohyun yang semakin melemah, ia benar-benar ingin bertanya apakah Woohyun tahu bahwa Chorong berusaha membuka ruangan penyimpanan mayat itu kemarin? Ia berfirasat Woohyun dan Chorong sedang menyembunyikan sesuatu darinya meskipun mereka sedang bermusuhan.

“ Oppa.. apa Sungyeol sunbae juga sudah pulang dari villa?”tanya Naeun hati-hati.

“ S..Sungyeol?”Woohyun menjadi agak gugup karena Sungyeol meminta ia dan Chorong untuk tidak memberitahu dimana ia sebenarnya sekarang.

“…dia..sudah pulang, tapi langsung ada urusan pribadi, jadi tidak bisa sekolah.” jawab Woohyun seadanya yang penting masuk akal.

Naeun mengangguk percaya, kemudian berpikir.

“ Jika Sungyeol sunbae saja tidak ada di sekolah, darimana Chorong sunbae tahu tentang tempat penyimpanan mayat itu?”

“…lalu bagaimana dengan Yookyung? Dia sudah pulang ke Amerika?”tanya Naeun lagi, Woohyun mengangguk saja karena tak mungkin menyebut gadis itu adalah Kim Hyoyeon.

BUK..BUK..

Terdengar suara pantulan bola basket ketika Woohyun dan Naeun melintasi lapangan outdoor sekolah. Terlihat seorang lelaki tampan berbaju basket sedang bermain sendirian disana. Naeun menunduk saat lelaki itu melihatnya, ingin mengajak Woohyun lanjut berjalan, Woohyun malah berhenti dan mengambilkan bola Myungsoo yang kebetulan keluar lapangan.

“ Tumben sekali bermain pagi-pagi.”Woohyun berbasa-basi dengan hati-hati karena sudah tahu siapa ‘Myungsoo’ didepannya.

“ Aku dapat berita dari beberapa siswa, katanya hari ini kita kedatangan tim dari sekolah lain. sebentar lagi mereka datang, makanya aku latihan sebentar. Yang lain latihan di gedung.”jawab Myungsoo, dengan mata yang sesekali melihat kearah istrinya yang terus menunduk karena takut.

“ Benarkah? Kalau begitu aku juga harus….”Woohyun langsung mendribble bolanya dan berniat untuk latihan.

“ Ya! Sudah tidak seharusnya lagi kau bermain!”Naeun menahan kakak angkatnya itu, namun Woohyun menolak.

“ Lalu apa yang bisa kulakukan di sisa hidupku kalau bukan bersenang-senang seperti ini? Sudahlah. Aku baik-baik saja..”Woohyun tetap berjalan menuju lapangan dan memulai latihannya.

“ Aku harus beritahu Chorong sunbae.”Naeun berbalik dan pergi, tidak memperdulikan L yang sepertinya ingin bicara dengannya.

“ Son Yeoshin.”lelaki itu memanggilnya datar. Karena takut terjadi sesuatu jika ia pura-pura tidak dengar, Naeun berbalik.

“ A..apa?”

“ Kau sangat cantik hari ini. dia pasti bangga punya ibu secantik dirimu.”ucap L sambil menunjuk perut Naeun dengan agak canggung. -Sebenarnya ia tak mau melakukan ini, namun entah mengapa ia merasa senang melihat Naeun berdandan sama seperti kemarin.-

“ Terimakas…ah tidak, ambil ini!” Naeun mengeluarkan ponsel L dari saku seragamnya dan melempar benda itu, lalu pergi setelah L menangkapnya.

***

“ Hei brengsek, L!? kau dimana?? Bahaya ini! bahaya!”

“…L! aku ada di sekolah dan melihat Chorong membuka pintu ruangan tempat mayat itu sekarang. Apa menurutmu mantramu masih bekerja untuk melindungi ruangan itu?? Kalau dia berhasil membuka pintunya bagaimana!?”

“…L, bagaimana bisa Chorong tahu tentang ruangan itu? Bukannya katamu Sungyeol saja yang merahasiakan ini? kurasa ada yang tidak beres. Apalagi.. kulihat Chorong membawa botol berisi cairan yang mencurigakan.”

“…hei brengsek, kenapa daritadi aku bicara kau tidak menyahut hah!”

“…ck, terserah kau lah. Nih.. untungnya Chorong pergi dan tak jadi membuka pintunya, mungkin mantramu masih bekerja jadi dia gagal membuka pintunya. Tapi kau harus hati-hati, L. sepertinya mantramu sudah agak lemah, pintunya sudah sedikit terbuka saat Chorong pergi. Kalau bisa kau juga sebaiknya cari tahu cairan apa yang dia pegang sekarang, kalau menurutku sih itu ramuan..”

 

L selesai mendengar rekaman panggilan dari ponselnya, setelah itu menatap Naeun yang duduk di tribun lapangan bersama Eunji. Lelaki itu tersenyum tanda berterimakasih pada istrinya itu, karena tak merahasiakan telepon dari Hoya yang diterimanya kemarin dengan cara merekamnya agar L mendengarnya.

Berkat laporan dari Hoya, L jadi yakin bahwa saat ini sepertinya Chorong maupun Woohyun sudah mengetahui siapa dia yang sebenarnya. Baginya itu tak masalah, yang menjadi masalah adalah ramuan misterius yang dipegang Chorong yang ditakutkan L bisa membangunkan Kim Myungsoo, hidupnya di dunia nyata akan kacau jika Myungsoo hidup kembali.

Maka itu, matanya terus mengawasi Chorong yang nampak duduk sendirian di pojok tribun sambil memeluk tasnya, yang L yakini terdapat botol tersebut didalam sana. L sempat melihat Chorong dan Woohyun bertengkar setelah akhirnya Woohyun tetap mengotot ingin bermain basket untuk memperkuat timnya melawan sekolah lain yang akan dimulai sebentar lagi. Lapangan basket indoor sudah dipadati banyak siswa yang ingin menonton.

L berdiri dan melakukan pemanasan, namun matanya terus mengarah kepada Chorong dan mengawasi setiap pergerakan gadis itu, ia tak akan membiarkannya pergi ke ruang penyimpanan mayat itu lagi hari ini.

 

“ Oh, jadi Chorong sunbae juga bilang begitu?”

Eunji mengangguk, “ Ya. Woohyun sunbae juga bilang begitu tentang Sungyeol sunbae? Kalau begitu memang benar Sungyeol sunbae sedang ada urusan pribadi. Tapi aku masih heran dua hal dari apa yang kau ceritakan. Pertama, mengapa Chorong sunbae tahu ada ramuan semacam itu? Kedua, siapa yang menelpon L?”

Naeun menggeleng, ia menceritakan tentang telepon yang ia terima kemarin pada Eunji dan berharap Eunji membuat perkiraan, tetapi nyatanya sahabatnya itu ikut bingung.

“ Aah sudahlah, biar L yang mengatasinya. Itu kan telepon buat L.”kata Eunji enteng, “…lagipula kau sih, kalau punya ramuan seperti itu seharusnya dijaga. Jangan ditinggal di rumah.”

“ Aku menyesal.. ramuan itu aku simpan di rumah untuk menyembuhkan Woohyun oppa, tapi Chorong sunbae memegangnya dan dia bermusuhan dengan Woohyun oppa sekarang.. aku takut ramuan itu tak bisa diminum Woohyun oppa..”

“ Apa Woohyun sunbae benar-benar bisa sembuh dengan ramuan itu?”

“ Ya, aku sudah mencobanya pada kelinci yang sakit. Dan ketika aku memasukkan darahku ke ramuan itu, ramuannya beralih fungsi menjadi pembangkit kematian.”

“ Wow! Luar biasa.. kau hebat bisa menemukan ramuan itu. Dan Hyoyeon hebat menciptakan ramuan penyembuh itu.”

“ Hyoyeon!?”Naeun terkejut, Eunji buru-buru menutup mulutnya.

“ Ehh.. Hyoyeon, maksudku Yookyung. Yaa.. Yookyung.”Eunji langsung meralat karena Naeun belum boleh tahu tentang Hyoyeon sekarang, “…ng..Yookyung.. apa dia satu-satunya makhluk dunia nyata yang bisa membuat ramuan?”

“ Jujur, aku masih curiga soal itu.”

Eunji diam saja, tak bisa membayangkan jika Naeun tahu Yookyung adalah Hyoyeon dan kini dikabarkan mati setelah bertarung dengan L, Naeun pasti semakin takut dengan suaminya sendiri.

“ Sudahlah, jangan pikirkan apa-apa dulu.”

 

“ Ishh..lihat mereka berdua.”

“ Benar-benar tidak tahu malu.”

“ Yang satu pembunuh, yang satu gila. Hahaha!”

 

“ Kurasa ada lagi yang kupikirkan, Hyerim-ah.”ucap Naeun setelah mendengar banyak siswa yang duduk di tribun melihat kearahnya dan Eunji dengan sinis.

“ Apa lagi?”

“ Mereka.”Naeun menatap kearah semua orang yang sedang menggunjing mereka, “…mereka semua sudah tahu ya aku keluar dari rumah sakit jiwa?”

“ I..itu..itu..”

“ Masalahnya, tadi pagi melihat surat dokter di meja kelasku. Ya.. mereka pasti sudah tahu. Aku jadi malu.. pasti aku disebut orang gila..” Naeun hampir menangis, tapi Eunji buru-buru merangkulnya.

“ Tidak usah didengar, biarkan saja..”

“ Kau sendiri bagaimana? Begini-begini aku tahu kau dituduh meracuni artis itu. Kau pasti tertekan sekarang..semua orang menganggapmu pembunuh.. makanya.. kita berdua sama-sama dimusuhi sekarang..”

Eunji tersenyum pahit dan menjawab dengan enteng, “ Aku biarkan saja mereka, toh bukan aku pelakunya. Kau juga harus begitu, biarkan saja mereka, toh kau tidak gila, suamimu yang gila.”

Naeun mengangguk sambil tertawa kecil, “ Terimakasih, Eunji.”

“ Iya. Sudahlah.. ayo kita nonton. Kau tidak takut kan melihat suamimu yang gila itu bermain? Anggap saja dia Myungsoo.”kata Eunji santai sambil menyodorkan minuman pada Naeun, Naeun mengangguk kemudian mengelus perutnya.

“ Ayahmu yang kejam sedang bermain basket.”

*

Pertandingan sudah berjalan kurang lebih setengah jam, meski sudah terlihat lemas Woohyun tak ingin berhenti bermain karena merasa kuat sebab ia dan L yang selalu bergantian mencetak angka. Bukan hanya Naeun yang merasa gemas, tetapi juga Chorong yang sejak tadi sudah hampir kehabisan suara berteriak agar Woohyun berhenti bermain. Woohyun sedang sangat keras kepala, sepertinya ia ingin berdemonstrasi pada Chorong yang sudah bertengkar dengannya selama dua hari.

“ Nam Woohyun!! Dengar aku! dengar!! Hentikan!!!!” Chorong masih mencoba berteriak dengan suara yang semakin serak karena menangis. Semua orang mulai memperhatikan gadis itu daripada arena pertandingan. Sedangkan Woohyun sendiri tak peduli, ia tak mau menurut lagi pada Chorong jika gadis itu masih berniat menghidupkan Myungsoo dengan ramuan yang dipegangnya.

“…NAM WOOHYUN!! INI TERAKHIR KALINYA AKU MEMOHON! BERHENTI!!! KELUAR DARI LAPANGAN! BERHENTI!!!”

“ DIAM, PARK CHORONG!! BIARKAN AKU MATI DISINI!!”

Lapangan mendadak sunyi karena akhirnya Woohyun membalas teriakan Chorong dengan bentakan keras, mata semua orang kini benar-benar tertuju pada sepasang kekasih yang sedang bertengkar hebat itu.

“ MATILAH!” Chorong benar-benar histeris sekarang karena sudah menyerah, setelah itu berlari keluar dari gedung olahraga dengan membawa tasnya serta memeluk botol ramuannya.

“ Jangan-jangan dia mau ke…”Eunji mulai berfirasat tidak enak.

“ Benar!”Naeun panik, sama halnya dengan L. Keduanya sama-sama langsung ikut berlari keluar dari gedung untuk mengejar Chorong yang sepertinya ingin membuka ruang bawah tanah asrama putra.

“ Naeun!!! Biar aku saja. Kau urus Woohyun sunbae!” teriak Eunji ketika Naeun sudah hampir sampai pintu keluar.

“ Memangnya ada apa?”Naeun berbalik sejenak.

“ Lihat!” Eunji menunjuk lapangan dan terlihat orang sudah bergerombol karena Woohyun mendadak jatuh pingsan, Naeun pun membatalkan niatnya mengejar Chorong dan langsung berlari dengan panik kearah Woohyun, Eunji segera keluar menyusul L untuk menggantikan sahabatnya.

*

 

“ Terserah kau Nam Woohyun.. terserah.. aku sudah melarangmu tapi kau tidak mau.. sebaiknya aku memang menggunakan ini untuk Myungsoo, bukan untukmu.. aku akan melakukannya sekarang! Memang sebaiknya aku menuruti kata Sungyeol!”

Dengan penuh emosi dan mulai gelap mata Chorong mencoba membuka lagi pintu ruang bawah tanah asrama putra yang kemarin gagal ia masuki, ia sampai menendang-nendang pintunya agar terbuka.

BRAK!!!!

Mantra L yang mengunci ruangan itu memang sudah tak bekerja sehingga tendangan Chorong berhasil membukanya. Gadis itu gemetaran dan mulai hendak melangkah masuk ke dalam sana, namun seseorang menarik tubuhnya keluar.

“ Lepaskan!!! Lepaskan aku!!!” Chorong meronta karena L menahan tubuhnya kuat-kuat, “…kau..kau bukan Myungsoo!!! Kau penyihir!!!”

“ Aku memang penyihir!! Kau mau apa!!?”jawab L keras, “…takkan kubiarkan kau membangunkan dia!”

“ Aku harus membangunkannya!”

“ Tidak akan bisa!!!! Berikan ramuan itu padaku, berikan sebelum kau mati mengenaskan disini.. berikan!!”

Chorong menggeleng kuat-kuat, membuat L tertawa sinis.

“ Kau mau mati?” tanya L sadis dengan nada yang manis, membuat Chorong mulai ketakutan namun tetap tak ingin memberikan botol yang ia peluk erat-erat itu, ia bahkan ingat jika ia butuh darah penyihir dulu untuk menjadikan ramuannya sebagai pembangkit kematian.

Dengan nekat, Chorong mencoba menarik paksa perban yang masih melilit di pergelangan tangan L –ia diperban karena kemarin memberi darahnya untuk Naeun-, L terkejut dan segera menjauhkan tangannya sebelum Chorong mencakar lukanya. Karena kesal, L mengeluarkan tongkat sihirnya dan sudah mulai mengucapkan mantra untuk membunuh Chorong.

“ HENTIKAN!!!”

Eunji datang dan buru-buru menarik Chorong.

“ Pergilah, Woohyun sunbae dibawa ke rumah sakit!”kata Eunji, Chorong buru-buru berlari kencang meninggalkan tempat itu sambil terus memeluk botol ramuannya, membuat L kesal karena gagal mendapatkan ramuan itu.

“ Sialan, gara-gara kau aku tidak jadi mendapatkan ramuan itu!” L marah, dan sekarang Eunji yang ketakutan.

“ Yeoshin yang berhak memegang ramuan itu!! Lagipula tahu apa kau tentang ramuan!?”jawab Eunji.

“ Apa kau bilang!?” L meledak dan kembali mengangkat tongkatnya untuk menyakiti Eunji, namun tiba-tiba wajah Howon terlintas dalam benaknya. Sahabatnya itu..

L menurunkan tongkatnya, merasa tak tega membunuh orang yang dicintai oleh sahabatnya itu.

“ Kau beruntung karena Howon adalah sahabatku.”

Setelah itu L menghilang, meninggalkan Eunji yang kebingungan.

“ L dan Howon? Bagaimana bisa mereka bersahabat?”

*********

 

“ Pasien Nam Woohyun mengalami koma, aku tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan. Kankernya sudah sangat ganas, tulang-tulangnya bahkan sudah melunak.”

Naeun menangis mendengar penjelasan dokter, setelah itu kembali duduk dan memeluk tubuh lemah kakak angkatnya itu.

“ Maaf.. aku tidak menyimpan ramuan itu dengan baik, aku hanya bisa berharap Chorong sunbae benar-benar tulus mencintaimu dan memberimu ramuan itu.. aku ingin kau tetap hidup, oppa. Meski kita bukan saudara kandung, kau menyayangiku lebih dari Dongwoon oppa dan Gain unnie. Aku membutuhkan kakak sepertimu..”tangis Naeun.

“…aku yakin kau sudah tahu tentang siapa aku sebenarnya, aku bisa membacanya dari matamu. Bahkan Chorong sunbae.. aku juga yakin dia sudah tahu. Lalu ada apa dengan kalian? Kenapa kalian harus saling membenci disaat seperti ini? kau membutuhkan ramuan yang dia pegang..”

Chorong yang baru tiba di rumah sakit ikut lemas mendengarnya, dilihatnya sosok Woohyun yang terbaring lemah dengan banyak kabel di tubuhnya bersama Naeun disampingnya yang terus menangis. Ingin masuk, ia takut Naeun marah padanya. Apalagi Naeun seorang penyihir, Chorong saja masih trauma dengan perlakuan L beberapa saat yang lalu padanya.

Setelah setengah jam duduk dan menunggu di luar, Chorong melihat sosok Naeun keluar dari sana dengan ponsel di telinganya, gadis itu sedang menelpon orangtua mereka agar segera pulang dari luar negeri. Selesai menelpon, gadis itu menghampirinya dan menatap botol ramuan yang dipegangnya.

“ Kalau kau tidak ikhlas memberi itu pada Woohyun oppa, kau boleh pergi. Aku akan pulang dan membuatkan yang baru untuknya.”kata Naeun dingin dan sedikit berani, karena yakin Chorong sudah tahu bahwa dia adalah seorang ahli ramuan.

“ Kau saja yang pergi, aku akan menjaganya disini.”jawab Chorong seadanya, Naeun tertawa sinis.

“ Menjaganya tanpa menolongnya? Itu sama sekali tidak membantu.”

Naeun pun pergi, meninggalkan Chorong yang semakin dalam dilema. Satu sisi ia begitu ingin menggunakan ramuan itu untuk membangunkan Myungsoo jika ia berhasil mendapatkan darah penyihir, namun di satu sisi ia juga ingin menggunakannya untuk Woohyun disaat seperti ini. Jika Naeun membuatkan yang baru untuk Woohyun, Chorong yakin setelah sembuh Woohyun akan terus membencinya karena bukan dia yang menolong lelaki itu.

“ Oh iya.”Naeun berbalik lagi, Chorong menatapnya.

“…botol yang kau pegang itu, saat dirumah aku meletakkannya di halaman belakang rumah. Jika kau menemukan botol itu bukan disana, berarti sudah ada orang lain yang menemukannya sebelum kau.”

Setelah itu Naeun benar-benar pergi, Chorong memikirkan perkataan gadis itu.

Di halaman belakang rumah? Chorong tidak menemukannya disana. Gadis itu menemukannya di tempat yang begitu mudah dilihat, di samping pintu kamar mandi di kamar Woohyun. Apa itu artinya Woohyun yang menemukannya duluan dan meletakkannya disana agar Chorong yang mengambilnya?

Jika memang demikian, apa maksud Woohyun melakukan hal itu? Ingin menguji kesetiaan Chorong?

Gadis itu menatap kaca pintu, menatapi lelaki yang sudah memberinya banyak hal itu dengan iba. Ketika tangannya ikut menempel di kaca, Chorong menatap cincin dari Woohyun yang masih melingkar cantik di jari manisnya, membuatnya mengingat saat-saat indahnya bersama lelaki itu ketika mereka berada di negeri Junghwa meski pada akhirnya Chorong harus panik karena Woohyun kembali kumat hingga ia harus membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga sampai ke dunia nyata.

“…jangan lagi membuatku takut, aku akan lebih berisik kalau kau seperti ini lagi.”

Chorong mengingat kata-katanya sendiri pada Woohyun saat itu. Disaat Woohyun baik-baik saja ia bisa berkata demikian, tapi mengapa disaat Woohyun sudah berada diambang kematiannya ia begitu ragu untuk menolong lelaki itu? Ia merasa telah jahat.

Gadis itu menangis agak keras di depan pintu, mencoba melawan dilemanya dan tak berani masuk karena tak tega melihat kondisi Woohyun. Namun Woohyun mendengar tangisannya meski ia tak bisa berbuat apa-apa.

 

“ Sekarang kau benar-benar berisik, Park Chorong.”

***

 

“ Untung kau tak jadi membunuh Hyerim. Kalau jadi, aku akan membunuh Yeoshin beserta anak dalam kandungannya. Kau mau!?”

“ Ya, lalu kau masuk berita lagi sebagai artis pembunuh. Hahaha..”

Hoya tertawa sambil memukul punggung L yang sedang ikut minum bersamanya, “ Dasar brengsek.”

L ikut tertawa, setelah membakar rokoknya ia pun menuangkan bir di gelas Hoya, “ Tapi sahabatmu yang brengsek ini berterimakasih, karena berkat teleponmu aku tahu ruang penyimpanan mayat itu sudah tidak aman lagi.”

“ Tapi kenapa kau tidak menyahut saat aku telepon!? Aku seperti orang gila bicara sendiri.”

“ Yeoshin yang mengangkatnya.”

“ Hah?! Bagaimana bisa ponselmu ada padanya?? Dia tidak tahu kan kalau yang bicara itu aku?? aku takut dia bilang pada Hyerim!”

“ Sudahlah, Yeoshin tidak tahu.. nomormu tidak aku simpan karena aku bingung, namamu berganti-ganti. Howon..Hoya..Jiwon..Howon..Hoya..Jiwon.. hahaha!” L sudah mulai mabuk, namun tak berhenti meneguk bir karena Hoya yang mentraktirnya.

“ Hei, kenapa kau minta aku mentraktirmu disini? kita bisa makan enak diluar. Aku terpaksa mau kesini karena bar ini dekat dengan hotel.”kata Hoya, yang kebetulan sedang break latihan dan menyempatkan diri menemui L yang tiba-tiba mengajaknya minum bersama.

“ Aku tidak nafsu makan..”jawab L yang kini menelungkupkan kepalanya di atas meja.

“ Ah, arasseo. Kau tidak terbiasa makan tanpa darahku, iya kan?”

“ Mungkin itu salah satunya..”

“ Ada alasan lain?”

“ Son Yeoshin.. Son Naeun..”ucap L lemah.

“ Ada apa dengannya?”

L menggeleng, “ Aku sedang tidak ingin membicarakannya.. kata-katanya.. sama dengan kata-katamu juga.. terngiang-ngiang terus di kepalaku.. aku hampir gila..”

“ Memangnya apa katanya?”

“ Dia ingin aku menjadi penyihir baik. Hahahaha!! Apa dia tolol?! Sampai negeri Junghwa menjadi modern pun aku tidak akan pernah berubah!!”

Hoya geleng-geleng kepala mendengarnya, “ Sayang sekali. Padahal aku ingin memintamu untuk membahagiakan Yeoshin sebelum aku membahagiakan Hyerim.”

“ M..mwo? kenapa begitu?”

“ Karena Yeoshin akan iri dengan kebahagiaan Hyerim suatu saat nanti. Setelah kompetisi ini, aku jamin keadaan akan berubah. Hyerim benar-benar akan bahagia, baik di dunia ini maupun di negeri Junghwa. Yeoshin benar-benar akan iri padanya.”

L terdiam mendengarnya, Hoya pun meneguk birnya dan melanjutkan.

“ Aku juga jamin kau akan iri padaku, karena aku akan ikut bahagia dengan Hyerim. Tidak seperti kehidupan cintamu dengan Yeoshin, karena kau bahagia sendirian, sedangkan dia menderita. Kau kira sampai kapan kau puas dengan hidup yang seperti itu? Suatu saat kau akan bosan karena bahagia sendiri.”

“ Kau bisa jamin suatu saat aku akan merasa bosan?”

“ Ya. Karena kebahagiaan hanya akan abadi jika kau sudah membaginya dengan orang yang kau cintai.”

“ Ck, kata-kata mutiara lagi.”ledek L, Hoya langsung menoyor kepala penyihir yang sedang mabuk itu.

“ Terserah kau mau dengar atau tidak, yang jelas jangan iri padaku suatu hari nanti. Karena aku dan Hyerim akan lebih bahagia dari kau dan Yeoshin. Kami akan punya anak lebih banyak setelah menikah nanti. Tidak seperti kau, yang satu bayi saja belum tentu bisa lahir karena ibunya takut anaknya terlahir jahat.”

“ A..apa?”

L benar-benar tertusuk saat mendengar kata itu, Hoya menyadarinya dan artis itu tertawa bangga karena berhasil membuat penyihir itu diam seribu bahasa.

“ Hoya! Yaa.. kau disini rupanya, kau harus kembali latihan!” seorang kru tiba-tiba datang dan memanggil Hoya.

“ Ah, iya. Maaf terlalu lama.”Hoya pun berdiri, “…L, aku balik ke hotel.”

L mengangguk saja.

“ Hoya-ssi, apa dia temanmu?”tanya anggota kru tersebut karena ia harus melaporkan pada produser Hoya pergi menemui siapa.

“ Oh iya, dia….”

“ Aku manajernya!”jawab L tiba-tiba sambil menepuk bahu Hoya dengan sok akrab.

“ M..mwo? manajer?”Hoya terkejut.

“ Ooh.. manajer..? kalau boleh tahu siapa namamu? Aku harus melaporkannya pada produser agar kau bisa dapat gaji nantinya.”

“ Namaku L.. eh, Kim Myungsoo.”jawab L, membuat Hoya langsung memijat keningnya karena tak habis pikir.

“ Baiklah, Kim Myungsoo. Kau harus datang lebih sering ke hotel untuk mengurus keperluan Hoya.”pesan anggota kru tersebut, L mengangguk.

“ Kau benar-benar mau menjadi manajerku?!”bisik Hoya tak percaya, L tersenyum sambil menepuk bahunya sekali lagi.

“ Ya. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih atas semua nasihatmu.”

********

 

Esok paginya…

 

“ Apa ini?”

Naeun baru saja masuk ke kelas dan syok melihat meja belajarnya yang penuh dengan kata-kata kasar yang ditulis dengan spidol hitam dan merah. Siapa yang melakukannya? Dan mengapa?

Gadis itu menoleh kearah teman-teman sekelasnya yang sedang asyik mengobrol sendiri-sendiri dan sesekali menertawakannya. Ia yakin mereka pelakunya. Apakah mereka melakukan hal seperti ini hanya karena ia baru saja keluar dari rumah sakit jiwa? Naeun benar-benar kecewa. Bukannya dikasihani, nasibnya justru menjadi bahan ejekan.

Karena sudah sepakat dengan Eunji untuk tidak begitu menanggapi hal semacam ini, dengan sabar Naeun mengangkat mejanya dan keluar kelas menuju gudang untuk meletakkannya dan menggantinya dengan meja yang baru.

“ Wah.. ada orang gila, pagi-pagi mengangkat meja!”teriak salah satu siswa disusul tawa dari siswa yang lain.

Naeun tak peduli, ia tak mau kehilangan konsentrasinya hari ini hanya karena hal tersebut meski menyakiti hatinya. Ia ingin mencurahkan konsentrasi penuhnya hari ini untuk membuat ramuan penyembuh untuk kakak angkatnya yang masih koma, Nam Woohyun.

*

“ Ugh.. berat..”

Naeun mulai kelelahan dan berhenti sejenak, meletakkan mejanya kemudian memegangi perut hamilnya yang mulai sakit karena ia membawa beban berat.

Saat ia berniat untuk membawa lagi mejanya karena gudang sudah tak jauh lagi, mejanya tiba-tiba menghilang.

“ M…mana mejanya??” Naeun terkejut, ia pun berjalan mencarinya hingga tak sadar telah sampai ke gudang sekolah.

 

“ Son Naeun sialan.. perempuan pembawa sial, gara-gara kau Woohyun sunbae masuk rumah sakit. Kau tidak pantas untuk Myungsoo sunbae..perempuan jalang.. perempuan gila yang baru keluar dari rumah sakit jiwa..”

Naeun menemukan L yang sedang merokok dan bersandar di tembok depan gudang dengan mengangkat mejanya dan membaca tulisan-tulisan kasar yang ada di meja tersebut. Kapan lelaki itu mengambil mejanya? Sihir lagi? Ck, dia benar-benar suka pamer kehebatannya.

“ Berikan padaku!” Naeun merampas mejanya lagi, L menatapnya tajam.

“ Siapa yang menulisnya?”

“ Kenapa memang? Kau suka dengan tulisan mereka? Ya.. kau pasti suka, karena tulisan itu bisa membuatku menangis, kan kan suka melihatku menangis.”

“ Kutanya siapa yang menulisnya!?” L mengulang pertanyaannya dengan agak keras dan kelihatan marah, justru membuat Naeun heran karena seharusnya L menertawakannya jika ada hal-hal seperti ini.

“ Kalau kau tahu juga kau mau apa!?”jawab Naeun tak kalah keras.

“ Lihat saja nanti.” L langsung menghilang dari hadapannya. Naeun menghela nafas, tak peduli, justru merasa senang karena lelaki itu cepat pergi.

***

 

“ Yaaa..! kau mau buat berapa botol? Banyak sekali bahannya..”

Jam istirahat, Eunji nampak keberatan menyeret karung berisi bahan-bahan aneh untuk membuat ramuan penyembuh yang direncanakan Naeun. Sementara sahabatnya itu sibuk menulis komposisi dan rumus-rumus membuat ramuannya sepanjang jalan sambil membawa panci dan kompor minyak yang ia ambil dari dapur asrama. Keduanya berjalan melalui pintu belakang asrama putra agar tidak ketahuan pengawas, namun sedikit malu karena diperhatikan banyak siswa dan siswi yang ada disana, terlebih mereka memang sedang menjadi bahan pembicaraan. Namun sesuai kesepakatan, mereka mencoba untuk tidak peduli.

Parahnya, mereka sebenarnya belum tahu ingin meracik ramuan itu dimana, pasalnya jika mereka melakukan hal itu di dapur asrama, pengawas akan mudah menemukannya, apalagi bau ramuan biasanya sangat menyengat.

“ Sebenarnya kita mau buat dimana?!”tanya Eunji yang sudah kelelahan menyeret karung berisi bangkai ayam, getah buah-buahan, beberapa jenis bunga dan lain sebagainya yang sudah dikumpulkan Naeun itu.

“ Apa..disana?”tanya Naeun sambil melihat kearah lorong yang mereka lintasi, tepatnya kearah sebuah pintu besi yang dililit kawat di gagangnya.

“ I..itu ruangan..penyimpanan..mayat.”kata Eunji ragu.

“ Aku tahu. L membawaku kesana waktu mengaku. Apa kita buat disana saja?”

“ Duh, ada mayat..”Eunji takut, Naeun tertawa kecil.

“ Sudahlah tidak apa-apa, ruangannya tidak dilindungi mantra kan?”

“ Tidak, kemarin aku menolong Chorong sunbae dari serangan L disini. L langsung menghilang, dia lupa memberi ruangan ini mantra lagi. Yang mengunci pintunya dengan kawat itupun aku.”

“ Bagus! Ayo disana saja!” Naeun berlari kecil menuju ruangan tersebut, Eunji terpaksa mengikutinya dan membuka kawatnya.

Dengan hati-hati, kedua gadis itu menuruni tangga turun yang ada di mulut pintu setelah Naeun mengunci tempat tersebut dengan mantra seadanya. Mereka pun memasuki ruangan dimana jasad Haeyeon dan Myungsoo disimpan.

“ Naeun.. aku tidak kuat.. walaupun aku tahu di ruangan ini ada mayat, aku tidak pernah melihatnya..” Eunji gemetaran, padahal ia adalah orang pertama yang menemukan Sungyeol di ruangan ini. “…berapa lama membuat ramuan ini?”

“ Kuperkirakan.. satu jam.”jawab Naeun.

“ Satu jam!?”

Naeun mengangguk, mempersiapkan peralatan ramuannya sementara Eunji yang ketakutan malah penasaran ingin membuka kain yang menutup tubuh Haeyeon dan Myungsoo.

“ YA!! Madame Taeyeon!” Eunji sontak berteriak saat membuka kain yang menutup tubuh kepala sekolah asli mereka, Kim Haeyeon. Tubuh wanita itu benar-benar sangat putih karena darahnya hampir habis dikuras L untuk dikonsumsi saat ia terbunuh.

Naeun hanya geleng-geleng melihat tingkah Eunji. Putri raja itupun kini melangkah ke jasad Myungsoo, sesekali ia melirik Naeun yang nampaknya tak tertarik untuk mengusik sisi baik suaminya itu.

“ Aigo.. dia tersenyum.”

Naeun langsung menghentikan pekerjaannya sejenak saat mendengar Eunji berkata demikian. Ia ikut menatap jasad Myungsoo yang sama persis seperti L, wajah tampannya tersenyum tipis. Mungkin karena ia orang yang sangat baik semasa hidupnya.

Tik..tik..

Tanpa disadari, airmata Naeun meluncur begitu saja. Eunji menatap sahabatnya itu dengan prihatin.

“ Apakah sikapmu memang sebaik sandiwara L? atau kau bahkan adalah orang yang lebih baik lagi?”

“ Kita tidak tahu.”jawab Eunji, Naeun mengangguk seraya menghapus airmatanya.

“ Haha, aku bahkan menangisi orang yang tidak mengenalku..”

“ Sudahlah, lanjutkan pekerjaanmu.”kata Eunji seraya menutup kembali jasad Myungsoo dengan kain, namun Naeun membukanya lagi.

“ Biar, biar saja terbuka dulu.”

“ Kenapa?”

“ Aku merasa damai melihat wajahnya.”

***

 

“ Aku sudah ingin menariknya tapi sudah terlanjur beredar. Sudahlah.. ini hanya opini beberapa siswa yang kebetulan menjadi tim pembuat buletin…”

“ Opini beberapa siswa yang bisa membuat semua siswa beranggapan sama.”

“ Lagipula Naeun dan Eunji belum membacanya. Kalau mereka sudah baca pasti mereka lapor padaku.”

“ Bagus. Jangan sampai mereka membaca sampah ini.”

L membanting buletin SMA Junghwa terbaru yang baru saja ia temukan di meja Taeyeon, ia benar-benar tidak terima dengan isi beritanya yang membahas tentang Naeun dan Eunji. Sepertinya para siswa yang merasa tak suka dengan mereka tak main-main, hingga ada beberapa oknum yang memanfaatkan kejadian Woohyun jatuh koma di lapangan kemarin untuk dijadikan artikel yang bisa semakin menjatuhkan reputasi Naeun. Tak hanya Naeun, Eunji pun dicerca habis-habisan di dalam buletin karena pernah diberitakan meracuni artis yang sedang naik daun, Hoya. Dan yang jelas, sekarang L tahu mengapa meja Naeun dicoret-coret tadi pagi.

Taeyeon juga mengaku kaget karena selama ini ia melihat siswa-siswanya tak ada satupun yang kelihatan menaruh dendam pada Naeun maupun Eunji. Kedua gadis itu juga tak ada yang melaporkan apa yang mereka alami pada Taeyeon karena memang sepakat untuk tidak memperdulikannya.

Namun, lain Naeun dan Eunji, lain juga dengan L, yang merasa tak terima karena istrinya menjadi bahan hinaan. Meski ia sendiri sering menyakiti Naeun secara fisik, Naeun tak pernah tahu selama mereka bersekolah di sekolah sihir negeri Junghwa, L selalu membunuh siapapun yang menghina gadis itu baik didepan maupun di belakang.

“ Siapapun yang membuat buletin ini, siapapun yang membicarakannya.. mereka harus menanggung akibatnya.”

L berdiri dan bersiap hendak keluar.

“ Kau mau apa?!”Taeyeon menahan anaknya itu, L tersenyum licik sambil mengeluarkan sebotol dari sekian banyak ramuan portal yang ia curi dari Hyoyeon saat pergi dari negeri Junghwa. Ia meletakkan botol tersebut di tangan Taeyeon.

“ Ambil, siapa tahu nanti kau butuh untuk melarikan diri.”

Setelah itu L keluar dari ruangan Taeyeon dengan membanting pintu.

“ L!!!”

L tak menyahut, ia mulai mencari siswa-siswi yang berani membicarakan Naeun dan membahas buletin yang baru saja ia baca.

 

“ Ah.. rasanya sudah lama sekali aku tidak membunuh orang..”

*

 

“ Buletinnya sudah keluar!”

“ Hahaha! Bagus!”

“ Hei, kalian tahu? Tadi aku melihat anak kelas X yang bernama Son Naeun dan Jung Eunji itu berjalan berdua di belakang asrama putra. mereka bawa panci, kompor, dan karung besar. Ckckck, mereka sudah gila!”

“ Iya. Mereka berdua benar-benar pengacau di sekolah kita. Bayangkan, si Eunji itu.. kita pernah melihat namanya di berita koran dan internet, mempermalukan sekolah kita!”

“ Betul. Pertama karena katanya dia pernah berkencan dengan Hoya, kedua karena dia meracuni Hoya. Perempuan macam apa dia itu!? Sangat tidak pantas dengan artis setampan Hoya!”

“ Benar, apalagi saat meracuni Hoya itu, polisi dan wartawan sampai datang ke sekolah kita tapi dia kabur!”

“ Ckckck.. eh, lebih parah temannya, siswi Son Naeun itu..”

L semakin mendekatkan telinganya ke tembok saat mendengar pembicaraan beberapa siswa dan siswi dibalik tembok tersebut. Tangannya sudah meremas tongkat sihirnya saja dan bersumpah akan menewaskan siswa-siswi yang sedang bergosip itu jika berbicara sembarangan tentang Naeun.

“ Si Naeun itu.. kau tahu sendiri kan dia sudah cari perhatian bahkan sejak orientasi! Dia sampai diangkat jadi adik Nam Woohyun. Mimpi apa dia semalam? Menjadi anggota keluarga terkaya di Korea!”

“ Parahnya lagi dia berpacaran dengan..ah.. Myungsoo sunbae!!” teriak mereka bersamaan.

“ Myungsoo sunbae itu bodoh atau apa? Atau Naeun yang merayunya? Perempuan aneh seperti dia tidak pantas jadi pacar Myungsoo sunbae yang.. benar-benar sempurna.”

“ Aku sampai berpikir ingin membunuh Naeun setelah tahu dia berpacaran dengan Myungsoo sunbae!”

“ Benar. Sekarang kalian dengar kan kalau dua hari yang lalu dia baru keluar dari rumah sakit jiwa?”

“ Tentu saja dengar! Hahaha! Itu kutukan untuknya.”

“ Dia pantas masuk rumah sakit jiwa lagi, gara-gara dia Nam Woohyun sunbae sakit kanker. Sebelum dia menjadi adik angkatnya Woohyun sunbae baik-baik saja! Iya kan?”

“ Benar. Son Naeun memang pembawa sial.”

“ Dan juga jalang seperti temannya, Jung Eunji.”

“ Hahahahaha!!”

 

“ Ulang sekali lagi pembicaraan kalian, aku mau dengar.”

“ M..Myungsoo sunbae?”

L tersenyum misterius dan menghampiri gerombolan siswa itu lalu mengambil buletin yang dipegang salah seorang diantara mereka, rupanya mereka membicarakan Naeun dan Eunji sebab buletin sekolah minggu ini memuat ‘edisi’ mereka.

“ Jung Eunji dan Son Naeun, Dua Siswi Pembawa Sial Junghwa High School. Wah..seperti kalian sudah kenal baik dengan mereka.” L tertawa sinis membaca judul utama buletinnya. Para siswa itu agak panik.

“…boleh aku bertanya sesuatu pada kalian?”tanya L kemudian.

“ A..apa, sunbae?”

 

“ Kalian ingin mati?”

*************

 

“ Kepala sekolah!! Kepala sekolah!”

Taeyeon yang sedang sibuk menandatangani beberapa surat di mejanya terkejut karena beberapa orang guru mengetuk-ngetuk pintu ruangannya dengan keras.

“ Ada apa??” Taeyeon membuka pintu ruangannya, guru-guru terlihat panik dan pucat bahkan ada beberapa yang menangis.

“ K..kami..kami tidak tahu apa yang terjadi.. tapi kami sudah menemukan sekitar sebelas orang siswa meninggal di beberapa ruangan yang berbeda. Ada yang di ruang loker, kelas, bahkan toilet. semuanya meninggal dengan luka tusuk di bagian tubuh yang berbeda-beda.”

“ Kami sudah memeriksa rekaman CCTV tapi semuanya hilang.”

“ Kami sudah menghubungi polisi! Sebentar lagi akan datang. Tapi bagaimana dengan siswa-siswi yang lain, kepala sekolah? Kegiatan belajar mengajar berhenti karena kami semua resah.”

“ L ..”

Taeyeon memijat keras kepalanya yang mendadak pening. Pantas saja L memberinya ramuan portal, mungkin agar ia bisa kabur dan tidak perlu bertanggung jawab atas ulah yang diperbuat anaknya.

Penyihir nomor empat itu sudah meremas botol ramuan yang ada dibelakang punggungnya. Berniat untuk kabur dari masalah.

 

“ Pulangkan semua siswa. Kalian juga bisa pulang, biar aku yang berurusan dengan polisi.”ucapnya berbohong.

**********************

 

“ Ah.. akhirnya!”

Naeun selesai membuat ramuan penyembuh untuk Woohyun bahkan membuatnya berlebih jika suatu saat ia butuh lagi. Gadis itu mampu membuat enam botol ramuan dalam waktu satu jam.

Eunji nampak ketiduran disamping mayat Haeyeon, mungkin karena merasa terlalu lama menunggu Naeun ia sampai mengantuk dan terpaksa berbagi pembaringan dengan mayat.

Kini Naeun beralih menatap jasad Myungsoo, menatap wajah tampan yang tersenyum itu kemudian melirik botol-botol ramuannya yang sudah jadi.

“ Bisakah aku mengajakmu berkenalan jika L tak akan pernah bisa menjadi orang baik?”ucap gadis itu pelan dan tanpa ia sadari membangunkan Eunji.

Eunji melihat Naeun pelan-pelan menggores pergelangan tangannya sendiri, kemudian meneteskan darahnya ke botol ramuan yang baru saja ia buat. Eunji menyadarinya, Naeun membuat beberapa botol ramuan yang sudah ia buat dari ramuan penyembuh menjadi ramuan pembangkit kematian.

“ Untuk apa dia membuat ramuan itu?”pikir Eunji, ketika Naeun menoleh kearahnya ia langsung memejamkan matanya lagi dan berpura-pura tidur. Saat Naeun kembali sibuk meneteskan darahnya, Eunji kembali memperhatikannya.

“…sudah selesai?”Eunji berpura-pura baru bangun.

“ YA! Sudah..” Naeun terkejut dan langsung menyembunyikan tiga botol ramuan penyembuhnya yang sudah menjadi ramuan pembangkit kematian ke bawah tempat pembaringan Myungsoo agar tak dilihat Eunji.

“ Berapa botol?”tanya Eunji berbasa-basi.

“ Ena… eh, tiga.. tiga..”Naeun menunjukkan ramuan penyembuhnya yang lain, “…ayo kita ke rumah sakit sekarang. Memberikannya untuk Woohyun oppa.”

“ Baiklah..”

 

“ Hyerim!!! Yeoshin!!!!”

 

“ Kau dengar itu?”Eunji terkejut mendengar suara seorang wanita memanggil nama aslinya dan Naeun, Naeun mengangguk.

“ Taeyeon. Untuk apa dia memanggil kita?”

DUG! DUG! DUG!

Tiba-tiba terdengar suara pintu besi ruangan tempat mereka berada sekarang digedor-gedor, Naeun dan Eunji mendadak panik.

“ Kalian didalam!?”tanya Taeyeon dari luar, Naeun dan Eunji tak menyahut karena panik membereskan bekas-bekas pembuatan ramuan mereka.

“…sedang apa kalian!?”Taeyeon akhirnya masuk dan matanya langsung membesar saat melihat kedua gadis itu benar-benar ada di dalam.

“ Ng..kami..kami habis membuat ramuan..”jawab Eunji salah tingkah.

“ Ramuan apa!?”

“ Ramuan obat biasa, stok ramuanku sudah hampir habis.”jawab Naeun berbohong seraya kakinya menendang tiga botol ramuan pembangkit kematian yang ada di bawah pembaringan Myungsoo agar semakin tersembunyi.

“ Benarkah? Kenapa harus disini?”tanya Taeyeon karena merasa aneh mereka berkumpul dengan mayat yang menyerupainya dan anaknya.

“ Ini tempat yang paling aman.”jawab Eunji dibarengi anggukan Naeun.

“ Ada apa kau memanggil kami?”tanya Naeun, “…dan..kenapa wajahmu pucat sekali?”

“ L.. aku berharap ini adalah kegilaan terakhirnya..”ucap Taeyeon yang tiba-tiba merasa ingin menangis.

“ Apa lagi yang dia perbuat?”

“ Kalian..tidak perlu tahu apa penyebabnya..”kata Taeyeon pelan, karena tak ingin Naeun dan Eunji merasa bersalah, “..L.. dia membunuh banyak siswa hari ini..”

“ APA!? Membunuh!? Kenapa…..”Eunji terkejut, sementara Naeun sudah bisa menduga karena sempat bertemu dengan suaminya itu tadi pagi. Apa karena meja itu? L benar-benar sudah gila.

“ Sudah kalian tidak perlu tahu apa penyebabnya! Sekarang pulanglah, aku sudah mengosongkan sekolah dan asrama karena polisi akan datang. Aku akan menghilang sebelum mereka datang. Jadi aku harus memastikan sekolah ini benar-benar kosong dulu.”

“ Kau mau menghilang kemana?”

“ Kalian tidak perlu tahu! Sudahlah ayo keluar dari sini! Aku harus mengamankan ruangan ini dengan mantra yang sangat kuat agar polisi tidak bisa membukanya!”

Naeun dan Eunji menurut, mereka segera keluar mengikuti Taeyeon, setelah mereka keluar sesegera mungkin Taeyeon mengunci ruangan itu dengan sihirnya.

“ Lalu dimana L sekarang?”tanya Naeun.

“ Dia menghilang entah kemana.”jawab Taeyeon lemas, “…cepat pergi dari sini!”

“ Ck, suamimu benar-benar sudah diluar batas! Ayo, kita pergi!” Eunji pun menarik tangan Naeun untuk segera pergi. Kedua gadis itu membawa tiga botol ramuan penyembuh yang sudah jadi. Dan..

Meninggalkan ramuan pembangkit kematian di bawah pembaringan Myungsoo…

*******************************

 

“ Hei.. apa yang akan kau lakukan jika ini benar-benar akan menjadi milik kita?”

“ Aku akan berganti-ganti perhiasan setiap hari! Bagaimana denganmu?”

“ Aku akan makan enak setiap hari.. dan tidak akan bekerja sampai aku mati.”

“ Hahaha.. aku juga menginginkan itu!”

 

“ Apa kabar, kakak-kakak ipar?”

 

“ YA!! L !!!!???”

Son Dongwoon dan Son Gain yang tengah asyik mengagumi sebelas peti emas yang ada di kamar rumah L terkejut dan nyaris jantungan saat melihat si pemilik kamar datang tiba-tiba dengan seragam sekolah dan tangan yang berlumuran darah.

“ Sedang apa kalian disini? bukankah sebelumnya kalian ada di penjara bawah tanah rumahku?”

“ Taeyeon menyuruh kami menjaga rumah ini sebelum dia pergi ke dunia nyata..” jawab kedua kakak kandung Yeoshin itu.

“ Oh.”tanggap L enteng, lelaki itupun berjalan menuju lemari pakaiannya dan mencari pakaian ganti.

Dongwoon dan Gain masih kebingungan dengan kedatangan ipar mereka yang sangat tiba-tiba.

“ Kudengar kau pernah kesini sebelumnya dan mengatakan pada penduduk pasar kalau Yeoshin hamil sekarang. Apa benar?”tanya Dongwoon.

L mengangguk, “ Kalian akan menjadi paman dan bibi sebentar lagi.”

Dongwoon dan Gain mendadak takjub, “ Ya! Bukankah dia membencimu? Kenapa dia bisa hamil sekarang? Kau memperkosanya?”

“ Bagaimanapun kami melakukannya yang penting sekarang dia sedang hamil.”

“ Wah.. lalu.. sekarang dimana uri Yeoshin? Kau sendiri saja kesini?”tanya Gain.

“ Aku sedang membiarkannya menikmati masa kehamilannya tanpa aku. karena anak dalam kandungannya tak bisa bahagia jika ibunya terus-terusan ketakutan melihat ayahnya.”jawab L enteng.

“ Lalu.. kau..bagaimana bisa kau tiba-tiba datang dan.. berdarah-darah seperti itu?”

L tertawa licik. Setelah melakukan pembunuhan keji terhadap orang-orang yang berbicara buruk tentang Eunji terutama Naeun di sekolah, penyihir tampan itu kabur ke negeri Junghwa menggunakan ramuan portal yang banyak ia curi dari Hyoyeon. Entah apa yang ingin ia lakukan.

“ Aku datang sebentar untuk memberi kejutan pada keluarga kerajaan. Jadi diam saja kalian disini dan jaga peti-peti emas itu.”jawab L misterius sambil melepas kemeja sekolahnya dan menggantinya dengan jubah hitam, setelah itu menghilang. Meninggalkan Dongwoon dan Gain yang merasa penasaran.

***

 

“ Ow ow ow ow.. sepertinya ada skandal baru di istana ini setelah Howon dan Hyerim..”

Kai dan Krystal yang tengah berciuman di penjara belakang istana terkejut karena seseorang datang dan langsung memergoki mereka.

“ L !?” keduanya benar-benar panik dan langsung berdiri, L tertawa licik.

“ Krystallie, apa kabar? Rupanya kau sudah melupakan aku,”goda penyihir tampan itu, sebab Krystal memang mantan kekasihnya. Krystal merasa takut dan bersembunyi dibalik punggung Kai, yang sebenarnya ketakutan juga melihat L yang kini menatapnya dengan tatapan licik.

“…ckckck, Kim Jongin.. berterimakasihlah sudah kubuang kesini, kau jadi bisa mendapatkan gadis secantik dia. Hahaha..”

Setelah itu L lanjut memasuki istana lewat pintu belakang, Kai dan Krystal diam-diam mengikutinya dari belakang karena ingin tahu apa yang ia lakukan. Tak ada satupun pengawal yang berani menghadangnya hingga dengan mudahnya ia tiba di depan singgasana dimana Raja Yonghwa dan Ratu Seohyun kebetulan sedang duduk disana.

“ Yang Mulia, apa kabar?”

Raja dan Ratu sontak berdiri saat melihat siapa yang datang, penyihir terjahat di negeri mereka. Daehyun dan Ilhoon bahkan pangeran Baekhyun yang berada di lantai atas buru-buru turun karena terkejut dengan kedatangan L. Dan satu lagi yang tentu saja paling terkejut, Madame Sunny.

L tertawa sinis sembari memain-mainkan tongkat sihirnya ketika melihat seisi istana langsung berkumpul ketika ia datang.

“ Mau apa kau kesini!?” tanya Madame Sunny dengan ketus namun bercampur takut.

“ Hahaha.. santai.. aku sudah puas membunuh orang hari ini, jadi tidak perlu takut..”jawab L santai, “…aku datang kesini untuk memberitahu keadaan di dunia nyata saat ini, terutama keadaan putri kesayangan kalian.”

“ Benarkah? Terimakasih, L! tolong cepat beritahu kami!” ratu Seohyun yang terlalu polos segera memohon, L mengangguk.

“ Tapi dengan satu syarat.”ucap penyihir itu sambil menatap Raja Yonghwa yang akan ia ajak kompromi.

“ Syarat apa yang kau mau?”tanya sang raja.

“ Mudah. Aku ingin kalian merelakan sebelas peti emas yang aku curi dari sini, biarkan aku hidup kaya di negeri ini bersama Yeoshin.”

Seisi istana terkejut, tentu karena baru tahu L-lah yang menghilangkan peti emas kerajaan mereka. Kecuali Krystal tentunya, yang sudah tahu dari dulu namun tenggorokannya selalu tercekat setiap ingin membocorkannya.

“…bagaimana? Mudah kan syaratnya?”

Raja terpaksa mengangguk karena tak mungkin juga ia berhasil merebut kembali hartanya itu jika L yang mencurinya. Sementara ratu, Daehyun, Ilhoon, dan Krystal benar-benar menyayangkan hal itu. Namun apa yang bisa mereka perbuat? Madame Sunny yang sering mereka andalkan saja angkat tangan jika harus berhadapan dengan L.

“ Lalu apa yang ingin kau beritahu pada kami?”tanya Ilhoon, L pun memulai kata-katanya.

“ Hyerim baik-baik saja.”

“ Hanya itu!?”

“ Ya. Dan kalian menukarnya empat kata yang kuucapkan barusan dengan sebelas peti emas. Hahahaha…” L tertawa jahat, membuat Daehyun emosi.

“ Kami tak puas dengan jawaban itu, beritahu kami lagi!”desaknya.

“ Oke..baiklah apa lagi yang ingin kalian ketahui?”

“ Dimana Hyerim tinggal sekarang?”tanya Ratu Seohyun.

“ Di asrama sekolah, terkadang dia juga pulang ke rumah keluarga angkatnya.”

“ Keluarga angkat?”

“ Ya. Hyerim punya keluarga angkat di dunia nyata, keluarga Yoon. Keluarga yang sangat sederhana. Apa lagi yang ingin kalian ketahui?”

“ Pengawal kami.. Lee Howon, apa kau sudah lama membunuhnya?”tanya Ilhoon, “…kami sampai mengadakan upacara kematian untuknya karena yakin ia pasti mati ditanganmu saat di perjalanan kalian mencari Hyerim dan Yeoshin..”

L tertawa, “ Sejahat itukah aku sampai kalian menduga hal yang sama sekali tidak terjadi?”

“ Jadi Howon masih hidup?”

L mengangguk, kedua orangtua Howon yang masih menjadi pembantu di istana kerajaan dan mendengar kabar anaknya masih hidup merasa sangat lega.

“ Terimakasih telah membiarkan Howon hidup, L..”ucap kedua orang tua Howon, L tersenyum angkuh dan melanjutkan perkataannya.

“ Ia bahkan hidup lebih baik dariku. Jika di negeri ini dia hanya pengawal biasa, di dunia nyata ada ribuan gadis yang ingin berkencan dengannya.”

“ Benarkah?”seisi istana tak menyangka, hingga L mengayunkan tongkat sihirnya dan memunculkan suatu benda yang dianggap asing oleh seisi istana, kecuali Kai tentunya.

Televisi berukuran besar, dan ini memang tujuan utama L mendatangi dunia nyata. Ternyata ingin memberikan benda elektronik tersebut pada keluarga kerajaan agar mereka bisa menyaksikan Howon tampil di pentasnya nanti. Apakah ada hal lain yang ia pikirkan sampai-sampai ia melakukan hal ini? entahlah.

“ Jika kalian tidak percaya, silahkan saksikan dia disana hari sabtu nanti. Kalian boleh undang seluruh rakyat untuk melihat betapa terkenalnya pengawal kerajaan kalian sekarang..” kata L sembari menepuk TV yang ia berikan, “…tidak perlu khawatir soal listrik dan jaringan yang tentu saja tidak sampai kesini, aku sudah mengaturnya.”

Raja dan ratu serta ketiga anaknya menghampiri benda itu dan memperhatikannya dengan bingung, membuat Kai tak bisa menahan tawanya.

“ Bagaimana menggunakannya?”tanya mereka tak mengerti.

“ Tanya saja si dekil itu, ia hidup di dunia nyata lebih lama dariku.”jawab L sembari menunjuk Kai.

“ Ya.. aku akan memberitahu nanti.”jawab Kai dengan nada siap.

“ Baiklah.. tidak usah berterimakasih atas benda itu, anggap saja sebagai hadiah dari aku dan Yeoshin karena kami akan memiliki anak pertama kami sebentar lagi.”ucap L kemudian.

“ Jadi Yeoshin benar-benar sedang hamil!?”semua terkejut.

L mengangguk dengan angkuh, “ Sudah. Kalau begitu, aku pergi.”

“ Tunggu!”Madame Sunny menahannya, L tak jadi menghilang dan langsung menghadapi Madame Sunny yang menghampirinya.

“ Ada masalah?”

“ Apa kau tahu Kim Hyoyeon masih hidup atau sudah mati? Selama ini kehidupannya selalu menjadi mitos bagi negeri ini.”

L begitu tertarik mendengar pertanyaan Madame Sunny, tentu karena ia merasa Hyoyeon sudah mati di tangannya. Dengan angkuhnya L berbicara dengan suara keras.

“ Dia memang benar-benar ada. tapi aku sudah bertarung dengannya dan ia kalah, lalu mati.”

Seisi istana tercengang dan tentu saja tak percaya.

“ Bisa kau ceritakan?”tanya Madame Sunny, L pun bersedia dan ia menceritakan pertarungannya dengan Hyoyeon pada seisi istana tanpa menyebut nama Sungyeol agar ia yang dianggap hebat.

***

 

“ Sungguh cerita yang salah..”

Seorang wanita dengan wajah rusak tertawa licik saat melihat dan mendengar cerita L melalui air sungai yang ia gunakan untuk memantau apa yang sedang terjadi di dalam istana.

“ Dia semakin berulah..”ucap sang cenayang yang ada disampingnya. Membuat semangatnya untuk balas dendam semakin meluap-luap.

“ Ini semua karena kau. Kau harus berada disampingku sampai dendamku terbalaskan…”ucap wanita berwajah rusak yang baru saja berhasil membuka matanya itu, cenayang Sungyeol mengangguk pelan.

“ Ya. Asal kau menepati kesepakatan kita barusan.”jawab sang cenayang.

Wanita itu mengangguk bersedia dan tiba-tiba mulai memasukkan dirinya ke dalam sungai bening didepannya, setelah itu menunduk dan menenggelamkan dirinya sejenak kedalam sana.

“ Aku akan merindukan wajah ibu.”ucap Namjoo sedikit sedih dengan apa yang dilakukan Hyoyeon saat ini. sementara Sungyeol tersenyum licik.

Sang penyihir keluar dari dalam air, kemudian menatap kedua tangannya lalu bercermin di airnya dan memegangi wajahnya yang tak lagi rusak. Bukan hanya tak lagi rusak, tetapi juga tak lagi sama…

Sungyeol tersenyum puas dan membantu sang penyihir keluar dari dalam air.

“ Terimakasih, dengan begini aku bisa melihat Yookyung setiap hari.”

Hyoyeon tersenyum dan kembali bercermin di air, menatap wajahnya yang kembali menduplikasi wajah Yookyung. Namun tak hanya untuk sementara, tetapi untuk selamanya agar Sungyeol tidak pergi darinya, karena ia membutuhkan sang cenayang untuk balas dendam pada musuh besarnya, L.

“ Ibu, coba lihat perutmu..”ucap Namjoo, “…mungkin setelah berendam tadi bisa muncul lagi.”

Hyoyeon sedikit menaikkan jubahnya, melihat perutnya dan mencari tato tanda kehebatannya. Ia tersenyum pahit karena sebentuk akar tanaman itu sudah menghilang dari perutnya karena pertarungan tersebut.

 

“ Aku harus mendapatkan tanda kehebatanku lagi. Tunggu aku, L..”

******************

5 hari kemudian…

Pagi hari di rumah keluarga Yoon…

 

“ Sekolah kalian masih diliburkan?”tanya Nyonya Gayoon pada Bomi dan Eunji sambil mempersiapkan roti nanas dan beberapa gelas susu di dapur.

“ Iya. Polisi memutuskan untuk menutup sekolah dan asrama sampai penyelidikan selesai.” jawab Bomi sambil membantu mengoles selai pada rotinya.

“ Tapi tidak ada perkembangan sampai saat ini. semua masih misterius.”ucap Tuan Doojoon sambil menunjuk salah satu berita di koran yang ia baca, yang kebetulan memuat berita tentang pembunuhan-massal-misterius yang terjadi di SMA Junghwa.

“ Kudengar kepala sekolahnya saja kabur..”kata Nyonya Gayoon.

Eunji geleng-geleng kepala mendengar yang ini, sebab sampai saat ini ia tak tahu dimana penyihir nomor empat itu berada. Mungkinkah dia kabur ke negeri Junghwa dengan ramuan portal yang banyak L miliki? Kalau begitu, ia pasti sedang mempersiapkan banyak hal untuk menyambut cucunya yang akan lahir.

Namun kemana kedua orangtua dari cucu Taeyeon yang akan lahir?

Naeun menikmati masa kehamilannya di tengah-tengah keluarga Nam sejak Woohyun berhasil sembuh dan sehat seperti sediakala. Sayang bukan karena ramuan yang ia buat, namun karena ramuan yang dipegang Chorong.

Ya, pada akhirnya Chorong memberikan ramuan itu untuk Woohyun dan melupakan niatnya untuk menghidupkan Myungsoo. Meski gadis itu masih resah karena Sungyeol tak kunjung kembali, ia mencoba menikmati harinya dengan Woohyun yang sudah sehat. Ia juga menjadi lebih sering bermain dengan Naeun yang akan segera menjadi adik iparnya karena ia dan Woohyun akan mengulang pertunangan mereka yang tertunda karena pertengkaran di masa lalu.

Eunji sendiri, yang menghabiskan waktu di rumah keluarga Yoon juga kadang keluar rumah untuk bermain bersama Naeun, entah itu hanya sekedar makan bersama atau hal lainnya. Eunji begitu lega karena Naeun bahagia di masa kehamilannya, sebab L tak menampakkan dirinya sejak insiden pembunuhan itu.

Ya, tak ada yang tahu dimana penyihir jahat itu sekarang. Disaat Eunji ingin mendiskusikannya dengan Naeun, Naeun tidak pernah mau menanggapinya dan justru merasa bebas.

 

“ Eomma.. Eunji, Bomi.. mau kubacakan ramalan bintang?”Tuan Doojoon tiba-tiba menawarkan sambil menunjuk rubrik zodiak di koran yang ia baca.

“ Bacakan punyaku, appa!”kata Bomi, Tuan Doojoon yang sudah tahu zodiak anaknya pun membacakan ramalannya.

Eunji mendadak tersenyum sendiri, mengingat sesuatu.

“ Ya! Kenapa senyam-senyum begitu?”tanya Nyonya Gayoon, Eunji salah tingkah.

“ Ng.. ani. Kalau mendengar kata ramalan, aku ingat kejadian lucu yang pernah aku alami.”ucap Eunji malu-malu, namun membuat keluarga angkatnya penasaran.

“ Kejadian apa? Coba ceritakan..”pinta Tuan Doojoon dibarengi anggukan Bomi.

“ Ehm..ehm.. jadi begini..”

Eunji mulai menceritakan pengalamannya saat ia menghindari wartawan dan ditolong oleh Jiwon kemudian berjalan-jalan dengan temannya itu hingga mereka bertemu dengan seorang peramal. Eunji pun menceritakan bahwa ia dan Jiwon sampai adu mulut dengan si peramal karena si peramal mengotot mengatakan Jiwon adalah laki-laki, gadis itu menceritakannya sambil terus tertawa karena si peramal sampai memberi uang jaminan padanya.

“ Hahahaha! Bagaimana bisa ramalannya semelenceng itu?”Tuan Doojoon dan Nyonya Gayoon tertawa, sementara Bomi teringat sesuatu.

“ Oh ya, dari ceritamu tadi kami jadi tahu juga kalau ternyata bukan kau yang meracuni Hoya.”ucap Nyonya Gayoon.

“ Ya. Maaf karena kami sudah memarahimu waktu itu.”tambah Tuan Doojoon. Eunji mengangguk.

“ Tunggu.. kalau bukan Eunji pelakunya, siapa dong? Sampai saat ini tidak ketahuan ya.”pikir Nyonya Gayoon, Bomi mendadak pucat.

“ Ah.. eh.. Eunji, ayo kita ke kamarku sebentar! Ada yang ingin kuberi padamu!” Bomi yang takut jika ayah ibunya membahas kasus keracunan Hoya langsung menarik Eunji ke kamarnya. Bukan hanya ingin menghindar, Bomi juga akan menepati janjinya pada Jiwon terhadap Eunji.

*

 

“ Mwo? Tiket ini untukku??” Eunji merasa heran karena Bomi memberi tiket grand final SDC padanya secara cuma-cuma.

“ Iya. tapi maaf, itu hanya tiket reguler, kau jadi berdesakan dengan penonton. Hehe. Anggap saja itu sebagai tanda maafku karena sudah membuatmu dibully oleh fans-fans Hoya di sekolah.”

“ B..bukan..bukan itu, tapi aku kan tidak mau kesana.”Eunji menolak, “…lagipula kau tidak sayang memberiku ini?”

“ Tidak.. aku nonton di rumah saja. Kau kesana lah sekali saja, kalau aku kan sudah sering nonton live.

“ Tapi..”

“ Terimalah tiket itu.. pakailah..” Bomi memelas, karena kalau Eunji menolak ia takut fanmeet pribadinya dengan sang idola gagal.

“ Bomi, aku tidak bis….”

“ Pokoknya kau harus kesana!! Titik!”Bomi tak mau dengar lagi, ia pun keluar kamar dan membiarkan Eunji menatapi tiketnya dengan galau.

 

“ Ck, tapi aku tak mau melihat artis sialan itu lagi..”

******

 

Keesokan harinya…

Saturday Night, 08.15 PM…

 

“ Kau gila, L. Lihat, pelaku pembunuhan di SMA Junghwa masih belum ditemukan. Ibumu masih jadi buronan polisi karena dianggap sebagai kepala sekolah yang tidak bertanggung jawab. Sekolah dan asrama masih ditutup dan dijaga ketat oleh polisi sampai sekarang karena masih diadakan penyelidikan.”

Hoya yang baru saja selesai make up dan menunggu waktu tampilnya membaca koran di backstage bersama L, manajer-penyihirnya yang seminggu terakhir ini tinggal bersamanya di hotel dan mengurus segala kebutuhannya –dengan tanpa dosa setelah membunuh banyak orang dan mampir ke negeri Junghwa-.

“ Selidiki saja terus sampai bosan, hahahaha.”tanggap L santai sambil meminum bir kalengnya, “…lagipula aku hanya membunuh sebelas orang. Belum semuanya karena saat itu masih sedikit baik hati.”

“ Sebelas orang!? Baik hati!? Dasar gila. Yah.. tapi aku tidak bisa menyalahkanmu sepenuhnya sih, kalau aku masih di sekolah juga pasti aku marah jika ada yang membicarakan bahkan sampai membuat buletin tentang Hyerim.”

“ Kita sehati rupanya, aku menyesal tidak mengajakmu saat aku berpesta membunuh siswa-siswa itu, hahahaha.”

Hoya geleng-geleng kepala, gemas karena L sepertinya tak berubah juga.

“ Lalu Yeoshin sedang apa dan dimana sekarang?”

L tersenyum tipis dan menggeleng, “ Aku biarkan dia senang dulu sebelum melahirkan.”

“ Mwo? Melahirkan? Memangnya sebentar lagi? Perutnya saja masih kecil kan?”

“ Ketika dia ke negeri Junghwa, perutnya akan langsung membesar. Seorang penyihir hanya bisa melihat kehamilannya saat ia benar-benar berada di negerinya. Itu memang hukumnya. Dia juga hanya butuh waktu kurang dari sebulan untuk mengandung lalu melahirkan, itu juga sudah hukum di dunia kami.”

“ Wah.. cepat sekali..”

“ Annyeong..”

Seorang gadis cantik dan tinggi serta berpakaian seksi tiba-tiba menghampiri L dan Hoya, kemudian menyodorkan dua buah tiket pada L.

“ Apa ini?”tanya L.

“ Itu.. tiket bangku VIP untuk manajer.”jawab gadis itu dengan sedikit malu-malu.

“ Ooh.. benarkah? Terimakasih.”

Gadis itu mengangguk dan langsung berlalu, Hoya memperhatikan gadis itu sampai benar-benar menghilang.

“ Hahaha.. gak artisnya gak manajernya, sama-sama seksi.”ucap Hoya sambil tertawa.

“ Ooh.. jadi dia manajernya Minah?” tanya L, Hoya mengangguk.

L sekarang menatap tiketnya, “ Wah.. VIP. Aku bisa melihatmu menari dari dekat. Tapi.. bukankah seharusnya aku mengurusimu di belakang panggung?”

“ Berarti kau harus bolak balik dari bangku ke backstage sepanjang acara.”

“ YA! Itu melelahkan!”

“ Itu resikomu.”

“ Ck, Ada-ada saja. Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu.”kata L tiba-tiba sambil membuang kaleng birnya ke tempat sampah.

“ Mwo? Mau kemana? Kau akan kembali kan?”

“ Aku kan dapat dua bangku VIP. Aku ingin mencari seorang lagi untuk mengisinya.”jawab L sembari bangkit dari duduknya dan merapikan pakaiannya, lalu menghilang dalam sekejap dan meninggalkan asap di depan wajah tampan Hoya.

“ Hahaha, aku tahu siapa yang kau maksud, L.”

***

“ Karena ini adalah malam terakhir Appa dan Umma di Korea, kami mengadakan acara makan malam ini sekaligus merayakan kesembuhan Woohyun, dan pertunangan Woohyun dengan Chorong. walaupun hanya dirumah, kami..”

Teng tong..

Perkataan Tuan Nam terpotong saat beliau mendengar bel mahalnya berbunyi.

“ Ada tamu?”tanya ayah dari Woohyun itu pada salah satu pelayannya, pelayannya yang sudah mengecek CCTV mengiyakan.

“ Siapa?”tanya Woohyun.

“ Kami tidak tahu. Dia laki-laki.. sepertinya teman Tuan Muda..”

“ Suruh saja dia masuk dan bergabung disini.”kata Nyonya Nam. Si pelayan segera berlari kecil menuju pintu utama dan membukakan pintu, mengizinkan tamu berwajah tampan itu masuk.

 

“ Annyeong haseyo..”

“ Wah! Myungsoo.. lama tidak bertemu denganmu!” Tuan dan Nyonya Nam langsung berdiri menyambut siapa yang datang, sementara Woohyun, Chorong, dan Naeun saling bertatapan bingung. Naeun bahkan mengkode Woohyun dan Chorong.

“ Serius, aku tidak mengundangnya kesini.”

Woohyun dan Chorong pasrah saja, karena mereka sudah tahu siapa sebenarnya lelaki yang sedang tersenyum ramah pada orangtua mereka itu.

“ Aku senang kau datang, ayo bergabung.”kata Woohyun, sementara Chorong sebisa mungkin menghindari tatapan penyihir itu karena masih trauma.

“ Maaf, aku sama sekali tidak tahu kalau sedang ada acara makan malam di rumah ini.”kata L pura-pura sungkan sambil duduk di samping Naeun yang merasa mulai takut karena setelah beberapa hari akhirnya mereka bertemu lagi.

“ Gwenchana.. bergabung saja, kami justru senang kau datang.”kata Tuan dan Nyonya Nam. L tersenyum, dan berpikir sepertinya semasa hidupnya Myungsoo juga cukup akrab dengan kedua orangtua Woohyun, padahal Woohyun adalah rivalnya.

“ Lagipula Myungsoo juga kan kekasih Naeun, sudah seharusnya dia bergabung disini.”kata Woohyun sengaja, membuat Naeun merasa malu.

“ Wah, benarkah? Jadi kalian berpacaran? Ya ampun.. Naeun, kenapa kau tidak pernah bilang? Dan kenapa tidak sekalian undang saja Myungsoo kesini sejak tadi?” Nyonya Nam agak protes, Naeun menunduk malu.

“ Tapi aku senang karena anak angkatku menemukan pasangan yang sempurna. Sejak dulu aku kagum pada nak Myungsoo, dia sangat baik dan bertanggung jawab. Senang mendengar kau menjalin hubungan dengan uri Naeun..”kata Tuan Nam, L mengangguk saja kemudian tanpa sengaja ia dan Naeun menoleh hingga mata mereka bertemu.

“ L, untuk apa kau dat…”

“ Kau cantik sekali malam ini.”

Naeun tak peduli dan langsung membuang muka. Namun L, yang sedang berakting menjadi Myungsoo didepan kedua orangtua kini mencari perhatian dengan mengambil piring makanan Naeun dan memotongkan dagingnya untuk gadis itu. Dan setelahnya secara sembunyi-sembunyi lelaki itu melukai pergelangan tangannya dengan pisau makan, lalu meneteskan darahnya diatas makanan istrinya.

“ Makanlah, darah penyihir hebat sangat bagus untuk ibu hamil.”

*******

 

“ Kau tahu hari ini hari apa?”

Eunji memakai kacamata anti-radiasinya dan membuka pesan yang masuk ke ponselnya, pesan dari artis itu. Baru kali ini ia mengirim Eunji pesan lagi dan Eunji mengerti apa maksudnya.

“ Hari sabtu.”

Gadis itu membalas dengan santai, berusaha santai lebih tepatnya. Ia sudah memutuskan untuk tidak ke acara itu meski tiket sudah di tangan. Dan hal itu membuat Bomi balik marah padanya. Saat ini ia hanya berbaring di kamar, menatap satu stel pakaian berwarna oranye yang menggantung di belakang pintu kamarnya, pakaian yang tadinya ingin ia pakai untuk menghadiri acara final tersebut…

“ Aku berharap kau muncul di tengah penonton. Aku akan terus memeriksanya sampai acara berakhir.”

Eunji menghela nafas membaca pesan balasan Hoya. Ia tak membalas lagi dan lebih memilih melamun di atas tempat tidurnya..

***

 

“ Hebat sekali kau, L. setelah menghilangkan nyawa banyak orang dan membuat sekolah ditutup, kau menghilang berhari-hari, lalu saat datang tiba-tiba mengajakku pergi. Kau kira aku mau?”

Naeun mengomel dengan suara pelan karena masih punya perasaan takut, ia tak tahu dirinya ada dimana sekarang. Tadinya ia ingin menolak saat setelah makan malam L mengajaknya pergi, tapi sialnya kedua orangtua angkatnya mengizinkan. L pun langsung membawa istrinya menghilang dan muncul di suatu tempat yang sangat ramai.

“ Mau tidak mau kau harus mau.”jawab L sambil menariknya berjalan dengan caranya seperti biasa, kasar.

“ Memangnya ini tempat apa? Ramai sekali! Kau mau menyiksaku didepan banyak orang?”

“ Ini..tempat kerjaku.”

“ Mwo!?”

“ Aku bekerja pada seseorang yang akan tampil malam ini disini.” L menunjukkan kartu namanya sebagai manajer Hoya pada istrinya, “…ucapkan selamat pada suamimu, karena akhirnya punya pekerjaan di dunia nyata.”

Naeun menganga, “ B..bagaimana kau kenal dengan Hoya!? Dia kan artis..”

“ Tentu saja aku kenal, sebelum dia jadi artis pun aku sudah kenal dengannya. Kau tahu siapa orang yang menemaniku masuk portal ke dunia ini? ya dia.”jawab L sambil menunjuk seseorang yang sedang bersiap di atas panggung, membuat Naeun sadar ini adalah gedung pentas, dan tentu saja membuat gadis itu melihat seseorang yang dicintai sahabatnya sejak dulu.

“ I..itu..Howon!?”Naeun terkejut bukan main dan langsung panik ingin memberitahu Eunji dan mencari-cari ponsel di sakunya.

“ Sudahlah, ayo duduk dulu dan nikmati pentasnya. Aku punya dua tiket VIP.”L menarik istrinya itu untuk duduk dulu di bangku depan.

***

 

“ HYERIM!!! KAU HARUS KESINI SEKARANG JUGA! KE FINAL SEOUL DANCE COMPETITION!!!! HARUS!!”

“ Ada apa sih?” Eunji heran membaca sms Naeun yang baru saja masuk ke ponselnya, Naeun tak bisa mengatakan ada Howon disana karena L melarangnya, sebab Howon ingin Eunji tahu langsung darinya.

“…jadi Naeun menonton juga? Dasar ibu hamil kurang hiburan. Dengan siapa dia kesana?”Eunji tertawa kecil dan tak menjawab smsnya, ia justru beringsut menuju pintu kamarnya dan mengintip ruang tengah lewat lubang pintu. Terlihat Tuan Doojoon, Nyonya Gayoon, dan Bomi menunggu pentas dimulai di depan TV.

“ Eunji tidak jadi kesana?”tanya Tuan Doojoon.

“ Menonton di TV saja gak pernah mau apalagi nonton langsung.”jawab Nyonya Gayoon, membuat Bomi beberapa kali menoleh ke pintu kamar Eunji yang tertutup rapat dengan kecewa.

“ YA!!! Sudah mulai!!” pekik Tuan Doojoon sambil membesarkan volume televisinya, Eunji langsung beranjak dari lubang pintu karena tak mau melihat.

“ Waaaaah!!! Hoya tampan sekali dengan jas hitam!!”teriak Nyonya Gayoon saat menyaksikan Hoya naik ke atas panggung, membuat Tuan Doojoon agak kesal dan tak mau kalah.

“ Waaah!! Minah cantik sekali dengan gaun hitam!”teriak Tuan Doojoon.

“ Hahaha! Appa..umma..”Bomi geleng-geleng kepala.

Eunji tertawa kecil mendengarnya kemudian bersandar di belakang pintu, cukup mendengar saja apa yang diucapkan keluarga angkatnya untuk mengetahui jalannya babak final tersebut.

******

 

“ HOWON!!! LEE HOWON!!!!”

Istana Junghwa benar-benar ramai dan padat, semua penduduk berkumpul di depan istana tempat Raja meletakkan TV besar pemberian L di tembok tengah menara istana agar semua bisa melihat. Keluarga kerajaan serta kedua orangtua Howon yang duduk paling depan benar-benar terkejut melihat pengawal termuda mereka masih hidup bahkan berdiri di atas panggung yang sama megahnya dengan istana mereka dengan wajah yang begitu tampan.

Kai yang kerepotan karena ditugaskan menekan-nekan remote TV menatap Hoya yang tengah beraksi di panggung dengan iri, mengingat Hoya audisi menggunakan formulirnya waktu itu. Seandainya saja L tidak menculiknya saat itu, mungkin dia yang ada di atas panggung tersebut sekarang.

*****

 

1 jam pertama..

“ Wah! Hoya benar-benar dancer sejati! Bahkan tidak kalah saat kolaborasi dengan dancer terkenal seperti ini!”

“ Walaupun berkeringat dia tetap saja tampan.”

“ Dia seperti tidak kehilangan energi, padahal gerakannya begitu sulit.”

Mendengar kata-kata itu dari ruang tengah, Eunji mulai berdiri untuk mengambil pakaiannya yang tergantung di pintu, berniat untuk bersiap pergi ke pementasan tersebut karena penasaran.

“ Wah, setelah commercial break Hoya akan tampil dengan Minah.”

“ Pasti dance erotis lagi.”

Eunji duduk lagi, melempar pakaiannya dan tak jadi pergi.

 

1 jam berikutnya…

“ Hah..! untung saja sudah selesai tampil dengan Minah!” terdengar suara Bomi bernafas lega karena kesal sepanjang penampilan tersebut.

“ Kalau nanti siang ada siaran ulang pasti dance tadi di-cut.”

“ Iya. Terlalu liar, tapi benar-benar keren!”

“ Ya. Mereka sangat profesional.”

Eunji semakin tak mau pergi setelah mendengar itu, ia pun memutuskan untuk tidur meski sejak tadi sms dan telepon dari Naeun terus bergantian masuk ke ponselnya.

*

“ INI PENAMPILAN TERAKHIR!? Yah! Waktu cepat sekali..!”

 

Eunji membuka matanya saat mendengar teriakan Bomi, setelah itu melirik jam yang sudah menunjuk ke angka setengah dua belas. Ia tidur selama kurang lebih dua jam dan terbangun saat mendengar perkataan Bomi barusan karena masih punya sedikit niat untuk pergi kesana.

 

“ Setelah tampil semoga saja Hoya mengucapkan kata-kata terakhirnya seperti Minah di akhir penampilannya tadi.”kata Tuan Doojoon.

“ Ya. Aku masih tak menyangka di sesi tadi Minah berani mengatakan kalau dia memang menyukai Hoya. Aku salut dengan keberaniannya, padahal dia perempuan.”kata Nyonya Gayoon.

“ Hahaha! Biar saja, yang penting Hoya tidak punya hubungan apapun dengannya.”terdengar suara Bomi yang tenang-tenang saja.

Eunji terkejut. Jadi Minah sudah mengaku? Untung dia tidur tadi, jadi tidak perlu mendengarnya dan merasa sakit hati.

Eh, sakit hati? Apa Eunji masih menaruh harapan pada Hoya?

Gadis itu gusar, ia pun menyambar ponselnya dan melihat lagi sms-sms dari Naeun yang sangat banyak dengan isi yang sama. Hingga ia melihat satu pesan lain terselip. Pesan dari Hoya.

 

“ I wanna see you in my last speech. Please come here, I beg you.”

*

“ Appa! Umma! Bomi.. aku pamit!!!”

Eunji keluar dari kamar dengan satu stel pakaian oranye-nya dan memakai sepatunya dengan terburu-buru. Membuat keluarga angkatnya itu terkejut.

“ YA! Acara sudah mau selesai dan kau… ck, anak itu.”Tuan Doojoon tak jadi menyelesaikan kata-katanya karena Eunji sudah keluar rumah dengan berlari.

“ Kenapa dia tiba-tiba mau pergi?”Nyonya Gayoon heran, sementara Bomi tersenyum karena akhirnya Eunji memakai tiket pemberiannya.

 

Eunji panik karena tak menemukan taksi sebab hari sudah sangat malam, ia berlari menuju jalan raya hingga sebuah mobil berhenti di sampingnya.

“ Kita bertemu lagi, Jung Eunji.”si pengendara mobil membuka kaca dan menunjukkan wajahnya.

D.O, mengapa ia seakan tahu Eunji ada di tempat ini?

“ Sunbae! Antar aku ke gedung pentas Seoul TV! Kumohon..”Eunji terpaksa meminta tolong mantan kekasihnya itu karena tak ada lagi taksi yang lewat.

“ Mwo? Ck, aku baru saja dari sana.”

“ Kenapa kau sudah pulang setelah acara selesai?”

“ Gara-gara speech Minah tadi, dia bilang dia suka dengan Hoya. Kau tidak tahu? Aku menyerah menontonnya jadi aku pulang saja.”

Eunji agak terkejut, jadi D.O pulang karena itu? Apa itu artinya dia masih menyukai Minah?

“ Jadi kau tidak bisa mengantarku kesana?”Eunji agak kecewa.

“ Kau kenapa baru mau datang jam segini?”

“ Aku..aku ingin datang dari jam delapan tapi aku ketiduran.”jawab Eunji beralasan, “…kumohon, antar aku, sunbae!”

“ B..baiklah. masuk.”D.O bersedia, Eunji buru-buru masuk ke mobilnya.

 

“ Yah! Macet! Aku salah jalan, mianhae.”D.O memukul setir mobilnya ketika sadar ia melalui jalan yang salah dan terjebak macet karena para pengendara di jalan tersebut rata-rata berhenti dan menyaksikan layar besar yang ada di pembatas jalan.

“ Duh..”Eunji panik. Ingin meminta D.O lewat jalan lain, mobil mereka sudah diapit kendaraan lain.

“ Pantas macet. Semuanya pada nonton.”D.O melihat ke layar besar tersebut, “…tuh! Finalnya tayang disana! nonton disini sajalah, tidak usah kesana. Lagipula tinggal segmen terakhir, Hoya tampil, last speech, baru pengumuman,”

Eunji melihat ke layar tersebut dan ternyata sedang commercial break.Artinya ia masih harus menunggu. Apakah ia menonton di jalan saja? Ia masih resah karena Hoya begitu memohon ia datang.

“ Eunji-ssi.”D.O memanggilnya.

“ Ne, sunbae?”

“ Aku..minta maaf karena pernah mengkhianatimu.”

“ Ooh. Ya.. sudah kumaafkan.”

“ Hmm.. bagaimana kalau kita memulai lagi? Aku…aku sudah tidak mengharapkan Minah. Paling-paling setelah final ini usai dia benar-benar bersama Hoya.”

“ M..mwo?”

“ Ayolah, aku tidak akan mengkhianatimu.”

“ Tapi..”

D.O mulai mendekat dan berniat menciumnya, Eunji terdiam karena gugup, hingga tak sengaja matanya melihat lagi ke layar besar di tengah jalan, ternyata acara tayang kembali dan ia melihat seseorang muncul di atas panggung.

“ YA TUHAN!” Eunji terkejut bukan main dan hampir pingsan, ia menutup mulutnya saat melihat siapa yang ada di layar besar di depannya itu.

“ Kenapa!?”tanya D.O sedikit kecewa karena gagal menciumnya.

Eunji benar-benar panik, tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan gemetaran ia keluar dari mobil D.O dan berlari sekencang-kencangnya menuju gedung pentas.

*********

 

15 menit..

 

“ Hyerimmmm..” Naeun masih resah menunggu sahabatnya itu, berkali-kali ia menoleh kearah penonton namun tak ia temukan sosok Eunji, ia tak tenang karena Hoya sudah menyelesaikan penampilan terakhirnya dan terlihat masih berdiri di atas panggung untuk mempersiapkan last speech-nya.

“ Apa dia sudah datang?”Hoya bertanya dengan kode ke arah L, lelaki itu menggeleng. Hoya terdiam sejenak dan mencari-cari sosok Eunji diantara lautan manusia didepannya.

“ YA! Ini sudah segmen terakhir dan kau baru datang!” petugas tiket yang sudah hendak pulang agak kesal karena seorang gadis menyodorkan tiketnya.

Gadis itu tak peduli, setelah menyerahkan tiketnya ia memasuki gedung pentas yang sedang sunyi karena Hoya hendak memulai kata-kata terakhirnya.

 

“ Pertama-tama.. aku berterimakasih pada kalian semua yang sudah mendukung aku hingga bisa sampai babak ini.”Hoya memulai, dan Eunji yang hanya memegang tiket reguler melihatnya dari jauh dengan tatapan masih tak percaya.

“…jika aku keluar sebagai pemenang, aku berjanji akan bekerja keras. Meskipun tidak, aku tetap bekerja keras dan berusaha untuk tetap berkarir di bidang ini. dan satu hal lagi yang paling kujanjikan, aku akan berusaha untuk tidak lagi membuat masalah dan skandal seperti saat ini. untuk itu, aku mohon maaf jika sudah membuat keributan dan menghancurkan hati kalian.”

“…aku juga berterimakasih sekaligus meminta maaf pada kalian yang selama ini mendukung penuh aku dan kompetitorku, Bang Minah. Aku berterimakasih karena kalian mendukung kami sebagai partner, dan aku meminta maaf pada kalian yang mendukung kami sebagai pasangan, karena kami tidak bisa merealisasikan hal itu.”

Studio mendadak ramai karena dengan begitu secara tidak langsung Hoya menolak ucapan Minah yang sudah mengaku pada khalayak ramai bahwa ia benar-benar menyukai Hoya. Tetapi lelaki itu tak peduli, ia ingin melanjutkan kata-katanya, dan matanya menangkap wajah tuan putrinya di antara lautan manusia didepannya, lelaki itu tersenyum.

“…kau. Kemari.”

Hoya menunjuk Eunji, membuat mata semua orang mengarah kepadanya, Eunji mendadak gugup dan kebingungan. Sementara Naeun yang sadar sahabatnya sudah datang tersenyum senang.

Eunji masih berpura-pura dan menunjuk dirinya dengan wajah bertanya.

“ Ya. Kau, kemari.”Hoya mengulang, “…penonton, tolong beri jalan untuknya.”

Meski masih bingung, para penonton yang berdiri di depan Eunji mulai bergeser dan memberi gadis itu jalan menuju panggung. Gadis itu mulai melangkah dengan gemetar karena tahu siapa yang memanggilnya.

Perlahan-lahan Eunji berjalan menuju panggung yang sangat megah didepannya, mencoba menahan rasa gugupnya sebab saat ini hampir jutaan mata tertuju padanya. Namun matanya sendiri tertuju pada lelaki tampan yang sedang menunggunya dengan senyuman.

Dekat dan semakin dekat.. Eunji tiba di atas panggung dan melihat wajah artis yang dibencinya tanpa masker ataupun kacamata hitam. Wajah artis yang ternyata sudah ia kenal sedari dulu bahkan terus terbayang dalam benaknya. Wajah cinta pertamanya..

Lee Howon.

Lelaki itu menariknya sedikit ke tengah panggung, kemudian mengeluarkan setangkai mawar yang ia sembunyikan dibalik punggungnya, menyodorkannya kearah gadis yang selama ini ditunggunya. Membuat studio kembali ramai.

“ Apa kabar, Tuan Putri?”

Eunji masih gemetar, jika saja lelaki itu tak memegang kedua bahunya saat ini, mungkin ia bisa jatuh pingsan. Perlahan ia menyentuh pipi lelaki itu, mengelusnya dengan lembut dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“ Lee Howon.. kau Howon-ku..?”tanyanya pelan dengan tangis yang masih tertahan.

“ Ya. Ini aku..”jawab lelaki itu dengan senyum khasnya, “…merindukan aku, Jung Hyerim?”

Tangis Eunji pecah seketika, mereka berpelukan erat dan menangis bersama. Hoya mengelus pelan rambut indah Eunji, mencoba meredakan tangis gadis itu. Studio benar-benar ramai sekarang, bahkan staf yang berada di belakang panggung pun terkejut karena tak menyangka akan ada hal seperti ini terjadi di acara mereka.

“ Kau bawa saputanganku?”bisik Hoya disaat Eunji masih erat memeluknya, membuat gadis itu terkejut untuk yang kedua kalinya.

“ Kau..”

“ Lee Jiwon. Kau mengenalnya?”

“ Bagaimana kau…..”

“ Aku juga Lee Jiwon. Maaf sudah membohongimu. Maafkan aku, sayang..”

Eunji semakin menangis dan memukul punggung Hoya, “ Kau jahat! Pantas saja peramal itu benar..”

Hoya tertawa kecil dan mengeratkan dekapannya, “ Meski begitu, saat menjadi Howon-lah aku baru bisa merasa dekat denganmu. Aku baru bisa melepas rinduku sekarang, aku benar-benar lega. Terimakasih sudah datang, sayang. Aku yakin kau pasti datang.”

Eunji mengangguk cepat dan melepas pelukannya, menatap mata Hoya sekali lagi dan keduanya mendekat, mempertemukan bibir satu sama lain dan saling memberikan lumatan-lumatan penuh kerinduan dengan begitu lama, membuat semua penonton berdiri dan tentu saja membuat kamera semua orang semakin liar mengabadikan momen tersebut.

 

“ Mulai detik ini, baik di dunia ini maupun di negerimu, aku takkan membiarkanmu pergi lagi, Jung Hyerim..”

***********************************

 

“ Uri Hyerim!!!!” penduduk negeri Junghwa bahkan keluarga kerajaan mendadak berdiri saat melihat putri pertama mereka muncul di televisi yang sejak tadi mereka lihat. Yang mengejutkan, kini ia berciuman pengawal kerajaan mereka dan menangis bahagia.

“ Apa yang terjadi?”

“ Sejak kapan mereka berhubungan?”

“ Apa sejak bertemu di istana?”

Semua bertanya-tanya termasuk raja dan ratu bahkan kedua orangtua Howon sendiri.

“ Bukankah ini yang kita tunggu, tuan putri?”tanya Kai sambil melirik kearah Krystal yang mengambil tempat duduk sengaja tak jauh darinya, “…mereka berakhir bahagia. Kutukan yang bagus untuk kita.”

Krystal tersenyum sambil menatap kakaknya di layar televisi, yang akhirnya bisa bertemu lagi dengan Howon. Namun setelahnya putri bungsu kerajaan Junghwa itu menangis dan menjauh dari keramaian.

“ Ya! Kau kenapa?” Kai mengejarnya dan ia berhenti di depan kolam ikan besar di depan istana, yang sudah cukup jauh dari keramaian.

“ Kai..” Krystal memeluk lelaki itu dan menangis, “…kalau nanti Hyerim unnie dan Howon pulang kesini dan akan kembali lagi ke dunia nyata, ikutlah dengan mereka.. pulanglah.”

“ APA!?”Kai terkejut mendengarnya, “…ada apa!? Kenapa menyuruhku pulang!?”

“ Bukankah kau dibuang L kesini? bukankah seharusnya kau senang bisa pulang?” tanya gadis itu dengan berat hati, Kai menggeleng.

“ Sekarang ceritanya sudah berbeda, Krystal..”

“ Tapi..”

“ Kau kenapa!?”

“ Kita berakhir sampai disini saja.”

“ A..apa?? k..kenapa tiba-tiba kau bilang begini?! Semua orang sedang berbahagia! Kenapa kau menangis sendirian dan memutuskanku begitu saja!?”

Krystal semakin mengeratkan dekapannya.

“ Aku mencintaimu, Kai. Tapi aku lebih mencintai kerajaanku, aku tak ingin negeri ini jatuh miskin. Aku harus tetap menikah dengan pangeran Baekhyun.. karena menjodohkan dia dengan Hyerim unnie sudah tidak mungkin lagi.. semua orang sudah berbahagia melihat Hyerim unnie bersama Howon.”

Kai tak mampu menahan airmatanya, didekapnya putri bungsu kerajaan yang sudah memberinya semangat hidup di negeri asing baginya itu.

“ Kalau sudah begini aku bisa apa..”ucapnya getir, “…berbahagialah, lupakan aku secepatnya dan jangan pernah bandingkan aku dengan Baekhyun karena kami begitu jauh. Belajarlah mencintainya.”

“ Kau juga.. di dunia nyata banyak gadis yang pasti lebih bisa mengerti dirimu. Carilah yang terbaik.. dan.. lupakan aku secepatnya, anggap saja aku gadis gila yang selalu menyusahkanmu selama kau berada disini..”

“ Aku tak tahu apakah aku sanggup.”

Krystal semakin tak ingin melepaskan dekapannya, namun Kai yang takut Baekhyun datang dan melihat mereka dengan terpaksa melepas pelukan terakhir gadis itu.

“…temanilah calonmu mulai sekarang, dan jangan bertemu lagi denganku kecuali kita berpapasan. Anyway, selamat karena sebentar lagi kau menikah.”

Kai pun berbalik dan meninggalkan gadis itu dengan airmata yang kembali tak mampu ia tahan.

 

“ Aku tidak menyesal pernah mencintaimu.”

*************************************************

 

Satu minggu kemudian …

 

“ Jangan! Jangan yang ini.. lihat saja peraturannya, kau tidak boleh berpacaran. Masa’ kita harus putus?”

“ Hmm.. arasseo. Bagaimana kalau yang ini?”

“ Aniyaa! Lihat peraturannya, kau tidak boleh memegang ponsel. Bagaimana aku menghubungimu saat kita jauh?”

“ Aishh.. kalau ini?”

“ Nah! Ini baru tepat! Aku kan sudah bilang kau pilih agensi yang ini saja dari jauh-jauh hari!”

Hoya tersenyum dan mengacak-acak rambut Eunji dengan gemas lalu mengambil daftar nama agensi yang dipegang kekasihnya itu, lalu membacanya.

“ Portal Entertainment. Wah, mengingatkanku pada sesuatu.”ucap Hoya sambil membaca nama agensi yang dipilihkan Eunji untuknya.

“ Aku jadi ingin membukanya..”sahut Eunji yang mengerti maksud Hoya, “…aku ingin membuka portal hari ini, aku ingin ke pulang ke Junghwa dan melihat Yeoshin melahirkan.”

Hoya merangkul Eunji dan meletakkan kepala gadis itu di dada bidangnya , “ Aku juga, sayang. Aku juga ingin menemui Raja dan Ratu secepatnya, ingin meminta izin mereka memilikimu. Kita kan tidak tahu bagaimana reaksi mereka saat melihat kita di TV waktu itu. Lagipula L sih, untuk apa dia memberikan TV ke negeri Junghwa!? Aku jadi malu penampilanku disaksikan keluarga kerajaan.”

Eunji tertawa kecil, “ Ambil positifnya saja. Mungkin L sedang mencoba berbuat baik dengan membuat sesuatu yang mustahil menjadi mungkin. Memberi TV ke negeri Junghwa kan sama saja dengan mengarahkan negeri kita menjadi negeri modern, suatu hal yang dikatakan mustahil selama ini..”

“ Kau benar. Kalau begitu.. apa L bisa menjadi penyihir baik? Agar analogi terkenal di negeri kita berubah.”

“ Hmm..benar juga. Membuat negeri Junghwa menjadi negeri modern kan sudah bisa terjadi, berarti melihat L menjadi penyihir baik juga bisa terjadi. Wah.. aku benar-benar berharap. Aku tak bisa membayangkan hidup Yeoshin mulai hari ini jika L masih tetap pada pendiriannya..”

Mata Eunji mulai berkaca-kaca, mengingat Naeun yang sudah dibawa L ke negeri Junghwa karena hari ini akan melahirkan sebab ia tak perlu menunggu 9 bulan seperti manusia biasa.

Di hari terakhir sebelum Naeun masuk portal, Eunji melihat belum ada yang berubah dari sahabatnya itu selain wajahnya yang semakin stress dan ketakutan karena suaminya sendiri. Maka itu Eunji tak bisa membayangkan jika Naeun semakin menderita setelah memiliki anak. Jangankan demikian, Eunji saja sekarang tak bisa membayangkan apakah di usia yang masih sangat muda Naeun sanggup melahirkan.

Eunji benar-benar menyesal tak bisa ikut pulang ke negeri Junghwa bahkan setelah keluarga kerajaan tahu hubungannya dengan Hoya. Hoya pun menyesali hal tersebut, mereka belum bisa pulang ke negeri Junghwa karena kesibukannya setelah keluar sebagai juara di Seoul Dance Competition.

Dan hari ini, Eunji menggantikan L sebagai manajer, menemani Hoya yang sebentar lagi akan menggelar konferensi pers untuk memilih agensi, setelah itu mereka baru bisa merencanakan kapan mereka bisa berkunjung ke negeri Junghwa karena Naeun sudah membuatkan ramuan portal untuk mereka. L sengaja tak memberi ramuan-ramuan portal curian yang ia simpan karena sampai saat ini Naeun belum tahu apapun tentang Hyoyeon. L berencana untuk memberitahukannya setelah ia melahirkan.

 

“ Sudah sampai. Silahkan langsung masuk ke gedung konferensi pers.”

Sang supir menghentikan mobil yang ditumpangi Hoya dan Eunji karena mereka telah sampai di lokasi konferensi pers, seorang petugas membukakan pintu untuk Hoya.

“ Kau tidak ikut masuk?”tanya Hoya, Eunji menggeleng pelan.

“ Aku tunggu disini.”

“ Ya sudah. Aku masuk dulu, tuan putri.”Hoya mengecup kening Eunji sekilas.

“ Ne. Fighting, Howon..!”

Hoya tertawa kecil, ia pun merapikan jas mewahnya dan turun dari mobil. Disambut begitu banyak kamera dan wartawan serta fans, lelaki itu tersenyum ramah dan melambaikan tangannya.

Eunji tersenyum menatap pengawal kerajaannya yang bahkan diperlakukan sama seperti Raja oleh masyarakat saat ini.

Tak lama, ponsel gadis itu bergetar, telepon masuk dari Chorong.

 

“ Ne, sunbae?”

“ Aku dan Woohyun sedang berada di depan TV, kami penasaran agensi apa yang dipilih Jiwon. Eh.. Hoya.”ucap kakak kelasnya itu, Eunji tertawa. Rupanya sepasang kekasih yang baru bertunangan itu menyempatkan diri menonton konferensi pers Hoya yang kebetulan ditayangkan live.

“ Terimakasih, sunbae..”jawab Eunji.

“ Oh ya, apa Naeun sudah melahirkan?”tanya Woohyun yang mengambil alih ponsel Chorong.

“ Tidak tahu, sunbae. Kami tidak bisa memantau keadaan disana karena di negeri kami tidak ada sinyal.”

“ Sayang sekali.. ya sudah, meski demikian, kami berdoa untuknya.”

“ Terimakasih, sunbae.. oh iya..”

“ Ada apa?”

“ Apa Sungyeol sunbae sudah selesai urusannya? Sudah lama sekali aku tidak melihatnya.”

Woohyun dan Chorong terdiam sejenak, keduanya saling bertatapan, sebab sampai saat ini mereka masih merahasiakan keberadaan Sungyeol di negeri Junghwa.

 

“ Sungyeol? Belum. Urusannya belum selesai, entah kapan dia bisa pulang..”

*********

 

Night, 11.00 PM

 

“ Son Yeoshin.. bertahanlah.. kumohon bertahanlah..”

Naeun terus menggeleng kuat dengan nafas terengah-engah, airmatanya terus mengalir saat mendengar suara tangisan bayinya. Matanya yang sudah memerah terus mencari sosok suaminya yang tak kunjung muncul sejak sebelum ia melahirkan. Dongwoon dan Gain menangis melihat kondisi adik mereka.

Semua penyihir negeri Junghwa bahkan berkumpul di rumah L, mencoba mengumpulkan kekuatan mereka untuk menyelamatkan Naeun dari kondisi kritis pasca melahirkan. Namun tak berhasil, Naeun terus mengerang kesakitan dan Madame Sunny, yang mengurus persalinannya memang memprediksi bahwa ahli ramuan itu akan segera menghembuskan nafas terakhirnya jika L tak kunjung datang.

“ Hanya L yang bisa menyelamatkannya.”terdengar suara Madame Sunny dari luar, berbicara pada Taeyeon yang kini menggendong bayi mungil yang baru beberapa menit lahir ke dunia mereka.

“ Aku benar-benar tak tahu dia dimana.. apa kau tak bisa menyihirnya agar tidak merasakan sakit? Kumohon.. selamatkan Yeoshin..”Taeyeon hampir putus asa dan tak tega melihat si kecil yang ada dalam gendongannya jika harus kehilangan ibunya.

“ Teori satu permintaan dalam dunia sihir. Kau tidak ingat? Penyihir manapun yang akan mati saat melahirkan punya kesempatan untuk selamat jika satu permintaannya dikabulkan.”jelas Madame Sunny, “…dan kurasa permintaan Yeoshin ada hubungannya dengan L, kalau L tidak muncul.. maka Yeoshin……”

“ Tidak..! aku harus mencarinya!” Taeyeon berbalik dan berlari, sementara Madame Sunny terus memantau kondisi Naeun yang kian melemah.

 

“ Tenang.. tenang sayang. Ibumu pasti selamat, kita hanya perlu mencari ayahmu..” Taeyeon meletakkan bayi yang ia gendong dulu ke atas tempat tidur di salah satu kamar rumahnya, setelah itu berusaha untuk tidak menangis menghadapi situasi saat ini.

“ Boleh aku memegangnya?”

Taeyeon terkejut mendapati L tiba-tiba muncul di samping tempat tidur dan ingin mengangkat anaknya, Taeyeon langsung menggendong kembali bayinya dengan cepat.

“ Kemana saja kau hah!!??” bentak Taeyeon dengan airmata bercucuran, “…jangan harap kau bisa menyentuh anak ini jika kau belum bisa menyelamatkan Yeoshin!”

“ Aku pergi agar Yeoshin bisa melahirkan dengan lancar! Aku tak mau ada disana karena ia akan takut melihat wajahku!”L mencoba membela diri, namun Taeyeon buru-buru menunjuk pintu.

“ Keluar!!!! Temui Yeoshin! Dia membutuhkanmu! Dia bisa mati kalau kau tidak ada…!”

“ A..apa maksudmu.. teori satu permintaan itu sedang berlaku bagi Yeoshin?”

Taeyeon mengangguk cepat, L mendadak panik dan segera menghilang.

 

“ L.. L..”

Naeun terus mengucap nama itu hingga jantung dan denyut nadinya melemah, matanya mulai kosong dan ia kehabisan energi untuk menahan rasa sakit. Semua penyihir yang berkumpul menundukkan kepala mereka dan mulai memberi penghormatan karena sepertinya sebentar lagi ia akan meninggal.

“ Aku disini.”

L muncul di samping tempat istrinya berbaring, menatap wajah cantik Naeun yang sudah tak karuan namun bisa tersenyum saat melihatnya.

“ Ini wajahku yang paling menderita. Apa kau masih suka melihatnya?”tanyanya lemah, L menggeleng kuat.

“ Tidak.. tolong bertahanlah, apa yang kau inginkan?”tanya penyihir jahat itu panik, Naeun masih mencoba tersenyum dan tangan lemahnya mencoba memegang wajah tampan suaminya itu.

“ Kau sangat tampan. Tapi pernah kukatakan.. bukan wajah tampanmu yang kucari, tapi sifat baikmu..”Naeun menangis, “…bagaimana caranya agar aku bisa tidak takut lagi padamu, L? aku ingin mencintaimu..aku sangat ingin. Tapi jika kau lebih mencintai kepribadianmu, aku bisa apa..”

L tak mampu menahan airmatanya, ia memeluk tubuh lemah istrinya itu erat, semua penyihir yang menyaksikannya tersenyum karena baru kali itu penyihir terjahat di negeri mereka menangis didepan mereka.

 

“ Aku akan berubah untukmu, untuk keluarga kita. Jangan pergi dariku. Maafkan aku selama ini. Aku mencintaimu.. aku sangat mencintaimu.”

Semua penyihir terkejut mendengarnya, namun di satu sisi merasa lega karena L tak akan meresahkan negeri ini lagi. Mereka bahkan menangis melihat Naeun yang mulai kuat setelah mendengar perkataan suaminya itu.

Naeun melepas pelukannya dengan L, memegang lembut wajah tampan lelaki itu dan menariknya, mencium bibir lelaki itu dengan lembut kemudian memejamkan matanya dengan tenang.

“ Terimakasih, L..”

******

Seberkas cahaya muncul dari lubang yang terbentuk di salah satu tembok koridor SMA Junghwa. Dari sana, muncul seorang gadis dan seorang lelaki beserta sesosok anak perempuan dengan tubuh transparan.

“ Sekolah ini masih ditutup rupanya.”penyihir wanita bernama Hyoyeon yang berubah menjadi seorang gadis yang kini bersedia dipanggil Yookyung itu melihat ke sekitarnya yang benar-benar kosong, setelah itu tersenyum sinis. Meski lama berada di tempat terpencil di negerinya, bukan berarti ia tak tahu apa yang terjadi di dunia nyata.

“ Ikut aku, ruangannya di asrama putra.”ucap Sungyeol sambil berjalan di depan dan menyusuri sekolah yang tak berpenghuni sembari sesekali melewati garis-garis polisi yang ada dimana-mana.

“ Wah, sekolah yang bagus.. aku ingin sekolah di tempat seperti ini! sepertinya akan menyenangkan!”ucap Namjoo sambil memperhatikan situasi tempat tersebut dan memasuki banyak ruangan dengan menembus pintu sesuka hatinya.

 

“ Disini.”

Mereka tiba di depan pintu besi sebuah ruangan yang sejak sekian lama dirahasiakan oleh Sungyeol.

“…ini dilindungi mantra.”kata Sungyeol yang gagal membuka pintunya.

“ Biar aku.”Hyoyeon mendekati pintunya, kemudian tersenyum sinis saat membaca mantra pelindungnya, “…ini terlalu mudah.”

BRAK!

Dengan mudahnya pintu itu terbuka, mantra pelindung Taeyeon berhasil dipecahkan oleh saudaranya. Mereka pun memasuki ruangan tersebut.

“ Wah, aku ingin mayatku diletakkan disini! daripada kedinginan di sungai.” komentar Namjoo saat melihat kedua mayat yang masih berbaring di dalam sana.

“ Sialan! Son Naeun.. dia tidak memenuhi permintaanku.”umpat Sungyeol sambil mengelus jasad Myungsoo.

“ Sebentar.. ada apa disini? kenapa banyak sampah bekas membuat ramuan?” Hyoyeon curiga, sebab bahan-bahan sisa pembuatan ramuan yang dilakukan Naeun masih ada disana, dan Hyoyeon melihat catatan komposisi Naeun yang tertinggal disana.

“…ini kan komposisi yang kugunakan saat membuat ramuan penyembuh..”ucap Hyoyeon sembari membacanya, namun matanya menyipit saat melihat ada bahan baru dalam resep tulisan Naeun.

“…tambahkan darah penyihir untuk menjadikannya pembangkit kematian?” Hyoyeon membacanya dengan bingung, dan Sungyeol langsung bereaksi.

“ Naeun membuat ramuannya!?”

“ Hmm.. ahli ramuan yang manis..” Hyoyeon tersenyum licik dan mulai memejamkan matanya, menyalakan radarnya untuk mencari sesuatu.

“ Ibu.. apa yang kau temukan?”tanya Namjoo polos.

Hyoyeon membuka matanya, kemudian membuka matanya dan menunjuk ke bawah pembaringan jasad Myungsoo.

 

“ Ada tiga botol disana.”

********

 

“ Maaf membuatmu menunggu lama, pertanyaan wartawan sangat banyak dan…” Hoya yang baru masuk mobil langsung minta maaf pada tuan putrinya yang menunggunya sampai tengah malam.

“ Sshh.. sudah-sudah. Aku tidak apa-apa, selama menunggu aku menonton video penampilanmu selama di SDC, jadi waktu tidak terasa.”jawab Eunji dengan wajah berseri, kemudian melanjutkan acara menontonnnya setelah supir mobil mulai berjalan mengantar mereka pulang.

“ Bagaimana? Aku keren kan?”

“ Ya. Apalagi penampilanmu dengan Minah, keren sekali.”jawab Eunji dengan wajah cemberut, Hoya buru-buru mencubit pipi gadis itu.

“ Itu namanya professional. Jangan marah..”

“ Aku tidak marah, cuma kesal.”

“ Ya! Jadi aku harus bagaimana?”

Eunji berpikir, “ Hmm.. untuk menebusnya.. kau mau menemaniku ke suatu tempat?”

“ Kemana?”

“ Ke toko yang menjual pakaian bayi. Aku ingin membeli banyak untuk hadiah persalinan Yeoshin.”

“ Baiklah. Besok ya. Ini sudah tengah malam. Kalau perlu kita ke mall, kau kan belum pernah kesana.”

Eunji mengangguk semangat, ia pun kembali merapat dan menyandarkan kepalanya di dada Hoya.

“ Oh ya, tadi Chorong sunbae menelpon. Katanya dia dan Woohyun menonton konferensi persmu.”

“ Benarkah? Wah.. aku berterimakasih. Eh..” Hoya tiba-tiba mengingat sesuatu.

“ Ada apa?”

“ Hmm.. entah Naeun sudah bercerita padamu atau belum.. tapi, saat terakhir kali aku ke sekolah waktu aku masih menjadi Jiwon, aku pernah melihat Chorong sunbae membuka-buka pintu ruangan penyimpanan mayat sambil membawa sebotol cairan. Sampai saat ini.. aku tidak tahu itu cairan apa.”

“ Ooh.. itu ramuan penyembuh, yang kalau ditambah darah penyihir bisa jadi ramuan pembangkit kematian. Aku pernah menemani Naeun membuat ramuan itu dan…. ASTAGA!!!”

Eunji mendadak memukul kepalanya keras-keras, mengingat sesuatu yang sangat sangat penting.

“ Kenapa?? Ada apa??” Hoya tak mengerti, terlebih Eunji mendadak panik bukan kepalang.

“ Supir! Tolong ke SMA Junghwa sekarang!”kata Eunji cepat.

“ Maaf, nona. Tapi sekolah itu masih ditutup dan dijaga ketat oleh polisi, apa nona yakin?”tanya si supir ragu-ragu.

“ Biar saja! Aku bisa menyelinap. Yang penting kesana! Kumohon! Cepat kesana!!!”

Supir pun menurut dan langsung memutar balik mobilnya dan melaju kencang menuju SMA Junghwa.

“ Tenang, Hyerim.. ada apa?”tanya Hoya tak mengerti.

“ Ramuan pembangkit kematian itu.. Yeoshin membuatnya secara sembunyi-sembunyi saat aku tertidur, tapi aku tahu. Dan sekarang.. ramuan itu tertinggal di tempat penyimpanan mayat. Aku takut ada yang menemukannya..”

********

 

“ Wah.. lihat. Ayah sudah selesai merias ibumu, dia sangat cantik kan?”

Yeoshin membuka matanya perlahan, hingga yang ia lihat pertama kali adalah wajah cantiknya di cermin yang dipegang L. Lelaki itu meriasnya lagi saat ia tertidur, ia bahkan mengajak bayinya untuk melihat ibunya dirias.

“ L?”ia tersenyum menatap L yang sedang menggendong anak mereka.

“ Aku disini. bagaimana? Masih sakit?”tanya lelaki itu lembut, Naeun menggeleng pelan.

“ Sudah jauh lebih baik.”jawabnya sambil berusaha duduk, L membantunya pelan-pelan, setelah itu menyerahkan bayi mereka.

“…laki-laki.”ucap L kemudian, Naeun tersenyum lebar.

“ Tampan seperti ayahnya.”ucapnya seraya mencium kecil putra pertamanya itu.

“ Baik seperti ibunya.”tambah L seraya mengecup kening Naeun singkat.

“ Ia akan hebat seperti ayahnya.”Naeun menambah lagi.

“ Dan ia akan pandai membuat ramuan seperti ibunya.”sambung L, “…kita mendapatkan anak yang sempurna, karena kau mengisi kekuranganku.”

“ Menurutmu apakah dia akan lebih sempurna dari Kim Hyoyeon?”tanya Naeun, membuat L teringat sesuatu.

“ Kim Hyoyeon.. dia sudah tidak ada.”

“ M..mwo?”

“ Dia adalah Yookyung yang sempat muncul di dunia nyata. Saat di villa waktu itu, aku bertarung dengannya. Dan Sungyeol tidak sengaja membuatnya terbunuh.”

“ Benarkah? Mengapa kau baru memberitahu aku?”Naeun terkejut.

“ Maaf..”

“ Jadi.. sekarang dia mati?”

“ Aku mengatakan pada semua orang kalau dia mati. Kenyataannya, aku tidak tahu dia selamat atau tidak.”

“ Aku takut jika dia masih hidup dan dendam padamu..”Naeun cemas dan memeluk L erat.

“ Sudahlah.. jangan dipikirkan. Oh iya, kita harus mengganti selimutnya dengan warna hitam.”

L berdiri sejenak dan mencari selimut baru untuk membalut tubuh bayinya. Setelah dapat, ia dan Naeun bersama-sama membuka selimut yang membalut tubuh bayi mereka untuk menggantinya.

“ HAH!?”

Keduanya mendadak berteriak bersama kemudian saling bertatapan dengan gugup saat baru saja melihat tubuh telanjang anak mereka.

“ Aku tak menyangka..”

“ Aku juga.”

Sepasang suami istri penyihir itu mengelus satu tato berbentuk akar tanaman yang ada di punggung bayi mereka.

 

“ Ia benar-benar terlahir sempurna..”

******************

 

“ YA! Hyerim!!”

Hoya memanggil-manggil Eunji yang berlari terlalu kencang setelah mereka sampai di sekolah. Ia kehilangan jejak gadis itu karena sudah pasti ia langsung mencari jalan tercepat menuju ruang bawah tanah asrama putra untuk menyelamatkan ramuan pembangkit kematian yang masih ada disana.

Ditengah perjalanannya menyusul Eunji melintasi koridor asrama yang benar-benar kosong, Hoya melihat ke jendela koridor yang terbuka dan mendapati seorang wanita tertangkap polisi yang sedang berjaga di sekolah. Hoya buru-buru bersembunyi namun tetap melihat ke arah jendela tersebut dan mendengar pembicaraannya.

 

“ Akhirnya kau datang juga menyerahkan diri. Sebagai kepala sekolah kau harus kami tahan karena tidak bertanggung jawab atas kejadian di sekolah ini! ikut kami!!” polisi yang berjaga terus menarik paksa wanita berwajah pucat yang ternyata benar-benar menyerupai Taeyeon itu, membuat Hoya nyaris berteriak karena terkejut.

“ Aku memang kepala sekolah disini. tapi aku bersumpah aku tidak tahu apa-apa! Aku baru bangun dan.. dan aku tidak tahu apa yang terjadi..!” wanita itu terus menolak untuk ditangkap, namun sang polisi tak percaya dan tetap membawa wanita itu.

Hoya kembali bersembunyi dan menghela nafasnya yang mendadak tak beraturan.

“ Kim Haeyeon.. bagaimana bisa!?”

*

 

“ Aigo!!!!” Eunji terkejut bukan main saat mendapati ruang penyimpanan mayat tujuannya terbuka lebar dan kosong. Ia mencari-cari dua mayat yang mendadak lenyap dari pembaringan mereka namun hasilnya nihil.

Gadis itupun berlari untuk mencari Hoya, didapatinya lelaki itu bersandar lemas di tembok koridor asrama.

“ Kau menemukan sesuatu?”tanya Eunji, Hoya mengangguk cepat.

“ Kim Haeyeon.. yang asli.. dia.. ada.. tapi sudah dibawa polisi..” jawab Hoya gemetar, Eunji langsung memegangi kepalanya yang mendadak sakit.

“ Kacau! Kacau!!” Eunji panik, Hoya yang sebenarnya juga panik mencoba menenangkan gadis itu.

“ Sudah.. lebih baik kita pulang saja. Anggap saja ini tidak ada dan kita tidak tahu..”

Eunji mengangguk, ia dan Hoya pun berjalan menuju pintu keluar asrama.

 

“ Ya! Kalian berdua!”

Tiba-tiba terdengar suara yang tak asing lagi bagi mereka memanggil dari kejauhan, keduanya menoleh dan terlihat seorang lelaki tampan berpakaian hiking berlari kecil ke arah mereka.

“ Akhirnya aku menemukan orang juga di sekolah ini. apa kalian tahu ada apa di sekolah ini sampai-sampai keadaan sepi?”

Hoya dan Eunji masih terpaku, hingga dengan senyum ramah dan tawa kecil lelaki itu berbicara lagi sambil mengulurkan tangannya.

“ Oh ya, mohon maaf langsung bertanya tanpa memperkenalkan diri..

 

 

 

 

Namaku, Kim Myungsoo.”

 

THE END

 

FINALLY!!

Pertama-tama author ingin meminta maaf dulu tentang banyak hal kepada kalian semua, readers tercinta. Pertama, karena selama pembuatan ff ini author sering lambat ngepost. Kedua, karena perilisan part akhir ini sepertinya ‘menguras’ emosi readers yang menunggu karena merasa di-php oleh author. Author minta maaf yang sebesar-besarnya, terlebih part ini mungkin dirasa terlalu panjang dan menyakitkan mata kalian, author juga minta maaf untuk itu :’)

TERIMAKASIH sebesar-besarnya telah membaca THE PORTAL hingga final serta memberikan komentar penyemangat. Tanpa dukungan kalian fanfic amatir ini tak bisa mencapai puncaknya.

Semoga kalian puas dengan endingnya, dan sampai jumpa di fanfic Citrapertiwtiw yang berikutnya ! mohon dukungannya selalu 🙂

 

Saya menunggu dan menanti dan menginginkan komentar terbaik kalian untuk fanfic ini! ^^

Advertisements

385 responses to “THE PORTAL [ Part 15 [FINAL] : Open or Close The Portal ]

  1. Uwooooww bagus banget The Portal ini ^^
    Sampe bisa bayangin pas lagi baca..
    Maaf yaa baru comment di Part Akhir Season 1 ini..
    Terus berkarya, Author..
    Mungkin FF ini bisa dibukukan jadi novel 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s