Lucky – Part 7

BVy4KrdIUAAMjwN

Cast: Kim Jongin | Kang Ji-Kyung (Oc) | Park Chanyeol | Park Young-Geun| etc
Disclaimer: Fanfic ini terinspirasi dari sebuah anime yang judulnya aku lupa. ._.v cuman dibeberapa bagian ada scene yang sama, tapi kesananya itu hasil imajinasiku. ^^
Warning: Typo, cerita gaje, dan kekurangan yang lainnya. Maaf kalau ada yang tidak suka. DON’T LIKE DON’T READ!
Poster belongs to my friend, Icha. Thanks a lot, babe.

Previous: Part 1| Part 2| Part 3| Part 4| Part 5| Part 6|

***

Ji Kyung tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini, hatinya terasa sangat sakit seperti ada tangan tak terlihat yang sengaja menusukan belati dan memelintirnya dengan kuat. Perasaan yang tak asing untuknya, ia sudah terbiasa merasakan perasaan ini tapi Ji Kyung tidak menyangka kalau akan sesakit ini.

Setelah menyaksikan pengakuan Young Geun tadi, gadis itu tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tubuhnya terasa mati rasa, telinganya terasa tak berfungsi ketika orang-orang menggerutu karena tak sengaja ia tabrak.

Ji Kyung membiarkan kakinya terus berlari, berlari menjauhi pemuda yang saat ini masih terus mengejarnya. Berlari dari kenyataan kalau ternyata ia menghancurkan persahabatan seseorang. Dia gadis yang jahat, tak tahu diri, ibu dan ayahnya mengatakan itu padanya.

“Ji Kyung!” Kai berteriak memanggil gadis itu dan Ji Kyung mengabaikannya. Ia baru menyadari kalau menjadi kekasih seorang Kim Jongin adalah kesalahan besar.

Tidak seharusnya ia membiarkan dirinya lengah, tidak seharusnya ia menerima perasaan Kai. Dan yang lebih penting tidak seharusnya ia jatuh cinta pada Kim Jongin. Ia adalah gadis yang diasingkan dan diabaikan oleh orang-orang, seharusnya ia tetap seperti itu. Tetap menjadi gadis dingin dan acuh yang mengabaikan keadaan sekitarnya.

Sahabatnya adalah kesendirian. Tidak seharusnya ia menginginkan seseorang seperti Kim Jongin yang mampu menerangi dirinya dari dunia gelap miliknya. Kim Jongin bagaikan matahari untuknya. Kebahagian yang selalu ia inginkan. Kehangatan yang selalu ia rindukan.

Kim Jongin adalah masa depan.

“Please… Ji Kyung.” Suara Kai masih terus bergema di lorong sekolah, nada suaranya terdengar putus asa. Dan Ji Kyung benci mendengarnya.

Dengan langkah cepat, ia berlari keluar dari gedung sekolahnya. Gadis itu mengulurkan tangannya, berharap ada satu taksi yang berhenti di hadapannya. Ia merasakan kalau keberadaan pemuda itu semakin mendekatinya.

Please…

Tepat ketika Kai akan menggapai tangan Ji Kyung, sebuah taksi tiba-tiba berhenti di hadapan gadis itu dan Ji Kyung tidak membuang waktu dengan segera masuk ke dalam kendaraan umum itu.

“Ji Kyung! Dengarkan penjelasanku! Ji Kyung, buka pintunya!” Kai mengetuk-ngetuk kaca jendela taksi itu, berharap kalau kekasihnya akan membukakan pintu dan ia bisa menjelaskan semuanya. Ji Kyung menggigit bibir bawahnya, menahan tangisannya yang akan jatuh kapan saja.

“Ji Kyung… dengarkan penjelasanku!” Kai masih berusaha mengetuk kaca jendela taksi,

“Ji Kyung… please…” Suaranya terdengar bergetar dan Ji Kyung semakin keras menggigiti bibir bawahnya.

Dengan segenap keberaniannya, ia membuka kedua matanya dan setetes cairan bening berhasil meluncur mulus di pipinya, “Ajussi, tolong jalankan mobilnya.” Ucap gadis itu pelan, supir taksi yang dari tadi hanya menyaksikan drama itu akhirnya mengerjap dan kemudian mengangguk. Dengan sedikit ragu ia mulai menjalankan mobilnya meninggalkan seorang pemuda yang masih terus berusaha mengejar taksi yang ditumpangi kekasihnya sampai benar-benar melaju dengan cepat.

“KANG JI KYUNG!” Teriak Kai jauh di belakang, membuat tangisan gadis itu dengan seketika pecah.

***

Young Geun berjalan tak tentu arah, ia tidak tahu kakinya akan membawanya ke mana. Dunianya terasa berputar, kejadian-kejadian di mana ia mengatakan semua perasaannya pada sahabatnya terus berputar di otaknya seperti sebuah film. Terus berputar. Tak pernah berhenti.

Setengah dirinya merasa menyesal dan setengahnya lagi merasa lega. Ia tidak tahu mana yang lebih besar. Tapi ketika melihat ekspresi yang diperlihatkan Ji Kyung waktu itu, ia tahu, ia merasa menyesal. Andai saja waktu ia bisa sedikit menahan mulutnya untuk berhenti berbicara, kejadian seperti ini pasti tidak akan pernah terjadi.

Ia tidak perlu melihat ekspresi terluka yang diperlihatkan Kai ketika melihat Ji Kyung pergi. Ia tidak perlu melihat itu semua.

Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Bodoh.
Ia memang bodoh!

Dan, langkahnya terhenti ketika ia merasakan kepalanya menabrak sesuatu yang keras sekaligus lembut.

“Young Geun.” Younggeun mengenal suara berat ini, Young Geun familier dengan bau maskulin yang menguar dari tubuhnya. Young Geun terbiasa dengan rasa nyaman setiap kali ia berada di dekatnya.

Semua itu milik Park Chan Yeol.

Perlahan, gadis itu mendongakan kepalanya dan menatap pemuda itu dengan perasaan yang tak mampu ia tahan lagi. satu tetes air mata jatuh, dua, tiga, empat, dan seterusnya sampai ia tidak bisa menghitungnya lagi.

Beberapa detik setelahnya ia merasakan sepasang lengan merengkuhnya lembut dan mendekapnya protective. Semua perlakuan Chan Yeol membuatnya kewalahan, dengan isakan pelan ia mulai menenggelamkan kepalanya di dada pemuda itu, mencengkram kemeja sekolahnya Chan Yeol seolah hidupnya bergantung pada cengkramannya.

Young Geun baru menyadari selama ini hanya Park Chan Yeol yang akan memegang tangannya dengan erat ketika ia terjatuh dalam lubang kesedihan.

Hanya tangan Park Chan Yeol yang menariknya kembali dari lubang ke sedihan itu.

Hanya Park Chan Yeol yang selalu menggenggam tangannya ketika ia membutuhkan ketenangan.

Hanya Park Chan Yeol yang bersedia mengulurkan tangan untuk dirinya.

Ya. Park Chan Yeol bukan Kim Jong In.

Dan untuk itu sekarang ia akan menyambut uluran tangannya dan menggenggamnya kuat-kuat. Tidak akan pernah melepaskannya. Young Geun membutuhkan pegangan dan di sanalah tangan Chanyeol ada.

Selalu ada. Untuknya.

“A-aku mengatakannya…” ucap gadis itu di tengah-tengah isakannya. Mencengkram erat kemeja belakang Chan Yeol dan ia tidak peduli kalau seragam sekolah pemuda itu akan kusut karena perbuatannya.

“Yeah.”

“A-aku mengatakan perasaanku pada Kai…” ulang gadis itu kali ini lebih jelas.

“Aku tahu.” Sahut Chan Yeol pelan, mengusap lembut punggung gadis dalam dekapannya. Dan Young Geun berpikir, hal apa yang Park Chan Yeol tidak tahu tentangnya.

***

Ji Kyung melangkah gontai masuk ke dalam rumahnya. Ia berniat untuk tidak menangis lagi kali ini, sudah cukup malu ia menumpahkan tangisannya di dalam taksi dan disaksikan oleh supir taksi.

Lalu hal yang membuatnya terkejut adalah ketika ia masuk ke dalam ia melihat orang tuanya sudah duduk di kursi menatapnya dengan tatapan yang sudah lama tidak pernah ia lihat.

Tatapan yang membuatnya takut.

Tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan kencang, tanpa sadar ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Appa… Oemma…,” sapa Ji Kyung dengan suara mencicit.

“Ji Kyung.” Suara itu. Ji Kyung menggigil mendengar suara yang di keluarkan ayahnya. Satu hal yang pasti ayahnya sedang marah dan ia tidak tahu kesalahan apa yang sudah dilakukannya.

“N-ne appa?” sahut Ji Kyung masih menundukan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap mata orang tuanya. Ia mengepalkan tangannya dan merasakan kalau telapak tangannya mulai basah karena gugup.

“Kenapa kau berbohong padaku?” tanya ayahnya dingin. Ji Kyung bisa merasakan tatapan tajam ayahnya padanya meskipun ia menunduk apalagi kalau ia mendongakan kepalanya dan menatap langsung matanya.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya dan mencengkram kuat ujung kemeja sekolahnya, “A-aku tidak berbohong pada kalian.” Ia menjawab pelan.

“Lalu kenapa para pelayan mengatakan padaku kalau akhir-akhir ini kau sering keluar rumah dan selalu pulang terlambat. Kau menemui seseorang?” kali ini Ibunya yang bertanya dengan nada menuduh.

“Ti-tidak oemma.” Sangkal Ji Kyung, ia tidak mau mengatakan yang sebenarnya kalau memang benar akhir-akhir ini ia sering menghabiskan waktunya bersama Kai. Ji Kyung tidak ingin orang tuanya mengetahui hubungannya dengan pemuda itu.

“Jangan berbohong Ji Kyung!” bentak ayahnya dengan suara menggelegar membuat gadis itu terperanjat kaget.

“A-aku tidak berbohong.” Jawab Ji Kyung gemetar masih mempertahankan sangkalannya. Ia takut. Sungguh ia takut. Ia tidak pernah bisa menghadapi kemarahan orang tuanya. Tidak dulu dan tidak juga sekarang.

“Lalu apa yang kutemukan ini?!” geram pria paruh baya itu tiba-tiba melemparkan sesuatu ke wajah anaknya, dan mata Ji Kyung langsung terbelalak begitu ia melihat foto-foto dirinya bersama Kai dan satu lembar kertas ujian fisika dengan nilai nol tercetak jelas di sudut kiri atas kertas itu, tergeletak begitu saja di lantai di dekat kakinya.

Ia mendongakan kepalanya dan langsung bertemu dengan tatapan murka ayahnya.

Pria paruh baya itu mendesis, “Ini yang kau namakan tidak berbohong Ji Kyung?!” tanya ayahnya menuntut jawaban. Jantung gadis itu berdetak dengan cepat, mulutnya membuka dan menutup seperti ikan yang kehabisan napas.

“B-bagaimana appa bisa t-tahu?” Ji Kyung bertanya dengan tergagap.

“Jadi semua ini benar? Siapa laki-laki itu?” balas ayahnya menyelidik, mengabaikan pertanyaan gadis itu sebelumnya.

Seharusnya Ji Kyung lebih menyadari kalau pria paruh baya yang sekarang berdiri di hadapannya itu bukan lah orang biasa. Ia salah satu orang yang berpengaruh di Korea, tidak sulit untuk mencari tahu hal kecil seperti ini.

Melihat keterdiaman anaknya semakin membuat amarahnya memuncak, “Jawab pertanyaanku Kang Ji Kyung?! Aku tidak ingat pernah mendidikmu menjadi anak yang tidak sopan seperti ini.” bentaknya kesal, membuat istrinya yang dari tadi berada di sebelahnya mengusap lengannya mencoba menenangkan.

Menggigit bibir bawahnya keras mencoba agar isakannya tidak keluar. Ia menjawab, “D-dia… dia Kim Jong In.”

“Apa hubunganmu dengannya?”

“K-kami…” Ji Kyung tergagap, dan ketika ia mendongakan kepalanya untuk menatap mata ayahnya yang sedang menyipit tajam ia kehilangan suaranya, perasaan takut yang sama yang ia rasakan ketika ia kecil kembali datang padanya.

Tanpa sadar tangannya bergetar tak terkendali sampai ia harus menahannya dengan tangannya yang satunya. Air mata perlahan mulai jatuh menetes, jatuh begitu saja tanpa bisa ia tahan lagi.

“Jawab Ji Kyung!”

“D-dia ke-kekasihku.” Sahut gadis itu terengah-engah, menutup matanya menunggu reaksi ayahnya dengan takut.

Beberapa detik berlalu sampai akhirnya ia mendengar dengusan keras keluar dari kepala keluarga Kang itu, “Kekasih?” gumamnya dengan nada mematikan, membuat Ji Kyung mencengkram tangannya yang bergetar semakin kuat.

“Berapa kali aku mengatakan padamu bahwa aku melarangmu berpacaran. Apa perlu aku mengulangnya lagi?” tanya ayahnya.

Ji Kyung menggeleng pelan, “Tidak, appa.”

“Lalu kenapa kau berpacaran dengannya?! Lihat, karena dia nilai-nilai sekolahmu turun! Laki-laki itu hanya akan membuatmu terditraksi, ia hanya akan membawa pengaruh jelek untukmu. Menghancurkan hidupmu!” geraman ayahnya bergema di seluruh ruangan ini, membuat air mata Ji Kyung terus mengalir tak terkendali.

Nyonya Kang yang melihat itu hanya bisa menutup matanya, tidak ada yang bisa ia lakukan. Apalagi ketika suaminya sedang marah seperti itu. Ji Kyung meneguk ludahnya sekali, mencoba membangun tembok keberaniannya. Ia tidak bisa diam saja ketika mendengar ayahnya mencoba menjelek-jelekan Kai. Ia lalu mendongak menatap ayahnya dengan tatapan mata penuh determinasi.

“Karena aku mencintainya!” teriaknya. Ini pertama kalinya dalam hidupnya Ji Kyung membalas perkataan ayahnya, apalagi berteriak padanya. Gadis itu hanya lelah dengan semua sikap patuhnya yang hanya membuatnya sedih, sikap otoriter ayahnya hanya membuatnya tertekan. Ia hanya ingin bebas. Bebas seperti gadis lainnya.

“Kim Jong In tidak pernah memberikan pengaruh jelek padaku, tidak juga menghancurkan hidupku. Justru sebaliknya, ia memberikan sesuatu yang selama ini aku inginkan. Sesuatu yang sangat sederhana yang tidak pernah kalian berikan padaku.

“Dia memberikanku KEBAHAGIAAN, dia memberikanku kehangatan. Dia memberikanku perlindungan dan rasa aman. Aku bisa menjadi diriku yang dulu hanya berada di dekatnya. Aku mencintainya appa! Aku mencintainya!!” seru Ji Kyung terisak-isak, menghapus air matanya ia kembali melanjutkan perkataannya.

“Tapi apa yang kalian lakukan padaku selama ini? kalian hanya menyuruhku untuk menjadi gadis sempurna, menyuruhku untuk melakukan ini itu. Aku menuruti semua perintah kalian, karena aku masih berharap kalian bisa memberikanku kebahagian seperti dulu! Tapi tidak! Sejak kematian Min Hyuk oppa kalian bersikap dingin padaku!” Hati Ji Kyung terasa berdenyut-denyut menyakitkan tapi meskipun begitu ia tetap berbicara.

“Kalian menyalahkanku karena kematian anak pertama kalian. Kalian menyalahkanku, kalau bukan karena aku, Min Hyuk oppa masih tetap hidup dan menjadi amak kebanggaan kalian. Menjadi penerus perusahaan kalian. Karena itu kalian mulai mendikteku untuk menjadi pengganti oppa! Kalian hanya mementingkan diri sendiri, kalian hanya mementingkan karier kalian. Kalian egois!”

Plak.

Ji Kyung mendengar suara ibunya terkesiap dan beberapa detik kemudian ia merasakan sebuah tangan menampar pipina dengan keras, membuat telinganya berdengung. Rasa panas mulai menjalari wajahnya, di ikuti oleh rasa sakit setelahnya. Ia tidak menyangka ayahnya akan menamparnya seperti itu, setelah apa yang ia ungkapkan tadi.

“Dasar anak tidak tahu diri, jangan pernah kau mengatakan hal seperti itu padaku. Sudah untung aku membesarkanmu, peduli padamu. Tapi apa balasanmu? Kau itu bukan anak kandungku!”

Terkejut dengan ucapannya sendiri, tuan Kang hanya bisa mendesis dan melirik istrinya yang hanya bisa menatap dirinya tidak percaya karena bisa mengatakan hal yang selama ini mereka rahasiakan.

Kau itu bukan anak kandungku. Kau itu bukan anak kandungku. Kau itu bukan anak kandungku. Kau itu bukan anak kandungku. Kau itu bukan anak kandungku.

Kalimat itu terus berulang-ulang seperti kaset rusak di kepala Ji Kyung. Tubuhnya tiba-tiba terasa seperti disiram oleh air dingin sehingga membuatnya mati rasa, jantungnya berdetak dengan detakan yang menyakitkan. Ia menatap orang tuanya dengan mata yang terbelalak.

Udaranya terasa menipis membuatnya kesulitan untuk bernapas. Dunianya terasa berputar, lututnya terasa lemas.

“A-aku bu-bukan a-anakmu apa maksudnya?” tanya Ji Kyung dengan suara bergetar, ia menatap ibu dan ayahnya secara bergantian.

Ibunya maju selangkah, tapi dengan cepat Ji Kyung memundurkan langkahnya.

“Sayang, ayahmu hanya salah bicara.” Ucap ibunya mencoba meraih tangan Ji Kyung tapi gadis itu terus memundurkan langkahnya mencoba untuk menjaga jarak sejauh mungkin. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Dan setelah itu ia berlari keluar dari rumah mewah itu dengan kenyataan pahit yang baru saja ia dengar.

-To be Continue-

A/N: Hello, long time no see~ sorry, it took so long for me to update this fanfiction. It has been five months since I last update it. So so sorry!
Alasannya selain karena aku ngalamin writer block yang parah banget, aku juga harus disibukan dengan UN dan sekarang tinggal nungguin kelulusannya. Doain ya moga semua yang ikut UN tahun ini lulus. Amin~
Part berikutnya insyaallah nggak akan sengaret yang ini. I do my best!
See you in the next part!

68 responses to “Lucky – Part 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s