My Living Journal [Part 2]

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan dari lanjutan epep yang kemaren. Maaf untuk author dan readers kalau saya lama publishnya, soalnya epep titipan ada skejulnya sendiri untuk dititipkan. Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini. Happy Reading ~ ^^

(note : untuk penitipan epep telah DITUTUP. Saya hanya akan berfokus pada penitipan dari author yang epepnya masih butuh kelanjutan (chapter) dan dimohonkan jangan lupa mengirimkan epepnya jika tidak ada kabar saya akan menghapusnya. Thankseeuu :* :* )

 

Author : FebbyVal

Genre : Romance, Angst

Cast :

  • Han Minhee (OC)
  • Park Chanyeol
  • Luhan

Poster by : vanflaminkey91

Disclaimer : purely my brain’s hard work. Plagiarism is extremely prohibited

How To Read :

Italic text = isi journal atau perkataan dalam hati

 

I live…

But in no life…

I live…

Through this journal…

 

Mungkin hari ini bisa aku masukkan ke dalam daftar panjang hari-paling-menyulitkan-dalam-sejarah-hidupku. Ya, tidak salah lagi. Ini karena satu tugas yang aku bahkan tidak mengerti apa tujuannya, maksudku membuat essay 800 kata tentang “Aku di 10 tahun mendatang” menurutku hanya omong kosong. Percayalah, tidak ada satu orangpun yang akan bertahan dengan khayalannya ketika realita hidup yang lebih kejam mencekiknya! Ini sulit, sangat sulit.  Aku bahkan tidak tahu untuk apa aku hidup, apalagi mengkhayal 10 tahun yang akan datang? Ini sungguh membuatku frustasi. Kenapa ini begitu penting? Tolonglah, aku hanya ingin melalui hidupku yang payah ini. Bisakah pertanyaan seperti itu tidak mengganggu hidupku yang sudah terlanjur kelam ini?

Lihat? Bahkan langit mampu mencerminkan hidupku yang kelam. Aku rasa hari ini badai akan datang karena awan hitam diatas sana terlihat lebih hitam dari biasanya. Apa ini artinya hidupku akan semakin gelap? Entahlah aku tidak peduli. Lagipula sejak kapan aku memikirkan hidupku? Tugas essay itu sungguh mengerikan, dalam waktu sekejap mampu membuatku memikirkan sesuatu yang tidak pernah terlintas di otakku selama ini. Tapi ke-ngeri-an itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan saat ini. kenapa ini sering sekali terjadi? Kenapa harus aku dan Jimin yang tersisa di kelas ini? kenapa harus dia dari seluruh manusia yang ada di kelas ini?

“Oppa, demi tuhan! Sedang apa kau? Aku tahu kau tidak ada kuliah hari ini, jadi kemana kau sekarang? Ayolah aku tidak kuat lagi terjebak dengan perempuan dengan kawat gigi yang melegenda ini.” Minhee terus bergumam sambil terus menggerakkan jarinya dengan lincah diatas layar sentuh 5” handphone miliknya.

“hey aneh! Apa kau akan menginap disi—“

“Byun Jihyun! Kakakmu mencari—Ya tuhan!” Minhhe dan Jimin dalam waktu yang bersamaan menengok ke arah pintu belakang yang berjarak kurang lebih 8 meter dari Minhee. Dengan tatapan canggung, Pria tinggi bergaya santai dengan topi “GREY” yang dipakai terbalik itu berjalan perlahan ke hadapan Minhee.

“hai” Chanyeol mengangkat tangan kirinya sambil tersenyum ramah semi canggung. “apa kau lihat Byun Jihyun? Aku tidak tahu ternyata sudah sesepi ini, ah maksudku apa kau tahu kemana Jihyun pergi?” Minhee tidak berkutik. Entah apa yang sebenarnya tuhan rencanakan, tapi pria ini terus muncul dalam hidupnya akhir-akhir ini. Walaupun mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar saling berbicara. Bukan karena Minhee tidak suka padanya, tentu saja siapa yang tidak ingin berbicara dengan pria tinggi dengan suara berat yang menawan, hanya saja pria ini selalu muncul disaat yang tidak tepat. Sementara Minhee melihat kedua mata ceria itu dengan penuh kebisuan, Jimin lebih tertarik untuk mengambil alih.

“Jangan Tanya si Aneh! percuma saja dia itu aneh, tidak akan menjawab apapun yang kau tanyakan. Jadi apa kau mencari Jihyun?” Jimin mendekati Chanyeol dengan menampilkan seluruh giginya yang terjerat kawat legendanya itu. Chanyeol yang merasa canggung sejak awal dia membuka pintu, kini merasakan hawa dingin yang biasanya dia rasakan ketika kata Lee Sunhye sampai ke gendang telinganya.

“ehmm ya—ya aku mencari Byun Jihyun, sebenarnya kakaknya yang mencarinya aku—aku hanya disuruh untuk memberi tahunya.” Kini Jimin tepat berada di jarak 20 cm disebelah Chanyeol dan itu sungguh membuat Chanyeol…. Takut.

“Aku tahu dimana Jihyun! Ayo aku antarkan.” Jimin menarik tangan Chanyeol dengan paksa hingga Chanyeol terseret sekitar dua meter.

“Minhee-ya! Maafkan aku. Hari ini aku tidak bisa menjemputmu. Aku masih di Daegu dan jalanan begitu macet, mungkin lebih baik kau naik taxi saja. Maafkan aku!” Minhee melihat layar handphonenya dengan tidak percaya. Dia telah menunggu hampir satu jam dan ternyata dia terjebak dengan makhluk berkawat itu hanya untuk hal yang sia-sia. Tanpa menambah waktu “kebersamaan mereka” Minhee mengambil tas nya dan berjalan santai menuju pintu belakang yang terbuka cukup lebar. Tanpa pikir panjang, Chanyeol menarik tangannya yang memerah dan berlari mengejar Minhee. Ya, dia tidak boleh kehilangan mangsa nya itu atau hidupnya akan hancur oleh Lee Sunye.

Minhee dengan ragu berhenti di titik terakhir dari bangunan megah ini yang tertutupi kanopi. Dia tidak membawa payung dan tidak ada satu kendaraan pun yang melewati gedung bertingkat itu. ini Seoul, kota yang seharusnya megah dan ramai penduduk tapi yang Minhee lihat di hadapannya sekarang hanya bangunan tinggi yang puncak gedungnya tertutupi awan kelabu dan jelas ini tidak lebih ramai dari pemakaman. 

“Apa yang kau lakukan disana?” suara berat itu memecahkan bisingnya suara air hujan yang jatuh menimpa aspal kasar. Minhee melihat seorang Pria memakai heml full face mematikan mesin motor besarnya dan berjalan ke tempat Minhee berdiri.

“ Kenapa kau langsung pergi tadi? Apa kau menunggu seseorang?”

“Aku—Aku hanya menunggu hujan berhenti.” Entah kenapa Minhee sulit berbicara. Entah karena udara yang terlalu dingin atau dia terlalu gugup menghadapi situasi dimana akhirnya ada orang asing yang berbicara dengannya tanpa ada kata aneh diantara kata-katanya.

“ ini tidak akan berhenti sampai malam, apa kau tidak melihat ramalan cuaca tadi pagi? Ah! hampir aku lupa. Aku Chanyeol—Park Chanyeol. Chanyeol menyodorkan tangan kanannya yang sepaket dengan senyuman ceria khasnya. Minhee tercengang. Tidak pernah dalam hidupnya terpikirkan hal-hal seperti ini. Kesunyian terasa untuk beberapa saat hingga akhirnya Minhee dengan ragu menjabat tangan Chanyeol yang mulai kedinginan itu.

“aku Minhee—Han Minhee.”

Chanyeol berlari ke motornya dan kembali dengan helm biru metallic.

“pakai ini.” Chanyeol melepaskan jaket tebalnya dan memberikannya bersamaan dengan helm metallic itu. Minhee yang tidak berdaya, hanya membiarkan kedua tangannya dipaksa memegang kedua benda tersebut.

“Lalu bagaimana denganmu? Nanti kau kebasahan. Pakai saja ini aku akan menunggu taxi saja.” Tanpa pikir panjang, Chanyeol mengambil helm itu dan memakaikannya ke kepala Minhee dengan hati-hati.

“ Aku baik-baik saja. Pakai saja jaketnya dan tunjukkan jalan menuju rumahmu.”

Bagaikan titah dewa, Minhee menarik sleting jaket itu sampai ke dagunya. Chanyeol kemudian memakai helm full face-nya dan menarik Minhee keluar dari persembunyiannya. Minhee tersenyum, ya Minhee akhirnya tersenyum bagaikan seorang anak kecil yang diberi gulali atau permen kapas. Senyuman yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.

“Woah~ ini rumah mu?” Chanyeol tidak bisa menutupi ekspresi ketidakpercayaan yang ditunjukkan wajahnya.

“Lebih baik kita masuk dan mengeringkan semua kekacauan ini.”

“Tidak, terima kasih. Aku pulang sekarang.” Chanyeol tersenyum. Ya, senyumannya yang mulai mempengaruhi detak jantung Minhee.

“Tunggu! Bagaimana dengan jaketmu? Tidak sopan kalau aku memberikannya sebelum aku cuci.”

“Kalau begitu simpan baik-baik dan dengan begitu aku bisa menemuimu lagi bukan? lusa aku akan ke kelasmu lagi atau mungkin lebih baik aku tunggu di tempat kau melamun tadi. Ya kau mengerti kan maksudku? Temanmu itu membuatku takut. Sampa jumpa, adik kecil.”

Motor merah itu berlalu seperti angin, meninggalkan Minhee yang terdiam bergelut dengan perasaan dan pikirannya.

“Adik kecil! Apa yang kau lakukan di situ? Ayo masuk!” Cahaya lampu LED dari Porsche hitam milik Luhan yang menembus rintik-rintik hujan, cukup terang untuk membuat pikiran Minhee kembali ke keadaan yang seharusnya.

Jadi sebenarnya apa yang terjadi tadi? Aku bahkan tidak bisa mengingat awal dari semua kejadian aneh ini. Apa nyata? Atau hanya ilusi yang tercipta dari kerusakan otak ringan akibat terlalu keras memikirkan tugas essay bahasa inggris? Tapi jaket itu nyata, maksudku jaket itu memang berada disini, menggantung dengan tetesan air yang masih terus berjatuhan dari kedua ujung lengannya. Aku pikir tidak semua orang seperti apa yang selalu aku bayangkan. Ya, tidak semuanya seperti Jimin. Tidak semua orang menyebutku aneh, tidak semua orang memandangku dengan tatapan itu, tapi yang jelas tidak semua orang mengerti aku. Atau mungkin aku yang tidak pernah mengerti mereka.

 

 

“Oppa! Aku tidak bisa pulang tepat waktu, tugas tambahan. Aku naik taxi saja. Love you” Minhee untuk kesekian kalinya berusaha menekan tombol send diujung qwerty keyboard handphonenya, tapi dia juga masih tidak yakin dengan pilihan lainnya. Tugas tambahan? Tidak ada. Minhee sedang mempertaruhkan kepercayaannya pada orang asing yang menyebutnya adik kecil. Jika ini hanya omong kosong dan rayuan semata, mungkin Minhee tidak akan pernah mempercayai siapapun lagi. Intinya, Minhee berharap.

Aku melihat sekelilingku, sepi. Mungkin sebentar lagi akan ada vampire yang akan menghisap habis darahku sampai aku mati pucat atau ada mafia gila yang menculik dan mengambil semua organku saat aku dibuat pingsan dengan anastesi murahan, kemudian aku dibuang ke tengah laut penuh hiu yang dalam sekejap aku musnah dari dunia ini. Ya tuhan! Apa yang aku lakukan? Hah! Apa yang aku pikirkan sebenarnya? Memalukan. Lihat? Dia tidak datang. Tentu saja dia tidak akan datang, Minhee. Apa kau harus melakukan hal bodoh seperti ini dan menambah panjang daftar ”hal yang membuatku ingin mati”?  Seharusnya aku berada dirumah pohonku sekarang, mendengarkan beberapa piringan hitam, meminum pil anti kerusakan otak dan mulai mengerjakan tugas essay itu. Tapi dimana aku sekarang? Duduk membiru kedinginan di lantai marmer, menunggu untuk mengakui bahwa aku kalah taruhan dengan jiwa jahatku yang sebenarnya lebih realistic dan logis. Aku bahkan lebih bodoh dari sepupu nenekku.

“Kau sedang menulis apa?” Suara berat yang mulai terdengar familiar akhirnya mengetuk gendang telinga Minhee. Dalam sekejap Minhee menutup jurnalnya dan memasukkannya dengan asal ke dalam tasnya.

“Bukan apa-apa, hanya tugas essay. Ah! Sebelum aku lupa, ini jaketmu.”

“Pakai saja jaketnya, kau pasti kedinginan kan? Maafkan aku terlambat datang.” Tidak seperti saat pertama kali bertemu, Chanyeol dengan santai duduk disebelah Minhee dan Minhee tahu di balik jaket tebal, cardigan dan seragam sekolahnya itu, jantungnya mulai bekerja lebih cepat.

“Tidak masalah, bukan apa-apa.” Minhee merasa seluruh jarinya mulai terasa hangat. Aliran darahnya kini bebas mengalir ke seluruh tubuhnya, tidak lagi terhalangi oleh rasa gugup dan ketakutan.

“Jadi bagaimana dengan sekolahmu? Ya~ kau tahu? kau bisa mengeluh sesukamu! Percayalah aku mengerti perasaan itu. Sekolah itu bukan bagian terbaik dari hidup, aku harus mengakui itu.” Chanyeol memandang lurus kedepan, tidak sedikitpun tatapan Minhee mengalihkan fokusnya.

“Boleh aku bertanya?”

“Tentu.” Kini Chanyeol menatap lurus ke dalam mata coklat Minhee yang mulai goyah karena kegugupan akibat pancaran aura Chanyeol.

“Aku di 10 tahu mendatang. Ya, sepuluh tahun mendatang. Bila pertanyaan ini datang padamu, apa yang akan kau jawab?”

“Sepuluh tahun mendatang? Ehm.. entahlah mungkin aku masih berada di dunia music atau mungkin aku sudah mengambil alih perusahaan ayahku. Entahlah, lagipula siapa yang tahu kita akan menjadi apa 10 tahun lagi, ya mungkin para peramal tapi selain itu siapa yang tahu? Hidup kita bahkan bisa berubah hanya dengan satu lemparan koin. Kenapa kau bertanya itu?”

Minhee tercengang. Jawaban itu.. jawaban itu yang ingin Minhee dengar, tepat sekali.

“Hey lihat kau melamun lagi! Kenapa kau begitu sering melamun? Bagaimana jika ada hantu pelajar yang menyesal karena telah menyayat tangan kirinya sendiri setelah berpikir dia tidak akan lulus tapi ternyata dia masuk 50 besar disekolahnya?” Minhee masih tidak mengerti dengan pria di sebelahnya. Jadi inikah yang dirasakan tokoh utama wanita di drama remaja super romantic itu?  pikir Minhee.

“Jadi kau akan jadi apa 10 tahun mendatang?” Lanjut Chanyeol karena Minhee tidak merespon.

“Aku sejujurnya tidak tahu. Aku bahkan tidak yakin aku akan hidup sampai 10 tahun lagi. Apa aku terlalu jujur?” Chanyeol memandang Minhee. Ia tidak percaya dengan jawaban putus asa yang keluar dari mulut kecil gadis kecil seperti Minhee.

“Aku mohon jangan tatapan itu, aku bisa gila jika ada seorang lagi yang melakukan itu.” Minhee mengalihkan pandangannya ke seekor kucing yang duduk sambil menggerakkan ekornya ke dua arah terus menerus.

“Semua orang menatapku layaknya aku monster bermata satu. Mereka mengejekku dengan ejekan kuno layaknya aku tidak berbahasa seperti mereka. Mereka menyebutku aneh layaknya aneh adalah nama panggilanku. Bukankah ini cukup untuk membuatku tidak yakin untuk tetap hidup sampai sepuluh tahun lagi?”

Minhee berlari pergi tanpa mengucapkan ucapan perpisahan, meninggalkan Chanyeol yang masih kesulitan mencerna situasi yang terjadi. Ucapan Minhee yang tulus namun penuh dengan kesedihan itu masih sibuk berkeliling di kepalanya.

 

 

Apa kau tidak bisa lebih mengerikan lagi? Tidak bisa kah kau berusaha lebih untuk berpura-pura hidup layaknya manusia normal? Ayolah Minhee kau menghilangkan kesempatanmu untuk hidup bersosialisasi seperti apa yang semua orang lakukan. Kenapa aku ini begitu aneh? Ya untuk pertama kalinya aku setuju dengan Jimin. Aku salah. Ini tidak mungkin dirasakan tokoh utama wanita di drama romantic remaja, mungkin genre horror atau thriller lebih cocok. Tuhan! Kenapa kau memberikanku kehidupan ini? apa kesalahanku di kehidupan yang sebelumnya sampai kutukan ini begitu erat menempel di pundakku?

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Dia mungkin tidak akan pernah lagi menemuiku atau bahkan melihat ke arahku. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa ini begitu mempengaruhiku? Sejak kapan orang lain berpengaruh dalam hidupku? Ini bukan akibat burger mentah yang aku makan kan? jika ini akibat burger itu, aku akan menuntut mereka. Tapi aku rasa ini bukan karena itu. Jadi apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa yang dia lakukan hingga aku seperti ini?

Minhee membawa jurnalnya dan berjalan disekitar danau. Disini sangat nyaman. Suara jangkrik yang turut bergantian dengan suara katak, percikan air dari kibasan ekor mungil ikan-ikan liar, kunang-kunang yang berkelap-kelip di antara semak-semak dan angin sejuk yang bertiup satu arah. Entah kapan terakhir kali Minhee berjalan-jalan mengitari kastil kacanya malam hari seperti ini. Tapi semua kedamaian itu gugur seketika saat Minhee sampai ke gerbang depan. Ia Minhee melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada disana. Dia melihat Park Chanyeol.

“aku berhalusinasi? Aku benar-benar tidak sehat. Minhee kau harus segera melakukan terapi” Minhee mengutuk dirinya sendiri. Minhee tidak yakin dengan ini, benarkah itu Chanyeol? Tapi apa yang dia lakukan selarut ini? Minhee terlalu takut untuk menghadapi kenyataan. Dia takut semua ini hanya halusinasi menyedihkan yang dibuat otaknya karena terlalu lelah dipakai oleh Minhee untuk memikirkan sosok itu selama 15 jam non-stop. Dengan terpaksa Minhee melangkah mundur dan kembali ke rumah pohonnya.

Kau lihat? Aku berhalusinasi. Ini mengerikan bukan? Aku sepertinya mulai gila. Dan jika aku benar-benar gila, aku akan menyalahkan Jimin karena terus menggangguku, tugas esaay omong kosong itu, dan dia yang dengan misterius membuatku tidak mengenal diriku sendiri. Adakah yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa aku merasa takut seperti anak kecil yang takut ditinggal oleh ibunya di hutan penuh dengan penyihir tua? Kenapa aku merasa sedih seperti tikus yang kesepian setelah dijauhi oleh koloninya karena dia bisa memasak?

 

 

“Hey ehm siapa namamu? Oh iya Minhee, ada seseorang mencarimu di luar sana. Kau kenal dia? Aku tidak tahu ternyata kau mengenal dia.”

“Siapa?” Minhee mulai menebak. Sejujurnya kemungkinannya hanya satu, Luhan. Tapi kenapa Jihyun tidak teriak histeris melihat Luhan? Ya semua orang tahu dia fan nomor satu Luhan.

“Minhee! Dengarkan aku.” Jantung Minhee berhenti untuk sepersekian detik. Ya dia melihatnya, kedua matanya menunujukan Chanyeol—Park Chanyeol.

“Dengarkan aku.” Chanyeol memegang kedua lengan Minhee dengan erat. “Kenapa kau pergi begitu saja?”

“Aku—aku hanya… hanya”

“Aku tunggu di tempat itu, datanglah setelah pulang sekolah. Aku mohon.” Chanyeol melepaskan kedua tangan Minhee dan menghilang diujung lorong.

Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus pergi kesana dan membiarkan diriku sendiri hancur seperti vas Kristal yang terjatuh dari lantai lima? Atau aku kabur dari kekacauan ini sebelum kekacauan ini mencapai level baru? Demi tuhan! Apa yang harus aku lakukan? Dan demi tuhan Mrs. Jihye, bisakah kau hentikan semua dialek busanmu itu? mungkin itu keren tapi aku benar-benar tidak bisa berpikir bila kau terus melemparkan dialek busanmu pada telingaku! Dialekmu itu terlalu menonjol hingga rasanya aku mulai tidak mengerti dengan apa yang katakan sekarang. Bisakah aku mengatakan pass pada pertanyaan satu ini? Bisakah aku menghilang sejenak dari situasi ini?

Minhee tidak bisa berkonsentrasi selama pelajaran, semua pikiran dan perasaanya masih tidak bisa dia mengerti. Sejujurnya, Minhee tahu bahwa perasaannya pada Chanyeol tidak bisa dikatakan biasa, tapi rasa takutnya melebihi apapun. Minhee takut Chanyeol tidak mengerti, tidak bisa menerima dia dan kehidupannya yang tidak lazim dan hanya menjadi mainan pribadinya karena terlalu polos dan rapuh. 

Tidak tidak tidak! Aku harus datang. Lagipula siapa yang bisa menjamin bahwa apa yang aku pikirkan adalah apa yang akan dia katakan, benar kan?

Aku harap…

Tapi apa aku siap menerimanya bila apa yang aku pikirkan itu benar? aku harap jiwa realistisku kalah di pertarungan kali ini.

 

Minhee melihat punggung dengan lapisan kemeja kotak-kotak yang longgar dan topi hitam yang dipakai terbalik. Jantung Minhee benar-benar berdetak tidak karuan seperti berusaha keluar menembus tulang rusuknya. Setelah mengambil napas cukup dalam, Minhee berjalan mendekatinya dan duduk disebelahnya.

“kau datang.” Chanyeol tersenyum, tapi bukan senyuman ceria yang biasanya dia tunjukkan. Senyuman ini terasa  lebih putus asa.

“Maaf aku telat.” Minhee melihat lurus ke depan, walaupun sedari tadi Chanyeol melihat ke arahnya.

“Jadi apa kau tidak melihatku kemarin malam?”

“Jadi kau benar-benar ada disana? Di luar gerbang rumah ku?” Minhee tidak percaya, itu bukan halusinasi.

“Tentu saja, memangnya apa yang kau lihat? Apa aku terlihat menyeramkan sampai kau kabur seperti itu? aku rasa aku cukup tampan. HAHAHA.” Chanyeol berusaha mencairkan suasana yang terasa sangat kaku layaknya tinggal di rumah tanpa boiler di musim dingin selama lebih dari satu pekan. Tapi Minhee masih saja terlihat serius, seserius pemanah di olimpiade musim dingin.

“Ayo!” Chanyeol berdiri seketika. “Karena kau tidak juga tersenyum, aku takut aku harus melakukannya. Ayo ikut aku, adik kecil.”

TBC

YAHOO! Part 2 arrived~ Sebelumnya saya mau berterima kasih sebesar-besarnya buat semua reader-nim yang udah mau baca FF ini.. makasih bangeeeeeet yaaaa

Daan semoga dengan part 2 ini bakal menarik lebih banyak readers hehe

jadi gimana nih menurut reader-nim? makin penasaran ga dengan kelanjutan taruhan ini?

kira-kira Chanyeol mau ngapain si Minhee tuh? soooo stay tune buat lanjutan FF nya yaaaaa

thanks for reading! as always, comment is required~

untuk yang ketinggalan part 1 nya bisa diliat disini yaaa

https://ffindo.wordpress.com/2014/04/29/my-living-journal-part-1-2/

35 responses to “My Living Journal [Part 2]

  1. Yohoo.akhirnya kluar jga…critanya bkin greget thor…chanyeol suka sma minhee ya thor?atw cma di anggap bhan taruhan aja?…ah pnasaran bnget thor..
    Next chapnya jgan lama2…fighting^^

    • Hihi makasih lagi udah bacaaa.hmm disini chanyeol masih belom kesemsem ama minhee sih, masih mikirin taruhannya. Kira lihat next chapt. Stay tune yaaaa

  2. Seruuu banget. Tapi aku masih bingung sama alurnya author.. tapi overall daebakk..
    Next!!

    • Hihi makasih udah bacaaa! Bingung ya? Nanti diperjelas deeeh. Tapi emang aku sengaja ga terlalu memperjelas, emang aku bikin ceritanyabiar reader yang berspekulasi hahahaha*alasan
      Next chapt asap!

  3. woaaahh udh keluar chapter ke 2nya makin keren (y)
    ya thor tebakanmu benar bikin penasaran.bgt. hehe ;D
    next secepatnya ya thor fighting !! yehey ~

    • Yeeeay makasih udah bacaaaa. Stay tune buat next chapt semoga aja bisa memuaskan mehehe

  4. Alurnya membuatku gerah-rah-rah #nyanyialaSMASH aku masih sedikit bingung sih.. Tapi tak apalah.. Alurnya oke 🙂 ayo keep writing lagi ya^^

    • Makasih yaaa udah maubacaaa semoga saja part srlanjutnya tidak terlalu membuat pusing hehehe
      next chapt ditunggu yaaa

  5. Hai thor :’ aku udh baca dri part1 tp bru komen dsini. sblumnya aku mau blng jujur aku agak bingung sama jln critanya. Tp aku sukaaaaaa, jjang!
    Agak ga rela aja sih klo chanyeol trkesan jahat krna mikirin taruhannya aja hiks.
    Lanjut thor, fighting! ^^

    • bingung ya sama jalan ceritanya? hehe semoga part selanjutnya ngga terlalu membingungkan yaaaaaa. dan emang aku buat Chanyeol jadi bad guy disini huahahaha. semoga part selanjutnya bisa memuaskan. makasih udah bacaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s