THE SECOND LIFE [PART 15]

Image

THE SECOND LIFE [PART 15]

 

Author : Keyholic (@keyholic9193)

Main Cast : Byun Baekhyun,Shin Hyunchan

Minor Cast :

Park Chanyeol

Do Kyungsoo

Suho

Yoon Jisun

Lee JinKi as Baekhyun’s Father

Genre : Romance/fantasy

Rating:  PG 16

Poster by : Cute Pixie

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 |Part 7Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11Part 12 | Part 13 | Part 14 |

***

SEBELUMNYA

Baekhyun telah berdamai dengan ibunya setelah ibunya jatuh sakit ketika ia dan Hyunchan sedang melakukan pengintaian. Chanyeol akan segera berangkat ke Jepang melanjutkan studynya disana. Sementara ia dan Jisun masih belum menemukan titik terang dalam permasalahan hubungan mereka dan memilih menyerahkan semuanya pada takdir. Kyungsoo mulai memberanikan dirinya untuk bertindak terhadap perasaannya. Setelah mengantar Hyunchan kembali ke apartemennya, ia mengutarakan niatnya untuk mengajak gadis itu ke suatu tempat. Meski masih dirahasiakan.

***

Kata orang ada benang merah yang mengikat kita dengan sosok yang menjadi jodoh kita. Sebuah benang merah yang mereka sebut dengan takdir.Benang merah yang tak akan pernah bisa terputuskan.Mungkin kata-kata itulah yang pantas untuk diletakkan dalam kisah Jinki dan Yeonhi.Mungkin memang benar bahwa  benang merah yang melilit di jemari Jinki berujung pada lilitan benang merah di jemari Yeonhi.

Mereka telah terpisahkan dan tak seorang pun membayangkan mereka akan bersatu.Kebanyakan orang sudah pesimis ketika mereka dihadapkan pada kisah cinta Yeonhi dan Jinki, dan memilih untuk menyerah.Tapi mungkin inilah yang mereka sebut denagn kekuatan takdir.Jika kau memang ditakdirkan untuk bersama maka tak akan ada yang bisa menghalangi. Apapun itu.

Operasi pengangkatan salah satu ginjal Yeonhi  akan dilaksanakan sore ini. Baekhyun sepertinya memang serius dengan kata-katanya. Sejak dari tadi pagi dokter sibuk  keluar masuk ruangannya,mempersiapkan dirinya  untuk menghadapi meja operasi.Sementara Jisun,sejak mengetahui ia berada di rumah sakit dan sebentar lagi akan menjalani operasi,gadis itu tak tidur normal dari kemarin. Katanya ia takut memejamkan matanya dalam-dalam.Takut jika ia lengah sedikit dan membuka matanya,kondisi ibunya tak akan sama lagi dengan sebelumnya.Padahal Yeonhi bukanlah pasien kanker stadium akhir yang berjaga-jaga untuk menyambut kematiannya.Ia hanya perlu menjalankan operasi,setelah itu maslah akan beres.Dengan susah payah dan bujukan dari Baekhyun,gadis itu akhirnya kembali ke rumah sejam yang lalu dan beristirahat sejenak di sana.

Yeonhi sedang memandang keluar jendela. Memanjakan matanya dengan perpaduan batang pohon yang coklat berbalut salju putih.Meski ini sedang musim dingin tapi entah kenapa cuaca diluar sangat bersahabat untuk melepas penat sambil berjalan-jalan.Ia masih ingat jaman SMA dulu  dirinya sangat suka berjalan di taman belakang sekolah menikmati winter  disaat teman-temannya yang lain memilih untuk meringkuk dikelas menjauhkan tubuh mereka dari hawa dingin. Ia akan menghabiskan waktu istirhatnya untuk menimati benda dingin berwarna putih itu di halaman belakang  sekolah dibanding menghabiskan waktunya di kantin sekolah. Baginya  melihat tumpukan salju seolah memberikan ketenangan tersendiri baginya.Aneh.

Masa SMA…

Salju…

Jin..ki…

Nama itu tiba-tiba melintas dibenaknya. Nama seorang pria yang higga kini masih memiliki tempat khusus di hatinya. Entah kenapa pikirannya memunculkan secara acak kenagan ia dan sosok pria itu.Semua masih jelas dimemorinya. Masa SMA tepat di bulan Desember ketika salju pertama turun,  Jinki menyatakan perasaannya dan mintanya untuk menjadi salah satu bagian penting dihidupnya.Ia tak akan bisa melupakan momen bersejarah itu. Bahkan sampai detik ini dadanya masih berdesir mengingatnya.Matanya terpejam  sejenak, berusaha mengusir kenangan dan kembali menguncinya.

Sedaritadi ia ingin keluar dari ruangan segiempat ini tapi dokter melarangnya banyak bergerak dan hanya menyuruhnya beristirahat sebelum operasi dilaksanakan.Untuk orang yang terbiasa aktif di luar ruangan dan harus terkurung di kamar ini dan hanya tidur , sama halnya dengan menyuruh pecandu rokok akut untuk membakar rokok-rokoknya.

Entah sudah keberapa kalinya karbondioksida itu dikeluarkan secara kasar lewat mulutnya.Ia merasa bosan.Menyalakan tv pun rasanya ia tak minat melihat acara-acaranya.Ia kembali memutar bola matanya kearah pemandangan di luar jendelanya setelah melihat malas kearah tv plasma di kamarnya.

Wanita itu nampak menghayalkan sesuatu sebelum seringai licik terlukis di wajahnya. Ia menyingkap kasar selimut coklatnya. Kakinya yang masih mulus meski dalam usianya yang tak muda lagi,ia gerakkan hingga bergelantungan di tepian  tempat tidurnya. Baru saja ia hendak menyentuh alas kakinya,tiba-tiba suara pintu yang sedang terbuka menghentikan aksinya.Dengan tergesah-gesah ia kembali ke tempat tidurnya dengan posisi miring membelakangi pintu kamarnya . Ia menutupi dirinya dengan selimut dan pura-pura tertidur.Ia mendesis kesal.Dikiranya dokter lagilah yang berkunjung ke ruangannya untuk memeriksa kondisinya.Dan Yeonhi menganggapnya itu sedikit berlebihan.

Matanya terpejam  paksa sambil mengomel tak jelas.Telinganya bisa menangkap ketukan demi ketukan sepatu yang kian dekat.Tapi ada yang aneh kali ini.Biasanya dokter yang masuk pastii akan berucap ‘annyeonghaseyo,Yeonhi-ssi’.Bukannya malah diam tak bersuara. Yeonhi menunggu suara dari pengunjung kamarnya itu ketika aroma mint bercampur vanilla menyusup masuk ke indra penciumannya.Ia tak mungkin bisa melupakan aroma ini.Aroma yang selau membuatnya merasa tenang dan nyaman.

“ Yeonhi-ya.” Tubuhnya menegang seketika.Dadanya berdesir saat telinganya menangkap suara merdu itu.Jemarinya meremas seprei dibalik selimut yang menutupinya,masih takut untuk mengetahui kenyataan sebenarnya.

Sedetik kemudian ia merasakan belaian lembut menyapu belakang kepalanya.Rasanya seolah kembali tersedot ke masa lalu.Digigitnya bibir bawahnya untuk menahan gejolak yang ia rasakan.Matanya mulai memanas dan detik selanjutnya bulu matanya telah basah karena air mata.

Secepat mungkin ia menghapus rembesan keringat hatinya  lalu berdehem seolah memberitahu si pelaku bahwa ia dalam keadaan sadar.Perlahan tangan yang mengelus rambut hitamnya menjauh,menyisakan rasa kehilangan. Ia berbalik dan memposisikan dirinya untuk bersandar pada dinding tempat tidurnya.Kelopak matanya terbuka,disambut oleh bola mata kecoklatan yang nampak teduh.

“Jinki-ya.” Gumamnya setengah tercekat.

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Baru saja dia menghayalkan Jinki beberapa saat yang lalu dan sekarang sosok itu sudah berdiri dihadapannya.

Sejak pertamakali ia menatap bola mata itu lekat-lekat hingga sekaranag,tak ada yang berubah.Tatapan yang diberikan Jinki padanya masih sama dengan puluhan tahun silam.Tatapan yang sama ketika ia menyatakan cinta,tatapan yang sama ketika ia memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya.Yeonhi sungguh tak berani membayangkan bagaimana tatapan Jinki ketika ia memilih untuk meninggalkannya tanpa alasan.

“Lama tak berte—“ Ucapan Yeonhi terputus ketika Jinki tiba-tiba saja menerjangnya,hingga tempat tidurnya sedikit berdecit bergesekan dengan lantai.

Bagi Jinki,bertemu Yeonhi adalah terkabulnya sebuah doa yang selalu ia panjatkan kepada Yang Maha Kuasa.Meski beberapa kali ia hampir menyerah,namun selalu saja ada yang menyuruhnya untuk terus berharap bahwa suatu saat keajaiban itu akan datang.Dan ketika hari itu telah datang,maka ia berjanji tak akan melepaskan Yeonhi lagi,apapun yang terjadi.

Sesaat setelah mengetahui kabar dari Jisun bahwa Yeonhi telah ditemukan ditambah berita tentang operasi pengangkatan salah satu ginjal yang sebentar lagi akan dilakukan oleh istrinya itu, tak perlu berpikir dua kali untuknya agar meninggalkan segala urusan di London dan bergegas menuju Seoul.

“aku merindukan mu.” Ucap Jinki setengah bergetar masih memeluk Yeonhi. Sesak yang bertumpuk didadanya akhirnya  menghilang sedikit demi sedikit.

Baginya bertemu Yeonhi lebih penting dari apapun,bahkan lebih dari bisnis yang selama ini telah ia besarkan dengan usahanya. Namun satu hal yang sedikit ia sesalkan, mengapa hal sepenting ini terlambat sampai kepadanya?

Yeonhi terdiam. Pelukan ini…

Diharapnya ini bukanlah bunga tidur yang selama ini selau menghantui tidur malamnya.

“Aku sungguh merindukanmu.” Ujar Jinki sembari mengeratkan pelukannya.Lelaki itu memperjelas kata-katanya bak sebuah mantra.

Tepat disaat itulah jiwa Yeonhi bergejolak , kenangan masa lalu berputar tak karuan dari adegan satu ke adegan lainnya. Matanya memanas mendesak cairan bening itu keluar dari  pelupuknya membentuk aliran sungai kecil di pipinya.Perlahan lengan yang berhiaskan selang infuse itu melingkari pinggang lelaki yang tengah memeluknya, mengisyaratkan bahwa diapun memiliki perasaan yang sama.

Keduanya terhanyut oleh aliran perasaan melankolis  dengan taburan ingatan masa lalu.Meski Yeonhi tahu bahwa ini salah dan tidak seharusnya ia kembali membangun tembok perasaannya yang telah runtuh perlahan,ia tak bisa mengelak bahwa dadanya masih berdesir ,wajahnya akan selalu merona,dan jantungnya akan berdetak lebih cepat untuk Jinki.Sejak pertama kali ia menyukai pria itu bahkan sampai sekarang.

“ Mau berjalan-jalan sejenak sebelum operasinya berlangsung? ”Jinki melepaskan pelukannya,setelah ia   mengontrol perasaannya kembali. Ia melemparkan senyum, sebuah senyum bahagia yang lama tak menghiasi wajahnya yang semakin menua.

Masa remaja bak terulang kembali. Kedua pria dan wanita berusia akhir 30-an tahun itu berjalan beriringan menyusuri  taman kecil di rumah  sakit dengan senyum terkembang. Suasana yang serupa ketika benih-benih cinta itu sedang bermekaran puluhan tahun yang lalu.

Dahulu ia yakin sekalipun ia dipertemukan dengan Jinki suatu saat nanti, dirinya masih bisa mengontrol perasannya dan tidak akan bermimpi untuk kembali bersama.Namun,detik  ini seketika secercah harapan kecil menghiasi lubuk hatinya. Rasa ingin kembali bersatu, membina hubungan yang sempat hancur karena dirinya. Keinginan untuk kembali bersama. Egoiskah dia? Tidak muluk-mulukkah keinginannya?

“Maaf.” Yeonhi menghentikan langkahnya.

Sesaat setelahnya derap langkah Jinki  yang tak jauh dari belakangnya ikut terhenti.

Mau tidak mau,siap ataupun tidak pada akhirnya mereka akan sampai pada pembahasan ini. Lebih cepat Yeonhi menjelaskannya lebih cepat pula bebannya berakhir. Ia tak berharap banyak pada penjelasan masalah ini, yang dia inginkan hanyalah agar Jinki tahu ada alasan dibalik tindakannya beberapa tahun silam itu.

“waktu itu… waktu itu aku—“

“Aku sudah mengetahui semuanya.”  Potong Jinki mengetahui kemana  arah dari permintaan maaf Yeonhi.

Pria itu memajukan langkahnya ,membuat posisinya sekarang sejajar dengan Yeonhi yang tengah menunduk. Tangannya meraih tubuh wanita yang masih dianggpanya berstatus sebagai istrinya, membuat kepala Yeonhi terdongak keatas menatap mata Jinki seolah mencari penjelasan.

“seminggu sebelum ibu meninggal, ia membeberkan semuanya. Kisah yang selama ini tak pernah ku ketahui. Soal mengapa kau pergi,soal uang itu, soal pengorbanannmu,semuanya.Semua yang terjadi dimasa kelam itu.” Jinki mengatur nafasnya sejenak. Di dorongnya tubuh Yeonhi pelan sehingga wanita itu terduduk tepat di atas bangku tempat langkah mereka terhenti.

“Saat mengetahuinya, aku benar-benar marah besar. Aku malu atas kelakuan ibuku. Aku kesal karena sebagai seorang suami tak bisa menolongmu. Tapi semuanya hanya berlangsung sesaat ketika aku melihat raut penyelasan di wajahnya. Ia berkata  bahwa ia sungguh menyesal melakukan itu dan menyuruhku untuk segera menemukanmu. Dia ingin  meminta maaf atas segalanya,atas kelicikan dan kejahatannya pada mu. “Jinki kembali mengatur nafas,memberikan jeda sejenak.

Pandangannya menengadah keatas. Menatap langit yang putih tanpa noda.Cahaya matahari nampak meredup,bak bohlam yang sebentar lagi padam. Ingatannya menerawang kemasa-masa itu. Ketika segala keangkuhan sang ibu termakan oleh waktu menyisakan seonggok tubuh yang terkulai lemah dengan keriput yang menghiasi.

“Sayangnya, maut terlebih dahulu menjemputnya sebelum ia sempat mengutarakan maafnya secara langsung pada mu.” Jinki mengakhiri ceritanya dengan helaan nafas yang berat. Kepalanya tak lagi mendongak melainkan hanya menatap sepatu hitamnya yang telah tercampur dengan sisa salju.

“Aku telah memaafkannya sejak dulu. “ Senyuman keikhlasan terpanacar di wajah ibu dua anak itu.”Lagi pula,beliau tak sepenuhnya salah disini. Dia hanya terlalu mencintai putra semata wayangnya.Tak ingin melihat putranaya menderita dengan hidup bersama gadis rendahan sepertiku. Tak ada yang salah dengan itu. Dia punya apa yang sedang keluarga kita butuhkan saat itu .Uang. Dan langkah terakhir yang bisa kulakukan sebagai ibu yang memperjuangkan anak-anaknya  adalah dengan mengambil kesempatan yang ditawarkannya.”

Jinki menatap wanita itu takjub atas kebesaran hatinya. Pemikirannya yang mememetik sisi positif dari setiap musibah yang ia alami masih tak berubah dari pertama ia mengenalnya.

“kalau kau sebegitu sayangnya pada anak-anakmu,lantas kenapa kau tak kembali? Aku yakin kau sudah mengetahui kabar kematian ibu.Tak ada alasan lain yang menahanmu untuk tak kembali pada keluargamu ini. Tapi mengapa kau seolah membuat dirimu tak nampak bak ditelan bumi?”

Mata Jinki belum mengalihkan pandangannya pada Yeonhi. Hembusan angin kecil menggoyangkan rambut kehitaman yang mulai dihiasi warna putih dari rambut lain.

“Apa kau sudah tak menyayangiku dan anak-anak kita? Atau mungkinkah kau telah menemukan keluarga ba—“

“Tidak.Itu tidak pernah.Bahkan memikirkannya pun aku tak pernah, Jinki-ya.”

Yeonhi menatap dalam bola mata sang lawan bicaranya. Seolah ia meyakinkan lewat tatapan matanya bahwa apa yang diucapkan oleh mulutnya bukanlah bualan.

“terlalu banyak hal yang menahanku untuk kembali memasuki lingkaran keluarga kita. Aku takut akan adanya penolakan ketika aku menawarkan diriku untuk kembali bergabung,apalagi penolakan itu dari mu. Aku merasa  menjadi ibu yang gagal dan citraku di mata kalian pasti telah rusak. Lagi pula yang kulihat selama ini keluarga kita baik-baik  saja tanpa aku. Jisun dan Baekhyun dapat tumbuh dan mendapatkan fasilitas yang bagus dari keluarga mu. Sedangkan kau,bisnismu melejit pesat beberapa tahun trakhir ini. Jadi tak ada alasan buat sampah ini untuk kem—“

“Cukup !… Jangan bicara lagi.” 

Pelukan hangat  merengkuh tubuh Yeonhi. Pelukan yang sukses membuat kembali tercekat hingga ia tak bisa menyelasiakan kalimatnya. Air matanya berlinang membentuk aliran kecil di bawah matanya. Ia sendiri bahkan tak sadar,ketika berbicara tadi matanya telah berkaca-kaca dan tinggal menunggu wkatu yang tepat untuk membuatnya tumpah ruah.

“Maaf..” Lirih Jinki. Suaranya bergetar tertahan.

“Maafkan aku telah membuatmu menderita sedari awal hubungan ini berjalan. Maaf,aku belum cukup pandai memahami mu.Maaf tak bisa menjadi tiang penyangggamu disaat kau membutuhkan penopang. Maaf…”

Jinki sadar semuanya siksaan ini berawal dari tekat bulatnya untuk terus melanjutkan hubungannya dengan Yeonhi. Jalan yang akan ia hadapi bersama Yeonhi terlalu beresiko dan lebih banyak melukai Yeonhi dibanding dirinya. Andai saat itu ia tak jadi anak muda yang keras kepala. Andai saat itu ia mengikuti kemauan orang tuanya untuk menjauhi Yeonhi,mungkin kejadiannya tak akan seperti ini. Tak akan ada kisah Yeonhi yang harus dibenci oleh anaknya sendiri. Tak akan ada kisah Yeonhi menjadi wanita terbuang. Mungkin dia sudah hidup bahagia bersama keluarganya,jika saja ia tak bersama Jinki.

Jinki menggengam erat kain baju pasien yang dikenakan Yeonhi hingga membuat jarinya memutih, ia hanya kesal pada dirinya.

Perlahan butiran putih dari langit mulai berjatuhan. Memberikan rasa dingin begitu bertemu dengan kulit.

“jangan terlalu menyalahkan dirimu. Semuanya salah disini. Aku,kau,ibu,dan jalan yang kita lalui. Aku ikhlas menerima semuanya. Tuhan mungkin punya rencana yang indah dibaliknya.”

Yeonhi mengusap pelan punggung Jinki seolah mengatakan ia baik-baik saja dan ikhlas menerima semua yang menimpanya. Lagi pula untuk apa marah ataupun mengutuk takdirnya? Toh itu tak akan merubah keadaan yang telah terjadi?

“Ayo masuk! kau bisa sakit jika terlalu lama terkena salju.” Ia menepuk punggung Jinki perlaan hingga pelukan pria itu terlepas.

Yeonhi mengusap sisa air matanya,membuatnya ikut membeku bersama tiap butir salju yang menyentuh wajahnya.Ia berdiri mengatur nafasnya agar kembali normal,  membiarkan aroma salju merasuki saraf-saraf penciumannya.Huhhh…

Belum sempat ia meninggalkan tempatnya berpijak,sebuah tangan mencegat tubuhnya untuk terus berjalan. Ia menoleh dan mendapati Jinki dengan sebuah tatapan hangat berpendar dari kedua bola matanya. Yeonhi membalasnya dengan tatapan heran tak mengerti akan maksud Jinki.

“Kwon Yeonhi…” Ada sengatan aneh ketika lidah Jinki kembali melafalkan nama lengkapnya. Rasa-rasanya Yeonhi pernah berada dalam situasi serupa. rasa herannya belum lenyap sepenuhnya ketika secara tiba-tiba lagi pria dihadaannya ini menekuk salah satu lututnya.

“Untuk kedua kalinya,maukah kau menajdi istri dari Byun Jinki dalam susah maupun senang,dalam sakit maupun sehat,dalam kaya ataupun miskin,hingga maut memisahkan?” Permintaan dengan janji sacral itu kembali Jinki lontarkan. Bak dejavu beberaa tahun silam ketika ia meminta Yeonhi menjadi istrinya sebelum ia melakukannya dan meresmikannya di hadapan Tuhan.

Syok dan kosong. Itulah hal pertama yang dirasakan oleh Yeonhi ketika  Jinki telah berlutut dibawahnya sambil menyodorkan sebuah kotak yang berisikan cincin sesaat setelah ucapannya terlontarkan.

 Syaraf-syaraf dan otaknya memkasa untuk berhenti bekerja selama beberapa detik itu. Membuatnya berubah menjadi patung di dunia kebisuan. Tak ada suara , tak ada hal lain selain ia dan Jinki yang tengah menekuk salah satu lututnya. Ini mungkin konyol,mengingat mereka tak lagi muda. Usia yang mereka jalani sekarang sangatlah tak pantas untuk adegan muda-mudi seperti ini. Hingga tetes salju yang mengenai ujung hidungnya akhirnya membawa ia ke alam sadarnya.

“Jinki-ya…” pekiknya bergetar pelan. Lidahnya masih keluh bak orang yang terkena stroke. Otaknya pun belum bekerja sepenuhnya untuk bisa merangkai kata.Memasuki kembali  kehiduan lelaki itu dan memulai semuanya dari awal lagi tak ada bedanya dengan bunga tidur baginya,bahkan membayangkannya saja ia tak berani.

“Aku… Aku tak pantas mendapatkan ini. Bukan perlakuan seperti ini yang  pantas didapat oleh wanita sepertiku. Bukan… Bukan… ” Gelengnya lemah. Ia kembali merasakan aliran panas di pipinya. Antara terharu,bahagia,sedih,kesal,semua bercampur menjadi satu. Di satu sisi ia sungguh tersentuh dengan kebesaran hati Jinki kembali menerimanya setelah kejadian 11 tahun lalu. Namun disisi lain rasa bersalahnya tak membiarkannya untuk berangan terlalu tinggi. Ia pantas mendapatkan hukuman. Hukuman yang berat. Bukannya seperti ini.

“sshhh..tidak apa-apa. Jangan menyiksa dirimu lebih dalam lagi Yeonhi-ya.” Tanpa wanita itu sadari Jinki kembali memeluknya erat. Suara bisikan pria itu menyusup kesetiap sarap pendengarannya. Ia bisa merasakan aroma khas Jinki,mint, yang begitu sepadan dengan sang winter.

“Aku ingin menyudahi buku masa lalu kita,menutupnya rapat-rapat. Mulai sekarang kita akan menulis pada lembaran baru,buku yang baru tanpa pernah membuka buku yang lama lagi.”

Yeonhi tersenyum dibalik pelukan Jinki. Ia tak menyangka bisa seperti ini.Takdir punya caranya sendiri untuk menyelesaikan kisahnya. Akhir yang tak pernah ia duga sebelumnya.

“Aku tak bisa…” Ucapnya sembari melepas pelukannya dari Jinki.

Pendar kebahagiaan di wajah Jinki berangsur memudar hingga lenyap. Bodoh! Itulah rutukannya . Yeonhi tak pernah menemuinya lagi,selalu menghindar tiap kali Jinki mencarinya.Apalagi alasaannya selain Yeonhi memang tak ingin kembali bersamanya?  Ia sungguh terlalu berha—

“kecuali kau mengganti cincinnya dengan ini.”

Yeonhi meraih kalung yang menggelantung dileher putihnya. Jemarinya perlahan mengeluarkan sebuah cincin perak dari rantai kalungnya. Tangannya yang satu meraih kotak merah kecil yang berada digenggaman Jinki.Digantinya cincin berlian yang bertengger di kotak kecil berwarna merah menyala itu dengan cincin yang dimilikinya. Cincin yang pernah mengingat keduanya dihadapan Tuhan.

“ Ulangi sekali lagi.” Pintanya dengan senyuman yang  semakin terkembang.

Jinki tertawa pelan setelah menyadari bahwa ia baru saja masuk kedalam perangkap. Ia berdehem pelan sebelum kembali bersuara dengan lantang mengucapkan kata-kata sacral yang baru saja ia utarakan. Suara lantangnya menebas dinginnya winter.Menggema diantara tiap butiran salju yang berjatuhan dari langit. Seolah alam pun harus turut mendengarkannya bersumpah.

“Kwon Yeonhi,untuk kedua kalinya bersediakah kau menajdi istri dari Byun Jinki dalam susah maupun senang,dalam sakit maupun sehat,dalam kaya ataupun miskin,hingga maut memisahkan?”

Senyuman dibibir Yeonhi semakin lebar hingga memperlihatkan deretan gigi-giginya yang masih sebagus dahulu.

“Dengan senang hati aku bersedia.”

Ketika kau menghadapi ujian cinta dan berhasil mengatasinya, maka cinta itu akan semakin kuat. Semakin besar. Sebesar perjuangan yang kau lakukan untuk membuatnya tetap utuh.

***

Pukul dua dini hari. Itulah yang terpampang pada layar jam digital diatas nakas. Tumpahan air beku dari langit yang sejak sejam lalu belum menandakan tanda ingin beranjak. Langit malam mungkin sedang bergalau. Air matanya tak lagi berbentuk cairan melainkan gumpalan es kecil.Tak beda dengan sosok gadis yang sedari tadi terus menatap sendu pada tumpahan salju yang tenggelam di pekatnya malam. Tangannya masih menggenggam secangkir teh. Sedari tadi menyerap hangat teh tersebut dari balik keramik yang menampungnya hingga panas itu menyusut. Kepulan asap sudah lama menghilang dari permukaan teh.

Smartphone keluaran terbaru berwarna putih berada tak jauh, lebih tepatnya diatas meja kecil didepan sang gadis. Penerangan yang berasal dari layar ponsel seolah ikut membantu penerangan kamar yang redup dengan patokan cahaya  lampu tidur.

“Masih juga tak ingin mengangkat telpon ku?

Aku hanya ingin berpamitan Jisun-ah.Besok pagi aku akan berangkat.

Terima kasih untuk semuanya Yoon Jisun.

Jaga dirimu baik-baik.“

Itulah kata kata yang menghiasi layar ponselnya. Sebuah Pesan singkat,  dikirim hari ini pukul 20.00 KST  dengan bertuliskan nama Park Chanyeol sebagai pengirimnya.  Pesan singkat yang sedari tadi mengusik batin si gadis yang sedang merenung, Jisun. Membuatnya bak orang depresi memandangi cerminan dirinya pada kaca yang berembun dengan salju yang memenuhi kusen jendela.

Kejadian tempo hari masih membekas di otaknya.Bahkan ia bisa mengingat untaian kata yang ia lontarkan pada Chanyeol.Ia tak seharusnya masih berdiam diri diposisinya. Lelaki yang ia pertahankan untuk waktu yang tak singkat akan pergi meninggalkannya. Meninggalkan kota yang memberikan banyak kenangan, meninggalkan hatinya yang telah porak-poranda. Esok, kala sang fajar menyambut, lelaki itu akan meninggalkan ia dan seluruh kenangan indah mereka di kota ini. Tak ada kawan lagi menakmati senja.

Jisun menghela nafas, membuat karbon dioksida meningglakan jejak dalam bingkai kaca. Ia tak mengerti dirinya. Disatu sisi tak ingin melukai hatinya lebih sadis lagi dengan terus berharap pada Chanyeol. Namun disisi lain, jauh didalam hatinya ada jerit tak ingin melepas cintanya. Ada raungan ketidakinginan untuk ditinggal sang pujaan.

Jika ditanya masihkah ia mencintai pria itu? Jawabannya jelas sudah pasti,Iya. Bahkan rasanya belum berkurang sedikit pun sejak ia mulai memilih meletakkan hatinya pada lelaki itu hingga klimaks dalam hubungan mereka terjadi. Meski berulang kali logikanya memaksa untuk membenci lelaki itu, memudarkan cintanya, melepaskannya, namun hatinya memberontak tak sanggup melaksankan perintah sang logika.

Ucapan cinta telah terlontar dari mulut Chanyeol. Pengakuan itu telah dideklarasikan. Namun gadis itu sanksi, sanksi bahwa ada rasa empati yang menadsari pengakuan cintanya. Takut jika itu hanya kabut halusinasi yang membuat seseorang berfikir ia mencintai benda yang sebentar lagi tak akan menjadi miliknya, padahal dahulu ia sama sekali mengabaikan benda itu. Curiga, jika  pengakuan cinta itu hanya manipulasi karena pria itu tak ingin melepas Jisun yang otomatis akan berefek pada hubungan baik antara kerjasama dua perusahaan. Dan ada banyak lagi hal- hal negative lain yang memenuhi imajinasinya.

Pikarannya masih bergelut. Dua keyakinannya memberontak. Kurang dari 5  jam ia harus segera mengambil keputusan. Namun keputusan yang dinanti tak kunjung menghampirinya. Kebimbangan masih melandanya. Mungkinkah ia hanya semakin mengusutkan benang yang seharusnya mudah diurai? Mungkinkah ia terlalu melebih lebihkan sesuatu?

Angin sepertinya sedikit berhembus kencang. Pepohonan di halaman sekitar rumahnya nampak bergoyak tak karuan. Ia dapat mendnegar bunyi ranting yang bergesekan., Seketika wajah Chanyeol terlintas diantara embun yang melekat di kaca jendela. Matanya sedih namun bibirnya tersenyum. Ada perih yang tergambar dari ekspresi halusinasi Jisun itu. Salah satu telapak tangannya tak lagi menepel pada cangkir teh. Ia menyentuh kaca jendelanya. Mengusapanya, seolah ia tengah mengusap pipi Chanyeol dan menyuruhnya untuk tak lagi bersedih.

Tanpa ia sadari, sebuah aliran kecil membasahi pipinya. Semakin ia mengusap wajah itu semakin sesak dadanya. Ada air mata serupa yang mewarnai pemandangan wajah pria yang terlukis pada kaca jendelanya itu. Hal itu semakin membuat Jisun tak lagi mampu menahan suara isakan di kerongkongannya. Ia memangis terseduh seduh. Meraung sekeras mungkin melawan perih yang menjalari setiap sudut hatinya. Raungannya semakin keras ketika bayangan itu perlahan memudar hingga matanya tak lagi menangkap bayangan itu. Semuanya hilang, yang tersisia hanya kabut dijendelanya yang semakin memudarkan penglihatannya kepada dunia luar.

“Jangan pergi! Kumohon…”

Nafasnya tersengal sengal bak pelari marathon. Sebuah ranting baru saja menghantam kaca jendelanya, membuat suasana menjadi sedikit hororor. Pandangannya perlahan mulai jelas. Ia baru saja tertidur di atas meja kecilnya lalu mengalami mimpi buruk. Ia mengangkat wajahnya yang tenggelam dilipatan tangannya. Dirinya merenung sejenak memflashback bunga tidur yang baru saja menemaninya. Ia menyeduh teh yang tak lagi hangat. Matanya memandang kearah kaca jendelanya. Memastikan, mungkin saja bayangan yang serupa dengan mimpinya akan muncul disana. Adegan demi adegan yang baru saja menjadi bunga tidurnya menyuguhkan flashback di otaknya.

“Jangan pergi.” Rapalnya berulang kali mencari makna dari kata itu.

Entah pada ucapan keberapa kalinya, gadis itu terhenyak lalu tak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya. Matanya menatap ke arah kaca jendelanya, seolah bayangan Chanyeol memang muncul seperi yang terjadi di mimpinya.

Mungkin akhirnya ia sadar, bahwa hatinya tak ingin lelaki itu pergi. Apa yang dimimpikannya, kata kata yang terucap dalam mimpinya seolah mengutarakan apa yang hatinya rasakan. Mungkin melalui alam bawah sadarlah hati menyampaikan maksudnya, karena hanya pada saat itu logika yang selalu menjadi acuan manusia untuk bertindak, tak lagi mampu untuk mengusik.

Terhuyung-huyung ia bangkit dari kursinya,menyambar ponsel beserta jaket tebalnya yang menggantung tak jauh dari pintu kamarnya. Cuaca masih juga tak bersahabat. Bulir-bulir  kecil dari langit belum menurunkan intensitasnya. Berbekal mantel jaket tebal,mantel bening sebuah payung dan sebuah sepeda, gadis 17 tahun itu menerobos dinginnya cuaca ditengah  malam yang pekat, pukul dua dini hari. Hanya itu yang terlintas di otaknya. Tak ada waktu mengambil mobil digarasi, tak ada wkatu untuk membuat seisi rumah panic karena seorang gadis  tiba tiba saja ingin berkendara di waktu larut seperti ini dengan cuaca yang tak bersahabat.

Ia terlalu egois untuk peduli terhadap apa yang hatinya inginkan. Rasa benci membutakannya. Membuat otaknya menyusun skenario bahwa ia tak mencintai Chanyeol lagi. Bahwa dia tak akan memberikan kesempatan pada lelaki itu. Kekeraskepalaannya yang sulit diubah membuatnya hampir menyesal seumur hidup. Semoga ia belum terlambat untuk memperjuangkan cintanya sekali lagi.

Rumah megah keluarga Park telah terpampang didepan wjahnya. Nampak sunyi seperti biasanya. Apalagi ini memang wkatu bagi siapapun untuk terlelap, tenggelam dalam kesunyianmereka. Ia menempelkan kedua telapak tangannya yang berbalut sarung tangan hangat untuk menghilangkan dingin yang menyerang wajahnya. Ternyata bersepeda ditengah badai salju seperti ini bukan pilihan yang baik. Ia bahkan merasa hampir kehilangan nyawanya, saking ekstrimnya cuaca saat ini. Dibukanya payung memperkuat pelindungan tubuhnya dari ganasnya terpaan bola salju kecil. Ia meraba sakunya, mencari ponsel dengan tangannya yang gemetaran.

Sudah dua kali ia mengulang panggilannya namun orang yang tengah berusaha ia hubungi tak kunjung mengangkat deringan telponnya. Mungkin sang pemilik sedang nyenyak nyenyaknya tertidur. Jisun tak menyalahkan itu . Ini memang waktu dimana tidur seseorang bisa nyenyak, kecuali dirinya. Mungkin lebih baik jika ia menekan bel saja, tapi  kakinya tak sanggup berdiri lama untuk menekan bel tersebut. Ia kedinginan. Akan jauh lebih baik jika menyentuh angka angka dilayar ponselnya saja sembari terus meringkukkan tubuhnya menghalau dingin.

Hampir saja ia menyerah ketika sambungannya akhirnya terhubung. Jantungnya dag dig dug tak karuan di detik detik suara itu merambat ketelinganya. Seperti ketika pertamakali ia mendnegar suara Chanyeol melaluai ponselnya, meski saat itu ia menanyakan dimana keberadaan Byun Baekhyun karena dia sudah bosan menunggunya.

“Halo?” Itu kata pertama yan memasuki indra pendengaran Jisun. Suara bas yang nampak semaikn berat karena efek tidur.

“Siapapun kau, kubunuh kau kalau ini bukan soal informasi yang penting!” geramnya. Sepertinya ia tak sempat melihat id di layar ponselnya sehingga ia tak tahu kalau itu adalah panggilan dari gadis yang meluluhlantahkan hatinya minggu minggu ini. Atau mungkin Jisun tak lagi menjadi bagian dari daftar kontak lelaki itu? Perumpamaan kedua sedikit membuat Jisun bersedih.

“Oppa..” Ujar Jisun pelan.

Ada hening sejenak sebelum suara menyambut ucapan Jisun. Chanyeol tahu betul siapa yang menghubunginya ini. Hanya satu gadis yang memanggilnya dengan sebutan oppa dan panggilan itu menggetarkan hatinya. Byun Jisun. Seseorang yang sempat terabaikan. Dan Sebentar lagi ia benar benar akan kehilangan.

“Oppa…” lagi lagi suara itu menyahut dari saluran telponnya. Suara itu terdengar gemetaran dan seolah dilatar belakangi oleh gemuruh hujan. Mungkinkah hujan sederas itu di rumah Jisun sehingga mampu menerobos dinding kamar Jisun yang tebal?

“Jisun-ah ?”

Tak ada sahutan dari gadis yang dipanggilnya Jisun. Hanya suara gemuruh angin yang mengisi pendengaran Chanyeol dan suara nafas  yang tengah menggigil hebat.

“Bisakah kita bertemu sekarang?”

Chanyeol mengernyit. Ia menatap jam dinding dikamarnya. Jarum pendeknya hampir mendekati angka tiga. Ada apa dengan gadis itu ingin bertemu diwaktu tak wajar seperti ini?

“Byun Jisun, apakau baik baik saja?” Chanyeol sanksi dengan kewarasan Jisun. Bukan apa apa, ia hanya takut depresi yang dialami Jisun kambuh dan membuatnya sinting seperti dahulu. Bertemu dini hari  begini? Yang benar saja?

“tidak. Sangat tidak baik-baik saja. “ suara gadis itu gemetaran. Chanyeol dapat menangkap bunyi gemeletukan gigi seperti saat  menggigil kedinginan.

“ Baiklah. Dengar aku! Tunggu aku, Jangan bergerak dari posisi mu.” Chanyeol mewanti wanti Jisun seraya bergerak meraih jaket dan kunci mobilnya. Ia sungguh khwatir. Ia tak ingin insiden sebelum Jisun dirawat kembali terulang.

“kau ada dimana sekarang?” Langkahnya cepat menyusuri undakan tangga menuju lantai pertama rumahnya.

“Di depan pagar rumahmu.” Sial ! Chanyeol hampir saja terpeleset jika tangannya tak kuat mencengkram gagang tangga. Ia terkejut bukan main. Cuaca diluar sungguh tak memungkinkan seseorang apalagi gadis untuk berkeliaran. Ia mulai yakin kalau ada yang tak beres dengan Jisun.

Chanyeol masih tak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya. Gadis itu, gadis yang disayanginya tengah berjongkok berteduhkan payung tepat di depan pagar rumahnya. Ia berjongkok memeluk lututnya sembari menggoyang-goyangkan badannya agar tidak kedinginan.Seluruh tubuhnya berbalut jaket tebal. Pandangan matanya menerawang kosong kedepan seolah ada yang sedang direnungkannya.

“Jisun-ah?”

Gadis itu langsung mendongak begitu mendnegar panggilan namanya. Kepalanya perlahan muncul dari lindungan kelopak payung. Mata mereka bertemu. Mata ia dan Chanyeol. Ada jeda yang cukup lama mengantarai mereka. Jisun bangkit. Membiarkan ujung payung mereka bertabrakan. Wajah gadis itu pucat pasih layaknyanya keluarga Cullen. Bibirnya membiru, menggigil.

“Apa kau sudah gila?! Apa yang kau lakukan ditengah cuaca sep—“ Antara khawatir, kesal, dan prasaan bersalah, emosi lelaki itu meledak. Namun belum sempat meledak seutuhnya, sebuah lengan tengah melingkari pinggangnya.

Payung Jisun telah tergeletak terlantarkan dijalanan sejak beberapa detik yang lalu. Kelopaknya menghadap keatas. Tubuhnya telah berpindah dibawah naungan payung Park Chanyeol. Dekapannya semakin erat.Ditenggelamkan wajahnya pada dada bidang Chanyeol, mencoba menyerap panas tubuh lelaki itu.

Ada rindu yang melandanya. Rindu yang begitu besar yang membuatnya enggan melepas peluknya. Bisa ia rasakan lengan Chanyeol telah merengkuhnya, membuatnya semakin merapat. Ia rindu dengan pelukan Chanyeol, ia rindu dengan wangi rumput segar di pagi hari yang kerap kali menjadi bau khas lelaki itu. Ia rindu mereka yang seperti ini.

“Ayo masuk! Badanmu harus dikeringkan.”

“Aku ingin  melihat sunset.” Ujar Jisun cepat

“Jangan bertindak konyol ! Lihat keadaaan mu! Kau seperti orang sekarat.”

“Aku tak tahu apakah kau masih mengingatnya atau tidak, tapi dulu kau pernah berjanji padaku untuk mengajakku melihat sunrise di laut.” Lanjut Jisun menghiraukan ucapan Chanyeol.

Chanyeol tersontak. Ia tak mungkin lupa hari dimana ia menjanjikan hal itu pada Jisun. 2 tahun yang lalu. Di ruang lab kimia, tempat kelas Jisun praktik kala itu. Saat keduanya tengah menikmati senja dari balik kaca kaca jendela ruang lab. Alunan lagu Jason mraz, I won’t give up menjadi soundtrack mereka. Meski lagu itu sama sekali tak menyentuh kisah mereka, hanya saja keduanya menyukai music lagu penyanyi bertopi tersebut. Ditemani hembusan angin sore dengan langit senja yang keoranye oranyean, janji itu terucap.

“Sunset memang indah. Aku penasaran apakah sunrise juga seindah ini?”

“Kata orang menyambut sunrise punya rasa yang berbeda. Seperi menyambut sebuah kelahiran. Sebuah kehidupan baru. Sebuah lembaran hidup yang baru. Lain waktu, ayo pergi melihat sunrise di pinggir laut! Aku juga penasaran dengan dengan sunrise.”

“Serius?” Tanya Jisun memastikan dengan begitu antusias yang hanya dibalas oleh anggukan  Chanyeol.

“Kupegang janji mu,yah?” Chanyeol hanya tersenyum lembut  sambil mengacak pelan rambut Jisun.” Tentu saja. Kau bisa memegang janjiku.”

Chanyeol tersenyum miris mengingat flashback singkat itu. Sebenarnya ia ingin menepati janji tersebut segera. Namun kesibukan sekolahnya belum lagi kesibukan Jisun membuatnya lupa sejenak akan janji itu. Janji yang hampir saja tak ia tepati.

“Semuanya masih teringat jelas Jisun-ah,bahkan suasana nyaman senja kala itu.” Chanyeol bergumam.

“Tapi apa kau yakin?” Lanjutnya memastikan.

Jisun mendongak. Menyandarkan dagunya di dada Chanyeol.” Aku tak apa. Kumohon penuhi janji itu sebelum kau..” Ia menurunkan kembali kepalanya. Membenamkan wajahnya.

”pergi…” Lirihnya tertahan.

Jika ia mengiyakan tawaran Jisun, maka ia sungguh gila. Pukul 7 pagi esok ia harus berangkat meninggalkan Seoul. Sudah dipastikan kondisinya tak akan fit setelahnya. Mengendarai mobil disepertiga malam, belum lagi tidurnya yang terusik sudah cukup menjadi factor penyebab dirinya akan lemas esoknya. Tapi dia memang sudah gila. Apalagi jika itu menyangkut Jisun. Resiko apapun akan ia hadapi.

“Baiklah, jika itu mau mu.Kita akan berangkat melihat sunrise tapi setelah kau mengeringkan badanmu. Kurasa waktunya akan cukup.”

Mereka tiba di sebuah pantai tepat pukul 5 subuh. setelah mencaritahu informasi pantai yang dapat dijadikan tempat melihat sunrise, akhirnya Chanyeol memilih pantai ini. Perjalanan mereka hanya dipenuhi kediaman. Jisun tertidur, disebelah Chanyeol selama lelaki itu mengemudi. Ia terlihat lucu dengan pakaian milik asisten rumah tangga keluarga park yang terlhat jadul. Untungnya gadis itu tak terkena demam.

Pantai itu nampak sunyi.Jelas saja tak akan ada yang mau berkunjung ke pantai dijam seperti ini. Gemuruh ombak berkejar kejaran mengisi subuh yang hening itu. Bau khas laut seketika menyapa indra penciuman. Suasana masih sangat gelap.

Jisun menggeliat, tanda sebentar lagi ia akan terbangun. Dan benar saja, tak lama setelahnya matanya mulai mengerjap ngerjap. Ia meregangkan badannnya, membuat selimut tebal yang sedari tadi membungkusnya kini tersibak.

“Morning.” Ucapan selamat pagi itu layaknya secangkir kopi hangat pelengkap sarapan di pagi hari yang menyambut indra pengecap. Rasanya begitu menyegarkan dan mennenagkan. Membuat perasaan jauh lebih baik. Belum lagi senyuman Chanyeol yang menghangatkan. Astaga, ini seperti breakfast dengan telur mata sapi ataupun roti bakar yang selalu melengkapi secangkir kopi atau pun teh.

“Pagi.” Balasnya tersenyum. “Apa kita sudah sampai?”

“Coba saja lihat ke sebelah kananmu.”

Jisun menoleh dan tak sampai tiga detik ia sedang berujar takjub. Tergesah gesah ia turun dari mobil Chanyeol menuju bibir pantai. Seolah melupakan gundah gulananya semalam. Angin dingin khas subuh hari menerpa kulitnya. Namun itu tak menggentarkakn kakinya untuk terus melangkah menuju pasir putih tak jauh dari tempat Chanyeol memarkir mobilnya. Jejak jekanya tercetak jelas hingga berakhir di bibri pantai. Ia membiarkan ombak menciumi jemari kakinya. Membiarkan rasa dingin mengejutkan sarafnya.

“Ayo duduk disini sembari menunggu sunrisenya.”

Chanyeol sudah duduk beralaskan kain diatas pasir tak jauh dari posisinya. Di pangkuannnya terdapat selimut tebal   yang baru saja menyelimuti Jisun. Dengan sedikit berat, Jisun meninggalkan riak ombak menuju ke arah sosok jangkung yang menunggunya di belakang sana.

Angin pantai memainkan ujung ujung rambut kedua anak manusia yang tengah menanti terbitnya matahari yang menandakan satu lagi hari baru telah datang. Sebuah headseat membuat untaian dikedua telinga mereka. Membuat mereka menikmati senandung serupa. Selimut tebal membalut punggung keduanya. Menciptakan kehangatan.

Rasanya seperi senja saat itu. Hanya saja kali ini mereka bukan mengantar matahari keperaduannya melainkan sedang bersiap menyambut kelahirannya.

Without even knowing,
I was holding the phone
It’s me, it’s been a long time
Because it was so hard, because
I felt bad if I held you back
Because I regret letting you go,
I just let out a sigh

Because I was so surprised,
I couldn’t speak. I was holding on to
my trembling heart. Are you
struggling a lot? Where are you? Before
I could even ask, tears fell down. Just
by hearing the sound of your breath

When tears fall, even my smallest
cherished memories don’t know what
to do. Because it hurt so much,
we promised to let each other go
But whenever I’m not sure I can do it,
please let me hear
at least your breath

Breathing, opening
my eyes every day,
barely getting through each day
I couldn’t tell you that those things
were harder than dying
In case you would get worried so
like a fool, I just let out a sigh

When tears fall, even my smallest
cherished memories don’t know what
to do. Because it hurt so much,
we promised to let each other go
But whenever I’m not sure I can do it,
please let me hear
at least your breath

Breath.Lagu yang dinyanyikan Kim Jonghyun ft Taeyeon tiba tiba saja mengalun dari random music yang masuk kedalam playlist ponsel Chanyeol. Diantara semua lagu yang ada disana, kenapa harus lagu ini yang terpilih?

There was so much I wanted to
say but I couldn’t say anything
We said that we were okay,
comforting each other in pain
When I look back, we were only happy,
we haven’t let each other go

When tears fall, even my smallest
cherished memories
don’t know what to do
Because it hurt so much,
we promised to let each other go

Sedih kembali menyelimuti. Menghampiri di menit menit menjelang kelahiran Sang fajar. Menampar Jisun dengan kenyataan bahwa saat matahari terbit maka momen mereka akan segera berakhir. Moment. Yah, ini memeng moment terkahir.  Seketika ketakutan itu muncul. Layaknya diikuti oleh seorang pembunuh yang kapan saja mampu melenyapkan mu.

When I keep thinking about you
When it’s so hard that I can’t take it

Please let me hear
at least your breath

 

Lagu itu berakhir. Meninggalkan Chanyeol beku dengan pikirannya. Tak ada lagu lagi yang mengalun setelahnya. Laut mendadak menjadi tenang. Ombaknya tak sebringas sebelumnya menghantam bibir pantai. Tak ada lagi gemuruh, seolah riak ombak berusaha sepelan mungkin tak mengusik hening yang tercipta.

 “Tetaplah disini.”

Suara Jisun menyadarkannya dari  suasana melankolis yang mendadak melanda jiwanya. Tangannya mencengkram lengan Chanyeol.  Dahinya mengernyit. Matanya mendapati pandangan Jisun yang delemparkan kepadanya.Tatapannya penuh harap. Mungkin lebih tepatnya… mengemis.

Chanyeol tersentak dengan sesuatu yang baru saja terlintas dipikirannya. Apa maksud semua ini? Mungkinkah…?

Tidak mungkin. Apa yang terjadi pada Byun Jisun dalam waktu semalaman? Bukankah tempo hari ia keukeh tak mau memberikan kesempatan pada Chanyeol? Bahkan sampai menuduh pengakuan cintanya adalah bualan yang mencoreng kesakralan cinta. Ia tak akan lupa kejadian itu. Bagaimana kebencian memenuhi tatapan gadis itu. Bagaimana keperihan terlukis jelas disetiap garis wajahnya.

“Ji—“

“Maafkan aku!” Suaranya bergetar. Genangan air yang sedaritadi memenuhi rongga matanya memberontak keluar. Seketika itu juga ia memalingkan wajahnya. Tak lagi sanggup menatap Chanyeol. Sial! Mengapa ia selalu saja cengeng?

 Chanyeol masih dalam diamnya. Matanya belum berkedip sedaritadi. Ia terus menatap pundak Jisun yang bergetar. Dari belakang sini ia mampu menangkap bagaimana gadis itu berusaha mengusap air matanya. Bahkan suara ombak tak mampu menelan isakan yang keluar dari mulut gadis itu.

“Awalnya …” Jisun merilekskan rongga pernapasannya. “Awalnya kupikir perasaan itu benar benar hilang dan tak akan pernah kembali.Dendam memanipulasi logika ku. Seolah aku tak punya rasa itu dan hanya kebencian dan perasaan ingin balas dendam padamu.” Jisun masih memunggungi Chanyeol. Suaranya  seperti seorang gadis yang menangis semalaman karena putus cinta. Ada sedikit jeda disana. Membiarkan Jisun menghentikan sesak didadanya. Ia memandang Chanyeol yang sudah tak melepaskan pandangannya dari gadis itu.

 “ Namun ternyata aku salah. Perasaan itu masih ada. Bahkan besarnya masih serupa dengan pertamakali aku merasakannya.” Sembab yang menghiasi, bola matanya yang memerah, helaian demi helaian bulu mata yang basah, mereka hanya berbicara satu hal. Kepedihan.

“Hanya saja aku terlalu buta dan terlalu kaku untuk merasakan keberadaannya. Aku justru menyadarinya menjelang detik detik terakhir dan kuharap aku belum terlambat..”

Untuk beberapa menit keduanya hanya terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing. Mencoba menerka-nerka apa yang selanjutnya akan terjadi.Matahari mulai memberikan tanda kelahirannya diufuk timur. Suara ombak yan berkejar-kejaran mengisi keheningan subuh itu.

Chanyeol tercengang . Jadi selama ini, Jisun hanya berusaha menolak apa yang dirasaan hatinya karena tak sama dengan pemaparan logikanya? Dan apakah itu artinya ada kesempatan baru untuk kelanjutan hubungan mereka?

Jisun mengalihkan pandangannya. Ia menatap laut lepas yang tak berujung. Seolah harapannya pun terletak sejauh itu. Ia tak begitu yakin dengan usahanya. Ini terlalu mepet dan ia mulai menyesali kebodohannya.

“Maaf. Telah membuatmu kerepotan mengatasi kelabilanku. Sifat kekanak kanakanku. Maaf telah menyiksamu dengan hal itu semua.” Jisun tertawa getir. “Aku bodoh yah? Seharusnya aku tak menahanmu lagi. Jikapun mata hatiku mulai terbuka,seharusnya kubiarkan sajakau pergi dan memulai kehidupan baru.Mencari wanita yang bisa mengerti mu, dewasa dan tak kenak-kanakan sepertiku. Memulai hubungan layaknya orang yang telah dewasa. ” Jisun tak lagi menatap kedepan. Wajahnya menatap kebawah, hampir bersembunyi di kedua lututnya.

“Tapi kau tahu, rasanya begitu sakit didalam sini. Membayangkan kau pergi dari tempat ini, meninggalkan ku, menjalin hubugan dengan gadis lain, aku tak sang—“

Kata kata itu tertelan kembali dikerongkongan Jisun ketika sebuah pagutan menghampirinya. Sebuah sentuhan yang lembut menyapu bibirnya. Membuatnya merah seketika. Terlebih lagi ketika Chanyeol mulai memberi jarak yang mengaantarai wajah mereka. Dari jarak tak lebih dari 3 cm itu ia dapat manatap mata Chanyeol berbinar dengan senyuman yang terkembang diwajahnya. Cahaya mentari dengan malu malu muncul dibalik garis batas dunia. Membuat manik coklat Chanyeol terlihat jelas dengan adanya pantulan cahaya. Rambut coklatnya sedikit bersinar dengan pantulan cahaya.

“Dari dulu kau selalu mengkhawatirkan sesuatu secara berlebih.”

“Maaf…”

Chanyeol hanya tersenyum melihat keluguan Jisun. Akhirnya gadis lugu dan kekanak-kanakan itu telah kembali. Ia mulai terbiasa dengan sifat Jisun yang satu itu. Hal itu disadarinya setelah gadis itu berubah  menjadi antagonis dengan segala kedinginannya.

Kedua telapak tangannya sudah bertengger manis di pipi Jisun. Jempolnya mengusap pelan kulit yang merona merah itu. Sungguh manis sekali. Ia menatap dalam bola mata yang masih menyisakan sembab. Pada detik itu juga, ia berjanji pada dirinya tak akan pernah membiarkan mata itu bersedih lagi. Mengeluarkan kesedihan dari dalam sana.

Bibirnya mendekat mengecup kening Jisun. Lalu beranjak mengecup bergantian kedua matanya. Ia berhenti sejenak kembali menatap wajah Jisun. Sinar fajar membuat wajah gadis itu memesona. Untuk pertama kali, ia sungguh terpesona dengan Yoon Jisun. Tanpa make up. Tanpa kepalsuan. Dadanya bergetar. Menimbulkan efek efek aneh yang telah lama tak ia rasakan. Bahkan sewaktu dengan Jiyeon pun ia tak pernah merasa seperti ini. Rasanya seperti panah cupid yang baru saja menembus hatimu lalu dalam hitungan detik kau seolah sedang merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Aku mencintaimu, Yoon Jisun.”

Siluet dua orang anak manusia di atas pasir putih kembali menampakkan pertemuan dua wajah.Menampilkan bentuk pengekspresian terhadap satu kata ajaib, cinta. Menyapu setiap sudutnya. Menautkan dua indra pengecap. Menyatukan saliva mereka. Menyampaikan kata yang tak selamanya mampu terungkapkan. Pelan dan lembut. Hangat dan penuh penghayatan. Ada kehati-hatian yang terasa seolah salah sedikit saja mampu melukai salah satunya.Setiap gerakannya ada cinta yang menghiasi. Bak pengrajin tanah liat yang sedang membuat sebuah guci berkualitas .Menciptakan suara kecupan yang membuat semburat merah memenuhi wajah Jisun. Bahkan mentari pun ikut memerah melihatnya.

Mungkin seperti inilah ciuman pertama itu terasa. Ciuman pertama dengan mereka yang kau cintai. Mereka yang kau pilih sebagai sandaranmu, tempat hatimu akan bernaung. Rasanya sungguh memabukkan. Bak sabu sabu yang baru saja mengalir di darahmu. Membuat melayang dan lupa akan daratan.

“Aku juga mencintaimu.” Ucap Jisun membalas pernyataan Chanyeol. “Dulu, sekarang, dan sampai kapan pun akan selalu seperti itu.”

Chanyeol tak berkata apa-apa lagi. Ditariknya Jisun kedalam pelukannya. Merengkuhnya, tak akan pernah ingin melepasnya. Dikecupnya ubun ubun gadis itu. Disesapnya aroma shampoo yang selalu digunakan Jisun. Ia merindukannya. Sangat. Minggu-minggu yang lalu, ia telah sanksi bisa kembali berada pada momen seperti ini. Harapan itu telah dibuangnya sejauh mungkin. Tapi takdir memang selalu punya kejutan diakhir. Dan ia menyukai kejutan takdir yang satu ini.

 “Kurasa kita impas sekarang, Terima kasih telah mengajarkan ku berjuang demi cinta. Tak kusangka kau kuat menjalaninya bertahun tahun. Sedangkan aku, hanya sebentar saja namun rasanya aku sudah terpongah pongah.”

“Bagaimana kalau memberikanku reward? Ummm…rewardnya sebuah ciuman yang panas lagi!” Chanyeol nampak bersemangat. Niatnya hanya menggoda Jisun.

 “Kenapa kau jadi mesum begini?”  heran Jisun melepaskan pelukannya.

Chanyeol  hanya tertawa melihat tingkah Jisun. Ia rindu ketika kedua alis Jisun saling bertaut seperti sekarang ini. Sekecil hal apapun tentang Jisun selalu membuatnya merindu.Chanyeol kembali mengeratkan rangkulannya. Kepala Jisun tengah bersandar didadanya. Kaki mereka selonjoran dipasir membuat beberapa butiran pasir melengket di pakaian mereka.

“Sepertinya keberangkatan ku ke Jepang tak bisa ditunda.” Ia bisa merasakan tubuh Jisun kembali bergerak dibawah sana hingga gadis itu tak lagi bersandar melainkan telah menatapnya dengan pandangan serius.

“Jadi kita akan menjalani hubungan jarak jauh?” Ada kekecewaan terlihat di mata gadis itu meski ia berusaha tak memperlihatkannya.

“Aku tak ingin mengecewkana ayah. Sepertinya ia berharap banyak tentang pendidikanku di jepang, belum lagi keinginanku untuk membantunya berbisnis. Entahlah, dia semakin renta. Aku tak tega melihatnya bekerja sekeras itu di usianya yg sekarang.”

Jisun menunduk. Memainkan ujung bajunya tak jelas. Memikirkan masa depan hubungan mereka yang akan dijalani secara LDR.

“Janagn khawatir.” Ia mengusap belakang kepala Jisun. “Aku punya dua berita baik. Pertama, aku bisa menunda penerbanganku hingga minggu depan. Kita punya banyak waktu untuk mengahabiskan seminggu ini bersma. Dan yang kedua. Hubungan LDR kita tak akan lama. Begitu kau sudah lulus, aku akan meminta izin dari paman Byun untuk menjadikanmu menantu keluarga Park?”

Jisun tak terlalu perduli soal kalimat pertama Chanyeol. Ia justru tertarik mencerna kalimat terakhir lelaki itu. Kabar baik yang kedua.

“Maksud mu kau mau kita menikah muda? Ayah tak akan mengizinkan itu.Dia pasti ingin aku selesai hiingga gelar masterku, barulah aku bisa menikah.

“Kita bisa menyelesaikan itu semua bersama sama di Jepang nanti. Dirumah mungil kita. Hanya kau dan aku. Dan anak-anak kita dimasa depan.”

Seulas senyum terukir diwahjah gadis itu. Rona merah lagi lagi memenuhi pipinya saat mendengar ucapan Chanyeol mengenai mereka yang akan hidup berdua bersama anak-anak mereka. Rasanya begitu manis. Semanis drama dengan happy ending.

Fajar telah terbit dengan sempurna. Membawa hari baru. Membawa harapan baru. Membuka lembaran hidup yang baru. Membawa kesyukuran yang terucap dari mulut-mulut makhluk Tuhan bahwa sekali lagi mereka diberikan kesempatan hidup untuk hari ini, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalu, dan kesempatan untuk menyambut masa depan yang lebih baik.

***

Hyunchan menatap lekat-lekat sosok yang ada dihadapannya. Seorang gadis dengan balutan dress putih tulang diatas lutut sedang duduk disana. Perpaduan bedak,blash on, membuatnya tampak lebih segar dari biasanya. Matanya yang sayu dipertegas oleh garisan eyeliner hitam pada pinggiran kelopak matanya.  Sapuan mascara pada bulumatanya dan lipgloss warna bibir yang melekat di bibirnya membuatnya terlihat seperti gadis feminim. Rambut hitamnya  yang dibuat berombak dibiarkan menjuntai dipundaknya. Begitu kontras dengan dressnya.

Siapakah gadis dihadapannya ini? Betulkah ini wajah gadis yang selama 18 tahun ini melekat padanya?

“Bagaimana hasil kerja ku,eonni?” Ujar suara dibelakangnya. Ia menatap pantulan pemilik suara itu pada cermin dihadapannya.

“Ini keren, Jisun-ah? Apa kau pernah belajar make up sebelumnya?” Tanya Hyunchan masih tak percaya dengan hasil kerja Jisun.

Hari ini adalah hari dimana ia janjian dengan Kyungsoo. Tadinya ia ingin berpenampilan biasa saja, sebelum namja itu kembali mengiriminya pesan untuk memakai pakaian yang entah bagaimana sudah dititipkan pada satpam apartemennya. Sebuah dress berwarna putih tulang dengan highheels berwarna senada diberikan Kyungsoo padanya. Ia ingin menolak, tapi Kyungsoo tak mau mendengar penolakannya. Karena tak tahu tata cara makeup dan tak pernah berurusan dengan hal-hal seperti ini akhirnya ia meminta tolong pada Jisun.

“Apa kau tak lihat eonni,aku dan make up itu sudah seperti soulmate.Selalu menyatu, selalu bersama. Aku tak perlu kursus untuk bisa mempraktekkannya dengan baik pada orang lain.” Jisun terkekeh diiringin kekehann Hyunchan setelahnya.

“Wanita manapun, pasti akan terlihat cantik jika disatupadukan dengan make up. Make itu punya keajaiban. Yang wajahnya gemuk dapat terlihat tirus, yang tirus dapat terlihat berisi, yang hitam dpat terlihat putih. Itulah keajaiban make up.” Terangnya.

Hyunchan hanya mengangguk menanggapi ucapan Jisun. Make memang punya keajaiban mengubah tampilan wajah seseorang.

“thanks Jisun-ah. Aku tak tahu akan bagaimana tanpa bantuan perlengkapan dan keahlian make up mu.”

“sama-sama Unnie. Kau meminta pada orang yang tepat!“ Jisun mengedipkan sebelah matanya sambil membentuk tanda centang dibawah dagunya.

 “Oh! Selca! “ Jisun segera merogoh sakunya mencari ponsel.

“untuk apa ? Tidak usah.” Ujar Hyunchan sedikit malu malu sambil menggoyangkan kedua tangannya menolak.

“Ayolah unnie,kita harus mengabadikannya.Palli! “ Jisun sudah siap dengan gaya ala fotografernya.

“Hana..dul.. set.. kimchiii!!”

Terpampanglah foto Hyunchan yang tengah duduk mengadap ke arah kamera sembari memerkan senyum malu malunya. Sesi pemotretan ala Jisun itu berlangsung cukup lama hingga menghasilkan beberapa buah file foto.

“Sudah Jisun-ah, apa kau tidak lelah?”

“Sekali lagi! Sekali lagi ! dengan ku !” Jisun masih saja berseangat smentara Hyunchan mulai terlihat bosan. Ia bukanlah type fotogenik yang selalu menyukai wajahnya diabadikan. Tapi  terlepas dari itu ia senang bisa seperti ini. Dulu ia selalu iri melihat teman kelasya yang slalu merasa bahagian berfoto bersama sahabat-sahabat mereka. Mulai dari ekspresi sedih,kocak,bahagia, dan yang aneh aneh semua mereka abadikan bersama. Ia senang, karena akhirnya ia bisa merasakan bagaimana rasanya berfoto bersama seorang teman. Yah, Jisun adalah  adik sekaligus temannya. Hal yang tak pernah ia dapatkan di dunia sebelum ini.

“Aku tak sabar melihat wajah melongo Baekhyun ketika melihat foto ini hahaha. Kau benar-benar cantik eonni.”

Tawa Jisun dan suaranya yang terlihat begitu antusias tak henti-hentinya mengisi  apartemen Hyunchan.

‘Coba tebak aku berfoto dengan siapa? Sepertinya Kyungsoo oppa sudah mendahuluimu selangkah :P’

Jisun memencet tombol send di ponselnya dan segera mengirimkan mms itu ke Baekhyun. Setelah itu ia kembali tertawa licik. Hyunchan hanya tersenyum kecil melihat tingkah Jisun. Hari ini gadis itu mengorbankan sehari momen kencannya dengan Park Chanyeol. Padahal waktu Chanyeol di seoul hanya seminggu sebelum ia benar-benar berangkat ke Jepang.

Nada sms yang mengalun dari ponsel menyadarkan lamunannya. Diusapnya layar ponsel itu dan melihat isi dari pesan tersebut. Ternyata dari Kyungsoo. Namja itu memberitahukan bahwa ia sudah berada dibawah dan siap untuk mengantar Hyunchan ke tempat tujuannya.

“Sepertinya Kyungsoo sudah ada dibawah,Jisun-ah?”

“Oh Jinja? Baiklah kalau begitu ayo cepat turun !” Jisun merapikan perlengkapan make upnya. Diraihnya kunci mobilnya yang ia letakkan di meja belajar Hyunchan.

Mereka segera berjalan menuju pintu basement apartemen Hyunchan. Jisun terlihat begitu antusias. Padahal bukan dia yang ingin pergi berkencan.

“baiklah eonni,kita berpisah disni. Aku akan lewat pintu basement sebelah utara. Sukses yah kencannya!” Jisun tertwa pelan lalu kemudian berjalan meninggalkan Hyunchan sendirian.

Kencan?

Sedari tadi kata itu terus saja dikeluarkan Jisun dari mulutnya. Bahkan ketika ia mengatakan alasannnya mengapa ia butuh bantuan Jisun untuk bermakeup, Jisun langsung menjerit kegirangan. Jisun yakin bahwa Kyungsoo mengajaknya kencan meskipun bagi Hyunchan sendiri ini bukanlah seperti itu. Ini hanya pertemuannya dengan Kyungsoo yang kebetulannya disertai formalitas. Meski Hyunchan sedikit heran dengan keformalan ini.

Apakah Kyungsoo betul-betul mengajaknya kencan?

Sibuk dengan pikirannya, tanpa Hyunchan sadari langkahnya telah sampai pada pintu basemen. Kyungsoo telah berdiri dihadapannya dengan tuxedo putih yang membalut tubuhnya.Tampan. Satu kata itulah yang menyimpulkan gambaran sosok dihadapannya.

Sungguh aneh rasanya melihat penampilan mereka berdua. Ini lebih menyerupai kostum candlelight dinner. Lagi-lagi pernyataan Jisun berkelebat di otaknya. Benarkah ini kencan?

“Syukurlah, dress dan high heelsnya pas dengan ukuranmu.”

Ucapan Kyungsoo membuyarkan lamunan Hyunchan dan memaksanya untuk berkonsentrasi pada keadannya saat ini.

“Aku hampir tak mengenalimu, kalau saja aku tak menyadari gaun yang kau kenakan adalah pemberian dariku.”

Pernyataan ‘kau begitu cantik’ yang tersirat itu hampir-hampir membuat rona merah di pipi Hyunchan terlihat jika saja perona pipi tak menutupinya. Ia tak pernah mendapat pujian dari lawan jenisnya seperti cara Kyungsoo memujinya. Jadi tak heran jika daerah sekitar pipinya bereaksi seperti itu.

Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam dalam balutan musik instrumen yang mengalun memenuhi mobil Kyungsoo. Tak satupun berani memecah keheningan itu. Seolah keheningan memang merupakan bagian dari kebersamaan mereka. Hyunchan bahkan enggan menanyakan alasan dari keformalitasan ini.

“Bukankah ini gedung sekolah kita? Untuk apa malam-malam begini kita kesini?”

Itu kalimat pertama dan terpanjang yang Hyunchan keluarkan selama kebersamaannya dengan Kyungsoo. Sebuah pertanyaan klasik ketika kau berada disuatu tempat yang sama sekali tak terlintas di pikiranmu untuk kau kunjungi.

Tak ada balasan dari Kyungsoo selain sebuah senyuman hangat dan lembut. Tangannya segera menggapai jemari Hyunchan yang tergantung. Menarik pemilik lengan itu untuk mengikuti langkahnya. Dadanya bergemuruh hebat bak deruman motor yang siap melaju di track balapan. Ia berharap jangan sampai Hyunchan mendengarnya. Karena harga dirinya sebagai seorang lelaki akan jatuh ketika ia ketahuan dag dig dug,yang biasanya hanya akan terjadi pada seorang gadis.

Melewati  koridor-koridor sekolah yang panjang dan hanya diterangi oleh beberapa lampu yang sengaja dinyalakan pihak sekolah menjelang malam hari, rasanya bak sedang beradegan di salah satu film horror. Namun anehnya,ia sama sekali tak merindingseperti para pemain film itu rasakan. Tak ada rasa takut, yang ada hanyalah perasaan berbunga karena sekarang ia tengah menggenggam jemari gadis yang entah sejak kapan mulai mencuri perhatiannya. Tinggal beberapa langkah lagi dan ia akan mengetahui hasil sesungguhnya.

“Sekarang pejamkan matamu dulu. Jangan membukanya hingga aku menyuruhmu untuk membukanya lagi.”

Tanpa banyak tanya Hyunchan mengikuti instruksi Kyungsoo. Perlahan matanya terpejam, membawanya kedalam kegelapan. Telinganya dapat menangkap decitan daun pintu yang terbuka diiringi langkah Kyungsoo yang perlahan menjauhinya. Ia mulai khawatir, apakah Kyungsoo berniat menjahilinya? Tapi sepertinya tak mungkin jika Kyungsoo menjahilinya sementara ia berkostum seperti ini.

“Sekarang buka mata mu!” Suara teriakan yang samar-samar itu menggema.Terdengar begitu jauh.

Cahaya berwarna kuning menyambutnya ketika kedua kelopak matanya kembali memperlihatkan bola mata hitam yang tersembunyi itu.Perlahan semakin jelas. Takjub. Itulah kata pertama yang mampu menggambarkan perasaannya.

Ia bahkan sempat tak menyadari bahwa ini adalah atap gedung sekolahnya, tempat ia pertamakali bertemu dengan Kyungsoo. Tempat dimana seorang laki-laki yang begitu antusiasnya menceritakan bahwa melihat sunset dari atap ini begitu indah. Tempat ia mengukir kenangan pertamanya dengan seorang siswa yang bernama Do Kyungsoo.

Lilin-lilin kecil berbaris membentuk jalan setapak, bermuara pada sebuah meja besar di ujung sana. Sebuah meja yang berhiaskan mawar merah, sebotol wine, dan dua gelas kaca yang masih kosong. Tak jauh dari meja terdapat sebuah piano,warnanya senada dengan pakaian Kyungsoo. Sang maestro musik telah duduk di sana,siap menampilkan aksi terbaiknya teruntuk seseorang yang istimewa.

Dentingan tuts-tuts piano yang mengalun indah itu mengiri langkah Hyunchan ke sebuah tempat dimana jejeran lilin kecil itu berakhir.  Matanya sekali lagi menyapu pandang. Lampu hias bertebaran di area sekitar atap. Tak akan ada yang menyangka bahwa ini adalah sebuah atap sekolah.

Begitu intro telah selesai Kyungsoo mainkan,suara merdunya mulai mengiringi keliahaian jemarinya. Hyunchan tak tahu siapa pemilik lagu itu. Ia bukanlah seseorang yang punya pengetahuan banyak soal music ataupun lagu-lagu apa saja yang pernah menjadi trend dunia. Yang ia tahu hanyalah beberapa lagu yang lagi popular saat ini dan beberapa lagi yang pernah ia dengar sewaktu kecil.

Ia duduk di kursi yang berbalut kain putih. Dari sini, suara Kyungsoo makin jelas kemerduannya. Suara yang pantas disejajarkan dengan petikan harpa. Merdu.

Mata mereka beradu. Saling bertaut, menyampaikan ucapan tersirat. Sesekali Kyungsoo tersenyum tipis padanya. Sungguh lelaki yang romantis. Ia mendengarkan lagu itu hingga akhir. Sebuah lagu berbahasa inggris yang intinya pengakuan seorang pria bahwa ia mencintai seorang gadis meski ia baru saja mengenalnya. Ini bukan cinta pada pandangan pertama, namun sebuah cinta yang hadir dengan sebuah proses. Si pria sempat dilanda kebingungan atas perasaannya, sebelum akhirnya ia mengakui bahwa gadis yang belum lama dikenalnya ternyata telah memikat hatinya tanpa ia sadari.

Lirik lagu itu diakhiri dengan kalimat I love you kemudian beberapa permaianan tuts piano menutup sempurna lagu tersebut. Keduanya masih terdiam ditempat. Tak sedikitpun tatapan mereka saling mengabaikan. Hyunchan tak tahu apa yang tengah terjadi,sebelumnya ia bahkan tak bisa menatap orang kurang dari 1 menit tanpa mengalihkan pandangan. Sementara bersama Kyungsoo, ia tak tahu sudah berapa kali jarum panjang jam melewati angka 12. Hening kian menyelimuti mereka. Tak ada lagi suara lain setelah permainan yang mendecakkan lidah itu usai.

Jadi, Do Kyungsoo menyukainya?

Hyunchan tak bodoh. Meski ia tak berpengalaman soal cinta, meski ia tak pernah tahu bagaimana rasanya ditaksir oleh seorang lawan jenis, tapi entah mengapa hatinya malam itu seolah menunjukkan skillnya. Seolah paham bahwa ada hati lain di ujung sana sedang berusaha menarik perhatian pemiliknya. Kyungsoo jatuh cinta padanya. Dan nyanyian yang lelaki itu dendangkan tadi adalah suara hatinya. Ia bisamembacanya dengan jelas melalui bola mata lelaki itu. Lantas bagaimana dengan suara hati Hyunchan sendiri?

Jujur, ia terkesan bahkan sangat bahagia bahwa akhirnya ada seseorang yang menyayanginya. Jika disuruh memilih, ia sangat ingin memiliki perasaan serupa dengan Kyungsoo. Merasa bahagia karena perasaan mereka tak bertepuk sebelah tangan. Namun terkadang cinta itu rumit. Tak seorang pun mampu mengontrol kemana perasaan itu pada akhirnya terhenti. Tak perlu dijawab secara gamblang, karena yang menyaksikan kisah inipun tahu bahwa perasaan gadis itu hanya untuk satu nama.Dan sayangnya marga dari nama tersebut bukanlah Do melainkan Byun.Ya, Byun Baekhyun.

Padahal jika ditelisik seharusnya ia bisa jatuh hati pada Do Kyungsoo. Baik, ramah, tampan, itu sudah mencukupi kriteria ideal untuk membuat seorang gadis terjerat padanya. Belum lagi pertemuan pertama mereka yang sangat berkesan bagi Hyunchan. Bahkan kalau boleh jujur, pertemuan pertamanya dengan Kyungsoo jauh lebih berkesan dibanding pertemuan pertamanya dengan Baekhyun. Hyunchan tak mengerti dimana kekurangannya. Atau mungkin cupid yang salah memanahkan panahnya? Entahlah. Pada intinya, hatinya hanya akan bergetar ketika mendengar satu nama saja, Byun Baekhyun.

Hyunchan menarik nafas dalam lalu menghembuskannya lagi. Meski Kyungsoo tak secara langsung meminta jawabannya, tapi ia paham lelaki itu butuh jawaban. Lagipula ia tak punya banyak waktu untuk menunda lagi. Tepuk tangannya memecah keheningan panjang tersebut. Membuat Kyungsoo juga ikut tersadar dari pikirannya.

“Sudah ku duga sejak pertamakali kudengar permainan pianomu di kafe itu, kau punya bakat dibidang ini. “Ia memberikan senyuman takjubnya. Dan itu sekilas membuat Kyungsoo kaku di tempat.

 Hyunchan bangkit dari duduknya. Hentakan heelsnya perlahan menuju kearah pagar pembatas gedung. Tempat ia biasanya menikmati hembusan angin sore.

“tadi itu permainan yang sungguh hebat. Permainan piano terbaik yang pernah kusaksikan selama 18 tahun hidupku.” Hyunchan tak membual. Menurut logikanya,pernyataan yang ia ucapkan memang benar adanya. Meski menurut hatinya, ada sosok lain yang tak sependapat dengan logikanya.

Dari atap gedung ini ia mampu melihat jejeran lampu yang menghiasi pertokoan ataupun gedung-gedung apartemen yang kebanyakan dihuni oleh siswa yang bersekolah di sekolahnya.Hyunchan memejamkan mata,mencoba mengingat apa yang otaknya rekam beberapa saat yang lalu.

“Kalau suatu saat kau menjadi pianist ternama, aku siap menjadi penggemar pertamamu.” Hyunchan tertawa kecil, membuat bibirnya sedikit terkuak memamerkan deretan gigi-gigi depannya. Kepalanya menoleh menatap Kyungsoo yang entah sejak kapan sudah berada di sampingnya meninggalkan posisi terdahulunya.

“Tadinya kukira kau hanya akan mentraktirku makan,berjalan-jalan,tapi ternyata jauh dari apa yang bisakubayangkan. Terima kasih. Aku sangat menyukainya.”

Gila ! ini sungguh gila! Hyunchan bahkan tak tahu bagaimana kata-kata itu terlafalkan dengan baik dan begitu sempurna. Ia kembali membuang wajahnya yang mulai bersemu.

“malam ini kau banyak bersuara yah?”

“Eng?”

“Tapi aku menyukainya.”

Kyungsoo tertawa seperti remah remah biscuit. Renyah. Bak gemericik air,menenangkan.Hyunchan bisa merasakan hawa panas itu mulai menjalar ketelinganya. Sepertinya ia harus bersyukur ada pencahayaan yang remang remang ini.

“Aku memang sangat menyukai saat kau tak irit kata, tapi bukan brarti aku tak menyukai kediamanmu. Selama aku masih bisa berada disisimu,tak masalah bagiku jika kita hanya dibaluti oleh keheningan. Karena akupun menyukai keheningan.”

Hyunchan kembali menoleh keada sosok disampingnya. Bibir tebal Kyungsoo merekahkan senyuman untuknya. Hyunchan malah tersenyum getir. Jika karma telah siap menunggunya karena sebentar lagi ia akan menyakiti seorang lelaki baik dihadapannya, ia ikhlas. Do Kyungsoo, ia lelaki terbaik yang pernah Hyunchan kenal. Sosoknya terlalu sempurnah tanpa celah. Mungkin sebelum bereinkarnasi ia adalah seseorang yang berjasa pada negera ini. Baik, ramah,tampan, mapan, mandiri,dewasa, dan rendah hati, astaga! Bagaimana mungkin ia tega melukai hati lelaki sebaik ini? Tapi dengan pura-pura mencintainyapun tak akan lebih baik. Hyunchan yakin lelaki itu pasti bisa melalui  ini. Karena setiap manusia punya caranya sendiri untuk menyembuhkan luka hatinya. Cepat ataupun lambat, Hyunchan yakin Kyungsoo akan menemukan caranya sendiri.

“Seseorang pernah berkata, ketika kau merasakan kenyamanan dengan seseorang tak peduli mau itu di tempat seperti apa atapun situasi yang seperti apa, selama kau bersama seseorang itu kau seolah tak mengenali dirimu karena biasanya dirimu tak bereaksi seperti ini jika bukan pada orang yang sama…. Jika kau merasakan hal seperti itu, berarti hatimu sedang terikat dengannya.Jatuh cinta.”

“Apa kau…”

Hyunchan tak melanjutkan ucapannya, takut ia hanya seorang yag sok tahu, meski 90 % hatinya meyakini itu. Mata Hyunchan menatap lekat wajah Kyungsoo. Mengamati setia perubahan yang nampak. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Matanya seolah mempertegas dugaan Hyunchan.

“Terlalu terbaca ya?” lagi- lagi kekehan renyah khas Kyungsoo memenuhi lorong-lorong telinganya,memecah kesunyian malam itu.

Kyungsoo memutar badan Hyunchan sehingga sekarang tubuh mereka telah berhadap-hadapan. Tangannya meraih lengan Hyunchan yang tadinya bertengger manis di tiang pembatas atap gedung. Perlahan jemarinya menyusuri lengannya, menuju kearah lima jemari yang menggelantung di sisi kanan dan lima jemari yang menggelantung di sisi kiri. Ia mengangkat jemari jemari itu lalu menggenggamnya.Erat namun lembut. Kakinya mendekat selangkah,mengecilkan jarak tubuh mereka.

“Ya, aku memiliki kisah yang serupa…..” Matanya menatap lurus,jatuh tepat di bola mata hitam dihadapannya.

“Hatiku telah terikat padamu,Shin Hyunchan.” Menyerupai bisikan,namun sukses membuat Hyunchan merinding.

Meski Hyunchan sudah menduga hal ini,tapi tetap saja mendnegar secara langsung masih memberikan kesan syok padanya. Lagi-lagi senyuman malaikat Kyungsoo diperlihatkan malam ini. Dan Hyunchan kembali dilanda gundah. Sebentar lagi ia akan meredupkan senyuman itu. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya.

“Ini pasti terlalu mendadak sehingga membuat mu gugup—“

“Maaf.”

Satu kata itu seolah mantra sihir yang membisukan semua yang ada disekitar Hyunchan. Kepala gadis itu tertunduk, tak mampu melihat bagaimana  senyuman Kyungsoo meredup secara perlahan hinga hanya menghasilkan sebuah garis datar.

Hening. Sangat hening hingga yang tertangkap oleh pendengaran adalah suara kendaraan yang berlalu lalang di dekat jalanan sekolah mereka. Angin berhembus sepoi-sepoi mencoba sedikit mengisi kesunyian itu namun tetap saja tak berpengaruh banyak.Hingga kemudian tawa Kyungsoo ikut membaur dalam keheningan. Namun kali ini itu tak terdengar seperti remah-remah biskuit atauapun gemericik air lagi. Tawa yang hambar. Suram. Dan Hyunchan benci itu. Genggaman Kyungsoo tak lagi tertaut di jemari-jemarinya. Terlepas,tanpa Hyunchan sadari.

“Seharusnya aku sudah bisa menduga—“

“Kyungsoo-ya.” Bola mata yangsedaritadi menatap lantai semen yang seolah hal paling menarik didunia ini,kembali bertautan dengan bola mata Kyungsoo. Itu gerakan reflek Hyunchan. Ia sendiri baru sadar setelah beberapa detik menatap mata yang tak lagi berbinar seperti beberapa saat yang lalu.

Ditatapnya bola mata hitam yang besar itu secara mendalam.Seolah ia ingin memastikan Kyungsoo tak akan mengabaikan pandangannya saat ia mulai menjelaskan alasannya sebentar lagi. Tanganya kembali meraih jemari jemari Kyungsoo.Jemari yang begitu hebat menari diatas tuts-tuts piano. Kali ini giliran dirinya yang menggenggam erat. Lama ia menatap Kyungsoo, menunggu hingga perih yang terlukis disana mulai berkurang.Namun sayangnya tak kunjung juga.

Untuk pertamakalinya, ia memberanikan dirinya memeluk seorang lelaki. Lelaki yang sudah ia anggap sebagai sahabat terbaiknya. Pelukan persahabatan. Tangannya melingkar pas di pinggang Kyungsoo. Ia bisa merasakan sentakan kecil dari badan Kyungsoo yang mungkin terkejut dengan aksinya. Tapi hanya dengan cara seperti inilah ia mampu berbicara tenang dengan Kyungsoo. Ia tak sanggup menatap mata lelaki itu sembari menjelaskan alasannya.

 “Aku menyayangimu. Tapi bukan dalam artian sayang yang kau inginkan. Kau adalah teman terbaik, lelaki terbaik yang pernah ku kenal. Jika saja aku bisa  memilih kepada siapa aku mencintai, aku akan memilihmu. Tapi cinta bukanlah sesuatu yang bisa kau atur. Terkadang kita menyukai mereka yang justru tak masuk dilogika mengapa kita bisa menyukainya. Terkadang juga kita menyukai sosok yang menurut kita tak baik untuk diri kita.” Hyunchan mengeratkan pelukannya. Tangan Kyungsoo yang sedari tadi hanya menggelantung bebas,perlahan mulai membalasnya.

“Cinta itu tak bisa memilih dan ketika kau memaksakannya maka tak ada bedanya dengan memasukkan kunci pada lubang yang salah.Hal terparah,bisa jadi kau malah merusaknya. Kau paham itu,kan?”

Hyunchan dapat merasakan kepala Kyungsoo mengangguk pelan.”Ya,aku paham. Hanya saja sakitnya membuatku tak tahan.” Remasan kuat tangan Kyungsoo pada kain bajunya membuat Hyunchan ikut merasakan bagaimana perasaan lelaki itu saat ini.

“seseorang pernah berkata bahwa masing-masing manusia punya caranya sendiri untuk mengatasi rasa sakit dan bagaimana menyembuhkannya. Ku harap kau dapat menemukannya sesegera mungkin.”

“Apa tak ada celah lagi di dalam sana?”

Hyunchan terdiam.Sebesar itukah Kyungsoo menyayanginya? Tanpa ia sadari pipinya basah. Ia tak tega menyakiti orang ini. Sekali lagi ia berharap  dapat mengontrol kemana perasaannya akan menuju,tapi sayangnya itu hanya sia-sia belaka.

“Kau selalu punya tempat khusus di dalam sini.”

“Apa itu lebih besar dari tempat Baekhyun?”

Pertanyaan terakhir Kyungsoo membuatnya sedikit tercekat,namun buru-buru ia menetralkan keterkejutannya. Sepertinya Kyungsoo bisa membaca dengan jelas bagaimana hubungan ia dan Baekhyun belakangan ini. Yang pasti,hubungan itu sudah jauh berkembang dibanding ketika Hyunchan pertama kali hadir di tengah kehidupan mereka.Hyunchan memilih diam. Itu pertanyaan retoris.

Tubuh Kyungsoo bergetar pelan seiring dengan kekehan yang keluar dari mulutnya. Mencibir,miris,marah, atau apa arti dari tawa Kyungsoo, Hyunchan tak bisa menebaknya.

“Bisakah tempat itu ditukar dengan ku?”

“Do Kyungsoo! ” Tegur Hyunchan merasa tak suka dengan pertanyaan Kyungsoo.

“Ya,ya, aku tahu. Aku tidak akan bisa menggantikan Baekhyun. Meski aku yang memulai startpun dari awal tetap saja mendekati garis finish dia akan menandingiku lalu akhirnya menang. Menyedihkan! Aku—“

“Sekalipun kau menang di garis finish, tetap saja pialanya tak akan kuberikan. Meski aku berharap Baekhyun menjadi pemenangnya dan ia sungguh menang melewati garis finish,pialanya juga tak akan kuberikan.Tidak padamu ataupun Baekhyun.”

“Maksdumu?” Kyungsoo ingin melepaskan pelukannya,ingin melihat raut wajah Hyunchan. Apakah gadis itusedang berkelakar atau apa? Tapi tangan Hyunchan tak membiarkannya terlepas. Obrolan  belum berakhir.

“Alasannya?” Tanya Kyungsoo gusar.

“Karena akan ada orang  suatu saat nanti yang ditakdirkan untuk memberikan piala itu pada kalian,dan orang itu bukanlah aku.” Bisik Hyunchan.

Hyunchan memejamkan matanya,membuat cairan bening kembali menciptakan aliran sungai kecil diwajahnya. Ya, dia bukanlah orang yang akan menjadi bagian hidup Baekhyun ataupun Kyungsoo.Besok adalah malam terakhirnya dan setelah itu maka semua yang terjadi pada masa ini tak akan pernah terlintas lagi di memori mereka.

Untung tak ada kata lagi yang keluar dari mulut Kyungsoo. Kalau tidak,Hyunchan tak tahu perumpamaan seperti apa lagi yang harus ia keluarkan untuk menggambarkan bahwa ia tidak boleh mencintai apalagi menjalin hubungan dengan siapapun di tempat ini. Tak mungkin ia berbicara jujur soal kisah 49 harinya dengan syarat konyolnya.

Perlahan ia melepas pelukannya dari Kyungsoo. Rasanya seperti ada yang hilang. Ia menatap lekat bola mata Kyungsoo begitupula sebaliknya. Seolah kedua mata itu lebih dalam memahami satu sama lain.

Ada rasa rindu dan tak ingin kehilangan melanda Hyunchan. Padahal ia masih punya waktu sampai tengah malam besok untuk melihat Kyungsoo,namun rasanya malam  ini sudah menjadi malam perpisahannya dengan lelaki ramah itu. Ia meneliti setiap bagian wajah Kyungsoo. Alisnya yang hitam lebat,matanya yang bulat dan besar,bulu matanya yang panjang,hidung mancungnya,bibir Love-shapenya yang selalu kemerah merahan, ia berusaha mengingatnya berharap ketika semua memorinya terhapus kelak, paling tidak ia masih bisa mengingat bagian-bagian indah ini.

“Terima kasih sudah menjadi temanku sejak aku datang ke sini,Do Kyungsoo.Terima kasih banyak.”

Tanpa ia sadari,tiba-tiba saja bibirnya telah menempel tepat dahi Kyungsoo. Lagi-lagi tubunya bergerak tanpa meminta persetujuan otaknya dahulu.Sial ! Ini bukan Shin Hyunchan. Rutuk gadis itu. Tapi sudah terlanjur, kenapa tak dinikmati saja?

Sebuah kecupan singkat menandakan rasa sayang Hyunchan terhadap Kyungsoo. Kecupan persahabatan. Mata Kyungsoo sejenak membulat,sebelum akhirnya kembali menutup dan menikmati sentuhan itu. Ia sangat  mencintai Hyunchan,tapi cinta tak bisa dipaksa.Karena ketika memaksakannya,itu berarti egois. Jika memang posisinya hanya sebagai sahabat,ya sudah. Mau diapa lagi? Hidup masih panjang dan siapapun tak akan pernah tahu kotak misteri masa depan. Bisa jadi yang dikatakan Hyunchan benar,bahwa orang yang akan memberikannya piala kemenangan mungkin bukan gadis bernama Shin Hyunchan,tetapi gadis lain.

“Kurasa sakit hatiku mulai berkurang. Mungkin sakitnya langsung sembuh total kalau kau memberikanku juga disini.” Kyungsoo menunjuk bibirnya sambir mengerling nakal diakhiri tawanya yang kembali seperti semula.

“Sejak kaan kau berubah seperti Baekhyun?” Hyunchan menimpali tawa Kyungsoo. Tawa yang renyah.

Tawa itu menghiasi atap salah satu sekolah elit di Seoul. Membuat angin ikut berdendang dengan gerakan sepoi-sepoinya. Bulan perlahan mencuat dari balik awan,seolah tak ingin ketinggalan menyaksikan kebahagaiaan dua anak manusia itu.

Hingga dalam sekejap tawa itu menghilang. Keheningan kembali mendominasi. Tapi angin dan bulan masih enggan untuk menyingkir. Keduanya masih di tempat, meski malu-malu melihat adegan yang terjadi. Beberapa detik yang lalu Kyungsoo memajukan langkahnya,dengan cepat mendekatkan wajahnya lalu memagut bibir Hyunchan. Pelan,lembut dan penuh perasaan. Ini adalah ciuman pertamanya. Memalukan memang,sebagai seoarang lelaki ia baru mendapatkan first kissnya pada usia yang kebanyakan anak lelaki sebayanya bahkan sudah meniduri beberapa wanita. Ia memang polos,selalu berada di jalur yang benar, tak terlalu suka dengan hal-hal yang menurtnya tak meberikan manfaat positif baginya.Jadi ,wajar saja sepertinya.

Hyunchan diam,tak menolak tak juga menerima. Tubuhnya hanya diam,kaku. Tak ada sensasi aneh ataupun getaran yang biasanya ia dapatkan ketika bersama Baekhyun. Matanya terpejam dan berusaha mencari apakah ada sedikit rasa yang lebih untuk Kyungsoo? Sayang, jawabannya adalah tidak. Yang ia rasakan hanyalah Kyungsoo menumpahkan seluruh sakit hatinya melalui media ini. Akhirnya,ia menemukan cara itu. Hyunchan berharap,cukup dia gadis terakhir  yang menyakiti Kyungsoo.

Kyungsoo menjelajahi mulut gadis itu,entah apa nama gaya berciuman yang sedang ia lakukan ini. Semuanya murni insting atau mungkin ada beberapa pengaruh dari drama atau film romance  yang telah ia tonton? Apapun  itu, ia menyukai hal ini. Rasanya seperti ketika ia menikmati musik klasik kesukaannya dari piringan hitam atau menerapkannya dalam permainan pianonya.

 “sama-sama.” Ucapnya membalas ungkapan terima kasih Hyunchan beberapa menit sebelumnya.

Perlahan ia melihat kelopak mata Hyunchan terbuka. Bola mata mereka kembali dipertemukan,namun  jarak keduanya kali ini sangatlah dekat.

“Dan aku juga ingin berterima kasih.” Suaranya berat hampir berbisik.

“Terima kasih telah mengajarkanku rasanya jatuh cinta dan…. Patah hati.” Kyungsoo tersenyum lebar, menandakan keikhlasannya.

Jika ada orang yang mengatakan hanya orang bodoh yang memiliki persepsi ‘Cinta tak harus memiliki’, Kyungsoo merasa tak bodoh dengan memiliki persepsi itu. Baginya Cinta tak harus memiliki, jika pada akhirnya hanya memaksakan kehendak. Cinta itu harus memilki tetapi tidak dengan paksaan. Karena ketika ada paksaan,itu namanya egois. Dan keegoisan bukanlah bagian dari cinta. Egois adalah nafsu yang membuat kita mengutamakan kepentingan diri sendiri,meski terkadang ada yang berkedok atas nama cinta.

Daripada memiliki Hyunchan lantas gadis itu tak bahagia,lebih baik ia tak memilikinya asal ia masih melihat gadis itu tersenyum. Menurutnya itulah cinta. Ketika ego mampu tertundukkan dan ikhlas melepaskan demi kebaikan bersama.

***

TBC

HAIIIII !!! AKHIRNYA BISA PUBLISH JUGA KELANJUTAN SECOND LIFE SETELAH CURI CURI WAKTU DARI KEGIATAN DI KAMPUS YANG REMPONGNYA MINTA AMPYUUN. HARUSNYA INI JADI PART TERAKHIR TAPI KARENA TERLALU PANJANG DAN ADEGAN BAEKHYUN HYUNCHAN MASIH SETENGAH JALAN SEMENTARA READERS UDAH LUMUTAN NUNGGU SAMPE NGEDEMO DI TWITTER SAYA, AKHIRNYA SAYA PILIH CARA INI. JADI NEXT PART MUNGKIN BENER BENER UDAH ENDING. TAPI SAYA GA BISA JANJI KAPAN BISA PUBLISHNYA. SOALNYA AUTHORNYA SKARANG UDAH SMESTER 6 DAN BENTAR LAGI MASUK SEMESTER AKHIR. HARUS NYUSUN. *CURCOL*

TAPI TENANG AJA, MESKIPUN AGAK LAMA TAPI SAYA JANJI BAKAL NYELESAIIN INI CERITA. GA BAKAL ADA NAMANYA CERITA YANG MENGGANTUNG. NTAR AUTHOR JUGA DIGANTUNG SAMA READERS HOHOHO

BUAT READERS YANG MASIH TETEP SETIA DAN UDAH JAMURAN, MAAF BANGET DAN MAKASIH BANYAKKK *LEMPARIN BIAS SATU SATU*

BUAT SILENT READERS YANG MASIH SETIA DALAM KESILENTNYA NGEBACA FF INI MAKASIH BANYAK JUGA 🙂

DAN BUAT KOMEN READERS YANG BELOM SEMPAT SAYA BALES SATU SATU DARI PART SEBELUMNYA, MOHON MAAF YAHH.. SAYA BAKAL USAHAIN NGEBALES SATU SATU KALO ADA KESEMPATAN HEHEHE

MAAF KALAU TYPONYA BANYAK HEHEHE

OKE, SELAMAT MEMBACA! JANGAN LUPA TINGALIN JEJAKNYA HAHAHA DAAHHH

 

85 responses to “THE SECOND LIFE [PART 15]

  1. Semakin mendekati end semakin aku ga tau harus curcol atau ngga karena banyak banget kata-kata yang pengen aku ketik tapi ketahan gtu aja. Dan sepertinya aku akan tobat atau pensiun dari reader yang buat komentar panjang :” yaa intinya
    -aku terharu dan ikut seneng karena jink sama yeonhi bisa balikan, cblk di umur tak lagi muda. Atssssahh
    -chanyeol dan jisun udah baikan dan tuh kan pasti jisun yang nyesel duluan, yaaa udah ketauan lah klo sikap remaja yg msih labil gimana. Dan congrats ya dan pertahanin hubungan walau nanti ldran.
    -ciee ciee hyunchan didandanin sama jisun. Dan keknya baekhyun ngamuk abis deh pas liat pesan yg dikirim jisun.
    -kyungsoo patah hati dan congrats untuk hyunchan yang dicium dia cowo. Cemburu saya -___- dan kyungsoo sedikit mesum di sini -___-
    -baekhyun ga muncuk banyak di part ini.
    -penasaran apa baekhyun ngeliat mereja atau ngga, atau dia ngambuk di kamarnya aja?
    -penasaran sama fto yang diambil sama jisun. Pas perjalanan 49 hari selesai, apa fto itu bkal ilang atau ngga? Klo di mv luhan yang promise sih ilang ftonya 😁

    Tanpa ga sadar ternyata aku curcol banyak, pdahal di awal aku bilang ga bakal curcol. Hehehe
    Semoga komentar saya yang selalu panjang, bertele-tele dan ga jelas ini menjadi kenangan bagi kaka😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s