Continuous Winter – Chapter 9


Continuous Winter

Copyright © EnnyHutami’s fanfiction 2014

| Lenght : Series | Rating : PG-15 | Genre : Gloomy, Thriller, Romance |

| Cast : Oh Sehun, Park Hyeju, Byun Baekhyun, Jung Jiyoo and others |

| Disclaimer : Ispired by movie with title ‘Girl’ |

Note : Yang suka silakan baca dan berikan tanggapan di kolom komentar serta like-nya. Bagi yang tidak suka dilarang keras untuk membaca dan bashing.

Chapter 8

~œ Swinspirit œ~

“Aku bersedia mati di tanganmu asal kau bebaskan Jisoo dan jangan sakiti siapapun lagi.” Kata Hyeju sembari menatap lurus ke arah mata tajam Bang Yongguk, laki-laki yang selalu muncul di mimpi buruknya.

Ya, sesungguhnya ia tahu siapa yang membunuh ayahnya serta kakaknya. Hanya saja ia selalu berbohong jika ia tidak tahu. Yah, pada awalnya memang ia benar-benar tidak tahu, namun begitu tahu alasan mengapa Yongguk ingin menghabisi seluruh keluarganya, ia tidak ingin memberitahu semuanya. Sekalipun Sehun.

Diam sejenak sehingga hanya suara napas Hyeju yang kelewat cepat itulah yang terdengar. Lalu, “Kau yakin?” tanya Yongguk dengan suara beratnya yang pelan.

Sebelah alis Hyeju terangkat heran. “Bukankah kau menginginkanku mati?”

“Ya,” jawab Yongguk tanpa perasaan, seakan ia baru saja menjawab pertanyaan yang tidak menyangkut nyawa seseorang. Lalu ia menambahkan, “Awalnya.”

~œ~œ~œ~

Sekali lagi Jisoo mendorong tubuhnya ke arah pintu, berharap jika pintu tersebut rusak dan terbuka, tetapi sayangnya tidak seperti itu. Pintu tak kunjung terbuka, yang ada hanya lengan atasnya yang terasa sakit dan nyeri.

Aish!” Umpatnya kesal sembari membenarkan rambutnya yang mulai turun dan menutupi wajahnya. Jika kamar ini memiliki jendela, mungkin ia tidak akan sepanik ini dan memikirkan cara untuk kabur. Namun sayangnya ruangan ini jauh lebih buruk dari penjara yang masih memiliki celah agar udara atau sinar matahari bisa menyusup masuk.

Dan hal mengenai alasan dirinya disekap di sini yang tidak ia ketahui membuatnya semakin frustasi.

Kemudian derap langkah mendekat terdengar, dan saat itu pintu terbuka sehingga menampakkan sosok Jiyoo yang mengenakan pakaian serba hitam dengan rambut yang dikuncir ke belakang tanpa menyisakan sehelai rambut pun terlepas. Sebelah alis Jisoo terangkat ketika Jiyoo menggeser tubuhnya seperti tengah menyuruhnya keluar. Dan itu terbukti dengan gerakan kepalanya yang menyuruhnya keluar.

“Tidak ingin keluar?” tanya Jiyoo dengan kening berkerut, seperti Jisoo bukan merupakan tahanan.

Dengan ragu dan terheran-heran, Jisoo pun keluar dari ruangan sekap itu. Lalu, “Kenapa kau melakukan ini?” tanyanya ingin tahu.

Sebelum menjawab pertanyaan Jisoo, Jiyoo terdiam untuk beberapa detik. Lalu, “Ini bukan kemauanku.” Jawab Jiyoo setenang mungkin. Lalu, “Jika kau ingin tahu alasan kami menyekapmu, kau bisa tanyakan pada Sehun.”

Kening Jisoo berkerut bingung, namun ia tidak ingin bertanya lebih lanjut karena ia ingin keluar dari tempat ini secepatnya. Ia justru pergi dengan tergesa-gesa sebelum mereka berubah pikiran dan mengurungnya kembali.

Sementara itu, setelah Jisoo berlari keluar tanpa arahan arah keluar yang benar, Jiyoo pun masuk ke dalam kamar tanpa jendela ataupun ventilasi dan menaruh sesuatu di atas lemari. Sebuah benda yang mirip seperti kaleng.

~œ~œ~œ~

“Kau mengenal Luhan?” tanya Hyeju tiba-tiba ketika atmosfir di ruangan itu begitu sepi yang aneh dan tak nyaman, mengarahkan pertanyaannya kepada Bang Yongguk yang berdiri di di dekat jendela yang memperlihatkan suasana suram bangunan tersebut.

Jauh berbanding kebalik dengan keadaan di dalam.

Mendengar sebuah nama yang tidak asing, Yongguk menoleh pada Hyeju yang berdiri di sudut ruangan seraya memperhatika gerak-gerik Yongguk dengan mata tajamnya. “Xi Luhan? Anak haram dari artis China itu?”

Hal yang baru Hyeju ketahui adalah jika ternyata Luhan adalah anak dari seorang artis China. Dan hanya dengan menerima kenyataan itu, ia langsung tahu mengapa Luhan dikejar-kejar oleh mereka. Komplotan Bang Yongguk yang ternyata sebuah kelompok bayaran untuk melakukan suatu hal.

Salah satu contohnya adalah membunuh.

“Xi Lifang?” tebak Hyeju ragu. Lalu, “Kenapa kau mengejar Luhan?” tanya Hyeju penasaran.

Dengan wajah tanpa ekpresinya, Yongguk diam sejenak seraya menatap Hyeju tanpa mengedip. “Kenapa kau peduli?” sebuah pertanyaan yang terdengar dingin.

Diam sejenak. Lalu, “Karena aku mengenalnya,” jawabnya bohong. Faktanya, ia hanya mengetahui tentang Luhan dalam mimpi, itu pun karena Sehun—entah bagaimana bisa seperti itu. “Dan karena aku dan yang lainnya, Sehun, dan Jisoo peduli padanya.” Yongguk menatapnya masih tanpa ekpresi, mencoba menebak-nembak maksud perkataan Hyeju.

Lalu, “Apa kau tidak menyadari jika Jisoo, gadis yang kau sekap hanya untuk membuatku kemari, adalah kekasih Luhan. Dan Sehun—aku yakin kau tahu Sehun sebagai orang yang selalu bersamaku—adalah sahabat Luhan.”

Yongguk hanya tertawa dengan suara berat dan rendahnya. “Dunia sempit sekali, bukan?” ia menyimpulkan.

Hyeju menganggukkan kepalanya, menyutujui simpulan Yongguk namun tak melepaskan pandangannya dari Yongguk. “Dan kami semua saling peduli, seperti keluarga. Tidak seperti kau yang tidak pernah dipedulikan.”

Tanpa sadar, tangan Yongguk mengepal. Ternyata Yongguk tidak sepintar yang Hyeju bayangkan karena dengan mudahnya ia percaya. Dalam hati Hyeju tersenyum kecil karena Yongguk masuk ke dalam perangkapnya yang telah ia pikirkan saat Yongguk meninggalkan ruangan ini sebentar untuk memberitahu kawanannya agar membebaskan Jisoo.

Kenapa Hyeju tidak keluar saja dari sini? Jangan bodoh. Hyeju tahu jika keadaan akan semakin bertambah buruk baginya dan bagi Jisoo yang belum pergi jauh jika dirinya kabur. Dan lagi pula, Yongguk tidak bodoh untuk membiarkan pintu tidak terkunci begitu saja.

“Keluargamu… ayahmu, ibumu, dan kakak perempuanmu, meninggalkanmu sejak kau kecil, benar bukan? Tak ada yang menyayangimu sejak dulu, tidak ada yang peduli padamu. Bahkan, gadis yang kau sukai pun tidak.”

Membuat seseorang seperti Yongguk lepas kendali mungkin adalah hal tersulit, tetapi Hyeju yang tahu seluruh rahasia, seluruh masa lalu lelaki itu, sama sekali tidak menemukan kesulitan membuat lelaki itu marah. Apa yang harus ia lakukan sekarang adalah menguatkan diri jika tiba-tiba Yongguk menghampirinya. Seseorang yang kehilangan kendali atas emosi pastinya akan menyakiti fisik seseorang lainnya.

“Jung Jiyoo… kau menyukainya sejak lama, bukan?” ucap Hyeju tepat pada sasaran.

Yongguk tidak bergeming, dia hanya menatap Hyeju dengan mata tajamnya dengan pandangan yang tidak bisa dimengerti Hyeju. “Tentang keluargamu, apa kau tahu apa yang ayahmu lakukan?”

Hyeju diam, menunggu Yongguk melanjutkan. Dan ya, dia sangat tahu bahwa ayahnya lah yang memulai semua ini. Namun ini juga bukan kemauan ayahnya.

“Dan tentang Jiyoo, kau tidak tahu apa-apa. Kau hanya anak ingusan yang sok tahu tentang urusan orang dewasa.” Lanjut Yongguk.

“Dan kau ingin membunuh anak ingusan ini, benar? Anak ingusan yang terancam terbunuh karena dendam seorang anak ingusan lainnya.” Setelah mengatakan kalimat tersebut, bahkan Hyeju sendiri tidak mengerti mengapa dirinya bisa seberani itu.

Yah, mungkin benar kata orang-orang. Kita akan berubah lebih kuat dan berani jika terancam.

“Kau tidak tahu apa-apa,” Yongguk mendesis. Rahangnya mengeras dengan kepalan tangan yang menguat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Aku tahu.” Sela Hyeju tegas, terlihat seperti ia sama sekali tidak takut. “Aku melihat semuanya. Bagaimana ayahku membiarkanmu hidup sendirian padahal ia telah membunuh seluruh keluargamu. Dan bagaimana kau bertemu kawananmu di panti asuhan.”

Ya. Hyeju melihat tentang masa lalu Yongguk yang agaknya sangat menyedihkan. Melihat orang tuanya sendiri dibunuh di depan mata, tinggal di panti asuhan yang miskin akan kasih sayang, ia mengetahuinya. Dan sesungguhnya, ia pun merasa kasihan pada Yongguk. Namun ia tidak bisa melakukan itu karena ia ingin tetap hidup, karena ada beberapa hal yang ia ingin lakukan setelah semua ini berakhir.

“Kau…,” ketika Yongguk melangkahkan kakinya maju, sontak Hyeju bersiap-siap. Jika ia bisa melarikan diri sekarang, semuanya akan berhasil. Jisoo juga kemungkinan besar sudah pergi jauh dari tempat ini.

Sedikit lagi, batin Hyeju. Berharap Yongguk akan segera kehilangan kendali atas emosinya yang tenang. Lalu, “Guru Jung, dia juga telah melakukan hubungan dengan Baekhyun. Apa kau tahu?”

Dan bang! Mata Yongguk membesar mengetahui tentang rahasia Jiyoo yang telah disembunyikannya dari kawan-kawannya. “Apa?” Yongguk minta Hyeju mengulang ucapannya kembali, merasa tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. “Jiyoo melakukan apa?” tanyanya sekali lagi.

Hyeju tidak menjawab pertanyaan Yongguk dan tetap menatap Yongguk dengan wajah tanpa ekpresi seperti biasa sehingga Yongguk tidak dapat membaca wajah Hyeju untuk mengetahui dia tengah berbohong atau tidak.

“Kenyataannya kau tahu jika gadis yang kau cintai sama sekali tidak menaruh perhatian padamu. Dan… tak ada satu pun orang yang mencintaimu, Bang Yongguk.”

Ketika Yonggok merangsek maju dengan napas cepat yang menandakan dia kehilangan emosi, Hyeju pun mulai berlari dengan menabrak tubuh besar Yongguk sekuat tenaga sehingga lelaki itu terjungkal ke samping. Pada saat itu, Hyeju keluar dari ruangan dan mengunci ruangan tersebut dari luar yang memang kuncinya menggantung di luar.

Hyeju tahu jika Yongguk berteriak di dalam sana seraya menggedor-gedor pintu. Secepat mungkin Hyeju berlari menuju pintu di mana ia masuk ke dalam sebelum para koloni Yongguk muncul dan menangkapnya kembali, tetapi ia mendengar ada suara langkah kaki seseorang dari arah yang ditujunya. Jadi ia berbalik arah dan berlari ke sembarang tempat, bahkan ia naik ke satu lantai lagi karena ia tidak menemukan tangga ke bawah.

Sama seperti sebelumnya, lantai tersebut layaknya rumah mewah yang semuanya serba putih—bahkan lantainya pun juga putih—dengan koridor-koridor panjang yang berujung ke ruangan-ruangan lain.

Tahu karena cepat lambat mereka akan mengejarnya, Hyeju pun berlari melewati koridor panjang dengan membuka seluruh pintu yang ada dan menutupnya kembali jika yang dilihatnya adalah ruangan tanpa jendela lagi. Namun ketika ia membuka sebuah pintu yang berada di paling ujung, ia pun dapat melihat sebuah bangunan tak layak pakai yang sudah berlumut dengan dinding kusam dan menghitam.

Tempat yang ia cari akhirnya ketemu. Jadi ia langsung keluar dari ruangan tersebut dan belari di sepanjang bangunan gelap tanpa sedikit pun penerangan di sana.

Merasa lelah, ia pun bersembunyi di balik dinding kusam yang di rasanya tidak akan terlihat. Ia pun mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup sangat cepat serta napas yang mulai tak beraturan.

Appa,” gumamnya di sela-sela napasnya yang tak beraturan antara takut dan sedih.

Ia tahu jika ayahnya tak melakukan hal itu, hidupnya tidak akan seperti ini. Sebenarnya, semua berawal dari ayahnya yang membunuh keluarga Bang Yongguk dengan racun buatannya. Tentu saja itu bukan keinginannya, tetapi keinginan pemerintah yang berada dalam organisasi rahasia negara.

Ayah Yongguk dan ayahnya dulu adalah salah satu organisasi rahasia tersebut dengan ayahnya yang menjadi salah satu ilmuwan dan juga dokter. Namun seiring berjalannya waktu, organisasi tersebut mencium adanya penghianatan yang dilakukan oleh ayah Yongguk. Dan begitulah ayahnya diperintahkan untuk membunuh ayah Yongguk beserta keluarganya.

Namun karena ayah yang bukan seorang monster kejam yang menghilangkan nyawa orang lain, akhirnya ia membiarkan Yongguk hidup sendirian, tanpa keluarga yang menyayanginya. Saat itu Yongguk masih berusia sembilan tahun, dan Hyeju belum lahir ke dunia.

Setelah dirasa fungsi kerja tubuhnya sudah kembali dengan normal, ia pun mengintip untuk melihat apakah ada orang di sekitar sini, dan kembali melangkahkan kakinya keluar begitu tidak ada seorang pun di sekitarnya. Terima kasih berkat pengelihatan dan pendengarannya yang tajam.

~œ~œ~œ~

Sehun mengetuk pintu kamar Hyeju sekali lagi karena ia tak kunjung mendapat sahutan dari dalam. Walaupun Hyeju lebih banyak diam, tetapi ia tetap menyahut ketika ada yang mengetuk pintu kamarnya yang terletak di lantai dua. Dan akhirnya Sehun memilih untuk masuk ke dalam tanpa menunggu sahutan Hyeju.

Dia berpikir jika gadis itu tengah tertidur di dalam.

Namun sayangnya, tak ada tanda-tanda Hyeju di dalam kamar, hanya sebuah ruangan kosong yang jendelanya terbuka sedikit. Tidak mungkin gadis itu kabur lagi, kan?

Sebelum keluar dari kamar Hyeju untuk mencari gadis itu di penjuru rumah, mata Sehun melihat ke arah laci nakas di sebelah tempat tidur yang terbuka setengah. Entah mengapa, ia menjadi penasaran dan menghampiri nakas tersebut untuk melihat isi nakas tersebut.

Di bagian paling atas, terletak sebuah benda kecil berwarna hitam yang berad di atas tumpukan robekan kertas. Penasaran dengan benda yang tak seperti kebanyakan benda yang dikoleksi—atau disimpan—ia pun mengambilnya dan melihat benda kecil tersebut dengan seksama.

Jujur saja Sehun tidak tahu benda apakah itu, jadi ia pun menaruhnya di atas nakas lalu mengambil robekan kertas tersebut sembari berpikir mengapa Hyeju menyimpan robekan kertas. Dan begitu membalikkan kertasnya, matanya menyipit melihat tulisan di atas kertas tersebut.

Dari gaya tulisannya, Sehun yakin jika penulis dari tulisan di kertas tersebut adalah orang yang sama, yang tak lain adalah orang-orang yang mengejar Hyeju. Tentu saja.

“Jisoo?” gumamnya heran seraya melayangka pikirannya kembali ke beberapa hari yang lalu, saat ia menelepon Jisoo dan bagaimana suara gadis itu yang terdengar aneh. Menyadari bahwa kedua gadis yang dilindunginya itu terancam bahaya, ia pun segera turun ke bawah untuk memberitahu Junhong dan Baekhyun dengan membawa kedua secarik kertas tersebut.

“Hei, hei, hei!” Sehun berteriak untuk yang pertama kalinya seperti orang gila sembari menuruni anak tangga. Baekhyun yang tengah bersantai pun langsung bangun dan menatap Sehun bingung. “Di mana Junhong?” tanyanya pada Baekhyun begitu tak mendapati sosok Junhong di sana.

“Dia pulang ke rumahnya.” Jawab Baekhyun, masih dengan tatapan bingungnya. “Kenapa?” tanyanya kemudian.

“Lihat ini.” Ucap Sehun seraya memberikan secarik kertas yang ditemukannya di kamar Hyeju. Surat yang ditunjukkan untuk Sehun dan menyatakan bahwa mereka menculik Jisoo. “Hyeju tidak ada di kamarnya.”

“Apa?” balas Baekhyun dengan mata membulat, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Sehun. “Lalu, apa yang ingin kau lakukan?” tanyanya lagi ketika melihat Sehun yang mengambil jaket tebalnya serta mengotak-atik ponselnya.

“Ke alamat itu.” Sahut Sehun singkat lalu masuk ke dalam kamar ayah Hyeju untuk mengambil sesuatu yang disimpannya di laci di meja kerja ayah Hyeju.

Dengan itu, Baekhyun pun melirik ke secarik kertas tersebut dan mencari sebuah alamat di sana. “Hei, aku ikut.” Kata Baekhyun seraya meraih jaketnya yang tersampir di punggung kursi makan. Lalu, “Bagaimana dengan Junhong?” tanyanya lagi ketika Sehun sudah keluar dari kamar ayah Hyeju.

“Aku sudah memberinya pesan singkat padanya. Dia akan menunggu kita di luar kompleks.” Beritahu Sehun pada Baekhyun yang menatap Sehun dengan pandangan mencoba mengerti situasi yang terjadi.

Begitu keduanya sampai di luar kompleks, Sehun melihat Junhong yang berdiri di sebelah pintu taksi. Kemudian Junhong melambaikan tangannya pada Sehun dan juga Baekhyun.

Setelah taksi tersebut melaju ke arah alamat yang ada di secarik kertas tersebut, Sehun pun kembali mengotak-atik ponselnya lalu meletakkan ponselnya tersebut ke sebelah telinganya. “Jisoo-ya, kau di mana?” tanya Sehun setelah panggilannya terjawab. Namun karena tak ada jawaban dari seberang, ia pun melirik Baekhyun dan juga Junhong bergantian.

“Hei…,” ucap Sehun lagi karena tak kunjung mendapat jawaban. Lalu sambungan terputus.

“Kenapa?” tanya Baekhyun ketika melihat wajah bingung Sehun seraya menurunkan ponselnya.

“Jisoo bersama mereka.” Sahut Sehun.

“Bagaimana dengan Hyeju?” kali ini Junhong yang bertanya.

“Kemungkinan bersama mereka juga.” Jawab Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

Tidak sampai setengah jam berlalu, taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah jalanan kosong yang sepi. Dan tanpa perlu ditanyakan kembali apakah tempat tersebut benar atau tidak, mereka pun tahu bahwa tempat tersebut pasti dijadikan markas dari orang-orang seperti penculik ataupun pembunuh.

Sesampainya di bangunan tua yang tidak terawat, satu-satunya bangunan yang ada di sana, ketiganya langsung menyingkir dan bersembunyi ketika mendengar suara mesin mobil memasuki halaman kotor bangunan. Ketika diintip, sebuah mobil van berwarna hitam masuk ke garasi yang memang penuh dengan mobil-mobil lainnya.

“Lihat mobil mereka!” gumam Junhong takjub sekaligus kagum melihat mobil mewah yang terparkir di garasi tak terawat, dan langsung mendapat sikutan dari Baekhyun.

Lagi-lagi mereka mencoba bersembunyi saat tiga orang laki-laki turun dari mobil dengan pakaian serba hitam mereka, dan satu orang lainnya yang pernah Junhong lihat melepas topinya.

Ketika Junhong dan Baekhyun tengah menahan napasnya agar tidak kertahuan oleh laki-laki itu, Sehun pun diam-diam berlari pergi saat melihat sebuah anak tangga yang sudah berlumut untuk mencari Hyeju maupun Jisoo. Dia tidak bisa diam saja dan menunggu seperti Junhong dan Baekhyun, ia harus segera bertindak.

“Kau ingin berpencar?” tawar Junhong pada Baekhyun saat mereka menyadari jika Sehun pergi sendirian.

~œ~œ~œ~

Dengan mencoba melangkah seringan mungkin, Hyeju akhirnya menemukan anak tangga berlumut yang dicari-carinya. Namun ia belum bisa tersenyum lega ketika mendengar suara langkah kaki dari belakang, reflek ia segera mempercepat langkahnya menuruni anak tangga yang licin.

Hampir saja ia berteriak lepas ketika merasakan seseorang menarik dan menutup hidungnya dari belakang, tetapi cepat-cepat ia urungkan niatnya begitu tahu tangan kurus tersebut merupakan milik Sehun.

“Sehun…,” ucap Hyeju dengan suara bergetar, napasnya tidak beraturan karena ketakutan dan keringat dingin meluncur di pelipisnya.

“Ssh, ssh!” bisik Sehun mencoba menenangkan Hyeju sekaligus mendiamkan gadis itu agar tidak menimbulkan suara yang akan membuat persembunyian mereka terbongkar.

Hyeju memang bukan orang yang cengeng, tetapi untuk kali ini, dirinya tidak bisa menahan tangisnya lagi di depan Sehun, sama seperti beberapa waktu yang lalu. Rencana awal untuk menyerahkan diri begitu berat baginya kini. Entah darimana asalnya, ia tetap ingin hidup, bersama Sehun dan yang lainnya.

“Ayo pulang,” bisik Sehun lagi seakan bisa membaca pikiran Hyeju. Lalu membimbing Hyeju berjalan dengan langkah waspada dan hati-hati.

Ketika keduanya tengah berjalan menuju jalan keluar bangunan tersebut, tiba-tiba saja seseorang menendang punggung Sehun dari belakang sehingga membuatnya terjungkang di depan.

“Sehun!” pekik Hyeju terkejut seraya mencoba membantu Sehun berdiri. Dan saat keduanya meoleh, mereka mendapati sosok Bang Yongguk dengan rambut hitamnya yang agak berantakan.

“Kau Oh Sehun?” tanya Yongguk pada Sehun dengan suara rendahnya yang terkesan dingin.

Sehun tak menjawab Yongguk, ia langsung berdiri dan langsung tahu siapa Yongguk jika melihat dari cara Hyeju menatap lelaki itu.

“Kau teman Xi Luhan?” pertanyaan Yongguk membuat Hyeju merasa was-was. Sehun tidak seperti dirinya yang bisa mengendalikan emosi setenang mungkin meskipun orang terdekatnya disebut-sebut. Walaupun sebentar mengenal Sehun, Hyeju tahu bagaimana sikap Sehun ketika mendengar nama Luhan.

“Apa?” ucap Sehun dengan sebelah mata menyipit. Dan Hyeju pun berusaha untuk menahan pergelangan tangan Sehun.

“Xi Luhan itu… aku disuruh untuk membunuhnya oleh ibu kandungnya sendiri.”

“Apa?” Ulang Sehun.

“Sehun jangan dengarkan dia.” Bisik Hyeju setengah memohon pada Sehun yang mulai terpancing. Senjata makan tuan. Awalnya Hyeju ingin membuat Yongguk kehilangan kedali, justru Sehun yang kehilangan kendali. Ia bahkan tak mengira Sehun akan kemari.

“Kau tahu tentang ini?”

“Bagaimana mungkin Hyeju tidak tahu? Dia bahkan tahu seluk beluk tentang diriku, orang yang baru dilihatnya. Bagaimana mungkin tidak dengan kau dan Luhan?” Yongguk mengompori, senyum miring yang tak sampai matanya terlihat sekilas oleh Hyeju.

“Di mana ibu kandung Luhan?” tanya Sehun dingin dan tajam, namun berbeda dengan sebelumnya, ada sepercik emosi dalam suaranya.

“Rahasia klien kami akan selalu aman.” Balas Yongguk dengan senyum simpulnya yang tidak terlihat ramah sama sekali, dan justru terlihat menyeramkan.

Mungkin emosi Sehun memang tidak bisa dikendalikan lagi oleh sang pemilik. Jadi beberapa detik setelah Yongguk membalas pertanyaannya, Sehun langsung melayangkan tinjunya pada Yongguk tepat di wajah.

Namun bukan seorang pembunuh bayaran namanya jika terkena pukulan di wajahnya dengan mudah, tentu saja Yongguk menghindar dan membalas dengan meninju perut Sehun. Sehun mencoba untuk menghindar, tetapi Yongguk terlalu cepat untuknya.

Setelah itu keduanya saling melemparkan tinju di perut ataupun di wajah, sesekali Sehun mencoba untuk menyelengkat kaki Yongguk hingga Yongguk terjatuh. Namun pada akhirnya, Yongguk menendang dada Sehun sehingga Sehun punggung Sehun menabrak dinding dingin yang kotor dengan sudut bibir yang robek.

“Sehun!” ucap Hyeju seraya menghampiri Sehun yang sepertinya tidak bisa bangun kembali, tetapi Yongguk menjambak rambutnya dan menariknya ke belakang, membuatnya menjerit.

Melihat Hyeju yang diperlakukan seperti itu oleh Yongguk, Sehun mencoba bangkit kembali untuk menolog Hyeju. Namun, lagi-lagi Yongguk menendangnya, kali ini lebih kuat dan kasar. Bahkan tak tanggung-tanggung Yongguk juga memperkuat tarikan tangannya pada rambut Hyeju, membuat jeritan Hyeju semakin keras.

Di samping itu, Jiyoo muncul dan Yongguk pun memberi kode padanya untuk mengikat Sehun dan menyingkirkan lelaki itu. Juga menyuruh yang lainnya untuk mencari di seluruh bagunan akan adanya orang lain.

Berbeda dengan Sehun yang diikat dan dibiarkan di luar, Hyeju justru dibawa ke ruangan dimana Jisoo disekap sebelumnya. Kali ini tentu saja Yongguk tak mau membuang-buang waktu lagi. Ia pun menghidupkan sebuah botol berisi gas tak berwarna dan tak berbau yang berbahaya jika masuk ke dalam tubuh manusia.

Karbondioksida.

“Selamat tinggal.” Ucap Yongguk pada Hyeju sebelum ia menutup pintu tersebut dengan rapat.

~œ To be continue œ~

Maafkan aku telat dan maafkan karna chapter 10 sama sekali belum lanjut. Maaaaaaf. Kalo kemarin laptopnya yang masuk bengkel, trus gantian akunya yang masuk bengkel/? Maksudnya rumah sakit deng hehe. Kemarin lebih dari seminggu aku off dari tulis menulis karena sakit dan akhirnya drop masuk rumah sakit. Liburanku dihabiskan di bangsal rumah sakit hueeeeee T.T dan, karena banyak ide-ide baru buat ff baru, akhirnya ff lama terabaikan. Dan sampai sekarang, Black Swan belum juga kelar dan belum bisa publish hueeeee, aku minta maaf sekali lagi.

Buat yg nanya tentang film ‘girl/cold winter steel’, jujur aja aku juga gak ngerti…. aku udah nonton, dan aku gak ngerti jalan ceritanya:/ dan juga karena banyak scene yg kurang bagus, aku nontonnya diskip-skip gituK dan sampe sekarang aku gak tau siapa yg bunuh si ayah ceweknya ini, apa si cewek ini, atau siapa aku pun gak tau._. dan buat ff yg lain, kemungkinan aku akan publish setelah salah satu dari BS atau CW kelar, buat LTM… aku gak tau lanjut atau engga hing. Dan buat intip-intip, ini dia new ffnya, masih dalam proses sih hehe tapi, cekidot lah~


Judulnya Grow Up dan castnya itu ada Lee Taemin, Park Chanyeol, dan Jo Kwangmin-nya BOYFRIEND (aku kangen Kwangmin banget heee). Ceritanya mainstream, marriage couple gitu, tapi tentu aja pake versiku sendiri. Kenapa aku buat itu? Karena aku gak pengen orang2 kenal aku author ff yg genrenya fantasy, gloomy gitu2 aja, aku juga mau dikenal dengan ff fun and comedynya hehe. Intinya, bagi yang mau GU, tunggu aja di ff indo~~~ ppyong!!!!~

92 responses to “Continuous Winter – Chapter 9

  1. kenapa ga selese2 sih penderitaannyaㅠㅠ kan kesian hyeju.. Sehun jugaa.. Bahkan Jisoo yang ikut kena siksa jugaa.. wae wae wae! ngeri sendiri bacanyaa:””

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s