DAFFODIL — Chapter 7

Annyeong, saya datang bawa fanfic titipan! Happy reading, jangan lupa kasih komentar^^ Gomawooo~

daffodilARTworker : shinme

Tittle : Daffodil ( chapter 7 )

Author : Youngieomma

Cast :

Kim Joon Myun

Byun Baek Hyun

Park Chan Yeol

Do Kyung Soo

Kim Jongin

Oh Sehun

Han Yoon Ah (OC)

Park Moon Jin (OC)

– Other Cast :

Im Ra Nee (OC)

Inoue Mao (Japan Actress)

Kim Sa Na (OC)

Length : Chaptered

Genre : Romance, School Life, Brothership, Family

Rating : PG-17

Disclaimer : para pemeran di atas hanya dipinjam untuk keperluan FF ini, maafkan jika ada kata-kata maupun sifat yang bertolak belakang di FF ini.

 

Note’s :

Beberapa anggota diganti marga nya sesuai dengan cerita.. ———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Chapter 7

“ Different”

Sehun duduk, membiarkan pipi kanannya menyentuh meja, tubuhnya condong ke depan dan tangan menjuntai pasrah. Menatap keluar jendela yang gordennya tertiup angin, dia tengah berada di perpustakaan sekarang. Suasana hening seperti ini membuat hatinya sedikit tenang.

Dua hari yang lalu ayah dan ibunya kembali ke Italy, tapi, sesuatu menganggu pikirannya. Percakapan ayah dan ibu yang dia tangkap malam itu, dan sesuatu yang dia lakukan. Sehun melupakan bagian penting tersebut.

” Sehun?” Kim Sa Na dengan kacamata melorot dan tangan yang penuh buku berdiri di depan Sehun yang masih asyik dengan posisinya.

” Oh~”

” Kau selalu kesini setiap istirahat..”

Agar dapat melihatmu, batin Sehun.

Sa Na duduk di depan Sehun, menaruh buku-bukunya disana dan mulai membaca. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing untuk sesaat.

Sehun mengubah posisi, dagunya menyentuh meja, dia menatap Kim Sa Na yang sedang asyik dengan bukunya. Gadis itu terlihat seperti boneka, cantik dan menggemaskan. Sejak pertama kali melihatnya di kelas 1, Sehun sudah jatuh cinta, namun Kim Sa Na tidak seperti gadis kebanyakan yang mudah di dekati. Dia lebih senang menghabiskan waktunya di perpustakaan, bergumul dengan buku dan mengkoleksi barang-barang dengan motif kelinci.

” Berhenti menatapku, Park Sehun. Air liur mu menetes..” Kim Sa Na berbicara bahkan tanpa repot-repot menatap Sehun yang sekarang sudah kembali dengan posisinya.

” Sa Na..”

” Hm?”

” Apakah kau tahu aku adik Jongin?”

Sa Na mengangguk, tidak perduli Sehun melihatnya atau tidak. Dia masih asyik membaca bukunya.

” Apakah kau senang?” Sehun kembali bertanya.

” Kenapa?”

” Di cium oleh Jongin..”

Sa Na mendengus. Sehun melirik. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu.

” Ternyata kau senang..”

” Tidak sesenang itu kok..” Ujar Sa Na.

” Tapi kau tersipu jika berbicara dengan Jongin..”

Sa Na mengalihkan pandangannya, menatap Sehun yang masih mengamati gorden.

” Apa kau seorang stalker?” Sa Na berkata.

” Aku tidak pernah menguntitmu sampai rumah kok..” Jawab Sehun.

” Tapi kau mengamati gerak-gerikku..”

” Karena aku memiliki alasan..” Sehun melirik Sa Na.

” Coba, katakan apa alasanmu?”

Sehun terdiam, menimbang-nimbang apakah ini saat yang tepat untuk mengatakan perasaannya.

” Karena kau teman sekelasku..” Kalimat yang keluar berbanding terbalik dengan apa yang Sehun ucapkan di hatinya.

Sa Na mendengus. Kembali membaca bukunya. Hening mendominasi menit-menit mereka, tanpa kata-kata keduanya menghabiskan hampir separuh jam makan siang.

Kemudian, suara-suara tawa terdengar dari luar jendela. Sehun dan Sa Na mengenali pemilik suara tersebut, Jongin berjalan melewati jendela perpustakaan bersama beberapa temannya. Sehun melirik Sa Na dan gadis itu melirik keluar jendela.

” Apakah kau tipe orang yang mencintai seseorang setelah ciuman?” Tanya Sehun kemudian, duduk tegak di depan Sa Na yang menatapnya.

” Apa maksudmu?”

Sehun mendengus, dia berdiri, dan berlalu meninggalkan Sa Na yang masih mengerenyit tak mengerti. Gadis itu melanjutkan membaca.

” Hei, Kim Sa Na..”

Sa Na menoleh dan kini matanya melotot hampir keluar, ketika Sehun mendadak berdiri di sampingnya, menunduk dan mencium bibirnya.

” Jika setelah aku melakukan ini dan kau tidak menyukaiku, aku akan menyerah.. Kim Sa Na..”

Sehun berlalu pergi dengan senyum di bibirnya, Sa Na masih membeku di tempat. Hatinya berdetak tak karuan, suhu tubuhnya meningkat.

Dia masih tidak percaya Sehun melakukan hal itu dan kata-kata Sehun barusan…

” Apa maksudnya..” Gumam Sa Na.

.

Jongin berjalan melewati lorong kelas tiga, menuju gudang penyimpanan alat-alat olahraga, membawa empat bola basket di dadanya. Hari ini, dia sedang tidak beruntung pertandingan melawan beberapa senior membuatnya kalah telak hampir setengah skor. Akhirnya, dia yang harus membawa bola basket tersebut sendirian dan membereskan lapangan.

Jongin menutup pintu gudang, kembali melewati lorong kelas 3 ketika dentingan piano terdengar. Dia mengerenyit, ini sudah 15 menit setelah bel pulang berbunyi, biasanya semua siswa/i tidak ada yang berani masuk ke ruang musik lewat dari jam 7 malam.

Penasaran, pemuda itu menengok ke ruang musik yang masih terang. Tidak ada siapa-siapa disana. Jongin berjinjit, dan mengintip dari sela-sela jendela ketika tepukan di bahu membuatnya berteriak sangat kencang.

” Kenapa kau berteriak?”

Kyung Soo berdiri di sampingnya, dengan wajah datar, menatap Jongin.

” Wah! Sial! Jantungku hampir saja copot!” Pekiknya, mengelus dada dengan nafas terengah-engah.

Kyung Soo terkekeh melihat tingkah Jongin.

” Kau pasti mengira aku hantu..” Ujarnya, Jongin mendengus, memang itu yang ada di pikirannya tadi.

” Tidak pergi les, hyeong?” Tanya Jongin, mengekor Kyung Soo masuk ke dalam ruang musik.

” Sedang tidak mood..”

Kyung Soo sudah terbiasa dengan Jongin yang terkadang memanggilnya ‘hyeong’ terkadang ‘Kyung’. Semaunya sendiri.

Kyung Soo duduk di depan piano, menatapnya cukup lama.

” Apa, kau sedang ada masalah?” Jongin berjongkok di depan Kyung Soo, menatap wajah kakak laki-lakinya tersebut.

Kyung Soo mengangguk kecil, ” Ya, seperti itulah..”

” Ada apa? Kau bisa bercerita padaku. Apakah, gangguan kepribadian gandamu kembali?”

Kyung Soo mendengus.

” Sudah kubilang Jongin, aku tidak memiliki kepribadian ganda!”

” Oke,oke, apapun yang kau katakan hyeong!” Jongin mengangguk-angguk.

Mereka terdiam sebentar, Kyung Soo menyentuh pinggiran piano tersebut, mengelusnya dengan lembut. Jongin mengamati, wajah Kyung Soo sedang sangat kusut hari ini, tadi pagipun dia makan sangat sedikit tidak seperti biasanya.

” Semalam aku menonton bioskop sendirian..” Kyung Soo membuka pembicaraan.

” Kau sering melakukannya?”

Kyung Soo mengangguk.

” Hidup bersama-sama dengan banyak orang, terkadang bisa menyesakkan. Memiliki waktu sendirian seperti itu cukup menyenangkan..” Ujarnya.

Jongin memainkan ujung jari-jari tangan.

” Apakah masalah itu sangat mengganggumu, hyeong?”

Jongin duduk di lantai, menyender pada tembok.

” Menurutmu, apakah aku mirip dengan Sehun dan Chan Yeol hyeong?” Alih-alih menjawab, pemuda itu melemparkan sebuah pertanyaan kembali pada adiknya. Jongin terdiam, mencari maksud dari pertanyaan Kyung Soo.

” Ada saat-saat dimana aku melupakan masa kecilku, yang aku ingat, aku bertemu dengan Chan Yeol hyeong dan Sehun ketika usiaku hampir 6 tahun..”

” Dibawah usia itu kita tidak memiliki memori hyeong..” Jongin menimpali.

” Tidak, kau pasti memiliki ingatan ketika kau berusia 5 tahun. Aku yakin..”

” Tidak, aku bahkan tidak ingat kejadian apa yang menimpa Baek hyeong..”

Itu benar, Jongin lupa bagaimana dia hidup berdua saja dengan Joon Myun selama hampir 5 tahun dan bagaimana akhirnya dia melupakan jika selama itu Baek Hyun dan ibunya tidak berada dirumah..

” Benarkah..” Kyung Soo bergumam.

” Kulihat ketika piknik, kau mulai berbicara dengan Chan Yeol hyeong..”

Kyung Soo tersenyum.

” Ya, dia mengajakku berbicara saat itu.. Kau tahu? Itu menyenangkan untuk bisa mengetahui jika dia masih perhatian pada kami, adik-adiknya..”

” Bukankah Yeol hyeong memang perhatian? Kau sendiri yang bilang, karena dia ‘hyeong’ mu dia rela bangun pagi-pagi mengerjakan tugas mingguan..”

Kyung Soo kemudian terkekeh.

” Kau benar, itulah cara dia menjaga adik-adiknya. Sikap kasar, kata-kata kotor dan rasa tidak perduli yang dia tunjukkan, hanyalah topeng untuk menutupi bahwa ia sangat takut kehilangan kami..”

Jongin menggeser tempat duduknya.

” Apakah itu yang mengganggumu? Perhatian Chan Yeol hyeong?”

Kyung Soo menggeleng.

” Bukan.. Ada sesuatu yang lain..” Kyung Soo enggan mengatakannya. Lagipula, amplop itu belum jelas miliknya. Walaupun tanggal lahirnya tertera disana.

” Hyeong, kau mau makan curry ramyeon? Aku teraktir..” Jongin berkata, Kyung Soo meliriknya.

” Kau lapar?”

Jongin mengangguk.

” Aku lapar sejak tadi, hari ini energiku terkuras hampir delapan puluh persen..”

Kyung Soo terkekeh, meng-iya-kan ajakan Jongin.

” Hyeong, kurasa kau mirip Chan Yeol hyeong.. Mungkin kau hanya tidak beruntung soal tinggi badan..” Jongin bermaksud menyemangati Kyung Soo dengan kata-katanya yang membuat kakak laki-lakinya tersebut mendengus kasar.

” Terima kasih” Ujar Kyung Soo malas.

———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Chan Yeol duduk di perpustakaan kampus, mata besar itu menancap pada huruf yang tercetak dibuku yang ada di hadapannya. Menghela nafas. Tidak ada satupun dari empat buku yang sudah dia baca nempel di otaknya.

Merutuki dosennya dalam hati, Chan Yeol kesal. Padahal, dia baru saja dua bulan masuk kuliah, namun beberapa dosen telah memberikannya tugas yang lumayan membuat tegang otak. Dia menghela, menatap ponselnya yang tidak berbunyi sejak siang. Ra Nee bahkan tidak repot-repot menghubunginya.

Ra Nee tidak beruntung, dia tidak masuk ke Universitas yang sama dengan Chan Yeol. Terakhir kali mereka saling mengirimkan e-mail adalah ketika Chan Yeol mengabarkan jika ia diterima di Seoul National University. Sejak itu, Ra Nee belum menghubunginya lagi. Kejelasan status mereka sekarang masih mengambang, padahal pemuda itu ingin buru-buru mengatakan apa yang dia rasakan pada Ra Nee.

” Chan Yeol?”

Seorang gadis berkacamata dengan potongan rambut bop, berdiri di samping Chan Yeol. Pemuda itu mengerutkan kening, mencoba mengingat apakah mengenal gadis tersebut. Teman sekelasnya? Teman satu genk? Oh, tidak mungkin, teman di genknya semua laki-laki, apakah gadis tersebut teman di kampus?

” Aku, Mao! Inoue Mao! Baek Hyun pernah mengenalkanku padamu di cafe..” Gadis itu duduk di depan Chan Yeol yang sekarang sedang mengangguk-angguk, walaupun dia sedang mengingat apakah Baek Hyun pernah mengenalkan seseorang padanya.

” Kau sedang belajar?” Tanya gadis itu, bertindak sok akrab pada Chan Yeol.

” Mungkin..”

Chan Yeol malas meladeni seseorang yang tidak dia kenal.

” Aku berasal dari Jepang..”

Aku tidak perduli, batin Chan Yeol.

” Apa kau pernah kesana?”

Masa bodoh, Chan Yeol menggerutu dalam hati.

” Kau mengenal Yamada Ryonosuke?”

Chan Yeol melirik.

” Kenapa kau mengungkit nama itu?” Tanya Chan Yeol, mulai tertarik dengan gadis di depannya yang tersenyum jahil.

” Sudah kukira kau mengenalnya.. Jadi, kalian bermusuhan?”

Chan Yeol tidak menjawab, gadis di depannya pasti memiliki hubungan dengan pemuda tersebut. Yamada adalah kepala genk untuk SMA Young Soon, Chan Yeol beberapa kali mengalahkannya, namun Yamada tidak pernah kapok. Desas-desus mengatakan, jika di Jepang Yamada adalah anak dari seorang bawahan Yakuza, entah bagaimana ceritanya (karena banyak versi) Yamada dan ibunya berakhir di Korea Selatan.

” Aku sudah tidak berkelahi lagi..”

” Eeeeh? Membosankan!” Pekik Mao. Chan Yeol mendengus.

” Apa hubunganmu dengan Yamada?”

Mao tersenyum, saling bertatap dengan Chan Yeol.

” Jika kau ingin tahu, kau bisa datang pukul 8 ke apartemenku dua minggu lagi. Kau bisa menemukan sesuatu yang menarik..”

” Aku tidak tertarik..”

Mao mengangguk-angguk, membereskan buku di hadapannya.

” Benarkah? Kukira kau akan sangat tertarik, jika—” Mao menghentikan ucapannya, berdiri dan kembali menatap Chan Yeol.

” —berhubungan dengan Im Ra Nee…”

Chan Yeol segera menoleh, menatap tajam ke arah Mao.

” Jangan libatkan Ra Nee dalam masalahku!”

Mao terkekeh.

” Kau tidak boleh membentakku..” Ujarnya.

” Apa maumu?”

” Dua minggu lagi, hari selasa, ku tunggu kau di Apartemenku pukul 8 malam..”

Mao beranjak pergi, meninggalkan Chan Yeol yang masih bertanya-tanya maksud dari ucapannya. Ini sudah tidak lucu, melibatkan Im Ra Nee dalam pertarungan genk bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Chan Yeol menggaruk kepalanya kasar, dia menelepon Shi Rok.

” Oh, Yeol, ada apa?”

” Apakah kau sekelas dengan Ra Nee disana?” Tanya Chan Yeol.

” Hm? Iya.. Kenapa? Kau cemburu?” Shi Rok terkekeh.

” Apakah, Yamada disana juga?”

” Ha? Siapa maksudmu?”

” Ryu! Apakah dia disana?”

Shi Rok tidak langsung menjawab. Hening sebentar.

” Bagaimana kau tahu? Dia mengambil empat kelas yang sama dengan Ra Nee..”

Chan Yeol mengepalkan tangannya.

” Tolong jaga Ra Nee untukku..” Ucapnya.

” Hei, apakah ada sesuatu?” Shi Rok bertanya, Chan Yeol mulai bercerita dengan sedikit tergesa-gesa pada Shi Rok.

” Hei, hei! Tidak perlu kau ladeni! Berhenti berkelahi, kau akan kena masalah nanti!” Ujar Shi Rok.

” Aku tidak akan berkelahi jika bertemu dengan Ryu, dia hanya akan kuberi peringatan agar tidak menyeret Ra Nee dalam masalah ini..”

Chan Yeol menutup teleponnya, mengirim pesan singkat pada Ra Nee. Hatinya sedang gusar kali ini. Salahnya, melibatkan diri dengan anak-anak bermasalah, sekarang, ketika dia ingin menjadi anak normal, anak-anak bermasalah itu masih saja mengurusi hidupnya.

.

Baek Hyun keluar dari gedung praktek Psikolog yang menanganinya sejak kecil ketika mobil Joon Myun berada di depan. Dia berlari kecil dan masuk ke dalam.

” Hyeong, kenapa tidak bilang padaku akan kemari?” Tanya Baek Hyun, duduk di depan dan memasang sabuk pengaman.

” Aku baru saja mengantar Sehun mendaftar ke tempat les, karena satu arah jadi kupikir lebih baik menjemputmu juga..”

Baek Hyun menoleh ke kursi belakang, Sehun meringkuk disana, tertidur. Joon Myun mulai menjalankan mobilnya.

” Bagaimana? Sudah dapat keputusan final untuk operasi?”

” Sepertinya aku harus bersabar sampai lulus kuliah..” Ucap Baek Hyun.

” Kenapa?”

Baek Hyun menatap jalan di depannya.

” Banyak sekali yang harus di urus, lagipula, tanggapan masyarakat tentang transgender di negara ini membuat dokter Oh memintaku berfikir lagi. Dia tidak mau, aku semakin depresi..”

Joon Myun mengangguk.

” Apakah kau oke dengan keputusan seperti itu?” Tanya Joon Myun.

” Ya, kurasa, aku harus lebih bersabar lagi hyeong.. Jika aku sudah lebih siap menghadapi masyarakat, kurasa aku akan segera melakukannya..” Jawab Baek Hyun. Joon Myun tersenyum.

” Kami selalu mendukungmu Baek, apapun keputusanmu..”

Baek Hyun ikut tersenyum.

” Oh, hyeong.. Apakah sesuatu terjadi pada Kyung Soo dan ayah? Dia terlihat muram pagi ini, dia tidak menghabiskan sarapan kesukaannya..”

” Kurasa tidak ada.. Mungkin dia sedang stress? Kyung Soo memasuki kelas tiga tahun ini..”

Baek Hyun terdiam sebentar.

” Aku melihat Kyung Soo dan ayah berbicara, keduanya sedikit tegang dalam percakapan tersebut. Kukira, ada sesuatu di antara mereka..”

Joon Myun mengangguk.

” Aku akan mencoba bicara pada ayah..” Ujarnya. ” Baek, apakah Chan Yeol sudah berhenti berkelahi?” Joon Myun mengubah topik pembicaraan.

” Kurasa iya, sekarangpun dia masih berada di perpustakaan hyeong.. Kudengar dia mendapat banyak tugas hafalan dari dosennya..” Baek Hyun terkekeh.

” Benarkah? Itu sebuah kemajuan.. Dia mau berlama-lama di perpustakaan itu merupakan hal hebat.. Efek perempuan itu ternyata ampuh juga.” Kini keduanya tertawa.

” Menyenangkan ya hyeong, sekarang, kita tidak melulu berbicara tentang dirimu, aku maupun Jongin dan ibu..”

Joon Myun mengangguk, dulu, ketika mereka masih bertiga. Topik pembicaraan tidak jauh dari Jongin, Joon Myun atau Baek Hyun, terkadang pertanyaan yang sama di lontarkan berulang kali.

” Memiliki saudara lebih dari tiga ternyata menyenangkan..” Ucap Baek Hyun.

” Bukankah kau dan Jongin dulu frustasi pada kehadiran mereka?” Ledek Joon Myun.

” Ya, tapi kurasa sekarang sudah terbiasa. Bahkan lebih aneh jika mereka tidak berkeliaran di sekitar, terutama Chan Yeol..”

” Kuharap kita akan selalu menjadi satu keluarga..” Joon Myun berkata, Baek Hyun mengangguk dan tersenyum mengamini ucapan kakaknya tersebut.

” Hyeong, berhenti di depan, bukankah itu Kyung Soo dan Jongin?”

” Oh, kau benar..” Joon Myun menepi, memencet klaksonnya dua kali sampai kedua bocah itu menengok dan tersenyum senang melihat kedatangan kakaknya tersebut. Menghambur masuk ke dalam mobil.

” Oy! Sehun! Bangun! Cepat geser!” Jongin membangunkan Sehun yang masih menutup matanya, bergeser.

” Kalian darimana?” Tanya Joon Myun ketika kedua bocah itu sudah duduk di tempatnya.

” Jongin mentraktirku makan curry ramyeon..” Jawab Kyung Soo.

Joon Myun mengangguk, mereka kemudian saling berbicara, membahas berbagai macam hal. Mobil tersebut kini lebih ramai.

” Hei! Itu Yeol hyeong! Berhenti Joon hyeong!” Pekik Jongin.

” Ini tidak akan muat Jong!” Ucap Joon Myun, namun tetap menepi.

” Yeol hyeong! Ayo masuk!” Jongin berteriak, membuat Chan Yeol menoleh dan mendekat, membuka pintu mobil.

” Ya! Aku duduk dimana?!” Pekiknya.

” Sehun! Sehun! Turun ke bawah! Cepat! Kau duduk di bawah!”

” Jongin! Aku ngantuk!”

Dengan sedikit paksaan, akhirnya Sehun duduk dibawah jok, menduduki kaki-kaki Jongin, Kyung Soo dan Chan Yeol.

” Sudah kubilang tidak akan muat!” Keluh Joon Myun.

” Lalu kenapa kau mengajakku?” Chan Yeol protes.

” Kau harus membawa mobil keluarga hyeong mengantisipasi hal-hal seperti ini terjadi..” Ujar Baek Hyun.

” Ya! Sehun! Bokongmu tajam sekali!” Pekik Jongin.

” Berisik!” Sehun menutup telinganya.

” Bisakah kalian diam? Polisi akan menyadari kalau di dalam mobil ini kelebihan muatan jika kalian tetap berisik!” Omel Kyung Soo.

Ocehan, pekikan, dan keluhan terdengar dari dalam mobil yang kini berjalan menuju rumah mereka.

———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Sehun membaca apa yang terlampir di kertas HVS dengan label rumah sakit tersebut. Matanya beralih dengan cepat menatap satu persatu huruf yang terpampang disana. Mencengkram erat kertas tersebut di tangannya, giginya bergemeretak. Dia menangis.

Tiga minggu lalu, dia mendengar percakapan ayah dan ibunya saat dia pergi ke dapur untuk minum. Sedikit nekat dan penasaran, Sehun merencakan untuk mengambil dan memfotokopi kertas di dalam amplop begitu orangtuanya tertidur. Dengan rapi Sehun kembali menyimpan amplop tersebut ke tas ayahnya setelah melakukan rencana tersebut, berlari ke kamarnya sendiri dan menyimpan kertas itu.

Sehun sempat melupakan kertas tersebut sampai tadi sore begitu dia pulang dari sekolah, kamarnya terbuka, kertas itu berada di atas meja belajarnya. Seseorang telah melihatnya, tapi.. Siapa?

Hari ini Kyung Soo memiliki jadwal les, Jongin tidak bersamanya karena harus mengikuti latihan menari, sedangkan Baek Hyun, Chan Yeol dan Joon Myeon masing-masing memiliki kesibukan tersendiri. Lalu, siapa?

Sehun terkejut ketika ponselnya bergetar, nama Lee-Ssaem tertera disana. Paman dari ibunya.

” Oh, paman, ada apa?”

” Kau berkelahi dengan Kyung Soo?”

Sehun mengkerut.

” Tidak, ada sesuatu yang terjadi?” Tanya Sehun kemudian.

” Dia datang kemari dan memaksakku bercerita tentang apa yang terjadi pada ibu kalian. Aku menghubungi Chan Yeol, tapi dia tidak mengangkat teleponku..”

Jantung Sehun hampir berhenti berdetak, dia menggigiti bibirnya.

” Apa… Ada sesuatu? Maksudku–sesuatu yang tidak diketahui olehku dan Kyung Soo hyeong?”

Paman Lee tidak menjawab. Sehun mengacak rambutnya frustasi, mendengus kesal. Dia jadi mengerti perasaan Jongin ketika hanya dialah satu-satunya orang yang tidak tahu menahu tentang masa lalu keluarganya. Menjadi anak paling kecil bukanlah hal yang bagus.

” Apakah paman tidak akan memberitahuku?”

” Kurasa Chan Yeol akan berbicara pada kalian.. Ku harap kau bersabar, segera temui Kyung Soo. Aku berkata hal yang sama padanya.”

Sehun memutuskan telepon. Kemudian dia pergi dengan seragam dan tas yang masih menempel di tubuhnya. Kyung Soo pasti ke kampus Chan Yeol sekarang.

.

Sehun berdiri di gerbang kampus, Baek Hyun berlari terengah-engah menghampirinya. Dia menelepon Baek Hyun untuk mengantarnya mencari Chan Yeol, karena Sehun tidak hafal dimana kelas kakaknya tersebut.

” Apa yang terjadi?” Tanya Baek Hyun.

” Aku akan menceritakannya padamu setelah bertemu Yeol hyeong..”

Mereka berdua berlarian, ekspresi panik tertangkap oleh Baek Hyun di wajah Sehun.

Sesuatu yang besar akan terjadi, batin Baek Hyun.

” Aku tidak melihat Chan Yeol seharian ini, tadi aku sudah mencari di perpustakaan dan tidak menemukannya..” Ujar Baek Hyun. Sehun berhenti, mengatur nafasnya.

” Apa kau melihat Kyung Soo hyeong kemari?”

Baek Hyun menggeleng. Sehun hendak berlari ketika tangan Baek Hyun menghentikannya.

” Katakan apa yang terjadi, aku tidak bisa berlarian kesana kemari tanpa tahu alasannya..” Ujar Baek Hyun, Sehun menatap kakaknya tersebut, membuka resleting tas punggung, mengambil kertas yang sudah kusut dan menyerahkannya pada Baek Hyun.

Mata Baek Hyun terbelalak.

” I-ini, apa maksudnya?”

” Aku menduplikatnya dari amplop coklat di tas ayah, aku mendengar percakapan ayah dan ibu tentang Kyung Soo hyeong.. Aku sempat melupakan kertas itu, sampai tadi, kertas itu berada di atas meja belajarku..”

” Meja belajarmu?”

” Iya, kurasa Kyung Soo hyeong tidak sengaja menemukan dan membaca isinya.. Pamanku menelepon, berkata Kyung Soo hyeong menemuinya dan bertanya tentang kematian ibu..” Sehun menjelaskan.

” Lalu, apa pamanmu mengatakannya?”

” Tidak, dia bilang agar bertanya pada Chan Yeol hyeong, makanya aku berlari kesini untuk menemukan hyeong.. Tapi, kemana dia? Apakah Kyung Soo hyeong sudah menemukannya lebih dulu?” Ada nada panik terselip di suara Sehun.

” Tenang dulu, aku akan menelepon Joon Myun hyeong..”

Baek Hyun menjelaskan situasi yang terjadi pada Joon Myun di telepon, keduanya berjanji untuk kembali ke rumah dulu. Sehun menyetujui rencana tersebut, Baek Hyun pamit kembali ke kelas untuk membereskan buku-bukunya sebelum pergi meninggalkan kampus.

Mereka naik taksi, Baek Hyun berinisiatif menelepon Jongin.

” Kyung Soo? Dia disini..”

” Ha? Dia disana?”

” Iya, dia datang ke studioku.. Kubilang padanya agar menunggu di cafetaria.. Apa sesuatu terjadi, hyeong?” Tanya Jongin.

” Ajak Kyung Soo pulang, akan kujelaskan padamu di rumah. Oke?”

Jongin menutup telepon, bergegas turun dari studio menuju cafetaria.

Dalam 45 menit kelima pemuda itu sudah berkumpul di rumah, langit sudah gelap, pukul 11 malam.

Baek Hyun memberikan kertas fotokopian tersebut pada Joon Myun dan Jongin yang terkejut membacanya. Fakta bahwa Chan Yeol adalah satu-satunya orang –kecuali ayah mereka– yang mengetahui rahasia itu membuat Kyung Soo tidak sabar untuk segera bertanya, begitu banyak pertanyaan yang menumpuk, meminta jawaban segera.

Kenapa namanya memiliki marga berbeda di kertas tersebut?

Kenapa disana tertulis dia sebagai anak adopsi?

Lalu, hasil tes DNA siapa yang cocok dengan ayah mereka di kertas lainnya? Kenapa ibu meninggal?

Kenapa Kyung Soo tidak mengingat apapun sebelum ia berusia 6 tahun?

Ada sesuatu dan hanya Chan Yeol yang tahu kebenarannya.

Mereka menanti Chan Yeol kembali, sepanjang sore mereka menghubungi Chan Yeol dan ponselnya tidak aktif.

” Kurasa, hari ini dia tidak banyak jadwal..” Ucap Baek Hyun.

” Coba hubungi Ra Nee..” Joon Myun berkata pada Sehun.

” Oh, Ra Nee Noona, ini aku, Sehun.. Apa kau bertemu dengan Yeol hyeong?”

‘ Oh, Sehun-ah.. Tidak, aku tidak bertemu dengan Yeol. Ada apa? Sesuatu terjadi?’ Tanya Ra Nee dari seberang telepon.

” Ti-tidak apa-apa Noona, hanya saja kami menunggu Yeol hyeong kembali. Tapi, ponselnya tidak aktif..” Sehun berkata, sedikit berbasa-basi dan akhirnya menutup telepon.

” Kemana dia…” Gumama Joon Myun.

” Apakah ada teman Chan Yeol hyeong yang bisa di hubungi?” Tanya Jongin kemudian.

” Sehun, coba hubungi Shi Rok hyeong..” Kyung Soo berkata. Sehun mengangguk, menelepon Shi Rok. Namun, sama saja dengan Ra Nee, Shi Rok tidak bertemu Chan Yeol hari ini.

Mereka terdiam.

Masing-masing sibuk dengan pikirannya.

Sampai suara telepon di ruang keluarga berdering, semuanya terdiam, menerka-nerka siapa yang menghubungi rumah hampir tengah malam seperti ini.

” Keluarga Park disini…” Joon Myun mengangkat teleponnya, ekspresi datarnya berubah, membuat keempat adiknya ikut menegang, menggeser tempat duduk mereka, mendekat pada Joon Myun.

” Ka-kami akan segera kesana!” Pekik Joon Myun, menutup teleponnya dan bergegas mengambil jaket dan kunci mobil.

” Hyeong! Ada apa?” Tanya Baek Hyun, Joon Myun mencari dompetnya, sibuk di sofa.

” Hyeong! Joon hyeong! Ada apa?” Jongin setengah memekik. Joon Myun masih belum meresponnya.

” Hyeong!” Kyung Soo membentak dan mencengkram lengan Joon Myun.

Joon Myun terdiam, terduduk, tatapannya kosong, kemudian dia menangis.

” Aku harus segera pergi..” Ujarnya.

” Ada apa? Sesuatu terjadi?”

” Polisi menelepon.. Chan Yeol.. Chan Yeol—-” Joon Myun tidak melanjutkan ucapannya. Dia kembali menangis.

Baek Hyun, Sehun, Jongin dan Kyung Soo membeku, pikiran-pikiran buruk menjejali kepala mereka. Sesuatu terjadi pada Chan Yeol..

 

 

Continued~~

 

Sepatah dua patah kata :

Annyeong, Minna-san (/’o’)/

Hehehehehehehehehehe.. Udah masuk chapter 7, Alhamdulillah *sujud syukur* Terima kasih untuk para pembaca setia Daffodil, maaf ya kalau ceritanya mengecewakan dan gak bikin happy. Maaf kalau banyak kekurangan disana disini untuk cara saya membuat cerita jadi lebih manis.

Maaf juga untuk romancenya gak terlalu banyak seperti yang di harapkan. Haaaah~~ mendekati final chapter 😀 ini adalah FF chapter pertama saya, biasanya cuma bikin two-shoot hehehe.. Jadi, sekali lagi mohon maaf jika banyak kekurangan ya!

Okeeee~ tetep nantikan kelanjutan FF Daffodil ya Minna~~ Gomawo *bow*

52 responses to “DAFFODIL — Chapter 7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s