Butterfly [3]

jo-butterfly-luhanocver

Butterfly

 

Author : Jo

Leght : Chaptered

Rating: PG – 15

Genre : Romance, School life

Main Cast :

Luhan – Shin Yoora – Kim Jongin and others.

Credit Poster : Harururu98 @CafePoster 

A/N :

Bagi yang berminat silahkan membaca, jika selesai membaca harap memberikan komentar berupa kritik/saran, karena itu sangat membantu. Jangan menjadi seorang plagiat. Terima Kasih.

 Previous : Prolog | 1 | 2 |

 

***

 

Yoora tersenyum sinis kepada Jongin, ia baru saja mendapat lembar jawaban ulangan Kimianya dari Lee Songsaenim karena Jung Songsaenim sakit, sehingga beliau menitipkanlembar jawaban ulangan Kimia minggu lalu kepada Lee Songsaenim. Jongin meneliti kembali lembar jawaban ulangan Kimianya, dan memang tidak ada yang salah dari koreksi Jung Songsaenim, ia mendapat nilai 30.Yoora terkekeh pelan, “Ayolah Kim Jongin, jangan bersedih seperti itu. Kau hanya perlu mentraktirku selama 1 bulan setiap istirahat pertama.”

Jongin mendengus kesal kepada Yoora, “Aku bisa kehabisan uang mentraktir monster sepertimu yang hobi makan.” Yoora membulatkan matanya mendengar jawaban Jongin, “Hei berhenti mengataiku seperti monster, kau juga hobi makan !”

“Tidak sebanyak dirimu, Shin Yoora.” Bantah Jongin. Yoora melempar buku catatan Matematikanya yang berisi 100 lembar kearah Jongin, Jongin yang tidak mengetahui hal itu hanya pasrah saat buku catatan Matematika itu mengenai kepalanya, “Kau kasar sekali.”

“Biar saja.”

“Kau tidak lapar, monster ?” tanya Jongin. Yoora menggagguk, “Sangat. Bagaimana jika kita ke kantin sekarang ?” Jongin terkekeh, “Tentu saja, aku sudah menunggu jawaban itu darimu.”

 

***

 

Yoora mengocok bubble tea-nya, memeriksa apakah masih tersisa atau tidak. Jongin yang melihat kelakuan gadis itu mencubit lengan gadis itu pelan, “Beli lagi saja. Aku tidak senang melihatmu seperti itu.”

“Benarkah ?”

Jongin hanya mengagguk sembari memakan keripik kentang yang berada di depan Yoora. Yoora tersenyum jahil, gadis itu semakin memainkan tempat bubble teanya membuat Jongin membulatkan mata mengisyaratkan bahwa untuk segera berhenti melakukan hal konyol seperti itu.

“Jongin !” panggil seseorang dari kejauhan. Aktivitas Yoora terhenti sejenak, Yoora menengok kebelakang menatap siapa yang baru saja memanggil Jongin. Yoora mendesah pelan, ‘Luhan lagi ?’.

“Kau kenapa Yoora ?” tanya Jongin melihat gelagat sahabatnya yang aneh. Yoora mendengus sebal, “Aku tidak terlalu suka dengan saudaramu itu. Pengganggu saja.”

“Hai.” Sapa Luhan yang tengah berada diantara Jongin dan Yoora. Jongin tersenyum, laki-laki itu memberi tanda agar Luhan duduk disamping Jongin, Yoora bersiap meninggalkan meja namun Luhan sigap mencegahnya.

“Kudengar kau mendapat 90, jadi bagaimana perjanjian kita, Yoora-ya ?” tanya Luhan dengan tersenyum tipis.Yoora kembali ke posisi semula, gadis itu tersenyum miring. “Perjanjian apa, sunbaenim ?”

Konyol, jangan berpura-pura lupa Shin Yoora, batin Yoora.

“Kau lupa ? Kita akan kencan, bukan ?” tanya Luhan. Yoora mengaga tidak percaya, seingatnya ia tidak pernah berjanji untuk kencan bersama laki-laki aneh ini, melainkan untuk mengerjakan tugas dari Park Songsaenim.“Kau berkencan dengan, hyung ?” tanya Jongin serius, Yoora menatap Jongin aneh sejak kapan laki-laki itu bisa serius ? Ada nada yang berbeda dari ucapan Jongin sepertinya laki-laki itu sedikit cemas padanya?

“Tidak Jongin, kami hanya akan mengerjakan tugas dari Park Songsaenim. Aku berjanji pada Luhan sunbaenim, jika Kimia aku tidak remidial. Aku harus mengantarnya berkeliling kota Seoul.” Jelas Yoora pelan.

“Kenapa tidak memintaku saja ?” tanya Jongin.

Luhan terkekeh pelan, “Kau tidak bisa, bukankah kau akan datang ke pernikahan Kris hyung ? Jadi, kurasa aku hanya bisa meminta tolong pada gadis ini.” Jongin mengagguk mengerti.

“Jadi, kita akan kencan besok Minggu jam 08.00, aku menunggumu di taman dekat rumahmu. Berpakaianlah yang feminim, Shin Yoora.” Jelas Luhan sebelum laki-laki itu bangkit dari bangku meja kantin.

“Kita tidak kencan, kau juga tidak berhak mengaturku, sunbaenim.”

“Aku harus mengaturnya, karena kita kencan.” Luhan bangkit dan berjalan pergi meninggalkan Yoora serta Jongin. Yoora membatalkan ucapan yang baru saja ia hendak keluarkan untuk membantah Luhan.

 

***

 

Baiklah malam ini kita akan mendengar salah satu cerita cinta dari teman kita, Ahn Hyejin. Tetap stay tune di XOXO Fm.” Sayup-sayup suara radio yang ia nyalakan dari tadi mulai menggema di kamar besar Yoora. Gadis itu termasuk pendengar setia radio sekolahnya, menurutnya acara-acara yang diberikan cukup menarik dan tidak membosankan, tidak lupa satu hal, sekolahnya hanya menyiarkan 2 iklan saja. Tidak lebih, jadi kita tidak terlalu lama menunggu lama iklan yang diputar.

Itulah kisah dari teman kita Ahn Hyejin. Kita juga mendapat request dari salah satu teman kita, Kim Minseok yaiu lagu yang berjudul Angel lagu dari boyband EXO. Sampai disini dulu hari ini, selamat malam dan selamat menikmati. Annyeong ~

Yoora memejamkan mata meresapi setiap syair lagu Angel dari EXO yang menurutnya yang menyentuh hati. Sebenarnya ia beberapa kali request lagu-lagu EXO hanya saja, kadang mereka harus mengundi dahulu. Setidaknya menurut Yoora itu sangat yah, perlu keberuntungan ?

Tiba-tiba ponsel Yoora bergetar, gadis itu meraih ponselnya yang berada di nakas tepat disampingnya. Yoora membaca dengan pelan isi pesan yang baru saja diterimanya itu.

‘Hai, jangan lupa untuk besok, oke ? Jangan bangun terlambat, aku tidak suka gadis malas. Jangan lupa berpakaianlah yang feminim.’

Yoora mendengus sebal, memangnya laki-laki ini siapa sih ? Memerintahnya seenaknya sendiri. Memangnya dia managernya yang akan ribut dengan jadwalnya ?

Yoora mengetik dengan cepat untuk balasan.

‘Cerewet sekali. Kau laki-laki atau perempuan ?’

Send.

1 Menit kemudian..

Ponsel gadis itu bergetar kembali, Yoora semakin sebal membaca balasan yang diberikan Luhan padanya.

‘Mungkin, dua-duanya ? Bagaimana menurutmu ?’

Yoora terkekeh pelan ketika terlintas sebuah jawaban, yang menurutnya cukup kejam untuk pria itu, haha.

‘Kau tidak punya kelamin. Jika kau membalas, aku tidak akan menemanimu. Mengerti eonni ?

Send.

Yoora terkekeh pelan, ia bisa membayangkan mungkin Luhan memakinya dalam hati, atau bahkan ia membanting ponselnya karena kesal padanya ?

Atau dia akan—

Angan-angan Yoora hilang sudah ketika ponselnya berdering sangat keras dengan nada dering EXO – Angel. Yoora menatap layar ponselnya, disana tertulis nama seseorang yang baru saja ia bayangkan.

Waeyo ?!” ketus Yoora. Diseberang Luhan terkekeh pelan mendengar jawaban dari gadis itu, “Hei kau kenapa ? Kau tidak senang aku menelponmu ?”

“Tentu saja ! Aku ingin tidur.” Bantah Yoora. Luhan semakin tertawa, “Benarkah ? Kata Jongin kau biasanya tidur jam 2 malam. Kau bohong padaku ya ?”

“Bukan urusanmu sunbaenim, berhenti menelponku. Kau ingin aku besok menemanimu atau tidak ?!” ucap Yoora sedikit keras, gadis itu benar-benar merasa kesabarannya sedang diuji dengan menghadapi laki-laki semacam Luhan.

“Baiklah. Maaf, selamat malam.” Ujar Luhan lembut. Yoora mematikan ponselnya cepat, gadis itu menaruh kembali ponselnya diatas nakas yang sebelumnya ia sempat memasang timer agar ia bangun tepat waktu.

 

***

 

Luhan mengeluh dalam hati, ia benar-benar menyesal menekan tombol snooze pada timernya akibatnya ia harusbangun terlambat. Jika ia terlambat ia akan tergesa-gesa, bahkan ibunya sempat marah padanya karena ia tidak mempersiapkan segalanya. Luhan mendesah pelan saat ia terbayang wajah gadis ketus itu saat akan bertemu Luhan nanti, apa yang akan dikatakannya padanya nanti ? Apakah ia sangat marah ? Tersenyum dan berkata ‘Gwechana sunbaenim. Aku baru saja menunggu.’atau lebih parahnya ‘Sunbaenim, kau sudah makan ?’ .

Ah, ia memilih jawaban pertama saja, ia sangat yakin gadis itu akan memarahinya panjang lebar karena ia menyuruh gadis itu untuk tidak terlambat sedangkan dirinya datang terlambat. Ini sangat memalukannya.

Luhan menstater pelan sepeda motornya, menimbulkan bunyi yang sedikit mengganggu telinganya. Luhan menaiki sepeda motornya, “Ibu aku berangkat !” teriak Luhan ketika keluar dari pagar rumahnya. Laki-laki itu segera menarik gas motornya dan bergabung di jalan raya dekat rumahnya

Luhan melirik jam tangan yang berada di pergelangan tangan kanannya, memastikan waktu yang ia tempuh. Ia sudah menempuh waktu selama 10 menit, masih butuh 2 menit lagi untuk sampai di tempat perjanjian mereka. Luhan menarik gas sepeda motornya untuk menambah kecepatan motornya.

“Semoga ia tidak meraung-raung seperti singa.” Ucap Luhan pelan.

***

 

Yoora menekan tombol kunci untuk menampilkan jam digital yang berada didalam ponselnya, 08.12. Yoora mendengus kesal, seharusnya ia makan pagi dahulu sebelum berangkat jika tahu akhirnya seperti ini. Perutnya sejak tadi berbunyi seakan berdemo untuk meminta asupan dari sang tuan. Sedangkan ia tidak membawa uang sepersen pun karena ia terlalu gugup, ia takut ia terlambat dan akan dipermalukan Luhan, dan ternyata ia salah.

Ponsel Yoora berdering keras, gadis itu segera mengangkat panggilan yang memasuki ponselnya, “Yoboseyo ?”

“Yoora, kau sudah bersama hyung?” tanya Jongin dari seberang, Yoora terkekeh pelan, “Belum. Kurasa hyung-mu itu akan kuberi hukuman karena telat. Kau tahu aku sama sekali belum makan karena takut terlambat.”

“Haha, benarkah kau takut terlambat ? Atau kau mempertahankan harga dirimu nona ?” gurau Jongin, “Mungkin juga. Kau sudah berada di Jepang ?”

“Sudah, kau tidak makan dulu saja sambil menunggu hyung ?”

“Tidak. Aku akan memarahinya dulu, baru aku menyuruhnya untuk mengantarku makan.” Jelas Yoora dengan bersemangat. Jongin terkekeh pelan, “Baiklah, jaga kondisimu. Besok aku sudah pulang, jangan rindu padaku ya ?”

“Tidak, aku tidak akan merindukanmu. Jangan lupa bawa oleh-oleh untukku, ya?” Yoora memainkan anak rambutnya dengan jemari-jemari lentiknya. “Ah kupikir kau akan rindu padaku.”

“Tidak sama sekali.” Bantah Yoora.

“Aku rindu padamu.”

Yoora berhenti memainkan anak rambutnya ketika ia tidak bisa mendengar ucapan Jongin saat itu, “Halo ? Jongin kau bilang apa tadi ?”

“Ah, aku akan membawakanmu oleh-oleh. Tenang saja.” Jawab Jongin. Yoora mengangguk pelan, “Baiklah. Sampai nanti.”

Yoora memicingkan matanya saat ia merasa kenal dengan seseorang yang tengah berlari kearahnya membawa dua buah kotak berwarna putih. “Maaf, aku menunda timer-ku.” Ujar Luhan saat laki-laki itu berdiri tepat didepan Yoora, laki-laki itu masih tampak berusaha mengatur nafasnya akibat berlari.

“Maaf aku—“

Jjangmyeon.” Potong Yoora. Luhan menaikkan alisnya sebelah, “Apa ?” Yoora mengerucutkan bibirnya, “Jjangmyeon. Aku akan memaafkanmu jika kau membelikanku jjangmyeon. Aku lapar.”

“Kau belum makan ?” tanya Luhan yang mulai bisa mengatur nafasnya, laki-laki itu mulai berbicara seperti biasanya, “Belum. Aku terlalu takut terlambat sampai lupa makan, sunbaenim. Jadi, kau harus tanggung jawab.”

“Tapi aku s—“

Pppali ! Aku lapar sekali.” Yoora bangkit dari kursinya, gadis itu berjalan mendahului Luhan, Luhan berhenti sejenak, laki-laki itu mengambil ponselnya dan memotret gadis itu dari belakang dengan background taman yang indah.

Tiba-tiba gadis itu membalikkan badan membuat Luhan gugup harus bagaimana, “Sunbaenim, dimana sepeda motormu ?” tanya Yoora. Luhan bernafas lega, “Sebentar, kita jalan bersama saja.”

 

***

 

Luhan menatap gadis dihadapannya kini dengan kasihan, bagaimana tidak ? Apa gadis ini begitu sangat kelaparan sampai ia harus menambah 3 porsi ? Luhan yang berada di depannya hanya menantapnya bingung, terkejut atau ? Yoora yang merasa dipandang terus menerus mengadahkan wajahnya menatap Luhan. “Wae ?” . Luhan menggeleng pelan, “Makanmu banyak juga. Kau jago makan ya ?”

“Tidak perlu tahu.” Desis Yoora. Luhan memandang kembali gadis itu, “Kau membawa uang, ‘kan ?” Yoora terdiam sejenak, uang ? Ia tidak membawa uang sepersen pun hari ini, lalu jika ia sudah memakan jjangmyeon sebanyak ini siapa yang akan membayar ?

“Luhan sunbaenim.” Panggil Yoora halus. Luhan terkekeh dalam hati, ‘Biar kutebak gadis ini pasti tidak membawa uang. Lucu sekali.

Luhan membuka ponselnya berpura-pura sedang sibuk, “Wae ?” Yoora memainkan anak rambut yang berada di kanan dengan tangan kanannya pelan, “Aku bisa pinjam uang atau tidak ? Aku tidak membawa uang.”

“Apa imbalannya ?” tanya Luhan tanpa menatap gadis itu. Yoora tampak berpikir sejenak, lalu gadis itu tersenyum, “Tapi ini ‘kan sebuah tur, berarti ini termasuk dalam tur. Yaitu tur makan, bukan ?”

Luhan memicingkan matanya sebelah menatap Yoora datar, “Jadi, aku harus membayar seluruh porsi makanmu ini ? Sebanyak ini ?” Yoora terkekeh, “Tentu saja.” Luhan menggeleng pelan, “Tidak. Aku akan pergi jika kau tidak menjawab pertanyaanku yang tadi.”

“Silahkan.” Acuh Yoora. Luhan bangkit dari kursinya, laki-laki itu mengambil mantel yang berada dikursinya bersiap memakainya, “Baiklah-baiklah. Aku akan menemanimu sampai jam 9 malam. Bagaimana ?” tahan Yoora.

Luhan terdiam lalu menggeleng, “Kurang setimpal.” Yoora menarik nafas panjang, “Aku akan menjadi asistenmu 1 hari ini. Bagaimana ?”

“Baiklah. Aku akan membayarnya untuk tawaran tersebut.” Luhan tersenyum menang, Yoora meruntukki dirinya sendiri dalam hati bagaimana bisa ia kalah debat dalam hal makanan, dan ia baru saja menawarkan apa ? Menjadi asisten Luhan ? Come on, bahkan ia tidak pernah mau seseorang meminta-minta tolong pada dirinya, dan sekarang ?

Sial.’ Batin Yoora dalam hati.

 

***

 

Yoora menghela nafas panjang saat Luhan mengucapkan tempat-tempat tujuan mereka selama satu hari penuh ini. Yoora memejamkan matanya sebentar mengingat-ngingat kembali tempat tujuan mereka hari ini. Sungai Han, Desa Hanok, Namsan Tower dan ah ia lupa.

Yoora membuka matanya perlahan saat ia benar-benar merasa yakin bahwa tempat yang mereka kunjungi tidak terlalu menguras habis tenaganya untuk satu hari penuh ini. Mata Yoora terbuka lebar dengan sempurna saat matanya menangkap objek yang benar-benar tidak biasa, dihadapannya kini Luhan sedang menatapnya dengan alis terangkat sebelah sedangkan jarak wajah mereka hanya terpaut kurang lebih 5 cm.

“Kau tidak tidur, bukan ?” tanya Luhan masih dengan posisi yang sama. Yoora hanya menggeleng pelan, “Tidak.” Luhan terkekeh pelan, “Wajahmu lucu sekali saat kudekati seperti itu.”

Yoora mengerjapkan matanya berkali-kali mendengar ucapan Luhan yang aneh dan mencoba untuk mencermatinya. “Sampai kapan kau memasang wajah orang tolol seperti itu ? Kajja !” Luhan menarik lengan Yoora cepat membuat gadis itu hanya menurut dengan tindakan Luhan yang sangat mendadak.

Disaat seperti ini Yoora melihat sisi lain Luhan, disekolah dia memang sangat terkenal baik, ramah, sopan dan pintar. Tapi penggemar Luhan mungkin mulai berkurang jika tahu kelakuan Luhan saat ini. Luhan memutar badannya seperti baling-baling dengan memejamkan mata, lihat kekanak-kanakan sekali, bukan ? Luhan menghentikan kegilaannya sejenak, laki-laki itu mendekati Yoora. Tangan laki-laki itu terulur kedepan mengajaknya untuk merasakan kegilaan yang baru saja ia lakukan tadi. Yoora menggeleng pelan.

Luhan tidak peduli, laki-laki itu menarik Yoora sekarang mereka ditengah-tengah taman dekat Sungai Han. Luhan mulai berputar-putar kembali, Yoor mundur beberapa langkah, gadis itu mengambil ponselnya merekam adegan gila Luhan saat ini. Sekitar satu menit lebih ia sudah merekam lalu menghentikkannya. Yoora berjalan mendekati Luhan, laki-laki itu tampaknya sangat senang sampai ia tidak menyadari Yoora yang berada dibelakangnya.

“Luhan sunbaenim, kau akan mengerjakan tugasmu, ‘kan ?” tanya Yoora memastikan. Luhan menghentikan aktifitasnya, seakan sadar ia mempunyai tugas sehingga ia berkeliling kota Seoul bersama gadis itu.

“Oh, aku lupa. Aku terlalu senang, udara disini sangat segar. Tidak seperti China, sangat bepolusi.” Tutur Luhan. Yoora hanya mengangguk mengerti, “Eum, apakah tugas ini membutuhkan dokumentasi ?”

Luhan tampak berpikir sejenak lalu mengangguk, “Aku lupa. Bisakah kau mengambilkan fotoku ?”

“Narsis sekali.” Desis Yoora.

“Aku tahu Shin Yoora, kau ingin berfoto denganku, bukan ? Makanya kau mendesis seperti itu. Cepat ambil fotoku.” Canda Luhan. Yoora hanya menggerutu dalam hati, Yoora mengatur kamera Luhan sejenak sebelum akhirnya mengambil foto laki-laki itu.

“Bagaimana ? Bagus ?” tanya Luhan sembari menghampirinya. Yoora menunjukkan foto yang baru saja diambilnya. Luhan tersenyum puas.

“Sekarang kita berdua yang berfoto.” Ujar Luhan.

Andwaeyo ! Aku tidak suka berfoto.” Elak Yoora. Luhan menggeleng tegas, seakan permintaannya tidak boleh dibantah sedikit pun. Laki-laki itu menarik Yoora menuju tempat yang sebelumnya sebagai tempat fotonya, gadis itu hanya pasrah saat cengkaraman kuat tangan Luhan menariknya.

Luhan menepuk salah satu pengunjung yang berada tidak jauh darinya, “Bisakah kau mengambil fotoku dengan gadis itu ?”

Pengunjung itu hanya mengangguk setuju. Luhan berjalan menghampiri Yoora yang tampak gelisah, “Ayolah ini kenang-kenangan.”

Hana…..Dul……Set…..Klik !” Pengunjung itu mengambil foto mereka berdua, Yoora hanya tersenyum sekadarnya sedangkan Luhan bergaya dengan tersenyum lebar. Luhan memberi tanda agar pengunjung itu mengambil foto mereka sekali lagi.

Hana….Dul….Set…..Klik !” Kini Luhan mengalungkan tangannya tepat di leher Yoora dengan tertawa sedangkan ekspresi Yoora terkejut dengan menghadap Luhan.

Kamsahamnida.” Tutur Luhan saat pengunjung itu mengembalikan kamera Luhan. Yoora masih terdiam dengan perlakuan Luhan saat mereka berfoto tadi.

“Kenapa diam ?” tanya Luhan dengan menghampiri Yoora yang amsih tampak diam seribu bahasa. Yoora menatap Luhan dengan tajam, “Sunbaenim, jaga sikapmu. Kau tidak boleh asal mengalungkan tanganmu seperti itu padaku. Aku merasa tidak nyaman.”

Luhan mengerucutkan bibirnya, mengekspresikan bahwa dia sangat menyesal, “Maaf Yoora-ya, aku tidak tahu hal itu. Bagaimana jika kita melanjutkan tur kita ?” Yoora tersenyum kecil, “Baiklah.”

Oke Luhan apa kau baru saja melihat gadis itu marah ? Kau ini bagaimana sih ?’ omel Luhan dalam hati.

Saat Yoora membalikkan badan berjalan mendahului Luhan, laki-laki itu menekan ‘on’ pada kameranya. Dengan cepat ia memotret gadis itu yang tengah berjalan mendahuluinya. Lalu, ia menekan tanda ‘off’. Luhan hanya tersenyum

 

***

Namsan Tower, 20.40

Yoora mendudukan dirinya disalah satu bangku dekat kolam air mancur, saat ia duduk rasanya ia baru saja melepas rasa lelahnya walau hanya sedikit. Luhan yang melihat gadis itu kelelahan berinisiatif membeli minuman kaleng untuk mereka berdua. Jujur, ia memang lelah perjalan mereka memakan banyak waktu terutama tempat kunjungan terakhir mereka ini, lalu mereka banyak berjalan. Belum lagi Yoora menjelaskan tentang sejarah tempat ini itu, dibalik sikap dingin dan cuek gadis itu, Luhan tahu Yoora adalah tipe-tipe orang yang perhatian, ceria, dan tak lupa ‘cerewet’. Bahkan gadis itu berantusias saat Luhan memintanya untuk mengambil gambar dirinya dengan salah satu patung bersejarah di sebuah museum.

“Permisi, anda membeli apa ?” tanya salah satu pelayan toko fish&chips yang membuat lamunan Luhan terhenti sesaat. Luhan tersenyum kikuk, “Fish & Chips 2, coca-cola 2. Apa anda mempunyai tissue ? Jika ada saya membeli satu.”

Pelayan itu berjalan kedalam memeriksa apakah yang dipesan Luhan mereka ada, pelayan itu kembali dengan tersenyum ramah yang tak pernah lepas dari bibirnya. “Kami mempunyai semuanya, tunggu 10 menit. Total semuanya 20,000 won.”

Luhan mengambil dompet yang berada dalam tasnya dengan segera, “Ige.”

Pelayan itu tersenyum kembali. Luhan berdiri sesekali menengok sebelah kanan, memastikan bahwa gadis itu masih menunggunya disana. Dan benar gadis itu masih tetap ditempat yang sama dengan menatap langit malam penuh bintang. Luhan tersenyum tipis.

Luhan membalikkan badan saat itu juga pelayan yang melayaninya menyerahkan pesannanya, “Ini pesanan anda, kamsahamnida.”

Luhan membungkuk, “Kamsahamnida.”

Luhan bergegas berjalan mendekati Yoora yang masih menatap langit malam dengan tatapan kosong. Luhan mengeluarkan satu kaleng coca-colayang masih dingin dengan cepat dan menaruhnya tepat di depan Yoora, sejenak gadis itu menyadari Luhan sudah berada disampingnya kembali.

“Untukku ?” tanya Yoora dengan menatap Luhan. Luhan mengangguk , “Tentu saja, kau tampaknya sangat lelah hari ini. Aku minta maaf sekali.”

Yoora menggeleng pelan, gadis itu mengambil minuman kaleng yang Luhan pegang sejak tadi, “Tidak apa-apa. Aku suka berjalan-jalan, kau tidak perlu minta maaf, sunbaenim. Aku merasa senang hari ini.”

“Karena ?”

“Aku bisa berkeliling Seoul lagi, aku jarang melakukannya. Aku lebih suka berdiam diri dirumah, dan makan.” Keluh Yoora. Luhan duduk disamping gadis itu, “Aku membelikan fish & chips kuharap kau menyukainya. Kau pasti lapar, bukan ?”

Yoora mengangguk menyetujui, Luhan mengeluarkan 2 fish & chips yang semenjak tadi berada di dalam plastik, laki-laki itu segera memberikannya pada Yoora. Gadis itu tampak sangat lapar, matanya yang sayu tiba-tiba berbinar-binar karena melihat makanan di hadapannya.

Mereka makan dalam diam, Luhan menatap gadis itu, “Yoora-ya.” Tiba-tiba ponsel Yoora yang berdering memecahkan suasana tegang diantara mereka berdua, membuat Luhan mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan gadis itu.

Yoboseyo ?”

“….”

“Oh Jongin-ah ? kau sudah sampai di Seoul ?”

“….”

“Syukurlah. Ne, aku masih bersama Luhan sunbaenim. Wae ?”

“….”

“Kami sedang makan fish & chips.”

“….”

“Tidak, disini masih ramai. Kau tidak perlu khawatir, tampaknya hyungmu itu bukan orang jahat.”

“….”

“Kenapa menanyakan keberadaanku ? Kau mau kemari ?”

“….”

“Tidak usah. Aku pulang bersama Luhan sunbaenim. Sudah ya, kau mengganggu makan malamku.”

Lalu sambungan terputus setelah gadis itu melontarkan jawaban terakhir itu. Luhan menatapnya, “Jongin ?”

Gadis itu masih menikmati fish & chips-nya dengan lahap tanpa memandang Luhan, “Menurutmu ? Jongin aneh sekali, dia sedikit protektif jika aku bersamamu sunbaenim.”

“Karena dia menyukaimu.” Ujar Luhan acuh tak acuh dengan mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Luhan merasa sesuatu ganjil dengan perasaanya, dia merasa tidak suka dengan kelakukan Jongin yang terlalu protektif pada gadis disampingnya, memangnya dia tidak percanya pada Luhan ? Luhan tidak akan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal dan diluar hukum.

“Menyukaiku ? Kurasa kau salah pengertian, karena kau baru mengertinya mungkin, sunbaenim.” Ujar Yoora pendek.

Luhan hanya terdiam, tidak menimpali jawaban gadis itu sama sekali.

 

***

 

Jongin bangkit dari kursi kamarnya dengan cepat, laki-laki itu segera mengambil jaket kulit yang menggangtung pada lemari pakaiannya. Jongin menuruni anak tanggan rumahnya dengan cepat, ibunya menatap Jongin dengan bingung.

“Jongin ? Kau mau kemana ?” tanya Ibunya. Jongin tersenyum manis, “Aku akan menjemput Yoora di Namsan Tower.”

Ibu Jongin menatap putranya itu dengan salah satu alis terangkat keatas, “Sekarang ? Kau baru saja datang dari Jepang, sayang. Kau pasti sangat lelah.”

Jongin mendekati ibunya dengan terkekeh, “Tidak, untuk Yoora aku tidak akan pernah lelah,bu. Oh ya bu—“ Cup. Jongin mencium kening ibunya sekilas lalu berlari keluar dari rumah megahnya.

Ibu Jongin hanya terdiam, kemudian di sudut bibirnya membentuk lekukan kecil. “Jadi, kau menyukai Yoora ?”

Tak selang lama, bunyi gas mobil Jongin meninggalkan rumah keluarga Kim terdengar dengan jelas, semakin lama bunyi itu menghilang.

 

 

Jongin menuruni mobil mewahnya dengan pelan, laki-laki itu berjalan memasuki pintu gerbang Namsan Tower. Jongin segera melacak GPS Yoora, ia tahu gadis itu tidak pernah mematikan GPS-nya. Karena ibunya sering memantau dimana gadis itu berada. Jongin melihat ada dua tanda di Namsan Tower, itu berasal dari GPS Yoora dan Luhan. Berarti mereka memang masih bersama. Jongin berjalan dengan cepat, tinggal beberapa langkah lagi ia akan menemukan gadis itu berada.

Jongin menghentikkan langkahnya saat ia melihat Luhan tengah menyodorkan sebuah topi yang bertuliskan ‘Namsan Tower’ kepada Yoora. Gadis itu menatap Luhan bingung, tetapi Luhan hanya memberinya instruksi untuk segera memakainya, Luhan sendiri memakai topi itu. Yoora mengenakan topi sesuai perintah Luhan. Dari kejauahan mereka tampak seperti sepasang kekasih yang tengah menikmati keindahan langit penuh bintang di Namsan Tower.

Nafas Jongin mulai memburu, setahu dirinya Yoora bahkan tidak suka mengenakan topi. Selama beberapa tahun mereka berteman, Yoora tidak pernah mau menuruti perintah orang lain kecuali orang-orang tertentu bahkan dirinya sekalipun.

Jongin berjalan pelan mendekati kedua insan itu. “Hai.” Sapa Jongin. Yoora membalikkan badan dan menatap Jongin dengan ekspresi terkejut, “Astaga Kim Jongin ! Kenapa kau kemari ?”

“Memangnya tidak boleh ?” tanya Jongin datar. Yoora tersenyum tipis, “Tidak, hanya saja aku memberitahumu untuk tidak kemari, bukan ? Kau pasti lelah.”

Jongin menggeleng pelan, “Aku tidak lelah, Shin Yoora.” Yoora mengangguk paham, “Oh ya, kau sedang marah, huh ? Nada bicaramu sedikit er—ketus.”

“Tidak kok.” Jongin mengelus pelan rambut Yoora. Luhan yang berada dibelakang Yoora hanya diam memandangi mereka berdua.

Jongin yang merasa ditatap mengalihkan pandangannya dari Yoora menuju Luhan. “Hyung ? Kau tidak pulang ?”

Luhan tersenyum tipis, “Baru saja kami ingin pulang. Ternyata kau kemari. Bisakah kau mengantar Yoora ? Aku harus pulang sekarang.” Jongin mengangguk menyetujui. Yoora menatap Luhan bingung, “Kau tidak mengantarku ?”

Wae ? Kau ingin aku mengantarmu pulang ?” goda Luhan. Yoora membulatkan matanya, “Kau terlalu percaya diri sekali, sun—“

“Sudahlah Yoora-ya, Luhan hyung akan pulang.” Potong Jongin. Yoora melirik Luhan sekilas, “baenim.” Tambahnya untuk ucapannya yang terpotong.

“Baiklah.” Luhan berjalan meninggalkan Jongin dan Yoora. Pria itu mengepalkan kedua tangannya yang berada dalam saku jaketnya saat berada jauh dari kedua orang itu.

 

***

 

Yoora merebahkan dirinya diatas ranjang empuknya, hari ini memang membuatnya lelah bahkan dugaannya tentang tenaganya tidak akan habis, salah besar. Yoora memikirkan kembali ucapan Luhan saat laki-laki itu mengatakan bahwa Jongin menyukainya. Ia rasa pria itu terlalu menyimpulkan dengan cepat, karena Jongin memang selalu seperti itu padanya jika ia pergi bersama lelaki lain, kecuali Jongin dan Ayahnya.

Yoora bangkit dari ranjangnya, berjalan menuju tape radio kamarnya yang berbentuk stich bewarna biru muda. Menekan tombol ‘on’ lalu ia kembali merebahkan dirinya diatas ranjang, lelah.

“—hari ini kita akan mengadakan kuis, bagi mereka yang bisa menebak kuis ini. Kalian akan mendapatkan hadiah—“

Yoora bangkit kembali mendekati radionya dan menekan ‘off’ untuk mematikan. Tidak ada siaran radio yang bagus hari ini. Yoora kembali ke ranjang, merebahkan dirinya sejenak. Tanpa ia sadari rasa kantuk mulai menyerangnya, membuatnya mau tidak mau harus menutup mata. Membiarkan dirinya beristirahat.

 

***

 

Luhan tengah termangu di dekat jendela kamarnya memikirkan ucapan yang baru saja ia lontarkan pada gadis itu, Shin Yoora. Jujur, ia sendiri tidak tahu mengapa ia mengatakan hal itu tiba-tiba didepan gadis itu. Ia tidak peduli Jongin seperti apa pada Yoora, entah protektif atau overprotektif. Tapi, ia tidak suka ketika Jongin berpikir bahwa ia tidak bisa menjaga Yoora dengan baik, memangnya dia waria ? Gila. Ah, satu lagi. Ia sangat tidak suka saat Jongin memotong pembicaraannya dengan gadis itu, harusnya dia tahu bahwa Luhan tengah berbicara dengan Yoora. Apa Jongin tidak tahu itu ? Memangnya dia suka jika ia memotong pembicaraannya dengan Yoora ? hah ?

Sekarang kenapa kau harus marah-marah karena Jongin mengganggu acara kalian, Luhan ?’ keluhnya dalam hati. Luhan memukul kepalanya pelan, hendak membuat dirinya sadar apa yang baru saja ia keluhkan. Ia yakin, ia hanya marah karena hal sepele tidak lebih. Karena ia tidak mempunyai perasaan apapun terhadap gadis itu. Ya, ia tidak punya sama sekali. Sama sekali tidak.

“Apa dia sudah tidur ?” pikir Luhan. ‘Oh, sekarang ia tengah mengkhawatirkan gadis singa itu, berhenti memikirkan sesuatu yang tidak berguna Luhan !’ keluhnya lagi.

Luhan bangkit dari jendela kamarnya berjalan mendekati meja belajarnya yang masih terang karena lampu belajar yang belum sempat ia padamkan. Laki-laki itu melirik jam dinding yang berada di kamarnya, jam 4 pagi. Luhan mengerang dalam hati, ia benar-benar tidak menyangka insomnia yang ia derita selama 2 bulan ini tak kunjung hilang. Membuatnya setiap saat harus meminum obat yang diberikan dokter padanya.

Luhan mengambil obat yang berada dimeja belajarnya, laki-laki itu segera menelan 1 butir obat, yang ia inginkan sekarang adalah tidur. Ya, tidur. Ia sangat lelah sekali, badannya bahkan ingin remuk.

Laki-laki itu berjalan gontai menuju ranjangnya, merebahkan dirinya, lalu menutup matanya perlahan. Membiarkan dirinya berjalan menuju dunia mimpi dan menyambut hari esok dengan keadaan benar-benar baik.

 

***

 

Yoora menepuk dahinya keras, gadis itu benar-benar lupa jika hari ini ia berjanji akan membersihkan ruang kelas. Ia terlambat bangun, karena kemarin malam badannya benar-benar membutuhkan istirahat yang cukup ia sampai tidak mendengar alarm ponselnya yang tengah berbunyi, yah ia terlalu lelap dalam tidur.

“Hei, kau terlambat Shin Yoora.” Ujar seseorang yang tengah menyamakan langkah lebar Yoora, Luhan. Yoora hanya menatapnya tanpa membalas. Luhan terkekeh pelan, “Jangan memasang wajah yang mengerikan di sabtu yang cerah seperti ini.”

“Memangnya aku peduli ?” ketus Yoora. Luhan mengangkat kedua bahunya serentak, “Mungkin saja ?”

Yoora mendengus kesal, gadis itu semakin mempercepat langkahnya ia berharap ruang kelasnya hanya tinggal 100 meter saja agar ia tidak bertemu laki-laki cerewet ini. Namun, tampaknya kelasnya tak kunjung terlihat membuat gadis itu mendesah pelan. “Kau suka mengeluh, ya ?”

Yoora masih tetap diam. “Mengeluh itu tidak baik, kau harus tetap menjalani hidup bagaimanapun itu masalahmu.” Ujar Luhan bijak. Gadis itu berhenti melangkah, membuat Luhan juga berhenti melangkah.

“Ada apa ?”

Yoora memicingkan matanya, membuatnya menajdi sipit, “Kau tidak perlu menasehatiku, sunbaenim. Urus saja dirimu sendiri.” Luhan terdiam lalu tersenyum tipis, “Arra. Kau semakin cantik jika marah.”

Yoora membeku, blush. Pipinya sontak merona merah dengan sempurna, yah walaupun dia sangat ketus dan cuek. Tapi, Shin Yoora tetaplah seorang perempuan, jika ia dipuji ia akan merasa senang, pipi merona. Dan sekarang itu terjadi padanya. ‘Oh, jangan sampai kau terlihat tersipu dihadapan laki-laki ini, Shin Yoora.’ Batinnya.

“Oh ? Benarkah ?”

Luhan mengangguk pelan. “Simpan saja rayuanmu untuk penggemar yang berada dibelakangmu, sunbaenim.” Ujar Yoora datar. Gadis itu berbalik dan berjalan cepat kembali.

Luhan tersenyum tipis, “Kau benar-benar.” Luhan membalikkan badan, matanya melebar sempurna dihadapannya kini penuh dengan penggemarnya yang tengah menatapnya dengan intens, Luhan hanya mengeluh dalam hati. Pasrah, saat penggemar Luhan menarik Luhan menuju kantin.

Dari jauh, Yoora memandang Luhan kasihan. Yoora kembali berjalan, membiarkan Luhan yang tampak butuh bantuan.

 

***

 

Kim Jongin menyeruput pelan orange juice yang berada dihadapannya, sedangkan gadis yang berada didepannya itu sejak tadi hanya mengaduk-aduk pelan orange juice-nya, Jongin menatap Yoora aneh. Apa yang gadis itu lakukan ? Melamun ?

“Shin Yoora.” Panggil Jongin pelan. Yoora tampak tidak mendengar panggilan Jongin padanya, gadis itu masih sibuk dalam dunianya. Jongin melambai-lambaikan tangan tepat di depan gadis itu, membuat Yoora mengerjapkan matanya berkali-kali, sadar.

“Ada apa Jongin ?”

Jongin menatap Yoora aneh, “Seorang Shin Yoora, melamun ? Kau kenapa ?” Yoora menggeleng pelan, “Ani.”

“Jujur padaku.”

Yoora menggigit salah satu ujung bibirnya, “Apakah aku, cantik ?” . Jongin membeku, menghentikkan aktifitasnya sejenak, memandang teman dekatnya itu kikuk. Jongin tidak percaya, gadis itu sejak tadi melamun hanya karena ia bertanya apakah dia cantik ? Oh ayolah, Shin Yoora tidak mungkin menanyakan hal seaneh ini padanya, apa yang baru saja gadis itu lakukan ? Jongin tidak memungkiri hal itu, gadis itu memang cantik. Hanya saja karena ia ketus, cuek membuat laki-laki berpikir bahwa dia gadis yang tidak manis. Tapi, tidak bagi Jongin karena ia adalah sahabat Yoora sejak mereka berada di taman kanak-kanak, ia mengenal Yoora dengan baik. Gadis itu sangat manis, ya, dia sangat manis sampai Jongin benar-benar sangat menyukainya sejak kecil. Ia sempat senang karena tidak ada yang berani mendekati gadis itu, berarti itu memberi Jongin peluang untuk semakin dekat dengannya.

Tapi, Luhan. Sepupunya itu tiba-tiba mulai dekat dengan Yoora membuat laki-laki itu sedikit was-was dengan kedekatan mereka. Ia benar-benar tidak rela jika Yoora bersama Luhan, ia tidak ingin Yoora bersama laki-laki buruk itu. Ia tidak ingin melihat mereka bersama.

Ia—

“Jongin ?” panggil Yoora. Lamunan Jongin hilang seketika saat suara gadis itu memanggil namanya, “Nde?”

“Kau mendengar pertanyaanku tadi, bukan ?” tanya Yoora. Jongin mengangguk, “Kau cantik, bodoh. Kau tidak perlu takut. Wae ?”

Gwechana.”

Jongin hanya mengangguk.

 

***

 

Hei Shin Yoora, kau berada di kelas, bukan ?Yoora membaca pesan singkat yang baru saja masuk kedalam ponselnya. Ia tidak mengerti kenapa Luhan mengirimnya pesan singkat seperti itu, memangnya jika ia berada di kelas kenapa ?

Wae ?

Tidak sampai satu menit, pesan balasan memasuki ponselnya. Yoora mengangkat alisnya sebelah, semakin tidak mengerti maksud Luhan.

Aku kesana. Tunggu.

“Shin Yoora, Luhan sunbae mencarimu.” Panggil salah satu temannya, Yoora mengalihkan pandangannya dari ponsel menuju arah pintu. Disana ia melihat temannya tengah tersenyum sembari memberi tanda bahwa Luhan menunggunya, Yoora bangkit dari kursinya berjalan menuju pintu kelasnya.

Wae ?” tanya Yoora ketus saat berada dihadapan Luhan. Luhan hanya tersenyum tipis, “Aku belum berfoto secara resmi denganmu.”

“Resmi ?”

“Ya, Park Songsaenim meminta foto menggunakan seragam sekolah. Beliau tidak menerima fotoku menggunakan baju bebas. Kajja.” Luhan menarik siku Yoora agar berdekatan dengannya, Luhan memberi tanda agar salah satu teman Yoora megambilkan foto mereka berdua. Baekhyun, teman sekelasnya sekaligus ketua kelas 1-1 segera mengambil foto mereka berdua.

“Tersenyumlah.” Bisik Luhan tepat ditelinga Yoora, membuat gadis itu membeku. Ketika hitungan ketiga Luhan tersenyum, Yoora tersenyum tipis. Tidak ada salahnya jika ia berfoto dengan tersenyum, bukan ? Toh ini tugas sekolah, ia harus tampil cantik.

Luhan mendekati Baekhyun, segera mengambil kameranya. Luhan mengucapkan terima kasih kepada Baekhyun, namun tampaknya Luhan tidak hanya berterima kasih, laki-laki itu memberi isyarat sesuatu. Yoora tidak peduli, gadis itu berbalik dan berjalan menuju dalam kelas.

“Hei, Yoora. Terima kasih.” Ujar Luhan yang ia yakin Yoora tetap mendengarnya walaupun gadis itu telah memasuki kelasnya.

Terima kasih, karena hari ini aku mempunyai foto bersamamu.’ Tambahnya dalam hati. Perasaanya tiba-tiba terasa ringan setelah berfoto dengan gadis itu. Ah, ia tidak tahu ini perasaan apa-apa, tiba-tiba saja saat di dalam kelas ia berpikir untuk foto bersama dengan gadis itu.

Luhan menatap hasil dua foto jepretan Baekhyun, laki-laki itu tersenyum. Ia tengah melihat foto, Luhan dalam keadaan membisikkan sesuatu tepat di telinga Yoora. Sedangkan Yoora dengan ekspresi terkejut. Satunya lagi mereka bergaya resmi.

Ini foto yang manis.’ Batinnya.

Dari kejauahan seseorang menatap Luhan dengan tidak suka. Kim Jongin, pria itu mengikuti Luhan dari belakang. Ia ingin berbicara antara sesama pria.

Saat Jongin merasa berada di tempat yang tepat, Jongin menepuk bahu Luhan. Membuat Luhan mengalihkan padangannya dari kamera digital yang sejak tadi ia pegang. “Oh, Jongin ? Ada apa ?”

Jongin tersenyum tipis, “Bisa kita berbicara sebentar? Tampaknya disini sepi, jadi aku berbicara disini.”

“Baiklah.” Luhan mengangguk mengerti. Jongin menarik nafas panjang, “Kau menyukai Shin Yoora, hyung ?”

Luhan terdiam, ia tidak ingin terlihat bingung dihadapan sepupunya itu. Luhan mencoba mengatur deru nafasnya yang tidak teratur, ia takut menjawab karena ia sendiri belum bisa memastikan perasaannya pada gadis itu.

Hyung ?”

Luhan tersenyum, “Kenapa kau bertanya seperti itu ?”

Jongin menggeleng pelan, “Jawab saja hyung.” Jongin menatap manik mata Luhan yang teduh. Jika Jongin seorang perempuan mungkin ia akan langsung tergila-gila dengan pria ini. Tapi, ia seorang pria, oke ?

Hyung ?” Panggil Jongin sekali lagi, memastikan Luhan mendengar pertanyaannya. Menurutnya Luhan membuat dirinya penasaran karena sikap laki-laki itu pada Yoora yang membuatnya tidak bisa membiarkan mereka selalu berdua.

“Biar kupikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaanmu itu. Kim Jongin-ssi.” Jawab Luhan santai. Pria itu tersenyum.

Jongin tersenyum miring, laki-laki yang berada dihadapannya ini benar-benar membuatnya takut akan kehilangan gadis yang bernama Shin Yoora itu.

“Jika kau menyukai gadis itu, berarti mau tidak mau kau harus bersaing denganku, Lu Han.” Jongin menatap Luhan dalam kemudian berbalik meninggalkan pria itu yang masih berdiam diri. Dari kejauhan Luhan hanya tersenyum.

“Aku tahu hal itu.”

 

TBC

 

 

Hai ~~~ Bagaimana part ini ? Masih kurang panjangkah ? Menurutku ini sudah termasuk panjang -_- Oh ya apa disini kalian merasa greget ? Atau kurang greget ? Atau gimana ? Oh ya makasih banget kalian udah mau komen di part-part sebelumnya 😀 jangan lupa part ini juga tinggalin komentar. Oke ? Terima kasih.

 

 

 

23 responses to “Butterfly [3]

  1. Ohmysehunnn(?) ini buat aku makin suka sama FF ini. Bingung mau dukung luhan atau kai.
    ngikut authornya aja deh yoora mau di satuin sama siapa…
    keep writing thor 🙂 di tunggu next partnya 🙂

  2. Pingback: Butterfly [4] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s