DAFFODIL — Chapter 8

Annyeong, saya datang bawa fanfic titipan! Happy reading, jangan lupa kasih komentar^^ Gomawooo~

daffodilARTworker : shinme

 

Tittle : Daffodil ( chapter 8 )

Author : Youngieomma

Cast :

Kim Joon Myun

Byun Baek Hyun

Park Chan Yeol

Do Kyung Soo

Kim Jongin

Oh Sehun

Han Yoon Ah (OC)

Park Moon Jin (OC)

– Other Cast :

Im Ra Nee (OC)

Inoue Mao (Japan Actress)

Kim Sa Na (OC)

Length : Chaptered

Genre : Romance, School Life, Brothership, Family

Rating : PG-17

Disclaimer : para pemeran di atas hanya dipinjam untuk keperluan FF ini, MAAF jika ada kata-kata maupun sifat yang bertolak belakang di FF ini.

 

Note’s :

Beberapa anggota diganti marga nya sesuai dengan cerita.. ———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Chapter 8

“ Lie”

Joon Myun duduk di sebelah Baek Hyun, Kyung Soo, Jongin dan Sehun yang sedang tegang di kantor polisi. Jam sudah menunjukkan pukul hampir 2 malam, 2 jam berlalu dengan cepat dan mereka sama sekali belum di kasih kabar lanjutan tentang Chan Yeol.

Tadi, Joon Myun mendapatkan telepon dari kantor polisi mengatakan jika adiknya tersebut berada di kantor polisi dan di tangkap karena di duga melakukan kejahatan. Entah itu apa, Joon Myun belum tahu, yang jelas, hatinya tidak baik-baik saja, sesuatu mengerikan pasti telah terjadi.

” Selamat malam” Sapaan seseorang membuat ke lima pemuda itu serentak menoleh. Seorang opsir berdiri di depan mereka, Choi Hae Wo adalah namanya.

” Anda, kakak laki-laki Park Chan Yeol?” Tanya pria 35 tahun itu pada Joon Myun yang sekarang mengangguk.

” Kenapa adik saya dibawa ke kantor polisi?” Joon Myun tidak memiliki waktu untuk sekedar berbasa-basi, dia ingin tahu keadaan Chan Yeol segera.

” Anda berlima bisa ikut saya..”

Dengan tidak tahu menahu, mereka berjalan, menjajari langkah Opsir Choi. Wajah Joon Myun gusar, begitupun dengan ke empat adiknya.

Opsir Choi menggiring mereka masuk ke sebuah ruangan, memperkenalkan seorang lagi Pria berusia 30an pada kelimanya, Detektif Cha. Detektif?

” Kenapa ada detektif disini?” Tanya Baek Hyun.

Opsir Choi dan Detektif Cha saling berpandangan, dan menunjuk sebuah kaca besar yang terhubung dengan suatu ruangan, di ruangan itu terlihat Chan Yeol duduk dengan wajah menunduk, tangannya di borgol, dan..

” Hei! Apa yang kalian pada adikku?! Dia berdarah! Dia terluka?!” Joon Myun memekik ketika melihat dari leher sampai baju Chan Yeol penuh dengan darah. Kyung Soo tampak tegang, Sehun memegangi Joon Myun yang mencengkram kerah Opsir Choi.

” Tolong dengarkan penjelasan kami dulu..” Ujar Detektif, membantu Sehun memegangi Joon Myun.

” Kami mendapat laporan pukul 11 malam ini, adik anda Park Chan Yeol menelepon 911 dan meminta kami untuk segera datang ke Apartemen milik Nona Inoue Mao..”

” Inoue Mao?” Dahi Joon Myun berkerut, Baek Hyun terkejut.

” Ada apa dengan Mao?” Tanyanya.

” Kau mengenalnya?” Tidak menjawab, Detektif Cha justru berbalik tanya pada Baek Hyun yang sekarang sedang mengangguk kaku.

Hening sebentar, Opsir Choi menyerahkan beberapa lembar foto pada kelima pemuda itu. Hampir saja jantung Joon Myun berhenti melihat foto tersebut.

” Ini foto di dalam Apartemen milik Nona Inoue. Dia tewas karena tusukan benda tajam di leher dan perut dengan jumlah 20 tusukan, barang buktinya adalah pisau dapur yang di genggam Park Chan Yeol ketika kami menemukannya..” Detektif Cha menjelaskan.

Kelima pemuda itu menatap foto di tangan Joon Myun. Seorang gadis berbaju mini dress putih terlentang di kasur, dengan tubuh mengenaskan, seprai dan bedcover putih miliknya penuh dengan darah merah dan segar.

” Tu-tunggu, apa maksud anda.. Yeol hyeong?” Jongin menerka.

” Benar, Park Chan Yeol mengaku pada kami bahwa dia membunuh Nona Inoue Mao..”

Kelima pemuda tersebut tidak sanggup berkata-kata lagi, mereka terdiam, Joon Myun merosot, kakinya lemas, tidak sanggup mendengar kabar tersebut.

Tidak pernah terlintas sedikitpun di pikirannya jika Chan Yeol melakukan pembunuhan, mungkin benar jika adik laki-lakinya itu seorang ‘Monster’ yang sering menggunakan kekerasan dibanding otak. Namun, pembunuhan? Tidak masuk akal jika dia melakukannya, Chan Yeol ingin menjadi pengacara!

” Dia tidak mungkin membunuh!” Kyung Soo berkata, matanya berkaca-kaca.

” Kami sedang menyelidiki lebih lanjut, karena di TKP kami hanya menemukan jejak dan sidik jari milik Park Chan Yeol.. Ketika kami masuk ke Apartemen, Park Chan Yeol duduk di pojok lemari yang agak jauh dari kasur, dia duduk sambil menggenggam pisau di kedua tangannya.. ” Detektif Cha berkata.

Kelima pemuda itu menatap Chan Yeol dari balik kaca, wajah lusuh dengan beberapa cipratan darah di muka, dan kaos robek di badannya. Dia benar-benar seperti tersangka.

” Apa.. Chan Yeol berkata sesuatu?” Tanya Baek Hyun.

” Tidak, sejauh ini dia hanya bilang jika benar dia membunuh Nona Inoue.. Tapi, kami curiga dia menyembunyikan orang lain.. Jadi, kami memanggil anda sekalian kemari untuk bertanya apa yang anda sekalian lakukan seharian ini..” Opsir Choi menjelaskan.

” Aku ingin bertemu Chan Yeol..” Joon Myun menatap Detektif Cha. ” Kumohon..” Ucapnya.

Opsir Choi mengangguk, hanya Joon Myun yang di perbolehkan masuk sedangkan keempat pemuda lain di giring menuju ruangan interogasi.

Joon Myun menelan ludah, airmatanya tidak mampu ia tahan lagi, mengalir sedikit demi sedikit ketika pintu besi itu di buka. Chan Yeol mendongak, mata mereka bertemu, mata yang besar yang biasanya menatap tajam itu kini terlihat sangat sendu, bibir Chan Yeol kering, mungkin dia haus, rambutnya berantakan dan terlihat berminyak.

Joon Myun duduk, mengamati adiknya tersebut, tidak ada satupun yang memulai bicara. Chan Yeol kembali menunduk, enggan menatap lebih lama Joon Myun menangis.

” Kau tidak boleh berkata bohong pada polisi..” Tiba-tiba Joon Myun berkata, membuat Chan Yeol gelisah.

” Aku tahu kau berbohong, siapa yang kau lindungi?” Joon Myun bertanya dengan penuh keyakinan, menatap puncak kepala Chan Yeol yang kini sejajar dengan meja.

” Aku tidak melindungi siapa-siapa, aku memang membunuh Inoue..” Chan Yeol berkata pelan, takut suara bergetarnya tertangkap Joon Myun.

” Chan Yeol, cukup.. Berhenti untuk melindungi seseorang lagi.. Kumohon..”

Chan Yeol menelan ludah, suasana melankolis merasuki batinnya. Dia memang tidak ingin mengungkapkan apapun. Seluruhnya. Dia membunuh dan itu benar.

” Aku membunuh Inoue karena dia mengancam akan membunuh Ra Nee.. Inoue adalah pacar Yamada, musuh besarku di Geng ketika SMA..”

” Apa kau melindungi Yamada?”

Kata-kata Joon Myun membuat Chan Yeol gelisah.

” Ti-tidak..” Dia bergetar. Joon Myun mengamati tingkah Chan Yeol.

” Lihat aku..” Ucapnya.

Chan Yeol terdiam sebentar, tetap menunduk, namun, sedikit demi sedikit mengangkat wajahnya. Melihat wajah Hyeong yang dia hormati. Wajahnya penuh kekhawatiran.

” Maafkan aku hyeong, maafkan aku, maafkan aku..” Chan Yeol berkata berkali-kali, dengan airmata yang mengalir di depan Joon Myun.

” Kyung Soo mencari kebenaran atas kematian ibumu, adikmu ingin mendengar kebenaran dari mulutmu sendiri Yeol-ah.. Kumohon, kau harus bebas dari sini.. Siapapun yang kau lindungi, kau harus segera mengungkapkannya..”

Chan Yeol tidak menjawab, dia hanya menangis di depan Joon Myun. Mereka terdiam hampir 15 menit, Joon Myun menatap Chan Yeol yang tersedu di tempatnya.

Opsir Choi menjemput Joon Myun untuk melakukan interogasi, menggiring pemuda itu untuk berdiri dari tempat duduknya. Joon Myun menghela, berat untuk meninggalkan adiknya tersebut, ia menoleh sebentar menatap mata Chan Yeol ketika pintu akan segera di tutup, dan matanya membulat ketika bibir Chan Yeol menyebutkan satu nama tanpa suara. Hati Joon Myun bergemuruh, tanpa dia sadari keringat menetes dari dahinya.

” Hyeong..” Baek Hyun, Jongin, Sehun, dan Kyung Soo berdiri di depan Joon Myun yang masih menahan nafasnya. Dia menelan ludah. Berpaling pergi menuju ruang interogasi.

———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Sehun terbangun dari tidur tidak nyenyaknya, mereka kembali ke rumah pukul 4 pagi dan tidur sebentar. Melirik jam dinding yang menunjuk angka 10 pagi, Sehun duduk di pinggiran kasur, matahari masuk ke jendela kamarnya yang lebar, menerpa wajah putihnya.

Ia menghela nafas, hatinya sakit teringat penampakan Chan Yeol di balik kaca besar malam tadi. Sehun yakin, kakaknya bukanlah seorang pembunuh, ada sesuatu yang membuatnya berbohong seperti itu.

Suara pintu yang terbuka di lantai satu terdengar oleh Sehun, ia belum beranjak dari tempatnya. Mendengar suara terburu-buru sepatu yang beradu dengan pijakan kayu di tangga, ketukan antusias di kamar Joon Myun dan suara ibunya terdengar jelas. Orangtua mereka kembali dari Italy.

Sehun terkekeh sebentar, padahal, mereka berjanji untuk melakukan kembang api dan jalan-jalan ke pantai untuk pertemuan berikutnya. Namun, kenyataannya mereka bertemu hanya untuk melihat kakaknya di dalam penjara.

” Kau sudah bangun?” Kyung Soo muncul dari balik pintu, mendekat ke arah Sehun yang tidak menjawab. Membuka hordeng lebar-lebar dan duduk di sebelah Sehun.

Keduanya terdiam, menatap silau matahari. Kyung Soo menyenderkan kepalanya di bahu Sehun.

” Menurutmu, mustahil bukan jika Yeol hyeong membunuh?” Kata-kata itu menjadi pembuka obrolan mereka. Kyung Soo tidak menjawab.

” Hyeong..”

” Hm?”

” Apa—-kau sudah tahu tentang kematian ibu?” Tanya Sehun. Kyung Soo menggeleng.

” Aku akan bertanya pada ayah” Ucapnya kemudian. Sehun mengangguk.

” Aku ingin mendengar suara Yeol hyeong..” Gumam Sehun. Kyung Soo menatap adiknya tersebut, membenarkan rambut Sehun yang berantakan.

” Kau akan segera mendengarnya, yakinlah hyeong akan keluar dari penjara..”

Kemudian, terdengar isak membuat Kyung Soo membeku. Sehun, menangis. Bibirnya bergetar, kedua tangan lekas menutupi wajah putih itu, Sehun menahan isakannya. Dia belum pernah menangis, dan ini kali pertamanya, Sehun, merindukan Chan Yeol..

Chan Yeol jarang pulang ke rumah ketika ia duduk di kelas 1 SMA semester dua karena cekcok dengan ayah mereka, membuat Sehun terkadang menangis sendirian di dalam kamar karena merindukan kakaknya tersebut. Ia berusaha sungguh-sungguh dalam belajar agar bisa ke terima di SMA yang sama dengan Chan Yeol hanya untuk melepaskan rindu pada kakak laki-lakinya yang galak.

Ketika ayahnya memutuskan menikah, dan ide untuk tinggal serumah di ucapkan, Sehun tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Apalagi, ketika ia tahu Chan Yeol menyetujui permintaan ayahnya. Ia senang bisa hidup bertiga lagi, ia bahagia karena Chan Yeol kembali tinggal bersamanya.

Namun, kini, ia merasa terpisah sangat jauh dengan Chan Yeol. Melebihi saat Chan Yeol jarang pulang ke rumah, ia merasa tidak akan pernah bertemu Chan Yeol lagi dan ia jadi gusar.

” Aku rindu Yeol hyeong..” Gumamnya.

Kyung Soo mengelus punggung adiknya dalam diam.

.

Jongin, Sehun, Kyung Soo, Baek Hyun dan Joon Myun duduk di sofa. Wajah mereka tampak muram, lingkaran hitam terlihat jelas, mata-mata bengkak milik Baek Hyun, Joon Myun dan Sehun adalah bukti mereka menangis sepanjang malam.

Tuan Park dan Nyonya Han duduk di depan mereka, duduk diam selama sepuluh menit. Setali tiga uang dengan kelima pemuda itu, tuan Park dan Nyonya Han pun terlihat berantakan, tidak ada make up, tidak ada baju bagus, bahkan ia kemari menggunakan sepatu berbeda sepanjang perjalanan sampai ke rumah.

” Apa yang dikatakan polisi?” Tuan Park memulai pembicaraan, suaranya terdengar bergetar, namun ia berusaha tetap tegar.

” Chan Yeol meminta untuk di adili, ia mengaku membunuh wanita itu..” Jawab Joon Myun.

Tuan Park segera memijit dahinya. Kata-kata menyangkut di tenggorokannya.

” Apa kau berbicara dengan Chan Yeol?” Nyonya Han bertanya.

” Ya.. Dia bilang, dia membunuhnya karena wanita itu mengancam membunuh Ra Nee. Wanita itu pacar dari musuh di Gengnya..”

” Lalu, apa yang harus kita lakukan?” Nyonya Han bertanya lagi.

” Polisi masih menyelidiki kasus ini bu.. Mereka menduga Chan Yeol menyembunyikan seseorang, karena di kamar itu tidak ada jejak dan sidik jari oranglain selain milik Chan Yeol bahkan milik korban..” Jelas Joon Myun.

” Apa maksudnya?” Nyonya Han tidak mengerti.

” Itu berarti Chan Yeol menghapus seluruh jejak dan sidik jari seluruh barang-barang dirumah tersebut sehingga sidik jari milik korban ikut terhapus. Benar?” Tuan Park memperjelas dan Joon Myun mengangguk.

” Apa Chan Yeol berkata sesuatu padamu? Ia menyebutkan siapa yang dia lindungi?”

Joon Myun tersentak, mengingat gerakan bibir Chan Yeol menyebutkan nama seseorang.

” Ti-tidak..”

Nyonya Han mendengus. Tangannya berkeringat, ia gelisah.

” Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kita membebaskan Chan Yeol?” Gumamnya.

” Ayah..” Suara Sehun membuat seluruh mata kini berpaling padanya.

” Maafkan aku, tapi aku mengambil kertas di amplop coklat milik ayah dan memfotokopinya. Aku..”

Mata tuan Park membulat. Terkejut atas ucapan Sehun.

” Aku juga ingin bertanya itu, maukah ayah menjelaskannya?” Kyung Soo berkata.

Joon Myun, tuan Park dan Nyonya Han saling memandang. Dengan hati-hati tuan Park membuka mulutnya.

” A-apa yang ingin kalian tanyakan?”

” Berkas-berkas di dalam amplop coklat..” Sehun dan Kyung Soo bicara hampir serentak.

Tuan Park menelan ludah, bibirnya kering seketika.

” Baiklah, mungkin ini saatnya kalian mengetahui yang sesungguhnya. Ayah akan bertanya, apa yang kalian ketahui tentang kematian ibu kalian?”

Kyung Soo dan Sehun terdiam sebentar, berfikir.

” Kudengar dari kakek ibu meninggal karena sesak nafas..” Sehun menjawab.

” Nenek bilang ibu meninggal karena phobianya kambuh, hingga sesak nafas dan meninggal..” Kyung Soo menjawab.

” Benar, ibu kalian memiliki phobia pada ruang sempit dan gelap.. Ia meninggal karena terjebak di dalam gudang yang terkunci untuk mengambil bola..” Ujar tuan Park.

” Bola?” Jongin ikut merespon.

” Jika kalian membaca isi dalam amplop coklat tersebut, kalian pasti tahu garis besarnya cerita ini. Kyung Soo, maafkan ayah, tapi kau adalah anak ayah dari ibu berbeda dengan Chan Yeol dan Sehun..”

Kyung Soo terbelalak. Menelan ludah.

” Ayah pernah berkencan dengan seorang wanita ketika mendapatkan tugas di daerah, ayah pulang ke Seoul tanpa mengetahui jika wanita itu hamil. 27 November 1992 ketika Chan Yeol lahir, ayah mendapatkan kabar dari bibi wanita itu bahwa ia tengah hamil 7 bulan dan segera melahirkan.. Ia miskin dan tidak memiliki biaya untuk melahirkan sehingga menyuruh bibi tersebut menemui ayah dan meminta sejumlah uang untuk merawatmu..”

Tuan Park terdiam sebentar.

” Dan 12 januari 1993 kau lahir dengan sempurna, ayah hanya sekali melihatmu di rumah sakit, bermaksud untuk membawamu ke Seoul. Namun, ibumu melarang dan bersikeras untuk membesarkanmu sendirian..”

Kyung Soo menutup wajahnya dengan kedua tangan, airmata mengalir di pipinya.

” Ketika usiamu 6 tahun, ayah mendapat kabar jika mobil yang dikendarai ibumu masuk jurang, kau selamat namun tidak dengan ibumu. Kau sempat koma hampir 4 bulan, ketika tersadar sebagian ingatanmu menghilang karena benturan keras. Ayah merasa bersalah dan membawamu tinggal bersama pada akhirnya..” Tuan Park menatap sayu Kyung Soo, Nyonya Han terdiam.

Sehun melirik Joon Myun menatap ayahnya.

” Lalu, hasil tes DNA itu?”

” Itu milikmu, ayah meminta untuk kejelasan statusmu.. Maaf, tapi ayah tidak percaya dengan ibumu selama ini..”

Tangis Kyung Soo pecah, dia terisak cukup keras dan bahu bergetar. Baek Hyun memeluknya.

” Apa hubungan itu semua dengan kematian ibu? Kenapa Yeol hyeong kemudian pergi dari rumah dan membenci ayah?” Sehun bertanya dengan tidak sabar.

” Karena ulah Chan Yeol, ibumu meninggal, Sehun-ah..”

Sehun tersentak. Tuan Park terdiam menatap ekspresi anak bungsunya tersebut, rasa bersalah mengalir turun ke hatinya.

” A-apa maksud ayah?”

” Chan Yeol—-membenci Kyung Soo.. Kurasa ibumu memberitahunya kalau Kyung Soo adalah penyebab retaknya rumah tangga kami—maksudku—ibu Kyung Soo..” Tuan Park mengkoreksi ucapannya sendiri.

” Kecemburuan Chan Yeol menjadi ketika ayah dan ibu lebih memperhatikan Kyung Soo di banding dirinya, itu karena Kyung Soo kehilangan sebagian ingatannya, membuat ia lupa cara bicara dan berjalan. Ibu dan ayah 24 jam setia di samping Kyung Soo, ketika insiden itu terjadi Sehun masih sangat kecil, ibumu sedang memasak saat mendengar Kyung Soo menangis dengan keras karena bolanya menggelinding masuk ke gudang..”

Joon Myun mengepalkan tangannya, Sehun menangkap ekspresi tersebut, merasa ada sesuatu.

” Ibumu meminta Kyung Soo kembali ke kamar untuk menjagamu, ketika ia masuk ke gudang, Chan Yeol menutup pintu dan menggemboknya. Ia tidak tahu jika ibunyalah yang masuk kesana, bukan Kyung Soo..”

Sehun, Jongin, Baek Hyun dan Kyung Soo menahan nafas. Tidak percaya dengan apa yang di ceritakan tuan Park.

” Tadinya, ia ingin membuat Kyung Soo ketakutan dan kapok tinggal di rumah, ia berusaha membuat Kyung Soo untuk kembali ke kampung halamannya. Chan Yeol shock dan melupakan insiden tersebut, sampai ia melihat catatan di amplop coklat tersebut dan meminta penjelasan dari ayah serta pamanmu ketika ia di SMA.. Chan Yeol marah dan kesal karena merasa di bohongi, ia tidak suka kami menutupi kesalahannya..”

Tuan Park mengakhiri ceritanya. Tidak ada yang berkata apa-apa, mereka cukup terkejut dengan fakta yang menyakitkan itu. Baek Hyun ingat kata-kata Chan Yeol padanya malam dimana mereka bermain bersama.

Chan Yeol merasa bersalah, sehingga pergi dari rumah dan melupakan cita-citanya menjadi pengacara. Pengacara tidak memiliki catatan kriminal, meskipun itu tidak tercatat di kepolisian, namun ia merasa menjadi tersangka dalam kematian ibunya sendiri.

Joon Myun bangkit dari sofa, berjalan dan mendengus kasar menuju lantai dua, menutup pintu kamarnya dengan keras hingga membuat Nyonya Han terkejut dan berlari bangun mendatanginya. Sehun mengekor, dan berhenti di depan pintu, mendengar ucapan mereka.

” Tidak seharusnya ayah mengatakan kebohongan yang sama pada Kyung Soo. Cukup Chan Yeol yang ia bohongi!” Pekik Joon Myun tertahan.

” Hentikan Joon, itu keputusan ayahmu.. Ia harus menyembunyikan kebenarannya.. Biarlah, kebenaran yang palsu muncul di permukaan..”

Hati Sehun gelisah ketika mendengarnya. Kenyataan apa yang masih di sembunyikan? Separah apa kenyataan yang asli ketika yang palsu saja bisa membuat ia lupa bernafas.

———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Chan Yeol masih terdiam di dalam ruang interogasi yang sangat cerah. Ia baru saja bangun dari tidur panjang, Detektif Cha dan Opsir Choi tidak melakukan hal-hal mengerikan seperti yang sering ia tonton di DVD pinjaman milik teman Kyung Soo atau Sehun.

Ia di perlakukan dengan baik, diberikan selimut, makan dan minum yang baik pula. Detektif Cha terus mendesak agar Chan Yeol mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam itu, kenapa ia harus bersusah payah mengelap seluruh perabotan di dalam Apartement tersebut dan menyisakan sidik jarinya sendiri tertempel dimana-mana.

Namun, Chan Yeol tetap bungkam. Dia sama sekali tidak ingin menceritakan apapun, dengan tenang dan mantap ia selalu bilang jika pelaku pembunuhan itu adalah dirinya sendiri. Tidak ada orang lain, Chan Yeol meminta dirinya dengan cepat di jatuhi hukuman.

Detektif Cha dan Opsir Choi menolak, karena itu tidak sesuai dengan hukum. Mereka tidak bisa sembarangan memutuskan seseorang masuk penjara tanpa bukti yang jelas.

Sidik jari Chan Yeol memang berada di seluruh perabotan dan sudut rumah Inoue Mao. Namun, mereka tidak menemukan sidik jari Inoue Mao dimanapun, itu berarti Chan Yeol menghapus sidik jari orang lain yang berada disana selain mereka berdua dan tempat kematian Inoue Mao sebenarnya bukanlah di atas kasur tetapi di ruang makan. Untuk apa Chan Yeol repot-repot menggendong mayat Inoue menuju kasur?

Kemudian, di atas meja makan ada dua piring berisi spaghetti. Salah satunya sudah di makan, para penyidik menemukan air liur Inoue Mao berada disana, namun di piring satu lagi mereka tidak menemukan apapun. Itu berarti, Inoue Mao mengundang seseorang atau Chan Yeol untuk makan bersamanya.

Semalam, keduanya berdiskusi dengan hasil analisis yang Detektif Cha ucapkan. Ada hal-hal aneh yang menurutnya sangat mencolok dan membuktikan jika Chan Yeol bukanlah satu-satunya orang yang berada disana bersama Inoue Mao.

Pertama, sudah jelas karena Chan Yeol menghapus seluruh sidik jari. Kedua, piring ketiga di meja makan yang menghilang, para penyidik menemukan pecahan piring dan gelas yang berada di tong sampah dekat wastafel dan sidik jari Chan Yeol berada disana.

Ketiga, darah di baju Chan Yeol yang jumlahnya sangat banyak, jika dia benar-benar membunuh Inoue Mao dengan tangannya sendiri itu berarti darah gadis itu hanya akan terciprat ke bajunya, sedangkan kaos yang robek dan darah yang hampir memenuhinya bahkan celana juga membuktikan Chan Yeol sengaja memeluk jasad Inoue Mao agar darah gadis itu menempel padanya.

Dan keempat adalah pisau, pisau yang Chan Yeol pegang bukanlah pisau perenggut nyawa gadis itu, ada empat buah pisau (salah satunya pisau pembunuh Inoue Mao) berserakan di lantai dapur dengan sidik jari Chan Yeol tertempel disana, dan Chan Yeol yakin jika pisau yang ia pegang adalah pisau yang membunuh Inoue Mao itu jelas kalau Chan Yeol sama sekali tidak tahu pisau mana yang membunuh gadis tersebut.

Namun, Opsir Choi dan Detektif Cha sama sekali tidak mengerti kenapa Chan Yeol repot-repot berbohong kepada mereka dan menyembunyikan sesuatu, ia lebih baik di penjara daripada mengatakan yang sebenarnya.

” Apa kau pikir salah satu saudaranya adalah pembunuh gadis itu?”

Opsir Choi menoleh pada Detektif Cha yang duduk di atas meja sebelahnya, memegang cangkir plastik berisi kopi menatap ke kaca besar dimana Chan Yeol terpantul disana.

” Kau menginterogasi mereka bukan?”

” Ya, Park Joon Myun kehadirannya bisa di konfirmasi karena ia berada di kantor. Park Baek Hyun tertangkap kamera CCTV di kantin kampusnya sejam ketika kejadian itu terjadi, Park Sehun, Park Jongin dan Park Kyung Soo adalah orang-orang yang tidak memiliki alibi disaat kejadian..” Oceh Detektif Cha.

” Ngomong-ngomong apa kau sudah mendapat informasi perkiraan kematian Inoue Mao?” Tanya Opsir Choi.

Detektif Cha mengambil kertas dibelakangnya, membalik setiap lembar.

” Pukul 8 malam..”

Opsir Choi terdiam sebentar.

” Park Baek Hyun tertangkap kamera pada pukul 7?” Tanyanya. Detektif Cha mengangguk.

” Park Jongin bilang ia berada di studio dance pada pukul 5-10 dan ia bersama Park Kyung Soo. Dan, Park Sehun berada di rumah dan kemudian bertemu Park Baek Hyun. Park Jongin, Park Sehun dan Park Kyung Soo, Ketiga pemuda itu tidak memiliki alibi pukul 8 malam”

Keduanya terdiam.

” Tapi, apakah mereka mengetahui Inoue Mao?” Tanya Opsir Choi lagi.

” Satu-satunya yang mengenal gadis itu adalah Park Baek Hyun, ia teman satu lesnya..”

Opsir Choi dan Detektif Cha sibuk pada pemikirannya masing-masing, merangkai puzzle yang mereka susun di otak. Berusaha memecahkan misteri yang Chan Yeol buat untuk melindungi seseorang.

” Kudengar, Park Chan Yeol mempunyai kekasih?” Opsir Choi kembali buka suara.

” Ya, Im Ra Nee.. Ia berada di toko milik ibunya ketika pembunuhan terjadi sampai pukul 12 malam, semuanya terekam CCTV.. Oh, apakah kau sudah menyelidiki pacar Inoue Mao?” Detektif Cha berkata.

” Ah, ya, dia tidak memiliki alibi dan bukti apapun. Kami masih mengikutinya, anak itu memiliki ayah seorang bawahan Yakuza di Jepang dan menjadi preman di sekolah sama seperti Park Chan Yeol. Mereka sempat beberapa kali berkelahi, Yamada pernah bebas dari tuduhan kematian salah satu siswa sekolah karena pengakuan kuat dari Chan Yeol dan teman-temannya..”

Detektif Cha menoleh.

” Tuduhan kematian?”

Opsir Choi mengangguk.

” Perkelahian antar geng yang melibatkan empat sekolah dua tahun lalu, salah satu siswa tewas dan Yamada masuk dalam daftar tersangka. Namun, ia bebas karena Park Chan Yeol dan teman-temannya bersaksi..”

Detektif Cha terdiam. Ia bergegas keluar, membuka pintu besi ruangan Chan Yeol dan duduk di depan pemuda itu. Opsir Choi terkejut.

” Kau menyembunyikan sesuatu kan? Kau ingin menyelamatkan Yamada lagi?”

Mata Chan Yeol membulat. Detektif Cha tersenyum.

” Sudah kuduga, apakah itu semacam kontrak persahabatan? Kau melindungi setiap kesalahan yang ia buat? Park Chan Yeol, menyembunyikan kejahatan orang lain adalah kejahatan juga.. Kau bisa di tuntut jika tidak mengatakan yang sebenarnya..” Ucap Detektif Cha.

Chan Yeol gelisah, ia menggeser tempat duduknya.

” Bu-bukan! Bukan Yamada pelakunya! Sungguh! Jangan libatkan dia dalam masalahku! Dia tidak terlibat sama sekali!” Chan Yeol hampir memekik ketika berbicara, membuat Detektif semakin yakin kalau Chan Yeol benar-benar melindunginya.

” Kenapa kau melindungi Yamada atas kematian siswa dua tahun lalu?”

Chan Yeol menelan ludah, bola matanya bergerak kesana kemari menghindari tatapan Detektif Cha.

” Yamada tidak membunuh Sung Ji Young!” Chan Yeol bicara dengan nada tinggi, membuat Detektif Cha terkejut dengan suara pemuda itu yang menggema.

” Yamada hanya menyelamatkan dirinya sendiri, itu pertahanan, sungguh! Aku melihatnya! Teman-teman yang lain melihatnya! Sung Ji Young membawa senjata! Yamada tidak membunuhnya, ketika Sung Ji Young berlari ke arahnya membawa besi, Yamada menghindar! Sungguh! Ia menghindar agar tidak terkena besi itu! Kami tidak tahu jika Ji Young akan terjatuh dan besi itu menembus dadanya..!”

Peluh Chan Yeol bercucuran, gugup menyelimutinya, tenggorokannya kering dan sakit menceritakan kejadian mengerikan itu. Detektif Cha mengamati Chan Yeol, pemuda itu tidak berbohong, Detektif Cha yakin. Chan Yeol berbicara dengan terburu-buru ketika cerita itu keluar dari mulutnya, itu berarti dia takut jika salah satu ceritanya membuat Yamada dalam bahaya. Berbeda ketika ia mengaku jika dirinya adalah pembunuh Inoue Mao.

” Apakah kali ini juga kau melindungi Yamada? Pertahanan diri?”

” Ti-tidak! Aku yang melakukannya, ini tidak ada hubungannya dengan Yamada..” Suaranya kembali tenang.

Detektif Cha mengangguk. Keluar meninggalkan ruangan tersebut, kembali pada Opsir Choi yang terlihat tegang di kursinya.

” Apa kau terkejut?” Tanya Detektif Cha.

” Ya, tentu saja! Dia melindungi musuhnya!” Pekik Opsir Choi.

” Kurasa sekarang dia melakukan hal yang sama, dia melindungi Yamada lagi..”

Opsir Choi menghela.

” Seharusnya mereka mengatakan yang sejujurnya, jika benar kecelakaan mereka tidak akan pernah di jatuhi hukuman.. Ck!”

Detektif Cha tertawa.

” Itulah sikap anak-anak yang merasa sok dewasa, pada akhirnya mereka tetap ketakutan ketika melihat kematian. Dan berusaha saling menyembunyikan fakta agar musuh yang sesungguhnya teman mereka tidak terseret dalam lubang hitam..”

Opsir Choi dan Detektif Cha mendengus keras. Mereka harus menemukan bukti baru, bukti yang mengarahkan seluruhnya pada Yamada. Sudah jelas, jika Yamada adalah pelakunya, dan Chan Yeol berusaha menyembunyikannya.

———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Sehun duduk di kursi kayu pekarangan rumahnya, memandang bunga-bunga musim panas yang mekar dengan indah. Angin bertiup memainkan rambutnya, tiga hari berlalu dan ia belum bisa bertemu Chan Yeol. Kepolisian tidak mengizinkan siapapun menjenguk Chan Yeol sampai kasusnya terpecahkan dan sidang terselenggara di pengadilan.

” Sehun..”

Pemuda itu menoleh ketika mendapati ibu tirinya berada disana, membawa alat penyiram tanaman yang sudah kosong.

” Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Nyonya Han, duduk disebelah Sehun.

” Mengamati bunga..” Jawab Sehun singkat, Nyonya Han mengangguk. Suasana rumah sedang tegang beberapa hari ini, libur musim panas tengah berlangsung, kelima pemuda itu berada di rumah tanpa melakukan apapun.

” Aku rindu pada Yeol hyeong..” Tiba-tiba kata itu keluar dari mulut Sehun, membuat Nyonya Han menoleh.

” Ya, kau pasti merindukannya.. Dia kakakmu..”

” Tapi kali ini aku benar-benar merindukannya, padahal aku sudah terbiasa tidak melihatnya lebih dari tiga hari ketika kami masih tinggal di rumah yang dulu..”

Nyonya Han mendengarkan ocehan si bungsu.

” Aku ingin mendengar suaranya memanggil namaku, aku ingin mendengar dia mengomel pada Kyung Soo hyeong sambil berteriak ‘Ya!’ Dan aku—-” kata-kata Sehun terhenti, airmatanya mengalir. Nyonya Han masih menatap pemuda itu.

” Sehun-ah, ibumu meninggal ketika kau masih kecil bukan? Dua tahun? Satu tahun?”

Sehun tidak menjawab, sibuk dengan airmata yang berjejalan keluar dan meluncur dari pipinya.

” Selama hidup kau hanya mengenal tiga orang, Chan Yeol, Kyung Soo dan Ayahmu.. Itu wajar jika kau sangat menyayangi mereka, terutama Chan Yeol.. Kudengar, sejak ibumu meninggal, Chan Yeol yang merawatmu..” Ucap Nyonya Han. Mengelus poni Sehun, dan membantu menghapus airmata di pipi pemuda itu, Nyonya Han kembali berbicara

” Kau sangat bergantung pada hyeongmu kan? Itu sebabnya kau merasa tertekan dan sedih ketika ia tidak berada disisimu.. Tapi, Sehun.. Ini adalah proses menuju kedewasaan.. Chan Yeol tidak akan selalu berada disisimu, ia akan pergi suatu hari nanti, bekerja, menikah, dan sebagainya. Jadikan ini pelajaran untukmu, tidak perlu memikirkan Chan Yeol berada di tempat yang buruk, berfikirlah jika hyeongmu sedang sibuk dengan urusannya sebagai pengacara..”

Sehun menatap mata Nyonya Han, ini kali pertama mereka duduk berdua dan mengobrol intens sebagai ibu-anak.

” Apakah hyeong akan dibebaskan?” Tanya Sehun, Nyonya Han mengangguk, tersenyum dan mengelus puncak kepala Sehun.

Keduanya terdiam sejenak, Sehun merasa sedikit terhibur dengan ucapan Nyonya Han. Beginilah rasanya memiliki seorang ibu, menghibur dikala sedih, dan ikut tertawa ketika senang.

” Bu.. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan..”

” Apa?”

Sehun menatap mata Nyonya Han.

” Berjanjilah untuk tidak berbohong padaku..”

Senyum Nyonya Han menghilang, wajahnya tegang, dengan kaku dia mengangguk.

” Bagian mana yang ayah ceritakan adalah kebohongan? Seluruh ceritanya? Adopsi Kyung Soo hyeong? Kematian ibu?”

Nyonya Han tersentak. Hatinya berdegup kencang.

” Ka-kau tahu darimana?” Tanya Nyonya Han gugup.

” Ibu sudah berjanji padaku untuk tidak berbohong..”

Nyonya Han terdiam, mengigit bibirnya dan menceritakan seluruh kejadian pada Sehun.

.

Baek Hyun duduk di ruang tunggu kantor polisi ketika Opsir Choi mendatanginya.

” Maaf, tapi anda tidak bisa bertemu Park Chan Yeol sekarang..” Ujar Opsir Choi.

” Kumohon, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya.. Aku mohon..”

Opsir Choi menghela nafas. Dalam tiga hari terakhir setiap 3 jam sekali Baek Hyun selalu datang ke kantor polisi, memohon agar bisa berbicara dengan Park Chan Yeol.

” Bicaralah padaku, aku akan memberitahukannya pada Chan Yeol..”

” Tidak, aku harus bicara sendiri padanya.. Kumohon..”

Opsir Choi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia menyerah. Akhirnya, dengan terpaksa mempersilahkan Baek Hyun ikut menuju ruang Interogasi.

Chan Yeol belum mengganti pakaiannya ketika Baek Hyun akhirnya masuk ke dalam ruangan itu, Chan Yeol terlihat lebih berantakan dari sebelumnya, namun masih baik-baik saja. Tidak tampak ia tersiksa berada di dalam ruangan tersebut.

” Bukankah tidak ada orang lain yang boleh menjengukku?” Ucap Chan Yeol ketika Baek Hyun duduk di depannya.

” Apakah kau tidak suka aku disini?” Tanya Baek Hyun. Chan Yeol mengangkat bahunya, well, sebenarnya dia suka melihat Baek Hyun. Kalau bisa, dia ingin melihat Sehun juga. Ia rindu adik kecilnya, bahkan ketika ia kabur dari rumah, setiap pagi sebelum ke sekolah dia akan sembunyi di balik pohon dekat rumahnya untuk sekedar melihat adik kecilnya tersebut berangkat sekolah.

” Apakah ada sesuatu?” Chan Yeol bertanya santai, menatap Baek Hyun.

” Ayah—sudah menceritakan pada Kyung Soo dan Sehun apa yang terjadi tentang kematian ibumu..”

Chan Yeol terdiam, mendengarkan.

” Aku melihat Health Record milik Kyung Soo yang berada di amplop coklat ayahmu, Sehun membuat duplikatnya..”

” Lalu?” Chan Yeol pura-pura tidak perduli. Bertanya sok acuh.

” Ayahmu berkata jika Kyung Soo adalah anak adopsi.” Baek Hyun menatap Chan Yeol yang mendengus.

” Itu bohong kan?” Tebak Baek Hyun. Chan Yeol mengalihkan pandangannya ke arah lain.

” Aku melihat catatan Health Record itu, walaupun disana marga Kyung Soo adalah DO namun ia adalah anak ayahmu. Kenapa aku yakin? Karena kertas hasil cek DNA yang berada di amplop tersebut. Sesuatu menimpa Kyung Soo kan?” Menjeda kata-katanya untuk melihat respon Chan Yeol sebentar, Baek Hyun kembali berbicara.

” Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kurasa bagian Kyung Soo pernah mengalami kecelakaan adalah kenyataan. Ayahmu mungkin tidak mengenali Kyung Soo karena sesuatu hal dan tes DNA adalah pembuktiannya?”

Chan Yeol menatap Baek Hyun.

” Apa yang membuatmu yakin?”

” Health Record, sudah kubilang di awal aku melihat kertas itu. Entah Sehun, Kyung Soo, Jongin atau Joon Myun hyeong menyadarinya atau tidak. Tapi, sangat jelas disana terdapat catatan bahwa ketika usia 6 tahun Kyung Soo mengalami koma selama 4 bulan dan nyawanya kritis. Disana tertulis dengan jelas bahwa Kyung Soo menjalani 8 kali operasi dan ingatannya menghilang hampir 50% efek dari operasi di kepalanya tersebut..” Baek Hyun menjelaskan, menatap tajam ke arah Chan Yeol yang diam tak menjawab.

” Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluargamu? Mengapa segalanya dibuat sangat rumit dengan cerita-cerita palsu dan kebohongan yang dibuat-buat?”

Chan Yeol masih tak menjawab. Baek Hyun mendengus, kesal. Dia tidak tahu jika keluarga Park serumit ini, ayah Chan Yeol bersusah payah membuat cerita palsu untuk menutupi sesuatu dan Chan Yeol sendiri membuat kebohongan demi menutupi seseorang.

” Mungkin, ini adalah cara kami melindungi satu sama lain..” Chan Yeol berbicara, beranjak dari kursinya dan duduk di pojok ruangan, Opsir Choi masuk ke dalam dan meminta Baek Hyun untuk keluar.

” Chan Yeol! Demi Tuhan! Jangan egois! Katakan sejujurnya pada polisi segera! Kau harus keluar!! Kau harus segera keluar dari sini! Aku yakin kau tidak bersalah!” Pekik Baek hyun.

Pintu besi itu tertutup. Chan Yeol meringkuk, memeluk kakinya sendiri, bergelung di atas lantai dingin. Airmata mengalir dari pipinya.

 

Continued~~~

 

Sepatah dua patah kata :

Hallo Minna-san (\’o’)/

Di chapter 8 ini saya ngetik sambil greget sama keluarga Park, hahaha.. Habis kesel juga kenapa saya bikin keluarga mereka rumit begini >< *salah sendiri-.-*

Next chapter masih tetep rumit mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Park ya.. Tetep menanti Daffodil yaaaa :*

Komentar kalian sering aku baca, dan aku hafal siapa aja yang sering komen dari pertama ihihihihi.. Terima kasih yaaa udah suka sama FF ini^^ makasih juga sama @Geepoedji yang mau di titipin FF ini dan menuhin inbox emailnya~~ maaf yaaa Gee :’3

 

Okeee~ kalo gitu cukup sekian dulu.. Sampai ketemu di chapter 9 chuuuu~

56 responses to “DAFFODIL — Chapter 8

  1. Aku jd penasaran knp si chanyeol ngelindungin seseorang ?? Yamada kah ?? Tp aku bingung kenapa yamada jg ngebunuh pacar na sendiri ?? Apa c mao cuma d manfaatin yamada ??pdhal yamada suka sama ranee .. Hehee msh bingung sndirii .. Klo kyk gt msa sampe ngebunuh mao hehee penasaraan tp kyk na ada sesuatuu ..

  2. aku setujuh baek… keluarga park memang sangat rumit!
    dan aku yakin kalo ibu mereka meninggal karena suatu kecelakan yg membuat kyungsoo koma dan sehun terlibat dalam kecelakan itu lalu chanyeol merelakan diri sebagai kambing hitam?
    sotoy dah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s