Beautiful Sin (Chapter 9)

wpid-storageemulated0PicturesFOTORUSbs-my-baby.jpg.jpg

Author : Trik

Cast     : Jung Hyemi (You/OC), Lu Han, Park Minha, Kim Myungsoo, etc.

Genre  : AU, Romance, Family, Marriagelife, Pregnancy.

Rating : PG-15

Disc.    : I don’t own anything beside the story.

Prev.    : Chapter 8

“No matter what we breed, we still are made of greed.”  Demons by Imagine Dragons

Chapter 9: Realization

 

Author’s POV

‘Minha… Kau masih mencintainya? Apakah kau masih berharap untuk kembali padanya?’

Pertanyaan Hyemi malam itu, pertanyaan yang tak mampu ia jawab karena ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan tersebut, masih terus menghantui pikiran Luhan. Ia kesal. Sangat kesal pada dirinya sendiri. Mengapa menjawab pertanyaan simpel tersebut begitu sulit dilakukan? Ia tahu jawabannya, tetapi ia tidak bisa menyampaikannya. Ia tidak mampu. Ada sesuatu di dalam dirinya yang menahannya, entah apa itu, ia sendiri tak tahu.

 

***

Bagi Minha, dua bulan ini adalah dua bulan tersulit dalam hidupnya. Setiap hari ia tertidur dengan Luhan yang selalu mengisi pikirannya. Berbagai pertanyaan akan muncul sebelum matanya terpejam, seperti ‘Bagaimana kabar Luhan?’, ‘Apa yang dia lakukan?’, ‘Dia merindukanku atau tidak?’, atau ‘Apakah dia masih mencintaiku?’

Ia pikir ia tipe yang mudah melupakan, tetapi ternyata dua bulan tidak cukup baginya untuk melupakan perasaan yang telah ada di dalam hatinya selama tiga tahun lamanya. Mudah baginya mengatakan, “Aku tidak apa-apa.” Atau, “Aku sudah melupakannya dan sekarang aku baik-baik saja.” Namun hati tidak akan bisa berpura-pura. Berjuta kali pun mulutnya mengatakan ia sudah tidak mencintai Luhan, maka berjuta kali pula hatinya mengatakan hal yang sebaliknya.

Seolah itu saja tak cukup, tiap pagi ia harus terbangun dengan bayangan Luhan dan istrinya yang bahagia. Ia membayangkan Luhan akan terbangun dengan senyum di bibirnya lalu menatap istrinya penuh cinta, mengecup kening atau mungkin bibirnya, kemudian mengucapkan selamat pagi. Ia tidak bohong jika ia mengatakan dirinya akan ikut bahagia melihat Luhan bahagia, tetapi ia tidak bisa membantah kenyataan bahwa kebahagiaan Luhan di dalam bayangannya telah menorehkan luka dalam hatinya. Itu baru bayangannya saja, jika itu terjadi dalam kenyataan, ia tidak tahu bagaimana lagi dengan hatinya.

Tok! Tok! Tok!

“Minha, kau sudah bangun? Ayo sarapan!”

Suara ketukan pintu dan suara Chanyeol, kakaknya, mengembalikan ia pada realita, di mana ia masih memiliki harapan bahwa mungkin… Luhan dan istrinya tidak seperti di dalam bayangannya. Bahwa mungkin, tidak lama lagi ia akan kembali bersama Luhan.

“Ya, oppa! Aku akan turun sebentar lagi!” sahutnya.

Minha menyingkap selimut tebal yang semalam menutupi tubuhnya kemudian turun dari ranjang dan beranjak menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Di kamar mandi, ia melihat refleksi wajahnya. Sebuah senyum masam tersungging di bibirnya. Setidaknya ia tidak semenyedihkan dua bulan yang lalu, sebelum ia masuk rumah sakit.

***

Hari itu, sepulang bekerja Luhan tidak langsung pulang ke rumah, melainkan mampir ke kafe yang berada di dekat sungai Han. Ia ingat kafe ini adalah salah satu kafe favoritnya dengan Minha. Jika mereka datang ke kafe ini pada malam hari, mereka bisa melihat pemandangan sungai Han dengan air mancurnya yang disoroti lampu berwarna-warni.

Luhan hanya bisa tersenyum getir mengingat hal tersebut. Melupakan Minha tidak semudah mengerjakan soal fisika saat kau tahu rumusnya. Melupakan Minha baginya sesulit menyentuh ujung hidung dengan lidahmu sendiri. Ia tidak yakin ia bisa melakukannya saat apapun yang ia lakukan hampir selalu membuatnya teringat pada Minha.

Ada saat-saat tertentu di mana ia tidak memikirkan Minha sama sekali, tetapi waktu di mana ia teringat akan Minha lebih mendominasi. Ia teringat saat-saat ia sedang bersama Hyemi, wajah Minha akan muncul dalam bayangannya. Saat ia memeluk Hyemi, ia membayangkan Minha-lah yang sedang ia peluk. Apapun hal yang ia lakukan bersama Hyemi selama dua bulan tersebut, Minha akan selalu datang ke dalam pikirannya, memaksa ia untuk terus mengingatnya.

Luhan mendesah, dua bulan ini memang cukup sulit baginya. Tetapi anehnya dua bulan tersebut berlalu begitu saja tanpa ia sadari. Mungkin karena ia menikmati waktu-waktunya dengan Hyemi.

Bicara tentang Hyemi, bagi Luhan mencintai Hyemi juga bukan hal yang mudah saat seluruh hatinya masih dimiliki oleh Minha. Mencintai Hyemi baginya sesulit melupakan perasaannya pada Minha. Ia sudah mencoba untuk memberikan hatinya pada Hyemi, namun sekeras apapun usahanya, ia tetap gagal sebagaimana ia gagal menghapus Minha dari hatinya.

Sampai saat ini bisa dikatakan Hyemi berada di level di mana Luhan menyukainya dan menyanyanginya sebagai seorang teman. Bagi Luhan, Hyemi berada di posisi yang sama dengan Minseok, Yixing, dan Tao. Ia menyayangi mereka dan peduli terhadap mereka. Bedanya, tingkat kepedulian Luhan pada Hyemi berada satu tingkat lebih tinggi daripada kepeduliannya terhadap teman-temannya karena Hyemi adalah istrinya dan saat ini Hyemi sedang mengandung anaknya.

Luhan meletakkan cangkir kopinya di atas meja kemudian melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Tak terasa sudah setengah jam ia menghabiskan waktunya di kafe tersebut. Melihat langit yang masih biru dan belum menampakkan gradasi jingganya, Luhan memutuskan untuk segera pulang. Punggungnya sudah mendamba sekali keempukan ranjangnya di rumah.

Ia baru saja akan melangkahkan kakinya keluar kafe saat sosok yang begitu ia rindukan muncul di hadapannya. Mata rusanya semakin membulat, nafasnya tercekat, dan kakinya seolah membeku di tempat. Bagaimana tidak? Minha berada di hadapannya saat ini. Benar-benar suatu kebetulan yang tak terduga.

***

Seperti jatuh cinta kembali, Luhan merasakan jantungnya berdebar tak karuan saat berada di hadapan Minha. Sama halnya dengan Minha, ia juga merasa jantungnya berdebar seperti saat pertama kali ia jatuh cinta pada Luhan.

Rasanya manis, namun pahit di saat yang bersamaan mengingat dalam situasi seperti apa mereka saat ini. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada kenyataan kau berada di hadapan orang yang kau cintai tetapi kalian tidak bersama lagi.

Saat bertemu di pintu kafe tadi, setelah beberapa saat saling membeku di tempat, Luhan berhasil mengucapkan beberapa kata yang ia sendiri tidak tahu dari mana datangnya, “Hai… Lama tidak berjumpa denganmu… Bisa bicara sebentar?”

Dan di sinilah mereka sekarang. Masih di kafe yang sama, namun kali ini mereka tidak sendiri. Mereka berdua, duduk berhadapan, saling menemani satu sama lain tanpa sepatah kata pun terlontar dari mulut masing-masing. Rasanya canggung, seperti saat-saat pertama kali pendekatan. Namun debaran jantung dan rasa rindu perlahan mengikis kecanggungan di antara mereka.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Luhan yang pertama kali membuka suara sejak mereka memutuskan untuk duduk saling berhadapan di salah satu meja kafe tersebut.

“Baik. Kau?”

Bohong. Tentu saja Minha tidak baik-baik saja. Ia merasa sangat buruk dua bulan terakhir ini. Namun ia tidak ingin Luhan tahu karena ia tidak ingin membuat Luhan khawatir dan merasa bersalah.

Luhan berpikir sejenak. Dua bulan ini, meskipun agak sulit baginya menjalani hidup, tetapi ia merasa cukup baik. Hyemi benar-benar istri yang baik dan terkadang, tanpa ia dan Hyemi sadari, Hyemi dapat membuat perhatiannya teralih dari Minha. “Aku juga baik,” jawabnya kemudian.

Minha menatap Luhan sekilas sebelum menurunkan pandangannya ke arah kedua tangannya yang saling bertaut di atas meja. “Aku senang mendengarnya,” ujarnya tulus dengan seulas senyum kecil di bibirnya.

Ada begitu banyak pertanyaan di kepala Luhan yang ingin ia ajukan kepada Minha. Tetapi ia tidak ingin membombardir Minha dengan puluhan pertanyaannya. Di antara puluhan pertanyaan tersebut, ada satu pertanyaan yang sangat ingin ia ketahui jawabannya. Dengan menggigit bibir bawah, ia menimbang-nimbang apakah ia harus menanyakannya atau tidak.

Sepertinya rasa penasaran telah mengalahkan segalanya karena kemudian ia melontarkan pertanyaan yang membuat Minha mengalami perang batin di dalam dirinya. “Bagaimana dua bulan terakhir ini? Apa… Apakah kau sudah berhasil melupakan perasaanmu padaku?”

Jawaban jujur dari pertanyaan tersebut jelas saja ‘tidak’. Namun Minha tidak yakin bisa menjawab jujur saat keraguan melanda hatinya. Ia ragu untuk menjawab tidak. Ia takut jika ia menjawab tidak, ternyata Luhan malah sebaliknya, Luhan telah melupakan perasaannya padanya.

Merasakan tatapan Luhan yang sudah seperti laser ingin siap melubangi wajahnya karena menunggu jawaban darinya, akhirnya ia pun menjawab, “Ya… Aku sudah berhasil meskipun belum sepenuhnya melupakan perasaanku padamu. Mungkin sebentar lagi aku akan benar-benar bisa melepas perasaan ini. Hidupku dua bulan terakhir ini bisa dibilang baik-baik saja tanpamu.”

Minha tidak mengerti mengapa dirinya berbohong pada Luhan. Ia mengatakan ‘ya’ saat dirinya masih terus memikirkan Luhan selama dua bulan tersebut.

Mendengar jawaban Minha, tidak bisa dipungkiri Luhan agak kecewa. Jawaban Minha membuatnya berpikir, Minha telah berusaha hingga sejauh ini sementara dirinya? Usahanya tidak menghasilkan apapun. Minha telah berhasil melupakannya walaupun belum sepenuhnya. Ia jadi merasa tidak adil bagi Minha jika ia mengatakan yang sejujurnya pada Minha jika ia belum bisa melupakan perasaannya pada Minha. Namun di sisi lain ia ingin mengatakan yang sebenarnya mengingat betapa ia masih mencintai Minha seperti dulu.

“Aku… tidak. Aku masih terjebak dalam perasaan ini. Aku… masih mencintaimu…”

Minha bohong jika ia mengatakan ia tidak senang mendengar ucapan Luhan. Hatinya bergetar dan kupu-kupu yang sudah lama tidak ia rasakan kini berterbangan di dalam perutnya. Ingin sekali rasanya ia menarik kembali ucapannya sebelumnya dan mengatakan pada Luhan jika ia juga masih merasakan hal yang sama.

“Lalu sekarang bagaimana?” Tanya Minha, diam-diam berharap Luhan mengajak kembali bersama meskipun ia tahu keluarganya tidak akan senang jika mereka tahu dirinya masih berhubungan dengan Luhan.

“Aku tidak tahu… Kau bilang perlahan kau sudah bisa melupakan perasaanmu padaku. Tapi di sisi lain aku masih mencintaimu. Kau sendiri juga sebenarnya masih mencintaiku meskipun mungkin tidak seperti dulu lagi,” ujar Luhan.

Minha mendesah. Pertama karena ia sendiri juga bingung harus bagaimana, dan kedua karena Luhan benar-benar percaya dengan apa yang ia katakan sebelumnya.

“Kalau kita mengikuti perjanjian kita dua bulan yang lalu, seharusnya saat ini kita sudah kembali menjadi pasangan kekasih. Tetapi kurasa untuk saat ini, itu bukanlah keputusan yang tepat,” ucap Luhan agak menggantung.

Minha diam, menunggu Luhan melanjutkan ucapannya.

“Aku tidak tahu ini merupakan ide yang baik atau buruk, tapi… Ayo kita lanjutkan hubungan kita tanpa status apapun! Maksudku… kita tidak berpacaran tapi masih seperti berpacaran. Kau bebas mendekati pria manapun, kau tidak perlu sering-sering menghubungiku, dan jika kau sudah benar-benar jatuh cinta pada pria lain, kau bisa meninggalkanku dan aku berjanji tidak akan memintamu untuk kembali padaku. Sampai saat itu tiba dan selama kita masih saling mencintai, mari tetap bersama. Kita bisa melabeli hubungan ini sebagai pertemanan. Hanya saja beberapa tingkat lebih dekat dari hanya sekedar teman,” jelas Luhan. Ia menatap Minha sejenak sebelum kembali melanjutkan ucapannya.

“Jika kita masih saling mencintai sampai anakku lahir, mungkin aku akan segera menceraikan Hyemi dan kembali padamu.”

Luhan tidak terlalu yakin dengan ide menceraikan Hyemi. Tetapi untuk saat ini ide tersebut bisa saja terjadi mengingat sekarang ia masih mencintai Minha dan mungkin setelah Ziyu lahir ia tetap mencintai Minha. Kemungkinan itu selalu ada meskipun peluangnya tak terlalu besar.

Mendengar penjelasan Luhan, membuat Minha tidak bisa berpikir untuk menolak lagi. Mungkin ia harus berkorban sedikit lagi untuk bisa bersama Luhan. Ia hanya perlu menyiapkan hatinya untuk berbagi Luhan dengan Hyemi selama beberapa bulan ini. Pasti akan menyakitkan mengetahui Luhan sedang bersama Hyemi nantinya, tetapi ia berjanji ia akan menahannya selama ia masih bisa bersama Luhan meskipun tidak seperti dulu lagi. Terkadang keberuntungan tidak selalu ada di pihak kita, dan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan memang memerlukan pengorbanan, usaha, dan kesabaran. Dan Minha bersedia melakukan itu semua jika di akhir nanti ia bisa kembali bersama Luhan.

***

Sesampainya di rumah, setelah pertemuan mengejutkannya dengan Minha, Luhan merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ia kembali menjalin hubungan dengan Minha. Hanya saja hubungan mereka kali ini tidak mengikat. Ia tidak tahu dari mana datangnya ide tersebut saat ia bicara dengan Minha. Yang ia tahu ia hanya ingin memiliki apa yang ia inginkan. Bagaimanapun juga ia masih seorang manusia yang memiliki hati dan ego.

Saat akan masuk ke dalam kamar, tiba-tiba saja Luhan teringat Hyemi. Ia berpikir apakah sebaiknya ia memberitahu pertemuannya dengan Minha atau tidak. Tetapi setelah ditimbang-timbang, ia merasa Hyemi sebaiknya tidak tahu apapun tentang dirinya dan Minha sekarang. Akan lebih baik lagi jika tak ada satu orang pun yang tahu.

Begitu masuk ke dalam kamar dan melihat Hyemi yang baru saja keluar dari kamar mandi, perasaan bersalah menggelitik hatinya. Mengingat-ingat dua bulan belakangan ini membuatnya merasa jahat. Ia menyebut dirinya masih mencintai Minha, yang mana hal tersebut memang benar adanya, tetapi di rumah ia malah menikmati perannya sebagai suami Hyemi, menerima setiap kebaikan dan perhatian yang Hyemi berikan padanya. Ia sendiri juga benar-benar terlarut pada usahanya untuk menjadi pasangan suami istri yang baik dengan Hyemi. Sekarang, ia jadi merasa dirinya sedang berselingkuh di belakang Hyemi saat ia bersama Minha tadi. Dan mungkin, sebentar lagi ia akan merasa dirinya menyelingkuhi Minha saat ia tidur dengan Hyemi.

“Kau baru pulang?” tanya Hyemi, terdengar retorik namun Luhan mengerti arti pragmatis lain dari pertanyaan tersebut.

“Ya… Pulang kerja tadi aku mampir sebentar di kafe dekat sungai Han untuk minum kopi,” jawab Luhan seadanya. Setidaknya ia tidak berbohong pada Hyemi karena memang benar ia mampir ke kafe untuk minum kopi. Ia hanya tidak menjawab pertanyaan Hyemi dengan lengkap.

Hyemi hanya menganggukkan kepalanya pelan. “Mandilah kalau begitu. Kau terlihat lelah,” ujar Hyemi sebelum ia meninggalkan Luhan di kamar sendirian.

***

Malam harinya, saat mereka akan tidur, Luhan ingin memeluk Hyemi seperti biasa. Tetapi tiba-tiba saja ia merasa ragu. Karena bertemu dengan Minha tadi, ia jadi tak enak ingin memeluk Hyemi. Meskipun tidak resmi kembali sebagai pasangan kekasih, tetap saja ia dan Minha sudah kembali bersama walaupun tanpa status berpacaran. Memeluk Hyemi akan membuatnya merasa bersalah pada Minha.

“Kau belum mau tidur?”

Luhan tersentak mendengar suara Hyemi. Ia menoleh ke arah kirinya dan mendapati Hyemi yang sebelumnya memunggungi dirinya kini berbalik menghadapnya.

“A-ah i-i-itu aku baru saja akan tidur hehe,” jawabnya gugup. Ia sendiri bingung mengapa dirinya gugup.

Hyemi menatapnya dengan seksama selama beberapa detik. “Kau terlihat banyak pikiran… Apa ada kerjaan di kantor yang membuatmu stress?” tanyanya.

Luhan meneguk salivanya sendiri. Memang ada sedikit masalah di kantornya. Namun masalah tersebut tidak terlalu membuatnya stress. Yang membuatnya stress malah Minha dan Hyemi sendiri.

“Iya. Ada sedikit masalah di kantor. Model produk baru kami terlibat skandal narkoba sehingga kami harus mencari model baru dan membuat iklan yang baru. Masalah lainnya adalah, fotografer kami baru saja resign. Tapi sekretarisku baru saja menghubungiku beberapa saat yang lalu, memberitahuku bahwa kami sudah menemukan fotografer pengganti. Sekarang aku hanya perlu memikirkan model baru untuk iklan kami,” jelas Luhan, memberi alasan yang cukup masuk akal bagi Hyemi.

“Model ya? Kalau aku mengusulkan beberapa nama untuk menjadi model baru produk kalian, bagaimana?” tawar Hyemi. Ia kasihan melihat wajah suaminya yang terlihat begitu sayu.

Luhan berpura-pura berpikir sejenak, padahal tidak perlu ditawari pun Luhan akan meminta pendapat Hyemi nantinya. “Boleh saja. Tolong rekomendasikan aku artis-artis pria atau wanita yang menurutmu cocok menjadi model iklan ponsel terbaru kami,” ujar Luhan.

“Kalau pria, aku sarankan kau menggunakan Kim Soohyun. Dia tokoh utama drama The Man Who Came from The Star yang sekarang sedang booming di hampir seluruh Asia. Kau bisa juga menggunakan GDragon, salah satu member BigBang yang sudah sukses go international. Untuk wanita, kau bisa gunakan Jun Jihyun, pemeran utama wanita di drama The Man Who Came from the Star, Jessica Jung, penyanyi yang albumnya baru-baru ini menjadi hits, atau Im Nana, model baru Victoria Secret,” usul Hyemi.

Luhan mendengarkan Hyemi dengan seksama dan memperhatikan ekspresi serta gerak-gerik tubuh Hyemi saat mengusulkan artis-artis yang kemungkinan adalah idola Hyemi. “Oke! Terimakasih atas saranmu. Aku akan menyuruh sekeretarisku untuk mengecek artis-artis tersebut,” ujar Luhan.

Hyemi tersenyum senang, akhirnya ia bisa membantu meringankan sedikit masalah suaminya. Melihat Luhan tersenyum padanya membuat ia cukup lega. “Aku sudah membantumu dengan mengusulkan model baru untuk produkmu. Sekarang ayo tidur! Kau terlihat lelah,” ujar Hyemi sembari mendekatkan dirinya pada Luhan.

Awalnya Luhan mungkin agak ragu memeluk Hyemi seperti biasanya, tetapi sekarang keraguan tersebut menghilang entah kemana. Lagipula dia sudah terbiasa dengan tubuh Hyemi dalam dekapannya. Ia pun menarik Hyemi ke dalam pelukannya, membiarkan wajah Hyemi terbenam di dadanya dan mendengar suara jantungnya yang berdetak stabil. “Terimakasih dan… selamat malam,” ujarnya sebelum ikut memejamkan mata.

***

Keesokan harinya, saat jam makan siang Hyemi menghampiri Jongdae. Sampai hari ini ia belum bercerita apapun pada Jongdae maupun Baekhyun tentang apa yang terjadi di antara dirinya dengan Myungsoo saat di bandara beberapa hari lalu.

Hari ini Hyemi, Jongdae, dan Baekhyun memiliki jam kerja yang berbeda. Hyemi hanya bekerja sampai jam makan siang karena ia mendapat shorttime, Jongdae bekerja hingga pukul 7 karena sore nanti dia harus mengikuti rapat di kantor, sementara Baekhyun mendapat jam kerja petang, jadi dia masuk kantor pukul 6 dan pulang larut malam.

“Dae-ah! Kau makan siang sendiri ya! Aku mau makan siang di rumah!” ujar Hyemi pada Jongdae yang masih terlihat sibuk dengan berkas-berkas di atas mejanya. Jongdae hanya menggumam singkat, mengiyakan Hyemi sembari menganggukkan kepalanya. Melihat Jongdae yang begitu serius dengan tugas-tugasnya membuat Hyemi tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Saat serius, Jongdae bisa kelewat serius seperti saat ini.

“Aku pulang sekarang. Jangan lewatkan makan siangmu, mengerti?” pamit Hyemi sembari mengingatkan Jongdae untuk makan siang.

“Iya! Iya! Sudah sana pulang!” tanpa mengangkat wajah, Jongdae melambai-lambaikan tangannya pada Hyemi.

Hyemi menganggukkan kepalanya meskipun ia tahu Jongdae tak akan melihatnya. Ia pun beranjak pergi meninggalkan meja Jongdae.

“Hati-hati di jalan!” pesan Jongdae.

Di luar kantor, setelah mendapat taxi Hyemi tidak langsung pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk mampir sebentar di Bubble Tea Cafe, tempat yang Sehun, Jongin, dan Saera biasa datangi saat tidak bersama penua-penua grup mereka (re: dirinya, Baekhyun, dan Jongdae). Sesampainya di depan kafe, Hyemi langsung membayar lalu turun.

Saat akan berbalik setelah menutup pintu taxi, tiba-tiba saja tubuh Hyemi menegang. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Di seberang kafe, tepatnya di dalam sebuah restaurant, ia melihat suaminya sedang menikmati makan siang bersama Minha, mantan kekasih suaminya. Rasanya seperti dilempari sebuah batu besar, ia sadar seharusnya dia tidak berharap besar tentang Luhan yang akan melupakan Minha. Bagaimanapun juga Minha pernah, dan mungkin masih, menjadi bagian dari hidup Luhan. Tidak akan semudah itu bagi Luhan untuk melupakan perasaannya, apalagi Minha itu sendiri.

Dan untuk yang pertama kalinya Hyemi merasa bodoh. Merasa bodoh karena berpikir Luhan serius tentang melupakan Minha. Merasa bodoh karena berpikir Luhan akan benar-benar bisa menyingkirkan Minha dari hatinya. Dan merasa bodoh karena terlalu percaya pada harapan bahwa ‘kita’ di antara dirinya dengan Luhan itu ada.

Hyemi tersenyum miris. Dalam hati ia berkata, sampai kapanpun dirinya tidak akan bisa mengalahkan Minha di hati Luhan. Tiga tahun versus dua bulan? Sudah jelas dia kalah telak. Namun kemudian, ia berpikir kembali, mengapa ia ingin mengalahkan Minha?

Hati kecilnya membisikinya sebuah jawaban, namun ia tidak mau menerima jawaban tersebut.

“Tch! Tidak mungkin. Aku hanya terbawa perasaanku saja. Haha,” decaknya lalu tertawa sarkastik.

Melihat Luhan yang bicara dan tertawa dengan Minha tanpa ada raut sedih ataupun terbebani di wajahnya membuat Hyemi merasakan suatu perasaan asing yang tidak ia mengerti. Karena bosan, atau tidak suka mungkin, melihat Luhan dan Minha, Hyemi memutuskan untuk pulang. Selain itu ia juga tidak ingin Luhan melihatnya. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia tidak ingin Luhan melihatnya.

Mendesah kesal, Hyemi berjalan meninggalkan kafe tersebut. Hasrat ingin mengkonsumsi bubble tea hilang begitu saja. Sekarang ia semakin kesal karena harus berjalan dan mencari taxi lagi.

Saat sedang berjalan, Hyemi terus saja memikirkan Luhan yang sedang bersama Minha. Ia tidak ingin memikirkan mereka berdua, namun tanpa ia kehendaki pikiran tersebut terus muncul di otaknya dan itu benar-benar membuatnya kesal. Fakta bahwa Luhan dan Hyemi kembali bersama, menurut apa yang baru saja ia lihat, membuat Hyemi merasa terganggu dan tidak suka. Ini tidak normal bagi Hyemi karena tidak seharusnya ia merasa seperti itu jika Luhan dan Minha kembali bersama. Ia seharusnya tidak peduli dan membiarkan Luhan melakukan apapun yang ia inginkan, termasuk kembali pada Minha. Tetapi saat ini ia benar-benar tidak suka melihatnya.

‘Mungkin ini hanya instingku sebagai istri… Lagipula istri mana yang suka melihat suaminya bersama wanita lain?’ batin Hyemi.

Namun kemudian ia kembali berpikir, mengapa ia memusingkan masalah ini? Memang dia dan Luhan saling mencintai?

Pikiran-pikiran tentang Luhan dan Minha benar-benar membuat moodnya kacau. Ia pun kehilangan nafsu untuk makan dan tak ingin lagi segera sampai di rumah. Yang ia inginkan sekarang hanyalah jauh dari segala hal yang berhubungan dengan Luhan. Hanya satu tempat yang terlintas di kepalanya saat ini. Rumah kontrakan Baekhyun dan Jongdae.

Jongdae sudah pasti masih berada di kantor, tetapi Baekhyun, Hyemi yakin 100% Baekhyun berada di rumah dan sedang bermalas-malasan saat ini. Begitu mendapat taxi, Hyemi langsung meluncur ke rumah kontrakan Baekhyun dan Jongdae.

Dan benar saja, Baekhyun masih berada di rumah. Ia bahkan masih mengenakan piyama. Hyemi berani bertaruh Baekhyun belum mandi sejak pagi.

“Ada apa tiba-tiba kemari?” tanya Baekhyun begitu mendapati wajah Hyemi di depan pintunya.

“Aku ingin curhat,” jawab Hyemi.

Dari wajah dan suaranya, Baekhyun tahu ada sesuatu yang mengganggu Hyemi. Ia pun mempersilakan Hyemi untuk masuk dan membuatkan Hyemi segelas orange juice.

“Bisa kutebak! Pasti tentang Luhan atau Myungsoo, kan?” tebak Baekhyun.

Hyemi menganggukkan kepalanya, “Tentang mereka berdua lebih tepatnya.”

“Hm.. oke. Berceritalah sampai kau puas! Kupingku akan selalu terjaga untuk mendengar ocehanmu. Dan jika kau butuh bahu untuk menangis, kau bisa menangis di bahuku!” ujar Baekhyun membuat Hyemi tertawa kecil.

“Ugh, oke. Tapi kurasa aku tak akan membutuhkan bahumu. Kau terlalu berlebihan kalau berpikir aku akan menangis. Kau tahu aku bukan wanita yang mudah me-“

“Oke, oke, aku mengerti. Langsung saja cerita kalau begitu!” potong Baekhyun.

Hyemi mendengus kasar kemudian terdiam sejenak untuk berpikir harus dari mana ia memulai ceritanya.

“Kau ingat beberapa hari yang lalu saat aku tidak datang ke kantor?”

Baekhyun menganggukkan kepalanya. “Kau membuat aku dan Jongdae khawatir setengah mati saat itu kau tahu! Kami pikir terjadi sesuatu padamu di jalan!”

“Maaf…” ujar Hyemi. Ia benar-benar merasa bersalah telah membuat kedua sahabatnya khawatir.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau benar-benar tak enak badan saat itu?” tanya Baekhyun.

Hari itu, saat menyusul Myungsoo ke bandara, Hyemi mengirim pesan pada Jongdae dan Baekhyun bahwa ia tidak bisa bekerja karena tak enak badan dan meminta salah satu dari mereka untuk memberitahukan hal tersebut pada atasan mereka.

Hyemi menggigit bibir bawahnya. Ia tahu sekali bagaimana Baekhyun dan ia yakin, sedetik setelah ia mengungkapkan hal yang sebenarnya pada Baekhyun, Baekhyun mungkin  akan mengomelinya habis-habisan.

“Maaf, aku berbohong. Aku tidak sakit-“

“Apa?!”

“-tapi saat itu aku pergi ke bandara untuk menemui Myungsoo,” jawab Hyemi yang sempat disela oleh Baekhyun. Baekhyun menatap Hyemi tak percaya dengan mulut terbuka.

“Ya! Katakan padaku, kau menemuinya untuk mengakhiri hubungan kalian, kan? Iya, kan?” desak Baekhyun. Hyemi menelan salivanya. Jawabannya sudah jelas berbanding terbalik dari ekspektasi Baekhyun.

“A-a-ku… aku tidak melakukannya Baek…” gumam Hyemi pelan. Sangat pelan hingga Baekhyun nyaris tak mendengar suaranya.

“Astaga Hyemi! Kau- aish…” Kehilangan kata-kata, Baekhyun hanya bisa menghela nafas kasar.

“Aku punya alasan, oke?” ujar Hyemi, mencoba membela diri meskipun ia tahu, mau bagaimanapun juga ia membela dirinya, ia tetap salah.

“Dan alasanmu adalah?”

Hyemi menarik nafas sembari memejamkan matanya sejenak, “Ini rumit, Baek. Lebih rumit dari yang kau pikirkan,” jawab Hyemi.

“Aku tidak akan tahu bagaimana rumitnya jika kau tidak memberitahunya,” ujar Baekhyun dengan suara lembut. Saat Baekhyun bicara dengan nada seperti itu, itu tandanya ia sedang serius dan ia benar-benar ingin membantu. Ia tidak ingin Hyemi memikul beban sendirian.

“Aku bingung bagaimana harus memulainya… Semuanya benar-benar rumit dan membuatku jengah,” ujar Hyemi frustasi.

Baekhyun menatap sahabatnya, iba. Selama ia bersahabat dengan Hyemi, ini pertama kalinya ia melihat Hyemi frustasi karena sesuatu yang sama sekali bukan ‘Hyemi’. Sebut saja cinta.

“Kau bisa mulai dari mana saja. Itu terserah padamu, yang penting kau mengeluarkannya. Setidaknya dengan begitu kau bisa sedikit lega,” saran Baekhyun.

Hyemi menganggukkan kepalanya pelan. Tujuannya kemari memang karena ingin menceritakan problema hidupnya, atau hati lebih tepatnya.

“Kau tahu kan aku dan Myungsoo sudah cukup lama bersama meskipun kami berhubungan jarak jauh…”

Baekhyun menganggukkan kepalanya, mendengarkan cerita Hyemi dengan seksama.

“Saat aku mengetahui kehamilanku, aku mengingat dia yang begitu mencintaiku, membuatku tersentuh dan sadar bahwa aku mulai merasa aku benar-benar mencintainya. Tetapi kemudian aku menikah dengan Han. Dan dalam dua bulan tersebut aku tidak tahu bagaimana bisa itu terjadi, aku merasakan sesuatu yang aneh pada Han. Mungkin ini karena dia memperlakukan aku dengan sangat baik ditambah efek dari kehamilanku,” tuturnya lalu member jeda sejenak untuk menarik nafas, “Aku merasa aku masih mencintai Myungsoo tetapi di saat yang bersamaan, perasaan aneh ini pada Han… Itu benar-benar membuatku frustasi…”

Hyemi menghembuskan nafas berat kemudian melanjutkan ceritanya, “Sehari sebelum aku ke bandara, aku bicara dengan Han. Dan saat itu aku sadar, aku mungkin tidak akan pernah punya masa depan dengannya. Hal tersebutlah yang membuatku menemui Myungsoo dan membiarkan ia tetap menungguku. Aku tahu apa yang aku lakukan itu salah, tapi aku tidak bisa mencegahnya. Bagaimanapun juga aku ini manusia, aku lahir dengan keegoisan dalam diriku, aku hanya ingin memiliki seseorang yang mencintaiku, aku ingin… bahagia…”

Baekhyun mungkin akan menangis jika saja Hyemi tidak berada di hadapannya. Ia mengerti betapa resahnya Hyemi dan ia kasihan melihat sahabatnya seperti itu. Hyemi terlihat begitu rapuh saat dia mengatakan dia ingin bahagia.

“Aku tidak akan menghakimimu dengan mengatakan apa yang kau lakukan salah atau benar. Aku bisa merasakan betapa sulitnya berada di posisimu dan aku sekarang mengerti alasanmu. Ya, tidak ada manusia yang tidak ingin bahagia. Aku tidak bilang aku mendukung apa yang kau lakukan tersebut, hanya saja, saat mungkin dunia menentang apapun yang kau lakukan, aku ingin kau tahu jika aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu berada tepat di belakangmu untuk menangkapmu saat kau terjatuh,” ujar Baekhyun. Baekhyun mungkin bukan tipe orang yang selalu bisa memberi solusi saat seseorang curhat padanya, tetapi ia adalah pendengar dan penenang yang baik.

“Baekhyun-ah…” panggil Hyemi. Ia nyaris menangis mendengar kata-kata Baekhyun. Orang lain mungkin akan mengatakan Baekhyun berlebihan atau terlalu puitis, tetapi untuk Hyemi, apa yang Baekhyun katakan adalah janji. Janji yang tulus dari seorang sahabat pada sahabatnya. Janji yang juga menunjukkan betapa Baekhyun menyayanginya seperti seorang kakak laki-laki ke adik perempuannya.

“Ya?” tanya Baekhyun.

“Kau membuatku ingin menangis!”

Baekhyun terkekeh meskipun dirinya sendiri pun sebenarnya ingin menangis juga.

“Aw! Kemarilah!” ujarnya ber-aw ria sembari membuka kedua tangannya, memberi kode pada Hyemi untuk masuk ke dalam pelukannya. Dengan senang hati Hyemi menghampiri Baekhyun dan menyambut pelukannya.

“Terimakasih sudah mendengarkanku. Aku merasa sedikit lebih lega sekarang setelah menceritakannya,” ujar Hyemi.

Baekhyun menggumam lalu mengeratkan pelukannya namun memastikan pelukannya tidak terlalu erat. “Aku senang kau merasa lega. Maaf aku tidak bisa memberi solusi apapun padamu. Kau tahu aku paling buruk masalah memberi solusi. Kurasa kau harus bicara pada Jongdae juga. Siapa tahu ia bisa memberimu solusi yang tepat,” saran Baekhyun.

Hyemi menganggukkan kepalanya, “Aku akan bicara padanya nanti atau mungkin besok.”

***

Hingga makan malam tiba, Luhan belum juga pulang. Hyemi tahu Luhan pasti masih bersama Minha.

“Hyemi, Luhan kemana? Mengapa ia belum pulang juga?” tanya ayah mertuanya tiba-tiba membuat Hyemi nyaris tersedak.

“A-ah, i-itu, Han masih bekerja dan dia pulang telat hari ini, Appa,” bohongnya. Hyemi sangat gugup hingga ia bicara terbata-bata.

“Oh… Setelah makan jangan lupa hubungi dia dan ingatkan dia untuk makan malam,” pesan ayah mertuanya. Dalam hati Hyemi bersyukur karena ayah mertuanya percaya dengan apa yang ia katakan.

“Ne Appa,” sahutnya kemudian.

Di sisi lain meja makan, Kris menatap Hyemi tidak percaya. Ia merasa ada yang janggal. Namun Kris tidak ingin langsung mengambil kesimpulan bahwa Hyemi berbohong. Hanya saja tadi saat ia akan pulang, ia juga melihat Luhan yang memasuki mobilnya dan itu membuatnya heran. Kris pun mencoba berpikir positif. Berpikir bahwa mungkin Hyemi berkata jujur, mungkin Luhan hanya pergi keluar sebentar kemudian kembali lagi ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.

***

Setelah makan malam, Hyemi mengecek ponselnya di kamar. Ternyata ada sebuah pesan dari Jongdae.

From: Babo Dae

Mau cerita pada sekarang? Aku di rumah.

Hyemi berpikir sejenak, dia bosan di rumah. Berada di rumah membuatnya teringat akan Luhan dan fakta bahwa Luhan  sedang bersama Minha saat ini membuatnya kesal. Ia pun membalas pesan Jongdae, mengatakan bahwa ia akan pergi ke rumahnya sebentar lagi.

To: Babo Dae

Aku ke sana sebentar lagi. Ngomong-ngomong aku ingin kimbab. Belikan aku kimbab di dekat rumahmu, oke? Terimakasih! Aku mencintaimu Kim Jongdae♥ ㅋㅋㅋ

Hyemi terkekeh begitu mendapat balasan dari Jongdae. Tak butuh waktu lebih dari semenit, Jongdae sudah membalas pesannya. Bisa Hyemi simpulkan saat ini Jongdae memang sedang memegang ponselnya karena saat Jongdae bersama ponselnya, ia akan membalas pesan siapapun dengan cepat.

From: Babo Dae

Jika ada maunya saja berkata manis seperti itu! Dasar busuk!

Hyemi tertawa lalu meletakkan ponselnya di atas nakas dan bersiap-siap untuk pergi. Dia tidak mau membalas pesan Jongdae lagi karena ia yakin, jika ia membalas pesan Jongdae, maka mereka akan berakhir dengan obrolan via sms yang tak kunjung berakhir.

Selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih hangat, Hyemi keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tengah terlebih dahulu untuk memberitahu ibu mertua atau kakak iparnya jika ia akan pergi. Di ruang tengah, ternyata ada ibu mertuanya, Hara, Kris, dan si kembar.

Eomma,” panggilnya.

Ibu mertuanya pun menoleh, “Ya, Hyemi-ya? Eh? Kau mau kemana?” tanya ibu mertuanya begitu mendapati Hyemi dengan pakaian rapi dan siap pergi.

“Aku mau pergi menemui Jongdae,” jawab Hyemi.

Ibu mertuanya pun menganggukkan kepala, “Oh… Baiklah, hati-hati di jalan kalau begitu! Jangan pulang terlalu larut, oke?” pesannya pada Hyemi.

“Ne, eomma!” sahut Hyemi.

“Hubungi Luhan jika kau tidak mendapat taxi saat pulang!”

Mendengar nama Luhan disebut membuat Hyemi merasakan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Ia pun hanya menggumam, mengiyakan ucapan ibu mertuanya. “Aku berangkat. Annyeong!” pamitnya kemudian.

***

Tak butuh waktu lama untuk kembali ke rumah kontrakan Jongdae dan Baekhyun. Sesampainya di sana, Hyemi langsung mendudukkan dirinya di atas sofa. Moodnya tiba-tiba saja turun setelah ibu mertuanya menyebut nama Luhan.

Melihat wajah masam sahabatnya, Jongdae langsung memberikan kimbab pesanan Hyemi sebelumnya untuk membuat mood Hyemi sedikit naik. Syukurnya usaha Jongdae untuk membuat mood Hyemi naik berhasil. Wajah masam Hyemi langsung berganti menjadi wajah senang lengkap dengan senyum manis mengembang tatkala Jongdae menghidangkan kimbab di hadapannya.

Hyemi langsung meraih sumpit yang juga telah Jongdae siapkan untuknya. Tanpa ba-bi-bu lagi, Hyemi menyantap kimbab tersebut dengan lahap. Ia bahkan hampir lupa menawari Jongdae saking semangatnya melahap kimbab tersebut.

Setelah selesai menyantap kimbab yang Jongdae belikan untuknya, Hyemi mengelus-elus perutnya yang kekenyangan.

“Kau sudah kenyang? Paman Jongdae membelikannya untukmu, kau senang?”

Jongdae yang melihatnya bicara pada perutnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Mengingat tujuan awal Hyemi datang, Jongdae pun bertanya, “Jadi apa yang ingin kau ceritakan?”

Hyemi langsung mengangkat wajahnya, menatap Jongdae yang duduk tak jauh darinya, begitu mendengar pertanyaan Jongdae. Ekspresi wajahnya langsung berganti menjadi ekspresi lemas.

“Myungsoo dan Han…”

“Ada apa dengan mereka?” tanya Jongdae.

Hyemi menghela nafas sejenak sebelum menceritakan kembali apa yang sudah ia ceritakan pada Baekhyun sebelumnya.

“Malam sebelum keberangkatan Myungsoo, aku bicara dengan Han. Aku bertanya padanya apakah dia akan kembali pada Minha jika dia punya kesempatan atau tidak, namun dia hanya diam dan itu membuatku mengambil sebuah kesimpulan, dia pasti akan memilih kembali pada Minha daripada bersamaku. Hal tersebut membawaku pada sebuah keputusan yang aku sendiri tak tahu apakah itu keputusan yang benar atau salah…”

Hyemi melirik Jongdae sekilas, memastikan Jongdae mendengarkan ceritanya sebelum ia melanjutkan kembali ceritanya. “Keesokan harinya aku datang ke bandara, aku menemui Myungsoo. Aku tidak memutuskan hubunganku dengannya, tapi malah membiarkan dia menungguku. Aku tahu aku egois… Tapi aku tidak bisa menahannya. Aku bingung… Aku merasa mencintai Myungsoo tapi aku juga menginginkan Han. Aku tidak bisa melepas Myungsoo saat aku tahu beberapa bulan lagi mungkin Han akan meninggalkanku.”

Belum selesai sampai di sana, Hyemi kembali melanjutkan ceritanya. “Kau tahu… tadi siang sepulang kerja aku melihat Han makan siang bersama Minha. Sebelumnya aku pikir aku tidak akan apa-apa melihat mereka berdua, tapi tadi… aku tidak tahu mengapa aku malah kesal, marah, dan tidak suka melihatnya. Aku kesal melihat Han bersama Minha. Aku tidak suka Han masih berhubungan dengan Minha. Rasanya aneh sekali. Mengapa aku merasa seterganggu ini jika sebelumnya aku biasa saja?”

Jongdae menghela nafas pasrah mendengar cerita Hyemi. Ia tahu Hyemi adalah orang yang bodoh jika berhubungan dengan sesuatu bernama ‘cinta’. Tetapi ia baru tahu Hyemi bisa sebodoh ini. Dalam hati ia merasa kasihan melihat Hyemi yang bingung dan tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.

“Jongdae-ya, apa menurutmu ini tanda bahwa aku memang seharusnya kembali pada Myungsoo?” tanya Hyemi membuat Jongdae semakin lemas.

“Ya! Kau ini bodoh atau apa?”

Hyemi tersentak mendengar pertanyaan Jongdae. Ia tidak mengerti mengapa Jongdae menyebut dirinya bodoh. Menurut otaknya, ia sudah membuat keputusan yang tepat untuk mempertahankan Myungsoo. Tetapi hatinya mengatakan hal yang sebaliknya dan ia berusaha mengabaikan apa yang hatinya katakan.

“Hyemi-ya, tidakkah kau mengerti perasaanmu sendiri?” tanya Jongdae pada Hyemi yang mulai frustasi. Hyemi menggelengkan kepalanya. Ia tidak pernah mengerti mengapa cinta bisa serumit ini.

Jongdae mengacak-acak rambutnya, gusar. Lama-lama ia gemas melihat Hyemi seperti ini, “Sekarang aku tanya, kau mencintai Myungsoo atau Luhan?” tanyanya mulai frustasi juga seperti Hyemi.

Hyemi menggigit bibir bawahnya, bingung menjawab siapa. Seharusnya ia bisa menjawab dengan mudah karena otaknya selalu berpikir Myungsoolah yang ia cintai. Tetapi, entah mengapa menjawab Myungsoo rasanya sulit sekali baginya seolah-olah ia harus memikirkan kembali jawabannya.

“Hyemi-ya, jangan terus membantah perasaanmu sendiri…” ujar Jongdae.

Hyemi benci harus mengakuinya. Ia tidak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi dalam kehidupan percintaannya. Ia tidak ingin jatuh cinta pada orang saat ia masih terikat oleh seseorang. Terlebih lagi orang tersebut mungkin tak akan bisa ia miliki. Ia benci harus mengakui jika ia memang telah jatuh cinta pada Luhan.

“Aku tidak mencintai Han. Menyukainya oke, iya, aku akui. Tapi mencintainya, kurasa tidak. Ini hanya ketertarikan sesaat, aku yakin,” elak Hyemi.

Jongdae hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan Hyemi. “Kau baru saja mengungkapkan kecemburuanmu Hyemi-ya. Cemburu itu salah satu tanda cinta,” balasnya.

“Aku tidak cemburu!” elak Hyemi.

“Kesal dan tidak suka melihatnya dengan wanita lain itu namanya cemburu! Berhentilah mengelak dan terima kenyataan bahwa kau memang benar-benar sudah jatuh hati padanya!”

Hyemi terdiam. Mulutnya tiba-tiba terkunci. Semakin ia ingin mengelak, maka semakin besar kesadarannya akan perasaannya sendiri dan itu membuatnya sebal.

“Katakan Hyemi, kau suka saat ia berada di dekatmu, kan? Kau senang ia memperhatikanmu? Kau gelisah saat dia berada jauh darimu? Dan kau benci melihat dia bersama Minha?” tanya Jongdae seperti mengintrogasi.

Ya, ya, ya, dan ya. Itulah jawaban Hyemi. Benar, ia menyukai keberadaan Luhan di dekatnya. Benar dalam hati ia senang saat Luhan memperhatikannya. Benar juga terkadang ia gelisah dan merindukan Luhan saat Luhan berada jauh darinya. Dan benar juga ia tidak suka, ia kesal, dan ia benci melihat Luhan bersama Minha. Jangankan melihat, memikirkannya saja sudah membuatnya marah.

Mau tidak mau akhirnya Hyemi mengaku dan menerima kenyataan bahwa ia memang mulai jatuh cinta pada Luhan. Bagaimana bisa ia tidak jatuh cinta pada Luhan saat Luhan selalu berada di dekatnya setiap hari dan benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik.

“Kau yakin apa yang kurasakan ini adalah cinta? Maksudku, aku dan dia baru dua bulan bersama. Apa mungkin seseorang bisa jatuh cinta dalam waktu sesingkat itu?” tanya Hyemi. Inilah salah satu hal yang membuatnya selalu ragu akan perasaannya sendiri. Ia baru dua bulan bersama Luhan dan ia tak yakin dua bulan itu cukup untuk menumbuhkan cinta di hatinya saat ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencintai Myungsoo.

“Cinta itu tidak mengenal waktu. Mau dua bulan, dua minggu, dua hari, cinta bisa saja datang. Bahkan ada beberapa orang yang jatuh cinta hanya dalam hitungan detik,” jelas Jongdae.

Kata-kata Jongdae bagai anak panah yang menancap tepat di sasaran. Hyemi sampai terdiam dibuat olehnya karena apa yang ia katakan benar-benar mengena di hati Hyemi. Hyemi adalah orang bodoh jika ia berurusan dengan cinta. Ia butuh bantuan untuk benar-benar bisa mengerti cinta. Dan Jongdae baru saja membantunya, membuatnya semakin sadar akan perasaannya dan pada akhirnya menyerah.

Hyemi menghela nafas lalu menundukkan kepalanya, menatap kedua tangannya yang saling bertaut. “Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanyanya lemah.

Jongdae menatap Hyemi sejenak. Jika ditanya seperti itu, ia hanya memiliki satu jawaban untuk Hyemi. “Lepaskan yang tidak hatimu inginkan dan dapatkan yang ingin kau miliki,” jawab Jongdae.

Hyemi tidak bodoh, ia mengerti apa yang Jongdae maksud. Tetapi ia ragu apakah ia bisa melakukan apa yang Jongdae sarankan padanya.

Jongdae melihat bagaimana raut wajah Hyemi berubah. Ia bisa merasakan kebimbangan pada diri Hyemi.

“Kau tidak bisa menahan Myungsoo terus. Kau ‘tidak’ mencintainya lagi. Meskipun suatu saat nanti Luhan meninggalkanmu dan kau kembali pada Myungsoo, kau tidak akan bisa bahagia. Memang dia mencintaimu, tapi kau? Kau tidak memiliki perasaan yang sama. Bersama Myungsoo hanya akan membuatmu hidup dalam rasa bersalah jika kau tidak mencintainya,” ucap Jongdae lagi.

“Lepaskan dia secepatnya Hyemi-ya. Tegaskan padanya jika kau tidak bisa memilihnya. Sekarang sudah jelas kau mencintai Luhan. Tidak ada alasan lagi untuk menahan Myungsoo. Yang harus kau lakukan sekarang adalah mendapatkan hati Luhan dan membuat Luhan menjadi milikmu.”

Sekali lagi kata-kata Jongdae menancap tepat di hatinya. Kalimat terakhirnya benar-benar mengena, membuat Hyemi tak bisa mendengar suara lain selain kalimat terakhir Jongdae.

‘Yang harus kau lakukan adalah mendapatkan hati Luhan dan membuat luhan menjadi milikmu.’

Seperti tersihir, Hyemi menganggukkan kepalanya. Kalimat terakhir Jongdae benar-benar memiliki dampak besar terhadap dirinya. Ia jadi merasa harus melakukan hal tersebut.

***

Sekitar setengah jam setelah Hyemi keluar, Luhan tiba di rumah. Setibanya di rumah, tak satupun dari keluarganya yang sedang berkumpul di ruang tamu menanyainya mengapa ia pulang terlambat. Luhan agak heran, namun ia menepis perasaan herannya.

Saat akan masuk ke kamarnya, ia bertemu Kris yang kebetulan lewat. Kris yang sebelumnya sempat bertanya-tanya tentang absennya Luhan saat makan malam pun berhenti. Ia benar-benar penasaran dengan keberadaan Luhan saat jam makan malam.

“Kau dari mana?” tanya Kris kemudian membuat Luhan tersentak dan menghentikan langkahnya. Kris melirik ke arah ruang tengah sejenak, memastikan tak ada yang mendengar suaranya dari sana.

Luhan menelan salivanya, ia panik. Ia tahu ia tidak akan bisa membohongi Kris. Tetapi ia tidak bisa mengungkapkan jawaban yang sebenarnya pada Kris.

“Oh? Aku makan malam dengan temanku sepulang kerja,” jawabnya, berharap Kris tidak menyadari kepanikannya. Setidaknya ia tidak berbohong saat menjawab ia makan malam dengan temannya karena Minha adalah ‘teman’nya sekarang.

Kris menatap adiknya sejenak sembari membiarkan jawaban adiknya diproses oleh otaknya. Ia pun menganggukkan kepala, “Berarti Hyemi berbohong,” ujarnya kemudian, membuat kening Luhan berkerut.

“Apa maksudmu Hyemi berbohong?” tanya Luhan.

Kris pun menceritakan kejadian saat makan malam tadi pada Luhan.

“Hyemi bilang kau sedang bekerja ketika appa bertanya kau di mana saat makan malam tadi. Itu… membuatku bingung karena saat pulang tadi aku melihatmu memasuki mobilmu di parkiran,” jelas Kris.

Mendengar penjelasan Kris membuat Luhan heran. Ia heran mengapa Hyemi berbohong. Ia tidak mengerti motif dari kebohongan Hyemi.

“Oh… Mungkin ia tidak tahu harus menjawab apa. Sepertinya ia mengira aku masih bekerja karena aku tidak mengabarinya,” ujar Luhan, berusaha melindungi Hyemi dari tuduhan Kris. Dalam hati ia tidak begitu yakin Hyemi berbohong seperti apa yang Kris katakan padanya. Ia pikir Hyemi hanya asal menjawab saja, mengira dirinya benar-benar masih bekerja.

“Hm… Ya, bisa jadi,” sahut Kris seadanya. Meskipun ia berusaha setuju pada apa yang Luhan katakan, ia tetap yakin pada dirinya sendiri bahwa Hyemi berbohong. Ia ingat betul bagaimana Hyemi menjawab pertanyaan ayahnya.

‘A-ah, i-itu, Han masih bekerja dan dia pulang telat hari ini, Appa.’

Gugup dan bicara tergagap adalah salah satu ciri orang berbohong. Bagi Kris, Hyemi menjawab pertanyaan ayahnya seolah-olah ia tahu dan ia yakin Luhan memang masih bekerja dan akan pulang telat, bukan ragu dan tidak tahu. Kris berpikir, jika Hyemi tidak tahu bukankah seharusnya dia mengatakan yang sebenarnya seperti mengatakan bahwa ia tidak tahu, atau ia tidak yakin Luhan berada di mana dan mungkin sedang bekerja? Apa yang ia pikirkan membuatnya tetap setuju dengan dirinya sendiri bahwa Hyemi berbohong. Tetapi ia sendiri bingung mengapa Hyemi harus berbohong?

Melihat Kris yang tidak memberi respon apapun lagi, Luhan mengambil kesempatan ini untuk pergi. “Jika tidak ada yang ingin kau sampaikan lagi, aku akan masuk ke kamar, Hyung,” ujarnya, mengalihkan perhatian Kris dari usahanya mencari tahu alasan Hyemi berbohong. Kris menganggukkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan Luhan ke ruang tengah.

Satu hal yang Luhan tidak sadari selama ia berbicara dengan Kris, Kris memperhatikan wajahnya saat bicara dan dengan mudah Kris tahu kalau dirinya berbohong soal makan malam dengan teman. Karena bagi Kris, Minha bukanlah sekedar teman untuk Luhan. Tetapi untuk kali itu saja dia diam dan membiarkan adiknya berbohong.

Melihat Kris yang sudah pergi meniggalkannya, Luhan pun masuk ke dalam kamar. Ia berencana akan langsung menanyai Hyemi perihal makan malam tadi begitu di dalam kamar, tetapi ternyata Hyemi tidak ada di kamar. Karena tak mendapati sosok Hyemi di kamar mereka, Luhan pun keluar dari kamarnya dan mencari ibunya di ruang tengah.

Eomma, Hyemi kemana?” tanya Luhan sesampainya ia di ruang tengah.

Ibunya menoleh begitu mendengar suaranya, “Dia pergi menemui Jongdae. Ada apa?” tanya ibunya balik.

Luhan menggelengkan kepalanya, “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja. Ia tidak mengabariku jika ingin pergi dengan Jongdae, jadi aku agak khawatir tidak melihatnya di rumah,” jelasnya.

“Oh… Kau hubungi saja dia dan tanya apa dia mau dijemput atau tidak. Kasihan kan kalau nanti dia pulang harus mencari taxi dulu,” saran ibunya.

“Ne, eomma,” balas Luhan sambil menganggukkan kepala sebelum kembali lagi ke kamarnya.

***

Hyemi pulang ke rumah pukul 10 bersama Sehun karena tak lama setelah ia curhat pada Jongdae, Saera, Jongin, dan Sehun datang tiba-tiba ke rumah Baekhyun-Jongdae. Jadilah ia yang berencana pulang pukul 9 malah pulang pukul 10. Untung saja Sehun ikut pulang bersamanya, jadi ia tidak perlu pulang sendiri atau merepotkan Jongdae untuk mengantarnya.

“Kau sudah pulang…” ujar Luhan begitu Hyemi masuk ke kamar, membuat Hyemi agak terkejut. Hyemi tidak menyangka Luhan sudah akan berada di kamar mereka saat ia pulang karena ia mengira Luhan akan benar-benar menghabiskan waktunya dengan Minha hingga larut malam.

“Kau pulang dengan Sehun, kan?” tanya Luhan.

Hyemi menganggukkan kepalanya. Sehun sudah menjelaskan padanya alasan mengapa dia datang tiba-tiba ke rumah BaekDae bersama Saera dan Jongin. Ternyata Luhan yang menghubunginya dan meminta dia menjemput Hyemi sekalian sepulang dia kuliah. Kebetulan sekali hari ini Sehun ada kuliah malam.

“Hm, ya. Aku pulang dengannya. Terimakasih sudah menyuruhnya menjemputku walaupun sebenarnya kau tidak perlu melakukan itu. Aku jadi tidak enak pada Sehun,” ucap Hyemi.

Luhan tersenyum kecil mendengar Hyemi, “Kau tidak perlu merasa tak enak padanya. Dia tidak pernah merasa keberatan melakukan apapun jika itu berhubungan dengan noona-noona favoritnya.”

“Syukurlah kalau begitu,” balas Hyemi.

“Kau sudah makan?” tanya Luhan retorik. Dalam hati ia menyesal telah bertanya seperti itu. Jelas saja Hyemi sudah makan karena Kris sudah mengatakan sebelumnya jika Hyemi makan malam di rumah.

Hyemi hanya menggumam sembari menganggukkan kepala dan itu membuat Luhan sedikit lega karena dia tidak menjawab pertanyaan Luhan dengan jawaban yang sarkastik.

“Kau terlihat lelah… Sana ganti bajumu dan tidurlah,” suruh Luhan kemudian yang lagi-lagi hanya direspon oleh anggukkan kepala dari Hyemi.

Setelah mengganti pakaian, Hyemi naik ke atas ranjang dan seperti biasa, Luhan memeluknya. Luhan tidak langsung memejamkan matanya setelah memeluk Hyemi karena obrolannya dengan Kris tadi masih mengusik pikirannya. Ia pun memberanikan diri untuk menanyai Hyemi.

“Mengapa kau bilang aku masih bekerja pada appa?”

Tubuh Hyemi langsung menegang dalam dekapan Luhan begitu mendengar pertanyaan Luhan. Luhan yang sedang memeluknya pun bisa merasakan ketegangan Hyemi. Ia mengerti Hyemi pasti terkejut mendengar ia tiba-tiba menanyakan hal tersebut.

Perlahan, Hyemi kembali rileks. “Aku tidak tahu kau di mana karena kau tidak mengabarikum Jadi kubilang saja pada appa jika kau masih bekerja dan akan pulang telat,” jawabnya kemudian.

Sebelum Luhan menyahutinya, Hyemi pun menjelaskan alasannya, “Aku berbohong karena aku takut appa dan eomma menganggap aku istri yang buruk. Istri macam apa aku yang tidak tahu di mana suaminya berada? Selain itu aku juga tidak mau mereka mengira kau kelayapan tak jelas di luar sana.”

Meskipun tahu orang tuanya bukan tipikal orang tua atau mertua yang seperti itu, tetapi penjelasan Hyemi membuat Luhan tersentuh. Hyemi tidak hanya memikirkan citranya di depan orang tua Luhan sebagai menantu tetapi juga memikirkan Luhan. Hal tersebut membuat Luhan jadi merasa bersalah karena tidak menghubungi Hyemi sebelumnya jika ia akan pulang terlambat. Semenjak bertemu Minha kembali, ia jadi susah mengontrol diri dan terkadang melupakan kenyataan bahwa dirinya telah beristri sekarang.

Luhan mengeratkan pelukannya dan mendekatkan wajahnya ke leher Hyemi, membuat ia bisa menghirup aroma citrus dari tubuh Hyemi. “Terimakasih… Dan maaf aku lupa mengabarimu jika hari ini aku pulang telat. Tadi err… temanku mengajakku makan malam bersama,” ujar Luhan.

Mendengar kalimat terakhir Luhan membuat Hyemi tersenyum pahit. “Teman? Siapa?” tanyanya.

Ia tahu jawabannya siapa, tetapi ia ingin mendengar jawaban tersebut langsung dari Luhan. Ia ingin tahu apakah Luhan akan memberitahunya tentang Minha atau tidak.

“O-oh? I-i-tu Minseok. Iya Minseok, dia mengajakku makan malam bersama dia, Yixing, dan Tao.”

Lagi, Hyemi tersenyum pahit mendengar jawaban Luhan. Ia kecewa Luhan membohonginya. Ia tidak ingin berburuk sangka pada Luhan, tetapi suara Luhan saat menjawab membuat semuanya jelas. Luhan berbohong. Tidak perlu diragukan lagi.

Dan untuk membuat semuanya semakin jelas, saat Hyemi dalam perjalanan menuju rumah BaekDae tadi, ia tidak sengaja melihat Minseok sedang menikmati makan malam bersama seorang gadis di salah satu kedai di pinggir jalan. Ia rasa tidak mungkin Minseok makan malam lagi setelah makan malam dengan Luhan. Minseok juga tidak terlihat seperti orang yang baru saja makan malam dengan seseorang, ia terlihat memang sedang dalam situasi berkencan dengan gadis tersebut di mata Hyemi.

Hyemi tidak mengerti mengapa Luhan membohonginya. Sebelumnya Luhan selalu terbuka padanya tentang Minha dan hubungan mereka. Namun, tiba-tiba sekarang Luhan seolah menutupi hubungannya dengan Minha.

Satu hal lagi yang membuat Hyemi tak mengerti, mengapa Luhan masih memeluk dia seperti ini, berakting seolah-olah dia masih berusaha menjadi suami yang baik untuk Hyemi saat jelas-jelas dia menjalin hubungan kembali dengan Minha. Hal tersebut membuat berbagai macam pikiran buruk muncul di kepala Hyemi dan itu membuat ia sedikit sedih. Bukan sedikit lagi mungkin. Memang benar-benar sedih.

‘Apa aku hanya selingan di rumah? Saat dia tidak bisa bersama Minha, ia menggunakan aku untuk mengisi kekosongannya,’ pikir Hyemi sedih.

Seakan pikiran tersebut belum cukup menyakiti hatinya. Kesadarannya akan Luhan yang mulai lupa mengabarinya tentang jam kerjanya membuat ia semakin sedih. Sebelumnya Hyemi selalu tahu jadwal kerja Luhan. Luhan berangkat jam berapa, pulang jam berapa, dia tahu karena Luhan selalu memberitahunya. Tetapi hari ini Luhan tidak memberitahunya dan itu membuat dia agak dongkol. Ia tidak ingin terdengar seperti istri menyebalkan yang harus mengetahui segala kegiatan suaminya. Namun kenyataan bahwa Luhan lupa mengabarinya karena sibuk dengan Minha membuatnya jengkel dan memaksanya menjadi istri semacam itu.

“Han…” panggilnya, berharap Luhan belum terlelap. Posisinya yang membelakangi Luhan membuat ia tidak bisa melihat apakah Luhan sudah tertidur atau belum.

Namun, begitu mendengar gumaman dari Luhan, ia bernafas lega karena ternyata Luhan belum benar-benar terlelap. “Hm?”

“Bisakah kau terus memberitahuku kau kerja jam berapa, pulang jam berapa, dan mengabariku jika kau pulang telat? Aku tidak bermaksud ingin terlalu tahu tentang kegiatanmu hanya saja… eerr aku kan istrimu… Aku merasa buruk tidak mengetahui di mana dan sedang apa suamiku. Dan aku takut tidak bisa menjawab jika appa atau eomma menanyaiku seperti tadi lagi…” pinta Hyemi.

Sebenarnya bukan itulah alasan Hyemi. Ia ingin Luhan terus mengabarinya agar ia bisa memonitori Luhan dengan mudah dan tahu apakah Luhan sedang bersama Minha atau tidak.

Mendengar permintaan dan penjelasan Hyemi, Luhan pun mengiyakannya. Ia percaya dengan apa yang Hyemi katakana dan merasa buruk begitu mendengar alasan Hyemi. “Hm, Baiklah. Aku akan terus mengabarimu. Sekali lagi maaf, tadi aku lupa,” ujar Luhan.

Hyemi menganggukkan kepalanya, menerima permintaan maaf Luhan. “Ya, tidak apa-apa dan terimakasih untuk pengertianmu,” ujarnya kemudian.

***

Keesokan paginya Hyemi terbangun tanpa Luhan di sisinya. Ia merasa aneh tidak bangun dalam dekapan Luhan karena ia sudah terbiasa seperti itu. Hyemi pun melirik jam dinding di kamar dan ternyata masih pukul 6. Tidak biasanya Luhan bangun sepagi ini. Jika Luhan memiliki rapat di pagi hari, ia pasti memberitahu Hyemi sebelumnya dan meminta Hyemi untuk membangunkannya. Tetapi pagi ini Luhan bangun dengan sendirinya dan itu membuat Hyemi curiga.

Suara air mengalir mengalihkan perhatiannya. Ternyata Luhan sedang berada di dalam kamar mandi. Kekecewaan mengahmpirinya. Ia tidak tahu mengapa ia kecewa. Mungkin karena ia bisa merasakan Luhan yang perlahan mulai berubah sejak ia kembali dengan Minha.

Drrtt Drrttt

Hyemi menolehkan kepalanya begitu mendengar suara getaran di atas nakas di sisi kasur tempat Luhan tertidur semalam. Ponsel Luhan bergetar dan layarnya menyala  Ia tidak ingin mengeceknya karena itu privasi Luhan dan ia merasa tidak sopan mengutak-atik sesuatu yang bukan miliknya. Tetapi rasa penasaran di dalam dirinya benar-benar mengusik dan memaksanya untuk mengecek ponsel Luhan.

Setelah mengalami sedikit dilema dalam dirinya, Hyemi pun akhirnya memilih untuk mengecek ponsel Luhan. Ternyata ada sebuah pesan. Beruntung sekali Luhan tidak mengunci ponselnya dengan passwordpin, maupun pattern sehingga Hyemi bisa melihat pesan tersebut dengan mudah dengan gampang ngeliat sms itu. Sekali lagi ia beruntung karena Luhan menggunakan aplikasi popout sms sehingga Hyemi bisa membaca pesannya tanpa perlu khawatir Luhan tahu dia membacanya.

Ternyata itu pesan dari Minha. Rasa kesal kembali muncul. Ditambah lagi membaca isi pesan Minha untuk Luhan. Tidak heran Luhan bangun sepagi ini.

From: Minha

Oppa, aku sudah dalam perjalanan. Dan aku membuatkan sarapan favoritmu hari ini 🙂

Hyemi terlalu kesal sampai-sampai ia ingin menghapus pesan Minha. Tetapi ia tahu itu bukanlah keputusan yang tepat. Jika ia menghapus pesan Minha, Minha bisa saja bertanya pada Luhan mengapa Luhan tidak membalas pesannya dan itu akan membuat Luhan sadar jika ada seseorang yang menghapus pesan Minha. Sudah pasti Hyemi akan menjadi orang pertama yang melintas di kepala Luhan. Karena tidak ingin mengambil resiko, Hyemi pun memutuskan untuk mencari cara lain untuk menggagalkan pertemuan Luhan dan Minha.

Mendengar pintu suara kamar mandi terbuka, Hyemi mengangkat wajahnya. Luhan terlihat segar dan semangat.

“Han,” panggilnya.

Meskipun merasa buruk karena harus merenggut kebahagian Luhan di pagi hari, Hyemi tetap melancarkan rencananya.

“Ya?” tanya Luhan.

Hyemi menggigit bibir bawahnya, berakting ragu. “Aku ingin makan masakan Jepang. Dan… aku ingin kau menemaniku. Um… sepertinya Ziyu ingin ditemani ayahnya…” ujar Hyemi.

Rata-rata restaurant Jepang belum buka sepagi itu dan Hyemi yakin Luhan tidak akan menolak permintaannya jika ia sedang mengidam. Apapun itu meskipun aneh, Luhan akan selalu berusaha memenuhinya. Apalagi baru saja ia menyebut “Ziyu”. Ziyu adalah kelemahan terbesar Luhan yang Hyemi ketahui.

Hyemi hampir saja putus asa melihat Luhan yang tiba-tiba terdiam dan terlihat bingung. Ia pun segera memikirkan kata-kata untuk membuat Luhan memenuhi permintaannya. Mengetahui Luhan adalah tipe orang yang terkadang ‘tidak-enakan’, Hyemi memasang wajah sedih sambil berkata, “A-ah, jika kau tidak bisa tidak apa-apa. Aku akan pergi sendiri. Kau um… terlihat ada urusan penting…”

Setelah mengucapkan hal tersebut dengan nada kecewa bercampur sedih, Hyemi memutar tubuhnya dan bersiap turun dari ranjang. Namun ia berhenti begitu mendengar suara Luhan.

“Baiklah, aku akan menemanimu.”

Rasanya seperti baru saja memenangkan sebuah perlombaan, Hyemi ingin berteriak senang. Ia pun membalik tubuhnya lagi, berpura-pura terkejut.

“Benarkah? Tapi… apa tidak masalah menemaniku? Kau sepertinya akan menghadiri sesuatu yang penting mengingat kau bangun sepagi ini…” ujarnya.

Luhan tersenyum, senyum memaksa, berusaha meyakinkan Hyemi jika ia bisa menemaninya. “Tidak apa. Lagipula aku tidak ada pertemuan penting apapun pagi ini. Aku bangun pagi karena… tidak ada alasan spesifik sebenarnya. Tiba-tiba saja aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Hehe,” tutur Luhan, berbohong.

Hyemi yang tahu jika Luhan berbohong padanya hanya membulatkan mulutnya kemudian menganggukkan kepala. “Baiklah kalau begitu. Aku akan bersiap-siap sekarang,” ujarnya sebelum turun dari ranjang.

Diliriknya Luhan dari sudut matanya saat ia mengambil pakaian di lemari. Luhan mengambil ponselnya dan terlihat membaca pesan dari Minha. Saat melewati Luhan, Hyemi bisa melihat perubahan raut wajah Luhan. Luhan terlihat sedih harus membatalkan janjinya dengan Minha. Hyemi melihat ia mengetik balasan pesan untuk Minha yang ia yakini adalah permintaan maaf karena harus membatalkan pertemuan mereka pagi ini.

To: Minha

Minha-ya, maaf, sepertinya kita harus membatalkan sarapan bersama kita hari ini. Hyemi tiba-tiba saja ngidam ingin masakan Jepang dan aku harus mencarinya. Kita sarapan bersama lain kali, oke?

 

From: Minha

Ne, oppa 🙂 Semoga kau bisa menemukan restaurant Jepang yang buka sepagi ini. hehe. Hwaiting~

***

Setelah tadi pagi berhasil menggagalkan pertemuan Luhan dan Minha, Hyemi merasa menang dan merasa mudah untuk menghalangi Luhan bertemu dengan Minha lain waktu. Ia tidak tahu mengapa ia bisa sebahagia ini bisa membuat Luhan mengabaikan Minha karena dirinya, atau Ziyu lebih tepatnya. Tetapi ia terus mengingatkan dirinya untuk tidak sesenang itu.

“Aish kemana dia…” gerutu Hyemi setelah ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya untuk yang kesekian kalinya.

Hari ini adalah jadwal check up Hyemi. Tetapi hingga jam telah menunjukkan pukul 4 sore, Luhan tak juga menunjukkan batang hidungnya. Pagi tadi sebelum berangkat kerja, Luhan sudah berjanji padanya akan pulang sebentar pukul 3 untuk menemani ia check up. Hyemi pun mulai gelisah dan mulai berpikir Luhan lupa. Prasangka tentang Luhan yang mungkin malah pergi bersama Minha pun tak luput dari pikirannya.

Hyemi mencoba menghubungi ponsel Luhan, tetapi Luhan tak mengangkat teleponnya maupun membalas pesannya. Sekarang ia sudah menunggu hampir satu setengah jam dan itu membuatnya kesal. Karena kesal Luhan tak kunjung datang, ia pun akhirnya memutuskan untuk check up sendiri.

Saat check up, Dokter Hwang menanyainya mengapa ia datang sendiri. Ia pun berusaha menyembunyikan kekesalannya dengan tersenyum sambil berkata, “Suami saya masih bekerja, dok.”

Check up hari ini berjalan lancar dan terasa begitu cepat bagi Hyemi. Dokter Hwang hanya mengecek kondisi tubuhnya dan Ziyu. Dari hasil check up-nya, Dokter Hwang mengetahui ia mengalami ‘sedikit’ stress. Dokter Hwang hanya menyarankannya untuk tidak terlalu stress dan memberitahunya bahwa syukurnya kondisi Ziyu masih baik-baik saja. Setidaknya berita tentang Ziyu yang baik-baik saja membuat rasa kesalnya terhadap Luhan berkurang. Ia juga bersyukur dan merasa lega karena stressnya beberapa waktu lalu tidak berdampak terlalu buruk bagi kesehatan Ziyu.

Sepulang dari check up, Hyemi memutuskan untuk berjalan kaki sebentar sebelum ia menyetop taxi. Saat sedang berjalan, pikirannya tidak bisa teralih dari Luhan. Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba ia memikirkan Luhan. Sepertinya karena Luhan tidak mengantarnya check up hari ini.

Hyemi mendesis kesal begitu pikiran tentang Luhan yang sedang bersama Minha kembali muncul di kepalanya. “Ia bahkan melupakan jadwal check up-ku…” gumamnya sedih.

“Sepertinya Ziyu juga tidak bisa mengalahkan Minha di hatinya,” gumamnya lagi. Ia tidak peduli pada orang-orang yang mungkin berpikir ia gila karena berbicara sendiri. Yang ia pedulikan hanyalah perasaannya yang kini sedang bercampur aduk.

Sedih, kesal, dan kecewa bercampur menjadi satu. Ia tidak tahu hamil bisa membuatnya seemosional ini. Bahkan semakin emosional saat ia sudah menyadari perasaannya terhadap Luhan.

Hyemi ingin mengelak saat pikiran tentang ia yang mencintai Luhan kembali muncul di benaknya. Namun ia sadar itu tak ada gunanya. Sekarang semua sudah jelas. Ia mencintai Luhan dan ia sedang cemburu saat ini.

Mungkin orang berpikir dua bulan terlalu cepat untuk dia jatuh cinta pada Luhan. Tetapi kenyataannya sekarang dia memang telah jatuh cinta. Jongdae benar tentang cinta yang tak mengenal waktu. Baekhyun juga benar tentang cinta yang muncul karena sering bersama. Hyemi tidak menyangka ia akan benar-benar jatuh cinta pada Luhan.

Ia hanya bisa tersenyum getir setelah mengakui perasaannya dalam hati. Menyedihkan sekali rasanya setelah tahu ia mencintai Luhan, Luhan malah sudah kembali pada Minha.

Kata-kata Jongdae kemarin pun kembali terngiang di telinganya.

‘Yang harus kau lakukan adalah mendapatkan hati Luhan dan membuat Luhan menjadi milikmu.’

Seperti kembali tersihir, Hyemi menganggukkan kepalanya. Ia merasa apa yang Jongdae katakan benar. Ia mencintai Luhan. Ia ingin Luhan menjadi miliknya sekarang. Ia tidak ingin Luhan kembali pada Minha. Ia ingin Luhan tetap bersamanya hingga ajal menjemputnya. Tetap bersamanya membesarkan Ziyu bersama. Ia tidak ingin Luhan meninggalkannya karena sekarang ia membutuhkan Luhan untuk kelangsungan hidup dan kebahagiannya dengan Ziyu.

Tanpa ia sadari, perlahan ia berubah menjadi seseorang yang tidak pernah ia bayangkan akan menjadi dirinya. Kesadarannya akan perasaannya sendiri dan keinginannya yang kuat untuk memiliki kebahagiaannya membuat ia bertekad untuk memiliki Luhan bagaimanapun caranya. Ia akan melakukan apapun. Tidak peduli itu akan menyakiti hati Minha atau tidak. Baginya, selama tidak menyakiti Minha secara fisik, ia akan melakukannya. Apapun untuk membuat Luhan tetap bersamanya dan menjadi miliknya.

-TBC-

Halo! Agak rapi ga sih ini tampilannya? Pertama kali ngepost pake PC soalnya hehe.

Btw itu iseng pake quote awalnya. Lagu Demons itu salah satu lagu yg menginspirasi ff ini terutama karakter para tokohnya #ea

Dan part hubungan Luhan sm Minha skrg based on true story. bkn kisah aku tapinya, itu terinspirasi dari hubungan temen aku sm ‘mantan’ pacarnya skrg. kasian bgt mereka TT

Aku curhat dikit ya. Pertama-tama mau minta maaf aku gabisa jadi author yang bisa update cepet. Aku orgnya pemales bgttttt kalo udah disuruh ngetik2 gini. Biar ada ide tapi kalo hasrat ngetik ga ada ya… aku ga kerjain ffnya T_Tv Aku kalo pny waktu luang dikit bawaannya pengen refreshing. Muak bgt sm tugas kuliah yg dikit2 ngetik. Ini aja sbnrnya aku lagi libur seminggu tapi otak kemix sm tugas2 final & comeback exo :” Kan bawaannya pengen spazzing terus jadinya kalo lagi ga buat tugas. Aku juga minta maaf kalo chapter ini ga maksimal bgt. Udah aku baca dan edit bbrp kali tapi gatau knp aku sendiri ngerasa kurang sreg. Aku usahain next chapter biar lebih baik dari chapter ini.

Yang kedua, kalian jgn khawatir, meskipun aku updatenya lama tapi aku bakal selesein sampe tuntas ff ini. Makasih bgt buat yg masih sabar nunggu dan masih mau baca ff ini. Aku harap kalian masih bisa sabar sampe ff ini kelar. Tunggu sampe final test aku berlalu dan otak bener2 free dari kuliah baru deh kyknya aku bisa fokus sm ff ini dan mungkin bisa update lebih cepet.

Sekian aja dah, last but not least, tolong pengertiannya. Aku juga fangirl yg doyan spazzing. Aku muak ngetik2 (udah tugas pd ngetik semua, ff juga diketik #yaiyalah) jadi tolong jgn paksa aku buat update cepet2 terus 😦 Aku gamau ntar nulis ff malah kerasa kyk tugas kuliah alias beban hidup :” Aku nulis dengan senang hati aja hasilnya ga bagus2 amat, apalagi nulis dg terpaksa. Sekali lagi maaf aku bukan author yg baik. Semoga kalian masih mau baca ff ini meskipun tau authornya males kyk aku :”) See ya next chapter!

393 responses to “Beautiful Sin (Chapter 9)

  1. aduh ini gimana coba….
    dibuat bingung sama hyemi-luhan-minha😂😂

    dan di chapter ini agak kesel sama perubahan luhan yg udah ga semanis hari kemarin😪😪

    dan itu…astaga…
    jongdae sama baekhyun such a real bestfriends banget ya💕💕 mau juga punya sahabat kayak mereka (well, walaupun kata hyemi, mereka berdua bujang lapuk wakaka😂😂)

    aku setuju sih sama hyemi yang berusaha buat dapetin hati luhan, tapi kalo mikirin myungsoo……alangkah kasian nya dia ya😂😂

  2. Oh my god luhan knp kau kembali lagi sm minhaa??
    Ngga tau apa yaa klw hyemi dh mlai cinta sm kamuu…
    ayo hyemi hwaiting utk dapetin hati luhan, utk minha kau mendingan jauh2 dr luhan dia udh pny istri kellesss dsar cwe ngga tau diri…
    hufftt gregetan bgtzz sm minha..

  3. Hate Minha so much omg!!!!! TT-TT
    Aaaaa Hyemi yg kuat yaww’-‘)9
    Aku sih ga ada masalah sama keterlambatan post soalnya daku juga baru nemu ini ff dan udh sampe belasan chapter,jadi tinggal buka hihi 😀 dan bakal kuusahain sabar nunggu kok ka put! Semangattt yaaaa *kisskiss* :* *abaikan* :v

  4. Menurutku chapter ini mantap banget kok, feelnya kerasa dan aku juga ikut2an berekspresi saat baca, eonni nggak usah terlalu merendahkan diri dgn menganggap chapter ini kurang sreg karena ini sudah sangat bagus dan maksimal kok. Hwaiting ne!

  5. Tuh kan berubah lagi Luhannya. Dia gak kasian apa sama Hyemi dan Anaknya. Minha juga menurutku dia egois. Walaupun masih saling cinta, tapi harusnya dia mikir, gimana kalo dia jadi Hyemi ? Bikin greget nih.. Lanjut baca chap selanjutnya ya Eonn.. Gomawoo :-*

  6. Baekhyun sma Jongdae itu sesuatu banget ya, pasti senang dan hangat banget punya sahabat kya mereka :’)
    Well.. Hyemi uda cinta sama Luhan, but luhan masi blm bsa move on dri Minha :’v
    Agak kecewa ya luhan ga semanis kemarin lgi ._.
    Lanjut dlu ya author~ fighting ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s