Chapter – Shine on You (Prelude)

Title : Shine on You
Author : flamintskle (Gea Arifin)
Genre : AU, Family, Friendship, maybe little bit Romance
Lenght : Chapter (on writting)
Rating : G, PG+15
Main Cast : 

  • Lee Taemin
  • Ahn Jihyun
  • Kim Kai
  • Son Naeun

Support Cast :

  • Lee Onew
  • Kim Jonghyun
  • Kim Kibum

Other Cast : Will appear in every section, you have to find them ^^
Desclimer : Desclimed by me. This story and art design originally by flamintskle (Gea Arifin)
Summary : What is love? Love is . . .

WARNING!
Dianjurkan untuk memahami isi dari prelude ini, karena alur bisa saja maju atau mundur di section berikutnya.

 

Shine on You
Prelude : Welcome to Eculate High School

Namja itu mematut dirinya untuk kesekian kali di depan sebuah cermin besar di dalam kamarnya dengan sangat tidak bersemangat, padahal hari ini adalah awal semester baru baginya di kelas tiga sekolah menengah atas. Bibir itu tak terlihat menyunggingkan sedikit senyum, dan kedua matanya pun hanya menatap kosong pada bayangannya yang dipantulkan oleh cermin di depannya.

Tidak bangga kah dia dengan bros Eculate High School yang tersemat di kerah blazer almamater sekolah terbesar dan terkenal –serta mewah di Negara tersebut?

Doryeonim, apa anda sudah siap?”

Seorang pelayan wanita –masih terlihat sangat muda mengetuk pintu kamarnya, setelah mengintip kedalam dan melihat tuan mudanya itu sudah rapi dengan seragam sekolahnya, sang pelayan –setelah meminta ijin kemudian masuk ke dalam kamar yang berukuran sangat luas dan segera membereskan tempat tidur namja yang masih berdiri di depan cermin itu.

Hyung eoddi?” Tanyanya pada pelayan yang masih sibuk membereskan tempat tidur yang berukuran besar itu.

“Jinki doryeonim sudah berangkat dan menitipkan pesan untuk anda agar tidak datang terlambat.” Jawab sang pelayan.

“Dia masih seperti itu ternyata.” Gumamnya pelan, “Ahjumma, bilang pada Hwang ahjussi kalau aku akan berangkat setengah jam lagi”

Dilepaskannya papan nama yang terpasang di jas blazer seragamnya itu dengan kasar sampai terjatuh. Namja itu kemudian berjalan keluar kamarnya, meninggalkan papan nama bercetak nama Lee Tae Min itu tergeletak begitu saja di atas lantai.

–-

Plok

Plok

Plok

Riuh tepuk tangan menggema di aula sekolah Eculate, menandakan bahwa kepala sekolah telah selesai memberikan pidatonya untuk menyambut siswa dan siswi baru.

Mata sipit pria itu menyapu setiap barisan yang berada di sebelah baratnya, mencari seseorang yang belum dilihatnya semenjak acara pembukaan semester baru dimulai –adiknya itu lagi-lagi tak menghadiri acara pagi di awal semester baru.  Kekecewaan nampak jelas di wajahnya sekarang karena dia mulai menghembuskan nafas berat. Kejadian ini bukan lah yang pertama kali dan pria itu tetap mentoleransinya. Namun toleransi itu sepertinya sudah tidak akan dipergunakan lagi pada adiknya itu.

Semua siswa dan guru sudah membubarkan diri dan kembali ke tempat mereka masing-masing. Namun pria yang berstatus sebagai kepala sekolah di Eculate High School itu –ditemani oleh seorang teman lamanya masih berada disana, duduk di tengah-tengah aula –di kursi yang digunakan oleh siswa.

“Sepertinya kau masih tidak puas dengan pagi ini, Hyung.” Seru pria yang duduk disampingnya.

Pria yang dipanggil Jin Ki itu menoleh dan kembali menatap layar ponsel yang berada dalam genggamannya. Hanya menatap layar ponsel yang gelap kemudian menarik sebelah sudut bibirnya.

“Aku hanya melakukan tugasku untuk menjaganya dengan baik, sesuai dengan keinginan almarhum kedua orang tua ku. Apa ada yang salah jika aku terlalu memanjakannya, Jjong?” Gumamnya.

Kim Jong Hyun hanya menggelengkan kepalanya dan menepuk bahu sahabat karibnya itu, “Jika ini tentang Tae Min, aku rasa kau tidak terlalu memanjakannya. Dia masih terlalu kecil saat itu untuk mengetahui bahwa kedua orang tuanya meninggal. Dia tidak sepertimu, Hyung. Kau merasakan kasih sayang kedua orang tua kalian lebih lama.”

Demi apapun, Jin Ki baru mendengar ucapan tulus itu dari mulut seorang Kim Jong Hyun –seorang yang tidak bisa ditebak isi hatinya, seorang yang suka berkata singkat, dan seorang yang gampang tersulut amarahnya, namun sangat baik hati. Jin Ki harus mengakui bahwa Kim Jong Hyun adalah sahabat yang tak akan pernah dilepaskannya.

–-

BUK

Sebuah kotak berwarna kuning dan berpitakan warna putih itu baru saja jatuh dari dalam lokernya. Seingatnya dia mengunci loker miliknya itu saat terakhir sekolah –sebelum libur semester dimulai. Bahkan dia sangat ingat bahwa dia tidak menyimpan kotak itu atau tidak berencana untuk memberikan kado pada orang lain.

Lalu milik siapa kotak itu?

Annyeong, Ji Hyun-ah.

Gadis itu berbalik dan melihat teman sekelas yang menyapanya pagi ini.

“Oh! Annyeong, Kai-ya.”

Namja itu tersneyum lebar, “Kau sudah melihat daftar kelas? Kita berada di kelas yang sama!” Seru namja bertagname Kim Kai itu.

Ahn Ji Hyun tersenyum hangat, “Ini tahun ketiga, dan kita selalu berada di kelas yang sama.”

Kai ikut terkekeh, “Kau benar, apa itu tandanya kita berjodoh?”

Ji Hyun hanya tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.

Mata pria itu kini tertuju pada kotak yang sedang dipegang oleh gadis di depannya, “Kotak itu?”

“Aku menemukannya terjatuh dari dalam lokerku. Kau mengenal pemilik kotak ini?” Ji Hyun menimang nimang kotak yang berukuran tak terlalu besar itu di tangannya.

Kai menyunggingkan senyumnya, “Itu milikmu, Ji Hyun-ah.”

Jihyun menaikkan sebelah alisnya, “Maksudmu?”

Pria yang lebih tinggi darinya itu memasukan kedua tangannya kedalam saku celana seragam, “Aku yang menyimpannya di lokermu.” ucapnya.

“Tapi ini untuk apa? Aku sedang tidak berulang tahun, Kai-ya. Kau tidak perlu repot-repot memberiku hadiah seperti ini.”

Jihyun menatap kotak itu lagi.

Perasaannya selalu menjadi tak nyaman jika Kai sudah bersikap berlebihan padanya. Gadis itu sangat tahu jika Kai memiliki perasaan yang lebih padanya, bahkan namja itu sudah menyatakan perasaannya berkali-kali. Tapi bagi Ji Hyun, Kai adalah sahabatnya dan akan tetap seperti itu sampai kapanpun.

“Anggap saja itu sebagai hadiah karena kau sudah mendapatkan mahkota Juliette di ajang Eculate Prom Night Event. Dan jangan pernah beranggapan bahwa kau membuatku repot, Ahn Ji Hyun” ucap Kai –meyakinkan Ji Hyun bahwa kotak itu memang untuknya.

Namja itu menjentikkan jari, “Bel akan segera berbunyi, bagaimana jika pergi ke kelas sekarang?”

Jihyun memasukan buku cetaknya kedalam tas dan mengunci loker miliknya –meskipun sedikit sanksi jika loker itu sudah benar-benar terkunci, gadis itu mengangguk untuk mengiyakan tawaran Kai. Mereka pun berjalan beriringan di lorong sekolah untuk masuk ke kelasnya yang berada di lantai enam bangunan sekolah megah itu.

Tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan langkah mereka dari belakang –dari tempat Ji Hyun dan Kai berdiri tadi. Kedua matanya melirik loker milik Ji Hyun dan bergumam pelan, “Sialan kau, Kim Kai. Seenaknya saja mengakui kotak itu darimu.”

Dan laki-laki itu pun berjalan berlawanan arah dengan kedua orang yang tadi diperhatikannya.

Lee Tae Min terbangun saat bel jam istirahat berdering, sungguh mengganggu acara tidurnya. Kedua alisnya saling bertautan sebelum matanya benar-benar terbuka, bibirnya sempat mengucapkan sumpah serapah dan mengutuk dering bel tersebut. Dengan enggan dia mendudukan diri di bangku panjang yang menjadi tempat tidurnya.

“Disini memang tempat yang tepat untuk membolos ‘kan, Tae Min?”

Tae Min berdecak pelan dan memilih untuk memalingkan wajahnya dari seseorang yang baru saja muncul di pintu atap gedung sekolah.

Pria itu –seseorang yang muncul dari pintu berjalan menghampiri Tae Min dan duduk disampingnya.

“Kim sonsaengnim bilang padaku bahwa kau tidak mengikuti kelasnya, pagi ini. Aku sudah memberitahumu jika kau dipindahkan ke kelas regular, kan?” ucap pria itu sambil melirik pria yang lebih muda disampingnya.

Tae Min sama sekali tidak tertarik dengan ucapan pria disampingnya yang ternyata Lee Jin Ki –kakanya.

“Sampai kapan kau akan seperti ini? Belajar lah dewasa, Nikky Lee.”

Dia tertegun, sudah lama dia tidak mendengarkan orang lain atau bahkan keluarga memanggilnya dengan nama itu. Nama kecilnya, nama yang sudah lama ingin dia buang dari hidupnya. Dan sekarang Jin Ki memanggilnya dengan nama yang tak pernah disukainya itu.

“Pergilah, aku tidak ingin diganggu.” Serunya dengan penuh penekanan.

Jin Ki tersenyum masam, “Bagaimana bisa seorang siswa mengusir kepala sekolahnya sendiri?”

Hening.

Tae Min sama sekali tak berminat pada percakapan yang dimulai oleh kakaknya itu. Dia lebih memilih diam.

Jin Ki menarik nafas dalam kemudian beranjak darisana, “Malam ini, makan lah di rumah. Ada tamu penting yang akan makan malam di rumah kita.”

“Dan sebaiknya kau hadir di kelas Jung sonsaengnim sehabis istirahat ini. Jangan sampai dia mengadu padaku dan tidak meluluskanmu dalam mata pelajarannya, tahun ini adalah tahun terakhirmu di Eculate, arrachi?” Tutur Jin Ki sebelum meninggalkan Tae Min di atap gedung sekolah mewah itu.

Jam istirahat akan segera berakhir lima belas menit lagi.

Kelas dengan papan yang berukirkan EHS-XII-3 –yang menempel pada pintu kayu kokoh itu masih terdengar ribut dari luar.

Bahunya melorot, namja itu benar-benar tidak memiliki semangat untuk masuk ke kelas barunya. Tas ranselnya pun hanya bertengger di bahu kanannya saja. Dengan enggan dia melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kelas.

Suasana kelas yang tadinya gaduh di setiap penjuru kini menjadi sunyi senyap ketika Lee Tae Min memasuki kelas tersebut. Semua pandangan murid kini teralihkan padanya.

Siapa sangka kelas yang dihuni dua puluh enam orang itu akan bertambah satu orang lagi. Mungkin jika satu orang itu adalah orang biasa, semua anak akan bersikap biasa saja. Namun, siswa yang baru masuk ke kelas itu bukan lagi orang bisa, melainkan seorang pewaris kedua EC-Corp.

Tatapan itu sudah sering diterima olehnya –tatapan mengelu elukan, bahkan ketika diusianya yang baru masuk sekolah dasar. Dia tidak pernah merasa senang dengan tatapan seperti itu dari orang lain.

Bagaimana jika kau hidup ditengah kemewahan dan jabatan tinggi kedua orang tuamu, bahkan setelah kau dewasa pun, hidupmu dibayangi-bayangi oleh ketenaran seorang kakak yang sangat pintar dan sukses menjalankan perusahan kedua orang tua kalian?

“Bukan kah dia Lee Tae Min.”

“Iya benar. Tapi kenapa dia ada di kelas kita?”

“Wah dia tampan sekali”

Beberapa siswa terdengar berbisik-bisik. Sayang, pendengaran Nikky lebih tajam sehingga bisa mendengar percakapan kecil kedua siswa yang duduk di bangku dekat dengan pintu.

“YA! Lee Tae Min!”

Itu Kai yang memanggil Tae Min, pria berkulit agak coklat itu melambaikan tangan pada sahabatnya –ya, Kim Kai dan Lee Tae Min adalah sahabat dekat, persahabatan mereka terjalin saat di bangku sekolah dasar.

Untung saja ada dia, gumam Tae Min dalam hatinya.

Pria itu kemudian meletakkan tasnya di kursi yang bersebelahan dengan Kai yang kebetulan tidak ada penghuninya. Bangku mereka berdua terletak di paling belakang, posisi yang sangat bagus untuk mencuri waktu tidur saat jam pelajaran –setidaknya itu lah pendapat Kai, dan terkadang Tae Min menyetujui pendapat sahabatnya itu.

“Apa aku tidak salah lihat? Kenapa bisa seorang Lee Tae Min berada di kelas regular?”

Tae Min sendiri tidak ingin membahas kenapa dia berada di kelas itu saat ini.

Semenjak masuk Eculate High School, Tae Min selalu berada di kelas Super, kelas yang menuntut siswanya untuk berbahasa Inggris atau Jerman agar memudahkan siswa untuk menerima pelajaran, karena pengantar kelas itu menggunakan kedua bahasa tersebut –kelas Super sering digunakan untuk siswa yang berasal dari luar negeri.

Kai sendiri pernah mencoba masuk kelas itu pada tahun pertamanya di Eculate, namun baru satu semester dia berada disana, dia merasa tidak sanggup dengan pelajaran sastra Jerman yang menjadi tambahan pelajarannya dan memilih untuk masuk ke kelas regular saja di semester berikutnya.

“Jika kau penasaran kenapa aku berada disini, tanyakan saja pada kepala sekolah.” Jawab Tae Min dengan sarkastik kemudian mengeluarkan buku cetak dan catatannya dari dalam tas.

“Woaa, hyung mu itu benar-benar luar biasa, daebak!” Seru Kai sambil mengangkat kedua ibu jari tangannya. “Setidaknya kita berada di kelas yang sama lagi, kan?”

Tae Min hanya bergumam, kemudian menyibukkan diri dengan buku-bukunya. Dia ingat jika tadi pagi dia melewatkan pelajaran Kim sonsaengnim, “Kai-ya, pinjam buku catatan fisika mu..” Tangan namja itu terulur, menunggu Kai memberikan bukunya.

“Buku punyaku saja” Seorang yeoja yang duduk di depannya berseru pada Tae Min.

Namja itu mendongak dan mendapati Ahn Ji Hyun sedang menyodorkan buku catatan padanya, “Kau, ada di kelas ini juga?”

Gadis itu tersenyum sambil mengangguk, “Senang bisa satu kelas denganmu lagi, Tae Min. Ini sudah lama sekali bukan?” Ujarnya.

“Jadi, apa yang membuatmu berada di kelas ini?”

Kai menendang pelan kaki Ji Hyun kemudian melirik gadis itu dengan tatapan jangan-bertanya-soal-itu-atau-kau-akan-digigit-olehnya.

Ji Hyun mengerti lalu menganggukkan kepalanya pelan dan kembali pada posisi menghadap kedepan –setelah memberikan buku catatan fisikanya pada Tae Min.

Pria itu sendiri tak memikirkan perubahan sikap Ji Hyun yang sudah kembali membelakanginya. Banyak yang harus dicatatatnya di hari pertama dia di kelas Regular ini –dan semua itu pasti akan membuatnya sangat sibuk.

Mari membahas sedikit tentang Eculate High School dan sejarah EC-Corp.

Sekolah ini memiliki gedung yang sangat megah dengan bangunan yang dibuat seperti kastil –pernah melihat bangunan sekolah Hogwarts di film fantasy paling terkenal Harry Potter?

Yap! Eculate High School meraup setengahnya bentuk bangunan seperti Hogwarts. Namun Eculate tidak memiliki asrama untuk siswa-siswanya dan tentu saja tidak ada sihir dimana-mana.

Sekolah megah ini berdiri di pinggiran Seoul. Meskipun berada di perbatasan, Eculate High School adalah sekolah nomor satu di Korea Selatan, dan merupakan sekolah yang sangat diinginkan seluruh siswa di Negeri ginseng itu, bahkan tidak jarang Eculate High Schhool menerima siswa dari luar negeri.

Gerbang sekolah yang dibangun sangat tinggi dan ketat dari pengawasan adalah salah satu ciri khas Eculate High School sebagai sekolah yang memiliki kedisiplinan tinggi dan peraturan yang mengingat siswanya selama berada di lingkungan sekolah.

Untuk bisa mencapai bangunan sekolah ini, ada sebuah jembatan besar bernama Shine Bridge yang menghubungkan Eculate dengan jalan raya, karena Seoul dan Eculate dibatasi oleh sebuah sungai buatan yang dibentuk oleh EC-Corp demi mendukung keindahan bangunan Eculate High School.

Sepanjang Shine Bridge terpasang lampu-lampu hias dipinggiran jembatan besar itu lengkap dengan pemandangan kota Seoul yang juga tersaji disana.

Eculate High School sendiri didirikan pada tahun 1964 oleh keluarga besar Lee dimana keluarga mereka adalah pemilik perusahan EC-Corp. Perusahaan itu adalah perusahaan konstruksi terbesar dengan urutan kelima di Asia. Perusahan itu kini dikendalikan oleh Lee Yi Young, adik dari Lee Jun Ho –pemilik EC-Corp sebelum dia dan istrinya meninggal.

Pada awalnya Yi Young lah yang menjadi kepala sekolah di Eculate, hanya saja Lee Jin Ki –anak dari Lee Jun Ho yang seharusnya menjadi presdir di EC-Corp meminta pengacara keluarga mereka untuk menentukan sendiri hak warisnya, sehingga Lee Jin Ki menjabat sebagai kepala sekolah dan Lee Yi Young mendapat kursi presdir di EC-Corp.

Namun dengan pertukaran jabatan tersebut hanya akan terjadi sementara untuk Yi Young karena Lee Junho memiliki anak bungsu bernama Lee Tae Min, dan anak bungsunya itu lah yang kelak akan menjadi presdir dari EC-Corp.

Kembali ke Eculate High School.

Sekolah menengah atas ini, terdiri dari delapan lantai.

Dilantai pertama ada lobby sekolah, terdapat beberapa sofa dan meja untuk tamu atau biasa digunakan sebagai tempat tunggu para wali murid yang sedang ada kebutuhan. Tidak jarang juga beberapa siswa terlihat berkumpul disana. Di lobby ini juga terdapat ruangan kecil untuk guru yang sedang menjalankan piket.

Kemudian lantai dua disi dengan beberapa ruangan guru, kepala sekolah dan beberapa lab –seperti lab Biologi, lab Bahasa, dan lab Geografi berada di lantai itu lengkap dengan fasilitasnya. Di lantai ketiga ada lapangan olah raga indoor yang luas beserta kolam renang, lengkap dengan ruang ganti pakaian untuk siswa yang sedang atau akan berolahraga. Kemudian lantai empat digunakan untuk lima ruangan kelas siswa tahun pertama di Eculate, begitu pun dengan lantai enam dan tujuh, semua lantai tersebut hanya ada ruangan-ruangan kelas.

Terakhir di lantai kedelapan, lantai yang paling luas itu terdapat empat  ruangan. Ruangan pertama digunakan untuk kelas  super untuk siswa tahun pertama, ruangan kedua untuk siswa tahun kedua, dan ruangan ketiga untuk siswa di tahun terakhir.

Ruangan keempat adalah ruangan yang sangat luas, ruangan itu digunakan sebagai ballroom –biasa digunakan untuk acara-acara besar sekolah, seperti acara wisuda dan Eculate Prom Night Event –acara ulang tahun sekolah yang selalu diadakan setiap setahun sekali dipenghujung semester kedua.

Itu adalah bagian utama atau bagian yang terlihat paling depan jika pertamakali masuk ke Eculate High School.

Dibagian belakang bangunan sekolah, terdapat halaman yang sangat luas. Green Place adalah nama dari halaman besar tersebut. Di tengah-tengah taman, terdapat sebuah kolam ikan dengan pancuran yang sangat indah ditengahnya. Pohon-pohon besar dengan bangku yang terdapat dibawahnya menambah keindahan taman itu. Banyak siswa yang senang menghabiskan waktu istirahatnya disana. Ada yang memakan bekalnya atau sekedar bergosip dengan teman-temannya.

Jika berjalan kearah barat dari taman itu –tepatnya dari kolam ikan, akan terlihat sebuah cafeteria milik sekolah, berbagai macam pilihan makanan Asia dan Eropa tersedia disana, bangunan cafeteria itu berdesain klasik –sangat menyesuaikan tampilan khas Eculate High School, karena hampir semua berdominan soft-dark brownie.

Dan jika melihat kearah timur, disana ada bangunan perpustakaan besar dan terlengkap milik sekolah. Perpustakaan sekolah yang terlihat besar itu dibagi menjadi dua bagian di dalamnya. Satu bagian untuk siswa yang duduk di kelas Super dan satu bagian lagi untuk siswa kelas Regular. Kedua tempat itu hanya dibatasi oleh dinding kaca dengan tinggi 170cm.

Setelah dari taman dan berjalan lurus kearah timur dari kolam ikan yang ada di taman, kalian akan menemukan lorong besar yang menghubungkan bangunan Eculate High School dengan lapangan outdoor milik sekolah serta tempat parkir luas untuk siswa dan guru yang membawa kendaraan pribadi.

Eculate High School terkenal dengan cabang olah raga sepak bola dan basket. Kedua bidang olah raga itu selalu memenangkan pertandingan di tingkat Nasional maupun Internasional. Tak heran jika Eculate High School memberikan fasilitas yang lebih untuk kedua ekstra kulikuler tersebut.

Tae Min baru saja memarkirkan Lamborghini Murciélago kesayangannya ke dalam garasi. Diliriknya mobil Ferari California milik Jin Ki yang sudah bertengger manis di sebelah mobilnya. Kakaknya itu pasti sudah menunggunya di meja makan.

Doryeonim, Jin Ki doryeonim sudah menunggu anda di ruang kerjanya.” Seorang pelayan –berbeda dengan pelayan yang selalu membereskan kamarnya seperti tadi pagi menghampirinya dengan tergesa. “Anda sebaiknya langsung ke ruangannya saja, biar tas anda saya yang bawakan.” Seru pelayan itu.

Tae Min mengangguk dan menyuruh pelayan itu pergi.

Dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celananya, Tae Min berjalan santai menuju ruang kerja Jin Ki.

Tak jauh dari pintu ruang kerja itu, Tae Min dapat mendengar percakapan beberapa orang di dalam sana. Kedua alis pria itu bertautan, “Sedang berbicara dengan siapa dia?” Tae Min bertanya pada dirinya sendiri.

Suara di dalam sana bukan hanya ada suara Jin Ki dengan satu orang, melainkan beberapa orang ada di dalam sana. Tae Min tidak tahu jika kakaknya itu akan mengundang banyak teman ke rumah, mengingat Tae Min tahu bahwa Jin Ki hanya memiliki satu orang teman –atau bahkan sahabat yang sangat dipercayanya, yaitu Kim Jong Hyun.

Hyung..

Jin Ki memalingkan wajahnya dan mendapati Tae Min sudah berada di ambang pintu ruangan itu. “Ohh wasseo~ masuk lah Tae Min, dan beri salam pada paman dan bibi Son serta anak mereka, Son Naeun.” Seru Chase dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.

Tae Min tidak pernah ingat jika Jin Ki punya senyuman sebahagia itu.

Annyeonghaseyo..” Sapa Tae Min sambil membungkukkan sedikit badannya kemudian mendudukan diri di kursi yang bersebelahan dengan Jin Ki.

“Mereka ini siapa?” Bisiknya pada Jin Ki. Pria itu hanya mengulum senyum, mengisyaratkan bahwa nanti juga dia akan tahu siapa orang-orang yang ada di hadapannya sekarang.

Beberapa menit percakapan terjadi di ruangan itu –tepatnya hanya Jin Ki dan pria paruh baya yang bernama Son Jun Hyung itu yang asik dengan percakapan mereka. Sedangkan istri dari Son Jun Hyung hanya tersenyum dan sesekali menimpali percakapan Jin Ki dengan suaminya.

Mata Tae Min tertarik untuk melihat anak dari pasangan paruh baya itu.

Siapa tadi namanya?

Son Naeun?

Iya, Son Naeun.

Gadis itu terlihat sangat anggun dengan rambut soft brownienya yang dibiarkan tergerai dan hanya berhiaskan jepit rambut perak berbentuk kupu-kupu. Dia menggunakan dress dengan renda-renda berwarna putih di lehernya, dress itu berlengan seperempat tangannya dan panjang dress itu hanya mencapai lututnya, kakinya dibiarkan terbalut dengan flat shoes yang berwarna senada dengan dressnya, soft yellow. 

Begitu cantik –begitulah menurut Tae Min. Body language gadis itu pun sangat manis, Tae Min sempat terpesona saat gadis itu menyelipkan rambut dibagian kanannya ke belakang telinga.

“Sepertinya pelayan kami sudah menyiapkan makan malam. Bagaimana jika kita pergi ke ruang makan sekarang, paman?”

Fantasy akan Son Naeun tiba-tiba saja terpecahkan saat Jin Ki mempersilahkan keluarga Son itu untuk menuju ruang makan. Tae Min sempat mengusap tengkuknya sebelum mengikuti kakaknya dari belakang.

Ruang makan keluarga Lee sangatlah luas dan mewah. Semua benda di rungan itu nampak lux, dengan berdominan warna gold  di beberapa tempat, ruangan itu sangat menganggumkan. Meja makannya pun begitu panjang, cukup untuk diisi dua belas orang. Di setiap jarak 30cm, berjajar lilin-lilin manis yang biasa digunakan untuk menemani makan malam di rumah mewah itu.

Meja makan itu kini penuh dengan makanan –seperti yang Jin Ki katakan bahwa tamunya itu adalah orang penting dan harus dijamu dengan sangat istimewa.

Sebagai kepala keluarga di rumah besar itu, Jin Ki duduk di ujung meja makan. Di sebelah kanannya adalah tempat Tae Min dan sebelah kirinya telah duduk Son Jun Hyung, disampingnya adalah nyonya Son dan gadis bernama Son Naeun itu duduk disamping ibunya.

“Tae Min-ah, mulai besok Son Naeun akan menjadi siswi di Eculate. Bimbing lah dia.” Seru Jin Ki ditengah-tengah acara makan malam mereka. Tae Min hanya mengangguk, dia terlalu sibuk dengan makanannya.

“Ahh, dan baiknya kapan pesta pertunangan akan diadakan?”

Uhuk

Tae Min tersedak dan dengan brutal meraih gelas minumnya. Pandangan mencurigakan itu dilemparkannya pada Jin Ki.

Jadi kakaknya itu akan bertunangan?

Dengan Son Naeun ini?

Beribu pertanyaan seperti itu berputar di dalam otak Tae Min.

Lee Jin Ki tahu jika adiknya itu sedang minta penjelasan, dan pria bermata sipit itu kembali tersenyum pada adiknya, seolah tahu tentang apa yang ingin ditanyakan Tae Min padanya, “Bukan aku yang akan bertunangan, Tae Min. Tapi kau” Serunya.

Tae Min tidak merasakan perihnya tersedak lagi, kali ini mungkin dia sudah mati rasa setelah mendengar ucapan kakaknya itu.

Moya?” Gumamnya pelan.

“Mungkin jika llebih cepat pesta pertunangan itu diadakan akan semakin baik untuk Tae Min dan Naeun.”

Tae Min benar-benar tidak mengerti. Semua ini berjalan begitu cepat. Seingatnya dia baru saja pulang sekolah, bertemu dengan kakaknya di ruang kerja, bertemu dengan keluarga Son, makan malam bersama, dan mendengar bahwa dirinya akan dijodohkan dengan Son Naeun –gadis yang baru dikenal.. bukan, gadis yang baru dilihatnya tidak sampai dua jam itu.

INI GILA!

Rumah besar bergaya Mediterina itu adalah milik keluarga Kim.

Kai menatap nanar pada meja makan itu karena hanya ada dia sendiri disana. Meskipun berbagai macam makanan sudah tersaji, pria itu merasa enggan untuk memakannya.

“Apa gunanya makanan sebanyak ini jika hanya aku yang memakannya?” Entah pada siapa dia bertanya, karena disana juga masih ada para pelayan yang hilir mudik menyiapkan makanan.

“Cho ahjussii!!!” Panggilnya dengan berteriak.

Seorang pria paruh baya yang merupakan kepala pelan di rumah itu dengan tergopoh-gopoh menghampiri tuannya, “Ada apa, doryeonim?”

“Kemana Jong Hyun hyung?”

“Tuan Jong Hyun sedang menjenguk tuan Kibum di Jepang, baru sore tadi dia berangkat.”

Kai beranjak dari kursi kemudian pergi dari ruang makan, “Bereskan semuanya, aku tidak ingin makan malam sekarang.” Serunya dengan kasar, para pelayan yang sudah menyiapkan makanan ke atas meja itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengangkut kembali sajian makan malam itu.

BLAM!

Kim Kai menutup pintu kamarnya dengan keras sehingga menimbulkan suara bedebam dan membuat panik para pelayam yang berada di bawah.

Pria itu meraih ponsel yang tergeletak di meja belajarnya, menggeser lockscreen pada ponsel tersebut dan menekan angka satu –dial untuk Hyungnya. Beberapa kali nada sambung terdengar, namun orang yang dihubunginya itu tak kunjung menjawab panggilannya. Kesal saat harus menunggu, Kai berniat untuk memutuskan panggilannya.

Yeoboseyo, Kai-ya…” tunggu, orang yang dihubunginya itu akhirnya mengangkat telponnya.

“YA! Kenapa tidak bilang jika kau akan pergi ke Jepang?”

“Ini sangat mendesak, Kibum harus di operasi malam ini, mengerti lah, Kai-ya. Dia sangat membutuhkanku..”

“Kenapa tidak eomma dan abeoji saja?”

“Mereka sedang berada di Jerman, aku tidak bisa menghubungi salah satu dari mereka. Jika operasi Kibum berjalan lancar, aku pastikan besok sore sudah berada di rumah…”

Panggilan itu terputus, dan Kai sangat tahu jika kakaknya itu yang memutuskan sambungan telpon mereka. Selalu seperti itu jika sudah menyangkut masalah Kibum.

Kim Kibum. Kenapa Kai selalu merasa tersisihkan jika menyangkut urusan Kibum, kakak tirinya itu?

Kai tahu jika Kibum mengidap leukemia dan memerlukan perawatan yang lebih. Tapi kenapa rasa cemburu itu tetap ada dalam benaknya ketika Kibum lebih diperhatikan oleh kedua orang tua dan kakaknya?

Kai terduduk di sofa yang berada di kamarnya, kepalanya menunduk dalam. Senyum masam terukir di sudut bibirnya.

“Akan selalu seperti itu sampai kapanpun. Akan selalu ada orang yang diperhatikan sedangkan yang lainnya tersisihkan.” Gumamnya.

Kim Kai sangat menyadari jika sekarang kedua matanya mulai memanas.

Makan malam di rumah keluarga Lee itu sudah selesai. Keluarga Son pun sudah pulang dari beberapa menit yang lalu. Kini hanya ada Tae Min di ruangan kerja milik kakaknya. Pria muda itu duduk di balik meja kerja Jin Ki –selalu seperti itu saat Tae Min merasa marah pada Jin Ki. Bersikap seperti bos pada kakaknya dan Jin Ki pun akan mengikuti kemauan adik kesayangannya itu.

Jin Ki baru saja masuk ke ruangan kerjanya, dia mengerjapkan mata beberapa kali ketika melihat Tae Min berada disana, “Eo, kau ada disini.” Ucapnya sambil menghampiri Tae Min dan duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.

“Apa yang kau rencanakan, Lee Jinki?”

Jin Ki terkesiap, pria itu menatap lurus pada adiknya yang sedang menatapnya tajam. Dia tahu bahwa pada waktunya Tae Min akan seperti ini. Tidak memberitahu adiknya itu tentang perjodohan yang dilakukan kedua orang tua mereka jauh sebelum dia menginjak usia remaja, adalah hal yang sangat salah. Seharusnya saat pengacara ayah mereka membacakan surat warisan, Jin KI memberitahu Tae Min bahwa adiknya itu telah dilibatkan dalam perjodohan dengan anak dari keluarga Son.

Namun, bagaimana bisa Jin Ki yang saat itu sudah berumur tujuh belas tahun harus memberitahukan hal penting itu pada Tae Min  yang notabene pada saat itu berumur sepuluh tahun?

Jin Ki benar-benar bingung saat itu. Batinnya sedang benar-benar terpukul atas meninggalnya kedua orang tua mereka. Jin Ki remaja saat itu menjadi pendiam, dan lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan bersekolah keluar negeri, meninggalkan Tae Min yang masih kecil untuk diasuh oleh bibi mereka –Lee Yi Young di Korea.

“Semua itu bukan keinginan atau rencanaku, Tae Min.” Ucapnya dengan tenang.

Tae Min sendiri masih mengepalkan kedua tangannya di atas permukaan meja.

“Jika perjodohan itu bukan rencanamu, lantas rencana siapa? Yi Young ahjumma? Tsk!

Jin Ki bangkit dari sana lalu berjalan menuju foto dengan frame besar yang ada di ruangan itu –yang terpajang di dinding belakang meja kerjanya. Disana terdapat foto Lee Jun Ho dan istrinya, kedua orang tua Jin Ki dan Tae Min.

“Perjodohan mu itu adalah rencana mereka, Tae Min. Aku hanya menjadi perantaranya.”

“Mustahil.”

Jin Ki meraba sudut kiri bawah frame foto besar itu, dan entah apa yang dilakukannya sehingga frame itu terbuka –frame itu menyerupai pintu untuk membuka sebuah berangkas dengantagname Lee Jun Ho disana.

“Tidak ada yang mustahil bagi aboeji.

Benar apa yang dikatakan Jin Ki, tidak ada yang mustahil bagi ayah mereka. Lee Jun Ho bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan.

“Di dalam berangkas ini semua dokumen peninggalan aboeji beserta surat waris tersimpan.”

Tae Min tidak pernah mengetahui ini, dia tidak pernah tahu tentang berangkas itu.

Nafasnya terasa tercekat.

“Di surat warisan yang ditinggalkannya, tercantum namamu sebagai pemegang cabang EC-Corp di Jepang yang akan kau dapatkan diumur tiga puluh nanti. Tidak hanya pemegang cabang, Tae Min. Kau bisa memegang EC-Corp beserta seluruh asetnya.”

Jin Ki sudah memikirkan ini, dia akan memberitahukan semuanya pada Tae Min.

Adiknya itu sudah cukup dewasa untuk mengetahui semuanya.

“Ya, semua aset yang dimiliki aboeji. Jika kau menikah dengan Son Naeun..”

Tae Min hanya diam di tempatnya, dia tidak tahu harus seperti apa sekarang. Apa yang barusan dikatakan Jin Ki benar-benar membuatnya terkejut.

Kepalanya terasa pening sekarang. Dia tidak berbicara apa-apa lagi dan dengan langkah yang goyah meninggalkan ruangan itu.

Jin Ki –dari tempatnya sekarang hanya bisa memperhatikan punggung Tae Min yang berjalan menaiki undakan tangga rumah mereka.

“Maafkan aku, Tae Min.”

 

To be continued.

 

Haloooo~
Postingan pertama setelah aku hiatus panjaaaang *duag.

Sebenernya ide buat ff ini udah ada sejak lama. Tapi karena lagi hiatus dan kena write’s block juga, makanya aku jauh dari dunia ff selama hampir satu tahun lamanya, hukse T^T

Niatnya sih lanjutin The Covenant, cuma yaaaa…….. karena ff itu udah aku tinggalin hampir satu tahun, ide ff itu jadi buyar entah kemana, padahal itu ff yang aku yakin banget bakal aku selesaikan dengan cepat 😦 well, kalau ada waktu mungkin aku bakal lanjut sama ff itu -dan kayanya nunggu ff ini selesai dulu biar gak keteteran.

Semoga ff ini bisa aku selesaikan, syukur kalau bisa selesai cepat :”) hihi.

last…

THANKS FOR READING AND PLEASE LEAVE YOUR COMMENT ♥

19 responses to “Chapter – Shine on You (Prelude)

  1. Pingback: [CHAPTER] 一つの愛 Hitotsu No Ai (Shine On You) – (Paper IV: The One Who You Loved) | FFindo·

  2. new reader here.
    ommo mewah banget tuh sekolah.
    disini taemin n kai orang kaya yah.
    hmm masih sedikit bingung ma alurnya.
    kenapa taemin bisa / harus dijodohkan dengan son naeun?
    ijin baca next chap ya thor.

    • waah selamat datang/? *tebar confetti*
      semoga enjoy sama ceritanya. makasih loh udah sempetin baca dan komennya 😉

  3. Pingback: [CHAPTER] 一つの愛 HITOTSU NO AI (SHINE ON YOU) – (Paper V: Something Wrong, Part A/B) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s