I Just Don’t Realized You (Chapter 1)

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

COVER

Judul FF: I Just Dont Realized You

Main Cast: Choi Junhong (ZELO B.A.P), Park Bin (OC)

Other Cast: Bang Yongguk, Moon Jongup and you’ll find it soon!

Genre: Romance, Marriage Life, School life.

Rate: PG-14 s/d PG-15 (maybe)

 

H A P P Y   R E A D I N G

~Chapter 1~

-AUTHOR POV-

Juni 2010

Seorang pemuda bermarga Choi sedang asyiknya membaca sebuah komik yang tampaknya bergenre komedi-action itu di sofa ruangan keluarganya. Namun semuanya menjadi kacau (baginya) setelah Ayahnya memanggil dia dan berbicara sesuatu yang menurut Ayahnya sangat penting dan justru menurut pemuda itu sangatlah mengecewakan.

“Junhong-a” Ayahnya berbicara kepada lelaki bernama lengkap Choi Junhong itu dengan wajah serius namun tetap lembut kepada anak kandungnya sendiri.

“Ne, appa?” jawab Choi Junhong.

“Apakah kau tertarik dengan dunia pekerjaan Ayah? Aku ingin sekali jika engkau bisa melanjutkan-“ 

“Ayah, sudah berapa kali kubilang jika aku tidak sama sekali tertarik dengan dunia bisnismu itu! Aku hanya ingin menjadi seorang penari yang handal dan bakatku memang ada disana!” jawab Junhong sedikit mengeras namun tidak terlalu keras juga karena dia masih menghormati Ayahnya yang dia anggap sebagai idola sepanjang hidupnya.

Ayahnya hanya bisa menghela nafas panjang. Sudah berkali-kali Ayahnya mengajak Junhong untuk bergabung atau lebih tepatnya melanjutkan perusahaan Ayahnya tersebut. Bahkan sudah sering kali juga Ayahnya Junhong menyuruh anaknya untuk menggantikan posisinya sebagai pemimpin rapat ketika Ayahnya sedang menjalankan tugas di lain tempat. Junhong memang di anugerahi dengan otak yang bisa di katakan lebih dari cerdas, buktinya saja umurnya yang masih menginjak 18tahun itu sudah bisa menggantikan posisi Ayahnya sebagai pemimpin rapat di perusahaan Ayahnya bukan?

Namun sudah berkali kali juga Junhong menolak tawaran Ayahnya tersebut untuk menggantikan posisi Ayahnya di perusahaan yang terbilang besar di negeri ginseng tersebut. Dan jawaban seperti tadi selalu keluar dari mulut Junhong ketika Ayahnya menawarkannya perihal tersebut.

“dan juga, kemampuanku di bidang tarik suara juga lumayan bagus Ayah! Jadi aku mohon berhentilah menyuruhku-“

“oke, arraseo. Kau memang tak ingin melanjutkan perusahaan Ayah, dengan begitu..” Ayahnya yang semula tak menatap Junhong ketika mereka berbicara, langsung menatap intens ke mata Anaknya tersebut.

“Ayah kau ingin menikahkan puteri teman Ayah yang telah membantu Ayah membesarkan perusahaan ini” jawab Ayahnya dengan tegas.

“coba Ayah katakan sekali lagi? Kau ingin aku apa?” tanya Junhong dengan matanya yang terbelalak dan mulutnya yang hampir bergetar.

“menikahlah dengan Park Bin. Puteri dari sahabat Ayah yang telah membangun perusahaan ini bersama Ayah”

Dua hari sebelum kejadian tersebut,

Seorang wanita, lebih tepatnya gadis remaja masuk dengan begandengan tangan Ayahnya ke sebuah gedung yang dia tahu adalah perusahaan Ayahnya yang telah Ayahnya bangun bersama sahabat SMA-nya.

Park Bin, gadis campuran Korea-Indonesia itu baru saja datang dari Indonesia, kampung halaman Ayahnya, 1 minggu yang lalu. Gadis itu kembali ke Korea karena dia akan melanjutkan sekolahnya disini dan akan menetap di Korea setelah 10 tahun yang lalu dia pernah tinggal disini namun harus terpaksa pindah ke Indonesia di karenakan Ayahnya yang membuka perusahaan di Indonesia dan harus mengurus perusahaannya itu disana.

Lalu perusahaan ini?

Perusahaan yang berada di negeri ini adalah pusatnya, yang di Indonesia itu adalah cabang kedua dan yang terbesar di Asia. Ayahnya dengan rekan Ayahnya membangun perusahaan mereka dengan jerih payah yang sangat besar. Mereka (perusahaan mereka) bisa di katakan perusahaan cukup ternama di Asia dengan nama perusahaan “Choi-Park Inc”.

“Ayah, jadi ini pusat perusahaan yang Ayah bangun bersama rekan Ayah tersebut?” tanya sang anak kepada Ayahnya.

Ayahnya tersenyum lalu mengusap kepala puterinya dengan lembut. “iya nak, hari ini Ayah berencana mengenalkanmu kepada sahabat Ayah tersebut. Kau belum mengenalnya kan?”

Park Bin menggeleng pelan.

“Sebenarnya kamu dengan Choi Jun Soo telah bertemu ketika kau sangat masih kecil. Kau pasti tak ingat ya?” tanya Ayahnya.

Gadis itu menggeleng kecil lagi di tambah senyum yang menampakan gigi putihnya.

Ayahnya terkekeh pelan lalu bertanya, “Tapi kau masih ingat bagaimana Korea kan? Jadi Ayah tak perlu menjadi guide tour mu setelah kau berada disini”

“tentu saja. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Ya walaupun masih banyak yang samar-samar juga Ayah” gadis itu terkekeh pelan.

Park Bin masih mengingat semua kenangan yang dia alami waktu dia tinggal di Korea dulu

Bagaimana indahnya sungai Han, beberapa kawasan taman bermain di daerah-daerah tertentu.

Bukit di daerah Ulsan,

Dan..

Lelaki itu.

“Omo, uri Park Bin telah menjadi gadis yang cantik sekali!” pekik Tuan Choi Jun Soo. Ya, sekarang Park Bin dan Ayahnya telah berada di ruang direktur utama yang tak lain adalah ruangan Choi Jun Soo.

Di dalam ruangan ini terdapat dua meja direktur utama (yang satunya lagi  meja Ayah Park Bin, Park Jae) namun meja tersebut telah bertahun-tahun di tinggalkan di karenakan pemilik meja  tersebut sedang menjalankan perusahaan cabang kedua mereka di Indonesia. Sebenarnya tak selalu di tinggalkan karena seling 2 tahun sekali, Tuan Park Jae selalu kembali ke Korea untuk melihat kondisi perusahaan pusatnya dan pastinya dia menempati mejanya tersebut.

“ah, Tuan Choi terlalu berlebihan. Aku tak secantik yang anda pikirkan” Park Bin menjawab sambil tersipu malu. Lalu Tuan Choi dan Ayah Park Bin terkekeh kecil secara bersamaan.

“dan kau! Park Jae, apakah kau mengonsumsi banyak makanan berkabohidrat?! Kau tampak sedikit lebih gemuk dari pertemuan terakhir kita!” pekik lagi Tuan Choi. Kali ini pekikannya di tunjukkan kepada Ayah Park Bin.

“Benarkah? Kalau begitu aku harus banyak melakukan olahraga lagi. Ya, sepertinya aku terlalu banyak mengonsumsi karbohdirat karena isteriku selalu memasak masakan yang sangat nikmat di rumah” jawab Ayah Park Bin sambil tertawa kecil.

Lambat laun, Ayah Park Bin dan Tuan Choi terlarut dalam perbincangan mereka. Dan Park Bin sendiri hanya bisa menjadi “kambing conge” yang tak tahu menahu apa yang Ayahnya dan Tuan Choi bicarakan.

Park Bin pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.

Terdapat 4 lemari yang tampak seperti lemari buku, dua berjejer tepat di belakang meja Tuan Choi dan dua yang lainnya berjejer tepat di belakang meja Ayahnya. Park Bin menghampiri meja Ayahnya tersebut.

Tampaknya meja Ayahnya selalu di bersihkan oleh Office Boy karena meja tersebut sangat bersih sekali. Hampir tak ada debu di meja tersebut walaupun pemiliknya hanya menduduki meja tersebut selama 2 tahun sekali.

Di meja Ayahnya, Park Bin melihat foto keluarga mereka terpampang jelas dengan bingkai kecil di sudut meja.

Tampak di foto itu foto Ayah Park Bin, Ibu Park Bin dan tentu Park Bin sendiri.

Dan jika di lihat lagi, tampaknya foto itu di ambil ketika mereka tinggal di Korea dan yang berarti Park Bin masih menjadi gadis kecil.

Park Bin menaikkan kedua ujung bibirnya melengkung ke atas seraya mengambil foto tersebut dan melihatnya lebih jelas lagi.

Sepertinya, di kala itu keluarga kecil nan harmonis tersebut sedang pergi ke suatu tempat tamasya.

Park Bin tak terlalu mengingatnya, namun dapat di lihat dari latar belakang foto tersebut, mereka berada di sebuah Air Terjun di sekitar Ulsan, tempat tinggal mereka dulu.

“Aku tahu itu! Anak ku sempat menjadi pemimpin rapat disini dan memang dia membahas sebuah masalah yang terjadi di cabang kedua kita di Indonesia. Se parah itu kah?” tanya Tuan Choi.

“oh anakmu sudah mulai menggantikanmu menjadi pemimpin rapat di perusahaan kita? Astaga pasti dia anak yang cerdas sekali!” puji Ayah Park Bin.

“oh tapi dia tidak ada niatan sama sekali untuk menjadi penerusku. Dia selalu bilang bahwa dia ingin sekali menjadi penari dan katanya bakatnya memang ada disana” jelas Tuan Choi. Dari nadanya, tampak Tuan Choi seperti kecewa dengan pilihan anaknya.

Park Bin samar-samar mendengar perbincangan Ayah dan sahabat SMA nya tersebut sambil terus melangkah dan memerhatikan meja Tuan Choi. Dia menghampiri meja Tuan Choi lalu melihat ke arah lemari buku Tuan Choi.

Berbeda dengan lemari buku Ayahnya, lemari Tuan Choi tampak penuh sekali dengan buku-buku yang tebalnya seperti berisi 500 halaman. Bahkan sepertinya Tuan Choi akan membeli satu lemari buku yang baru lagi karena kedua lemari buku tersebut sudah sangat penuh.

Jari-jari Park Bin menari kecil sambil menunjuk semua buku Tuan Choi.

“semuanya buku bisnis. Tentu saja” gumam Park Bin.

Dia pun mengalihkan pandangannya dari lemari buku Tuan Choi menjadi ke meja Tuan Choi. Di bagian depan meja tersebut terdapat papan nama dengan huruf hangul Tuan Choi.

“Choi Jun Soo”

Oh dia tak melihat seperti itu di meja Ayahnya?

Park Bin pun melihat kembali ke arah meja Ayahnya yang berada di seberang meja Tuan Choi.

Oh ternyata dia salah, di meja Ayahnya juga terdapat papan nama dan sama seperti Tuanc Choi, disana tertulis huruf hangul ayahnya.

“Park Jae”

Dia pun mengalihkan pandangannya lagi ke meja Tuan Choi.

Dan dia menangkap sesuatu di sudut meja tersebut.

Sama seperti Ayahnya, Tuan Choi memasang foto keluarganya dan di bingkai rapi.

Park Bin pun mengambil bingkai foto tersebut untuk melihat lebih jelas bagaimana keluarga Tuan Choi.

Pasti pemuda dengan wajah berumur sekitar 35-an itu adalah Tuan Choi.

Pasti wanita dengan wajah berumur sama seperti Tuan Choi adalah istrinya Tuan Choi.

Pasti lelaki dengan kulit sedikit hitam tanned itu adalah anak Tuan Choi.

Pasti lelaki dengan kulit putih susu itu adalah anak Tuan Choi.

Tunggu

Park Bin makin memperjelas penglihatannya ke arah foto itu.

Lebih tepatnya ke salah satu anak lelaki di foto itu.

“apakah aku–” tanya Park Bin pada dirinya sendiri.

“oh” Tuan Choi yang sudah menjeda perbincangannya dengan Ayah Park Bin melihat ke arah Park Bin yang sedang melihat ke arah foto keluarganya.

Tuan Choi pun menghampiri Park Bin.

“itu keluargaku. Lelaki dengan kulit sedikit hitam tanned itu anak sulungku, Bang Yongguk.” setelah berdiri tepat di samping Park Bin, Tuan Choi menjelaskan siapa saja anggota keluarganya tersebut.

“dan lelaki berkulit putih itu adalah anak bungsuku,” lanjut Tuan Choi.

Putera bungsunya?

“Choi Jun Hong”

 “jadi..” Park Bin memutuskan pembicaraannya karena handphone yang sedang ia pegang erat jatuh ke kolong jok mobil Ayahnya.

Ya, sekarang Park Bin sedang dalam perjalanan menuju ke rumah barunya di Korea. Mereka tinggal di distrik elit di Korea, tentunya distrik Gangnam.

Setelah kunjungannya ke perusahaan Ayahnya tersebut, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah mereka.

“Isteri pertama Tuan Choi meninggal dan Tuan Choi menikahi istri baru lagi?” tanya Park Bin pada Ayahnya yang sedang menyetir di sampingnya itu.

“hmm” gumam Ayahnya.

“maka dari itu, anak sulung Tuan Choi memiliki marga yang berbeda dengan Tuan Choi?” tanya lagi Park Bin kepada Ayahnya.

Lampu lalu lintas pun menunjukkan warna merah yang berarti mereka harus berhenti.

“Iya sayang” jawab Ayah Park Bin setelah berhasil memberhentikan mobilnya.

Park Bin tampak mengangguk-angguk mengerti. Lalu dia bertanya sesuatu kembali kepada Ayahnya

“apakah Tuan Choi pernah tinggal di Ulsan, Ayah?” tanya Park Bin dengan hati-hati.

Ayahnya yang mendengar tersebut tersontak kaget dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah puterinya tersebut.

“bagaiamana kau tahu, Bin-a?” tanya Ayah Park Bin.

“aku kan menanya Ayah, berarti benar kalau begitu?” tanya lagi Park Bin.

“oh, iya benar begitu. Dulu Choi Jun Soo dan keluarganya tinggal di Ulsan. Dan isteri pertamanya meninggal ketika mereka tinggal di Ulsan dulu. Choi Jun Soo dan anaknya itu sangat terpukul dan setelah bertemu denga isterinya yang sekarang, Choi Min Ah, mereka pindah ke Seoul dan menetap disana.” Jelas Ayah Park Bin.

Park Bin tak menggubris perkataan Ayahnya. Dia termenung sambil mencerna perkataan Ayahnya.

“benar mereka pernah tinggal di Ulsan dulu..”

“isteri pertamanya meninggal dan Choi Jun Soo berserta anaknya sangat terpukul akan itu”

Dia mengingat kejadian 10 tahun yang lalu, tepat ketika Park Bin masih berumur 7 tahun.

Ibuku pergi meninggalkanku selamanya! Aku benci ibuku!”

 

“Bin-a?” Ayahnya mengguncangkan tubuh Park Bin pelan.

“ah iya, Ayah?” Park Bin tersadar dari lamunannya.

“kenapa kau?” tanya Ayahnya

“ah tidak Ayah” jawab Park Bin.

Tepat setelah itu lampu lalu lintas berubah warna menjadi warna hijau. Ayahnya pun menjalankan kembali kemudinya dan mereka melesat ke jalanan Seoul yang tak terlalu ramai.

Park Bin kembali ke alam bawah sadarnya.

Mengingat kejadian 10 tahun yang lalu.

Lelaki itu, lebih tepatnya.

***

“Junhong-a, bangun!” teriak sang ibu Junhong kepada anaknya dari luar kamar sang anak. Mengapa? Karena sang anak selalu mengunci kamar tidurnya ketika tidur dengan embel-embel aku-tak-suka-jika-seseorang-membangunkanku-dari-tidur-nyenyakku.

Tak ada balasan dari si pemilik kamar.

“ya! Junhong-a! Kapan kau akan bangun dari hibernasimu? Kau sudah mengurung diri semalaman dan sampai jam 10 pun kau tak mau bangun!? Bahkan kau pun tak pergi ke sekolah!” teriak sang ibu lagi dari luar kamar sang anak.

Sebenarnya, lelaki itu telah bangun dari sebelum ibunya meneriaki dari luar kamar.

Dia hanya enggan untuk keluar kamar dan pergi ke sekolah.

Dia masih mencerna perkataan Ayahnya kemarin

“baiklah Ayah tak akan memaksamu untuk menjadi penerus Ayah, namun kau harus mau menikahi puteri dari sahabat Ayah yang telah membangun perusahaan Ayah..”

 

Menikah? Oh ayolah, lelaki itu baru berusia 18 tahun dan di kehidupannya yang masih muda itu akan di datangi oleh seorang gadis yang bahkan dia belum kenal (oh lebih tepatnya bertemu) dan dia sangat 100% yakin gadis itu akan menjadi ‘life ruiner’-nya.

Ok dia hanya bisa menyatukan jari ibu dan jari telunjuk dan membuat sebuah lingkaran yang menandakan ‘I am ok’

“Junhong-a” suara berat khas seorang Ayah memanggil anaknya.

Itu memang Ayah Junhong, dia sedang berusaha menggantikan istrinya untuk memaksa anak itu keluar atau sekedar membuka pintunya.

“Junghong-a” sekali lagi sang Ayah memanggil anaknya.

Masih tak ada balasan dari si pemilik kamar.

“Choi Junhong.” Kali ini terdengar seperti sedikit mengeras.

Klik

Suara kunci pintu di buka.

Namun pintunya tak di biarkan di buka oleh si pemilik kamar tersebut. Sepertinya masih enggan untuk membuka pintu kamarnya sendiri.

Sang Ayah membuka pintu kamar anaknya pelan, dan menemukan sang anak sedang duduk di tepi tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya.

Sepertinya anak itu masih enggan berbicara dengan Ayahnya perihal kemarin.

“Choi Junhong..” sang Ayah menghampiri anak bungsunya lalu menepuk pundaknya.

Masih tak ada respon dari sang anak.

Ayahnya menghela nafas pendek lalu berkata, “maafkan jika Ayah harus melakukan itu semua, ini semua Ayah lakukan agar perusahaan kita aman. Dengan menikahkan salah satu putera ku dan puterinya. Dan kita semua akan menjadi keluarga dan perusahaan itu bisa menjadi perusahaan keluarga.”

Choi Junhong lalu mendongkakan kepalanya dan melihat ke arah sang Ayahnya.

“lalu, kenapa harus aku yang menikahinya? kenapa tak Yongguk hyung saja? Toh Yongguk hyung juga adalah anak Ayah juga.” Tanya Junhong panjang lebar.

Ayahnya menghela nafas lagi

“Junhong, kau bilang kau tak ingin meneruskan perusahaan Ayah? Lalu bagaimana-“

“lalu bagaimana dengan kehidupanku? Ayah mempunyai isteri bukanlah sesuatu yang mudah Ayah.” Potong Junhong sambil menghela nafas di akhir perkataannya.

“lalu kau akan membiarkan hyungmu tersiksa dengan perjodohan ini dan menjadi penerus perusahaan? Karena kau menolak untuk menjadi penerus perusahaan, Ayah memberikan kesempatan ini untuk Yongguk dan membiarkanmu menikah dengan puteri sahabat Ayah tersebut.” Jelas sang Ayah.

“lagi pula Yongguk sudah memiliki kekasih dan aku tak ingin melukai perasaannya dengan menyuruhnya untuk menikahi gadis ini. Kau juga sedang tak punya kekasih kan? Dan juga karena kau tak ingin menjadi penerus perusahaan, maka dari itu aku memilihmu untuk menikahi Park Bin” tambah sang Ayah.

Junhong menghela nafas untuk (mungkin) yang ke-100 kalinya. Dan dia bertanya juga,

“bahkan aku belum bertemu dengan gadis itu, siapa namanya? Park Bin?” tanya Junhong dengan nada sedikit menyebalkan ketika dia menyebut nama gadis itu.

“nama yang aneh.” Tambahnya lagi.

Ayahnya menepuk kepala Junhong cukup keras. Sehingga pria dengan tinggi hampir mencapai 1,9m itu meringis kesakitan.

“jangan berbicara seperti itu! Aku yakin ketika kau bertemu dengan Park Bin, kau akan suka padanya. Gadis itu sangat manis sekali dan sangat berperilaku sopan. Mana mungkin aku menjodohkan anakku dengan gadis yang ‘murahan’?” jelas sang Ayah dengan tegas.

Junhong hanya mencibir dengan nada merendahkan.

Namsan Tower.

Sebuah menara yang sangat terkenal di negara tersebut.

Semua pengunjung dapat melihat keindahan kota Seoul dari atas sana.

Dan juga, ‘gembok cinta’ yang menjadi ciri khas di Namsan Tower terkunci erat di pagar-pagar pembatas sekitar Namsan Tower.

Restoran di Namsan Tower pun bisa di katakan restoran kelas atas di karenakan tempatnya yang berada di Namsan Tower.

Semua pengunjung tersebut bisa menikmati indahnya suasana kota Seoul dari restoran tersebut.

Seperti malam ini.

Oh tunggu, ada seorang pria yang sepertinya tak menikmati itu semua.

Pria bermarga Choi itu hanya memakan makanan yang di hidangkan di restoran tersebut dalam dia.

Hampir semua orang di meja berbentuk persegi panjang itu tertawa dan membicarakan yang menurut Junhong tak penting.

Pria berbalut jas biru dengan kaus berkerah berwarna hitam di dalamnya hanya menampilkan tak kesukaannya terhadap keluarganya yang menurutnya agak sedikit berlebihan itu.

Dan juga, pria itu hanya bisa menunjukkan ekspresinya dengan bibirnya yang hanya melintang lurus dari ujung bibir kanannya sampai ke ujung bibir kirinya.

Berbeda dengan gadis cantik berbalut gaun merah tanpa lengan itu dengan rambut ikalnya terjuntai ke bawah dengan indah sampai sebatas pinggangnya.

Dia memakan makanannya sambil tetap mempertahankan senyum yang terukir di bibirnya.

“untuk formalitas saja. Pasti.” Kata Junhong dalam hatinya.

Setiap anggota keluarga Junhong menanyakan sesuatu kepada gadis itu, dia menjawab dengan sopan dan tak lupa senyumnya terlukis indah di bibirnya. Oh itu hanya menurut keluarga Junhong saja, kecuali Junhong sendiri.

Junhong sedari tadi telah berpikiran negatif tentang gadis itu

“oh lihatlah gadis itu tersenyum hanya untuk formalitas saja”

“oh apakah gadis itu tak pegal dengan selalu menyunggingkan senyumannya setiap detik”

“oh apakah gadis itu menggunakan gaun itu hanya untuk menggoda seluruh keluargaku saja”

Dan banyak perkataan-perkataan yang tak mengenakan menyeruak di dalam hati Junhong.

Setelah makan malam selesai, giliran mereka semua membahas sesuatu yang penting. Yang membuat mereka bertemu di malam ini.

“sepertinya kita semua sudah tau, tujuan dari pertemuan ini adalah untuk mengenalkan masing-masing keluarga dan juga untuk Choi Junhong dan Park Bin” Tuan Choi memulai pembicaraan dengan nada yang terkesan berwibawa namun lembut itu.

Junhong melihat Ayahnya dengan tatapan enggan. Dia masih tak percaya jika Ayahnya memang benar-benar akan menikahi Junhong.

“dan juga, untuk Choi Junhong dan Park Bin..” lanjut Tuan Choi.

“maaf jika ini terlalu cepat untuk kalian namun, kalian akan melaksanakan pernikahan kalian sekitar minggu depan.” Sambung Tuan Park.

Junhong yang tadinya menatap intens Ayahnya menjadi terbelalak setelah mendengar perkataan Ayah Park Bin.

“apakah.. tak.. terlalu cepat Ayah?” tanya gadis itu.

“tidak, sayang. Aku ingin cepat-cepat kau hadir dalam keluargaku. Aku ingin sekali merasakan punya anak perempuan di kehidupanku.” Sambung Ibu Junhong yang memang kenyataannya tak memiliki anak perempuan itu.

“lalu Ibu menganggap Minrae Noona apa?” tanya Junhong dingin.

“Junhong-a, aku dengan kakakmu itu belum ada niatan untuk menikah walaupun kami sudah sedikit membahasnya..” jawab Minrae yang notabenenya adalah kekasih dari kakak Junhong, Bang Yongguk. Dia memang di undang oleh orang tua Junhong untuk menghadiri pertemuan keluarga tersebut karena memang keluarga Junhong telah menganggap Han Minrae keluarga mereka.

“ya, Junhong-a.. maksud Ibu kan jika kau menikah dengan Park Bin, maka pada hari itu juga Park Bin dengan sah menjadi anak Ibu juga kan? Lagi pula Minrae ingin menyelesaikan kuliahnya dulu dengan benar..” jelas Bang Yongguk.

Namun ternyata lelaki Choi itu masih tak mau kalah,

“lalu bagaimana denganku? Aku masih bersekolah dan pasti Park Bin juga masih bersekolah. Apakah itu etis di lihat jika seorang pelajar telah menikah?” tanya Junhong dengan ketus.

“Junhong-a” sang Ayah sedikit meninggikan suaranya karena perlakuan Junhong yang bisa di katakan tak sopan itu.

“tak apa Tuan Choi, dan itu memang benar kenyataannya. Apakah ini tak terlalu cepat? Aku masih duduk di bangku sekolah dan jika sekolah mengetahui diriku sudah menikah, apa mereka masih bersedia untuk menerimaku?” tanya Park Bin yang duduk di sebelah Choi Junhong.

“tidak. Aku pastikan itu tak akan terjadi. Kalian akan menikah secara diam-diam dan hanya keluarga kita saja yang tahu. Aku pastikan itu.” Jelas Ayah Junhong dengan tegas.

Junhong hanya bisa memutar kedua bola matanya. Lalu dia bangun dari kursinya, bermaksud untuk meninggalkan meja tersebut.

“kau mau kemana Choi Junhong!?” tanya sang Ayah sambil sedikit meninggikan suaranya.

“mencari angin segar.” Jawab Junhong dingin sambil masih berusaha untuk keluar dari kursi tersebut.

“pembicaraan ini belum selesai, Junhong-a” sang Ibu berkata dengan lembut kepada anaknya.

“aku tak peduli. Kalian urusi saja pernikahannya, toh aku ini hanya boneka saja kan?” jawab Junhong dengan senyum yang sangat menyebalkan di akhir katanya.

“CHOI JUNHONG!” sang Ayah berkata dengan suaranya yang tinggi dan sedikit menggebrak meja.

Lelaki itu hanya berlalu dan meninggalkan meja itu dengan wajah yang sangat kusut.

*Park Bin POV*

“Omona! Park Bin, kau sungguh sangat cantik sekali!” pekik Nyonya Choi kepadaku begitu aku dan keluargaku sampai di meja ini.

Hari ini adalah pertemuanku dengan Choi Junhong, anak Tuan Choi.

Aku tahu maksud pertemuan ini adalah perjodohanku dengan Choi Junhong.

Ayahku memberi tahuku setelah kami sampai di rumah sehabis mengunjungi perusahaan Ayah waktu itu.

“ah terima kasih Nyonya Choi, namun kurasa anda terlalu berlebihan” jawabku dengan senyum yang menempel di bibirku.

“tidak, sungguh serius. Kau benar-benar cantik sekali! Bukankah begitu, Junhong-a?” nyonya Choi mengalihkan pandangannya dariku menjadi ke arah lelaki yang sedari tadi hanya memutar kedua bola matanya ketika aku dan keluargaku datang.

Dia hanya melihatku sekilas lalu mengalihkan pandangannya lagi. Oh aku bisa lihat dia memandangku dengan pandangan malasnya.

Akhirnya Nyonya Choi menepuk sedikit bahu Choi Junhong lalu lelaki itu mendongakkan kepalanya ke arah Ibunya seraya bertanya, “apa?”

“Bagaimana, Park Bin sangat cantik kan?” tanya Nyonya Choi, sekali lagi.

Dia melihatku lagi lalu mengangguk sekali dan mengalihkan pandangannya lagi.

Ada apa dengan dia?

Aku mencari-cari Choi Junhong di sekitar Namsan Tower.

Ketika Choi Junhong pergi dari meja kami, aku disuruh oleh Ayahku untuk menyusulnya.

“temani Choi Junhong mencari angin segar di luar sana” begitu kata Ayahku tadi.

Aku melihat beberapa pasangan sedang memasang gembok cinta di pagar dan banyak sekali pasangan lainnya yang melakukan itu.

Tapi tetap, aku tak bisa menemukan orang yang kucari. Maksudku Choi Junhong.

Aku telah mencari ke semua venue di Namsan Tower tetapi masih saja, pria dengan tubuh yang sangat tinggi itu tak bisa kutemukan.

“apakah dia pulang?” gumamku.

Aku pun berhenti sejenak untuk memperdalam lagi penglihatanku.

Aku melihat ke seluruh penjuru tempat untuk menemukan Choi Junhong.

Hasilnya nihil.

“ah kurasa dia sudah pulang.” Batinku.

Tiba-tiba sebuah benda hangat menyampir di kedua bahuku.

Aku pun tersontak kaget dan melihat apa yang menyampir di kedua bahuku ini.

Sebuah jas berwarna biru dongker.

Aku membalikkan tubuhku dan melihat siapa yang menyampirkan jas biru dongker ini.

Tepat setelah itu, aku menemukan seseorang yang kucari sejak tadi.

“Apa yang kau lakukan di luar sini tanpa menggunakan jaket sekali pun?” tanyanya dengan nada dingin.

“mencarimu.” Jawabku, sekenanya.

“untuk?”

“Ayahku menyuruhku untuk menemanimu mencari angin segar.”

Dia pun memutar kedua bola matanya dan detik selanjutnya dia membalikkan tubuhnya. Dia melangkahkan kakinya menjauh dariku.

“tunggu!” teriakku kepadanya.

Dia tetap saja melangkahkan kakinya menjauh dariku.

Aku pun memajukan kakiku untuk mengejarnya. Bahkan aku sedikit berlari untuk mencapainya.

Berhasil, aku telah berjalan di sampingnya.

Dia sepertinya tak menyadari kehadiranku. Atau memang dia pura-pura tak menyadari kehadiranku?

“Junhong-ssi..”

Aku mencoba untuk membuka suara. Dia tampak menikmati pemandangan disini karena sedari tadi berjalan, dia hanya melihat ke kanan dan ke kiri sambil menikmati pandangan yang di suguhkan di Namsan Tower.

Dia tak menjawabku.

“Choi Junhong-ssi” aku memanggilnya sekali lagi.

Dia pun berhenti. Aku pun ikut berhenti.

“Apa?” dia menghadapkan wajahnya ke arahku.

“Kenapa kau begitu padaku?” tanyaku asal.

“begitu bagaimananya?” tanya dia dengan wajah yang datar.

“ya kau tampak seperti mengacuhkanku sedari tadi.” Jawabku.

Dia menghadapkan tubuhnya ke arahku sedangkan aku memang menghadap tubuhnya sedari tadi.

“Apakah kau menyukaiku?” tanyanya.

APA-APAAN INI? Kenapa dia menanyakan pertanyaan seperti itu?

“ti-tidak” jawabku terbata-bata

“lalu kalau begitu sama, aku tak menyukaimu dan terlebih perjodohan ini.” Jawabnya datar.

Sakit. Aku bisa merasakan nyeri di bagian dadaku ketika dia berbicara seperti itu.

“Bisakah kau membatalkan perjodohan ini?” tanyanya.

“aku tak bisa” jawabku.

“kenapa?”

Aku terdiam. Aku bingung bagaimana harus bilang padanya.

“Kenapa?” tanyanya sekali lagi dengan wajah malasnya.

“memang aku tak menyukaimu tapi aku menerima perjodohan ini. Aku akan berusaha untuk menyukaimu.” Jawabku dengan asal.

Dia menyipitkan matanya

“ku ingatkan saja ya, aku ini tipikal orang yang tak mudah menyukai seseorang terlebih jika aku sudah membenci sesuatu aku akan selalu menyimpan kebencian itu berlama-lama. Dan aku membenci perjodohan ini yang berarti aku juga akan membencimu.”

“lebih baik kau tak usah berusaha untuk menyukaiku ataupun melakukan perjodohan ini jika kau tak mau sakit di akhir.” Jawabnya dengan ketus. Detik selanjutnya dia meninggalkanku sendiri yang mematung karena jawaban-jawabannya yang sangat menyayat hati.

Apakah dia tak mengingatku?

*Junhong POV*

Banyak sekali sepasang mata yang menatapku di altar sini. Semuanya melihatku seraya membisikkan sesuatu kepada rekan yang di sebelahnya.

Hari ini adalah hari pernikahanku.

Aku tak mengerti mengapa gadis itu tetap melakukan perjodohan ini. Padahal aku sudah mencoba untuk membuatnya sakit hati dengan perkataanku yang kemarin dan membuatnya membujuk Ayahnya untuk tak melakukan perjodohan ini. Namun aku salah, dia tetap melakukan ini semua.

“aku benci dia” gumamku dalam hati.

Pintu gereja pun terbuka lebar. Aku bisa melihat gadis yang bernama Park Bin berjalan ke arahku dan di sebelahnya terdapat Tuan Park.

Setelah sumpah yang kami ucapkan di atas altar tadi, sekarang aku dan Park Bin menyapa semua tamu undangan yang hadir disini. Hampir semua yang hadir di acara pernikahan ini adalah keluargaku dan keluarganya Park Bin, di tambah juga rekan-rekan bisnis Ayahku dan tentunya Ayahnya Park Bin.

“CHOI JUNHONG!”

Seseorang memanggilku dengan suaranya yang khas itu. Aku mengenalinya, sangat mengenalinya.

“HEY MOON JONGUP!” aku membalas jawaban dari pria yang tak lain sahabatku itu dengan sangat antusiasnya.

Jongup menghampiriku dan Park Bin.

“wah ternyata kau cepat menikah juga ya! Aku terkalahkan oleh kau!” kata Jongup sambil menepuk pundakku.

“diamlah, lagi pula aku hanya akting saja dengan menikahi gadis ini.” Jawabku ketus.

Aku yakin Park Bin dapat mendengar jawabanku ini karena setelah aku berkata itu, dia langsung melihat ke arahku. Aku mengacuhkannya

“hey, apa yang kau maksud?” tanya Jongup heran.

Aku bisa melihat dari sini (walaupun Park Bin berada tepat di sebelahku, namun aku tak memandangnya sedari tadi) bahwa gadis itu menghela nafas dan meninggalkan aku dan Jongup.

“hey itu istrimu mau kemana, aku belum sempat berkenalan dengannya.” Melihat Park Bin pergi meninggalkanku dan Jongup, sepertinya Jongup akan mengejarnya kalau aku tak menahan dia untuk tetap diam disini dan membiarkan Park Bin pergi entah kemana.

“sudahlah biarkan saja dia, apakah kau tak ingin berbincang denganku?” tanyaku padanya.

“kau ini kenapa? Istrimu pergi meninggalkanmu dan kau hanya membiarkannya saja?” tanya Jongup dengan terheran-heran sekali lagi.

“aku di jodohkan dengannya.” Jawabku dengan nada malas.

“di jodohkan?” tanya dia dengan heran, sekali lagi.

“iya, orang tuaku dan orang tua gadis itu bersahabat sejak mereka SMA dan sama-sama membangun perusahaan yang jadi milik Ayahku dan Ayahnya secara bersama. Maka dari itu, Ayahku dan Ayahnya menjodohkan kami berdua dengan embel-embel agar kita semua menjadi keluarga. Tsk.” Kataku dengan decakan sebal di akhir.

“oh ayolah kau harusnya beruntung menikahi gadis itu, lihat dia sangat cantik sekali!” Jongup memajukan dagunya bermaksud untuk menunjuk Park Bin yang ternyata dia sedang menghampiri tamu yang lainnya.

Aku melihat ke arah yang di maksudkan oleh Jongup dan aku melihat Park Bin dari bawah sampai atas.

Postur badannya yang tak tinggi, namun tidak bisa di katakan pendek juga memiliki pinggang yang kecil. Menampakkan tubuh idealisnya. Jangan lupakan rambut hitamnya yang sekarang ia ikat menggulung ke atas namun terdapat beberapa rambut yang berjatuhan juga. Dia berkulit putih dengan wajah khas asia yang sangat kental.

Memang, aku akui dia sangat cantik.

Tapi tetap pada pendirianku, aku membenci perjodohan ini. Aku membenci gadis itu.

Setelah acara selesai, aku pergi dengan Park Bin untuk menuju rumah baruku dengannya.

Inilah alasan mengapa aku sangat membenci pernikahan ini. Aku akan pindah ke rumah baru dan tinggal bersama gadis itu hanya berdua. Aku benci rumah baru. Aku benci kamar baru. Aku benci gadis itu.

Selama dalam perjalanan menuju rumah baruku, aku dan Park Bin sama-sama tak membuka suara apapun.

Lagi pula aku memang tak ada niatan untuk berbincang dengannya.

“Choi Junhong-ssi”

Oh aku salah, ternyata gadis itu membuka suara duluan.

“apakah kau sangat membenciku? Sampai-sampai kau berbicara seperti itu kepada Jongup-ssi tadi” katanya.

Aku tak menghiraukannya. Aku mendengar perkataannya namun aku tak menjawabnya.

“Aku minta maaf padamu karena aku tetap melakukan perjodohan ini. Sekarang aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istrimu. Walaupun kau tak akan menyukaiku tapi aku akan berusaha untuk menyukaimu. Walaupun kau tak akan menyayangiku, aku akan berusaha menyayangimu.” Jawabnya dengan wajah tertunduk.

Aku tetap fokus kepada kemudiku dan tetap, aku tak akan menjawabnya.

*Park Bin POV*

Dia tak menjawabku.

Baiklah, aku mengerti sekarang. Dia memang sangat membenciku.

Bahkan setelah sampai di rumah baruku dengannya, dia langsung masuk saja ke rumah tanpa memperdulikanku.

Aku pun mengikuti jejaknya untuk masuk ke rumah.

Rumah bertingkat dua dan 3 kamar ini, terlihat klasik namun tak megah. Tapi tidak bisa di katakan tak megah juga karena terlihat desain rumahnya yang terbilang high class. Sejauh ini, aku bisa bilang rumah ini cukup bagus.

“ah kau pasti Park Bin agasshi” tanya seorang wanita dengan perkiraan umur 40tahun lebih kepadaku.

“ah bagaimana kau tahu?” tanyaku tak kalah lembut dengan ucapan wanita tadi.

“aku Cho Ahjumma, pengurus rumah agasshi dan Tuan Choi Junhong. Aku telah bekerja pada tuan muda Choi sejak dia masih kecil. Dan aku di pindah tugaskan menjadi pengurus rumah agasshi dan tuan muda Choi sekarang” jawabnya sambil menyunggingkan senyum.

“oh baiklah, terima kasih Cho Ahjumma” jawabku.

Dia hanya mengangguk

“dan juga agasshi, kamar anda tepat berada di sebelah kamar tuan muda di atas. Satu kamar lagi terdapat di bawah, kamar itu akan menjadi kamar tamu apabila nanti orang tua Tuan Choi atau agasshi mampir kesini” jelas Cho Ahjumma.

“ne, kamsahamnida ahjumma” jawabku.

Dia hanya mengangguk kembali seraya meninggalkankku, bermaksud untuk membereskan barang-barangku yang terdapat di mobil.

Aku pun menaiki tangga yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas.

Dia lantai atas, hanya terdapat dua kamar yang berjejer bersebelahan.

Terdapat juga sebuah sofa cukup besar, meja serta karpet  yang terhempas di bawahnya. Dan juga sebuah lcd tv disitu.

“aku tak tahu yang mana kamarku dan kamar Junhong” kataku pelan.

Aku berpikir sejenak. Pasti Junhong telah masuk ke kamarnya. Bagaimana jika aku salah masuk kamar? Pasti Junhong akan sangat marah kepadaku.

Aku pun memajukan langkahku untuk menghampiri kamar yang berada di paling sebelah kiri.

Aku mencoba menempelkan telingaku ke pintu tersebut, kupikir aku akan mendengar suara seseorang disitu yang mungkin kamar paling sebelah kiri itu adalah kamar Choi Junhong.

Namun aku salah

Beberapa detik kemudian, seseorang keluar dari kamar paling sebelah kanan.

Dia telah mengganti bajunya dengan kaos abu dan celana hitam pendek.

Dia melihat ke arahku dengan tatapan aneh.

“apa yang kau lakukan?”

Aku pun melepaskan telingaku dari pintu dan cepat-cepat berdiri tegak.

“hm- ak-ku tak tahu kamarmu yang ma-na jadi kupastikan du-lu kamar itu kamarku atau bu-kan..” jawabku sambil terbata-bata.

Setelah itu dia benar-benar tak menghiraukan jawabanku dan malah pergi turun ke bawah. Entah untuk apa.

“dia masih saja seperti itu.” Aku pun menghela nafasku dan masuk ke kamar baruku itu.

***TBC***

 

 

 

 

 

 

 

Author’s note:

Thank you readers yang udah mau baca. This is my very first fanfiction dan kalau masih banyak kekurangannya (pasti sih) maaf dan maaf banget-banget!

Kalau garing juga maafin banget yah!

Btw ini ff terinspirasi dari temenku yang cinta mati sama zelo hahahahah makanya aku bikinin ff ini juga buat dia.

Dan zelo juga sebenarnya bukan bias utama aku sih, ya kalau di bilang suka ya jelas suka lah orang selucu itu gasuka!? Hahahaha

Aku minta maaf banget banget banget banget tapi aku minta kalian buat comment di chapter iniiiii aja! Untuk selanjutnya aku gaminta-minta lagi deh janji!

Soalnya aku pengen tau aja ini ff garing atau ngga, kan kalau garing gimana gitu. Misalkan kaliannya pada suka kan jadi semangat lanjutnya juga. But aku gamaksa banget sih, cuman memohon aja sama kalian.

Ok segitu dulu, mungkin minggu depan aku post chapter 2 nya.

THANK YOU SEKALI LAGI BUAT KAK DITA YANG MAU NGEPOST FF INI, AKU BENAR-BENAR BERTERIMA KASIH KE KAKAK. AKU GATAU HARUS BILANG APA, BAHKAN KATA SARANGHAE PUN GA CUKUP KAYANYA.

Ok sip bye!

33 responses to “I Just Don’t Realized You (Chapter 1)

  1. wah ini fanfic ya bagus kok, eh mereka berdua (park bin sama zelo) udah kenal ya waktu kecilnya? tapi zelo-ya lupa -_- kasian park bin-nya, kakak cepet ngelanjutinnya ya, semangat!:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s