My Living Journal [Part 3]

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan dari lanjutan epep yang kemaren. Maaf untuk author dan readers kalau saya lama publishnya, soalnya epep titipan ada skejulnya sendiri untuk dititipkan. Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini. Happy Reading ~ ^^

“Ayo!” Chanyeol berdiri seketika. “Karena kau tidak juga tersenyum, aku takut aku harus melakukannya. Ayo ikut aku, adik kecil.”

“Mau kemana kita? Kau tidak akan melakukan sesuatu yang aneh kan?” Setengah hati takut namun setengah yang lain tidak bisa menolak. Hanya satu yang bisa ia simpulkan sampai saat ini, Chanyeol berbeda dari apa yang dia takuti dan jelas dia berbeda dari yang lain.

“Ikut saja.”

 

 

 

 

“Ta~da~ jadi bagaimana menurut mu? Kau pasti suka tempat yang seperti ini kan?” Minhee menatap Restaurant bergaya klasik elegant di hadapannya. Apa yang harus dia katakan? Dia benci tempat ini. Tempat ini berada di nomor terakhir dalam daftar tempat yang ingin Minhee kunjungi atau mungkin tempat ini bahkan tidak ada dalam daftar. Tapi Minhee tentu tidak bisa mengatakan itu, bukan?

“Tentu. Ini luar biasa.” Minhee menatap kedua mata ceria itu. Tidak bisa, Minhee tidak bisa mengatakan yang sejujurnya pada kedua mata ceria itu.

Dua piring salmon steak dengan lemon buttercream dan satu botol red wine mengisi meja yang memisahkan Minhee dan Chanyeol cukup jauh. Chanyeol terlihat sangat menikmati hidangan salmon medium-rare nya dan lantunan harpa yang dimainkan secara live tapi Minhee tidak terlalu menikmatinya, bukan karena salmonnya yang terlalu asin atau karena Chanyeol terlalu antusias melihat pemain harpa yang memakai gaun merah gemerlap dengan belahan rok yang mencapai pahanya. Hanya saja, hanya saja Minhee terlanjur membenci tempat mewah ini.

“Bukankah disini begitu sempurna?” Chanyeol meneguk habis red wine di gelasnya.

“Ya disini begitu klasik dan elegant.” Minhee berusaha tersenyum, mengubur semua kebenciannya demi pria positif dihadapannya.

Chanyeol tersenyum. “Aku berhasil, aku tahu tidak ada satu perempuanpun yang akan menolak untuk mendapatkan kemewahan seperti ini. Kau berhasil Chanyeol!” Batinnya.

 

 

Aku datang lagi ke tempat itu. Tempat yang aku harap tidak pernah aku datangi sampai mati. Jika kau bertanya apa yang salah dengan restaurant super mewah, klasik, elegant dan mahal jawabannya adalah tidak ada. Tidak ada yang salah dari restaurant itu. Hanya saja ya…. hanya saja seluruh kemewahan ini merenggut semua kata normal dari kehidupanku.  kau tahu? Semenjak umurku enam tahun aku selalu merayakan ulang tahunku ditempat mewah itu.  Hanya sekedar menikmati hidangan kelas dunia dengan sebotol anggur yang bahkan tidak bisa aku minum karena aku masih dibawah umur, dan yang lebih parahnya  tanpa obrolan apapun. Maksudku ayolah, mungkin memang benar tidak sopan untuk berbicara di meja makan tapi itu hari special untukku, bagaimanapun itu adalah hari ulang tahunku. Tidak kah mereka penasaran dengan apa yang aku inginkan? Apa yang aku alami selama satu tahun belakangan? Tidakkah mereka ingin tahu semua tentang putri mereka satu-satunya?

Mungkin jawabannya tidak. Yang mereka lakukan hanya datang terpisah pukul tujuh malam ke meja yang sudah di pesan pada ulang tahunku tahun lalu, memberikanku tas bermerk dan saham perusahaan, kemudian menghabiskan dua jam dengan kebisuan dan ketidakpedulian. Aku bahkan masih enam tahun dan mereka memberikanku saham? Orang tua mana yang melakukan itu? Bukankah seharusnya aku mendapatkan setidaknya boneka atau satu set teko untuk pesta teh dengan teman imajinasiku?

Aku membenci tempat itu sebesar aku membenci hidupku.

 

 

                                                 

 

“Apa kau siap? Aku menemukan tempat sebaik kemarin!” Kedua mata ceria dan senyuman jahil itu melakukan tugasnya dengan sangat baik hingga hampir saja Minhee mengaggukkan kepalanya.

“Tunggu!” Minhee sadar dan berusaha kembali ke tujuan utamanya, yaitu memperkenalkan dunianya pada pria yang telah berhasil mengambil kepercayaan Minhee sepenuhnya hanya dalam sepuluh hari.

“Ada apa?” Keceriaan itu mulai memudar. Chanyeol hanya memilik empat hari lagi untuk menyelamatkan hidupnya. Tidak ada waktu untuk keraguan dan kegagalan atau semua mimpi buruk yang dia alami belakangan ini akan menjadi nyata, begitu juga dengan lingkaran hitam di bawah matanya akan merusak wajah tampannya untuk suatu kegagalan.

“Untuk kali ini aku yang akan menentukkan kemana kita pergi dan untuk selanjutnya kau yang menentukan, bagaimana?”

“Sesuai perintahmu, Yang Mulia!” Chanyeol tersenyum dan membungkuk layaknya seorang pengawal pribadi putri kerajaan.

 

 

 

“Woah aku tidak menyangka rumahmu begitu… transparent.” Chanyeol melihat sekelilingnya dengan penuh rasa takjub. “Tidak ada satu arsitekpun yang mampu mengkhayal design rumah se-luar-biasa ini. Ini seperti green house raksasa yang tentunya lebih mewah dan tanpa jejak tanah atau pestisida.”

“Tapi bukan ini yang mau aku tunjukkan, siap?” Minhee dan Chanyeol kini berada di hadapan pintu yang berbeda dari seluruh pintu kaca tebal dengan guratan pelangi yang ada di rumah ini. Pintu itu terbuat dari kayu oak putih dan bila kau cukup teliti, kau bisa melihat ukiran nama Minhee mengelilingi pegangan pintu.

“Ta~da~ selamat datang di rumahku!” Minhee membuka pintu tinggi nan kokoh itu dengan bangga. Chanyeol tidak bisa mempercayai apa yang kedua bola matanya projeksikan. Mungkinkah? Ini bahkan bisa dijadikan taman nasional! Danau dengan bukit-bukit kecil penuh pepohonan mungil beragam warna yang mengitarinya, rumah pohon yang dibuat diatas batang pohon yang sama dengan pintu tadi dan seluruh rumput hidup yang akan kembali tegap setelah kau menginjaknya.

“Kau menyebut ini rumah?” Chanyeol masih berjalan setengah berlari mengitari danau kecil sebiru laut azure. “Ini surga!” Minhee memperhatikan Chanyeol yang menikmati hembusan udara sejuk menggores lapisan kulit terluarnya.

Aku harap ini surga, tapi sayangnya ini bukan, batinnya. Minhee kemudian duduk menemani Chanyeol yang terlentang bahagia.

Menyenangkan bukan? Hanya suara alam yang kau dengar disini. Hanya disini aku bisa merasakan diriku sepenuhnya.

Senyuman Chanyeol menghilang tiba-tiba. Hawa dingin mulai merambati tubuhnya. Semua pikiran akan taruhan ini terasa mengejar dan memacu jantungnya bekerja lebih keras untuk pertama kali. Dia yakin sesuatu yang salah dirasakan hatinya tapi entah itu karena sedikitnya sisa waktu yang dia miliki atau dia merasa bersalah pada gadis kesepian disebelahnya itu. mungkinkah Chanyeol untuk pertama kalinya mendengarkan hati kecilnya?

 

 

 

Aku melihatnya. Bagian dari dirinya yang selama ini terkurung aman dalam hatinya. Park Chanyeol aku tahu ada yang membuatmu berbeda dari yang lain, dan aku yakin akan hal itu sekarang. Ya tuhan! Bolehkan aku mencabut semua doaku? Doaku dimana aku ingin mati, bisakah kau melupakan itu sejenak? Karena untuk sesaat aku baru merasakan hidup. Melihatnya bernapas dengan bebas, melihatnya menggapai langit biru dengan senyuman dan melihat dirinya yang sebenarnya, bisakah aku menjadi bagian dari itu?

 

 

 

“Kau pernah datang ke tempat seperti ini?”

“Tidak. Aku hanya melihatnya di komik jepang, ternyata memang sangat ramai.” Minhee melihat kerumunan di depan matanya dengan gugup. Ini hanya festival tahunan bergilir tapi kerumunan manusia itu membuat Minhee takut. Tentu saja karena tidak pernah dalam sejarah hidupnya dia berada di tengah kerumunan manusia seramai ini.

“Jangan takut.” Chanyeol memegang tangan Minhee yang mulai dingin.

Aku percaya padanya, itulah yang Minhee katakan pada jiwanya yang berteriak ketakutan.

“Kau tahu apa yang terbaik disini? Gulali, peramal jalanan dan tentunya kembang api. Bagaimana kalau kita ke tempat peramal itu? tentu saja kau tidak percaya hal seperti itu, kan?” Kini kedua mata ceria itu berusaha menarik Minhee untuk mengikuti pemiliknya dan seperti yang Minhee hipnotiskan pada dirinya sendiri, Minhee percaya padanya.

Minhee mengangguk cepat dan selanjutnya mereka berlari masuk ke tenda kerucut yang bernuansa hitam kelam. Sedikit ragu, Chanyeol tetap memegang tangan Minhee erat dan duduk dihadapan sang peramal setelah memasukkan beberapa lembar dua ribu won ke kotak yang telah disediakan.

“Aku hanya memberi satu kesempatan, jadi apa yang ingin kalian ketahui dari masa depan?” Wanita paruh baya berjubah hitam dengan ekspresi datar itu menatap Chanyeol dan Minhee tanpa sekalipun merubah posisi tangan-peramal-diatas-bola-kristal-ajaib nya. Untuk sejenak, Minhee dan Chanyeol saling bertatapan. Ya, mereka berdua berpikir hal yang sama, wanita dihadapan mereka itu bahkan lebih gothic dibandingkan anggota band rock metal. Mungkin karena dia terlalu banyak mengoleskan eyeliner di kedua kelopak matanya yang sudah tidak kencang.

“Aku hanya ingin tahu apa yang akan terjadi pada kami di masa depan, apapun itu.”

“Waktu yang tersisa tinggal sedikit.” Masih dengan ekspresi gothic nya, peramal itu mengatakan satu kalimat yang sejujurnya lebih terdengar seperti ancaman.

“Itu saja? Tidak bisakah lebih spesifik?” Chanyeol dan Minhee kini berusaha memutar otak mereka. Waktu yang tersisa tinggal sedikit? Apa maksudnya? Waktu untuk apa? Entahlah.

“Menurutmu apa yang dia maksud?” Minhee masih saja terbuai dengan ucapan sang peramal. Sedangkan Chanyeol? Keringat dingin mulai muncul di dahinya. Mungkin ini hanya kebetulan tapi memang benar apa yang dikatakan wanita berjubah itu, waktunya tinggal sedikit. Chanyeol bergidik ngeri, mungkin memang benar wanita itu peramal, atau mungkin dia adalah mantan spy korea utara yang pandai membaca pikiran.

“Hei~ kau bilang kau tidak percaya hal seperti ini? Sudahlah itu hanya omong kosong jangan terlalu dipikirkan atau kau akan berakhir seperti professor-profesor yang kehilangan 85% rambutnya karena terlalu keras memikirkan hal yang sebenarnya tidak masuk akal.”

Chanyeol dan senyumnya kembali berhasil mencuci bersih otak Minhee yang sekarang telah kehilangan penjaga terbaiknya. Minhee tidak berdaya saat ini, mungkin hatinya kini telah berhasil menaklukan sel-sel otak Minhee sehingga dia dengan begitu mudah mengamini apapun yang Chanyeol katakan.

“Hey lihat itu!” Chanyeol menarik Minhee ke tempat yang penuh dengan topeng, topi dan aksesoris.

“Aku rasa topeng tikus ini cocok untukmu.”

“…”

“Minhee? Han Minhee?” Chanyeol memanggilnya beberapa kali tapi pandangan Minhee masih terfokuskan pada satu benda. “Apa yang kau lihat?”

Paman aku ambil ini.

“ayo kita pergi, pertunjukkan kembang api itu akan segera dimulai!” Minhee menarik Chanyeol melewati kerumunan dan menemukan satu titik yang cukup tenang.

“Apa kau menyukai tempat ini?”

“Tentu saja, sayang sekali aku baru merasakan hal seperti ini. ini menyenangkan dan ternyata keramaian itu tidak buruk…. Dan aku membeli sesuatu tadi”. Minhee mengeluarkan dua benda dari kantung jaketnya.

“Ini Yin dan Yang.” Minhee memberikan potongan keramik berwarna hitam dengan tali itu pada Chanyeol. “Untukmu Yang dan untukku Yin.”

“Tidak ada yang tahu cerita asal mula Yin dan Yang, tapi mereka dipercayai sebagai satu keseimbangan karena apa? Karena ada sebagian dari Yang di dalam Yin, dan ada sebagian dari Yin yang berada di dalam Yang. Bukankah itu menarik?”

Tanpa mengganggu sang bulan yang bersinar terang malam ini, ratusan kembang api di lepaskan ke langit yang kelam dan memancarkan sinar yang berwarna-warni. Malam itu adalah malam terbaik yang Minhee lalui selama hidupnya.

 

 

 

 

“Aku hampir lupa!” Minhee berbalik dan berlari kecil ke Chanyeol yang siap melaju. “Minggu ini aku ulang tahun, aku harap kau bisa datang.” Minhee mencium pipi Chanyeol yang tertutupi helm full face kemudian berlari dengan malu kembali ke kastil kacanya.

Chanyeol merasakan kembali perasaan yang akhir-akhir ini mulai mengusiknya. Perasaan ganjil yang tidak diketahui apa alasan dibaliknya. Satu hari lagi, ya hanya satu hari lagi waktu yang dimiliki Chanyeol untuk menyelesaikan semua ini, dan Chanyeol yakin tikus kecilnya itu telah terkunci rapat dalam jebakan manisnya. Namun sekarang masalahnya tikus itu bisa kabur, bukan karena tikus itu hasil rekayasa genetik tapi  karena Chanyeol sendiri yang membuka kunci itu.

Mungkin memang benar apa yang mereka katakan itu, tidak ada satu ceritapun yang akan melewatkan bagian bahagia di dalamnya, tidak ada yang sepenuhnya baik ataupun sepenuhnya buruk. Aku tidak percaya aku mengakui hal itu, maksudku aku mulai merasa bodoh karena aku bahkan tidak mempercayai itu sebelumnya. Park Chanyeol merubahku. Jika kau bertanya sejauh mana dia merubahku? Jawabannya adalah dia telah merubahku dari bongkahan batu marmer kasar menjadi sebuah patung. Dan itu sangat berarti bagiku, Terima Kasih Park Chanyeol…

“Adik kecil! Luhan membuka pintu kamarku sambil berbisik. Apa kau sudah tidur?”

“Oppa! Kapan kau kembali?” Minhee menutup jurnalnya dan menyembunyikannya di balik tumpukkan kertas soal. Empat hari Luhan pergi mengurus perusahaan besar-yang-tak-lama-lagi-menjadi-miliknya, membuat Minhee tidak sabar untuk memeluknya.

“Kau bahkan tidak tahu kapan aku datang? Kau bahkan melewatiku tadi dan kau tidak sadar? Kau harus aku beri pelajaran adik kecil!” Luhan dengan segera memeluk Minhee dan mengangkatnya sambil berputar. Inilah Luhan, tidak peduli berapa tahun adik-tiri-kecilnya sekarang tapi dia masih saja memperlakukannya seperti anak berumur 8 tahun. Minhee memang selalu mengatakan dia sudah dewasa tapi jauh di dalam dirinya ada bagian rapuh yang tidak bisa menolak perlakuan Luhan.

“Oppa! Aku bukan adik kecil lagi! 4 hari lagi aku 17 tahun. Apa kau sudah menyiapkan kado untukku?”

“Baiklah mari kita dengar apa yang adik kecilku inginkan. Jadi adik kecil, apa yang kau inginkan untuk ulang tahun ke-17 mu?”

“Aku ingin merayakan pesta ulang tahunku di rumah bersama Appa, Eomma dan Oppa tanpa kemewahan, cukup dengan trompet kecil bukan saxophone, cukup dengan kue tart beserta 17 lilin kecil bukan kue bertumpuk setinggi kue pernikahan, cukup dengan kado sederhana yang dibungkus dengan kertas kado bukan saham perusahaan. Itu… hanya itu yang aku inginkan. Bisakah kau memberiku itu?” Minhee memeluk Luhan dengan penuh harapan.

Luhan tidak bisa menahan perubahan drastis dari perasaannya ini. Luhan telah menyiapkan dua tiket berlibur mengelilingi eropa sebagai kado untuk adik kecilnya tapi ternyata Minhee hanya meminta perayaan ulang tahun yang tidak lebih meriah dari perayaan ulang tahun di restaurant siap saji. Luhan menyayangi Minhee melebihi apapun namun kenyataannya Luhan tidak mengenal Minhee sejauh itu. itu menyakiti hatinya.

“Oh… tentu saja adik kecil. Sesuai keinginanmu.” Luhan mencium kening Minhee dengan lembut. “Sekarang tidurlah. Mimpi Indah adik kecil~” Luhan bergegas keluar kamar Minhee, sebelum air matanya menetes jatuh ke pipinya yang masih kaku.

 

 

 

“Apa ini?” Minhee mengeluarkan Russian doll dari kotak kayu yang di permukaan atasnya terukir suatu kalimat berbahasa rusia yang tidak bisa Minhee baca. Betapa terkejutnya Minhee ketika membuka boneka itu. Boneka itu bukan boneka Russia biasa, tidak ada boneka yang lebih kecil di dalamnya dan boneka yang lebih kecil lagi didalamnya. Minhee hanya mendapati satu boneka Russia lain berukuran lima kali lebih kecil, berputar lambat seiring dengan lantunan  harpa dengan biola yang berhamonisasi indah seperti perpaduan ketujuh warna pelangi.

“Apa kau suka? Aku tidak tahu harus memberikan apa padamu maksudku aku tidak mengerti selera perempuan dan aku menemukan ini tertumpuk tidak tersentuh diantara barang-barang kuno milik ayahku jadi aku pikir mungkin kau menyukai benda seperti ini.”

“Ini lebih baik dari benda terbaik yang bisa aku bayangkan. Terima kasih.”

“Minhee, apa kau ingin mendengar apa cerita dibalik boneka musik itu?”

Chanyeol tidak yakin akan hal ini. Hatinya belum sepenuhnya menentukan suara yang bulat tapi Chanyeol benar-benar merasa tercekik.

“Seorang pengelana yang gagah berani siap untuk tantangan terhebat dalam hidupnya. Dia berjanji di atas batu nisan ibunya bahwa dia akan menjelajahi seluruh sudut bumi dan tidak akan kembali sebelum dia menyelesaikan takdirnya.  Tanpa melihat kebelakang, pengelana tersebut berjalan dan terus berjalan hingga ke seberang samudra luas. Namun, perjalanan yang begitu panjang mambuatnya merasa kesepian. Mempermainkan perasaan wanita menjadi kebiasaannya dan ketidaksetian menjadi nama tengahnya. Suatu hari dia sampai di suatu suku kecil di balik gunung, dan disanalah dia menemukan sesuatu yang tidak bisa ia temukan di semua tempat yang pernah ia kunjungi. Ya, seorang wanita misterius yang secara misterius tidak terjebak dalam rayuan dan omong kosongnya. Baginya, ini merupakan suatu tantangan. Cukup lama berusaha mendapatkan perhatian wanita itu, tanpa sadar tantangan telah berbalik melawannya. Tidak salah lagi, pria ini mencintainya tapi dia tahu dia tidak bisa memilikinya. Bukan karena wanita itu akan menikahi pedagang kaya tapi karena pengelana itu mencintainya dengan alasan yang salah. Pada akhirnya, pengelana itu membuat boneka musik sebelum dia meninggalkan wanitanya dengan berharap wanita itu mengetahui suatu fakta bahwa dia benar-benar mencintainya dan dia berharap wanitanya itu akan mengampuninya saat boneka itu tidak lagi berbunyi.”

“Woah benarkah cerita itu? ternyata boneka ini menyimpan kisah yang menyedihkan. Menurutku pengelana itu menyedihkan. Mungkin benar alasannya salah, tapi dia mencintainya bukan? Dan itu lah yang penting. Seharusnya dia tetap berada disampingnya hingga wanita itu tidak bisa mendengar boneka musik lagi.”

Chanyeol tertegun, pipinya terasa perih seperti tertampar, denyut jantungnya tidak bisa kembali normal, dan sesuatu di hatinya terus menjerit. Cerita itu hanya omong kosong, tidak pernah ada di dunia. Cerita itu hanyalah apa yang sedang Chanyeol hadapi sekarang. Pecundang di cerita itu adalah dia. Chanyeol pikir dia cukup memberi petunjuk bagi Minhee untuk bersiap-siap, tapi apa kata? Seperti halnya wanita di dalam cerita itu, Minhee tidak mengetahui hal ini akan datang.

“Minhee, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku—aku lakukan?”

“Tentang apa? Apa ada masalah?” Minhee menghampiri Chanyeol yang sedari tadi menatap lantai kayu mengilap dengan tertekan. Minhee tahu sesuatu terjadi padanya, Chanyeol tidak pernah seperti ini sebelumnya. Senyuman cerianya selalu terpasang sempurna di wajahnya. Tapi ada apa dengannya sekarang? Dia terlihat lebih tertekan dari murid yang akan mengikuti ujian SAT.

“Aku—a—aku… Minhee—aku… maa– I love you… would you be mine?”  Chanyeol menatap Minhee selama tiga detik kemudian dengan lembut Chanyeol menarik wajah Minhee mendekati wajahnya hingga tidak ada lagi jarak diantara bibir mereka. Maafkan aku, Minhee. Maafkan aku. Chanyeol merasakan air matanya menetes hangat melalui pipinya dan jatuh tepat di jari manis Minhee. Untuk sejenak mereka menikmati pasangannya. Suara jangkrik dan hembusan angin mengiringi mereka seperti sebuah OST di scene terbaik dalam sebuah drama. Baik Chanyeol maupun Minhee sama-sama tenggelam tidak berdaya di dalamnya. Chanyeol perlahan menjauhkan wajahnya dengan enggan. Chanyeol tersenyum, berusaha menghentikan air matanya yang semakin mengaburkan pandangannya.

“Apa—apa yang kau katakan tadi?” Minhee tidak percaya dengan apa yang terjadi. Pria dihadapannya mengatakan hal yang selama ini tidak dia percayai. Ciuman itu, kalimat itu, wanita mana yang bisa menolaknya?

“I love you, would you be mine?” Chanyeol mengulangi perkataannya yang terdengar bagaikan mantra.

Entah apa yang Minhee pikirkan sekarang. Jantung dan pikirannya terlalu bising bagi Minhee untuk menentukkan pilihan, lagipula memang tidak ada kata tidak dalam benaknya. Minhee kemudian menghapus tetesan air mata yang meluncur lambat di pipi Chanyeol sambil mengangguk mengiyakan.

“Dan berjanjilah satu padaku, jangan pernah buang senyuman itu selamanya. Berjanjilah itu untukku.” Meskipun aku tidak yakin kau akan tersenyum seperti itu padaku setelah ini batin Chanyeol.

“Tentu saja! Apa yang akan menghentikanku untuk tersenyum? Kau mengajariku untuk lebih mengerti sekitarku, kau mengajariku untuk tidak takut dengan sekitarku, kau mengajariku untuk tersenyum pada hidupku, kau mengajariku untuk tersenyum pada diriku sendiri, ya kau mengajariku semua itu,  lalu apa ada alasan bagiku untuk tidak tersenyum?”

Selamat tinggal, Minhee. Maafkan aku, meskipun itu membutuhkan waktu seumur hidupku. Aku tidak akan pernah memafkan diriku sendiri.

 

 

 

Ya tuhan! Ini sungguh terjadi! Ini luar biasa maksudku dia merubahku menjadi lebih baik dan kini semuanya itu menjadi satu padu. Aku masih tidak bisa melupakan apa yang terjadi tadi, aku masih bisa merasakan bagaimana bibirnya menyentuh bibirku. Aku mungkin tidak akan bisa tidur malam ini! mereka bilang tahun ke tujuh belas itu penuh dengan keajaiban dan kejutan, dan sekarang aku mengerti apa yang mereka katakan. Ini tidak akan pernah aku lupakan. Selamanya!

 

TBC

(note author Evilliey Kim : Annyeong author-nim ~ saya cuman mau koreksi tolong lain kali jangan lupa untuk memasukkan titile, author, cast, genre, or disclaim terlebih dahulu ke dalam epepnya sebelum memulai cerita tersebut. mungkin untuk epep kali ini author-nimnya lupa karena kepengen cepat di publish epepnya dan dibaca oleh readers-nim tapi alangkah lebih baik tidak terburu-buru mengirimkannya dan harap dikorekasi oleh author-nim terlebih dahulu. Oke, thankseuuuu untuk pengertiannyaa :* ^^)

YOHOO! Yes part 3 is arrived~

Sebelumnya aku mau bilang makasih (lagi) sebesar-besarnya buat semua yang udah baca dank omen ini ff amatir. Makasih banyaaaaaaaaak *bow

Dan setelah baca komen-komen reader-nim, sepertinya banyak yang bingung sama alurnya ya? Hehe maaf ya mungkin cara penulisan aku masih belom bagus jadi bikin bingung. Dan setelah aku konsultasi sama temen aku yang tidak lain adalah author juga, dia bilang tulisan aku itu bahasanya cukup susah, iya kah? Dia bilang gaya bahasa aku kaya novel bahasa inggris yang di translate hahaha

Jadi karena memang itu gaya bahasa aku, semoga yang awalnya ngga biasa dengan gaya bahasa ini jadi biasa haha karena aku belom bisa rubah gaya bahasanya.

Oh iya! aku udah berusaha buat memperbaiki cara nulisnya biar pada ga bingung ama alurnya hehehe. Jadi buat yang masih satu scene itu aku kasih space line yang cukup jauh. Sedangkan yang pindah scene dan tempat aku kasih batas kotak-kotak itu. semoga dengan hal itu bisa memperbaiki kekuranagn aku eheheh

Happy reading yaaaaa

16 responses to “My Living Journal [Part 3]

  1. Keren thor,,ga kbayang deh low nnti minhee tau low chanyeol cma permainin dia,,psti sedih bnget,,pa mngkin akan jdi minhee yg dingin lgi,,
    uhhh sebel yeoli tega deh,,lnjut thor pnasaran nih.
    Soal pnulisan udah lmayan mudah wat di mengerti,,keep writing…..!!!

    • makasih ya udah baca lagi hehehe. maaf nih ya kalo chanyeol disini jadi badboy dan pengecut, aku emang sengaja buat dia kaya gitu hahaha
      next chapt di tunggu yaaa

  2. aku sedikit tidak mengerti dengan kisah antara luhan dan minhee, terus chanyeol dan minhee
    hehehehe
    mian…
    Tpi selebihnya keren thor,
    ditgu chapter slnjutnya,
    oya sampai lupa, salam kenal, aku readers baru

    • haaaai selamat datang reader-nim~ makasih loh udah mau baca ff amatir ini hehehe
      jadi sebenernya hubungan Minhee ama Luhan itu ya sebatas kakak sama ade aja, cuma emang disini aku buat mereka so sweet banget mungkin karna aku juga pengan punya oppa(?) hehe tunggu next chapt nya yaaa

    • hehehe makasih!!!!! ah senengnya ada yang suka sama gaya bahasa ini hahaha
      okeeeee next chapt asap!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s