(Un)Fated Scene [Part 4]

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan dari lanjutan epep yang kemaren. Maaf untuk author dan readers kalau saya lama publishnya, soalnya epep titipan ada skejulnya sendiri untuk dititipkan. Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini. Happy Reading ~ ^^

 

Title: [Un]Fated

Author: chandoras

Cast: Oh Sehun, Park Cheonsa(OC)

Genre: Romance, angst, sad, AU

Rating: PG-15

Poster: hyunji

Previous : Part 1 | Part 2 | Part 3 |

Disclaimer: Originally slipped out of my mind. Plagiarize is strictly prohibited.

***

Sejak aku mulai menyadari perasaanku, nama Sehun terus menerus bergema dalam pikiranku. Lecture dari profesor-profesor setiap harinya hanya seperti film hitam putih tanpa suara. Jiwaku tak pernah hadir bersama jasadku di kelas. Ia sibuk mengembara mencari sosok Sehun dalam setiap memori yang ada. Berusaha memunculkan sosoknya meski tak akan nyata.

Sehun sendiri masih belum melanjutkan potongan-potongan cerita masa lalunya. Tak ada momen yang mempertemukan kami berdua selama beberapa hari ini. Orang tuaku tak lagi pulang malam karena proyek mereka berdua baru saja terselesaikan. Aku lupa mengatakan bahwa eomma dan abeoji bertemu karena proyek kerja sama antar perusahaan. Hubungan mereka berkembang cepat dari sekedar rekan kerja menjadi pasangan hidup. Selama mereka berdua berada di rumah, aku dan Sehun tak pernah banyak berinteraksi satu sama lain. Entahlah, mungkin ini hanya perasaanku, tapi aku merasa bahwa kami berdua lebih merasa nyaman dan terbuka saat orang tua kami tak ada.

Selain itu, Sehun juga selalu pulang lewat tengah malam. Aku tak tahu persis ia pulang jam berapa, namun kantung matanya terlihat menghitam belakangan ini. Wajahnya sedikit menirus, menonjolkan tulang rahangnya yang tegas. Aku hanya takut bahwa ia akan kesakitan di luar rumah. Aku sendiri bahkan tak tahu apakah ia masih mengonsumsi obat-obatan itu atau tidak.

Aku tak pernah berani menanyakan perihal obat-obatan itu padanya langsung. Aku tak bisa langsung mencampuri segala urusannya, aku tahu. Hubungan kami berdua masih terlalu dini untuk berbicara tentang hal-hal sensitif dalam hidup kami. Baik aku dan ia hanya butuh lebih banyak waktu.

Jam kuliah akhirnya selesai. Aku keluar dari gedung sembari meregangkan otot leherku yang pegal karena terus menerus menengadah selama kuliah barusan. Seori tidak bersamaku karena jadwal mata kuliah yang kami ambil berbeda untuk hari ini. Ah, anak itu juga selalu sibuk menggodaiku semenjak ia melihat kebersamaanku dan Sehun saban hari itu. Jika berita buruk menyebar karena mulut cerewetnya, aku tak akan segan untuk menenggelamkannya di Sungai Han saat itu juga.

Sebuah mobil yang nampak tak asing tiba-tiba berhenti tepat di hadapanku. Kacanya terbuka dan menampakkan sosok Sehun di dalamnya. Ia memberikan isyarat lewat matanya untuk menyuruhku masuk. Aku tersenyum kecil dan masuk ke dalamnya dengan senang hati.

“Maaf,” ujarnya saat mobil kembali berjalan pelan.

Aku menoleh padanya setelah aku memakai seat-beltku. Memberikan mata dengan sorot heran padanya.

“Aku tak mengantarmu dan menjemputmu selama tiga atau empat hari ini.” Ia menjawab keherananku tanpa menunggu pertanyaan dariku.

Aku tersenyum lagi untuk kedua kalinya. Perhatiannya ini yang aku suka darinya. Baru bertemu saja, ia sudah bisa membuatku tersenyum dua kali. “Sibuk?” tanyaku akhirnya.

Sehun mendengus dan tersenyum datar, “Anggap saja begitu.”

Senyumku perlahan pudar saat aku menatap wajah pria itu dengan seksama. Aku sadar, sebesar apapun perasaanku untuknya, dunia tak akan pernah mengizinkannya. Bagaimanapun Sehun adalah kakak tiriku dan jatuh cinta dengannya adalah hal tabu yang tentu saja, dilarang.

“Kau ada waktu?” Pertanyaan Sehun mengaburkan semua pikiranku barusan. Aku menganggukkan kepalaku mengiyakannya. “Wae?” tanyaku padanya.

Ia tak menjawab pertanyaanku dan terus menyetir sembari menatap lurus ke depan. Aku mulai menerka-nerka dalam hati tentang apa yang akan dilakukannya nanti. Apakah ia akan mengajakku makan? Apakah ia akan mengajakku jalan-jalan? Ataukah ia hanya berbasa-basi saja menanyakan hal tersebut?

Tak ada lagi percakapan di antara kami setelah itu. Hanya suara DJ radio yang terdengar dari tape mengisi kesunyian ini. Sementara Sehun sibuk menyetir, mataku tak pernah mau lepas dari wajahnya. Berulang kali aku mencuri pandang lewat kaca spion depan hanya untuk meneliti garis-garis wajahnya. Berkali-kali pula jantungku memberi sinyal bahwa perasaan di hatiku sungguhan nyata. Benar, aku sungguhan menyukainya.

Tanpa kusadari, mobil yang kami kendarai telah sampai di tempat yang dituju oleh Sehun. Aku menatap sekeliling dari dalam mobil. Perjalanan kami cukup memakan waktu dan jelas ini bukan daerah rumah kami.

Kami berdua akhirnya keluar dari dalam mobil. Aku tercekat begitu menyadari bahwa di hadapanku kini terhampar padang rumput yang sangat luas. Matahari senja tampak sangat memukau berpadu dengan lautan warna hijau. Sehun kemudian menggenggam telapak tanganku dan mengajakku berjalan melewati jalan setapak yang sudah tersedia.

“Ini..” Aku bergumam sendiri sambil terus menatap pemandangan menakjubkan yang ada di sekitarku, “seperti surga.”

“Ini memang surga. Haneul. Haneul Gongwon.” Sehun menyahut pelan, menanggapi gumamanku barusan. Aku menoleh padanya sejenak dan tersenyum sendiri. Confetti di dadaku sudah meletup-letup. Menyadari aku berada di tempat seindah ini bersamanya dengan tanganku yang berada dalam genggamannya membuat akal sehatku sedikit tak berfungsi.

Aku hanya pernah melihat taman ini dari TV atau majalah. Meskipun berada di Seoul, aku belum pernah mengunjunginya sekalipun. Tak ada alasan dan waktu yang tepat untuk datang kemari karena memang letaknya yang cukup jauh dari rumahku. Dan aku tak menyangka akan dikalahkan oleh Sehun yang baru beberapa bulan berada di Seoul.

Sehun kemudian membawaku ke tempat paling tinggi dari taman ini. Sesuai namanya, Haneul Gongwon ini memang dibuat di dataran tinggi Seoul yang membuat para pengunjungnya dapat menikmati pemandangan kota Seoul dari atas ketinggian. Tak banyak orang yang mengunjungi tempat ini saat kami datang. Mungkin hanya ada sekitar empat atau lima orang.

Kami berdua berdiri di depan pagar pembatas dan merasakan angin musim semi yang bertiup sejuk. Kulirik Sehun yang berdiri di sampingku. Ia sedang memejamkan kedua matanya, seperti menikmati setiap sapuan angin pada wajahnya.

Kedua mata Sehun perlahan kembali membuka, namun aku masih terus memandangi wajahnya. Pria itu akhirnya menoleh padaku dan balik memandangku.

“Kau suka angin?” kalimat itu meluncur dari bibirku. Mataku mencoba menembus manik kecoklatan miliknya. Beradu pandang dengan sorot mata tajamnya.

Ia memalingkan wajahnya dariku, lantas beralih menatap pemandangan Seoul yang mulai menunjukkan kilauan gemerlapnya. Saat sinar matahari mulai sirna, kota kelahiranku itu tampak seperti jutaan kunang-kunang yang bersinar dalam kegelapan. Gedung-gedung menjulang yang berdiri angkuh seperti berlomba untuk menjadi penerang terhebat berikutnya setelah sang surya.

“Mungkin.” Sehun akhirnya menjawab pertanyaanku dengan sepatah kata dari bibirnya.

“Aku merasa kau dan angin adalah satu hal yang sama. Kau..seperti angin,” ucapku pelan. “Karena meskipun tak nampak, sosokmu selalu terasa ada. Aku tak bohong, beberapa hari ini aku terus memikirkanmu.”

Apa yang kukatakan tadi?! Tidakkah ia akan salah paham?

Sehun jelas langsung menengok begitu aku mengatakan hal tersebut. Ada percik keterkejutan di matanya meski samar.

“Apakah kau baik-baik saja? Tidakkah kau merasa sakit? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang berputar di kepalaku..” Aku menundukkan kepalaku, mencoba menyembunyikan rona merah pada pipiku. “Maaf jika kekhawatiranku ini sedikit berlebihan..”

Aku tak mendengar jawaban apapun dari pria di sampingku ini meski beberapa detik telah berlalu. Yang kurasakan kemudian justru malah belaian lembut pada kepalaku. Aku tak berani mengangkat kepalaku karena wajahku terasa semakin memanas. Pria ini, aku tak bisa melakukan apa-apa lagi jika bersamanya.

“Terima kasih telah mengkhawatirkanku..” Sehun melepaskan tangannya dari kepalaku dan berbisik lirih.

“Aku lupa bagaimana rasanya dikhawatirkan. Entah berapa tahun terlewatkan, namun aku merasa bukan hidup sebagai manusia. Tak ada yang menanyakan keadaanmu, tak ada yang peduli dengan keberadaanmu. Aku bahkan tak mengerti untuk siapa aku hidup.”

Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Sehun itu memaksaku untuk menoleh kembali padanya. Kakak tiriku itu menatap lurus ke depan sembari menyibak poni yang menutupi dahinya.

“Apakah definisi keluarga? Mereka yang menemanimu? Tidak. Aku bahkan tak pernah bertemu abeoji lebih dari sekali dalam dua bulan. Mereka yang menyayangimu? Tidak. Seseorang yang mengaku sebagai eommaku justru berselingkuh di depan mataku sendiri dan kabur dengan pria itu. Mereka yang mendukungmu? Menyemangatimu? Juga tidak. Paman dan bibi yang selama ini tinggal bersamaku justru selalu menjatuhkanku. Anak malang, anak jalang, ataupun istilah-istilah yang lainnya sudah pernah kudengar dari mulut mereka berdua.”

“Jika keluarga adalah mereka yang—hanya—melahirkanmu serta memberikanmu uang, kurasa itu benar. Kenyataannya, memang hal tersebut yang kini kurasakan.”

“Apakah definisi teman? Sahabat? Saudara? Tetangga? Kamus hidupku tak akan bisa mengartikannya sama dengan kamus orang-orang kebanyakan. Terlalu banyak potongan hidupku yang berbeda dari mereka.”

Monolog panjang yang mengalir dari bibir Sehun terhenti. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Sepertinya sudah lama ia ingin menumpahkan bebatuan karang yang menyumbat hatinya itu. Aku menggenggam telapak tangannya erat. Mencoba memberitahunya bahwa aku siap untuk mendengarkannya dengan gesturku tersebut.

“Aku tak meminta banyak. Cukup libatkan aku dalam kehidupan mereka. Anggap aku ada.” Ia kemudian menoleh kepadaku. Sebuah sungai kecil telah mengalir melewati kedua pipinya. Suaranya yang sengau kemudian terdengar, “bukankah aku juga manusia?”

Mendengar suara Sehun yang pecah serta menatap matanya yang nampak rapuh memaksa air mataku ikut mengalir pula. Pertanyaan yang tadi ia ajukan tak pernah aku dengar dari siapapun yang kukenal di dunia ini. Seberapa menyakitkannyakah hidupnya sampai-sampai ia harus membuat pertanyaan seperti itu?

Ia kemudian melangkah kecil mendekatiku, menjatuhkan kepalanya di atas bahu kiriku. “Maaf, sebentar saja..kumohon..” bisiknya pelan.

Aku jelas menganggukkan kepalaku. Kedua tanganku perlahan terangkat melingkari punggungnya. Ini pertama kalinya aku memeluk Sehun saat ia tak berada dalam fase kesakitannya. Jantungku berdebar kencang saat melakukannya. Maaf Tuhan, aku tahu aku sudah melangkah ke arah yang salah.

***

Uap panas mengepul dari kopi yang baru saja aku beli dari vending machine. Aku berjalan menghampiri Sehun yang sedang duduk di atas sebuah kursi panjang dan memberikan satu dari kedua gelas kopi tersebut. “Hanya ada americano, tak apa?” tanyaku meminta pendapatnya. Ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum sekilas. “Tentu saja,” ujarnya sembari meraih gelas miliknya, “terima kasih.”

Aku duduk di sampingnya dan menyesap kopiku sedikit demi sedikit. Langit kini menghitam sempurna. Kami sudah menghabiskan waktu sekitar  jam di tempat ini. Aku melirik jam tangan Swiss Army milik Sehun. Kedua jarumnya menunjukkan pukul 20.50. Tadi pagi aku sudah bilang pada eomma untuk pulang awal, namun sepertinya janji itu tak bisa kutepati. Sehun lebih membutuhkanku sekarang.

“Cheonsa-ssi,” Sehun memanggil namaku pelan.

“Hm?” Aku menjauhkan mulut gelas dari bibirku dan menoleh padanya.

Sehun memutar tubuhnya hingga sempurna berhadapan denganku. Ia meletakkan gelas kopi miliknya yang sudah kosong di atas kursi yang kami duduki. “Untuk mendengarkanku kali ini, terima kasih..”

Seperti ada suara denting piano di telingaku usai Sehun mengucapkan kalimatnya. Aku menganggukkan kepalaku patah-patah, berharap agar kegugupanku tak nampak. “Aku justru senang bisa melakukannya untukmu..terima kasih telah membagi satu batumu yang lain padaku..”

Sehun tak berkata apa-apa dan menarik lenganku yang masih dibebat oleh perban dengan hati-hati. “Kau..berhentilah mengkhawatirkanku dan perhatikan dirimu sendiri,” ujarnya sembari membuka balutan perban tersebut. Ia menundukkan kepalanya dan mengecek jahitan sepanjang tujuh sentimeter yang diakibatkan oleh sayatan cutter miliknya dulu. Kulihat sorot matanya berubah saat melihat luka tersebut. Seberkas sinar kekhawatiran dan rasa bersalah terpantul dari manik coklat miliknya.

Aku mencoba menarik tanganku dan menutup lagi luka tersebut, “Aku tak apa-apa, Sehun-ssi..ini hanya luka kecil,” ujarku sedikit berbohong. Padahal aku masih ingat jelas rasa sakit saat pengaruh obat biusnya telah menghilang. Aku sampai menggigit pulpenku sendiri untuk menahan rasa perih dan sakit itu. Saat eomma bertanya tentang mengapa lenganku terbungkus oleh perban, aku hanya meringis pelan dan berbohong bahwa aku tak sengaja tersayat ujung keramik pecah.

 “Sehun-ssi..boleh aku bertanya satu hal padamu?” Aku mencoba mengalihkan perhatiannya dari lukaku dengan membuka topik pembicaraan baru. Ia menengadahkan kepalanya yang semula menunduk dan mengangguk sekali.

“Tadi kau bilang..kamus hidupmu tak akan pernah sama mengartikan kata-kata dengan orang lain. Lalu menurutmu, apa arti diriku dalam kamusmu?”

Sehun terdiam sesaat. Matanya menatap langit selama beberapa detik dan kembali turun menatapku. “Hujan,” jawabnya singkat.

“Hujan?” tanyaku mengulang jawabannya. Ia menggumam mengiyakan. Mulutnya melengkung membentuk seulas senyum melihat dahiku yang mengerut tak mengerti.

“Tak usah dipikirkan. Keriput di dahimu akan muncul jika kau terlalu banyak berpikir,” candanya sembari memisahkan alisku yang bertautan satu sama lain. “Satu yang harus kau tahu, aku..suka hujan..” Sehun memutar bola matanya setelah mengatakan kalimat terakhirnya barusan. Telinganya sedikit memerah. Mungkinkah..ia malu?

Denting-denting piano itu kembali terdengar di telingaku. Kali ini melodinya terdengar begitu indah dan..romantis. Aku ikut melempar tatapanku ke arah lain karena suasana yang terasa canggung ini. Suka? Ia menyukaiku? Dalam konteks apa?

Bodoh. Tentu saja ia menyukaiku hanya sebatas adik tirinya saja. Jangan berharap lebih, Park Cheonsa.

Atmosfer di antara kami mendadak sunyi. Aku sibuk memainkan kuku-kuku jariku sedangkan Sehun hanya duduk diam. Kami berdua saling membuang wajah ke arah yang berlawanan. Keheningan ini rasanya membunuhku.

 “Krriiuuukkk..”

.

.

.

Sehun dan aku saling berpandangan satu sama lain seketika. Bunyi mengerikan itu muncul dari perutku. Great.

Aku langsung menutupi wajahku yang sudah memerah seperti tomat musim panas. Sementara Sehun di sampingku tampak menahan tawanya yang hampir meledak. Memalukan sekali. Sempat-sempatnya perutku ini berbunyi di saat yang tidak tepat. Ugh!

“Saatnya makan malam, benar?” Sehun mencandaiku yang masih tak berani menatapnya. Ia kemudian melepaskan kedua telapak tanganku yang  menutupi wajahku. “Itu wajar. Tak usah malu,” tambahnya sembari menarikku untuk berdiri.

Bagaimana hal itu tidak memalukan?!

Aku akhirnya berdiri dengan wajah merah padam. Sehun menggenggam tanganku dan membuatku berjalan di sampingnya. Sekarang berpegangan tangan dengannya terasa sangat biasa dan familiar. Aku baru sadar jika kakak tiriku ini selalu menggenggam tanganku jika kami berdua pergi bersama. Entah hanya karena kebiasaan atau apa, tapi aku merasa nyaman.

“Mulai sekarang..jangan panggil aku dengan panggilan formal.” Sehun tiba-tiba berkata saat kami hampir mencapai tempat parkir mobil.

“Eh?”

“Sehun. Cukup Sehun.”

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum akhirnya benar-benar menangkap kalimatnya barusan. “Tapi kau lebih tua dariku,”  ujarku sembari menoleh padanya.

“Tapi kita satu angkatan jika di kampus.”

“Lalu..bagaimana denganku?”

Kini ia menoleh padaku dan melemparkan sorot mata tak mengertinya.

Aku berdeham pelan sebelum menjawabnya, “Namaku. Apa yang akan kau gunakan untuk memanggilku?”

Ia tak langsung menanggapi pertanyaanku tadi. Nampaknya ia masih bingung dengan panggilannya untukku sendiri.

“Cheonsa. Kalau begitu kau juga cukup memanggilku dengan nama itu.” Aku mengajukan permintaanku padanya. “Adil bukan?”

Seulas senyum tipis terbentuk pada ujung-ujung bibir Sehun. “Ok, call.”

“Call!” Aku tertawa dan mengayunkan tanganku dan tangannya yang saling bertautan satu sama lain, “Kkaja!”

Kami berdua berlari-lari kecil menuju parkiran dengan tawa yang berderai-derai. Tuhan, andai saja aku bisa menghentikan waktu meskipun hanya sejenak. Aku harap kami berdua bisa terus seperti ini.

***

Hari ini adalah hari Minggu pagi. Aku bangun lebih awal dari biasanya dan membantu eomma yang sudah siaga di dapur.

“Pagi,” sapaku pada abeoji yang baru saja selesai mencuci mobilnya.

“Eo, pagi Cheonsa-ya..” balasnya sembari tersenyum hangat. “Kau bangun lebih awal, eh?”

Aku tersenyum dan menganggukkan kepalaku. “Sesekali saja, abeoji..”

Ia tertawa dengan suara beratnya. Tangannya kemudian membuka lembaran koran hari ini yang terletak di atas meja ruang keluarga. Aku kembali membantu eomma dengan membawa sepiring telur setengah matang ke atas meja makan. Tanganku bergerak cepat menyalakan toaster dan memasukkan beberapa lembar roti tawar ke dalamnya setelah pekerjaan pertama telah selesai.

Sarapan hampir siap ketika aku baru menyadari bahwa Sehun belum juga turun dari kamarnya. Biasanya pria itu selalu lari pagi saat hari libur. Apakah ia lelah karena aktivitasnya akhir-akhir ini? Ia tak mengatakan apapun soal apa yang membuatnya sibuk.

“Cheonsa, panggil Sehun untuk sarapan!” seru eomma dari dapur. Tangannya masih sibuk mengaduk sup di atas panci. Sudah lama sekali rasanya aku tak melihat eomma semangat memasak seperti ini.

“Anak itu, kerja paruh waktu hingga dini hari! Itulah sebabnya aku tak pernah mengizinkan Cheonsa untuk mengambil kerja paruh waktu. Kita masih mampu untuk memberikan uang saku untuk mereka, bukan?” omelan eomma yang ditujukan pada abeoji yang kini sedang asyik membaca koran membuat kakiku yang sudah menginjak anak tangga pertama berhenti. Aku kemudian menoleh pada abeoji untuk melihat wajahnya.

Kerja paruh waktu? Itukah alasan mengapa ia selalu pulang lewat tengah malam?

“Ia hanya ingin mencari uang tambahan. Kau tahu kan kalau ia kusuruh menanggung biaya perawatan mobilnya sendiri..” Abeoji menanggapi santai omelan eomma barusan.

Eomma menghela napasnya dan lanjut mengaduk sup. Tampaknya ia malas berdebat di pagi hari hanya karena masalah Sehun. Aku sendiri akhirnya kembali menaiki tangga meski dengan beberapa dugaan yang memenuhi kepalaku. Kalau saja kedua orangtuaku tidak membicarakannya, mungkin aku takkan pernah tahu bahwa selama ini Sehun bekerja paruh waktu hingga larut malam.

Tok tok.

Aku mengetuk pintu kamar Sehun dua kali. Tak terdengar suara apapun dari dalam sana. Entah pria itu masih tertidur atau bagaimana. Mataku kemudian menoleh ke arah pintu kamar mandi yang berada di ujung lorong lantai dua. Samar-samar terdengar bunyi keran air yang dinyalakan. Aku akhirnya mendekati pintu kamar mandi yang ternyata tak tertutup dengan rapat. Baru saja hendak memanggil namanya, dari dalam kamar mandi tiba-tiba terdengar suara muntahan seseorang.

Itu pasti Sehun!

“Sehun!” Aku merangsek masuk ke dalam kamar mandi tanpa meminta izin terlebih dahulu. Kulihat sosok kakak tiriku itu menenggelamkan wajahnya dalam keramik wastafel. Ia hanya sempat menoleh sekilas padaku karena mulutnya kembali mengeluarkan isi perutnya. Aku buru-buru menghampirinya dan memijat-mijat lehernya untuk membuatnya merasa lebih baik.

“Gwae-gwaenchana?” tanyaku khawatir. Kenapa aku selalu mendapatinya dalam kondisi seperti ini? Bagaimana bisa aku berhenti mengkhawatirkannya jika hal ini masih kerap terjadi?

Sehun mengangguk kecil sembari mencuci mulutnya dengan air keran. Ia kemudian mengangkat wajahnya dan menoleh padaku. “Pagi,” sapanya dengan suara yang nyaris seperti bisikan. Sempat-sempatnya pria ini mengucapkan salam pagi..

“Sehun—“

“Aku tak apa-apa. Jangan beritahu hal ini pada eomoni dan abeoji.”

Aku mencengkeram ujung kaus Sehun dan menatapnya tak percaya. “Sudah berapa kali hal seperti ini terjadi?”

Ia tak menjawabku. Tangannya justru bergerak menggapai poniku dan menyelipkan helaian rambut yang menutupi wajahku ke belakang telingaku. Perbuatan yang membuat mataku berkedip beberapa kali dan jantungku berdebar kencang. “Ayo sarapan,” ujarnya pelan.

Pita suaraku seperti enggan bergetar untuk mengeluarkan suara dalam bentuk apapun untuk mendebatnya. Entah kemana perginya rentetan pertanyaan yang hendak kutanyakan padanya barusan. Perbuatan kecilnya seperti tadi begitu mudahnya membungkam mulutku dan menguapkan isi pikiranku.

Sehun keluar dari kamar mandi tanpa mengatakan apapun lagi. Tanpa mengajakku. Tanpa menggenggam tanganku untuk mengajak berjalan bersamanya.

Aku menatap kedua telapak tanganku dan entah mengapa merasakan sebuah kehilangan. Bukan, bukan kehilangan. Sebab kehilangan adalah kata bagi mereka yang telah memiliki. Aku tak pernah memiliki Sehun. Jadi kata apakah yang tepat untuk mengartikan perasaan hilang ini?

Selamat datang dalam jebakan perasaanmu sendiri, Park Cheonsa.

***

Sore harinya, aku memutuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah sendirian. Setelah kejadian pagi tadi, Sehun tiba-tiba menghindariku. Ia bahkan sudah pergi keluar sejak siang tadi. Aku mulai tak mengerti dengan apa yang terjadi. Rasanya hidup Sehun jauh lebih berharga daripada hidupku sendiri. Aku terus menerus memikirkannya sementara hidupku sendiri tak kunjung membaik.

Selama ini kubilang hidupku selalu normal. Sangat normal. Namun keberadaan Sehun membuat segalanya berubah. Garis hidupku terasa fluktuatif. Bersamanya aku dibuat naik ke atas dan terjun ke lembah. Senyumannya serta tawanya yang langka selalu membuatku berada di atas awan, sedangkan mata sendu dan bertumpuk masalahnya seperti menyeretku ke dalam ruang bawah tanah yang gelap. Aku seperti menjadi lakon dalam skenario miliknya.

Aku memutuskan untuk naik bus tanpa tahu kemana arah tujuanku. Aku hanya ingin keluar rumah dan menenangkan pikiranku yang keruh. Dibawa berputar-putar pun tak masalah. Aku bisa turun di manapun aku mau. Tempat duduk yang kosong di pojok belakang akhirnya menjadi incaranku. Aku duduk di atasnya sambil menyumbat telingaku dengan earphone.

Angin sepoi-sepoi yang masuk lewat sela jendela membuat kantukku bangkit. Aku akhirnya membiarkan kedua kelopak mataku tertutup bersamaan dengan kesadaranku yang mulai hilang. Rasanya posisi ini begitu nyaman untuk tidur. Biarlah, sejenak saja..

Baru hendak memasuki alam bawah sadarku, bus yang kunaiki tiba-tiba mengerem mendadak dan membuat kepalaku terantuk jendela. Aku membuka mataku sembari mengaduh pelan. Sakit sekali. Sepertinya dahiku memar. Tak hanya aku, tapi juga seisi bus ini menggerutu kesal karena merasa terganggu.

Rupanya ada sepasang pria yang memaksa bus ini berhenti dari luar sana. Aku mendengar supir bus berseru jengkel pada mereka berdua meskipun pada akhirnya mengizinkan keduanya masuk.

“Eo, bukankah kau gadis yang sering bersama Sehun?”

Aku menoleh pada sumber suara dan menemukan sosok dua pria yang membuat seisi bus ini merutuk-rutuk. Wajah keduanya begitu familiar. Ah, bahkan aku mengenal salah satunya. Park Chanyeol.

Keduanya kemudian duduk di sampingku dan Chanyeol kembali menanyaiku, “Hei, kau ingat aku kan?”

Tentu saja. Memori buruk terlalu sulit dilupakan.

“Kesan pertamamu menurutnya pasti sangat menyebalkan, Park Chanyeol,” ujar pria lainnya yang duduk di samping Chanyeol. Wajahnya terlihat sangat baik hati, berbeda dengan pria menyebalkan di sampingku ini.

“Mwoya hyung, aku tak tahu waktu itu kalau ia milik Sehun.” Jawaban bernada seenaknya dari bibir Chanyeol itu membuat wajahku mendadak panas.

‘Milik Sehun’? Seandainya dua kata itu memang benar adanya..

“Oh hei ayolah, maafkan aku waktu itu—ergh..siapa namamu? Ah, Cheonsa..Park Cheonsa, benar kan? Maafkan sikapku waktu itu..aku tahu kau sangat tidak nyaman pastinya..” Chanyeol kembali mengajakku berbicara. Kali ini dengan menyodorkan sebelah tangannya.

Apa-apaan dengan sikap pria ini? Di tempat umum seperti ini ia membuatku tampak seperti gadis jahat yang menyakiti seorang pria!

“Uh, hentikan..aku sudah tak memikirkannya lagi. Jangan dibahas lebih lanjut..” Aku akhirnya berucap malas sembari memutar bola mataku padanya. Ia mengedikkan sebelah bahunya dan menarik tangannya lagi. Kenapa ini terasa seperti deja vu? Sama seperti waktu aku menolak berkenalan dengannya, pria ini juga membuat gestur yang sama persis seperti waktu itu.

“Ah ya, dan hubunganku dengan Sehun bukan seperti yang kalian kira,” tambahku lagi.

Chanyeol dan pria di sampingnya saling bertukar pandang sebelum terkekeh menertawakanku. “Mau kau bilang begitu juga tak akan ada yang percaya, nona..kalian berdua terlalu menempel seperti permen karet.”

Rona merah pada wajahku kembali muncul. Semencolok itukah kebersamaanku dengan Sehun? Bagaimana jika mereka berdua tahu bahwa kami hanya sebatas adik kakak tiri?

“Ya! Bukankah dompet Sehun tadi tertinggal? Kenapa tidak kita titipkan padanya saja?” Pria dengan wajah baik hati itu menyenggol lengan Chanyeol, membuat pria tinggi itu menepuk dahinya sendiri. “Hyung benar, hampir saja aku lupa..”

Chanyeol kemudian menyerahkan sebuah dompet kulit berwarna hitam padaku. “Itu milik Sehun. Ia meninggalkan ini tadi siang di restoran. Tadinya kami berdua hendak mengantarkannya langsung ke rumahnya, tapi kami tak tahu dimana alamatnya sekarang. ID-nya masih mencantumkan alamatnya di Daegu. ”

Aku menerima benda itu dan bersyukur dalam hati bahwa mereka tak tahu letak rumah kami. Kurasa itu bukan hal yang baik bila orang-orang ini menemukan bahwa kami berdua tinggal bersama. “Terima kasih. Akan kuberikan padanya nanti,” ujarku sembari memasukkan dompet tersebut ke dalam tasku.

“Memangnya ia tinggal dimana? Ia tidak pernah memberitahu rumahnya pada kami..ah, maaf..kau pasti belum mengenalku. Aku Suho, Kim—“

“Kim Joonmyun. Itu nama aslinya. Hyung, berhentilah mengenalkan dirimu dengan nama kekanak-kanakkan itu. Aku malu mendengarnya.” Chanyeol memotong ucapan pria yang entah bernama Suho atau Joonmyun itu.

“Ya! Kau ini telah membuat mobilku mogok dan kau masih berani mengataiku?!”

“Aku hanya mengendarainya! Mungkin memang mobilmu sudah rusak! Berhentilah mencari-cari kesalahan orang lain, hyung! Beruntung aku masih bisa menyetop bus ini tadi.”

Aku mendecak pelan melihat kelakuan dua pria di sampingku ini. Tanganku kemudian mengeluarkan dompet Sehun yang barusan dititipkan padaku. Aku tahu ini sedikit tak sopan, tapi aku hanya penasaran dengan isi benda miliknya ini.

Saat kubuka dompet tersebut, bus tiba-tiba bergoyang pelan karena melewati polisi tidur. Beberapa isi dompet tersebut keluar dan jatuh di pangkuanku. Aku buru-buru mengumpulkannya dan merapikannya untuk kembali dimasukkan, namun gerakanku terhenti begitu melihat selembar foto dengan sesosok gadis berambut panjang di dalamnya. Cantik sekali.

Rasanya tenggorokanku seperti tertohok. Ini pasti gadis yang disukai Sehun. Jika bukan, mana mungkin ia menyimpannya seperti ini? Katakanlah ini hanya ramalan tak beralasan. Berdoalah ini hanya sekedar anggapan. Berharaplah ini bukan kenyataan.

Ketika kubalik foto tersebut, terdapat sebaris tulisan di belakangnya.

                Sulit. Menghapusmu begitu sulit.

Empat kalimat tadi cukup memukulku telak. Ada yang sakit di dadaku. Cemburukah? Sakit hatikah? Mungkin keduanya.

Aku menarik napasku panjang-panjang dan memasukkan foto tersebut ke dalam tempatnya semula. Belum habis gejolak di hatiku, mataku kembali menangkap sesuatu pada beberapa kartu nama yang belum kumasukkan. Firasat buruk kembali muncul di hatiku begitu melihatnya.

“Chanyeol-ssi..” Aku memanggil nama pria yang sedang asyik mengobrol dengan temannya itu.

“Wae?” Ia menoleh padaku dan menatapku heran.

“Kau tahu tempat ini?” Aku menunjukkan kartu nama dengan sebaris alamat padanya. Kulihat matanya terbelalak kaget setelah melihatnya. Ia memandangku dan kartu nama itu bergantian. “Uh..yah..begitulah..” jawabnya sedikit tak yakin.

Suho mencodongkan badannya dan ikut melihat kartu nama tersebut. Ia kemudian menunjukkan ekspresi wajah yang mirip dengan Chanyeol. Keduanya lalu berpandangan satu sama lain. “Kami tak menyangka kau suka pergi ke tempat seperti itu,” bisik Chanyeol dengan wajah takjubnya. “Tapi tenang saja, aku takkan memberitahu hal ini pada Sehun, iya kan hyung?”

Yang dipanggil hanya terperagap dan tersenyum canggung, “Eh..y-ya..kau benar.”

“Dimana tempat ini? Apakah aku harus menggunakan subway?”

Chanyeol melirik Suho di sampingnya dengan tatapan ragu.

“Ppali!” desakku tak sabar.

“Uh, ya..baiklah..jadi..” Chanyeol akhirnya menjelaskan rute untuk menuju tempat itu.

Setelah ia menyelesaikan kalimatnya, aku bangkit dari tempat dudukku dan menekan tombol berhenti. Aku tak memedulikan di halte mana aku turun sekarang. Beberapa hal mulai berputar-putar di kepalaku. Ini masih tentang Oh Sehun.

Aku tahu mencintai seorang Oh Sehun adalah pilihan yang salah. Terlalu banyak yang tak aku ketahui dari dirinya. Terlalu banyak pula resiko yang harus kuambil karena perasaan ini. Tapi Tuhan, ini kali pertama aku mencintai seseorang hingga seperti ini. Tak bisakah aku melewati garis batas kenormalan yang selama ini kutaati? Tak bisakah aku melakukan satu saja hal abnormal dalam hidupku ini? Tak bisakah aku memperjuangkan perasaan ini?

Untuk kali ini saja Tuhan. Aku mohon kepadamu..

***TBC***

Hai haii~ aku balik lagi~

Gimana part 4 nya? Sesuai janji aku, aku panjangin loh dari part part sebelumnya..

Soal masa lalu Sehun udah mulai dicungkil-cungkil juga..jadi kalian bisa ngebayanginlah ya, hidup dia waktu di Daegu itu gimana..dan satu lagi, Sehun baru ketemu sama bocah-bocah EXO itu waktu dia udah pindah ke Seoul..jadi, yaa~kalian bisa narik kesimpulan sendiri apakah komplotan itu ada hubungannya sama drugs ato nggak..

Oh ya, maaf kalo aku gak bisa balesin satu-satu komennya ya..abis kadang bingung juga kalo cuma bilang ‘next thor..’ maksudnya aku jadi gak ngerti gitu loh mau jawab apa..maaf yaa~ ato kalo yang komennya rada akhir-akhir..maaf mungkin gak kebaca, karena keterbatasan kuota internet aku, hiks..maklumilah aku ini anak kosan kere~

Karena udah mulai curhat gak jelas, aku pamit aja yaa~ as always, comments and critics are LOVED AND WELCOMED:)

136 responses to “(Un)Fated Scene [Part 4]

  1. Haiiii thorrr~~ it’s been a while sejak gue terakhir kali baca unfated scene, dan entah berapa lama gue nunggu dan berharap ada mukjizat yg menyatakan bahwa ff ini ada lanjutannya :’)

    But u have to know, walaupun ini salah satu dari sekian banyak ff gantung yg gue baca, tapi unfated scene adalah ff yg paling bersemayam di hati gue bahkan melebihi ff complete..

    I just wanna say, makasih udah bikin cerita sebagus ini 🙂 i hope author sukses di dunia nyata ya (u know what i mean). Intinya sukses terus ya thor~~~

    Btw, gue selalu keinget teorinya sehun dikala hujan baday menerpa jakarta XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s