Glory of Love [Part 2]

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan dari lanjutan epep yang kemaren. Maaf untuk author dan readers kalau saya lama publishnya, soalnya epep titipan ada skejulnya sendiri untuk dititipkan. Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini. Happy Reading ~ ^^

 

Glory of Love [Chapter 2]

Author : Blacktingkerbell

Cast : Oh Sehun, Han Hyora (OC/You), Xi Luhan. Minor Cast in the story.

Genre : Romance, Life, Drama

Rate : T

 

Okay, happy reading ~

 

-oOo-

 

“Apa yang kau lakukan?” ucap gadis itu heran namun jelas sedang mengutuki pemuda tersebut. Bagai mendapatkan kembali seluruh darah dalam dirinya yang terasa membeku, ia mendongkak dan mencoba untuk membaca fikirannya sendiri.

“hah?”

“Cepat bunuh dia!”

.

.

.

“Tidak!” Sanggah pemuda itu cepat. Ia dengan cepat segera membungkus dan mengantungi pisau yang tadi ia genggam untuk alat membunuh Luhan. “Aku tidak bisa, aku tidak mau.” Lanjutnya.

Gadis dihadapannya mendengus kesal. Terlihat dari tatapan matanya yang seolah memberinya beribu-ribu umpatan kata-kata kasar pada pemuda yang tak mau mendengarkan titahannya.

Terdengar decitan khas dari ranjang ketika gadis itu menekannya dengan kasar saat ia beranjak dari sana. Ia mencoba melangkah meninggalkan dua pria disana. Hatinya terasa terketuk keras membuat cairan bening itu meluncur kembali dari kedua mata sipitnya. Sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu yang akan membawanya keluar, gadis itu menyempatkan diri untuk menolehkan kepalanya ke arah pemuda tadi. Dengan tatapan yang seolah menyambar si pemuda disertai dengan air matanya yang harus ia keluarkan membuat si pemuda itu sontak kembali terdiam. Entah apa yang ia fikirkan namun saat-saat seperti ini sangat menganggunya.

Pemuda itu tetap membeku disamping Luhan yang masih terlelap. Sebelum gadis yang tadi bersamanya benar-benar menghilang di balik pintu, samar-samar ia melihat pergerakan yang terlontar dari mulut si gadis dan suara gadis itu yang benar-benar membuatnya ingin menancapkan pisau itu segera pada dirinya. “Aku tidak tau apa yang kau pikirkan. Tapi kau telah membunuhku, Oh Sehun.”

.

.

Hyora membanting pintu apartemennya kasar. Ia melempar tas kecil yang ia sampirkan di pundak kanannya asal dan kembali membanting tubuhnya ke atas ranjang miliknya. Tak lama ia bangkit kembali dan dirinya kini tengah berada di depan cermin yang tertempel di pintu lemarinya. Ia memperhatikan dirinya dengan seksama. Pakaian yang ia pakai begitu minin, namun aneh ia tak merasakan dingin barang sedikitpun, setelah matanya menyadari dan menangkap sesuatu yang tersampir ditubuhnya. Jas hitam yang Sehun berikan padanya ketika Sehun memasuki kamar hotel tempat dirinya dan Luhan berada.

Oh Sehun. Hyora menghembuskan nafas bencinya ketika ia harus mengingat nama pemuda itu lagi. Dirinya tak pernah berfikir bahwa Sehun harus menempatkan dirinya pada keadaan yang sangat berbahaya. Membuatnya kembali harus membiarkan keristal bening itu terjatuh lagi dari kedua matanya, meruntuhkan pertahanannya.

-oOo-

 

            Luhan membuka matanya enggan ketika ia mendapati sebuah cahaya masuk menerobos ketenangan dalam tidurnya. Sudah terlalu siang jika ia harus terlelap kembali. Ia mencoba bangkit perlahan, kepalanya terasa berat dan berputar. Dirinya tidak begitu mengingat apa yang terjadi sebelumnya sehingga ia terbangun di sebuah kamar di salah satu hotel miliknya. Bagai sebuah film rusak yang masih ingin terus berputar dalam kepalanya, samar-samar pikirannya membentuk sebuah bayangan kusut, menampakkan sesosok gadis yang ia yakini telah bersamanya malam tadi.

“Aku tidak melakukan apa-apa, bukan?” Gumamnya serasa menggeliat mengumpulkan tenaganya yang masih enggan untuk memenuhi stamina tubuhnya. Dengan pergerakan yang begitu berat ia beranjak dan memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.

.

.

 

“Bagaimana?”

Luhan terlihat masih menimang-nimang perihal yang harus ia putuskan. Ia tidak bisa dengan cepat menyetujui sebuah penawaran, takutnya jika itu adalah sebuah jebakan. Luhan menggeleng pelan, menolak sebuah penawaran yang dibawa oleh pria tua dihadapannya. Mereka berdua saat ini tengah menikmati hangatnya kopi di pagi hari, tanpa memperdulikan perut yang belum terisi.

“Hal ini terlalu berat. Saya memegang saham untuk perhotelan.”

“Tidak ada bedanya, Luhan-ssi. Sekolah kami begitu besar dan kami yakin Anda tidak akan dirugikan.” Jelas pria tua itu. Luhan kembali memiringkan kepalanya, memikirkan bagaimana caranya sebuah Hotel harus berkerja sama dengan sebuah sekolah. Jika hanya untuk kunjungan wisata dan pengamatan, mereka sudah terlalu sering melakukannya dan tidak perlu dengan adanya kaitan bisnis di antara mereka.

“Lihat nanti saja.”

Ini bukan sebuah penyelundupan, kan? , batin Luhan.

           

            Luhan memperhatikan bangunan sekolah yang terbilang sangat luas. Ia bergumam kecil memikirkan bagaimana jika bangunan sekolah ini akan menjadi salah-satu dari bagian bisnisnya, pernghasil uangnya. Langkahnya terhenti di depan sebuah perpustakaan yang berhadapan langsung dengan lahan luas yang telah disulap menjadi berbagai macam lapangan. Dan kedua matanya berhenti berkeliling tepat pada sebuah lapangan basket yang terletak paling kanan. Refleks tubuhnya bergerak cepat dan ia mendapati dirinya kini tepat berada di tengah lapangan tersebut. Sebuah permainan lama yang tak pernah ia tekuni karna sebuah tuntutan hidup yang harus ia jalani. Menjalani hidup dengan berbagai macam kertas berisikan tulisan-tulisan laporan atau berkas-berkas lainnya membuat dirinya sangatlah sulit memiliki waktu hanya untuk menginjakkan kaki di atas lapang itu. Memantul-mantulkan bola, memasukannya tepat pada ring dan berteriak kemenangan menjadi satu-satunya hal yang ia rindukan.

.

.

.

            Hyora berjalan gusar dengan mulutnya yang tak henti-hentinya mengeluarkan ocehan-ocehan mewakili sebuah emosi tersirat dalam dirinya ketika beberapa buku yang ia bawa untuk kesekian kalinya terjatuh. Suatu hal yang sulit ketika ia harus berjalan berlawanan arah dari kelasnya.

Hyora memilih untuk mendudukkan diri sekedar untuk beristirahat sejenak pada bagian dari tembok bata yang memang sengaja dibuat khusus untuk bersantai di tepi perpustakaan. Ia merogoh ponselnya dari dalam saku rok coklat muda yang sebatas beberapa senti di atas lututnya. Hyora berniat membuat sebuah diary kecil pada memo di ponselnya. Kedua jempolnya terus menari di atas layar namun keduanya terus juga berlomba untuk menghapus karya yang ia ukirkan oleh beberapa hurup hangeul didalamnya ketika ia merasa tulisannya tidaklah seindah yang ia bayangkan. Pasalnya melampiaskan emosinya pada sebuah karya tulis yang menakjubkan tidaklah mudah.

Ia melepaskan nafas dari mulutnya, mengeluarkan uap yang mengepul pertanda saat ini benar-benar dingin. Matanya tak lepas dari seseorang yang tengah sibuk dalam dunianya diujung penglihatan Hyora. Kelincahan lelaki itu dalam bermain terlihat tidaklah mudah untuk dikalahkan. Tanpa sadar Hyora berdecak kagum namun sedetik kemudian ia segera membungkam mulutnya dan memutar kedua bola matanya.

            Sudah hampir setengah jam dan Hyora masih belum beranjak darisana. Yang diperhatikannya pun belum juga menunjukkan tanda-tanda ia kelelahan walau bisa dipastikan peluh telah membasahi sebagian dirinya di udara sedingin ini. Hyora kembali mengeluarkan ponselnya hanya sekedar melihat waktu yang tertera di layar ponselnya. Hyora membelalakkan matanya saat ia menyadari selama itu ia berada disana. Ia bahkan melupakan kelas terakhirnya.

Dirinya baru saja beranjak namun urung kembali ketika keterfokusan matanya harus beralih lagi pada seseorang disana. Ditengah lapangan, terjatuh. Dan bola basket yang sedaritadi menjadi kesibukannya disana memantul tinggi lalu bergelinding menjauh. Hyora mengedipkan matanya sejenak dan dilihatnya sosok itu telah hilang. Matanya terus berputar menjamahi berbagai sudut namun dia benar-benar menghilang.

Hyora mengutuk dirinya sendiri, mengumpat dalam hati dan memukul-mukul kepalanya sendiri menyadari sebuah kebodohan besar yang telah ia lakukan, behalusinasi selama itu dan dirinya benar-benar merasa sistem kerja otaknya sudah mati.

“Mencariku?”

Hyora kembali termenung. Tak mau bergeming dan membiarkan suara daun yang bergesekan tertiup angin menjawab keheningan setelah suara itu tertangkap kedua telinganya. Ia mematung, seakan lupa bahwa dirinya akan beranjak pergi namun juga enggan untuk kembali duduk disana.

“Aku tidak apa-apa. Hanya terjatuh karna lapangan licin.”

Kini Hyora menyadari suara tersebut benar-benar nyata. Tubuhnya sedikit bergidig ketika ia merasakan sebuah langkah mendekatinya dari belakang. Hingga sepersekian detik kemudian pemilik langkah tadi benar-benar menunjukkan sosok nyatanya, tepat di hadapan Hyora.

Dan lagi, Hyora harus membelalakkan mata sipitnya ketika dilihatnya sosok pemuda tersebut. Kulit putih susu miliknya dibasahi keringat, dan rambut softbrown-nya lagi-lagi terlihat tak beraturan. Luhan?

“Hey, kurasa kita pernah bertemu sebelumnya. Um.. di—“

“Tidak tidak!” Tukas Hyora cepat memotong perkiraan Luhan karna daritadi hanya Luhan saja yang mengangkat suara. “Mungkin hanya mirip. Aku tak pernah melihatmu.” Lanjut Hyora. Ia memasang senyum simpul sebelum akhirnya mencoba melangkah pergi.


“H..han Hyo-ra?”

Langkah Hyora terhenti. Kedua kakinya bagai terpelosok dan kedua tangannya bagai terselimuti salju. Dingin. Ada sebuah hentakan dalam dadanya ketika Luhan menyebut namanya, membuat organ dalam dadanya memompa darah lebih cepat dan bahkan detakannya kini dapat terdengar oleh telinganya sendiri. Hyora menggigit bibir bawahnya ketika Luhan menghampirinya dan kembali berdiri di hadapannya. ‘Tuhan.. jangan biarkan dia membunuhku sekarang..’ batin Hyora menjerit. Ia takut, sangat takut. Terlebih saat ia mendengar Luhan yang tiba-tiba terkekeh.

Nametag mu.” Luhan menahan tawanya melihat mimik muka Hyora yang terlihat begitu menggemaskan. Terlebih ketika gadis tinggi namun tak melebihi tingginya itu menundukkan kepalanya, seolah ketakutan.

Namanya dengan cepat terekam jelas diotaknya, menyimpannya dalam sebuah ruangan khusus didalam sana agar tidak terlalu sulit dicari.

“Aku Luhan. Xi Luhan.”

 

-oOo-

 

            Sehun melahap ramennya dengan rakus bahkan tak membiarkan dirinya mengambil nafas panjang dan mengunyah lebih lama. Tak peduli ia harus tersedak dan seketika mati di tempat. Pikirannya kacau saat ini, terlebih ketika pikirannya harus belari kebelakang menampakkan jelas dua sosok insan Tuhan di depan perpustakaan. Setelah ia lelah mencari Hyora yang tak ia dapati dikelas, rasa cemas bagai menindihnya. Membenaninya begitu berat. Beruntung, kecemasannya tidak berlangsung lama ketika ia menemukan sosok gadis yang ia cari.

Namun senyum yang lain membingkai indah, membuatnya seakan mati rasa dan hanya bisa menyembunyikan dirinya di balik sudut luar perpustakaann. Bagaimana cara orang itu tersenyum dan bagaimana tatapan orang itu tersorot membuat Sehun seakan terhempas seperti kaleng minuman dalam kulkasnya yang tak pernah ia perhatikan lagi. Mengharukan.

 

-oOo-

 

            Salju sudah tak pernah turun lagi beberapa minggu ini. Hembusan angin dingin yang menerpa seolah terselimuti oleh hangatnya sinar fajar yang kembali berbijar dan mengambil alih kekuasaan. Tumpukan-tumpukan salju mulai mencair karenanya, digantikannya dengan bunga-bunga yang merekah indah. Musim panas telah menggeser kedudukan musim dingin, membuat penghuni dalam kawasan tersebut kini melepas pakaian-pakaian hangatnya dan digantikannya dengan pakaian yang penuh dengan mode, mengikuti perkembangan fashion yang ada.

Seorang gadis terlihat tengah menggendong tasnya asal. Sudah tak ada mantel maupun syal yang membebani tubuhnya dan menutupi segaram sekolahnya. Hanya tinggal dua minggu lagi menuju liburan musim panas, padahal sebelumnya iapun telah merasakan liburan musim dinginya.

Hyora, gadis itu terlihat membuka mulutnya, namun ragu untuk melontarkan suaranya. Penglihatannya jatuh pada sesosok pemuda yang mengenakan seragam sama dengannya berjalan beberapa meter didepannya. Hingga akhirnya ia lebih memilih diam dan melangkahkan kaki mengikuti jalan. Hening, suasana aneh tercipta ketika kesibukkan orang-orang disekitar mereka bagai lukisan yang terhenti. Hanya mereka berdua yang berjalan berjauhan, saling mengikat egonya masing-masing.

Tak ada sapaan selamat pagi, tak ada pagi yang indah dalam tuturnya, tak ada Sehun yang merangkulnya lagi. Ini begitu menyulitkan pikiran gadis tersebut. Selama kurang lebih seminggu ia mendiamkan lelaki itu, kini berganti Sehunlah yang seolah mengacuhkannya. Ia sempat berpikir Sehun hanya mempermainkannya, ajang balas dendam yang akan berakhir dengan gelak tawa yang terpecah dikeduanya. Namun Hyora menepis pemikirannya mengingat sudah hampir dua minggu berjalan.

Keduanya sama-sama telah memasuki kawasan bangunan sekolah besar itu. Biasanya Sehun sedikitnya akan melemparkan senyum diwajah datarnya sebelum Hyora memasuki kelas. Namun hingga saat ini dirinya benar-benar seolah mengidap syndrom yang menghilangkan ingatannya pada kebiasaannya sendiri.

“Han Hyora!”

Hyora berhenti sejenak sebelum ia memasuki kelasnya, tidak segera menoleh pada suara yang terasa familiar memanggil namanya ketika tiba-tiba Sehunlah yang menolehkan kepalanya kebelakang. Hyora merasa ada sebuah ketukan kemenangan yang membuat sudut bibirnya terangkat. Setidaknya Sehun tidak benar-benar lupa akan dirinya.

Barulah Hyora harus menemukan pemilik suara tadi. “Luhan?”

Tidak salah lagi, suara tadi benar milik Luhan yang kini sudah tepat berada di sampingnya. Dilihatnya Sehun yang sudah menghilang, membuat tatapan Hyora kembali menatap kosong kedepan.

“Liburan nanti, kau sudah memiliki rencana?” Luhan bertanya dengan antusiasnya. Manik mata coklatnya terlihat bercahaya ketika diterpa sinar hangat sang matahari dan membuat Hyora seakan harus menghindari tatapan bersinar itu. “Aku? tidak tau. kurasa diam di apartemen lebih menyenangkan.” Jawab Hyora tenang, membayangkan betapa membosankannya bila selama liburan nanti ia hanya mengurung dirinya di singgasananya itu. Seperti seorang putri tidur yang menunggu sang pangeran datang menciumnya.

“Jika kau hampir mati kebosanan, kau bisa menghubungiku. Arra?” Hyora mengangguk pelan, padahal ia tak yakin apa arti dari sebuah anggukan yang ia tuturkan. Bahkan Sehun belum mengajaknya untuk berlibur.

 

-oOo-

 

            “Tidak salah lagi! Gadis itu memainkan lagu yang sama!” Kris segera menoleh pada seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya. Tatapan matanya melemparkan beberapa pertanyaan yang tidak tersirat langsung, namun gadis tersebut kembali berceletuk. “Pantas saja wajahnya terasa familiar.”

Kris menaikkan sebelah alisnya, setelah ia menyesap teh hangat dalam cangkir di genggaman tangannya, barulah ia mengeluarkan suara beratnya. “Gadis, siapa? Apa dia masih layak menghirup udara di bumi ini?” Kris menyimpan perlahan cangkir ditangannya agar tidak terlalu menimbulkan suara saat benda itu dengan permukaan mejanya bertabrakan. Matanya kini memandang lurus pada wanita yang juga tengah menatapnya yakin. “Ah, si penghianat itu.. Aku sudah tak tahan melihatnya. Gadis itu.. kuserahkan padamu, Dahee” Ia mengedipkan sebelah matanya dan disambut langsung oleh seringaian sumringah dari gadis yang dipanggil Dahee itu.

“Oh satu lagi!” Seru Kris masih dengan aura dingin yang terlontar dari suara hangatnya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap jendela besar diruangannya, seperti biasa. Matanya mengikuti jalan, melihat lampu-lampu mobil pada malam hari. Matanya terpejam sejenak lalu perlahan terbuka kembali setelah dirinya menghembuskan nafas berat. “Aku menyerahkan diriku pada tanganmu juga.” Gadis yang dipanggil Dahee tersebut sedikit membulatkan matanya, karna mata sipitnya tidak bisa terlalu besar ketika dirinya harus membelalakkan matanya. Dia baru saja akan membuka mulutnya namun Kris segera memotongnya, “Jika kau berniat akan membunuh mereka, habisi saja. Jangan biarkan setetes darah pun tersisa..”

Dahee hampir saja tertawa. Pasalnya tak perlu Kris peringati pun hal tersebut seolah sudah menjadi kebiasaannya, seperti gadis yang haus akan darah dengan pisau tajam yang selalu menemaninya. “Namun, pastikan aku mati ditanganmu juga.” Lanjut pemuda berperawakan jangkung itu.

 

-oOo-

 

            Sehun menyeka butiran keringat yang terus keluar dari pori-pori kulitnya. Matahari yang bersinar terik membawanya pada sebuah ruangan yang dilindungi pendingin ruangan dan membawanya seakan kembali pada musim dingin kemarin. Matanya sibuk mencari tempat kosong pada sebuah kafe minuman kecil.

“Kau datang Sehu..Luhan maksudku.”

“Kau menyebut namaku lalu menggantinya dengan nama laki-laki itu, apa maksudmu?” Suara Sehun masih terdengar dingin di wajah datarnya dan membuat gadis yang duduk dihadapannya mengangkat kepalanya dan membulatkan matanya.

Sehun tak sengaja menangkap sosok Hyora yang terekam oleh penglihatannya ketika ia mencari tempat kosong. Dan rasanya saat ini cukup tepat untuk mendekati gadis itu lagi, setidaknya sebelum Hyora mengganti namanya menjadi nama lelaki yang sekarang juga ikut hadir diantara keduanya dengan tatapan ‘ada apa ini?’

“Hm, maaf. Aku akan pergi.”

“Sehun tunggu!” Hyora mendorong kursinya kebelakang dan berdiri dari posisi duduknya mencoba untuk menahan Sehun yang sudah membalikkan tubuhnya. Sehun menoleh kearahnya dan sosok Luhan bergantian, “yang kau tunggu sudah datang, bukan?”

.

.

            Wajah putih Luhan terlihat kemerahan ketika ia tak bisa menahan sesuatu yang menggelitiknya dan melepaskan tawanya bebas, bersamaan dengan Hyora yang memegangi perutnya saat ia mulai meredakan tawanya. “Kau terlalu menutup diri, Sehun. Itu mengerikan.” Luhan kembali terkikik sembari menepuk pundak Sehun. Kini ketiganya tengah mendiami salah-satu tempat dibagian ujung kafe minuman tadi. Sehun tak jadi pergi setelah Luhan menyetujui permintaan Hyora agar dirinya ikut bergabung saja.

Tentu, Hyora tak mau menyia-nyiakan kesempatan disaat Sehun cukup lama tak berbicara dengannya. Namun kenyataannya ketika mereka berdua melepaskan gelak tawa, Sehun hanya memperhatikannya dengan mata yang memaparkan kebosanan dan sesekali berdecak kesal karna pasalnya mereka berdua tak jauh sedang menertawakan segala hal yang menyangkut dirinya. Pengalaman-pengalaman memalukannya yang berhasil tumbang dari tompangan rahasia pada Hyora, terlebih Hyora menceritakannya pada Luhan.

“Tentu saja. Aku hanya terbuka saat mandi saja, hyung.” Sehun memutar bola matanya ketika didengarnya suara Luhan yang kembali tergelak. Ia tak tahan, tangannya begitu gatal untuk menghentikannya. Dan benar, kali ini Sehun melepaskan tawanya sendirian ketika ia mendapati tangannya berhasil melempar sepotong roti tepat pada mulut Luhan yang terbuka dan membuat pemuda itu terdiam. “Kau terlihat menyedihkan, hyung.

 

-oOo-

 

            Hyora harus menahan dirinya sedikit lebih lama disekolah setelah bel pulang berdering keras menghamburkan seonggok siswa yang berlomba keluar dari kelasnya. Ia menompang dagunya dengan tangan saat tak juga mendapati Mrs.Jung yang memanggilnya dan menyuruhnya berada dikelas yang penuh dengan berbagai macam alat musik itu, sendirian.

Tak lama pintu berdecit terbuka, dan sejurus kemudian sosok yang ditunggu Hyora pun muncul. Namun Hyora harus mengerjapkan matanya ketika mendapati bukanlah Mrs.Jung yang datang dan menghampirinya. Seorang gadis dengan rambut hitam pekat sebahu dan bentuk tubuh yang indah.

“Kurasa kau tidak terlalu sibuk. Maukah kau menceritakan beberapa hal padaku?” Dahee mengawali pembicaraanm dan mengajukan pertanyaan yang terdengar menjurus langsung pada pointnya. Hyora memilih diam sebentar. Ia tau gadis berama Jung Dahee yang tertera di nametag gadis itu adalah salahsatu penghuni kelasnya. Dan seuatu hal aneh ketika ada yang mau serius berbicara dengannya. Hyora akhirnya mengangguk dan menunggu Dahee berbicara lagi.

“Yang kau mainkan kemarin, kau belajar dari mana?”

“Tidak tau. aku hanya memainkannya sesuai dengan permintaan pikiranku.” Hyora menundukkan kepalanya, mengingat saat ia memainkan biola dengan nada indah yang mengalun. “Ck, pembohong. Lalu bagaimana dengan ayahmu?” Hyora mengangkat kepalanya ketika Dahee menyebut-nyebut ayahnya dalam pembicaraan pertama mereka. “Ah baiklah, kurasa kau tak mau menceritakannya karna nantinya kau akan menangis seperti anak kecil..” Dahee mendekati Hyora dengan tangannya yang terlipat didepan dada, sebelah alisnya terangkat yakin dengan senyumnya yang ditarik kesamping kanan. “Bersiaplah. Mungkin kau tau maksudku..” Dahee masih menggantung ucapannya, sekedar ingin melihat wajah Hyora yang memerah padam dengan tangannya yang bergetar, lalu “Kau pasti tau apa yang akan terjadi, bukan?”

 

-oOo-

 

            Luhan memang sengaja membiarkan kemudinya melaju cepat menuju sekolah besar itu lagi. Ada suatu tekanan ketika tak sengaja memikirkan Hyora yang terus berputar dalam bayangan kusutnya, dan juga Sehun. Sudah hampir dua bulan semenjak Sehun melemparkan sepotong roti kedalam mulutnya. Liburan musim panas pun telah berlalu sehingga mereka harus kembali menjalani aktivitas rutin setiap harinya. Saat itu Luhan dan Hyora memang terlalu sering menghabiskan waktu liburan mereka, namun tentu saja Hyora tak ingin melupakan keberadaan Sehun walau sudah beberapa kali Luhan menolak hal tersebut secara halus.

Lalu apa bedanya dengan Sehun? Dirinya sudah berusaha memikirkan berbagai macam alasan untuk tidak hadir diantara keduanya namun Hyora begitu kekeh dan mau tak mau Sehun harus menyetujuinya. Menyetujui dirinya harus menahan getaran aneh saat berada diantara mereka. Menyetujui dirinya harus memasang senyum simpul ketika keduanya melepaskan tawa bahagia mereka. Menyetujui dirinya harus menyembunyikan sebuah perasaan aneh yang ternyata kembali hadir ketika ia memilih untuk tidak memperdulikan apapun namun nyatanya ia tetap terdorong untuk melihat kenyataan yang terpapar didepan matanya.

            Luhan tak sengaja menemukan sosok Sehun yang berlari ke arah toilet pria. Ia memilih untuk menunggu hingga Sehun selesai dan kembali keluar. Dirinya tersenyum ramah pada Sehun yang menatapnya penuh tanya dan tanpa rasa sungkan ia mengajak Sehun untuk sekedar berbicara di kantin sekolah. Sehun tadinya menolak karna dia harus melanjutkan kelasnya, namun Luhan merajuknya dengan sedikit ancaman mengingat sebentar lagi sekolah itu akan menjadi bagian dari hidupnya juga.

Dan sekarang mereka berdua tengah berada disana, hanya berdua karna ini masih jam belajar. Luhan membawakan dua gelas minuman dengan coklat batang panas yang meleleh diatasnya. Sehun memperhatikannya sebentar namun tak ada minat dan kini menatap Luhan yang kembali tersenyum ramah. “Ada apa?” Sehun mengawalinya sedatar mungkin, sedikit menyangkal perasaannya yang ia yakini akan ada sesuatu yang tak ia harapkan ketika pembicaraan diantara keduanya berlangsung saat ia melihat kedua sudut bibir lelaki dihadapannya terangkat.

“Kau berteman baik dengan Hyora, kan?”

Sehun menghempaskan nafas panjang ketika Luhan harus menyebutkan nama gadis itu dalam pembicaraan mereka. Entah mengapa, hal ini membuat Sehun terus berteriak dalam hatinya agar waktu berjalan dengan sangat cepat. Dan Sehun hanya menjawabnya dengan gumaman kecil.

“Kau menyukainya?” Sehun tertawa kecil dalam hati mendengar pertanyaan selanjutnya. Sebuah pertanyaan klise yang entah keberapa kali ia mendengarnya. Terlalu tidak memungkinkan untuk ia jawab. Tidak, bukan karna ia tidak menyukai Hyora. Sehun menyukainya, sangat menyukainya. Tapi.. “Apa aku terlihat seperti itu?” Sehun terkekeh namun Luhan menatapnya dengan serius, membuat Sehun harus menghentikan tawa kecilnya dan mengikuti arah yang Luhan berikan.

“Tidak, aku tau kau juga menyukainya. Kejarlah hyung, dia hanya seorang adik kecil bagiku.” Sehun tertawa hambar. Ia menyesap minuman hangat tadi untuk mengalihkan perhatiannya. Dirinya tak mau harus kembali menatap dua manik coklat bersinar milik Luhan saat nafasnya mulai terasa sesak.

“Bodoh.”

“Apa?”

Ternyata suara milik Luhan seolah memaksa Sehun untuk tetap mengikutinya. Mencari kejujuran kecil dari celah matanya. Dan Sehun membenci hal ini.

“Gadis itu menyukaimu. Namun ia hanya tidak tau bagaimana caranya.”

“Konyol sekali.” Tawa kecil Sehun sepertinya sudah menjadi pengikut setia dari setiap akhir perkataannya. Namun tatapan Luhan juga seolah menjadi penasihat setia dari tawanya itu hingga Sehun harus terdiam kembali.

“Aku memang menyukainya, tapi dia terlalu banyak menyebut namamu, bahkan berkali-kali ia salah memanggil namaku. Dan ia selalu mengharapkan kau hadir dalam setiap waktu yang aku sempatkan hanya berdua dengannya.” Jelas Luhan dengan intonasi yang begitu tegas, namun terdengar begitu menyedihkan ketika mengetahui dirinya pun kini begitu sulit hanya untuk mengambil nafas.

“Maaf.”

“Tidak, bukan kata maaf yang kubutuhkan.” Tukas Luhan.

“Lalu apa?”

“Perasaanmu padanya.”

“Tsk, kau tidak mengenalku hyung. Kau bahkan tidak tau apa yang aku rasakan sekarang. Apa arti sebuah debaran hebat dalam dadaku saat ini.” Sehun berdecak tak senang. Nada yang ia lontarkan dalam kata-katanya terdengar jelas bahwa ia ingin mengakhiri pembicaraan ini, namun Luhan seakan tengah menguncinya kuat.

“Jauhi gadis itu, hyung. Dia berbahaya untukmu.”

 

~To Be Continue~

Ehem, Annyeong readers! ^^

Pertama terimakasih yang udah mau sempetin waktunya baca ff gaje saya ini. Dan kedua terimakasih pada kalian yang mau meninggalkan sebuah like atau komen dibawah ^^ saya tidak memaksa ko, tapi saya sangat mengharapkan. Karna sebenarnya tujuan saya mau mempublish ff ini untuk menerima saran,kritik dan yang lainnya buat perbaikan tulisan saya ini dari orang-orang yang tidak saya kenal karna saya tau karya saya ini tidak sebagus author-author hebat lainnya. Dan juga saya hanya ingin tau berapa orang yang membaca ff saya ini.

FF ini saya buat karna terinspirasi dari film ‘Orphan’. Hanya terinspirasi karna plot murni hasil imajinasi saya : ) kalau ada kesamaan itu mungkin ketidaksengajaan.

Ada yang tau kenapa Sehun sama Hyora di awal itu? Trus Krisnya kenapa? Trus Dahee itu siapa? Saya akan menjelaskannya di chapter selanjutnya. Tapi sebelumnya, kalian lebih setuju Hyora sama Sehun apa Luhan? Karna untuk selanjutnya saya punya dua jalan cerita yang berbeda jadi saya harus memilih salah satunya ~.~ Tolong sarannyaa 😀

Sekali lagi terimakasih karna udah mau baca dan ga lupa BigThanks banget buat EvilleyKim Unnie yang mau kerepotan dititipin ff sama saya 😀

Sekian..~ -Blacktinkerbells

13 responses to “Glory of Love [Part 2]

  1. sumpah ini kok misterius bget….. mksud sehun bilang si hyora berbahaya itu lo… jujur aq rada bingung…. tpi menurutku hyora ma sehun aja lah… kutunggu chapter selanjutnya^^

  2. Hyora cocoknya sama sehun ._. Dan yang mau ngebunuh luhan waktu di kamar hotel itu sehun dan hyora kah ? Aku tunggu nex chaptnya ^^ jjang authornim !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s