My Living Journal [Final Part]

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan dari lanjutan epep yang kemaren. Maaf untuk author dan readers kalau saya lama publishnya, soalnya epep titipan ada skejulnya sendiri untuk dititipkan. Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini. Happy Reading ~ ^^

Author : FebbyVal

Genre : Romance, Angst

Cast :

  • Han Minhee (OC)
  • Park Chanyeol
  • Luhan

Poster by : vanflaminkey91

Disclaimer : purely my brain’s hard work. Plagiarism is extremely prohibited

How To Read :

Italic text = isi journal atau perkataan dalam hati

 

I live…

But in no life…

I live…

Through this journal…

 

“Ya! Minhee apa kabar yang beredar itu benar? kau? Kekasih Park Chanyeol? Apa itu mungkin?” Jimin menatap Minhee dengan cemburu sambil melipat tangannya di dadanya.

“Itu benar. walaupun aku tidak mengerti bagaimana ini bisa begitu cepat tersebar, tapi aku tidak peduli. Bukankah kabar baik sebaiknya menyebar?” Minhee tersenyum lebar, potongan-potongan kejadian malam tadi masih terus terputar dalam pikirannya.

“Apa? Ya! Minhee apa yang terjadi padamu? Ini tidak seperti dirimu!”

“Aku tahu itu. Mulai dari sekarang ucapkan selamat tinggal pada Minhee yang dulu karena untuk selamanya dia tidak akan pernah kembali. Minhee yang baru ini tidak akan tertekan di bawah tekanan mu, Jimin!”

“a—apa yang kau katakan, MINHEE?! Beraninya kau ANEH!!”

“Dan sebelum aku pergi ada satu lagi yang ingin aku katakan. Berhentilah menyebutku  aneh! Menurutku panggilan itu lebih cocok untukmu.” Minhee meninggalkan Jimin yang kini melihat punggung Minhee dengan geram. Jimin kalah di pertarungan kali ini. Dagunya yang selalu tinggi kini jatuh ke lantai.

 

“Apa dia sedang sibuk? Dia tidak membalas pesanku, ayolah sebenarnya apa yang sedang dia lakukan di kelasnya? Apa aku pergi saja ke kelasnya? Ya~ new couple setidaknya harus melakukan kejutan kecil seperti itu kan? Baiklah~” Minhee dengan semangat menunggu lampu berbentuk orang itu berubah menjadi hijau. Tanpa kehilangan satu detikpun, Minhee setengah berlari menyebrangi jalanan yang cukup lebar menuju gedung tinggi yang selalu dia lihat di balik jendela kelasnya.

“Ehm dimana dia mengatakan kelasnya? Ya tuhan aku lupa! Apa sebaiknya aku bertanya saja? Ah! Bukankah itu—itu… Park Chanyeol! Disini!” Minhee memanggil Chanyeol sambil melambaikan tangannya di udara. Entah berapa orang yang melihatnya dengan tatapan aneh tapi Minhee tidak peduli. Ya, Minhee bukanlah MInhee yang dahulu.

“Apa dia tidak melihatku? Mungkin aku harus mendekat.” Minhee berjalan mendekat dan dengan diam-diam dia bersembunyi di antara loker-loker besi untuk memberi kejutan kecil seperti yang dia lihat di drama remaja.

“Satu… dua… ti—“

“Woah~ tentu saja! Park Chanyeol kau luar biasa! Jihyun bilang Minhee mengiyakan hubungan kalian, dan itu berarti kau pemenangnya. Aku tidak percaya! Ternyata kau bisa juga mendapatkan gadis aneh itu.”

Minhee hampir saja loncat sambil berteriak “kejutan!” tapi rasa penasarannya memuncak ketika namanya terdengar samar-samar diantara percakapan ketiga pria yang dia kenal.

“Sekarang itu tidak penting, yang terpenting adalah kita sudah sepakat dan sekarang lakukan tugas kalian.” Suara berat Chanyeol berhasil sampai ke telinga Minhee yang sedari tadi berusaha mendengarkan percakapan mereka menembus keramaian mahasiswa yang berlalu lalang di lorong.

“Ada apa dengan ekspresi itu? itu bukan ekspresi pemenang, Park Chanyeol!”

“Aku hanya tidak ingin membicarakannya lagi.”

“Apa yang kau bicarakan? Apa dia terus menyulitkanmu?”

“Sudahlah aku tidak mau membicarakan ini. Aku ingin segera melupakan taruhan ini.”

Taruhan? Taruhan apa? Apa yang mereka bicarakan? Dan kenapa namaku ada dalam percakapan itu? Minhee mulai merasa tegang. Seluruh pembicaraan ini tidak bisa Minhee mengerti. Masih ada satu keping puzzle yang harus Minhee temukan untuk mengartikan semua pembicaraan ini.

“Aku ingin segera—segera melupakan taruhan ini. Aku ingin segera melupakan kenyataan bahwa dia adalah taruhannya. Aku ingin segera melupakannya.”

Apa? A—apa yang baru saja dia katakan? Jantung Minhee sepertinya berhenti selama dua detik. Matanya mungkin akan jatuh sebentar lagi. Minhee merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat hingga membuatnya tidak kuasa untuk berdiri dan kabur dari ruang 40 cm x 40 cm diantara loker besi berkarat itu. Kini Minhee terduduk pucat dengan peluh yang satu demi satu tetes mulai membasahi dahinya. Suara bel yang tepat berada diatas kepalanya berdering begitu kencang hingga rasanya Minhee tercekik dan sulit bernapas. Minhee harus segera pergi dari tempat itu.

“Apa kau baik-baik saja?” seorang pria dengan jaket baseball mendekati Minhee yang dengan lemah berusaha berdiri.

“Aku baik-baik saja terima kasih.” Pandangan Minhee yang sekarang lebih jelas membantunya berjalan lambat melewati pria itu tanpa menabrak. Lututnya yang masih terasa lemas sangat menghambatnya untuk kabur menjauhi Chanyeol yang ingin melupakannya.

“Aku merasa bersalah, mengerti? Jadi aku mohon jangan pernah ingatkan aku mengenai taruhan ini lagi.” Chanyeol meninggalkan kedua sahabatnya dengan raut muka yang tidak lebih kusut dari rambut merah Merida di film animasi Brave.

“Minhee! Apa yang kau lakukan disini? Ah pasti untuk menemui kekasih barumu kan?” Jihyun yang tidak sadar betapa kacaunya Minhee sekarang hanya menggoda, menggoda dan menggodanya. Minhee benar-benar tidak memliki tenaga sisa untuk membalas semua perhatian teman barunya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Minhee pergi menyeret kedua kakinya yang mulai terasa ringan.

“Minhee! Han Minhee!” Jihyun memanggil Minhee yang kini sedang bersusah payah menuruni tangga sambil terus bertumpu pada pegangan besi sepanjang tangga.

“Minhee? Minhee!!” Chanyeol mendengar Jihyun meneriakan nama MInhee cukup keras sampai-sampai kakinya bergerak bahkan sebelum otaknya memberi perintah.

“Dimana Minhee?!” Chanyeol setengah teriak, mengguncangkan bahu JIhyun yang kaku karena takut.

“Dia-dia menuruni ta—tangga itu.” Chanyeol bergegas menuju arah yang Jihyun tunjukkan. Melupakan rasa hati-hati, Chanyeol menuruni 15 anak tangga dalam lima langkah besar. Dan disanalah, tepat di depan patung perak berbentuk bulatan bumi dengan toga diatasnya, Minhee menyandarkan dirinya.

Dengan langkah ragu, Chanyeol mendekati Minhee. Dua meter jarak yang memisahkan mereka, tapi Chanyeol bisa mendengar Minhee terisak layaknya Minhee menangis di pelukannya. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang, maju atau mundur?

“Minhee…” Chanyeol memegang pundak Minhee pelan. Minhee yang cukup terkejut segera menghapus air matanya dan berbalik dengan senyuman paksa.

“Minhee. Aku—aku”

“Jangan berkata apapun, Aku mohon jangan katakan apapun.” Senyuman Minhee perlahan menghilang.

“Tapi Minhee dengarkan penjelas—“

“Apa yang harus aku dengar? Bahwa aku hanyalah bahan taruhanmu?”

Chanyeol merasa sakit, sakit melihat perempuan di hadapannya menangis dalam senyuman paksa dan lebih parahnya itu karena dirinya sendiri.

“Baiklah, jika kau ingin menjelaskan. Bisakah kau jelaskan bahwa apa yang aku dengar itu hanya kesalahan? bahwa suara langkah kaki di lorong itu membuatku salah menangkap maksud pembicaraan kalian? Jelaskan dan tatap aku!” Minhee menatap Chanyeol yang tidak bergeming. Chanyeol tidak tahu harus berbuat apa. Semua yang di dengar Minhee adalah kenyataan, dia tidak sanggup bila harus berbohong diatas kebohongan.

“Jadi itu benar. haha luar biasa! kau luar biasa Park Chanyeol! Jadi semua yang kau lakukan tadi malam hanya untuk taruhan ini? luar biasa.” Minhee berbalik dan berjalan menjauh dari Chanyeol dengan air mata yang terus mengalir.

“Minhee…”

“Lepaskan.” Ujar Minhee dengan nada rendah dan datar

“Minhee, aku minta maaf. Aku tidak ber—“

“HENTIKAN! Aku mohon!” Minhee benar-benar berteriak di luar sadarnya. “Apa kau belum merasa puas menyiksaku selama ini? apa kau harus lebih kejam dari ini? Aku berusaha untuk tetap tersenyum seperti apa yang aku janjikan padamu tapi kau tahu apa? Itu sulit! DEMI TUHAN, ITU SULIT PARK CHANYEOL!! Jadi aku mohon lepaskan aku dan biarkan aku pergi sebelum aku benar-benar… sebelum aku merusak… janjiku sendiri..”

Chanyeol merasa terpukul. Seluruh tubuhnya mulai terasa lemah, bahkan terlalu lemah untuk mencegah Minhee pergi dari hadapannya dengan rasa kecewa yang melebihi rasa kesepiannya.

 

 

Ada apa dengan jalan cerita ini? bukankah ini terlalu kejam untuk kenyataan? Mungkin benar drama dengan twist semacam ini akan mendapat rating tinggi, tapi ini hidupku! Bukan hanya naskah panjang bercampur dengan kemampuan acting. Ini hidupku…. Hidupku yang memang terlalu mirip dengan naskah drama. Ya tuhan! Kenapa tidak kau hilangkan saja peranku dalam drama ini? Mengapa aku masih tetap hidup sampai sekarang? Mengapa aku harus hidup hanya untuk merasakan hal seperti ini? Bukankah ini berlebihan? Maksudku aku hanya gadis berusia hampir 17 tahun dan tekanan hidupku bahkan lebih parah dari wanita berusia 45 tahun. Astaga, aku bahkan tidak yakin aku masih ingin hidup… kapan episode terakhir akan tayang? Aku menunggunya, sangat menunggunya.

 

Minhee menutup jurnalnya yang mulai basah akibat tetesan air matanya yang tak juga berhenti mengalir. Untuk sejenak, Minhee melihat langit-langit kamarnya dengan napas panjang. Kemudian Minhee bergerak mencari kotak berukuran sedang berwarna biru langit yang pernah diberikan ibunya ketika acara pernikahannya selesai. Tanpa merubah pikirannya, Minhee memasukkan semua barang yang berkaitan dengan Chanyeol kecuali kalung yin yang masih melingkar di lehernya. Sejujurnya, Minhee masih tidak yakin dengan apa yang dia pikirkan, itu terlalu acak untuk bisa di tebak. Untuk sementara Minhee ingin menjauhkan dirinya dari bagian-bagian Chanyeol yang selalu membuat hati nya menjerit. Dan tepat pukul 23.38 Minhee menyimpan kotak itu di bagian tergelap rumah pohonnya dan melempar kalung yin nya ke dalam danau.

Chanyeol tidak lebih baik dari Minhee. Matanya mulai membengkak karena menahan air mata yang terus merongrong untuk keluar. Tapi apa yang harus dia lakukan? Dia jelas harus memperbaiki ini, tapi darimana dia harus memulainya? Untuk pertama kalinya, Chanyeol sadar betapa dia hidup bagaikan anjing. Dengan mudah dia menelantarkan perasaan banyak orang demi kesenangan yang pada dasarnya dia butuhkan untuk menutupi rasa kesepiannya. Ya, Chanyeol dan Minhee tidak berbeda, mereka berdua sama-sama kesepian. Tapi Chanyeol tidak bisa melihat itu atau mungkin terlalu terlambat untuk menyadari itu.

Chanyeol merasa bodoh. Dia begitu persis dengan pria bodoh yang dia karang sendiri. Meninggalkan seseorang yang dia begitu cintai karena semua ke-pengecut-an nya. Tapi satu pertanyaan belum begitu jelas terjawab, apa Chanyeol mencintainya? Atau dia hanya merasa bersalah? Apa dia mencintai wanita yang menjadi taruhan bodohnya selama ini?

 

“Adik kecil! Aku pulang~ hey apa yang kau lakukan di bawah selimut itu? apa kau sakit?” Luhan berlari mendekati Minhee dengan cemas.

“Aku tidak apa-apa, Oppa. Bagaimana dengan harimu?” Minhee berusaha menutupi matanya yang memerah dengan senyuman manis.

“Tentu saja sangat melelahkan dan entah kenapa Appa benar-benar cerewet. Kau yakin baik-baik saja adik kecil? Kau terlihat lelah.”

“Benarkah? Aku baik-baik saja. Oppa! Karena sebentar lagi aku ulang tahun dan itu artinya aku sepenuhnya dewasa, apa kau mau menemaniku tidur malam ini? Karena setelah aku berulang tahun kau tidak boleh tidur dengan ku! Dua orang dewasa itu tidak boleh tidur bersama, betulkan Oppa?”

“Hahaha tentu saja. Baiklah kalau begitu, malam ini aku akan menemanimu tidur, adik kecil.”

“Oppa, apa kau akan sedih bila aku pergi?” Minhee berbicara di dalam pelukan Luhan

“Apa yang kau bicarakan? Kau yakin tidak apa-apa?”

“Apa kau akan merasa sedih bila aku pergi?” MInhee mengulang pertanyaannya tanpa mengindahkan pertanyaan khawatir Luhan.

“Tentu saja, kau milikku satu-satunya. Aku tidak akan menikah dan hidup denganmu seperti ini selamanya.”

“Apa dia juga akan sedih?” Minhee berkata sangat pelan, dia tidak mau Luhan tahu betapa menyedihkannya dia sekarang.

“Ah benar aku hampir lupa, siapkan kopermu karena setelah pesta ulang tahunmu kita akan berlibur di Italy, bukankah Italy nomor satu di daftarmu?”

“Terima kasih Oppa…” Minhee melepas pelukannya dan mencium Luhan tepat di bibirnya. Luhan bisa merasakan tubuh Minhee bergetar, aliran air mata hangat mengalir di pipinya. Luhan tahu ada yang mengganggu adiknya. Minhee melepaskan ciumannya yang cukup lama. Luhan bisa melihat satu tetes air mata yang masih bergerak lambat turun menuruni pipinya yang putih pucat. Luhan tidak mungkin bertanya apa yang terjadi pada adik kecilnya sekarang karena itu akan memperburuk keadaanya. Luhan hanya bisa memeluknya dan menunggu adik kecilnya tertidur.

 

 

 

Minhee melihat dirinya di depan cermin. Mata yang membengkak, rambut kusut, lingkaran hitam dibawah kedua matanya bukanlah hal yang asing bagi Minhee untuk 36 jam terakhir. Penampilannya kini tidak lebih baik dari pengemis jalanan di tahun 1930.

Kenapa ini masih mengganggu ku? Aku sudah membuang semua barang yang bisa mengingatkanku padanya tapi kenapa? Kenapa aku tetap memikirkan wajahnya yang penuh rasa bersalah? Ada apa dengan otakku sebenarnya? Ini tidak adil, sungguh. Aku begitu sengsara disini dan dia bahkan tidak berusaha memperbaiki ini? atau mungkin memang tidak yang salah dari semua ini. Apa aku begitu mencintainya? Apa semua perasaan sesak ini karena itu?

NO!

I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him  I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him

Tidak!

Tidak! Aku salah

 

 

I LOVE HIM…

Chanyeol tidak tertidur meskipun matanya sudah begitu lelah bahkan terlalu lelah untuk berkedip. Ya, Chanyeol masih mencari jawaban dari pertanyaan yang selama ini mengganggu kayakinannya.

Menurutku pengelana itu menyedihkan. Mungkin benar alasannya salah, tapi dia mencintainya bukan? Dan itu lah yang penting. Seharusnya dia tetap berada disampingnya hingga wanita itu tidak bisa mendengar boneka musik lagi.

Suara kacau yang terus berdering keras di kepalanya tiba-tiba tertuju pada satu suara yang jelas dia kenal. Inikah jawabannya?

“Minhee, aku tahu apa jawabannya! Aku mohon tunggulah aku.” Chanyeol bergegas merapikan penampilannya yang hancur seperti lahan pertanian yang rusak oleh typhoon. Setelah memakai baju terbaik yang dia miliki, Chanyeol siap untuk menemui jawabannya dengan senyum yang lama tak muncul di wajahnya.

“Ah inikan hari ulang tahunnya! Ya tuhan apa yang harus aku berikan? Apa dia suka bunga mawar? Aku harap dia menyukainya, tapi aku lebih berharap dia mau menerimaku kembali.”

 

 

“Bisa aku bertemu Minhee?” Chanyeol yang berpakaian rapi tanpa topi FINE GOLD nya tersenyum di luar gerbang besar kastil kaca Minhee. Hari ini cukup dingin tapi kemarin jelas hari paling dingin tahun ini.

“Dan kau?”

“Ah aku Park Chanyeol. Kau ini?”

Luhan membuka gerbangnya kemudian memukul wajah Chanyeol keras. Kini lingkaran hitam matanya berpadu padan dengan pipinya yang membiru.

“Park Chanyeol? Apa kau masih berani datang kesini? Apa kau tidak punya otak oh mungkin aku salah kau itu tidak berhati! Apa kau masih bisa menyebut dirimu manusia? Tidak! manusia terlalu tinggi untukmu!” Chanyeol benar-benar terkejut, bukan karena pipinya yang kesakitan, tapi karena apa yang Luhan katakan.

“Pergi sebelum aku membuat hidung mu itu tidak berdiri lagi!” Luhan meninggalkan Chanyeol yang mengalami “kebekuan”.

“Aku mohon, aku tahu aku ini bajingan tapi aku mohon aku ingin memperbaiki semua ini. aku mohon biarkan aku bertemu Minhee, aku harus memberi tahu sesuatu padanya.”

“Apa yang bisa kau perbaiki? Keadaan Minhee? Kembalilah jika kau memiliki tongkat sihir atau serbuk peri.”

“Aku mohon”

Luhan tanpa berkata apapun pergi meninggalkan Chanyeol yang tidak berdaya di depan gerbang, dan kemudian kembali dengan buku di tangannya.

“Baca dan kembali. Aku hanya memberikan satu kesempatan padamu.”

“Apa ini?” Chanyeol mengambil buku berlapiskan kulit berwarna coklat dengan tali yang mengikat sekelilingnya.

“Aku sangat ingin mengahajarmu sampai mati tapi aku yakin MInhee tidak ingin aku melakukan itu, jadi baca itu, minta maaflah dan pergi dari hidupnya selamanya.”  Luhan menutup gerbang dan menguncinya.

 

Chanyeol menatap lembar demi lembar jurnal di tangannya dengan tidak percaya. Air mata yang selama ini terbendung aman di kelenjar matanya, kini berhasil lolos keluar. Tidak pernah sekalipun dia menyangka bahwa Minhee melalui semua hal mengerikan ini, dan kini dia benar-benar berhasil membuat Minhee kehilangan alasan untuk hidup. Ya semua itu karenanya.

Halaman 10, halaman 15, halaman 35, halaman 49, halaman 56, Chanyeol membaca seluruh halamannya dengan mengutuk dirinya sendiri hingga seluruh pandangannya tertuju pada halaman terakhir yang dia tulis, ya halaman ke-61.

“Minhee! Aku mohon dengarkan aku kali ini.” Chanyeol dengan suara beratnya yang tersisa berteriak kencang di depan gerbang. Tak lama kemudian sosok sama yang membuat pipinya membiru muncul.

“Apa kau sudah mengerti betapa tidak bergunanya dirimu?” Luhan dengan tatapan kejam melihat tepat ke dalam kedua mata Chanyeol yang masih bergetar dan basah.

“Aku mengerti sekarang. Aku mohon berikan aku kesempatan, aku akan memperbaiki ini.” Chanyeol kini bersujud memohon dihadapan Luhan tanpa berpikir dua kali, tanpa memperdulikan harga diri atau image nya.

“Ini kesempatan terakhirmu! Setelah kau minta maaf aku harap kau menghilang dari kehidupannya.” Masih dengan nada datar dan geram, Luhan menuntun Chanyeol masuk ke suatu ruangan yang tidak pernah Chanyeol lihat sebelumnya.

“Minhee…Minhee belum sadar sejak dua hari yang lalu. Dia mengalami benturan keras di punggung dan juga pnemonia akut.”

“a—apa yang terjadi”? Chanyeol melihat Minhee terbaring lemah, bahkan suara denyut jantungnya pun terdengar samar-samar.

“Aku menemukannya hampir beku  di bawah rumah pohon. Sepertinya Minhee pergi ke danau dan dalam keadaan basah berusaha naik ke rumah pohon dan terjatuh, aku pikir itulah yang terjadi. Menurut dokter, punggungnya mengalami trauma yang cukup parah dan pnemonia akut akut akibat terlalu lama berada di tempat dingin dengan baju yang basah.”

“Apa kau bisa memperbaiki ini?” Luhan terlihat putus asa. Kilauan matanya kini tidak terlihat, hanya butiran air mata yang tersisa. “Minhee, Chanyeol datang.. ayolah bangun dan kita bersama-sama rayakan ulang tahunmu, ya? Aku sudah menyiapkan trompet bukan saxophone. Aku sudah menyiapkan kue dengan tujuh belas lilin bukan kue bertingkat dan Eomma Appa akan datang sebentar lagi. Dan lagi, Chanyeol ada disini jadi ayo bangun dan kita bersenang-senang..” Luhan melepaskan tangan adik kecilnya dengan penuh kesedihan. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang. “ aku mohon, lakukan apapun agar dia bisa kembali seperti dulu..” Luhan pergi meninggalkan Chanyeol dan Minhee dalam keputusasaan.

“Minhee…” Chanyeol menarik kursi ke sebelah Minhee. Chanyeol tidak bisa mengontrol air matanya saat menatap Minhee yang terlihat begitu menyedihkan.

“Minhee.. ini aku Park Chanyeol..” Chanyeol membisikkannya ke telinga Minhee sambil terus memegang tangannya erat.

Apa itu benar kau, Chanyeol? Kau datang?

“Minhee, maafkan aku bukan aku mohon ampuni aku. Aku begitu bodoh melakukan itu semua padamu. Aku begitu terlambat untuk mengerti perasaanku sendiri. Aku tahu aku tidak pantas untuk memintamu menerimaku kembali, aku tahu itu… tapi Minhee aku mohon bangun dan tampar aku sepuasmu, ya? Bangun dan dengarkan pada apa yang ingin aku katakan. Minhee…”

Chanyeol menatap wanita di hadapannya dengan putus asa. Tidak ada jawaban ataupun respon darinya, yang terdengar hanyalah bunyi dari monitor kecil yang semakin lama semakin lemah.

“Dengarkan pada apa yang akan aku katakan. Sesuatu yang belum pernah aku katakan, sesuatu yang aku harap tidak terlambat untuk aku ucapkan, sesuatu yang aku harap bisa memperbaiki ini semua dan memulainya dari awal. Ya, Aku—aku—“

Ternyata itu memang benar, apa yang mereka katakan benar. Suatu cerita pasti akan berakhir bahagia. Mungkin selama ini tidak bahagia karena itu belumlah berakhir. Jadi apa ini akhir nya? Inikah akhir bahagia bagiku? tentu saja ini lebih dari sekedar akhir bahagia. Ya, akhirnya untuk pertama dan terakhir aku merasa bahagia.

 Ya tuhan, bisakah kau mengikat malakai pencabut nyawamu sebentar? Aku mohon, biarkanlah aku merasakan perasaan ini lebih lama, biarkan aku menikmati hal ini lebih lama, biarkan dia menyelesaikan kalimatnya. Aku mohon berikan aku sedikit waktu untuk mengingat suaranya sampai aku pergi. Aku mohon biarkan aku waktu untuk berpamitan dengannya..

Terima kasih, Park Chanyeol.. ini kado terindah bagiku.. Terima kasih untuk berada di sampingku sampai aku pergi. Berjanjilah untuk mengatakan itu ketika kita bertemu.

 

 

 

Chanyeol masih menatapnya dengan lekat.

don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him I don’t love him

Tidak!

Tidak! Aku salah

 

I LOVE HIM…

I LOVE YOU TOO, MINHEE

“Tunggu aku menjemputmu dan dengarkan apa yang akan aku katakan. “

“Dengarkan betapa aku, Park Chanyeol mencintaimu, Minhee….”

THE END

 

Holla~ akhirnya saya kembali dengan penutup ff ini syalalala~ kaget ga? kaget ga? Aku juga kaget sih kenapa ini cerita beresnya cepet banget. Sebenernya kalo boleh kasih alasan sih karena kejadian taruhan ini Cuma berkisaran 2 minggu, jadi emang plotnya bentar gituuu.

Sebelum nya makasih banget buat semua reader-nim yang udah ngikutin ff ini dari awal sampe akhir. Aku juga mau minta maaf kalo ini ff terlalu amatir dan sulit di mengerti karena sejujurnya saya hanyalah penulis amatir yang sedang belajar heehhee.

Oh iya semoga juga akhir dari ff ini cukup memuaskan ya, mungkin ada yang ga dapet feel nya, atau bahkan ngga dapet alurnya tapi aku harap kalian mengerti overall ceritanya, tragic romance yang terjadi antara MInhee dan Chanyeol dan bumbu-bumbu lain yang di sempilin sama aku heheheh

Akhir kata, makasih yang udah bacaaaa~ komen kalian sangat membantu….

25 responses to “My Living Journal [Final Part]

  1. annyeong eon : ) mian aku bru komen 😦
    eon ff’a sukses bkin aku nangis,,nyesek baca’a..dtunggu karya brikut’a…gomawo eonni :):):)

    • annyeong~ hihi makasih ya udah baca…
      bener nih sukses? seneng deeeeh.. oke oke kalo ff selanjutnya udah beres baca ya? hahaha
      *maksa

  2. wah.. gila, sedih, seneng, kecewa bercampur jadi satu pas baca ini. part ini tuh greget banget. aku ga ngerti, si minhee tuh bakalan bangun ato dia meniggal.? klo dia msh bangun, saran aku mending ada epilog.nya.. sioalnya ngegantung. keep write 🙂

    • minhee sepertinya kita buat ngga bangun aja ya? hahaha *jahat
      ngga sih emang dari awal bikin ff ini, aku ga ada rencana buat bikin epilog nyaa, hehehe mian memang cerita nya aku buat menggantung, untuk cerita lanjutannya, bisa diimajinasikan masing-masing personal hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s