Black Swan – Final Chapter


Black Swan

| Genre : Life, Romance |

| Rating : PG-16  |

| Cast : Byun Baekhyun, Song Dayeon, Lee Taemin, Park Hyeju |

Disclaimer : Plot, karakteristik, dan cerita sepenuhnya hasil imajinasi saya, Enny Hutami. Seluruh pemeran punya orangtua masing-masing kecuali Song Dayeon yang keberadaannya entah ada atau tidak.

© Copyright EnnyHutami’s Fanfiction 2013

Previous : Chapter 13

~œ Swinspirit œ~

Dari keduanya, tak ada yang ingin menjauhkan wajahnya satu sama lain untuk melepaskan tautan bibir mereka. Byun Baekhyun dan Song Dayeon, telah berciuman sejak sekitar lima menit yang lalu, dengan Baekhyun yang melumat lembut bibir bawah Dayeon. Berhati-hati seakan Dayeon adalah sebuah benda mudah pecah dengan tangannya yang menggenggam tangan Dayeon.

Di malam terakhir kemping, seluruh murid diberikan jam bebas untuk sekedar bermain bersama temannya, ataupun berduaan dengan seseorang yang disukainya. Dan tentu saja Baekhyun dan Dayeon memilih yang kedua. Terlebih lagi, bisa jadi malam ini adalah malam terakhir mereka berduaan seperti ini.

Duduk di atas tanah yang berlapis daun kering, keduanya masih saling bercumbu dengan mata tertutup dan tangan berpegangan, tanpa nafsu tersebulung. Keduanya sama-sama saling menyalurkan perasaan mereka. Dan keduanya tidak ingin melepaskan diri karena mungkin, ini akan menjadi yang terakhir.

Namun, pada akhirnya Baekhyun menyerah. Ia melepaskan diri untuk membiarkan Dayeon menghirup oksigen.

Untuk beberapa saat, keduanya terdiam. Menghirup oksigen semampu yang mereka bisa dengan latar suara jangkrik.

“Besok Kris akan menjemputmu?” tanya Baekhyun untuk menepis keheningan.

Dayeon mengangguk. “Ya. Dan besok aku keluar dari rumahmu.” Sahutnya, membuat keduanya terdiam lagi dengan pikiran masing-masing.

Sebenarnya, Baekhyun tidak ingin Dayeon pergi. Sangat tidak ingin. Bahkan dia sempat bertanya pada ayah Dayeon saat beliau datang ke rumahnya, “Tidak bisakah Dayeon tinggal? Dia bisa tinggal di sini hingga lulus.”

Sebelumnya ia pernah membahas tentang itu pada kedua orangtuanya, ibunya pun tak keberatan jika Dayeon tinggal. Toh, ibunya seakan mendapati Jihyun lagi, dan dia merindukan seorang putri.

Namun, ayah Dayeon menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Di sana, Dayeon bisa menari kembali. Dayeon ingin menjadi balerina, sama seperti ibunya. Dan itu mimpinya. Jika kau memang menyayangi putriku, seharusnya kau membiarkan dia pergi untuk mengejar mimpinya.” Begitu kata beliau. Dan Baekhyun langsung diam seribu bahasa, menyetujui kalimat ayah Dayeon.

“Kau akan datang ke bandara, bukan?” pertanyaan Dayeon membuyarkan lamunan Baekhyun. Lalu, “Melepas kepergianku.” Tambahnya setelah menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokannya ketika hendak mengatakan kalimat tambahan tersebut.

Lagi-lagi Baekhyun terdiam sejenak, menatap Dayeon yang tengah menatapnya dengan wajah penuh harapan akan kedatangan Baekhyun. Lalu, “Ya, aku akan datang.” Janjinya.

Lalu angin berhembus cukup kencang hingga menerbangkan helai-helai rambut Dayeon, yang membuat Baekhyun berdiri dan membantu Dayeon berdiri dengan menyodorkan tangannya. “Udara mulai dingin. Sebaiknya kita kembali.” Katanya ketika Dayeon meraih tangannya.

Dengan tangan yang saling bertautan, Baekhyun pun berjalan lebih dulu menuju perkemahan. Namun, Dayeon menahannya sehingga ia berhenti dan membalikkan tubuhn dengan wajah bertanya.

Dayeon tidak menjawab. Ia justru mendekat ke arah Baekhyun, dan berjijit agar bibirnya dapat meraih bibir Baekhyun. Ya, barusan saja ia mengecup singkat bibir Baekhyun. “Untuk yang terakhir kali.” Katanya dengan suara bergetar, tetapi bibirnya melengkung membentuk senyuman.

Setelah itu, Dayeon pun melangkahkan kakinya, berlari sedikit meninggalkan Baekhyun yang masih terpaku di tempatnya. Kalimat yang baru saja diucapkan Dayeon tepat mengenai sasaran, membuat nyeri di organ tubuh Baekhyun yang tidak diajarkan di kelas biologi. Perasaannya.

~œ~œ~œ~

Di depan pagar tinggi tersebut, sosok kurus Taemin berdiri dengan kaus tebal dan mantelnya dengan sentuhan syal berwarna cokelat terangnya karena hari ini salju turun kembali. Kini Taemin tengah berdiri di depan pagar rumah Baekhyun, menunggu lelaki yang pernah menjadi sahabatnya sebelum kebakaran yang merenggut nyawa adik Baekhyun terjadi.

Tidak lama menunggu, sosok Baekhyun yang mengenakan jaket tebalnya pun terlihat dari balik pintu yang letaknya harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu. Dengan tatapan dinginnya, Baekhyun menatap Taemin beberapa saat sebelum akhirnya melangkahkan menghampiri Taemin di luar.

Kemudian Baekhyun membuka gerbang rumahnya, bukan untuk menyilakan Taemin masuk, tetapi untuk dirinya keluar.

“Ada apa?” tanya Baekhyun dengan suara yang tidak terdengar berekpresi.

Taemin tersenyum tipis, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku mantelnya. “Dayeon menitipkan sesuatu untukmu.” Katanya. Sekilas ia melihat perubahan tatapan Baekhyun yang agaknya sedikit melunak mendengar nama Dayeon.

Tahu karena Baekhyun tak akan membalas kalimatnya, Taemin pun melanjutkan. “Mau mengobrol sebentar?” tawarannya pun disetujui Baekhyun dalam diam. Sehingga kini keduanya tengah berada di dalam kafe yang berada di ujung jalan dari komplek perumahan yang ditempati Baekhyun.

“Kenapa kau tidak datang ke bandara?” tanya Taemin langsung ketika kopi hangatnya sudah berada di meja.

“Aku datang.” Jawab Baekhyun. Pandangannya tetap terarah ke luar kafe, melihat pohon kering yang bagian rantingnya mulai ditutupi salju tipis.

Mendengar jawaban Baekhyun, kening Taemin mengerut. “Aku tidak melihatmu.” Komentarnya.

“Jika aku datang, apakah aku harus terlihat juga?” balas Baekhyun, menatap Taemin dengan sebelah alis terangkat. Lalu, “Apa yang Dayeon titipkan padamu?” ia bertanya, mecoba mengalihkan topik tentang keberadaannya di bandara kemarin.

Namun, sayangnya Taemin tidak ingin melepas topik tersebut. “Kau datang tetapi kau tidak muncul di depan Dayeon? Tidakkah kau berpikir bahwa tindakanmu sangat egois?”

“Aku…,”

“Saharusnya kau lihat wajahnya ketika berpikir bahwa kau tidak datang.” Untung saja Taemin adalah seorang yang dapat mengendalikan emosinya dengan baik, persis seperti ayahnya. Jadi, ia mengucapkan kalimat tersebut dengan tenang, tanpa meninggikan suaranya sehingga membuat dirinya menjadi pusat perhatian.

Berbanding kebalik dengan Taemin, Baekhyun bukanlah orang yang mudah mengendalikan emosinya dengan baik. Namun, untuk kali ini ia bisa menahannya dengan cara menghela napas dalam dan menghembuskannya dengan terlihat frustasi.

“Aku sudah bicara pada ayahnya untuk mengizinkannya tinggal. Tetapi, beliau bilang bahwa di sana, dia bisa kembali menari, mewujudkan mimpinya sebagai balerina. Itu mimpinya, dan tidak seharusnya aku menahanya. Begitu juga kau, sebagai orang yang juga menyukainya.”

Mendengarnya, Taemin terdiam. Apa yang dikatakan Baekhyun benar. Tidak seharusnya dirinya menahan Dayeon untuk mengejar mimpinya. Terlebih lagi, Dayeon memiliki talenta yang sangat baik dalam menari balet.

Di tengah keheningan itu, akhirnya Taemin merogoh saku mantelnya untuk mengambil gelang yang dititipkan Dayeon padanya.

“Taemin,” Namun, tanganya kembali masuk ke dalam saku mantelnya ketika Baekhyun membuka mulutnya lagi, memanggil namanya. Lalu, “Maafkan aku.” Ucapnya pelan, nyaris berbisik.

“Apa?” ucap Taemin dengan kening berkerut. Bukannya ia tak mendengar apa yang dikatakan Baekhyun, hanya saja… ia terkejut dengan permintaan maaf Baekhyun yang tiba-tiba.

Baekhyun pun mengangkat kepalanya untuk menatap Taemin. “Maafkan aku karena bersikap bodoh selama ini. Seharusnya aku tidak marah padamu. Kejadian itu… bukan salahmu.”

Mendengar pengakuan Baekhyun, tentu saja senyum terukir di wajah Taemin. Setelah bertahun-tahun, akhirnya…

“Yang membuatku marah padamu sebenarnya bukanlah karena kau yang menyebabkan kebakaran, tetapi kau yang tidak datang untuk menjenguk Jihyun.” Lanjut Baekhyun.

Senyum Taemin justru bertambah lebar. “Sama sepertimu, aku datang ke rumah sakit untuk menjenguk Jihyun. Tetapi aku tak muncul dihadapanmu, hanya di hadapan orangtuamu saja.”

Baekhyun mengerjapkan matanya terkejut. Tiba-tiba merasa bodoh dengan sikapnya selama ini. Seharusnya ia tahu Taemin akan datang untuk melihat keadaan Jihyun. Toh, Taemin datang ke pemakaman Jihyun setiap tahunnya hingga sekarang.

Masih dengan senyum yang terulas di wajahnya, Taemin merogoh saku mantelnya dan mengambil gelang yang dititipkan Dayeon untuk Baekhyun. Lalu ia menyerahkan gelang tersebut pada Baekhyun.

“Jangan lupakan Dayeon.” Kata Taemin.

Dan Baekhyun pun mengambil gelag tersebut. Dengan senyum yang terulas di bibirnya, lalu tertawa bersama Taemin. Menertawakan kebodohannya di hari sebelumnya, sekaligus berjanji pada Dayeon dalam hatinya bahwa dirinya tidak mungkin akan melupakan seorang gadis yang dapat membuatnya kembali menjadi Byun Baekhyun seperti masa kecil.

Tentu saja Baekhyun tidak akan melupakan Dayeon meskipun dia mau.

~œ~œ~œ~

14 tahun kemudian

Pintu dari ruangan di mana seorang pemilik Dance Academy itu terbuka, dan menampakkan sosok kurus seorang Song Dayeon yang berbalut celana sebatas betis dengan kaus tanpa lengan yang mengepas di tubuhnya, yang di umur awal kepala tiganya, masih terlihat seperti remaja usia awal dua puluh tahun.

Dengan sneakers putih dengan beberapa garis warna emas kesukaannya, kaki Dayeon melangkah dengan penuh percaya diri menuju studio tari yang berada di gedung yang sama dengan ruangannya, melewati lorong-lorong panjang yang kanan dan kirinya terdapat pintu kayu yang di dalamnya terdapat ruangan-ruangan para pengajar tari di sini, serta ruang data-data murid.

“Oh? Eonni, kau akan mengajar hari ini?” tanya seorang wanita yang terlihat lebih muda darinya ketika dirinya masuk, bersama bisikan dari murid-murid.

Bagi orang-orang yang suka menari, tentu saja mereka mengenal Song Dayeon. Penari berbakat yang bergabung di Zee dance grup asal Amerika yang telah tenar sepuluh tahu belakangan. Dan di grup tersebut, Dayeon selalu mendapat peran penting berkat kerja kerasnya dengan belajar semua jenis tarian, hingga ia merasa tubuhnya akan rontok. Tidak hanya balet, tetapi juga jazz, poppin’, tutting, dubstep, shuffle, dan lainnya. Akhirnya, Zee menyadari potensi dari diri Dayeon saat Dayeon berusia dua puluh tiga tahun.

Namun, setelah delapan tahun bergabung, dengan berbagai pengalaman luar biasa yang diterimanya, akhirnya Dayeon memutuskan untuk berhenti untuk kembali ke negara asalnya satu tahun yang lalu. Dan untuk saat ini, dirinya mendirikan sekolah tari khusus untuk orang-orang yang memiliki mimpi menjadi seorang penari, atau mungkin menyiapkan dirinya untuk audisi di agensi bergengsi.

“Tentu saja,” jawab Dayeon dengan senyum ramahnya seperti biasanya, sehingga beberapa muridnya yang terlihat tegang bisa rileks kembali. “Gaeun-a, bisa kita mulai sekarang?” kemudian ia bertanya pada seorang gadis yang kira-kira berusia empat belas tahun dengan senyumannya, pada gadis yang memiliki rambut hitam panjang yang lurus tanpa gelombang di ujungnya.

Gadis itu, yang bernama Gaeun, selalu mengingatkannya pada Hyeju yang dulu terobsesi pada Baekhyun.

Bicara tentang Baekhyun, hingga berumur tiga puluh dua tahun seperti ini, dirinya belum pernah sekalipun berbicara dengan Baekhyun. Entah itu dengan menggunakan e-mail, atau alat komunikasi yang lain. Namun dirinya selalu tahu kabar Baekhyun yang kini menjadi seorang penyanyi di industri Korea, di bawah naungan agensi dengan Taemin yang menjadi pemilik agensi tersebut. Dan tentu saja dirinya selalu tahu kabar Baekhyun berkat Taemin ataupun Hyeju.

Di antara semuanya, hanya Baekhyun seoranglah yang tidak tahu bahwa dirinya telah berada di Seoul selama kurang lebih satu tahun.

~œ~œ~œ~

Acting? Kubilang berapa kali bahwa aku tidak akan melakukan hal semacam itu? Tidak cukupkah aku bernyanyi di atas panggung, CEO Lee?” Baekhyun mengucapkan dengan sedikit sakartis pada pertanyaan terakhirnya.

Yang dipanggil CEO Lee oleh Baekhyun, yang notabenenya adalah seorang Lee Taemin, merubah posisi duduknya di sofa yang tersedia di kantornya. Sofa khusus untuk para tamunya.

“Memangnya kau tidak mau mencoba? Krystal Jung lawan mainnya. Actress papan atas yang pastinya akan membuatmu lebih terkenal lagi. Kau tidak mau?” bujuk Taemin, bicara non-formal ketika berada di dalam agensi.

Baekhyun menggeleng tegas. “Bahkan, jika bukan karenamu, aku tidak akan mau menjadi penyanyi.” Katanya tanpa menatap Taemin, berpura-pura kesal pada lelaki yang telah menjadi sahabatnya selama lebih dari dua puluh tahun.

Ya, jangan seperti itu.” Ucap Taemin. Lalu, “Kalau kau tidak mau, baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Tetapi, apa alasanmu tidak ingin? Kau kan pernah bilang di media bahwa Krystal Jung adalah wanita idealmu,”

“Dan kau percaya itu?” sela Baekhyun cepat dengan mata menyipit.

Taemin menggeleng. “Tidak, sih. Yang aku percaya jika tipe idealmu adalah Song Dayeon.” Dan kalimat yang baru saja dilontarkannya membuatnya mendapat tatapan tajam dari Baekhyun. Namun, untung saja pintu terbuka dan menampakkan sosok Hyeju yang mengenakan kemeja putih polos dan jas berwarna biru dongker yang sepanjang pahanya, serta celana panjang hitam dan sepatu hak tinggi berwarna senada dengan jasnya.

“Baekhyun oppa, kau di sini?” Tanya Hyeju yang membawa satu kantong plastik berwarna hitam di tangan kanannya, menatap heran Baekhyun yang duduk di hadapan Taemin.

“Kenapa kaget begitu? Aku kan berkerja di tempat ini.” Jawab Baekhyun. Meskipun belasan tahu terlewat, tetapi tetap saja Baekhyun yang jutek dan sinis masih melekat di dirinya. Meskipun tidak di depan kamera.

“Bukan begitu…,” sahut Hyeju menggantung, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Dan ketika ia menoleh ke arah Taemin untuk meminta bantuan, lelaki itu justru hanya tersenyum seraya menaikkan pundaknya. Sama sekali tidak membantu.

Lalu Baekhyun bangkit berdiri. “Kalau kau mau, aku bisa keluar sekarang.” Ujarnya seraya merapihkan bentuk kemejanya, dan berniat untuk pergi.

Di tempat duduknya, Taemin hanya menahan tawanya menggunakan tangan melihat Hyeju yang panik jika Baekhyun marah. Seperti saat remaja, Hyeju tampaknya masih polos, meskipun usianya sudah menginjak tiga puluh tahun.

“Tidak, oppa. Tentu saja kau boleh tetap di sini.” Kata Hyeju mulai panik. “Aku membawa ini.” Lanjutnya seraya mengangkat kantung plastiknya yang berisi makanan seperti kimbab dan tteopokki.

Sontak, Baekhyun pun menolehkan wajahnya ke arah Taemin yang masih menahan tawanya denga senyum penuh makna. Lalu kembali duduk di sofa yang beberapa menit sebelumnya ia duduki.

~œ~œ~œ~

Dayeon berdiri dengan tangan terlipat di bawah panggung dengan kemeja putih; rok span hitam selutut; dan jas berwarna kuning gelap, di bagian belakang, menjauh dari kerumunan para penggemar yang hampir seluruhnya adalah perempuan. Kini dirinya tengah berada di studio untuk menunggu comeback dari seorang Byun Baekhyun.

Ini memang bukan pertama kalinya Dayeon menonton penampilan Baekhyun secara langsung seperti ini, tetapi ini adalah yang pertama kalinya Dayeon menonton di studio yang lebih kecil sehingga kemungkinan Baekhyun melihatnya menjadi lebih besar. Namun, tidak apa-apa. Toh, Dayeon memang berencana akan memperlihatkan dirinya di depan Baekhyun saat ini.

Menurutnya, satu tahun sudah cukup lama menyembunyikan fakta bahwa dirinya telah berada di Seoul tanpa Baekhyun ketahui.

“Hei,” suara yang sudah sangat familiar di telinga terdengar. Dan begitu ia menoleh, ia mendapati Taemin dengan setelan jas berwarna abu-abu dan kemeja putih tanpa mengenakan dasi ataupun jas yang dikancingkan satu sama lain.

Seperti biasa Taemin melempar senyumnya, dan itu membuat Dayeon membalas tersenyum.

“Hyeju tidak ikut?” tanya Dayeon yang sudah menatap ke atas panggung lagi, menunggu Baekhyun yang akan keluar.

Taemin mengambil tempat di sebelah Dayeon dan ikut menatap ke atas panggung, lalu memasukkan kedua tangannya pada saku celananya. “Tidak. Dia bilang akan ada rapat mengenai launching produk baru.” Jawab Taemin santai.

Ketika Baekhyun muncul dari balik panggung, keduanya diam sejenak, menatap ke arah Baekhyun yang tersenyum ke arah penggemarnya yang mulai berteriak dan mengelu-elukan namanya.

Lalu, ketika Baekhyun tengah berbicara dengan salah seorang staff, Dayeon pun kembali membuka mulutnya. “Kau tahu, hingga saat ini, aku masih merasa bersalah karena tidak datang ke acara pertunanganmu dengan Hyeju.” Katanya. Kali ini dengan menoleh ke arah Taemin yang berdiri di sampingnya.

Taemin ikut menoleh dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku tahu kau sibuk dengan grup tarimu saat itu.” Jawabnya.

“Tetapi, tetap saja—” Dayeon memotong kalimatnya sendiri dan segera menoleh ketika terdengar suara Baekhyun yang bicara menggunakan microphone-nya, mengenalkan dirinya sendiri dengan senyum—yang setelah menjadi seorang penyanyi sering kali terlihat di wajahnya.

Setelah itu musik mulai mengalun lembut, membuat para pendengan diam dan melambaikan tangannya ke atas mengikuti irama. Dan suara Baekhyun pun mulai terdengar seiring selesainya bagian intro.

Selama Baekhyun menyanyi di atas panggung dengan penghayatannya yang mungkin akan membuat orang-orang yang mendengar meneteskan air mata, Dayeon tak pernah mengalihkan pandangannya dari Baekhyun. Hingga tanpa terduga, mata mereka bertemu. Dan Dayeon pun melempar senyum pada Baekhyun yang agaknya terkejut melihat Dayeon di bawah sana.

~œ~œ~œ~

“Sejak kapan kau tahu dia sudah berada di sini?” Baekhyun bertanya, menatap Taemin yang—lagi-lagi—tersenyum. Tipe senyum yang seperti tengah menyembunyikan tawa puasnya.

“Sejak dia berencana untuk kembali.” Jawab Taemin santai seraya mengubah posisi kakinya.

“Dia bahkan menjemputku di bandara.” Tambah Dayeon dengan cengiran puasnya.

Sedetik setelah mendengar perkataan Dayeon, Baekhyun langsung melirik tajam ke arah Taemin yang hanya membalas tatapannya itu dengan endikan bahu. Lalu, Taemin berdiri ketika melihat sosok Hyeju dengan rambut hitam lurus sebahunya itu masuk dan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

Melihat lambaian tangan Taemin, Hyeju pun tersenyum dan melangkah menghampiri meja yang ditempati oleh Baekhyun, Dayeon, dan Taemin.

“Maaf aku terlambat.” Ucap Hyeju begitu tiba di dekat meja. Kemudian duduk di kursi di sebelah Taemin setelah Taemin menarik kursi untuknya.

Melihat itu, diam-diam Dayeon tersenyum. Dan Baekhyun menangkap senyum tersebut ketika dirinya melirik sejenak ke arah Dayeon.

“Tidak apa-apa. Aku tahu kau sibuk.” Ujar Dayeon kemudian.

Setelah itu, makanan yang telah di pesan—dengan Taemin yang memesan makanan untuk Hyeju terlebih dahulu—datang. Dan keempatnya pun berbincang santai seraya melahap makanan mereka, membicarakan tentang kabar masing-masing.

~œ~œ~œ~

“Kenapa kau tidak pernah mengabariku?” tanya Baekhyun ketika dirinya tengah mengemudi mobil dengan Dayeon yang duduk di kursi sebelah. Ia melirik Dayeon lewat kaca spion di atasnya.

“Karena aku sudah mendapat kabarmu,” Jawab Dayeon dengan senyum puasnya. “Lewat media.” Lanjutnya seraya menoleh ke arah Baekhyun.

Baru saja Baekhyun hendak membuka mulutnya untuk memprotes, tetapi Dayeon menyelanya. “Jangan bicara tentang egois, karena dulu kau juga seperti itu.”

“Tapi, aku tidak mendapat kabarmu. Sama sekali tidak.”

“Siapa suruh kau tidak tertarik dengan dunia tari?” sahut Dayeon seraya mendengus. Lalu, “Jika kau tertarik, mungkin kau tahu bagaimana kabarku.”

Sejenak, keduanya diam, membiarkan suara mesin mobil mengambil alih.

Lalu, “Bagaimana kabarmu?” tanya Baekhyun dengan suara yang melunak.

Dayeon menganggukkan kepalanya. “Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.” Jawabnya, tanpa balas bertanya tentang kabar Baekhyun karena, toh, ia sudah mengetahuinya.

Sebenarnya, ingin sekali Dayeon bertanya mengapa saat itu, Baekhyun tidak menampakkan batang hidungnya di bandara. Namun, ia berpikir bahwa hari ini belum saatnya. Mungkin lain kali.

Kemudian ponsel Baekhyun berbunyi, menandakan adanya sebuah pemberitahuan.

“Bisa kau lihat untukku?” pinta Baekhyun seraya menyodorkan ponselnya ke arah Dayeon dengan sebelah tangannya.

Tentu saja Dayeon tidak menolak dan melihat pemberitahuan apa yang tiba-tiba membuat ponsel Baekhyun berbunyi. Lalu, begitu melihat sebuah artikel mengenai Baekhyun, ia mengerjapkan matanya.

BYUN BAEKHYUN MERAYAKAN COMEBACK BERSAMA TEMAN KENCANNYA

Begitu yang tertera di judul artikel. Dan foto Baekhyun dengan dirinya yang baru saja keluar dari restoran pun terpampang.

“Ada apa?” Tanya Baekhyun heran melihat reaksi yang diperlihatkan oleh Dayeon.

Kemudian ponsel Baekhyun kembali menunjukkan sebuah pemberitahuan baru.

BYUN BAEKHYUN DAN SONG DAYEON BERKENCAN?

Dan judul artikel yang satu ini menyebutkan namanya. Dayeon pun hanya bisa menghela napas. Paparazi cepat sekali mengumbar berita.

“Ada berita tentangmu,” Dayeon menjawab pertanyaan Baekhyun. Lalu, “Dan aku.” Lanjutnya.

“Apa?” kening Baekhyun berkerut, menoleh sekilas ke arah Dayeon yang masih memegangi ponsel miliknya. “Secepat itu?” tambahnya.

Dayeon menganggukkan kepalanya. “Bagaimana ini? Kau kan baru saja mengeluarkan album barumu hari ini…,”

“Tenang saja.” Sela Baekhyun santai. Lalu, “Albumku akan tetap terjual walaupun berita seperti itu muncul. Telepon Taemin, dan bilang adakan pers untuk membahas berita tersebut.”

“Memang, apa yang akan kau lakukan?” tanya Dayeon, sedikit ragu dengan ucapan penuh percaya diri yang baru saja diucapkan Baekhyun.

“Tentu saja aku akan membenarkan berita itu.” Jawab Baekhyun santai, seraya melempar senyum pada Dayeon untuk waktu singkat karena posisinya yang kini tengah mengemudi.

~œ~œ~œ~

Dua hari telah berlalu sejak Baekhyun mengaku kepada publik bahwa dirinya tengah berkencan dengan anggota dari grup tari asal Amerika, yaitu Song Dayeon. Dan semakin sering wajahnya terpampang di media masa, dirinya semakin sulit untuk berada di luar.

Selain itu, beberapa murid ataupun guru di sekolah tarinya pun tengah membicarakan berita itu ramai-ramai. Ia tahu, tetapi ia tidak terlalu memedulikannya selama tak merugikan dirinya dan juga Baekhyun. Lagipula, album Baekhyun tetap laku terjual, dan penggemarnya tetap setia mendukungnya.

Sonsaengnim,” gadis itu, Gaeun, mengangkat tangannya ketika ia tengah duduk di lantai kayu kelas tari saat istirahat berlangsung.

Dayeon menoleh dan tersenyum pada gadis itu. “Ya, Gaeun-a?”

Sebelum menyampaikan apa yang ingin ia katakan, ia mengigit bibir bawahnya terlebih dahulu dengan seluruh orang yang berada dalam ruangan menoleh ke arahnya. Lalu, “Apa benar kau… dan Baekhyun oppa berkencan?” setelah pertanyaan itu terlontar dari bibir tipis Gaeun, seluruh orang menoleh ke arahnya dengan pandangan penasaran.

Dayeon tersenyum melihat ekpresi penasaran semua orang di ruangan ini. Lalu menggelengkan kepalanya. “Baekhyun berbohong, kami tidak berkencan.” Seketika dengan pertanyaan yang terlontar dari bibirnya, suara bak lebah pun memenuhi ruangan.

Lalu, seorang gadis lainnya, yang lebih tua beberapa tahun dari Gaeun angkat bicara. “Lalu kenapa sonsaengnim tidak mencegah agar Baekhyun oppa membenarkan berita itu?”

Dayeon mengendikkan bahunya. “Mungkin, karena aku masih menyukainya?”

Dan lagi-lagi suara dengungan bak lebah memenuhi ruangan. Dayeon pun hanya tersenyum, lalu berdiri untuk kembali ke ruangannya.

~œ~œ~œ~

Suara heels berwarna merah muda itu terdengar seiring sepasang kaki milik Dayeon berjalan di sepanjang koridor yang akan membawanya ke pintu apartemennya. Sesampainya ia di depan pintu apartemen, ia segera menekan beberapa angka di sana dan suara klek terdengar, tanda bahwa password yang dimasukkannya benar.

Begitu masuk, keningnya berkerut begitu melihat sepatu laki-laki di dalam apartemennya, dan terdengar suara dari televisi. Ia pun segera melepas heelsnya dan menggantinya dengan sendal rumah, lalu berlari kecil untuk melihat siapa yang berada di dalam rumahnya karena dirinya tinggal sendirian.

Lalu, dilihatnya Byun Baekhyun yang tengah terduduk santai di sofa empuk di ruang tengah seraya menonton televisi.

Ya, Byun Baekhyun,” mendengar suara sang pemilik rumah, Baekhyun pun menoleh dengan sudut bibirnya yang tertarik ke belakang. “Bagaimana kau bisa masuk kemari?” tanya Dayeon terheran-heran.

Masih dengan senyumannya, Baekhyun mengendikkan bahu. “Siapa sangka ada seseorang yang menjadikan tanggal lahirku menjadi password rumah?”

Mendengar itu, pipi Dayeon memanas karena malu. Dan Baekhyun tertawa melihatnya.

Tidak ingin lebih lama ditertawakan Baekhyun, Dayeon pun membalikkan badannya, berniat untuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya. Namun, Baekhyun menahan tangannya dan menariknya sehingga kini Dayeon duduk di atas paha Baekhyun, dengan tas tangan Dayeon yang terlepas dari tangannya.

Ya, byeontae (mesum)! Aku mau ganti pakaian.” Ketus Dayeon seraya mencoba berdiri. Namun, karena pergelangan tangannya yang masih digenggam oleh Baekhyun, Dayeon pun kembali duduk dengan posisi yang sama dengan sebelumnya.

“Nanti saja.” Kata Baekhyun singkat, lalu meraih leher Dayeon dengan sebelah tangannya yang bebas. Lalu memiringkan kepalanya, untuk mencium bibir Dayeon.

Tidak munafik, Dayeon tidak menolak ciuman Baekhyun meskipun ia kesal dengan Baekhyun yang dengan seenaknya menarik dirinya dan kini duduk dengan posisi Baekhyun yang memangkunya. Dan sebaliknya, Dayeon pun membalas ciuman Baekhyun yang terkadang merubah posisi kepalanya, mencari posisi yang menurutnya nyaman. Bergantian melumat bibir bawah dan bibir atas Dayeon.

Kemudian Baekhyun melepas ciumannya. Dayeon yang terheran hanya menatap Baekhyun dengan pandangan bertanya.

Lalu, “Marry me, Song Dayeon.” Kata Baekhyun dengan pandangan sungguh-sungguh. Kemudian mengangkat sebelah tangan Dayeon yang tadi sempat ditariknya.

Melihat sebuah cincin yang melekat di jari manisnya, Dayeon pun membelalakan matanya terkejut, tetapi bibirnya membentuk lengkung senyum. Lalu, tanpa berpikir panjang lagi, kepalanya mengangguk semangat.

Keduanya pun tak bisa lagi menahan senyum. Dan Baekhyun kembali menarik kepala Dayeon agar ia bisa mencium bibir Dayeon yang amat disukainya sejak belasan tahun yang lalu. Kali ini, keduanya saling menyalurkan perasaan senang dan bahagia.

Kemudian tangan Baekhyun berpindah dari leher Dayeon ke punggung, dan yang satunya ditempatkan di bawah lutut Dayeon untuk mengangkat gadis itu. Sadar Baekhyun hendak berdiri dengan menggendongnya, tangan Dayeon pun berpindak ke pundak Baekhyun, merangkulnya.

Seraya berjalan menuju kamar Dayeon, keduanya tak mau melepaskan tautan bibir mereka hingga Baekhyun harus meletakkan tubuh Dayeon ke atas ranjang, lalu menempatkan dirinya di atas tubuh Dayeon dengan kedua tangannya menahan bobot tubuhnya. Dan kembali melanjutkan kegiatan mereka kembali, dengan senyum lebar yang terselip di bibir mereka di sela-sela ciuman keduanya.

Dua minggu setelah itu, berita tentang pernikahan keduanya tersebar luas lewat undangan pernikahan dan juga media masa.

~œ END œ~

a/n: AKHIRNYA KELARRRRRRRR!!! *tiup terompet* akhirnya…. setelah sekian lama nulis BS, akhirnya sampe kata ‘end’ jugaaaaa. Gimana endingnya? Memuaskan? Kurang memuaskan? AAAA, aku gak tau punya pikiran apa sampe di bagian ending ada adegan seperti itu *tunjuk-tunjuk bagian ending* hehehehe. Setelah nulis kata end, rasanya itu…. aku kayak orang yang baru diterima di oxford (gak segininya sih hehe). Setelah semua yg telah berlalu ini(?), aku mau bilang, terima kasih sama para readers-nim yang udah setia support aku di BS hiks *sedot ingus* gak tau kenapa, rasanya sedih aja mikir aku gak nulis kisah Dayeon dan Baekhyun lagi… belum lagi Taemin dan Hyeju. Rasanya….. aku…. kayak baru ngelahirin/? (ini apaaaa).

Intinya, setelah selesai nulis ini, aku senenggggg banget. Duh, gak nyangka, banget BS end setelah satu tahun (kurang lebih udah satu tahun kan?).

Oke. Selesai dengan cuap-cuapku, dan tunggu karya2ku selanjutnya. Ppyong!!!~~

75 responses to “Black Swan – Final Chapter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s