DAFFODIL — Chapter 9

Annyeong, saya datang bawa fanfic titipan! Happy reading, jangan lupa kasih komentar^^ Gomawooo~

daffodilARTworker : shinme

 

Tittle : Daffodil ( chapter 9 )

Author : Youngieomma

Cast :

Kim Joon Myun

Byun Baek Hyun

Park Chan Yeol

Do Kyung Soo

Kim Jongin

Oh Sehun

Han Yoon Ah (OC)

Park Moon Jin (OC)

– Other Cast :

Im Ra Nee (OC)

Inoue Mao (Japan Actress)

Kim Sa Na (OC)

Length : Chaptered

Genre : Romance, School Life, Brothership, Family

Rating : PG-17

Disclaimer : para pemeran di atas hanya dipinjam untuk keperluan FF ini, MAAF jika ada kata-kata maupun sifat yang bertolak belakang di FF ini.

 

Note’s :

Beberapa anggota diganti marga nya sesuai dengan cerita.. ———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Chapter 9

“ Truth”

28 Juli 2013

Malam kematian Inoue Mao

Chan Yeol menatap pintu besi di depannya, pintu Apartemen bernomor 401A. Mendengus, tidak percaya bahwa akhirnya dia datang juga ke Apartemen Inoue Mao, meskipun lewat tiga minggu setelah perjanjiannya di perpustakaan dengan gadis itu.

” Kau datang?”

Chan Yeol menoleh, mendapati pemuda seusianya berdiri dengan sok keren di depan lift. Yamada.

” Kenapa kau disini?” Tanya Chan Yeol, tangannya mengepal.

” Inoue menyuruhku kesini, dia bilang kau akan datang. Masuklah..”

Chan Yeol bergeming, giginya bergemeretak. Yamada menatapnya kemudian terkekeh kecil.

” Jangan memasang tampang tegang begitu, masuklah dulu.. Aku tidak membawa kawanan kemari..” Ucap pemuda itu, memencet bel di depan Chan Yeol.

Gadis bernama Inoue itu membuka pintu, memakai mini dress cantik, dan tersenyum lebar.

” Kalian datang bersamaan?” Tanyanya. Yamada tersenyum.

” Aku bertemu dengannya berdiri di depan pintu Apartemenmu..”

Inoue menatap Chan Yeol dan tertawa.

” Kau seorang stalker?” Ledeknya.

Chan Yeol masih diam terpaku, menatap sikap ramah tamah kedua makhluk di depannya.

” Ayo masuk!”

Inoue menarik lengan Chan Yeol yang sedikit terkejut. Yamada membuka sepatunya, menyentuh Buffet yang berada di samping pintu, menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh, kemudian memakai sandal yang tersimpan rapi di pinggir Buffet.

Chan Yeol mengikuti Yamada, terkejut dengan keadaan di dalam Apartemen itu. Meja makan dengan makanan yang terhidang, tiga piring, tiga gelas.

” Duduklah, aku baru saja menyelesaikan spaghettinya..” Ucap Inoue berlari kecil menuju dapur.

Chan Yeol duduk, masih tidak mengerti ada apa sesungguhnya. Yamada kini duduk di sampingnya.

” Sebenarnya.. Ada apa?” Tanya Chan Yeol, kaku.

Yamada tertawa kecil, menuangkan air ke dalam gelas di depannya, meminum sedikit dan menatap Chan Yeol.

” Inoue ingin berterima kasih padamu..”

” Ha?”

” Aku berbohong! Tidak ada apa-apa dengan pacarmu!” Inoue setengah berteriak dari dapur dan tertawa.

Chan Yeol mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti arah pembicaraan ini. Yamada menangkap ekspresi tersebut.

” Kau ingat Sung Ji Young?” Tanya Yamada, mata Chan Yeol membulat.

” Inoue ingin berterima kasih karena kau mau repot-repot bersaksi dengan para kawananmu untuk menyelamatkanku lepas dari penjara..”

Inoue tertawa, menuju mereka berdua dengan semangkuk spaghetti di tangannya.

” Aku berbohong padamu, habis Yamada bilang jika tidak berhubungan dengan pacarmu kau tidak akan mau repot-repot datang ke acara makan malam ini.. Aku sempat kecewa karena tiga minggu lalu kau tidak datang, kukira rencanaku berantakan..” Ucap gadis itu tanpa jeda. Chan Yeol mencerna kata-katanya.

” Jadi..?” Dia bertanya hati-hati, Yamada dan Inoue menatapnya.

” Kami hanya ingin berterima kasih, dan mengundangmu makan malam..” Yamada menjelaskan.

Chan Yeol terdiam, kemudian menghela nafas, melorot dalam kursinya.

” Sialan! Kupikir kau akan membunuhku disini!” Pekik Chan Yeol. Yamada dan Inoue saling memandang kemudian tertawa keras.

” Bodoh! Kau pikir aku masih berkelahi?” Yamada tertawa nyaring. Chan Yeol mendengus.

” Kupikir kau akan menyandera Ra Nee atau semacamnya!”

Inoue tertawa.

” Kalau begitu, aktingku hebatkan?”

Chan Yeol memutar bola matanya. Tertawa kemudian bersama Inoue dan Yamada.

” Aku sudah tidak berkelahi lagi..” Yamada berkata pelan.

” Kenapa? Kukira kau ingin mengalahkan seluruh bos-bos besar disini..” Ledek Chan Yeol. Yamada terkekeh.

” Aku harus menjadi ayah yang baik, Yeol-ah..”

” Eh?” Chan Yeol terdiam. Yamada dan Inoue menatapnya dengan semburat merah muda di pipi.

” Aku sedang hamil, dua bulan..” Ucap Inoue. Chan Yeol menjerit karena terkejut, ia meledek Yamada kemudian dan tertawa kencang.

Mereka memulai ritual makan malam, sesekali Yamada dan Chan Yeol mengenang apa yang mereka lakukan selama di sekolah dan Inoue tertawa.

” Aku mendengar hal itu dari Yamada, kami sering bertukar surat..” Gadis itu berbicara.

” Wah, kau romantis juga..” Ledek Chan Yeol pada Yamada yang mengoceh tidak karuan karena malu.

Ketika mereka sedang berbicara, suara bel berbunyi. Inoue keluar, ‘seseorang’ datang membuat Chan Yeol terdiam, keadaan jadi tegang ketika Chan Yeol dan ‘orang itu’ mulai berbicara.

Sangat cepat, ‘orang itu’ marah dan berlari ke dapur, mengambil salah satu pisau. Yamada dan Chan Yeol berdiri tegang, ‘orang itu’ berlari ke arah Chan Yeol bersiap menusuknya.

Refleks, Inoue lebih dulu berlari ke arah ‘orang itu’ dengan brutal tusukan demi tusukan menerjang tubuh kecilnya. Yamada menjerit dan mencekik ‘orang itu’ yang kemudian tersungkur ke tanah, Chan Yeol menatap tanpa bisa berbuat apa-apa.

Darah mengalir dimana-mana, nafas Chan Yeol tercekat di tenggorokan. Yamada membuat ‘orang itu’ berhenti meronta, pingsan. Chan Yeol menatap mata sayu Yamada.

” Pergilah! Cepat pergi! Aku akan mengurus segalanya disini! Kumohon!” Pekik Chan Yeol.

” Apa yang kau katakan?! Kita harus laporkan orang ini pada polisi!” Yamada tidak kalah memekik. Menatap tubuh Inoue yang penuh dengan darah, perlahan mendekat dan memeluk gadis itu, menangis tersedu-sedu.

” Ku-kumohon Ryu! Pergilah! Aku mohon, aku mohon, aku mohon padamu!” Chan Yeol berdiri di antara lututnya, air mata telah mengaliri pipi, suara beratnya terdengar lembut dan lemah.

Yamada menatap Chan Yeol.

” Maafkan dia, dia memiliki sakit mental.. Maafkan dia.. Selama ini sakitnya tidak pernah kambuh lagi.. Maafkan aku, seharusnya aku—”

Yamada menggotong tubuh tak bernyawa Inoue ke atas kasur, memeluk wanita itu dalam-dalam, kaos dan celananya penuh darah. Airmata mengalir, terisak di bahu Inoue yang mulai kaku.

” Pakai bajuku, aku akan membawa adikmu pergi dari sini.. Dia tidak akan ingat apa yang baru saja dia lakukan kan?”

Chan Yeol menatap Yamada lama.

” Aku melakukan ini karena pernah berhutang padamu, Chan Yeol..”

———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Nyonya Han duduk di hadapan Chan Yeol yang sedang memakan Jjangmyeon dengan lahap, airmata tidak berhenti mengalir dari setiap sudut mata wanita itu. Ia terisak, Chan Yeol mencuri-curi untuk melihat ibu tirinya itu menangis.

Ini hari ke tujuh semenjak Chan Yeol ditangkap kepolisian, Nyonya Han dan Tuan Park diperbolehkan menjenguk karena sidang pertama anaknya tersebut akan di selenggarakan besok. Tuan Park enggan bertatap langsung dengan putranya tersebut, maka dari itu Nyonya Han yang masuk ke dalam ruang Interogasi sedangkan beliau duduk menghadap kaca besar disebelah ruangan dan menangis pelan-pelan menatap rupa anak sulungnya yang sangat kusut.

” Uh-uk!” Chan Yeol terbatuk.

” Makan dengan perlahan, ini minumnya.” Nyonya Han menyerahkan cangkir plastik pada Chan Yeol yang terburu-buru menyesap habis isinya.

” Ibu menangis, bagaimana aku tidak sampai tersedak!” Ocehnya. Nyonya Han menunduk. ” Maaf..”.

Chan Yeol mendengus.

” Ibu kemari bersama ayah?” Tanyanya. Nyonya Han mengangguk.

” Apakah dia tidak ingin bertemu denganku?”

” Tidak, ayahmu malu menemuimu.. Ia bilang akan menangis dengan sangat keras, ibu yakin ayahmu sedang menangis di sebelah ruangan sekarang..”

Chan Yeol terkekeh. Dia menatap wajah ibu tirinya yang terlihat sendu.

” Maaf membuatmu menangis..”

Nyonya Han menatap Chan Yeol yang menunduk, rambut anaknya itu benar-benar kusut dan berminyak. Seminggu penuh Chan Yeol tidak mandi.

” Kau akan segera di bebaskan..” Ucapan Nyonya Han membuat Chan Yeol menoleh.

” Yamada menyerahkan dirinya..”

” A-apa?!” Chan Yeol terpekik, alisnya bertautan.

” Dua hari lalu, Yamada datang ke rumah kami dan berbicara pada ayahmu.. Dia berhutang budi padamu..”

Chan Yeol mengepal tangannya.

” Ta-tapi bu..”

” Diamlah.. Kumohon Chan Yeol.. Kau harus bebas..”

Chan Yeol mendengus.

” Aku tidak ingin bebas dan mengorbankan orang lain..” Setengah berbisik, ia kembali menunduk.

” Tidak ada yang di korbankan.. Yamada memang membunuh Inoue dan kau menutupinya. Itu fakta.”

” Di-dia memang ada disana.. Tapi..”

Nyonya Han mencondongkan tubuhnya ke depan meja, meraih lembut tangan kasar Chan Yeol.

” Diamlah, ibu mohon.. Ibu mohon.. Ibu tidak ingin kehilanganmu..”

Chan Yeol menelan ludah, teringat sosok ibunya ketika masih hidup. Tatapan yang sama, ucapan yang sama.

” Kau harus beritahu Sehun yang sejujurnya, ia tidak bisa mempercayai apa yang ibu ucapkan..”

Chan Yeol menegang.

” A-apa maksudnya?”

” Ibu tidak bisa menceritakan yang sesungguhnya pada Sehun, jadi, ibu berbohong ketika dia meminta ibu untuk tidak berbohong..”

Mendadak keringat dingin membanjiri tubuh Chan Yeol, tenggorokannya kering.

” Setelah kau bebas, kita harus terbuka satu sama lain tentang masa lalu keluargamu..”

Chan Yeol menggeleng pelan.

” Ti-tidak boleh! A-aku mohon bu.. Bagaimana dengan Kyung Soo?!” Chan Yeol setengah terpekik.

” Kau memberitahu Joon Myun bukan? Pelaku pembunuhan Inoue..”

Chan Yeol tanpa sadar melotot, bibirnya bergetar, dia akan mengucapkan sesuatu ketika Opsir Choi datang dan mempersilahkan Nyonya Han keluar. Chan Yeol terdiam, ia gelisah.

Tuan Park dan Nyonya Han masih duduk di ruangan sebelah Chan Yeol, bersama Opsir Choi dan Detektif Cha.

” Kami sudah mendapat bukti kuat tentang kematian Inoue, motif dan alasan dari Yamada. Dia juga sudah menyerahkan diri, terima kasih atas kerja samanya, maaf menahan anak anda lebih lama..” Ucap Detektif Cha.

” Tidak apa-apa, maafkan anak kami yang menyulitkan anda..” Tuan Park menunduk.

” Ya.. Itu sempat membuat kami kebingungan..” Opsir Choi tertawa.

” Apakah, Chan Yeol bisa menjadi pengacara?” Pertanyaan Nyonya Han menyita perhatian ketiga pria itu.

” Chan Yeol ingin menjadi pengacara, dia sedang memulai tahun pertama kuliahnya.. Apakah ini termasuk catatan kriminal untuknya?”

Opsir Choi menghela nafas.

” Maaf nyonya, ini termasuk catatan kriminal. Karena Chan Yeol menyembunyikan fakta pada kepolisian, anda tahu kan, Chan Yeol juga bebas bersyarat.. Itu artinya, dia juga masuk dalam daftar tersangka pembunuhan Inoue..”

Nyonya Han terdiam. Apa yang akan dikatakannya pada Chan Yeol? Mimpi anak itu benar-benar terkubur.

.

Joon Myun duduk di depan sebuah air mancur, menatap air yang turun dengan serius, pikirannya tidak disana.

” Sesuatu mengacaukan pikiranmu, hyeong?”

Joon Myun kembali dari lamunan panjangnya, menoleh dan menangkap sosok Baek Hyun berdiri di sampingnya.

” Oh, Baek.. Kau sudah pulang?” Joon Myun menggeser tempat duduknya. Adik-kakak itu duduk dalam diam, mengamati air mancur, tenggelam pada pikiran masing-masing.

” Kau tahu? Empat hari lalu aku menjenguk Chan Yeol..” Baek Hyun buka suara.

” Bukankah Chan Yeol tidak boleh di jenguk?” Joon Myun menggaruk dagunya.

” Aku memaksa, dan akhirnya di izinkan..”

” Khasmu..”

Keduanya tertawa kecil.

” Hyeong, aku lelah bermain teka-teki..” Baek Hyun menempelkan punggungnya pada kursi, menatap mata Joon Myun yang sendu.

” Aku ingin dengar cerita yang sesungguhnya tentang keluarga Park..”

Joon Myun mendengus, mungkin nanti keluarganya juga tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga lelah untuk terus berbohong.

” Kyung Soo, Chan Yeol, Sehun. Hanya salah satu anak asli dari istri sah tuan Park..”

Baek Hyun terdiam, tanpa sadar menahan nafasnya.

” Kau bisa menebak siapa?” Tanya Joon Myun.

” Kyung Soo?”

Joon Myun menggeleng.

” Apa yang ayah ceritakan tentang Kyung Soo adalah benar, dia anak haram ayah, kecelakaan, operasi, hilang ingatan. Semuanya benar..”

Baek Hyun menatap Joon Myun.

” Lalu, apakah Sehun adalah anak asli dari istri sah ayah?”

Joon Myun menghela nafas, menatap bunga-bunga di samping air mancur.

” Kau tahu kecelakaan apa yang menimpa Kyung Soo kecil?”

Baek Hyun menggeleng.

” Kecelakaan mobil parah, penyebabnya adalah.. Orangtua mereka mabuk ketika mengendarainya..”

” A-apa?”

Joon Myun memainkan ujung kemejanya, menunduk.

” Mobil mereka masuk ke jurang, dan yang membuat tuan Park harus melakukan tes DNA adalah karena ada empat anak laki-laki lain berada di dalam sana..”

” Empat anak laki-laki?” Alis Baek Hyun berkerut.

” Kau tahu usia Kyung Soo saat itu?”

” 6 tahun..”

” Lalu, kau pikir, usia berapa Sehun saat itu?”

” Lima—tunggu—kenapa Sehun?” Baek Hyun menginterupsi.

” Karena dia berada disana juga, bersama Kyung Soo. Di dalam bagasi..”

Baek Hyun melotot. Tidak mengerti apa yang hyeongnya bicarakan.

” Saat ayah mendapat kabar kecelakaan itu, dia datang ke rumah sakit dengan panik. Namun, ada lima anak kecil laki-laki dengan wajah penuh luka dan darah ketika dia sampai disana.. Tuan Park—maksudku, ayah.. Tidak mengenali yang mana Kyung Soo hingga akhirnya meminta tes DNA..”

” Lalu, apa hubungannya dengan Sehun?” Tanya Baek Hyun.

Joon Myun mendengus lagi, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

” Sehun adalah anak tuan Park dengan sekretarisnya..”

” Hyeong, tolong.. Aku benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan ini.. Sungguh..”

Terlalu rumit, Baek Hyun tidak mengerti. Sangat tidak mengerti. Joon Myun masih terdiam di tempatnya.

Keluarga Park.. Apakah mereka serumit itu? Apa-apan cerita yang membuat kepala Baek Hyun mendadak nyeri ini? Otaknya tidak mencerna dengan baik apa yang sedang keluar dari mulut Joon Myun, suara bergetar yang menceritakan seluruh kejadian.

Gila! Gila! Gila! Ini lebih dari Gila! Sinting! Tidak masuk di akal! Itu hanya ada di dalam dunia penuh khayalan!

.

Yamada duduk di hadapan Opsir Choi, dia berada di ruangan lain. Menunduk dalam, pergelangannya nyeri karena borgol besi itu bergesekan kasar ke kulitnya.

Lima jam setelah dirinya pergi ke kantor polisi dan mengakui segala kesalahan —yang tidak dia perbuat— Opsir Choi dan Detektif Cha baru saja selesai menginterogasinya.

Dia mengarang cerita tentang membunuh Inoue karena gadis itu hamil dan meminta pertanggung jawabannya, menjebak Chan Yeol yang baik hati agar masuk penjara. Karena Chan Yeol akan selalu membela teman-temannya.

Yamada masih menunduk dengan dahi menempel di meja ketika pintu besi dibelakangnya terbuka, seseorang masuk dengan tangan yang masih di borgol, Opsir Choi mendudukan Chan Yeol di depan Yamada dan mereka berlalu pergi sebelumnya mematikan mic di depan keduanya. Memberikan sedikit privasi.

” Kenapa kau mengakui kesahalan yang tidak kau lakukan?” Suara berat itu memecah keheningan keduanya. Yamada masih belum mengangkat wajah. Tenggelam pada pinggiran meja yang kasar dan keras.

” Ryu! Jawab aku!” Chan Yeol setengah memekik, tangannya mengepal di balik punggung.

Yamada mendengus, menatap Chan Yeol dengan wajah sendu, lingkaran mata hitam terlihat jelas.

” Sudah kubilang, aku memiliki hutang padamu..”

” Cih! Persetan dengan hutang budi! Kau tidak melakukan apapun! Sialan!” Chan Yeol emosi, nafasnya terengah-engah. Yamada menatapnya.

” Tahan emosimu, para polisi itu pasti melihat kita di balik kaca ini..” Ucap Yamada. Tenang.

Chan Yeol terdiam, mengatur nafasnya, menghempaskan tubuhnya ke kursi. Giginya bergemeretak menahan amarah.

” Dengar Yeol, aku melakukan ini karena benar-benar merasa hutang budi padamu. Kau tahu jelas apa yang kulakukan pada Ji Young saat itu, oke? Ini memang tempatku dari awal—-” Suara Yamada bergetar, menelan ludah yang bagaikan duri di tenggorokannya, menahan tangis yang hampir pecah.

” Selama lima tahun berpacaran jarak jauh dengan Inoue dan beberapa tahun ini bisa tinggal bersama—-kurasa itu hanya bonus dari Tuhan—terutama, mendengar kalau gadis itu ha–mil..” Yamada mengigit bibir, airmata memenuhi matanya. Chan Yeol membuang muka, enggan melihat pemuda itu menangis.

” Kukira, Tuhan lupa dengan kesalahanku dulu Yeol.. Kukira, Tuhan memaafkanku karena membunuh orang lain.. Ini pembalasanku, Yeol.. Hidup tanpa beban setelah merenggut nyawa orang lain..”

” Cukup..” Chan Yeol berkata, menutup matanya.

” Aku.. Menerima pembalasan Tuhan untukku.. Kau hanya perantaranya—-”

BRAK!

Chan Yeol berdiri dan menendang kursinya sendiri. Dia terduduk. Menangis. Yamada terdiam, ikut menangis. Opsir Choi dan Detektif Cha masuk ke dalam ruangan tersebut, mereka tidak bisa menebak apa yang terjadi pada kedua pemuda itu, menyeret Chan Yeol keluar.

Chan Yeol menunduk sepanjang perjalanan menuju ruangannya, airmata menetes satu persatu dan dia terisak.

Dia sangat ingat bagaimana ketika perkelahian itu terjadi Yamada menusuk dada Ji Young, dia ingat bagaimana kengerian itu membuat hampir seluruh kawanannya menganga dan ketakutan. Yamada di tinggalkan oleh kawanannya sendiri, menatap Chan Yeol dengan mata memohon.

” A-aku tidak bermaksud membunuhnya..” Suara Yamada bergetar, baju sekolahnya ternoda darah Ji Young.

” To-tolong a-aku..”

Chan Yeol kini benar-benar menangis. Bagaimanapun, Yamada adalah temannya. Hari-hari yang dilalui mereka, berkelahi, saling mengejar, mengejek dan Chan Yeol pernah menolong bocah itu ketika harus berhadapan dengan para penagih hutang ibunya.

” Aku hamil dua bulan..”

Kata-kata dan wajah Inoue terlintas dibenak Chan Yeol, mendadak kakinya lemas, dan dia terduduk, mengejutkan Opsir Choi. Chan Yeol menangis sesegukan dengan suara beratnya.

 

Pagi datang dengan cepat, sidang Chan Yeol di gelar pukul 10 pagi. Dia di seret ke dalam ruang sidang tersebut, ayahnya membawa seorang pengacara untuk mendampingi Chan Yeol.

Chan Yeol menatap sekilas ke kursi di ruang sidang, Kyung Soo, Sehun, Joon Myun, Baek Hyun, Jongin, Nyonya Han dan Ayahnya duduk disana dengan cemas. Persidangan berlanjut dengan menunjukkan bukti-bukti baru yang di dapat pihak kepolisian.

Yamada dibawa masuk oleh beberapa petugas kepolisian, wajahnya lusuh dan terlihat lelah. Dia berdiri di depan hakim, mengucapkan seluruh kejadian yang berbanding terbalik dengan kenyataan saat itu.

Setelah hampir tiga jam sidang berlanjut, Hakim membacakan keputusannya.

” Sesuai dengan pasal-pasal hukum yang berada di Negara kami, Barang siapa yang dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam dengan pidana Seumur Hidup atau hukuman mati atau selama waktu tertentu. Kami memutuskan tuan Yamada Ryonosuke BERSALAH, dengan ancaman hukuman dua puluh tahun penjara”

Hakim mengetukkan palunya tiga kali. Chan Yeol membuang muka, sesak memenuhi dadanya, dia bisa melihat ibu Yamada menangis di kursi, menjerit tertahan mendengar vonis Hakim.

Yamada terisak di tempatnya, menangis tersedu-sedu. Hidup barunya akan dimulai, tidak dengan seorang istri cantik pandai memasak dan seorang bayi mungil dengan mata sipit, tetapi dengan bau busuk dan dinginnya tembok penjara.

Chan Yeol berjalan, melewati Yamada, berhenti sebentar dan menatap pemuda itu. Chan Yeol membungkuk sembilan puluh derajat pada Yamada, membuat mata-mata di ruang sidang membulat.

” Apa yang dia lakukan?” Orang-orang berbisik.

Yamada masih terisak. Chan Yeol membungkuk selama lima menit, kemudian berkata dengan lembut.

” Terima kasih..”

Chan Yeol berlalu, jalan terpisah dengan Yamada. Itu adalah terakhir kalinya dia bertemu pemuda itu, karena setelah lima tahun berlalu Yamada ditemukan tewas tergantung di kamar mandi dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.

———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Chan Yeol keluar dari kamar mandi, air turun mengalir dari rambutnya, tubuhnya basah dengan air dingin, angin musim panas yang masuk melalui jendela teras lantai dua yang dibuka lebar menambah kesejukan.

” Hyeong! Pakai handuk!” Pekik Kyung Soo, berlari ke arah Chan Yeol dan menutup kemaluan kakaknya tersebut. Nyonya Han tertawa dari dapur, mendengar pekikan putranya dari lantai dua.

” Baekki akan pingsan jika melihat belalai gajah itu lagi..” Pekik Nyonya Han, tangannya masih sibuk mengocok telur di mangkuk.

” Ibu!” Baek Hyun memekik, wajahnya memerah. Masih memotong paprika di depannya, membantu Nyonya Han memasak.

” Pakai bajumu! Park Chan Yeol!” Tuan Park berbicara kencang dari sofa di lantai satu.

Hari ketiga setelah Chan Yeol dibebaskan dari kepolisian, tawa kembali memenuhi kondominium tersebut. Meskipun, dua hari lalu Chan Yeol sempat stress karena belum diperbolehkan bertemu dengan Yamada. Rasa bersalah masih menghantuinya.

Chan Yeol masih tersipu ketika matanya menangkap sebuket bunga di pojok kasurnya (ia menaruh disitu agar tidak terlihat oleh siapapun) mengingat saat dia keluar dari penjara, keluarganya berdiri di depan pintu tinggi itu. Chan Yeol keluar dan memicingkan matanya, terkena sinar matahari yang silau, ketika ia menyadari kakak dan adik-adik serta orangtuanya berada tepat di hadapan dirinya, wajah itu memerah.

Nyonya Han tersenyum lebar, memeluk sebuket bunga Daffodil kuning di tangannya.

” Annyeong! Selamat datang kembali, Park Chan Yeol!” Ucap wanita paruh baya itu.

” Heol! Apa sih yang kalian lakukan!? Memalukan!” Chan Yeol memekik.

” Ehhh! Padahal ibu sangat gugup menyambutmu!” Nyonya Han menjerit manja, mendekat pada Chan Yeol yang menggerutu karena malu.

” Selamat datang Chan Yeol..” Ayahnya berkata.

” Cih! Memang aku habis darimana?!” Ujar Chan Yeol.

” Hyeong! Selamat datang!” Jongin dan Sehun berkata berbarengan, Kyung Soo tersenyum di samping mereka.

” Aku merindukanmu, Yeol-ah..” Baek Hyun tersenyum kecil, Chan Yeol memandangnya. Joon Myun diam di tempat, tidak berkata apa-apa, Nyonya Han mendekat dan menjitak kepalanya.

” Ah! Ibu!”

” Kenapa kau tidak bilang apa-apa?!” Pekik Nyonya Han.

” Umh.. Hanya saja..umhh..” Wajah Joon Myun memerah, sudut bibir Chan Yeol terangkat. Nyonya Han berdiri di hadapan Chan Yeol, mendongak agar bisa menatap wajah putranya tersebut.

” Selamat datang Chan Yeol, kau kembali kepada kami..” Ucapnya lembut, menyerahkan buket bunga itu pada Chan Yeol.

” Bunga apa ini?” Tanya Chan Yeol.

” Daffodil..”

” Daffodil?”

” Kau tahu arti bunga ini?” Nyonya Han balik bertanya, Chan Yeol menggeleng.

” Rangkaian bunga Daffodil cantik ini memiliki arti Harapan, kegembiraan dan awal yang baru. Warna kuningnya adalah ungkapan perasaan cinta yang tiada bandingannya.. Chan Yeol, ibu berharap kau bisa memulai awal yang baru untuk kehidupanmu, dengan lebih banyak kegembiraan. Ibu mencintaimu seperti ibu mencintai anak-anak ibu sendiri, cinta ibu padamu tiada bandingannya.. Jadi, kau tidak perlu menanggung segalanya sendirian, kau bukanlah seorang kakak yang memiliki dua orang adik lagi. Kau memiliki 1 kakak laki-laki dan tiga orang adik, 1 teman curhat dan juga saudaramu Baek Hyun. Kau memiliki ibu dan ayah untuk tempatmu berlindung.. Mengerti?”

Dengan gugup, Chan Yeol mengangguk, Nyonya Han berjalan mendekat dan memeluknya erat. Perasaan hangat mengalir dalam hati Chan Yeol. Inilah yang dia perlukan, kasih sayang seorang ibu. Perasaan lelah karena seminggu penuh terkurung di ruangan dan di paksa berbicara kejujuran hilang seketika, Chan Yeol rindu pelukan hangat dan lembut seperti ini.

Dia rindu seorang ibu.

Kata-kata menenangkan, pelukan, ciuman di pipi, elusan di puncak kepala, cubitan lembut, dan semua hal yang tak pernah dia rasakan sejak kecil dari ibunya, perasaan asing namun membuatnya nyaman.

Ibu adalah orang yang Luar biasa untuk Chan Yeol, terutama Nyonya Han. Dia beruntung memiliki ibu tiri sebaik Nyonya Han, Chan Yeol sempat berfikir macam-macam tentang wanita paruh baya itu, Channel Disney yang menampilkan ibu tiri jahat dan tukang menyiksa sempat menghantui hari-harinya ketika pernikahan ayah sudah dekat. Pikiran bodoh!

Nyonya Han juga mengatakan pada Chan Yeol agar segera memikirkan apa yang akan dia lakukan sekarang, karena mimpinya menjadi pengacara tidak mungkin terwujud setelah penangkapan dan penahanannya selama seminggu di kepolisian.

Tanpa di duga, Chan Yeol berkata pada tuan Park agar di izinkan masuk ke perusahaan. Dia akan belajar dengan sungguh-sungguh mengelola bisnis ayahnya tersebut. Chan Yeol kecewa karena cita-citanya harus kembali terkubur, namun Ra Nee menemuinya di hari kebebasan dan itu alasan kenapa Chan Yeol tidak terpuruk terlalu lama.

” Bu.. Apa makan siangnya sudah siap?” Jongin menyembulkan kepalanya dari jendela di samping dapur, dia tengah bersama Sehun di taman, berendam di kolam karet kecil berhimpitan dengan kaki tertekuk. Itu kolam karet miliknya ketika masih kecil dulu.

” Sebentar lagi, panggil Sehun! Dan pakai baju kalian berdua!” Ujar Nyonya Han. Jongin berlari menghampiri Sehun yang masih asik duduk berendam di dalam kolam karet itu.

Joon Myun keluar dari dalam mobil, dan melihat kelakuan kedua adik kecilnya. Terlihat bodoh, tubuh mereka yang besar itu membuat air di dalam kolam karet mengucur dari sela-sela punggung.

” Apa yang kalian lakukan?” Tanya Joon Myun.

” Berendam..” Jongin dan Sehun menjawab berbarengan, menoleh datar pada Joon Myun.

” Kenapa tidak ke kolam renang saja?” Tanya Joon Myun lagi, berjongkok di depan kolam karet itu.

” Tidak, pasti penuh..” Keluh Jongin dan Sehun mengamininya. Joon Myun mengangguk-angguk, ujung belakang jasnya terkena air di rerumputan, asik memainkan air dalam kolam.

” Oy! Ayo makan siang!” Suara berat Chan Yeol membuat ketiga pemuda itu menoleh, Jongin terburu-buru berdiri, membuat Sehun yang sedang menyender terjatuh menyamping, air menyiprat, mengotori jas Joon Myun.

” Ey! Kalian ini!”

Jongin dan Sehun tertawa melihat penampilan Joon Myun. Chan Yeol hanya menggeleng. Ketiga orang itu terlihat sangat bodoh.

Semua tampak kembali normal, mereka kemudian makan siang bersama dengan Sehun dan Jongin yang dimarahi oleh tuan Park karena mengotori lantai rumah. Kaki mereka penuh lumpur.

Tidak ada yang menyinggung lagi masalah Chan Yeol di tangkap, kematian Inoue Mao dan sebagainya. Chan Yeol bagai terbangun dari mimpi buruk yang panjang. Namun, masih ada yang tertinggal. Janjinya pada ibu untuk mengungkapkan segalanya di depan keluarga, kenyataan pahit keluarga Park.

Dia telah berbicara pada ayahnya kemarin malam..

” Ayah akan berbicara duluan..” Tuan Park berkata.

” Tidak perlu, ayah.. Aku akan memulai pembicaraan ini.. Kita sudah menjadi keluarga, mereka harus tahu yang sesungguhnya.. Oke?”

Tuan Park menatap Chan Yeol.

” Apakah sudah ada yang bilang kau berubah?”

Chan Yeol menoleh.

” Apa yang berubah? Ayah kira aku power rangers?” Cibir Chan Yeol, tuan Park terkekeh geli.

” Mereka luar biasa kan?”

Chan Yeol terdiam, mengerti siapa yang di maksud oleh ayahnya, membuang tatapannya pada ruang keluarga yang ramai.

” Tentu, ayah tidak salah memilih istri..” Chan Yeol berkata dengan senyum.

” Aku sudah menduganya jika Yoon Ah akan menjadi ibu yang baik untuk kalian, kalian mendapatkan apa yang kalian butuhkan bukan?”

Chan Yeol mengangguk, kasih sayang, batinnya.

” Maaf ayah tidak pernah bisa memberikannya..” Suara tuan Park bergetar.

” Maaf aku selalu membuat onar untuk ayah..” Ujar Chan Yeol. Tuan Park tersenyum, mengacak rambut putranya tersebut.

Chan Yeol kembali pada sadarnya, seluruh keluarga telah selesai makan. Berkumpul di ruang tamu. Menelan ludah, Chan Yeol berjalan mendekat.

” Ada yang ingin kusampaikan..” Suara beratnya mengalihkan seluruh mata.

” Kebenaran dari keluarga Park..”

Joon Myun dan Baek Hyun terbelalak, Jongin dan Sehun saling tatap, Kyung Soo terdiam. Mereka menahan nafas.

Kali ini, Chan Yeol yakin semuanya baik-baik saja meskipun rahasia ini terbongkar. Mereka memiliki ibu yang luar biasa. Segalanya akan baik-baik saja. Pasti!

 

 

Continued~~~

 

Sepatah dua patah kata :

Hoyaaaaaa Minna~san (/’o’)/

Pertama-tama, saya bener-bener terima kasih banget buat kalian yang masih mencintai dan menanti serta membaca FF ini. Yioloh, gak sangka banget bisa diterima sama kalian nih fanfic ;____;

Mendekati ending ya.. *tabur beras*

Semoga kalian terhibur!

 

Gomawooooo *bow*

Eiyaaa, dapat salam dari pangeran kecilku Youngie ^o^/ salam kenal kakak-kakak sekaliaaaan~ Youngie suka liatin eommanya bacain komentar-komentar kakak-kakak disini~~ kkkk~

56 responses to “DAFFODIL — Chapter 9

  1. Haishh , jd bukan yamada ?? Kshan jg yamada n mao .. Hahaa penasaran apa yg bakal chanyeol omongiin ..
    Tp ini siapa adik yg di maksud sih ?? Sehun ?? Kyungsoo ?? Haisshh ..

  2. Ya Robbieee eommaaaa aku pusing setengah mati baca chapter ini… ya ampuunn aku uring2an bacanya.. kesel juga karena aku ga bisa nebak… aaaaaaaakkhhh aku sebeelllll keselll aaaaaahhhhhaaaahhhhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s