Like a Pair of Shoes (Part 2)

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

 

like a pair of shoes copy1

Like A Pair Of Shoes

{제 2 화}

Previous: Prolog , Part 1

by

my sign

(@fajriamuli)

visit my wp: https://pinkeueunmazing.wordpress.com

***

{ Park Chanyeol & Jung Eunji }

Romance–MarriageLife–Comedy(maybe)

Chapter || PG – 13

Sebenernya ini ff udah lama banget bertapa di komputerku dan gak mau kulanjutin tapi ternyata pas aku post prolognya di wpku yang ngebujuk aku buat ngepost part selanjutnya banyak banget dan aku gak tega juga T_T

Buat kalian yang udah nunggu semoga ini gak ngecawain yaa.. maaf banget udah bikin penasaran setengah idup/?

Disclaimer!

Plot hanyalah karya fiksi yang 100% murni karya saya. Tokoh milik tuhan, kedua orang tuanya, exo stan, dan pink panda bersama. Dibuat semata-mata hanya untuk hiburan. Jangan dibawa serius. Kesamaan tokoh atau cerita yang mungkin terjadi karena ketidak sengajaan/kebetulan, bukan tindakan plagiat.

If you don’t like the pairing, or anything else from this ff, don’t bash. Respect me as the author. Read, Comment, Like is necessary. Thanks and happy reading!^^

~**~

“We have to be always together, no matter what. Cause my life without you is like a shoe without its pair. They’ll useless, just the same with me. I’m not perfect, so you are. But we’ll perfect and complete together.”

****

***

**

*

Park Chanyeol’s POV

Kedai Minuman Samguk. Itulah tulisan yang tertera di papannya. Aku pernah mengunjungi tempat ini beberapa kali, untuk minum teh atau minuman lain.

Klingg.. klingg

                Begitu tanganku membuka pintu kedai, suara lonceng di pintunya berbunyi dengan nyaring.

                “Selamat datang~” Sapa pelayang yang berjaga di pintu.

                Tanpa menghiraukannya mataku terus mencari keberadaan Jung Eunji. Aku langsung mengelilingi lantai satu ini. Namun tetap saja tak menemukannya. Langsung terpikir olehku untuk memeriksa lantai dua –tempat dimana bar yang berisi banyak minuman beralkohol.

                Awalnya aku merasa Eunji tak mungkin bermabuk-mabuk. Ia yeoja yang terlihat innocent namun kalau diingat dari suaranya di telfon tadi seakan ia berbicara dengan kesadarannya yang tinggal seperempat. Jadi langsung saja aku berlari keatas dan memeriksa lantai dua. 

                Dan benar saja dugaanku. Setelah mengedarkan pandang beberapa kali aku menemukan sosok yang kukenal sedang menyandarkan kepalanya di meja bar sambil satu tangannya memegang botol soju. Di dekatnya ada 2 botol soju lain yang terlihat sudah kosong. Kuat juga anak ini.

                “Jung Eunji!” Panggilku.

                Tanganku langsung menarik botol soju itu yang hendak di tuangkan isinya ke gelas oleh Eunji. Yeoja tersebut yang merasa kesal karena minumannya diambil langsung menengok kearahku.

                “Ya! Kembalikan, itu botol terakhir yang dapat kubeli dengan sisa uang jajan.” Teriaknya sambil menatapku tajam. Matanya merah dan bengkak.

                Aku hanya membalas dengan tatapan dalam. “Kau mengecewakan.”

                Tiba-tiba pupil matanya bergetar dan mulai berkaca-kaca. Tidak lama kemudian air matanya tumpah membasahi pipinya. Ia menangis dengan tersedu-sedu.

                “Eh? Eunji kau ini kenapa sebenarnya?” Aku langsung merasa bersalah atas perkataanku sebelumnya.

                “Park Chanyeol, apa salah jika aku ingin memilih jalan hidupku sendiri? Hiks…”

                “Tentu saja tidak. Itu hakmu tetapi tidak menjadi liar seperti ini.”

                “Aku bukan memilih untuk menjadi orang liar. Hanya saja saat ini aku merasa begitu tertekan dengan masalah yang ada. Orang tuaku begitu memaksakan masa depanku.” Tangisannya makin keras.

                “Coba bicaralah baik-baik, mereka pasti akan mengerti.”

                “Tapi mereka bilang tidak untuk yang satu ini. aku harus menurutinya.”

                “Memang apa yang mereka paksakan padamu? Karir?”

                “Bukan itu. Soal apa aku tak bisa memberi tau.” Ia memandangku dengan matanya yang sembab. Sorot matanya terlihat begitu lelah dan menyedihkan.

                “Apa aku mati saja ya?” Lanjutnya.

                Aku mendorong belakang kepalanya dengan pelan. “ Jangan gila!”

                “Lalu bagaimana?! Aku harus apa?! Katakan!” Tangannya menguncang-guncang lenganku.

                Lidahku terasa kelu. Jujur saja aku juga tak tau harus memberinya saran apa. Aku sendiri pun sedang dalam posisi yang sulit dengan beberapa maslah yang ada. Perjodohan, datangnya Yejin, dan training yang kian hari makin sibuk dan menguras tenaga. Semuanya melelahkan.

                “Sudahlah, kau harus segera pulang kerumah. Ini sudah lewat dari jam sepuluh malam.” Aku mengalihkan pembicaraan.

                “Berisik!”

                “Sejak kapan kau berada disini?”

                “Jam 6 sore tadi… ahh apa dunia sedang bermain komedi putar?”

                Eunji meringis sambil memegangi kepalanya. Ia perlahan semakin melemah. Ketika kudaratkan telapak tanganku pada jidatnya, terasa suhu yang tinggi disana.

                “Lihat? Sakitmu bisa tambah parah kalau begini. Akan kuantar kau pulang.”

                Aku langsung menaikkan Eunji ke punggungku dan menggembloknya. Ia meronta dan meminta turun. Tetapi tentu saja kekuatanku jauh lebih besar darinya jadi ia sudah benar-benar tak berdaya di gemblokanku. Tak lama setelah itu kurasa kesadarannya sudah benar-benar hilang.

                Namun saat hendak keluar dari kedai tersebut, di dekat pintu aku berpapasan dengan Yejin yang ternyata juga sedang disana.

                “Wah kita bertemu lagi.” Sapanya sambil tersenyum.

                Tetapi seketika berubah ketika ia melihat siapa yang ada di gemblokanku. Mukanya menjadi memerah dan terlihat mimik tidak suka.

                “Siapa yeoja itu?”

                “Dia adik kelasku di sekolah. Mungkin teman dekat juga.”

                “Park Chanyeol, kau harus jaga jarak dengannya. Aku tidak suka.”

                Omongannya seenak jidat saja. Tidak tau diri sekali. Memang dia siapa dapat melarangku semaunya.

                “Kau bukan siapa-siapa.”

                “…”

                Setelah berkata begitu, langsung saja aku pergi meninggalkannya.

                Sesampainya di mobil aku menaruhnya di jok penumpang depan dan memakaikannya sabuk pengaman. Lalu beralih menuju jok kemudi dan mulai menjalankan mobil menuju rumah yeoja ini.

                Jung Eunji, yeoja yang dapat menghiburku dengan tingkah lucunya, ternyata seseorang yang begitu mudah rapuh dengan masalah.

Jung Eunji’s POV

                Aku mengerjap-ngerjap. Cahaya langsung masuk menyerang penglihatan. Mataku yang memang sipit ini terasa menyipit dan semakin sipit karena menyesuaikan cahaya yang masuk dan juga karena faktor semalam. Menangis berjam-jam di kedai cukup membuat mataku perih saat ini. Lalu kulihat keseliling dan baru mengenali bahwa ini adalah kamarku sendiri.

                Tiba-tiba panggilan alam (baca: ingin buang air kecil) menghampiriku. Ketika hendak bangkit, kepalaku sakit bukan main. Seperti dipukul oleh beban berat bertubi-tubi. Memang, salahku sendiri minum 3 botol soju ketika sakit.

                “Eomma…” Aku ingin berteriak namun tidak bisa. Suaraku begitu serak dan kecil. Badanku ini seperti tak ada tenaga lagi.

                Untung saja otak ini masih bekerja dengan baik. Tanganku meraba-raba nakas untuk mencari keberadaan telfon rumah yang ada di kamarku, namun karena ada di pinggir nakas tanganku tak sampai. Akhirnya aku pun memutuskan untuk memakai handphoneku saja yang ternyata ada di balik selimutku. Aku akan menggunakannya untuk menelfon eomma.

                Begitu handphone menyala terpampang bahwa sekarang sudah jam 12 siang. Anak-anak di sekolah pasti sedang istirahat saat ini. Ahh aku jadi ingin pergi ke sekolah. Padahal rasanya jika di sekolah malas sekali.

                Dan ternyata sudah ada 5 pesan belum terbaca di inbox. Langsug saja aku periksa satu persatu.

Pesan pertama,

From: Park Chanyeol

Istirahat yang benar! Awas saja kalau aku lihat kau berkeliaran. Jangan terlalu dipikirkan masalahmu. Pasti akan ada jalan keluar.

Pesan kedua,

From: Byun Baekhyun sunbae

Hey, cepatlah masuk. Si berisik Park Chanyeol ini terus menerus berkata rindu padamu=_=

Pesan ketiga,

From: Park Chanyeol

Jangan percaya pesan dari Baekhyun! Ia berbohong. Sungguh. Mana mungkin aku merindukan orang sepertimu. Ahh iya kalau sudah bangun jangan lupa kabari aku.

Pesan keempat,

From: Yoon Bomi

Eunji-yaa~~! Kapan kau akan masuk? >,< aku merindukanmu! Jangan lupa minum obat dan makan yang teratur. Kau harus cepat sembuh! Harus! Aku akan menjengukmu hari ini, tunggu aku, oke?

Pesan kelima,

From: Park Chanyeol

Jung Eunji, apa kau sudah bangun?

                Aigoo Chanyeol benar-benar mendominasi pesan masuk. Anak ini semakin menyeramkan.

Langsung saja kuketik balasan satu persatu untuk mereka karena tak ada kerjaan. Hasrat ingin buang air perlahan menghilang.

Pesan pertama,

Baiklah pak guru! Tenang saja~

Pesan kedua,

Sumpel mulutnya dengan kaos kaki baumu saja sunbae ‘-‘)b

Pesan ketiga,

Aku tau aku memang gampang dirindukan oleh orang-orang jadi kau tak usah berbohong haha..

Pesan keempat,

AAA! Aku juga merindukanmu, sangat >,< baiklah, aku tunggu!

Pesan kelima,

Park Chanyeol, kau tau cerewet tidak? Inboxku didominan oleh pesan darimu-_- aku sudah bangun, ada apa memang menyuruhku memberimu kabar?

                Tokk… tokk… tokkk…

                “Eunji apa kau sudah bangun?”

                Suara itu. Aku mengenal dengan baik pemiliknya, eomma.

                “Sudah, aku sudah bangun. Masuk saja.”

                Krekk…

                Pintu pun terbuka dan muncul eomma dari sana. Matanya cukup sembab.

                “Eomma menangis?”

                Wanita itu hanya tersenyum. ia duduk di tepi tempat tidurku dan menggeleng.

                “Semalaman eomma tidak bisa tidur. Badanmu panas sekali.”

                Aku terdiam sejenak. “Eomma kau istirahat saja dulu kalau begitu. Aku sudah tidak apa-apa.”

                Sejujurnya kepalaku masih sakit.

                “Sepertinya hal perjodohan bukan sesuatu yang bagus. Dari pada kau sampai seperti semalam. Teman yang mengantarmu juga bilang pada eomma kalau kau sempat berniat bunuh diri. Perjodohannya dibatalkan saja, ya. Perusahaan appa cari cara lain saja untuk melunasi hutang-hutangnya.” Ucap eomma.

                Aku cukup kaget. Antara senang dan kasihan. Jika aku tak punya perasaan saat ini juga pasti aku sudah berteriak dan meloncat-loncat diatas tempat tidur. Bagaimana tidak? Eomma berinisiatif akan membatalkan perjodohannya. Tetapi disisi lain perusahaan appa sedang dalam kondisi keuangan yang tidak stabil. Aku kasihan jika appa harus terus menerus pulang larut malam. Bahkan terkadang ia harus lembur demi tetap bertahannya perusahaan yang sudah dibangun oleh keluarganya turun temurun selama 50 tahun ini.

                Aku berpikir sejenak. Pilihan kini benar-benar berada di tanganku. Kenapa justru disaat seperti inilah pilihan itu ada? Kenapa tidak sejak awal saja agar aku dapat langsung menolaknya tanpa beban pikiran apa pun. Baiklah, aku harus bersikap dewasa. Jung Eunji, kau bukan anak kecil lagi.

                “Eomma…”

                “Hmmm?”

                “Aku kasihan pada appa. Biarlah aku tetap menerima perjodohannya, sebagai seorang anak seharusnya aku dapat balas budi kepada orang tuanya. Kalau kalian senang pasti aku juga senang.” Hampir saja air mataku menetes lagi.

                Wanita di hadapanku mulai berkaca-kaca. “Kau serius? Tetapi kalau kau tertekan atau terpaksa, tidak usah. Itu merusak dirimu sendiri. Eomma tidak mau, appa juga sependapat. Semalam setelah seorang temanmu mengantarmu pulang, eomma dan appa membicarakan ini.”

                “Aku serius eomma, benar-benar serius.” Aku berucap mantap sambil tersenyum tulus.

                Walau hatiku masih ragu. Tetapi namja yang dijodohkan pasti orang yang terpilih, eomma dan appa pasti tidak mungkin memberikanku namja duda atau yang sudah beristri dengan kumis dan jenggot di wajahnya.

                “Terima kasih banyak Eunji, eomma menyayangimu.” Kemudian eomma mendekapku erat dan menangis terharu. Air mataku tak terbendung lagi dan ikut tumpah. Rasa sakit di kepalaku dan sesak di dadaku seakan hilang begitu saja.

                “Berjanjilah kau tidak akan seperti tadi malam.”

                “Ya, aku berjanji.”

Hari itu, aku sudah memutuskan untuk belajar menjadi Jung Eunji yang lebih dewasa. Menerima kenyataan tidaklah terasa menyakitkan seluruhnya. Kebahagiaan itu akan menjadi lebih jika melihat orang lain bahagia karenamu dibanding kau bahagia karena orang lain.

Sorenya Bomi datang ke rumahku. Aku juga sudah menceritakan semuanya pada yeoja itu dan ia cukup kaget. Aku menyuruhnya untuk merahasiakan ini dengan rapat. Tetapi aku yakin Bomi bukanlah orang yang suka menyebarkan rahasia orang lain, terlebih jika itu sahabatnya. Maka dari itu aku percaya padanya. Ia juga yang akan menjadi satu-satunya teman yang aku undang ketika acara pernikahan nanti.

                Malamnya Chanyeol menelfonku hingga larut. Ia bercerita bahwa besok ia akan bertemu dengan seseorang dan ia sangat gugup. Ia takut jika yeoja yang akan ia temui itu nantinya tak bisa menerimanya karena Chanyeol berpikir bahwa ia menyebalkan di mata yeoja tersebut. Tetapi berhubung aku juga sedang gugup akan bertemu seorang namja besok, aku hanya bisa berkata “Semoga kau beruntung, Park Chanyeol.” Dan beberapa kata penyemangat lainnya.  Ia juga melakukan hal yang sama padaku, ia tau aku akan ada pertemuan dengan seorang namja karena tadi aku sempat bercerita padanya juga.

                “Andai namja yang akan dijodohkan denganku, adalah orang yang ku kenal baik. Itu pasti tak akan buruk.” Gumamku di detik-detik terakhir sebelum mataku terpejam dan berjelajah ke dunia mimpi.

~***~

                Malam ini pun tiba, aku dan oppa berjalan berdampingan bersama menuju gazebo di taman belakang rumahku. Keluarga namja yang akan dijodohkan denganku sudah duduk rapih disana bersama eomma dan appa. Aku baru saja dijemput oleh oppa dari kamarku.

                “Astaga, Jung Eunji, saengku akan menemui pangeran beserta calon mertuanya.” Gurau Daehyun oppa.

                Aku menatapnya sengit. “Kalau saja yang dijodohkan oleh keluarga rekan bisnis appa adalah perempuan pasti bukan aku yang jadi korban.”

                “Dan utungnya yang diikuti perjodohan adalah seorang namja. Tuhan memberkatiku.” Namja yang lebih tua 5 tahun dariku ini tersenyum bahagia. Seakan meledekku yang tidak merasa kebahagiaan sedikit pun akhir-akhir ini.

                Tau-tau dari otakku ini keluar perkataan cemerlang yang pasti akan menohokknya.”Eumm.. tidak juga, justru kurasa tuhan lebih memberkatiku. Tidakkah kau malu dengan saengmu ini yang akan segera melangkahimu? Lebih baik nikah lebih cepat atau tidak menikah-nikah juga? Ahh bahkan menemukan pacar saja oppa belum, iya kan?” Sekarang aku yang tersenyum penuh kemenangan ketika melihat tatapan sengitnya. Aku terkekeh.

                Dari jarak beberapa meter aku dapat melihat 6 orang yang sudah duduk di depan meja yang berada di dalam gazebo. Eomma dan appa terlihat begitu akrab dengan sepasang suami istri disana. Sedangkan ada seorang namja yang terlihat begitu tenang dan seorang yeoja lainnya. Aku tak bisa melihat muka namja tersebut mengingat ia yang membelakangi posisiku sekarang.

                Ketika aku dan oppa sudah berada di jalan masuk gazebo, seorang yeoja paruh baya melihat kami. Saat itu juga semua orang di meja tersebut berdiri dan menyambutku. Namja yang terlihat tenang itu sedikit menundukkan kepalanya. Ia belum menunjukkan reaksi apa pun.

                “Hey…” bisik yeoja paruh baya tadi pada anak namjanya yang ada di disebelahnya itu.

                Setelahnya ia langsung menengok kearahku dengan senyuman. Dan seketika seperti tersambar segatan listrik, mataku langsung membelalak melihat namja yang sekarang di depanku ini.Aku masih tak percaya dengan semua yang terjadi belakangan ini, dan sekarang ada kenyataan baru yang lebih mengejutkan. What a surprise!

                Oppa melepaskan genggaman kami dan memberikan tanganku pada namja itu. Namja tersebut kemudian menggenggam tanganku dan menuntunku menuju kursi yang berada berhadapan dengan kursinya. Ia menariknya dan mempersilahkanku duduk. Lalu ia pun ikut duduk di kursinya sendiri. Sampai detik ini aku pun masih bungkam.

                Acara makan malam pun dimulai. Diawali dengan basa-basi dari appa kemudian berlanjut pada obrolan hangat. Yook ahjumma, maid keluargaku, benar-benar menyiapkan masakan yang lezat, tetapi tak ada nafsu apa pun untuk menyentuh bahkan memakannya.

                “Eunji perkenalkan dirimu.” Bisik Jung Hyeyoung, eommaku.

                “A-annyeonghaseyo jeoneun Jung Eunji imnida,senang bertemu kalian.” Aku bangkit kemudian memberi bungkuk 90 derajat dan kembali duduk.

                Dan kini kulihat namja yang ada di depanku ini juga ikut bangkit. “Annyeonghaseo jeoneun Park Chanyeol imnida, senang juga bertemu denganmu Jung Eunji.” Ia juga melakukan hal yang sama denganku.

                “Perkenalkan saya appa dari Park Chanyeol, Park Chungjae. Ini istri saya Lee Misook, dan ini noona dari Chanyeol, Park Yoora.” Lelaki berumur tersebut menunjuk setiap orang yang ia sebutkan secara bergantian.

                “Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik nantinya.” Ujarku sambil memasang senyum.

                Kini appa balik memeperkenalkan anggota keluarganya satu-satu. “Perkenalkan saya Jung Eunseong, ini Jung Hyeyoung ibu dari anak-anak saya yaitu Jung Eunji beserta kakaknya Jung Daehyun.”

                “Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik nantinya, abeoji.” Ucap Chanyeol pebuh wibawa.

                Tsk… pintar-pintarlah kau menjaga image-mu di depan keluargaku, Park Chanyeol.

Park ahjumma kemudian tersenyum. “Kudengar-dengar dari Hyeyoung kau dan Chanyeol satu sekolah ya ternyata. Apakah sudah saling mengenal sebelumnya?”

                “Ahh ne… kami sudah kenal satu sama lain. Chanyeol-ssi adalah subae satu tingkat di atasku.” Aku menambahan akhiran ‘ssi’ agar terdengar lebih sopan. Kan tidak mungkin aku langsung memanggilnya Chanyeol apalagi ini di depan keluarganya.

                “Bagaimana dia di sekolah? Biasanya anak itu di rumah manja sekali.” Tanya Yoora eonni.

                “Eish noona, apa-apaan kau ini.” Chanyeol menyikut noona-nya.

                Kulihat eomma dan Park ahjumma hanya tertawa kecil. Sedangkan appa, Park ahjussi, dan Daehyun oppa sedang asik dengan obrolan bisnisnya.

                “Emmm, kupikir Chanyeol-ssi namja yang sangat baik dan… perhatian.”

                Setelah mengatakan hal seperti itu dengan malu aku melirik kearah Chanyeol. Ekspresinya benar-benar membuatku menyesal telah mengatakannya. Air muka dan seulas seringai meledek itu seakan mengatakan ‘apa kau yakin atas perkataanmu barusan?’.

                “Baguslah. Berarti tidak ada masalah antara keduanya.” Muka Park ahjumma langsung berubah cerah.

                Tidak. Justru ini masalah besar! Kau tidak tau bagaimana anakmu itu di sekolah, ahjumma.

                “Chanyeol ini walau suka manja tetapi satu waktu bisa saja ia menjadi namja yang sangat pintar. Mukanya memang tidak meyakinkan, tetapi otaknya jangan kau ragukan. Jika ada pelajaran yang tidak dimengerti minta ajarkan dia saja. Anak-anak di sekolah sudah banyak yang tau kan?” Park ahjumma dengan semangat memuji anak lelakinya itu. Ya menurut berita yang beredar sih memang seperti itu, namun sejauh aku berinteraksi dengan namja sialan itu belum pernah aku melihat sisi mengagumkan itu. Yang ada hanya Park Chanyeol si namja idiot.

                “Wah, beruntung sekali anakku ini mendapatkan namja seorang Park Chanyeol. Aku jadi merasa lebih lega untuk melepas Eunji.” Eomma juga ikut memuji dengan hangat.

                Aku melirik kearah Chanyeol yang sedang memotong ikan tuna di piringnya terkekeh. Kalau ini bukan acara penting berisi orang-orang penting, sudah  ku lakban mulut mereka semua yang berani memuji Chanyeol hingga kupingku panas.

“Kira-kira kapan bagusnya tangal pernikahan antara Chanyeol dan Eunji?” Park ahjussi mulai ikut dalam pembicaraan ini

                Aku yang sedang meminum minumanku seketika tersedak. Setelah serentetan kata tersebut masuk ketelingaku, otakku seperti error sesaat. Seteguk air yang kuminum malah masuk ke tenggorokan.

                “Gwenchanayo?” Tanya eomma.

                “Ne, aku baik-baik saja.” Aku masih berusaha mengatur napas.

                “Eunji-ssi jangan minum terburu-buru begitu. Kalau terjadi sesuatu padamu, aku akan sangat khawatir.”

                Seakan waktu membeku. Chanyeol dengan senyuman menawannya itu memamerkan perhatiannya padaku di depan keluarga kami. Aku tak habis pikir, bisa-bisanya ia membuatku terpesona sekarang. Kenapa tidak dari dulu saja? Kenapa kau malah mengeluarkan sifat menyebalkanmu di awal pertemuan kita?

                Sejak itu kedua keluarga kami sudah benar-benar yakin dengan perjodohan ini. Ditetapkanlah tanggal 28 September akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidupku dan Park Chanyeol. Tepatnya 2 minggu lagi. Mungkin terlalu mendadak tetapi orang tua kami bilang itu semua bisa diatasi dengan cepat. Jadilah aku hanya bisa berpasrah diri.

Park Chanyeol’s POV

                “Halo, Eunji-ya..”

                “Hey, Park Chanyeol, jelaskan padaku! Apa dunia ini hanya berisi kita berdua? Kemana pun aku pergi bahkan kemana pun takdir membawaku, selalu saja kau yang kutemu dan selalu saja kau orangnya. Apa kau sudah mengetahui bahwa ini adalah perjodohan antara aku dan kau sebelumnya?! Kau nampak begitu tenang ketika melihatku baru memasuki gazebo. Jelaskan! Pasti kau berniat untuk memperlakukanku sesukamu kan ketika kita menikah nanti?!”

                Begitu panggilan telfon dariku tersambung dengan Eunji, yeoja disebrang sana langsung menohokku dengan banyak pertanyaan dan nada bicara  yang meninggi. Membuatku harus menjauhkan telfonnya dari kupingku jika masih ingin memiliki pendegaran yang baik.

                Kutempelkan lagi handphonenya di samping kupingku. Terdengar napas Eunji yang terengah-engah seperti orang yang baru saja lari marathon.

                “Sstt… tenanglah. Kau bahkan seperti mengajakku tawuran ketimbang seperti orang yang sedang meminta penjelasan.”

                “Masa bodo. Cepat jelaskan!”

                Dasar yeoja galak.

                “Baiklah. Pertanyaan pertama, kau punya mata kan? Apa menurutmu di dunia ini hanya ada kita berdua? Kedua, soal takdir, aku sendiri pun tidak tau. Kau tanyakan saja pada tuhan. Ketiga, awalnya kedua orang tuaku tak memberi tau tentang siapa yeoja yang akan dijodohkan denganku. Tetapi ketika aku mengantarmu pulang setelah kau mabuk tempo hari, eommamu ternyata mengenaliku dan menjelaskan bahwa kau lah yeoja itu. Kelima, tidak sama sekali. Memangnya kau pikir aku sebejat itu?” Aku pun menjelaskan dengan panjang lebar sesuai permintaannya.

                “Jadi.. yeoja yang kau maksud di telfon kemarin malam itu aku?”

                “Iya. Aku sudah menduga reaksimu pasti akan seperti ini.”

                “Tentu saja! Bagaimana bisa kubayangkan aku akan menghabiskan sisa hidupku bersama namja menyebalkan sepertimu eoh.”

Aku yang sejak tadi sedang berada di balkon kamarku mulai berjalan masuk karena udara yang sepertinya semakin dingin. Sambil tetap mendengarkan dumelan Eunji di sebrang sana tentunya.

                “Oh tuhan bagaimana bisa aku mendapat calon istri segalak dirimu, pft…”

                Kurebahkan tubuh yang lelah ini diatas kasur empukku. Begitu melirik kearah jam yang tertempel di dinding, waktu sudah menujukkan pukul 11 malam. Acara pertemuan tadi berakhir pukul sembilan dan aku baru sampai di rumah pukul 9.30. Dan Eunji memintaku untuk menelfonnya jika sudah sampai rumah. Katanya ia ingin berbicara hal penting berdua saja karena mungkin tadi kami tak memiliki waktu untuk berbicara empat mata. Aku pun baru ingat beberapa menit yang lalu dan kupikir ia sekarang sudah terlelap tidur. Ternyata begitu kutelfon, belum.

                “Mungkin dosamu terlalu banyak. Eyy tapi aku tak seburuk itu. Sudahlah.. aku langsung berbicara to the point saja. Jadi aku memintamu untuk menelfonmu tadi, aku ingin membicarakan perjanjian.”

                Dahiku mengeryit. “Perjanjian?”

                Ne.. perjanjian sebelum kita menikah.”

                “Baiklah, memang apa saja isinya?”

                “Pertama, tidak ada hubungan ‘anu’.”

                Anu? Entah kenapa seketika perutku terasa geli. Jadi ia sudah berpikir sejauh itu?

                “Kau ini berbicara yang jelas.” Ujarku pura-pura tak mengerti.

                “Aish.. anu maksudku.. ahh kau sebagai namja seharusnya mengerti.”

                “Ambigu sekali sih. Aku tak mengerti.”

                “Dasar bodoh. Maksudku berhubungan intim. Ahh payah sekali, masa begitu saja tidak nalar.”

                “Oh jadi kau berpikir aku akan melakukannya? Jadi kau benar-benar ingin aku melakukannya?” Godaku.

                “A-aniyo! Jangan hancurkan masa depanku.”

                “Kkk~ lagi pula aku tak berniat akan melakukan hal semacam itu. Kau bukan tipeku. Sudah lanjutkan perjanjiannya.”

                “Kau juga bukan tipeku, kok! Baiklah kulanjutkan.. Kedua, tidak mencampuri urusan masing-masing jika yang mempunyai urusan tidak ingin dicampuri. Ketiga, harus membantu satu sama lain dalam mengurus pekerjaan rumah. Keempat, harus bisa diajak kerja sama dengan baik. Kelima, apa pun yang terjadi jangan sampai ada yang tau kalau kita sudah menikah. Bagaimana?”

                “Hanya itu? Geure, I’m deal!”

                Kita-hanya-sebatas-rekan-yang-bekerja-sama-dalam-pernikahan-berencana-ini.

Author’s POV

                Malam keesokannya, Eunji yang sedang bergelut di dalam selimutnya mendapat telfon mendadak dari Bomi.

                “Apa?! Ulangan matematika? Materi baru? Besok? Astaga Yoon Bomi, kenapa baru bilang sekarang?! Aduh bagaimana ini buku-bukuku ada di sekolah. Mana pelajaran jam pertama lagi. Yahh kau juga tahu sendiri kan ketika materi baru diterangkan beberapa hari lalu aku tak masuk… memangnya sulit sekali ya bab ini? Satu kelas tak ada yang mengerti? Bagaimana bisa…”

                Setelah sambungan telfon terputus Eunji kelabakan sendiri. Antara mendatangi sekolah di jam sepuluh malam ini atau merasa masa bodo dan mengerjakan dengan sekenanya saja. Tapi kalau nilainya sejak kemarin yang mulai menurun akan semakin memburuk lagi appa-nya pasti akan menyuruh Eunji berhenti dari mimpinya. Dan tentu saja itu tidak boleh terjadi.

                Tokk… tokk…

                “Masuk.”

                Eunji sedang berjalan mondar-mandir seperti setrika sambil mengacak rambutnya frustasi ketika orang yang mengetuk pintu masuk.

                “Sedang apa kau?”

                Suara itu membuat Eunji terlonjak kaget dan terhempas keatas kasur. Di dapatinya Chanyeol yang sedang dalam balutan baju santai memeluk beberapa buku. Ia juga memakai kacamata minus, menambah kesan nerd yang biar bagaimana pun membuatnya terlihat tetap tampan.

                “Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau?” Gerutu Eunji.

                Chanyeol segera melangkah ke meja bundar di pojok ruangan. Menaruh buku-buku tersebut diatas meja dan duduk di kursinya. Kemudian membuka salah satu buku.

                Sambil membaca rentetan baris di buku itu Chanyeol berkata. “Cepat kemari. Mau dapat nilai bagus tidak dalam ujian besok?”

                Eunji mengeryitkan dahi tak mengerti. Ia tidak mungkin dapat bertelepati dengan namja itu kan? Kalau pun memang bertelepati tetap saja tidak mungkin Chanyeol bisa sampai di rumahnya sepuluh menit setelah telfon terputus.

                “Eommonim menelfon eomma-ku satu jam lalu. Berkata kalau ia mendapat telfon dari Yoon Bomi yang sudah menebak kau belum belajar apa pun untuk ulangan matematika besok. Karena Jung Eunji yang ceroboh tak mengerti dan tak membawa bukunya pulang membuatku harus merelakan waktu yang seharusnya bisa kupakai untuk tidur.”

                Sekarang yang tak Eunji mengerti adalah, bagaimana cara Park Chanyeol dapat menjawab semua pertanyaan di kepalanya bahkan sebelum Eunji mengucapkan sehuruf pun atau melirik ekspresinya.

                “Cepat duduk. Ambil buku kosong dan peralatan menulismu. Untung saja aku masih menyimpan buku tahun pelajaran lalu.”

“Yah tempat pensilku tertinggal di sekolah.”

                Tanpa banyak bicara Chanyeol mengeluarkan tempat pensilnya kemudian mengambil pulpen dari sana. Eunji heran setengah mati. Seharusnya kalau ada situasi seperti ini ia pasti akan mengejekku habis-habisan.

                Dengan ragu Eunji menuruti perintah Park Chanyeol satu per satu. Ragu-ragu Eunji melihat wajah Chanyeol sangat serius pada buku itu. Tatapannya tajam. Baiklah, ini bukan Park Chanyeol yang dikenalnya. Eunji harus segera mengusir makhluk asing ini.

                “S-siapa namamu?”

                Seketika Chanyeol mengalihkan pandangan dari  buku berjudul ‘Matematika Kelas 2’. “Park Chanyeol.”

                “Siapa nama dua teman baikmu di sekolah?”

                “Byun Baekhyun dan Kim Jongdae.”

                “Dimana kita pertama kali bertemu? Dan apa yang terjadi?”

                “Di pesawat ketika menuju Korea dari Amerika. Kau orang yang duduk di sebelahku. Kita lalu bertengkar selama di pesawat karena kau menumpahkan minuman ke selimutku. Cukup introgasi tidak bergunamu?”

Eunji tak bisa berkata-kata lagi. Jawab terakhir memang kenyataan yang sejauh ini hanya mereka yang mengetahui. Namun masih saja Eunji berpikir, orang ini kesambet? Berkat tatapan serius Chanyeol Eunji bergidik ngeri.

Sambil iseng ia mengambil buku lain dan mencari bab yang besok akan diuji. Ternyata itu adalah buku khusus kumpulan soal yang tak ada keterangan rumusnya sama sekali. Semua soal yang ada disitu membuat kepala Eunji berputar. Anak-anak di kelas yang sudah diajarkan saja tak mengerti apa lagi aku yang belum diajarkan. Nol besar.

Chanyeol yang melihat Eunji meringis juga memperlihatkan raut wajah frustasi langsung merebut buku itu dari pandangan Eunji. “Jangan lihat soalnya dulu. Kau bisa terserang menbung (mental breakdown).”

                “Oke kita mulai. Coba kita perhatikan soal ini. Rumus di bab ini memang lebih rumit dan puncak dari materi kelas dua. Kau harus mencampurkan rumus a, rumus b, dan rumus c yang masing-masing jika dijabarkan cukup panjang dan rumit.”

                Eunji bertopang dagu. Ia memperhatikan Chanyeol yang menurutnya seratus delapan puluh derajat berbeda.

                Chanyeol terus serius menjelaskan. Tangannya mencoret-coret buku kosong itu dan mempraktikan bagaimana cara menyelesaikannya. “Tetapi dulu aku diajarkan cara alternatif, sebut saja rumus d.”

                Eunji yang tadinya terfokuskan pada kepribadian Chanyeol kini mulai beralih pada apa yang sedang dijelaskan.

“Hanya perlu mengambil rumus a bagian awal, rumus b bagian tengah, dan rumus c bagian akhir, lalu gabungkan. Tidak perlu memakai keseluruhan bagian dari satu rumus. Ini pindahkan kesini, hitung semuanya, dan… selesai!”

Kini otak Eunji yang tadinya gelap mulai terang benderang. “Astaga, semudah itu? Kalau begini aku mengerti.”

Chanyeol mengangguk. Ia menyodorkan pulpen berkepala beruang kecil yang baru diambilnya lagi dari kotak pensil pada Eunji. “Coba kerjakan nomor satu sampai sepuluh dari soal yang ada di buku latihan tadi.”

“Wahh pulpennya lucu sekali. Buatku boleh?” Selain otaknya, kini matanya ikut berbinar hanya karena pulpen itu.

“Enak saja. Itu pulpen kesukaanku.” Sergah Chanyeol.

Eunji meringis sebal. Mana mungkin Park Chanyeol yang sebegini rupa menyukai pulpen berkepala beruang? Lalu mulai mengerjakan sesuai yang ia tangkap. Terkada ketika Eunji ada yang keliru Chanyeol langsung mengarahkan lagi.

Chanyeol yang merasa Eunji sudah dapat mengerjakan sendiri mengalihkan kegiatan menatap sekeliling ruangan. Ia kemudian terpaku pada boneka beruang putih yang berukuran sangat besar di dekat tempat tidur.

“Kau menyukai boneka beruang?”

Eunji masih fokus mengerjakan. Hanya membalas pertanyaan itu dengan anggukan singkat.

“Kenapa? Padahal masih banyak boneka binatang lain seperti babi, kelinci, kangguru…”

“Hmm… boneka beruang itu menggemaskan, muka mereka polos, juga dengan tangan yang selalu merentang itu  mereka seperti sedang berkata ‘apa kau ada masalah? Atau rindu seseorang? Kalau begitu peluk aku saja!’. Setelah benar-benar berpelukan, keempukan mereka dan kelembutan bulu imitasi itu akan menenangkan pikiranmu secara otomatis. Walau bisu dan tak hidup, namun ia adalah teman curhat terbaik, menurutku. Bagi seorang perempuan kebanyakan, hal seperti itu adalah daya tarik. Apalagi kalau sampai ia mendapatkan hal semacam itu dari kekasihnya. Mereka akan berpikir ‘apa namja­-ku khawatir ketika kami sedang tak bisa sering bertemu dan berpelukan, maka dari itu ia memberikan boneka ini agar aku selalu teringat padanya?’.”

Chanyeol mengangguk mengerti. Meski dengan takaran yang berbeda-beda tetap saja wanita menyukai hal berbau kenak-kanankan dan manis. Tak dapat dipungkiri, Jung Eunji pun seorang wanita seperti itu walau berperangai sedikit keras di depan orang-orang.

Setelah setengah jam berlalu, “Ini songsaenim tugasku.” Ucap Eunji formal seakan ia sedang berhadapan dengan guru sungguhan.

Chanyeol memeriksa dengan seksama. Begitu meneliti.

“Kau masih ingat rumus-rumus tahun kedua?”

“Tentu saja, beberapa bulan lagi aku harus menghadapi ujian akhir. Sama saja namanya aku bosan hidup jika tidak juga bersiap. Ah tidak, sebenarnya tanpa kubahas ulang pun aku masih ingat.”

“Jujur saja aku tak mau mengatakan ini, tapi kau saat ini terlihat sangat… pintar seperti yang sering orang-orang bilang.”

“Jangan memujiku.”

“Kata siapa memuji? Aku mengatakan… eee… fakta. Tapi kutarik lagi sajalah perkataanku barusan. Tidak berefek apa pun juga karena kau pasti sudah mendapat pujian semacam itu hingga kenyang dari banyak orang.”

“Sampai bubur berubah lagi menjadi beras pun kenyataannya tak ada perkataan yang dapat ditarik lagi jika orang itu sudah mendengarnya.” Sepertinya kalau kertas latihan Eunji adalah seorang yang hidup, ia akan merasa cemburu saat itu juga ketika Chanyeol beralih darinya ke Eunji dengan tatapan lebih intens.

Kalau di saat begini baru terlihat pintar. Ternyata benar kata orang-orang. Tapi kenapa tidak dari awal saja bersikap seperti ini padaku? Pasti kami tak pernah terlibat dalam adu mulut bahkan pertengkaan tak penting. Dengan begini seharusnya Chanyeol sadar siapa pun bahkan aku dapat bersikap enggan dan lebih menghormatinya. Terkadang beberapa orang cerdas itu juga sering berpikir pendek.

Eunji yang mulai sadar kalau mereka bertatapan terus sejak beberapa detik lalu tersadar duluan. “Ekhemm…”

Setelah itu Chanyeol kembali pada aktifitas sebelumnya.

                Tiba-tiba saja Eunji merasa matanya berat.

                Beberapa menit berikutnya Chanyeol sudah selesai memeriksa kertas latihan Eunji. “Murid pintar, tak ada yang salah. Ternyata kau tak sebodoh yang kukira, cepat menangkap…”

                Karena tak mendapat respon Chanyeol menengok. Ternyata yeoja itu tertidur dengan kepala yang berada diatas meja dan mukanya menghadap Chanyeol. Chanyeol terseyum sendiri melihat pemandangan itu.

                “Babo gom (beruang bodoh),  jaljayo.” Chanyeol membisikkan kata itu di telinga Eunji dan terkekeh sendiri. Entah orang yang dibisikkan mendengar atau tidak, yang pasti kini senyuman terukir di wajah tenang Eunji.

                Ia mengambil pulpen berkepala beruang yang masih Eunji pegang lalu mengamatinya. Saat itu Chanyeol mendapatkan benda ini dari permainan demi seseorang yang pernah ia cintai. Mati-matian Chanyeol mengambil pulpen ini yang tinggal satu-satunya di mesin permainan itu. Namun pada akhirnya tidak seperti yang diharapkan, gadis itu, Yejin, sudah terlanjur bukan miliknya lagi.

                “Hey pulpen, kurasa aku sudah menemukan seseorang yang lebih pantas menjadi pemilikmu. Esok hari, jadilah keberuntungan untuknya.”

                Chanyeol menyobek kertas lalu menuliskan sesuatu di sana. Tau tau Chanyeol malah ikut merasa ngantuk.

Park Chanyeol’s POV

                Pindah ke tanah air sendiri sudah kupikirkan matang-matang. Meninggalkan negri paman sam dan segala memori disana. Sudah cukup pengalamanku. Sudah cukup hubunganku dengan gadis itu, Kim Yejin. Kuharap kembalinya aku ke Korea, kehidupan yang lebih baik menghampiri.

                Aku sudah duduk di kursi pesawat sejak tadi begitu pesawat ini menjadi ramai. Posisi kursiku di dekat koridor sedangkan bangku yang terletak dekat jendela masih kosong. Beberapa orang berdesak-desak di koridor pesawat karena ramai.

                Padahal masih pagi tapi moodku sudah jelek karena Yejin masih saja mengirim sms dan telfon padaku berkali-kali. Dasar tak tahu diri.

                Udara musim dingin menuju musim semi masih sangat menusuk. Walau sudah memakai jaket dan menghidupkan penghangat udara bagianku tetap saja terasa dingin. Pilihan terakhir adalah memakai selimut yang tersedia. Tidur dengan kacamata hitam kurasa akan lebih menyenyakkan.

                Ketika sedang memejamkan mata sambil menunggu pesawat take off, entah apa yang terasa panas dan cair menyentuh tubuhku yang terbalut selimut biru ini.

                Mataku terbuka tepat saat seorang gadis berkacamata hitam juga memekik. “Oh god! Sorry, I’m very sorry. Someone nudged my drink. Are you okay, sir?”

                 Ahh sial! Tuhan ini masih pagi mengapa sudah menguji kesabaranku. Kulepaskan kacamata hitamku kemudian menatapnya tajam.

“Hey! Kau bisa lebih berhati-hati tidak sih? Memegang minuman saja tidak becus, dasar bodoh!” Karena kesal kata-kata yang keluar dari mulutku berbahasa Korea, tidak formal pula. Tanpa memperdulikan orang itu mengerti atau tidak.

Gadis berkaca mata hitam itu melepas kacamata hitamnya dengan kasar. Ternyata wajah gadis itu memiliki model yang satu tipe denganku. Wajah orang-orang Asia Timur.

“Oh orang Korea juga toh, tapi kau pikir kau ini siapa?! Kenal juga belum sudah berani berteriak ‘hey’ padaku. Kau diajarkan sopan santun tidak oleh orang tuamu?! Setidaknya walau aku memang salah  jangan seperti ini. Aku kan sudah mengaku salah dan meminta maaf. Huh manusia tak berguna!” Ia balik berseru dan mengumpat padaku menggunakan bahasa Korea tidak formal juga.

Aish jinjja yeoja ini…” Geramku tertahan.

Kalau memang salah seharusnya lebih sabar!

“Sudahlah, orang sepertimu sepertinya tak pantas mendapat pertanggung jawaban. Aku akan mencari kursiku dan tak akan menemuimu lagi. Selamat tinggal.” Ia hendak melangkah pergi lagi jika tidak melirik kearah tiket pesawat yang dipegangnya kemudian melihat nomor kursi di sampingku. Mata sipitnya mengerling.

“Sial! Nasib sial!” Umpatnya.

Wae?” Tanyaku sarkatis.

“Singkirkanlah sedikit kaki panjangmu itu. Aku harus duduk disana.” Jawabnya menunjuk objek yang tadi ia pelototi.

“Tidak mau. Cari saja cara lain. Orang sepertimu sepertinya tidak pantas membuatku membuang sedikit saja energiku yang berharga ini.”

Namja sialan!” Ia menendang kakiku yang sedang berselonjor, tepatnya di tulang kering dengan kencang.

                Rasanya… seperti sudah sampai di neraka! Spontan kakiku terangkat ke atas kursi.

“Akhhh! Yeoja gila.”

“Terima kasih tuan.” Ia langsung melenggang lewat dan duduk di sampingku.

Dengan kesal kulemparkan selimut yang sudah basah dengan aroma kopi ini ke mukanya. Aku tertawa dalam hati.

Yeoja itu mengambil selimutku yang jatuh di pangkuannya dengan perlahan sambil tersenyum. Kemudia menoleh padaku masih dengan senyuman misterius itu. Sejurus kemudian tangannya menjejalkan selimut kotor itu kemukaku.

“Rasakan ini!!!”

“Lepaskan..” Pintaku susah payah karena susah bernapas.

“Berjanji dulu tidak akan macam-macam beberapa jam kedepan.”

“Iya… iya!”

“Sungguh?”

“Sungguh, demi tuhan..”

“Baiklah.”

Rasanya tak ada lagi yang lebih baik di bumi ini dari pada dapat bernapas dengan leluasa. Namun tatapan tapan tajam sedang menyambutku. Langsung saja aku memakai kembali kacamataku dan membalikkan badan memunggungi yeoja gila itu.

                Pesawat pun lepas landas. Aku mulai tertidur dengan nyenyak. Namun udara dingin terus mengusik dan membangunkanku walau penghangat sudah tersetel hingga maksimal.

                Ketika seorang pramugari yang sedang membawa selimut lewat aku bertanya, “Is there any blanket left?”

                “Oh sorry sir. This is the last one, for a kid over there.”

                Aku mengangguk singkat dan pramugari itu pun pergi. ini semua karena yeoja itu aku jadi tak bisa tidur. Kutengok monster disamping ini yang ternyata sedang memejamkan mata. Sebuah selimut menutupi sampai lehernya. Enak saja, setelah membuat orang lain sengsara bisa-bisanya ia tertidur dengan tenang.

                Karena sudah sangat kedinginan aku rampas saja selimut yeoja ini. Ternyata ia belum tertidur sepenuhnya. “Mau apa kau?!”

                “Mau selimutnya!”

                “Tidak bisa!”

                Kami pun saling tarik menarik dan tak ada yang mau mengalah.

                “Sudahlah, pakai berdua saja. Kau kedinginan aku pun juga sama. Setidaknya bertanggung jawablah sedikit karena kejadian tadi. Lagipula selimut ini kan cukup besar untuk bisa dipakai berdua.” Tegasku.

                Akhirnya ia melunak dan kami tidur dibawah selimut yang sama. Berjam-jam dunia berwarna hitam hingga seorang pramugari membangunkanku. Aku tersadar bersama rasa berat di bahuku.

                “These are your food. I think you should wake your couple up for lunch.” Pramugari itu meletakkan dua makanan di meja kami masing-masing.

                Tunggu couple? Maksdunya yeoja ini? Tentu saja bukan!

                Aku menengok kearah samping. Ternyata beban berat yang terasa sejak tadi itu kepalanya.

                “From a honeymoon trip?” Tanya sang pramugari.

                Honeymoon katanya? Mataku melebar. “N-no..” ucapku terbata dan malah sudah diselak terlebih dahulu.

                “Why ‘no’? Both of you seem match and cute. I know you’re a new couple of husband and wife. Don’t be shy, congratulation.

                Setelah berkata begitu sang pramugari berjalan lagi untuk mengantar makanan. Sok tahu sekali orang itu. Aish… yeoja ini pakai bersandar di bahuku segala. Harusnya dari awal kupilih first class saja biar lebih leluasa bangkunya, tak seperti kelas ekonomi begini.

                “Hey! Bangun, makan!” Aku mengguncang tubuhnya.

                Tiba-tiba suara aneh masuk mengenai gendang telingaku. Entah apa dan dari mana, namun suara itu semain lama-semakin keras. Kejadian di pesawat hilang seketika dan digantikan oleh pemandangan kamar seseorang.

                Butuh beberapa detik setelah mengerjapkan mata aku baru sadar kalau tadi adalah kilas balik dalam bentuk mimpi, kejadian pertama kali aku dan Eunji bertemu. Tangan, leher, dan punggungku terasa pegal karena tidur dalam keadaan yang tidak nyaman.

Kulihat Eunji masih dengan muka tenangnya tertidur. Namun mulai menunjukkan gerakkan-gerakkan yang tandanya ia sedang dalam tahap menuju kesadaran karena alasan yang sama denganku. Suara berisik itu.

                Aku menoleh kearah lain mencari sumber suara agar Eunji tak terbangun sekarang. Ini belum waktunya. Ternyata itu adalah ponselku yang ada di atas meja berdering. Aku mengangkatnya. Dari eomma.

                “Anakku, cepatlah pulang dan bersiap untuk sekolah. Eomma tunggu di rumah untuk sarapan, ne?”

                “Eomma berbicara apa sih? Sarapan di malam hari?” Tanyaku bingung.

                “Apanya yang malam hari? Aigoo… senyenyak itukah kau tidur di rumah Eunji? Ini sudah jam lima pagi anak muda.”

                “Ahh jinjja?” Aku mencari keberadaan jam dinding. Ternyata benar saja, sudah jam lima lewat. “Yasudah aku akan segera pamit pulang. Annyeong.”

                Padahal rasanya hanya memejamkan mata sebentar malah jadi bermalam disini. Begitu melirik kearah Eunji lagi yang kembali pulas jadi tak tega jika ia harus mengerjakan ulangan dengan badan sakit-sakit. Masalahnya, kalau nilainya jelek maka sia-sia juga aku datang bahkan sampai tertidur disini.

                Perlahan aku mengangkat tubuh Eunji dan menggendongnya ke kasur. Barulah sesudah itu aku pergi keluar untuk pulang sambil membawa buku-buku dan tempat pensil.

Jung Eunji’s POV

                Pagi hari aku terbangun di atas kasur. Sinar dari jendela yang gordennya sudah tersibak menyeruak masuk ke mataku. Tunggu, terakhir yang kuingat kan aku sedang menunggu Chanyeol memeriksa kertas latihanku.

                “Selamat pagi, Eunji-ya.”

                Aku melirik kearah sosok yang sedang menyibak gorden. “Selamat pagi eomma.”

                “Kau dan Chanyeol belajar dengan baik kan semalam? Eomma senang sekali saat melihat kalian, teringat masa muda eomma dan appa-mu itu. Tertidur bersama diatas meja yang sama, aigoo….” Eomma berkata dengan riang.

                “Mwo? Ahaha eomma apanya yang tertidur bersama? Chanyeol sudah pulang sejak tadi malam pasti.”

                “Ani, kalian tertidur bersama di atas meja. Eomma melihatnya sendiri ketika mengantarkan camilan. Karena kalian terlihat lucu eomma jadi tak tega membangunkan dan meminta izin pada Misook ­–eomma Chanyeol –agar anaknya diperbolehkan bermalam disini. Baru saja Chanyeol pulang satu jam lalu.”

                “Kalau aku tertidur di meja, lantas kenapa aku terbangun di atas kasur?”

                “Oh, Chanyeol bilang ke eomma tadi kalau sebelum pulang ia memindahkanmu ke kasur agar tidak sakit-sakit ketika bangun nanti. Namja yang baik, kau beruntung. Yasudah, eomma tunggu di bawah untuk sarapan bersama.”

                Eomma berjalan keluar dan meninggalkanku sendiri. Beruntung? Kenapa setiap orang yang mengetahui soal perjodohanku dengan Chanyeol akan berkata kalau aku beruntung? Aneh.

                Aku pun beranjak menuju kamar mandi. Namun seketika langkahku berhenti di depan meja bundar dan menemukan selembar kertas dan pulpen berkepala beruang yang kuminta namun tak Chanyeol kasih.

                Aku sudah berbaik hati datang ke rumahmu di malam hari untuk mengajarimu ulangan besok. Awas saja kalau nilaimu jelek. Karena aku orang yang pintar, seperti katamu, maka aku tak mau menikah dengan orang bodoh. Ingat itu. Oh ya, pulpen beruang itu, ambilah. Anggap saja sebagai lucky charm. Semoga beruntung!

                “Apa-apaan dia? Hanya karena kupuji sekali sekarang malah mengata-ngataiku. Tsk… tapi, gomawo Park Chanyeol.”

~***~

Shin songsaenim membagikan kertas ulangan. Seluruh murid di kelas mulai mengerjakan. Aku mengerjakan 20 soal itu dengan lancar. Kepala beruang pada pulpen yang kupakai bergerak-gerak seiring dengan bentuk-bentuk huruf dan angka. Waktu yang diberikan adalah satu jam, namun aku sudah dapat mengerjakan hingga tuntas hanya dalam waktu setengah jam. Selagi menunggu waktu selesai, aku memperhatikan murid lain yang sedang sibuk berbisik-bisik mencari contekan. Kasihan sekali.

Sepulang sekolah ternyata Shin songsaenim mampir kembali ke kelasku. Ulangan tadi sudah diperiksa. Do Kyungsoo si ketua kelas membagikan kertas ke pemilik masing-masing. Semua yang mendapatkannya langsung muram. Tak ada yang diatas standar. Namun ketika tinggal sisa satu kertas di tangannya, si mata bulat itu memekik.

                “Jung Eunji, bagaimana bisa mendapat nilai sempurna?!”

                “Apa?” Teriak satu kelas serempak. Kemudian mereka langsung mengerumuni kertas ulanganku.

                Aku sendiri juga tak percaya kalau itu memang sempurna sebelum sampai ke tanganku sendiri. “Kau pasti salah lihat. Mana mungkin sem…” Begitu kurebut kertas itu dari Kyungsoo, barulah aku percaya “purna..”

                Aku merasa sangat senang bisa mendapat nilai sempurna di antara nilai-nilai di bawah standar itu. Rasanya seperti kau paling menjulang tinggi. Dengan hati senang aku memasukkan kertas itu kedalam tas. Lalu membereskan peralatan menulisku.

                “Apa ini benar-benar lucky charm?” Aku memandang pulpen pemberian Chanyeol sejenak dan tersenyum.

~***~

                Begitu sampai rumah aku langsung mengambil kertas ulanganku dari tas dan memotretnya dengan ponsel. Foto yang terambil kukirim ke nomor erates namakan ‘Park Chanyeol’.

Bwayo (lihatlah)! Nilai sempurna. 100

                SEND

                Tak lama ternyata balasan sudah masuk ke inbox.

Tak memberiku bayaran? Di dunia ini tak ada yang gratis.

                Dasar menyebalkan. Bukannya memberi selamat malah menagih imbalan.

Memang dari awal siapa yang memintamu mengajariku, huh?! Minta saja bayaran pada eommaku. Tak tahu diri, manusia tak berguna, seharusnya kalau tak ikhlas bilang dari awal-_-“

                Sepertinya orang di sebrang sana sedang stand by dengan ponselnya, karena ponselku tak lama sudah bergetar lagi.

Dari pada kau, manusia sok berguna 😛

                Pulanglah ke neraka setan bernama Park Chanyeol!

.:To Be Continue:.

Remember, RCL!

Gimana part 2 nya? Lebih ngebosenin kah? u,u

Sebelumnya mau minta maaf banget baru update sekarang, masalahnya dari kemaren belum ada feel buat ngelanjutin nih ff. Hampir aja terbengkalai lagi kayak ffku yang lainnya hehe…

Yaudah, ditunggu aja ya part 3 nya.

Bye! ❤ /pergi bareng Chanyeol/

26 responses to “Like a Pair of Shoes (Part 2)

  1. ada bagian yg ngingetin aku sama full house dan playfull kiss, yg kejadian di pesawat itu aku jd keinget sama jieun yg gk sengaja numpahin sup ke kemeja yongjae trus yg tidur berdua di atas meja itu keinget seungjo yg ketiduran di meja bareng hani. Tapi bagus kok. Kamu jadi ngingetin aku sama drama2 jadul itu hahaha XD ngomong2 kamu line berapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s