(Un)Fated Scene [Part 5]

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan dari lanjutan epep yang kemaren. Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini. Happy Reading ~ ^^

Title: [Un]Fated

Author: chandoras

Cast: Oh Sehun, Park Cheonsa(OC)

Genre: Romance, angst, sad, AU

Rating: PG-15

Poster: hyunji

Previous : Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 |

Disclaimer: Originally slipped out of my mind. Plagiarize is strictly prohibited.

NOTE : LONG PART! Diharapkan gak bosen bacanya ya:)

***

Aku baru saja sampai di rumah saat Sehun tiba-tiba menarikku ke dalam kamarnya. Ia sepertinya baru sampai juga karena napasnya begitu terengah-engah.

“Dompetku, kau menyimpannya kan?” tanyanya to the point.  

Aku mengangguk patah-patah karena kaget dan sedikit takut. Bagaimana kalau ia tahu bahwa aku telah membuka-buka benda tersebut seenaknya?

Aku segera mengeluarkan dompet itu dari dalam tas dan memberikannya pada Sehun. Ia menerimanya dan memeriksa isinya dengan seksama. Seperti takut kehilangan sesuatu. Kudengar ia menghembuskan napasnya lega begitu menyadari tak ada sesuatu yang hilang.

“Terima kasih,” ujarnya sembari menepuk bahuku pelan. Ia kemudian berjalan menuju pintu tergesa-gesa dan membukanya. Langkahnya terhenti sejenak saat ia menyadari genggaman tanganku pada lengannya. Ia akhirnya menoleh padaku dan memandang mataku yang menatapnya khawatir.

“Kau..mau kemana?”

Sehun mengalihkan pandangannya pada lantai. Ia kemudian melepaskan tanganku yang masih menggenggam lengannya perlahan. “Kerja sambilan. Kau tentu tahu kan?”

Aku tak berani menanyakan hal lainnya meski hatiku menginginkannya. Kuanggukkan kepalaku dan berusaha tersenyum. “Eo, baiklah. Hati-hati..” ujarku pelan.

Kulihat tangan Sehun terangkat sejenak, namun ia kembali menurunkannya. Tanpa mengucapkan apapun lagi, ia melanjutkan langkahnya. Aku akhirnya masuk ke dalam kamar Sehun dan duduk di kasurnya. Kubaringkan badanku di atasnya sembari memeluk bantal yang dipenuhi dengan wangi khas Sehun.

Aku merindukannya. Meski baru saja bertatap wajah dengannya, aku masih merindukannya. Hari ini ia sama sekali tak menggenggam tanganku. Bahkan saat tadi aku menahan lengannya, ia melepaskan tanganku begitu saja. Ia menghindariku.

Kemana perasaan ini akan membawaku? Mungkinkah Sehun menghindariku karena perasaanku padanya begitu terlihat?

“Uh..” aku merasakan air mataku mengalir begitu saja. Tangisku kini cepat terpancing bila menyangkut segala hal tentang Sehun. Kakak tiriku itu sudah berhasil merajai emosiku.

Aku semakin erat memeluk bantal Sehun. Memenuhi rongga paru-paruku dengan wanginya yang terkesan seperti musk dan kayu manis. Sebuah ide untuk mendatangi tempat yang tadi kutanyakan pada Chanyeol akhirnya datang. Pikiran itu sebenarnya sudah ada sejak aku turun dari bus tadi, namun keberadaan Sehun barusan membuatnya terlupakan sejenak.

Aku bergegas keluar dari kamar Sehun dan mengganti bajuku dengan setelan yang sesungguhnya tak begitu nyaman kukenakan. Aku harus menggunakan baju-baju seperti ini jika ingin mendatangi tempat itu. Kaus putih tanpa lengan dan jaket kulit hitam, berpadu dengan celana jeans ketat yang membentuk lekuk tubuhku dengan jelas. Aku menyambar tasku dan buru-buru keluar dari rumah sebelum kedua orangtuaku yang sedang mengobrol di halaman belakang rumah melihat sosokku yang jelas akan mengundang berbagai pertanyaan.

Setelah menaiki subway dan keluar dari stasiun, aku melirik jam tanganku dan menemukan bahwa sekarang sudah jam 8 malam. Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri karena belum juga menemukan tempat yang kutuju. Tempat yang kuyakini sebagai tempat Sehun kini berada. Kakiku asal melangkah mengikuti instingku dan akhirnya membawaku pada tempat dengan dengan papan nama bertuliskan ‘Loveholic’ di depannya. Nama yang sama dengan yang tertulis di kartu milik Sehun.

Sebuah perasaan tak enak tiba-tiba muncul di perutku. Ini pertama kalinya aku melangkahkan kakiku ke tempat-tempat seperti ini setelah aku mencapai batas umur yang dibolehkan. Melihat papan nama host bar tersebut membuat perutku bergejolak aneh. Meski begitu, tetap saja aku membuka pintu masuk bar itu dan mengabaikan segala perasaan tak enak itu.

BGM yang diputar dalam bar itu langsung menyambutku bersamaan dengan datangnya seorang pria tampan dengan senyumnya yang ramah. Ia bertanya padaku apakah aku pelanggan baru atau seorang reguler. Dengan pipi bersemu merah, kukatakan padanya bahwa ini kali pertama aku datang kemari.

“Aah..tapi kau tentu tahu ini tempat macam apa, bukan?” Ia kembali menanyaiku karena tak yakin melihatku yang mungkin tampak seperti anak kecil yang tersesat.

Aku mengangguk dan ia tertawa kecil. “Baiklah..ayo kuantar kau ke dalam,” ujarnya sembari berjalan di sampingku. Ia kemudian menjelaskan sedikit tentang mekanisme pemesanan minuman di tempat ini padaku. Aku menelan ludahku begitu mengetahui harga rata-rata menu disini. Uang sakuku selama sebulan kedepan bahkan tak cukup untuk membayar harga minuman termahal disini. Aku menghela napasku lega karena aku memiliki kartu kredit yang memang sudah disiapkan oleh eomma jauh-jauh hari sebelum aku kuliah. Kurasa tak apa bila aku menggunakannya sekarang, bukan?

“Ah ya, namaku Luhan. Kau bisa memanggilku dengan nama itu,” ujarnya dengan senyum manisnya. “Bila kau butuh bantuan atau keluhan, kau bisa sampaikan padaku. Dan kau..”

“Ch-Cheonsa..”

“Cheonsa-ssi, nama yang bagus. Kau tak keberatan bila tempat yang tersedia hanya bar? Mejanya sudah penuh, ah..atau kau mau pesan booth?”

Booth? Ruangan pribadi itu? Ia pasti bercanda. Aku berani bertaruh harga sewa ruangan itu tentu akan membuat bill-ku semakin mahal.

“Tidak. Ergh, aku rasa di bar saja sudah cukup.”

Luhan mengangguk dan membawaku ke salah satu sisi bar yang kosong. Ia kemudian mempersilakanku untuk duduk di atas kursi tinggi yang tersedia. “Aku harus pergi, nanti kau akan ditemani oleh pria lain yang jauh lebih tampan daripadaku. Have fun.” Ia mengedipkan sebelah matanya, membuatku mengangguk patah-patah karena kikuk akan sikap manisnya.

Setelah Luhan pergi, mataku mulai menyusuri pemandangan di sekitarku. Beberapa meja tampak ramai dengan dua sampai lima orang wanita yang tertawa-tawa sembari meminum wine atau cocktail ditemani dengan pria-pria tampan seperti Luhan.

Aku kemudian melirik dua wanita yang berada di samping kanan dan kiriku. Mereka juga sedang sibuk mengobrol dengan pria-pria yang duduk di samping mereka. Pria-pria itu memiliki wajah menawan, senyum memikat, serta perbendaharaan kata yang begitu manis. Namun tetap saja, bagiku itu bukan hal yang benar bagi mereka untuk sekedar menjadi teman mengobrol dan minum bagi para wanita yang nampak kesepian itu. Mereka memiliki kesempatan untuk memiliki hidup yang lebih baik dari ini.

Hello, miss..first time I guess, huh?” suara berat bartender yang berada di hadapanku membuat lamunanku buyar. Aku melirik nametag yang melekat di dada kirinya. Kris.

“Uh, ya..”jawabku dengan semburat merah pada pipiku. Apa wajahku ini terlihat amatir sekali?

Bartender itu kemudian menunjukkan skillnya memutar-mutar botol dengan tangannya yang terampil. Aku rasa bibirku sudah menganga kalau tanganku tak menutupinya. Ini luar biasa, seperti yang sering kulihat di film-film.

Wajah Kris bisa dikatakan sangat diatas rata-rata. Rambut pirang dengan tubuh semampai. Otot-otot lengannya terlihat jelas, dengan kulit putih tanpa cacat. Bibirnya merah dan hidungnya sangat mancung. Ia sama sekali tak seperti orang Korea.

Kris menaruh segelas cocktail di hadapanku dengan warna biru jingga yang nampak cantik. “Hadiah untuk pelanggan baru yang manis,” ujarnya kemudian.

Aku memutar bola mataku menghindari tatapan matanya yang terkesan menggoda. Eomma pasti akan membunuhku bila ia tahu aku digodai di tempat seperti ini. Dengan gugup, aku meraih gelas tersebut dan meneguk isinya. Berbagai rasa tropical bercampur dengan alkohol memenuhi mulutku. Sedikit aneh menurutku.

Kris tertawa kecil melihat tingkahku. Sejurus kemudian, pria tinggi itu menjetikkan jarinya kearah ruangan di belakang bar. Ia menunjukku dengan gestur kepalanya, seperti memanggil seseorang untukku. Ah..jadi host yang menemaniku akan datang?

Seorang pria dengan mata sipit dan wajah sedikit bulat menghampiriku tak lama kemudian. Ia duduk di sampingku dan menundukkan kepalanya. “Hai, aku Xiumin. Aku yang akan menemanimu disini, keberatan?”

Bingung hendak menjawab apa, aku hanya menganggukkan kepalaku. Xiumin tersenyum dan menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, “Kau belum mengenalkan dirimu, nona..”candanya.

“Aku..Cheonsa..uh, maaf ini kali pertama—“

“Tak apa, aku justru senang menemani para pelanggan baru. Jadi..kau sendirian kemari?”

Aku menganggukkan kepalaku. Tujuan utamaku datang ke tempat ini tiba-tiba teringat kembali. Bukankah aku harus mencari Sehun? Mengapa aku malah sibuk dengan diriku sendiri dan melupakannya? Meski tak ada bukti ia berada disini, instingku mengatakan bahwa ia memiliki hubungan dengan tempat ini. Kartu nama di dompetnya itu yang menjadi buktinya.

 “Sebenarnya..aku sedang mencari seseorang disini,” ujarku jujur. Xiumin menaikkan kedua alisnya, “Oh ya? Mungkin aku bisa membantumu. Boleh kutahu siapa namanya?”

Aku menimang-nimang dalam hati sebelum akhirnya menyebutkan nama Sehun. Pria di hadapanku itu tersenyum saat mendengar jawabanku. “Jadi kau salah satu penggemar Oh Sehun? Woah..anak itu benar-benar..”

“Eh?”

“Aku tahu..aku tahu..kau pasti datang ke tempat ini karena kau diberi tahu ada seorang pria tampan bernama Oh Sehun. Anak itu masih baru namun banyak sekali pelanggan yang ingin bersamanya. Tapi aku sedikit kasihan padanya..wanita-wanita itu selalu memaksanya ikut minum bersama mereka..makanya kubilang padamu bahwa aku suka melayani pelanggan baru. Itu karena aku tak begitu suka banyak minum.”

Xiumin mungkin tak tahu bahwa sejak ia secara tak langsung mengatakan bahwa Sehun ada disini, mataku sudah sibuk menyapu seluruh ruangan ini. Berusaha menemukan sosoknya yang belum terlihat juga.

“Hei..hei..wah..rupanya aku benar-benar tak kau hiraukan. Cheonsa-ssi, ia akan tampil saat dance show nanti. Kau tak perlu terburu-buru..”

“Dance show?”

Xiumin menganggukkan kepalanya. Ia menjelaskan bahwa para host bar disini tak hanya harus memiliki wajah tampan, namun juga talent. Sehun adalah salah satu penari terbaik di bar ini ia bilang.  Aku tak pernah tahu bahwa ia bisa menari. Tentu saja, kapan aku mengobrol dengannya sejauh itu? Hubungan kami rasanya belum pantas untuk sampai pada obrolan mengenai hal-hal seperti itu. Saat kami bersama pun, kami lebih banyak diam. Aneh bukan?

Sambil menunggu dance show, aku memesan sebotol wine dengan harga paling murah. Rasanya itu sebuah keharusan untuk mengajak host yang menemanimu untuk minum, karena itu aku memesannya. Xiumin dengan senang hati menuangkan wine ke dalam gelas dan mengajakku bersulang.

Aku mengerutkan dahiku begitu minuman beralkohol itu menyentuh lidahku. Ini pertama kalinya aku meminum wine. Bahkan aku belum pernah meminum soju sebelumnya. Aku hanya pernah meminum bir kaleng. Itupun tak banyak.

“Jangan bilang ini kali pertama kau meminum wine?” Xiumin bertanya sembari menopang dagunya menatapku. Wajahku memanas karena rasa malu dan juga pengaruh alkohol. Tampaknya ia sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya hanya dengan melihat kedua pipiku.

“Kau manis sekali..mau berkencan denganku di luar tempat ini?”

“Eh?” Aku membulatkan mataku begitu mendengar pertanyaannya tadi.

“Aku serius. Aku suka gadis-gadis polos sepertimu.”

Karena mereka bisa kau bodohi, begitu? “Maaf, aku tak nyaman dengan obrolan ini,” ujarku jujur. Kalimatku barusan efektif membuat Xiumin mengangkat kedua bahunya dan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Okay, aku minta maaf..mau kutuangkan lagi minum?” Ia mengangkat botol wine dan hendak menuangkan isinya ke dalam gelasku, namun aku menolaknya. Aku tak mau mabuk malam ini. Aku harus bertemu dengan Sehun.

Mataku tiba-tiba menangkap seorang wanita mabuk mencium host yang menemaninya. Host bar itu nampak tak nyaman namun ia hanya bisa tersenyum getir saat wanita tersebut memasukkan beberapa lembar uang pada sakunya. Mungkin tip. Aku memalingkan wajahku dari mereka dan bertemu dengan tatapan Xiumin. “Kaget?” tanyanya.

Aku berdeham tak nyaman sebelum akhirnya mengangguk. Xiumin tertawa kecil, seperti menertawakan anak SD yang tertangkap basah bersembunyi saat main petak umpet. “Itu hal yang sangat wajar jika kau berada di tempat ini. Apalagi bila pelanggan itu memang sedang mabuk, kami harus siap menghadapi perlakuan apapun. Dicium, dibentak, atu bahkan dimuntahi,” jelasnya.

Mataku membulat mendengar penjelasannya. “Berarti kau..”

“Tentu saja pernah. Semuanya pernah kurasakan. Hampir semua host bar disini mengalami hal yang sama, termasuk..Sehun.” Ia mungkin bermaksud untuk menggodaku dengan membawa-bawa nama Sehun, tapi hal itu malah membuatku berpikir serius tentangnya.

Sehun. Dilecehkan seperti itu. Aku tak terima.

Suara musik hip-hop dan R&B tiba-tiba terdengar dari arah lantai bawah dimana dance floor berada. Aku melempar pandanganku pada Xiumin. Pria itu mengangguk kecil. Ia kemudian turun dari kursi tingginya dan membantuku turun juga. “Ayo kuantar,” tawarnya.

Sorot lampu gemerlap membuat mataku terganggu dan hampir menyebabkanku jatuh terjerembab di lantai kalau saja Xiumin tak sigap menahanku. Ketika aku menoleh padanya, ia tersenyum menertawakanku, “Hati-hati, Cheonsa-ssi..”

Kami akhirnya berdiri tepat di depan panggung. Seorang DJ dengan headphone di telinganya sudah siap di panggung belakang. Saat musik diputar, dari sisi kiri dan kanan panggung muncul beberapa orang pria yang kemudian langsung menari dengan lincahnya. Mataku berusaha menemukan Sehun di antara pria-pria itu. Dan dengan bantuan telunjuk Xiumin di sampingku, aku akhirnya berhasil melihatnya.

Sehun tampak sangat berbeda ketika sedang menari. Tatapan matanya, gerakan tubuhnya, hentakan kakinya. Semuanya tampak begitu menyilaukan. Bagiku, setiap gesturnya kini seperti sebuah karya seni paling mahal di dunia. Masterpiece yang ingin kumonopoli seorang diri. Mataku terus mengikuti pergerakannya sementara jantungku berdebar keras.

Ketika kudengar beberapa wanita di sampingku meneriakkan nama Sehun, aku seperti ditarik kembali dari dunia khayalanku ke dunia nyata. Seperti yang dikatakan Xiumin, ternyata Sehun memang populer. Detik itu aku merasa kalah. Terkucilkan. Kenyataannya, aku memang tak akan bisa memilikinya. Status adik-kakak ini membuatku seperti kalah bersaing dari wanita-wanita itu.

Rasa sakit di hatiku semakin mengena saat aku sadar pekerjaan macam apa yang Sehun geluti saat ini. Host bar. Seperti Xiumin dan Luhan yang baru aku temui hari ini. Menuangkan minum, menemani mengobrol, merayu pelanggan..betapa aku sadar bahwa pekerjaan itu rendah sekali. Seperti menjual diri hanya untuk kepuasan wanita-wanita yang bahkan tak dikenalnya. Jujur, aku kecewa dan kasihan padanya. Apakah tak ada pekerjaan lain yang bisa ia ambil?

Saat musik berhenti dan tarian selesai, para penonton bertepuk tangan riuh. Para host bar yang tampil di panggung itu membungkuk dan melambaikan tangannya. Kulihat wajah Sehun tetap datar seperti biasanya.

“Dan sekarang..game time!” Luhan yang ternyata menjadi MC malam ini mengumumkan acara selanjutnya yang diikuti oleh sorakan semangat para penonton.

Okaaayyy~ so this is Peppero Game time!”

Semua penari tersebut berdiri berjajar dan diberikan satu batang coklat peppero. Aku merasakan rasa tidak nyaman pada perutku begitu melihat permulaan game ini. Saat aku melemparkan pandangan mataku pada Sehun, kudapati pria itu sedang balik menatapku juga.

Ia seperti terkejut menemukanku di tempat ini, namun matanya tampak datar dan tak berusaha menunjukkan percik keterkejutannya lebih jelas. Aku merasakan kekecewaan di dadaku saat Sehun mengalihkan pandangannya dariku. Pria ini, rupanya ia benar-benar sedang mengacuhkanku.

Beberapa wanita yang ditunjuk acak oleh MC satu persatu mulai naik ke atas panggung. Mereka semua berdiri berhadapan dengan para penari yang tampil, termasuk Sehun. Saat wanita yang berpasangan dengan Sehun menggamit lengannya dengan mesra, aku merasakan mataku mulai memanas.

“Xiumin-ssi..sepertinya aku akan pulang sekarang,” ujarku pada Xiumin ditengah-tengah hingar bingar ini. Aku tak tahan lagi melihat Sehun jika seperti ini caranya.

“Wae? Kenapa terburu-buru sekali?” tanyanya heran.

“Aku..ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Ergh..maaf, aku pamit.”

Aku buru-buru meninggalkan Xiumin dan segera naik ke lantai atas. Saat Luhan memberikan aba-aba untuk memulai game, seluruh penonton berseru-seru ramai. Aku memutar kepalaku ke belakang penasaran hanya untuk menemukan Sehun dan pasangannya yang sedang menggigit sebatang coklat peppero bersamaan hingga tinggal setengahnya.

Tak sanggup melihat kelanjutan dari game tersebut, aku menolehkan kepalaku balik dan bergegas melangkah ke arah Kris yang standby di balik bar.

“Tidak ikut bersenang-senang di bawah?” tanyanya begitu melihatku muncul di hadapannya.

Aku menggeleng dan meletakkan credit card ku di atas meja. “Ada sedikit urusan. Aku..harus pergi,” jawabku sembari berusaha agar gemetar di suaraku tak terdengar. Hatiku kini benar-benar sedang bergejolak dan pita suaraku mau tak mau terkena imbasnya.

Kris mengedikkan kedua bahunya dan menggesek kartu tersebut sebelum akhirnya menyerahkannya kembali padaku. “Terima kasih. Semoga malammu menyenangkan.”

Aku mengangguk tanpa bicara dan segera keluar dari bar tersebut. Kakiku terasa semakin lemas saat melangkah menuju stasiun. Setelah membeli tiket dan masuk ke dalam kereta, air mataku akhirnya meluncur tak tertahankan. Aku menyandarkan kepalaku pada kaca jendela dengan sungai yang masih mengalir di kedua pipiku.

Pada akhirnya, aku menyesal telah datang ke tempat itu.

 Apakah aku menyesal telah jatuh cinta pada Sehun? Soal itu aku masih tak bisa menjawabnya.

***

“Darimana kau Park Cheonsa?” suara dingin eomma menyambutku saat aku baru saja memasuki rumah. Ruang tamu sudah gelap dan eomma berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangannya yang bersilang di depan dadanya.

Aku tak berani menjawabnya dan melirik jam bulat berwarna hitam yang tergantung di dinding. Jam duabelas malam lewat. Setelah turun dari kereta, aku tak langsung pergi meninggalkan stasiun dan malah duduk sendirian di peron lebih dari sejam. Hal itu yang membuat aku baru sampai di rumah sekarang.

“Jawab aku Cheonsa.” Eomma kembali berujar karena tak kunjung mendengarku berbicara. Aku melepas sepatuku dan berjalan menghampirinya. “Dari rumah teman,” jawabku berbohong.

Eomma menatap penampilanku dari kepala hingga ujung kaki. Ia kemudian menamparku tepat di pipi. Hal yang membuatku kaget bukan main. Selama hampir dua puluh tahun hidupku, belum pernah aku ditampar olehnya.

“Aku tak suka kau berbohong. Naiklah ke kamarmu sebelum aku lebih marah dari ini.”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap eomma dengan mata yang berkaca-kaca. Hari ini rasanya kacau sekali. Tak cukup dengan Sehun, bahkan eomma juga membuatku menangis. Aku tahu, ia pasti kecewa padaku. Entah darimana dan bagaimana caranya, namun sepertinya ia tahu bahwa aku telah mendatangi tempat yang sangat tak ia sukai.

Tanpa mengajukan perlawanan, aku menuruti perintah eomma dan bergegas naik ke lantai dua. Saat aku melihat kamar Sehun yang terbuka, kakiku entah mengapa tertarik masuk ke dalamnya. Aku jatuh terduduk di atas kasurnya dengan air mata yang kembali mengalir. Kepalaku akhirnya bersandar pada bantalnya dan aku membiarkan mataku terpejam karena rasa lelah.

Entah berapa jam aku tertidur di atas kasur Sehun sampai suatu sentuhan lembut terasa menyapu pipiku. Aku juga merasakan seluruh tubuhku sudah tertutupi oleh selimut hangat yang dipenuhi dengan wangi tubuh Sehun.

Saat aku membuka kedua mataku, kulihat sosok Sehun sedang duduk di pinggiran ranjang. Ia menatap wajahku dengan senyum yang entah mengapa terkesan menyedihkan. Saat tatapan kami berdua bertemu, senyumnya tiba-tiba pudar dan ia bangkit dari duduknya untuk beranjak pergi. Aku buru-buru menggenggam tangannya erat untuk menahannya. “Kkajima,” bisikku memohon padanya.

“Tidurlah. Aku akan tidur di bawah.” Sehun tak mengindahkan permintaanku dan berusaha untuk melepaskan genggaman tanganku.

 Menyadari bahwa tenagaku jelas jauh lebih lemah darinya, aku menyerah dan melepaskan tanganku. Ia menoleh padaku dan menatapku lama sebelum akhirnya berujar, “Lain kali jangan pernah datang lagi ke tempat itu.”

Aku tersenyum getir. Apa ia tidak tahu bahwa aku kesana karena aku mengkhawatirkannya? Merindukannya? Tidakkah ia lihat raut wajahku saat ia memulai peppero game dengan wanita yang tak kukenal itu?

“Kau sendiri? Inikah alasan kau selalu pulang malam setiap harinya? Inikah alasan kau muntah-muntah pagi tadi? Demi menuangkan minum dan mabuk bersama wanita-wanita itu?” Aku bertanya dengan nada sinis padanya untuk pertama kalinya. Tak pernah sebelumnya aku merasa seemosi ini.

Sehun menatapku tajam. Ia kembali berjalan mendekatiku yang masih terduduk di atas kasurnya. “Kau pikir kau siapa? Jangan kira kau bisa mencampuri hidupku hanya karena aku beberapa kali berhutang padamu!”

BRAK!

Ia menggebrak meja belajarnya dengan keras, membuatku terlonjak kaget. Mataku tanpa sadar mengeluarkan air mata. Refleks mungkin.

 “Kau..sudah masuk ke dalam kehidupanku terlalu jauh. Mundurlah. Kau tahu bahwa aku bukan seperti yang kau pikirkan selama ini.” Suara Sehun terdengar melunak sedikit. Mungkin karena ia melihat air mataku.

Sehun membalikkan tubuhnya dan membuka pintu. Ia baru selangkah keluar dari kamarnya saat aku tiba-tiba memeluknya dari belakang. “Maaf. Maafkan kata-kataku barusan. Kau tahu bahwa aku khawatir padamu,” bisikku lirih.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Sehun. Ia tahu bahwa kalimatku belum selesai. Namun, tetap saja ia melepaskan kedua lenganku yang melingkarinya. Aku kecewa sekali. Ia menghindari kontak mata, kontak badan, atau apapun yang berhubungan denganku. Kenyataannya, aku memang merindukan segala sentuhannya. Apakah menginginkan sentuhannya seperti ini sama artinya dengan murahan? Jalang? Aku tak peduli.

“Aku tak tahu apa alasanmu mengacuhkanku seharian ini..aku bahkan tak mengerti apa salahku sebenarnya. Seandainya aku melakukan kesalahan, kau bisa mengatakannya padaku..”

Sehun menghela napasnya panjang, “Tidak ada yang salah padamu, dan juga tak ada alasan untuk kau mengkhawatirkanku lagi. Kurasa ini waktunya untuk kau mundur menjauhi garis hidupku.”

Aku menggelengkan kepalaku tak mengerti. Setelah semua kejadian ini, ia memintaku untuk mengacuhkannya? Bagaimana aku bisa melakukannya bila aku telanjur menyukainya? Semudah itukah ia menyuruhku untuk menjauh dari hidupnya?

“Tapi kenapa?” Aku bertanya dengan nada frustasi. “Kenapa setelah semua ini—“

“Hutang ceritaku padamu sudah lunas. Kau menolongku dua kali dan aku bercerita padamu dua kali. Kurasa itu impas. Tidurlah, ini sudah sangat malam. Besok kita harus kuliah.”

Setelah mengatakan itu, Sehun benar-benar pergi meninggalkanku. Aku jatuh terduduk di atas lantai kamarnya. Kakiku mendadak kehilangan kemampuannya untuk menopang berat badanku. Aku memegang dadaku yang terasa sakit sebelum akhirnya menangis entah untuk yang keberapa kalinya. Ternyata, cinta lebih menyakitkan daripada yang kukira.

***

Setelah kejadian malam itu, suasana sarapan pagi esok harinya terasa begitu hening. Aku dan Sehun yang saling menghindari, juga eomma yang masih mendiamkanku. Yang sesekali berbicara hanya abeoji, itupun bukan kepada kami, melainkan pada lawan bicaranya di telepon.

Kukira perang dingin antara aku dan Sehun hanya sehari atau dua hari. Namun kenyataannya, ini sudah memasuki minggu kedua kami saling mendiamkan satu sama lain. Tak pernah lagi ia menjemput atau mengantarku. Bukan karena ia tidak menawarkan, tapi karena aku juga yang tak mau. Sekarang ini aku selalu berangkat dan pulang lebih awal. Eomma melarangku pulang di atas jam sembilan malam selama sebulan penuh terhitung sejak aku pergi ke Host Bar dulu. Ini bentuk hukuman darinya karena aku telah melanggar kepercayaannya.

Soal darimana ia bisa tahu bahwa aku pergi ke host bar ternyata didapat dari teman sekantornya yang kebetulan sedang berada disana malam itu. Mata-mata eomma ternyata banyak.

Meski tampak baik-baik saja, aku merasa hidupku seperti mayat hidup. Hari-hari terasa kosong. Malam-malamku dihabiskan dengan lamunan-lamunan yang kemudian berakhir dengan linangan air mata.

 Jika ada satu kata yang bisa mendeskripsikan bagaimana isi hatiku, maka ia adalah sakit. Aku sakit melihat sosok Sehun dari kejauhan. Sakit saat mendengar derit pintunya di malam hari. Sakit saat mendengarnya—yang ternyata—menggeram menahan kesakitannya sendirian. Dan juga..sakit saat melihat ia masih bisa tertawa bersama teman-temannya di kampus. Tampaknya dari kelima teman-temannya itu, tak ada yang tahu betapa sulit hidupnya Sehun di luar kampus.

Menyadari bahwa aku tak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Sehun, maka aku memutuskan untuk menyibukkan diriku sendiri. Setidaknya dengan ini aku bisa mengalihkan pikiranku barang sekejap saja darinya. Berbagai kegiatan dan seminar aku ikuti. Diskusi-diskusi setelah kuliah aku hadiri. Bahkan aku mencoba masuk ke dalam klub-klub hobi dan organisasi lainnya. Seori yang melihat perubahan drastis ini akhirnya bertanya padaku saat waktu makan siang, “Cheonsa-ya..neo gwaenchana?”

Aku yang hendak menyuapkan sesendok nasi pada mulutku mendadak menghentikan gerakanku. “Wae? Aku baik-baik saja, Seori-ah..”

“Tidak. Kau..ini bukan kau yang biasanya. Sejak kapan kau suka mengikuti diskusi-diskusi mengerikan itu? Oh, sejak kapan pula kau jadi sering ikut seminar? Yaa~ kau harus bercerita padaku!”

“Aku..hanya ingin mencobanya saja..entahlah, menyibukkan diri kurasa..”

Seori tampaknya menangkap raut wajahku yang memuram tiba-tiba. Ia menepuk bahuku pelan dan tersenyum, “Bersemangatlah. Kau bisa bercerita padaku kapan saja, eo?”

Aku terpaku mendengar kata-katanya barusan.Deja vu. Itu kalimat yang sama dengan yang pernah kukatakan pada Sehun dulu.

“Aku tak apa-apa, sungguh.” Aku meletakkan sendokku kembali ke atas piring. Tak jadi menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutku. “Ah, aku harus pergi sekarang kurasa. Diskusi di perpustakaan akan segera dimulai.”

Seori menatapku bingung yang buru-buru berdiri setelah meneguk habis segelas jus jeruk. “Ya! Makananmu belum habis—“

“Kalau kau mau ambil saja!” seruku sembari berlari pergi meninggalkannya. Bisa kudengar decakan kesal Seori setelahnya yang membuatku sedikit merasa bersalah karena meninggalkannya di tengah-tengah makan siang seperti ini.

Satu hal yang aku lupa, perpustakaan pusat yang menjadi tempat diskusi kali ini terletak persis di depan gedung Art Department. Aku tak pernah lagi mau lewat di depan gedung departemen satu ini untuk menghindari pertemuan dengan Sehun. Aku hanya takut rasa sakit di hatiku semakin parah karena aku terlalu sering bertemu dengan pria itu tanpa kuasa untuk menggapainya. Aku benar-benar hanya bertemu Sehun di pagi hari saat sarapan. Selebihnya, tak pernah.

Melihat begitu banyak mahasiswa yang berseliweran di sekitar kompleks yang kutuju, aku menghela napasku lega. Ini masih jam istirahat siang. Kurasa diantara begitu banyak orang, sosoknya tak akan mudah kutemukan. Baguslah.

Aku baru saja memasuki perpustakaan saat tiba-tiba seorang pria yang sedang mengobrol dengan temannya menabrakku. Badanku limbung ke belakang dan nyaris terhempas ke lantai jika tak ada sepasang lengan yang menahanku. Saat aku menoleh ke belakang untuk melihat sosok pemilik sepasang lengan tersebut, mataku bertemu dengan sepasang manik coklat yang kuhindari sekaligus kurindukan selama dua minggu ini. Manik milik seorang pria bernama Oh Sehun.

Rasanya aku ingin waktu berhenti detik ini juga. Membiarkan tatapan mata kami terkunci satu sama lain dengan tangannya yang merengkuh bahuku lembut. Merasakan deru napasnya menyapu wajahku perlahan. Merekam dalam pikiranku betapa tegas garis-garis wajahnya serta tulang rahangnya, lantas membingkainya dengan bait-bait puisi tentangnya.

Aku baru sadar bahwa ini kali pertama aku bertatap wajah dengannya sedekat ini selama dua bulan lebih kami saling mengenal. Meski aku pernah memeluknya beberapa kali, hal seperti ini tak pernah terjadi. Saat dimana kami hanya saling memandang wajah satu sama lain dengan hanya dibatasi oleh jarak sekepal tangan.

Aku tak bisa berbohong bahwa aku tak menikmati keadaan ini. Maka saat semua gerakan slow motion ini terhenti dan digantikan oleh layar realita, secercah rasa kecewa muncul di hatiku. Sehun melepaskan kedua lengannya segera setelah ia membantuku untuk berdiri tegak. Tak sempat aku mengucapkan rasa terima kasihku padanya karena ia benar-benar langsung meninggalkanku di depan pintu perpustakaan setelah ia menolongku.

Sehun benar-benar mempermainkan hatiku. Disaat aku berusaha keras menghindarinya, sosoknya hadir begitu saja tanpa dosa. Sementara saat aku berniat selangkah mendekatinya, ia kembali berjalan seribu langkah menjauhiku. Bagaimana rasanya hatimu dibuat naik turun oleh seorang pria kini sudah aku rasakan.

Aku akhirnya berjalan memasuki perpustakaan dengan langkah lesu. Meski tadi aku sudah berharap untuk tidak bertemu dengan Sehun, Tuhan tetap menghadirkan sosoknya seolah tak mendengar permintaanku. Takdir terkadang memang senang mempermainkanmu.

Diskusi akhirnya kuikuti dengan pikiran yang tak fokus. Beberapa kali lenganku disenggol oleh teman sebelahku karena aku tak menyahut saat namaku dipanggil untuk memberikan pendapat. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku pada seisi forum untuk meminta maaf. Dengan terbata-bata kusampaikan argumen singkatku sekedar untuk memberi kesan bahwa aku setidaknya mendengarkan mereka.

Setelah hampir dua jam, diskusi akhirnya selesai. Aku menghembuskan napas panjang sembari merapikan barang bawaanku.

“Park Cheonsa!” Kim Jongdae, pimpinan diskusi barusan tiba-tiba memanggilku tepat saat semua orang sedang tak berbicara.

“Nde?” Aku menjawabnya dengan sedikit gugup karena semua orang kini mengarahkan perhatiannya padaku.

“Jika kau sedang tidak konsentrasi, sebaiknya kau tak usah mengikuti diskusi. Kau tahu kan bahwa kami tak pernah memaksa setiap anggota untuk hadir pada setiap sesi diskusi?” tanyanya dengan nada yang sedikit terdengar menyindir.

Aku mengangguk dan menundukkan kepalaku untuk meminta maaf sekali lagi. Menyebalkan sekali. Apa perlu menegurku di depan semua orang seperti ini? Memalukan.

Aku akhirnya keluar dari perpustakaan dengan perasaan jengkel. Kakiku kini melangkah menuju halte untuk menunggu bus. Saat aku sudah berada di halte tersebut, ponselku tiba-tiba berdering. Aku mengeluarkan benda itu dari dalam saku dan melihat caller ID yang terpampang pada layarnya. Eomma.

“Yeoboseyo, wae eomma?”

“Ini abeoji, Cheonsa-ya..” suara berat itu menjawab panggilanku dan membuatku sedikit terkejut. “ Ponselku mati, jadi aku memakai ponselnya,” jelasnya kemudian.

“Aah..ne. Wae geuraeseyo, abeoji?”

“Aku dan eommamu harus ke Daegu sore ini juga. Paman Sehun sedang sakit, ia ingin bertemu denganku. Aku tadi sudah menghubungi Sehun, namun ponselnya tak aktif. Bisa kau sampaikan hal ini padanya?”

“E-eh? Oh ya, tentu saja..nanti akan kuberitahu hal ini padanya,” ujarku sedikit berbohong. Bertemu dengannya saja aku tak berani, bagaimana bila harus berbicara dengannya?

“Oh, dan satu lagi, besok anak itu berulang tahun. Kau harus mengucapkan selamat padanya. Sesama saudara harus saling perhatian, bukan?”

Aku termenung begitu mengetahui bahwa besok adalah hari ulang tahun Sehun. Benar juga, aku hampir lupa. Kami pernah saling memberitahu tanggal lahir saat obrolan pertama kami dulu. Lalu? Apa aku sungguhan harus menyelamatinya? Berpura-pura bahwa perang dingin selama seminggu lebih ini tak ada? Itu akan nampak bodoh sekali.

“Cheonsa-ya? Kau masih mendengarkanku?” tanya abeoji karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“A-ah..ya, maaf tadi sinyalnya sedikit buruk.” Aku mulai mengarang alasan untuk menutupi kenyataan bahwa aku melamunkan Sehun barusan. “Aku..pasti akan mengucapkannya abeoji, jangan khawatir,” jawabku yang menambah daftar kebohonganku hari ini.

“Baiklah, kami harus berangkat karena eommamu sudah selesai mengepak bajunya. Baik-baik di rumah. Maaf kalian tak bisa ikut..besok kalian masih harus kuliah, bukan?”

Aku mengiyakan dengan gumaman pelan. Setelah meminta abeoji untuk berhati-hati di jalan, aku memutuskan panggilan tersebut. Berbagai hal segera muncul memenuhi benakku. Bagaimana cara berbicara dengan Sehun, bagaimana mengucapkan selamat ulang tahun padanya, apakah aku harus memberikannya hadiah, dan sebagainya.

Suara deru bus yang berhenti di depanku membuat pikiranku buyar. Aku menghela napasku dan segera masuk ke dalam bus tersebut. Sudahlah, soal pria itu nanti saja kupikirkan lagi..

***

Aku terbangun saat malam ini terdengar suara erangan dari kamar yang tepat berada di seberang kamarku. Ia pasti sedang kesakitan lagi. Aku sudah mencoba mencari di internet dan bertanya-tanya pada beberapa orang, mereka bilang bahwa rasa sakit seperti itu biasanya dialami oleh yang ketagihan atau yang sedang dalam masa rehabilitasi. Aku berharap Sehun berada di kondisi kedua. Jangan sampai ia masih menggunakan obat-obat terlarang itu.

Jam keroppi yang menggantung di dinding kamarku menunjukkan pukul 01.50. Seketika aku teringat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Sehun. Mungkin orang yang berulang tahunnya sendiri malah tidak mengingatnya karena ia tengah dilanda kesakitan. Aku akhirnya bangun dari kasurku dan melangkah menuju pintu kamar. Kuputar kenop pintu dengan sangat pelan hingga nyaris tak ada suara yang terdengar.

Saat kubuka pintu kamarku, Sehun bersamaan keluar dari kamarnya. Melihatnya, aku hendak masuk ke kamarku lagi, namun aku tak bisa. Ia sudah terlanjur melihatku. Akan sangat mencurigakan bila tiba-tiba aku masuk lagi ke dalam kamar seperti itu.

Awalnya, kami hanya saling diam di tempat masing-masing. Pandanganku terarah pada kantung matanya yang semakin menghitam. Ia pasti sangat lelah. Kutebak ia baru pulang dari kerja sambilannya. Aku mengepalkan tanganku erat dan, “Gwaenchana?” pertanyaan itu akhirnya meluncur dari kedua bibirku.

Ia hanya mengangguk kecil dan kemudian melangkah menuju kamar mandi begitu saja, meninggalkanku yang masih berdiri di depan kamarku. Aku menggigit bibirku dan mencoba mengatur nafasku. Sampai kapan pria ini akan mengacuhkanku?

“Eomma dan abeoji sedang ke Daegu. Pamanmu..sakit, itu yang abeoji katakan padaku sore tadi..”

Sehun menghentikan langkahnya sejenak. Kukira ia hendak mengatakan sesuatu, namun ternyata ia tak melakukannya dan malah masuk ke dalam kamar mandi. Aku menarik napasku dalam-dalam dan melepaskannya perlahan. Aku menyerah.

***

Paginya, aku memutuskan untuk memasak sup rumput laut sebelum aku berangkat ke kampus. Kuletakkan sup tersebut di atas meja makan beserta dengan beberapa potong sandwich yang kubuat untuk sarapan. Meski aku membuatnya, namun aku tak memakannya. Aku sedang tidak lapar pagi ini.

Beserta makanan-makanan itu, aku meninggalkan sebuah memo post-it berwarna kuning yang kuletakkan di atas meja pula.

Selamat ulang tahun. Semoga kau semakin sehat. Dan..semoga kau bisa membagi ceritamu padaku lagi.

–Cheonsa          

Aku tak tahu ia akan memakannya atautidak, namun setidaknya ia harus tahu bahwa aku peduli padanya. Bahwa masih ada orang yang menganggapnya berharga dalam kehidupannya.

Dan ia adalah aku.

***

“Ah, kau sudah datang.”

“Apa ia tak apa-apa?”

 

Suara kedua orang yang bercakap-cakap itu samar-samar menelisik telingaku. Aku membuka mataku perlahan dan menemukan langit-langit putih di atasku. Dimana ini?

 

“Aku tak tahu. Ia tiba-tiba pingsan saat jam kuliah selesai. Wajahnya memang pucat sejak tadi pagi.”

“…”

 

Ah benar juga, aku pingsan. Mungkin ini di klinik kampus.

 

“Ia terlihat sangat kacau akhir-akhir ini. Kurasa ia terlalu memaksakan diri. Semua kegiatan ia ikuti. Aku agak khawatir..ini seperti bukan Cheonsa yang biasanya.. Ah, kalau begitu aku pulang duluan, tak apa? Aku masih ada keperluan lain.”

“Ah, ya..terima kasih..”

 

Terdengar suara langkah kaki mendekat. Pemilik langkah kaki tersebut kemudian menyibak tirai yang mengelilingi ranjangku. Aku menoleh ke arahnya dan menemukan sosok Sehun yang berdiri di sana. Ia nampak terkejut melihatku yang sudah terjaga.

“Kau sudah bangun?” tanyanya pelan.

Aku berusaha tersenyum dan mengangguk kecil. Kepalaku rasanya sangat pening. Mungkin ini efek dari tak makan seharian ditambah dengan jadwal padat yang aku ikuti. Sehun kemudian mengambil segelas air mineral dari dispenser dan membantuku bangun sebelum akhirnya meminumkan air tersebut.

“Kau harus makan,” ujarnya sembari menyodorkan sepotong roti padaku. Aku menggeleng lemah. Lidahku terasa pahit. “Aku mau pulang,” pintaku padanya.

“Kondisimu masih lemah. Makanlah roti ini, baru kau kuantar pulang.” Sehun tetap bersikeras menyodorkan roti coklat itu. Aku menolak lagi untuk kedua kalinya. Ia akhirnya duduk di atas ranjang dan menyuapkan sobekan roti itu ke dalam mulutku. Aku cukup kaget saat tiba-tiba ia menyuapiku seperti tadi. Akhirnya, mau tak mau aku mengunyah roti tersebut.

Kakak tiriku itu tersenyum sekilas dan terus menyuapiku dengan sabar. Aku merasakan dadaku berdesir melihat senyumannya. Sikap perhatiannya ini tak pernah hilang. Ia masih saja sama, meski kami sedang saling tak berbicara satu sama lain.

“Sehun..” panggilku setelah roti yang ia berikan sudah habis.

Ia mendongak dan menatapku. “Hm?”

“Kau akhirnya berbicara lagi denganku..”

Sehun mengalihkan pandangannya ke bawah dan tak mengatakan apapun. Sejurus kemudian, ia bangkit dari duduknya, “Aku akan mengurus kepulanganmu dulu. Tunggu aku.”

Aku mengangguk meski kecewa karena ia tak membalas perkataanku. Kudengar ia berbicara dengan dokter jaga klinik di luar. Aku bergegas bangun dari ranjang, namun baru saja berdiri, kepalaku rasanya berputar hebat. Tanganku mencengkeram besi pinggiran ranjang untuk menahan tubuhku agar tidak jatuh.

“Cheonsa!” Sehun yang baru masuk kembali ke dalam ruanganku langsung sigap menangkapku. Ia membantuku berdiri dengan lengan kanannya yang mendekap kedua bahu belakangku. Posisi lengannya mau tak mau membuat kepalaku bersandar pada bahunya kanannya.

“Aku bilang tunggu aku. Kenapa kau begitu terburu-buru?” Ia menuntunku berjalan pelan-pelan. Kami akhirnya keluar dari klinik. Beberapa pasang mata nampak memandangi kami sepanjang koridor. Bukan kami, tapi Sehun lebih tepatnya. Wajah pria itu memang selalu mengundang perhatian para gadis. Dan aku entah mengapa merasa beruntung dapat berjalan di depan mereka dengan berada dalam dekapannya.

“Kau tak kerja sambilan? Aku buru-buru karena mengingat kau harus kerja,” ujarku saat kami mencapai mobil yang terparkir di depan klinik.

Sehun tak menjawabku. Ia malah membukakan pintu dan membantuku masuk ke dalam mobil.

“Kau sakit. Itu alasan yang cukup untuk tidak masuk kerja, “jawabnya setelah ia masuk ke dalam mobil juga. Lagi, aku dibuat tersanjung dengan perhatiannya ini.

Mobil yang kami kendarai menderu pelan sebelum akhirnya meninggalkan halaman parkir klinik kampus. Kembali tak ada pembicaraan di antara kami berdua selama perjalanan. Aku hanya bisa membungkam mulut hingga kami berdua sampai ke rumah.

Sehun kembali membantuku berjalan. Ia menuntunku pelan-pelan dan menyejajari langkahnya dengan langkahku yang begitu lambat. Sampai saat kami melewati ruang makan, mataku menangkap semangkuk sup rumput laut yang kumasak untuknya tadi pagi sudah kosong. Ia memakannya. Sehun memakan sup buatanku. Benar, aku sempat lupa bahwa ini adalah hari ulang tahunnya.

“Sehun..” Aku menghentikan langkahku dan menoleh padanya.

Ia ikut menghentikan langkahnya pula dan balas menatapku. “Wae?”

“Saengil chukkae..”

Ia hanya tersenyum tipis mendengar ucapan selamat dariku. Setelah itu, ia membawaku naik ke kamar—tanpa membahas lebih lanjut tentang perihal ulang tahunnya. Aku tak mengerti. Kenapa ia bersikap setengah-setengah seperti ini padaku? Ia memang berbuat baik padaku, namun ia seperti tak mau berbicara banyak denganku. Sejak tadi ia tak pernah merespon perkataanku dengan sungguh-sungguh.

“Istirahatlah,” ujarnya sembari mendudukkanku di atas tempat tidurku.

Ia baru saja hendak meninggalkanku saat aku tiba-tiba menarik ujung jaketnya. “Ada yang ingin kutanyakan padamu,” ujarku padanya. Aku tak tahan lagi. Ia harus menjelaskan semua ini padaku. Kami berdua harus berhenti saling menghindari satu sama lain seperti ini.

Sehun hanya menatapku dalam diam, membiarkanku melanjutkan kalimatku. Aku menarik napasku dalam-dalam sebelum mulai berbicara. Ini tak akan mudah.

“Aku hanya tak mengerti. Aku tak mengerti dengan semua ini. Tentang kau yang tiba-tiba mendiamkanku selama hampir dua minggu ini, tentang kau yang tiba-tiba mengembalikan perhatianmu saat ini, dan tentang kau yang tak mau membalas setiap perkataanku.. aku tak mengerti..”

“Apakah ini karena aku datang ke tempat kerja sambilanmu? Ataukah karena hal lainnya? Aku tak masalah bila kau tak mau bercerita padaku lagi. Aku tak pernah memaksamu, bukan? Tapi aku tak bisa kau acuhkan terus seperti ini. Semuanya memiliki limit, termasuk hatiku..”

“Kau mungkin tak tahu, tapi aku merasakan sakit..disini,” aku menunjuk dadaku yang mulai naik turun.

Terdapat jeda yang cukup lama sampai akhirnya Sehun mendengus dan tersenyum getir setelah mendengarkanku. “Ternyata kau berbohong..” ucapnya pelan.

Aku menaikkan kedua alisku tak paham. Berbohong? Apanya?

“Kau bilang kau akan menampung batu-batuku sebanyak apapun itu, benar? Kenyataannya kau tidak kuat menahannya. Kau tersakiti atasnya. Batu-batuku hanya menjadi beban bagi kehidupanmu..”

“Tidak. Bukan seper—“

“Dengar. Aku tak bisa terus seperti ini. Kau sudah tahu betapa busuknya aku. Iblis yang bersarang dalam kehidupanku. Aku pengguna obat-obatan, aku seorang host bar..dua kenyataan itu seharusnya membuatmu tahu bahwa aku bukan seseorang yang pantas untuk kau dekati. Kau tidak akan tahu batu apa lagi yang akan kulempar dalam sungai kehidupanmu. Kau juga tidak akan tahu hal apa lagi yang akan membuatku menyakitimu! Karena hanya aku..yang mengetahui bagaimana diriku sendiri..”

Aku merasakan mataku berkaca-kaca. Mencoba mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan dari kedua bibir Sehun yang biasanya tak pernah banyak berbicara.

Ia. Tak mau. Menyakitiku. Lebih. Jauh lagi.

“Hidupku murah sekali, bukan? Lantas mengapa kau harus peduli padaku? Mengapa kau harus khawatir padaku? Mengapa kau harus mengucapkan selamat ulang tahun padaku? Aku tak pantas mendapatkan semua perhatian itu! Tidak ada alasan untuk kau terikat denganku!”

Air mataku akhirnya menetes sempurna begitu mendengar seruan Sehun barusan. Aku mempererat cengkeraman tanganku pada ujung jaketnya, menggelengkan kepalaku perlahan. “Kau tahu hal apa yang paling menyakitkan bagiku? Bukan, bukan kenyataan bahwa kau seorang pecandu. Pun bukan bahwa kau seorang host bar. Namun kebisuanmu terhadapku yang membuat seluruh air dalam sungaiku tumpah. Saat kau membuang wajahmu ketika kita bertemu. Saat kau berpura-pura tak melihatku ketika pandanganmu bertumbukan dengan mataku. Saat—uh..” Aku tak sanggup menyelesaikan kalimatku karena Sehun tiba-tiba mengusap lembut pipiku yang basah oleh air mata.

Pria itu menatapku dengan sorot mata terperih yang pernah kulihat. Rasanya aku semakin ingin menangis saat melihat manik coklatnya itu.

 “Bisakah kau mengabulkan permintaanku?” tanya Sehun. Itu pertanyaan retorik, aku tahu.

“Tolong hentikan air matamu. Tolong hentikan kekhawatiranmu terhadapku. Jangan berikan perhatianmu. Hanya itu.”

Aku menggelengkan kepalaku sementara air mataku semakin menderas. Permintaan macam apa itu? Itu sama saja dengan menghancurkanku pelan-pelan.

Aku menatapnya dengan sorot mata memohon. Aku tak peduli bila harga diriku sudah jatuh. Apa kami sudah tak bisa kembali seperti dulu lagi? Rasanya seperti Sehun akan pergi jauh meninggalkanku. Aku tak bisa. Aku tak bisa bila ia tak ada.

“Cheonsa,” Sehun menyebut namaku sembari melepaskan tangannya dari wajahku. Caranya menyebut namaku sangat berbeda dari orang kebanyakan. Setiap saat ia menyebut namaku, saat itu pulalah aku merasa kelopak bunga bertebaran di hatiku.

“Tolonglah aku,” bisiknya lirih. “Sebab bila kau tidak melakukannya,” Ia melepaskan cengkeraman tanganku pada ujung jaketnya perlahan, “aku tak tahu apakah aku bisa menahan diriku sendiri atau tidak nantinya.”

Sehun membalikkan badannya dan segera keluar dari kamarku, tidak mempedulikan aku yang memanggil namanya berkali-kali. Saat aku bangkit dari ranjangku untuk mengejarnya, badanku langsung limbung karena rasa pening yang kembali menyerangku. Oh Tuhan, aku bahkan lupa bahwa aku sedang sakit.

Aku menoleh ke arah meja rias kecil yang berada di sampingku. Wajah sembab dengan air mata yang belum mengering. Sosok yang sangat menyedihkan.

“Sehun..Sehun..” aku berbisik lirih sembari menjatuhkan diriku di atas keramik yang terasa dingin.

Ini mungkin hukuman dari Tuhan. Aku memang tak boleh mencintainya. Aku tak akan bisa memilikinya.

Dan Sehun..mungkin memang tak pernah menyukaiku.

***

17 PAGE MS.WORD! Part terpanjang yang pernah aku buat, jadi aku harap kalian gak bosen bacanya yaa..hahaha

Dan, pada tau host bar kan ya? Yaa..sebenernya sama aja kayak hostess bar, cuma yang jadi pelayan dan tukang tuangin minumnya cowok. Ada host bar yang emang kayak aku ceritain diatas( aku emang ambil dari pengalaman nyata blogger) dan ada juga yang lebih ekstrim karena menyediakan host yang bisa ‘dipergunakan’..you know what I mean laah~kalo tempat kerja Sehun gak gitu yaaa..aku gak tega bikinnya, hahaha

Siapa yang kemarin nebaknya bener? Selamaatt~*tebarconfettibarengSehun* soal cewek di dompet Sehun, nanti bakal diceritain lagi..karena perjalanan kita masih panjang..muahahaha

Oke, seperti biasa comments and critics are OPENED, LOVED, AND APPRECIATED!

NOTE GAK PENTING:

Sebenarnya, aku mau minta izin HIATUS dulu karena UAS udah semakin dekat. Aku gak janji bakal bisa Update, tapi kalo sempet aku pasti bakalan update kok..jadi part panjang ini juga sebagai permintaan maaf karena aku mau hiatus..

Makasih buat para reader tercinta yang udah baca dan komen selama ini yaaa~doain aku semoga UASnya lancaaar! Dan buat silent reader..adakah kalian nak? Aku gak pernah maksa buat komen kok, itu udah pernah aku bilang–dan itu bakal jadi komitmen aku sampai ff ini selesai—tapi kalo kalian mau meninggalkan jejak, aku bakal apresiasi dan hargai banget!

I’ll be back!

NB: Siapa yang crack inside? Aku sih yes/tisumanatisu/ galaxy fanfan eat me upTT^TT

Advertisements

144 responses to “(Un)Fated Scene [Part 5]

  1. sumpah nyesek bgt..tengah mlm bermewek-mewek ria gr2 baca ini..keren bgt ceritanya!bhasanya pun bgus n ngena bgt..
    sbnrny sehun knp sh?knp tb2 jauhin cheonsa?cew d foto itu sp?ahhh…bnyk bgt hal2 yg msh bkin penasaran…

  2. Srhun kenapa sih kok ngejauhin cheonsa gitu kasihan cheonsanya kan dia itu suka sama kamu tau. Dia tahu kok kamu pecandu dan hostbar tapi dia tetep deket sama care sama kamu kan. Pengen jitak kepala sehun biar cepet sadar dan nggak nyuekin cheonsa lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s