[Oneshoot] Phobia

 

Annyeeonnggg ~ Saya membawa salah satu titipan epep baru lagi. Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak kalian dan hargai karya author yang satu ini. Happy Reading ~ ^^

Tittle                : Phobia

Scriptwriter     : Afzil

Cast                 : Park Chanyeol, Kang Hana (OC/YOU), Kim JunMyeon (Minor Cast)

Genre              : Romance, Drama, Angst, Mystery, Psycohology.

Rate                 : T

Length              : OneShoot

Disc                  : Cast hanya milik Tuhan dan orang tuanya masing-masing, terkecuali OC hanya milik saya. Dan jalan cerita murni hasil pemikiran saya.

Note : Tulisan cetak miring berarti masa lalu, namun bedakan dengan kiasan dan perhatikan Pov nya. FF ini pernah di post di salah satu blog sebagai ff competition.

 

 

~ Ketakutan membuat semua terasa sunyi.

Bernafas, bergerak, berkedip.

Hanya aku yang bisa melakukan semua hal itu.

Seolah aku sedang berjalan pada duniaku sendiri.

Dunia dimana kekosongan yang terus menarikku untuk menempatinya ~

 

-oOo-

 

            Terik matahari, gelap malam, kesunyian, maupun rasa dingin mungkin sudah menjadi teman terbaikku selama ini. Kemeja putih belang terlihat tak pernah lepas dari tubuhku. Tidak, bukan tak pernah terlepas, namun hampir semua pakaian yang kukenakan setiap harinya bermotif sama dengan warna senada.

Mataku berputar menjamahi sudut-sudut ruangan yang sudah lama kutempati—yang kusebut sebagai kamarku sendiri. Enggan berniat untukku keluar, menghirup udara pagi segar dan menikmati desiran angin malam setiap harinya. Bukan aku tak pernah mau, hanya saja aku tak pernah punya alasan untuk meninggalkan tempat ini. dengan kesendirian yang memelukku erat menyimpan sebuah aura tersendiri yang membuatku merasa nyaman, walau terkadang pegawai-pegawai ayah datang hanya utuk membersihkan kamarku dan memberiku makanan. Ayah sendiri tak pernah berniat untuk melihatku, dan itu membuatku yakin bahwa kesendirian disini adalah teman terbaikku.

Terkadang pula kepalaku terasa sakit ketika aku memejamkan kedua mataku. Gelap memang, namun ada bayangan kusut dibalik kegelapan itu. Aku tidak tau apa yang aku lihat, apakah aku bisa melihat masa depan atau hanya halusinasiku saja. Entahlah, memoriku sangat buruk jika aku harus mengatakannya.

            Aku merasa yakin bahwa tidak mungkin jika tidak ada apa-apa sekarang. Sudah hampir dua minggu ini aku merasa ada hal yang aneh pada diriku. Perasaan yang tak pernah sekali pun aku rasakan sebelumnya. Atau mungkin pernah, tapi aku sudah bilang bukan? Memoriku cukup buruk. Untuk pertama kalinya ini, aku merasa ketakutan pada kesendirianku.

Kesendirianku tidak pernah hilang. Karena aku pun tidak pernah ingat atau aku tidak pernah mau mengingat kenapa aku berada disini. Kenapa aku hidup dalam keadaan yang tidak aku mengerti.

Aku takut. Hanya itu yang aku tau di tengah kesendirianku.

 

‘kreeet’

Pintu perlapis kayu dengan warna dasar putih itu terbuka sehingga cahaya matahari pagi yang membias dari jendela besar di sudut kamar dapat membayangi seberkas bayangan seseorang.

Aku mengenal orang itu. Seorang pria mengenakan pakaian putih namun berbeda dengan yang ku pakai. Pakaian itu selalu menyambut indra penglihatanku setelah aku membiasakan mataku dari cahaya mentari pagi. Nampan perak dengan segelas air bening dan semangkuk makanan—yang aromanya sedap, namun aku sudah bisa menebak benda encer yang menumpuk di dalamnya.

Pria itu berjalan perlahan menuju kearahku sebelum menutup pintu kayu itu dengan perlahan. Nampan perak yang terlihat berkilau karena cahaya matahari langsung mengenai benda itu.

“Terang sekali. Tidakkah kau membuka tirainya terlalu banyak?” Pria itu tersenyum padaku, lalu mengalihkan pandang pada tirai hijau yang tersibak oleh angin pagi. Pria itu menutup setengah pemandangan yang sedari tadi aku abaikan.

Aku hanya memandang lurus ke depan, ke arah pintu dimana orang itu muncul.

“Bubur kali ini berbeda, aku tidak menyangka kau bangun sepagi ini. Jadi bubur ini tidak terlalu encer seperti sebelum-sebelumnya.”

“JunMyeon-hyung!” panggilku, senyum di wajahnya tak pernah hilang barang sedikit pun. Bahkan lebih merekah setelah aku memanggil namanya. Dirinya hanya bergumam menjawabnya, ditengah kesibukannya menata sesuatu apalah itu, aku tidak pernah tau. “Kau tau seseorang yang sering memerhatikanku di balik jendela itu? Aku rasa aku mengenalnya, namun aku tak pernah melihatnya disini. Maka dari itu aku membuka seluruh tirainya.” lanjutku, mengisahkan suatu keganjalan yang akhir-akhir ini membuatku merasa tidak nyaman lagi. Pasalnya, mungkin saja orang itu melihatku dalam keadaan yang tidak seharusnya diperlihatkan.

Pria yang notabene lebih pendek dariku dengan rambut hitam yang ditata rapi itu hanya mengangkat sebelah alisnya. Paparan matanya dapat menjawab bahwa ia tidak mengerti. Aku tak mempermasalahkannya ketika ia berkata mungkin itu hanya halusinasiku, karena aku masih ingat dirinya yang mengatakan bahwa aku memiliki tingkat halusinasi yang cukup tinggi dengan memori yang tidak memadai.

Tanganku mengambil segelas air putih disamping makanan yang ia sebut bubur tadi. aku meneguknya hingga setengah, merasakan cairan hangat itu menjalar di dalam tubuhku. Dan lagi-lagi pria bermarga Kim itu tersenyum. Aku hampir bosan melihat senyumannya.

“Kau selalu ada perkembangan hingga saat ini. Aku pergi, Park Chanyeol.” tuturnya sebelum akhirnya ia menghilang di balik pintu yang kembali ditutup rapat.

Aku menghembuskan nafasku panjang. Jika boleh jujur, aku tidak mengerti apa maksudnya ketika setiap hari dia mengucapkan kalimat yang sama.

Orang-orang ini selalu saja membingungkan. Mereka selalu memberitahuku tentang apa yang aku tidak tau, namun aku sama sekali tidak peduli. Mereka seperti mengatur setiap inci dari pergerakanku.

.

.

            Suara ketukan pintu itu menjadi gema mengisi ruangan yang semakin lenggang ini. aku menggelengkan kepalaku mengikuti suara ketukan pintu, indra pendengaranku tidak lagi menangkap suara itu.

Siapa itu?

“Boleh aku masuk?” suara yang tergolong pelan itu menyapa indra pendengaranku setelahnya. Nada suaranya seperti meminta dan jika tidak di perbolehkan maka kecewa yang akan di dapatinya.

Aku tidak menjawab. Siapa itu?

“Baiklah. Aku masuk.” Aku menatap dengan jeli pintu kayu yang perlahan terbuka. Tidak ada berkas cahaya yang membayangi sosoknya, tirai yang hanya terbuka setengah dari bingkai jendela membuat cahaya dari luar sana memasuki ruangan dengan pencahayaan minim.

Lamunanku terhenti beriringan dengan kedua iris cokelatku membelalak saat melihat siapa yang berada di balik pintu tadi.

Seorang gadis dengan rambut kecokelatan yang indah, wajah yang menampilkan segaris senyum tipis pada bibirnya. Aku tidak tau ada apa ini, tapi bagian dalam dari rongga dadaku berdenyut…sakit.

Sakit yang berbeda ketika jarum suntik yang terus menerus menembus kulitku. Sakit yang sangat…membekas. ada sesuatu yang menyusup kedalam pikiranku saat ini.

Aku meremat pakaian putihku tepat di bagian dada. Tidak. Siapa? Siapa itu? Siapa?

“Siapa…” entah kenapa aku ingin sekali berteriak. Aku menggeram ketika iris mataku kembali memantulkan sosok itu.

Aku tidak bisa mengingat apa-apa. Aku kembali mengatur nafas, dan sejurus kemudian aku merasakan sesuatu yang lembut berada di puncak kepalaku. Aku mendongkak dan mendapati telapak tangan itu sudah berada disana. Mengusap surai cokelat maduku.

Aku tidak tau sejak kapan aku merasakan senyaman ini.

Aku hanya bisa tersenyum hingga gelap menyerangku kembali.

.

.

.

            Aku membuka mataku dari kegelapan yang sedari tadi kembali menemaniku. Kepalaku terasa berat jika aku harus beranjak menegakkan tubuhku agar terduduk. Aku memijat pelan pelipisku yang ternyata di penuhi peluh, apa yang terjadi sebelumnya?

Terlihat sosok yang tak asing lagi yang tertangkap penglihatanku. Pria bermarga Kim yang menyiapkan beberapa butir benda pahit dengan air putih dalam gelas besar dan menyimpannya disampingku perlahan. Lalu dirinya kembali tersenyum.

“Tubuhmu melemah. Kau harus menghabiskan semua makananmu. Dan minum ini.” titahnya seraya menyerahkan benda pahit tadi. aku memutar bola mataku malas melihatnya, aku tau rasanya tak semanis permen walau bentuknya hampir sama.

JunMyeon hyung tersenyum puas ketika aku selesai menelan benda pahit tadi. Ia membersihkan sisa-sisa makanan yang sudah ku santap sebelum menelan benda pahit itu. Aku tidak menjawab, seperti biasa. Aku hanya menatap kosong pada satu titik—pintu kayu putih yang entah sudah sejak tadi terbuka sedikit.

JunMyeon hyung yang menyadari aku terdiam—hal ini sudah biasa namun sepertinya dia tau bahwa ada gelagat aneh dari pandanganku. Ia memutar pandangnya mengikuti arah pandangku.

“Apa ada masalah, Park Chanyeol?” aku tidak menjawab. Aku masih memandang kearah celah kecil pada pintu. Ada siapa di balik sana?

“—yeol, Park Chanyeol!” aku tersentak. Aku menatap wajah cemas JunMyeon dengan muka ketakutanku. Nafasku terhenti sejenak saat aku kembali melihat ke arah pintu… yang sudah kembali tertutup rapat.

Ada apa ini? Kenapa aku begitu takut? Apa yang terjadi?

Seberkas cahaya jingga memancar masuk ke dalam ruangan yang minim pencahayaan ini. JunMyeon hyung menyibakkan tirai dan membuka jendela, sehingga aku dapat merasakan hembusan angin sore dan membuat perasaanku kembali tenang.

“Mungkin kau perlu sedikit udara segar, jadi—“

‘Tok! Tok!’

JunMyeon hyung menoleh pada pintu kayu putih itu. Dan samar terdengar suara seorang gadis berujar lembut.

“Masuklah!”

Suara pintu yang berderit mengisi keheningan di ruangan ini, menunggu sosok yang berada di balik pintu itu.

Annyeonghaseo…”

Disana berdiri sesosok gadis dengan rambut cokelat yang indah, di wajahnya terlukis senyum tipis, wajahnya cantik. Aku seperti mengenalnya, entahlah seperti… kejadian yang baru saja terjadi. Tapi aku sama sekali tidak mengingatnya. Namun sebersit ingatanku berputar pada saat-saat aku memejamkan mataku.

Denyut menyakitkan kembali menyerang kepalaku.

Aku meringis tertahan.

“Kau kenapa Park Chanyeol?!” seruan JunMyeon hyung sama sekali tidak aku hiraukan. Kedua tanganku terangkat ke atas, meremat helai-helai rambut cokelat maduku.

“Arrrgg..!” aku tidak bisa menagan geramanku. Antara kesal dan juga sakit. Ada apa ini?!

Mataku bergerak liar untuk sekedar memandang gadis yang sekarang sudah berada di depanku, disamping JunMyeon hyung.

Gadis itu hanya terdiam melihat keadaanku yang seperti ini. JunMyeon hyung mencoba menghentikan tanganku yang masih meremat rambutku. Aku tidak bisa berhenti untuk tidak berteriak.

“Aaaaarrrggg!!!” peluh meluncur turun dari pelipisku. Rasanya seperti kepalaku di timpa beban yang begitu berat.

 

Aku terdiam. Aku mendongak dan betapa terkejutnya ketika kedua tangan gadis itu memegang kedua tanganku yang masih meremat rambut. Aku terdiam.

“Sudahlah, tenang. Semua baik-baik saja.”

Aku mulai tenang. Kedua tanganku melemas sehingga melepaskan rematan pada rambutku.

Gadis ini membuatku nyaman. Gadis ini, aku ingin bersamanya. Gadis ini membuatku tenang. Gadis ini—

“Siapa?” aku memutuskan untuk bertanya. JunMyeon hyung tersenyum kecut. Ia bar saja akan membuka mulutnya untuk berbicara namun di potong oleh gadis itu.

“Namaku Kang Hana. Aku perawat baru disini dan akan menggantikan tugas Kim JunMyeon. Senang bertemu denganmu, Park Chanyeol.”

.

.

.

            Aku menyibakkan tirai yang menutupi sinar matahari untuk masuk melalui celah besar di seberang tempat pembaringanku. Aku memicingkan mataku dan membiasakan cahaya hangat itu untuk menerpa permukaan wajahku. Kulihat makanan yang setiap hari begitu setia bertengger untuk mengisi perut kosongku. Aneh, sosok Kang Hana—perawat baruku—tidak pernah terlihat di pagi hari. Aku hanya dapat memastikan makananku sudah datang dan kamarku sudah bersih selama kurang lebih seminggu berlalu.

.

.

“Selamat malam.” Suara gadis itu membuatku menoleh antusias dari kesibukanku melihat pemandangan aktivitas malam diluar sana. Aku melihat Hana dengan makanan yang berbeda dibawakannya. Aku terpaku sesaat setelah gadis itu menundukkan dirinya di atas ranjangku. Ada sensasi aneh ketika dirinya melemparkan senyuman yang membingkai di wajah cantiknya. Bukan rasa sakit ketika aku bertemu dengannya tempo lalu, namun rasa yang aku sendiri tak bisa menafsirkannya.

“Kau merasa pernah melihatku sebelumnya?” aku memiringkan kepalaku mencoba untuk berpikir saat pertanyaannya terlontar. Pertanyaan yang sering kali aku pertanyaan pada diriku sendiri, dan pertanyaan yang aku sendiri tak pernah tau bagaimana harus menjawabnya.

“Tidak… aku…” jari telunjukku mengarah pada jendela besar yang memang sengaja ku buka sempurna. “Disana, benar?”

Alih-alih menjawab, ia malah terkekeh dan perlahan kekehannya berubah menjadi tawa kecil. Namun ada suatu hal janggal yang tertangkap olehku di tengah tawanya. Hal aneh yang terpancar dari tatapan matanya yang menyipit ketika ia tertawa. Dan tentunya atmosfir aneh yang menggelitiku.

Matanya. Aku terpaku pada matanya saat tertawa. Namun aku tidak dapat mendeskripsikan apa yang di pancarkan dari manik kecokelatan itu. Di dalam sana seperti ada berbagai perasaan bercampur aduk, namun aku tidak dapat menyimpulkan lebih pasti karena dia sudah mengalihkan pandang dariku.

Entah sejak kapan sebuah kalimat pertanyaan meluncur dari bibirku.

“Kenapa?” aku sadar bahwa pertanyaanku itu tidak memiliki tujuan. Jadi aku tidak meneruskan untuk bertanya lebih lanjut. Aku menutup rapat mulutku.

“Ada apa? Keluarkan apa yang membuatmu gelisah. Aku akan mendengarkan.”

Kenapa? Kenapa dia berujar lembut seperti itu? Aku bahkan tidak menunjukan berbagai ekspresi lebih di hadapannya. Mengapa hal ini begitu familiar namun asing disaat bersamaan.

Lagi-lagi pertanyaan bodoh yang tanpa sadar aku serukan pada gadis itu membuat dirinya menunjukkan raut terkejut.

“Siapa?!”

Aku menatap kedua manik cokelat muda yang nampak membelalak kaget. Aku balas menatapnya, aku tidak mau dia mengalihkan pandang lagi. Aku seperti tidak ingin dia berpaling lagi. Aku tidak ingin.

“Apa yang—“ aku memotong perkataannya dengan seruan keras. Aku tidak tau apa yang sedang aku lakukan sekarang.

“Siapa?! Siapa yang berada disana?! Kamu…Siapa?!” sekelebat bayang-bayang asing berputar di kepalaku seperti film rusak. Lagi-lagi aku meremat rambutku. Aku tidak berteriak, walau rasa sakit sungguh sangat menyiksaku sekarang.

“Tenanglah—“

Aku menepis tangannya yang akan menyentuh tanganku. Aku menatapnya dengan tatapan yang membuatnya semakin merasa tersudutkan. Aku tau apa yang kulakukan sekarang membuat dirinya merasa tidak nyaman dan juga membuat sesuatu di rongga dalam dadaku semakin sakit.

Namun, aku ingin sendiri. Biarkan aku—

“Biarkan aku sendiri! Pergi!”

“Park Chanyeol!” aku membungkam mulutku. Darahku terasa berhenti mengalir tepat setelah ia membentakku. Menyebut namaku. Tangan halusnya kembali mengusap surai cokelatku lembut. Sangat lembut sehingga mau tak mau aku harus memejamkan mataku. Merasakan setiap detik desiran halus yang membuatku begitu tenang. Membuatku ingin waktu terhenti lebih lama.

Namun tidak, setelah kedua bibirnya melantunkan sebuah alunan nada indah yang membuat kedua mataku sigap terbuka kembali dan tangan kananku menepisnya—lagi. Ia terlihat sama sepertiku, membelakakkan matanya lagi. Jangan tanyakan padaku, aku sendiri tidak tau apa yang aku lakukan. dan tidak tau apa yang aku rasakan.

“Hei, telinga aneh!”

Kepalaku terasa sakit bersamaan dengan denyut jantungku yang memompa darah lebih cepat, membuatku begitu sulit untuk sekedar mengambil nafas. Bayangan kusut itu kembali hadir, bahkan sekarang saat mataku terbuka. Aku baru saja akan membuka mulutku untuk berteriak, melampiaskan setiap tetes rasa sakit yang aku rasakan namun urung kulakukan.

Carian hangat yang sudah terlampau sangat lama tak pernah aku rasakan, atau bahkan aku baru merasakannya ketika cairan tersebut menempatkan jejak basah dipipi kiriku. Apa ini?

“Chanyeol…” aku mendekapnya erat. Aku memejamkan mataku lagi dan mulai membiarkan bayangan itu kembali menghujami isi kepalaku.

 

-oOo-

~ Ada seseorang yang pernah bertanya padaku,

“Apa pendapatmu tentang hidup ini?”

Aku hanya terdiam.

Tapi suatu saat aku akan menjawab pertanyaan itu, karena…. ~

.

.

.

            Rerumputan hijau bagai tak pernah tumbuh, seperti mati karena setiap hari ada saja yang menginjaknya. Terlihat cukup banyak orang di luar hari ini dengan tawa bahagia yang menyertainya.

Bau obat-obatan khas menyeruak memenuhi ruangan yang kutempati. Aku baru saja akan memulai kemoterapi ke-tiga ku. Sangat sakit hanya dengan membayangkan ketika jarum suntik itu menembus kulitku dan mengalirkan cairan yang mereka bilang akan membantu membunuh virus-virus dalam tubuhku. Aku tidak percaya jika mengingat aku selalu mengeluarkannya kembali melalui proses yang tak kalah menyakitkan ketika rasa mulai menggelitiku perutku.

Tapi aku ingin meralat beberapa pemikiranku. Rasanya tidak terlalu menyakitkan ketika seseorang yang akan menusukkan jarum suntik tadi membuka masker biru mudanya.

“Sakitnya hanya sebentar, Kang Hana.” tuturnya dengan senyuman yang tak pernah membuatku bosan dan di susul dengan sudut bibirku yang terangkat ke samping.

“Kuharap kau tidak berbohong, Chanyeol-uisa..” aku kembali tersenyum namun dengan senyum yang sedikit hambar. Perlahan senyumanku luntur karena jarum tajam itu menusuk kulitku. Rasanya seperti digigit semut, tapi tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan raut kesakitan sekaligus ngeri.

Aku meringis. Pemuda di hadapanku hanya meresponnya dengan tawa yang membuatku kembali tersenyum. Tawa pemuda ini adalah salah satu penawar semua rasa sakit yang aku rasakan.

Semoga saja, semua ini berlangsung lebih lama.

            Pemuda dengan name tag Park Chanyeol, yang merangkap sebagai seseorang yang aku cintai. Kami sudah menjalani hubungan ini selama dua tahun lamanya. Pertemuan pertama kami adalah saat aku menjadi pasien pertama di rumah sakit ini dan Chanyeol yang bekerja sebagai dokter muda di Seoul National Hospital dan menangani kondisiku ini.

Aku sudah lupa bagaimana tepatnya kami memulai hubungan ini. lebih tepatnya aku tidak pernah tau karena perasaan kami mengalir dengan sendirinya tanpa ada kata-kata yang menjadi perantaranya. Kami hanya menemukan apa yang dapat membuat kami bahagia. Aku menemukan seorang Park Chanyeol dan Park Chanyeol menemukan seorang Kang Hana.

Bahagia yang sederhana dan aku ingin hal ini berlanjut sampai dimana kami terpisahkan oleh sesuatu yang bernama kematian.

Aku tersenyum mengingat semua yang sudah kulalui bersama dengan orang yang aku cintai ini. Aku sangat bersyukur karena telah bertemu dengannya.

Aku bersyukur karena…mempunyai penyakit ini. Bahkan aku belum tau jelas apa penyakit yang ku idap dalam tubuhku.

“Chanyeol…” aku melihat siluet berjas itu berbalik ke arahku.

“Ya?”

“Tidak…” aku tersenyum lebar dan aku melihat dia pun melakukan hal yang sama lalu setelahnya pemuda itu mengusap surai cokelat ku lembut. Sebelum ia mengalihkan pandang pada selembar kertas yang ia pegang sedari tadi.

Aku melihat Chanyeol kembali ke meja kerjanya di dekat jendela di sudut ruangan serba putih ini. Aku tidak ingin mengganggunya, jadi aku hanya diam memerhatikan pandangan di luar jendela lain di dekatku ini.

Tanpa aku ketahui ada sesuatu yang salah.

Ataksia Friedreich

Ataksia friedreich merupakan suatu penyakit menurun yang dapat menyebabkan kerusakan progresif terhadap sistem saraf sehingga menyebabkan gangguan gait dan masalah berbicara sampai dengan penyakit jantung.

Para pendetika akan mengalami ketidakseimbangan dan tidak adanya koordinasi tangan, lengan, dan kaki. Belum ada obat khusus untuk penyakit ini.

 

Aku memerhatikan Chanyeol yang nampak masih sibuk dengan kertas-kertas menumpuk di mejanya.

‘deg’

Aku meremat baju yang kupakai saat rasa sakit pada rongga dadaku kembali menyerang.

.

.

.

1 bulan kemudian

 

            Aku mendapati diriku pada sebuah lahan yang luas. Nuansa hijau yang tak lepas membuatku rakus untuk menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Aku berlarian menjamahi setiap tangkai ilalang yang bergoyang mengikuti angin. Sesekali aku mencabut tangkai bunga dandelion, meniup bunga rapuh itu hingga beterbangan. Aku tak sendirian tentunya, Chanyeol masih disisiku. Mengusap lembut suraiku dengan anak rambut yang juga bergerak mengikuti angin yang membelai. Suasana kebebasan yang begitu jarang untukku rasakan lagi setelah aku harus menjalani hari-hariku dengan obat-obatan pahit yang tidak lama pasti akan kumuntahkan lagi. Tapi Chanyeol masih teguh dengan tatapannya yang seolah memaksaku untuk terus berlari mencari titik kesembuhan walau presentasenya cukup kecil. Tapi entahlah, batinku tak pernah berhenti berteriak bahwa aku bahagia, sangat bahagia.

“Aww!”aku meringis ketika tangan besar milik Chanyeol mencubit pipiku cukup keras dan disusul dengan suara beratnya yang tertawa.

Aku menatapnya pura-pura tak senang dan berniat mengejarnya ketika ia mengambil langkah mundur menjauhiku. Sedetik kemudian aku menyadari sesuatu—bunga dandelion sangatlah indah, namun ia menyimpan sebuah rahasia dibalik keindahannya, bunga yang terlampau rapuh bahkan kelopak-kelopak kecilnya akan beterbangan jika tertiup angin.

Deretan huruf yang tertulis di atas kertas beberapa tempo lalu terekam begitu jelas dan aku tak bisa menghindarinya. Chanyeol berhasil menahannya, menompang tubuhku yang seketika merasa kaku dan terjatuh saat aku mencoba mengejar pemuda itu untuk membalas dengan menarik telinganya.

Terlampau sunyi ketika tawa raut kebahagiaan di antara kami hilang namun Chanyeol berhasil memecahkannya dengan senyuman hangatnya.

“Maaf.” Lirihku setelah ia membantuku berdiri dan disusul dirinya yang juga bangkit.

“Hey ayolah, aku tak suka suasana seperti ini.” Chanyeol menepuk pundakku, seolah membangkitkan kembali semangat keceriaan yang sebelumnya terukir jelas dalam raut wajahku.

Aku menatap wajah yang sedari tadi terus memasang mimik ceria. Namun aku tidak bisa di bodohi, secara jelas terpantul sorot kesedihan di manik cokelatnya. Aku tidak ingin membuatnya tambah khawatir dengan diriku yang lemah ini, aku hanya ingin mencoba kuat untuknya. Aku ingin.

“Kau ini…” aku tersenyum sangat lebar dan aku pun menguatkan peganganku pada Chanyeol. Aku tidak ingin berbohong lagi, tapi rasa sakit dalam tubuhku mendesakku untuk membuat tubuh ini semakin lemah. Aku ingin kuat. Tapi aku tidak yakin. Maafkan aku.

“Hana…”

Ah apa ini? mengapa aku tidak bisa menghentikannya? Mengapa aku menangis? Siapa yang lebih tersiksa?

Aku bisa melihat Chanyeol yang terdiam, seperti sedang memikirkan kosa kata yang tepat untuk di katakan tapi saat ia akan membuka mulutnya, ia kembali mengatupkannya. Aku menundukkan kepalaku, suara isakan terdengar jelas walaupun angin berusaha membawakannya pergi. Aku merasakannya sekarang.

Sebuah penyesalan yang bersembunyi dalam diriku. Bersembunyi dalam kenyataan yang tidak bisa dipatahkan. Aku menyesal telah bertemu Chanyeol, aku menyesal karena membunyai rasa ini dan seharusnya aku menderita dengan penyakit ini seorang diri. Aku—

“Maafkan aku.. maafkan aku.. kau pasti sembuh. Aku..” aku terkejut saat melihat Chanyeol sudah berlutut.

“Aku janji.. Aku janji, kumohon aku janji kau akan terus hidup!”

Angin bertiup kencang. Menerbangkan sisa bunga dandelion di hamparan luas ilalang. Meredamkan tangisanku dan Chanyeol.

.

.

.

            Chanyeol memapahku mengelilingi koridor rumah sakit. Tidak, lebih tepatnya ia mendorongku. Mendorong kursi beroda yang kini telah menjadi tompanganku ketika di rasakan kakiku yang lebih sulit untuk bergerak. Aku tak ingat sudah berapa lama waktu berjalan hingga membawaku pada keadaan yang semakin terpuruk, merubah wajahku yang semakin terlihat putih pucat dan berat badanku yang terus menurun.

Aku tak bisa mengelak ketika Chanyeol terkadang memperlakukanku sangat manja dan aku berpura-pura terus terlihat kuat seperti orang normal lainnya. Kedua bibirnya juga terus melontarkan sebuah kalimat berisikan janji bahwa aku akan tetap bisa menikmati keindahan dunia, ia berjanji akan mengeluarkan semua kemampuannya guna mengeluarkanku dari tempat berbau obat-obatan ini.

Chanyeol menghentikan langkahnya sejenak ketika beberapa kerumunan dokter lainnya berjalan berlawanan arah. Mereka tak melewatkan tegur sapa dan menanyakan kabar masing-masing, beberapa di antara mereka juga tak lupa akan kehadiranku dan memberiku semangat lalu aku balas dengan senyum simpul sebelum akhirnya mereka pergi dan Chanyeol kembali mendorong kursi roda yang kutumpangi.

“Jaga matamu, Nona Park. Tuan Chanyeol memperhatikanmu dari sini.”

Aku terkekeh mendengarnya memanggilku seperti itu, seolah aku memang benar-benar resmi miliknya. Tak masalah, itu memang setitik bagian dari harapanku. Selebihnya…aku hanya ingin mendekapnya. Menumpahkan segala rasa sakit yang menggerogotiku dipundaknya.

Aku berniat menjawabnya, namun tak bisa dipungkiri jika aku tersentak kaget ketika mendapati suaraku yang tersendat dan terbata-bata. Chanyeol menghentikan laju kursi rodaku dan dirinya kini berada di hadapanku dengan lututnya yang di tekuk menyentuh lantai, mensejajarkannya dengan tubuhku. Dia tersenyum seraya kembali mengusap kepalaku lembut dan sejurus kemudian ia mengeluarkan secarik kertas beserta pena dalam saku jas putihnya. Tanganku bergerak untuk menuliskan beberapa kata di atas permukaan benda putih itu.

          Mereka lebih tampan darimu, dan telinga yang lebih kecil  –

Aku menjulurkan lidahku berniat mengejek dirinya. Namun rasa panas kembali menyerang kedua bola mataku, menembus pertahananku—lagi.

Aku terkejut saat Chanyeol dengan sigap menaruh ibu jarinya di bawah mataku, seolah tau akan kebiasaanku yang sekarang ini. aku tidak bisa untuk tidak menumpahkan liquid bening ini yang perlahan jatuh. Aku memegang tangannya dan menangis dalam diam. Aku tidak boleh seperti ini, bukan hanya aku yang menanggung sakit menyiksa ini, tapi juga Chanyeol.

Aku mengambil catatan kecil yang sebenarnya mulai aku bawa kemana pun aku pergi. Dengan sedikit gemetar aku menulis lagi di atas lembaran putih kosong itu.

          Apa pendapatmu tentang hidup ini? Oh, termasuk hidup dengan telinga aneh mu itu? Haha        –

Aku kembali terkekeh sejenak sebelum menunjukkan kertas itu pada Chanyeol dan reaksi yang kuharapkan darinya muncul—merenggut seraya mengusap suraiku.

“Telingaku cukup normal, kau tau. Jangan selalu mengungkitnya lagi.” Aku benar-benar tertawa lepas, rasanya sudah lama tidak tertawa tanpa beban seperti ini. Chanyeol hanya menggulum senyum. Chanyeol mulai mendorong kursi rodaku kembali, menyusuri lorong yang mulai lenggang dan kami pun tenggelam dalam tawa bahagia masing-masing. Setidaknya kami tidak saling menunjukkan senyum palsu. Kami ingin membagi kebahagiaan ini walau kami tidak saling tau kapan waktu berusaha menghentikan semua ini. kami ingin agar waktu terus berpusat pada saat ini. Setidaknya.

.

.

.

“Hana… Kang Hana…”

Aku memaksakan mataku terbuka sepenuhnya saat mendengar suara yang terdengar familiar. Mataku terasa sangat berat saat bertemu pandang dengan cahaya menyilaukan lampu kamarku. Aku berusaha menggerakkan tubuhku agar terduduk di kasur yang aku tiduri, tapi tubuhku terasa begitu lemas, aku bahkan sangat lelah dengan hanya sekedar menggerakkan ujung jariku. Aku menyapu seluruh ruangan, namun sama sekali tidak kutemui keberadaan pemuda tinggi itu. Aku bersumpah mendengar suara itu. Dimana kau?

“C…han…yy…eol” liquid bening kembali mengalir. Aku tidak bisa mencapai suaraku. Aku tidak bisa melakukan apapun sekarang.

“Kang Hana…”

Aku kembali membuka mataku. Namun sekarang kudapati sosok Chanyeol berada di samping tempat tidurku.

Apa? Kenapa ini? Suara Chanyeol, kecil sekali.

“Aku disini…Kang Hana.”

Aku menggerakkan kepalaku secara perlahan ke samping dan langsung di sambut telapak tangan besar Chanyeol yang mengusap surai cokelatku.

“Aku tau aku gila, tapi aku akan mengajakmu keluar malam ini. kau ingin sekali melihat bulan purnama bukan? Malam ini juga ada banyak bintang.”

Aku terdiam. Apa ini? Chanyeol… besarkan sedikit suaramu.

.

.

.

            Aku bergidig ketika udara malam menyelinap masuk menusuk kulitku, Seoul tetaplah dingin pada malam hari walau Chanyeol sudah menyampirkan pakaian hangatnya padaku. Ia dengan gigih membawaku pada sebuah bukit kecil, entah dimana ini aku tak memperhatikan jalanan. Apa hal ini cukup gila ketika seorang gadis sekarat sepertiku berkesempatan menghirup angin malam? Oh kurasa Chanyeol sudah mengatakannya tadi.

Chanyeol membantuku terlepas dari kursi roda dan menempatkanku di atas rumput hijau yang terlihat hidup dan terawat. Aku memperhatikan kaki jenjangku yang sengaja di selonjorkan, juga kedua tanganku. Terlihat sangat kurus dan jauh berbeda dengan diriku lima tahun yang lalu, tentu saja.

Chanyeol menempatkan dirinya disampingku, ia membiarkan kepalaku bersandar pada pundaknya dan tangannya yang melingkar di pinggangku. Kami berdua mendongkakkan kepala ke atas, terlihat beberapa bintang yang tersebar jarang sedikit menghias langit gelap. Chanyeol menatapku dengan tatapan hangatnya, namun senyumannya kini terlihat melengkung terbalik.

“Maafkan aku, Hana. Bulan purnama sepertinya malu memperlihatkan dirinya malam ini.”

Aku tersenyum dan menggeleng pelan menanggapinya. Chanyeol sepertinya mulai terbiasa mengerti sekarang sehingga aku tak perlu menuliskannya pada secarik kertas lagi, ini mungkin karena kekuatan pada tanganku kini telah direngkut hampir semuanya oleh penyakit yang masih setia bertengger dalam tubuhku ini.

Ia melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku perlahan, seolah takut dan mewanti-wanti jika saja aku terjatuh setelah ia melepaskannya. Aku tertawa dalam hati. Ayolah, aku tidak lumpuh Park Chanyeol.

“Tunggu disini sebentar.”

Aku memperhatikan tubuh jangkungnya yang beranjak pergi, sedikit berlari meninggalkanku dalam kegelapan ini. Senandung yang terlontar dari mulutku cukup sedikit membantu menemani kesendirian disini dan tak lama sosok pemuda yang kucintai itu datang lagi. Tangan kanannya menggenggam gitar putih dan tangan kirinya ia sembunyikan di balik punggungnya. Belum sempat aku bertanya, Chanyeol sudah memotongnya dengan menyematkan sebuah flower crown di kepalaku. Rangkaian bunga indah dengan warna yang berbeda menghias tangkai-tangkai kayu muda yang melingkar di kepalaku ini.

Setelahnya ia mulai memetik senar gitar yang ia bawa tadi dan melantunkan lagu-lagu indah. Kedua pipiku bersemu, pasalnya ini kali pertamanya aku mendengar Chanyeol bernyanyi, untukku.

“Hana…” lirihnya setelah menyelesaikan lagu terakhirnya.

Entah karena angin malam atau apa, aku hanya bisa menangkap pergerakan mulutnya. Aku menaikkan alisku, pertanda merespon panggilannya. Ia meletakkan gitarnya dan bergeser untuk duduk di sampingku. Pandangannya lurus ke depan.

“Menurutku hidup ini adalah hidupku bersamamu. Pendapatku adalah bahagia jika hidup bersamamu!” sepertinya Chanyeol sudah menyadarinya, sehingga ia menaikkan nada bicaranya. Kurasa, karena aku dapat mendengar suaranya lebih jelas sekarang.

“Ja..ngan….men..na..ngis,…ya?” aku berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan kata itu. Entah dia mengerti atau tidak, tapi aku ingin dia tidak menangis saat aku sudah tidak kuat lagi untuk membuka mata. Aku pun berusaha mengeluarkan segala tenaga yang kupunya untuk mengangkat tangaku dan mengacungkan jari kelingkingku, tak lama ia menyambutnya dengan mengaitkan jari kelingkingnya.

Chanyeol, apa kau mengerti?

Kulihat Chanyeol terdiam. Tidak mengatakan apa-apa.

Aku menjadikan bahu Chanyeol sebagai tumpuan kepalaku. Bahu ini kokoh sekali, seperti siap untuk menompangku kapan saja jika aku tidak kuat dalam menghadapi rasa sakit ini. Tapi sekarang aku lelah, ini sudah larut, aku ingin…tidur.

Hampir saja aku menutup mataku dengan sempurna, tapi sesuatu yang lembut menyentuh permukaan bibirku. Aku mencoba membuka mataku dan menemukan wajah Chanyeol yang begitu dekat menghapus jarak di antara kami berdua. Aku tidak melihat tetesan bening mengalir dari mata yang tertutup itu. Aku tersenyum di sela-sela ciuman ini, aku bahagia. Tapi, aku lelah untuk sekarang.

            Kerja bagus Chanyeol, terima kasih sudah mengerti untukku.

Aku mencoba menerimanya, mencoba kehangatan yang menjulur ketika di persatukannya dua buah perasaan dan menciptakan kata yang mereka sebut ‘cinta’ memeluk kami berdua.

Namun aku semakin lelah, dan mataku yang semakin berat bahkan ketika aku memejamkannya. Dinginnya malam membuat kakiku benar-benar mati rasa dan aku merasa telah lumpuh saat ini. saraf-sarafku bagai enggan untuk bekerja, seolah mereka pun bosan bertahan dalam tubuh rapuhku. Degupan yang dibawakan jantungku sangat cepat, terlampau cepat sehingga aku tidak merasakannya lagi. Mataku semakin berat, sangat berat dan terakhir tetesan kristal hangat itu meluncur bebas dari sudut mataku hingga saatnya hanya kegelapan yang kurasakan dan membawaku pergi.

            Maafkan aku Park Chanyeol, selamat tinggal.

“Hana? Kang Hana?”

Tidak ada suara.

“Ha..na? Tidak… aku mohon… aku mohon tolonglah. Aku sudah berjanji Hana…”

~ Ada yang pernah bertanya padaku,

Dan aku menjawab kenyataan yang ada.

Kenyataan yang sesungguhnya tidak dapat ku jawab.

Aku pun bertanya,

“Apa pendapatmu tentang hidup ini?”

Dan aku masih menunggu seseorang untuk menjawabnya. ~

-oOo-

 

 

            Kami memutuskan untuk berdiam diri satu sama lain setelah kejadian tadi—aku mendekapnya tiba-tiba. Sekarang gadis ini langsung membawaku keluar dari kamarku, dan untuk pertama kalinya aku dapat merasakan udara sejuk langsung dari dunia dengan naungan langit biru tanpa harus di bingkai oleh jendela besar di kamarku, walau ini sudah malam dan langit biru terlihat hitam.

Aku melihat pergerakan mulut gadis yang mengaku bernama Hana itu, namun indra pendengaranku tidak dapat menangkap gelombang suaranya. Aku merasa bagai video lama yang kembali berputar dan membawaku pada suatu kejadian yang aku yakin menjadi salah satu bagian terpenting dan tidak mungkin akan terlupakan.

“Ha..na? Tidak.. aku mohon… aku mohon tolonglah. Aku sudah berjanji Hana…” masih sama, gadis itu terkulai lemah dalam rangkulanku setelah aku melepaskan kecupan pertamaku padanya. Tidak ada suara sedikitpun yang menyapa indra pendengaranku lagi.

Dan aku ingat kata-kataku saat tubuh itu sudah terbaring kaku, jiwanya yang seutuhnya terbawa oleh gelapnya malam.

Aku mematung menatap selembaran kertas setelah aku menangani proses kemotrapi ketiga dari gadis yang sangat kucintai itu. Seolah penyakit yang di derita Hana berpindah padaku saat itu juga karena aku merasa saraf-sarafku melemah.

Aku menatap raga yang masih dapat bergerak bebas dengan senyum manis yang masih membingkai wajahnya dan tak sekalipun terbayang dalam benakku jika raga tersebut terkulai kaku.

Kemungkinan-kemungkinan dalam benakku pun semakin nyata ketika Hana kembali mengusap surai cokelatku. Bayangan itu begitu jelas, ketika dimana aku sendiri yang menangani dirinya tidak percaya dengan apa yang aku siratkan dalam beberapa tumpukan kertas akan dirinya.

Ketika dimana aku selalu mencoba mengukirkan peristiwa-peristiwa berharga bersamanya disaat waktu luang.

Ketika dimana tubuhnya semakin kurus dan wajah pucatnya membuatku ingin sekali menukarkan raga sehatku padanya.

Ketika dimana aku melanggar janjiku untuk tidak terlihat lemah dan menyesal saat tubuhnya ku dapati tidak bernyawa lagi.

Ketika dimana aku meninggalkan pekerjaanku di rumah sakit dan hanya mengisi hari-hari ku yang penuh kekosongan hanya dengan bayangan akan dirinya.

Dan ketika dimana ayahku membawaku paksa ke tempat ini, tempat dimana sekumpulan orang-orang dengan saraf-saraf kejiwaannya terganggu.

“Pendapatku tentang hidup adalah aku bahagia pernah membagi hidup dengan seorang Park Chanyeol.”

Aku menatap matanya lekat. Mencoba memasuki pikirannya lebih jauh dari celah-celah iris beningnya.

“Kau melanggar janjimu, Park Chanyeol.”

.

.

.

“Aku kembali.”

.

.

.

“Park Chanyeol!!”

Aku mendengar suara seseorang memanggilku, dan saat aku menoleh ke belakang, kudapati JunMyeon hyung—kurasa sepertinya sekarang aku harus memanggilnya uisa—yang berlari tergesa ke arahku dengan nafas memburu.

Aku hanya menatapnya heran.

“Kenapa kau berada di luar kamar? Apa yang sedang kau lakukan?”

Aku semakin heran melihat mimik paniknya. Apa dia tidak melihat bahwa Hana ada disini? Kenapa dia—

Tiba-tiba aku menyadarinya dan hanya tersenyum. Membuat wajah JunMyeon berganti menjadi wajah kebingungan yang semakin menguasainya.

“Park Chanyeol… dengan siapa kau?”

Aku kembali tersenyum.

“Tidak ada.”

Dan aku melihat wajah Hana pun merekah di sebelahku.

.

.

~ Ketakutan yang kurasakan berbeda dengan yang lainnya.

Ketakutan dalam sepi.

Ketakutan akan kesendirian dalam ruang yang kusebut sebagai ‘hidup’.

Ketakutan yang berpusat pada sebuah titik bernama kehilangan.

Ketakutan akan kehilangan yang kusebut sebagai pengalaman.

Ketakutan yang membuatku terkurung dan kehilangan waktu-waktu berhargaku.

Ketakutan akan pendapat hidup yang berbeda.

Dan,

Ketakutan yang kuciptakan dari diriku sendiri dan kusebut dengan…

Phobia.

 

—— F I N —–

Hello readers! ^^

Akhirnya ff oneshoot yang sudah melewati beberapa tahap pengeditan dan perjuangan ini selesai x’D ini ff kolaborasi sebenernya :3

Diharapkan sebuah penilaian dari ff ini yaa ‘-‘) tidak memaksa, hanya mengharapkan 😀

Oh ya BigThanks juga ya buat Evilliey Kim yang lagi-lagi mau direpotin 😀 thanks unnie :*

Akhir kata, sekian~

-Blacktinkerbells-BlueBubbleBoom.

49 responses to “[Oneshoot] Phobia

  1. Sumpah… Ini kueren!! Ni authornya siapa sih? Jadi penasaran??? Muehehehehe….
    Kalo dari segi bahasa mungkin agak njelimet dikit dan agak susah ditangkep buat readers yang otaknya rada odong kaya aku… XD tapi itu yang bikin feelingnya jadi dapet 😀
    Okedeh, hwaiting buat authornya… ^^

    • Pertama, terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk baca fanfic ini ^^
      Kedua, terimakasih sudah mau meninggalkan komentar ^^
      Ketiga, terimakasih lagi 😀 hihi authornya hanyalah seonggok butiran baja/? XD
      Hihi maaf soalnya gaya penulisannya udah kebiasaan kaya gitu ._. Tapi bersyukur lah kalo kamu ngerti ceritanya 😀
      Okaay~ thankseuu lagi ^^
      Hwaiting juga buat kamuunya hihi

  2. wahh keren *-*
    cuman ya thor, aku bingung, hananya itu meninggal kan? kok suho gak ngeliat dia? ._. tapi keren kok, suer ^~^

  3. Thor,jujur ff author ini sangat berani loh!alurnya maju-mundur sampe buat aku bingung’-‘ tapi akhirnya aku ngerti juga!ya ampun itu sih chanyeol sedihnya dalam amat sama si hana,tapi kok gak ada yang percaya sih kalo hana pasien yg dirawat chanyeol?trus cerita yg awal,apa hana itu halusinasi makanya sih chanyeol kayak orang stress/? *apa_dah_bahasa_gw-,-* tapi over all,ff ini keren!penuh kerumitan dan misteri pada awalnya tapi semakin di mundurin alurnya,konfliknya mulai nyatu.ini yang aku salut sama pengemasan cerita author!keep writing thor karyanya aku tunggu^^ terus juga ada satu hal thor yang aku penasaran setengah mati…akhir cerita hananya kemana?

  4. Keren banget thor 🙂 biarpun rada susah buat dicerna ._. (Soalnya aku telmi)
    Aku masih rada bingung, si hana nya itu udh meninggal kan? Kok masih bisa jadi perawatnya chanyeol?
    Tp ttp daebak kok thor 🙂
    Keep writing thor
    Ditunggu ff” author lainnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s