Beautiful Sin (Chapter 10)

wpid-storageemulated0PicturesFOTORUSbs-my-baby.jpg.jpg

Author : Trik

Cast       : Jung Hyemi (You/OC), Lu Han, Park Minha (OC), Kim Myungsoo etc.

Genre   : AU, Romance, Family, Marriagelife, Pregnancy, Friendship.

Rating  : PG-15

Disc.    : I don’t own anything beside the story.

Prev.    : Chapter 9

Chapter 10: Warning

Author’s POV

“Selamat Tuan Lu! Ide anda untuk produk kita selanjutnya benar-benar cerdas!”

Luhan tersenyum mendengar pujian salah satu rekan kerjanya dalam proyek pengeluaran produk baru mereka. Tak lupa ia membalas jabatan tangan dari rekan prianya tersebut, Tuan Choi, atau yang lebih dikenal sebagai Choi Siwon, tangan kanan Kris.

 

“Ah, ya, terimakasih Tuan Choi. Ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang sudah kakakku keluarkan,” ujar Luhan, merendah.

“Eeyyy, Kris-ssi itu beda cerita lagi. Anda dengannya memang tidak bisa dibandingkan karena kalian sama-sama hebat dan memiliki kelebihan tersendiri. Kurasa Anda sudah siap untuk memimpin hotel ayah Anda sekarang,” ujar Siwon.

Luhan kembali tersenyum, kali ini agak terpaksa karena ada sesuatu yang sangat penting yang harus ia urus tetapi Siwon malah menahannya dengan obrolan mereka.

“Saya masih perlu banyak belajar sebelum mengambil tanggung jawab besar tersebut,” balas Luhan.

Siwon mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya melirik sekilas arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Ah, sepertinya saya harus pergi sekarang. Ada pertemuan yang harus saya hadiri untuk mewakili Kris-ssi,” ujar Siwon.

“Saya tinggal dulu. Sampai jumpa Luhan-ssi,” pamitnya kemudian sembari membungkukkan badannya sedikit.

“Oh, ya, ya, sampai jumpa,” sahut Luhan sembari membalas bungkukkan badan Siwon.

Sepeninggalan Siwon, Luhan bernafas lega. Namun setelah itu ia kembali teringat akan urusan daruratnya. Buru-buru ia meninggalkan ruang rapat menuju ruang kerjanya.

Sesampainya di ruang kerja, ia langsung mencari ponselnya yang tertinggal. Sedari tadi, dalam perjalanan menuju ruang kerjanya, ia terus merutuki dirinya atas kebodohannya. Hari itu, pukul 3, seharusnya ia pergi mengantar Hyemi check up. Tetapi ternyata rapat yang seharusnya diadakan besok, oleh Kris dipindah menjadi hari itu karena besok Kris harus menghadiri rapat penting lainnya. Dan yang membuat Luhan kesal terhadap dirinya sendiri adalah kecerobohannya yang lupa menghubungi Hyemi untuk memberitahunya jika ia ada rapat dadakan.

Luhan mendesah lemas begitu mendapatkan ponselnya di atas meja kerjanya. Ia melihat ada puluhan missed call dan beberapa pesan dari Hyemi.

“Aish… Dia pasti menunggu sangat lama…” gumam Luhan merasa bersalah.

Karena ingin segera memberitahu Hyemi, Luhan pun langsung menghubungi Hyemi. Namun sayang, Hyemi tidak mengangkat teleponnya. Satu kali, dua kali, tiga kali, Luhan masih terus mencoba menghubungi Hyemi meskipun Hyemi tidak juga mengangkat teleponnya. Luhan pun mulai khawatir, ia takut Hyemi marah padanya.

“Mengapa ia tak mengangkat-angkat teleponku?”

Setelah yang kesembilan kalinya ia menelepon, akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk segera pulang. Luhan sudah pasrah jika Hyemi akan marah padanya. Ia hanya bisa berharap Hyemi mau mendengar penjelasannya dan memaafkan dirinya secepatnya.

***

Sepulang dari rumah sakit, begitu sampai di rumah Hyemi baru mau mengecek ponselnya. Ia tahu sedari tadi ponselnya terus bergetar, menandakan ada orang yang meneleponnya. Tetapi karena ia terlalu kesal, ia pun mengabaikan telepon-telepon tersebut.

Setelah dilihat ternyata telepon-telepon tersebut berasal dari Luhan. Ada sembilan missed call dari Luhan untuknya. Mengingat Luhan membuat Hyemi tersenyum miris. Ia pun mengabaikan missed call tersebut. Tak ada niatan untuk menghubungi Luhan balik. Ia terlalu kesal untuk menghubungi Luhan lebih dulu dan mendengar suara Luhan.

Setelah mengecek missed call, Hyemi pun mengecek pesan yang masuk. Matanya membulat begitu melihat kotak masuknya. Ada sebuah pesan dari Myungsoo.

Jantungnya berdebar, gugup, saat akan membuka pesan tersebut.

From: Oppa

Hei, aku sudah tiba di Seoul 🙂

Hyemi menghela nafas berat begitu membaca pesan Myungsoo. Ia panik, tidak tahu harus bagaimana membalas pesan tersebut. Myungsoo sudah tiba kembali di Seoul dan dia belum menyiapkan rencana apapun untuk menghadapi Myungsoo.

Sejak obrolannya dengan Jongdae kemarin, ia sudah mengambil keputusan untuk melepas Myungsoo dan kali ini keputusan tersebut sudah bulat. Tetapi masalahnya adalah ia tidak tahu bagaimana menyampaikan hal tersebut pada Myungsoo tanpa menyakiti Myungsoo. Ia tahu mau bagaimanapun caranya ia menyampaikan hal tersebut pada Myungsoo, Myungsoo akan berakhir dengan sakit hati. Dan sekarang ia ingin mencari cara untuk menyampaikannya namun tidak terlalu membuat Myungsoo tersakiti.

Karena bingung harus berbuat apa, ia pun menghubungi Jongdae, berharap Jongdae bisa membantunya.

To: Babo Dae

Jongdae-ya, Myungsoo sudah kembali. Apa yang harus aku lakukan?

Hyemi menggigit bibir bawahnya, gelisah menunggu balasan dari Jongdae. Sudah dua menit berlalu namun Jongdae belum juga membalas pesannya. Dia baru saja akan menelepon Jongdae ketika pesan dari Jongdae muncul di layar ponselnya.

From: Babo Dae

Temuilah dia dan katakan padanya apa keputusanmu. Ingat, kau harus tegas! Semangat Hyemi-ya! Aku dan Baekhyun mendukungmu dari sini! :* {}

Hyemi menimbang-nimbang anjuran, atau suruhan lebih tepatnya, Jongdae untuk pergi menemui Myungsoo sekarang. Pergi sekarang berarti pasrah pada semua kata-kata yang akan ia biarkan mengalir dari mulutnya atau pergi lain waktu dengan kata-kata yang sudah dipersiapkan sebaik mungkin agar tidak terlalu menyakiti hati Myungsoo tetapi itu artinya membiarkan Myungsoo semakin berharap selama beberapa hari. Setelah ia pikir-pikir, akan lebih baik jika ia mengakhiri segalanya sekarang. Tidak peduli sekarang atau nanti, Myungsoo akan tetap tersakiti.

Hyemi pun bangkit dari duduknya lalu beranjak pergi. Saat keluar kamar, tidak sengaja ibu mertuanya lewat. Ibu mertuanya pun heran melihat ia yang baru saja pulang, kini sudah siap pergi kembali.

“Kau mau kemana, Hyemi-ya?” tanya Nyonya Lu pada menantunya tersebut.

“A-aku akan menemui teman-temanku sebentar, eomma,” bohongnya. Ia menelan salivanya, gugup menunggu respon ibu mertuanya.

“Oooh…” Nyonya Lu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau makan malam dengan mereka? Atau di rumah?” tanyanya kemudian.

Hyemi menggaruk lehernya yang tak gatal. Ia tidak yakin bisa pulang sebelum makan malam mengingat pembicaraannya kali ini dengan Myungsoo sangat serius dan tidak mungkin hanya memakan waktu sebentar.

“Aku tidak tahu, eomma. Mungkin dengan mereka,” jawab Hyemi.

“Oke. Kalau begitu hati-hati di jalan! Dan sampaikan salamku pada mereka. Suruh mereka berkunjung ke rumah kita lagi!” ujar Nyonya Lu, membuat Hyemi bernafas lega. Beruntung sekali keluarga Luhan sudah mengetahui teman-teman Hyemi. Jadi, saat Hyemi mengatakan ia akan pergi menemui teman-temannya, ibu mertuanya mengiyakan saja karena beliau tahu dan yakin teman-teman Hyemi akan menjaga Hyemi dengan baik.

Begitu menapakkan kakinya di luar rumah, perasaan bersalah menyelimuti diri Hyemi. Ia merasa sangat bersalah telah membohongi ibu mertuanya yang baik hati dan polos itu. Tetapi ia terpaksa melakukan hal tersebut. Ia tak punya pilihan lain selain berbohong karena tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, mengatakan bahwa ia akan menemui Kim Myungsoo, calon mantan kekasihnya. Ia takut jika ia bicara sejujurnya, ibu mertuanya akan berpikiran yang aneh-aneh.

Ia bisa saja mengatakan Myungsoo sebagai salah satu temannya, tetapi ia merasa tidak begitu nyaman mengakui Myungsoo sebagai temannya jika pada kenyataannya Myungsoo masih berstatus “kekasihnya” karena mereka belum mengakhiri hubungan mereka secara resmi. Yang ia ingin lakukan hanyalah menyembunyikan Myungsoo jauh-jauh dari keluarga Luhan, keluarganya. Membuat Myungsoo menjadi bagian dari masa lalunya yang tidak perlu diketahui oleh keluarganya sekarang. Hyemi tidak malu untuk mengakui Myungsoo sebagai kekasihnya, justru pada kenyataannya ia sangat bangga mengakui Myungsoo. Ia bangga mengakui Myungsoo sebagai pria yang benar-benar tulus mencintainya sepenuh hati. Tetapi Myungsoo hanyalah “hari kemarin” untuknya sementara keluarga Luhan adalah hari esok. Ia tidak ingin membawa perasaan bersalah yang menyiksa dirinya ke masa depannya karena itu akan terus menghantuinya dan mengingatkannya pada segala kesalahan dan kejahatan yang telah ia perbuat pada Myungsoo. Ia ingin kehidupannya dengan keluarga Luhan seterusnya bersih dari masa lalu yang tidak ingin ia ingat, yaitu menyakiti Kim Myungsoo.

“Paman Im, tolong carikan aku taxi,” ujarnya pada penjaga rumah.

“Baik nyonya,” balas si penjaga rumah.

Sebenarnya masih ada mobil di rumah dan ada supir keluarga Lu juga. Tetapi sampai sekarang Hyemi masih tidak nyaman menggunakan mobil dan supir pribadi mereka. Hyemi lebih suka diantar Luhan atau menggunakan taxi dan bis.

Sambil menunggu taxi yang dipesankan oleh tuan Im, Hyemi mengirim pesan balasan kepada Myungsoo.

To: Oppa

Kau sibuk? Aku ingin bertemu. Temui aku di taman sekarang.

***

Sesampainya di taman, Hyemi melihat-lihat sekelilingnya, mencari tempat yang tepat untuk bicara empat mata dengan Myungsoo. Namun saat mencari-cari, matanya malah menangkap sosok Myungsoo yang sudah duduk di salah satu bangku taman. Tidak disangka Myungsoo akan tiba lebih cepat darinya.

“Kau sudah menunggu lama?” tanya Hyemi.

Myungsoo agak tersentak begitu mendengar suara Hyemi. Ia pun memutar kepalanya, melihat Hyemi yang baru saja duduk di sebelahnya. “Eh? Oh, tidak. Aku baru saja tiba. Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?” tanya Myungsoo.

“Tidak sengaja melihatmu. Kau tiba lebih cepat dari yang aku kira,” jawab Hyemi.

“Ohh.. Kebetulan tempat tinggalku yang baru tidak jauh dari sini,” balas Myungsoo masih sambil menatap Hyemi.

Hyemi tidak lagi membalas ucapan Myungsoo. Ia masih menundukkan kepalanya, memikirkan kapan dia harus mengatakannya.

Melihat Hyemi yang terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri, Myungsoo hanya bisa menghela nafas berat. Ia tahu apa yang akan terjadi beberapa saat lagi. Ia sudah merasakannya sejak ia menerima pesan dari Hyemi.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Myungsoo, basa-basi.

Hyemi tidak langsung menjawab pertanyaan Myungsoo. Ia mencerna pertanyaan tersebut lebih dahulu lalu memprosesnya di dalam kepalanya. Karena terlalu banyak pikiran, ia jadi agak lambat merespon pertanyaan Myungsoo.

“Aku… baik,” jawabnya agak ragu sehingga membuat pernyataannya terdengar seperti pertanyaan.

Myungsoo menganggukkan kepalanya, “Aku senang mendengarnya. Bagaimana dengan… kandunganmu? Apa dia baik juga?” tanya Myungsoo lagi.

Hyemi tertegun mendengar pertanyaan Myungsoo. Seperti ada kekuatan yang tiba-tiba merasuki dirinya begitu Myungsoo menanyakan tentang Ziyu dan itu menyadarkannya bahwa ia harus menyelesaikan semuanya sekarang.

Hyemi terus mengingatkan dirinya dalam hati jika ia tidak boleh lemah, ia tidak boleh kalah melawan kebaikan dan ketulusan hati Myungsoo yang masih sempat-sempatnya memikirkan anak dalam kandungannya. Ia tidak boleh iba lagi pada cinta Myungsoo padanya. Ia tidak bisa menuruti keinginan Myungsoo lagi. Ia harus melepaskan Myungsoo, membebaskan Myungsoo dari hubungan yang mengikat mereka.

Oppa…” panggilnya lemah.

Myungsoo masih menatapnya, menunggu Hyemi mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Myungsoo.

“Aku tidak bisa-”

“Hyemi kumohon-”

“Tidak oppa! Dengarkan aku!” seru Hyemi membuat Myungsoo terdiam. Kali ini Hyemi menatap Myungsoo, menatap tepat ke bola mata Myungsoo yang berkristal dan memancarkan kesedihan. Hatinya seperti ikut merasakan sakit hati yang sama saat ia menatap kedua bola mata tersebut.

“Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi. Aku tidak mau… Aku menyakitimu dan itu… menyiksaku,” ujar Hyemi.

Myungsoo tidak membalas ucapan Hyemi. Dia masih terdiam, mencerna tiap kata yang meluncur dari mulut Hyemi.

“Maafkan aku oppa… Aku ingin egois, aku ingin menahanmu. Tapi aku benar-benar tidak sanggup. Aku tidak sanggup hidup dalam perasaan bersalah ini. Aku-”

“Tidak bisakah kau memikirkan ini lagi?” potong Myungsoo dengan suara agak parau.

Seumur hidup mengenal Kim Myungsoo, ini adalah kali pertama Hyemi mendengar Myungsoo bicara dengan suara seperti ini padanya. Mendengarnya saja sudah cukup menyayat hati Hyemi, ditambah lagi fakta bahwa Myungsoo bicara seperti itu karena dirinya. Tidak pernah Hyemi membayangkan dirinya akan menyakiti seseorang sedalam ini.

Hyemi menarik nafas dalam-dalam sebeluk akhirnya berkata, “Maaf oppa… Ini sudah keputusan final-ku.”

Kata-kata Hyemi bagai ribuan jarum yang menghujam jantungnya. Myungsoo tidak bisa merasakan apapun lagi selain sakit dan pedih. Ia bahkan tidak bisa mendengar suara disekelilingnya selain suara Hyemi yang terus terngiang di telinganya.

‘Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi.’

‘Maaf oppa… Ini sudah keputusan final-ku.’

Seperti alarm, kalimat-kalimat tersebut terus terputar berulang-ulang kali di kepala Myungsoo, memaksanya untuk benar-benar mengingat dan menyimpan kalimat-kalimat tersebut di dalam kepalanya. Myungsoo tidak mengerti, dosa apa yang sudah ia perbuat sehingga ia harus menerima hukuman seperti ini yang menghampiri dirinya. Hyemi adalah wanita kedua yang ia cintai selain ibunya. Ia mencintai Hyemi lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. Tetapi sekarang, wanita yang paling ia cintai malah menghancurkannya. Dua kali ia kembali dari Jepang dan dua kali juga, di hari yang sama dengan hari kedatangannya, Hyemi meremukkan hatinya.

“Hyemi, apa kau yakin dengan keputusanmu ini?” tanya Myungsoo lagi, masih belum yakin dengan keputusan Hyemi.

Hyemi menarik nafas dalam, “Oppa. Ini keputusan akhirku. Aku tidak bisa bersama denganmu lagi. Aku tidak bisa terus menahanmu seperti ini. Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Wanita yang memang pantas bersamamu. Wanita yang mencintaimu lebih dari dia mencintai dirinya sendiri. Jika kau terus memaksa ingin bersamaku, kau tidak akan bisa bahagia. Aku… aku tidak akan pernah bisa membahagiakanmu oppa… Kumohon… Mengertilah… Aku hanya ingin kita sama-sama terbebas dari rasa tersiksa ini. Aku ingin kau bahagia. Aku tidak ingin terus menyakitimu. Aku ingin kita sama-sama meneruskan hidupkan kita tanpa satu sama lain lagi. Aku ingin kita hidup dengan baik. Tidak seperti ini… Kumohon oppa… Tolong penuhi permintaanku ini…” tutur Hyemi dengan mata berkaca-kaca. Baginya butuh keberanian yang cukup besar untuk mengeluarkan kata-kata tersebut dan ia berhasil. Meskipun sesak dan menyakitkan saat mengucapkan hampir seluruh isi hatinya pada Myungsoo, tetapi ia merasa lega.

Myungsoo, di sisi lain, tidak tahu harus bagaimana merespon permintaan-permintaan Hyemi. Apa yang baru saja ia dengar dari Hyemi benar-benar menyakitinya. Sangat menyakitkan hingga ia bahkan tak bisa merasakannya. Ia seperti mati rasa. Air mata mengalir di pipinya pun tak ia sadari.

“Tapi… Wanita terbaik yang pantas dengan diriku hanya dirimu… Hanya kau yang aku cintai Hyemi-ya! Aku tidak bisa mencintai wanita lain lagi! Hanya kau satu-satunya! Kebahagiaanku hanya dirimu! Aku tidak akan pernah bisa bahagia jika tidak denganmu! Aku ingin terus bersamamu… Hyemi, kumohon… Jangan tinggalkan aku…” pinta Myungsoo yang sudah nyaris seperti mengemis pada Hyemi.

Sekuat tenaga Hyemi menahan air matanya melihat Myungsoo memohon seperti itu padanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Myungsoo. Ia ingin terlihat kuat dan tegas.

Hyemi menundukkan kepalanya, tidak kuat melihat wajah Myungsoo yang kini berurai air mata. “Maaf oppa, aku tidak bisa… Aku punya keluarga sekarang dan mereka benar-benar menyayangiku. Aku tidak ingin meninggalkan mereka. Aku tidak bisa… Mereka sudah sangat baik mau menerimaku sebagai keluarga baru mereka dan aku… Tidak mau kehilangan keluarga lagi. Selain itu, aku akan memiliki anak sebentar lagi. Tidak mungkin aku memisahkan anakku dari ayah kandungnya. Aku hanya ingin anakku bahagia. Aku ingin dia memiliki orang tua kandung yang lengkap, yang mencintainya sepenuh hati. Tidak seperti aku… Jadi kumohon, mengertilah keputusanku… Aku hanya ingin yang terbaik untuk kita berdua. Aku sudah bahagia dengan keluarga baruku yang sekarang dan aku ingin kau juga bahagia. Kau harus menemukan kebahagian barumu, yang tentu saja itu bukan aku,” balas Hyemi yang kemudian menghembuskan nafas lega.

Myungsoo terdiam sejenak, berusaha mencerna kata-kata Hyemi dengan baik. Ada satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala Myungsoo ketika ia telah menyerap semua ucapan Hyemi ke dalam kepalanya.

“Kau mencintai suamimu?”

Hyemi memejamkan matanya sembari menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu dengan sangat jelas jawabannya. Ya, dia mencintai Luhan. Tetapi mengakui hal tersebut pada Myungsoo terasa salah baginya. Ia merasa semakin jahat pada Myungsoo karena membiarkan hatinya dicuri oleh Luhan dengan mudahnya setelah lima tahun perjuangan Myungsoo mendapatkan hatinya. Namun membohongi Myungsoo pun tak terasa baik untuknya. Ia tidak ingin Myungsoo semakin berharap padanya. Ia tidak ingin Myungsoo berpikir bahwa dia masih memiliki kesempatan untuk bersama dirinya.

Hyemi mengangkat wajahnya, menatap wajah Myungsoo meskipun tidak tepat di matanya karena ia tidak punya cukup keberanian untuk menjawab pertanyaan Myungsoo sembari bertatap mata. “Tidak penting bagaimana perasaanku pada suamiku. Cinta atau tidak, bukan masalah bagiku. Prioritas utamaku sekarang adalah anakku dan keluargaku saja. Tapi untuk saat ini… Aku cukup bahagia hidup bersamanya,” jawab Hyemi kemudian. Dia tidak bohong saat ia mengatakan ia bahagia. Pada kenyataannya, ia memang benar-benar bahagia tiap kali Luhan berada di sisinya.

Melihat Myungsoo yang diam terpaku mendengar jawabannya, Hyemi menggunakan kesempatan tersebut untuk meninggalkan Myungsoo. “Aku tidak bisa lama-lama di sini. Hari sudah mulai gelap. Keluarga dan ‘suamiku’ pasti sudah menungguku di rumah. Sekali lagi aku minta maaf untuk semua yang telah aku lakukan yang membuatmu sakit hati. Selamat tinggal!” pamit Hyemi sembari menekankan kata ‘suamiku’. Ia pun bangkit dari duduknya lalu beranjak pergi meninggalkan Myungsoo yang masih terdiam.

“Hyemi-ya!” panggil Myungsoo tiba-tiba, membuat Hyemi menghentikan langkahnya.

“Meskipun kau menyuruhku untuk melepasmu, aku tidak akan sanggup melakukannya! Kau boleh mencoba pergi menjauhiku, meninggalkan aku sejauh yang kau bisa! Tapi aku akan tetap mengejarmu! Aku akan berusaha mendapatkanmu lagi! Aku akan berusaha meraih kebahagianku kembali!” ujar Myungsoo dengan  suara lantang yang membuat Hyemi agak bergidig ngeri mendengar pernyataan Myungsoo.

Hyemi ingin berbalik dan menyuruh Myungsoo untuk berhenti. Tetapi sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa tak akan ada gunanya menyuruh Myungsoo untuk berhenti. Jadi pada akhirnya ia pun memutuskan untuk melanjutkan kembali jalannya tanpa menoleh sedikitpun. Dan ia tahu apa yang ia lakukan tersebut pasti membuat hati Myungsoo sakit dan sesak. Tetapi untuk saat ini saja ia tidak ingin peduli pada perasaan Myungsoo. Ia ingin benar-benar mengabaikan Myungsoo. Jika mungkin dengan menyakiti Myungsoo bisa membuat Myungsoo berhenti, ia rasa ia akan melakukannya.

***

Sesampainya Hyemi di rumah, tidak ada yang menyambut kedatangannya. Di ruang tengah sepi, tidak ada orang. Nyonya Lu, ibu mertuanya, Hara, dan si kembar yang biasanya pukul 8 masih meramaikan ruang tengah, tidak terdengar suaranya.

‘Sepertinya semua orang di rumah sedang pergi,’ pikirnya.

Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga tidak sempat memperhatikan garasi mobil yang hanya menampakkan mobil Luhan dan dua mobil keluarga yang biasa dipakai ibu mertua dan kakak iparnya. Saking sibuknya ia bahkan tidak menyadari kehadiran Luhan di dalam rumah. Ternyata sedari tadi Luhan memperhatikannya dari meja makan keluarga.

“Kau dari mana?” tanya Luhan tiba-tiba, membuat Hyemi terkejut hingga menjatuhkan tasnya.

Hyemi yang semula sudah melupakan kekesalannya terhadap Luhan karena memikirkan Myungsoo, kini teringat kembali oleh kejadian sore tadi yang membuatnya kesal pada Luhan. Tanpa menjawab pertanyaan Luhan, Hyemi mendengus kesal lalu mengambil tasnya dan masuk ke kamar begitu saja. Tak lupa ia sedikit membanting pintu kamar mereka, berharap Luhan tahu betapa marah dan kesalnya dia.

Luhan yang mendengar suara pintu kamar mereka ditutup agak keras oleh Hyemi hanya bisa menghembuskan nafas berat. Ia tahu Hyemi kesal padanya. Melihat Hyemi yang berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaannya dan terlihat enggan untuk melihatnya, membuat Luhan merasa bersalah.

Setelah berdiam cukup lama, Luhan pun memutuskan untuk menyusul Hyemi ke kamar. Dilihatnya Hyemi sudah berganti pakaian dan sedang berbaring di ranjang.

“Kau sudah makan?” tanya Luhan lembut sembari duduk di dekat kaki Hyemi. Namun bukannya menjawab, Hyemi malah memunggungi Luhan.

Luhan mengerti Hyemi pasti kesal sekali karena ia membatalkan janjinya tanpa pemberitahuan. Apalagi sekarang Hyemi sedang hamil, ia tahu Hyemi pasti sangat sensitif. Hal kecil pun dapat membuat Hyemi kesal.

Luhan mendesah lemah, ini adalah pertama kalinya Hyemi marah seperti ini padanya. Ia tidak tahu harus bagaimana membuat Hyemi memaafkannya.

“Hye… Kau marah padaku?” tanyanya retorik.

“Hye, aku minta maaf tidak mengantarmu check up hari ini. Tadi ada rapat dadakan di kantor dan aku harus menghadirinya. Maafkan aku, oke?” jelasnya.

Namun Hyemi tak bergeming. Ia tetap diam, tak berniat mengeluarkan sepatah kata pun. Ia sudah terlalu kesal dan kecewa untuk mempercayai ucapan Luhan. Baginya sulit untuk mempercayai Luhan lagi setelah Luhan membohonginya.

Untuk yang kesekian kalinya Luhan menghela nafas. “Hye…” panggilnya.

“Kalau kau marah karena aku tidak mengabarimu, aku minta maaf. Aku akui ini kecerobohanku. Aku tadi terburu-buru sehingga lupa memberitahumu. Ponselku tertinggal di ruang kerjaku sehingga aku baru bisa menghubungimu setelah rapat…” jelas Luhan lagi.

‘Cih! Rapat! Kau pikir aku percaya? Kau pasti menghabiskan waktu bersama Minha dan saking menikmati waktu-waktu kalian bersama, kau lupa kau seharusnya mengantarku check up hari ini. Dasar pembohong!’ omel Hyemi dalam hati. Tidak peduli bagaimanapun penjelasan Luhan, baginya Luhan membohonginya. Ia tetap percaya pada apa yang ia pikirkan. Percaya bahwa Luhan berbohong dan pergi bersama Minha.

Diamnya Hyemi membuat Luhan lama kelamaan frustasi. Ia sudah menyerah melihat Hyemi yang masih tidak mau meresponnya. Ia tidak menyangka Hyemi bisa semarah ini, padahal ia sudah memberi alasan yang logis dan jelas.

“Hye… Kalau kau masih marah ya sudah… Yang penting aku sudah menjelaskan alasanku padamu…” ujarnya pada Hyemi kemudian.

Pertama kalinya mereka seperti ini setelah menikah. Hyemi yang mendiaminya seperti ini, bagi Luhan lebih menyeramkan daripada Hyemi yang mengomel-omelinya. Dalam hati Luhan membuat catatan untuk tidak membuat Hyemi kesal lagi.

Hyemi langsung membalik tubuhnya begitu Luhan beranjak ke sisi ranjang yang lain, memunggungi Luhan sekali lagi. Malam itu, akhirnya mereka tidur berjauh-jauhan.

***

Dua hari kemudian, Luhan dan Hyemi masih bersitegang. Hyemi masih saja mengacuhkannya padahal ia sudah terus berusaha mengajak Hyemi berdamai. Luhan terus mengajak Hyemi bicara, namun Hyemi tak akan menyahutinya jika tidak di hadapan keluarga mereka. Perlakuan Hyemi tersebut cukup membuatnya frustasi. Tidak pernah dalam hidupnya seseorang memperlakukan dirinya seperti ini. Tidak Minha sekalipun meskipun saat berpacaran dulu mereka sempat bertengkar. Hyemi adalah yang pertama.

Saking fruatasinya karena Hyemi, Luhan pun mengajak Minha bertemu. Ia tidak tahu mengapa, tetapi ia benar-benar ingin bertemu Minha. Ia merasa ia membutuhkan Minha saat ini.

“Hei oppa,” sapa Minha yang baru tiba.

Luhan tersenyum pada Minha begitu melihat Minha di haapannya. “Hei…” balasnya kemudian.

Minha membalas senyuman Luhan. Tetapi ia sadar ada yang aneh dari senyum Luhan. Ia tahu ada sesuatu yang mengusik Luhan dari senyumnya.

“Ada apa?” tanyanya pada Luhan.

Luhan mendesah lemah, “Dua hari yang lalu aku lupa mengantar Hyemi check up. Ada rapat dadakan saat itu dan saking paniknya… Aku lupa menghubunginya. Aku sudah mencoba menjelaskan alasanku padanya tapi ia tetap marah. Ia bahkan mendiamiku sampai sekarang…” ceritanya pada Minha.

Luhan mendukkan kepalanya, menatap satu cup Americano di hadapannya, “Aku benar-benar merasa bersalah padanya dan sekarang aku hampir frustasi…” tambahnya lagi.

Mendengar cerita Luhan membuat Minha merasa ada sesuatu yang menusuk-nusuk hatinya. Ia tidak tahu melihat Luhan yang seperti ini karena Hyemi bisa membuatnya seterganggu ini. Padahal ia tahu Luhan masih mencintainya. Tetapi entah mengapa, melihat Luhan sekarang membuatnya sedikit khawatir.

“Kurasa Hyemi-ssi semarah itu karena dia sedang hamil. Ibu hamil terkadang memang sangat sensitif. Bersabar saja oppa, mungkin sebentar lagi dia tidak akan marah lagi padamu,” ucapnya pada Luhan.

“Ya… Kuharap juga begitu…” balas Luhan.

“Ngomong-ngomong, kau tidak pernah cerita soal perkembangan anakmu padaku…” ujar Minha, mencoba mengalihkan topik pembicaraan dari Hyemi.

Mata Luhan berbinar seketika begitu Minha menyebut anaknya, “Ah! Iya! Anakku baik-baik saja. Terakhir kali aku mengantar Hyemi check up, dia terlihat sehat di dalam sana. Ah, kau harus lihat fotonya!” tutur Luhan semangat, yang kemudian mengambil dompetnya untuk menunjukkan hasil USG Hyemi sebulan yang lalu.

Hyemi melihat bagaimana antusiasnya Luhan saat Luhan berbicara tentang anaknya. Melihat Luhan senang seperti itu, Minha pun ikut merasa senang. Tetapi kesenangan tersebut tak bertahan lama tatkala ia melihat dompet Luhan di hadapannya. Bukan dompet Luhan yang mengganggunya, ia bahkan tidak peduli apakah itu dompet lama atau dompet baru. Namun foto yang ada di dompet tersebut yang mengganggunya. Ia hanya melihat foto itu sekilas saat Luhan mengeluarkan hasil USG Hyemi dari dompetnya, tetapi ia tahu itu bukan foto Luhan dengan dirinya lagi, melainkan Luhan dengan Hyemi dan keponakannya, Lisa dan Naomi.

Dadanya mendadak sesak begitu memikirkan Luhan yang dengan mudahnya mengganti foto mereka. Kekhawatirannya semakin bertambah. Minha jelas ingin mereka benar-benar melanjutkan kehidupan mereka sekarang, namun untuk saat ini, ia masih ingin hati Luhan menjadi miliknya. Ia tahu ia egois jika ia menginginkan Luhan untuk tetap mencintainya selama ia masih mencintai Luhan di saat Luhan seharusnya mencintai Hyemi. Tetapi ia tidak bisa menahan egonya.

Saking sibuknya dengan pikirannya sendiri, Minha bahkan tidak mendengar jelas apa yang baru saja Luhan tuturkan padanya. Yang ia dengar hanyalah kalimat terakhir Luhan. “Kau tahu apa jenis kelaminnya?”

“Apa?” Tanya Minha sambil tersenyum tipis.

“Aaahh… Ayo tebak! Kau pasti tahu!” pinta Luhan.

Ya, Minha tahu. Ia tahu sesaat setelah melihat ekspresi Luhan ketika Luhan menanyakan dia apa jenis kelamin anak di dalam kandungan Hyemi. Ia ingat betul beberapa bulan setelah mereka merencanakan pernikahan mereka, mereka membicarakan tentang bagaimana keluarga mereka di masa depan. Ia ingat dengan jelas Luhan mengatakan padanya Luhan menginginkan anak yang banyak dan anak pertama kalau bisa adalah anak laki-laki. Luhan mengatakan padanya, ia ingin anak laki-laki sebagai anak pertama agar anak tersebut bisa menjadi pemimpin dalam keluarga setelah dirinya, bisa menjadi kakak tertua yang melindungi adik-adiknya seperti Kris, dan bisa menjadi teman menonton bola untuk Luhan. Luhan mengatakan bahwa ia tak sabar untuk segera memiliki anak laki-laki dan melihat anaknya tersebut segera tumbuh besar.

“Hm… Laki-laki?” tebak Minha.

“Benar sekali!” seru Luhan.

“Akhirnya keinginanku tercapai untuk memiliki anak laki-laki sebagai anak pertamaku! Ah, aku bahkan sudah memberinya nama sekarang, kau tahu,” ujar Luhan menambahkan.

“Selamat oppa! Aku senang mendengarnya. Siapa namanya?” Tanya Minha.

“Lu Ziyu, nama mendiang kakekku. Kuharap ia bisa menjadi seperti kakekku kelak. Kalu bisa lebih hebat dari kakekku,” jawab Luhan.

“Nama yang bagus. Kurasa ia akan tumbuh menjadi pria yang hebat seperti kakekmu,” ujar Minha tulus. Minha bingung pada dirinya sendiri. Ia tidak merasa terganggu sedikitpun saat Luhan bercerita tentang anaknya. Ia malah ikut merasa senang melihat Luhan yang begitu bahagia. Tetapi jika melihat Luhan senang karena Hyemi, mungkin akan terjadi yang sebaliknya.

***

Hyemi baru saja pulang kerja saat ia menerima pesan dari Baekhyun. Ia pikir Baekhyun akan mengajaknya makan bersama teman-temannya yang lain, tetapi ternyata pesan dari Baekhyun tidak seperti yang ia pikirkan. Hyemi malah bingung dan bertanya-tanya begitu membaca pesan dari Baekhyun.

From: Baekchi

Suamimu ada di rumah?

Dahinya berkerut. Ia heran mengapa Baekhyun tiba-tiba menanyai Luhan. Seingatnya Baekhyun tidak terlalu dekat dengan Luhan. Kemungkinan Baekhyun membutuhkan Luhan untuk sesuatu sangat kecil baginya.

To: Baekchi

Tidak. Ada apa?

 

From: Baekchi

Ah, tidak ada apa-apa hehe. Hiraukan saja pesanku tadi.

Hyemi bukanlah sahabat Baekhyun tanpa alasan. Ia mengenal Baekhyun sudah cukup lama dan tahu bagaimana Baekhyun. Ia tahu Baekhyun berbohong. Baekhyun menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa apa yang Baekhyun sembunyikan berhubungan dengan Luhan. Ia merasa apa yang Baekhyun ketahui tentang Luhan saat ini bukanlah hal yang ia sukai.

To: Baekchi

Byun Baekhyun, jangan menyembunyikan sesuatu dariku.

Ada apa dengan Han?

Entah mengapa nama Minha tiba-tiba melintas di kepalanya. Ia yakin Minha ada hubungannya dengan kecurigaannya terhadap Luhan sekarang. Perasaannya mengatakan Luhan sedang bersama Minha. Dalam hati ia berharap itu hanya sekedar perasaannya saja.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya balasan pesan dari Baekhyun tiba.

From: Baekchi

Aku tidak tahu aku salah lihat atau tidak, tapi sepertinya tadi aku melihat Luhan bersama seorang gadis di Hongdae. Dan jika aku tidak salah lihat juga, gadis itu adalah kekasih Luhan dulu.

Hyemi tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Untuk yang kesekian kalinya Luhan membohonginya. Dan penyebab Luhan berbohong adalah Minha.

Ia ingat betul apa yang Luhan katakan padanya tadi pagi sebelum ia berangkat kerja. Luhan mengatakan padanya jika hari ini ia pulang pukul 5 dan akan langsung ke rumah setelah bekerja. Namun ternyata Luhan malah pergi ke Hongdae bersama Minha. Itu berarti Luhan tidak pulang pukul 5. Luhan pulang sebelum pukul 5 dan menggunakan sisa waktu yang ada untuk bertemu Minha. Luhan benar-benar membohonginya dan itu membuatnya semakin kesal. Tak hanya kesal pada Luhan, namun pada Minha juga.

Hyemi tidak ingin membenci Minha karena ini. Ia tahu Minha adalah wanita yang baik. Minha hanyalah seorang wanita yang mencintai pria yang ia cintai. Minha hanyalah satu diantara milyaran wanita yang ingin bersama pria yang ia cintai. Minha hanyalah wanita yang tak jauh beda darinya. Wanita yang ingin bahagia. Wanita egois yang berusaha mendapatkan kebahagiannya. Hyemi tidak ingin membenci Minha untuk sesuatu yang memang wajar Minha lakukan. Baginya, di dalam kisah mereka yang begitu rumit ini, ia adalah antagonisnya. Ia yang merebut Luhan dari Minha. Ia yang seharusnya di benci Minha, buka ia yang membenci Minha. Tetapi ia tidak bisa menghentikan perasaan kesal di dalam dirinya yang semakin lama semakin berkembang menjadi benci. Ia tidak ingin membenci Minha. Demi apapun ia tidak ingin seperti itu.

Akibat terlalu sibuk dengan pikirannya, Minha tidak sadar jika Luhan sudah pulang dan baru saja masuk ke kamar. Ia mungkin akan terus bergulat dengan pikirannya jika saja suara Luhan tidak menyadarinya.

“Oh? Kau sudah pulang…” ujar Luhan.

Hyemi mengangkat wajahnya, melihat Luhan sejenak sebelum kembali memalingkan wajahnya dari Luhan. Ia terlalu kecewa dan kesal sehingga ia merasa tidak sanggup melihat wajah Luhan. Ia takut ia akan meledak jika ia melihat Luhan lebih lama.

Luhan yang melihat Hyemi memalingkan wajahnya hanya bisa menghela nafas. Ia tidak tahu sudah berapa kali ia menghela nafas selama dua hari ini karena sikap Hyemi padanya. Jujur sekali ia lelah seperti ini. Ia tidak suka diacuhkan seperti ini oleh Hyemi. Ia ingin mereka kembali seperti sebelumnya.

“Mau sampai kapan kau seperti ini padaku, Hye?” Tanya Luhan. Ia mungkin bisa gila sebentar lagi jika Hyemi masih memperkakukannya seperti ini.

“Aku sudah minta maaf, aku sudah menjelaskan semuanya padamu, apa lagi yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku? Haruskah aku berlutut di hadapanmu? Menyembahmu? Mencium kakimu? Tidak cukupkah kau menghukumku selama dua hari? Mau sampai kapan kau menghukumku seperti ini? Kau memperlakukanku seolah-olah aku melakukan kesalahan yang sangat besar. Aku hanya lupa mengantarmu check up satu kali karena rapat yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku tidak lupa karena bersenang-senang atau apapun yang kau pikirkan,” oceh Luhan frustasi.

“Aku sudah mengakui kesalahanku. Memang aku yang ceroboh, tidak sempat memberimu kabar sebelumnya. Aku panik saat itu sehingga aku lupa kau harus check up. Tidak bisakah kau memaafkan kesalahanku? Aku juga manusia. Aku tidak sempurna. Aku melakukan kesalahan. Aku melanggar janjiku bahkan tanpa aku kehendaki,” lanjutnya lagi.

Hyemi tidak tahu apakah ia bisa mempercayai Luhan atau tidak. Memaafkan Luhan mungkin mudah, tetapi mempercayai apa yang Luhan katakan setelah beberapa kali Luhan membohonginya? Sepertinya ia tidak bisa.

“Aku lelah seperti ini Hye. Aku sudah cukup lelah dengan semua pekerjaanku di kantor dan sikapmu padaku sekarang membuatku frustasi. Tidak bisakah kau memaafkan aku? Aku ingin kita berbaikan, aku tidak ingin bertengkar seperti ini. Aku tidak mau karena ini kau terus berlarut-larut dalam amarahmu. Emosimu itu bisa mempengaruhi kesehatanmu dan secara tidak langsung berpengaruh pada kesehatan Ziyu. Kau tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Ziyu, kan?” tutur Luhan sembari berjalan mendekati Hyemi yang terduduk di pinggir ranjang.

Luhan berlutut di hadapan Hyemi lalu meraih kedua tangan Hyemi, menggenggam lembut tangan Hyemi, membuat Hyemi tertegun. Hyemi nyaris saja memutar kepalanya ke arah Luhan. Namun ia berhasil menahan dirinya. Ia masih tetap tidak menatap wajah Luhan.

“Hye,” panggil Luhan namun Hyemi masih tetap pada posisinya, enggan untuk menatap Luhan.

“Hye,” panggil Luhan sekali lagi.

Hyemi sebenarnya tidak ingin menoleh, tetapi tubuhnya malah melawannya. Ia malah mendengarkan panggilan Luhan dan memutar lehernya hingga kini ia menunduk, menatap Luhan yang berlutut di hadapannya dengan sedikit mendongakkan kepala.

“Maafkan aku. Kumohon…” ucapnya lembut. Sangat lembut hingga perlahan merobohkan benteng pertahanan Hyemi.

“Aku akan melakukan apapun untuk membayar kesalahanku. Aku akan berusaha menuruti apapun kemauanmu asalkan kau memaafkan aku. Kumohon Hye… Maafkan aku…” mohon Luhan lagi kali ini sembari mengusap punggung tangan Hyemi dengan ibu jarinya.

Hyemi yang akhirnya luluh pun hanya bisa mendesah lemah sebelum akhirnya menerima permintaan maaf Luhan. “Baiklah… Aku memaafkanmu…” ujarnya pelan namun cukup keras untuk Luhan dengar.

Mendengar Hyemi memaafkannya, membuat Luhan merasa terbebas dari ikatan kencang yang membelit dan menyesakkan dadanya. Ia merasa lega. Ia pun tersenyum lembut, menunjukkan pada Hyemi betapa berterimakasihnya ia pada Hyemi karena Hyemi telah memaafkannya.

“Terimakasih,” ucapnya lembut sambil sedikit meremas tangan Hyemi.

“Tolong jangan kecewakan aku lagi. Kau tahu aku sangat sensitif sekarang,” pinta Hyemi yang diiyakan oleh Luhan dengan anggukan kepala.

“Dan satu lagi…” ucap Hyemi menggantung.

“Aku tidak minta sesuatu yang sangat besar padamu. Aku hanya ingin kau… jangan berbohong padaku,” lanjut Hyemi.

Luhan agak tersentak mendengar permintaan Hyemi yang terakhir. Rasanya seperti baru saja tertangkap basah. Tetapi Luhan tidak yakin jika Hyemi tahu ia telah membohongi Hyemi beberapa kali. Dan sekarang ia tidak tahu apakah ia bisa menuruti permintaan Hyemi yang terakhir atau tidak. Ia tidak yakin ia bisa menepatinya. Tetapi mau tidak mau ia harus mengiyakannya.

“Ya, aku tidak akan berbohong padamu. Percayalah padaku,” ucap Luhan mantap walaupun di dalam hati ia ragu apakah ia bisa memegang kata-katanya atau tidak. Tetapi ia berjanji ia akan berusaha untuk menepatinya. Ia akan berusaha untuk tidak membohongi Hyemi.

***

Siang itu, Hyemi baru saja akan kembali ke kantor setelah makan siang di salah satu kedai dekat kantornya. Tepat sebelum ia menyeberang ke seberang jalan, di mana kantornya berada, sesorang menghubungi ponselnya. Hyemi hanya bisa mengerang pelan saat ia melihat ID si penelepon.

Oppa. Alias Kim Myungsoo, mantan kekasihnya.

Sudah beberapa hari sejak terakhir kali ia bertemu Myungsoo dan resmi mengakhiri hubungan mereka. Myungsoo benar-benar serius dengan kata-katanya saat ia mengatakan akan mendapatkan Hyemi kembali. Hampir setiap hari Hyemi menerima telepon dan pesan dari Myungsoo, namun tak satupun dari pesan maupun telepon tersebut Hyemi tanggapi.

Tetapi sepertinya untuk kali ini Hyemi harus merespon telepon Myungsoo. Rasa simpati dan bersalahnya perlahan berubah menjadi kesal tatkala Myungsoo terus menerornya dengan pesan dan telepon setiap hari. Hyemi merasa jengah dengan perbuatan Myungsoo tersebut. Ia sudah berada di puncak kekesalannya. Dan sekarang, ia rasa Myungsoo harus tahu jika ia kesal.

“Kau mau apalagi oppa? Bukankah semuanya sudah jelas hari itu? Kita putus. Kita sudah berakhir. Tolong jangan ganggu aku lagi,” ucap Hyemi tanpa basa-basi ketika ia mengangkat telepon. Ia bahkan tidak repot-repot menyapa Myungsoo terlebih dahulu.

“Jadi sekarang aku mengganggumu?” Tanya Myungsoo pelan. Dari suaranya, Hyemi tahu betapa sakit hatinya Myungsoo saat Myungsoo menyahutinya.

Hyemi tidak ingin bersikap kejam pada Myungsoo tetapi Myungsoo sudah melewati batas kesabarannya. Ia hanya ingin yang terbaik bagi mereka berdua. Dan yang terbaik menurutnya adalah Myungsoo meninggalkannya. Jika bersikap kasar dan kejam bisa membuat Myungsoo meninggalkannya, ia akan dengan senang hati melakukannya.

“Ya. Telepon-telepon dan pesan-pesanmu itu sudah bisa dikategorikan sebagai terror. Kau tahu, aku bisa saja melaporkanmu ke pihak yang berwajib karena kau telah menganggu kenyamananku. Berhentilah oppa. Kumohon. Aku stress jika kau terus seperti ini. Kesehatanku semakin lama semakin memburuk karena stress ini dan itu membahayakan anakku,” tutur Hyemi.

Hyemi tidak tahu sudah seberapa hancur hati Myungsoo mendengar kata-katanya. Ia tidak ingin membayangkannya karena dengan membayangkannya ia bisa terpuruk kembali dalam rasa bersalah dan ia tidak ingin itu terjadi.

“Apa kau serius ingin benar-benar meninggalkanku?” Tanya Myungsoo lirih.

Hyemi menghela nafas. Ia lelah mengulang kata-kata yang sama berkali-kali. Entah sudah berapa kali ia mengatakan hal yang sama, namun Myungsoo tak juga mengerti.

Oppa, dengar. Aku tegaskan sekali lagi, kita sudah berakhir,” ucap Hyemi dengan menekankan tiga kata terakhirnya.

“Aku sudah berkeluarga sekarang. Aku tidak bisa kembali lagi denganmu. Aku… Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Mengerti?” tambah Hyemi.

Agak lama Myungsoo terdiam sebelum akhirnya ia bertanya, “Apa… Ini karena suamimu? Kau mencintainya?”

Jantung Hyemi seketika berdebar mendengar pertanyaan Myungsoo. Di satu sisi ia merasa bersalah jika harus mengakui yang sebenarnya, di sisi lain ia merasakan sesuatu yang menggelitik hatinya dan herannya ia menyukai sesuatu tersebut. “Iya… Aku mencintainya… Aku mencintai suamiku,” jawab Hyemi pada akhirnya.

“Bagaimana… Bagaimana bisa kau dengan mudahnya menggantikan posisiku di hatimu? Apakah lima tahun perjuanganku ini tak ada artinya untukmu? Empat tahun kita bersama, berakhir begitu saja?” lirih Myungsoo.

Oppa, cinta bisa datang dan pergi kapan saja. Tidak peduli berapa lama kau bersamaku, jika cinta itu pergi, maka aku tidak mencintaimu lagi,” ucap Hyemi.

“Apa yang dia miliki dan aku tidak? Apa yang membuatmu mencintainya?” Tanya Myungsoo lagi.

Hyemi terdiam sejenak, perlahan mulai mengingat-ingat segala hal tentang Luhan lalu membandingkannya dengan Myungsoo. “Dia tidak memiliki apapun yang membuatnya jauh lebih unggul di atasmu. Dia kurang lebih hampir sama denganmu. Baik, lembut, pengertian, dan masih banyak lagi, aku tidak bisa mengabsennya satu persatu. Namun satu hal yang membuatnya selangkah lebih unggul darimu. Dia di sini, di sisiku. Dia bersamaku saat aku terpuruk. Dia membuatku bangkit kembali, memberiku harapan bahwa masa depanku tidak benar-benar hancur setelah malam itu. Aku tahu kehamilanku ini bukanlah salahmu. Ini salahku dengannya. Namun, dia yang mau bertanggungjawab inilah yang membuatku perlahan berpaling hati. Dia rela meninggalkan kekasihnya, membatalkan pernikahannya yang sudah di depan mata demi bertanggungjawab padaku. Sekarang, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padanya jika ia seperti itu?” jawab Hyemi agak melebih-lebihkan di bagian akhir karena setahunya, Luhan terpaksa menikahinya.

“Bukankah selama ini aku juga berada di sisimu?” sahut Myungsoo.

Hyemi menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Ia mulai lelah bicara dengan Myungsoo. Ia ingin segera mengakhiri obrolan mereka. “Ya… Suara dan tulisanmu selalu ada di sisiku. Aku egois oppa. Sangat egois. Yang aku butuhkan bukanlah sekedar suara maupun tulisan. Aku butuh kehadiran sosok yang nyata berada di sisiku. Kau bisa saja sering meneleponku, mengirimiku pesan, tapi sosokmu? Berada jauh dariku. Sekali lagi aku katakan padamu, aku ini egois. Aku tidak peduli kau berada jauh dariku karena pekerjaanmu. Yang aku peduli adalah dia yang berada jelas di sisiku dan kau yang berada jauh dariku. Jangan salahkan waktu dan kebersamaan kami yang membuatku jatuh cinta padanya. Jangan juga salahkan dirimu maupun pekerjaanmu yang membuatmu tak bisa berada di sisiku saat aku membutuhkan dada untuk bersandar. Ini semua murni karena takdir yang Tuhan gariskan untuk kita. Jadi… berhentilah oppa. Kumohon… Demi kebaikan kita bersama,” balas Hyemi, tidak peduli betapa sakitnya Myungsoo setelah mendengar penuturannya. Ia hanya ingin Myungsoo sadar dan berhenti.

Tetapi ternyata usaha Hyemi sia-sia saja. Meskipun hingga mulutnya berbusa ia mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyayat hati Myungsoo, Myungsoo tidak akan menyerah. Myungsoo akan tetap berusaha mendapatkan Hyemi kembali, tidak peduli sebesar apa rintanga-rintangan yang akan ia hadapi.

“Tidak Hyemi, aku tidak bisa berhenti. Aku mencintaimu! Aku membutuhkanmu Hyemi, aku tidak bisa hidup tanpamu!”

Hyemi mendesis kesal sembari memijit pelan pelipisnya. Bicara dengan Myungsoo membuatnya sakit kepala. Kesehatannya bisa-bisa makin memburuk sungguhan karena ini.

“Terserah kau saja kalau begitu oppa. Aku lelah bicara padamu. Lakukan apapun yang kau mau, tapi jangan harap aku akan kembali padamu. Jangan hubungi aku lagi, karena itu menggangguku. Selamat tinggal,” ucap Hyemi sebelum akhirnya memutus sambungan telepon tanpa menunggu balasan dari Myungsoo. Ia sudah tidak peduli dengan perasaan Myungsoo. Ia terpaksa  menjadi kejam seperti ini agar Myungsoo berhenti. Ia sudah cukup stress dengan masalah antara dirinya, Luhan, dan Minha, dan ia tidak butuh Myungsoo untuk menambah-nambah beban hidupnya.

Hyemi pun menyeberangi jalan setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas dan memastikan tidak ada kendaraan yang lewat. Ia menepis semua pikiran-pikiran yang berhubungan dengan Myungsoo setelah obrolan panjang lebar mereka via telepon. Namun ada satu hal yang tidak bisa ia singkirkan dari kepalanya.

‘Iya…  Aku mencintainya… Aku mencintai suamiku…’

Pengakuan sederhana namun berdampak besar pada diri Hyemi. Entah mengapa ia merasa begitu lega setelah mengucapkan perasaannya secara langsung menggunakan mulutnya sendiri. Mungkin akan lebih lega lagi jika ia mengungkapkannya langsung pada Luhan. Namun ia tidak terlalu yakin untuk melakukan itu, tetapi mungkin suatu saat nanti ia akan mengungkapkannya.

***

Luhan memasuki set pemotretan, melihat pekerjanya membuat ulang iklan untuk produk sebelumnya. Para pekerja yang melihatnya langsung menyapanya dan membungkuk hormat.

“Selamat siang, Tuan Lu!” sapa Yongguk, bawahannya yang bertugas memantau proses pembuatan iklan tersebut.

Luhan tersenyum sembari membalas bungkukan badan Yongguk. “Selamat siang, Tuan Bang. Bagaimana pengerjaan iklan ini? Sudah hampir selesaikah? Apa ada kendala selama pengerjaannya?” Tanya Luhan.

“Ah, syukurnya pengerjaan iklan baru ini berjalan lancar. Kami hanya perlu mengambil beberapa gambar lagi. Oh, tidak sama sekali. Sejak hari pertama pembuatan semuanya berjalan sesuai rencana. Model dan fotografernya sendiri bekerja dengan sangat baik sehingga pengerjaan iklan ini bisa selesai lebih cepat dari perkiraan. Sungguh beruntung kita mendapat model dan fotografer baru yang benar-benar profesional,” jawab Yongguk.

Luhan menganggukkan kepalanya, lalu melihat ke arah model dan fotografer baru mereka yang baru saja menyelesaikan pengambilan gambar terakhir. Modelnya adalah Jessica Jung, salah satu artis yang direkomendasikan oleh Hyemi. Tidak menyesal ia mengikuti saran Hyemi. Jessica Jung benar-benar paket komplit untuk iklan mereka. Cantik, elegan, dan terkenal. Mungkin dengan menggunakan Jessica Jung sebagai bintang iklan baru mereka bisa menaikkan harga penjualan produk mereka mengingat sekretarisnya mengatakan padanya jika Jessica Jung memiliki fans yang cukup banyak di Korea, China, Jepang, dan Negara lain.

Luhan melihat Jessica yang kini berjalan ke arahnya dan Yongguk. Melihat Yongguk, Jessica langsung membungkukkan badan dan menyapanya. Ia juga sepertinya mengetahui Luhan karena ia juga menyapa Luhan dengan memanggilnya Tuan Lu.

“Selamat siang, Tuan Lu. Senang bisa bertemu anda,” ujar Jessica.

“Senang juga bisa bertemu dengan anda, Nona Jung. Maaf saya baru bisa hadir dan menemui anda di hari terakhir pengambilan gambar,” balas Luhan.

“Ah, tidak apa-apa. Setidaknya sekarang kita akhirnya bisa bertatap muka. Saya benar-benar menanti kesempatan untuk bertemu dengan anda untuk mengucapkan terima kasih karena anda telah memberi saya kesempatan untuk menjadi bintang iklan produk anda. Benar-benar suatu kehormatan bisa menjadi model salah satu brand terkenal Asia ini,” tutur Jessica sembari tersenyum, menunjukkan bahwa ia benar-benar berterimakasih telah diberi kesempatan untuk mengiklankan salah satu produk SmartLu Corp.

“Seharusnya saya yang mengucapkan terima kasih. Terima kasih atas kerja sama anda. Kuharap kita bisa bekerja sama lagi di produk kami selanjutnya,” sahut Luhan.

Setelah sedikit berbasa-basi, Luhan pun meninggalkan Jessica untuk menemui fotografer baru yang kemungkinan akan bekerja sama lagi dengan perusahaannya dalam mengiklankan produk terbaru mereka berikutnya. Luhan tidak terlalu tahu banyak tentang fotografer tersebut. Yang ia tahu hanyalah namanya dan informasi jika ia baru saja pulang dari Jepang.

“Tuan Kim?” Tanya Luhan, memastikan jika ia tidak salah memanggil orang.

Pria yang dipanggil Tuan Kim tersebut membalik badannya, “Ah, iya. Anda… Tuan Lu?” Tanya Tuan Kim tersebut.

Tuan Kim, yang bernama lengkap Kim Woobin tersebut, membungkukkan badannya, memberi hormat pada Luhan yang juga membalas bungkukan badannya. Mereka sedikit berbasa-basi, membicarakan tentang proses pembuatan iklan tersebut yang ternyata tidak begitu diketahui oleh Woobin karena Woobin bukanlah fotografer utama. Woobin adalah sepupu dari fotografer yang sesungguhnya yang dimintai tolong untuk menggantikan sepupunya karena sepupunya tersebut harus mengurus beberapa berkas terkait kepindahannya dari Jepang dan pekerjaan-pekerjaannya di Seoul.

“Senang bisa bertemu dan bekerja sama dengan anda. Aku harap kita bisa bekerjasama lagi di waktu mendatang. Sayang sekali aku belum bisa bertemu langsung dengan Myungsoo-ssi sampai hari ini,” ujar Luhan.

“Saya harap juga begitu. Ah, anda bisa menghubunginya dan mengatur pertemuan dengannya jika anda memang benar-benar ingin bertemu dengannya. Kalau anda mau, saya bisa memberitahunya nanti,” tawar Woobin.

“Ah, ya dengan senang hati. Saya akan melihat jadwal saya terlebih dahulu. Mungkin nanti saya akan menghubungi anda jika saya bisa,” jawab Luhan.

Luhan tidak tahu mengapa, ia merasa sangat penasaran dengan Kim Myungsoo. Ia benar-benar ingin bertemu langsung dengan Kim Myungsoo tersebut. Dari penuturan sekretarisnya, Kim Myungsoo terdengar seperti seseorang yang hebat. Ia bahkan mendengar bahwa Kim Myungsoo adalah salah satu fotografer muda terkenal yang baru saja meraih kesuksesan atas perilisan photobook pertamanya.

Dalam kepalanya, Luhan membuat catatan untuk meluangkan sedikit waktunya untuk bertemu langsung dengan Kim Myungsoo.

***

Akhir pekan ini, untuk pertama kalinya setelah cukup lama tidak berkumpul, Hyemi bertemu dan berkumpul bersama teman-temannya. Baekhyun, Jongdae, Saera, Jongin, dan Sehun, semuanya hadir dan berkumpul di kedai Bibi Nam, tempat berkumpul favorit mereka.

“Ya! Kalian harus tahu Jongdae sedang mendekati seseorang akhir-akhir ini!” ucap Baekhyun yang seperti biasa, suka memulai keributan di antara mereka.

“Ya!” seru Jongdae malu-malu sembari menepuk lengan Baekhyun.

“Hah? Ya! Kim Jongdae! Mengapa kau tidak memberitahuku jika kau sedang menyukai seseorang sekarang?!” protes Hyemi.

“Ya hyung! Beritahu kami siapa wanita tidak beruntung tersebut!” seru Sehun membuat Jongdae menatap sinis padanya.

Belum sempat Jongdae menjawab, Baekhyun sudah kembali membuka suara, “Ah! Ah! Aku tahu namanya! Jika tidak salah namanya Zhang… Zhang… Zhang Yixing?”

Jongin, Sehun, dan Hyemi langsung tertawa mendengar Baekhyun yang salah menyebut nama, sementara Saera berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Oppa bodoh! Zhang Yixing itu temannya Luhan oppa,” ucap Saera.

Baekhyun yang tidak terima dikatakan bodoh pun membalas ucapan Saera untuk membela dirinya, “Ya! Jangan salahkan aku jika aku salah menyebut nama. Wanita China itu namanya sulit sekali. Yang aku ingat ada Zhang di namanya.”

“Wah… Orang China. Hyemi noona menikah dengan pria China, Jongdae hyung sekarang menyukai wanita China, jangan-jangan nanti kau jatuh cinta pada wanita China juga hyung,” komentar Jongin.

Baekhyun terlihat tidak setuju. Ia melambaik-lambaikan tangannya, “Naah… Aku dengan gadis lokal saja. Tidak perlu jauh-jauh, di sini masih ada gadis lokal yang melajang,” ujar Baekhyun sembari melirik-lirik nakal ke arah Saera yang langsung mendengus mendengar ucapannya.

“Cih! Meski kau satu-satunya pria di dunia, aku tidak akan mau denganmu!” ucap Saera membuat yang lain menertawakan Baekhyun.

“Wah! Wah! Sombong sekali bocah ini. Kau lupa siapa yang memintaku menjadi kekasihnya di hari terakhir masa orientasinya, hm?” balas Baekhyun.

Tidak mau kalah, Saera pun menjawab, “Ya! Itu hukuman! Aku terpaksa tahu!”

Perdebatan diantara Baekhyun dan Saera pun terus berlangsung selama beberapa menit. Tidak ada satupun yang mau melerai Baekhyun dan Saera karena mereka sendiri asik tertawa. Karena lelah berdebat, Saera dan Baekhyun pun berhenti. Pusat perhatian kembali ke Jongdae yang belum menceritakan tentang si Zhang tersebut.

***

Hyemi turun dari mobil Sehun. Mereka berdua pulang lebih dulu karena kasihan pada Luhan yang tinggal sendirian di rumah. Akhir pekan ini, rumah hanya dihuni oleh mereka bertiga saja. Kris, Hara, dan si kembar, pergi ke rumah orang tua Hara dan menginap di sana, sementara orang tua mereka pergi ke Busan selama dua hari untuk berlibur.

Mereka tiba di rumah tepat pukul 06.15 dengan sekantung belanjaan yang berisi bahan-bahan untuk makan malam. Sehun juga membawa sekantung plastik lain yang berisi tiga cup Bubble Tea.

“Letakkan saja belanjaannya di atas meja makan,” ucap Hyemi pada Sehun yang diiyakan oleh Sehun.

Seteah member perintah pada Sehun, Hyemi pun berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian terlebih dahulu sebelum memasak. Di dalam kamar, Hyemi bertemu Luhan yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Loh? Kalian sudah pulang?” kaget Luhan.

Hyemi menganggukkan kepalanya, “Hm… Kenapa? Kau mau pergi?” Tanya Hyemi balik.

“Tidak. Aku kira kalian makan di luar, jadi aku baru saja akan memesan makanan,” jawab Luhan.

Hyemi hanya membulatkan mulutnya sembari menganggukkan kepalanya pelan. “Aku akan masak sebentar lagi,” ujarnya kemudian.

***

Selesai makan malam, mereka bertiga duduk di atas karpet ruang tengah, menonton acara televisi bersama. Luhan dan Hyemi duduk bersandar pada kaki sofa, sementara Sehun tidur di pangkuan Hyemi. Masing-masing dari mereka memegang satu cup Bubble Tea.

Hyung,” panggil Sehun setelah ia meminum Bubble Tea.

“Hm?” respon Luhan.

“Aku ingin berhenti kuliah dan pindah,” ujar Sehun membuat Luhan yang sedang meminum Bubble Tea-nya tersedak. Hyemi yang berada di sebelah Luhan pun langsung menepuk-nepuk punggungnya.

“Ya! Kau ini bicara apa?! Appa bisa marah besar jika ia mendengarnya!” ucap Luhan.

Luhan tahu adiknya tersebut memang tidak pernah tertarik pada dunia bisnis. Sejak kecil Sehun selalu bercita-cita menjadi seorang dokter. Sehun bahkan nekat mengambil kelas IPA saat SMA. Untungnya ayah mereka masih bisa memaklumi hal tersebut karena meskipun Sehun masuk di kelas IPA, IPS, maupun Bahasa, Sehun akan tetap dimasukkan ke kelas bisnis saat kuliah. Ketertarikan lain yang dimiliki Sehun selain bidang kedokteran adalah seni. Seni tari untuk lebih spesifiknya. Sejak memasuki SMA, Sehun selalu mengatakan padanya dan Kris kalau ia akan mengambil program studi seni tari saat kuliah jika tidak bisa masuk Kedokteran.

“Aku tidak peduli, hyung. Aku akan mengatakan pada appa jika aku akan pindah program studi. Pokoknya, jika appa masih tidak mengijinkan aku mengambil kedokteran, aku akan nekat mengambil seni tari,” ucap Sehun mantap.

Hyemi yang sedari tadi menjadi pendengar pun angkat bicara, “Kau sudah yakin dengan keputusanmu?” tanyanya.

“Ya, noona. Dunia bisnis bukanlah mimpiku. Kris hyung dan Luhan hyung mungkin menyukainya, tetapi aku tidak,” jawab Sehun.

“Ah, aku memang selalu berbeda dari hyunghyungku,” gumam Sehun.

Luhan menatap iba pada adik bungsunya tersebut. “Pikirkan sekali lagi Sehun-ah. Kau sudah setengah jalan. Sayang jika berhenti sekarang. Selesaikanlah dulu kuliah bisnismu. Mungkin jika kau sudah lulus, appa akan menginjinkanmu mengambil program studi apapun yang kau mau,” ujar Luhan.

“Appa malah akan langsung menyuruhku bekerja di perusahaan sepertimu dan Kris hyung setelah aku lulus, hyung. Lagipula percuma aku melanjutkan kuliahku. Aku pasti akan lulus dengan IP rendah. Itu juga jika aku benar-benar lulus. Kau sendiri tahu kan aku jarang sekali mendapat nilai B apalagi A,” balas Sehun.

Luhan menghela nafas lalu berkata, “Terserah kau sajalah kalau begitu.”

Hyemi yang saat itu memang tidak banyak bicara, membelai lembut kepala Sehun, “Ini hidupmu Sehun-ah. Jika kau merasa kau memang tidak akan cocok di bisnis, lakukanlah apa yang menurutmu cocok denganmu. Terkadang, apa yang menurut orang lain baik untukmu, malah sebenarnya tidak baik untukmu. Saranku, pikirkan matang-matang. Jika kau yakin kedokteran atau seni tari yang benar-benar kau inginkan, maka raihlah mimpimu di sana. Belajar dengan baik dan dapatkan beasiswa agar appa tidak perlu mengeluarkan sepeser pun biaya untuk membayar kuliahmu. Tunjukkan pada appa jika kau benar-benar menginginkan itu dan kau serius di bidang itu,” tutur Hyemi, memberi saran pada Sehun yang mau tidak mau diam-diam disetujui Luhan dalam hati.

“Oke, noona! Terima kasih atas saranmu! Kau membuatku semakin termotivasi untuk mengejar cita-citaku!” seru Sehun senang.

Tiba-tiba saja Sehun bangkit dari berbaringnya, “Aku ke kamar duluan, hyungnoona. Selamat malam!” pamit Sehun yang dijawab oleh gumaman dan anggukan kepala dari Hyemi.

Jam baru menunjukkan pukul 9 saat Sehun pamit ke kamarnya dan itu masih terlalu cepat untuk tidur. Hyemi dan Luhan pun memutuskan untuk tetap tinggal di ruang tengah dan menonton sebuah variety show.

Hyemi baru saja akan meminum Bubble Tea-nya lagi saat tiba-tiba ia merasakan sesuatu di perutnya, membuat ia refleks menjatuhkan Bubble Tea-nya dan matanya membulat. Luhan yang melihat Hyemi seperti itu langsung panik dan menatap Hyemi khawatir. Bahkan semakin khawatir saat ia melihat Hyemi meletakkan tangannya di atas perut.

“Ada apa, Hye? Perutmu sakit? Kau mau ke rumah sakit?” Tanya Luhan khawatir.

Hyemi tidak menjawab satupun pertanyaan Luhan, tetapi meraih tangan Luhan dan meletakkan tangan Luhan di atas perutnya. “Dia menendang… Ziyu menendang…” gumamnya pelan, masih tidak percaya bahwa baru saja ia merasakan tendangan dari Ziyu.

Mata Luhan ikut membulat juga saat ia merasakan perut Hyemi berkedut di telapak tangannya, menandakan Ziyu baru saja menendang lagi. Entah mengapa jantungnya berdebar cepat sekali. Sepertinya efek karena terlalu senang. Ia bahkan tidak bisa menggambarkan betapa senangnya ia sekarang.

“Hye, aku…” Luhan bahkan kehilangan kata-kata saking senangnya.

“Oh Tuhan… Dia menendang lagi…” ujar Luhan lagi.

Karena ingin merasakan tendangan Ziyu dengan kedua tangannya, Luhan mendekatkan tubuhnya kepada Hyemi dan menyandarkan punggung Hyemi di dadanya sehingga kini posisi mereka menjadi Luhan yang memeluk Hyemi dari belakang. Hyemi yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, hanya tersenyum dan membiarkan dirinya berada di dalam dekapan Luhan. Ia bahkan membetulkan sedikit posisinya, meletakkan kepalanya di bahu kanan Luhan dan membuat dirinya nyaman di dalam dekapan Luhan.

Malam itu, mereka tetap pada posisi yang sama sampai mereka memutuskan untuk kembali ke kamar dan tidur. Selama dalam posisi tersebut, mereka tidak banyak bicara, hanya membicarakan Ziyu dan menikmati kehadiran satu sama lain. Tak lupa, Hyemi meminta Luhan untuk mengantarnya menemui Dokter Hwang pada hari Senin untuk berkonsultasi. Meskipun Hyemi tahu pada usia kandungan 22 minggu itu wajar jika bayi sudah mulai menendang, tetapi ia ingin tetap berkonsultasi pada Dokter Hwang. Ia hanya ingin memastikan bahwa gerakan Ziyu itu adalah pertanda baik dan bertanya pada Dokter Hwang tentang pergerakan-pergerakan yang mungkin ditimbulkan oleh Ziyu beserta dampaknya.

“Ah, aku harus mencatatnya!” ucap Luhan sebelum mereka terlelap.

Hyemi tidak berkomentar apapun. Ia hanya melihat Luhan yang mengambil ponselnya lalu mencatat sesuatu di notenya.

10 Mei 2014

Tendangan pertama Ziyu.

9 kali dalam waktu satu jam.

***

Seminggu setelah hari-hari penuh kesetressan bagi Hyemi, hubungannya dengan Luhan masih seperti sebelumnya, tidak ada masalah selain kesibukan Luhan di kantor yang semakin menjadi-jadi dan membuat waktu Luhan untuk Hyemi berkurang. Selain itu, Myungsoo juga masih mengganggunya dengan pesan-pesan yang bahkan tidak akan Hyemi baca.

Meskipun hubungannya dengan Luhan baik-baik saja, bukan berarti kecurigaannya terhadap Luhan berkurang. Hyemi masih curiga jika Luhan sudah melanggar janjinya dan masih menemui Minha di belakangnya. Benar saja, semalam saat Luhan masuk ke dalam kamar mandi, Hyemi mengecek ponsel Luhan dan melihat sms Luhan dengan Minha. Luhan akan menemui Minha hari ini.

Hyemi merasa ia harus segera bertindak. Ia harus melakukan sesuatu untuk membuat Luhan berhenti menemui Minha atau paling tidak sebaliknya, Minha yang berhenti menemui Luhan. Ia pun menyusun rencana untuk menguntit Luhan hari ini. Dari sms Luhan dengan Minha yang ia baca semalam, ia mendapat alamat lokasi tempat mereka berdua akan bertemu.

Dan di sinilah Hyemi sekarang, di dalam salah satu kafe di Myeongdong, duduk jauh dari Minha dan Luhan sehingga ia tidak bisa mendengar apa yang Luhan dan Minha bicarakan. Ia hanya bisa melihat ekspresi senang Luhan saat Luhan bicara pada Minha dan itu benar-benar mengganggu Hyemi.

Cukup lama ia menunggu hingga akhirnya Luhan pergi meninggalkan Minha. Hyemi bersyukur sekali mereka berdua tidak keluar kafe bersamaan karena ia rasa ia tidak akan bisa mengikuti mereka lagi. Setelah memastikan Luhan benar-benar telah meninggalkan kafe, Hyemi pun menghampiri Minha, membuat Minha agak terkejut dengan kehadirannya.

“Benar-benar sebuah kebetulan sekali bisa bertemu denganmu lagi, Minha-ssi. Sudah berapa lama sejak terakhir kali kita bertemu? Kalau tidak salah terakhir kali kita bertemu kau memohon padaku untuk tidak menikahi Han ya?”

Minha ingin meringis rasanya mendengar ucapan Hyemi yang begitu menusuknya. Setelah cukup lama tidak bertemu dengan Hyemi, sekarang saat ia bertemu Hyemi ia menjadi agak gugup. Kehadiran Hyemi masih tetap terasa mengintimidasinya seperti terakhir kali mereka bertemu.

“Halo, Hyemi-ssi. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” balas Minha lembut, berusaha menutupi kegugupannya dari Hyemi.

“Oh aku? Aku baik-baik saja. Bahkan sangat baik saat aku melihat suamiku bersamamu,” jawab Hyemi sarkastik. Hyemi bahkan tidak repot-repot untuk duduk di hadapan Minha. Ia tetap berdiri dan menatap Minha dengan tatapan mata yang menyeramkan, membuat Minha makin gugup di tempat duduknya.

“Aku tidak akan berbasa-basi denganmu Minha-ssi. Langsung saja, aku ingin kau berhenti menemui suamiku. Tidakkah kau malu pada dirimu sendiri? Wanita macam apa yang masih mendekati suami orang lain. Jangan membuat dirimu sendiri terlihat rendah di mata orang lain,” ujar Hyemi to the point. Hyemi tidak pernah seperti ini sebelumnya, tidak saat wanita lain mendekati Myungsoo ketika mereka masih berpacaran dulu. Tetapi sekarang, melihat Luhan dengan wanita lain, apalagi wanita tersebut adalah wanita yang dicintai Luhan, membuat ia tidak tenang. Ia tidak suka. Ia marah. Dan kini amarahnya telah membuat ia berubah menjadi sesorang yang tidak pernah ia bayangkan akan menjadi dirinya sebelumnya.

Di hadapan Hyemi, Minha menahan sakit hati. Kata-kata Hyemi benar-benar menorehkan luka baru di hatinya. Di matanya, Hyemi, yang meskipun kehadirannya terasa mengintimidasi dirinya, terlihat seperti wanita baik-baik yang mungkin tidak akan pernah mengucapkan kata-kata yang akan menyakiti hati lawan bicaranya. Dan sekarang Minha benar-benar dibuat terkejut oleh perkataan Hyemi. Ia tidak menyangka Hyemi akan terang-terangan merendahkan harga dirinya dengan kata-kata yang tajam.

Tidak banyak yang bisa Minha lakukan selain diam dan menerima kata-kata Hyemi. Meskipun menyakitkan, ia mengakui apa yang Hyemi katakan tidak sepenuhnya salah.

“Kurasa hanya itu yang ingin aku katakan padamu.Sekali lagi aku minta padamu, jangan ganggu suamiku lagi. Kami sudah cukup bahagia sebelum kau hadir kembali dalam hidupnya. Tolong jangan buat aku memisahkan kalian secara paksa. Anggap ini sebagai peringatan pertamaku dan kuharap ini adalah yang terakhir kalinya aku menemuimu untuk memperingatimu seperti ini. Selamat tinggal, Minha-ssi. Semoga kau bisa segera menemukan laki-laki lain yang bisa menggantikan suamiku di hatimu,” ucap Hyemi sebelum akhirnya meninggalkan Minha yang masih terdiam di tempatnya.

Ada satu hal yang baru saja Minha sadari setelah melihat dan mendengar kata-kata Hyemi. Hyemi menyukai Luhan. Positif. Tidak mungkin salah. Jika Hyemi tidak menyukai Luhan, tidak mungkin Hyemi repot-repot menemuinya seperti ini hanya untuk memperingatinya. Selain itu, wajar juga jika Hyemi bertindak seperti itu padanya. Selain fakta bahwa Hyemi yang menyukai Luhan, posisi Hyemi sebagai istri Luhan memberinya hak untuk bertindak seperti itu pada Minha. Tidak ada istri yang suka melihat suaminya dekat dengan orang lain.

Kesadaran Minha akan perasaan Hyemi pada Luhan membuatnya khawatir dan merasa sesak di dadanya. Ia takut ia akan semakin kehilangan kesempatan bersama Luhan. Hyemi punya kesempatan lebih besar dari dirinya untuk menjadikan Luhan sebagai miliknya karena Hyemi adalah istri Luhan dan Hyemi tinggal dengan Luhan. Namun mengingat Luhan yang masih mencintainya membuatnya merasa iba pada Hyemi.

“Pasti menyakitkan mengetahui pria yang kita cintai mencintai orang lain,” gumamnya pelan.

***

Setelah bertemu dengan Minha tadi, mood Hyemi turun drastis. Amarah masih meletup-letup dalam dirinya. Kekesalannya tidak hanya tertuju pada Minha, tetapi juga pada Luhan dan dirinya sendiri. Ia kesal pada Minha karena Minha masih menemui Luhan, ia kesal juga pada Luhan karena Luhan masih mencari-cari Minha dan membohonginya, dan terakhir, ia kesal pada dirinya sendiri karena perlahan ia berubah menjadi wanita yang kejam.

Sesampainya di rumah ia hanya bisa melampiaskan emosinya pada Luhan. Ia kembali mendiami Luhan. Menghiraukan Luhan dan itu berlangsung hingga malam hari saat mereka akan tidur. Luhan tidak tahu apa yang membuat Hyemi tiba-tiba seperti ini lagi. Ia pikir itu hanya efek dari kehamilan Hyemi yang membuat mood Hyemi naik turun.

Saat akan tidur, seperti biasa, Luhan melingkarkan tangannya di tubuh Hyemi. Tetapi tiba-tiba saja Hyemi menepis tangannya, membuat ia terkejut.

“Kenapa, Hye?” Tanya Luhan bingung.

“Tidak apa-apa,” jawab Hyemi ketus.

Luhan tahu ada sesuatu yang tidak beres begitu mendengar nada bicara Hyemi. “Kau marah?” tanyanya lagi.

“Tidak. Aku tidak sedang ingin dipeluk maupun dekat-dekat denganmu. Jadi tolong menjauh dariku,” jawab Hyemi masih ketus. Posisinya yang memunggungi Luhan membuat Luhan tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.

“Hye, jangan bohong padaku. Kau marah padaku kan?” Tanya Luhan makin mendesak Hyemi dan itu membuat Hyemi makin kesal.

“Tidak.”

“Hye…” panggil Luhan sembari menyentuh lengan Hyemi namun dengan cepat ditepis oleh Hyemi.

“Jika kau marah padaku, marahlah. Keluarkan emosimu agar kau lega. Jangan diami aku lagi,” pinta Luhan.

Hyemi kesal. Ia mati-matian menahan emosinya, menahan dirinya untuk tidak mencaci maki Luhan namun Luhan malah membuatnya ingin meledak.

Hyemi bangkit dari berbaringnya lalu duduk menatap Luhan yang juga ikut bangkit. “Kau ingin aku marah? Baik, aku akan marah,” ujarnya.

“Kau tahu, kehamilanku ini membuatku benar-benar sensitif. Aku kesal pada sesuatu yang bahkan tidak aku tahu! Aku kesal padamu dan aku tidak tahu mengapa! Aku frustasi dan aku ingin marah-marah padamu, mencaci makimu! Aku mencoba menahan amarahku tetapi kau malah menariknya keluar! Kau pikir aku suka seperti ini?! Dan lagi aku benci sekarang aku mulai bergantung padamu! Aku kesal karena kau mulai tak punya waktu untukku dan aku kesal pada diriku yang suka merasa frustasi jika tidak melihatmu! Aku kesal karena sekarang aku ingin terus berada di dekatmu tapi aku tidak bisa memaksamu karena kau punya tanggung jawab di kantor, kau harus bekerja. Aku tidak ingin egois seperti ini tapi aku tidak bisa! Aku hanya ingin berada di dekatmu dan ini membuatku gila! Aku tidak seperti ini sebelumnya dan semakin besar usia kandunganku aku semakin menginginkanmu dan aku tidak suka seperti ini. Aku kesal Han, aku kesal! Ini bukan diriku!” keluh Hyemi penuh emosi. Saking emosinya, ia jadi tidak bisa menata kalimat yang ia keluarkan dan kini nafasnya tersengal-sengal.

Luhan yang mendengar keluhan Hyemi hanya bisa diam. Ia merasa bersalah telah menjadi penyebab Hyemi seperti ini dan di sisi lain ia juga tersentuh mendengar pengakuan Hyemi. Ia pun mengerti jika saat ini Hyemi benar-benar membutuhkannya. Hormon Hyemi benar-benar membuat Hyemi ingin dekat-dekat dengannya dan ia pikir itu wajar. Dan sepertinya memang sudah saatnya ia benar-benar menggunakan waktunya untuk Hyemi. Meskipun berat untuk menjauhi Minha sementara waktu, tetapi ia bertekad untuk meminimalisir waktu bertemunya dengan Minha agar ia bisa menghabiskan waktu dengan Hyemi. Baginya, prioritas utamanya sekarang adalah Ziyu. Dan Hyemi seperti itu karena Ziyu, jadi ia akan benar-benar menuruti apapun kemauan Hyemi mulai sekarang.

Pelan-pelan Luhan menarik Hyemi ke dalam pelukannya. “Maafkan aku ya…” ujarnya pelan, tepat di sebelah telinga Hyemi.

“Aku janji mulai besok akan mengusahakan untuk sering pulang lebih cepat. Aku juga akan mencari waktu libur untuk membawamu pergi keluar lagi agar kau bisa melepas penatmu. Terakhir kali kita keluar untuk refreshing itu saat kita ke pantai bersama Naomi dan Lisa kan? Nanti kita ke pantai lagi, musim panas sebentar lagi tiba. Kita bisa mengajak Naomi dan Lisa lagi kalau kau mau. Pokoknya aku janji akan sering-sering mengajakmu pergi ke luar agar kau tidak stress, oke?” tambah Luhan.

Hyemi hanya menganggukkan kepalanya pelan. Hyemi tahu Luhan mungkin tidak akan bisa memegang janjinya lama-lama. Suatu saat nanti pasti Luhan akan kembali melanggar janjinya karena Minha. Tetapi hanya untuk saat ini saja Hyemi ingin percaya pada janji Luhan. Ia sendiri tidak tahu mengapa janji Luhan membuat dirinya merasa tenang. Membuat dia merasa terjamin jika Luhan akan selalu ada di sisinya saat ia membutuhkan Luhan. Jadi untuk satu kali ini saja, ia ingin mendepak Minha dari daftar hal-hal yang membuatnya khawatir dan membiarkan dirinya percaya bahwa Luhan akan benar-benar menepati janjinya.

-TBC-

Note: Baekchi artinya idiot.

Seharusnya sih chapter yg ini udah bisa selese minggu lalu, cuma berita tentang Kris bener-bener bikin down :”( Jadi, daripada ngerjain chapter ini aku malah stay di twitter terus. Maaf ya huhu. Dan juga karena weekend ini aku bakal sibuk ngerjain tugas yg bejubel, jadi terpaksa postingnya aku percepet (seneng kan kalian seneng? Ayo ngaku ;))

Btw ini bikinnya dg semangat membara loh. Semoga aja hasilnya ga mengecewakan u_u

Aku gatau kapan bisa update lagi, doain aja aku dpt bnyk libur hehe. Bulan dpn abis final lgsg persiapan buat ppl awal soalnya :”

Oh ya, aku mau ngucapin makasi bgt buat pengertian kalian atas kemalesan aku (abis baca koment2 di chapter kmrn) :”D makasi ya udah mau nungguin ff ini terus. Aku bakal berusaha buat nulis lebih baik lagi dan kalo bisa update lebih cepet! Jangan bosen2 ninggalin kritik & saran yg membangun buat aku ❤

Sekian aja deh. Sekali lagi makasi dan see you! {}

420 responses to “Beautiful Sin (Chapter 10)

  1. Well to the well well well..
    utk hyemi acungin jempol dah bwt ketegasannya krn dy milih luhan drpd myungsoo, tpi aq jdi kasian sm myungsoo coz dy keliatan depresi bgtz udh gt kyknya dy ngga bkl nyerah gt ajj walaupun hyemi dh pke kata2 kasar utk jauh dr myungsoo…
    dan utk minha dengerin tuh baik2 ucapan hyemi, jgn prnh dketin luhan lgi coz kau udh kyk cwe yg ngga pny norma msh ajj nempel2 sm luhan..
    ternyata dunia sempit bgtzz yaa dmn nnt yg jdi fotografer di perusahaan luhan kerja adalah myungsoo,,, mmmmm ngga bsa bayangin gmn klw misalkan hyemi ktm myungsoo pas saat lagi sm luhan…
    utk luhan bisa tdk kau lbh peka dkt sm hyemi, kau tdk ngerasa aph yaa sikapnya ke kau itu udh kyk ngga mw kehilangan kekasih gt…
    next dh ke chapter selanjutnya…

  2. Secara gak langsung Hyemi udah ngaku tuh, kalo dia butuh Luhan, mungkin dah jatuh cinta. Luhan juga haru dong, jangan mikirin Minha terus, tapi kalo diliat2 Luhan tuh Sweet banget ya dengan perkembangan nya Ziyu, sampe2 tendangan pertama aja dicatet sama dia. Kk~ lanjut baca chap 11 nya ya Eonn.. Gomawoo :-*

  3. Sebenernya kasian juga sih sama minha,tp dia seharusnya ngerti dong luhan udh punya hyemi,jd seharusnya harus berusaha move on dari luhan. Dan pas luhan mohon2 minta maaf sm hyemi gatau kenapa aku ngerasa jadi hyemi dan bener2 kesel karena udh dibohongin luhan gitu-_- ini dapet bgt feelnya sampe kesel sendiri ini perasaan,malah aku sampe hampir nangis gara gara nahan kesel sm luhan(?) Lagian ngebohongin hyemi gitu demi minha-_- gatau kenapa bacanya baper bgt wkwk. Keep writing ne thor!^^

  4. Hancur sudah hancurrr.. Myungsoo photographerny kan? Lah dia kan kerja sma Luhan jdi klo mereka ketemu . . . ‘-‘) apa yg akan terjadi klo tau? ‘-‘
    Idihh gila Hyemi ngomel nya panjang melebihi kereta api ‘-‘ tapi moga aja tuh Luhan sadar yaa :3
    Okeee lanjut ya kakk~ fightingg ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s