First Love Forever Love [4th chapter – I’d Forget Him]

 

First Love Forever Love

4th chapter – I’d Forget Him

 

Author : Fai

Cast :

  • Hwang Yui | YOU/readers
  • Wu Fan/Kris | EXO’s Kris
  • Jessica Jung | SNSD’s Jessica
  • Oh Sehun | EXO’s Sehun
  • Kim Jongin/Kai | EXO’s Kai
  • Huang Zi Tao | EXO’s Tao
  • Xiumin | EXO’s Xiumin
  • Find it by yourself

Genre : romance, friendship, action

Rating : G

Length : chaptered

Previous : [Introduction + Trailer] [1st chapter][2nd chapter][3rd chapter]

Disclaimer : this is officially mine, but the casts are not mine

N.B. : MASIH INGET FF INI GAK? ;____; aduh maaf pake banget ini molor setahun aaaccckkksss! ;_; maaf banget banget banget banget karena ff ini udah molor segitu lamanya heuuuu tapi yaudah deh huhu selamat membaca……

.

“…jika saat itu kita gigih, kisah kita pasti tidak akan seperti ini…”

 .

|4th chapter – I’d Forget Him |

 

Yui bergeming. Sekujur tubuhnya gemetaran karena takut. Apakah saat ini sebenarnya halusinasi atau kenyataan, atau mimpi buruk?

Tapi dia benar-benar Kris Wufan yang dikenalnya. Kepalanya tertimpa sinar matahari. Yui melihat dari kejauhan, mereka berdua adalah sepasang kekasih. Wufan menundukkan kepalanya dan mencium dahi anak itu dengan lembut.

Yui menutup kedua matanya yang terasa panas. Ia membuka mata kembali dan Wufan sudah lenyap.

Dengan sempoyongan, Yui berjalan keluar pasar dan meninggalkan kedua adik Sehun. Gadis itu tidak tahu harus ke mana, hanya menyusuri jalan raya. Keringat mulai membasahi bajunya.

 

–––––

 

Pohon besar di kiri kanan jalanan sudah berumur 50-an. Saat musim panas mereka sangat lebat dan meneduhkan. Di jalanan yang terbuat dari batu itu terdapat bar yang indah dengan bangunan khas Eropa.

Yui duduk di kursi panjang pinggir jalan, otaknya kosong. Bajunya sudah basah dan melekat di tubuhnya. Saat angin bertiup, sekujur tubuhnya terasa dingin. Ponsel di dalam tasnya bunyi terus. Ia sangat malas untuk melihatnya dan akhirnya baterai ponsel itu habis dan mati.

Satu persatu lampu jalanan mulai menyala. Yui tetap duduk sampai seorang polisi datang, “Nona, apakah kau butuh bantuan?”

Yui hanya menjawab, “Aku ingin pulang.”

“Di mana rumahmu?”

Yui tersenyum kecil. “Rumahku di Beijing. Kau tidak dapat membantuku.”

Polisi itu terdiam sejenak, kemudian berjalan meninggalkan Yui. Polisi itu pasti mengira bahwa Yui sedang mabuk berat.

Akhirnya, Yui berjalan pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, ia mencari-cari kunci rumahnya di seluruh kantung baju dan celananya, tapi ia tidak dapat menemukannya. Yui duduk bersandar pada dinding. Pandangannya mulai kabur.

“Yui, bangun. Kenapa kau bisa tidur di sini?”

Yui membuka kedua matanya. Ia menyipitkan kedua matanya dan mengangkat kepalanya. Jessica kini berdiri di depannya. Ternyata gadis itu tidak jadi berlibur.

Yui mengibaskan tangan Jessica dengan kasar. “Biarkan aku tidur!”

Jessica tidak tahan dengan kelakuan Yui. Ia menyeret Yui untuk masuk ke dalam rumah dan menyuruh gadis itu untuk membasuh wajahnya terlebih dahulu.

Setelah merasa agak baikan, Yui mulai tersadar dan teringat kejadian di Pasar Tujuh Kilo tadi siang. Ia mendadak sesak nafas.

“Yui? Ada apa?” Jessica berdiri di depan pintu kamar Yui. Ekspresi wajahnya terlihat sangat cemas dengan keadaan Yui saat ini.

Yui justru tidak bersuara dan memejamkan kedua matanya untuk menahan jatuhnya air mata. Jessica berjalan mendekati Yui dan menepuk punggungnya dengan sekuat tenaga.

“Hei! Kenapa kau bisa bodoh begini? Apapun yang terjadi, kau tidak boleh menghancurkan dirimu sendiri. Kau sudah bosan hidup, ya?”

Yui merasa hatinya seolah diiris pisau tajam. Ia seperti orang bisu yang menderita, tetapi tidak bisa mengungkapkannya. Aku tahu dia bukan orang baik-baik, hanya aku saja yang bodoh seperti ngengat yang terbang menghampiri api. Ini sungguh menggelikan.

“Yui, bicaralah.”

Akhirnya Yui merasa tenang. “Kau ingin tahu?”

“Bodoh!” pekik Jessica. Ia terlihat kesal. “Ada apa dengan dirimu, Yui? Kau patah hati?”

Yui mendengus lalu tertawa kecil.

“Selamat, kau benar. Dia adalah laki-laki yang brengsek,” ujar Yui lalu tertawa kencang. “Hari ini aku melihat istri dan anaknya.”

Jessica membulatkan kedua matanya dan ia terlihat sangat terkejut.

“Polisi itu? Tidak disangka!” Jessica dengan marahnya mengepalkan kedua tangannya. “Awas saja, besok aku akan mencarinya dan membuat perhitungan padanya.”

Yui tertawa lagi.

“Bukan dia,” ujar Yui. Jessica mengkerutkan keningnya. “Lalu, siapa kalau bukan polisi itu?”

Yui menatap Jessica. Ia memberikan tatapan kau-pasti-mengetahuinya.

Dengan tatapan seperti itu aja, Jessica bereaksi dengan cepat. Yui malu bukan kepalang. Padahal Jessica pernah mengingatkannya untuk tidak berurusan dengan orang itu. Jessica mematung. Mulutnya terbuka, seperti mendengar lelucon paling hebat. “Kris? Wu Fan? Lelaki itu?”

“Benar.”

Yui seolah menunggu Jessica melonjak laksana petir. Sebaliknya, ternyata reaksi Jessica tidak seperti yang ia duga. Ia duduk di atas kasur dan tertawa renyah. Dia malah menertawakanku? Apa-apaan dia ini!

“Benar-benar memalukan!” Jessica tertawa lagi dan tersenyum sinis. “Kenapa kita berdua seperti tumbal sulam? Sebenarnya kita punya salah apa?”

Karena malu, Yui menunduk dan tidak bersuara.

“Dia memiliki julukan ‘Komandan Regu’, apa kau tahu?”

Yui menggeleng cepat. Jessica mendengus kecil.

“Aku bertengkar dengannya karena dia main pelacur dan aku memergokinya.”

Satu kalimat itu mampu membuat rahang bawah Yui terjatuh. Ia menatap Jessica dengan ekspresi tidak percaya. Main pelacur? Tidak mungkin!

“Dia tahu aku paling benci dibohongi, tetapi dia tetap saja membohongiku. Tapi aku tidak menyangka dia masih ada simpanan lain, bahkan sudah mempunyai anak! Baiklah, anggap saja dia luar biasa!”

“Jadi, kau bertengkar dengannya karena hal itu?” tanya Yui. Jessica menoleh dan tersenyum sengit. “Kurang lebih begitu.”

Sial.

“Apa rencanamu malam ini?” tanya Jessica kemudian.

“Makan, tidur, melakukan apa saja.”

Jessica mengkerutkan keningnya. “Kau tidak mau menghajarnya?”

“Mau berbuat apalagi, hm? Mencari perempuan itu dan bertanya kepadanya? Aku merasa berada di pihak yang sudah kalah telak. Biar bagaimanapun, dia sudah punya anak.”

Jessica hanya terdiam. Tak lama kemudian, ia keluar dari kamar Yui dan menutup pintunya. Yui berjalan menuju pintu kamar dan menguncinya.

Setelah hampir pagi, ia baru bisa tertidur.

 

–––––

 

Suara jam beker berbunyi memekakkan telinga. Yui menggeliat di atas kasurnya lalu bangun dari kasurnya. Ia membasuh wajahnya dan menggosok gigi. Kedua matanya bengkak seperti buah persik busuk.

“Izin kuliah?”

Yui menolehkan kepalanya dan menatap Jessica yang kini sedang menenggak segelas air.

Yui berpikir sejenak, lalu mengangguk. Sial, aku benar-benar lelah.

Sedetik kemudian, Jessica kembali ke kamarnya dan meninggalkan Yui sendirian di kamarnya. Gadis itu mengambil ponselnya dan puluhan pesan masuk menyerbu ponselnya.

Semua pesan masuk itu berasal dari Sehun. Laki-laki itu kerap menanyakan kenapa Yui tiba-tiba menghilang dan setelah tidak ada kabar tentang dirinya.

Yui menghela napas kecil dan mencoba untuk menelpon Sehun.

Nada sambung baru saja terdengar, tapi tiba-tiba suara pekikan Sehun membuatnya agak terkejut.

“Oh, astaga! Aku sangat mencemaskanmu! Kau ke mana saja, hm? Kau sakit? Bagaimana kalau sekarang aku ke rumahmu?”

Yui tertawa kecil.

“Aku tidak apa-apa, Sehun. Kemarin aku merasa tidak enak badan. Aku ingin berpamitan pada adikmu tapi mereka jauh dari jangkauanku. Tolong sampaikan permintaan maafku pada mereka.”

“Sungguh?”

Yui hanya menggumam kecil—mengiyakan pertanyaan Sehun.

“Aku akan segera menjengukmu.”

Baru saja Yui ingin menolaknya, tapi sambungan telpon sudah terputus. Baiklah, anggap saja saat ini aku sedang berbaik hati.

Yui keluar dari dalam kamarnya dan menemukan Jessica yang tengah tertidur di atas sofa. Ia ingin membangunkan Jessica tapi ia juga merasa tidak tega. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Yui membangunkan Jessica dengan lembut.

“Hei, bangunlah. Ini bukan kamarmu,” bisik Yui.

Jessica tidak bereaksi. Dapat tercium dengan jelas bahwa napas Jessica saat ini berbau alkohol. Terlebih, di sampingnya saat ini ada beberapa botol Grand Marnier dan Jack Daniel’s.

“Hei, wanita liar. Cepat bangun,” ujar Yui sekali lagi seraya mengguncang-guncangkan tubuh Jessica dengan kuat.

Jessica hanya menggeliat. Ia membuka satu matanya dan tertawa kecil.

“Sudah kubilang pergilah dari hidupku, bodohhhh,” racau Jessica seraya menepis tangan Yui. Yui sadar bahwa saat ini Jessica pasti sedang mengigau.

“Cepat bangun. Lanjutkan tidurmu di kamar,” perintah Yui.

Jessica mengusap wajahnya.

“Apa istimewanya jalang-jalang itu, huh? Tinggalkan mereka atau kau akan kehilangan aku!” pekik Jessica—ia menangis dalam racauannya.

Hati Yui merasa iba melihatnya. Ia sedang sakit hati?

“Oh, Jessica. Aku minta maaf, aku tidak tahu kalau kau sedang sakit hati. Tapi, kumohon. Lanjutkan tidurmu di kamar, ya?”

Jessica tersenyum sinis dan tertawa kencang.

“Jangan harap kau akan bertemu lagi denganku. Aku benar-benar meninggalkanmu. Kita berakhir di sini saja. Semoga tenang di neraka sana.”

Yui menggeleng-gelengkan kepalanya. Akhirnya, ia memutuskan untuk memapah tubuh Jessica dan membawanya masuk ke dalam kamar.

“Jangan sentuh aku!” bentak Jessica.

Yui tidak mendengarkannya. Ia membaringkan tubuh Jessica ke atas kasur dan menyelimuti tubuhnya.

“Jangan bertingkah bodoh seperti ini, Jes,” bisik Yui.

“Menjauhlah dariku!”

Yui segera keluar dari kamar Jessica dan menutup pintunya dengan rapat. Ia duduk di atas sofa dan mengambil selembar koran yang tergeletak di atas meja.

Judul berita di halaman pertama sangat menarik perhatian: “Bea cukai petugas pajak dan polisi bekerja sama memberantas penyelundupan barang.”

Berita khususnya menyangkut nama tiga orang pedagang China yang menjadi tersangka. Foto Wufan terpampang di sana.

Yui terpana. Ia menggulung koran tersebut dan membuangnya ke tong sampah.

“Orang ini sudah tidak ada hubungannya denganku.”

Yui berjalan menuju dapurnya dan menyeduh teh hijau. Teringat Sehun, ia membuat dua gelas teh hijau. Ia mengaduk teh tersebut dan menghangatkan sup rumput laut yang ada di dalam kulkasnya.

Beberapa menit kemudian, Sehun sudah sampai di rumahnya. Yui mengizinkan polisi itu untuk masuk ke dalam rumahnya dan ia menyediakan teh hijau yang tadi dibuatnya untuk Sehun.

“Oh, kau bahkan sudah membuatkan teh hijau ini untukku,” ujar Sehun—terkekeh. Yui hanya tersenyum.

Setelah menenggak teh itu, tatapan mata Sehun tertuju pada kedua mata Yui.

“Kelihatannya kau sedang sakit parah. Kedua matamu bengkak,” ujar Sehun. Ia mengangkat tangan kanannya dan menyentuh salah satu mata Yui. “Kau sudah mengompres matamu?”

Yui merasa sedikit gugup.

“S—sudah. Aku tidak apa-apa, kok,” ujar Yui—berusaha tenang. Sehun hanya mengangguk lalu menarik tangannya kembali.

“Kau sudah makan?” tanya Sehun.

Umm, aku baru saja menghabiskan sup rumput lautku,” jawab Yui.

“Sudah merasa kenyang?” tanya Sehun lagi. Yui hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“Aku baru saja ingin mengajakmu keluar untuk makan bersama,” gumam Sehun.

Yui tidak menjawab, ia hanya sedang berperang dengan pikirannya.

Dia sangat tampan, baik, keren dan pintar. Kenapa aku tidak jatuh cinta padanya saja? Kenapa aku justru menangis karena Wufan?

“Oh, ya. Tentang temanmu itu, apakah dia sudah pulang?” tanya Sehun.

Yui mengangguk. “Ia sedang tidur di kamarnya. Aku rasa ia benar-benar sedang stress.”

“Karena laki-laki itu?” tanya Sehun.

Yui mengangkat kedua bahunya. Aku tidak ada urusannya lagi dengan si brengsek itu.

“Kasihan,” gumam Sehun.

Yui tidak menanggapinya lagi.

“Apakah kau sudah tahu kalau mantan kekasih temanmu itu telah menjadi tersangka atas penyelundupan barang?”

Yui tertegun. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Maksudmu.. Wufan?” gumam Yui—berpura-pura tidak tahu. Sehun hanya mengangguk.

Yui kembali terdiam. Ia tidak ingin bicara apa-apa saat ini.

Sehun tersenyum kecil. “Ternyata kau baru mengetahuinya.”

Yui hanya menggumam—mengiyakannya. “Ya..”

“Tak kusangka laki-laki setenang dirinya ternyata adalah seorang penyelundup.”

Yui ingin tertawa kencang mendengarnya. Tapi ia menahan dirinya untuk tidak bereaksi sama sekali. Maaf karena aku telah membohongimu, Sehun.

“Kau harus lebih berhati-hati dalam bergaul, Yui. Ia bisa saja tiba-tiba melukaimu, kautahu itu?”

Yui mengangguk.

“Aku mengerti, tuan Oh,” goda Yui lalu tertawa ringan.

Sehun hanya terkekeh pelan.

“Kau sudah menyampaikan permintaan maafku kepada adikmu?” tanya Yui gugup.

“Oh, justru mereka ingin meminta maaf padamu, Yui. Kau sedang sakit, seharusnya kau istirahat di rumah dan tidak perlu menemani mereka ke Pasar Tujuh Kilo.”

Yui hanya mengangguk. Baik sekali.

“Terima kasih,” ujar Yui pelan. “Kalian sangat baik.”

Sehun tertawa mendengarnya. “Sudah seharusnya kita sesama manusia berbuat baik, bukan?”

Yui hanya mengangguk.

Umm, kau sedang tidak ada tugas?”

Sehun menggeleng.

Mereka kembali mengganti topik pembicaraan. Tanpa mereka sadari, ternyata Jessica sedang memperhatikan mereka berdua dengan seulas senyum di bibirnya.

“Wah, wah, wah.”

Sehun dan Yui menoleh. Jessica kini berjalan mendekati mereka berdua dengan sebuah tas yang ditenteng di tangannya. Yui terdiam. Oh, keadaannya sudah pulih, ya?

“Yui, kau membawa pacarmu ke sini tanpa izin dariku?” tanya Jessica seraya menyeringai. Wajah Yui memerah.

“Kami tidak berpacaran, Jes,” ujar Yui.

Jessica hanya tertawa.

“Aku berani taruhan. Sebentar lagi kalian pasti akan segera menjadi sepasang kekasih,” ujar Jessica lalu melirik Sehun. “Bukan begitu, anak muda?”

Sehun tersenyum gugup seraya menggaruk leher bagian belakangnya.

Lagi-lagi Jessica tertawa.

“Lihatlah wajahmu! Kau menahan malu, bukan? Oh, lovebirds. Manis sekali,” gumam Jessica. “Kuharap kau bukan laki-laki brengsek yang suka memainkan perasaan wanita.”

Sehun tertegun mendengarnya.

Yui baru saja menyadari kalau saat ini Jessica sudah ‘merubah’ penampilannya. Ia sudah berpakaian rapi dan wajahnya sudah dipoles dengan make up.

“Kau mau ke mana lagi?” tanya Yui.

“Tentu saja bersenang-senang!” jawab Jessica. Ia memakai heels-nya dan membuka pintu. Sebelum keluar, ia membalikkan tubuhnya dan menunjuk Sehun.

“Hei, polisi muda. Aku ingin kau menjaga Yui selama aku pergi. Kumohon, awasi dia. Aku tidak ingin saat aku pulang nanti, yang tersisa hanyalah setengah tubuhnya.”

“Jessica!” pekik Yui. Ia berusaha menahan amarahnya sedangkan Jessica lagi-lagi tertawa kencang.

“Aku hanya bercanda, sayang,” ujarnya. “Selamat tinggal!”

Pintu ditutup dengan rapat. Suasana seketika berubah menjadi canggung.

“Maafkan kelakuannya. Ia memang selalu bertingkah seperti itu,” gumam Yui.

Sehun tersenyum lembut. “Tidak apa-apa.”

 

–––––

 

Tiga hari terakhir, semua koran memberitakan perkembangan dalam pemburuan buronan. Kabar terakhir, dua tersangka dinyatakan tidak bersalah dan dilepas. Kemudian yang satunya diinterogasi lebih lanjut.

Sialnya, Wufan termasuk salah satu dari dua orang yang dibebaskan, karena polisi Seoul tidak menemukan adanya barang bukti terlibatnya bahwa dia sudah lama menyelundupkan barang.

Dan Yui kembali merasa gelisah.

Sepulangnya dari kampus, ia mampir di sebuah restoran untuk mengenyangkan perutnya. Kondisinya sudah membaik.

Setelah kepergian Jessica beberapa hari yang lalu, ia tidak pernah terlihat lagi. Sejak hari itu juga, Sehun jadi sering mengunjunginya dengan alasan untuk menjaganya.

Ya, Yui tidak bisa menolaknya karena jujur saja ia merasa lebih aman ketika ia sedang bersama Sehun.

Setelah makan, Yui kembali berjalan kaki untuk pulang ke rumahnya. Ia terkejut ketika sebuah mobil Peugeot berwarna hitam berhenti di depannya. Ia tiba-tiba saja teringat akan Xiumin.

Seorang laki-laki yang mengemudikan mobil tersebut keluar dari dalam mobil dan kemunculannya sangat mengejutkan bagi Yui.

“Kenapa? Ini aku, Kai. Kim Jongin. Kau takut padaku?”

Bukan, bukan keberadaan Kai yang mengejutkannya. Tapi karena kepala dan tangan kirinya dibalut dengan perban seperti mumi.

Yui kaget dengan tampang anehnya dan mundur selangkah. Tipuan macam apa ini?

“Kecelakaan, terkena pecahan kaca mobil,” ujar Kai seolah tahu apa yang berada di pikiran Yui saat ini. Laki-laki itu menyentuh wajahnya sendiri dan tertawa pahit.

“Kecelakaan?” tanya Yui.

Kai hanya mengangguk.

“Malam itu, aku dan Wufan sedang ke pelabuhan. Sialnya, kami mengalami kecelakaan,” ujar Kai.

Yui terdiam.

“Wufan dirawat di rumah sakit.”

Yui terperangah mendengarnya. “A—apa?”

“Dialah yang mengemudikan mobilnya. Aku saja terluka seperti ini, apalagi dia.”

Tiba-tiba saja jantung Yui berdesir. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengkhawatirkan Wufan.

Ia tiba-tiba saja menjadi cemas. Kau sangat bodoh, Yui! Untuk apa aku mencemaskannya?!

“Kau mau kuantar untuk menemuinya?”

Yui mengangguk dengan spontan. Ia mengikuti Kai masuk ke dalam mobil dan Kai segera memacu mobilnya menuju rumah sakit.

Maafkan aku, Jessica. Aku sudah mengkhianatimu.

 

–––––

 

Sesampainya di rumah sakit, Kai memberitahu Yui bahwa Wufan dirawat di lantai empat, tepatnya di ruang 407. Setelahnya, Kai meninggalkan Yui di rumah sakit dan mengatakan pada gadis itu bahwa ia harus segera kembali ke pelabuhan dan mengurus beberapa hal penting.

Yui segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol nomor empat. Ia tiba-tiba saja teringat ‘insiden’ waktu itu. Oh, kuharap hal itu tidak akan kembali terulang.

Sesampainya di lantai empat, Yui segera mencari kamar dengan nomor 407. Ia berhenti di depannya.

Di pintu kamar ada kaca yang sebesar telapak tangan. Ia mengintip sebentar. Pemandangan di dalam ruangan membuat matanya serasa ditusuk ratusan jarum.

Wufan dan anak kecil ‘itu’ sedang duduk di atas ranjang seraya beradu kepala—berebut sepiring stroberi. Anak kecil itu tertawa dan mengusap wajahnya. Ia berteriak, “Papa!”

Ibu anak itu jongkok di pinggir ranjang. Ia bercanda pada anak itu. “Mama minta satu, ya?”

“Mama minta satu,” ulang anak itu. Ia mengambil sebuah stroberi dan memasukkannya ke dalam mulut Ibunya.

Yui merasa jantungnya berdegup dengan kencang dan tidak bisa berdiri dengan tegak. Ia bersandar di dinding dan jongkok perlahan. Ia menenangkan diri dengan segenap tenaga.

Tiba-tiba pintu terbuka. Yui mengangkat kepalanya dan wanita di depannya itu terlihat kaget.

Yui berdiri. Wanita itu mundur selangkah dan memanggil Wufan. “Wu..”

Wufan melongokkan kepalanya dan ia menatap Yui. Laki-laki itu tersenyum cerah, tapi tertawa dingin. “Akhirnya kau bersedia datang, ya?”

Yui berjalan mendekatinya dan berusaha menjaga jarak di antara mereka berdua.

“Kautahu? Tawaranmu waktu itu, aku menolaknya.”

Kedua mata Wufan membulat dengan sempurna.

Tanpa bicara apa-apa lagi, Yui membalikkan tubuhnya dan pergi. Fakta di depan mata, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Wufan turun dari ranjang dan menarik lengan Yui. “Jelaskan dulu kenapa, lalu kau boleh pergi.”

Yui meronta sekuat tenaga dan mendorong Wufan. Laki-laki itu mundur terhuyung dan terduduk di lantai. Punggungnya menabrak ranjang di belakangnya. Piring di pinggir ranjang itu jatuh dan pecah berkeping-keping.

Anak kecil itu terkejut dan memeluk Ibunya seraya meraung.

Wanita itu tadinya ingin memapah Wufan, tapi akhirnya menenangkan anak itu. Perawat masuk dan menegur dengan suara keras. Suasana sangat kacau, maka dari itu Yui memanfaatkan kesempatan untuk kabur dan bergegas masuk ke dalam lift.

Yui merutuki dirinya sendiri.

“Aku tidak membenci siapapun, kecuali diriku sendiri. Jelas-jelas mengetahui akan berakhir seperti ini, masih saja mencari penyakit dan menyaksikan kebahagiaan orang lain. Kenapa aku masih peduli padanya?” rutuk Yui seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Untuk apa kau memintaku untuk menjadi kekasihmu kalau kau sudah mempunyai seorang istri dan seorang anak?!”

Air mata mengalir dengan deras. Dadanya terasa ditikam oleh pisau tajam. Ia merasa sesak napas.

Maafkan aku, Jessica. Aku sudah mengkhianatimu. Seharusnya aku tidak melakukan hal seperti ini.

 

—TO BE CONTINUE—

 

OKE SEKALI LAGIIIIII MAAF, UDAH SETAHUN FANFIC INI TERBENGKALAI T_T

Setelah ngepost fanfic ‘Loverdose’, Fai pindahan dan belom pasang wifi jadinya……gitu deh.. tadinya mau ngepost The Untold Truth aja dulu, tapi Fai sadar kalo fanfic ini bener-bener udah terlupakan… *PLIS JANGAN DILUPAIN ;;;A;;;* /slapped/

Oh ya, untuk beberapa chapter, akan lebih banyak bagiannya Sehun dan bagiannya mas galaxy_fanfan akan lebih sedikit :3 /efek ketampanan Sehun yang telah mencuri perhatian/ btw…jangan bahas masalah Kris di sini ya heeeeeuuuuuu nanti Fai sedih ;;;A;;;

Leave your comment, please.. :’>

P.S. : gausah dipikirin typo-nya, mereka aja ngga mikirin kalian kok (????????)

SIAPAKAH YANG HARUS DIPILIH OLEH YUI?

  1. SEHUN
  2. KRIS
Advertisements

39 responses to “First Love Forever Love [4th chapter – I’d Forget Him]

  1. Jadi kris udah punya anak…… apa emang gimana…….. gak ngerti…………..
    Yui kasian banget ya ampunn:’>
    Dari awal baca ini setujunya yui sama kris, tapi makin kemari malah mending yui sama sehun aja deng, lebih cocok haha

  2. pengennya Kris, gatau kenapa pengennya kris -_- ato emang lagi kangen pengen liat kris -ngigo . oke sip author aku juga sama sedihnya tentang rumor manusia itu.

  3. I prefer Yui with Kris. Feel mereka berdua itu kuat banget. Dan rasanya bakal heartbreaking kalau at the end mereka berdua gak happy ending.

    Kayaknya disini ada kesalahpahaman antara Wufan sama Yui ya ?? Well, atau tidak ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s