I Just Don’t Realized You (Chapter 2)

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

Previous :

Chapter 1

Title: I Just Dont Realized You

Author: @baekxlu/njhbac0n

Main Cast: Choi Junhong (Zelo B.A.P), Park Bin (OC)

Other Cast: Park Chanyeol (EXO), Kwon Hangmi (OC), Moon Jongup (B.A.P) and you’ll find it soon!

Length: Chaptered.

Genre: Romance, Marriage Life, School Life

Rate: PG-14 s/d PG-15

Disclaimer: maaf kalau fanfiction ini banyak typonya, alur ceritanya kecepetan/kependekan, eyd yang kurang bagus dan perihal-perihal negatif lainnya. Maklum, saya masih pemula di dunia perfanfiction versi k-pop!^^

 

H A P P Y   R E A D I N G

~Chapter 2~

*Park Bin POV*

Aku membuka mataku dan aku melihat keluar jendela. Sepertinya sudah malam.

Aku memang ketiduran sehabis aku mengganti pakaianku. Tadinya, aku hanya ingin merebahkan badanku saja di tempat tidur tapi nyatanya aku terlalu lelah dan ketiduran. 

Aku mencari handphoneku dan menemukannya di nakas sebelah tempat tidurku.

Lalu aku menslide handphoneku agar tak terkunci lagi dan kulihat jam disana.

08.00p.m

Benar saja dugaanku.

aku mencoba untuk membangunkan tubuhku yang masih mati rasa akibat berdiri lama-lama ketika di pernikahan tadi.

Aku baru sadar jika sekarang aku telah menikah dan aku sudah mempunyai suami.

Orang tuaku dan orang tua Choi Junhong sepakat tak membiarkan aku dan Junhong untuk tidur sekamar di karenakan usiaku dan Junhong yang masih muda. Dan dari situ aku tahu umur Choi Junhong adalah 18 tahun yang berarti satu tahun lebih tua dariku.

Dari yang kulihat sejak pertama kali aku bertemunya, sepertinya dia memang benar-benar membenciku. Aku tak tahu alasannya kenapa dia membenciku.

Apakah dia sudah memiliki kekasih?

Dan jika jawabannya iya, berarti aku harus meminta maaf lagi kepadanya.

Aku membuka pintu kamarku untuk keluar, sedari tadi aku bisa merasakan perutku meraung-raung meminta makanan.

Aku pun turun dari lantai atas bermaksud untuk ke dapur, mencari makanan disitu.

Setelah aku berada di anak tangga paling bawah, aku melihat seseorang sedang duduk di sofa sambil menonton tv.

Kakinya ia taruh ke atas meja di depannya.

Dapat kulihat juga jika ia memakan snack popcorn yang di pegang oleh tangan kirinya itu.

Ku beranikan diri untuk mendekatinya dan ku lebih beranikan diri lagi untuk duduk di sampingnya.

“Malam, Junhong-ssi..” sapaku dengan pelan.

Dia tak menjawabku. Dia masih saja dengan santainya memakan popcorn itu sambil menonton tv.

Tanpa melihat ke arahku, sedetik pun.

Aku menghela nafas pendek.

“Apakah kau sudah makan, Junhong-ssi?” tanyaku pelan, sekali lagi.

Kali ini dia membuka suaranya.

“Jika kau lapar, tadi Cho Ahjumma telah memasak sesuatu di dapur sebelum dia pulang dan makanannya telah ada di atas meja di sana”

Jawabnya dengan datar dan sekali lagi,

Tanpa melihat ke arahku.

“oh iya, terima kasih telah memberitahu.” Jawabku.

Dia tak menggubris jawabanku dan masih saja dengan santainya memakan popcorn itu sambil menonton tv.

Aku pun bangun dari sofa dan melangkahkan kakiku untuk ke arah meja makan.

Setelah sampai di meja makan, aku membuka tudung saji yang menutupi makanan di dalamnya.

Aku pun menarik bangku yang terdapat di meja tersebut dan duduk di atasnya. Setelah itu aku mengambil nasi dan beberapa lauk yang telah di sediakan di atas meja tersebut.

Makan dengan hening dan sendirian.

Aku paling tak suka makan sendirian karena aku punya kebiasaan di rumah selalu makan malam bersama keluargaku.

Dan di acara makan malam seperti itu, aku bisa bercerita atau berbincang-bincang dengan keluargaku karena aku memang senang sekali berbincang-bincang dengan keluargaku.

Dan momen makan malam ini berbeda, 180 derajat berbeda dari biasanya.

Hening dan aku sendirian.

Baru saja aku akan memasukkan makananku untuk yang ke-4  kalinya, aku melihat Junhong seperti hendak naik ke atas, mungkin menuju kamarnya.

“Choi Junhong-ssi” kuberanikan diri untuk memanggilnya.

Awalnya dia tampak enggan untuk menghiraukanku tapi akhirnya dia memalingkan wajahnya juga ke arahku.

“Ada apa?” tanyanya masih dengan nada dingin.

“Apakah kau akan tidur?” tanyaku.

“kau pikir?” jawabnya yang menurutku seperti pertanyaan itu.

“entahlah, tapi-“ aku pun memotong perkataanku

“apakah kau bisa menemaniku untuk makan disini?” tanyaku.

“ah apakah kau sudah makan malam?” tanyaku lagi setelah aku menanyakan pertanyaan yang pertama.

“tidak. Aku ingin istirahat.” Jawabnya tanpa menjawab pertanyaanku yang kedua.

“tapi kau belum menjawab pertanyaanku, apakah kau sudah makan?” aku sedikit berteriak karena setelah dia menjawab pertanyaanku tadi dia langsung melangkahkan kakinya ke atas.

Dia tak menjawab apapun.

Aku menghela nafas pendek dan aku menaruh sendok dan garpu ku di atas piring.

Aku yang tak merasakannya atau bagaimana, tapi aku melihat cairan bening yang mirip seperti air mata jatuh ke makananku.

Dengan segera pun aku menghapus air mataku dan menahan ingusku.

“tidak, aku tak boleh menangis. Aku harus berusaha” semangatku pada diriku.

Karena kurasa aku sudah tak memiliki hawa nafsu untuk makan lagi, aku pun berdiri dari tempat dudukku bermaksud untuk membersihkannya.

Setelah membersihkannya, aku pun melangkahkan kakiku untuk ke lantai atas dan kembali ke kamar.

***

2 minggu setelah pernikahanku, Choi Junhong masih tetap tidak mau berbicara kepadaku ataupun sekedar melihat ke arahku.

Aku hanya akan bertemunya di pagi hari ketika sarapan.

Mungkin dua-empat kali jika dia makan siang di rumah, karena berhubung kami sedang dalam liburan musim panas, Junhong sering menghabiskan waktunya untuk keluar dari rumah dan entah pergi kemana.

Mungkin menemui kekasihnya?

Entahlah

Dan juga, setiap makan malam selalu saja dia sudah makan malam lebih dulu daripadaku. Entah sengaja atau tidak, aku pun tak tahu.

Aku juga berpikir bahwa dia sarapan dan makan siang bersamaku adalah karena jika Cho Ahjumma melihat aku dan dia sama sekali tak pernah bertemu atau berbicara, mungkin Cho Ahjumma akan memberitahu kepada orang tua Junhong bagaimana perkembangan hubungan ku dan Junhong.

Dan tepat pagi ini, pagi ini adalah hari pertamaku bersekolah di sekolah baruku.

Tadi malam, orang tua ku meneleponku dan bilang bahwa aku akan satu sekolah dengan Choi Junhong.

Aku bangun dengan semangat di wajahku, mengingat aku akan bertemu teman baru disini.

Jangan lupakan bahwa aku ini pindahan, yang biasanya anak pindahan itu kesulitan untuk menemukan teman baru.

Namun aku membuang semua pikiran itu dan berpikir bahwa aku akan mempunyai teman baru.

Setelah aku mandi dan bersiap-siap, aku pun turun ke bawah bermaksud untuk sarapan.

Dan aku menemukan Choi Junhong disana.

Dia mengenakan jas sekolah berwarna abu, dan kemeja putih di dalamnya. Tak lupa juga ia mengenakan celana dengan warna yang senada dengan jasnya itu.

Tasnya ia taruh di kursi sebelahnya dan dia memakan sarapan dengan wajahnya yang datar

Sepertinya dia menyadari kehadiranku, karena dia sempat melihat ke arahku sebentar lalu mengalihkannya lagi.

Seperti itulah kebiasaannya.

Aku pun duduk di kursi tepat di depannya.

“Selamat pagi Junhong-ssi, apakah tidurmu nyenyak?” kataku.

Aku selalu mengatakannya di setiap pagi selama dua minggu kemarin dan aku sudah hapal betul dengan jawaban yang akan ia keluarkan detik selanjutnya.

“hm”

Benarkan?

Dan aku selalu akan menjawab,

“Oh bagus kalau begitu, karena aku pun begitu.” Jawabku.

Dan seperti biasanya, dia akan bangun dari kursi dan pergi meninggalkanku untuk sarapan sendirian.

Namun kali ini berbeda, dia mengambil tasnya dan memakainya di balik punggungnya itu.

“Cho Ahjumma aku selesai, dan aku akan berangkat ke sekolah sekarang.” Katanya kepada Cho Ahjumma. Dia sedikit berteriak karena tampaknya Cho Ahjumma sedang berada di belakang, sedang menjemur atau mencuci baju sepertinya.

“lalu aku pergi dengan siapa ke sekolah? Aku kan belum mengetahui sekolahku diman-“

“kau akan pergi dengan supir pribadi milik keluargaku yang mulai hari ini akan mengantarkanmu ke sekolah dan menjemputmu dari sekolah.” Junhong memotong pertanyaanku

“dan juga, kau dan aku harus berpura-pura saling tak mengenal di sekolah. Ingat itu! Jika tidak, aku yakin masalah ini akan menjadi hot topic di seluruh penjuru sekolah. Aku sekarang berada di kelas 3 dan aku tak mau kau mengganggu nilaiku apalagi membuat aku harus keluar dari sekolah” sambungnya lagi dengan tegas.

“ne..”

“lalu kau pergi dengan apa?” tanyaku.

Dia menjawab pertanyaanku dengan membalikkan badannya bermaksud untuk pergi keluar.

Aku pun mendesah pelan

“sampai kapan dia akan begitu” gumamku.

Setelah cukup lama dia keluar, aku mendengar suara deru mesin motor sport menyala dengan sedikit nyaring.

Aku tersontak kaget dan cepat-cepat aku bangun dari kursiku dan melihat ke arah luar.

Aku mengintip dari jendela bahwa Choi Junhong menaiki motor sport berwarna putih itu dengan helm full face yang senada dengan warna motor sport itu.

“oh dia naik motor rupanya” jawabku.

“terima kasih telah mengantarkanku, Lee Ahjussi” aku mengucapkan terima kasihku kepada supir pribadi keluarga Junhong yang sekarang akan menjadi supir pribadiku.

“itu merupakan tugasku agasshi, dan aku akan menjemputmu lagi sore nanti.” Jawabnya dari kemudi di depan.

“baiklah” jawabku sambil menyunggingkan senyumanku.

Aku pun turun dari mobilku itu. Setelah itu, aku bisa melihat di depan gedung sekolah itu terdapat tulisan

Seoul High School.

Yang berarti itu adalah nama sekolah tersebut.

Aku pun masuk ke dalam gedung sekolah itu dan mencari tata usaha gedung sekolah itu, bermaksud untuk menanyakan dimana kelas baruku.

“kau berada pada ruang kelas XI-4” kata sang pengurus tata usaha.

Aku mengingat perkataan sang tata usaha tersebut dan mencari-cari kelasku.

Ternyata gedung dengan 3 tingkat ini memiliki tingkat sesuai dengan tingkatan-tingakatan kelasnya.

Seperti lantai paling bawah, untuk lantai kelas 1.

Lantai ke dua untuk kelas 2 (pasti kelasku berada di lantai itu)

Dan lantai paling atas adalah lantai kelas 3 (mungkin kelas Choi Junhong berada di lantai tersebut)

Setelah aku sampai di lantai dua, aku menemukan kelasku dengan mudah.

Aku pun mengetuk kelasku yang tampaknya sudah di mulai. Maklum, aku sedikit terlambat karena harus menanyakan terlebih dahulu kelasku dimana dan sedangkan tadi sang tata usaha sedang kerepotan dan mengabaikanku cukup lama.

Lalu seorang ibu-ibu yang mungkin usianya sekitar 30-35tahunan itu membuka pintu dengan mendorongnya kesamping.

“oh kau pasti anak baru itu ya?” tanya wanita itu. Tampaknya dia guru yang sedang mengajar di kelas baruku itu.

“iya, seonsaengnim” kataku sambil membungkuk hormat.

“oh masuklah” katanya seraya menarik pinggangku dan mendorongnya pelan untuk masuk kedalam.

“perkenalkan ini siswi baru, dia pindahan dari.. ah iya kau pindahan darimana?” tanya guru baruku itu.

“Indonesia, seonsaengnim” jawabku cepat.

“ah iya, Indonesia. Coba kau perkenalkan dirimu” perintah guru baruku itu.

“perkenalkan aku Park Bin, aku berasal dari Indonesia. Terima kasih” aku memperkenalkan diriku dan membungkuk pelan seraya menyunggingkan senyumanku di akhirnya.

“baiklah, Park Bin, kau bisa duduk di meja sebelah situ.” Guru baruku itu menunjuk meja di barisan ke tiga dan barisan paling kiri tersebut.

“ne” jawabku seraya mengangguk hormat.

“dan juga, perkenalkan aku, Jung Hansoo, kau bisa memanggilku Jung seonsangnim.” Jelasnya sekali lagi.

“ne, Jung seonsangnim” kataku sekali lagi sambil menganggukan kepalaku.

Aku pun melangkahkan kakiku untuk menuju mejaku tersebut. Setelah sampai aku langsung duduk di meja tersebut.

“ok kita lanjutkan lagi pelajaran kita..” lanjut Jung Seonsangnim setelah aku benar-benar duduk di kursiku.

Aku melihat ke segala arah. Kelas ini hanya terdapat 30 murid dan kalau aku teliti, terlihat sepertinya lebih dominan siswa laki-laki ketimbang siswa perempuan.

Tiba-tiba lelaki yang duduk di depanku melihat ke belakang seraya memberikanku suatu gulungan kertas.

Setelah itu dia membalikkan lagi badannya dan melihat ke arah Jung seonsaengnim yang sedang menjelaskan sistem saraf indera.

Aku pun mengambil kertas tersebut dan langsung membukanya.

“Annyeong, aku Park Chanyeol.”

Pelajaran di kelas tadi aku lewati dengan cukup senang.

Walaupun hari ini, aku baru saja menemukan seorang teman.

“Park Bin, kau pulang ke arah mana?” tanya lelaki yang tadi memberiku gulungan kertas ketika pelajaran Jung seonsaengnim.

Ya, Park Chanyeol menjadi teman pertamaku di sekolah ini.

Bahkan ketika tadi aku ingin sekali melihat kelas Choi Junhong, Park Chanyeol mengantarku ke lantai atas, lantai kelas 3.

Tidak, Park Chanyeol tak mengetahui hubunganku dengan Junhong.

“Park Chanyeol aku ingin sekali melihat kelas di lantai atas, bisakah kau mengantarku?”

Dan dengan senang hati Park Chanyeol mengantarku ke lantai atas, lantai kelas Choi Junhong.

Mungkin Chanyeol berpikir aku hanya ingin melihat-lihatsaja gedung sekolah ini karena aku murid baru di sini.

Dan aku menemukan kelas Choi Junhong. 12-4.

Bagaimana aku bisa tahu?

Tak sengaja ketika tadi aku dan Park Chanyeol sampai di lantai atas dan melihat ke seluruh kelas, aku menemukan Choi Junhong di ruangan kelas 12-4.

Dia sedang berbincang-bincang dengan temannya yang kukenal kemarin, Moon Jongup.

Yang paling membuatku sakit hati adalah cara dia berbicara dengan teman-temannya.

Dia tampak senang sekali berbicara dengan teman-temannya.

 Tak lupa juga dia menyunggingkan senyumnya kepada perempuan-perempuan yang berbicara dengannya.

Berbeda denganku, melihat ke arahku pun saja dia seperti tak sudi.

“hey, Park Bin, kau tak apa?”

Suara Chanyeol menyadarkan lamunanku tentang bagaimna aku menemukan kelas Junhong tadi.

“ah, ya tak apa. Aku di jemput oleh supirku Chanyeol-ssi” kataku sambil menjawab pertanyaan yang tadi.

“aih, kau jangan memanggilku dengan –ssi begitu dong, panggil saja Chanyeol-a or Chanyeol-ie” katanya sambil dengan muka aegyonya.

“ah iya lupa, maafkan. Ok, kalau begitu kau pulang dengan naik apa Chanyeol-a?” tanyaku.

“aku biasa naik bus Bin-a, dan kurasa aku harus pulang sekarang. Supirmu belum datang ya? Tak apa jika kutinggal duluan?”

“tentu saja tak apa Chanyeol-a” kataku dengan sedikit menepuk lengannya.

“oh kalau begitu aku pulang duluan ya, hati-hati dan annyeong Bin-a” katanya seraya berjalan menjauh dariku.

“Annyeong Chanyeol-ie” kataku sambil melambaikan tangan ke arah Chanyeol yang sudah sedikit menjauh dariku.

Dan aku pun sendiri disini. Di depan gedung sekolahku sambil menunggu Lee ahjussi datang.

Suara deru motor sport itu sangat menderu di telingaku. Aku bermaksud untuk melihat ke arah motor sport siapa itu.

Ketika aku memalingkan wajahku ke gerbang Seoul High School aku mendapatkan motor sport berwarna putih itu yang akan melaju sebentar lagi di hadapanku.

Aku tau siapa pemilik motor sport putih itu

Dia berhenti sebentar di dekat gerbang Seoul High School karena tampaknya dia sedang berbicara dengan seorang wanita.

Tak lama dari itu, sang wanita tersebut langsung naik ke atas jok belakang motor tersebut.

Aku yang berada di jarak kurang lebih 3 meter darinya itu melihat ke arah Choi Junhong dan wanita yang di belakangnya itu.

Mengapa dia mau mengantar pulang gadis lain sedangkan aku, yang istri sah nya pun tak di antar pulang oleh nya.

Setelah beberapa menit wanita itu naik ke atas motor Choi Junhong, motor tersebut melintas di hadapanku.

Dan tetap, si pemilik motor itu sama sekali tak melihat ke arahku.

“Aku pulang..”

Akhirnya aku sampai juga di rumah.

 Tadi setelah Lee ahjussi datang menjemputku tepat 10 menit setelah kejadian Junhong membonceng seorang gadis di belakangnya, aku tak langsung pulang ke rumah karena aku merasakan sakit yang luar biasa di dadaku ini.

Aku masih bertanya-tanya, kenapa Choi Junhong begitu benci kepadaku.

 Apakah aku pernah berbuat kesalahan?

Oh tentu saja kau berbuat kesalahan, Park Bin.

Dia jelas-jelas menolak untuk menikahimu tapi kau tetap bersikeras saja menerima perjodohan tersebut.

Maka dari itu setelah Lee ahjussi datang menjemputku, aku minta antar ke sebuah toko buku di daerah Cheondamdong untuk sekedar menghilangkan rasa sakit hatiku.

Dan sekarang tepat pukul 7p.m kst. Pasti Cho Ahjumma telah pulang.

“Apakah Cho ahjumma sudah pulang?”

Aku sedikit berteriak untuk memastikan apakah Cho ahjumma telah pulang atau tidak.

lalu melangkahkan kaki ku masuk ke dalam melewati ruang tamu lalu ruang tengah.

setelah aku berhasil melewati ruang tamu yang di batasi oleh lemari kaca yang besar di antara ruang tamu dan ruang tengah, aku mendapati Choi Junhong sedang duduk di atas sofa.

Seperti kebiasaannya, dia akan duduk di ruang tengah sambil memakan popcorn rasa caramel lalu entah menonton acara televisi apapun yang di suguhkan di stasiun-stasiun tv korea.

Aku memberanikan diri untuk menghampirinya dan duduk di sebelahnya.

“Annyeong Junhong-ssi, apakah kau sudah makan malam?” tanyaku.

Dia tak membalas pertanyaanku. Seperti biasanya.

“kalau begitu, apakah Cho ahjumma sudah pulang?” tanyaku dengan hati-hati.

“sudah.” Jawabnya tanpa sedikit pun mengalihkan perhatiannya dari lcd tv yang ada di hadapannya.

“oh baiklah kalau begitu.”

Aku pun menghembuskan nafas pendek.

Aku lelah di perlakukan terus menerus seperti itu oleh Choi Junhong.

Sebenarnya, keinginanku untuk pergi meninggalkan Junhong sudah berada pada titik puncaknya.

Namun, rasa yang telah hinggap selama 10 tahun itu berada jauh lebih di atas titik puncak keinginanku untuk meninggalkan Junhong.

“Junhong-ssi” aku pun membuka suaraku lagi.

“siapakah gadis yang kau antar tadi sore?” tanyaku dengan hati-hati.

“bukan urusanmu.” Jawabnya dengan ketus.

“aku hanya ingin mengetahuinya saja jika dia memang temanmu atau bukan-“

“kalau bukan, bagaimana?” tanyanya, dan sekali lagi, tanpa melihat ke arahku sedikitpun.

“kalau bukan, berarti sekarang aku tahu alasannya mengapa kau membenciku Junhong-ssi” jawabku dengan nada keluh di akhirnya.

“aku sudah pernah bilang padamu bahwa aku membencimu karena aku membenci perjodohan ini. Kan sudah  ku peringatkan kau bahwa aku akan membencimu, dan sekarang lihat? Aku memang benar-benar membencimu.” Jawabnya dengan datar namun tegas.

Aku bisa merasakan air mataku jatuh melewati pipiku.

Tidak, kumohon, jangan sekarang.

Aku memalingkan wajahku untuk menghapus air mataku.

Lalu aku kembali melihat ke arahnya yang masih saja dengan santainya memakan popcorn caramel dan pandangannya tak pernah lepas dari layar kaca yang di sebut tv di hadapannya itu.

“aku mengerti. Baiklah, aku minta maaf. Sekarang aku benar-benar akan menjauhimu dan tak mengusikmu lagi. Kau hanya perlu menunggu waktu saja untuk berpisah denganku.”

Aku pun mengangkat diriku yang sedang terduduk tadi lalu bergegas menuju kamarku.

Tidak, aku tak perlu makan.

Aku hanya perlu seseorang untuk bisa membagi rasa sakit ini berdua.

Setidaknya aku akan merasa jauh lebih ringan.

Atau masih tetap akan berat?

Semenjak hari itu, aku sudah jarang sekali menyapanya di pagi hari atau pun menyambutnya di sore hari ketika dia berada di depan layar televisinya.

Ketika di pagi hari, aku hanya akan langsung duduk di hadapannya dan langsung sarapan tanpa mengatakan kalimat yang selalu ku ucapkan dulu, “Selamat pagi, apa tidurmu nyenyak?”

Begitupun di sore hari setelah Cho ahjumma pulang dan Junhong selalu akan duduk di ruang tengah, menonton televisi dan di temani popcornnya itu.

Tak pernah aku mengusiknya sekalipun atau pun bertanya seperti, “selamat malam Junhong-ssi, apakah kau sudah makan?”

Aku benar-benar lelah dengan itu semua.

Aku sakit, sakit karena dia masih saja tetap begitu dan perkataannya waktu seminggu yang lalu.

“…dan lihat sekarang, aku benar benar membencimu.”

Masih terngiang-ngiang jelas di otakku.

 

Tapi tak dapat kupungkiri, bahwa jika di sekolah aku masih akan selalu iseng naik ke lantai 3 dan melihatnya dari pintu kelas.

Dia selalu seperti itu

Jika bersama temannya, aku bisa melihat dia tertawa renyah dan tersenyum bahagia.

Berbeda sekali jika di dalam rumah, dia akan menampil ekspresi dinginnya dan juga mulutnya tak mau ia buka sekalipun.

Aku benci ini tapi aku menyukai dia.

*Choi Junhong POV*

Aku melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam ruang ganti pakaian.

Iya, jadwal hari ini adalah pelajaran olahraga.

Semua murid akan mengganti seragamnya dengan kaus olahraga sekolah.

Begitupun aku.

Setelah aku selesai berganti pakaian, aku keluar dari ruang ganti pakaian sekolahku dan menuruni banyak anak tangga. Bermaksud untuk menuju ke lapangan di luar gedung sekolah.

Ketika aku sampai pada lapangan yang kutuju, seseorang memanggilku dari seberang lapang.

“Choi Junhong!” seorang gadis melambaikan tangannya ke arahku.

Itu Kwon Hangmi, gadis yang pernah di tanyakan oleh Park Bin 2 minggu yang lalu.

Park Bin,

Gadis itu benar-benar akan omongannya.

“..sekarang aku benar-benar akan menjauhimu dan tak akan mengusikmu lagi.”

 

Awalnya kukira itu hanya bualan semata, dan kupikir dia akan tetap mengusikku lagi seperti biasanya.

Seperti di pagi hari misalnya, ketika dia turun dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan dia akan menanyakan hal yang menurutku menjijikan

“selamat pagi Junhong-ssi, apakah tidurmu nyenyak?”

 

Dan hanya untuk sebatas formalitas di hadapan Cho ahjumma aku akan hanya menjawabnya dengan sebuah deheman.

“hm”

 

Lalu biasanya gadis itu akan berkata,

“oh bagus kalau begitu, karena aku pun begitu”

 

Dan ketika di sore hari, aku sudah hafal dia akan sampai rumah jam berapa.

7p.m kst.

Mungkin lebih, mungkin kurang.

Dan setiap dia kali dia menemuiku sedang duduk di ruang tengah sambil memakan popcorn itu dia akan selalu langsung duduk di sebelahku dengan jarak yang agak ia sengaja jauhkan.

Dan juga akan berkata,

“selamat malam Junhong-ssi, apakah kau sudah makan malam?”

 

Lalu aku akan diam dan menunggu ia bertanya satu kalimat lagi.

“apakah Cho ahjumma sudah pulang?”

 

Dan pada saat itulah aku menjawabnya dengan dehaman atau anggukan atau pun dengan kata “sudah”

Tapi berbeda setelah kejadian di hari itu, tepat 2 minggu yang lalu.

Ketika dia menanyakan teman dekatku, Kwon Hangmi.

Dia menanyakan siapa gadis yang aku antar pulang waktu itu.

Kebetulan memang waktu hari itu Kwon Hangmi tak di jemput oleh kekasihnya dan aku merasa kasihan padanya, mengingat rumahnya yang jauh aku tak tega jika ia harus menaiki bus untuk pulang ke rumahnya.

maka dari itu aku mengantarkan pulang Kwon Hangmi ke rumahnya.

Mengingat gadis itu, Park Bin, menanyakan Kwon Hangmi, kurasa itu tak terlalu penting untuk ia tahu karena aku dan Kwon Hangmi memang benar tak memiliki hubungan apapun selain teman dekat.

Maka dari itu aku jawab dengan

“bukan urusanmu.”

Dan lagi gadis itu ingin tahu jika Kwon Hangmi temanku atau bukan.

Sudah kubilang bukan urusannya, namun dia tetap ingin tahu tentang itu. Menjengkelkan sekali bukan?

Dan aku pun dengan dinginnya berkata

“jika bukan bagaimana?”

Dan lagi juga dia berkata,

jika bukan, berarti aku tahu sekarang alasanmu membenciku.”

 

Oh ayolah, gadis ini cepat pelupa atau bagaimana?

Bukankah waktu itu ketika di Namsan Tower aku sudah pernah bilang bahwa aku membenci perjodohan ini dan yang berarti jika ia tetap melakukannya maka aku akan membencinya.

Itu sudah jelas sekali bukan?

“aku sudah pernah bilang padamu bahwa aku membencimu karena aku membenci perjodohan ini. Kan sudah  ku peringatkan kau bahwa aku akan membencimu, dan sekarang lihat? Aku memang benar-benar membencimu.”

Kukatakan saja apa yang benar keadaannya.

Aku bisa melihatnya dari sudut mataku (aku masih menempelkan mataku pada layar kaca yang di sebut tv di hadapanku) bahwa gadis itu mengeluarkan cairan bening dari matanya.

Dia menangis.

Aku sempat merasa bersalah karena mengatakan itu semua, namun rasa kesalku lebih berada di atas rasa bersalahku padanya.

Dia memalingkan wajahnya dan aku tahu, pasti dia akan menghapus air mata itu.

Setelah itu dia melihatku lagi seraya berkata

“aku mengerti. Baiklah, aku minta maaf. Sekarang aku benar-benar akan menjauhimu dan tak mengusikmu lagi. Kau hanya perlu menunggu waktu saja untuk berpisah denganku.”

 

Dan selanjutnya gadis itu beranjak dari sofa dan pergi meninggalkanku.

Dia menaiki tangga ke lantai atas, ke kamarnya mungkin.

Aku membalikkan kepalaku untuk melihat tubuhnya yang menjauh menaiki tangga.

Lalu kupalingkan lagi kepalaku ke arah layar tv.

“bagus kalau begitu.” Gumamku.

Dan semenjak hari itu, sapaan ketika pagi dan pertanyaan yang akan ia lontarkan ketika mendapatiku duduk di sofa sambil memakan popcorn hilang semua.

Ketika di pagi hari gadis itu hanya akan duduk di hadapanku dan langsung memakan sarapannya tanpa melihat ke arahku sekalipun

Dan ketika sore hari dia pulang sekolah, setelah ia mengatakan “aku pulang”

Dia hanya akan saja melewati diriku yang duduk di sofa.

Dia benar-benar pada pendiriannya.

Awalnya aku merasa senang dia tak melakukan kebiasaan-kebiasaannya itu.

Namun setelah lama-kelamaan, aku merasa seperti kehilangan.

.

.

.

“YA! Choi Junhong!”

Gadis bernama Kwon Hangmi sedang melambaikan tangannya di hadapanku.

“huh?” kataku bertanya.

“aish, kau ini melamunkan siapa?” tanyanya.

“tidak. Tidak siapa-siapa. Oh ayo itu lihat Kim seonsaengnim sudah berada di lapangan cepat kita kesana atau tidak kita akan menjadi santapannya siang ini!” kataku seraya melihat Kim seonsaengnim sudah meniupkan peluitnya.

Dia adalah guru olahraga yang menjadi guru killer di sekolah ini.

Biasanya yang menjadi guru killer adalah guru mata pelajaran eksak, namun berbeda dengan Seoul High School.

Sekolah ini guru killernya adalah guru olahraganya.

“Kali ini kita akan berolahraga disatukan dengan kelas 11-4! 11-4 cepat bergabung dengan sunbae mu!” teriak Kim seonsaengnim kepada sekumpulan anak di pinggir lapang yang melihat ke arah kelasku dengan sedikit canggung.

Namun perlahan-lahan semua murid itu memasuki lapangan dan mulai ikut berbaris di sebelah barisan kelasku.

Aku berada di barisan paling pojok belakang sebelah kiri dan semua murid tadi berbaris di sebelahku.

Seorang gadis yang menguncir rambut hitam ikalnya ke atas berdiri sebelahku, bermaksud untuk berbaris.

Aku melihat ke arahnya dan mendapati gadis itu adalah Park Bin.

Oh lihatlah, dia sepertinya tau aku berada di sebelahnya namun dia sama sekali tak melihat ke arahku barang sedikitpun. Dia tetap saja melihat ke arah depannya.

“Sekarang para lelaki dari kelas 12-4 dan 11-4 akan bertanding bermain futsal!” koar sang guru killer itu.

Oh futsal, itu merupakan bidangku.

“untuk kelas 12-4 akan di pimpin oleh Choi Junhong dan untuk kelas 11-4 akan di pimpin Park Chanyeol” koarnya lagi.

Aku pun melangkahkan kakiku maju ke depan bermaksud untuk berdiri di samping Kim seonsaengnim dan seorang lelaki dari barisan Park Bin juga maju ke depan.

“oh mungkin itu yang namanya Park Chanyeol” batinku.

“nah ini dia kedua pemimpin dari masing-masing kelas. Sekarang kalian diskusikan siapa saja yang akan bermain di team kalian!” teriak Kim seonsaengnim.

Setelah itu aku menghampiri teman kelasku dan begitu juga Park Chanyeol

10 menit lamanya aku dan Park Chanyeol memilih anggota team futsal dan kami kembali ke tengah lapang.

Entah sejak kapan, tapi lelaki bernama Park Chanyeol itu jalan beriringan dengan Park Bin.

“Ok permainan ini akan di mulai sebentar lagi. Tidak ada aturan tertentu di dalam permainan futsal.”

Kata Kim seonsaengnim

“sekarang masing-masing team melakukan pemanasan dulu lalu kembali lagi dalam waktu 5 menit!” perinta Kim seonsaengnim.

Teamku dan team Park Chanyeol pun melakukan pemanasan itu selama 5 menit. Dan sesuai dengan perintah Kim seonsaengnim, kami kembali ke tengah lapang.

“mana kapten kalian?!” tanya Kim seonsaengnim kepada regu kelas 11-4 itu.

Aku memang tak menemukan Chanyeol kembali lagi setelah teamku dan diriku berada di tengah lapang.

Aku pun melihat ke pinggir lapang dan mendapati Chanyeol sedang mengacak-acak gemas puncak kepala Park Bin.

Aku bisa merasakan hawa panas menjalar ke mukaku.

Tunggu-tunggu, apa-apaan ini?! Kenapa aku merasa panas!?

Aku melihat ke arah Chanyeol yang sedikit berlari ke arah ku, maksudnya ke teamnya dan teamku.

“maafkan seonsaengnim, tadi aku ada urusan sebentar.” Jawabnya setelah sampai di tengah lapang.

Urusan macam apa itu!?

“yasudah! Sekarang permainan akan dimulai, kalian semua pada posisi kalian!” perintah Kim seonsaengnim

Semua anggota team aku dan Park Chanyeol pun pindah ke posisi masing-masing.

Aku dan Chanyeol berada di tengah lapang untuk merebut bola bercorak polkadot dengan warna putih dan hitam itu sebagai pemula.

“hana, dul, set, PRIT!” suara di akhir itu adalah suara peluit di bunyikan.

Berhasil, aku mendapatkan bola duluan ketimbang Park Chanyeol. Aku menendang bola dan menghadang tim lawan dengan lincahnya.

Setela berhasil melewati lawan-lawanku semua, aku mencapai gawang dan bermaksud untuk menendang bola itu sampai menyentuh jaring gawang.

Dalam hitungan detik pun, aku telah menendang bola tersebut dan

Berhasil

Aku mendengar suara sorakan para wanita kelasku melihat aku memasukkan bola ke gawang Park Chanyeol

“skornya 1-0” teriak Kim seonsaengnim dari pinggir lapang.

Aku tersenyum bahagia dan melihat ke arah Park Chanyeol dengan merendahkan.

Betapa hebatnya aku dalam waktu kurang dari 5 menit bisa memasukkan sebuah bola ke gawang lawan.

Sudah kubilang, bermain sepak bola adalah keahlianku.

Suara-suara perempuan dari kelasku dan kelas 11-4 tak berhentinya berteriak-teriak meneriaki kelas mereka masing-masing.

Ketika tim ku mencetak sebuah gol, kelasku akan berubah gaduh.

 Dan begitu tim Park Chanyeol mencetak sebuah gol, giliran kelas mereka yang berbuat gaduh.

Dan itu pun terus menerus berlangsung sampai skor sekarang adalah 4-4

“Ini babak terakhir dan yang mencetak angka gol berarti adalah pemenangnya” teriak Kim seonsaengnim dari pinggir lapang.

Aku pun melihat ke arah Park Chanyeol yang beradi di hadapanku dengan bola bercorak polkadot putih hitam di antara kami berdua.

Dapat kulihat peluh keringatnya menetes dari ujung rambut lelaki itu.

“PRIITTT!”

Peluit itu pun di tiupkan dengan nyaringnya dan membuatku langsung menendang bola itu menjauh dari Park Chanyeol.

Aku terus menerus menggiring bola itu sendiri.

Bahkan aku tak mengopernya ke rekan tim ku.

“aku harus bisa memenangkan ini!” gumamku dalam hati.

Setelah aku melihat gawang lawanku berada kurang lebih 3 meter di hadapanku, aku makin menaikkan kecepatan dan kecekatanku dalam menggiring bola.

“sedikit lagi!!!” gumamku dalam hati.

Hampir saja aku menendang bola itu sebelum..

Aku pun tersandung dan menggulingkan badanku sambil memegangi kakiku yang tadi sempat mencium tanah lapang.

“aarrgghh..” pekikku.

PRIT!!

Suara peluit itu di bunyikan lagi dan sekarang beberapa rekan tim-ku menghampiriku yang masih menidurkan diriku di lapangan sambil memeluk lututku yang sangat perih bagiku.

“kau tak apa-apa, Junhong-a!?” temanku yang telah menjongkokan dirinya di hadapanku sambil memegang kakiku menanyakan keadaanku.

“aarrggg..” aku pun mencoba untuk mendudukkan diriku.

Dapat kulihat darah berwarna merah itu mengalir mulus dari lututku.

“maaf sunbae! Aku sungguh tak bermaksud untuk melakukan itu!” pekik Park Chanyeol di hadapanku.

Aku melihat ke arahnya dengan tatapan sinis.

“tak bermaksud bagaimana, jelas-jelas kau menendang kakiku bukan bola itu bodoh!” geramku dalam hati.

Aku pun mengalihkan lagi pandanganku kepada lututku.

“aku tak bisa melanjutkan permainan ini, Kim seonsaengnim!” kataku setelah melihat Kim seonsaengnim ada di hadapanku.

“ok baiklah, ayo sekarang bawa dia ke ruang kesehatan!” perintah Kim seonsaengnim kepada teman-temanku.

“tak perlu seonsaengnim! Aku bisa pergi sendiri ke ruang kesehatan!” kataku.

Aku mencoba untuk berdiri walaupun ketika aku berdiri aku merasakan sengatan listrik dari lututku ini.

“errgg..” geramku kecil.

“kau yakin?” tanya Kim seonsaengnim sekali lagi.

Aku hanya menganggukan kepalaku

“dan Moon Jongup, gantikan posisiku sekarang!” perintahku pada sahabatku sejak junior dulu.

Aku pun melangkahkan kakiku untuk menuju ruang kesehatan.

“aish! Bagaimana ini? Aku kan paling tidak suka menyentuh darah!”

Aku lupa bahwa aku tak suka yang namanya menyentuh darah.

Entahlah, tak bisa di sebut phobia darah juga karena aku memang tak takut ketika melihat darah.

Namun jika aku di suruh untuk menyentuh darah, aku juga tak mau melakukan itu.

Aku tak suka dengan warna darah yang merah dan kental. Membuatku jijik.

“aish! Sudah lupakan sajalah! Biarkan darah itu membeku sendiri nantinya!” kataku geram di ruang kesehatan.

Untung saja di ruang kesehatan ini hanya ada aku seorang, jika ada orang lain disini pasti orang tersebut akan memakiku karena aku sungguh sangat berisik.

Aku pun mengangkat pantatku untuk beranjak dari kursi yang aku duduki di ruang kesehatan.

 Aku akan kembali ke lapangan, mungkin tak akan bermain lagi tapi hanya melihat mereka bermain di pinggir lapangan.

Baru saja aku membuka pintu ruang kesehatan

Aku mendapati Park Bin berdiri di depan ruang kesehatan.

Tangan kirinya menggumpal melayang, seperti seseorang yang akan mengetuk pintu.

“Oh, Choi Junhong-ssi” katanya seraya menurunkan tangannya yang memang sepertinya akan mengetuk pintu ini kalau aku tak membukanya.

“ada apa kau kemari?” tanyaku.

“hm… ing-in melihat keadaan-mu sa-j-ja…” katanya sambil terbata-bata dan menunduk. Entah malu entah apa

“aku baik-baik saja, minggir” perintahku padanya.

“tunggu dulu!” pekiknya.

Aku mendesah nafas berat,

“apa?”

“ itu lukamu, masih belum di bersihkan” katanya sambil melihat ke arah lukaku.

“biarkan saja, nanti juga akan mengering dengan sendirinya. Sekarang kau minggir” perintahku sekali lagi.

“tak bisa begitu!” katanya sambil menghadang tubuhku yang akan menubruknya jika dia tak memberi jalan juga.

Dia membentangkan tangannya, menghalang pintu masuk-keluar ruang kesehatan tersebut.

“apa yang kau lakukan!? Minggir!” perintahku dengan sedikit galak.

“tidak bisa sebelum kau membersihkannya!” oh apakah aku salah mendengar, namun terdengar dari nada bicaranya, dia tampak seperti.. MEMERINTAH!?

“siapa kau dengan enaknya memerintah seperti itu!?” tanyaku dengan sangat ketus.

“Choi Junhong-ssi, kalau kau tak membersihkan luka itu, luka itu akan terkena angin ketika kau berjalan. Nah angin itu mengandung banyak sekali debu. Nah debu itu mengandung bany- erm..ermmm!”

Oh dengarlah celotehannya yang tadi, tampak seperti guru biologi yang menyeramkan!

Karena aku kesal dengan suaranya yang seperti ‘guru biologi menyeramkan’ itu aku membungkam mulutnya dengan satu tanganku.

Dalam hitungan detik aku membungkamnya dengan tanganku, bisa kulihat dia menyuratkan semburat merah di pipinya.

Err.. Apakah dia malu?

Aku pun menurunkan tanganku yang telah membungkamnya.

“kau tahu, suaramu itu tampak mengerikan.” kataku dengan wajah datarku

“apa!? Aku kan memberitahumu untuk-“

Kembali lagi aku menutup suaranya dengan menarik tangannya untuk masuk ke dalam ruang kesehatan.

Aku pun duduk di kursi yang baru saja kutinggalkan selama 5 menit tadi dan melihat Park Bin yang berdiri terpaku kebingungan melihatku langsung menyeret tangannya saja tanpa memberitahu maksudnya apa itu.

“tunggu apa lagi? Cepat kau bersihkan lukaku.” Kataku setelah melihat ke arah matanya.

“apa? Kau kan bisa bersihkan sendiri luka itu!” katanya sambil mengernyit heran.

“aku tak bisa..” kataku dengan lirih.

“apa?”

“aku tak bisa!” tegasku. Ugh sekecil itukah suaraku hingga dia tak bisa mendengarnya.

“kenapa?”

“karena…” aku memotong ucapanku. Terlalu malu untuk memberitahunya bahwa aku tak suka menyentuh darah.

“karena apa?” tanyanya sekali lagi, penasaran.

“ah kau tak perlu tahu itu! Lagi pula kau datang kesini untuk melihat keadaanku kan? Setelah melihatku dengan keadaan begini, kau tak mau membantuku? Lalu tujuan kau datang kesini apa!?” tanyaku dengan nada sedikit membentak. Dia ini orangnya banyak bertanya sekali.

“ah ne ne, Junhong-ssi” katanya.

Dia pun beranjak dari tempatnya menuju kotak p3k yang menempel di dinding ruang kesehatan tersebut.

Dia mengambil beberapa kapas, air hangat, alkohol, obat merah dan tampaknya plester juga.

Setelah itu, dia kembali ke hadapanku lalu menjongkokan dirinya menghadap luka di lututku.

Dia menyelupkan sebuah kapas ke dalam gelas kecil berisi air hangat yang tadi ia bawa. Ia pun menempelkan kapas basah tersebut untuk membersihkan darah yang ada di lututku terlebih dahulu.

“AARRGGG!!” pekikku.

“maaf..” katanya.

Aku pun hanya berdecak sebal dengan kelakuannya.

Setelah itu, dia membuka tutup botol alkohol dan menaruh beberapa tetes alkohol tersebut ke atas kapas.

Selanjutnya dia mengelap lukaku dengan kapas berisi tetesan alkohol tadi.

“ARG!! Kau ini bisa membersihkan luka tidak!? Kenapa menjadi semakin perih ketika kau membersihkannya huh!?” teriakku kepadanya dengan sedikit kasar.

Dia mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah mataku lurus-lurus.

“kau pikir aku ini melakukannya untuk mencelakaimu hah!? Itu memang efek yang di timbulkan dari alkohol dan air hangat itu tau!” protesnya.

Aku tertegun melihatnya ketika dia memprotesku seperti tadi.

Bukan, bukan karena cara memprotesnya yang menyebalkan.

Aku baru pertama kali melihat matanya secara sedekat itu mengingat jarak kami yang cukup sangat dekat karena dia sedang membersihkan lukaku.

Matanya yang hitam dan nampak seperti ada binar-binar di matanya.

Matanya seperti langit malam yang berbintang.

TUNGGU-TUNGGU, APA-APAAN KAU INI CHOI JUNHONG!?

“tapi tetap saja kau menekan lukaku itu dan memberikan efeknya lebih sakit daripada hanya membasuh lukaku dengan air hangat dan alkohol itu!!” protesku lagi.

Dia kembali menatap lukaku. Sekarang dia membuka tutup botol obat merah.

“terserah kau saja.” Katanya.

Aku melihatnya dengan secara intens.

Bagaimana dia membersihkan lukaku tadi.

Bagaimana dia memberiku obat merah sekarang.

“benar kata Ayah, dia gadis yang manis.” Batinku.

APA-APA, TUNGGU, CHOI JUNHONG APA YANG KAU KATAKAN?

Aku menggelengkan kepalaku. Menolak perkataan hatiku barusan.

“tetap saja, walaupun dia gadis yang manis, dia akan dan telah menghancurkan masa muda mu Choi Junhong.” Kataku lagi.

“Sudah selesai.” Katanya seraya membenarkan plesteranku yang tertempel di atas kapas yang menutupi lukaku.

Dia pun mendongakan kepalanya lagi dan melihatku sambil tersenyum.

Lalu detik berikutnya dia berdiri dari jongkoknya dan melihatku dengan sedikit menunduk.

Aku hanya mengangguk pelan melihat ke arah lukaku yang sudah di tutupi kapas dan plester lagi.

“apa yang kau lakukan disitu? Cepat pergi sana kembali ke kelasmu sebelum ada orang yang melihat kita!” perintahku.

Aku hampir lupa bahwa fakta yang mengatakan aku telah menikahinya dan seluruh penjuru sekolah tak tahu itu.

Mungkin jika seseorang melihat kami berdua-duaan di ruang kesehatan seperti sekarang ini, aku yakin akan menimbulkan gosip yang tak akan pernah aku ingin dengar dari mulut-mulut kaum hawa itu.

Dia menghembus nafas kecil dan tersenyum lagi

“baiklah, cepat sembuh Junhong-ssi” katanya.

Detik berikutnya dia membalikkan tubuhnya, akan meninggalkanku sendiri di ruang kesehatan ini.

Namun ternyata aku salah.

Aku malah memegang tangannya ketika dia baru saja membalikkan tubuhnya.

“dan juga..” kataku sambil masih memegang lengannya.

“terima kasih.” Lanjutku.

Dapat kulihat semburat merah mewarnai pipinya.

Aku pun melepaskan pegangan tanganku itu.

“sama-sama Junhong-ssi”

***TBC***

Terima kasih lagi untuk kak dita yang mau ngepost fanfiction PERTAMA aku ini. Seperti kemarin, kata SARANGHAE pun ngga cukup kayanya untuk ngucapin kata terima kasih aku! ^.^

untuk readers yang RCL, thank you very much!

Sekali lagi, maaf kalau ff ini tidak memuaskan atau lebih tepatnya ‘garing’, seperti yang saya katakan di disclaimer, “maklum, saya baru di dunia perfanfiction versi k-pop!”

See you on next chapter;)

29 responses to “I Just Don’t Realized You (Chapter 2)

  1. Junhongggg wkwk gengsi’an banget sih… kata-kata nya itu dia tajem banget -_- nyelekitt nusuk dihati :’3

    Tumben bilang makasih hahahahaa
    Gregetan lama-lama :v

  2. Pingback: I Just Don’t Realized You (Chapter 8) | FFindo·

  3. Jungong saranghae…senjata makan tuan kan. Mulai asik nih ceritanya mulai ada sedikit ketertarikan pada Junhong. Dan jangan lupa cinta datang karna biasa tapi ingat ada Chanyeol dekat Park Bin!

  4. Pingback: I Just Don’t Realized You (Chapter 9) | FFindo·

  5. Pingback: I Just Don’t Realized You (Chapter 10A) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s