Cactus

Didedikasikan untuk Icha Onnie yang SuRong bangetsss hehehe dan untuk Abang Junmen yang kemarin baru bertambah usia, wilujeng tepang taun! ❤

Cast : Suho (EXO-K) & Chorong (A Pink)

Disclaimer : plotnya punya ditjao yang terinspirasi dari dialognya Pie dan Yam di film Yes or No 2 (tapi sumpah malah melenceng jauh banget), untuk cast anggap saja milik kita bersama.

Genre : Romance, Fluff

Length : Ficlet

Rating : Teen

Credit Poster : nyomot dari twitter-nya APinkPandas_INA :3

*

Kaktus kecil ini merasa tak pantas ketika seekor kupu-kupu yang cantik terbang di dekatnya.

***

Lab botani telah menjadi bagian dari rutinitas Joonmyun sehari-hari. 

Sudah beberapa hari belakangan ini pemuda itu giat bangun lebih awal, kemudian lekas memakai pakaian terbaiknya, menyisir rambutnya hingga serapi mungkin, dan yang terakhir, menyemprotkan parfum mahal—yang sebenarnya jarang sekali dipakainya dengan tujuan berhemat—ke sekujur tubuhnya sebelum pemuda itu berangkat untuk menyongsong hari-harinya di luar apartemen kecilnya di kawasan Gangnam.

Dan destinasi pertama yang menjadi acuan Joonmyun selama ini adalah sebuah bangunan kotak dengan luas 8×5 meter yang mengambil letak persis di belakang fakultasnya. Meski masih terbilang pagi, Joonmyun akan berlari-lari ke sana layaknya mahasiswa yang akan melewatkan kelas penting dengan sekujur badannya yang dipenuhi peluh, juga napas yang memburu. Beruntung, aroma parfum tidak menimbulkan bau-bauan aneh ketika harus bercampur dengan tetes demi tetes cairan tubuh Joonmyun yang tercipta dari proses ekskresi itu. Jika tidak, Joonmyun pasti akan menuntut rugi untuk parfum yang telah dibelinya dengan harga setara empat kali menu makan siangnya di kafetaria kampus itu.

Joonmyun mengatur napasnya lebih dulu ketika ia telah sampai di depan pintu lab. Menarik napas, membuang napas, menarik napas lagi, membuang napas lagi, kemudian memastikan penampilannya sejenak lewan pantulan kaca. Nah, itu dia Kim Joonmyun. Pria yang kini tengah tersenyum layaknya orang bodoh ketika mematut bayangannya sendiri di depan pintu lab sambil meyakinkan dirinya sendiri jika kini ia tak kalah terlihat menarik dari sekumpulan bunga yang bermekaran di musim semi.

Joonmyun lantas membuka balok raksasa di hadapannya dengan perlahan. Nyaris tanpa menimbulkan suara, kecuali untuk suara decitan pelan yang gagal diredam oleh sepatu kulitnya. Dan kini, Joonmyun tak dapat lagi menahan senyum sumringahnya begitu disuguhi pemandangan yang berjarak tak kurang dari tiga meter di tempatnya berdiri. Dari balik rerimbunan azalea, Joonmyun dapat melihat sosoknya tengah berdiri di dekat rak tumbuh-tumbuhan dikotil.

“Selamat pagi, Chorong,” sapaan hangat yang beberapa hari ini selalu terdengar dalam bangunan kecil itu kembali keluar dari mulut Joonmyun.

Yang ditegur hanya menoleh sekilas, memberikan tatapan dinginnya sebelum akhirnya kembali berbalik pada objek yang tengah diamatinya saat itu. Hanya deheman pelan yang terdengar sebagai respon atas tegur sapa yang diberikan Joonmyun barusan.

Senyuman itu masih terpatri di bibir Joonmyun. Tak apa, baginya respon sepele semacam itu sudah sanggup membuat angan-angannya diterbangkan ke langit ketujuh. Jika pemuda itu tengah beruntung, maka ia akan mendapatkan balasan seperti, “Ya, selamat pagi.” dengan intonasi malas, atau “Joonmyun, jangan berisik.” atau “Joonmyun, jangan memetik bunga sembarangan.” atau “Kim Joonmyun, jangan bermain-main dengan serangga.” yang akan diserukan dengan suara sopran yang dinaikkan beberapa oktaf.

“Bagaimana perkembangan tanaman kita?” Joonmyun kembali memulai percakapan monoton mereka di pagi hari. Dan respon pertama yang selalu diberikan Chorong adalah; bergeser sedikit dari tempatnya berpijak begitu melihat Joonmyun mendekatinya. Tak peduli seberapa keren penampilan Joonmyun, seberapa wangi harum tubuh Joonmyun sekarang, dan seberapa ramahnya sikap pemuda itu terhadapnya, Chorong selalu memperlakukan Joonmyun layaknya virus yang sudah sepatutnya dihindari.

“Tunasnya sudah muncul.” tanggap gadis itu datar.

Joonmyun menatap objek yang dimaksud lamat-lamat. Benar saja, bibit yang mereka tanam sekitar dua minggu yang lalu itu kini kian menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Dan naasnya, ini adalah mimpi buruk untuk seorang Kim Joonmyun, sebab intesitas waktunya bersama gadis bermarga Park itu akan semakin berkurang seiring dengan laju pertumbuhan tanaman tersebut.

Padahal rasanya baru kemarin Dosen Lee memerintahkan mereka untuk berpasang-pasangan guna mengerjakan penelitian yang beliau tugaskan. Dan Joonmyun masih ingat persis, bagaimana degup jantungnya seakan bertalu-talu usai Chorong menyanggupi permintannya saat mengajak gadis itu berpasangan untuk mengerjakan tugas penelitian. Euphoria yang selalu dirasakannya hingga detik ini.

“Sepertinya kita harus mulai segera menulis laporan, secepatnya, agar dapat diberikan kepada Dosen Lee.” ujar Chorong lagi, sambil menambahkan sedikit penekanan pada pertengahan kalimatnya.

Terbalik dengan Joonmyun, bagi mahasiswi anti-sosial seperti Chorong, mengurangi interaksi dengan sesama makhluk sosial merupakan sebuah keuntungan baginya. Ia bersyukur, setidaknya sebentar lagi dia tidak harus repot-repot menanggapi seluruh ocehan Joonmyun yang selalu mengusik gendang telinganya. Meski tanpa gadis itu sadari, sebenarnya selama ini ia kerap mencuri-curi pandang ke arah arloji mungilnya jika pintu lab botani tak kunjung terbuka setelah sepuluh menit sebelumnya Chorong telah lebih dulu berada di dalam sana.

“Oh, ya.” Joonmyun menganggukkan kepalanya, terlihat kikuk. Sedangkan Chorong telah berpindah tempat mengunjungi rak tanaman yang lain.

Tanpa sepengetahuan Chorong, pria itu kini tengah tertunduk lesu. Mungkin hanya tersisa beberapa hari hingga waktu penelitian mereka berakhir, dan Joonmyun sedang menyesali hari-hari yang telah berlalu karena sampai detik ini ia bagai tak mampu mencairkan es yang bersarang di hati seorang Park Chorong. Padahal sebelumnya, Joonmyun tak pernah terlihat se-menyedihkan ini ketika harus mendekati wanita. Coba lihat sosoknya; Kim Joonmyun, tampan, pintar, populer, mudah bergaul, segala daya tarik yang diminati para gadis telah ada padanya. Secara garis besar, Joonmyun memang terlalu sempurna—dan Chorong, sayangnya, terlalu keras kepala untuk mengakui semua kelebihan yang ada pada diri pemuda itu.

Meski telah sekian lama semenjak pandangannya hanya terkunci pada sosok Kim Joonmyun, Chorong masih belum mampu mengontrol sikapnya di hadapan pemuda itu. Bahkan, tak banyak yang bisa ia lakukan saat Joonmyun menawarinya untuk berpasangan selain memberikan jawaban bernuansa enggan dan dingin, “Ya.”

Dalam sudut pandang Chorong, Joonmyun bak sosok pangeran yang hanya pantas disandingkan dengan putri-putri cantik di luar sana, dan bukan dengan itik buruk rupa penyendiri seperti dirinya. Dalam berbagai cerita dongeng yang pernah dibacanya, setahu Chorong, sampai detik ini belum ada satupun yang pernah menyebutkan kisah tentang seorang pangeran yang menjalin kasih dengan seekor titik—ayolah, mereka bahkan berasal dari spesies yang berbeda!

Kini Chorong diam-diam melirik Joonmyun dari bingkai kacamatanya. Sosok pangeran di matanya itu terlihat tengah asyik mengamati tanaman—tunggu, Chorong harus memicingkan matanya lebih dulu untuk mengamati apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh pemuda itu lebih jelas. Rupanya bukan tanaman yang menjadi objek perhatian Kim Joonmyun saat itu.

“Kim Joonmyun!” Chorong spontan berseru gemas.

“Ya?” Joonmyun menoleh, menanggapi panggilan gadis itu.

“Demi Tuhan, apa, sih, yang kau lakukan dengan ulat itu?!” tanya Chorong—sedikit menampilkan ekspresi jijik begitu melihat makhluk yang kini dilihatnya tengah merayap di telapak tangan Joonmyun.

“Oh, tidak ada. Aku hanya sedang memperhatikannya lebih dekat. Lucu sekali, ya?” jelas Joonmyun riang. Ia berniat menghampiri Chorong sambil membawa serta ulat tersebut, namun urung begitu melihat gadis itu refleks mundur beberapa langkah saat Joonmyun baru saja terlihat mendekat.

“Tidak. Mereka menjijikkan.” ujar Chorong tak suka.

“Itu tergantung bagaimana pandangan orang-orang menilainya. Menurutku, mereka adalah makhluk yang cukup imut.” bela Joonmyun.

“Tapi, mereka adalah hama yang sepatutnya dimusnahkan bila ketahuan berada di lab botani seperti ini. Sekarang, buang makhluk itu jauh-jauh, Joonmyun.”

“Baiklah.” kali ini Joonmyun menyerah lantas menaruh hewan kecil itu di atas dedaunan tanaman yang letaknya agak jauh dari Chorong. Tentunya, ia tak akan sampai hati untuk menginjak tubuh ulat itu hingga hancur tak berbentuk dengan sepatu miliknya—meski mungkin pilihan yang satu ini akan amat disukai Chorong.

“Tapi, Chorong, ulat tak selamanya akan menjadi hama. Suatu saat nanti mereka akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Dan kupu-kupu membantu proses penyerbukan, ingat?”

“Dengan menghancurkan tanaman-tanaman itu lebih dulu sebelum akhirnya ia membantunya kembali? Sungguh sebuah ironi.”

Joonmyun kembali menyerah, untuk yang kedua kali. Daripada berargumen soal ulat, akhirnya pemuda itu memilih menyibukkan dirinya di antara tanaman hias, titik terfavorit Joonmyun selama berada di lab ini. Matanya kemudian menangkap serumpun krisan yang menyembul di balik dedaunannya. Pandangan Joonmyun seketika berbinar, ia tak mampu menahan hasratnya untuk memetik sekuntum dari bunga-bunga cantik tersebut. Rutinitas yang memang kerap dilakukannya tiap kali bertandang ke tempat ini. Memetik setangkai bunga—jenis apapun yang menarik perhatiannya—lantas memberikannya pada Chorong, dan selanjutnya, ia akan menerima balasan berupa omelan dari gadis itu agar tak memetik tanaman secara sembarangan. Joonmyun tak akan pernah jera sekeras apapun Chorong menegurnya, karena hanya dengan ini Joonmyun dapat mendengar gadis itu bersuara lebih banyak.

Joonmyun baru saja hendak kembali menghampiri Chorong dengan sekuntum krisan berwarna oranye di tangannya, namun pemuda itu berhenti sesaat tatkala melihat sosok gadis berkacamata itu tengah asyik mengamati sebuah tanaman di sudut ruangan. Ada senyuman yang tersungging di bibirnya ketika gadis itu terlihat mengarahkan kamera ponselnya ke arah tanaman tersebut. Dan Joonmyun bersumpah, ia merasa seperti berada dalam dimensi lain begitu menyaksikan lengkungan asimetris yang berhasil memesonanya itu.

“Kaktus?” Joonmyun menyeletuk ketika tiba di samping Chorong. Gadis itu spontan menoleh dan hampir saja berjengit begitu melihat apa yang dibawa Joonmyun saat ini.

“Astaga! Sudah berapa kali kubilang agar jangan memetik bunga sembarangan?! Kau mau kita berdua dimarahi, huh?”

“Hanya sekuntum. Tak akan ada yang menyadarinya.” Joonmyun menyodorkan sekuntum bunga itu di hadapan Chorong. “Untukmu.”

“Kalau seperti ini, seolah-olah kau sedang memberikan barang bukti kejahatan kepadaku dan nantinya akulah yang akan dikenai tuduhan,” Chorong mendengus, tapi tetap menerima krisan pemberian Joonmyun. Chorong akan selalu marah jika mendapati Joonmyun memetik bunga, tapi akan selalu menerima bunga jenis apapun yang Joonmyun berikan kepadanya dan menyelipkannya di antara kertas-kertas laporan mereka dengan bantuan klip.

“Chorong, kau suka kaktus?” Joonmyun bertanya.

“Ya.”

“Mengapa?”

“Karena mereka berbeda.” Chorong kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang ia sandang. Sementara Joonmyun masih terbuai oleh kurva yang kini kembali menampakkan diri di wajah gadis itu.

“Berbeda?”

“Ya. Tidak seperti kebanyakan tumbuhan yang mengandalkan daun untuk berfotosintesis, mereka mengubah daun-daun yang mereka punya menjadi duri untuk bertahan hidup. Kau tahu? Rasanya sama seperti ketika kau memilih jalanmu sendiri dengan resiko akan dibenci oleh orang lain.”

“Seperti dirimu?”

“Mungkin.” Chorong membetulkan letak kacamatanya yang sedikit menurun. “Banyak orang yang tidak menyukai kaktus karena mereka takut durinya akan melukai mereka.”

“Tapi, kupikir kaktus tidak buruk juga. Orang-orang yang berada di daerah gurun sering memburu mereka karena batangnya yang menyimpan cadangan air. Sayangnya, banyak yang belum menyadari jika di balik duri-duri ini sesungguhnya tersimpan juga kebaikan.” jelas Joonmyun sembari memainkan jemarinya di antara duri-duri milik kaktus kecil tersebut. “Sama seperti kau.”

“Apa?” balas Chorong ragu.

“Banyak yang belum tahu jika gadis dingin seperti Park Chorong sesungguhnya adalah orang yang sangat berhati lembut jika saja kita mau mengenalnya lebih dekat. Di balik sikapnya yang ketus, ia rela mengorbankan waktunya hanya untuk menyiram tanaman-tanaman yang ada di lab botani setiap pagi, sebelum kuliah berlangsung, atau ketika jam kuliah usai.” Joonmyun kembali berujar tanpa menatap lawan bicaranya karena tetap terfokus pada tanaman kaktus di hadapannya. Dan ini adalah kondisi yang menguntungkan bagi Chorong, karena dengan begitu Joonmyun tak harus melihat wajahnya yang tanpa sadar telah menjadi bulan-bulanan dari rona kemerahan yang tiba-tiba saja hadir tanpa diundang.

“Banyak yang bilang, orang yang merawat tanaman dengan sebaik mungkin adalah orang dengan hati yang baik pula.” kata Joonmyun lagi, kali ini sambil menoleh menatap gadis di sampingnya.

Chorong berusaha mengalihkan tatapannya pada objek lain guna menghindari rasa gugup yang menderanya tatkala bola matanya bersinggungan dengan sinar mata penuh keteduhan itu, “Hmm.., ya, mungkin saja.”

Joonmyun hanya memasang senyum simpul begitu melihat reaksi gadis itu, kemudian kembali menatap kaktus kecil di hadapannya.

“Eh, lihat!” ujar Joonmyun tiba-tiba. Telunjuknya mengarah pada seekor kupu-kupu yang baru saja muncul dan terlihat terbang di sekitar tanaman kaktus itu. Sementara Chorong langsung tergerak untuk ikut mengamati objek yang sama.

“Kupu-kupu ini terus saja terbang rendah di sekitar kaktus. Kurasa sayapnya terluka oleh duri dari kaktus itu,” kata Joonmyun bersimpati.

Chorong tak merespon dan hanya memandang kupu-kupu itu dalam diam. Benar, kupu-kupu yang dimaksud Joonmyun itu terus-menerus terbang di sekitar kaktus. Seolah tak peduli jika duri dari tanaman itu bisa saja mengoyak sayap indah miliknya sewaktu-waktu.

“Joonmyun,” panggil Chorong pelan.

“Hmm?”

“Kau pikir mengapa kupu-kupu itu nekat terus terbang di sekitar kaktus meski sayapnya telah terluka oleh duri-duri yang dimiliki kaktus itu?” tanya Chorong ragu.

Joonmyun tersenyum penuh arti sebelum menanggapi pertanyaan gadis itu.

“Mungkin, kupu-kupu itu telah jatuh hati pada kaktus kecil yang berduri ini.”

Semburat kemerahan kembali menyerang wajah Chorong, dan satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang untuk menutupinya—di samping menetralisir degup jantungnya yang tiba-tiba saja bergerak dalam tempo anarkis—adalah dengan pura-pura menyibukkan diri bersama kertas-kertas laporan yang berada dalam genggamannya.

“Oh, ya. Omong-omong, penelitian ini akan segera berakhir. Kapan kita akan menyusun laporan akhirnya?” Chorong berusaha mengalihkan topik.

“Ah, kau benar. Kebetulan aku sudah menemukan tempat yang cocok bagi kita untuk mengerjakan laporan nanti,” balas Joonmyun.

“Di mana?” tanya Chorong ingin tahu.

“Hmm.., Namsan Tower?” jawab Joonmyun dengan senyum jenakanya yang mengembang.

Chorong refleks menyentak lengan pemuda itu dengan kertas-kertas laporan di tangannya. “Apa-apaan kau ini? Ingin mengerjakan laporan atau mengajakku berkencan, huh?” gadis itu mencoba berkelakar.

“Dua-duanya.”

***

Dan akhirnya, kaktus kecil ini memberanikan diri membiarkan sang kupu-kupu untuk mengepakkan sayapnya di antara duri-duri tajam miliknya.

*

tumblr_mr90ffUgHy1sxuzhwo1_1280q

Hai gais.

Maafkan, akhirnya setelah sekian lama bisa nampang lagi bawa ff gaje /ngesot. Sesuai tulisan di atas, ff ini memang aku buat atas dasar request-nya Icha Onnie untuk peringatan #HappySuhoDay kemarin hihi. Maaf ya eon, kalau kurang memuaskan dan gak ada skinship yang gimana soalnya ide yang muncul ya cuma ala kadarnya begini :’D /terjun. Semoga onnie gak kecewa :’D Dan semoga readers lain yang kebetulan lagi sial karena harus baca tulisan saya ini pun gak kecewa, na’udzubillah kalau sampai ada yang sakit mata :’D

Dan masih belum bosen minta maaf karena ditjao masih belum bisa nyelesain hutang ff yang lain karena kepentok sama kuliah dan kegiatan di kampus. Ini pun bentar lagi mau uas jadi udah bener-bener jarang  bisa berhubungan sama yang namanya fanfiksi. Doakan saya gais heuheu. Ya udah deh segini aja, saya pamit undur diri. Pokoknya hbd untuk akang suho tercintah! Traktiran bisa keleus ❤

Terakhir, saya akan sangat senang apabila kalian berkenan untuk memberikan komentar, terkecuali bashing tentunya ❤

Advertisements

77 responses to “Cactus

    • hahahahaha iya maaf ya dear, kebanyakan ff titipan ;;;
      anyway, terima kasih sudah mau menyempatkan diri untuk membaca ya ;;; ❤

  1. ada yang kecoak ada kupu kupu juga
    ini sekarang kaktus
    suka deh sama idenya
    yang ngambil tema sederhana tapi jadi wow banget
    besok besok bunga tulip ya kak
    soalnya aku suka bunga tulip
    keep writing yaaa

  2. feelnya kenaaaaa bgt Thor^^ meskipun endingnya termasuk nggantung bgt, tp aku sukaaaaa. ditunggu FF dg cast SuRong lagi yaa Thor:))
    안녕하세ㅛ^^~

  3. Lagi-lagi aku terpesona sama tulisannya kak Ditjao. Dan kakak berhasil buat aku nge-ship SuRong. Xixi, thanks for that.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s