Butterfly [4]

Butterfly

Author : Jo

Leght : Chaptered

Rating: PG – 15

Genre : Romance, School life

Main Cast :

Luhan – Shin Yoora – Kim Jongin and others.

Poster : Harururu98 http://cafeposterart.wordpress.com

A/N :

Bagi yang berminat silahkan membaca, jika selesai membaca harap memberikan komentar berupa kritik/saran, karena itu sangat membantu. Jangan menjadi seorang plagiat. Terima Kasih.

Previous : 3

***

 

Luhan mulai memasukkan semua buku catatan, lalu buku paketnya kedalam tas ranselnya segera. Sejak tadi selama pelajaran berlangsung, ia tidak dapat berpikir dengan jernih, bahkan beberapa kali Lee songsaenim menegurnya. Jelas sekali itu tidak seperti kebiasaannya, sebenarnya pikiran Luhan melayang ketika mengingat ucapan Jongin tadi saat istirahat. Luhan juga mengingat dengan jelas ekspresi Jongin saat laki-laki itu mengatakan ‘jika kau menyukai gadis itu, berarti mau tidak mau kau harus bersaing denganku, Lu Han.’. Dari tatapan Jongin tergambar sangat jelas, laki-laki itu menyukai Shin Yoora. Luhan juga mengartikan, Jongin tidak akan bermain-main dengan ucapannya. Tampaknya memang Jongin memang harus bersaing dengannya.

‘Kau bilang bersaing ? Memangnya kau menyukai gadis itu ?’ tanya Luhan dalam hati. Luhan segera meruntuki dirinya yang sangat bodoh sekali dalam masalah percintaan. Dia memang belum bisa mendeskripsikan perasaannya terhadap gadis itu. Ia hanya sekedar ingin tahu mengenai gadis itu, tidak lebih.

Sayangnya, Luhan merasa dirinya mulai masuk terlalu dalam, sampai ia sendiri merasa susah mengalihkan perhatiannya dari gadis itu. Oh, bagus !

“Luhan hyung ?” panggil seseorang, sebuah suara serak itu seakan baru saja menyadarkan Luhan dari lamunannya. Luhan mengalihkan perhatiannya, ia segera menengok kearah sumber suara. Disana, Baekhyun tengah tersenyum padanya. Luhan hanya membalas dengan tersenyum simpul, laki-laki itu segera mencangklong tas ranselnya dan menghampiri Baekhyun.

“Ada apa, Byun Baek ?” tanya Luhan dengan tatapan yang mengartikan ‘untuk apa kau kemari ?’. Baekhyun segera menyodorkan sebuah buku tulis dengan sampul bewarna putih yang sedari tadi berada di tangannya dan Luhan baru menyadari hal itu. “Ini catatan kimia milik Yoora. Ia lupa membawanya pulang. Kurasa kau mau memberikan ini padanya, hyung. Aku tidak mengetahui rumah gadis itu.” Ujar Baekhyun dengan menggaruk-garuk tengkuknya yang mungkin tidak terasa gatal sama sekali.

Luhan menatap Baekhyun, kemudian pria itu mengalungkan tangannya tepat di leher Baekhyun, “Apa maksudmu ? Kau bisa memberikannya besok, bukan ?”

Baekhyun terkekeh pelan, “Antar saja sekarang hyung, aku tahu kau sebenarnya ingin mendekatinya, bukan ? Aku pasti membantu, seperti sekarang contohnya.” Luhan menggelengkan kepala mendengar alasan Baekhyun, “Dasar. Baiklah aku akan mengantarnya. Terima kasih.”

Luhan segera berjalan meninggalkan Baekhyun yang masih berada beberapa meter dibelakangnya, Baekhyun yang masih berada dibelakang Luhan menggelengkan kepala lemas, “Aku belum bisa menebak, apakah Luhan hyung menyukai Yoora atau tidak. Dia terlalu misterius.”

“Tapi, jika Kim Jongin menyukai Yoora itu sangat tergambar jelas, sekali.” Tuturnya pelan. Baekhyun mengangkat kedua bahunya, ia tidak tahu selanjutnya antara dua orang ini. Mungkin semakin panas. Mungkin juga tidak.

***

Shin Yoora membalikkan badannya saat ia merasa seseorang tengah mengawasi dan mengikutinya. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal itu, namun hasilnya nihil ia tidak melihat seseorang yang mencurigakan sama sekali. Ini semakin membuatnya takut, dan mau tidak mau ia harus mempercepat langkahnya. Yoora berjalan kembali, kini ia mempercepat langkahnya.

Tiba-tiba ia mendengar derap langkah kaki seseorang yang mengikutinya dari belakang semakin dekat, Yoora semakin mempercepat langkah, bahkan ini tidak bisa lagi disebut berjalan atau berjalan cepat melainkan lari. Gadis itu berusaha lari sekuat tenaganya, ia hanya ingin segera sampai rumah dan ia tidak ingin sesuatu terjadi padanya.

Derap langkah kaki itu semakin dekat, Yoora tidak akan menengok kebelakang karena itu akan memotong waktunya dan membuatnya semakin takut jika ia melihat siapa orang yang mengejarnya.

“Hei Nona.” Bersamaan seseorang itu memanggilnya, siku Yoora tengah dipegang, membuat gadis itu bergidik ngeri. Apa yang harus ia lakukan ? Apa ia harus berteriak ? Atau dia berpura-pura pingsan saja ? Tapi, jika ia pingsan tampaknya pria itu akan membawanya lalu menyekapnya lalu—oh berhenti berkhayal. Yang perlu ia lakukan adalah berteriak, ya berteriaklah, Shin Yoora !batin gadis itu dalam hati. Yoora menarik nafas dalam-dalam mempersiapkan dirinya untuk berteriak sekuat tenaga.

“TUKANG CABUL ! TOLONG !” teriak Yoora keras, ia tidak peduli dengan apa yang ia katakan ia hanya takut orang itu melakukan sesuatu padanya ia juga tidak peduli jika orang-orang disampingnya jika memandangnya aneh.

“Hei Shin Yoora !” panggil laki-laki itu, suara itu kini terdengar jelas, dan ia tahu siapa pemilik suara ini. Yoora membalikkan badan dan menatap untuk memastikan dugaannya. “Luhan sunbaenim ?”

Luhan hanya mengangguk, “Ya ini aku. Aku bukan tukang cabul.” Yoora menarik nafas dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan. “Apa yang kau lakukan ? Kau membuatku takut !”. Jujur, mungkin saja ia terlalu parno pada berita yang sedang marak di tv, tapi apa salahnya ia berteriak ? Siapa tahu yang datang bukan Luhan, melainkan orang yang tidak dikenalnya ? Bagaimana nasibnya ?

Luhan menaikkan alisnya sebelah, yang berarti bahwa ia tidak mengerti dengan maksud ucapan gadis ini. “Aku tidak mengerti maksudmu, Nona.”

“Kupikir kau tukang cabul, yang sedang marak di daerah sini. Aku sangat takut sekali.”

Luhan terkekeh pelan, “Haha, sebenarnya aku berniat mengantarkan buku catatan kimiamu yang sempat tertinggal di kelas.”

Yoora menatap Luhan dengan bingung, kemudian Luhan segera menambahkan, “Lalu Baekhyun menemukannya,dia memintaku mengantarkannya padamu karena dia tidak tahu rumahmu.”

“Kenapa tidak besok saja ? Itu sangat merepotkanmu, sunbaenim.” Ujar Yoora pelan, Luhan tersenyum tipis, “Tidak ada yang merepotkan jika itu berurusan denganmu.” Yoora kembali menatap Luhan dengan bingung.

Sunbaenim, apa kau sakit ?” tanya Yoora. Luhan hanya diam tidak menjawab pertanyaan gadis itu. “Lihat kantong matamu melebar dan menghitam, lalu suaramu serak. Kau kurang tidur dan flu ? Kenapa memakai masker ?” tunjuk Yoora pada mulut Luhan yang terdapat sebuah masker bewarna abu-abu. Luhan terkekeh pelan, “Kau peduli padaku ya ? Kenapa kau sangat memperhatikan ? Jadi, kau suka padaku ?”

Yoora mendengus sebal, “Dasar gila, kau terlalu percaya diri. Kemarikan catatan kimiaku.” Luhan menggeleng pelan, laki-laki itu menatap wajah Yoora yang sangat lucu saat mendengus sebal padanya.

Luhan baru sadar, bahwa gadis itu mempunyai mata yang begitu teduh, tapi juga sinis. Luhan semakin menikmati pemandangan wajah gadis yang berada dihadapannya sekarang ini. Tanpa Luhan sadari, laki-laki itu mulai mendekatkan dirinya pada Yoora membuat Yoora refleks berjalan mundur kebelakang beberapa langkah, Luhan sedikit demi sedikit semakin memperkecil jarak diantara mereka.

Yoora berusaha mundur beberapa langkah, sampai kakinya tertahan oleh sebuah tembok. Luhan yang tahu Yoora tidak dapat berjalan mundur semakin memperkecil jarak diantara mereka. Yoora memejamkan matanya tidak ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. ‘Astaga, laki-laki ini gila! Jangan-jangan ia akan menciumku ?’ teriak Yoora dalam hati.

Yoora mulai merasakan deru nafas Luhan disekitar wajahnya, entah apa yang laki-laki itu lakukan hanya saja ada yang aneh pada dirinya, sekarang jatungnya mulai berdebar-debar lebih kencang daripada biasanya. Bahkan ia tidak tahu seberapa cepat debaran itu sekarang. Setahu dirinya ia tidak pernah mengalami hal aneh seperti ini sampai ia berumur 16 tahun (sekarang).

“Ada jerawat dekat alismu. Imut sekali.” Ujar Luhan pelan dengan menunjuk sesuatu pada dahi gadis itu. Yoora segera membuka salah satu kelopak matanya memastikan bahwa apa yang Luhan katakan itu benar. “Astaga, jerawat !” keluh Yoora. Luhan terkekeh pelan, “Dasar wanita, baru jerawat sudah bingung.”

“Bukan masalahmu. Pulanglah.” Usir Yoora, Luhan mengangkat kedua bahunya pelan, kemudian pria itu memberikan catatan kimia yang sejak tadi berada di genggamannya. “Jangan sampai lupa lagi. Aku pulang, hati-hatilah saat di jalan.”

Yoora hanya mengangguk dan menatap Luhan berjalan menjauhinya, tiba-tiba Luhan membalikkan badan menatap Yoora pelan. “Oh ya, wajahmu tadi sangat konyol. Kau pasti berpikir aku akan menciummu, bukan ?” teriak Luhan.

Seketika, wajah Yoora mulai memerah padam seperti tomat yang sudah masak, “Luhan sunbaenim!” Yoora menghentakkan kakiknya ke aspal, bentuk tanda gadis itu tengah kesal pada seseorang.

***

Luhan menatap gadis itu dari kejauhan setidaknya ia dapat bernafas lega ketika gadis itu memasuki rumahnya dengan selamat. Luhan tidak tahu apa yang baru saja dilakukannya, ia mengikuti gadis itu hingga rumahnya dengan berjalan kaki, lalu mendekatkan dirinya pada Yoora, mempersempit jarak diantara mereka berdua. Luhan rasa dirinya sudah gila sekarang.

Tapi, ia sekarang merasa benar-benar lelah setelah mengikuti gadis itu, Jongin pernah mengatakan padanya bahwa gadis itu tidak suka berjalan kaki, lantas kenapa ia begitu kuat berjalan dari sekolah hingga rumahnya yang memakan jarak yang cukup jauh? Oh, biarlah kalian tidak harus terlalu memikirkan hal ini.

Luhan segera membuka lock screen ponselnya cepat, sekarang tanggal 15 Mei dua hari lagi ia harus pergi ke makam seseorang. Seseorang yang sangat ia sayangi, saat ia dibangku SMP hingga sekarang. Gadis yang bernama Shin Yoora itu benar-benar banyak memiliki kesamaan dengan ‘dia’. Bola matanya yang bewarna hitam pekat jika kalian memandangnya terasa sangat teduh, saat mereka marah tatapan mereka benar-benar sinis dan tajam. Atau pun saat gadis itu tersenyum secerah matahari, atau saat gadis itu mendengus sebal padanya, mereka memang benar-benar memilik kesamaan. Tapi, gadis itu bisa bermain gitar, Shin Yoora tidak. Ia yakin mereka tidak sepenuhnya sama.

‘Mereka tidak sama, Luhan.’ batin Luhan dalam hati.

“Luhan oppa ?” panggil seseorang. Luhan segera membuyarkan lamunannya, mencari sumber suara yang tengah memanggilnya. “Oh, kau.” Ujar Luhan samar-samar karena ia tidak mengetahui nama gadis yang tengah berada dihadapannya ini. Ia hanya tahu gadis yang berada dihadapannya ini adalah hoobaenya.

“Sedang apa disini ? Apa kau mengantar Yoora ?” tanya gadis itu dengan menunjuk rumah besar Yoora. Luhan tampak terdiam sesaat mencoba mencerna pertanyaan gadis itu, kemudian Luhan menggeleng cepat saat ia tahu arti maksud pertanyaan itu. “Tidak, aku tidak mengantarnya. Aku hanya emm—melihat daerah sini. Kata Yoora disini mempunyai udara yang cukup bagus.”

Gadis itu menatap Luhan dengan ekspresi bingung, “Udara yang cukup bagus ? Luhan oppa, kau tidak perlu berbohong seperti itu. Kau tidak tahu ? Di daerah sini adalah daerah dengan udara tercemar nomor 3 se-Korea Selatan.”

“Oh ya ? Benarkah ? Aku baru tahu hal itu—“

“Oh, aku mengerti. Kau sedang melakukan pendekatan dengan Yoora, bukan ? Aku sedikit tidak setuju dengan hubungan kalian, dia tampak angkuh. Tidak pantas untukmu, oppa. Lebih baik kau mencari yang lain saja.” Potong gadis itu cepat. Luhan segera menahan nafasnya yang hendak ia keluarkan, ‘Dan berharap aku akan bersamamu ? Oh lucu sekali.’ujar Luhandalam hati.

“Kurasa aku harus pergi sekarang.” Luhan membungkuk dalam pada hoobaenya dan segera menyetop taksi. Ia tahu gadis itu akan mengajaknya berbicara panjang lebar, dan ia yakin kebanyakan wanita akan membicarakan keburukan orang lain. Oh tidak.

Sebelum hoobaenya itu berbicara Luhan segera menutup pintu taksi dan melambaikan tangannya pada gadis itu sebagai tanda ia harus pergi, atau sampai berjumpa kembali.

“Kita kemana, Pak?” tanya supir taksi itu. Luhan segera memberi alamat rumahnya cepat, tiba-tiba ponselnya berdering membuat Luhan mengalihkan perhatiannya dari jalanan kota Seoul yang ramai ke arah ponselnya.

Yoboseyo ?”

“…..”

“Berapa lama ibu berada di China ?”

“……”

“Oh, lalu siapa yang akan memberiku makan ? Bagaiamana ibu setega itu padaku ? Aku butuh ibu, tidak hanya ayah. Apa aku juga harus pindah lagi ke China ?”

“…..”

“Baiklah-baiklah. Aku akan mengalah, jadi kenapa ibu tidak segera duduk di pesawat dan mematikan sambungan telepon ini ?”

“….”

“Apa ? Ibu meminta nomor ponsel Yoora ? Untuk apa ? Ibu tidak ingin mengintrogasinya, bukan ? Ibu tidak berniat memarahinya, atau menghukumnya ‘kan ? Atau ibu berniat buruk pada Yoora ?”

“….”

“Baiklah, aku minta maaf. Aku tidak akan berpikir yang buruk tentang ibu. Aku akan mengirim nomor ponselnya lewat teks, oke ? Aku ingin tidur. Hati-hati bu.”

Sambungan terputus, kepalanya tiba-tiba terasa pusing saat ibunya berkata beliau menginginkan nomor ponsel Yoora. Ia takut ibunya akan berbuat macam-macam pada gadis itu, tapi ia yakin ibunya tidak akan seperti itu. Luhan memijat pelipisnya pelan dengan gerakan memutar membuat agar dirinya sedikit rileks.

Tanpa Luhan sadari, gadis yang baru saja mengajaknya bicara tadi mengambil ponselnya, gadis yang bernama Kim Sunmi itu segera membuka flap ponselnya dan menekan angka satu. Lalu segera terhubung dengan seseorang.

Yoboseyo ? Jongin-ah ? Luhan sunbaenim baru saja dari rumah Yoora. Hari ini tugasku selesai, aku ingin kau membayar nanti-nanti saja. Kau ingat aku tidak ingin meminta uang, ‘kan?”

***

Yoora memainkan ponselnya sedari tadi, ia tidak berniat menggunakannya untuk mengirim pesan, ia juga tidak berniat menelpon seseorang, sejak tadi ia hanya melamun. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia menjadi bocah yang tampak sangat malas melakukan apapun. Sebenarnya ia masih mempunyai pekerjaan rumah yang menumpuk seperti Gunung Fuji di Jepang, dan pelajaran itu adalah Kimia. Ia baru saja mengerjakan sebagiannya, sebagiannya lagi ia tidak tahu bagaimana cara untuk mengerjakannya. Pilihan terakhirnya adalah Luhan.

Kenapa Luhan ? Karena sangat tidak mungkin jika ia meminta Jongin mengajarinya, pria itu bahkan mendapat nilai ulangan 1 : 3 dengan dirinya. Sebenarnya ia mempunyai teman yang pintar, Eunji. Hanya saja menurutnya gadis itu terlalu pelit untuk berbagi rumus bersama teman-temannya. Jika, ia meminta ayah dan ibunya mengajarinya itu juga hal yang sangat tidak mungkin. Ibunya mungkin menjawab reaksi gula dicampur dengan air akan menghasilkan air yang manis. Ibunya tidak mengerti hal seperti itu, ibunya hanya ibu rumah tangga. Jika ia bertanya pada ayahnya, beliau mungkin aku menghitung tabungan awal dan bunga yang diberikan bank pada konsumen.

Oh, dia benar-benar gila. Ia mau tidak mau harus mengetik sebuah teks dan meminta pria yang bernama Luhan itu datang kerumahnya untuk mengajarinya atau mereka harus bertemu. Tapi, ia benar-benar merasa gengsi untuk mengirim pesan pada pria itu. Jujur, ia tidak pernah merasa kendala seperti ini sebelumnya, tapi ah ia tidak bisa menjelaskan hal ini.

“Baiklah aku akan menelponnya, aku tidak ingin Lee songsaenim menghukumku.” Ujar Yoora, gadis itu mulai membuka kontak ponselnya kemudian dengan cepat menulis hangul yang bertuliskan nama Luhan. Gadis itu mulai menggeser kearah kanan, lalu seketika ia terhubung dengan Luhan.

Yoboseyo ?”

“….”

“Luhan-ssi ?”

“….”

“Halo ?”

“….”

Sunbaenim ?”

“Astaga, aku butuh obat itu. Hei kucing nakal, itu bukan mainan ! Kembalikan, kemari !” teriak Luhan dari seberang.

“Luhan-ssi ?”

“Hei ! Kembalikan kau kucing tetangga, mengganggu. Pergi kau !”

“Luhan sunb—“

“Oh, Hai. Ada apa Yoora-ssi ?” jawab Luhan, setelah sekian lama gadis itu menunggu sang pemilik ponsel menjawab telponnya.

Yoora memilin anak rambutnya pelan, gadis itu mengigit bibirnya pelan. Ia bingung bagaimana menyampaikan maksudnya. Tapi, mau tidak mau ia harus melakukannya.

Sunbaenim, aku tidak mengerti Kimia ba—“

“Baiklah. Kau kemari saja, oke ? Kutunggu.”

“Tapi—“

Sambungan terputus.

Apa laki-laki yang bernama Luhan itu sangat hobi memotong ucapan seseorang ? Apa laki-laki itu gila, ia bahkan belum menjelaskan lebih detail. Tapi, ini pilihan terakhir, ia harus kerumah pria aneh dan gila itu. Yoora segera mengambil, tas dan buku-buku kimianya. Gadis itu segera menuruni anak tangga rumahnya dan pamit pada ibunya bahwa ia akan belajar kelompok disalah satu rumah temannya.

Bahkan, sebelum ia pergi ibunya membawakan satu toples penuh berisi kue kering rasa blueberry kesukaannya. Mungkin untuk membuatnya semangat belajar, namun lamunannya rusak sudah ketika ibunya berkata, “Ini untuk temanmu, ya. Dia baik sekali mau mengajarimu, Kimia.”

Yoora hanya mengangguk pelan, dan tersenyum tipis tanpa berkomentar gadis itu segera keluar dari rumah dan menggunakan bus untuk kerumah Luhan.

***

Mungkin jika Kim Sunmi tidak memberitahu dan memberinya laporan mungkin ia sekarang berada di kamarnya dengan sebuah psp di tangannya. Tapi sayangnya tidak.

Jongin mengaduk-aduk pelan cappucino panasnya yang berada dihadapannya, sesekali laki-laki itu bergantian menatap, dari cappucinonya ke rumah besar Shin Yoora, atau dari rumah besar Shin Yoora ke arah cappucinonya yang terlihat masih panas. Sebenarnya Jongin berencana mengajak gadis itu keluar bersama dirinya, ah lebih tepatnya—kencan. Jongin benar-benar tidak akan merelakan gadis itu sering bercanda atau pun keluar bersama Luhan, ia hanya ingin Yoora bersamanya saja. Egois ? Iya, memang cinta itu egois menurut Jongin. Cinta tidak untuk dibagi, bukan ?

Jongin mengalihkan pandangannya kembali, tiba-tiba manik matanya yang hitam menatap Yoora tengah menaiki sebuah bus. Jongin segera bangkit dari kursinya, ia bahkan sama sekali tidak sempat meminum cappucino yang baru saja dipesannya. Tapi, ia setidaknya sudah membayarnya diawal, jika tidak mungkin waktunya terpotong untuk mengantri membayar.

“Kemana dia akan pergi ?” pikir Jongin. Jongin berjalan keluar dari kedai kopi yang baru saja pertama kali ia kunjungi dengan langkah cepat, yang ia pikirkan saat ini adalah mengikuti bus yang tengah perlahan menjauh dari pandangannya.

***

Yoora menekan kembali bel interkom rumah Luhan. Entah berapa kali gadis itu menekan tombol bulat bewarna merah menyala itu. Apa laki-laki itu dirumah ? Atau dia sedang keluar ? Atau dia—

Pemikiran Yoora berhenti ketika bunyi kenop pintu utama rumah Luhan tengah dibuka lebar, menimbulkan bunyi decitan kecil membuat Yoora setidaknya bernafas lega. ‘Laki-laki itu baru membukanya.’

“Maaf, aku baru saja bangun tidur.” Ujar Luhan saat kepalanya keluar dari dalam. Yoora hanya mengangguk, Luhan kemudian memberi tanda agar gadis itu segera memasuki rumahnya. Yoora merasa ada yang berbeda dengan laki-laki ini, biasanya ia cerewet dan lebih banyak tersenyum tapi saat ini tidak. Apakah mungkin Luhan sedang sakit ? Tapi tidak, mungkin itu hanya dugaannya saja, mungkin.

“Kau mau minum apa ?” tanya Luhan dengan suara serak. Tampaknya pria ini memang sedang tidak pada kondisi yang baik. Yoora menatap Luhan prihatin, jika ia tahu kondisi Luhan seperti ini mungkin ia tidak perlu datang dan meminta laki-laki itu mengajarinya Kimia. Luhan benar-benar tampak mengenaskan.

Rambutnya acak-acakan, matanya sekarang benar-benar terlihat seperti panda, bibirnya sangat pucat, tak lupa kulit wajahnya yang berbeda dari biasanya, di pelipis laki-laki itu juga terlihat keringat dingin keluar dengan deras, ia juga sempat melihat badan Luhan bergemetar. Apa laki-laki ini baik-baik saja ?

“Shin Yoora.” Panggil Luhan. Yoora menyadarkan dirinya segera kemudian menatap Luhan yang tampak lemas itu dengan prihatin. “Ya ?”

Luhan tersenyum tipis, tampak sekali pria itu tengah senyum dengan tepaksa bahkan Yoora dapat melihat gigi Luhan bergemelutuk satu sama lain. “Luhan sunbaenim, kau baik-baik saja ? Aku rasa kau lebih baik tidur, aku bisa meminta Eunji untuk mengajariku saja. Bagaimana ?”

Luhan hanya menggeleng lemas, laki-laki itu menyadarkan dirinya sejenak di tembok yang berada sekitar dua meter dari posisi Yoora berdiri. Yoora mengambil ponselnya menulis pesan singkat dengan cepat ke Jongin.

Bisakah kau kerumah Luhan ? Aku butuh bantuanmu, kurasa sepupumu itu sedang demam – Shin Yoora

Yoora memasukan kembali ponselnya kedalam saku celana jeansnya, kini gadis itu semakin melihat jelas Luhan tengah menahan rasa sakit, laki-laki itu memang hanya menyandarkan dirinya pada tembok namun ekspresi yang berada di wajahnya sangat tergambar dengan jelas, bahwa laki-laki itu kini tengah menahan rasa sakit.

“Luhan sunbaenim ? Apa aku memanggil ambulans saja kemari ? Kau benar-benar tampak kesakitan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kau tahu aku bukan seorang dokter.” Keluh Yoora dengan nada tak karuan, tampak sekali gadis itu juga sedang bingung dan gugup. Jujur, ia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

“Baiklah, aku akan memanggil ambulans, tampaknya kau benar-benar sakit, sunbaenim. Bertahanlah !” ujar Yoora, gadis itu segera berjalan keluar, ketika ia hampir saja membuka pintu keluar ia merasakan seseorang mencengkram siku tangannya dengan kuat. Yoora membalikkan badan dan melihat Luhan tengah menatapnya tajam.

“Kumohon, jangan. Aku baik-baik saja.” Ujar Luhan dengan suara seraknya. Yoora menggeleng tegas, “Kau sedang tidak baik-baik saja. Lihat dirimu sunbaenim, astaga kau menyedihkan sekali. Apa lebih baik kutelpon Jongin—”

Luhan menaruh jari telunjuknya tepat dibibir gadis itu dengan tujuan agar gadis itu tidak melanjutkan ucapannya, membuat gadis itu berhenti berbicara. Luhan tersenyum saat gadis itu berhenti bicara, “Tidak perlu. Kau mencemaskanku ya ?” goda Luhan pelan dengan tersenyum tipis.

Yoora membulatkan matanya dengan sempurna, apa laki-laki ini gila ? Dia sedang sakit, apa ia masih saja menggodanya ? Dasar gila.

“Kau masih bisa menggodaku ? Kau sudah sehat ? Huh?!” keluh Yoora tidak sabaran pada laki-laki yang berada di hadapannya ini. Luhan hanya mengangguk, “Aku tidak bilang sedang sakit, bukan ?”

Yoora mengutuk dirinya dalam hati, memang benar ia sangat mengkhawatirkan laki-laki yang berada dihadapannya ini, bayangkan saja, bagaimana jika laki-laki ini tiba-tiba pingsan ? Siapa yang akan membantunya untuk memapah Luhan?

Sunbaenim, kumohon jangan membuatku takut. Keadaanmu benar-benar kacau, aku tidak ingin kau pingsan dihadapanku. Karena aku tidak akan kuat mengangkatmu.”

Luhan hanya diam, tidak memberi jawaban. Kemudian ia menarik nafas dalam, “Baiklah. Kita belajar besok saja ya ?” Yoora mengangguk cepat, “Terserah. Baiklah aku harus pulang sekarang.” Gadis itu membungkuk sebagai salamnya pada Luhan kemudian ia berjalan keluar dari rumah besar Luhan.

“Laki-laki itu menakutkan jika terlihat kacau.” Tutur yoora sembari berjalan menuju halte bus terdekat.

“Shin Yoora ?” ucap seseorang. Yoora yang merasa dipanggil segera membalikkan badan, disana tampak Jongin tengah tersenyum padanya dengan balutan kemeja garis-garis hitam putih dengan celana jeans bewarna hitam.

“Jongin ? Apa yang kau lakukan ?” tanya Yoora pada Jongin yang tiba-tiba berada di belakangny. Jongin terkekeh pelan, “Aku sedang mengikutimu kerumah Luhan.”

“Untuk apa ?”

Jongin terdiam, laki-laki itu mengusap bajunya tampak sekali jika ia melakukan itu ia tengah gugup. “Yah, tidak apa-apa.”

“Kau aneh Kim Jongin, kau sudah menerima pesanku ?” Yoora mengambil ponselnya yang berada di dalam celana jeans, lalu menunjuknya dengan jari telunjuknya. Jongin berjalan mendekati Yoora.

“Oh tentang Luhan ? Ia akan baik-baik saja, laki-laki seperti dia sudah terbiasa tidak mungkin jika ia tidak kuat.”

Yoora menatap Jongin bingung, “Apa maksudmu ? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Jongin-ah.”

“Bagaimana jika aku mengantarmu pulang ?” tawar Jongin mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Ia memang ingin Shin Yoora hanya memandangnya tapi ia tidak akan sejahat itu untuk menyebarkan aib seseorang, agar gadis yang disukainya hanya melihatnya, bukan?”

***

Luhan’s home, 21.30

 

Luhan mengerang dengan keras, giginya saling bergemelutuk satu sama lain. Saat ini ia benar-benar menahan rasa sakit yang luar biasa. Gara-gara kucing tetangganya yang menyebalkan itu ia terlambat meminum obat untuk siang hari, sehingga berdampak seperti sekarang ini. Walaupun sudah beberapa jam berlalu, tapi rasa sakit itu masih menyerangnya. Ia sendiri tidak tahu, setahu dirinya ia hanya akan merasakan sakit paling lama 30 menit hingga 1 jam. Tidak selama ini dan rasa sakit ini benar-benar menyiksanya.

Beberapa kali ia melihat ponselnya bergetar lama, seseorang tengah menelponnya. Tapi, sayangnya ia benar-benar tidak kuat berjalan kemana pun, sedangkan poneselnya berada di nakas yang mengharuskan Luhan berjalan kurang lebih dua langkah. Luhan tahu mungkin yang menelpon adalah ibunya, biasanya ibunya akan mengingatkan Luhan untuk makan lalu minum obat, ia juga tidak boleh terlalu lelah.

Kini ponselnya tidak bergetar kembali, berarti ibunya memutuskan telponya. Luhan setidaknya bernafas lega, ia tidak perlu harus terlalu pusing memikirkan ibunya yang menelpon dan getar ponselnya yang mengganggunya.

Luhan menarik nafas dalam kemudian mengeluarkannya perlahan, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk tidur, karena setahu dirinya tidur dapat mengurangi sedikit rasa sakit. Luhan mulai memejamkan matanya perlahan-lahan dan membiarkan dirinya berusaha berada di dunia mimpi.

 

***

Shin Yoora’s home, 21.45

 

Yoora menguap pelan saat ia terbangun dari tidur nyenyaknya karena ponselnya bergetar lama, mau tidak mau ia harus membuka matanya dan melihat siapa yang tega mengganggu tidur malamnya yang nyenyak.

Yoboseyo ? Jongin ! Jangan menggangguku, aku sangat lelah.” Sembur Yoora, ia tidak akan berpikir jauh siapa yang menelponnya malam-malam karena beberapa minggu ini Jongin sering menelponnya dan mengucapkan selamat malam, good night, nice dream. Entahlah mungkin Jongin mulai terasuki hal-hal gaib sampai ia memperlakukan Yoora dengan tidak seperti biasanya.

“…..”

Yoora membulatkan mata saat mendengar penjelasan seseorang diseberang telepon. Ibu Luhan adalah orang menelponnya dan menganggu tidurnya, astaga. Ia benar-benar merasa menyesal karena telah seperti ini. Kenapa ia bodoh sekali, sih ?

“Saya minta maaf eommonim, kupikir Jongin karena ia sering menggangguku. Ye?”

“……”

“Apa ? Benarkah ? Baiklah aku akan kesana.”

Yoora bangkit dari ranjang kingsize-nya yang mewah, gadis itu segera mengenakan baju seadanya dengan jaket warna pink kesukaannya tak lupa ia mengenakan topi rajut bermotif tribal yang bewarna hitam-putih.

Yoora segera menuruni setiap anak tangga rumahnya dengan cepat, tapi rumahnya benar-benar sangat sepi. Mungkin ayah ibunya sudah tidur, Yoora segera mengambil secarik kertas kecil-kecil yang sering dibuat ayahnya untuk membuat memo yang berada diatas rak buku tidak jauh dari kamar ayah ibunya.

‘Ibu, aku harus pergi kerumah temanku. Aku membawa kunci. – Shin Yoora’

Yoora segera berjalan keluar dari rumahnya dengan pelan agar tidak menimbulkan kegaduhan yang memungkinkan membangunkan kedua orang tuanya yang tengah tertidur dengan pulas. Yora segera menyetop sebuah taksi yang kebetulan baru saja mengantarkan salah satu tetangganya. Gadis itu segera memberitahukan alamat rumah Luhan pada supir taksi itu, tak lupa ia meminta agar mengemudi lebih cepat. Tapi sebelum itu ia ingin mampir untuk membeli bubur, mungkin saja Luhan belum makan malam.

 

***

 

Yoora mengetuk pelan pintu utama rumah Luhan, tidak ada sahutan sama sekali. Yoora mencoba menelpon Luhan, tidak ada jawaban. Pilihan terakhir adalah mendobrak pintu rumah ini, hanya saja ia terlalu lemas, Yoora juga sadar dirinya tidak mengikuti pelatihan khusus sepeti karate, wushu, atau taekwondo yang mungkin membantunya untuk bisa membuka pintu ini.

Yoora memegang ganggang pintu rumah Luhan dengan berdoa pelan, ‘Semoga aku bisa membukaya.’

Pintu rumah Luhan dapat terbuka dengan mudahnya, apa sekuat itukah tenaganya sampai ia dapat membuka pintu rumah Luhan dengan mudahnya ? Ah kelihatannya tidak seperti itu, mungkin hanya kebetulan atau mungkin Luhan tidak menguncinya ? Abaikan saja. Yoora mulai berjalan masuk kedalam rumah Luhan yang juga termasuk besar dan mewah seperti rumah Jongin yang berada dekat dengan rumahnya.

Sunbaenim ?” panggil Yoora pelan. Rumah Luhan benar-benar sangat gelap, bahkan tidak ada lampu yang menyala satu pun. Astaga Shin Yoora mulai merasa takut, ia bukan pecinta horor dan tempat ini tampaknya bagus sebagai tempat syuting film horor. Yoora berjalan pelan dengan bantuan ponselnya yang ia nyalakan.

Sunbaenim. Kau dimana ?” panggil Yoora sedikit keras, seandainya jika bukan ibu Luhan yang memintanya ia tidak akan mau, tapi mendengar nada cemas saat menelpon tadi Yoora yakin sedang terjadi sesuatu pada Luhan, lagi pula ibu Luhan sudah baik saat dulu mau merawatnya karena ia terlalu lama berjalan dan terkena hujan.

“Ngg—aahku diasataas.” Balas seseorang dengan suara parau. Kini, Yoora yakin jika ini memang suara Luhan, Yoora bergegas menaiki tangga kayu itu yang tampak menyeramkan baginya. Ia tidak peduli, tempat itu menakutkan atau tidak ia harus melihat keadaan Luhans saat ini.

Yoora menarik nafas pelan, nafasnya memburu dan tersengal-sengal karena ia menaiki tangga dengan cepat. Ia sekarang benar-benar merasa sedang berolahraga. Yoora membuka pelan kamar Luhan yang tak kalah gelapnya dari ruangan yang lain.

“Luhan sunbaenim ?” panggil Yoora. Tidak ada sahutan, Yoora bergegas mencari tombol untuk menyalakan lampu kamar Luhan.

Setelah lampu menyala, Yoora menutup mulutnya dengan kedua tanganya rapat,di ranjang Luhan , pria itu tampak berantakan sekali bahkan ia melihat bekas air disekita tubuh Luhan, bahkan laki-laki itu meringkuk di sudut ranjang dengan selimut menutup dirinya, tapi masih tampak wajah laki-laki itu. Luhan benar-benar sangat pucat dan berantakan.

Sunbae !” Yoora berjalan mendekati Luhan, gadis itu menempelkan telapak tangan kanannya tepat di dahi Luhan memastikan mungkin saja laki-laki ini demam. Benar saja, ia merasa tangannya baru saja memasuki air hangat, badan Luhan benar-benar panas. Saat ia memegang dahi laki-laki itu ia merasakan ia tengah mengeluarkan keringat dingin yang sangat banyak. Seharusnya mengeluarkan keringat dingin akan cepat sembuh, tapi kenapa Luhan masih tampak kesakitan ?

Sunbaenim, badanmu panas. Tidurlah dengan posisi yang benar, apa kau sudah makan ?” tanya Yoora khawatir. Luhan mengeleng pelan, “Anhiyo—“

Yoora menggeleng pelan, “Tunggu sebentar, kurasa aku sempat membeli bubur untukmu. Makan oke ? Kau terlihat sangat menyedihkan sekali.” Yoora merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah plastik bening yang berisi bubur yang masih panas. Gadis itu segera berjalan keluar dari kamar Luhan untuk mengambil mangkuk, sendok, dan air minum.

Yoora mulai menyuapi sedikit demi sedikit bubur kedalam mulut Luhan, laki-laki itu menelan bubur yang berada di mulutnya dengan enggan, lantaran jika ia menelan rasanya badannya ingin memuntahkannya kembali.

“Kumohon berhenti menyuapiku, rasa bubur ini seperti sampah.” Ujar Luhan dengan parau. Yoora menggeleng tegas, “Tidak, sekali lagi saja, oke ?” Luhan menelan kembali bubur yang diberikan Yoora.

“Bisakah kau mengambilkan obat yang berada di nakas itu ? Aku tidak bisa berjalan.” Tutur Luhan, Yoora mengangguk dan segera mengambilkannya, lalu gadis itu memberikannya pada Luhan. Luhan mulai membuka tutup tabung obatnya pelan dan mengambil satu pil lalu menelannya dengan bantuan air mineral yang diberikan Yoora padanya.

“Kenapa kau kemari ?” tanya Luhan dengan lemas. Yoora tersenyum tipis, “Ibumu yang memintaku. Tidak apa-apa, bukan ?” Luhan terdiam seketika saat melihat Yoora tersenyum, laki-laki itu teringat kembali dengan senyum gadis ‘itu’ , senyum yang secerah matahari itu , kenangan mereka saat dulu bersama. Saat dulu mereka masih berada di bangku SMP dan SMA.

“Luhan sunbaenim. Kau sebenarnya sakit apa ? Kurasa kau tidak hanya demam, kau memegang perutmu sejak tadi. Apa kau juga sakit perut ? Em—dimana ibumu sunbaenim ?”

Luhan menggeleng, “Untuk pertanyaan pertama jawabannya adalah aku tidak tahu. Jawaban kedua tidak. Dan yang terakhir, jika ibuku menelponmu berarti beliau tidak disini, ‘kan ?”

“Baiklah kurasa kau sudah baik. Aku harus pulang sekarang.” Yoora bangkit dari kursinya, Luhan segera memegang lengan gadis itu menahannya agar tidak pergi. “Disini saja, ini sudah malam. Kau tidak mungkin pulang jam segini, bukan ?”

Yoora melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, jam 22.30. Cukup lama ia berada dirumah Luhan, Yoora tersenyum tipis.

“Tapi, aku tidak meminta izin ibuku. Maaf aku tetap harus pulang—“

“Tidak ! Disini saja, bagaimana jika tiba-tiba penyakitku kambuh lagi ? Siapa yang akan menolongku ?” potong Luhan. Yoora menimbang-nimbang pilihannya, jika ia pergi taksi belum tentu ada, bus juga sudah tidak beroperasi kembali, tapi jika ia tetap tinggal disini itu tidak mungkin. Yoora harus berdua dengan seorang pria di sebuah kamar, tidak ada orang lain. Lalu, jika ia menginap bagaimana sekolahnya besok ?

“Bagaimana kau tidur saja sunbaenim ?” ujar Yoora mencoba mengalihkan pembicaraan, Luhan mengangguk kemudian laki-laki itu mengganti posisinya menjadi berbaring. Yoora kembali duduk di kursi yang sempat ia tinggalkan. Luhan mulai merasa matanya terasa sangat berat, mungkin ini akibat efek obat yang ia minum. Mengantuk.

“Selamat malam, Shin Yoora. Kau bisa tidur dikamar tamu, nanti.” Ujar Luhan dengan memejamkan matanya perlahan. Yoora mengangguk. Yoora menatap Luhan yang mulai tertidur pulas, saat ia melihat wajah tidur Luhan ia merasa melihat seorang malaikat. Ia sadar dari dulu jika laki-laki ini sangat tampan, bahkan menurutnya lebih tampan dari Oh Sehun member EXO yang ia kagumi. Yoora merasa benar-benar merasa damai saat menatap wajah Luhan yang tampak tenang seperti itu.

Yoora mengangkat tangan kanannya yang sedari tadi hanya diam di sisi ranjang Luhan, tangan kanannya kini bergerak mendekat kearah wajah Luhan, tangannya kini memegang anak rambut Luhan pelan, takut membangunkan laki-laki ini. Kini tangannya tidak hanya berada di rambut Luhan, sekarang tangan kanannya turun kebawah tepat kearah hidung Luhan yang sangat mancung, dan terlihat sempurna. Tangannya kembali turun, bibir. Bibir Luhan begitu tipis, dan bewarna merah muda, membuatnya mati-matian agar tidak menyentuhnya lantaran gemas. Yoora menarik kembali tangannya, bernafas lega setidaknya ia bisa menahan keinginannya.

“Dia benar-benar tampan.” Puji Yoora pelan, kini ia merasa sesuatu di dalam perutnya tengah berkerumun, ia juga merasa berbunga-bunga. Oke, ia benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Tapi, ia mulai jantungnya berdebar kembali, sama seperti saat Luhan mendekatinya dan mempersempit jarak diantara mereka berdua. Ia yakin mungkin ia hanya jatuh pesona pada laki-laki ini tidak lebih ia yakin.

 

***

 

Jongin membuka pintu rumah Luhan pelan. Gelap, sepi adalah komentar yang ia berikan pada saat ini. Rumah Luhan benar-benar gelap gulita tanpa ada cahaya. Tapi matanya menangkap cahaya dari kamar Luhan, mungkin laki-laki itu sudah bangun dan bisa menyalakan lampu kamarnya ?

Jika saja tidak ibu Luhan yang memintanya mungkin Jongin enggan mendatangi laki-laki itu, lagi pula tampaknya Luhan sedang sakit. Ibunya saat ditelpon tadi sangat mencemaskan Luhan dan meminta Jongin segera memeriksa keadaan Luhan.

Jongin mencari tombol yang dapat menyalakan lampu disekitar ruangan rumah Luhan. Teng,semua lampu rumah Luhan mulai menyala. Jongin bernafas lega, ia tidak mendapati pencuri satu pun didalam rumah Luhan. Ia sempat berpikir seseorang mencuri karena Luhan tidak mengunci pintu rumahnya sama sekali. Jongin berjalan mendekati tangga dan menaikinya perlahan.

Saat ia sudah berada di depan kamar Luhan, pintu itu juga tidak tertutup rapat sehingga menyisakan celah kecil. Jongin mengintip sedikit apa yang terjadi didalam, ia dapat melihat Luhan terbaling lemas dengan wajah pucat dan punggung seseorang yang tengah membelakanginya, berjaket parasut berwarna pink dan topi tribal bewarna hitam-putih. Ia sangat hafal siapa pemilik topi ini. Jongin membuka pelan pintu kamar Luhan menjaga agar tidak menimbulkan bunyi yang mungkin dapat membangunkan Luhan.

Jongin berjalan mendekati Yoora yang tampak terdiam dengan kepala menunduk, Jongin mulai berjongkok mencoba melihat wajah gadis yang ia sukai itu. Yoora tampak sangat lelah sekali, kantung matanya melebar, ia mungkin menunggu Luhan sampai laki-laki itu benar-beanr tertidur. Salah satu tangan gadis itu berada berada dipangkuannya, dan satunya tengah menggenggam lengan Luhan.

Jongin menarik nafas dalam kemudian dikeluarkan sebentar, “Shin Yoora. Bangun, aku akan mengantarmu, pulang.”

Yoora mengerjapkan matanya berkali-kali sampai ia benar-benar dalam keadaan sadar, “Jongin ?”

Jongin hanya mengangguk pelan, “Iya ini aku, berdirilah. Biarkan aku yang menjaga Luhan, tapi aku akan mengantarmu dulu.” Yoora menggeleng pelan, “Bagaimana saat nanti kau mengantarku Luhan terbangun ?”

Jongin tersenyum menenangkan, “Tidak akan.”

Yoora menghela nafas panjang, “Baiklah kau turun dulu, aku akan mengemasi barang-barangku dulu. Oke ?” Jongin mengangguk, pria itu berbalik dan berjalan keluar dari kamar Luhan. Yoora menatap Luhan kasihan, kemudian ia membisikkan pelan tepat di telinga Luhan.

“Cepat sembuh dan selamat malam.”

Sebelum Yoora meninggalkan Luhan gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas dan menulis sebuah memo diatasnya, gadis itu menaruhnya tepat di meja belajar Luhan.

 

***

 

Setelah mengantar Yoora, Jongin kembali kerumah Luhan. Jongin memasuki kamar Luhan dan melihat laki-laki itu masih tertidur pulas, Jongin tidak duduk di tempat Yoora, laki-laki itu melainkan membaringkan dirinya di sofa Luhan yang bewarna coklat muda yang berada di sudut kamar Luhan. Perlahan-lahan Jongin memejamkan matanya membiarkan dirinya berada di alam mimpi.

 

***

 

Luhan membuka matanya perlahan, ia merasa seseorang baru saja menambahkan lem kayu pada matanya sampai ia merasa benar-benar susah membuka matanya, kemudian ia menguap pelan. Luhan menatap ponselnya yang masih berada di nakas, lalu kursi yang berada di sisi kiri ranjangnya, ah ia ingat Yoora kemarin menunggunya.

“Sudah bangun rupanya.” Ujar sesorang pelan, Luhan mengalihkan perhatiannya sejenak dan matanya kini menatap Jongin yang sudah siap berangkat ke sekolah. Luhan tersenyum tipis, “Apa yang kau lakukan disini ?”

“Menunggumu sampai bangun dan menanyakan kau akan berangkat sekolah atau tidak.” Jawab Jongin pelan. Luhan melihat jam dinding yang berada tidak jauh dari meja belajarnya. 6.50. Luhan menggeleng pelan, “Tidak. Aku tidak sekolah, aku terlalu lelah saat ini.”

“Bukankah itu bagus ? Kau tidak akan bertemu dengannya, bukan ?” tanya Jongin datar. Luhan menatap Jongin bingung, Jongin membalikkan badan dan berjalan menjauhi Luhan. Sebelum Jongin keluar dari kamar Luhan, laki-laki itu menatap Luhan kembali. “Kau harus bilang terima kasih pada Yoora, dia menunggumu sampai matanya seperti panda. Jika sampai ia sakit, aku tidak segan-segan mencarimu, sepupu.”

Luhan terdiam mendengar penuturan Jongin. Jongin kini benar-benar menghilang dari balik pintu kamarnya.

***

 

Yoora mengecek ulang kembali, buku-buku pelajaran yang baru saja ia masukkan kedalam tas ranselnya, ia tidak ingin ada insiden ‘buku tertinggal’ lagi, menurutnya itu sangat merepotkan orang lain, mereka datang kerumahnya hanya untuk mengantar bukunya saja.

Tiba-tiba Yoora merasakan ponselnya bergetar, gadis itu meraba saku rok sekolahnya dan segera mengambil ponsel. Disana tampak pemberitahuan bahwa baru saja sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.

Cepat keluar, aku tidak tahan berlama-lama didepan gerbang sekolah. – Luhan

Yoora mengangkat salah satu alisnya, gadis itu tidak mengerti dengan maksud Luhan. Gerbang sekolah ? Memangnya Luhan hari berangkat sekolah ? Jongin bilang Luhan tidak masuk sekolah lantaran tubuhnya masih lemas.

“Kau tidak ingin pulang ?” tanya Jongin dari belakang, Yoora membalikkan badan dan mendapati Jongin tengah melakukan kegiatan yang sama dengan dirinya. “Yah, aku ingin memang berniat pulang, sekarang. Ada apa ?”

“Em—Yoora-ya, bagaimana jika hari ini kita makan siang bersama di—“”

“Hei, Shin Yoora seseorang mencarimu di gerbang sekolah.” Potong Baekhyun yang kini berada di depan pintu ruang kelas mereka. Jongin menatap Baekhyun dengan tatapan ingin membunuh, laki-laki itu mengganggu percakapannya dengan Yoora. Ia bahkan belum menjelaskannya dengan detail dimana mereka akan makan siang bersama, sialan kau Byun Baekhyun. Baekhyun yang mendapat tatapan mematikan dari Jongin hanya terkekeh pelan, seakan ia merasa benar-benar tidak bersalah sama sekali.

“Oh ? Baiklah.” Yoora semakin mempercepat kegiatannya, gadis itu memandang Jongin dengan tatapan menyesal, “Maaf Jongin, mungkin lain kali saja. Oke ?”

Jongin menarik sudut bibirnya, memaksakan dirinya tersenyum di depan gadis itu, “Tidak apa-apa. Cepat pergi.” Yoora mengangguk, gadis itu kemudian berjalan keluar meninggalkan Jongin yang masih berada di dalam kelas.

“Seorang Kim Jongin menjadi lembut ? Astaga ini berita yang membuat dunia bergetar.” Tutur Baekhyun dengan suara cemprengnya, Jongin melirik Baekhyun tajam. “Diam kau, cerewet.”

Baekhyun berdecak kesal pada Jongin, “Hei, Shin Yoora lebih cerewet.” Jongin bersiap melepas sepatu ketsnya dan melemparkannya pada Baekhyun jika ia mendengar Baekhyun berbicara kembali. Tapi, Baekhyun yang melihat gerakan Jongin segera pergi dengan terkekeh pelan. Jongin berguman kesal pada Baekhyun, ia berjanji saat ia akan melemparkan sepatunya pada Baekhyun ia tidak akan membuat gerakan yang mungkin akan membuat Baekhyun menghilang lebih dulu, sebelum sepatunya mendarat tepat di bibir laki-laki itu.

 

***

 

Yoora memperhatikan setiap jalanan kota Seoul yang tampak ramai, siang mau pun malam. Sudah sekitar 10 menit lebih Luhan dan dirinya saling berdiam diri, tidak ada yang mau memulai percakapan satu sama lain. Jujur, Yoora sangat membenci situasi diantara dua orang yang tengah berdiam diri tanpa adanya percakapan, itu membuatnya sangat canggung.

Sunbaenim.” Panggil Yoora tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan kota Seoul. Luhan melirik Yoora sekilas kemudian kembali fokus pada kemudinya, “Ada apa ?”

“Sebenarnya kau sakit apa kemarin malam ? Kau tampak kesakitan sekali.” Ujar Yoora. Luhan menarik nafas dalam, “Tidak usah membahas hal itu. Yang penting sekarang aku sudah sembuh, bukan ?”

Yoora kini mengalihkan pendangannya, gadis itu kini menatap Luhan sesekali. “Ya, setidaknya saat ini kau terlihat baik-baik saja. Aku mempunyai firasat mungkin penyakit itu akan muncul lagi, tapi itu hanya firasatku saja. Tidak lebih.”

Luhan terdiam kemudian terkekeh pelan, “Kau sekarang peduli padaku ?” Yoora mendengus sebal, “Tidak. Aku hanya mengutarakan apa yang ada di pikiranku.”

“Benarkah ? Baiklah, jika begitu aku akan mengutarakan apa yang ada dipikiranku juga. Kau mau tahu ?” goda Luhan. Yoora menggeleng cepat, “Aku tidak mau tahu.”

“Kau terlihat manis saat peduli padaku.”

1 detik.. 2 detik.. 3 detik.. 10 detik..

Yoora merasa jantungnya kembali berdebar mendengar pujian Luhan, Yoora mencoba mengalihkan perhatiannya dari Luhan kearah jalanan daerah distrik Gangnam. “Aku tahu aku membuatmu malu. Tapi, aku mengatakan yang sebenarnya saat ini.”

Yoora memukul bahu Luhan keras, “Berhenti berbicara atau aku akan memukulmu !” Luhan terkekeh pelan, ia bisa menebak saat ia mengucapkannya gadis itu akan mengalihkan pandangannya dari Luhan, berarti gadis itu tengah gugup.

“Baiklah-baiklah, aku minta maaf. Kita sudah sampai.” Luhan menghentikkan mobilnya tepat berada di depan rumah Yoora. Yoora bergegas keluar dari mobil Luhan, namun sayangnya Luhan memegang tangannya, menahan gadis itu tidak segera pergi.

“Maukah kau besok mengantarku ?”

Yoora menatap Luhan dengan tatapn bertanya, “Kemana ?”

Luhan tersenyum tipis, “Ke tempat seseorang yang begitu spesial bagiku. Oke ?” Yoora diam, tidak memberi jawaban iya atau tidak. Ia tidak tahu apa yang tengah terjadi pada dirinya, hanya saja ia merasa sebuah jarum menyayat hatinya. Perih. Ya, ia merasakan rasa perih saat Luhan mengatakan seseorang yang begitu spesial. Oke, ia yakin dirinya hanya terlalu berlebihan. Ia yakin ia tidak menyukai laki-laki itu sama sekali, ia yakin.

“Shin Yoora ?” panggil Luhan. Yoora menatap Luhan sekilas kemudian tersenyum, “Baiklah aku akan mengantarmu ke tempat seseorang yang menurutmu begitu spesial.”

Luhan tertawa, “Baiklah, terima kasih.” Luhan kembali mengemudikan mobilnya dan bergerak semakin menjauh dari rumah Yoora.

Yoora membalikkan badan, gadis itu memukul kepalanya pelan, “Kau mungkin hanya jatuh dalam pesonanya. Tidak mungkin kau menyukainya, iya bukan, Shin Yoora?” tanyanya pada dirinya sendiri. Tapi, ia takut ini bukanlah jatuh dalam pesona Luhan lantaran ia benar-benar mulai menyukai Luhan. []

 

***

 

Oke, ini apa ? Gimana ? Puas gak ? Apa kurang panjang lagi ? Atau kurang greget ? Oh iya maaf banget kalau semisal aku banyak langsung ke inti, hehe. Soal percakapan Luhan sama Yoora aku buat muncul aja biar seru, kalau yang lain gak usah, kemungkinan kalian bisa nyesuain jawaban atau pertanyaan yang diberikan, bukan ? Di part selanjutnya nanti aku bakal jelasin tentang gadis spesial Luhan, jadi tunggu aja. Maaf ya sebelumnya mungkin part selanjutnya aku lama update. Tapi aku usahain kok ^^

Jangan lupa memberi kritik atau komentar, mau pedes atau lembut (?) gak apa-apa, yang penting tetep sopan. Oke ? Tapi jangan jadi Silent Readers ya. Terima kasih ~

 

23 responses to “Butterfly [4]

  1. Luhan… kau sakit apa sayang?? (Plakkk!!!)
    kok… kok… aku rada sedikit gak ngerti ya sama part ini? Apa mungkin aku belum baca part sebelumnya?
    Tapi cerita part ini keren banget! Luhan manis banget! Jongin nyebelin banget! Dan Baekhyun komporrr bangettt!!!

  2. Pingback: Butterfly [5] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s