DAFFODIL — Chapter 10 (FIN)

Annyeong, saya datang bawa fanfic titipan! Happy reading, jangan lupa kasih komentar^^ Gomawooo~

daffodilARTworker : shinme

Daffodil

 

Tittle : Daffodil (chapter 10-Final)

Author : Youngieomma

Cast :

Kim Joon Myun

Byun Baek Hyun

Park Chan Yeol

Do Kyung Soo

Kim Jongin

Oh Sehun

Han Yoon Ah (OC)

Park Moon Jin (OC)

– Other Cast :

Im Ra Nee (OC)

Kim Sa Na (OC)

Length : Chaptered

Genre : Romance, School Life, Brothership, Family

Rating : PG-17

Disclaimer : para pemeran di atas hanya dipinjam untuk keperluan FF ini, MAAF jika ada kata-kata maupun sifat yang bertolak belakang di FF ini.

 

Note’s :

Beberapa anggota diganti marga nya sesuai dengan cerita.. ———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Chapter 10

“ Daffodil”

Desember 2015,

Chan Yeol duduk, menatap rangkaian bunga berwarna kuning di hadapannya. Keningnya berkerut dan alis bertautan, memaju mundurkan bibirnya. Bunga itu terlihat sangat segar dan indah, berada di dalam pot besar bening dan harumnya memenuhi hampir seluruh ruang keluarga.

” Kau sedang apa?” Nyonya Han duduk di sebelah Chan Yeol yang menoleh padanya.

” Apakah ibu sangat sangat menyukai bunga ini?” Chan Yeol menunjuk bunga di hadapannya. Nyonya Han tertawa.

” Kenapa?”

” Hanya saja, aku beberapa kali menemukan bunga ini hadir dalam momen-momen keluarga kita..” Ucapnya.

” Kau masih ingat arti bunga ini?”

Chan Yeol mengangguk, ” Harapan baru, kelahiran kembali, cinta yang tiada bandingannya..”

” Itulah mengapa ibu sangat menyukai bunga ini, terlebih lagi bunga ini adalah simbol bulan kelahiran ibu..”

Nyonya Han menatap Daffodil di depannya.

” Tapi bu, bunga Daffodil hanya hidup di Amerika Utara dan buga-bunga ini mekar setiap bulan maret! Ini bulan Desember, kenapa bunga ini masih tetap ada?” Chan Yeol protes, Nyonya Han tertawa dengan kencang.

” Tidak bisakah kau menerima saja Chan Yeol? Kenapa kau harus repot-repot memikirkan bunga ini yang masih saja ada di bulan Desember?” Ujar Nyonya Han.

” Apakah di Amerika Utara sekarang masih bulan Maret? Kau mengambilnya langsung dari sana? Atau.. Kau, mempunyai kebun Daffodil sendiri di Italy?”

Lagi-lagi Nyonya Han tidak dapat menahan tawa mendengar ucapan anak laki-lakinya tersebut.

” Apakah selama di Italy kau melihat ada kebun Daffodil di Apartement ibu dan ayah? Atau dikantormu sendiri?”

Chan Yeol menggeleng. Nyonya Han mengacak rambut anaknya tersebut.

” Yeol-ah, kau tahu tidak? Bunga Daffodil juga memiliki arti romantis..”

” Apa?”

” Selain mawar, bunga ini juga bisa mewakili perasaanmu.. Untuk memberitahu pada pasanganmu jika kau memiliki perasaan yang sama padanya.. Tapi, jangan sesekali kau memberikannya hanya satu tangkai!”

Nyonya Han menatap Chan Yeol yang sekarang sedang melotot karena terkejut dengan gerakan tiba-tiba ibunya.

” Kenapa?”

” Karena setangkai bunga Daffodil berarti kemalangan..”

Chan Yeol mendengus,

” Apa-apaan bunga ini! Mempermainkan perasaan orang!” Menatap sinis ke arah Daffodil di depannya.

” Bagi ibu, kalian seperti bunga ini.. Kau, Sehun, Kyung Soo, Jongin, Baek Hyun, dan Joon Myun. Jika kau dan ke lima saudaramu berjalan sendiri-sendiri, kalian akan menemukan kemalangan dalam hidup. Tanpa ada yang memperingatkan untuk berhenti dan berputar ke arah yang lebih baik.. Sebaliknya, jika kalian berenam bersama-sama, terikat seperti sebuket bunga Daffodil ini, kalian akan terlihat kokoh, penuh kebahagiaan, dan harapan-harapan baru akan bermunculan..” Nyonya Han mengalihkan pandangannya dari bunga kuning tersebut pada Chan Yeol.

” Chan Yeol, kau adalah setangkai bunga Daffodil awalnya, kau menjadi ‘racun’ untuk orang-orang sekitarmu. Ketika melihatmu berdiri sendiri orang-orang menandakan kaulah sebuah kemalangan. Namun, setelah kau bertemu dan bersama dengan beberapa ‘tangkai Daffodil’ lain, kau tidak terlihat seperti itu bukan?”

Chan Yeol menatap kedua bola mata ibunya yang menatap lembut.

” Beberapa tangkai Daffodil itu adalah kelima saudara laki-lakimu, Joon Myun, Baek Hyun, Kyung Soo, Jongin dan Sehun. Kau kini memiliki harapan yang baru di setiap harinya, kau memiliki kebahagiaan, optimisme, dan awal yang baru untuk kehidupanmu.. Karena kau sekarang bukan ‘setangkai Daffodil’ lagi, tapi telah menjadi bagian dari ‘buket Daffodil’ yang indah.. Yeol-ah, itulah arti sebuah keluarga.. Menjagamu, mendukungmu, membimbingmu, dan selalu mengarahkanmu pada hal-hal positif..”

Ujung bibir Chan Yeol terangkat dan dia mengangguk lembut.

” Aku tahu bu.. Aku paham dengan maksudmu.. Terima kasih telah memberikanku sebuah keluarga yang indah..”

Nyonya Han tersenyum.

” Terima kasih telah mengajarkan hidup berharga pada ibu..” Ucap Nyonya Han kemudian.

” Kalian terlihat sangat mesra berdua!” Sehun memekik di belakang mereka, wajahnya ditekuk dan matanya menatap tajam ke arah Chan Yeol dan Nyonya Han.

” Kemarilah, bodoh! Tidak perlu memasang tampang seperti itu!” Ujar Chan Yeol, Sehun berlari dari tangga dan memeluk Nyonya Han.

” Kau tidak puas bersama-sama ibu di Italy, hyeong? Kau mau mengambil momen kebersamaan kami juga disini?” Protes bocah itu.

Nyonya Han tertawa, mengelus punggung tangan Sehun yang kini melingkari tubuhnya.

” Aku tidak melakukan itu!” Chan Yeol menjitak kepala Sehun.

” Ya ! Ya ! Kau memeluk ibuku SEHUN!” Jongin berteriak dari lantai dua, berlari kencang menuju ruang keluarga dan melepaskan pelukan Sehun pada Nyonya Han.

” YA! Dia juga ibuku!” Pekik Sehun.

” Hei! Hei! Kenapa kalian ribut sekali sih?” Tuan Park keluar dari ruang perpustakaan.

” Sehun mengambil ibuku!” Pekik Jongin, memeluk Nyonya Han yang sedang tertawa.

” Dia ibuku juga bodoh!” Sehun memeluk Nyonya Han.

” Dia ibuku juga!” Chan Yeol tidak mau kalah, dan kini tubuh kecil Nyonya Han berada di dalam rengkuhan manis anak-anaknya.

” Ya!!!!! Aku juga mau!!” Joon Myun dan Kyung Soo yang baru saja keluar dari kamar mereka berkata dengan serempak, turun dari lantai dua, menghambur pada ibunya yang tertawa dengan sangat keras.

Tuan Park berdecak, melihat kelakuan anak-anaknya yang seperti balita, mereka berebutan memeluk tubuh kecil Nyonya Han. Para pemuda itu tidak segan-segan memeluk, menggandeng bahkan bermanja-manja pada ibu mereka sendiri meskipun berada diluar rumah.

” Sehun! Jongin! Kalian sudah menjadi mahasiswa! Apakah seorang mahasiswa masih bergelayutan di tubuh ibu mereka?” Keluh tuan Park.

” Apakah seorang CEO berusia 25 tahun juga bergelayutan di tubuh ibunya?” Sehun melirik sinis ke arah Chan Yeol.

” Apa? Tanyakan pada tuan direktur berusia 27 tahun di sampingmu!” Chan Yeol menunjuk Joon Myun yang cemberut.

Tuan Park menghela nafas.

Nyonya Han dan tuan Park kini pulang ke Korea setiap dua minggu sekali sejak dua tahun terakhir, untuk menghabiskan waktu mereka bersama kelima anaknya yang masih menetap disana.

” Mandilah kalian berlima! Ayo siap-siap! Kita akan merayakan pesta tiga tahun pernikahan ibu dan menjenguk Baekki di rumah sakit..” Ucap Nyonya Han kemudian, kepalanya menyembul dari balik lengan Kyung Soo.

” Ah! Aku rindu pada Baekki hyeong!” Ucap Jongin.

” Aku juga! Aku juga! Apakah operasinya berjalan lancar?” Kyung Soo menambahkan.

” Makanya cepat mandi dan bersiap-siap! Kita akan melihat Baek Hyun..” Tuan Park menutup ocehan kelima pemuda tersebut yang berlarian dengan heboh menuju lantai dua berebut memasuki kamar mandi.

———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

– Juli 2013, Malam pembebasan Chan Yeol

Chan Yeol duduk di sebuah taman yang sepi, gelap dan angin mendominasi sekitarnya. Sesekali mulutnya menguap, menahan kantuk, setelah keluar dari ruang interogasi dia jadi sering mengantuk lebih cepat.

Meminum seteguk coffee kalengan di tangan. Melirik jam tangannya yang menunjukkan angka sepuluh malam, dia hampir menunggu dua jam disana.

” Yeol-ah!”

Menoleh dan kemudian tersenyum kecil, ketika seseorang yang dia tunggu berdiri terengah-engah didepannya. Im Ra Nee.

” Kau terlambat” Ucap Chan Yeol, Ra Nee melirik sinis pada pemuda itu.

” Sudah kubilang, aku hanya bisa keluar sebentar! Toko kami masih buka, tahu..” Keluh Ra Nee. Chan Yeol terkekeh mendengar omelan gadis pujaannya tersebut. Duduk di sebelah Chan Yeol yang masih menunduk, Ra Nee mendengus sebal.

Dia berlari dari toko sampai ke taman karena Chan Yeol mengirimkan sms untuk bertemu dengannya, mengancam tidak akan pulang jika tidak bertemu gadis itu.

Keduanya terdiam, Chan Yeol memainkan kaleng kopinya, sementara Ra Nee menatap lekat-lekat pemuda itu.

” Jangan memandangiku terus, Im Ra Nee.. Nanti kau semakin jatuh cinta padaku..” Chan Yeol melirik pada Ra Nee yang masih menatapnya.

” Tidak apa-apa kan? Aku rindu melihat wajahmu..”

Chan Yeol terkekeh.

” Terima kasih..” Suaranya yang berat itu terdengar lembut.

” Untuk apa?”

” Untuk semuanya..”

Ra Nee tertawa kecil.

” Kau manis sekali hari ini..”

” Ya, aku sebenarnya tidak ingin bersikap manis.. Hanya saja, ini yang bisa kulakukan untukmu, kurasa kau sudah tahu aku tidak akan pernah bisa menjadi pengacara, jadi—” Chan Yeol melempar kaleng tersebut ke tempat sampah di depannya sebelum menyelesaikan kalimat yang menggantung.

Dia menghela, kedua bola matanya bertemu dengan Ra Nee.

” Jadi, aku tidak akan pernah bisa memenuhi janjiku padamu..”

Ra Nee menelan ludahnya, mencari kebenaran dalam kata-kata Chan Yeol.

” Kau tidak ingin menikah denganku?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Ra Nee, membuat wajah Chan Yeol memerah.

” A-ah! Bukan be-begitu Ra Nee.. Ta-tapi, aku kan berjanji–hmm–untuk—aduh– jangan menangis!” Chan Yeol jadi panik ketika melihat buliran airmata Ra Nee keluar dari sudut matanya.

” Ha-habis, kau bilang seperti itu.. Aku jadi se-sedih..” Ra Nee berkata terbata disela tangisnya, menghapus airmata yang tidak berhenti.

” Aduh, bukan itu maksudku! Ra Nee! Kau mengacaukannya!” Chan Yeol memekik.

” Ya! Jangan memekik padaku!” Ra Nee balas berteriak pada Chan Yeol, masih berusaha menghentikan airmata yang keluar.

Chan Yeol menghela nafas, mengusap wajah dengan kedua tangannya.

” Ra Nee, seharusnya kau tidak menangis. Tadinya, aku ingin berkata dengan keren padamu..”

Ra Nee masih menunduk.

” Dengar, aku tidak akan pernah bisa memenuhi janjiku untuk menjadi pengacara padamu.. Tapi, bukan berarti aku tidak ingin menikahimu. Im Ra Nee, maukah kau menungguku lagi? Tiga tahun, aku akan belajar dan bekerja untuk perusahaan ayahku.. Setelah itu ayo kita menikah..” Chan Yeol menatap kedua mata Ra Nee yang masih berair, gadis itu terlihat jelek dengan ingus dan airmata, Chan Yeol terkekeh geli.

” Kenapa kau tertawa?!”

” Wajahmu jelek sekali..” Ucap Chan Yeol.

” YAAA! Kau merusak momen yang bagus PARK CHAN YEOL!” Pekik Ra Nee, menghujani Chan Yeol dengan pukulan di bahu, pemuda itu tertawa dengan geli melihat wajah gadis pujaannya.

” Sudah! Ha-ha-ha! Hentikan! Sudah!” Chan Yeol berkata, Ra Nee memajukan bibirnya, menghapus air mata dan ingusnya.

” Jadi, apa jawabanmu?” Tanya Chan Yeol, wajahnya memerah, senyumnya mengembang cerah.

” Apa? Kau sudah meledekku dan masih berharap aku akan menjawabnya?!” Ra Nee merajuk. Chan Yeol tertawa.

” Aku akan selalu menunggumu—” Ra Nee menunduk, ” Aku akan menunggumu, Yeol-ah, tiga tahun, empat, atau bahkan seribu tahun, selamanya..”

Chan Yeol kembali tersenyum lebar, mengacak rambut gadis di depannya.

” Jawaban yang kuinginkan..” Ucapnya.

Ra Nee tersenyum kecil.

” Terima kasih untuk tidak meninggalkanku di saat yang paling buruk sekalipun, Ra Nee..”

” Sama-sama Yeol-ah, aku tidak akan meninggalkanmu.. Sampai kapanpun..” Ra Nee berbisik di telinga Chan Yeol, keduanya tersenyum malu.

” Kalau saja dulu aku tidak bertanya padamu, mungkin, aku tidak akan pernah kembali pada ayahku.. Dan memiliki keluarga yang luar biasa..” Chan Yeol berbicara, pikirannya kembali ketika ia mendapat kabar dari Kyung Soo jika ayahnya akan menikah lagi dan berencana untuk membuat mereka tinggal bersama dengan anak dari istri barunya.

” Kau berdiri di depan pagar rumahku, dengan baju basah kuyup dan wajah babak belur..” Ucap Ra Nee, mengingat hari dimana Chan Yeol kembali bicara padanya setelah menarik diri cukup lama dan menjauhi gadis itu.

” Apa aku terlihat bodoh?” Tanya Chan Yeol, Ra Nee terkekeh dan mengangguk.

” Im Ra Nee! Dengarkan ini! Ayahku akan menikah kembali.. Apa yang harus aku lakukan? Orangtua itu ingin aku dan kedua adikku tinggal bersama anak dari istri barunya! Apa yang harus aku lakukan? Kau tahu kan? Aku sudah tidak berbicara dan bertemu cukup lama dengan ayahku!”

Ra Nee tersenyum, mengingat kata-kata Chan Yeol saat itu. Dia terkejut, setelah sekian lama tidak mau bertatap muka bahkan berbicara dengannya, Chan Yeol berdiri di depan pagar gadis itu dan berkata demikian, tanpa titik dan koma hanya satu tarikan nafas.

” Doamu hari itu, menjadi kenyataan..” Chan Yeol menoleh pada Ra Nee dan tersenyum.

” Selamat Yeol! Kau akan mempunyai keluarga yang baru, seharusnya kau senang.. Kau akan mempunyai seorang ibu, kuharap kau bisa memiliki keluarga yang luar biasa kali ini. Terimalah ajakan ayahmu! Kurasa kau akan berbaikan dengannya, jangan keras kepala Yeol-ah!”

Ra Nee mendekatkan duduknya pada Chan Yeol, meletakkan kepala di lengan pemuda tinggi itu. Kepala Ra Nee tidak dapat menyentuh bahu Chan Yeol meskipun mereka sama-sama duduk.

” Karena aku tahu, kau pasti sangat merindukan kedua adikmu..” Ucap Ra Nee, Chan Yeol mengangguk kecil, menatap langit malam yang hitam pekat.

” Mereka adalah harta berhargaku, keluargaku, meskipun Sehun dan Kyung Soo tidak terlahir dari ibu yang sama denganku, meskipun karena keduanya aku kehilangan ibuku—- Tapi, merekalah satu-satunya yang berada di sisiku setelah kepergian ibu, mereka adik-adikku, aku hanya ingin melindungi mereka..”

Ra Nee tersenyum.

” Sudah pernah ada yang bilang belum, kalau kau kakak yang baik?”

” Kurasa sudah banyak yang bilang seperti itu..”

Keduanya tertawa.

Dan kemudian mereka diam tanpa kata, merasakan semilir angin malam yang menyejukkan, tangan keduanya saling menggenggam.

” Aku akan memberitahu mereka, Ra Nee..” Chan Yeol membuka pembicaraan akhirnya.

” Tentang apa?”

” Gangguan disosiatif yang dialami oleh—-”

” Chan Yeol!” Ra Nee menjeda, Chan Yeol menoleh melihat gadis itu melotot, dan mengganti posisi duduk menghadapnya.

” Jangan lakukan itu, kau akan membahayakannya..” Wajah Ra Nee memucat.

” Tidak apa, Joon Myun hyeong sudah tahu, ibuku sudah tahu juga tentang gangguan yang dimiliki oleh ‘dia’. Mereka juga tahu, siapa pembunuh Inoue Mao sebenarnya..”

Wajah ceria itu berubah sendu, memori mengerikan itu mendesak keluar memenuhi isi kepala Chan Yeol.

” Tapi, kurasa dia akan sangat terpukul Yeol-ah.. Apakah itu akan baik-baik saja?” Ra Nee melunak melihat ekspresi kekasihnya.

Chan Yeol menatap Ra Nee.

” Keluarga Nyonya Han adalah keluarga kami sekarang, aku yakin Nyonya Han bisa membuatnya lebih baik, aku yakin.. Jadi, aku mohon, bantu aku untuk meyakinkan, jika rahasia ini benar-benar harus ku katakan pada mereka dan juga untuk ‘dia’..”

Ra Nee melihat gurat putus asa di dalam diri Chan Yeol, bertahun-tahun pemuda itu menyembunyikan fakta menyakitkan tentang adiknya, ia tidak perduli di salahkan, tidak perduli di kucilkan bahkan oleh saudara ibunya sendiri. Kesalahan yang tidak pernah ia lakukan dilimpahkan begitu saja oleh ayahnya yang mengatasnamakan ‘kebaikan adikmu’ pada Chan Yeol.

Chan Yeol yang ringkih, Chan Yeol yang baik hati, Chan Yeol yang polos, ia rela menjadi ‘Monster’ untuk menyembunyikan kelemahannya, ia rela dibodohi, dijauhi, dihina dan dibenci oleh orang-orang yang tidak tahu akar masalahnya. Semua hanya karena untuk melindungi kedua adiknya, harta berharga yang hanya ia miliki setelah kematian ibunya.

” Bicaralah dengan pelan, jangan sampai membuatnya marah, itu akan membahayakan dirimu juga..” Ra Nee mengelus puncak kepala Chan Yeol.

” Tentu. Jujur, aku masih sangat merasa bersalah pada Yamada.. Seandainya saja aku tidak mengabaikan adikku, dan menjelaskan apa yang ingin dia ketahui, ini tidak akan pernah terjadi—” Suara Chan Yeol bergetar.

” Aku egois bukan? Aku sebenarnya tidak percaya dia akan melakukan hal itu Ra Nee, dia mengikutiku menuju Apartement Inoue dan Yamada, kemudian melakukan pembunuhan itu hanya karena tidak puas dengan jawabanku.. Dia melakukannya lagi, seperti yang pernah dia lakukan pada ibuku..”

Ra Nee menatap kekasihnya yang sedang terisak, bulir-bulir airmata berjatuhan mewakili perasaan pemuda itu sekarang.

” Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Yeol-ah, aku juga bersalah, seharusnya aku memberitahukanmu tentang rencana Yamada dan Inoue malam itu.. Seandainya saja aku mengangkat teleponmu hari itu, mungkin kau tidak akan mengabaikan adikmu dan berlari menuju Apartement Inoue..” Ra Nee berbicara pelan, tangannya tidak berhenti mengelus punggung lebar pemuda tinggi itu.

Chan Yeol masih terisak, menghapus bulir airmata yang berjejalan keluar menuju pipinya.

.

Baek Hyun menghela nafasnya lagi, liburan musim panas masih berlangsung, namun dirinya masih harus di sibukkan oleh tugas yang menumpuk dari beberapa dosen. Dia kira mengambil jurusan Fashion Design akan terlihat lebih mudah, tapi nyatanya dia tetap harus pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi dari buku-buku lama disana.

Baek Hyun melirik jam di tangannya, hampir pukul dua belas malam. Kaki pendeknya berjalan dengan cepat, menyusuri trotoar yang sepi. Sialnya, dia tidak bisa meminta jemput Joon Myun karena kakaknya tersebut sedang berada di luar Seoul untuk urusan bisnis.

Baek Hyun terdiam, merasa ada seseorang dibelakangnya, menelan ludah dengan kasar. Bulu kudukknya meremang.

‘ Orang itu pasti mengira aku perempuan!’ Pekiknya dalam hati, hal-hal buruk mampir dikepala pemuda cantik ini, membuat tangannya gemetar dan peluh bercucuran, Baek Hyun mempercepat jalan, namun seseorang dibelakangnya melakukan hal yang sama. Dia jadi ingin menangis.

‘ Ba-bagaimana ini? Apa aku harus berteriak?’ Gumamnya dalam hati, memandang sekeliling, itu adalah jalanan tersepi yang ia pernah lewati.

‘ Kemana sih orang-orang’ rutuk Baek Hyun. Seseorang dibelakangnya semakin mendekat, Baek Hyun benar-benar ingin menangis, siapa saja! Dia ingin berteriak memanggil siapa saja, Sehun? Jongin? Joon Myun? Kyung Soo? Chan Yeol?

” Chan Yeol!!!!!”

Tanpa sadar Baek Hyun berteriak memanggil nama saudaranya tersebut ketika mulutnya di bekap oleh tangan raksasa, membuat ia sulit bernafas.

” Le-lepaskan!” Baek Hyun meronta, airmatanya keluar.

” Hei! Ini aku! Baek!”

Baek Hyun menatap lekat-lekat seseorang yang masih membekap mulutnya tersebut, suara berat dan aroma khas.

” Chan Yeol?” Kini Baek Hyun bisa berkata dengan leluasa.

Chan Yeol mendengus. ” Kenapa kau lari sih? Aku kan jadi ikut lari karena ketakutan! Bodoh!”

Baek Hyun masih terdiam tanpa suara, lututnya lemas.

” Hei! Kau kenapa?”

” JANGAN TANYA AKU KENAPA BODOH!!!!!” Pekik Baek Hyun dengan suara lantang dan keras membuat Chan Yeol melotot lebar karena terkejut. Baek Hyun yang selalu bersikap manis dan lembut bisa mengeluarkan suara seperti serigala (ia jadi teringat ketika Baek Hyun berteriak di ruang interogasi).

” Ke-kenapa kau berteriak sih?! Kau juga tadi berteriak memanggil namaku!” Chan Yeol bersungut-sungut.

” Eh?”

” Jangan eh! Kau tadi kan memanggil namaku, kukira kau sudah tahu aku berada dibelakangmu!” Pekik Chan Yeol.

Baek Hyun terdiam, berfikir, apa dia memanggil Chan Yeol? Tapi dia merasa memanggil nama Jongin.

” Apa aku memanggil namamu?”

Chan Yeol menoleh, memasang wajah datar.

” A-aku benar-benar tidak tahu kalau itu kau, kukira penguntit..”

” Eh? Kau mengira aku penguntit?! Astaga Baek, tidak ada seorangpun yang mau menguntitmu!” Chan Yeol mencemooh. Baek Hyun mendengus, mereka melanjutkan berjalan.

” Habis darimana?” Tanya Baek Hyun, membuka pembicaraan, suasana canggung hampir saja masuk di antara mereka.

” Bertemu Ra Nee..”

” Apa kau berjanji lagi untuk menikahinya?”

Chan Yeol mendengus dan Baek Hyun tersenyum kecil.

” Kau romantis ya..”

” Hentikan menggodaku..” Keluh pemuda itu.

” Senang bisa melihatmu lagi, Chan Yeol..” Ucap Baek Hyun kemudian.

” Apa itu tulus?”

Baek Hyun tertawa kemudian mengangguk, Chan Yeol menatap pemuda bertubuh lebih pendek darinya itu. Wajah yang cantik, rambut panjang yang di ikat asal, bibir merah muda, pipi putih yang terlihat lembut dan aksesoris rambut yang selalu menghiasinya.

” Baek, apa kau serius untuk operasi?”

Chan Yeol langsung terdiam, merutuki dirinya sendiri karena bertanya hal itu pada Baek Hyun.

” Kenapa?”

” Tidak, hanya saja.. Mungkin kau akan menyesal.. Atau, kau memang—hmm–apa ya?”

Baek Hyun melirik Chan Yeol yang sedang sibuk memilih kata-kata untuknya.

” Aku tidak seperti yang kau pikirkan, Chan Yeol.. Aku bukan gay, oke?” Baek Hyun menjelaskan. Chan Yeol mengerjap. Tepat sasaran! Tanpa harus repot-repot berbicara, Baek Hyun mengerti jalan pikirannya seperti Joon Myun. Apakah keluarga Han mempunyai kekuatan super?

” Kami tidak memiliki kekuatan super, Chan Yeol..”

” WAH! Kau bisa membaca pikiranku!” Pekik Chan Yeol, Baek Hyun mendengus.

” Tidak bodoh, hanya saja wajahmu mengatakannya..” Ujar Baek Hyun, Chan Yeol mengangguk dan terkekeh.

” Jadi, kau tidak menyukai laki-laki?” Chan Yeol kembali bertanya.

” Aku normal, aku masih menyukai perempuan..”

” Lalu kenapa kau ingin operasi Baek?”

Baek Hyun menatap jalan di depannya yang sepi.

” Aku benci tubuh ini, karena tubuh ini aku jadi diperlakukan seperti itu—ya, kau tahu kan? Ini gara-gara tubuhku..”

” Kalau kau perempuan, apa kau akan melakukan operasi juga?”

” Ha?”

Chan Yeol menoleh, menatap kedua mata Baek Hyun yang juga menatapnya.

” Aku tahu, kau trauma dengan apa yang terjadi pada dirimu dulu.. Tapi, itu bukan salah tubuhmu, itu bukan karena kau adalah laki-laki, bukan.. Itu juga bukan salah ibumu yang selalu mendandanimu sebagai perempuan.. Jadi, kalau kau memang bukan seorang gay, kenapa repot-repot melakukan operasi?”

Baek Hyun mencari maksud dari perkataan panjang Chan Yeol barusan.

” Dengar Baek, menjadi perempuan itu lebih merepotkan. Kau ketakutan seperti tadi pasti karena kau yakin, ‘penguntit’ dibelakangmu mengira kau perempuan. Benar?”

Baek Hyun tidak menjawab.

” Itu karena kau sadar, dengan rambut panjang dan penampilanmu, siapapun akan mengira kau perempuan. Pelecehan seksual tidak terjadi hanya pada laki-laki Baek, perempuan paling banyak mengalaminya.. Mengerti?”

Baek Hyun mencerna kata-kata yang Chan Yeol ucapkan, itu adalah kata-kata terpanjang yang pernah dilontarkan pemuda tinggi itu.

” Apa—kau bermaksud menghentikanku? Bukankah kau bilang mendukungku?”

Chan Yeol terlonjak, ” Eh-eh, i-itu bukan karena aku tidak mendukung–aduh–serius Baek.. Maksudku bukan begitu..”

Baek Hyun tertawa.

” Aku hanya bercanda, terima kasih telah menyampaikan pendapatmu, Chan Yeol..”

” Jangan bercanda dengan wajah serius begitu!” Chan Yeol mendengus. ” Lagipula, pikirkan baik-baik Baek.. Jika kau bertemu dengan gadis pujaanmu, kau akan menyesal telah melakukan operasi—tapi, mungkin saja perempuan itu lesbian..”

” Chan Yeol..”

” Aku bercanda..”

Baek Hyun menghela nafas, Chan Yeol tertawa di sebelahnya.

Keduanya berjalan dalam diam, belum ada yang memulai pembicaraan kembali, merasakan sejuknya angin di malam hari musim panas. Langkah pendek-pendek yang di buat Chan Yeol, menjejeri langkah Baek Hyun.

” Aku akan mengatakannya, Baek..”

” Apa?”

” Tentang rahasia keluarga Park..” Chan Yeol melirik ke arah Baek Hyun yang sekarang menatap terkejut, dan menghentikan langkahnya. Dari sikap Baek Hyun, Chan Yeol bisa menebak pemuda itu mengetahui rahasianya.

” Joon hyeong mengatakannya padamu?”

Baek Hyun dengan pelan mengangguk.

” Kalau begitu, seluruh keluarga Han sudah mengetahuinya?”

” Belum, Jongin tidak tahu apa-apa, Kyung Soo dan Sehun juga belum..” Baek Hyun setengah berbisik. Chan Yeol mengangguk.

” Aku akan bicara pada ayah besok, ya, meminta pendapatnya untuk mengungkapkan rahasia keluarga kami.. Lagipula, aku sudah berjanji pada ibu untuk bicara dengan kalian..”

Baek Hyun terdiam.

” Apa kau yakin melakukannya?”

Chan Yeol menoleh pada Baek Hyun.

” Aku percaya pada ibumu, ah, maksudku ibu kita—hmm, awalnya aku tidak berani untuk mengatakan hal itu pada kalian secara langsung, tentu saja karena aku takut ‘dia’ yang lain kembali hadir dan membuat kekacauan.. Tapi karena kejadian ini, kurasa aku harus benar-benar jujur pada kalian..” Chan Yeol menendang kerikil di hadapannya.

” Seperti yang ibu katakan, sekarang aku tidak sendirian, aku memiliki seorang kakak, saudara sepertimu, dan tiga orang adik.. Aku tidak perlu menanggung semua beban ini sendirian.. Kalau boleh jujur, aku juga sudah lelah, Baek—” Menjeda kalimatnya, Chan Yeol menelan ludah.

” Ini seperti permainan Hide and Seek, aku bersembunyi di bawah bayang-bayang kebohongan yang ayahku ciptakan dan berusaha seseorang menemukanku dan menarikku keluar dari lingkaran kebohongan tersebut..”

Baek Hyun tersenyum, ” Perumpaan yang bagus..”

Chan Yeol terkekeh.

” Benarkah? Apa aku terlihat keren ketika mengatakannya?” Pemuda itu mengerling pada Baek Hyun yang tersenyum kecil di sebelahnya.

” Aku akan mendukungmu, apapun yang akan terjadi pada adikmu ketika mendengarnya, kami akan mencoba untuk merangkulnya..” Ujar pemuda cantik itu.

” Kurasa aku akan menangis besok, apakah kau pikir aku harus membeli salep untuk mata bengkak di apotek?”

Baek Hyun tertawa.

” Matamu bahkan terlihat bengkak sebelum kau menangis!”

Mereka berdua terkekeh perlahan, berjalan dalam tawa di tengah gelapnya langit Seoul.

———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Sehun menatap tajam, mengerenyit, memutar kepalanya ke kiri dan bergumam ‘hmm’ dengan panjang. Menghela nafasnya dengan kasar, dan mengalihkan bola matanya ke sebelah kanan, melakukan hal itu berulang kali.

” Jika kau memiliki laser yang keluar dari bola matamu, aku yakin buku-buku itu sekarang akan berlubang..” Jongin muncul di belakang kepala Sehun, berkomentar pedas dengan setengah berbisik pada pemuda di depannya.

” Aku sedang memilih judul yang cocok dengan tugas musim panas kita, Jongin~ah..”

” Bukan kita, tapi kau, hanya kau, Sehun~ah..” Jongin menirukan gaya bicara Sehun ketika mengucapkan nama pemuda itu.

” Baik, baik, kau memang orang pintar yang menyelesaikan tugas musim panasmu hanya dengan dua hari tuan kulit gelap..”

Jongin melirik.

” Aku tidak pintar, hanya saja otakmu lamban, tuan kulit pucat..”

Mereka berdua jadi terlihat seperti Jongin dan Kyung Soo dahulu. Karena keduanya berada di kelas yang sama, Sehun dan Jongin jadi lebih dekat, mereka tidak segan melemparkan kata-kata saling meledek seperti sekarang.

Jongin sebenarnya senang dan bangga, ketika tadi pagi Sehun memintanya ikut ke perpustakaan daerah dan membantu saudaranya tersebut mengerjakan tugas musim panas dari sekolah. Dia merasa keren dan dewasa, mengajarkan adiknya –yang lebih muda empat bulan– di sebuah perpustakaan.

” Kau mengamati bunga Daffodil?” Tanya Sehun, membaca buku tugas milik Jongin di tangannya. Mereka berdua duduk di pinggir dekat jendela perpustakaan.

” Aku sudah memprediksi jika dikelas dua ini kita akan diberikan tugas biologi mengamati tumbuhan, jadi sebelum bulan maret, aku melakukan riset tentang bunga itu..” Jawab Jongin, Sehun berdecak kagum, tidak menyangka otak Jongin yang cemerlang.

” Kemudian, kenapa kau memilih bunga ini?” Tanya Sehun lagi.

Jongin mengangkat kedua alisnya dan tersenyum.

” Karena ini bunga kesukaan ibuku..”

” Ibu menyukai bunga ini?”

Jongin mengangguk.

” Dulu, kami memiliki taman Daffodil luas di kebun belakang, mereka memiliki warna-warna yang indah, kuning, putih, merah dan harumnya luar biasa sekali.. Ibu akan memetik mereka sehari sebelum ulang tahunnya, dan menyiapkan bunga tersebut di atas meja dekat televisi.. Tapi—karena kejadian itu, akhirnya kebun Daffodil kami harus rusak..” Jongin terdiam, menyelesaikan ingatan bahagianya dengan kalimat buruk.

” Apakah bunga ini yang ibu bawa ketika Yeol hyeong bebas? Eh? Bunga ini juga kau bawa ketika kita pertama kali bertemu di restoran!” Sehun berkata setengah semangat sambil menunjuk foto bunga Daffodil yang di tempel di buku tugas Jongin.

” Ternyata kau mengingatnya! Aku memang membawa bunga itu, karena artinya yang bagus..” Ujar Jongin. Sehun mengangguk-angguk.

” Lalu, apa yang harus kulakukan dengan tugas biologiku?”

” Kau bisa mengamati bunga lain..”

” Tidak bisakah aku mengcopy milikmu?”

Jongin menjitak kepala Sehun.

” Akan ku carikan buku tentang tumbuhan!”

Sehun meringis, mengelus puncak kepalanya yang mendapat jitakan dari Jongin. Dia menatap foto-foto Daffodil yang Jongin ambil ketika hidungnya menangkap Aroma Parfume yang dikenalnya. Ia menoleh dan kedua mata sipitnya mencari setiap sudut perpustakaan.

Senyumnya mengembang ketika melihat seorang gadis bernama Kim Sa Na berada di balik lemari buku. Sehun berjalan mendekat, namun langkahnya terhenti ketika melihat Jongin muncul dari balik lemari dengan tawa lebar, berbicara dengan Kim Sa Na.

Sehun menatap tidak suka, namun tidak mendekat pada keduanya, ia berbalik, kembali ke meja dan menekuri buku tebal di depannya.

Beberapa menit kemudian Jongin kembali dengan empat tumpuk buku-buku tumbuhan dan meletakannya di atas meja.

” Bacalah, lalu pilih satu bunga yang akan kau amati sebelum liburan musim panas kita berakhir!” Jongin berkata, menyodorkan tumpukkan buku itu pada Sehun yang sekarang menenggelamkan wajahnya pada meja kayu tersebut.

” Ya! Sehun!” Panggil Jongin, Sehun tidak merespon. Jongin mendengus.

” Ayo cepat! Atau aku akan meninggalkanmu..” Ancam Jongin, Sehun mengangkat wajahnya dan menatap Jongin.

” Kau tidak tampan..”

Jongin mengerenyit mendengar ucapan Sehun.

” Serius Jongin, kau tidak tampan, kau hitam, dan bibirmu lebar..”

Jongin melemparkan salah satu buku tepat ke dada Sehun.

” Apakah kau sangat menikmati mengataiku? Kau menikmatinya sehingga setiap hari kau meledekku?” Ucap pemuda itu.

Sehun mendengus, kembali pada posisinya.

” Padahal aku lebih tampan, tapi kenapa wajahnya lebih terlihat senang jika bertemu denganmu..” Gumam Sehun, Jongin melirik dan mencerna kata-kata Sehun kemudian terkekeh.

” Maksudmu Sa Na?”

Sehun menghela nafas kasar.

” Kau melihatku mengobrol dengan Sa Na?” Tanya Jongin kemudian. Sehun mendengus, malas menjawab.

” Ya, kau terlihat seperti balita yang merengek di belikan sebuah mainan, Sehun~ah..” Jongin mencondongkan tubuhnya, menatap puncak kepala Sehun yang berada di depannya.

” Apa kau menyukainya?”

” Hm?” Jongin berhenti memainkan rambut Sehun.

” Kim Sa Na, apakah kau menyukainya?” Sehun mengulang pertanyaannya, Jongin terdiam sebentar, kembali memainkan rambut Sehun dan bergumam.

” Tidak.. Aku tidak menyukainya..”

Sehun mengangkat kepalanya tiba-tiba membuat Jongin terlonjak kaget.

” Serius? Kau tidak berbohong?” Nada Sehun berubah ceria. Jongin tersenyum dan mengangguk kecil.

” Aku sudah memiliki kekasih, Sehun~ah..” Ucap Jongin kemudian.

” Eh? Kau memiliki kekasih? Lalu, kenapa kau mencium Sa Na waktu itu?”

Jongin terdiam, menempelkan punggung pada kursi kayu itu, melipat kedua tangannya di dada menatap Sehun.

” Seperti yang Yeol hyeong bilang, itu hanya insting, kau tahu kan, laki-laki dan perempuan berada di tempat sepi dengan suasana yang bagus.. Itu kesempatan yang jarang..” Jongin kemudian tertawa kecil.

” Jika Sa Na mendengarnya, dia pasti sedih..” Ucap Sehun.

” Dia tidak menyukaiku kok..” Jongin tiba-tiba berkata. Sehun menatap pemuda itu.

” Sungguh.. Dia menyukaimu..”

Wajah Sehun berubah merah.

” Kau tidak perlu menghiburku..” Ucap Sehun, mengalihkan pandangannya pada buku tebal yang di lemparkan Jongin barusan. Jongin tertawa.

‘Itulah yang gadis itu katakan padaku ketika aku menyatakan perasaanku sebelum liburan musim panas..’ Gumam Jongin dalam hati.

.

Joon Myun keluar dari mobil, melirik jam tangannya, pukul 6 pagi. Menguap sebentar, ia meregangkan tubuhnya. Semalaman dia harus berakhir tidur di dalam mobil karena tidak kuat menahan kantuk setelah seharian melakukan pekerjaan. Ia harus pergi keluar Seoul untuk mengurus segala macam urusan pembangunan toko baru, tadinya dia berharap bisa sampai ke Seoul sebelum tengah malam, namun kantuk malah mendominasi perjalanannya.

Joon Myun menghirup udara pagi yang segar, semilir angin pagi menyibakkan rambut coklatnya, berjalan dengan perlahan sembari sesekali tersenyum mendapati bunga-bunga berwarna indah yang Sehun tanam.

” Kau tertawa sendiri, hyeong?” Sebuah suara mengejutkannya, dia hampir terjatuh karena terkejut. Kyung Soo berdiri di belakangnya, dengan Hoodie yang menutupi hampir setengah wajahnya.

” Ya! Jangan selalu memperlihatkan wajah menakutkan!” Joon Myun setengah memekik. Kyung Soo mendecak.

” Aku memang terlahir seperti ini..” Jawab Kyung Soo. Joon Myun menghela.

” Kau habis jogging?” Tanya Joon Myun kemudian, mengekor Kyung Soo yang berjalan duluan.

” Tidak, aku baru saja selesai pup di taman..”

” Ya!”

” Kalau sudah tahu kenapa kau bertanya hyeong?”

Joon Myun mendengus. Kelakuan adiknya tidak pernah berubah. Kyung Soo duduk di bangku kayu, mengelap keringatnya yang tadi sama sekali tidak terlihat oleh Joon Myun karena tertutup Hoodie.

” Kau memakai punya Chan Yeol? Ini terlalu besar untukmu..” Ucap Joon Myun.

” Ini dibelikan oleh Yeol hyeong, dia tidak tahu ukuranku..”

Joon Myun terkekeh, duduk di sebelah Kyung Soo, sama-sama menatap bunga di depan mereka.

” Kau baru sampai?” Tanya Kyung Soo, berbasa-basi. Joon Myun menoleh.

” Tidak, aku sengaja tidur di parkiran Kondominium kita..” Mencoba melucu, namun Kyung Soo hanya menatapnya datar. Joon Myun jadi merasa canggung sendiri.

” Baiklah, oke, aku baru pulang..” Dia akhirnya menjawab pertanyaan adiknya tersebut.

Keduanya terdiam sebentar.

” Kau— masih penasaran dengan masa lalu keluargamu?” Tiba-tiba Joon Myun membuka pembicaraan, mengusik Kyung Soo.

” Kenapa?”

Joon Myun menggeleng.

” Tidak, hanya saja, Chan Yeol berjanji pada ibu akan mengatakan yang sesungguhnya ketika ia keluar dari kantor polisi..”

Kyung Soo tidak merespon.

” Dia berjanji akan mengatakan semuanya dengan jujur tentang apa yang terjadi pada keluargamu..” Joon Myun melirik Kyung Soo.

” Sebenarnya.. Aku takut..” Kyung Soo menatap ujung sepatunya, seolah ada sesuatu yang menarik disana. Menanggapi perkataan Joon Myun dengan pelan-pelan.

” Aku terkejut dan tidak bisa berfikir jernih ketika ayah menjelaskan padaku kalau aku bukan anak ibu.. Maksudku— selama bertahun-tahun aku merindukan sosok wanita yang bukan ibuku, aku mengenalnya hanya karena dia pernah merawatku ketika aku kehilangan ingatan, kukira, aku dilahirkan dan dibesarkan penuh cinta oleh wanita itu.. Ternyata..” Kyung Soo menggantung kalimatnya yang tercekat di tenggorokan, tidak dapat keluar karena rasanya menyakitkan.

” Tidak perlu merasa terbebani, ayah dan Chan Yeol juga Sehun menganggapmu saudara kandung mereka sendiri.. Apa itu tidak cukup?” Tanya Joon Myun.

” Cukup, itu lebih dari cukup. Tapi, apakah kau tahu hyeong? Rasanya, aku seperti anak yang tidak tahu terima kasih, ibuku meninggal, aku selamat, namun aku sama sekali tidak mengingatnya, bahkan tidak mengenalnya sama sekali..” Kyung Soo berkata dengan tergesa.

” Itu pasti menyakitkan untuknya.. Seharusnya, setiap tahun aku datang ke kuburannya, mengadakan peringatan kematian dan mendoakan ibuku sendiri.. Namun, yang kulakukan hanyalah mendoakan ibu orang lain, oke dia ibuku juga, ibu tiri, seperti Nyonya Han, tapi kan aku juga harus berbakti kepada ibu asliku sendiri..” Ucapan Kyung Soo semakin berbelit, memilah setiap kata jadi terasa berat untuknya, apa yang dia rasakan ingin sekali ia sampaikan pada Joon Myun namun semuanya tertahan.

” Aku mengerti apa yang kau maksud, kau marah dan benci pada ayah kan karena tidak dengan segera memberi tahumu.. Tapi, apakah kau pernah bertanya kenapa ayah melakukannya?”

Kyung Soo melirik ke arah Joon Myun.

” Dia selalu berkata untuk kebaikan kami, namun, dia tidak pernah membuat kami merasa lebih baik..” Kyung Soo berkata pelan.

Joon Myun mendengus. Ucapan Kyung Soo ada benarnya, alih-alih menyembunyikan kebenaran menyakitkan untuk melindungi salah satu anaknya, tuan Park malah harus mengorbankan anak kandung dari istri sahnya sendiri –Chan Yeol– yang harus hidup menderita disalahkan atas kematian ibunya.

Joon Myun tidak pernah tahu jika ada keluarga yang sangat berantakan melebihi keluarganya sendiri, perkara rumit yang di buat oleh tuan Park membuat hubungan ayah – anak itu merenggang.

Padahal, Joon Myun merasa dunianya kiamat ketika mendapati Baek Hyun dan Ibunya pergi ke pusat rehabilitasi. Dia jadi penasaran, apa yang Chan Yeol rasakan ketika dunia masa kecilnya lebih kelam di banding Joon Myun?

” Menurutmu, apakah aku harus mendengarkan cerita Yeol hyeong?” Pertanyaan Kyung Soo menyadarkan Joon Myun yang melamun, pemuda itu diam dulu sebelum menjawab, memainkan ujung tas kerjanya.

” Itu terserah padamu.. Tapi, kami akan selalu ada disisimu sebagai keluarga..”

Joon Myun tersenyum, berlalu meninggalkan Kyung Soo yang masih terpekur di bangku tersebut.

.

” Ada yang ingin kusampaikan..” Suara beratnya mengalihkan seluruh mata.

” Kebenaran dari keluarga Park..” Chan Yeol melanjutkan ucapannya.

Sehun, Kyung Soo, Jongin saling tatap. Baek Hyun dan Joon Myun gelisah, tuan Park dan Nyonya Han mengangguk pada Chan Yeol.

Pemuda tinggi itu menelan ludah, menatap kelima saudaranya.

” Sebenarnya—”

” Hyeong..” Sehun memotong ucapan Chan Yeol, masih duduk di tempatnya.

” Tidak perlu di ceritakan..” Kyung Soo bersuara.

” Eh?” Chan Yeol melotot, terkejut dengan ucapan Kyung Soo, begitupun dengan Baek Hyun dan Joon Myeon.

” Kami tahu, Baek hyeong dan Joon hyeong tahu rahasia keluarga kalian.. Itu pasti, karena kalian adalah Hyeong kami..” Jongin berkata, menjeda kalimatnya dan menatap Chan Yeol.

” Tapi kami sepakat untuk tidak mengetahui apa-apa tentang rahasia keluargamu..”

Kyung Soo dan Sehun mengangguk.

” Aku tidak perduli anak siapa, dan apa yang terjadi pada keluarga kita dulu..” Kyung Soo memainkan ujung jarinya.

” Yang terpenting kita sekarang adalah keluarga, kurasa sudah tidak penting lagi masa lalu kita hyeong.. Aku sudah memiliki ibu yang sangat luar biasa sekarang, empat hyeong yang sangat menjagaku dan seorang teman baik..” Sehun melirik Jongin ketika mengatakannya.

” La-lalu?” Chan Yeol tergagap.

” Lalu, hyeong bisa tetap diam dan melupakan masa lalu keluarga kita—” Kyung Soo melirik Nyonya Han.

” Walaupun kita telah menjadi sebuah keluarga bukan berarti berhak untuk mengetahui masa lalu buruk keluarga Park.. Iya tidak bu?”

Nyonya Han tersenyum kecil, mengelus punggung Kyung Soo.

Chan Yeol menatap ketiga adiknya, menghela nafas dan terduduk lemas di atas karpet. Mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi.

” Kalian tahu? Aku bahkan tidak bisa tidur semalaman, berusaha merangkai kata-kata untuk berbicara pada kalian bertiga..” Keluh Chan Yeol, ketiga adiknya tertawa.

” Kami bertiga sudah membicarakan ini ketika Joon hyeong memberitahu Kyung Soo hyeong kalau hyeong mau mengungkapkan rahasia keluarga kita..” Sehun tersenyum.

” Kami sepakat untuk tidak ingin mengetahuinya.. Kami cukup begini saja hyeong, meskipun tidak adil..” Kyung Soo menambahkan.

” Lagipula, kami susah payah membangun hubungan keluarga. Kami takut jika rahasia keluarga Park terbongkar, akan susah kembali mengembalikan momen bagus seperti sekarang ini..” Jongin menutup pendapat.

Chan Yeol mendengus, Nyonya Han mengelus puncak kepala tiga anak laki-lakinya dan tersenyum.

” Kalian belajar dewasa dengan cepat” Ucap wanita itu. Ketiga anaknya terkekeh. Baek Hyun menatap mereka.

” Kukira kalian akan sangat penasaran”

” Kami sangat penasaran!” Keluh Jongin.

” Tapi, kami sepakat untuk tidak mengetahuinya. Kurasa itu keputusan yang tepat, iya tidak bu?” Kyung Soo menyender pada ibunya yang tengah tersenyum.

Chan Yeol masih terdiam, kemudian ia duduk dengan tegap, dan menatap seluruh anggota keluarganya, menunduk dalam dan berkata.

” Terima kasih..” Pelan.

Seluruh anggota keluarga menatapnya, kemudian Nyonya Han berjalan mendekati Chan Yeol dan memeluknya.

Duduk di hadapan Chan Yeol, meletakan tangan di kepala pemuda itu.

” Sekarang, ibu akan menarik seluruh ingatan buruk masa lalumu..”

Wanita itu mengusap-ngusap puncak kepala Chan Yeol kemudian berlagak membuang sesuatu. Seluruh anggota keluarga tertawa melihat sikap ibu mereka.

” Hati-hati bu, kau bisa membuang otak Chan Yeol juga..” Joon Myun meledek yang di balas lirikan mata Chan Yeol.

———————————————————-

D A F F O D I L

———————————————————-

Desember 2015,

Chan Yeol keluar dari mobil, membawa sebuah tas besar. Ketiga adiknya satu persatu bermunculan dari dalam mobil, Joon Myeon turun dari kursi paling belakang, Nyonya Han dan Tuan Park bergandengan. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam sebuah Rumah Sakit besar.

” Baek hyeong hampir tiga bulan disini setelah operasi..” Jongin membuka pembicaraan.

” Kau benar, itu adalah waktu yang sangat lama bagiku tidak bertemu dengan Baek hyeong..” Keluh Sehun.

Nyonya Han tersenyum.

” Kalian pasti sangat merindukannya..”

Sehun dan Jongin mengangguk.

” Kami tidak bisa meminta bantuan untuk mengerjakan tugas perkuliahan kami..” Jongin berkata. Joon Myun menjitak kepalanya.

” Apakah kalian hanya memanfaatkan Baek Hyun?” Ucapnya.

” Tidak hyeong! Sungguh!”

Nyonya Han dan tuan Park tertawa.

Mereka berjalan sambil mendengarkan Sehun dan Jongin serta Kyung Soo saling berbicara, membicarakan apapun yang mereka lihat dan dengar. Nyonya Han tertawa atau sesekali tersenyum, Chan Yeol terkekeh beberapa kali ketika mendengar Jongin menceritakan bagaimana Sehun berpacaran dengan Kim Sa Na di kampus.

” Dia akan menunggui Sa Na sampai pukul delapan malam di perpustakaan hanya untuk mengajaknya makan malam..” Ucap Jongin.

” Bisa hentikan memberitahu mereka, tuan gelap?” Keluh Sehun.

Nyonya Han tertawa, ” Apakah keluarga Park seluruhnya sangat romantis? Sehun~ah, kau bahkan lebih romantis di bandingkan Chan Yeol..”

Keempat pemuda itu terkekeh, Chan Yeol protes karena namanya harus terseret dalam cerita Sehun.

” Kalian bersenang-senang tanpaku!” Sebuah suara yang mereka kenal membuat ketujuh orang itu berhenti dan menoleh, Baek Hyun memakai baju rumah sakit dengan selan infus masih menempel di tangan tengah berdiri di belakang mereka.

” Hyeeeeong!!!!” Sehun dan Jongin menghambur dan memeluk pemuda itu.

” Kau sedang apa? Apakah baik-baik saja?” Nyonya Han menghampiri Baek Hyun dengan cemas.

” Aku baik-baik saja bu, aku sudah sehat..” Ucap Baek Hyun.

” Wah! Rambut panjangmu akhirnya di potong habis..” Chan Yeol berkata. Baek Hyun menatapnya.

” Hai Chan Yeol, sudah lama tidak bertemu denganmu..”

Chan Yeol tersenyum, berjalan menghampiri Baek Hyun dan memeluknya.

” Kau terlihat lebih manly dengan rambut pendek..” Goda Chan Yeol.

” Benarkah? Lalu, apakah sekarang aku harus mencari pacar?”

Ketujuh orang itu tertawa mendengar ucapan Baek Hyun.

” Apakah luka operasi di kepalamu sudah hilang?” Tanya Joon Myun. Baek Hyun mengangguk.

” Apakah masih terasa pusing?” Tuan Park kini bertanya.

” Tidak ayah, aku sudah baik-baik saja..” Jawab Baek Hyun.

” Baiklah, sekarang kau ganti baju.. Ayah dan ibu akan mengurus administrasi Rumah Sakit untuk kepulanganmu..”

Baek Hyun mengangguk, Sehun, Jongin, Kyung Soo, Chan Yeol dan Joon Myun mengekor Baek Hyun menuju kamarnya.

” Aku seperti membeku ketika mendengar Baek Hyun salah satu korban kecelakaan bus di Seoul..” Chan Yeol berkata.

” Kau benar hyeong! Aku bahkan naik taksi dan menyuruh supir taksi itu mengebut!” Pekik Sehun.

” Jangan lupa kau menangis dengan keras..” Ledek Jongin, Sehun mendelik.

” Kau juga menangis!”

Baek Hyun tertawa.

” Maaf membuat kalian khawatir..”

” Lalu, bagaimana gadis yang sama-sama kecelakaan denganmu?” Tanya Joon Myun.

Baek Hyun mengancingkan bajunya.

” Oh, dia pulang sebulan lalu.. Dia terus menjengukku setiap hari karena merasa bersalah.. Dia terus-terusan meminta maaf karena menurutnya, dialah yang membuatku terluka parah. Aku memberikannya tempat dudukku ketika di bus, itulah mengapa aku terpental keluar dari jendela bus saat kecelakaan terjadi..” Jawab Baek Hyun.

” Kudengar dia seorang mahasiswa asing?” Chan Yeol melipat baju Rumah Sakit Baek Hyun.

” Ya, dia berasal dari Indonesia. Mendapat beasiswa dan bersekolah disini, aku terkejut ketika dia berbicara bahasa korea dengan lancar..” Ucap Baek Hyun.

” Siapa namanya?” Tanya Sehun.

” Kurasa, Tyaseu? Aku tidak bisa mengeja namanya dengan benar..” Baek Hyun tertawa, merapikan rambutnya yang sekarang sangat pendek.

Mereka keluar ketika tuan Park dan Nyonya Han muncul dari balik pintu dan mengatakan jika seluruh Administrasi Baek Hyun telah selesai.

Sehun, Jongin dan Kyung Soo berjalan di depan beriringan sambil terus mengobrol. Joon Myun sibuk menjawab telepon dari seseorang.

” Hei, terima kasih..” Baek Hyun berkata pada Chan Yeol yang berada di sebelahnya.

” Untuk apa?”

” Membuatku berfikir kembali tentang operasi transgender..”

Chan Yeol terkekeh.

” Apakah kau bertemu dengan seseorang? Hingga kau berterima kasih padaku?”

Baek Hyun tersenyum.

” Dia cukup manis dengan kulit sawo matangnya, orang Indonesia memang eksotis..”

Chan Yeol tertawa kencang.

” Aku senang kau berhenti mengkonsumsi pil itu dua tahun terakhir ini..” Ucapnya.

” Ya, itu berkatmu yang menceramahiku tentang penyesalan setelah operasi jika bertemu dengan gadis impian..”

Chan Yeol mengacak rambut Baek Hyun.

” Sehat selalu, Baek..”

” Kau juga, Yeol..”

Keduanya tertawa.

Mereka masuk ke dalam mobil Van besar, berjejalan seperti biasa, saling berebut berbicara. Baek Hyun bernyanyi di sela suara-suara bising tersebut. Chan Yeol dan Joon Myun sesekali terkekeh mendengar cerita Sehun serta Jongin di tempat kuliahan mereka. Kyung Soo memejamkan matanya, berusaha tidur, namun senyumnya sesekali mengembang ketika obrolan konyol Sehun dan Jongin mampir di telinga.

Semua terlihat baik-baik saja, bahkan sangat baik. Hubungan keluarga yang normal dan bahagia. Tidak ada lagi tangisan, tidak ada masa lalu menyakitkan, segalanya kembali normal.

Tiga tahun, empat tahun, seribu tahun, mereka ingin bersama-sama dalam waktu yang lama. Saling tertawa dan berbagi perasaan pada kedua orangtua serta saudara mereka.

Inilah yang anak-anak keluarga Park butuhkan, kasih sayang. Keluarga yang tidak utuh, sikap tuan Park dan beberapa masa lalu menyakitkan membuat ketiga anaknya menjadi pasif pada ayah mereka. Menjauhi dan memberi jarak begitu jauh.

Beruntunglah tuan Park bertemu Nyonya Han, wanita dengan masa lalu sama kelamnya tentang keluarga. Namun, mempunyai segudang kasih sayang yang tidak pernah surut untuk anak-anaknya.

Ucapan lembut, pelukan hangat, dan beberapa elusan kecil pada ketiga anak tuan Park mampu membuat mereka lebih baik tanpa waktu yang lama.

Dalam sebuah keluarga, tidak di butuhkan harta yang berlimpah, tidak di butuhkan pendidikan keras layaknya di militer dan peraturan yang rumit. Cukup dengan sebuah telinga yang mendengarkan, pelukan hangat, bahu yang siap menampung tangisan, dan beberapa kata-kata menguatkan agar anak-anak selalu di sisi orangtua mereka.

” Terima kasih telah menjadi bagian dari keluarga kami..” Nyonya Han berkata.

” Aku sekarang memiliki sebuket bunga Daffodil cantik yang nyata, anak-anakku yang memberikan harapan, suami yang memberikanku awal baru dalam hidup. Bagiku, kalian adalah keberuntungan yang kudapatkan atas izin Tuhan..”

” Terima kasih telah memberikan kami limpahan kasih sayang..” Sehun menanggapi ucapan Nyonya Han.

” Terima kasih untuk tidak mengeluh menjadi ibu kami..” Kyung Soo menatap Nyonya Han.

” Tetap sehat selalu bu..” Chan Yeol memeluk tubuh wanita itu.

” Happy Anniversary..” Joon Myun memeluk ibu dan ayahnya.

” Ayah, terima kasih telah memberikanku saudara yang luar biasa..” Baek Hyun memeluk tuan Park.

Kedelapan orang itu kemudian berpelukan di ruang restoran yang pertama kali mereka kunjungi untuk memperkenalkan calon suami Nyonya Han. Sebuket Daffodil berada di atas meja.

Seperti bunga Daffodil yang mekar setelah musim dingin berakhir, keenam pemuda itu akhirnya bisa ‘mekar’ dengan sinar hangat bernama ‘kasih sayang’..

 

– END

 

Sepatah dua patah kata :

END! Waaaah!?

Udahaaaan! Hahahahaha! Pasti protes kaaaaaan? Kaaaaan? Kaaaaan? Kok rahasia keluarga Park gak di ungkapin sih eomma??????????????? Terus pemenang quiz kapan di umumin???

Jawabannya : yaaa setelah side story keluar 😀 disana akan ada nama para pemenang yang beruntung mendapatkan pulsa! Hehehehe~~

TENANGGGGG YEDEULLLL~aaaah~

Setelah ini ada Side Story keluarga Park untuk mengungkap rahasia mereka.. Hehehehe.. Emang begini aja sih endingnya, ini ending yang Nyonya Han mau untuk keluarganya.. Hoho..

TYAAAS! Gue udah sempilin nama lu tuh jadi cewe yang di taksir Baek Hyun, meskipun lu requestnya Sehun tapi maaf dia udah milik Sa Na hahaha XD

Naaaah! Setelah Daffodil berakhir saya akan mulai dengan FF baru, nantikan ya 😀 seperti biasa gak akan lama-lama untuk ngepublishnya *doain kerjaan di kantor gak numpuk kaya setrikaan + cucian di rumah*

Byeeee~desuuuu ketemu di side story keluarga Park dan FF baru eomma :*

73 responses to “DAFFODIL — Chapter 10 (FIN)

  1. Author eomma, maaf banget ya aku baru bisa komen di chapter terakhir, karna jujur baca ff ini berentetan banget, 10 chapter dalam sehari, tolong dimaklumi. -_-”
    ff ini bikin penasaran gitu sih, dan gabisa diprediksi juga.
    Jadi keponya gabisa ditunda” buat tau cerita selanjutnya. 😎

    dan nilai plus banget karna aku gak pernah nyangka kalo itu ulah sehun!
    Dan alhamdulillah itu beb baek–
    dan makasih banget udah naro beb chan menjadi sosok yg … Yg … Begitulah pokoknya!!
    Keep writing buat author eomma! Aku keep reading deh buat karya author eomma yg selanjutnya!
    Pregnant affair, daddy’s daughter, ama her and him udah di saved page juga minta dibaca.
    Sekali lagi daebak!!!
    Annyeong author eomma! :O 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s