It’s Not You [Part 5]

It's not you

It’s Not You

Author            : DwiTesnaAndini

Tittle               : It’s Not You

Length            : Chaptered

Rating             : PG-15

Genre             : Romantic, Comedy, Angst

Cast                : Chorong, Donghae, Krystal

Previous : 4

 

N.B: Annyeonghaseyo Dini imnida *bow* wahh tidak terasa udah ngepost yang kelima. Sejauh ini gimana ceritanya?? Gaje? Boring? Melempem? Mbohlah… agar author tahu jawabannya kritik, saran dipersilahkan. Hehehehe. Oh yaaa kalau mau liat FF qu yang lain bisa kunjungi blog aku di sini http://publicityseekers.blogspot.com/

 

* * *

Chorong beberapa kali membongkar lemarinya mencari baju yang pas untuk ia kenakan menghadap calon mertuanya. Apa mertua? Terdengar lucu sekali. Bibirnya tersenyum tipis, menyadari dirinya yang telah tumbuh dewasa.

Beberapa kali ia mencoba bajunya, tak ada yang pas. Tak ada baju yang layak dipakai untuk acara seperti ini. ia terakhir kali membeli baju saat kelulusan waktu SMA. Jika memakai itu rasanya tidak pantas. Chorong bersandar di samping lemari dengan kedua tangan dilipat di dada. Apa yang harus dipakainya. Semua pakainnya hanya pas dipakai untuk keperluan santai saja. Keningnya berkerut dan matanya menyipit menatap lekat-lekat barang-barang Jiyeon yang tertata rapi di kamarnya.

Dengan ringan ia menggerakkan kaki kurusnya dan menghampiri Jiyeon yang sedang menonton.

“Jiyeon… bisakah aku meminjam pakaianmu sehari saja. Aku tidak punya baju yang pantas untuk dipakai,” bujuknya.

“Benarkah?”

Chorong membalas pertanyaan Jiyeon dengan anggukan.

“Memang mau ke mana?”

Chorong mengacak rambutnya sendiri. “Itu.. aku mau, mau bertemu dengan orang tua Donghae,” jawab Chorong malu.

Setelah pertemuannya dengan Donghae, ia telah menceritakan rencana pernikahannya dengan lelaki yang mengantarnya pulang. Anehnya tidak ada penolakan dari mereka, bahkan mereka sangat senang. Terlebih saat ia berjanji akan memberikan rumah kepada mereka sebagai hadiah pernikahannya. Bibi Kim yang biasanya cerewet. Sekarang sudah tak beraksi lagi.

“Akan aku buat Donghae tak menyesal memilihmu sebagai calon istrinya.”

Jiyeon menarik tangan Chorong dan membawanya ke kamarnya. Ia membuka lemarinya. Chorong sempat terpana melihat tumpukan baju Jiyeon yang menurutya sangat indah.

Jiyeon sibuk memilih baju untuk adik iparnya. Beberapa kali Chorong harus bolak balik untuk mencoba baju milik Jiyeon. Akhirnya gaun putih selutut tanpa lengan menjadi pakaian yang sangat pas untuk dirinya.

Chorong berjalan tertatih-tatih saat menghampiri mobil Donghae yang kini terparkir di depan rumahnya. Baru kali ini ia memakai sepatu yang tingginya hampir sejengkal. Sebelumnya ia belum pernah memakai benda itu. Kkk bukankah dia perempuan? Bagaimana bisa ia belum pernah memakai barang yang lazim dipakai oleh kaum hawa tersebut.

Chorong juga sesekali menurunkan gaunnya. Dia merasa tidak percaya diri dengan penampilannya hari ini. Dia seperti tidak mengenal dirinya sendiri.

Donghae keluar dari mobilnya saat melihat kedatangan Chorong. Langkahnya terhenti saat melihat sosok di depannya secara jelas. Gadis itu terlihat beda dari biasanya. Tidak seperti masa sebelumnya yang tampil seperti preman, namun lihat sekarang dia seperti seorang putri. Donghae menepis lamunannya. Ia kembali bersikap biasa saja.

Chorong tak bisa mengendalikan dirinya saat Donghae menatapnya lekat-lekat. Apa yang salah dengan dirinya. Apakah ia lupa mengkancing bajunya. Tidak.. bukan itu, bukankah gaunnya tak memiliki kancing. Lalu apakah lipstiknya belepotan, bukan juga. Karena sedari tadi ia mondar mandir melihat kaca untuk mengecek penampilannya. Chorong tersenyum tipis.

“Cantik.” begitulah ujar Jiyeon setelah selesai mendadaninya.

“Silahkan masuk,” ujar Donghae setelah membukakan pintu penumpang untuk Chorong.

Chorong hanya mengikuti perkataan Donghae.

Mobil itu kini menuju ke Mokpo terletak di Jeolla Selatan yang merupakan wilayah hijau Korea. Chorong begitu terpesona ketika melihat daerah itu, matanya semakin takjub melihat keindahan pesisir pantai. Terakhir ia pergi ke daerah ini saat orang tuanya masih hidup. Selama ini ia masih membayangkan daerah itu sepi di pinggir hutan. Penduduknya yang masih mandi dan buang air di pantai. Tapi ternyata, kenyataannya tidak. Chorong mengambil ponselnya kemudian mengambil gambar di jalanan yang menurutnya menarik.

“Yaa.. berhentilah berkelakuan kekanak-kanakan seperti itu,” teriak Donghae risih melihat tingkah calon istrinya.

“Aigoo, bukankah ini sangat indah.”

Pemandangan jalan menuju Mokpo memang mampu menyejukkan mata. Terlebih mereka melewati medan terjal dengan tebing curam dan formasi batuan yang khas juga dengan lereng bukit berhutan.

“Hey lain kali panggil aku oppa,” perintah Donghae

“Apa?” tanya Chorong kaget.

“Apa kau tidak punya telinga. PANGGIL AKU OPPA.”

“Ya gendang telingaku bisa pecah, TOA. Buat apa aku panggil oppa, jelas-jelas kita seumuran.”

“Setidaknya kau memanggilku oppa di depan ibu dan nenekku. Kau juga harus jaga sopan santunmu di depan mereka nanti.”

“Aku mengerti tukang paksa.”

“Coba kau panggil aku oppa?” goda Donghae

“Tidak mau.”

“Ayolah.”

“Tidak.”

Dongahe menepuk pelan lengan Chorong. Sentuhan kecil itu berhasil membuat Chorong kesetrum.

“Ku mohon.”

“Baik-baik aku menyerah.”

Chorong menghembuskan nafas. Rasanya aneh sekali memanggilnya. “oppa…” ucapnya dengan suara pelan.

“APA??? aku tidak mendengarnya,” ujar laki-laki itu sambil memegang kupingnya.

“DONGHAE OPPA.”

Mobil Donghae terhenti tepat di depan gerbang yang menjulang tinggi. Pagar itu terbuka secara otomatis setelah terdengar bunyi klakson. Donghae memarkirkan mobilnya di pekarangan bawah pohon. Rumah ini sangat asri. Terdapat banyak sekali jenis bunga di sana. Rumah ini cukup luas, bangunan khas Eropa masih melekat di sini. Benar-benar rumah idaman.

Chorong mengikuti langkah Donghae. Tiba-tiba saja dia mendadak gugup. Tangannya sudah mulai dingin. Diremas-remasnya ujung gaunnya. Tangan yang dingin itu seketika hangat saat sebuah tangan menyambutnya. Chorong hanya bisa tersenyum. Donghae mengeratkan pegangannya kemudian memasuki rumah tersebut.

Ketika tiba di rumah Donghae yang sebesar empat kali rumahnya, Chorong memukul lengan Donghae gemas. Ruang utamanya sepuluh kali lipat lebih mewah dari ruang utama di rumahnya.

Baru tiba saja, Chorong sudah merasa betah. Panas sudah tidak terasa lagi di sana karena difasilitasi oleh pendingin ruangan. Rumahnya juga bersih, sangat asri. Ia juga heran dengan mobil-mobil yang berderet-deret di garasi. Pantas saja Donghae mau saja bersedia memenuhi permintaannya.

Tetapi meskipun mengesankan orang kaya, Ibu Donghae tidak tampak angkuh. Dia menyambut kedatangan calon menantunya dengan ramah. Ibu Donghae tak kalah menariknya. Dia begitu cantik dan terlihat masih segar.

Wajah Chorong sumringah saat melihat banyak kue yang sudah tersaji di depan meja. Mumpung gratis. Si muka tebal pun bereaksi. Ia terlihat asyik mencicipi beraneka ragam kue yang ditawarkan ibunya. Duh.. memakan semua kue ini setidaknya dapat menghemat selama satu hari.

Beberapa macam kue yang tersaji memang belum pernah ia cicipi. Hanya pernah melihatnya di jalan. Dan sering berniat membeli namun tidak jadi karena kondisi dompetnya yang tak pernah bersahabat.

“Aigoo calon menantu ibu ternyata sangat cantik.”

“Iya. Terima kasih nyonya Lee.”

Tak lama setelah menjawab pertanyaan ibu Donghae, sebuah hantaman menimpa kaki Chorong. Chorong melototi Donghae yang kemudian dipelototi balik. Seolah Donghae ingin berpesan “jaga tingkahmu”.

“Kamu sudah tidak perlu memanggilku seperti itu. Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan eomma.”

“Baiklah eomma. Eomma juga terlihat sangat cantik. Wajah eomma tetap segar dan mempesona,” puji Chorong.

“Haha bisa saja kamu,” ibu Donghae tertawa. Bahkan saat tertawa keriput di wajahnya tidak terlihat.

“Makanya jangan heran jika anaknya juga setampan aku,” sela Donghae minta dipuji.

Dalam sekejap telapak kaki Donghae sudah di hantam oleh kaki Chorong.

“Kalau tidak tampan, tak mungkin kau mengejarku semenjak awal kuliah,” cerocosnya.

Kalau saja ibu Donghae tidak berada di depannya, Chorong sudah berniat mencabut mulut Donghae lalu menyumpalnya dengan celana dalam.

Chorong hanya merespon dengan tawa yang dipaksakan.

“Oppa bisa saja,” goda Chorong. Kemudian tangan kanannya meraih tubuh Donghae kemudian meremasnya.

Tubuh Donghae terlonjak bukan karena sakit melainkan geli. Cengkraman Chorong terlalu lemah. Sekujur tubuh Donghae mendadak berhenti. Membangkitkan gairahnya.

“Ibuku sepertinya sudah mulai menyukaimu,” ucap Donghae saat mereka telah sampai di rumah Chorong.

“Kuharap begitu,” balasnya sambil melepaskan safety belt.

Saat keluar dari mobil. “Kau tidak mampir dulu,” tawar Chorong.

“Lain kali sajalah. Hari ini aku mau lembur besok ada rapat dengan para investor. Oh ya besok aku tidak bisa menemanimu fitting gaun pengantin. Kau bisa pergi dengan sopirku.”

“Baiklah oppa.”

Mendengar Chorong memanggilnya oppa membuat dirinya nyaman. Bukankah sebutan itu hanya berlaku jika sedang bertemu dengan keluarga. Tak apa-apalah toh Donghae juga senang mendengar itu.

Donghae berbisik tepat di dekat pipi Chorong, “Dandanlah yang cantik karena aku senang melihatnya.” Setelah mengatakan itu, ia melambaikan tangannya.

Sepertinya jantung Chorong akan lebih giat lagi berolahraga jika terus berada di samping Donghae.

* * *

Chorong menatap bayangannya lekat-lekat. Tubuhnya kini telah dibalut dengan gaun pengantin persis seperti impiannya sejak ia berusia lima tahun silam. Kalau dipikir-pikir ia memang cantik seperti yang selalu dibilang ayahnya. Hanya saja ia tak pernah menampilkan sisi menariknya.

Tiba-tiba saja ruangan itu jauh lebih indah. Orang-orang berlalu lalang dengan mengenakan pakaian rapi. Dalam sekejap mereka tampak lebih baik. Di saat seperti ini orang pertama yang muncul adalah kedua orang tuanya. Andai saja mereka melihat ini pasti mereka akan sangat bahagia. Mereka melanggar janji, dulu mereka berjanji untuk mendampingi dirinya saat menikah. Seandainya mereka muncul saat ini juga, dapat dipastikan akan menjadi obat kerinduannya selama belasan tahun.

Penekan rasa rindu itu pun hadir di hadapan Chorong. Paman Kim datang menghampirinya. Ia menatap paman Kim dengan senyuman. Paman Kim turut membalasnya dengan senyuman. Senyuman yang penuh arti, seolah paman Kim merasakan kedamaian saat ini.

“Paman masih belum bisa percaya gadis kecil ini telah tumbuh dewasa,” ucapya sambil mengusap bahu Chorong.

“Mmm.”

“Dulu, dua puluh tahun yang lalu. Tanpa sengaja aku menemukan seorang gadis kecil dengan rambut terkepang dua dengan darah yang berlumur di pelipisnya. Aku menggendongnya senang, mungkin ini adalah berkah yang diberikan Tuhan untuk memberiku seorang putri. Gadis kecil yang kutemukan di dalam mobil tak pernah berhenti menangis. Aku sangat panik melihat darah yang terus mengucur di pelipisnya.”

Chorong mendekati tempat duduk pria yang menginjak kepala lima itu, peluhnya mulai menetes di ujung dagunya.

“Hanya memerlukan dua hari gadis kecil itu sudah diperbolehkan ke rumah. Aku menggendongnya ke rumahku. Gadis kecil itu masih terlalu kecil, ia bahkan belum bisa memencet bel rumah. Betapa pun susahnya mencari uang, namun aku selalu menyisakkan tabunganku untuk membelikan boneka untuk gadis kecil. Dan pada saat itu gadis kecil pernah merengek-rengek minta dibelikan sepeda. Yang keluar dari mulutku adalah “Tidak… tidak bisa”, padahal dalam batin, aku ingin sekali mengatakan. “Iya sayang, nanti akanku belikan untukmu.” Tahukah kamu bahwa pada saat itu aku merasa gagal sebagai orang tua.

Paman Kim menyeka peluh yang membasahi pelipisinya kemudian melanjutkan ceritantya “Ketika gadis kecilku sudah bisa memencet bel dengan tangannya sendiri. Di situlah aku mulai resah. Gadisku telah tumbuh menjadi seorang gadis cantik. Aku kerap kali menunggunya di depan pintu ketika ia belum pulang. Aku sering kali memarahinya. Namun setelah melepaskan amarah, hatiku mulai sesak. Gadis cantik itu kini semakin sempurna dengan balutan gaun pengantin. Di situlah aku sadar bahwa aku sudah tak memiliki wewenang untuk memarahinya lagi.”

Chorong tertegun mendengarkan pengakuan dari pamannya. Ia meraih bahu pamannya kemudian mengusapnya. Terdengar dengan samar suara tangis paman. Bulir-bulir bening keluar dari rongga matanya, menempel di pipinya, dan sisa tetesnya jatuh membasahi celana kain hitamnya.

“Ayo pengantin laki-lakinya sudah siap,” ujar Hoya mengajak keduanya untuk mengakhiri dramanya.

Donghae tersenyum saat melihat Chorong digandeng oleh pamannya. Di belakangnya ada Jiyeon yang mengangkat gaun panjang Chorong. Beberapa detik Donghae menatap secara terus-menerus namun sekejap ia menggeleng-gelengkan kepalanya agar fokus mengucap janji sehidup semati bersama wanita yang menuju ke arahnya kini.

Pria yang sudah memakai pakaian rapi itu mengulurkan kedua tangannya. Paman Kim meletakkan tangan Chorong di tangan Donghae.

“Aku titip gadis kecilku bersamamu, jaga dia baik-baik dan jangan buat dia mengeluarkan setetes air mata. Aku percayakan semuanya padamu anak muda.”

“Baik paman,” jawab Donghae kemudian ia membawa Chorong menuju altar.

“Tuan Lee Donghae. Apakah saudara bersedia menerima Park Chorong dengan tulus dan ikhlas?” tanya sang pastur kepada Donghae.

“Ya, saya bersedia.”

“Bersediakah saudara mengasihi, menghormati, dan selalu setia kepada istri saudara sampai maut memisahkan?”

“Ya, saya bersedia.”

“Bersediakah saudara menjadi ayah yang baik atas anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saudara dan mendidik mereka dalam iman kepada Tuhan?” tanya pastur itu lagi.

“Ya, saya bersedia.”

Setelah mendengar jawaban Donghae, pastur itu beralih menatap Chorong dan menanyakan pertanyaan yang sama.

Setelah pernyataan itu selesai. Keduanya mengulurkan tangan dan menaruhnya di atas Alkitab.

“Di hadapan pastor dan para hadirin yang berada dalam iman Tuhan. Saya Lee Donghae bersumpah dengan ikhlas hati menjadikan Park Chorong sebagai istri saya. Saya berjanji akan melindunginya dan melindungi rumah tangga kami. Saya berjanji akan membahagiakannya dan tidak akan pernah membiarkannya mengeluarkan barang setetes air mata. Demikian janji di depan Tuhan dan hadapan para hadirin semuanya.

“Saya Park Chorong bersedia menerima Lee Donghae sebagai suami saya. Kami akan menjaga keharmonisan rumah tangga kami sampai maut memisahkan.”

Benarkah itu? bukankah ini hanya kawin kontrak. Namun Chorong berjanji akan memberi perangkap kepada Donghae untuk jatuh ke dalam dunianya. Let’s see

Setelah mengucapkannya. Donghae memasangkan cincin pernikahan. Chorong pun melakukan hal yang sama tanpa berani mengangkat wajahnya.

Donghae kemudian mendekati Chorong, ia perlahan membuka jaring-jaring yang menutup setengah wajahnya. Mau tak mau Chorong mengadahkan wajahnya. Jantungnya terasa meletup-letup saat berhasil melihat Donghae lebih dekat. Tampan… itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan wajah pria yang berada tidak lebih lima inci dari wajahnya. Setelah itu Donghae meraih tengkuk Chorong, mendekatkan wajahnya sehingga berhasil menangkap hembusan nafasnya.

Chorong menutup matanya. Ia mengerucutkan mulutnya untuk menyambut bibir lembut Donghae. Dalam sekejap keningnya sudah disapu oleh bibir lembut itu, sedangkan mulutnya terkunci oleh tangan halus Donghae. Sial desisnya.

Saat itulah Chorong merasakan dirinya adalah milik Donghae semata. Lelaki yang telah disayanginya sejak hampir lima tahun itu. Tuhan telah membalas permohonannya. Tuhan juga mengabulkan permintaannya untuk menikah dengan pangeran berkuda putih yang diganti Tuhan menjadi pangeran bertuxedo putih.

Ayah.. Ibu apakah kalian melihat ini, kalian pasti berbahagia melihat ini. kalian juga telah memenuhi janji kalian untuk menyaksikan pernikahanku di surga sana. Batin Chorong

To Be Continued

 

11 responses to “It’s Not You [Part 5]

  1. Yeeee AkhirnYa… Chorong mnIkah juga sma ci Ikan Mokpo..
    SenangNya.. 😀
    makin gReget bAca ni FF autHor-nim.. L
    lAnjuuuttt!!!
    Semangatttt..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s