Admire

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

Admire cover fan fiction

|| Main Cast : BTS’s Suga and OC ( Jully) ||

|| Rating : Teen || Length : Ficlet || Genre : Fluff  ||

Admire

By

Dinuts

 

Fisika memang tidak ada pengaruhnya dengan Sastra, hanya saja secara kebetulan mereka bisa bersatu.

 –

Secara sadar, Jully mengedarkan pandangannya mengikuti pergerakan seseorang pria – yang baru muncul dari depan pintu kelas menuju ke tempat dimana ia duduk. Tak ada satu kedipan mata bagi Jully, memperhatikan pria itu hingga ia selamat mendaratkan tubuhnya di kursi kayu yang berwarna coklat muda.

Jully tidak pernah merasa dirinya berlebihan, karena baginya; ini adalah reflex yang tak sengaja ia lakukan. Terlebih, ia selalu melakukannya acap kali pria ini datang.

Pria – yang mempunyai kepribadian unik ini bernama Suga, dan Jully yang secara konyol sering menambahkan huruf ‘R’ di akhir namanya yang membuat ia selalu diprotes oleh si pemilik nama itu. 

Suga memang bukan tipikal pria yang suka banyak bicara, dan Jully tahu akan hal itu. Bahkan untuk yang kesekian kalinya, Jully pernah dibuat kikuk karena pria ini selalu menganggap hal lelucon menjadi serius. Dan akhirnya, Jully yang akan tertawa renyah sendirian.

Suga memang begitu, dan Jully tak pernah kapok untuk mengganggunya

Hal tersemat yang sulit ditafsirkan Jully adalah, Suga-maniak-Fisika terutama tentang ilmu Astronomi. Ia selalu berpendapat bahwa pria adalah hal langka yang mempunyai kemaniakan dalam dunia pengetahuan alam – terlebih fisika yang terlalu banyak menghitung.

Setiap kali datang di hari selasa dan kamis, Suga akan tenggelam dalam dunianya – membaca buku fisika yang tebalnya hampir lima centimeter di bagian ke duabelas yang akhir-akhir ini Jully perhatikan.

Ada apa dengan pria yang satu ini?

Jemarinya bergerak di setiap kalimat yang ia baca, matanya mencoba menela’ah isi dari bacaan tersebut dan bibirnya mengikuti pergerakan dari kalimat-per-kalimat. Jully sangat bersyukur, duduk di samping belakangnya yang membuat ia dengan leluasa memperhatikannya secara gratis.

Banyak hal yang Jully ketahui tentang Suga – termasuk ia pembenci pelajaran sastra. Sungguh berbanding terbalik dengan Jully.

Suga, bahkan sudah berkali-kali ditegur oleh guru sastra yang akhirnya membuat dia mendapatkan nilai  D dalam hal kepribadian dan kesopanan. Hingga ia pernah pulang larut karena harus melengkapi beberapa materi yang tertinggal. Suga bukannya bodoh dalam sastra, hanya saja sastra baginya terlalu berlebihan.

Jully masih mengingat ketika spidol papan tulis melayang dan jatuh tepat di kening Suga, karena guru Kim sudah kelewat naik darah dengan pria ini.

Suga lebih suka memperhatikan hujan dari pada mendengarkan penjelasan tentang sastra.

Suga lebih menyukai tidur ketika tidak hujan saat pelajaran sastra dimulai, dan

Suga akan lebih menyukai izin pergi ke toilet, jika ia tidak mengantuk saat pelajaran sastra berlangsung.

Dan Jully, tidak menyukai pilihan yang ketiga itu, menurutnya ;

Suga akan terlihat manis ketika ia sedang memperhatikan hujan dari jendela kelas

Suga akan terlihat imut ketika ia sedang tidur menghadap ke arahnya.

Tapi Jully tidak mau larut menghabiskan waktunya hanya untuk memperhatikan pria itu. Sastra, terlalu sayang jika terlewatkan.

“ Hei.”

Jully tersadar akan lamunannya, karena Suga membuatnya kaget.

“ Ya?” Jully menunjuk dirinya sendiri, memastikan apakah benar, pria ini menyapanya dengan ‘hei’

Tanpa aba-aba, Suga langsung menghampiri dirinya sembari membawa buku fisika yang sedari tadi dibaca olehnya. Hal yang membuat Jully bersemu adalah Suga yang meminta Jully untuk menggeser tempat duduknya agar Suga duduk di sampingnya.

Kau sukses membuat pipi Jully merona, Suga

“ Apa kau tahu maksud dari kalimat ini?” Suga dengan sigap menunjuk beberapa baris kalimat yang disertai gambar bintang-bintang yang bertebaran dan beberapa galaxy.

Kesempatan ini langsung diterima baik oleh Jully. Meskipun Jully bukan orang yang mahir dalm hal fisika, tapi apa salahnya jika ia akan terus menjebak Suga dan mengganggunya selagi pria itu di sampingnya.

Suga jadi terlihat tampan saat rambutnya yang berwarna coklat kemerahan terpapar sinar matahari yang memantul dari jendela, menyembul ke depan.

Suga jadi terlihat manis ketika tersenyum karena ia kebingungan dengan kalimat yang ditanyanya. Senyum di bibirnya merekah, bersinggungan dengan matanya yang sedikit menyipit.

Terlebih, karena saat ini, Jully seperti ketiban durian runtuh bersama pepohonannya – ia bisa melihat Suga secara dekat. Ini adalah hal perdana.

“ Jull??” lagi-lagi Suga membuyarkan lamunan Jully.

“ Yaaa..?”

“ Kau mengerti tidak sih dengan kalimat ini?” tanyanya sembari menunjukan kalimat yang dari tadi ia sebutkan, namun belum mendapatkan respon dari Jully sama sekali.

Jully akhirnya mengamati kalimat tersebut dan menjelaskan beberapa yang ia tahu.

Beberapa saat mereka terdiam, hingga otak Jully meresponnya untuk menanyakan hal yang sungguh tidak penting sepertinya.

“ Suga….??”

“ Hmmm,” Suga menjawab namun pandangannya masih terobsesi dengan buku fisika miliknya. “ Ada apa.?” Serta merta Suga menoleh yang akhirnya membuat Jully harus menahan napas dan mendadak frekuensi jantungnya tidak berjalan dengan normal.

Ini baru yang namanya berlebihan, Jull

“ Apa alasanmu sampai-sampai membenci pelajaran sastra?”

Ada satu penyesalan dalam diri Jully. Ia takut pertanyaan ini membuat Suga akan menjauhinya dan tidak lagi menanyakan hal fisika seperti saat ini.

Tapi tidak, Suga hanya tersenyum. Ia mulai mengetuk-ngetukan jari telunjuknya ke meja sembari berfikir, dan pada ketukan kelima ia berhenti untuk menjawab.

“ Karena kata orang, sastra itu menyedihkan.”

Sungguh jawaban yang tidak masuk akal

“ Begitu ya?” Jully menyeritkan dahi.

Suga tertawa, yang sejujurnya menurut Jully ini tidak lucu.

“ Tidak, aku tidak membenci sastra,” ada sedikit jeda dalam bicaranya yang membuat Jully semakin penasaran “ Selagi kau selalu meminjamkan aku catatannya dan menjelaskan yang tidak ku tahu. Aku tidak akan membencinya.”

Itu pasti

Jully tersenyum dan menundukan kepalanya, pipinya mulai terlihat merona kembali. Pria di sampingnya ini, sukses membuat Jully seperti tanaman putri malu.

“ Oh ya, istirahat nanti, kau mau ke kantin bersamaku? Aku yang traktir,” ajak Suga. Sekali lagi, Suga membuat Jully menjadi sesuatu yang sulit untuk ditafsirkan. Tingkah Jully pun semakin absurd “ Kau sudah banyak membantu, tidak ada salahnya kan?”

Jully menaikan kedua alisnya, berupaya untuk tetap dalam kondisi normal agar tingkahnya tidak segara diketahui oleh Suga.

“  Ide yang bagus, kebetulan aku juga sedang ingin makan di kantin.”

Ini yang selalu diharapkan. Jully memang selalu berharap, bahwa Suga tetaplah menjadi seperti ini. Biarlah ia berkembang sesuai dengan dirinya sendiri.  Biarlah bagaimana cara Suga membenci pelajaran sastra dan menjadi maniak fisika. Bukankah setiap orang itu berbeda-beda?

fin.

14 responses to “Admire

  1. Beuh suga suga sugaaaa si min yoongi hehehe kerjaan part time ku jadi bts army. Mana kim taehyung ini? Hihi bagus thor ffnya aku suka hehe ditunggu ff selanjutnya okey? ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s