Between The Chocolate

BETWEEN THE CHOCOLATE copy

 

Cast(s) : Kim Jongin & YOU || Genre : Fluff? Friendship || Length : Ficlet lebih dikit (?) || Rating : Teen || Author : MiraeLee (@cumiraw6)

Disclaimer : Own the plot and poster (yang foto aslinya didapet dari google). Maaf posternya rada ga nyambung -__-a

Happy reading!

 

Hari ini kalian—kau dan Jongin—berencana mengaransemen sebuah lagu dan berlatih untuk performance kalian di suatu acara—Showcase—yang akan dihelat sekolah musikmu sekitar dua bulan lagi.

Sebelumnya kau disarankan untuk memakai seorang penari agar nantinya musik yang kau mainkan bisa lebih tersampaikan pada para penonton. Sedangkan siapa penari yang akan membantumu itu, ditentukan olehmu sendiri. Sejak pertama kali mendengar frasa ‘seorang penari’ kala itu, Jongin langsung muncul di kepalamu dan kau merasa beruntung karena tidak perlu mencari-cari penari yang lain.

Lagipula kau memang belum pernah menemukan orang lain yang menari lebih bagus dari Kim Jongin. Di umur yang masih muda, tepatnya sejak tiga tahun yang lalu, laki-laki itu—secara solo—sudah pernah memamerkan kemampuannya di hadapan para profesional seperti Nakotah Larance dan Duncan Bersaudara.

Maka di sinilah kalian sekarang.

Supermarket.

Eh?

Oh, jangan salah. Berlatih tentu memerlukan energi. Energi didapat dari makanan, dan di apartemenmu kebetulan sudah tidak tersedia makanan. Karena itulah kalian memutuskan untuk berbelanja terlebih dulu.

Cerdas, kan?

Dan ketika aku menyebut kata ‘belanja’ di sini, berarti kalian benar-benar belanja hingga troli yang kalian dorong secara bergantian tampak penuh. Jongin memasukkan segala hal yang diinginkannya ke sana, dan mengambil segala hal tersebut dalam porsi terbesar. Bahan masakan, camilan, snack, minuman…

Meski sudah terbiasa dengan sifat serampangan sahabatmu ini, kau tetap hampir menjatuhkan rahangmu melihatnya, tapi kau berhasil menguasai diri dan ekspresimu agar tidak terlihat bodoh. Namun ketika kau menyadari kalian terlalu banyak menghabiskan waktu di supermarket, akhirnya kau menyeret Jongin untuk segera membayar dan pulang.

Kalian sampai di apartemenmu tiga puluh menit kemudian, dengan butir-butir salju yang menempel di pakaian dan rambut, dan dengan dua kantung belanjaan di masing-masing tangan—Jongin membawa yang berukuran besar-besar.

Aigo, pesta besar.” kekeh Jongin ketika kau baru saja ikut meletakkan belanjaan kalian di atas pantry di dapur.

“Awas kalau kau membuat semua yang kau beli ini teronggok tak berguna di apartemenku.” ujarmu mengancam.

Kau memang bukan tipe orang yang suka makan. Itu sebabnya kau jarang berbelanja banyak dan seringkali membuat apartemenmu less food. Tapi karena Jongin, sepertinya lemari pendinginmu akan penuh hari ini. Dan kau khawatir kalian tidak akan mampu menghabiskan semuanya dalam waktu dekat.

“Ck, tentu saja aku kan membuatmu membantuku menghabiskan semuanya.” balas Jongin, nyengir sambil membersihkan salju di rambutmu, kemudian membantumu melepas mantel.

Gomawo.” kau tersenyum pendek dan mulai membongkar satu-persatu kantung belanjaan untuk disusun di dalam lemari pendingin. Sementara itu Jongin menghilang ke ruang tengah untuk menyimpan mantel kalian, lalu tidak lama kembali lagi sambil memainkan ponsel di tangannya.

“Kau bahkan membeli sikat gigi.” Kau bergumam agak keras, memastikan pemuda itu mendengar nada sarkasmu.

Jongin terkekeh dan mengambil kemasan sikat gigi yang baru saja kaukeluarkan dari kantung, “Aku suka warnanya. Lagipula kita bisa menganggap ini sikat gigi couple. Lihat, kau bisa menggunakan yang merah dan aku yang toska ini.” katanya dengan cengiran lebar.

Seketika kau menghentikan kegiatanmu, menatap Jongin beberapa saat tapi segera kembali membuang pandangan lagi ke dalam kantung di hadapanmu. Sejenak hening, kemudian lamunanmu buyar ketika kaulihat Jongin pun ikut membantu membereskan bahan-bahan makanan itu ke dalam lemari pendingin, kecuali sebagian kecil makanan-makanan ringan yang kalian beli dan juga bahan-bahan yang sudah berencana kalian olah menjadi spaghetti dan pancake sekarang.

Dan kau segera menarik dirimu pada kenyataan lagi.

Beberapa menit kemudian, kalian sudah selesai dengan menyusun belanjaan. Sebelum kau berpikir untuk mencari apron, Jongin sudah mengenakan benda berwarna cokelat tua itu pada dirinya sendiri dan ber-‘hehehe’ ringan ketika kau mengamatinya.

“Biarkan aku yang memasak.”

Kau butuh dua detik untuk mencerna perkataannya, sebelum menjawab sambil tertawa kecil, “Apa? Tidak, Jongin. Aku masih mau dapurku selamat.”

“Aku hanya mau membantu. Yaa, kalau hanya membuat pancake, sekarang aku juga bisa.”

Tetap saja kau sangsi. Jongin sudah pernah berkata seperti itu di kesempatan yang berbeda dan kala itu dia berakhir dengan menodai kepercayaanmu—dan juga dapurmu. Mana mungkin sekarang kau membiarkannya begitu saja?

Jongin melangkah mendekatimu sambil sedikit merunduk demi mensejajarkan level pandangan kalian, “Ya? Ya? Ya?”

Oh, dasar perayu yang payah.

“Jangan mencoba bersikap manis begitu.” kekehmu sambil membalikkan badan menghadapi bahan-bahan masakan dan berniat mulai membuat adonan pancake, “Sama sekali tidak berpengaruh padaku, kau tahu.”

Menghela napas menyerah, akhirnya Jongin terkekeh samar dan hanya menjawab, “Arasso.” sambil mengangkat kedua tangannya seperti memberi pernyataan menyerah. Dia mengambil sebungkus keripik kentang, setelah itu menyingkir dari hadapan kompor dan duduk di ruang tengah—dimana dia masih bisa mengamatimu dari sana—tanpa melepas apronnya.

Kau mendengar Jongin menyalakan TV lalu membuka kemasan keripik kentangnya, memindah-mindah channel sambil mengunyah makanan itu dengan tenang, sementara kau mencampur-campurkan tepung terigu, tiga butir telur dan susu cair ke dalam mangkuk adonan sebelum mengaduknya dengan terampil.

Untuk beberapa saat, hanya suara reporter berita dari televisi yang sampai ke telinga kalian berdua, sebelum kemudian Jongin bertanya, “Apa kau sudah tahu, kemarin lusa aku bertemu dengan Soojung?”

Mendengar nama itu, kau menghentikan gerakan tanganmu dengan otomatis, lalu menoleh sebentar padanya yang sedang duduk memunggungimu di sofa, “Oh, ya? Belum, aku belum tahu.” Kau menjaga suaramu terdengar sesantai mungkin.

Soojung adalah mantan kekasih laki-laki itu. Mereka berpisah sekitar dua tahun yang lalu karena gadis itu meninggalkan Jongin begitu saja ke Eropa dan menetap di sana, tanpa kabar apapun. Kau dan Jongin sudah bersahabat sejak lama, jadi kau tahu betul bahwa Jongin benar-benar menyayangi gadis itu hingga sangat berusaha mencari informasi sekecil apapun tentangnya.

Sekitar satu tahun setelah kepergian Soojung dan masih juga tidak ada kabar apapun yang Jongin harapkan, laki-laki itu berani terbang ke negara tersebut dan mengunjungi universitas yang diinformasikan menjadi tempat Soojung melanjutkan pendidikannya.

Dan ketika laki-laki itu kemudian kembali ke Seoul, dia hanya berkata padamu bahwa dia telah dicampakkan dan bertindak seolah berusaha melupakan Soojung. Sedangkan apa yang terjadi di sana, dan apa yang didengar dan dilihat Jongin dari Soojung, hingga sekarang masih menjadi misteri bagimu dan bagi orang-orang terdekat kalian.

Sekarang hampir satu tahun berlalu. Selama itu kau tidak pernah mendengar lagi Jongin menyebut nama Soojung, hingga beberapa saat barusan. Dan sejujurnya itu membuatmu merasakan hal familiar yang sudah lama tidak muncul di salah satu sudut hatimu. Perasaan semacam, ‘ah, ya. Jongin masih menyimpan Soojung di dasar pikirannya.’—dan, ‘aku hanya sahabatnya.’

“Dimana kalian bertemu?” kau bertanya karena tidak mendengar Jongin mengatakan apapun lagi.

“Di depan gedung apartemenku, beberapa hari yang lalu. Waktu itu aku sedang akan ke sini untuk merecokimu.”

Kau bisa merasakan kerutan terbentuk di antara kedua alismu selagi kedua tanganmu bekerja menuangkan butter ke atas pan yang sebelumnya sudah kau taruh di atas kompor. Sebelum mengira-ngira lebih banyak, kau kembali bertanya, “Dia sengaja datang untuk menemuimu?”

“Oh? Kenapa kau terdengar sinis?”

Uh-oh.

“Tidak, aku tidak sinis.”

“Kau terdengar sinis.”

Baiklah, memang. Tapi kau tidak mengira kesinisan itu akan terdengar jelas, setidaknya.

Kau menghela napas dan berdeham pelan sambil sedikit menyingkirkan ponimu yang sudah panjang dan hampir menutupi mata, “Baiklah, aku hanya sedikit kesal, maaf.” akumu akhirnya, tidak secara implisit, “Jadi, apa yang kalian bicarakan?”

“Tidak ada.” Kini Jongin benar-benar berhenti memakan keripik kentangnya. Dan mendengar suara gesekan kain, kau membayangkan Jongin kini sedang memutar tubuhnya ke arahmu, dengan satu atau kedua tangannya terlipat di atas sandaran sofa, “Kami bahkan tidak bertukar sapa.”

Lagi-lagi dahimu berkerut dalam. Sepercik rasa lega sepertinya sempat muncul dalam dirimu. Namun dengan masih enggan menoleh ke arahnya, kau menanggapi sambil menuangkan adonan pancake ke atas pan dan membuatnya berbentuk lingkaran, “Jadi pertemuan macam apa itu sebenarnya?”

“Kami hanya berpapasan, kebetulan saling melihat, dan sempat berhenti sebentar untuk saling menoleh lagi. Tapi rasanya aku lebih dulu memalingkan wajah darinya dan langsung pergi. Uniknya, aku bahkan baru ingat wajah itu milik Soojung setelah beberapa menit kemudian.”

Kau mendengus geli—setengah tidak percaya—sambil merapikan sisi-sisi dari pancake kalian, “Terdengar seperti adegan drama.”

Geureussae..” dia menanggapi dengan nada yang dipanjang-panjangkan. Kau meletakkan spatula, mbalikkan badan dan menyeberang ke pantry ketika kaulihat kameramu tergeletak di sana, setelah kaugunakan untuk iseng-iseng merekam sambil sarapan tadi pagi.

Tanpa pikir panjang kau membuka flap layar kamera itu dan mengarahkan lensanya pada Jongin yang ternyata memang sedang menghadap padamu di sofa. Kau menekan tombol rekam sambil bertanya, “Kau sedang balas dendam padanya? Entah kenapa aku malah berpikir begitu.”

“Atau aku memang sudah benar-benar bisa melupakannya.” laki-laki itu menjawab tanpa meributkan lensa kamera yang terang-terangan menghadap padanya.

“Secepat itu?”

“Kenapa tidak?” kau mendengar nada suara Jongin turun dan memelan, “Ada kau yang bisa membuatku lebih cepat lupa padanya.”

.

.

Hampir saja kamera itu tergelincir dari tanganmu. Namun dengan sikap santai kau membuatnya terlihat seolah hal tersebut semata-mata karena ketidaksengajaan. Selanjutnya, rasanya tanganmu gemetar dan jantungmu berdegup dengan kecepatan yang sangat aneh ketika kalimat Jongin terus terulang di dalam kepalamu.

Kau sadar seharusnya kau tidak merasa kalimat itu diucapkan Jongin padamu sebagai seorang laki-laki kepada perempuan. Tapi harapanmu sudah jauh lebih dulu melambung tinggi hingga sugesti logismu tak mempan padanya.

Jongin mengaku sudah melupakan Soojung, dan dia menunjukmu sebagai orang yang bisa membuatnya lebih cepat melakukan itu. Apa lagi yang bisa menerbangkan asamu lebih tinggi dari kedua hal ini?

“Tiga ribu won untuk satu detik merekamku.” Dari layar kamera, kau melihat Jongin bangkit dari sofa dan berjalan menuju ke arahmu sambil melanjutkan ucapannya, “Aigo, apa akhirnya kau mengakui kalau aku memang tidak kalah tampan dari Kim Jaejoong?”

Semua yang memenuhi pikiranmu buyar seketika. Dan masih dengan setengah disorientasi, kau menanggapi dengan memutar kedua bola matamu tanpa berhenti merekam setiap geraknya. Ketika laki-laki itu hampir mencapai kompor, barulah kau tersadar dan segera menjeda rekamanmu sebelum menyimpannya kembali dengan asal. Kemudian kau menyambar spatula sedetik sebelum Jongin menyentuhnya.

Andwae, biar aku saja. Aku tidak mau pancake-nya hancur di tanganmu.”

Laki-laki itu tampak terperangah sesaat sebelum memprotes sambil menjitak puncak kepalamu, “Ya ampun, aku tidak separah itu.”

Kau hanya terkekeh sumbang dan membalikkan pancake di atas pan dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena apa yang kau dengar beberapa saat lalu, “Kau rebus spaghetti saja.”

Jongin berdecak pelan tapi menuruti apa yang kau katakan. Selama satu menit ke depan kalian sibuk dengan urusan masing-masing, terkadang bersama-sama menyenandungkan lagu yang kalian pilih secara acak. Hal itu sedikit banyak membuatmu kembali rileks.

Begitu matang, pancake itu kauletakkan di atas sebuah piring dan kaubiarkan sedikit lebih dingin. Sementara itu, tanpa kausadari Jongin yang sudah lebih dulu selesai merebus spaghetti kalian kini sedang memegang kameramu di tangannya dan bergantian melakukan peranmu sebelumnya.

Jja, uri chef.” katanya sambil terkikik, menggodamu. Kau menggumamkan ‘aish’ dan menyibukkan diri mengupas apel untuk nanti ditata di atas piring.

Beautiful girl, wherever you are..” senandung Jongin ketika akhirnya kau menoleh karena dia sempat tidak bersuara selama beberapa detik hingga kau mengira Jongin tidak sedang merekam lagi.

Spaghetti-nya.” ujarmu dengan nada memberitahu yang terkesan bossy. Khas dirimu, menurut Jongin.

“Masih lama. Apinya kecil, jadi santai saja.” kekeh laki-laki berkulit tan itu iseng, “Lihat ke sini!” tambahnya karena kau kembali memotong-motong apel dan menunduk agar rambutmu yang terurai menutupi wajah. Tapi dengan kekehan iseng lagi, Jongin menyibakkan rambut itu dan mengaitkannya ke belakang telingamu.

“Ah, wae? Kau kan, cantik.”

“Kim Jongin-ah.” protesmu datar, final.

Jongin menggembungkan pipi sejenak, merekammu beberapa lama lagi lalu bergumam, “Arasso.”—dan mengembalikan kameranya ke atas pantry, dengan lensa yang menghadap ke arah kalian. Dia menarik pipimu lebih dulu sebelum menghadapi spaghetti-nya lagi sementara kau menghembuskan napas lega keras-keras.

Selesai mengupas apel dan menata hasilnya di atas piring, kau berpikir tidak ada lagi yang perlu dilakukan selain mengawasi Jongin dan rebusan spaghetti-nya. Jadi kau mengambil sebuah cokelat batang—berbentuk silinder sebesar jari telunjuk—dan membuka isinya, lalu menggigit salah satu potongan batangnya di ujung, hingga sebagian besar ujung yang lainnya mencuat keluar.

“Eo? Sedang apa kau?” tanya Jongin yang baru saja mengangkat spaghetti yang sudah selesai direbusnya—setelah kauberitahu sesaat yang lalu. Nada bicaranya terdengar menghakimi. Jadi kau—dengan coklat yang masih di antara bibir—nyengir lebar karena mencuri start memakan camilan kalian.

Awalnya Jongin berpikir hal yang sama, tapi kemudian dia mengangkat alis ketika tiba-tiba saja mendapat ide untuk lebih iseng lagi—bahkan agak nekat. Dengan cukup mendadak, dia sedikit memiringkan wajah mendekatimu dan membuatmu nyaris mati membeku.

Jongin mengigit ujung lain cokelatnya hingga hidung kalian bersinggungan.

Hal itu terjadi selama hampir tiga detik sebelum akhirnya Jongin menjauh lagi karena sudah berhasil memotong batangan cokelat itu dengan giginya. Dan seolah tidak terjadi apa-apa, dia meninggalkanmu yang masih mematung terkejut. Dia menuangkan spaghetti itu ke atas piring lain dan mulai mencampurkan sausnya.

Kau mengerjap dan baru menyadari dirimu sedang menahan napas selama beberapa saat. Wajahmu terasa matang ketika kau menghembuskan napas dalam diam dan benar-benar memakan cokelat yang tersisa di antara gigimu.

Jongin tidak pernah melakukan ini sebelumnya, dan kau sudah merasa melayang dengan hanya merasakan napas Jongin di wajahmu seperti sesaat yang lalu. Padahal bibir kalian sama sekali tidak bersentuhan (dan kau tidak mengharapkan itu jika berhubungan dengan jantung yang pasti akan bekerja ekstra keras).

Laki-laki ini memang penuh kejutan.

Dan berkat apa yang dilakukannya, sekarang kau benar-benar tidak akan takut melambungkan harapanmu jauh lebih tinggi.

Jja, spaghetti-nya hampir siap!”

“O-oh.”

“Kau kenapa?”

Di dalam dirinya, dimana darah berdesir dengan sangat cepat karena jantungnya berdegup secara irasional, Jongin membiarkan pesta bergemuruh. Diliriknya kamera yang disimpan di atas pantry, dan diam-diam tersenyum menyadari benda itu masih merekam.

 

– End –­

64 responses to “Between The Chocolate

  1. lagi suka bgt sama jongin entah kenapa e.e
    trus baca ff ini, bikin pikiran ‘pengen punya suami macem jongin’ atau ‘pengen punya suami jongin beneran’/? itu muncul -..-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s