GEE! [Part 2]

GEE POSTER

GEE!—Part 2

GEE : Tidak ada yang ditakuti olehnya. Menurutnya, ia bisa menguasai seluruh dunia ini dengan genggaman tangannya. Semua orang mengakuinya. Dimana-mana, banyak orang yang tunduk padanya. Park Hana adalah yang terbaik dari yang terbaik. Pintar, kaya, cantik, dan populer. Kesempurnaan menguasainya.

Tapi, seperti yang dikatakan banyak orang. Tidak ada yang sempurna.

Xi Luhan adalah murid pintar, kaya, dan tampan. Ia bahkan bisa memiliki apa yang ia inginkan, bahkan melawan Park Hana sekaligus. Ia mengambil posisi gadis itu yang menjadi juarawan di sekolahnya. Membuat Park Hana marah sekali sampai bersumpah tidak ingin bertemu Xi Luhan sampai mati.

Dan fakta mengenai kesempurnaan Park Hana mulai diragukan sejak saat itu. Orang-orang mulai beralih memperhatikan Xi Luhan, mencari hal tentang lelaki itu, membuat Park Hana bertambah kesal dan geram.

Selanjutnya, semua orang mulai membicarakan cerita cinta, permusuhan, dan berbagai hubungan rumit tentang Park Hana dan Xi Luhan. Bahkan, mereka bertanya-tanya apakah Park Hana akan kembali mengambil posisinya sebagai wanita populer disekolahnya atau gadis itu memang benar-benar tidak akan bertemu Xi Luhan sampai mati?

| GEE! |

 

Author : sanacamberlain

 

Genre : Romance, Comedy, Thriller, Mystery, Marriage Live, School Live

 

Cast : Xi Luhan, Park Hana, and Other Cast

 

Rating : PG 17

 

Leight : Chapter

 Previous chapter : 1

| GEE! TWO |

 

Sebenarnya seberapa besarnya ketidak inginanmu untuk tidak hidup didunia ini bukanlah dirimu pula yang memberi hak atas hidupmu. Semuanya sudah ada aturannya, termasuk ketika dirimu ingin lenyap dari bumi sekalipun. Semuanya memiliki peraturan.

Hari yang cerah sekali di kota Seoul, Korea Selatan. Musim panas sudah pada waktunya dan seluruh masyarakat itu akan menjalankan berbagai macam hal yang menyenangkan di dua bulan kedepan. Aroma-aroma makanan enak dan pakaian-pakaian cantik yang dipajang di etalase toko sudah tercium baunya hingga dua meter jauhnya.

Lokasi bandara yang memang padat jadi makin padat karena musim panas memang selalu membuat banyak kejutan pada para pengusaha dibagian-bagian wirausaha tertentu. Seperti banyaknya orang disana yang merupakan masyarakat asli dan sebagian turis. Apalagi, sekolah-sekolah juga menawarkan berbagai aneka kota untuk dikunjungi selama sebulan penuh. Betapa asyiknya hal itu dan selalu ditunggu-tunggu tiap tahunnya oleh para murid.

“Berikan kesan yang baik sebagai pewaris tahta.” Pesan Ibunya selalu terbayang dibenaknya ketika ia menginjakkan kakinya di pelataran halaman sebuah gedung tinggi yang hampir mirip gedung kepolisian Seoul. Sudah lebih tiga jam Park Hana duduk diatas bangku dengan berbagai macam penilaian yang diberikan para pengunjung ditempat itu. Apalagi kalau bukan Kantor Pusat Rehibilitasi yang begitu menyebalkan. Hana berpikir keras sejak beberapa jam yang lalu. Kenapa ia perlu repot-repot menjaga harga dirinya sedangkan sekarang ia sedang berada dalam sebuah tempat yang membuat harga dirinya drastis menurun?

“Apakah kita masih lama?” Hana menghela napas begitu ia tahu kalau sudah hampir tiga jam menunggu dan duduk ditempat duduk itu. Pantas saja pantatnya sakit sekali dan harus berapa kali ia memperingatkan para pengawalnya kalau ia sama sekali bukan tipe orang yang sabaran.

Salah satu pengawal membungkuk. “Silahkan berdiri dan ikuti Nona itu.” Hana menoleh dan mendapati seorang perempuan sedang tersenyum sopan padanya. Dan tanpa basa-basi lagi, Hana beranjak dari tempatnya dan mengikuti perempuan dihadapannya pergi. Gadis itu menoleh kebelakang dan tidak menemukan pengawalnya. Hanya ia dan perempuan itu dikoridor yang entah menuju ke tempat apa. Ia sendiri malas memikirkan masa depannya di tempat ini.

“Aku cukup senang tinggal disini.” Rupanya ia menyuarakan perasaannya tentang kegembiraan yang ia dapatkan ketika tidak mendapati para pengawalnya dibelakang. Rasanya, belenggu-belenggu yang lama sekali bermarkas dipundaknya benar-benar hilang. Perempuan dihadapannya hanya tersenyum sambil menoleh pada Hana. “Kau tahu, kan?” Hana menunjuk dengan ibu jarinya kearah belakang—seolah-olah, para pengawal itu ada dibelakangnya. “Aku rasanya benar-benar bebas karena tidak ada para pengawal itu.”

Perempuan itu terkekeh. “Bagaimana anda bersikap begitu, Nona?” katanya sebelum berbelok menuju ruangan kosong yang hanya berwarna putih. Diruangan itu ada tiga orang, satu perempuan dan dua adalah seorang pria. Perempuan itu menoleh pada Park Hana dan tersenyum. “Anda boleh duduk dimana saja disalah satu tempat duduk disana.” Perintah perempuan itu sambil menunjuk dua kursi yang ada diantara orang-orang yang sedang duduk disana sambil menatap kearah Hana ogah-ogahan. Hana memutar bola matanya lalu duduk disana. Agak kesal karena tiga orang disekelilingnya menatap kearahnya dengan tatapan tidak percaya.

Alih-alih, ia mendengar satu bisikan yang ditujukan padanya. “Bukankah dia Park Hana?” Hana risih sekaligus kesal. Memangnya sekuat apa jasa Ayahnya pada Negara ini sampai orang-orang yang ada disekitarnya tahu padanya? Ia bahkan bukan artis terkenal.

“Aku saja tidak menyangka.” Hana memutar bola matanya. Mereka seperti menganggap gadis itu tidak memiliki telinga. Oh, yaampun.

Pintu terbuka. Ia dan empat orang disana menoleh. Tiga orang itu—selain Hana—hanya ber-Oh lalu mulai berinteraksi lagi seperti sebelumnya. Tapi tidak dengan Hana, gadis itu menatap baik-baik lelaki dihadapannya—yang ekspressinya sama dengannya—.

“Ini benar-benar neraka.”

Jerit Park Hana dan Xi Luhan diam-diam bersamaan.

 

GEE!

 

Xi Luhan tidak lagi berada dalam sebuah ruangan yang kedap suara. Ia sudah ada disebuah ruangan yang besar dengan banyak sekali bangku yang sudah disediakan. Dibelakang, samping kanan dan samping kiri, lalu belakangnya banyak sekali anak-anak seusianya yang mengalami hal yang sama sepertinya. Lagi-lagi ia menyumpah serapah tentang Ayahnya yang tega mengirimnya ketempat seperti ini.

Tiba-tiba saja ia ditabrak oleh seseorang yang membuatnya terhempas dan menyenggol satu orang anak lelaki hingga terjatuh. Merasa kesal, anak yang terjatuh itu menatap Luhan dengan bengis. Sedangkan Luhan membela diri bahwa ia juga terdorong oleh kerumunan. Anak lelaki itu tidak mempecayainya, seolah harga dirinya diinjak, ia memukul Luhan, membuat lelaki itu tersungkur dan mendapat luka kecil diujung bibirnya.

“Bajingan.” Sumpahnya. Luhan beranjak dan menendang lelaki itu hingga terhempas pada dinding. Lalu keributan dimulai. Banyak sekali yang meneriaki mereka, mengadu satu sama lain.

“Berhenti! Berhenti!” satu orang wanita datang diantara kerumunan. Tapi Luhan dan anak lelaki itu tidak juga berhenti. “BERHENTI.” Teriak wanita itu sambil memukul kaki Luhan dan lelaki itu memakai tongkat. Membuat Luhan dan anak lelaki itu akhirnya berhenti. “Kalian tidak mematuh aturanku?” wanita itu menatap Luhan dan anak lelaki disampingnya. “Ini belum dimulai sama sekali dan kalian sudah membuat kekacauan.” Ia semakin menatap tajam dua lelaki dihadapannya. “Kuperingatkan kalian.” Lalu akhirnya pergi dari sana dan naik keatas panggung, menyuruh para anak-anak dihadapannya untuk duduk dibangku yang sudah disediakan.

Xi Luhan meringis lalu duduk. Ia menoleh kesamping dan menemuka Park Hana menatapnya datar. “Apa?”

Park Hana menggeleng. “Aku selalu heran saat bertemu denganmu.” Kata gadis itu dingin lalu mengalihkan pandangannya dari Luhan.

Luhan menaikkan alisnya. Ia juga sama. Heran dengan kalimat yang disampikan Park Hana. “Aku juga selalu heran padamu.” Balasnya tidak ingin kalah. Luhan mendapati Park Hana sedang menatap kearahnya dengan tajam, seolah-olah gadis itu bisa memakan dirinya kapan saja semaunya. “Kau terlihat begitu menawan di pertemuan terakhir kita. Jujur saja, aku sangat tersanjung.” Luhan mengedipkan matanya sebelah dan menampilkan senyum simetrisnya. Ia ingin melihat reaksi Park Hana—cruel of girl, yang selalu diomong-omongkan teman-temannya dikelas— dan sekarang ia melihat gadis itu hanya memiringkan kepalanya dan mengerutkan bibirnya. “Tapi, aku tidak menyangka bahwa malam itu adalah kau—“ Luhan menampilkan seringaian. “Park Hana, sang pewaris tahta.”

Park Hana melotot. “Tutup mulutmu, Xi Luhan.” Ia tidak tahu apa maksud lelaki itu mengejeknya seperti itu. Hana meringis dan mengalihkan pandangannya dari lelaki itu. Sejak beberapa menit yang lalu, ia uring-uringan mengenai tempat ini. Xi Luhan ada ditempat yang sama dengannya. Belum lagi, Ketua Dewan mengatakan bahwa ia dan Luhan termasuk dalam kelompok bersama dan juga partner dalam beberapa kelas. Perfect! Ia memaki Ibunya dan Kakaknya. “Ngomong-ngomong, kapan Beijing masuk kedalam list liburan?” Hana mulai bersuara lagi. Dengar-dengar, Luhan sangat tidak suka Negara yang sudah melahirkannya itu. Gadis itu menoleh dan menyeringai.

Luhan menatap mata Park Hana. Rupanya gadis itu mau memulai sebuah permainan lagi. “Kau akan mendengar kabarnya dalam waktu dekat ini, Queen.” Jawab Luhan terlihat santai. Tidak mau kalah.

Mulanya Hana agak terkejut karena ia mendapati wajah lelaki itu sangat tenang. Tapi, rasanya bukan sejatinya Park Hana kalau tidak mengalahkan orang lain, apalagi Xi Luhan, musuhnya. “Oh, ya? Aku tidak sabar sekali.” Ujarnya sakratis. “Kurasa, aku harus memasukan daftar kunjungan ke rumahmu, bagaimana?” Park Hana tertawa keras dalam hati. Kena kau, Xi Luhan.

Xi Luhan menyipitkan matanya. “Itu bukan hal yang penting.” Katanya gugup. Sial!

“Tidak.” Hana mengelak dengan cepat. “Para siswa akan sangat tertarik sekali melihat rumah yang besar, yang merupakan tempat dilahirkan sang Pangerannya.”

Xi Luhan tersenyum. “Pangerannya? Lalu siapa Putrinya?”

Park Hana mendelik. “Jangan coba-coba keluar dari pembicaraan.”

Xi Luhan menggeleng. “Wow, bahkan kau yang keluar dari pembicaraan.” Lelaki itu tertawa. “Kau gugup sekali, Tuan Putri.”

Park Hana beranjak dari tempatnya. Rupanya perkumpulannya sudah mulai bubar dan mereka diperintahkan kembali ke Kamar masing-masing untuk beristirahat agar bisa melakukan kegiatan dengan lancar besok pagi.

“Aku senang sekali, bisa tidur disatu kamar denganmu.” Xi Luhan berjalan dibelakangnya. Park Hana meringis mendengar penuturan tentang itu. Akhirnya ia menginjak kaki lelaki itu dengan kesal sekaligus rasa puas.

Suara jeritan terdengar, membuat orang-orang di koridor empat berhenti melakukan aktivitas mereka. Park Hana menoleh kebelakang dan mendapati lelaki yang… cukup tinggi untuk ukuran tubuhnya sedang menatapnya, begitu tajam. Bodoh! Ia salah menginjak kaki. Hana melirik Xi Luhan yang sama terkejutnya dengannya.

“Kau cari gara-gara denganku, huh?” lelaki itu adalah lelaki yang sama saat ia memukul Luhan beberapa menit yang lalu di aula. Tapi, masalahnya, Hana yang seakan-akan mencari masalah duluan. Hana bergerak mundur dan menggeleng. Ia melirik Luhan lagi, seolah-olah meminta tolong. “Wanita cantik sepertimu pasti cari gara-gara.” Lelaki itu mulai menyeringai. Membuat semua orang yang ada disekeliling mereka menatap puas. Seolah-olah ini merupakan sebuah pertunjukan yang sangat baik sekali.

“Hai, kawan.” Luhan berdiri dihadapan Hana. “Ia hanya salah menginjak kakimu, ia mau menginjak kakiku.” Luhan menunjuk Hana yang ada dibelakangnya. “Tidak ada maksud apa-apa.”

Lelaki bertubuh besar dihadapannya menatap Luhan lagi-lagi tajam—seperti ingin menghabiskan laki-laki itu sekuat tenaganya. “Aku bosan melihat wajahmu terus atau kau ingin mendapat satu pukulan lagi?” tawar lelaki itu. “Pergilah sebelum aku melayangkan satu tinjuan.” Katanya.

Luhan mencengkram pergelangan tangan Park Hana, kemudian membalik meninggalkan tempatnya. Belum ia mengambil selangkah maju, bahunya sudah ditarik dan satu pukulan mengenaskan lagi-lagi terdampar dipipinya, meninggalkan luka biru lebam.

“Brengsek! Aku menyuruhmu meninggalkan aku dengan si jalang ini, bukan pergi bersama!”

Park Hana membelak. Ia baru saja dipanggil dengan sebutan apa? Ia mengangkat Luhan yang terjatuh didepannya. Lalu berdiri dihadapan lelaki itu. “Oke.” Ia mulai berbicara pada lelaki itu. “Aku minta maaf sudah menginjak kakimu, tapi itu tidak ada maksud apa-apa.” Ia menoleh kearah Luhan. “Jika bukan gara-gara si pecundang ini melarikan diri, aku tidak akan berurusan seperti ini denganmu. Oke? Urusan kita selesai. Aku sudah minta maaf denganmu.”

Lelaki itu hanya berdiam diri sambil melemparkan tatapannya pada tubuh Park Hana, memperlihatkan ketertarikannya pada gadis itu dengan tersenyum. Sedangkan Luhan membelak ketika gadis itu memanggilnya pecundang. Gila! Bahkan ia membela gadis itu barusan. Apa gadis itu tidak punya perasaan?

Park Hana sudah pergi dari tempat itu ketika lelaki dihadapannya mengangguk sambil tersenyum err menjijikan, menurut Luhan. Lelaki itu meliriknya. “Kau tahu siapa namanya?” Luhan tidak menjawab. “Tentu saja dia bohong dengan ucapannya.” Luhan memutar bola matanya. “Aku tahu dia cari gara-gara denganku.” Lanjutnya. Ia menepuk bahu Luhan. “Aku akan mencari kamarmu untuk mencari tahu tentang gadis itu.” Bisiknya. Membuat Luhan mendengus dan ikut pergi meninggalkan tempat itu.

Beberapa menit kemudian, para penjaga baru keluar dari tempatnya dan membubarkan kerumunan-kerumunan yang sempat membuat jalanan menjadi agak macet.

Xi Luhan menggelengkan kepalanya. Sekali lagi ia memikirkan ucapan Park Hana yang memanggilnya dengan sebutan Pecundang. Lalu ucapan lelaki bertubuh besar dibanding dirinya. Luhan berdecak. Tidak ada gunanya membantu Park Hana. Gadis itu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan. Seperti biasa, Park Hana adalah anak emas. Dasar gadis sempurna! Ya ampun. Luhan mendesah.

 

GEE!

 

Byun Baekhyun melepas kacamata hitamnya. Ia menggeliat. Kurang lebih dua belas jam ia berada didalam pesawat membuat pantatnya menengang kaku. Ia hampir menyuarakan hatinya tentang bokongnya yang mengkaku kalau saja See-Jung tidak bicara duluan akan hal memalukan itu.

Para perempuan sudah keluar duluan dari pesawat itu. Diikuti para pria juga Baekhyun yang paling terakhir turun. Ia mengucek-ngucek matanya dan menghela napas. Roma di bulan Juni sangat harum sekali. Kata Baekhyun dalam hati. Dan sayangnya Park Hana lebih ingin menghabiskan waktunya di neraka.

“Luhan dan Hana ada disatu tempat?” celetuk salah satu murid pria dibelakangnya. Baekhyun menoleh kesamping. Lelaki itu akan sensitive jika mendengar nama Park Hana disebut-sebut oleh orang lain.

“Ibuku bilang, ia melihat Park Hana memasuki sebuah tempat rehibilitasi, lalu beberepa menit setelah itu, ia melihat Xi Luhan juga. Bukankah itu artinya mereka ada disatu tempat?” jelas satu orang murid.

Baekhyun mengatupkan bibirnya. Terakhir kali ia dan Park Hana bercakap-cakap di telepon, ia merasa ganjil. Apakah Hana menyembunyikan tentang hal itu?

“Diam.” Satu orang murid yang lainnya menepuk pantat dua laki-laki di samping kanan dan kirinya. “Ada Baekhyun.” Lanjutnya dengan suara yang amat pelan, namun, sayangnya Baekhyun masih bisa mendengar suara itu.

“Oh, Kakak, kami duluan.” Baekhyun melirik sejenak sebelum akhirnya mengangguk dengan satu anggukan. Lelaki itu mengatupkan matanya. Merasa kesal karena Hana tidak mengatakan seluruh ceritanya. Dan kenapa juga gadis itu membohonginya?

“Oy, Baekhyun!”

Ia baru saja naik di Bus menuju hotel dan mendapati teman-teman Xi Luhan menyapanya. Ia sedikit mual akan hal itu. Tidak seperti biasanya, jagoan kuno itu menyapanya. Bahkan disekolah, mereka senang sekali mengganggu Baekhyun sebagai permen karet Park Hana.

“Hai, Kakak.” Sapa Baekhyun datar.

Park Chanyeol, Do Kyungsoo, Kim Minseok, dan Oh Sehun tertawa lebar. Entah menertawakan apa. Baekhyun hanya memutar bola matanya kesal sambil duduk dibangku paling belakang.

“Kau sendirian?”

“Tidak juga.”

Kyungsoo tertawa sambil menatap kearah Sehun. “Dengan See-Jung?”

Baekhyun tidak menjawab. Tapi cukup membuat kehebohan antara mereka berempat. “Kau juga akan meniduri See-Jung?”

Baekhyun melirik Sehun lalu mendelik kearah laki-laki itu.

“Jangan membuat Chanyeol memotong lehermu, Baekhyun~ah.” Goda Minseok. Semua orang di bus itu tertawa.

“Hei, berhentilah.” Kim Joonmyeon—sang ketua penyelenggara— berjalan kearah bangku paling belakang dan menatap satu persatu empat orang yang duduk dihadapan Baekhyun. Sedangkan Baekhyun membuang wajah dan memilih untuk tidur. “Tidak bisakah kalian diam sehari saja?” sesungguhnya lelaki yang senang sekali diberi julukan The Polite Leader Who Guards School itu sudah bosan sekali menghalau anak-anak nakal yang senang diberi julukan The Small Children Bodied Wolves oleh murid-murid disekolah.

“Ah, Kakak. Kembalilah ke tempatmu.” Sehun menatap malas Joonmyeon.

“Kami baik-baik saja. Kembalilah ke tempatmu.” Chanyeol menenangkan.

Joonmyeon mendengus kemudian kembali melangkah ke barisan paling depan.

GEE!

 

Sekitar pukul sebelas malam waktu Roma, mereka sudah sampai di Hotel Westin Excelsior—hotel paling bagus di Roma dan juga terbaik di dunia. Murid-murid disana begitu takjub sekali. Hotel Westin Excelsior memiliki gedung yang sangat menakjubkan. Berdiri disepanjang jalan Vittorio Veneto yang begitu asri dan hangat. Warna emas berpadu putih membuat kesan hotel ini benar-benar elegan. Belum lagi, pahat-pahatan segala lekukan, sudut, dan bentuk dibuat seteliti mungkin sampai tak ada satu pun harga buruk terlihat. Dan diatas gedung, dibangun kubah besar sebagai tata letak nama. Sungguh cantik sekali.

Murid-murid berseru. Ini merupakan liburan yang menakjubkan. Para ketua dari masing-masing kelompok sudah membagikan kunci kamar hotel dan siapa pasangan mereka. Itu artinya, menuju berbagai koridor untuk menuju kamar termewah. Meskipun mereka hidup di lingkup yang digundrungi kemewahan, hotel ini lebih dari kemewahan. Benar-benar indah.

“Aku sudah sampai. Bagaimana harimu?”

Baekhyun baru saja membuka pintu kamarnya dan mendapati pasangan kamarnya sedang menelpon sambil menghadap keluar jendela. Minseok? Ia menghela napas. Baekhyun bergerak kearah tempat tidur dan menyimpan kopernya. Ia mendengar Minseok tertawa. Siapa yang ditelponnya? Apakah kekasihnya? Tunggu dulu. Kenapa seolah-olah ia peduli pada lelaki itu?

Ponselnya berbunyi dan Baekhyun segera mengambilnya. Ada satu buah pesan permintaan dari nomor kartu… Park Hana. Lelaki itu tersenyum. Apakah Hana merindukannya?

“Ya, Hana?” Baekhyun mendengar helaan napas panjang disebrang sana.

Apakah kau baru sampai?” Baekhyun bergumam keras sambil menganggukan kepalanya.

“Apakah kau baik-baik saja?” salah. Ia salah bertanya.

Baekhyun mendengar lagi helaan napas gadis itu. “Seharusnya aku baik-baik saja. Bayangkan, tidak ada pengawal, tidak ada yang harus mengikutimu tiap hari, tapi aku sudah mendapat masalah dihari pertama.”

Baekhyun mengangguk. Tidak senang dengan pernyataan terakhir yang dilontarkan Hana. “Masalah apa?”

Terdengar lagi helaan napas. Baekhyun menunduk. Ia mengerti rasanya, ia mengerti. Baekhyun mengatupkan matanya. Merasa bersalah. “Luhan, Xi Luhan.” Baekhyun menggigit bibir bawahnya. “Dia juga masuk ketempat rehibilitasi ini.” Baekhyun mendengar Hana mendesah diujung sana, terdengar putus asa sekali. “Aku mau menginjak kakinya tadi, tapi malah menginjak kaki orang lain.” Apakah Hana juga baru mengetahui lelaki itu ada ditempat yang sama dengannya? Bukannya—oh, ini hal yang sangat bagus. Tapi, ia kira, semua keganjilan hatinya mengenai Park Hana adalah tentang hal ini, tapi bukan. Apa mungkin perasaannya saja? Apa mungkin karena selama ini mereka selalu bersama-sama dan sekarang harus berpisah selama tiga hari? “Baekhyun? Hey! Jangan mencoba bermain dengan perempuan lain disana.” Baekhyun tertawa. Lucu sekali Park Hana.

“Aku hanya sedang memikirkan perasaanku.”

Kenapa? Apa ada yang aneh?

Baekhyun mengangguk sambil bergumam.

Katakan saja, aku tidak akan sakit hati.

“Aku rasa ada yang aneh dengan sikapmu sejak malam peresmian Hotel Yohan.”

Baekhyun mengatupkan matanya. Ia salah. Seharusnya ia berbicara langsung dengan bertatap wajah, bukannya malah ditelepon dengan jarak yang jauh begini.

Hana bergumam panjang diujung sana. “Nanti akan aku ceritakan. Oke, aku minta maaf tidak menceritakan bagian ini, tapi, aku benar-benar menunggu pertanyaan barusan.

Syukurlah. Park Hana masih seperti biasanya. Jujur padanya. Baekhyun tersenyum lebar. “Baiklah, aku harus tidur dan kau harus istirahat juga.”

Hana melenguh. “Bisakah kita berbicara lagi?

“Bisa, tapi tidak sekarang.”

Oke, jangan bermain dengan wanita lain.

Baekhyun tertawa. “Aku mungkin sudah gila jika memang aku bermain dengan wanita lain, sedangkan wanitaku yang di Seoul lebih dari apapun.”

Park Hana menggerang. “Hilangkan segala jenis bualanmu. Aku mau tidur.

“Oke, aku mencintaimu, Park Hana.”

Baekhyun tahu, disana Park Hana pasti sedang tersenyum. Hening sejenak, kemudian Park Hana membalas. “Aku lebih mencintaimu, Byun Baekhyun.”

“Aku heran sampai sekarang. Park Hana itu pacarmu atau bukan, sih?”

Baekhyun baru saja membanting tubuhnya diatas tempat tidur dan ingin menutup matanya, namun, begitu saja gagal seluruhnya karena Minseok sudah duduk diatas tempat tidurnya, disebrang tempat tidurnya. Lelaki itu menatapnya datar. “Tidak usah pedulikan itu.”

Minseok tertawa. “Peduli? Aku tidak merasa peduli. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kalian begitu mesra sekali, sedangkan dari pihak kau ataupun Hana tidak ada yang pernah memastikan hubungan status kalian.” Minseok menatap Baekhyun dengan mengintimidasi.

Baekhyun beranjak dari tempatnya. Ia menatap Minseok lalu menampilkan senyum asimetrisnya. “Kau hanya ingin bertanya atau memang mau merendahkan kami?”

Minseok balas tersenyum. Sinis. “Aku tidak pernah mengerti dengan orang-orang seperti kalian.”

Baekhyun balas menjawab. “Aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengerti atau mengurus kehidupan kami.” Lalu melangkah kearah kamar mandi dan membanting pintunya. Memberi peringatan pada Minseok agar lelaki itu diam, dan Minseok mengerti akan hal itu. Ia menunduk, tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya. Merasa lucu dengan kejadian sebelumnya.

 

GEE!

Because I was
hurting over a foolish
love, I only gave you a selfish love
Not telling you that I love you and
just watching over
you — I regret it

 

Hari kedua. Park Hana mendesah keras. Ia bangun pagi-pagi sekali dengan keadaan yang sangat menjijikan. Ketika ia bangun, disamping kanannya ada Xi Luhan sedang menatapnya nakal. Sedangkan disamping kirinya ada Jung Eunji—kawan kelompoknya—sedang tidur terlentang sambil mengeluarkan suara-suara aneh dari mulutnya. Park Hana menggeram dan memukul kepala Luhan. Ia begitu kesal sekali.

“Apa semuanya sudah siap?”

Semua anak berujar dengan kompak dan semangat. Mungkin hanya Park Hana yang malas menjalani kehidupannya hari ini dipagi yang sangat indah ini.

Hari ini mereka semua akan mendaki gunung sambil bermain. Mereka dibagi menjadi dua puluh kelompok dan tiap kelompoknya berisi dua orang. Dan coba lihat siapa pasangan Park Hana?

“Kenapa melihatiku begitu?”

Hana memutar bola matanya. Merasa kesal karena ia dipasangkan dengan Xi Luhan. Ia lebih nyaman jika bukan bersama Xi Luhan. Lelaki itu sering mengejutkannya tiba-tiba. Apalagi hari ini mereka akan melakukan perekemahan di gunung. Ia menuruti peraturan bahwa tiap pasangan harus pria dan wanita. Tapi tidak dengan Xi Luhan dan Park Hana. Lihat saja, mereka akan bertengkar disepanjang perjalanan.

“Aku tidak percaya padamu.” Hana menatap Luhan tajam. Mencari-cari sesuatu dimata lelaki itu. Ia masih memikirkan tentang kejadian tadi pagi. Ketika ia bangun dan mendapati Luhan tengah senyum-senyum padanya. Apa maksudnya itu? “Kau bermain-main denganku, huh?! Kau tidak tahu aku siapa?! Aku bisa menuntutmu karena pelecehan.”

Xi Luhan tertawa keras. Untung saja tidak ada orang disana. Hanya mereka berdua. “Memangnya aku melakukan apa? Dan apalagi? Memangnya kau siapa?” Luhan mengangkat dagunya, menantang. “Kau hanya Park Hana. Seorang wanita ti—ingusan.”

Park Hana melotot. Merasa mulut Xi Luhan itu harus ia remukan sekarang juga. Tapi, ia tidak memiliki alat untuk meremukannya dan akhirnya berjalan dengan langkah cepat.

“Apa-apaan ini?” Luhan menatap punggung Park Hana. “Kau mau meninggalkan aku?” teriak Luhan. Lelaki itu menggeleng dan mulai melangkah.

“Park Hana.” Panggil Luhan setelah beberapa menit mereka berjalan. “Yak! Kau tidak mau berjalan disampingku?”

Hana membalik. “Aku bilang, aku tidak percaya padamu.”

Xi Luhan mendesah. Ia menatap Hana yang sudah membalik dan mulai berjalan lagi. “Aku hanya menatapmu tadi. bukankah kau sudah sering melakukannya dengan Baekhyun?”

Park Hana menghentikan langkahnya ketika Luhan menyebutkan nama Baekhyun. Apa lelaki itu menganggap dirinya—dasar brengsek! Ia terus melangkah, Luhan hanya menambah kesal, merusak perasaannya.

“Apa aku salah bicara? Ayolah, maafkan aku kalau begitu.” Hana mendengar nada mengejek disana. Ia membalik dan menatap lelaki itu.

“Apa maumu?” Hana berujur datar—ia sudah benar-benar kesal.

Luhan yang tadinya tertawa langsung mengatupkan mulutnya. Ia agak salah tingkah ketika menatap mata Park Hana. “Eh, kenapa? Aku hanya bercanda.” Luhan menggigit bibir bawahnya. “Mencairkan suasana.” Katanya sambil melayangkan tangannya ke udara, melambai-lambaikannya.

“Aku tidak suka kau menganggap Baekhyun seperti itu.”

Luhan tertawa, keras. “Kenapa? Apa kalian benar-benar sudah bercinta?”

Park Hana mendelik. “Sekali musuh, tetap musuh.” Lalu membalik lagi dan mulai melangkah.

Luhan membasahi bibirnya. Ia menelan salivanya. Apa yang dikatakan Hana? Dan kenapa gadis itu berbicara seperti itu? Apakah ia benar-benar marah? “Oke, kita musuh. Tapi bukan musuh didalam tempat tidur.” Ujar Luhan, sedikit bercanda.

Park Hana hanya mendengus, tidak mau membalik dan membalas ucapan lelaki itu. Ia sudah benar-benar kesal sekali.

GEE!

 

Xi Luhan menoleh. Ia mendapati Park Hana sedang tidur, kelihatan pulas sekali. Mereka sudah sampai di perkemahan sejak lima belas menit yang lalu. Dan panitia memberinya tenda yang tempatnya paling jauh dari api unggun. Memuakkan. Pikir Luhan. Ia harus berada di tenda yang sama dengan Park Hana. Gadis yang menyebalkan.

Ponselnya berdering. Luhan meraih ponselnya didalam tas dan apa ini? Bukan ponselnya yang berdering? Ia tergelak. Nada dering ponselnya dengan nada dering ponsel Hana sama. Cepat-cepat lelaki itu meraih ponsel Hana yang disimpan ditas Luhan, tempat yang sama dengan ponselnya.

Ada nama Baekhyun yang tertera di layar itu. Luhan menyeringai, lalu kemudian mendekatkan ponselnya ketelinganya.

 

와우!

 

“Kurasa Luhan tidak akan melepaskan gadis itu.”

Oh Sehun menoleh kearah Park Chanyeol. Mereka tengah berada di –taman kota Roma yang sejuk sekali. Kim Minseok mengambil kacang ditangannya dan membuangnya kedepan, dimana banyak sekali merpati-merpati.

Do Kyungsoo tertawa. “Siapa melepaskan siapa?” merasa lucu sekali karena Chanyeol tiba-tiba mengatakan hal seperti itu.

“Luhan? Dia sudah mengincar Hana sejak dulu, kan?” Chanyeol menatap ketiga teman-temannya. Ia meraih kacang ditangannya dan membuangnya kedepan, membuat para merpati mendatanginya.

“Ayolah, itu hanya permainan kita.” Kata Minseok agak tidak peduli dengan pembicaraan ini.

“Kurasa akan menarik.” Sehun sepertinya mulai hanyut akan pembicaraan yang dimulai oleh Chanyeol.

“Kau gila?” Kyungsoo menatap Sehun datar. “Park Hana bukan tandingan.” Lanjutnya.

Chanyeol melepas seluruh kacangnya dan menepuk-nepuk tangannya. “Maka dari itu—“

“Apa?” Minseok mulai membalik kearah Chanyeol. “Ini masalah. Park Hana bukan tandingan.”

Sehun duduk diatas kursi. “Luhan mungkin sudah bermain duluan dengan gadis itu.”

Chanyeol mengangguk, menyetujui ucapan Sehun. “Ia akan menghubungi kita jika bosan, dan sampai sekarang, dia sama sekali tidak menghubungi kita.”

Minseok menatap Chanyeol tajam. “Jangan bergurau. Bayangkan jika kau hidup ditempat seperti itu. Kegiatanmu akan lebih padat dua kali lipat dibanding bekerja sebagai artis.”

Chanyeol mendengus. “Aku tidak percaya.”

 

GEE!

 

“Yoon See-Jung.” Panggil Baekhyun pelan. Membuat See-Jung menoleh dan menaikkan alisnya. Laki-laki itu agak aneh sejak sejam yang lalu. “Kau, apakah kau membenci Park Hana?”

See-Jung membelak. “Apa maksudmu?”

Baekhyun mengalihkan pandangannya kearah See-Jung. “Hanya saja, bagaimana perasaanmu jika sebagai aku?” Baekhyun kembali menatap cangkir kopinya. “Bagaimana ketika Hana tengah bermain dengan musuhnya sendiri? Perangkap yang sudah ia pagar, sudah ia gembok, begitu saja terbuka, dan dibuka olehnya sendiri?”

See-Jung mengatupkan bibirnya. Ia menatap wajah Baekhyun. “Apa Hana bicara begitu padamu?”

Baekhyun menghela napas. Ia menggeleng dan mengangkat wajahnya. Menatap dari dalam cafe pemandangan indah sore hari di Taman Kota Roma. Indah sekali. “Luhan menjebak Hana.”

See-Jung membelak. “Apa yang ia katakan padamu?” tanya See-Jung mulai khawatir.

Baekhyun mengatupkan bibirnya. Berusaha mencerna ulang apa yang disampaikan Luhan sekitar beberapa jam yang lalu. Byun Baekhyun, Park Hana benar-benar akan mati.

“Ia tidak banyak bicara.” Baekhyun menelan ludahnya. “Ia hanya bilang, bahwa Hana akan mati. Ia sudah mulai bermain dengan Hana.”

***

Hai, terimakasih sudah membaca GEE di Part 1. tanggapan, kritik, dan saran sedang ditampung dan kembali dipikirkan. mohon maaf bagi yang belum mengerti alur jalan ceritanya dan semoga ff ini bisa terselesaikan dengan cepat.
love,
sanacamberlain

47 responses to “GEE! [Part 2]

  1. ceritanya makin menarik! penasaran dengan apa yang dilakuin luhan ya ke hana. wkwk makin suka sama karakter mereka disini.

    ditunggu kelanjutannya thor!

  2. Agak bingung sih sama ceritanya.. tp ttp bikin penasaran :3
    Baek-hana itu ttm ya ceritanya. Kekeke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s