Honeymoon

Honeymoon

Author : Fai

Cast :

  • Oh Sehun | EXO’s Sehun
  • Shin Ahn Yong | YOU/readers

Genre : fluff tapi ada itunya dikit(?)

Rating :HAYO APA HAYOOO, ADA *PIP*-NYA DIKIT LOH HAHAHA /slapped/

Length :ONESHOT! (2.987 words)

Previous :

Disclaimer : this is officially mine, but the casts are not mine but Sehun is my twins hahaha

N.B. :okeoke, akhirnya Fai gakuat buat ngga ngebikin cerita honeymoon-nya mereka(?) huahaha ngga deng, ini karena Fai gamau seri Sehun-Ahn Yong berakhir dengan cepat karena Fai cinta couple ini :’> WHO’S WITH ME? *gaada yg angkat tangan* *terpuruk* *ditampar* okeh this one is special hehehe lihat length-nya? ONESHOT!!! =D DAN, LIHAT RATINGNYA HAHAHA KKAEBSONG YANG DI BAWAH UMUR JANGAN BACA BAGIAN BAWAHNYA YA HAHAHA /dikepret/

Hehe maaf yah banyak cincong, selamat membaca! :>

.

this is an unforgettable honeymoon, right?

.

Pagi itu, Sehun masih terjaga. Kedua matanya terbuka dengan lebar dan jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Semalam, Sehun tidak benar-benar tertidur dan sekarang ia tidak merasa mengantuk sama sekali.

Sehun melirik ke sampingnya dan menatap Ahn Yong yang kini sedang tertidur dengan pulas. Wajahnya sangat polos dan Sehun tahu bahwa istrinya itu masih sangat, sangat lelah. Sehun hanya bisa tersenyum tipis dan menghela napasnya.

Malam pertama impiannya hancur sudah.

Sehun sudah merencanakan hal ‘itu’ dari jauh-jauh hari. Tapi, harapannya hancur begitu saja dalam semalam.

Maaf, Sehunnie. Malam ini aku sangat lelah. Lain kali saja, ya?

Kalimat Ahn Yong semalam kembali terngiang di telinga Sehun. Lagi-lagi ia menghela napasnya. Sudahlah, Oh Sehun. Walaupun malam pertamamu gagal, bukan berarti kau kehilangan Ahn Yong, ‘kan?

Sehun kembali tersenyum tipis. Ia mencium pipi Ahn Yong dengan lembut dan beranjak dari kasur. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Ia bercermin dalam waktu yang sangat lama. Ia meraba dahinya, tulang pipinya, lalu ia meraba rahangnya. Sedetik kemudian, Sehun terkekeh pelan. Astaga, aku sangat tampan.

Setelah puas bercermin, Sehun berniat untuk mengganti bajunya. Ia baru saja mengangkat bajunya dan ia terkejut begitu mendengar sebuah jeritan (yang berasal dari dalam kamarnya juga).

Ah!”

Sehun membalikkan badannya dan ia menatap Ahn Yong yang kini sedang menutupi kedua matanya dengan kedua telapak tangannya.

“Ada apa?”

Ahn Yong menunjuk Sehun tanpa membuka kedua matanya.

“I—itu.. kenapa kau m—mengganti bajumu di sini?” tanya Ahn Yong dengan terbata-bata.

Rahang bawah Sehun jatuh beberapa senti.

“Tapi aku suamimu, Oh Ahn Yong.”

Ahn Yong mengedip-ngedipkan kedua matanya.

“Sejak kapan……”

Sehun menepuk dahinya dengan kencang. Oh, astaga! Jangan bilang kalau sekarang ia mengidap penyakit amnesia!

“Sejak kemarin, baby!” pekik Sehun seraya mengacak rambutnya dengan kesal. “Kemarin kita telah mengucapkan janji suci untuk selalu hidup bersama, baby. Kau telah menyematkan sebuah cincin nikah di jari manisku, begitu pun denganku. Maka dari itu, semalam kita tidur di ranjang yang sama. Kita di sini untuk menjalankan ‘ritual’ honeymoon, baby. Kau lupa? Astaga!”

Sehun berdecak kesal. Ingin sekali rasanya ia membetulkan saraf-saraf yang (mungkin) terputus di otak istrinya itu.

Ahn Yong menundukkan kepalanya.

“Ma—maaf. Aku hanya masih belum siap dengan semua ini,” gumam Ahn Yong dengan suara rendah.

Mendengarnya, hati Sehun luluh dengan cepat. Oh, benar. Ini semua karenaku yang tidak ‘sabaran’.

“Tidak, tidak,” bisik Sehun seraya berjalan mendekati Ahn Yong. Ia duduk di ujung ranjang dan mencium dahi istrinya itu. “Aku yang seharusnya meminta maaf.”

Ahn Yong tersenyum dengan lembut.

Hmm, ngomong-ngomong,” Sehun menatap kedua mata Ahn Yong dengan serius. “Kita mandi bersama, yuk?”

Kedua mata Ahn Yong membulat. Ia mengambil sebuah bantal dan berkali-kali memukul kepala Sehun dengan bantal itu.

“Jangan pikir kau bisa berbuat mesum seenaknya, Oh Sehun!”

 

+++

 

Setelah keduanya mandi, mereka berdua berjalan-jalan di sekitar pantai dengan tangan yang saling bertautan.

Ya, mereka berdua menginap di sebuah penginapan yang terletak di dekat pantai. Tentu saja ini semua atas usul seorang Oh Sehun.

“Hun.”

“Ya?”

Ahn Yong terdiam sejenak dan berhenti melangkah—begitu pun dengan Sehun. Ahn Yong menatap ujung jari-jari kakinya.

“Ada apa?” tanya Sehun seraya menyentuh dagu Ahn Yong dan mengangkat kepala istrinya itu—agar bisa saling bertatap mata.

Ahn Yong menggigit bibir bawahnya.

“Itu.. yang semalam..,” jawab Ahn Yong dengan ragu. “Maaf karena aku telah ‘merusak’nya. Aku masih belum siap untuk melakukannya.”

Sehun tertawa kecil.

“Tidak apa-apa, Ahn Yong,” ujar Sehun lembut lalu tersenyum. “Masih ada malam-malam lainnya, bukan?”

Ahn Yong tidak berani menatap kedua mata Sehun. “Maaf. Aku tidak bisa menjadi istri yang—”

Sshh..,” desis Sehun seraya meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Ahn Yong. Wajahnya mendekati wajah Ahn Yong dan berbisik tepat di depan wajahnya.

“Kita di sini untuk berbulan madu, sayang. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu.”

Ahn Yong merinding mendengarnya. Debur napas Sehun menyapu lembut wajahnya. Aroma napas Sehun benar-benar telah membuatnya seolah melayang di udara.

“Kau istri yang sangat, sangat, sangat baik.”

Detik berikutnya, Sehun mencium ujung hidung Ahn Yong dan membuat istrinya itu tersenyum. Sehun merangkul bahu Ahn Yong dan melanjutkan perjalanan kecil mereka.

“Kau mau duduk di depan laut itu?” tanya Sehun seraya menunjuk laut yang ada di depan mereka berdua.

“Tentu,” jawab Ahn Yong.

Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah berada di depan laut. Ombaknya sangat indah, pikir mereka berdua.

“Pantai ini terlihat lebih indah di pagi hari, ya,” gumam Ahn Yong.

“Lebih indah lagi jika sedang bersamaku,” bisik Sehun seraya terkekeh pelan. Ahn Yong hanya mencibir. Terlalu narsis.

“Kau bisa berenang?” tanya Sehun.

Ahn Yong menggeleng kecil. “Aku tidak bisa berenang dan tidak pernah mempelajarinya.”

Sehun mengerucutkan bibirnya. “Padahal baru saja aku ingin mengajakmu untuk—”

“Jangan harap aku mau berenang di pantai ini denganmu, Oh Sehun,” potong Ahn Yong seraya mencubit kecil ujung hidung suaminya itu. “Kau ingin aku tenggelam, ya?”

Sehun tertawa kecil.

“Kalau kau tenggelam dan tidak sadarkan diri, aku bisa memberimu napas buatan,” jawab Sehun seraya menjulurkan lidahnya.

Ahn Yong membulatkan kedua matanya dan memukul pundak Sehun dengan kencang. “Tidak akan pernah!”

Setelah itu, mereka berdua terdiam sejenak.

Dengan perlahan, Sehun menggenggam telapak tangan Ahn Yong dengan erat. Ahn Yong menolehkan kepalanya dan menatap manik mata Sehun.

Detik berikutnya, Sehun meminimalisir jarak di antara mereka berdua dan mengecup bibir Ahn Yong dengan lembut. Hanya sekilas.

“Aku sudah lama ingin berciuman di tepi pantai seperti ini dengan seseorang yang sangat aku cintai,” ujar Sehun seraya tertawa kecil. Lagi-lagi ia mencubit pipi Ahn Yong dengan gemas.

Perlahan, wajah Ahn Yong memanas dan memerah. Jantungnya berdetak dengan cepat. Terkutuklah kau, Oh Sehun. Karenamu, aku terkena serangan jantung seperti ini.

“Jantungku juga berdetak dengan cepat, Ahn Yong. Sepertinya aku juga terkena serangan jantung,” bisik Sehun—seolah tahu apa yang saat ini sedang berada di pikiran istrinya itu.

Happy honeymoon, baby.”

 

+++

 

Setelah menghabiskan waktu selama beberapa jam, akhirnya Sehun dan Ahn Yong kembali ke penginapan untuk makan bersama.

“Suapi aku,” pinta Sehun dengan manja. Ia melakukan bbuing-bbuing-nya di depan Ahn Yong seraya menggembungkan kedua pipinya. Siapa yang bisa menolak bbuing-bbuing-ku?

“Kau sudah besar, Sehunnie…”

Sehun menghentikan bbuing-bbuing-nya lalu mengerucutkan bibirnya.

“Tapi kau masih memanggilku dengan sebutan Sehunnie,” gumam Sehun manja. “Sehunnie itu panggilan untuk seorang anak kecil, ‘kan?”

Ahn Yong menghela napasnya. Ia lebih cocok menjadi anakku.

Akhirnya Ahn Yong mengalah. Ia menyendokki japchae milik Sehun dan menyodorkan sesendok japchae itu ke depan wajah Sehun.

“Buka mulutmu.”

Sehun menurut dan membuka mulutnya dengan lebar. “Aaahh~”

Ahn Yong menyuapi japchae itu ke dalam mulut Sehun. “Puas?”

Sehun mengangguk dengan girang—persis seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan uang jajan untuk yang pertama kalinya.

Ia sangat manis, tapi ia benar-benar masih kekanak-kanakkan.

Sehun mengambil sendok dari tangan Ahn Yong dan menyendokki japchae miliknya. Ia menyodorkan sesendok japchae itu ke depan wajah Ahn Yong.

“Sekarang, aku yang akan menyuapimu. Buka mulutmu, honey. Katakan ‘aaahh~’.”

Ahn Yong tertawa kecil. Ia menurut dan membuka mulutnya. “Aaahh~

Sehun menyuapi sesendok japchae itu ke dalam mulut Ahn Yong seraya tersenyum dengan manis. Ia mencubit pelan ujung hidung istrinya itu. “Kau juga seperti anak kecil, ya.”

Ahn Yong memanyunkan bibirnya.

“Tapi kau jauh lebih seperti anak kecil.”

Sehun tersenyum menyeringai. “Tapi sifatku itulah yang telah membuatmu suka padaku, ‘kan?”

Ahn Yong menjulurkan lidahnya. “Kau terlalu percaya diri, tuan Oh.”

Sehun tertawa kecil.

“Ngomong-ngomong,” Sehun menggantungkan kalimatnya—membuat Ahn Yong penasaran. “Apa, sih?”

Sehun menopang dagunya dengan satu tangannya.

“Aku harus memanggilmu nona Oh atau nyonya Oh, ya? Kita, ‘kan, belum punya anak. Tapi, panggilan nona Oh juga terdengar aneh.”

Ahn Yong menjitak kepala Sehun sehingga suaminya itu mengaduh pelan.

“Memangnya aku salah, ya?” tanya Sehun polos.

Ahn Yong memutar kedua bola matanya. “Salah karena kau telah menanyakan sesuatu yang tidak penting seperti itu.”

“Jangan sering-sering memutar bola matamu seperti itu, nanti matamu bisa juling,” ujar Sehun serius. “Lagipula, pertanyaanku tadi itu penting, kok.”

Ahn Yong menghela napasnya dengan berat.

Aku menyerah.

 

+++

 

Selama seharian, Sehun dan Ahn Yong menghabiskan waktu bersama. Mereka berjalan-jalan di pantai dan melakukan hal lainnya. Ketika malam tiba, mereka kembali ke penginapan dan bersiap untuk beristirahat.

Sehun baru saja selesai mandi. Ketika ia keluar dari kamar mandi, rahangnya terjatuh beberapa senti ketika ia melihat Ahn Yong yang sudah terlelap di atas ranjang.

Astaga, ‘rencana’ku gagal lagi?

Sehun menggantungkan handuknya di belakang pintu kamar mandi dan berjalan mendekati kasur. Ia mengguncangkan tubuh Ahn Yong secara perlahan seraya memanggil nama istrinya itu.

“Yongie-ah, kau sudah tidur?” gumam Sehun.

Tidak ada jawaban. Ahn Yong memang benar-benar sudah terlelap.

“Oh, Tuhan,” decak Sehun—frustasi. “Aku ingin punya anak…”

Sebenarnya, Ahn Yong tidak benar-benar tidur. Ia hanya berpura-pura karena ia masih takut jika harus melakukan hal ‘itu’. Jadi ia pikir, satu-satunya cara untuk menghindarinya adalah dengan berpura-pura tidur. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga ingin mempunyai anak.

Maaf, Sehun. Mungkin lain kali.

Malam kemarin dan malam ini, Sehun benar-benar kurang beruntung.

Seraya tersenyum, Sehun mengecup lembut dahi Ahn Yong dan membaringkan tubuhnya di atas kasur—di sebelah Ahn Yong.

Sehun masuk ke dalam selimut yang Ahn Yong pakai dan memeluk tubuh Ahn Yong dari belakang.

Besok adalah waktunya, Sehun. Jangan mengulur waktu terus-menerus.

 

+++

 

Keesokan paginya, Ahn Yong bangun pada pukul 7 pagi dan Sehun masih terlelap dengan posisi memeluknya—juga wajah Sehun yang tepat berada di depan wajahnya.

Ntah bagaimana caranya, tapi Ahn Yong berpikir sepertinya saat ia sedang tidur, ia membalikkan tubuhnya sehingga pada saat ini posisi mereka berdua saling berhadap-hadapan.

Jantung Ahn Yong berdetak dengan cepat. Debur napas Sehun menyapu wajahnya. Sehun tidur layaknya seorang anak kecil—wajahnya sangat polos.

Ahn Yong terdiam di posisinya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus membangunkan Sehun? Aku tidak tega jika harus membangunkannya.

“Kenapa melihatku terus-menerus seperti itu, baby?”

Ahn Yong sedikit terkejut. Jadi, ia sudah bangun?

Sehun membuka kedua matanya dan tersenyum. Ia mengecup bibir Ahn Yong dengan cepat. “Selamat pagi, honey.”

Ahn Yong tidak menjawabnya. Ia masih terdiam—sedangkan Sehun terkekeh pelan. “Apakah aku setampan itu sehingga kau tidak mampu berkata apa-apa?”

“Jangan terlalu percaya diri, tuan Oh!” seru Ahn Yong. Ia mendengus kesal seraya menyingkirkan tangan Sehun dari pinggulnya.

“Minggir, aku mau mandi.”

Saat Ahn Yong ingin beranjak dari kasur, Sehun menahan tangannya sehingga Ahn Yong kembali ke posisinya yang tadi. Sehun kembali memeluk tubuh Ahn Yong dengan erat.

“Nanti saja, sayang,” bisik Sehun tepat di daun telinga istrinya itu. “Aku masih mengantuk, dan aku ingin tertidur dengan kau yang ada di sampingku.”

Tubuh Ahn Yong merinding begitu ia merasakan hembusan napas Sehun menyapu lehernya. Ia mendekatkan telinganya ke bagian dada Sehun dan mendengarkan irama detakan jantung suaminya itu.

Jantungnya tidak berdetak dengan cepat, sangat berbanding terbalik dengan detakan jantungku.

“Kau ingin makan apa nanti?” tanya Sehun—tanpa melepas pelukannya.

Ahn Yong berdeham dengan canggung. “Aku mau makan kerang dan lobster.”

Hmm, aku mau kepiting yang besar,” gumam Sehun. Ia hampir meneteskan air liurnya karena sekarang ia sedang membayangkan dirinya memakan seekor kepiting besar yang masih panas.

“Kalau begitu, lepaskan aku dan kita akan bergegas untuk sarapan,” perintah Ahn Yong seraya menjauhkan kepalanya dari dada Sehun yang bidang. “Se-ka-rang.”

Sehun tertawa kecil dan melepaskan pelukannya. “Baiklah, honey.”

Ahn Yong bergidik ngeri.

Ia masih sangat menggelikan.

 

+++

 

Setelah sarapan bersama, mereka berdua kembali berjalan-jalan di bibir pantai seraya menggenggam tangan satu sama lain.

Sesekali, Sehun akan mengusili Ahn Yong dengan cara menyipratkan air laut ke kaki Ahn Yong dan hal itu akan membuat Ahn Yong memekik layaknya seorang anak kecil.

“Hei, kepiting yang tadi enak, ya,” ujar Sehun tiba-tiba.

Ahn Yong hanya menganggukkan kepalanya. “Kerang dengan saus tiramnya juga enak.”

“Kau suka?” tanya Sehun.

Ahn Yong memutar kedua bola matanya. “Kelihatannya?”

Sehun terkekeh pelan. “Ya, ya, aku tahu. Kau sangat menyukainya.”

Ahn Yong hanya mengangguk.

Sehun menjilati bibir bawahnya—membayangkan kepiting yang tadi ia makan. “Lain kali, kau harus membuatkan kepiting yang seperti itu untukku.”

Ahn Yong mengerucutkan bibirnya. “Di dalam mimpimu, tuan Oh.”

Sehun menaikkan satu alisnya dan mengeluarkan seringaiannya. Ia kembali menyipratkan air laut itu ke tubuh Ahn Yong.

“Sehunnie!” pekik Ahn Yong.

Merasa tidak terima, Ahn Yong membalas perlakuan Sehun dengan cara menyipratkan air laut itu ke baju Sehun.

“Kena kau!” ujar Ahn Yong girang.

“Yongie!” kali ini Sehun yang berteriak. “Bajuku jadi basah!”

Ahn Yong hanya menjulurkan lidahnya dan berlari menjauhi Sehun. “Dah!”

Sehun kembali tersenyum menyeringai. Ia mengejar Ahn Yong dari belakang dengan langkah kakinya yang lebar.

Karena langkah kakinya yang besar, hal itu mempermudah Sehun untuk mengejar Ahn Yong. Ia dapat menangkap tubuh Ahn Yong dengan mudah.

Sehun memeluk pinggang Ahn Yong dari belakang dan mengangkat tubuh Ahn Yong—menggendongnya dan berputar-putar di tempat sehingga membuat Ahn Yong menjerit ketakutan.

“Turunkan aku, Oh Sehun!” pekik Ahn Yong seraya memejamkan kedua matanya rapat-rapat. “Aku takut terjatuh!”

Sehun tertawa dan menurunkan tubuh Ahn Yong. Ia mengacak-acak rambut istrinya itu dengan gemas.

Setelahnya, Ahn Yong kembali menyiprati air laut itu ke baju Sehun—dan membuat baju Sehun semakin basah kuyup.

“Yongie!” pekik Sehun menja. Tidak terima, ia juga ikut menyiprati air laut itu ke baju Ahn Yong. “Rasakan pembalasan dariku!”

Keduanya sama-sama tertawa layaknya dua anak kecil yang sedang bermain air. Hanya saja, ukuran tubuh mereka lebih besar.

“Terimalah serangan dariku!” pekik Sehun girang seraya memainkan air laut itu. Benar-benar seperti anak kecil.

“Sehunnie!” seru Ahn Yong seraya tertawa. “Sudah, sudah! Aku menyerah!”

Sehun ikut tertawa dan mencubiti kedua pipi Ahn Yong dengan gemas.

“Ayo, kita kembali ke penginapan. Bajuku basah kuyup.”

 

+++

 

Sesampainya di penginapan, Sehun mengambil segelas air dan secara diam-diam—tanpa sepengetahuan Ahn Yong—ia memasukkan obat perangsang ke dalamnya. Ia memberikan segelas air itu kepada Ahn Yong dan memaksa istrinya itu untuk segera menghabiskannya.

“Kau pasti sangat haus, ‘kan?” ujar Sehun.

Ahn Yong hanya menghela napasnya dan mengambil gelas itu dari Sehun.

“Ya, ya, ya. Terima kasih, kau sangat perhatian,” ledek Ahn Yong.

“Aku memang sangat perhatian,” balas Sehun seraya menjulurkan lidahnya.

Ahn Yong tertawa kecil lalu meminum air yang tadi diberikan oleh Sehun. Melihatnya, Sehun tersenyum dengan puas. Kena kau, Ahn Yong!

Setelah memastikan Ahn Yong menghabiskannya, Sehun masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh wajahnya. Ia juga menyikat giginya dan tidak bisa berhenti tersenyum. Pikirannya melayang ke mana-mana. Hari ini aku akan mendapatkan apa yang aku mau.

Setelah mencuci tangan dan kakinya, Sehun keluar dari kamar mandi. Ia membuka baju polo-nya dan melemparnya ke sembarang tempat.

Dengan bertelanjang dada, Sehun mendekati Ahn Yong yang sedang menata rambutnya. Baiklah, ini saatnya!

Sehun memeluk pinggang Ahn Yong dari belakang. Hembusan napasnya menyapu leher bagian belakang Ahn Yong dan hal itu membuatnya merinding.

Sehun menghirup aroma rambut juga leher Ahn Yong dan tersenyum. “Aroma tubuhmu seperti bau sebuah stroberi, sayang.”

Ahn Yong terdiam dan sekujur tubuhnya merinding begitu ia merasakan napas Sehun di tengkuknya. Bibirnya terkunci dengan rapat. Oh, Tuhan. Apa yang akan Sehun lakukan?

Sehun memutar tubuh Ahn Yong dan kini mereka berdiri dengan posisi saling berhadapan. Mata keduanya saling bertemu dan mereka sama-sama terdiam.

Sehun meraih leher Ahn Yong dengan tangan kanannya. Wajahnya semakin mendekati wajah Ahn Yong dan ia mencium dahi istrinya itu. Kemudian, ia mencium kedua kelopak mata, ujung hidung, pipi dan berakhir di leher Ahn Yong.

“Se—Sehun..,” gumam Ahn Yong pelan. Ia hampir saja menjauhkan dirinya dari Sehun.

Hm?” sahut Sehun seraya mengangkat kepalanya—untuk menatap kedua mata Ahn Yong.

“Kau.. yakin?” tanya Ahn Yong. Ia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.

Sehun tersenyum tenang. “Kau mengizinkannya, ‘kan?”

Ahn Yong mematung di tempatnya. Sehun mendekatkan bibirnya ke daun telinga milik Ahn Yong dan membisikkan sesuatu.

I need you,” bisik Sehun—terdengar sangat sensual. “Tonight.

Tubuh Ahn Yong bergetar. Jantungnya berdegup dengan cepat, sangat cepat. Wajahnya mengeluarkan semburat merah dan Ahn Yong tidak bisa menghindarinya.

Sehun tersenyum dengan tenang. Ia memiringkan kepalanya dan meminimalisir jarak yang ada di antara wajah mereka berdua. Detik berikutnya, bibir mereka berdua bersentuhan dan Ahn Yong tidak menolaknya.

Ciuman kali ini benar-benar berbeda dari ciuman-ciuman mereka yang sebelumnya. Terkadang, Sehun merubah posisi kepalanya—ke kanan dan ke kiri—seraya melumat bibir milik Ahn Yong. Keduanya sama-sama larut dalam ciuman itu.

Kedua tangan Ahn Yong berpindah ke bagian leher Sehun—merangkulnya. Kemudian, tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Sehun mengangkat tubuh istrinya itu dan menggendongnya—membawanya menuju kasur.

Sehun memindahkan tubuh Ahn Yong ke atas kasur dan ia menempatkan dirinya ke atas tubuh Ahn Yong—dengan kedua tangan yang menahan berat badannya.

Keduanya sama-sama tersenyum di sela-sela ciumannya. Kedua tangan Ahn Yong masih merangkul leher Sehun dan ia menarik wajah Sehun untuk memperdalam ciuman mereka berdua.

Tangan Sehun mulai meraba pinggul ramping milik Ahn Yong. Dengan perlahan, ia menyelipkan tangan kanannya ke dalam baju Ahn Yong dan mengelus perut Ahn Yong yang rata.

Merasa geli, Ahn Yong mencengkram pundak Sehun dan memindahkan satu tangannya ke dada Sehun yang bidang—dan hal itu membuat Sehun menjadi semakin agresif.

Ciuman Sehun turun ke leher Ahn Yong dan meninggalkan bekas di sana. Kemudian, bibir Sehun mulai menjamah tulang selangka istrinya itu dan hal itu tentu saja membuat Ahn Yong semakin merasa geli.

Baru saja Sehun akan bertindak lebih lanjut, ia mendengar suara pintu kamarnya ditutup dengan kencang dan ada suara seseorang yang berteriak dari luar kamarnya—hal itu membuat Sehun melepaskan tautan bibir mereka berdua dan menoleh ke arah pintu kamar.

“Sebelum melakukannya, lebih baik tutup dan kunci pintu kamar kalian terlebih dahulu!”

Entah siapapun itu—baik Sehun maupun Ahn Yong—mereka berdua sama-sama terkejut.

Kedua mata Ahn Yong membulat. Wajahnya terasa panas, amat panas. Sehun lupa mengunci pintunya?! Bahkan ia tidak menutup pintunya?!

“OH SEHUN!!!”

Ahn Yong benar-benar kesal. Wajah Ahn Yong memerah—menahan rasa malu dan emosinya. Bagaimana bisa aku tidak sadar kalau pintunya belum ditutup?!

Sehun turun dari kasur. Ia mengunci pintu dengan cepat dan kedua matanya menatap Ahn Yong dengan tatapannya yang paling polos yang pernah ada. Laki-laki itu terkekeh pelan seraya menggaruk leher bagian belakangnya—seolah tidak berdosa sama sekali.

“Tadi itu tanggung, ya..,” gumam Sehun seraya berjalan mendekati Ahn Yong.

Ahn Yong memutar kedua bola matanya. “Dasar bodoh.”

Sehun tersenyum dengan lebar. Sangat lebar sehingga hampir seluruh giginya terlihat dengan jelas. Ia benar-benar masih seperti anak kecil.

Sehun kembali naik ke atas kasur dengan posisi tubuhnya yang seolah menindih tubuh Ahn Yong. Sehun mengeluarkan seringaiannya.

“Kita lanjutkan lagi, ya?”

.

—FIN—

.

HAHAHA HAHAHA HAHAHA HAHAHA HAHAHA HAHAHA KKAEBSONG ITU MAAF YA SCENE YANG TERAKHIR RUSAK GITU HAHAHA HAHAHA HAHAHA HAHAHA SEHUNNYA DODOL SIH KKAEBSONG /digigitreaders/ /ditamparsehun/ /dicipokluhan/ /ditamparseexofans/ /dilemparkejurang/ /APASIH/

Udah ya bagian ‘itu’-nya sampe situ aja, takutnya ntar semakin menjurus ke bagian yang lebih intim hehehe kkaebsong soalnya kan itu privasi hehehe >.< /YAKELEEEESSS/ /BEBAS SIH/ /dikemplang/ /sebenernya sih ini karena Fai belum pernah bikin fanfic yang rate-nya M jadinya ngga ngerti kkaebsong/ /YA TERUS?????/

Ya kalo gini caranya, siapa yang masih mau nikah sama Sehun?????? /YAKALEEEE FAIIIII/

Udah ah! Jangan minta Fai buat nerusin bagian ‘itu’ ya hahaha ini pertama kalinya Fai bikin fanfic yang ada ‘itu’nya walaupun cuma sedikit……… HAHAHAHA pokoknya jangan minta dilanjutin! /masuk ke kamar bareng Sehun/ /tutup pintunya trus dikunci/ /MAIN CONGKLAK DOANG KOK YAELAH/ /slapped/

Setelah ini, masih akan ada setumpuk seri Sehun-Ahn Yong yang masih on going mwahahaha yehet! Pokoknya seri Sehun-Ahn Yong ngga akan berakhir begitu saja >.< /halah/ ya Fai juga cinta sama couple ini hahaha aduh cinta sama couple buatan sendiri :’> /yaiyalah kalo ngga cinta ngga bakalan dibuat/ /sama aja kayak suami istri yang ngga bakal bikin anak kalo ngga cinta hahaha kkaebsong/ /HAYOLO MULAI NGELANTUR LAGI/ /jedotin kepala ke tembok/ /FAI NGGA BYUNTAE KOK INI KARENA PENGARUH LINGKUNGAN AJA ;;;A;;;/ /sama aja dudul/ /jedotin kepala ke tembok lagi/

Beteweee, tanggal 17 Juni nanti Fai mau ngikut tes SBMPTN nih, mohon doanya yaaa dari kalian semua biar Fai bisa masuk ke fakultas yang dituju, aminnnn :’)

Anjir banyak bet cincong ya gue wkwk syudahlah begitu saja cincongnya HEHE ntar Fai malah makin ngaco ;____; /ngek/

Babai! Salam ohorat! *kiss bye bareng Luhan & Kyungsoo*

 

P.S. : lagi dan lagi, typo-nya ngga usah dipikirin ya karena mereka aja ngga mikirin kalian juga kok ntar kalian malah diPHP-in(?????????) :’>

 

Forward : Baby, Goodnight

Advertisements

105 responses to “Honeymoon

  1. yakali sehun semangat banget gituannya sampe lupa ngunci pintu. young pasti malu banget kan ya HAHA
    ditunggu kakfai serial sehun x youngie yg lain ntar kalo punya baby kembar yah biar lucu :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s