MECHANISM OF PERFECTION: (04-A)

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

Previous :

PROLOGUE – Chapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3

MECHANISM OF PERFECTION (04-A)

 

Title: Mechanism Of Perfection (04-A)

Author: byubyu

Rating: PG-15

Genre: School life, Romance & Angst

Length: Chapter

Cast :

Kim Jisun (You)

Lu Han

Park Chanyeol

Kim Nari (OC)

Minor Cast : You will find it in the story

Desclaimer: I dont own anything beside story and oc. This story pure my imagination, any similaries to other stories, dramas and etc. Is purely coincidental.

byubyu© 2014. All rights reserved. No plagirism. Strictly FICTIONAL . No copying, without author`s consent.

POSTER BY Choiri @ YooRa Art Design

http://yooraartdesign.wordpress.com

 

Lets check it out….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HER

 

(Kim Jisun)

The next day….

            Semalaman ini, aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan sang wakil ketua osis itu. Dan pagi ini aku sudah benar-benar melupakannya.

Aku dan Nari duduk berdampingan di seat penumpang untuk pergi ke sekolah.

“Jisun-ah.” panggilnya tiba-tiba membuatku menoleh ke arahnya malas.

What?” sahutku singkat, membuatnya bergerak dari tempatnya, seraya meremas roknya tidak nyaman. Tangannya terlihat bergetar.

“Bisakah kau bicara lagi dengan Lu Han? Katakan padanya jika jangan berharap banyak dariku, ia lelaki yang tampan masih banyak wanita yang ingin bersamanya. Aku tidak bisa menolaknya terus-menerus dengan kasar, ini melukaiku. Sudah tujuh tahun berlalu.” terangnya padaku.

Topik ini adalah hal yang sangat ingin aku hindari, aku hanya ingin berbuat baik dengan orang-orang di sekelilingku. Dengan menjodohkan Lu Han dan Nari mungkin akan membuatku bahagia, karena aku yakin jika dengan Lu Han. Saudara kembarku akan terjaga dengan baik. Aku sangat percaya dengannya.  Tetapi, semua itu adalah keputusan Nari sendiri. Ia menolak atau menerima, itu adalah haknya dalam memilih. Aku tidak bisa memaksakan perasaanya terhadap Lu Han.

Namun, disisi lain hal ini juga akan menyakitkan bagi Lu Han. Setelah melihatnya seperti semalam. Sungguh menyakitkan. Apa yang tidak menyakitkan untukku?

Nari mengatakan apa yang terjadi dengan Lu Han semalam, hatiku terasa teriris setelah mengetahuinya. Aku tidak tega melihat Lu Han seperti semalam namun, mau bagaimana lagi Nari juga seorang manusia biasa.

            Pikiranku kacau malam itu, tidak hanya mengenai si wakil ketua osis. Namun, permasalah Lu Han yang terus berputar mengelilingi isi kepalaku. Aku menutup wajahku, aku lelah. Aku lelah dengan semua ini.

(***)

            Aku berjalan meninggalkan Nari yang masih beranjak turun dari mobil kami. Langkaku semakin kupercepat, tatapan ketakutan dan tidak suka memenuhi koridor membuatku semakin ingin memaki siapapun yang menghalangi jalanku saat ini. Tatapan mata seseorang terasa jelas seperti menusuk seluruh bagian tubuhku. Aku tidak mengidahkan tatapan itu, aku terus berjalan menuju bangkuku. Aku tidak ingin berurusan dengan sisapapun saat ini. Aku hanya ingin menenangkan diri.

            Ponsel dikantungku bergetar, sebuah pesan masuk terpampang pada layarnya. Aku menyerngitkan kedua alisku.

Lu Han

Temui aku di lapangan sepak bola saat istirahat.

Aku menyelipkan kembali ponselku ke dalam blazzerku. Seorang pria berdiri di hadapanku, posture tubuhnya menghalangi penglihatanku. Aku mendongak dengan tatapan tidak suka. Ia hanya tersenyum kecil.

“Dari kekasihmu Nona. Kim?” tanyanya sakartis. Aku menahan amarahku. Aku sudah tidak suka dengan orang ini dari awal. Ia hanya akan menjadi parasit dalam organisasi dan perusak di dalam kelas.

“Bukan urusanmu.” ketusku masih menatapnya dengan tatapan tidak sukaku.

“Manis sekali, aku berharap kita bisa menjadi patner kerja yang baik.” ujarnya seraya mengembangkan seringainya.

Aku memutar bola mataku malas, “whatever”

            Lelaki itu semakin menatapku intens, membuatku merasa tidak nyaman.

“Kenapa masih di sini? Apa kau tidak ada pekerjaan lain?” ujarku mulai menunjukkan nada terusik.

Ia hanya tersenyum kecil, kemudian mendekatkan wajahnya di dekatku. Aku menjauhkan wajahku spontan.

“A-apa yang kau lakukan?” ujarku tidak nyaman. Ia masih menatapku intens.

Kau….” ia mengantungkan kata-katanya. Aku menoleh ke arahnya.

Ia semakin mendekatkan wajahnya, “telah menarik perhatian, Park Chanyeol. Jadi, bersiaplah!!” bisiknya tepat di depan bibirku. Ia menarik tubuhnya kembali dengan seringai khasnya, ia berjalan keluar kelas.

            Aku masih mematung di tempat. Aku masih mencerna perkataan wakil ketua osis itu barusan. Apa yang ia katakan? Bagaimana bisa?

(Lu Han)

            Aku berjalan di koridor, teriakan histeris dari para siswi junior membuatku ingin menyumpal mulut mereka dengan gumpalan kertas. Apa mereka tidak memiliki pekerjaan lain? Ini sangat menganggu. Setiap kali, aku dan rekan-rekanku  berjalan dikoridor mereka akan membuat gerombolan dan berteriak tidak jelas. Popular tidak semenyenangkan yang orang-orang pikirkan.

            Park Chanyeol, menurut rumor ia adalah anak kepala sekolah kami. Tidak heran jika ia langsung menjadi wakil ketua osis. Ia juga langsung menjadi bintang baru di sekolah ini.

Aku memasuki ruang kelas di mana kulihat lelaki itu baru saja menyambangi meja Jisun. Membuat gadis itu terpaku di tempatnya. Mata kami bertemu, seringai khasnya membuatku ingin memukulnya. Ia adalah sosok yang misterius. Bagaimana bisa ia hanya berdua dengan Jisun di saat tidak ada seorang pun di dalam kelas? Apa mereka berdua memiliki hubungan khusus? Aish, Lu Han itu bukan urusanmu. Lagipula, Jisun tidak mungkin mencintai lelaki lain selain aku, bukan?

            Sehun menepuk pundakku, “Lu, kau dipanggil ke ruang kepala sekolah?” ujarnya padaku. Aku membuang semua pikirankuku kemudian mengangguk mengiyakan.

Park Chanyeol berdiri di samping kepala sekolah dengan wajah tidak tertariknya. Keduanya menoleh setelah aku membuka suara. Lelaki itu mentapku intens, seolah aku adalah orang yang tidak ia sukai. Sang kepala sekolah menyuruhku untuk mengatarkan putranya mengelilingi lingkungan sekolah ini. Aku hanya bisa menganggu pasrah.

            Kami berjalan beriringan, di mana aku tidak habis-habisnya mejelaskan setiap tempat padanya. Ia hanya akan mengangguk dan berkata “ya” untuk setiap penjelasanku. Ia memang benar-benar sangat aneh.

(Kim Jisun)

            Aku membuka ruang osis perlahan. Aku meletakan barang-barang yang baru saja terselesaikan di lemari berangkas. Summer party akan dilaksanakan dua minggu lagi, hal ini sangat membuat para anggota osis disibukkan dengan berbagai rencana yang matang. Aku hanya akan memantau pekerjaan mereka dan memberi saran terbaik yang bisa kulakukan. Namun, rencanaku telah ditolak mentah-mentah oleh anggota baru kami. Park Chanyeol, dengan tidak ada persetujuan darinya rencana beserta proposal yang telah kami runingkan harus direvisi ulang.

            Alasan yang ia gunakan membuatku ingin membakarnya hidup-hidup. Hanya karena dirinya tidak menghadiri rapat itu bukan berarti semua harus disusun ulang. Ini membuatku gila.

“Ternyata kau disini.” ujar suara berat dari belakangku. Aku menoleh menatap asal suara itu. Park Chanyeol berdiri di belakangku dengan seringai khasnya. Ia meletakkan tasnya di meja kemudian mendudukan dirinya di meja itu.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku tidak suka. Ia melirikku kemudian tawa kecil terselip keluar dari mulutnya.

“Apakah ada larangan untuk pergi ke ruang osis?” tanyanya santai.

Aku mengambil tasku, kemudian berjalan meninggalkannya. Aku tidak menyukai ada orang yang menggangu pekerjaanku. Yang bahkan baru saja ingin kumulai.

            Lengan kekar mencengkram tanganku kasar, membuatku terhuyung dan menabrak dadanya.

“Apa kau selalu seperti ini?” tanyanya sambil menunduk menatapku. Aku mencoba melapaskan cengkramannya pada tanganku namun, ia makin mengeratkan cengkramannya dan beralih menarikku membuat anggota tubuh kami bersentuhan.

“Lepaskan aku, aku bersumpah akan mengadukanmu pada kepala sekolah karena perbuatan ini.” ancamku padanya. Ia hanya menyeringai.

“Kau pikir aku takut. Apa kau benar-benar tidak mengenal siapa saja di sekelilingmu?” ujarnya menantang.

“Itu bukan urusanmu. Sekarang, lepaskan.” ujarku semakin nyaring.

“Tsk, kau memang keras kepala. Tidak heran semua siswa mengataimu miss perfect. Bagaimana bisa kau memulai tugas yang belum ada kepastiannya? Kau hanya ingin membuat dirimu lebih dari yang lain, bukan?” ujarnya membuatku semakin terbakar emosi.

“Iya. Lalu bagaimana denganmu? Kau hanya ingin membuatku jatuh dan kau bisa memiliki apa yang kumiliki sekarang, huh? Kau tidak ada bedanya dengan, pengecut.” tukasku tajam membuat lelaki itu makin menatapku tajam.

“Aku bukan pengecut.” ujarnya pelan. Aku menaikan alisku, “yeah, yeah..” ujarku tidak berminat.

            Pintu ruangan itu berderit membuat kami menoleh ke arah pintu.

Mataku membulat begitupun dengan orang itu.

“Kalian-“

TBC

Author`s Note:

Hii readers, gimana dengan chapter ini? Semakin ngebosenin kah?

Aku membaginya dalam dua part. Aku minta maaf banget kalo update untuk part berikutnya akan sangat lama. Semoga chapter ini bisa menebus lamanya update dari fanfic ini. What do you think? Lu Han & Jisun ? Or Chanyeol & Jisun?

Dont be silent readers 🙂 Saran dan kritik kalian masih saya tunggu. Please check out my other stories at byurentblue96.wordpress.com

Love, @byurentblue 🙂

123 responses to “MECHANISM OF PERFECTION: (04-A)

  1. omonaaa ini keren banget hukss.. aku kok sakit ya pas bagian ‘Lagipula, Jisun tidak mungkin mencintai lelaki lain selain aku, bukan?’ ya ampun aku bacanya sambil ngeremes bantal coba saking kemesnya ;A; terus itu siapa yg liat chan sama jisun berduaan? duhh bahaya u,u chap selanjutnya deh thor~ keep writing!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s