Lucky – Part 8

BVy4KrdIUAAMjwN

Cast: Kim Jongin | Kang Ji-Kyung (Oc) | Park Chanyeol | Park Young-Geun| etc
Disclaimer: Fanfic ini terinspirasi dari sebuah anime yang judulnya aku lupa. ._.v cuman dibeberapa bagian ada scene yang sama, tapi kesananya itu hasil imajinasiku. ^^
Warning: Typo, cerita gaje, dan kekurangan yang lainnya. Maaf kalau ada yang tidak suka. DON’T LIKE DON’T READ!
Poster belongs to my friend, Icha. Thanks a lot, babe.

|Part 1| Part 2| Part 3| Part 4| Part 5| Part 6| Part 7|

***

Tiga hari.

Itu adalah waktu di mana Kang Ji Kyung tidak menampakan dirinya di sekolah. Gadis itu tidak pernah absen selama itu sejak ia bersekolah di sini. Kai mengetahuinya, dan hal itu membuatnya benar-benar khawatir.

“Apa hari ini Kang Ji Kyung masuk sekolah?” tanya Kai untuk kesekian kalinya pada ketua murid di kelas Ji Kyung, sangat berharap kalau jawaban yang akan diberikan oleh ketua murid itu tidak akan sama dengan jawaban tiga hari kemarin.

Tapi sepertinya ia harus menelan pil kekecewaan begitu melihat gadis di hadapannya menggelengkan kepalanya. Menyingkirkan perasaan kecewa yang dialaminya, Kai kembali mengajukan pertanyaan.

“Apa sekarang kau tahu kenapa ia tidak masuk sekolah?Apa ia sakit? Atau terjadi sesuatu? Bisakah—“

Gadis itu berdehem menghentikan ucapan Kai, sedikit terganggu. Pemuda yang terkenal karena kemampuan hebatnya dalam bermain basket dan dance itu sepertinya tidak akan pernah menyerah menanyakan keberadaan kekasihnya, terlihat dari begitu giatnya ia datang ke kelasnya dan menanyai dirinya selama tiga hari terakhir ini, seperti sekarang.

“Maaf Jongin-ssi, tapi Kang Ji Kyung tidak pernah memberikan surat apapun pada kami atas keabsenannya. Kami tidak tahu ia ke mana. Sebaiknya kau menanyakan hal ini pada wali kelas kami atau guru-guru yang lain.” jelas ketua murid itu, mencoba untuk terdengar sopan dan hal itu di mata Kai terlihat sangat menjengkelkan.

Ia menggeram pelan, sebelum gadis itu mengatakannya, Kai sudah lebih dulu menanyakannya. Ia pergi menemui wali kelas Ji Kyung, bahkan semua guru-guru di sekolah ini tapi tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan kekasihnya, mereka selalu merespon dengan menggelengkan kepala mereka dan mengucapkan hal sama yang sangat ia benci sekarang.

“Kami tidak tahu.”

Kai benar-benar tak habis pikir, kenapa sepertinya semua orang di sekolah ini terlihat tidak memedulikan Ji Kyung dan bersikap masa bodo padanya. Ia juga sudah mencoba menemui gadis itu dengan pergi ke rumahnya, dan yang ia dapati adalah gerbang tinggi yang tertutup rapat, tak pernah terbuka meskipun ia berkali-kali mencoba menekan bel yang terpasang di sisi gerbang bahkan ketika ia berteriak memanggil namanya dari luar.

Mengucapkan terimakasih dengan sedikit menggerutu, Kai kemudian berjalan pergi menjauhi gadis menyebalkan itu dan melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah di mana motor sport kesayangannya terparkir. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, ia tidak tahu harus mencari kemana lagi keberadaan Ji Kyung. Sudah ratusan kali ia mencoba untuk menghubungi ponselnya, tapi selalu di jawab dengan kalimat monoton dari operator. Seolah mengejeknya.

Laki-laki itu hanya ingin bertemu dengan kekasihnya, menanyakan keadaannya, meminta maaf, menjelaskan apa yang bisa ia jelaskan. Dan melakukan apapun yang bisa membuat hubungan mereka kembali seperti semula. Demi Tuhan, Kai sangat mencintai Kang Ji Kyung dan ia tidak mau dan tidak pernah ingin hubungannya berakhir seperti ini.

Ia terlalu mencintai gadis itu untuk melepasnya pergi.

Kai kemudian menyalakan mesin motornya bersiap untuk pergi, tapi harus terhenti begitu seseorang menghalangi jalannya. Pemuda itu mengerutkan dahinya lalu melepas helm yang dikenakannya dan menatap pria paruh baya di hadapannya dengan tatapan bingung. Seingatnya ia tidak mengenal pria ini atau pun pernah bertemu dengannya. Sebelum Kai sempat mengatakan sesuatu, pria itu terlebih dahulu berbicara.

“Kau Kim Jong In?” tanyanya dan membuat Kai terkejut.

Ia mengetahui namaku. Pikirnya.

Menatap pria itu dengan tatapan bertanya, ia akhirnya menganggukan kepalanya ragu, “Ya, itu namaku. Anda siapa? Apakah saya pernah bertemu anda sebelumnya?” Kai balik bertanya dengan hati-hati, pria itu menggeleng dan berjalan menghampiri Kai sampai ia berdiri di sebelah pemuda itu.

“Aku supir pribadi nona Ji Kyung,” Kai membulatkan matanya mendengar itu, “Aku ingin meminta tolong padamu.”

***

Ji Kyung mencabuti rumput liar yang ada pada gundukan tanah di hadapannya dengan airmata yang terus menetes. Ia menunduk, menempelkan keningnya pada batu nisan yang tertulis nama Kang Min Hyuk di dalamnya.

“Oppa, ternyata aku bukan adik kandungmu,” ucap Ji Kyung tertawa penuh kesakitan, isakan pelan mulai terdengar dari bibirnya, “apa oppa sudah mengetahuinya? Apa oppa akan tetap menyayangiku meskipun aku bukan adik kandungmu?” Ji Kyung menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang terasa menyakitkan yang mulai ia rasakan di dalam hatinya.

“Min Hyuk oppa…” rintihnya, mencengkram sejumput rumput yang tumbuh di makam kakak laki-lakinya. Ia menunduk dan bersamaan dengan itu setetes airmata jatuh tepat di atas gundukan tanah itu dan beberapa detik kemudian di ikuti oleh tetesan-tetesan lainnya yang berjatuh dari langit. Hujan.

“Aku merindukanmu.” Ji Kyung terisak, berlomba dengan suara deras hujan yang mengguyur tempat pemakaman di mana ia berada sekarang tanpa ampun.

“Siapa yang harus aku mintai tolong, siapa yang akan menghiburku, menenangkanku saat aku merasa sedih seperti saat ini selain dirimu.

“Min Hyuk oppa aku merindukan senyumanmu, aku merindukan pelukanmu, aku merindukan kata-katamu yang selalu berhasil menenangkanku. Bahkan aku merindukan usakan tanganmu di rambutku.” Gadis itu terisak kencang, ia kemudian mengarahkan tangannya untuk mencengkram dadanya –tepat di mana ia merasakan rasa sakit yang mulai terasa nyata.

“Oppa, dunia ini mengerikan tanpa kau di sini. Aku takut. Semua orang menjauhiku, tidak ada yang mau berteman denganku. Appa dan oemma membenciku, menyalahkanku karena kematianmu. Kenapa semua orang memperlakukanku seperti ini? Aku ingin bahagia, aku ingin seperti orang lain yang bisa tersenyum lebar kapan pun mereka merasa senang.

“Aku sendiri, aku merasa kesepian di dunia yang kosong ini.”

:

“Aku di sini Ji Kyung. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

:

Tubuh gadis itu menegang kaku dengan seketika begitu ia mendengar ada sebuah suara yang menjawabnya. Itu bukan suara kakaknya, tentu saja. Itu suara yang sangat dikenal olehnya. Suara yang beberapa hari ini dengan sengaja ia hindari.

Dengan jantung yang mulai berdebar kencang, gadis itu lalu menolehkan kepalanya dengan cepat, terlalu cepat sampai ia meringis merasakan rasa sakit di lehernya. Tapi itu tidak sebanding dengan apa yang ia lihat sekarang, beberapa meter di hadapannya berdiri Kai dengan tubuh yang sama basah kuyup dengan dirinya. Sedang menatapnya dengan begitu intens. Membuat Ji Kyung menggigil di bawah tatapannya.

Laki-laki itu tidak pernah melepaskan tatapannya ketika ia mulai melangkah maju, setiap suara berisik yang ditimbulkan oleh guyuran air hujan perlahan-lahan memudar, hanya langkah pemuda itu yang bisa ia dengar.

Ji Kyung ingin mengalihkan tatapannya dari mata hitam itu, tapi ia tidak bisa. Mata itu sanggup menghipnotisnya untuk terus menatap, sanggup menenggelamkannya dan membaca dirinya dengan begitu mudah. Seperti sebuah buku yang sengaja di buka. Dan hal itu membuat ia takut.

Kai berhenti ketika ia sudah berada di hadapan gadis itu, cukup dekat sampai ia bisa melihat wajah pucatnya di bawah guyuran air hujan. Hati Kai berdenyit sakit menyadari bahwa Ji Kyung terlihat begitu tak berdaya, rapuh seperti gelas yang mudah pecah.

Ia ingin memeluknya, menahannya dan memberikan rasa hangat yang mampu membuat gadis itu merasa nyaman.

“Kai-ssi…” ucap Ji Kyung pelan di tengah derasnya hujan, tapi masih mampu di dengar oleh laki-laki itu dengan cukup jelas.

“Hmm?” gumam Kai, masih sibuk memandangi wajah Ji Kyung –mengingat semua lekuk wajahnya dan memastikan kalau ia tidak terluka. Tanpa sadar ia menghela napas lega, ah, betapa ia sangat merindukan gadis ini.

“Kenapa kau bisa tahu aku ada di sini?”

“Seseorang memberitahuku.” Kai menjawab santai kembali menatap mata Ji Kyung, kali ini menatapnya dengan begitu lembut. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah gadis itu tapi Ji Kyung lebih dulu mengelak dengan mundur beberapa langkah. Menjaga jarak.

Melihat itu Kai hanya bisa tersenyum pahit.

“Tidak seharusnya kau berada di sini, kau bisa sakit. Pulanglah.” usir Ji Kyung dengan halus, menggigit bibir bawahnya dan menurunkan tatapannya dari bola mata hitam itu.

“Begitu juga denganmu.” balas pemuda itu dengan tenang, maju selangkah dan sebagai hasil Ji Kyung memundurkan langkahnya.

“Pulanglah.” tekannya sekali lagi. Gadis itu lalu membalikan tubuhnya untuk melangkah menjauh dari dirinya tapi Kai jauh lebih cepat dengan memegang sebelah tangannya kemudian meremasnya pelan.

“Aku tidak akan pulang sebelum kau pulang denganku.” sahutnya keras kepala.

Ji Kyung memejamkan matanya beberapa saat, menenangkan gemuruh di hatinya. Setelah itu ia berbalik dan terkejut menyadari bahwa wajah pemuda itu hanya berjarak beberapa senti dari dirinya. Walaupun begitu ia tetap memberanikan dirinya dan berharap kalau suaranya tidak terdengar bergetar dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya.

“Kita akhiri saja semuanya, hubungan ini menyakiti banyak orang.” ungkap Ji Kyung memulai. Ia menghindari matanya ketika ia mengatakan itu.

“Aku tidak mau.”Kai menolak dengan mencengkram tangan gadis itu sedikit lebih kuat.

“Kai-ssi…”

“Kang Ji Kyung.” potong Kai tegas, membuat Ji Kyung mengatupkan kembali mulutnya yang hendak membantah. Ia merasakan kalau tangan pemuda itu berpindah memegang kedua bahunya.

“Lihat aku.”Gadis itu menggeleng, menolak permintaan pemuda itu dan tetap menundukan kepalanya, “Ji Kyung, lihat aku.”

Ji Kyung tetap menggeleng, kalau ia mendongak ia yakin kalau topeng yang ia pasang sekarang akan hancur ketika ia melihat kedua bola mata hitam itu sekali lagi. Menampilkan dirinya yang sesungguhnya, dirinya yang begitu rapuh dan menyedihkan, dan ia tidak mau itu.

Setidaknya tidak di hadapan pemuda itu.

Hal selanjutnya yang membuatnya terkejut ketiga tiba-tiba saja Kai menunduk dan menempelkan dahinya dengan dahi Ji Kyung membuat gadis itu mau tak mau bertatapan kembali dengan matanya, mata yang memperlihatkan tatapan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Tatapan yang begitu menenangkan, peduli, mengerti dan…cinta. Membuat Ji Kyung bergetar karena perasaan asing yang jarang sekali ia rasakan, perasaan di mana ia merasa dilindungi, disayangi sekaligus dicintai. Ini terlalu banyak. Ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi.

“Maafkan aku jika aku—“

“Kau tidak—“

“Dengarkan aku dulu,” Ji Kyung mengangguk mendengar nada tegas yang Kai layangkan, menutup mulutnya dan membiarkan pemuda itu menjelaskan apa yang ingin ia jelaskan. “aku minta maaf,” Kai melihat Ji Kyung merengut tidak setuju tapi ia tetap melanjutkan. “Kau salah paham Ji Kyung. Aku tidak pernah mempunyai perasaan pada Young Geun, dia sahabat terbaikku. Dari kecil. Aku juga terkejut kalau ia… well, mempunyai perasaan padaku. Aku sudah menganggapnya sebagai adikku, salah satu orang yang aku sayangi,” Ia meremas bahu Ji Kyung pelan.

“Jadi, Ji Kyung aku mohon jangan berpikir macam-macam.” Gadis itu akan membuka mulutnya untuk berbicara, tapi telunjuk Kai menghentikannya dengan menempelkannya di bibirnya membuat Ji Kyung diam kembali.

“Ssshh, aku belum selesai bicara. Aku tahu sekarang kau berpikiran kalau kalau kau hanyalah orang ketiga di antara kami, orang ketiga yang menghancurkan persahabatan kami, dan apapun itu namanya. Tapi nyatanya kau bukan orang seperti itu Ji Kyung. Kau adalah kau.

“Gadis yang sangat aku cintai, seandainya Young Geun mengakui perasaannya padaku lebih dulu sebelum aku bertemu denganmu, aku tetap tidak akan bisa menerimanya. Tidak ada yang berubah. Hubungan kami platonic. Jadi jangan pernah berpikiran seperti itu lagi, hmm?”

Setelah mendengar penjelasan panjang laki-laki itu, Ji Kyung memberanikan dirinya untuk mendongak menatapnya. Ia bersyukur sekarang hujan deras jadi ia tidak perlu khawatir kalau Kai bisa melihat buliran air mata yang menuruni pipinya sekarang. Perasaan yang ia tidak tahu namanya membuncah di hatinya, menyebar ke seluruh tubuhnya seperti luapan air.

Ji Kyung menggigit bibir bawahnya, saat ini ia membutuhkan seseorang untuk bersandar. Semua permasalahan yang dialaminya, dan kenyataan pahit tentang keluarganya yang baru saja ia dengar membuatnya kewalahan. Ia ingin berpegangan pada seseorang, hanya agar ia tidak terjatuh. Lagi dan lagi.

Dengan tangan yang bergetar, Ji Kyung mendekat dan melingkarkan tangannya di leher laki-laki itu. Memeluknya dengan begitu erat, lebih erat lagi, sampai ia bisa merasa aman.

Untuk sekali ini saja ia ingin memperlihatkan kelemahannya, untuk sekali ini saja ia ingin menangis di hadapan orang lain. Untuk sekali ini saja ia ingin dimengerti, kalau sekarang, di sini, ia begitu sakit.

“Aku takut.” Ji Kyung terisak, suaranya begitu kecil dan bergetar sampai Kai harus menajamkan pendengarannya agar ia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan gadis itu.

“Aku takut Kai,” Ji Kyung mengulangi perkataannya, dan sebagai bukti ia mempererat pelukannya sampai pemuda itu sedikit merasa sesak karena terlalu kencangnya gadis itu memeluk dirinya, tapi ia tidak memedulikannya.

“Aku takut kesendirian.Aku tidak ingin sendirian lagi di dunia ini. Tolong aku.” Kai meringis, merasakan rasa sakit di hatinya mendengar pengakuan Ji Kyung.

Ya Tuhan…

Mendengar itu, ia berjanji pada dirinya sendiri kalau mulai saat ini, hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini ia tidak akan pernah meninggalkan gadis itu. Ia akan melindungi gadis ini, menyembuhkan luka di hatinya dan memberikan kebahagiaan yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Kim Jong In berjanji.

“Mulai saat ini kau tidak akan sendiri lagi, karena ada aku. Untukmu.” Janji laki-laki itu, membalas pelukan Ji Kyung tak kalah eratnya. Ia kemudian mencium puncak kepala gadis itu penuh sayang.

Beberapa detik kemudian ia merasakan tubuh Ji Kyung mulai tenang dan…lemas. Jantung Kai seolah dipaksa berhenti manakala menyaksikan ketika tubuh mungil itu perlahan merosot dari pelukannya sebelum benar-benar jatuh ke tanah dan untungnya masih bisa di tahan oleh laki-laki itu. Udara di sekitarnya seolah menyempit melihat wajah gadis itu begitu pucat bagaikan kertas putih dan bibirnya yang mulai membiru. Tak sadarkan diri.

“KANG JI KYUNG!”

***

“Apa kau benar-benar mencintai nona Ji Kyung?”

Kai mendongak memandang supir pribadi Ji Kyung itu bertanya, dan tanpa pikir panjang ia mengangguk.

“Ya, aku mencintainya.” Go ajussi menatap Kai cukup lama, seperti memastikan sesuatu dan pada akhirnya ia mengangguk puas setelah menemukan apa yang ia cari.

“Aku bisa melihat itu.” simpulnya, tersenyum hangat pada pemuda yang duduk di sampingnya. Setelah beberapa saat terdiam dalam keheningan, Go ajussi lalu menatap kembali Kai dengan serius.

“Nona Ji Kyung selama ini sudah banyak tersakiti, bertahun-tahun ia hidup dalam kesendirian.” Pria paruh baya itu berhenti sejenak memandang Kai yang sekarang tengah menatapnya –memusatkan seluruh perhatian untuk menyimak ceritanya.

Go ajussi kemudian menghela napas berat dan pandangannya mulai menerawang jauh ke masa lalu sebelum ia melanjutkan ceritanya.

“Tuan dan Nyonya selalu mendiktenya, menyuruhnya untuk melakukan ini itu sesuai keinginan mereka. Tapi tidak pernah menanyakan apakah nona Ji Kyung ingin melakukannya atau tidak.

“Tidak seperti anak-anak lainnya, masa kecil nona Ji Kyung selalu dihabiskan dengan belajar dan belajar. Ia tidak mempunyai waktu bahkan untuk bermain boneka,” Go ajussi menjelaskan, ia lalu menoleh pada Kai. “Apa kau tahu kenapa nona Ji Kyung selalu di jauhi dan tidak ada seorang pun yang mau berteman dengannya?” tanyanya.

Kai berpikir sejenak, “Karena dia putri dari ketua yayasan di sekolah ini.” jawabnya, ia tidak bisa menemukan jawaban lain.

Go ajussi tersenyum kecut, “Bukan hanya itu saja, tapi Tuan dengan sengaja menyuruh orang-orang untuk menjauhi gadis itu. Ia berpikiran kalau nona Ji Kyung tidak membutuhkan seorang teman. Teman hanya akan mengganggunya dan menghambatnya. Itu sebabnya nona Ji Kyung selalu sendiri.”

Kai melebarkan matanya mendengar cerita itu, ia tidak menduga –tidak pernah menduganya kalau ayahnya sedirilah yang tega melakukan itu padanya. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Tiba-tiba saja ia merasa marah. Ia berpikir, ayah mana yang tega melakukan hal seperti itu pada putrinya sendiri.

Menyampingkan rasa marahnya, Kai bertanya. “Kenapa ayahnya tega melakukan hal itu pada Ji Kyung?”

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu, aku yakin nona Ji Kyung akan menceritakannya padamu.”

Pemuda itu mengangguk kaku, bibirnya terkatup rapat membentuk garis lurus. Ia masih marah. Ia tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang harus dijalani Ji Kyung selama ini.

“Jongin-ssi, kau bilang kau mencintainya. Sebagai seorang supir yang sudah bekerja tahun di keluarga itu, aku menyayangi Ji Kyung seperti anakku sendiri. Aku tidak ingin melihatnya terluka lebih lama lagi. Untuk itulah aku datang mencarimu. Aku percaya kau bisa menjaga gadis itu, melindunginya dan mencintainya dengan sepenuh hati. Apakah kau tidak keberatan melakukannya, nak?” Go ajussi menatap Kai penuh harap, dan ia tidak akan pernah mengecewakan orang yang telah mempercayakan Ji Kyung padanya.

“Tentu saja, ajussi tidak perlu memohon untuk hal yang sudah pasti akan aku lakukan.” jawab Kai mantap.

Pria paruh baya itu mengangguk setuju, menepuk bahu Kai sekali ia kemudian berjalan pergi. Tapi berhenti ketika baru beberapa langkah seolah teringat sesuatu. Go ajussi menoleh dan menatap Kai melalui bahunya. “Ah ya, kau sedang mencari nona Ji Kyung bukan?”

“Ne. Ajussi tahu dia ada di mana sekarang?” Kai mengangguk tidak sabar dan cepat, terlalu cepat malah.

Supir pribadi keluarga Kang itu tersenyum kecil melihat reaksi yang diperlihatkan pemuda itu. “Aku rasa nona Ji Kyung sedang berada di makam kakaknya sekarang.”

Kai menaikan sebelah alisnya mendengar informasi baru dari pria paruh baya itu, “Kakak?”

“Ya, nona Ji Kyung mempunyai seorang kakak.”

“Dan meninggal?” sambung Kai pelan tapi masih mampu di dengar Go ajussi. Untuk sesaat pemuda itu bisa melihat kilat kesedihan terpancar dari sorot matanya, sebelum beberapa detik kemudian menghilang.

“Ne.” jawabnya tersenyum muram.

:

Kai tersenyum miris mengingat kembali percakapannya dengan Go ajussi, ia lalu mengalihkan tatapannya pada gadis yang menjadi topik utama pembicaraan mereka tadi siang dan mengerutkan keningnya melihat Ji Kyung bergerak tidak nyaman dalam tidurnya. Keringat dingin mulai muncul di dahi dan juga lehernya.

Dengan segera, ia beranjak dari kursinya dan beralih duduk di sisi ranjangnya (yang sekarang di tiduri gadis itu) ia menatap Ji Kyung dengan khawatir ketika ia mulai mengigau dalam tidurnya.

“Oppa…”

“Hey, Ji Kyung.” panggilnya, mengguncang bahunya pelan.

“Oppa…”

“Ji Kyung!”

“Oppa… jangan…”

Sekarang kecemasan Kai semakin menjadi mendapati Ji Kyung sama sekali tidak merespon panggilannya.

“Kang Ji Kyung!”

“Jangan… aku mohon… jangan tinggalkan aku… MIN HYUK OPPA!?”

Kai melihat gadis itu terbangun dari tidurnya dengan napas memburu, matanya terlihat tidak fokus antara sadar dan tak sadar. Wajahnya terlihat pucat dan bibirnya bergetar memanggil-manggil nama kakaknya pelan dengan lelehan air mata.

Meringis, pemuda itu kemudian mengangkat kedua kakinya ke atas ranjangnya dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Ji Kyung lalu menangkup wajah pucat itu menggunakan kedua tangannya.

“Kang Ji Kyung.” panggil pemuda itu sekali lagi, perlahan bola mata kecoklatan milik gadis itu bergerak menatapnya. Kai kembali meringis melihat ekspresi ketakutan dan kesedihan itu terpancar sempurna di mata Ji Kyung. Ia tidak suka melihat kekasihnya seperti ini.

“Tenanglah.”ucap Kai dengan suara yang ia usahakan terdengar menenangkan. Kang Ji Kyung menggeleng, ketakutan masih tetap terpancar dari ekspresinya.

“A-aku tidak b-bisa bernapas.” rintih gadis itu, Kai menggigit bibir bawahnya dengan keras sampai ia bisa merasakan rasa asin dan karat di lidahnya. Ia benci melihat Ji Kyung seperti ini. Dan yang lebih membuatnya benci ketika ia tidak bisa melakukan apapun untuk membuat kesakitan yang dirasakan gadis itu menghilang –atau paling tidak sedikit berkurang.

“Dengarkan aku baik-baik, tarik napasmu perlahan dan keluarkan. Tarik, keluarkan,” Kai menarik dan menghembuskan napasnya secara teratur memberi contoh, tersenyum kecil begitu Ji Kyung mengikuti arahannya. “Ya, seperti itu. Bernapaslah bersamaku.”

Beberapa menit berlalu sampai akhirnya ia merasakan kalau tubuh Ji Kyung perlahan-lahan mulai relax. Laki-laki itu kemudian menyingkirkan rambut yang menutupi wajah kekasihnya lalu mengusap keringat di dahinya dengan lembut.

“Kim Jong In?” panggil gadis itu dengan suara serak.

“Yes, I’m here Ji Kyung.”

“Don’t leave me.”

“Sure.” Angguk Kai, menarik tubuh rapuh itu ke dalam rengkuhannya.

Sure, Ji Kyung. Sure.

-TBC-

Holla~ tidak terlalu lama ‘kan dari janji update cepetnya? Mwehehe~
To be honest, aku sudah berusaha banget buat manjangin nih chapter. Tapi mau gimana lagi, imajinasi aku nyampenya cuman sampe segini. Huhuhu~ ._.v I hope u enjoying it.

See u!^^

61 responses to “Lucky – Part 8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s