Fate : Four :

fate2

FATE

EXO Lay | Wu Jia Yi (OC/You) | EXO D.O

Author : @MinhoNoona (Choi Soo Joon)

Genre : Romance,Angst,Life

Rate : PG-15

Length : Seriesfic

Summary :

Aku terpuruk dan lalu bertemu denganmu,apa itu takdir kita? -Jia Yi-

Mencintaimu adalah sebuah kesalahan,bukan soal perasaan tapi kenyataan. -Yixing-

Poster : andinarima @ http://cafeposterart.wordpress.com/

Previous Story :

( Prologue | One | Two | ThreeKarena kondisi keluarga yang tidak kondusif,Jia Yi dipindahkan ke Seoul oleh kedua orangtuanya. Kini gadis bermarga Wu itu harus siap dengan kehidupan barunya yang mandiri. Disisi lain,sahabatnya–A Lin kembali berhubungan dengan Zitao. Akankah keputusan yang diambil A Lin ini benar adanya? Lalu sanggupkah Kris menjalani hari-harinya dengan baik di balik penjara? Dan mungkinkah Seoul kembali mempertemukan Jia Yi & Yixing? 

NORMAL POV

DOR !!! Terdengar tembakan yang memecah keheningan malam. Laki-laki muda itu mempercepat larinya,di belakangnya terdapat beberapa orang polisi.

“Berhenti,Zhang Yixing !!! Atau kakimu akan kami tembak !!!” ancam salah seorang polisi.

Yixing sama sekali tidak takut,ia terus melanjutkan larinya. Dengan lihai ia menerobos dari satu gang ke gang lainnya. Ini entah pengejaran yang keberapa kali yang harus dialaminya,ia sudah terbiasa dan kali ini ia tak mau tertangkap seperti terakhir kali dulu. Saat tenaganya hampir habis,bala bantuan datang. Sebuah sedan hitam berhenti dihadapannya,tanpa banyak kata Yixing masuk.

“Ayo cepat pergi,” perintahnya.

Laki-laki disampingnya menginjak pedal gas dalam-dalam dan dalam hitungan detik mobil itu sudah melesat cepat. PRANG !!! kaca belakang mobil pecah ditembus peluru yang berasal dari pistol polisi,teman Yixing itu menambah kecepatannya dan dalam sekali putaran berbalik arah. Setelah dirasa jauh dari jangkauan polisi,kecepatan mobil itu kembali normal.

“Kau benar-benar gila,Yixing-ah. Ken sudah memperingatkanmu kan,kalau hari ini hari penangkapan,” ujar Yamada.

“Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan,”

“Tentang siapa? Kris? Bukankah dia sudah dipenjara?” tanya Yamada.

“Dia dipenjara,tapi dia belum mati,” ucap Yixing dingin.

“Sudahlah,hentikan dendammu itu. Kurasa ini lebih dari cukup,”

“Tidak,ini belum cukup.” tegas Yixing.

Yamada menghembuskan nafas panjang,ia mengambil tas ransel dan sebuah buku kecil dari jok belakang.

“Pergilah sejauh mungkin dari Beijing,polisi akan terus memburu kita. Aku akan pergi tapi tentu tidak ke Jepang,”

“Lalu kau akan kemana?” tanya Yixing.

“Hongkong atau Thailand sepertinya tempat yang aman,” Yamada menyeringai.

“Lalu tiket pesawat?”

“Di dalamnya ada uang cukup untuk membeli tiket dan hidup seminggu disana. Sisanya kau pikirkan sendiri,”

Yixing menatap paspor yang kini berada di tangannya. Bukan atas nama Zhang Yixing.

“Kau sudah mendapatkan ide akan pergi kemana?” tanya Yamada.

“Seoul. Ya,aku akan pergi ke Seoul,” jawab Yixing.

***

“APA??? Jadi Jia Yi sudah pindah?” pekik A Lin saat menemui Mama Jia Yi.

“Ya,begitulah Nak. Maaf kalau Jia Yi tidak pamit padamu,ia juga sebenarnya tak ingin pindah tapi keadaan disini kami rasa tidak kondusif sehingga Jia Yi kami pindahkan ke Seoul,” jelasnya.

A Lin tidak menyangka,bahwa Jia Yi akan pergi semendadak ini.

“Ini ada surat yang Jia Yi titipkan untukmu,” Mama Jia Yi mengangsurkan amplop berwarna pink itu.

A Lin menerimanya,ia bergegas pamit. A Lin menghubungi seseorang.

“Kau dimana?”

“Ada apa denganmu,hm?” sahutnya di seberang.

“Aku membutuhkanmu,”

“Oke,jangan kemana-mana. Aku akan menjemputmu disana,sebutkan tempatnya saja. Oke?”

“Aku di…,” A Lin menyebutkan kini tempat ia berada.

Setengah jam kemudian,sosok tersebut sudah hadir dihadapan A Lin. Ia langsung duduk disamping A Lin.

“Kenapa wajahmu murung begitu? Apa kau ada masalah?” Zitao—seseorang yang ditelepon A Lin barusan menatap gadis itu penuh tanda tanya.

“Jia Yi. Ternyata dia sudah pindah ke Seoul,” ucap A Lin lirih.

“Pindah? Sejak kapan?”

“Belum lama ini,”

“Kenapa semua terasa mendadak? Bukankah sahabatmu itu baik-baik saja?”

A Lin menggeleng.

“Kakak lelakinya terlibat kasus narkoba dan kini kedua orangtuanya terancam bercerai,”

“Kakak lelaki Jia Yi? Maksudmu Yi Fan?” tebak Zitao.

“Ya,dia. Karena kedua orangtuanya yang terus bertengkar membuat Yi Fan dan Jia Yi tertekan,dan yang lebih parahnya lagi Yi Fan terjebak dunia narkoba dan sekarang tengah diproses hukum,” cerita A Lin.

Zitao terdiam. Ia memang tahu,Yi Fan adalah salah satu seniornya di kampus. Namun satu yang tak ia tahu adalah laki-laki bermarga Wu itu terlibat dalam kubangan obat terlarang,apakah ini benar-benar karena masalah keluarga? Atau ada seseorang yang menjebaknya? batin Zitao.

“Padahal kami berdua sudah berjanji untuk lulus SMA bersama dan bahkan masuk di universitas yang sama,tapi sekarang Jia Yi malah pergi meninggalkanku,” air mata A Lin mengalir perlahan.

Tak tega melihat gadisnya menangis,Zitao memeluk A Lin erat dan membelai rambut panjangnya dengan sayang.

“Jia Yi juga pasti tidak mau kehilangan sahabat terbaik sepertimu A Lin,tapi keadaan memaksanya untuk pergi. Kuharap kau bisa memahami situasinya,tenanglah kau tidak sendirian masih ada aku disini yang akan selalu menemanimu,”

Tangis A Lin semakin pecah saja. Zitao biarkan gadisnya itu menangis sepuasnya. Mereka habiskan waktu bersama hingga senja datang.

JIA YI

Bosan. Dua hari ini kegiatanku adalah sama. Menghabiskan waktu di kamar untuk mempersiapkan ujian akhirku. Hampir 4 hari di Seoul,aku belum menginjakkan kaki kemana-mana. Rasa-rasanya terlalu malas menghabiskan waktu sendirian,tapi sepertinya sekarang aku butuh refreshing. Setelah berdandan,akhirnya aku melangkahkan kaki keluar apartemen. Angin musim semi menerpa kulitku,tidak terlalu dingin tapi juga tidak terlalu panas. Hangat. Tapi itu tidak sesuai dengan kondisiku sekarang,aku benar-benar merindukan Mama & Papa,Kris gege dan tentu saja A Lin. Aku selalu menghubungi Mama & Papa,tapi tidak dengan A Lin. Aku takut,kalau aku menghubunginya maka aku akan semakin merindukan sahabatku itu. Aku merapatkan mantelku yang berwarna ungu muda tersebut dan melanjutkan langkah kakiku menuju sebuah taman. Disana tampak ada segerombolan anak muda yang tengah asyik melakukan sebuah pertunjukkan. Aku berdiri ditengah kerumunan penonton,ternyata mereka tengah melakukan hip-hop dance. Alunan musik yang terdengar dari stereo mini itu seiring dengan gerakan-gerakan yang mereka lakukan. Aku kagum. Sepertinya mereka usianya sama denganku,karena kulihat tiga diantara mereka masih memakai seragam SMA. Tepuk tangan meriah langsung menyambut kala mereka menyelesaikan tariannya. Dua dari mereka tampak berkeliling sambil membawa kardus sedang berwarna cokelat,perlahan aku membaca tulisan hangeul di depan kotaknya. Untuk acara kelulusan? batinku. Aku tidak yakin benar. Aku memang pernah belajar bahasa Korea,tapi itu pun sudah lama saat aku masih di SMP dulu dan kini tak banyak bahasa Korea yang kuingat,begitu pun dengan hurufnya.

“Kalian sudah bekerja keras,ini hadiahnya !!!” suara seorang laki-laki terdengar.

Anak-anak itu langsung mengerubunginya,ternyata ia membawa dua kantong besar berisi minuman. Aku menyipitkan mata dan berusaha memperjelas penglihatanku,bukankah itu laki-laki yang kutemui di kafe itu? batinku. Saat aku tengah memperhatikannya,tak disangka ia menatapku. Aku terkejut,saat hendak menunduk dan pergi,laki-laki itu dengan langkah cepat mendekatiku.

“Kita pernah bertemu kan,Miss?” tanyanya dalam bahasa Inggris.

“Ya,aku bertemu denganmu saat di kafe 4 hari lalu,” jawabku.

Nice to meet you again,” ia mengulas senyum tipis.

Aku membalas senyumannya.

“Sepertinya kondisimu sekarang sudah lebih baik,” ucapnya.

“Eh?”

“Saat pertama kali bertemu,kulihat kau murung. Tapi sekarang sudah lebih ceria,”

“Oh ya,soal saat itu..,”

“Hyung !!! Kenapa kau tidak menyisakan satu untukku?” seorang laki-laki berkulit cokelat itu menyeruak diantara kami berdua.

“Maaf,Jongin-ah. Aku salah perhitungan,nanti kubuatkan yang lebih enak di rumah,oke?” ia menepuk pundak laki-laki itu.

“Kau ini,Hyung. Ya sudah,aku mau kembali ke sekolah. Bye,” laki-laki itu pamit.

Suasana taman tidak seramai tadi,hanya tinggal segelintir orang dan tentu saja kami berdua.

“Oh ya,perkenalkan aku Do Kyungsoo,” laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Aku menatapnya sesaat dan lalu membalas uluran tangannya.

“Aku Wu Jia Yi,”

“Wu Jia Yi? Kau orang chinese? pantas wajahmu dan cara bicaramu tidak seperti orang Korea,” tanggapnya.

“Ya begitulah. Kyungsoo-ssi,terimakasih banyak atas bantuanmu,”

“Bantuanku? Di kafe itu? Kau tidak perlu memikirkannya,aku hanya paling tidak tega melihat seorang perempuan menangis,”

“Kau baik sekali,Kyungsoo-ssi,”

“Lain kali kau bisa main lagi ke kafe,kalau memang aku sedang tidak banyak pekerjaan,kita bisa mengobrol lebih banyak lagi,”

“Baiklah,pasti aku akan kesana,”

“Aku pamit. Bye,” Kyungsoo melangkahkan kakinya sambil melambaikan tangannya kearahku.

Aku membalas lambaian tangannya. Sepertinya pilihanku untuk keluar hari ini tidaklah salah.

YIXING

“Ini apartemenmu,Yixing-ssi. Semua peraturan ada di kertas yang kutempel di pintu kulkas,kalau ada apa-apa hubungi saya saja. Selamat beristirahat,” Jung Ajhumma,sang penyewa apartemen itu beranjak pamit.

Setelah kemarin sempat bingung mencari tempat tinggal,akhirnya aku menemukan iklan apartemen ini di koran. Oh,Tuhan aku bersyukur kemampuan bahasa Koreaku tidaklah hilang,aku sempat mempelajarinya saat di tingkat akhir SMA. Jika tidak,aku akan kelabakan hidup disini. Gubrak !!! aku mendengar sesuatu menghempas lantai,aku yang hendak membuka pintu apartemenku jelas menoleh. Seorang gadis tengah bersusah payah hendak membuang kantung sampahnya yang penuh.

Do you need help,miss?” ucapku sambil mendekatinya.

Gadis itu mendongak. Aku menelan ludah dengan mata terbeliak. Dia Wu Jia Yi !!! batinku.

“Kau…Tuan Zhang kan?” ia menatapku tak percaya.

“Kenapa kau bisa ada disini?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku.

“Err..itu aku melanjutkan studi disini. Aku pindah sekolah,” jawabnya.

“Ah,begitu ya,”

“Dan kau?” tanyanya balik.

Tak mungkin kan aku menjawab karena aku buronan polisi? ucapku dalam hati.

“Aku sedang mencari pekerjaan disini,”

“Pekerjaan?” pekiknya.

“Ya,kau tahu kan. Di Beijing sana sudah terlalu banyak pencari kerja,sehingga kupikir Seoul lebih baik dan mendatangkan kesempatan,” bohongku.

Gadis itu mengangguk-angguk. Aku membantunya untuk membuang kantung sampah itu.

“Terimakasih banyak,” ucapnya sambil tersenyum.

“Ternyata dunia itu sempit,sekarang kita berdua malah jadi tetangga,” tanggapku.

“Aku malah senang karena ada teman satu negara,jadi aku tak merasa begitu kesepian,”

“Di sekolahmu?”

“Bagaimanapun butuh adaptasi,aku belum begitu betah disini,” ucapnya.

Kini giliran aku yang mengangguk.

“Apa kau sudah makan malam?” tanyanya.

“Belum sih,tapi aku tidak lapar,” jawabku.

Tapi sepertinya perutku tidak berkoordinasi baik dengan otakku,Krrruukkkk !!! bunyi itu terdengar jelas.

“Haha,itu tandanya kau lapar Tuan Zhang. Sudahlah ayo masuk,aku baru saja selesai memasak,”

“Eh,tidak apa-apa?” tanyaku tak percaya.

“Anggap saja ini balas budiku saat kau menolongku di Beijing,” ia menarikku dan mendorongku masuk ke apartemennya.

Apartemen itu sepertinya lebih besar dari yang kusewa,wajar mungkin karena ia akan tinggal lebih lama daripada aku. Wangi masakan menyeruak ke seluruh penjuru ruangan,cacing-cacing di perutku semakin menggeliat saja.

“Silahkan duduk,” ia menunjuk kursi merah yang terdapat di pantry.

“Maaf aku hanya memasak ini,karena aku tidak tahu kalau akan ada tamu dan tetangga baru,”

Ternyata gadis itu memasak sup tahu. Tidak banyak tapi cukup mengugah selera.

“Tak apa,seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah merepotkanmu,”

Dan setelah itu canda dan tawa mengalir diantara obrolan kami berdua. Nona Wu,sepertinya kehidupanku di Seoul denganmu akan lebih menyenangkan. 

***

Esok Harinya…

Sore-sore begini,Jia Yi malah mengajakku keluar. Katanya ia mau mengajakku ke salah satu kafe yang tak jauh dari sana. Kami memutuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati sejuknya cuaca sore hari. 20 menit kemudian,kami berdua sampai di kafe yang dituju,kafe itu cukup ramai dengan anak muda yang tengah asyik nongkrong. TING !!! Bel yang tergantung diatas pintu tersebut berbunyi kala Jia Yi mendorong dan membukanya.

“Selamat datang di Haru Cafe !!!” ucap beberapa orang pelayan serentak.

Jia Yi langsung mengantri,ia menyuruhku untuk berdiri tepat di belakangnya. Tak sampai lima menit,akhirnya giliran aku dan Jia Yi yang memesan.

“Akhirnya kau menepati janjimu,” tak diduga kasir yang kini ada dihadapanku berbicara seperti itu.

Eh? Dia berbicara dengan siapa? tak mungkin denganku,kan? batinku.

“Kan aku sudah janji padamu,Kyungsoo-ssi,” balas Jia Yi.

Ah,ternyata kasir ini berbicara pada Jia Yi. Aku heran,katanya Jia Yi belum betah berada di Seoul tapi kenyataannya kini ia mengenal seseorang? Bukankah itu tandanya ia sudah menyesuaikan dengan baik???

“Yixing-ssi,Kyungsoo merekomendasikan menu of the day. Apa kau mau mencobanya juga?” ucapan Jia Yi membuyarkan lamunanku.

“Terserah kau,pesananku sama denganmu saja,” aku tersenyum kecil.

“Oke,dua slice rainbow cake & green tea machiatto,” 

Tak sampai lima menit,pesananku dan Jia Yi datang. Aku membantu Jia Yi untuk membawakan nampan.

“Kau sudah mengenal dia sebelumnya?” tanyaku saat kami duduk.

“Ya,dia baik sekali. Saat pertama kali aku datang kesini,ia membantuku untuk menghapus air mataku dan menenangkanku,” ceritanya ringan,tanpa beban.

“Menghapus air matamu? Kau menangis?” pekikku.

Air muka Jia Yi perlahan berubah,sepertinya ia baru menyadari apa yang tadi ia katakan.

“Ah,itu..seperti biasa efek hari pertama jauh dari orangtua. Aku sangat merindukan mereka hingga menangis di tempat umum begini,” jelasnya.

“Ah,begitu ceritanya,” ucapku sambil memasukkan sesendok cake ke mulutku.

Ditengah-tengah asyiknya kami berbincang,Kyungsoo–laki-laki itu menyeruak diantara kami berdua.

“Jia Yi-ssi,apa kau butuh arubaito?” tanyanya.

Arubaito?” 

“Part-time,freelancer,” 

Jia Yi tampak berpikir sejenak.

“Kebetulan ada posisi yang ditinggalkan temanku karena kesibukannya kuliah. Kurasa kau juga butuh pekerjaan karena baru datang kesini,kau tidak bisa terus mengandalkan bekal dari orangtua kan?” jelasnya.

“Ya,memang tapi bagaimana dengan bahasa Koreaku,Kyungsoo-ssi?”

“Tenang saja,aku akan meminta kau tidak ditempatkan di kasir. Tapi di dapur,jadi kau tidak perlu banyak menggunakan bahasa Korea,”

“Ah,syukurlah. Tapi sepertinya itu juga perlu untuk hari-hariku kedepan,aku tidak mungkin memakai bahasa Inggris terus. Hhmm..kalau boleh apa bisa kau mengajariku?”

“Tentu saja,dengan senang hati. Kau datang saja besok sore untuk menyerahkan semua data dirimu dan interview,jika bosku merasa cocok maka kau akan langsung bekerja,”

“Terimakasih banyak atas bantuanmu,Kyungsoo-ssi !!!” Jia Yi tersenyum,diikuti dengan senyuman balasan dari Kyungsoo.

Aku menyeruput pelan minumanku,mereka baru kenal tapi kenapa terlihat begitu dekat? Oh,Zhang Yixing kau jatuh cinta pada anak yang usianya bahkan belum genap 2o tahun??? batinku.

__________________________________________________________________________________________

Akankah kehidupan Jia Yi di Seoul berjalan lancar? Lalu sanggupkah Yixing menutupi identitasnya sampai akhir? Mungkinkah Kyungsoo tertarik pada Jia Yi? Lalu bagaimana dengan A Lin,benarkah keputusannya untuk kembali pada Zitao? Comment readers sangat berharga,gomawo. 🙂 

25 responses to “Fate : Four :

  1. Keren thor, tapi kok pendek sih??? 😦
    Kok Yixing kayaknya dendam bgt sih sama Kris? ._. Kan kesian Krisnya
    Next thor 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s