SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART (PART 11) “BE READY FOR PLOT TWISTS”

Image

 

Wild Orchid for Kyuhyun’s Heart (Part 11)BE READY FOR PLOT TWIST

Author: Kim Hye Ah @KimHyeAh22

hyeahkim.wordpress.com/ ffindo.wordpress.com

Cast: Cho Kyuhyun (SUPER JUNIOR)

Kwon Yuri (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & Lee Rin Joo (OC), Danielle Kim/ Dainn (OC), Kyu-Line, Seok Hyun, Cho Ahra, Lee Shi Hwa (OC)

Rating: PG-17

Genre: Romance, Friendship

Disclaimer: Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.

Poster: missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com

PS: I apologize for typo. Please feel free to correct me

Prolog | Part 1  | Part 2 | Part 3  | Part 4| Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10| Part 11|

 

A LETTER

Kyuhyun dan Yuri akhirnya menjadi sepasang kekasih! Semudah itu? Ya semudah itu. Kalian senang bukan? Setelah menjadi saksi atas keruwetan kisah kasih mereka. Kalian akhirnya bisa tersenyum dan bernafas lega. Akhirnya, happy ending…

Tapi apakah kalian berpikir semua akan berakhir sampai pada titik romantis ini? Ingat ini bukan fairy tale atau dongeng pengantar sebelum tidur. Ini bukan kisah cinta Cinderella, Putri Salju dan sebangsanya. Romantisme yang disuguhkan mungkin hanya sempalan, karena makna dari cerita ini adalah perjuangan untuk bisa bertahan hidup.

Aku menuliskannya karena orang masa kini sering salah kaprah menilai cinta. Merasa bahwa hidup melulu untuk cinta yang berarti berdua, hidup bersama selama-lamanya. Tolong jangan rendahkan nama cinta menjadi sesuatu yang hanya bersifat fisik semata.

Cinta adalah bagaimana kau berdamai dengan egomu, memberi kasihmu tanpa menuntut ini itu, menerima pasanganmu apa adanya, dan di saat yang sama-sama saling membangun untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Cinta memberi kebaikan dalam segala wujudnya. Jika cinta memberikan keburukan, percayalah itu bukan cinta.

Salam

Hyeahkim yang berusaha menjadi Cupid bagi Kyuhyun dan Yuri.

 

THE SECOND ESCAPE

Walaupun Dewi Cinta sedang berhenti bermain-main dengan perasaan mereka. Tapi ada kisah di masa lalu yang menuntut darah Kyuhyun. Orang-orang tak dikenal itu ternyata tidak puas hanya dengan memasukkan Lee Shi Hwa ke penjara. Balas dendam itu belum usai. Kyuhyun masih harus menanggung beban atas skandal yang tidak pernah diketahuinya.

Beberapa memori berkelebat dalam pikiran indigonya. Wajah-wajah yang tidak mampu dikenalnya, puluhan orang baik pria dan wanita yang terbujur kaku bersimbah darah. Bau asap peluru mengepul tercium jelas, suasana hutan terbakar yang menyeramkan. Bau darah membuatnya muntah. Suasana hening, tapi dengan nyata didengarnya gemerisik pohon-pohon rindang terbakar kemudian jatuh menimpa mayat-mayat tersebut. Bersamaan dengan membesarnya api, tubuh tak bernyawa perlahan-lahan menghilang dilalap api.

Angin membawanya kembali ke masa kini. Kyuhyun membelalakkan mata,mimiknya menunjukkan rasa ngeri yang luar biasa. Sudah cukup mimpi buruk seperti ini. Ia memandang sekeliling, seluruh tubuhnya berkeringat. Ia tidak sedang tidur, semenit yang lalu bukankah dirinya sedang membantu Yuri menyiapkan adonan kue? Kenapa tiba-tiba visi itu muncul, siapa mereka, mayat-mayat itu?

“Kenapa?”

Sentuhan lembut di bahu menyadarkannya. Kyuhyun tidak menjawab, ia meraih tangan lembut Yuri dan didekapnya.

“Bayangan itu datang lagi?”

Namja itu mengangguk. Yuri mengerti, ia melepaskan tangannya pelan dan beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman hangat. Kyuhyun duduk sambil merangkul kedua lututnya, giginya bergemerak ketakutan.

“Minumlah.”

Kyuhyun meraih gelas berisi teh ginseng hangat yang diracik Yuri. Sesaat ia merasa lebih terkendali.

“Sekarang bayangan itu semakin sering muncul, pasti ada alasan tertentu. Aku percaya visimu sedang menunjukkan sesuatu. Ia seperti potongan puzzle dan kau harus menyusunnya hingga membentuk sesuatu. Hasilnya mungkin adalah jawaban yang selama ini ingin kau cari.”

Yuri juga menyeduh teh ginseng untuk dirinya sendiri, ia meminumnya sambil menatap jendela. Sebetulnya Yuri tidak mau percaya bahwa Kyuhyun memiliki kemampuan khusus. Ia pikir keajaiban pikirannya akan hilang seiring bertambahnya usia. Tapi justru yang dilihatnya, kemampuan itu semakin kuat dan tidak seperti dulu, Kyuhyun sekarang tidak mampu mengendalikannya. Ia tidak mau bertanya, bayangan apa lagi yang dilihatnya kini. Yuri tidak mau membuat Kyuhyun teringat mimpi buruknya.

“Aku ingin menghilangkannya, aku tidak merasa beruntung mendapatkan kemampuan ini.”

Kyuhyun mendesah lama, ia ikut-ikutan menatap jendela yang belum tertutup tirai.

Yuri menatap Kyuhyun,”Jika kau tidak memiliki kemampuan itu aku dulu mungkin tidak mau berteman denganmu. Aku tidak tahan melihat bocah cengeng menangis karena diledek anak-anak nakal itu”

“Serius?”

“Iya, dari situlah kita saling mengenal. Jadi apa yang tampak buruk bagimu saat ini, bisa jadi hal yang baik bagimu untuk masa depan.”

“Rasanya menakutkan Yuri, kau tidak bisa membayangkannya.”

“Memang, tapi aku percaya itu adalah berkah yang diberikan Tuhan padamu. Tuhan tidak akan memberikan hadiah buruk bagi umatnya. Jadi pasti ada alasan baik dibalik kemampuanmu. Kau hanya belum mengetahuinya saja.”

Namja itu teringat, pertemuan keduanya dengan Yuri yang sudah dewasa salah satunya ditandai dengan munculnya visi atau bayangan itu. Ia ingat berdansa dengan seorang yeoja, kemudian bertemu yeoja yang tengah menangis, dan masa lalunya bersama gadis kecil manis bergigi ompong, semuanya menunjukkan kepada sosok satu orang, Kwon Yuri. Mungkin Yuri benar,kemampuan ini adalah berkah. Tapi mimpinya kali ini jauh lebih menyeramkan dari film horror terseram sekalipun.

“Lalu apa saranmu?”

“Hmmm, mulailah banyak memikirkan hal-hal yang menyenangkan.”

“Kurasa hidupku tidak menyenangkan.”

“Aish, berani-beraninya kau berkata itu di depanku. Jadi secara tidak langsung kau ingin mengatakan bahwa kau tidak bahagia bersama denganku?”

“Salah, kehadiranmu justru membuatku masih berpikir untuk bertahan hidup,” Kyuhyun mencoba menenangkan.

“Bagus, jadi mulailah berpikir soal aku kalau begitu.”

“Aku selalu berpikir tentangmu,” sanggah Kyuhyun.

Yuri tersenyum tipis. “Berarti kau kurang berusaha, jadi mulailah berpikir tentangku, okey?”

 

 

SHE’S SO LOVELY

Benak Kyuhyun menerawang, otaknya yang selalu kelabu harus bergeser ke sisi yang lebih berwarna dan ceria. Seperti chip computer yang sedang memilah data dalam bentuk bahasa robot dan angka, otak Kyuhyun mendeteksi semua file memori yang ada dalam database otaknya. Ia harus mendapatkan memori tentang Yuri, harus tentang Yuri, karena hanya dengan yeoja itu, Kyuhyun memiliki memori yang menyenangkan.

Kyuhyun tiba-tiba teringat sesuatu dan entah kebetulan, Yuri pun berpikiran sama.

Saat itu sambil tertawa, Kyuhyun langsung mengambil sapu tangannya dan membersihkan bibir Yuri yang berwarna merah menyala.

“Kata Omma aku cantik dengan lipstick ini”

Kyuhyun tampak tidak mendengarkan. Dengan hati-hati ia membersihkan bibir Yuri. Sesekali jarinya menyentuh bibir Yuri yang lembut.

Kyuhyun menghela nafas. Kedekatan seperti ini membuatnya tidak mampu mengontrol diri, “Omma-mu benar. Kau cantik. Tapi aku lebih senang jika bibirmu polos.”

“Kenapa?”

Kyuhyun ingat saat itu ia tertawa menyeringai melihat ekspresi Yuri yang bergidik. Kyuhyun tersenyum licik, Yuri mendesah dengan pandangan cemas.

Kyuhyun menarik dagu Yuri ke arahnya sehingga kedua wajah mereka berdekatan. Namja itu tiba-tiba mencium Yuri lama. Dengan sekuat tenaga Yuri melepaskan diri, ia melotot ke arah namja itu.

“Seharusnya aku tahu maksudmu. Kau pasti sedang mencari alasan untuk bisa menciumku.”

Kyuhyun tersenyum lebar sehingga membuat Yuri tambah marah.

“Aku tidak sedang mencari alasan.Tapi memang benar aku ingin mencium bibirmu bukan mencium lipstick.Lipstick rasanya tidak enak seperti sedang makan obat.”

“Padahal aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya supaya aku bisatampil seperti ini. Tapi kau malah mengejekku. Aku membelinya dengan uang tabunganku, harganya mahal sekali. Kau menyebalkan, harusnya kau menghargai usahaku sebelum mengkritikku.”

Namja itu malah tertawa, ia memeluk Yuri. Dielusnya rambut yeoja itu dengan perasaan sayang. Kejadian itu terjadi pada suatu sore di dermaga pantai. Kau pasti ingat saat Kyuhyun mencium Yuri di bawah sinar bulan purnama. Nah, disitulah mereka bertemu kembali.

Yuri mencoba menolak tapi tenaga Kyuhyun terlalu besar. Alasan lain, karena sejujurnya ia menyukai bagaimana namja itu memperlakukannya. Ia terdiam ketika Kyuhyun mencium puncak rambutnya.

“Aku menyukaimu apa adanya. Yuri yang polos, naïf, walaupun agak cuek dan pemarah. Jadilah seperti itu. Tidak usah membuatmu menjadi orang lain,” Kyuhyun berbicara pelan. “Kau berdandan untukku, aku menghargainya. Tapi aku tidak mau kau menjadi sulit bersamaku.”

“Maksudmu?” Yuri menengadah.

“Aku tidak mau kau menjadi terbebani karena bersamaku. Kau harus tampil cantik atau apalah. Aku ingin kau merasa nyaman. Itu saja.”

“Tapi kau selalu dikelilingi yeoja-yeoja cantik. Aku pikir kau menyukai yeoja yang seperti itu.”

“Lantas kau berusaha menjadi seperti itu? Apa kau pikir aku menyukai gaya mereka?”

Yuri mengangguk antusias. “Aku saja mengagumi gaya mereka apalagi namja sepertimu.”

Kyuhyun melepaskan pelukannya, kedua tangannya kini ada di kedua bahu Yuri. DIpandanginya yeoja itu lekat-lekat. “Dengarkan, jika aku menyukai wanta yang seperti itu, tidak mungkin aku memilih Kwon Yuri, yeoja yang memakai lipstick saja tidak tahu. Kau tidak perlu bergaya seperti mereka karena itu bukan dirimu. Apa yang mereka pakai bagiku itu adalah topeng, semu. Aku ingin sesuatu yang asli, alami dan aku menemukannya pada dirimu.”

Muka Yuri bersemu merah. “Yah walaupun yeoja yang kucintai itu kadang keras kepala, selalu ingin tahu, tidak sabaran, dan sedikit pemarah.Tapi itulah nasibku, mencintai yeoja seperti itu.”

“Mwo?”

Yuri melepaskan diri, mukanya masih memerah tapi bukan karena tersipu-sipu seperti tadi . Yeoja itu marah karena Kyuhyun meledeknya.

“Siapa suruh kau menyukai yeoja seperti aku. Terima saja nasib burukmu.”

Yeoja itu berbalik pergi menjauhi Kyuhyun tapi namja itu keburu menariknya. Ia berusaha memeluk Yuri tapi yeoja itu menolaknya. Tapi Kyuhyun tidak menyerah, ia malah tersenyum geli dan kembali menarik Yuri. Berhasil,Yuri kini dalam pelukannya. Ia merengkuh yeoja itu dari belakang. Disesapnya wangi shampoo dari rambut yeoja itu.

“Kau marah? Setelah pacaran kenapa kau jadi sering marah padaku?”

Tidak ada jawaban. Kyuhyun menyenderkan kepalanya di salah satu bahu Yuri sambil menikmati pemandangan pantai dari dermaga begitu indah. Kyuhyun selalu menikmati momen kebersamaan seperti ini, ia selalu merasa bahwa waktu mereka sangat sedikit. Mimpi buruknya sering menyadarkannya bahwa masalah yang ia hadapi belumlah usai.

Kyuhyun memejamkan matanya. Appa di penjara tampaknya tidak menyelesaikan masalah. Masih ada hal lain yang belum terselesaikan tapi Kyuhyun tidak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi? Ia tahu bahwa penjahat itu masih berkeliaran mencoba membunuhnya. Kadang ia berharap visinya kembali datang menjelaskan banyak hal. Tapi imajinasi yang selalu datang tiba-tiba itu tidak pernah memberikan petunjuk berarti selain dari mayat-mayat yang terbununuh secara sadis.

Jika visi yang kerap datang pada diri Kyuhyun adalah tentang masa lalu dan kehadiran seorang yeoja. Hanya satu dari hal tersebut yang kini sudah ada jawabannya, keyakinan bahwa yeoja itu adalah Yuri. Hanya itu saja tapi masa lalunya? Hanya terkuak sekedarnya. Walaupun Appa sudah menjelaskan asal usulnya tapi nalurinya merasa tidak puas. Keterangan itu belum cukup, ada hal lain yang tersisa. Tapi apa?

Dan selama satu rahasia itu belum terungkap, ia akan selalu dihantui mimpi buruk. Mimpi buruk yang sama, yang selalu berulang dan tidak bisa dihentikan oleh kesadarannya. Dalam mimpinya, ia selalu melihat darah dan mayat bergelimpangan. Kyuhyun ketakutan tapi ia tidak bisa melarikan diri. Sampai ia sadarpun, ia bisa merasakan bau amis darah dalam indera penciumannya. Tanpa Yuri ketahui, Kyuhyun terjebak oleh mimpi horror dalam pikirannya.

Memeluk Yuri membuatnya sedikit waras. Lambat laun ia mungkin akan mengalami sleeping phobia, takut tidur karena akan membuatnya bertemu hal yang menyeramkan. Walaupun Kyuhyun mencoba mengabaikannya tapi sejujurnya ia tidak bisa. Mimpi itu kerap datang begitu saja. Ia bisa gila melihat mayat-mayat itu kemudian hidup dan menghantuinya.

Tapi tempaan hidup telah membuatnya sedikit kuat. Apalagi dengan kehadiran Yuri di sampingnya. Kepercayaan dirinya kini pulih, semangatnya bangkit, Yuri telah membantu kondisi mentalnya di saat sulit seperti ini. Ia tidak bisa membayangkan andaikata yeoja itu meninggalkannya, yang tersisa mungkin hanyalah Kyuhyun yang lemah dan rapuh.

“Haloooooo, kau melamun? Kau masih berpikir tentangku bukan? Tapi kenapa kau tidak tersenyum?”

Yuri rupanya memperhatikan tingkah Kyuhyun. Namja yang aneh, tadi tersenyum sendiri kini diam termenung, persis orang gila.

Kyuhyun mendesah. Andai saja ia bisa mengungkapkan semua perasaan dan ketakutannya. Saran Yuri berhasil, untuk sesaat ia bisa melupakan ketakutannya karena kehadiran mimpi buruk itu tapi hanya sementara.

“Kau bisa mengatakan apapun jika itu bisa membuatmu lega. Aku mungkin tidak bisa membantumu tapi setidaknya aku bisa menjadi pendengar dan teman bicara yang baik untukmu.”

Tawaran Yuri seperti nyanyian merdu di telinganya. Ia masih membayangkan sedang memeluk yeoja itu di pantai, ditambah aroma pasir dan kicauan burung membuat hatinya sedikit tenang. Terdengar sentimentil memang tapi itulah yang ia rasakan.

Kyuhyun juga baru menyadari, setelah beberapa waktu bersama, ternyata ada sisi lain tentang Yuri yang tidak diketahuinya. Sesuatu yang membuatnya tertantang untuk selalu mencari tahu.

Yuri yang tegar ternyata lemah untuk sesuatu.

Yuri yang dewasa kadang manja dan gampang merajuk.

Yuri yang bisa menahan diri ternyata gampang marah karena hal tertentu.

Tapi di suatu saat ia bisa menjadi dewi dan malaikat. Buktinya, Yuri telah menolong hatinya yang tersesat. Memang ada dua sisi yang bertolak belakang pada diri yeoja itu tapi semuanya adalah sifat Yuri yang sebenarnya. Semakin Kyuhyun menemukan sisi lain Yuri, semakin ia menemukan hal yang baru. Yeoja itu telah menantang ego Kyuhyun dengan caranya sendiri. Egonya sebagai namja untuk menjadi pemilik utuh atas Kwon Yuri. Tidak mau berbagi dan cenderung posesif!

“Suatu saat aku akan menceritakannya padamu,” jawab Kyuhyun pelan.

“Berarti kau tidak percaya padaku,” bisik Yuri, ia meneguk kembali teh ginsengnya hingga habis.

“Aku selalu percaya padamu,” desis Kyuhyun.

“Kenapa kau selalu menyembunyikan rahasiamu jika kau memang percaya padaku?”

“Itu karena aku yang tidak percaya pada diriku sendiri.”

“Aku tidak mengerti,” Yuri menggelang.

“Aku tidak yakin bahwa aku siap untuk berbicara padamu. Jika aku katakan semua, aku tidak yakin kau masih mau menerimaku. Aku mohon pengertianmu, Yuri.”

Yuri memejamkan matanya. Yang Kyuhyun sadari, yeoja itu tahu bahwa dirinya sedang menghadapi masalah besar. Tapi hanya tahu sebatas Appa-nya di penjara, tidak lebih dari itu.

“Tentu saja, aku selalu berusaha memahamimu. Apapun yang terjadi aku selalu menerimaku. Walau banyak sekali pertanyaan dalam otakku tapi aku mencoba menahan diri. Aku akan menunggu sampai kau siap, Oppa.”

“Dan sampai aku siap, kau akan terus percaya padaku?” tanya Kyuhyun meyakinkan dirinya sendiri.

“Aku akan percaya dan mendukungmu.”

Yeoja yang dicintainya itu kini membalikkan badannya.Mereka saling berhadapan dan saling menatap. Yuri tampak tercenung saat memandang namja itu.

“Ada yang aneh dengan mataku?” tanya Kyuhyun lagi.

“Matamu Oppa. Matamu telah berubah. Dulu begitu tajam dan dominan,” Yuri tidak melanjutkan.”Dulu aku takut melihatnya,” Yuri terkekeh.

“Sekarang?”

Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya karena Yuri hanya berkata,”Sekarang lebih jinak dan melankolis. Aku tidak takut lagi melihatnya.”

Kyuhyun tahu bukan itu maksud hati Yuri. Ia tersenyum getir dan berharap bahwa Yuri bisa sabar menemaninya sampai waktu kebahagiaan itu benar-benar datang. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bersama dengan orang yang selalu mendukungmu. Tapi ia sadar kebersamaaan yang dirasakannya tidak akan selama yang diharapkan. Keberadaannya dapat mengancam hidup gadis dikasihinya. Cepat atau lambat, penjahat itu dapat mengendus kebersamaannya, dan sebelum itu terjadi ia harus pergi.

 

A FLOCK

Super Junior Company, Suju Tower

Sosok yeoja ramping tampak asyik membereskan tumpukan CD dan majalah musik yang bertebaran di suatu meja kerja berukuran besar.Ia tidak menyadari sepasang mata sedang menatapnya penuh makna. Seseorang tengah memperhatikannya sambil berdiri menyender di pintu masuk.

Suara vokal Roy Kim terdengar mengalun merdu dari ruang siaran radio Suju sore itu. Yuri sesaat menghentikan aktivitasnya. Ia mengibaskan helaian rambut yang jatuh menutupi sebagian wajahnya.

‘Harum,’ ia memuji sendiri wangi rambutnya sambil mengingat bagaimana cara Kyuhyun mengelus rambut panjangnya yang hitam dan lebat.

“Jangan pernah mewarnai atau memotong pendek rambutmu. Rambut aslimu sudah sangat bagus.”

Tuntutan yang selalu dilontarkan namja itu jika Yuri berencana melakukannya. Jujur saja sejak pernyataan cinta implisit Kyuhyun beberapa saat lalu, ia ingin sekali terlihat cantik dan berbeda. Mungkin memotong pendek atau mewarnai rambut akan membuat penampilannya menjadi lebih baik.

Tiba-tiba ia tersadar dari lamunannya. Yeoja itu menggelangkan kepala. Cukup memikirkan Kyuhyun. Ia harus berkonsentrasi membereskan meja kerja namja itu.

Setiap hari Yuri menyempatkan diri untuk membereskan ruang kerja Kyuhyun. Ia tahu sungguh sulit membuat namja itu muncul di tempat ini lagi. Tapi berada di ruangan dimana dulu Kyuhyun sering menghabiskan waktunya membuat ia nyaman. Berada dalam ruangan ini membuat Yuri merasa Kyuhyun tidak pernah jauh darinya.

Yuri ikut bersenandung kecil mengikuti lirik lagu yang tengah didengarnya.

Love, o~ Love, geuraeyo nan
geudaereul nan neomuna johahamnida
Love, o~ Love, geuraeyo nan
geudaereul nan jeongmallo saranghamnida
Love Love Love, Love Love Love, Love Love Love

Yuri menyukainya. Lirik dan musiknya terasa pas dengan suasana hatinya. Bahkan ketika announcer sudah memutarkan lagu lain yeoja itu masih tetap bernyanyi dengan lagu yang sama.

Ia merapikan dokumen-dokumen yang tercecer dengan hati riang. Ketika tidak sengaja tangan Yuri menyenggol pigura kecil di sudut atas meja, senandung kecilnya berhenti. Yeoja itu meraihnya, memandang seraut wajah yang sedang tersenyum kepadanya.

“Kyuhyun, kenapa kau begitu tampan,” Yuri mendesah pelan sambil memandang ke jendela. Ia menempelkan foto itu ke dadanya, menutup matanya, seolah-olah namja itu ada dalam pelukannya sekarang. Andaikan Kyuhyun ada di sini, Yuri termangu sedih.

Ia memandang ke sekeliling ruang kerja namja itu yang begitu sepi. Sudah berbulan-bulan Kyuhyun tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di radio ini. Yuri setiap hari membereskan ruang kerjanya, berharap tiba-tiba namja itu muncul dengan seringai jahilnya. Bahkan memori ketika namja itu marah dan bersikap arogan padanya kini menjadi sebuah kenangan yang indah.

“Aku merindukanmu,” desis Yuri. Rasanya tak masalah Kyuhyun mengganggunya asalkan namja itu selalu di sampingnya. Tapi sampai kini Kyuhyun tidak pernah datang. Ia menghilang. Suju Radio menjadi berbeda tanpa kehadiran namja itu.

“Sedang melamun?”

Suara dari arah pintu menyadarkan Yuri. Yeoja itu terkejut. Dengan kemampuan refleksnya yang cepat, Yuri segera menyimpan foto Kyuhyun di tempatnya semula.

Yeoja itu berbalik dan tersenyum rikuh ketika dilihatnya Donghae sedang memandangnya.

“Kau merindukannya ya?”

Namja itu berjalan mendekat. Yuri tidak menjawab, Donghae akan selalu tahu isi hatinya.

Namja itu menggeser sedikit pigura dengan foto Kyuhyun ke sebelah kiri,”Dia biasanya menghadapkan foto ini ke arah jendela. Kau kurang menggesernya dua puluh lima derajat.”

Yuri mengangkat alisnya,”Sajangnim sangat perhatian terhadapnya, bahkan untuk hal kecil.”

“Bukankah kau juga? Kau membereskan ruang kerjanya setiap hari. Menyirami pot-pot tanamannya. Memberinya vas bunga hidup dan menggantinya tiap hari. Jika aku orang baru, aku akan menganggap kau pemilik ruangan ini,” Donghae tersenyum kecil.

Yuri tersenyum malu.”Maafkan jika aku terlalu lancang.”

Donghae masih tersenyum lantas berbisik,” Sebelum ada kau, ruang ini begitu berantakan seperti gudang. Aku tidak mau mengatakan ini tapi sebenarnya dulu lebih mirip kandang.”

Yuri membelalak dan membalas senyuman Donghae,”Asal Kyuhyun Sajangnim ada, aku tidak masalah bekerja di ruang seperti gudang bahkan kandang sekalipun.”

“Wow, kata-katamu seperti rayuan. Kyuhyun akan terbuai jika kau mengatakannya. Kau belajar dari siapa? Rasanya aku tidak pernah mengajarimu seperti itu.”

“Kyuhyun selalu mengatakannya,” jawab Yuri sumringah.

Donghae berhenti tersenyum, matanya menyipit menatap yeoja itu.

“Kau selalu bertemu dengannya?”

“Iya,” Jawab Yuri polos.

“Betulkah?” pandangan Donghae tampak menyelidik dan baiklah Yuri menyadari sesuatu. Ia sudah keceplosan bicara.

“Aku tadi berkata apa? Eh, apakah aku berkata seperti itu?”

“Kau masih bertemu dia akhir-akhir ini?”

Muka Yuri memerah. “Apa maksudmu? Maaf aku tidak mengerti maksud pertanyaan Sajangnim.”

Yuri menunduk bingung. Ia tidak tahu jawaban untuk sebuah pertanyaan sederhana Donghae.

“Sebetulnya aku sudah lama tidak bertemu dia,” jawab Yuri terbata-bata.

“Kau baru saja mengatakan padaku bahwa kau sering bertemu Kyuhyun.”

“Oh ya? Mungkin aku salah bicara, aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Kyuhyun menghilang dan aku tidak tahu kemana dia pergi.”

“Lalu apa maksudmu dengan mengatakan…?” Donghae terdiam. “Ah sudahlah. Tentu saja Kyuhyun tidak akan memberitahumu karena ia tahu bahwa kami akan menanyaimu.”

Tanpa Donghae sadari, Yuri mengelus dadanya lega, walaupun entahlah apakah Donghae mempercayainya atau tidak. Namja itu terdiam lama. Yuri melihat ke arah mata Donghae menuju. Tanpa disadari kini mereka sama-sama menatap foto dalam pigura itu.

“Aku merindukannya. Kami semua merindukannya. Seperti ada bagian dari tubuh kami yang hilang, begitulah perasaan kami sekarang ini,” ujar Donghae lirih, terdengar nada sedih dari ucapannya.

Mendengar ucapan Donghae dan apa yang dirasakan Kyuhyun tiba-tiba membuat keberaniannya muncul. Fakta yang saling bertolakbelakang dalam pikirannya menuntut jawaban yang jelas.

“BenarkahSajangnim semua merindukannya? Aku justru mendengar selentingan bahwa Super Junior akan memecatnya.”

Donghae terkejut kemudian menatap tajam ke arah Yuri.

“Itu gosip murahan kau tidak boleh mempercayai itu!”

“Lantas apa yang harus kami percayai Sajangnim, telalu banyak rumor yang kami dengar dan kami tidak tahu mana yang benar.”

Donghae mengepalkan kedua tangannya, “Apa yang kau dengar?”

“Banyak, termasuk akan ada pemutusan hubungan kerja karyawan di semua sektor bisnis Suju Company.”

“Kau percaya gossip itu?” tanya Donghae, matanya memandang tajam Yuri.

Yeoja itu membalas Donghae dengan tatapan sama tajamnya. Entah dari mana keberanian itu muncul tapi mengingat bagaimana Super Junior telah mengkhianati Kyuhyun, Yuri merasa berhak untuk marah.

“Sampai saat ini direksi belum memberikan pernyataan apa-apa, tidak pernah juga melakukan klarifikasi, yang kudengar sekarang itulah yang kupercayaSajangnim.”

Donghae mendesis, wajahnya menunjukkan rasa tidak suka, “Lain kali Yuri, jika belum ada pernyataan apapun, bekerjalah seperti biasa dan jangan terlalu banyak mendengar rumor yang belum tentu benar.”

“Sekelas KyuhyunSajangnim saja kalian berani memecatnya apalagi karyawan seperti kami.”

“Siapa yang mengatakan kami akan memecat Kyuhyun?”muka Donghae memerah.

“Itu sudah jadi rahasia umum. Kami semua didera ketidakpastian.”

Donghae memandang wajah Yuri. Mereka saling berhadapan. Yuri menengadahkan wajahnya.

”Maafkan jika aku berkata kurang sopan tapi aku hanya ingin menyampaikan pikiranku. Menurutku kalian jahat, ketika Kyuhyun Sajangnimmenguntungkan, kalian memakainya tapi ketika dia jatuh, kalian membuangnya. Apa itu yang namanya teman?”

Donghae tidak menjawab. Hatinya campur aduk mendengar tuduhan Yuri yang tidak mendasar.

“Kalian tidak berpikir bagaimana perasaan Kyuhyun Sajangnim mendengar ini? Apa kalian lupa bagaimana pengorbanan dia untuk Super Junior. Pada saat awal kalian muncul, ia mengeluarkan semua tabungannya untuk membiayai kebutuhkan promosi Super Junior. Ia juga meminjamkan apartemen keluarganya untuk kalian yang tinggal di luar Seoul. Biaya konser awal kalian itu dari dia juga. Semua hidupnya telah ia berikan untuk Super Junior, lantas ini balasannya?”

“Kau benar,” jawab Donghae lirih. Yuri benar atas semuanya. “Ia sangat membantuku. Bukan hanya aku tapi kami semua, Kyuhyun orang paling pemurah yang pernah kukenal.”

“Kyuhyun menyayangi member Super Junior. Kalian sudah seperti keluarganya sendiri tapi kalian menyakiti perasaannya.”

Donghae mengacak-acak rambutnya. “Kami juga menyayanginya. Super Junior bukan hanya teman karir dan bisnis.”

” Jika kalian merasa bersaudara. Lantas kenapa kalian tega memecatnya?”

“Siapa yang mengatakan kami akan memecatnya Yuri?”

Namja itu mencoba bersabar. Ia melonggarkan ikatan dasinya. Tuduhan Yuri menyakitkan hatinya.

“Seseorang mengatakan semuanya padaku.”

“Seseorang? Siapa dia? Kyuhyun?”

Yuri menutup mulutnya. Ia menggelang.

Donghae mendekatinya dengan cepat sampai Yuri harus mundur beberapa langkah. Wajah pria itu berubah seperti pria mabuk beringas.

“Katakan kau masih bertemu dia sampai saat ini?” Donghae bertanya dengan suara yang keras.

Yuri terdiam. Ia ketakutan.

“Katakan?”

Yeoja itu semakin melangkah mundur.

“Kau tentu tahu dia ada di mana sekarang? Katakan dimana Kyuhyun?” desak namja itu, suaranya lebih keras dari sebelumnya. Ia terus berjalan mendekati Yuri.

Yuri menggelang dengan kuat. Ia harus menjaga rahasianya.

“Aku tidak tahu.”

“Kau harus mengatakan padaku. Ini demi kebaikannya!”

“Kebaikan Kyuhyun atau kebaikan Super Junior. Toh Kyuhyun bukan menjadi bagian dari kalian lagi.”

“Ia selalu menjadi bagian dari Super Junior!” Donghae sampai berteriak karena frustasi.

“Bukankah kalian memecatnya?”

Namja itu menyerah dengan kekeras kepalaan Yuri, “Cukup, kau tidak usah mengulangi kalimat itu. Mari kujelaskan dengan baik. Pertama kami mengetahui lebih banyak tentang Kyuhyun dari pada yang kau tahu. Jadi kau tidak usah sok dengan mengatakan semua hal itu padaku. Kedua kami menyayangi Kyuhyun sebesar yang kau sendiri tidak pernah bisa bayangkan. Ketiga, sudah kukatakan jangan percaya gosip. Kami tidak akan pernah memecat Kyuhyun walaupun kami harus bangkrut sekalipun. ”

Yuri terperangah tidak percaya, “Jadi kalian tidak memecatnya?”

“Siapa yang mengatakan kami akan memecatnya Yuri? Kukatakan jangan dengarkan gosip.Jika Kyuhyun yang mengatakannya padamu, jelaskan pada dia bahwa Super Junior tidak akan memecatnya. Kyuhyun adalah bagian tidak terpisahkan dari kami. Super Junior adalah satu, dan katakan juga padanya , segeralah kembali, bekerjalah seperti biasa. Apa hanya kami saja yang merindukannya sedangkan dia tidak?”

Yuri menunduk dan hanya bisa berkata dalam hati,’Kyuhyun merindukan kalian juga.’

“Aku tahu dan aku yakin, kau tahu dimana Kyuhyun berada. Katakan padaku dia ada di mana sekarang? Ini demi kebaikannya. Kami ingin menolongnya.”

Yuri bimbang tapi ia memilih menggelangkan kepala.

“Kuakui beberapa saat lalu, kami memang sering bertemu, tapi sekarang tidak. Ia sudah pergi.”

“Betulkah?”

“Gosip tentang kalian yang memecatnya membuatnya sakit hati. Ia ingin menenangkan hatinya dan berarti Kyuhyun tidak bisa hidup di Seoul karena nama kalian selalu ada di mana-mana.”

“Ia mengatakan kemana dia akan pergi?”

“Tidak sama sekali. Kyuhyun tidak percaya padaku untuk hal ini. Tapi aku bisa menebak mungkin ia pergi ke daerah terpencil dimana ia tidak bisa menemukan nama Super Junior.”

“Apakah dia ke luar negeri? Tapi bukankah kemanapun dia pergi, Kyuhyun akan selalu menemukan nama Super Junior.”

Yuri melenguh, Donghae tidak bermaksud menyombongkan diri. Apa yang dikatakannya benar, Super Junior adalah fenomena dunia, bagaimana mungkin Kyuhyun bisa menemukan tempat yang bebas dari ekspansi bisnis kelompok elit ini.

“Apakah ia masih di Korea?” desak Donghae, ia akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan informasi tentang keberadaan Kyuhyun.Walaupun ia menyadari Yuri adalah lawan yang tangguh, yeoja itu tidak mudah untuk digertak. “Kau bisa menyebut lokasinya mungkin?”

“Dengarkan. Aku ingin sekali membantu tapi Kyuhyun tahu bahwa aku pasti dibuntuti jika ia menyebutkan lokasinya. Mengatakannya padaku sangat beresiko. “

“Kau benar-benar tidak tahu?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku bisa mempercayaimu?”

“Apa aku tampak seperti pembohong?” Yuri balik bertanya.

Donghae menatap Yuri. Biasanya ia mengenali seseorang yang sedang berbohong, entah hidung atau matanya yang bergerak-gerak, pasti ada yang tidak konsisten pada bagian muka dan telinga jika seseorang berbohong. Tapi yeoja itu balas menatapnya tajam, tampak sangat yakin dengan apa yang dikatakannya.Walaupun namja itu berat mengakuinya, Yuri sepertinya berbicara jujur.

“Baiklah, aku percaya padamu.”

“Terimakasih Sajangnim.”

“Lain kali, jika Kyuhyun datang, maukah kau mengatakannya padaku?”

“Tentu. Dengan senang hati.”

“Sampaikan kami sangat merindukannya.”

Donghae terdiam sesaat kemudian berbalik dan berjalan mendekati pintu meninggalkan Yuri yang sedang termenung sendirian. Ada banyak hal berkecamuk dalam pikirannya, ia ingin mengutarakannya tapi ia tidak mau menekan Yuri. Donghae membutuhkan kepercayaan yeoja itu.

“Aku harap kau berkata yang sebenarnya Yuri,” ujar Donghae lirih

Yuri tidak merespon Donghae, ia hanya berdiri mematung. Yeoja itu termangu bingung.

Tapi ia tidak mau berlama-lama memikirkan pembicaraan sengitnya dengan Donghae. Ia melirik jam tangannya. Sudah pukul 5 sore, ia harus segera pulang ke rumah karena Omma dan Appa pasti menunggunya. Khusus untuk hari ini, ia berjanji untuk membelikan mereka penganan teman menonton tayangan televisi.

Setelah berpamitan dengan staf yang masih berada di Suju Radio. Yuri menenteng tasnya kemudian
berjalan ke luar gedung. Ia menyembunyikan perasaannya yang masih tidak enak akibat pertengkarannya dengan Donghae tadi. Sejujurnya ia merasa bersalah, kasus ini telah menempatkannya pada posisi yang sulit. Ia tidak mau memilih ada di pihak mana dirinya sekarang, Kyuhyun atau Super Junior! Apalagi antara Kyuhyun dan Donghae, tidak, tidak, kedua namja itu memiliki tempat yang istimewa di hati Yuri. Bagaimanapun Donghae lah yang membantunya pada masa-masa sulit saat hubungannya dengan Kyuhyun naik turun. Ia tidak mau mengkhianatinya tapi Yuri juga tidak mau menyakiti perasaan Kyuhyun.

Yuri menatap langit yang berwarna biru muda. Hari ini begitu cerah, kontras dengan perasaan dan hatinya yang kelabu. Ia terus melangkah dengan pikiran kosong.

Untungnya tidak ada yang berbeda dari rutinitasnya sehari-hari. Ia berjalan berdasarkan pola yang biasa diikutinya. Tiap hari Yuri akan berjalan kaki sampai menemukan halte pemberhentian bus, kemudian naik bus menuju halte dekat pasar dimana Omma-nya berjualan. Rumah susunnya tidak jauh dari pasar itu.

Yuri kini sudah duduk menyender di sebuah kursi di belakang supir bus masih dengan tatapan kosong. Bus kini sampai di halte pemberhentian pertama. Seorang namja berkaca mata hitam dan bertopi memasuki bus tersebut. Rambutnya gondrong tak beraturan dengan wajah yang ditutupi cambang dan kumis tipis. Ia tampak sedang mencari tempat duduk yang kosong. Dilihatnya tempat duduk di samping seorang yeoja berambut panjang tampak tak terisi.

Namja berkemeja kotak-kotak itu duduk dengan sembarangan. Yuri bergeser sedikit ke arah jendela. Ia tampak tidak nyaman dengan kehadiran namja acak-acakkan itu. Ia memalingkan mukanya ke arah jalan.

Namja di sebelahnya berdehem, tampak mencari perhatian tapi Yuri mengacuhkannya. Ia sibuk menatap lalu lalang mobil.

Tahu dirinya tidak dianggap, namja itu kemudian bersenandung kecil sambil sesekali melirik Yuri dengan senyum jenaka. Yuri tidak bergeming, ia tetap acuh.

Love, o~ Love, geuraeyo nan
geudaereul nan jeongmallo saranghamnida
Love Love Love, Love Love Love, Love Love Love

Yuri mendesis kesal, ia tidak suka namja itu menyanyikan lagu yang ia sukai.

“Kukatakan jangan menemuiku di sini,” Yuri tiba-tiba berbicara pelan tapi pandangannya tetap mengarah ke jalan.

“Terpaksa,” namja itu berhenti bernyanyi. Ia merapikan topinya.

“Mereka membuntutiku,” bisik Yuri. Ia masih menatap ke samping kanan bukan ke samping kiri dimana namja itu duduk.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kau ke sini?”

“Yang membuntutimu ada dua. Yang satu aku bisa kenali tapi yang satu lagi aku tidak tahu siapa dan apa motifnya.”

“Apalagi begitu, harusnya kau tidak muncul. Mereka mengincarmu, bukan aku.”

“Aku takut mereka membahayakanmu.”

Yuri memandang ke sekeliling bus. Ia kini menatap ke depan. Dimainkannya gantungan tas ranselnya sehingga menimbulkan suara gemericik. Sesaat mereka tidak saling bicara. Yuri melirik ke sebelah, namja itu seperti sedang tertidur. Pura-pura tertidur atau memang tidur, entahlah, yang pasti ketika Yuri sudah sampai di halte terakhir, namja itu pun ikut keluar membuntutinya.

Yuri mencoba berjalan sesantai mungkin walau hatinya penuh dengan rasa takut. Sudah beberapa minggu ini, ia hidup dalam rasa cemas. Sebetulnya sebelum hari ini, Yuri tidak terlalu khawatir karena tahu siapa yang membuntutinya. Tapi ada penguntit baru yang tidak ia kenali motivasiny, itu yang membuat Yuri cemas luar biasa.

Namja yang tadi duduk di sebelahnya kini menghilang entah kemana. Yuri khawatir karena seharusnya Kyuhyun berada dalam garis pandangnya. Tidak terlalu dekat tapi tidak terlalu jauh.

Langkah kakinya kemudian terhenti sebentar di sebuah rumah makan tradisional. Yuri berpura-pura membeli sesuatu sambil matanya menoleh ke belakang, sebelah kanan dan kiri, Kyuhyun kemana? Kyuhyun menghilang. Kemana dia? Apa dia baik-baik saja. Apa penguntit kedua itu menemukannya? Tuhan tolong lindungi Kyuhyun, Yuri memejamkan matanya.

Ketika kelopak matanya terbuka, dilihatnya sebuah mobil Corvette biru metallic terparkir di seberang jalan. Yuri tersenyum kecil, berarti kali ini giliran Eunhyuk yang membuntutinya. Setelah berita Kyuhyun menghilang, member Super Junior tampak bergantian membuntuti sehabis dirinya pulang bekerja.

Mereka pasti curiga dirinya tahu keberadaan Kyuhyun di mana. Kemarin Kibum, kemarin lusa Ryeewok, kemarinnya lagi Shindong. Sepertinya semua member sudah bergiliran membuntutinya, kecuali tentu saja CEO Siwon dan Leader Leeteuk. Mereka berdua seperti menghilang ditelan bumi setelah skandal Kyuhyun yang membuat imej dan harga saham perusahaan merosot drastis. Mungkin Siwon dan Leeteuk sibuk menyelesaikan masalah bisnis mereka.

Yuri masih menyunggingkan senyumnya sambil membawa tas berisi makanan. Mobil biru itu mengikutinya pelan.

“Kalian tidak akan bisa menemukannya,” ucap Yuri lirih,”Maafkan aku.”

Walaupun sudah berminggu-minggu mengikuti dirinya, Super Junior memang tidak pernah bisa mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Kyuhyun. Yuri dan Kyuhyun tampaknya sudah cukup lihai untuk menutupi jejak.

Hati yeoja itu dilanda kebingungan. Sejujurnya, setelah penjelasan dari Donghae tadi, Yuri merasa bersalah karena telah membuat member Suju kehilangan waktu berharga mereka hanya untuk mencari Kyuhyun. Seharusnya saat perusahaan sedang krisis seperti ini mereka tidak perlu dibebani dengan urusan buntut membuntuti Kyuhyun dan dirinya. Mereka harus fokus untuk menangani masalah bisnis dari ancaman kebangkrutan. Yuri baru menyadari bahwa persahabatan mereka memang benar-benar tulus. Ia merasa malu karena telah bersikap buruk pada Donghae dan berpikiran tidak-tidak tentang Super Junior.

Tapi Kyuhyun seperti macan terluka. Ia telah menganggap member Suju telah meninggalkannya. Susah bagi Yuri untuk meyakinkannya karena Kyuhyun menjadi lebih sulit daripada sebelumnya.

Yuri kini sudah memasuki halaman rumah susunnya. Ia sama sekali tidak melihat Kyuhyun. Perasaannya tambah kacau. Pasti terjadi hal yang buruk pada diri namja itu. Jangan-jangan penguntit itu tahu bahwa namja berantakan itu adalah Kyuhyun. Padahal penyamaran Kyuhyun sudah begitu sempurna. Mungkin itulah nasib public figure yang berasal dari golongan papan atas, bergaya seperti gembel saja masih bisa dikenali.

 

FEELING WASTED

Yeoja itu menapaki tangga dengan lemah. Ia sangat khawatir atas nasib Kyuhyun. Penguntit baru itu, siapakah dia? Jika dia bukan member Super Junior lalu siapa lagi?

Dibukanya pintu ruang tamu dengan pelan. Terdengar suara engsel pintu berderit.

“Aku pulang,” seru Yuri pelan.

Alangkah terkejutnya ketika dilihatnya namja bertopi dan berkemeja kotak-kotak itu sedang makan dengan lahap di ruang tamu.

“Kyuhyun Oppa? Kau ada di sini.”

Namja itu menghentikan suapannya. Ia menatap Yuri dengan pandangan heran. “Tentu saja kau pikir aku ada di mana. Bukankah orang tuamu sudah mengijinkan aku untuk tinggal di sini selama beberapa waktu sampai kondisi aman.”

Perasaan yeoja itu langsung berubah menjadi gembira. Tuhan mendengarkan doanya. Ia langsung memeluk Kyuhyun erat sehingga namja itu tersedak.

Oppa, kupikir kau akan mati.”

“Hey, apa yang kau katakan. Masa kau pikir aku akan mati. Lepaskan Yuri, aku sedang makan.”

Tapi Yuri tidak melepaskan pelukannya. Kyuhyun tidak mati, ia benar-benar masih hidup.

Kyuhyun melepaskan pelukan Yuri kemudian terbatuk-batuk. Beberapa kepal nasi tertelan begitu saja ke mulutnya tanpa sempat dikunyah. Mukanya memerah seperti kehabisan nafas.

Yuri terkejut, diminumkannya segelas air sampai akhirnya Kyuhyun bisa bernafas normal.

“Apa yang kau lakukan Yuri. Justru kau yang akan membuatku mati.”

Walaupun Kyuhyun menunjukkan muka kesal tapi dalam hatinya ia begitu senang setiap Yuri memanggilnya Oppa. Okey mungkin terdengar menggelikan tapi sumpah, panggilan itu seperti senandung manis di telinganya.

Yeoja itu menunduk,”Mianhae Oppa. Aku tadi khawatir karena tidak melihatmu. Kau kemana saja? Bukankah kau mengatakan harus melindungiku karena ada penguntit baru tapi kau malah pergi.”

Kyuhyun tidak menjawab, ia membuka sedikit kemejanya, ada memar dan lebam di sekujur tubuhnya. Yuri berteriak sampai Kyuhyun harus segera menutup mulut yeoja itu dengan kedua tangannya.

“Syut, diamlah apa kau ingin Omma dan Appa ikut-ikutan histeris. Jika itu terjadi habislah kita.”

Yuri mengangguk-angguk dengan kedua tangan Kyuhyun masih menutup mulutnya. Sekilas ia memperhatikan penampilan baru Kyuhyun. Walaupun seperti orang jalanan, ia tetap saja terlihat menawan. Aura sebagai pemuda berdarah biru tidak bisa hilang walau sudah tertutup kumis sekalipun.

“Sekarang dengarkan baik-baik dan bersikaplah tenang. Aku tadi berkelahi dengan penguntit itu.”

“Kau menang?” akhirnya Kyuhyun melepaskan kedua tangannya di mulut Yuri. Yeoja itu bertanya dengan antusias.

“Ini bukan soal menang dan kalah. Tapi sejauh mana kau bisa mendapatkan informasi berharga darinya.”

“Ada informasi?” tanya Yuri.

“Ada. Tapi aku tidak bisa mengatakannya karena masih terlalu dini.”

“Kita aman bukan?”

Namja itu terdiam. Ia berdiri dari tempat duduknya, “Itu yang aku takutkan. Mungkin aku harus mengerahkan bala bantuan untuk melindungimu, tapi tampaknya sulit. Sekali aku berkomunikasi, seluruh dunia akan tahu dimana aku berada.”

Yuri menunduk menyembunyikan mimik mukanya yang menyiratkan berbagai macam perasaan.

Kyuhyun memegang kedua tangan yeoja itu.

“Aku minta maaf karena telah membuat hidupmu jadi berbahaya. Prioritasku sekarang adalah keselamatanmu. Keluargaku sudah kupastikan aman. Kau juga tidak usah khawatir memikirkan diriku. Kau akan selamat, kau akan selamat, kau akan selamat….”

Yuri menyipitkan kedua matanya. Ia tahu Kyuhyun sedang gugup sehingga tidak bisa mengontrol pembicaraannya yang berulang-ulang. Ia melepaskan pegangan tangan namja itu.

“Aku tidak takut akan hal itu Oppa. Begini-begini, aku pernah jadi preman kecil waktu sekolah dulu. Aku mulai berubah ketika kuliah. Beasiswa memaksaku untuk menjaga sikap. Oppa tenang saja, kemampuanku itu masih ada, aku bisa bertarung seganas singa. Jadi kau tidak perlu cemas karena aku bisa menjaga diri.”

“Aku tetap khawatir.Kau tidak sepatutnya masuk dalam pusaran masalahku.”

“Aku memang khawatir, tapi aku lebih mengkhawatirkan dirimu,” seru Yuri. “Hmm ini ideku mudah-mudahan kau mau mempertimbangkannya bagaimana jika kita minta bantuan member Super Junior?” tanya Yuri dengan hati-hati.

Ia bisa menebak respon Kyuhyun dan memang benar, muka namja itu terbelalak, tampak tidak suka. Ia menarik tangan Yuri ke luar rumah sehingga pembicaraan mereka tidak sampai terdengar orang tua Yuri.

“Sudah kukatakan jangan pernah menyebut nama itu lagi di depanku.”

Yeoja itu menggelangkan kepalanya, “Kau salah Oppa, mereka tidak seperti yang kau kira. Donghae Sajangnim telah mengatakan banyak hal padaku. Mereka merindukanmu seperti kau merindukan mereka. Mereka tidak memecatmu, justru mereka khawatir padamu Oppa.”

“Aku tidak bisa mempercayai hal ini dengan mudah,” jawab Kyuhyun tegang.

“Aku mengerti tapi cobalah untuk mempercayai mereka.”

“Untuk apa mempercayai orang yang jelas-jelas mengabaikanku. Kau yakin ini bukan jebakan?”

Yuri bertanya tidak mengerti,“Maksud Oppa?”

“Mungkin Donghae mengatakan hal-hal yang manis kepadamu sehingga kau luluh dan mengatakan dimana aku berada. Atau jika rencana itu tidak berhasil, mereka akan membuatmu membujukku seperti ini. Aku bias saja luluh dan menurut karena kau yang memintaku. Aku kemudian muncul seperti yang mereka inginkan. Lalu kau tahu ujungnya?”

Yuri mengangguk-angguk,”Happy ever after? Selalu muncul kebahagiaan di akhir penderitaan. Tokoh utama pria dan wanita bersatu selamanya. Penjahat akan mendapatkan ulah akibat kejahatannya. Untuk kasus kita , polanya akan berakhir sama, yang baik akan bahagia begitupun sebaliknya.”

Kyuhyun terbelalak, “Kau naïf sekali Yuri. Ini akibat kau terlalu banyak membaca dongeng.”

“Loh yang membelikanku buku dongeng itu Kyuhyun Oppa kan? Cinderella, Sleeping Beauty, Putri Salju…. Mereka sangat menginspirasiku, lain kali akan kupotong rambutku sebahu seperti Putri Salju, oh oh tidak kupanjangkan saja seperti Rapunzel, tapi aku suka dengan rambut Ariel yang pirang, seperti melihat lembaran emas . Tapi tampak sulit kuiikat saja seperti Cinderella ya.”

Kyuhyun terdiam, ia jadi merasa menyesal membelikan Yuri buku dongeng seperti itu. Tampaknya Yuri memiliki sedikit obsesi dengan tokoh princess dalam dongeng-dongeng itu. Bahkan topikpun bergeser dari masalah Kyuhyun menjadi masalah putri-putrian ala khayalan Yuri.

“Orang biasanya lebih tua sebelum waktunya. Dalam kasusmu malah sebaliknya, kau terlalu lama menjadi anak-anak…”

“Apa?” Yuri tidak dapat mendengar gumaman Kyuhyun.

Namja itu mendekat sehingga jarak antara wajah mereka mungkin hanya beberapa centimeter. Yuri mundur perlahan,rasanya ia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Kyuhyun.

“Oppa?”

“Hmm….”

“Aku tidak mau mencium namja berkumis.”

Mulut Kyuhyun menganga, matanya membesar karena terkejut..

“Jadi kau pikir, aku akan… Aish pikiranmu itu, Yuri kau…Ah sudahlah tidak penting. Terimakasih sudah mengingatkanku.”

Kyuhyun tiba-tiba menarik leher belakang Yuri dan mencium bibirnya dengan cepat. Walaupun sudah beberapa minggu ia hidup seatap dengan yeoja itu tapi baru kali ini Kyuhyun dapat merasakan kembali bibir lembut yeoja ini. Jujur, nalurinya sebagai namja membuatnya selalu bermimpi untuk dapat mencium Yuri, lagi dan lagi. Tiap detik Kyuhyun mendambakannya.Tapi hubungan mereka kini sudah meningkat bukan lagi bergelut dalam nafsu semu belaka. Ada misi untuk menjaga yeoja itu Yuri, ada pesan untuk membuat yeoja itu merasa nyaman. Nyaman bukan dengan tawaran ciuman atau seks semata, tapi perhatian, kepercayaan dan saling menjaga.

Yuri melepaskan diri sambil terengah-engah, kulit di sekitar bibirnya memerah.

“Jika masalah ini selesai, kau harus berjanji untuk mencukur kumismu.”

“Kupikirkan,” jawab Kyuhyun terkekeh. Wajahnya tiba-tiba berubah serius.

“Aku mohon, kau jangan gampang terbujuk oleh permintaan Super Junior untuk bisa menemuiku.”

Aura romantis yang baru saja Yuri rasakan, tiba-tiba berubah kembali menjadi kelabu.

“Jelasakan ending ceritamu Oppa? “

“Salah langkah, salah memilih teman, aku bisa mati.”

Yeoja itu terpana mendengar tuduhan keji Kyuhyun, “Oppa, kenapa kau berbicara begitu? Mereka tidak akan mungkin membunuhmu.”

“Di dunia ini tidak ada teman yang abadi, melainkan kepentingan yang abadi.”

Yuri tidak mampu berbicara banyak.

“Keberadaanku sangat membahayakan orang-orang tertentu.”

“Siapa orang itu? Super Junior?”

“Mungkin iya mungkin tidak. Yuri aku juga tidak tahu siapa yang bisa kupercayai. Bisa saja bukan mereka, tapi yang pasti Super Junior membutuhkanku. Tapi setelah mereka mendapatkanku, bisa saja mereka membuangku, membunuhku. Aku, aku tidak tahu, Yuri. Kumohon aku tidak tahu siapa temanku.”

“Oppa? Kau bisa mengandalkanku. Ini terlalu berat untukmu. Tapi kuharap kau memikirkan kembali pandanganmu tentang Super Junior.”

Kyuhyun menghela nafas panjang, ia menatap Yuri sendu.

“Begini, untuk saat ini Super Junior pasti menginginkanku hidup-hidup karena masih membutuhkan bantuanku. Aku harus muncul untuk menandatangani surat pengunduran diri atau pemecatan, seperti itu. Surat itu akan membuat investor kembali pada Suju Company. Lalu setelahnya, mau aku mati atau tidak, mereka tidak akan peduli. Itulah kenapa mereka mencariku Yuri. Mereka membutuhkan tandatanganku untuk menyelamatkan perusahaan.”

“Tidak, tidak seperti itu,” Yuri menolak,” Aku tidak percaya mereka sejahat itu kepadamu Oppa.”

“Dengarkan Yuri. Mereka menginginkanku menjual saham dan investasiku supaya para investor itu tidak kabur. Banyak keuntungannya jika mereka memecatku. Bank tidak akan menarik dananya. Pemerintah juga tetap mengucurkan banyak insentif. Suju Company akan bertahan hidup.”

“Kau berlebihan Oppa. Donghae bahkan hampir menangis ketika berbicara tentangmu.”

“Menangis karena ketiadaanku sekarang membuat mereka kalang kabut dan nyaris bangkrut. Terlalu banyak alasan untuk mereka melepaskanku Yuri. Terlalu aneh malah jika mereka mempertahankanku. Keberadaanku akan membuat perusahaan kolaps yang berujung pada pemecatan massal. Kau pun akan dipecat nantinya karena mereka tidak sanggup menggajimu. Jika aku menjadi mereka, aku pun akan berpikiran rasional. Untuk apa membela satu orang jika harus mengorbankan beribu-ribu orang. Kau bayangkan berapa ratus ribu orang anggota keluarga yang tergantung pada pendapatan suaminya di perusahaan kami. Jika pemecatan itu benar-benar terjadi, separuh ekonomi negara ini akan pincang. Semuanya karena aku.”

“Oppa,” Yuri hampir menangis. Ia tidak pernah tahu akan fakta itu. Pendiriannya goyah antara harus mempercayai ucapan Donghae atau Kyuhyun. Semua tampak benar dan beralasan.Apakah benar hubungan saudara bisa mati karena masalah uang dan bisnis? Ia paham, terlalu banyak yang dipertaruhkan jika Super Junior mempertahankan Kyuhyun. Di satu sisi ia bisa memahami pernyataan namja itu tapi di sisi lain, ia ingin mempercayai ucapan Donghae.

“Aku mengerti jika mereka memecatku. Tapi kadang egoku masih tidak bisa menerima itu. Kadang aku ingin berteriak. Aku tidak layak diperlakukan seperti itu. Aku tidak bersalah. Aku juga korban sama seperti mereka,” Kyuhyun terduduk lemas.

“Rasanya seperti dikhianati orang yang paling kusayangi. Seperti orang yang sekarat tapi masih tetap ditikam dari belakang, itulah yang kurasakan. Tapi aku tidak boleh egois. Terlalu banyak kepentingan dalam kasusku.”

Yuri ikut terduduk dengan posisi saling berhadapan. Ia memeluk Kyuhyun yang seperti ingin menangis.

“Sampai aku puas membuat mereka kebingungan mencariku, aku akan bersembunyi. Pada saatnya nanti aku akan muncul dan menyerahkan diri. Melakukan apa yang seharusnya kulakukan sebagai seseorang yang bertanggung jawab atas kebangkrutan Suju Company.”

“Aku bukan pengecut. Tapi aku butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku. Kau bisa bayangkan perasaanku sekarang Yuri. Aku adalah anak angkat dari Ayah yang selama bertahun-tahun telah mencuri identitas Appa kandungku. Aku bahkan tidak tahu apakah aku harus menyayanginya atau membencinya. Keluargaku ternyata dibunuh karena masalah perebutan kekuasaan. Aku hidup lama di panti asuhan dan mengira bahwa aku bukan siapa-siapa. Setelah dewasa, sesaat aku merasa hidup sudah bahagia, tiba-tiba sekelompok penjahat mengincarku karena aku adalah anak silsilah keluarga Choi.”

“Ada apa denganku Yuri. Bahkan sahabat yang kuanggap saudaraku berbalik mengkhianatiku. Aku akui, aku lah penyebab semua kekacauan ini. Sungguh ada suatu titik dimana rasanya mati jauh lebih baik. ”

“Oppa jangan berkata seperti itu.”

Yuri mengeratkan genggamannya. Ia merasakan tangannya basah. Kyuhyun benar-benar menangis.

“Apakah aku orang yang pengecut Yuri?”

“Tidak kau bukan pengecut.”

“Tapi aku tidak sanggup bertemu dengan Super Junior. Hatiku sakit.”

Kyuhyun menengadahkan wajahnya, matanya memerah, pipinya sedikit basah. Dengan punggung tangannya Yuri mengelus pipi Kyuhyun yang semakin cekung. Tidak ada lagi Cho Kyuhyun yang begitu percaya diri. Di depannya kini hanya tampak pemuda ringkih, tidak terurus, dengan jiwa yang sekarat.

Kini mereka sudah ada di balkon sempit. Keduanya terdiam sambil memandangi langit yang hitam pekat tanpa ada bulan dan bintang. Malam begitu gelap, segelap perasaan Kyuhyun saat itu. Yuri tidak mau banyak membujuk Kyuhyun untuk membuka hantinya pada Super Junior. Argumen Kyuhyun mungkin benar tapi mungkin juga salah. Hanya Tuhan yang tahu kebenarannya. Ia hanya bisa berharap bahwa pernyataan Donghae benar adanya.

“Hey kalian, apa yang sedang kalian lakukan!”

Suara teriakan nyaring Omma Yuri membuat kedua orang itu terperanjat. Kyuhyun dan Yuri saling melepaskan diri. Untungnya mereka hanya saling berpegangan tangan.

Namja itu menghapus mukanya yang sembab dengan kaos bajunya. Sepasang kekasih itu saling memandang, beberapa detik tanpa bicara. Sorot mata masing-masing mencerminkan percakapan batin diantara mereka. Kyuhyun percaya, ketika semua pergi meninggalkannya masih ada Yuri yang akan selalu menemaninya.

“Tunggu apa lagi, masih muda sudah melamun. Lebih baik masuk dan bantu Omma. Yuri aduklah adonan kuenya dan Kyuhyun cuci piring yang kotor. Omma harus memijat kaki Appa. Jika tidak dipijit, Appa tidak bisa bekerja besok. ”

Kyuhyun tersenyum, seolah tidak ada hal buruk yang terjadi sebelumnya seperti. Mereka lantas buru-buru masuk ke apartemen mungil itu, seolah-olah tidak ada hal buruk yang terjadi sebelumnya.

 

A MINUTE LIVING TOGETHER

Jika orang awam berdiri tak jauh dari apartemen kecil itu, maka kita akan mendengar suara-suara saling tertawa. Itu adalah suara Kyuhyun, Yuri, Omma dan Appa. Walaupun Appa belum bisa bicara tapi ia masih bisa bersuara. Ada gelak tawa yang paling dominan, itu pasti Appa dan Kyuhyun, kedua orang itu memang ditakdirkan untuk saling melempar candaan. Sesekali terdengar juga suara Yuri yang tertawa terkikik dan Omma yang selalu berteriak agar Kyuhyun dan Yuri berkonsentrasi saat bekerja. Siapa yang menyangka, baru beberapa menit lalu Kyuhyun menangis di balkon ini.

“Yuri kau harusnya melihat ke adonanmu, bukannya terus melamun. Orang melamun itu seperti orang tidak punya masa depan. Jadi berhentilah dan bantulah Omma.”

“Kyuhyun, cucilah piring dengan benar. Jangan berminyak seperti ini. Kumohon jangan ada gelas pecah lagi atau kau tidak akan kuijinkan membantuku di pasar.”

Omma berteriak karena kalah suara dengan tawa Kyuhyun dan Appa. Ia memandang wajah orang-orang di depannya seperti pura-pura marah.

“Appa diamlah, kalau bergerak-gerak terus Omma tidak bisa memijit Appa dengan benar. Dan bersikaplah seperti orang tua jangan terus bercanda dengan Kyuhyun.”

Appa hanya tergelak. Ia belum bisa bicara dengan baik tapi sudah bisa berkomunikasi walaupun dengan gerakkan tangan. Sebetulnya Appa belum sembuh benar,tapi keinginan untuk bekerja sangat besar. Untunglah Appa pintar menulis tangan dan sangat jeli. Ia diperkerjakan sebagai asisten distributor percetakan di dekat rumah mereka sekarang. Entah bagaimana Appa berkomunikasi dengan atasan dan pekerja yang ada di kantor tersebut, Yuri sendiri tidak dapat membayangkan tapi bagaimanapun caranya, toh sampai saat ini tidak ada keluhan pada Appa.

Appa masih memakai kursi roda dan Omma dengan setia mengantar jemput Appa dari tempat kerja. Omma sangat bersyukur bahwa masih ada orang yang mau memperkerjakan orang tua yang nyaris cacat seperti Appa.

“Aduh, ada apa dengan orang-orang di rumah ini. Sejak ada Kyuhyun, Yuri tidak pernah berkonsentrasi saat membantuku. Appa juga selalu bercanda di saat yang tidak tepat.”

Tapi tampaknya omelan Omma tertelan oleh ramainya pengisi rumah itu untuk saling berbicara dan bercengkrama. Tiap malam mereka sibuk membantu membuat adonan kue untuk dijual Omma di pasar. Kesibukan rutin tiap yang mau tidak mau harus dilakukan demi bertahan hidup. Melelahkan memang tapi menyenangkan dan Kyuhyun sangat menikmatinya. Sekian lama ia kehilangan kehangatan sebuah keluarga dan ia menemukannya di rumah ini. Untuk sesaat namja itu lupa masalah yang menimpanya.

Kyuhyun menatap Yuri yang sedang asyik mencetak adonan kue untuk dimasukkan ke dalam loyang. Sadar diperhatikan, wajah Yuri merona merah. Kyuhyun tersenyum, tangannya gatal untuk merapikan helai-helai rambut Yuri yang menutupi wajahnya karena terlalu asyik menunduk.

“Kyuhyun jika kau sudah selesai mencuci tolong lap piring-piring itu. Masukkan ke kotak dan jangan lupa kertas kue, tissue, sendok, garpu, gelas. Jangan sampai ketinggalan kotak kue-nya.”

Teriakan Omma mengaburkan kenikmatannya mengagumi keindahan seorang Kwon Yuri.

“Siap laksanakan!” seru Kyuhyun tertawa. Ia masih melirik Yuri yang tersenyum malu-malu.

Kyuhyun menyadari ia sudah terlalu candu dengan semua pesona yang dipancarkan Yuri. Namja itu rasanya tidak pernah bosan menikmati keindahan paras Yuri. Gayanya yang alami membius kesadaran Kyuhyun, rasanya tidak ada yeoja lain yang bisa menandingi kecantikannya.

“Jangan menatapku seperti itu,” bisik Yuri ketika ada kesempatan,”Aku merasa kau akan memangsaku.”

Kyuhyun menyeringai menirukan gaya singa mengaum sambil terkikik melihat Yuri yang pura-pura marah. Mungkin itulah cinta, pengaruhnya membutakan hal-hal yang bersifat rasional. Bayangkan Yuri yang tomboy mendadak berubah menjadi feminin dan gampang malu jika bertemu Kyuhyun. Pernah suatu waktu Kyuhyun menemukan Yuri berdandan tebal dengan warna lipstick yang menyala. Sejujurnya, ia masih tetap cantik tapi Kyuhyun terlanjur jatuh cinta dengan penampilan Yuri yang sederhana.

Tapi visi itu datang kembali. Tuhan, mayat-mayat itu!

Prang Prang Prang

Suara panci berjatuhan ke lantai membuat namja itu tersadar dari lamunannya. Yuri memandangnya dengan khawatir. Kyuhyun tampak tidak sadar ketika memindahkan panci-panci itu ke dalam lemari.

“Kau tidak apa-apa, Oppa? Kau kelihatan pucat, jangan-jangan karena efek berkelahi tadi. Mau kuantar ke dokter?”

Kyuhyun menggelang,”Tidak, aku sehat. Panci ini licin, berarti tadi aku tidak membersihkannya dengan baik.”

“Biar aku yang mencucinya. Oppa tidurlah dahulu. Kau seperti kurang enak badan,” Yuri menatap Kyuhyun dengan cemas.

“Tidak usah Yuri, aku bisa kok,” Kyuhyun membereskan panci-panci yang berserakan kemudian menyusunnya dan membawanya ke dapur.

“Tapi Oppa…”

Namja itu tersenyum, “Tidak apa-apa, aku sudah ahli mencuci piring. Besok kujamin tidak ada hasil cucianku yang tidak bersih. Aku kan baru belajar Yuri, mianhae.”

“Sudahlah Oppa, sini aku bantu…”

Omma tiba-tiba muncul dari kamar,”Biarkan Kyuhyun mencuci panci itu Yuri, lebih baik kau bantu Omma menuliskan catatan keuangan kios kita. ”

Yeoja itu memandang Kyuhun yang sedang menangangkat panci.

“Baiklah,” Yuri berjingkat memasuki kamar Omma sambil ujung matanya memperhatikan Kyuhyun yang berjalan tertatih masuk ke dapur. Di lihat dari belakang, badan Kyuhyun tampak menyusut drastis.

Yuri memandang kamar Omma. Di kamar kecil itu ada meja tua yang biasa digunakan Omma untuk menulis.

“Mana yang harus aku kerjakan Omma?” tanya Yuri sambil mengambil kertas coretan Omma di meja itu.

Omma duduk di samping ranjang,”Sebetulnya itu hanya alasan saja Yuri. Catatan keuangan sudah Omma selesaikan.”

“Lalu?”

“Omma ingin bicara denganmu soal Kyuhyun.”

Perasaan Yuri mulai tidak enak.

Omma mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk bicara. “Omma baru menyadari bahwa masalah Kyuhyun sangat berat. Pemberitaan di televisi begitu menakutkan hati Omma. Omma hanya takut salah langkah dengan menerima keberadaan Kyuhyun di sini.” ucap Omma sambil berbisik. Ia ingin memastikan tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka.

“Maksud Omma?” Yuri bertanya lebih pelan.

“Omma hanya takut kita dianggap terlibat. Kyuhyun digosipkan menghilang dan tentu saja semua orang sibuk mencarinya. Dulu waktu Kyuhyun kau temukan pingsan. Omma juga takut dengan hal yang sama. Tapi tampaknya ini lebih serius. Sebentar lagi sidang Appa-nya akan digelar. Kyuhyun pasti dibutuhkan. Apa jadinya jika mereka tahu bahwa Kyuhyun ada di sini, di rumah kita? Jika Kyuhyun sampai dianggap terlibat kasus korupsi Menteri Cho, bagaimana dengan kita nantinya? Kita akan dianggap bersalah juga karena melindunginya.”

Yuri mendesah. Sesungguhnya ia merasakan ketakutan yang sama tapi tidak pernah diungkapkannya.

“Aku ingin menolongnya Omma. Ia sedang depresi dan butuh menenangkan diri. Orang di sekitarnya kini berbalik menyerangnya. Kyuhyun sendirian. Aku yakin ia tidak terlibat dengan skandal Menteri Cho. Tolong percayalah pada Kyuhyun, Omma. Berikan ia kesempatan untuk tinggal di sini sampai ia bisa menata hidupnya.”

Omma memandang Yuri lembut, “Aku mempercayainya. Ia adalah pemuda yang baik. Tekanan hidup membuat mentalnya rapuh dan semakin rapuh jika tidak ada yang menolongnya. Tapi bukan itu masalah yang kupikirkan. Ini masalah keselamatan kita, kelangsungan hidup keluarga kita, Yuri. Sejujurnya, Omma selalu merasa kita sedang terancam bahaya besar sejak kedatangan Kyuhyun.”

“Omma jangan berlebihan,” seru Yuri tertahan. Sejujurnya apa yang dikatakan Omma memang benar adanya.

“Tidak, Omma tidak berlebihan. Omma bisa merasakannya. Menerima Kyuhyun saat itu karena mendengar ceritamu dan melihat kondisinya yang begitu kacau. Tentu kita harus menolongnya.Memberinya perlindungan dan perhatian. Tapi sekarang kulihat Kyuhyun sudah pulih, ia sudah kembali bersemangat dan tampak sehat.”

“Omma ingin mengusirnya?”

“Bukan itu maksud Omma. Omma khawatir padamu Yuri, mengingat hubunganmu dengan Kyuhyun tampaknya serius.”

“Omma tidak menyetujui hubunganku dengan Kyuhyun? Percayalah Kyuhyun tidak pernah melakukan hal buruk padaku,” ucap Yuri. Ia memang berterus terang pada Omma tentang hubungan spesialnya dengan namja itu. Yuri tidak pernah menutupi apapun tentang dirinya pada Omma dan Appa.

Omma meraih kedua tangan Yuri, “Sebagai orang tua, Omma hanya mengharapkan yang terbaik bagi anaknya. Kyuhyun baik dan ia benar-benar namja idaman. Ia tampan, kaya, pintar, dan bisa membawa diri dengan baik. Wajar sekali jika kau menyukainya. Tapi kau harus melihat dari kaca mata Omma, Kyuhyun dan keluarganya sedang bermasalah dengan hukum. Jika terbukti Kyuhyun terkait, suatu saat ia bisa saja dipenjara.”

“Tapi Kyuhyun tidak bersalah,” seru Yuri lagi,”Pengadilan akan membuktikan bahwa ia tidak terkait dengan masalah Appanya.”

Omma mencoba menenangkan Yuri yang tampak histeris, “Dengarkan Omma. Walaupun Omma bodoh, tidak sampai bersekolah tinggi sepertimu tapi soal pengalaman hidup Omma mungkin lebih baik darimu,” potong Omma. ”Begini, sebelum semua kejadian buruk ini terjadi. Kyuhyun adalah seseorang yang kau tidak bisa menyentuhnya. Dunia kalian begitu berbeda, sampai kemudian masalah ini datang dan semua orang menjauhinya. Siapa yang mau dekat dengan dia sekarang? Kau, hanya kau Yuri. Kyuhyun tidak ada pilihan lain selain bergantung padamu.”

Yuri terdiam mencoba mencerna pembicaraan Omma.

“Kau dengan keluguanmu pasti akan selalu menerima Kyuhyun apa adanya. Jika sampai Kyuhyun dipenjara, kau pun akan bersamanya. Kau akan terus mendukungnya. Kita sudah terbiasa hidup susah. jadi jika Kyuhyun dipenjara, kau tidak akan merasakan pengaruh apapun.”

Yeoja itu semakin tidak paham maksud pembicaraan Omma.

“Sebagai orang tua yang ingin melihat anaknya bahagia, Omma tidak rela jika seumur hidupmu harus menderita. Walaupun kau kuat, tapi kami tidak bisa…”

Omma tidak melanjutkan pembicaraanya. Yuri ingin membantah tapi ia mencoba menahan diri. “Mungkin benar katamu, bisa saja Kyuhyun tidak bersalah tapi Kyuhyun masih memiliki keluarga dan kerabat. Kekuasaan mereka sangat besar. Ketika nama Kyuhyun jatuh, mereka akan berusaha untuk membersihkan namanya kembali. Apakah kehadiranmu akan mendukung hal itu? Pikirkan Yuri. Pikirkan latar belakang kita?”

“Aku, aku tidak mengerti maksud Omma…”

“Kita adalah keluarga miskin. Ketika semua orang mengenalimu sebagai yeojachingu Kyuhyun. Apakah mereka akan menghargaimu, menerimamu? Tidakkah itu akan membuat citra Kyuhyun jatuh mengetahui ia berhubungan dengan yeoja yang tidak sebanding dengannya.”

Yuri ingin menangis mendengarnya, “Omma ini menyakitkan. Tolong jangan lanjutkan.”

“Jikapun akhirnya kalian bertahan dan masalah Kyuhyun sudah selesai. Dimanakah posisimu nanti Yuri?”

“Maksud Omma, aku tidak mengerti? Tolong Omma jelaskan padaku.” tanya Yuri bingung. Perasaannya semakin tidak enak. Ia masih terisak.

“Ketika roda berputar dan Kyuhyun kembali seperti dulu, apakah ia masih membutuhkanmu. Apakah kau cukup sepadan untuk mendampinginya. Jikalau Kyuhyun masih menerimamu, bagaimana dengan keluarganya, kerabatnya? Apakah mereka bisa menerima Kyuhyun dengan kau sebagai pendampingnya? Apa kau dianggap layak bersamanya. Apa kau yakin, kau tidak akan menjadi bahan cemoohan mereka atau juga wartawan-wartawan gossip itu?”

“Omma, apakah mereka sekejam itu? Aku, aku tidak tahu. Aku akan menanyakannya pada Kyuhyun. Asal ia menerimaku, aku tidak masalah. Aku siap.”

“Pertanyaan tadi bukan untuk dijawab Kyuhyun sekarang. Karena pada saat ini, ia pasti akan memilihmu. “

“Lalu?”

“Berpikirlah masak-masak sebelum memutuskan sesuatu. Pertama, menjamin bahwa keluarga kita tidak akan terkait dengan kasus Kyuhyun jika ternyata ia terbukti bersalah. Kedua, mengenai hubunganmu sendiri dengannya, apakah ini adalah hubungan main-main atau serius. Jika kau yakin bahwa ini serius, pikirkanlah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Pastikan kau siap menerima semua konsekuensi atas pilihanmu.”

Omma melanjutkan, “Kyuhyun dan kau berbeda. Maafkan Omma karena kata-kata Omma terlalu lancang. Maafkan juga karena kau harus terlahir dari rahim orang miskin yang tidak berpendidikan. Tapi itulah kenyataannya. Kau dan Kyuhyun seperti bumi dan langit.”

“Aku tidak menyesali dilahirkan sebagai orang miskin, Omma,” ujar Yuri pendek. Hatinya sedikit bergoncang,”Aku hanya tidak mengerti bahwa banyak orang yang masih melihat seseorang dari hartanya.”

“Sayang, orang-orang seperti itu masih banyak di muka bumi ini. Dan mereka akan menjadi masalah besar jika kau terus bersama Kyuhyun. Kalian terlalu berbeda. Tidak ada persamaan yang bisa disatukan antara kau dan Kyuhyun. Mungkin sekarang tampak baik-baik saja. Tapi nanti, saat kau menemukan kenyataan hidup yang sebenarnya, kau akan tahu bahwa lebih mudah bersama dengan orang yang berasal dari latar belakang yang tidak jauh berbeda.”

Mata Yuri tampak berair. Kesadaran baru ini membuatnya sesak.

“Aku, aku mencintainya Omma. Memang benar kata Omma, apapun yang terjadi pada Kyuhyun, aku akan selalu mendukungnya, menolongnya. Tapi aku tidak tahu bagaimana Kyuhyun padaku nanti. Aku tidak tahu…”

Omma mengusap pipi Yuri yang mulai basah,”Maafkan Omma karena membuatmu terluka. Omma seperti menghempaskan harapanmu. Tapi Omma hanya ingin keputusanmu berdasarkan pada pemikiran yang matang bukan karena rasa cinta belaka.”

“Setelah berkeluarga nanti, kau akan merasakan bahwa rasa cinta saja tidak cukup untuk bisa membuat suatu keluarga bertahan. Memang kau belum berencana menikah sekarang. Tapi jika kau serius dengannya, kau harus memikirkan kemungkinan bahwa suatu saat nanti kalian akan menjadi suami istri dan bertemu dengan keluarga besarnya.”

“Cinta itu bukan berarti berpacaran, sekedar sayang-sayangan dan semacamnya. Itu hanya nafsu semata. Cinta itu adalah siap berkomitmen dan menanggung resiko atas kebersamaan kalian. Kau sudah cukup dewasa untuk berpikir ke arah sana.”

” Apapun keputusanmu, Omma dan Appa akan menerimanya. Kami yakin kau sudah dewasa untuk menentukan mana yang terbaik untukmu.”

“Yang kami minta, tolong jangan buat kesalahan serupa seperti kami dulu. Kami miskin karena tidak sekolah. Pemerintah saat itu memberikan tunjangan pendidikan bagi orang miskin. Tapi kami memilih bekerja dan menikah muda. Bukan berarti kami menyesali hidup kami Yuri, tapi begitu panjang akibat dari sebuah keputusan. Jika hanya berakibat pada kami berdua, itu wajar. Tapi kesalahan kami yang kadang tidak bisa kami maafkan adalah karena kami membuat kau menanggung kesalahan itu, Yuri.”

Yuri berdiri sambil menunduk,”Lalu apa yang Omma dan Appa inginkan?”

“Buatlah keputusan yang baik, yang berasal dari pikiran dan hati nuranimu.”

“Keputusan seperti apa?”

“Kau yang tahu Yuri, kami hanya bisa membantu mengarahkanmu supaya tetap di jalan yang seharusnya.”

“Aku…” Yuri tidak melanjutkan,”Aku mengerti Omma. Terima kasih sudah mengingatkanku.”

Kini banyak pikiran berkecamuk dalam otaknya. Ucapan Omma menyadarkannya tentang makna cinta. Ia hanya berpikiran pendek bahwa cinta itu menyenangkan, penuh dengan bunga-bunga dan warna warni. Rasa berdebar ketika bertemu, rasa senang ketika saling menyentuh. Cinta itu berarti ia memiliki seseorang yang bisa diandalkan, yang akan membuatnya nyaman dan tertawa. Ia tidak menyangka ternyata maknanya bisa begitu luas dan dalam. Ternyata itu tidak cukup!

Bunga-bunga yang hampir bermekaran kini redup. Seharusnya Omma tidak lantas menghancurkan mimpinya ketika bunga itu belum saja berkembang. Tapi Yuri mengerti, seseorang harus menyadarkannya sebelum semuanya terlambat. Dan itulah tugas sebagai orang tua. Ia menghargai Omma dan pendapatnya.

Yuri berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai. Ia menangis terisak. Omma memang tidak melarangnya berhubungan dengan Kyuhyun, tapi membantunya untuk melihat hubungan ini lebih jernih. Ia bukan lagi remaja cingusan yang menganggap cinta hanya sebagai hubungan suka-suka belaka. Yuri sudah cukup dewasa untuk bertanggung jawab dengan resiko memilih Kyuhyun. Dalam hatinya ia sepakat, terlalu banyak bahaya jika terus berhubungan dengan namja itu. Tapi di sisi lain, ada cinta yang begitu besar untuk Kyuhyun yang mampu membuatnya bertahan dan siap menghadapi masalah yang mungkin muncul.

Tidak jauh dari tempat Omma dan Yuri, seseorang mendengarkan percakapan itu dengan perasaan tidak menentu. Ia mendengar pembicaraan itu secara tidak sengaja ketika melewati kamar orang tua Yuri setelah mencuci panci di dapur.

Ia mencintai Yuri. Oleh karena itu namja itu tidak senang jika ada orang yang meragukan perasaannya. Ia ingin membuktikan bahwa memilih Yuri bukan karena tidak ada pilihan lain tapi benar-benar cintanya yang murni dan tulus.

‘Lalu apa buktimu kau mencintai Yuri, Kyuhyun?’ suara hatinya menguji perasaannya sendiri.

Kyuhyun termenung. Bukti? Ia menghela nafas, sesungguhnya ia tidak bisa memberikan bukti apapun. Ia belum melakukan pengorbanan untuk Yuri. Selalu yeoja itu yang menolongnya bukan sebaliknya.

“Sejujurnya, Omma selalu merasa kita sedang terancam bahaya besar sejak kedatangan Kyuhyun.”

Ucapan Omma Yuri terngiang-ngiang dalam benaknya.

Omma benar. Bahaya sesungguhnya sudah datang. Tapia pa yang dilakukannya? Ia justru telah menjerumuskan yeoja itu dalam bahaya. Apakah itu namanya cinta? Yuri telah membuktikan kesungguhan perasaannya dengan mengorbankan dirinya menjadi sasaran empuk penguntit itu. Ia juga telah membujuk orang tuanya agar bisa menerima Kyuhyun di rumah ini. Yuri selalu siap menolongnya kapan saja dimana saja.

Tapi Kyuhyun? Apa pengorbahan yang telah dilakukannya untuk Yuri? Tidak ada. Ia baru menyadari, tidak ada secuil bukti yang bisa merefleksikan perasaannya terhadap yeoja itu.

Kyuhyun terpekur di dalam kamar kecilnya. Jika ia mencintai Yuri, seharusnya ia dapat menjauhkan yeoja itu dari bahaya. Bukan sebaliknya. Sebentar lagi polisi pun pasti akan mencarinya untuk bersaksi di sidang Appa. Jika ia terus bertahan di rumah ini, pastilah keluarga Yuri yang akan kena getahnya. Media akan mengekspos berita ini secara besar-besaran. Tidak ada hal baik yang dapat diterima Yuri selain cemoohan karena menyembunyikan saksi kunci suatu skandal terbesar di negara ini.

Jika ia akhirnya punya keberanian untuk membawa Yuri ke dalam keluarganya. Apakah Kyuhyun mampu meyakinkan mereka untuk menerimanya. Ia pribadi, tidak malu jika harus memiliki pasangan dari keluarga miskin. Pengalaman hidupnya telah membuktikan, kekayaan tidak menjamin kebahagiaan. Tapi apakah keluarga dan lingkungannya berpikir sama? Kyuhyun tidak mau harus dalam posisi memilih kelak. Tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi.

Jika ia memaksa Yuri ‘masuk’ dan mengajaknya berjuang bersama, pertanyaan selanjutnya, apakah Yuri mampu bertahan. Tidak bisa dipungkiri, ejekan, sindiran, dan cemoohan pasti akan datang bertubi-tubi. Entah dari kerabat, media, bahkan masyarakat umum. Kuatkah Yuri untuk terus berada di sampingnya dengan kondisi seperti itu?

Kyuhyun sendiri menjamin bahwa ia akan terus melindungi Yuri. Tapi ia tidak yakin dapat melindungi hati Yuri saat ia membawa yeoja itu masuk dalam lingkungannya yang sangat kompleks. Setiap gerak dan tingkah laku akan menjadi sorotan. Hidup tidak pernah punya privasi karena menjadi public figure yang setiap perkataan dan perbuatannya selalu diulas dan dibahas. Jika bagus akan ditiru jika jelek akan dicaci.

Tok tok tok

Namja itu memberanikan diri mengetuk pintu kamar Yuri. Pintu terbuka pelan.

Yuri muncul dengan muka sembab. Kyuhyun ingin meraihnya tapi ditahannya, ia tidak mau orangtua Yuri berpikiran buruk tentangnya.

“Kau menangis?”

Yuri menggelang, ia tersenyum,”Mataku kelilipan terkena debu. Itu tandanya aku kurang membersihkan kamar.”

Namja itu tersenyum tipis, ia tahu Yuri berbohong. Ia tahu kenapa yeoja itu menangis.

“Jika besok kau ada waktu, aku ingin kau datang ke tempat ini pukul 4 sore. Aku akan menyusulmu di sana. Aku tidak memaksamu untuk datang jika kau merasa tidak nyaman,” Kyuhyun mengangsurkan selembar kertas berisi alamat. Yuri menerimanya, dibacanya sekilas alamat yang tertera di kertas itu.

“Kau benar-benar ingin membawaku ke sana?”

Kyuhyun mengangguk,”Aku tahu ini sulit. Aku mengerti.”

“Aku, aku, akan memikirkannya Oppa. Aku tidak bisa langsung mengatakan iya. Kau tahu, datang ke sana bukan hal mudah.”

“Aku tahu, aku tidak ingin memaksamu. Tapi jika kau merasa siap, datanglah. Aku akan menunggumu di sana.”

Namja itu mengangguk kemudian berbalik masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Yuri yang berdiri dengan pandangan bingung.

Setelah besok, akan jelas apakah hubungan ini berjalan mudah atau sebaliknya. Ia memejamkan matanya sambil berbaring di atas kasur. Keputusan telah dibuatnya. Bukan keputusan yang terbaik memang tapi paling rasional diantara pilihan yang ada. Semuanya demi Yuri, demi cintanya, demi pembuktian bahwa ia memang mencintai yeoja itu. Kyuhyun sedikit menguap, matanya berat. Ia berharap mimpi buruk bertemu mayat tidak akan muncul lagi.

“Selamat tidur Yuri. Mudah-mudahan besok semua selesai,” bisiknya sampai kemudian Kyuhyun tertidur karena kelelahan setelah berkelahi dengan orang-orang yang tidak dikenalnya tadi. Sayangnya ia tidak bisa menemukan informasi apa-apa kecuali dua huruf saja “CC”. Apa artinya CC ia tidak tahu, apakah singkatan, inisial, alamat, atau apa. Ia tidak punya ide. Orang-orang itu tidak lebih dari tukang pukul bayaran ternyata. Bukan anggota dari penjahat yang pernah berusaha membunuhnya.

Kyuhyun tertidur, padahal semalaman itu, ia mencoba menahan diri untuk tidak terbawa ke alam mimpi buruk. Keyakinannya terbukti, tidurnya membawanya kembali ke dunia antah berantah yang ditakutinya. Kyuhyun terbangun, ia berdiri dalam suatu lorong gelap tidak berujung. Dengan mengandalkan nalurinya, ia berjalan menyusuri lorong tersebut mencari-cari cahaya walaupun sedikit. Tapi tidak ditemuinya walupun ia merasa telah berjalan berkilo-kilo meter panjangnya.

Ia tahu bahwa sebentar lagi ia akan melihat mayat-mayat bergelimpangan itu lagi. Dan benar, dari kejauhan ia sudah mencium bau busuk. Bau yang membuatnya ingin muntah. Tapi kini ia sudah kebal, ditahannya bau manusia membusuk untuk terus mencari muara cahaya.

Dikuatkan hatinya. Kyuhyun berjalan dan ia melihat seberkas cahaya. Seharusnya ia senang karena cahaya membantunya bisa melihat tapi cahaya yang ditemuinya dalam mimpi membuatnya harus melihat ratusan tengkorak dan mayat – mayat yang mulai membusuk.

Ia kini melihat ratusan mayat dan beberapa puluh manusia yang baru saja mati bergelimpangan sambil berteriak-teriak. Kyuhyun mencoba menghindar, ia bergeser supaya tidak tertimpa orang yang roboh. Tapi yang paling Kyuhyun takuti adalah beberapa manusia yang bahkan wajah dan kulitnya seperti zombie yang haus daging dan darah. Zombie itu terus menembaki manusia-manusia yang masih hidup.

Tapi kali ini Kyuhyun tidak mau menyerah, ia tidak boleh mati oleh manusia kanibal dalam mimpinya. Ia harus mencari ujung dari semua mimpi berseri ini. Kyuhyun bersembunyi di antara semak-semak yang membuat kulitnya terluka. Semak itu ternyata berduri. Ditahannya rasa sakit dan namja itu terus berjalan mengendap menghindari ditembaki atau bahkan ditindih mayat.

Kyuhyun berjalan mengikuti sumber cahaya tanpa boleh terlihat. Diabaikannya luka-luka di sekujur tubuhnya. Duri semak belukar itu begitu tajam sehingga bajunya robek dan langsung menancap di kulitnya.

Konsentrasinya hanya supaya ia tidak terlihat manusia zombie itu yang tampak tidak berperikemanusiaan menembaki orang-orang yang berteriak-teriak meminta pengampunan.

Dan berhasil, setapak demi setapak, kakinya sudah terbebas dari lautan darah dan mayat diganti jalan mulus menuju suatu ruang megah. Anehnya, tidak ada penjaga di tempat itu sehingga Kyuhyun bisa masuk dengan mudah. Tapi Kyuhyun keliru, beberapa penjaga yang bersembunyi ternyata melihatnya. Kyuhyun tidak mungkin berlari, ia memilih bersembunyi di balik pohon. Tapi penjaga itu melewatinya begitu saja. Padahal Kyuhyun yakin beberapa penjaga menatap ke arahnya. Bahkan beberapa agak menyender ke arahnya. Tapi refleks Kyuhyun mundur untuk menghindar. Penjaga itu terdiam karena ada suara gemerisik daun ddan ranting di pohon itu. Tapi mereka tidak melihat apa-apa. Padahal ada Kyuhyun di situ berdiri dengan wajah pucat pasi. Apakah ia tidak terlihat?

Kyuhyun terus berdiri mematung sambil menahan nafasnya sampai kemudian penjaga itu berlalu begitu saja. Ia benar-benar tidak terlihat!

Dilihatnya seseorang yang berwajah mirip dirinya terlentang dalam kondisi sekarat. Diakah Appa? Ayah kandungnya? Ditelungkupkan badannya untuk mencari tahu. Ia masih mendengar detak jantung orang itu walaupun yang sangat lemah. Seseorang telah menembaknya dengan banyak peluru. Darah bercucuran sehingga membuat tanah disekelilingnya ikut memerah.

Kyuhyun ingin menangis, betapa kekuasaan telah merebut semua yang dimilikinya. Ia berdiri tapi seseorang memegang tangannya.

Kyuhyun terkejut, ia menunduk ke bawah. Appa atau siapapun dia yang melakukannya. Tapi bukankah ia invisible dalam mimpi ini kenapa orang itu bisa melihatnya.

Pria itu tampak ingin bicara walaupun yang terdengar hanyalah suara erangan. Kyuhyun berjongkok mendekatinya.

“Tolong.”

Kyuhyun dapat membaca gerakan mulutnya. Di tempat antah berantah yang sangat berbahaya seperti ini, ia tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan pria itu. Yang bisa ia lakukan adalah menggenggam tangan pria itu seolah-olah sedang memberi kekuatan.

“Appa atau siapapun dirimu, semoga Tuhan memberimu kekuatan.”

Pria itu berbisik dengan nafas terengah-engah. Ia tahu bahwa ajalnya tinggal menunggu detik. “Selamatkan dirimu, Kyuhyun.”

Kyuhyun terkejut. Orang itu tahu namanya.

“Musuh utama berada di dekatmu, berhati-hatilah.”

Apa maksudnya, tapi belum sempat Kyuhyun bertanya, orang itu sudah meregang nyawa. Ia telah mati. Belum sempat pikirannya mencerna semua kejadian ini, seseorang berjubah telah mendongkan pistol ke arahnya.

Masih dapat dilihatnya sekilas senyum dari orang asing itu, ia mengenalinya. Tuhan, ia tahu siapa orang itu.

“Kau? Kau pembunuh dia?”

“Maksudmu Ayahmu? Iya begitulah.”

“Appa? Tapi bukankah kita….? Mengapa?”

Tidak ada jawaban hanya suara tawa nyaring memenuhi hutan yang gelap. Kyuhyun tidak bisa menghindarkan diri karena tiba-tiba peluru telah melesat menembus jantungnya. Kyuhyun mati hanya dalam satu kali tembakan. Ia roboh dalam posisi berdampingan dengan mayat yang mirip dirinya. Mungkin ini hanya mimpi, tapi sayangnya yang dialami Kyuhyun adalah visi dari kemampuan indigonya. Visinya selalu meramalkan kebenaran dan belum pernah satupun meleset. Jika Kyuhyun mati dalam ilusi ini, apakah ia juga akan mati dalam kehidupan nyatanya kelak? Dan siapakah pembunuh misterius itu? Kehidupan ini susah ditebak selain yang dapat kita lihat dari kejauhan Kyuhyun dan Ayah kandungnya membujur tak bernyawa.

 

NOTES FROM OCHA AKA HYEAHKIM

Lama niaaan ninggalin nih ff favoritnya readers, selaen karena kesibukan, aku juga nulis ff-nya buat proyek2 novel begitulah jadinya beberapa ceritaku terhambat. Oh ya soal banyak plot twist di sini, mohon maklum, aja ini cerita dikerjain hampir 1/2 taon so too many ideas, too many things that Iv written trus kalo istilahnya pola buat baju nah aku sewingnya pake gaya konveksi bukan gaya butik. Aku juga ga sempet ngedit bahasanya, kalo kacau abaikan aja. yang penting grab the feel.Feel apa? feel bete sama kisah cinta mereka.  berdua yang ga jelas ujungnya. Kenapa sih susah amat bikin mereka bahagia, itu gampang sih cuman bukan itu yang pgn aku tekenin. I just wanna say life is so hard and a true love can help to solve it that but life is not always talk about love. Kadang orang tuh kalo jatuh cinta suka lupa segalanya, lupa sekitar, lupa teman, lupa PR, lupa sekolah, lupa kerjaan, lupa ortu blabla. Bahkan karena cinta, kita bisa rela ngehamba diri yang ujung2nya nyeseeellll. Cinta itu perjuangan, kalo ga siap berjuang jangan ambil dulu itu cinta. Cinta itu bukan ala cabe2an yang maen fisik, itu mah napsu, cinta itu bikin kita jadi lebih pinter, jadi lebih soleh, jadi lebih sayang sama ortu, jadi lebih baek dll. Okey, stop stop ceramahnya. Berasa jadi Mamah Dedeh. Maklum abis jadi secret keeper temen2 yang masih ababil hehehehe. Segitu aja duu ya, aku mo bobo dl. Yang mo komen, curhat2 boleh, ama tebak2an nih ujungnya gimana.

Trus neh aku ada prize khusus, buat yang bisa ngasih aku alur dari mulai part 11 sampe ending kayak gimana. Berminat? Just send ur detil plot to me di hyeahkim@yahoo.com. Untuk yang terpilih, Hadiahnya antara lain: aku punya shawl lucu2 bisa buat jilbab atau preloved CD Kpop yang masih keren (krn jarang diputer). Kutunggu sampe 2 bulan mendatang.

Bicara soal hadiah-hadiah? aku lagi ada proyek bikin novel neh. yang satu butuh co-author yang satu lagi aku jadi editornya. Soal caranya gmn dll tunggu di edisi ff aku berikutnya. Ga lama lagi aku mo aplod exo series love is never dies, mungkin di situ info soal proyek novel  dan soal seri EXO itu, akan kurubah tokoh utama Kris mulai dari seri pertama. Ya abis maksain nama Kris jadi aneh dan udah ga nge feel lagi jadinya. Kasih tau ke aku dong untuk seri itu mas Kris cocoknya diganti sama siapa? termasuk cast ceweknya juga. Kutunggu masukanny di sini or ditwitterku ya @kimhyeah22. Cast bakal ku ganti total, kecuali Suho yaaaaa krn karakternya udah pas pas pas bgt di situ.

Btw exo konser mo pada datang ga? kalo mo inpo2 ya ke twitter atau ke sini juga, aku lagi cari temen yang ga di kelas festival. Rada trauma diinjek2 sepatu stileto hehe

Segitu aja deh, dari tadi mo bobo jadi ga jadi

Tadaaaa

Advertisements

98 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART (PART 11) “BE READY FOR PLOT TWISTS”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s