First Love Forever Love [5th chapter – Explain Everything]

 

First Love Forever Love

5th chapter – Explain Everything

 

Author : Fai

Cast :

  • Hwang Yui | YOU/readers
  • Wu Fan/Kris | EXO’s Kris
  • Jessica Jung | SNSD’s Jessica
  • Oh Sehun | EXO’s Sehun
  • Kim Jongin/Kai | EXO’s Kai
  • Huang Zi Tao | EXO’s Tao
  • Xiumin | EXO’s Xiumin
  • Find it by yourself

Genre : romance, friendship, action

Rating : G

Length : chaptered

Previous : [Introduction + Trailer][1st chapter][2nd chapter][3rd chapter][4th chapter]

Disclaimer : this is officially mine, but the casts are not mine

N.B. : ff ini terinspirasi dari novel dengan judul yang sama~ karena Fai suka banget sama novel itu, akhirnya Fai bikin fanficnya deh kkk~ sekalian berbagi sama yang belom pernah baca novelnya :3

Happy reading ^^

 .

“…jika saat itu kita gigih, kisah kita pasti tidak akan seperti ini…”

.

 

|5th chapter – Explain Everything |

 

Dua hari berlalu, dan Yui tidak pernah melihat Wufan lagi—juga dengan Xiumin, Kai dan Tao. Jessica sempat pulang ke rumah selama sehari, setelah itu ia pergi lagi.

Cuaca perlahan-lahan kembali berubah menjadi hangat. Yui tidak ingin menghabiskan waktunya sendirian di dalam kamar, jadi ia memutuskan untuk duduk-duduk beberapa jam di sebuah taman bunga di tepi jalan.

Cahaya matahari di kala senja terlihat sangatlah bagus. Di sampingnya ada anak-anak yang berlari-lari sambil bermain. Suara tawa mereka sangat nyaring dan gembira.

Tiba-tiba, seseorang duduk di sebelah Yui dan berkata, “Menikmati musim dingin di kala senja memang pilihan yang bagus.”

Yui menoleh. Sehun sedang duduk di sebelahnya dengan dua gelas susu hangat di tangannya. Ia menyerahkan segelas susu hangat tersebut kepada Yui dan gadis itu mengambilnya.

Ia menenggak susu itu dan jiwanya perlahan-lahan kembali merasa tenang.

“Kenapa kau bisa tahu kalau aku ada disini?” tanya Yui.

“Ntahlah. Sesuatu menarikku ke sini,” gurau Sehun.

“Oh,” Yui tertegun.

Sehun menggumam kecil.

“Ke mana saja kau selama dua hari ini?” tanya Yui. Ya, sudah dua hari ini ia tidak bertemu dengan Sehun—bahkan Sehun tidak menghubunginya.

“Oh, maaf. Aku sedang bertugas ke luar kota,” jawab Sehun. “Memangnya kenapa?”

Yui menggerutu di dalam hatinya. Ia ingin sekali mengutarakan seluruh perasaannya pada Sehun. Aku sangat membutuhkan seseorang untuk membuatku merasa tenang. Hatiku hancur dan terasa sangat sakit, aku bahkan tidak tahu kenapa. Aku membutuhkanmu, Sehun. Kau harus tahu itu.

Tapi, kenyataannya ia mengucapkan hal yang berbeda.

“Tidak apa-apa. Jessica sudah lama meninggalkanku dan aku tidak mempunyai teman. Aku benar-benar kesepian,” gerutu Yui seraya mendengus kesal.

Sehun tersenyum hangat seraya mengelus lembut puncak kepala Yui.

Hari ini, Sehun mengenakan baju kasual. Selembar kemeja biru berkerah tinggi dan celana jeans. Terlihat sangat pas dan nyaman jika Sehun yang mengenakannya. Cahaya matahari menyiram pupil kecoklatannya, langsung menembus ke dalam relung terdalam di matanya. Dan Yui tidak bosan-bosannya mengatakan bahwa Sehun memang sangat tampan.

“Kenapa kau menatapku seperti itu, hmm?” tanya Sehun.

Yui hanya menggeleng. “Umm, apakah kau sudah tidak sibuk lagi?”

“Untuk dua hari ini aku bebas.”

“Apakah kau mau menemaniku di rumah selama dua hari itu?”

Yui tidak bisa menahan dirinya sendiri. Kalimat itu tiba-tiba saja lolos dari mulutnya sendiri dan ia telah menjatuhkan harga dirinya. Semoga saja Sehun tidak menganggapku rendah.

Uh, maaf. Kalimat itu tiba-tiba saja terucap olehku. Belakangan ini aku merasa takut dan kesepian.”

Sehun tersenyum lembut lalu mengacak-acak rambut Yui dengan pelan.

“Tidak apa-apa. Lagipula, kupikir akan berbahaya kalau kau tinggal sendirian di rumah. Tidak ada salahnya kalau aku menjagamu selama dua hari ini, bukan?”

Yui bernapas lega.

“Ya, kau benar.”

Di lapangan, ada seorang anak perempuan yang sedang bermain biola. Ia membawakan lagu-lagu lama dari tahun 1960-1970an. Lagu-lagu yang dibawakannya terdengar akrab di telinga Sehun maupun Yui. Satu lagu disambung dengan lagu yang lain. Remaja—bahkan orang-orang dewasa di sekitar perlahan-lahan mulai berkerumun, bahkan di antaranya yang bergandengan tangan.

Yui tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum.

Sehun bangkit dari kursi taman dan berjongkok tepat di depan Yui seraya mengulurkan satu tangannya. “Ayo, kita berdansa.”

“Tapi, aku tidak bisa berdansa,” ujar Yui ragu. Ia berpikir ini sangatlah manis. Berdansa pada senja hari di sebuah taman yang tertutupi oleh salju, dan musik yang mengalun dari sebuah biola sebagai pendampingnya.

“Tidak apa-apa. Aku akan mengajarimu.”

Dengan ragu, Yui menyambut tangan Sehun.

Laki-laki itu membawa Yui untuk mendekati seorang anak perempuan yang sedang bermain biola itu. Sehun dan Yui—keduanya saling bertatap-tatapan.

Sehun menaruh tangan kiri Yui di pundaknya. Sehun menaruh satu tangannya di pinggang Yui, dan tangan yang satunya menggenggam tangan kanan Yui.

“Ikuti langkahku.”

Yui mengangguk. Jantungnya berdegup dengan kencang. Oh, bagus. Perasaan apakah ini, Yui?

Sehun tersenyum kecil sambil menatap gadis di depannya. Wajahnya yang tersenyum hangat seperti sinar matahari pada musim dingin itu seolah telah memeluk dan menghangatkan hati Yui. Ia perlahan-lahan memulihkan perasaan gadis itu yang telah hancur.

 

–––––

 

Ketika di rumah—tentunya setelah Sehun mengambil beberapa lembar bajunya untuk menginap di rumah Yui (ia juga membawa mobilnya), mereka berdua tidak tahu harus melakukan apa. Hari sudah malam dan mereka baru saja makan malam bersama, tapi Yui masih merasa bersemangat.

“Kau tidak mengantuk?” tanya Sehun seraya melirik ke arah Yui.

Yui menggigit bibir bawahnya.

“Kupikir aku terlalu kenyang sehingga tidak bisa tidur,” jawab Yui.

Sehun tertawa pelan.

“Mau kutemani jalan-jalan untuk menurunkan makanan?”

Yui melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam. Ia berpikir sejenak lalu mengangguk. “Boleh juga.”

Setelahnya, Sehun mengambil jaketnya dan Yui juga mengenakan mantelnya.

Keduanya menyusuri danau yang ada di dekat rumah dan berjalan perlahan tanpa berkata sepatah katapun. Salju putih menutupi rerumputan, meskipun demikian masih terlihat rumput yang berwarna hijau. Salju yang mencair di atas rumput menjadi es sehingga mengeluarkan suara begitu terinjak kaki.

Danau membeku menjadi es, memantulkan cahaya lampu jalanan yang bersinar dengan terang. Di pinggir danau, tumbuh bunga mawar liar dan pohon Hawthorn yang konon pada musim semi bunganya bermekaran, wanginya akan menenangkan hati dan orang yang berhati keras juga menjadi luluh.

Yui meniup jemari tangannya dan menggosoknya, ia merasa kedinginan. Jari-jarinya terasa amat dingin dan kaku.

Sehun menyadarinya dan menggenggam tangan Yui lalu memasukkannya ke dalam kantung jaketnya. Saat ini, Yui bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

Tiba-tiba saja, laki-laki bertubuh tinggi itu memeluknya dan Yui terkejut. Bibir Sehun menyentuh daun telinga gadis itu dan kulit di belakang telinganya serasa kesemutan. Jika ada urat yang menghubungkan telinga dengan jantung, mungkin jantungku akan terasa keram.

“Diorissimo,” ujar Sehun dengan suara rendah. “Ternyata kau menyukai aroma ini.”

Yui hanya menggumam kecil. “Ya, parfum dengan aroma lain wanginya terlalu manis, tidak sesuai denganku. Hanya Diorissimo yang terasa dingin dan wanginya tidak menusuk.”

Yui dapat merasakan bahwa saat ini Sehun sedang tersenyum. Yui membuka mata lebar-lebar dan mengangkat kepalanya. Ia dapat melihat raut wajah serta bentuk bibir Sehun yang mungil. Sedetik kemudian, Yui teringat akan pertemuan pertamanya dengan Sehun di kantor polisi.

Tiba-tiba saja Sehun memejamkan kedua matanya dan meminimalisir jarak di antara wajah mereka berdua. Bibirnya perlahan menyentuh permukaan bibir gadis di depannya. Yui menyambut dengan senangnya dan nyawanya melayang jauh. Rasanya sedikit pusing, mungkin karena kurang oksigen.

Langit kelam dengan warna yang kalbu, cahaya lampu jalanan kerlap-kerlip, memantulkan bayangan putih di sekeliling. Yui sudah tidak bisa membedakan lagi yang mana dunia dan yang mana surga.

Sehun menjauhkan wajahnya dan menatap Yui dengan perasaan bersalah yang menyelimuti dirinya.

“A—apa maksudnya?” tanya Yui—gugup. Jantungnya berdetak 100 kali lebih cepat.

“Maafkan aku,” rintih Sehun.

Yui tidak menjawab, melainkan membenamkan wajah ke dada Sehun dan terdengar degup jantung di telinganya. Jantungnya berdetak dengan cepat.

“Tidak apa-apa,” bisik Yui. Wajahnya memanas.

“Dengar,” ujar Sehun seraya menyentuh dagu Yui dan mengangkat wajah gadis itu. Tatapan mereka bertemu. Sehun menghela napasnya. “Tidak apa-apa kalau kau tidak mencintaiku, atau bahkan tidak menyukaiku. Tapi, kau tidak bisa melarangku untuk tidak mencintaimu. Kau sangat, sangat baik. Laki-laki manapun akan dengan mudah jatuh hati padamu.”

Wajah Yui memanas.

Sehun menghela napasnya lagi. “Aku mencintaimu. Tapi, aku akan baik-baik saja kalau kau tidak bisa membalasnya, biarkan aku bertepuk sebelah tangan.”

Wajah Yui semakin memanas. Sangat panas walaupun udara di sekitarnya sangat dingin.

“Apakah ini artinya..,” Yui sedikit ragu. “Kau sedang menyatakan perasaanmu padaku?”

“Kaupikir ciumanku tadi itu untuk apa?” Sehun menahan napasnya.

Yui terdiam seraya menyentuh bibirnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Maaf, Sehun. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Aku tidak ingin menolakmu, tapi aku juga tidak bisa menerimamu.

“Oh, dan kau tidak perlu menjawabnya, Yui. Maaf karena aku telah berbuat lancang,” suara Sehun terdengar sangat rendah. “Maaf karena aku telah menciummu.”

Yui menundukkan kepalanya—untuk menghindari tatapan Sehun yang seolah-olah kini sedang menusuk-nusuk hatinya. Bibirnya terkatup rapat dan suaranya tercekat di tenggorokannya. Aku benar-benar tidak bisa bicara.

Seolah mengerti perasaan Yui, Sehun hanya tersenyum kecut dan menggenggam tangan gadis itu.

“Kau kedinginan. Ayo, kita pulang.”

 

–––––

 

Keesokan paginya, Yui bangun dengan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah kejadian tadi malam, Yui tidak bisa berhenti memikirkan Sehun. Ketika ia memikirkan Sehun, tiba-tiba saja ia teringat dengan Wufan. Padahal hati kecilnya mengatakan untuk segera melupakan Wufan.

Setelah mandi, Yui menyisir rambutnya dan membuat sarapan untuknya juga Sehun.

Yui tiba-tiba saja mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya. Apakah Jessica sudah pulang?

Gadis itu segera mendekati pintu rumah dan membuka pintunya—agar Sehun tidak terbangun dengan suara ketukan pintu.

Setelah membuka pintu dengan lebar, Yui merasa hatinya merosot hingga ke dasar perutnya.

Sekali lihat, Yui pasti bisa langsung mengenalinya. Wanita di depannya saat ini adalah wanita yang waktu itu ia lihat sedang bersama Wufan. Bagaimanapun, tidak banyak perempuan yang wajahnya secantik dia. Yui melirik anak laki-laki yang ada di gendongan wanita itu. Perlukah ia membawa anaknya?

“Namaku Im Jinah.”

Yui tidak menjawab.

“Apa yang terjadi tempo hari hanya salah paham. Aku ingin mengobrol denganmu.”

“Tidak ada yang bisa kita berdua bicarakan.”

Yui tidak ingin membiarkan wanita itu masuk. Jinah lebih tinggi beberapa senti, setidaknya wanita itu mempunyai tinggi 175cm. Kalau Jinah bereaksi, Yui tak akan sanggup melawannya.

Jinah tak sudi pergi. Ia menatap Yui dengan wajah yang sangat mengiba-iba, matanya yang tegas tampak berkaca-kaca. Seorang laki-laki mungkin akan tergetar melihatnya.

Sambil meneguhkan tekad agar tidak termakan oleh tipuan tersebut, Yui bersiap akan menutup pintu. Tapi saat matanya melirik, ia melihat anak kecil yang sedang digendong Jinah. Menatap wajah putih bulat telur yang memerah di tengah hembusan angin musim dingin yang menggigit, hati Yui langsung melemah.

Yui akhirnya mengizinkan mereka untuk masuk. Ia menuju dapur untuk membuat teh hangat. Ia juga membuatkan segelas susu coklat hangat untuk anak laki-laki itu. Kuharap Sehun belum bangun sampai Jinah dan anaknya pergi.

Yui memberikan minuman yang baru saja ia buat kepada Jinah dan anak laki-lakinya itu.

“Silahkan bicara,” ujar Yui. Ia duduk berjauhan dengan Jinah dan bersikap dingin.

Sebenarnya, Jinah tidak bicara hal-hal yang buruk. Yui juga tidak ingin bersikap keterlaluan karena seharusnya dia adalah ‘korban’ dari seluruh kejadian ini.

Jinah memeluk bahu anak itu, ia cukup lama terlihat ragu, lalu mulai menceritakan kisahnya.

“Namanya Rev. Aku melahirkannya saat berumur 17 tahun, Ayahnya kehilangan pekerjaan dan cukup lama tidak mendapatkan pekerjaan baru. Setiap hari sehabis bermabuk-mabukkan, dia pulang ke rumah untuk melampiaskan kemarahannya pada kami.”

Yui terpana dan segera menahan ekspresinya. Kalau begitu, anak ini bukan darah daging Wufan?

Anak kecil bernama Rev itu sedang duduk tenang di atas sofa, memegang cangkir berisi coklat hangat, dan dengan hati-hati meneguknya seteguk demi seteguk.

Mata, hidung, bibir dan telinga di wajahnya tampak begitu halus. Ia banyak mewarisi kecantikan Ibunya. Ia kelihatan begitu putih sampai-sampai terlihat seperti tembus pandang, sedangkan rambutnya berwarna kecoklatan dan bola matanya berwarna biru laut. Dan karena pupil birunya inilah Yui menyangka ia berdarah campuran.

“Aku pergi meninggalkan suamiku dan menitipkan Rev pada Ibuku. Aku pergi dan bertemu dengan Wufan. Aku mengikuti Wufan selama 6 bulan. Ia sangat baik padaku, tapi aku tidak merasa sangat bahagia. Ada banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan,” Jinah merasa agak malu, lalu berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Ada alasan lain fisiologis juga: karena aku tak punya teman di kota ini, sedangkan bahasa Koreanya Wufan saat itu juga masih belum bagus, sehingga setiap hari kami hanya berbicara beberapa kalimat saja, aku sangat kesepian.”

Yui terdiam sejenak. “Aku.. mengerti.”

“Aku bilang pada Wufan kalau aku tidak ingin tinggal di Seoul lagi, aku merindukan ‘Rev-ku’. Ia tak berkata apa-apa, lalu memberiku uang dan memperbolehkan aku pergi. Aku pulang ke kota kecilku. Ayah Rev masih belum dapat pekerjaan, uang pun sudah habis. Sementara dia makin sering menyiksa dan memukuliku. Beberapa kali aku hampir mati dipukulinya, sehingga terpaksa kembali mencari Wufan.”

Yui terhenyak, karena dari tampang Jinah saat ini sepertinya ia bukan orang yang pernah menderita sedalam itu.

Jinah menundukkan kepalanya dan tampak lingkaran di sekitar matanya sangat merah.

“Wufan membantuku membuka sebuah toko di Pasar Tujuh Kilo, mengajakku menemui temannya untuk menyediakan barang. Dengan mengandalkan toko ini, barulah aku dapat menghidupi diriku dan Rev.”

“Oh..,” ujar Yui. “Kenapa Rev memanggil Wufan dengan sebutan Papa?”

Jinah tertawa pelan, membalikkan tubuh Rev untuk menghadap ke arahnya.

“Rev?” panggil Yui. “Rev?”

Anak itu sepertinya tidak mendengar. Sorot matanya beralih ke tempat lain, tapi tidak menatap Yui ataupun Jinah.

Yui menatap Jinah dengan curiga.

Jinah tertawa getir. “Autis.”

Bagai disiram dengan air dingin di atas ubun-ubun, saat itu juga Yui langsung mengerti. Autisme, lagi-lagi seorang anak yang menolak berhubungan dengan dunia luar.

“Waktu Rev berumur dua tahun, aku baru menyadari kelainannya.”

Jinah mengusap kepala Rev dengan lembut. Di wajahnya yang cantik terpancar kesedihan yang tiada batasnya. “Tapi anehnya, dia hanya dekat dengan Wufan dan terus-menerus memanggilnya dengan sebutan Papa.”

“Bagaimana dengan Ayah kandungnya?” Yui merasa sangat iba seraya menggenggam tangan Rev.

“Sudah meninggal dua tahun yang lalu, meninggal karena keracunan sesuatu,” jawab Jinah dengan suara yang sama sekali tidak mengandung perasaan.

“Sewaktu kecelakaan, meski kantong udara terbuka, Wufan tetap saja mengalami benturan yang sangat keras. Dia tak sadarkan diri selama dua jam. Begitu siuman, ia terus-menerus mencarimu.”

Hati Yui mencelong. Oh.

“Bagaimana kecelakaan ini bisa sampai terjadi?”

“Wufan tidak sempat menginjak rem ketika truk di depannya melaju dengan kencang. Mobilnya masuk ke dalam kolong truk dan atap mobil, semuanya hancur lebur.”

Yui melongo mendengarnya.

“Wufan orang yang baik, ia terlalu lelah sendirian. Jika tidak dapat membantunya, sebaiknya kau jangan menyulitkannya.”

Kedua mata Yui membulat dan memanyunkan bibirnya. Astaga, sebenarnya siapa yang menyulitkan siapa?!

Jinah sepertinya benar-benar telah memuja Wufan dengan membabi-buta. Wufan bukanlah orang yang benar-benar berhati mulia.

Yui berpikir, mungkin Wufan rela bekerja keras dan menahan amarahnya hanya karena Jinah adalah seorang wanita yang luar biasa cantiknya. Kegagahan seorang laki-laki baru dapat disebutkan secara nyata bila dihadapannya ada seorang wanita cantik.

Setelah merasa informasi yang diberikannya telah cukup, Jinah berpamitan untuk pulang.

Sesudah menutup dan mengunci pintunya, Yui duduk di atas sofa dan ia tertegun begitu melihat Sehun yang kini sedang menatapnya dengan intens.

“Tadi itu.. siapa?” tanya Sehun. Ia berjalan mendekati Yui dan duduk di sebelahnya.

Yui menatap Sehun dan balik bertanya, “Kau mendengar pembicaraan kami?”

Hmm, hanya sedikit. Tidak apa-apa, ‘kan?”

Yui menghela napasnya.

Raut wajah Sehun berubah seketika. “Kau menyesal karena telah ‘salah paham’ pada laki-laki itu?”

Kedua mata Yui membulat. “Tentu saja tidak!”

Sedetik kemudian, Sehun tersenyum dengan lembut.

Yui menyenderkan kepalanya di sofa dan menutup kedua matanya. Ia memijat pelan pelipisnya. Kenapa aku jadi ingin bertemu dengannya?

“T—tapi, aku merasa bersalah pada Wufan,” ujar Yui seraya membuka kedua matanya dan menatap kedua mata Sehun—ia teringat akan kejadian waktu itu di rumah sakit dan menceritakannya pada Sehun.

“Apakah kau mau mengantarku ke rumahnya untuk minta maaf padanya, Hun?” pinta Yui dengan ragu.

“Kautahu di mana rumahnya?” tanya Sehun. Yui hanya mengangguk.

“Baiklah.”

 

–––––

 

Selama perjalanan, Yui merutuki kebodohannya. Meminta Sehun untuk mengantarnya menemui Wufan itu sama saja dengan menjebloskan Wufan ke penjara. Bagaimana tidak? Rumah Wufan adalah tempat komplotan para mafia!

Beberapa menit kemudian, Sehun memarkirkan mobilnya di depan rumah milik Wufan dan.. beruntunglah mobil Peugeot berwarna putih dengan plat nomor TTT sedang tidak ada di sana. Yui bernapas lega. Xiumin pasti sedang ke pelabuhan.

“Aku tidak akan lama,” ujar Yui lalu keluar dari dalam mobil. Sehun hanya mengiyakan.

Yui menatap pintu rumah Wufan dengan lama lalu mengetuk pintunya. Ia menebalkan wajahnya untuk menghadapi Wufan.

Tak lama kemudian, pintu dibuka dan Wufan muncul dengan memakai dua kruk. Yui menganga lebar.

“Astaga, tipuan macam apa lagi ini?”

Wufan mendengus kesal. “Kau benar-benar harus dienyahkan!”

Laki-laki itu benar-benar marah.

“Saat kau mendorongku di rumah sakit, apa kau tidak lihat kalau aku sudah cacat?!”

Yui terdiam. Sebagai laki-laki dewasa, tidak masuk akal jika dia langsung jatuh setelah aku dorong sekali saja.

“Aku hanya ingin minta maaf atas kejadian itu. Aku juga sudah salah paham padamu,” ujar Yui—membanting harga dirinya.

“Salah paham?”

Yui merasa jengkel. Haruskah aku mengatakannya dengan lebih jelas?

“Tentangmu dan Jinah.”

Wufan tersenyum puas.

Wufan melirik ke belakang Yui dan ia mendapati sebuah mobil Cadillac hitam terparkir di depan rumahnya. Ia bahkan dapat melihat dengan jelas bahwa Sehun sedang duduk dengan tenang di dalamnya.

“Kau membawa polisi itu untuk menangkapku?” tanya Wufan ketus.

Yui memutar kedua bola matanya. “Tidak, bodoh.”

“Kenapa kau dekat-dekat dengannya?”

“Memangnya kenapa?”

Wufan mendengus kesal. “Aku tidak suka, oke?”

Yui terdiam sejenak.

“Jauhi dia. Kau tahu kalau dia itu berbahaya untukku, ‘kan?”

Yui tertegun.

“Kau tidak bisa menyuruhku untuk menjauhinya, Wufan,” ujar Yui dengan nada rendah. “Aku punya hak untuk berteman ataupun dekat dengan siapa saja.”

Yui menundukkan kepalanya dan berbisik dengan suara yang sangat pelan untuk dirinya sendiri, “Dan aku berhak berpacaran dengan siapa saja.”

“Kau benar-benar jahat, Yui.”

Yui membulatkan kedua matanya. Sebenarnya siapa yang jahat di sini?!

“Atas dasar apa kau bicara seperti itu?!” Yui terdengar kesal. Wufan melirik gadis itu dengan enggan.

“Pertama, kau menolak tawaranku. Kedua, kau membuatku cacat seperti ini. Ketiga, kau telah menghancurkan hatiku.”

Yui memutar kedua bola matanya.

“Kau terlalu berlebihan.”

Wufan melirik Sehun dengan tatapan tidak suka.

Sedetik kemudian, Kai muncul dari dalam kamarnya dan berjalan mendekati Wufan.

“Oh, hei, Yui,” ujarnya. Yui hanya tersenyum.

“Wu, Xiumin bilang padaku agar kau harus segera menelponnya. Ada sedikit masalah di cukai,” ujar Kai lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.

 

–––––

 

Sehun menyenderkan kepalanya di kursi mobil seraya bersenandung. Ia melirik keluar jendela dan kedua pupil matanya membesar begitu ia melihat sesosok yang familiar.

“Oh, astaga!”

Karena penasaran, Sehun segera keluar dari dalam mobil dan mengunci seluruh pintu mobilnya. Ia berjalan mendekati Yui dan kedatangannya mengejutkan Wufan.

“Apa? Kau ingin menangkapku?” tanya Wufan ketus.

“Sepertinya aku familiar dengan orang yang tadi, Wu,” ujar Sehun.

Yui membelalakkan kedua matanya. Sudah jelas yang Sehun maksud adalah Kai. Sehun pasti sadar kalau Kai adalah salah satu anggota mafia terbesar itu.

 

 .

—TO BE CONTINUE—

.

 

HUAYOLO, KARTUNYA KAI UDAH KEBUKA! XD /ditimpuk kai/

Iya, Sehun suka sama Yui :’) kalo Fai yang jadi Yui, pasti Fai udah nerima Sehun…………salahkan diri ini yang tak bisa menahan pesona dari seorang Oh Sehun kkaebsong. /lhe/ /dicakar sehun/

Dan masalah chapter yang kependekan, Fai emang sengaja biar fanfic ini keliatan panjang gitu banyak chapternya mwahahaha kkaebsong /PLAK!/ ngga denggg, ya karena Fai emang suka banget ngecut scene di bagian-bagian yang suka bikin greget gitu buakakakak kkaebsong /dijotos/ tapi nanti pada suatu hari(?) Fai akan menambah porsi(?) pada tiap chapter kok biar lebih panjang gitu yehet :3

Don’t forget to leave a ‘secuil’ komen, yea :’)

 

P.S. : typo-nya diemin aja. Ntar juga capek sendiri (???????)

Advertisements

33 responses to “First Love Forever Love [5th chapter – Explain Everything]

  1. OKe Yui itu sebenarnya suka sama siapa seeh? :’3 dohh,,, ini benar- benar greget kak!!!! Yui ma nggk mw nerima sehun kenapa s??? :’3 sakit tauuu :””’ . Di tunggu kelanjutannya kak!! DAn klo bisa lebih panjang yaaa :”””” . Tp klo gk juga gak apa :””’ yang penting lanjut dahhh :”””””

  2. hii thor saya readers baru ..maafkan readers yg gk sopak ini .. #plakkkkk
    maaf thor saya baca dari chap 1 sampai chap ini,tapi baru koment .. bkin geregett ff’y…siapa yg akan di pilih yui thor (?) kris or sehun (?) chap 6 ‘y blm ada ya thor (??) ..semoga cepet di lanjut ya thor ff’y …keep writing thor !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s