Butterfly [5]

Butterfly

 

Author : Jo

Leght : Chaptered

Rating: PG – 15

Genre : Romance, School life

Main Cast :

Luhan – Shin Yoora – Kim Jongin and others.

Poster : Harururu98 http://cafeposterart.wordpress.com

A/N :

Bagi yang berminat silahkan membaca, jika selesai membaca harap memberikan komentar berupa kritik/saran, karena itu sangat membantu. Jangan menjadi seorang plagiat. Terima Kasih.

 Previous : 4

***

 

Luhan’s house [17 Mei 2014]

Luhan menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, saat ini laki-laki itu tidak bisa memikirkan apapun kecuali satu, bagaimana cara agar dirinya bisa tertidur sekarang? Luhan melirik jam dinding yang berada di tembok kamarnya. 03.50 KST. Berarti ini sudah memasuki hari baru sedang dirinya tidak bisa memejamkan matanya barang 30 menit hingga 60 menit.

Luhan mengubah posisinya yang berbaring menjadi duduk, kemudian laki-laki itu berdiri dan berjalan memutari setidap sudut kamarnya, entahlah ia tidak tahu apa yang sedang ia lakukan, hanya saja menurutnya metode berjalan sebelum tertidur mampu membuat kita lelah dan ingin tertidur. Tapi, sudah sekitar dua kali ia memutari setiap sudut kamarnya tetapi ia belum merasa mengantuk sama sekali.

“Oh, ayolah mata pejamkan dirimu. Aku ingin tidur sekarang.” Keluh Luhan pelan. Kini ia memutari setiap sudut kamarnya untuk yang ketiga kalinya dan ia sama sekali belum merasa lelah. Tapi saat ia melewati meja belajarnya, ia dapat melihat sebuah toples berbentuk tabung dengan tutup bewarna biru dengan pesan singkat diatasnya.

‘Semoga cepat sembuh, aku sedikit merasa aneh tidak melihatmu tersenyum melainkan berwajah muram. – Shin Yoora’

Senyuman tipis Luhan terbentuk saat melihat pesan singkat gadis itu, ternyata gadis itu memang sangat cemas padanya. Luhan mengalihkan pandangannya dari pesan singkat kearah isi toples tabung, didalam terdapat sebuah kue kering berbentuk bulat gepeng dengan taburan keju parut diatasnya. Luhan membuka toples itu pelan dan mengambil satu kue kering.

“Enak.” Komentar Luhan saat ia memakan satu kue kering pemberian Yoora kedalam mulutnya. Rasa antara manis dan juga asin yang dipadukan membuat orang yang memakannya tidak merasa enek sama sekali. Rasa manis yang diberikan dari rasa blueberry yang dominan sedangkan rasa asin diberikan keju yang berada diatasnya, menurut Luhan itu pilihan yang tepat.

Luhan kembali melirik jam dinding rumahnya, seandainya jika ia benar-benar tidak dapat memejamkan matanya, ia berniat akan meminum pil tidur yang dibelinya setelah mengantar Yoora pulang sekolah tadi.

Tapi entah mengapa ia mulai merasakan matanya terasa begitu berat, ia mungkin membatalkan keinginanannya saat ini untuk meminum pil tidur lantaran dirinya mulai merasa mengantuk, mungkinkah efek memakan kue blueberry-keju itu ? Jika memang itu efek dari kue kering itu, mungkin besok ia harus mengucapkan terima kasih pada gadis itu.

Luhan berjalan mendekati ranjangnya dan membaringkan badannya dengan posisi yang menurutnya paling nyaman. Luhan mulai memejamkan mata dan berjalan menuju dunia mimpi.

 

***

 

Shin Yoora segera mempercepat larinya, sesekali ia mengusap dahinya yang penuh dengan keringat. Gadis itu mengeluh panjang, bagaimana bisa dirinya datang terlambat sedangkan ia benar-benar mengetahui siapa yang akan menjaga gerbang sekolahnya hari ini, Kangsongsaenim. Guru laki-laki dengan kumis lebat, kacamata minus dengan lensa yang tebal, kerutan di dahinya yang menunjukkan bahwa ia sering memarahi murid-muridnya, tak lupa gurunya itu jarang sekali tersenyum. Apakah istrinya hidup bahagia bersama gurunya itu ? Ia benar-benar meragukan untuk hal itu.

Saat tadi ia terlambat sekitar 30 menit, Kangsongsaenim sudah berdiri di dalam pagar sekolahnya dengan gagah tak lupa dengan pandangan matanya yang tajam, gurunya itu bagai macan tutul yang tengah menunggu seekor rusa berjalan menghampirinya yang memiliki arti sama saja bunuh diri.

Dengan takut-takut Yoora berjalan mendekati gurunya itu. Kangsongsaenim menatapnya tajam, “Lihatlah, gadis cantik yang bernama Shin Yoora ini datang terlambat.”

“Bagaimana songsaenim tahu nama saya ?” tanya Yoora bingung. Kangsongsaenim memegang kumisnya yang lebat dengan mengelusnya perlahan seakan memberi jawaban untuk Yoora, ‘Tentu saja. Aku, Kang Jisuk pasti tahu nama murid-murid disini.’

Yoora hanya mengangguk mengerti. Kangsongsaenim berjalan pelan memutari tubuh Yoora, seakan gadis ini adalah seorang pencuri yang telah tertangkap basah karena mengambil kumis lebatnya itu.

Kangsongsaenim hanya menggelengkan kepala pelan, kemudian beliau memberinya nasehat dengan sindiran-sindiran tajam. Yoora hanya sesekali mengangguk, sesekali menguap untuk membuang rasa bosan karena mendengar nasehat gurunya itu. Kadang telinga kanannya menyimak, setelah menyimak maka ucapan gurunya itu akan kelaur dari telinga kirinya.

Setelah puas menasehati dan menyindir Yoora, beliau akhirnya memutuskan untuk menghukum Yoora dengan cara berlari mengelilingi lapangan sepak bola sekolahnya yang besar sebanyak 10 kali, ditambah dengan kertas besar yang menggantung dipunggungnya bertuliskan ‘Saya Shin Yoora, saya berjanji tidak akan datang terlambat lagi.’

Memalukan ? Ah, tidak perlu kalian tanyakan lagi. Sangat malu.

Yoora benar-benar merasa dirinya baru saja dipermalukan oleh Kang songsaenim, bahkan semua orang yang berada di dekat area lapangan sepak bola menatapnya dengan menahan senyum, ada juga yang memandangnya dengan kasihan bahkan salah satu murid tertawa terpingkal-pingkal hingga ia harus terpaksa memegang perutnya. Bukankah setiap orang memiliki pendapat masing-masing ?

Yoora mulai memutari kembali lapangan sepak bola sekolahnya, sesekali ia mencoba mengingat berapa banyak ia berlari. Gadis itu baru saja berlari memutari lapangan sekolahnya sebanyak 2 kali dalam kurun waktu 20 menit. Masih tersisa 8, berapa banyak waktu yang ia butuhkan ? Itu bahkan hampir menghabiskan waktu jam pertama pelajaran. Dan mungkin matahari juga mulai naik.

“Astaga dasar guru sialan.” maki Yoora dengan berlari. Sesekali ia menatap kearah jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya, 08.10 KST. Tinggal 2 putaran lagi maka hukuman yang diberikan Kang songsaenim padanya berakhir sudah.

“Seandainya aku adalah peri air maka aku akan menenggelamkan Kang songsaenim dalam airku. Jika aku peri api maka aku akan membakarnya sampai hangus, bahkan tulangnya pun akan kuhancurkan. Jika aku peri tanah, aku akan menguburnya dalam-dalam. Dan jika—“

“Jika kau peri cinta makan kau akan membuat Kang songsaenim jatuh cinta padamu, lalu beliau pasti tidak akan menghukummu.” Sahut seseorang yang membuat Yoora menghentikkan sejenak aktivitasnya. Kemudian gadis itu berbalik dan melihat siapa yang baru saja menyahut ucapannya.

Jongin terkekeh pelan, “Kau termasuk orang jahat ternyata. Berita yang menakutkan.” . Yoora memukul bahu Jongin pelan, “Ya ! Sedang apa kau disini ? Bukankah ini masih jam pelajaran ?”

Jongin mengangkat kedua bahunya pelan, “Kimia. Kau tahu aku tidak terlalu menyukainya, lagi pula sahabatku sedang tidak di dalam kelas. Tidak ada yang bisa bercanda denganku.”

“Kukira kau ingin menggantikan hukumanku. Ternyata tidak.” Gurau Yoora. “Jika kau mau, aku akan menggantikanmu kenapa tidak ?”

Yoora kembali terdiam, “Jongin-ah.”

Wae?”

“Kurasa kau berubah, kau sekarang menjadi lebih baik. Tidak seperti biasanya, kau sedang jatuh cinta, eoh?” tanya Yoora. Jongin terdiam kemudian menggeleng pelan, “Aniyo. Jinjja, gadis cerewet ini ternyata peduli dengaku.”

Yoora mengacak-acak pelan rambut Jongin yang semula berwarna coklat kini sudah berganti warna menjadi hitam. “Tentu saja. Aku ini sahabatmu,oh iya bagaiamana jika kau janji denganku ?”

Jongin menatap Yoora dengan tatapan bertanya. “Berjanjilah bercerita padaku siapa gadis yang kau sukai. Pasti aku akan membantumu mendapatkannya.”

Jongin tersenyum tipis.

“Gadis yang kusukai?”

Kau tidak tahu ?

“Baiklah aku akan menceritakannya padamu. Aku berjanji.”

Yang kusukai adalah kau, dasar bodoh.

Yoora tersenyum, “Baiklah kurasa aku harus menyelesaikan hukumanku. Bagaimana jika kau menungguku di taman belakang sekolah dengan satu bubble tea rasa coklat, Jongin-ah?”

“Baiklah, kutunggu. Selamat berjuang, Shin Yoora. Fighting !” ujar Jongin dengan mengacak-acak pelan rambut Yoora. Sebelum Yoora sempat mencubit Jongin lantaran karena Jongin merusak rambutnya, laki-laki itu sudah berlari meninggalkannya dengan tertawa puas.

“Yak ! Kim Jongin !”

Dari kejauhan tanpa Yoora dan Jongin sadari, sedari tadi Luhan hanya menatap mereka dengan tatapan kosong. Luhan benar-benar merasa panas setelah melihat kedekatan mereka berdua, ia tahu Jongin dan Yoora memang sangat dekat, lantaran mereka memang bersahabat sejak dulu. Tapi, entahlah ia merasa ingin marah ketika melihat kedekatan mereka. Bahkan ia ingin menerkam sepupunya itu ketika Jongin mengacak-acak rambut Yoora. Argh

“Sadarlah Luhan, mungkin kau merasa seperti ini karena kau menganggap Yoora sama seperti dengan gadis masa lalumu.” Keluhnya pelan.

Vanillate yang baru saja ia beli untuk diberikannya pada gadis itu, ia urungkan. Luhan berjalan pelan kearah tong sampah yang berada tidak jauh darinya dengan tujuan untuk membuang vanillate yang baru saja dibelinya.

Hyung ? Kau sedang apa ?”

Luhan mengalihkan pandangannya dari tong sampah kearah Baekhyun yang tengah menunjuk vanillate-nya. “Oh ini ? Kau mau ? Ini masih baru, hanya saja aku tidak berselera untuk meminumnya.”

Baekhyun mengangguk dengan tersenyum sumrigah, layaknya anak TK yang baru saja diberi ibunya sebuah mainan. “Tentu saja. Lagi pula ini gratis, ‘kan?”

Luhan mengangguk kemudian ia segera memberikan vanillate yang sejak tadi berada di tangannya kepada Baekhyun. “Aku pergi dulu, Baekhyun-ah.”

Hyung ?” panggil Baekhyun sebelum Luhan meninggalkannya. Luhan menatap Baekhyun kembali, “Waeyo?”

“Apa kau sebenarnya berniat memberikan minuman ini pada Shin Yoora ?” tanya Baekhyun dengan menunjuk Yoora yang tengah berlari dengan sesekali menghapus peluh keringat di dahinya.

“Tidak.” Jawab Luhan kemudian berjalan meninggalkan Baekhyun.

 

***

 

Kim Sunmi, gadis itu kini tengah berjalan dari ruang musik hingga berdiri tepat di depan ruangan kelas 1-1, tentu saja itu adalah kelas Jongin. Sedari tadi ia memang berniat menemui Jongin saat jam istirahat pertama, namun saat ia menengok isi kelas Jongin, laki-laki itu tidak ada di dalam kelas.

“Kau mencari siapa ?” tanya seseorang yang kini berada di hadapan Sunmi, Sunmi segera mengalihkan pandangannya dari bangku yang biasa Jongin duduki ke seorang laki-laki imut ini. Byun Baekhyun.

“Err—Jongin, ya Kim Jongin. Dimana dia sekarang ?”

Baekhyun menatap gadis dihadapannya ini dengan penuh selidik, “Kau siapa ? Kenapa aku tidak pernah melihatmu sebagai siswi di XOXO HIGH SCHOOL ?” Sunmi menatap Baekhyun tajam, “Hei. Kalau kau tidak mengetahuiku itu masalahmu, dan sekarang katakan dimana Kim Jongin.”

“Wow—wow, tunggu sebentar nona. Kenapa kau galak sekali ?” tanya Baekhyun dengan terkekeh pelan lantaran melihat ekspresi serius dari gadis itu. “Dasar, kau idiot !” maki gadis itu lalu berlalu pergi meninggalkan Baekhyun yang terdiam saat mendengar gadis itu memakinya.

Baekhyun terdiam karena tidak ada gadis yang berani memakinya dengan kata ‘idiot’, mungkin karena dirinya terlalu imut-imut lalu manis sehingga tidak ada yang tega mengatainya seperti itu. Dan sekarang, gadis itu berani mengatainya ‘idiot’, atas dasar apa dia mengatai Baekhyun ? Memangnya dia siapa ? Jika, Baekhyun idiot lalu gadis itu apa ?

Tiga kali lebih idiot darinya !

“Dasar, kau belum tahu jika Baekhyun akan mencarimu.”

 

***

 

Shin Yoora kini telah berdiri tepat di depan ruangan kelas Luhan, 3-1. Seharusnya setelah ia menyelesaikan hukumannya ia harus pergi ke taman belakang untuk menemui Jongin, namun ia teringat janjinya pada Luhan untuk mengantar laki-laki itu ke tempat gadis spesialnya. Yoora dengan ragu menengok kedalam isi kelas Luhan. Ramai.

“Dimana dia ?” tanya Yoora dengan menelusuri setiap orang yang berada yang di dalam kelas 3-1. Seandainya Luhan tahu Yoora sedang mencarinya mungkin ia tidak perlu bersusah payah untuk menghampiri laki-laki itu. Sayangnya Luhan bukanlah seorang telepati yang bisa membaca pikirannya.

Ugh.

“Sedang apa disini ?”

Yoora merasa tubuhnya menegang saat ia mendengar suara itu, bukankah ia barus saja membicarakn laki-laki itu ? Apa jangan-jangan Luhan memang seorang telepati ? Kenapa laki-laki itu ada disini ?

“Aku sedang bertanya Shin Yoora. Sedang apa kau disini ?”

Yoora membalikkan badan, tersenyum kikuk. “Hehe, aku baru saja mencarimu sunbaenim.”

Luhan menatap Yoora dengan tatapan bertanya, sebelum Luhan sempat bertanya gadis itu langsung menyelanya. Membuat Luhan bungkam kembali. “Aku ingin menanyakan tentang gadis spesial itu !” tambah Yoora.

Luhan mengangguk dengan bibirnya membulat membentuk huruf ‘o’ . “Oh, kurasa kau tidak perlu ikut. Biar aku saja.”

“Eh ? Waeyo ? Aku tidak akan mengganggu, aku pasti akan diam. Ayolah sunbaenim aku ingin mengetahui gadis spesialmu. Ottokhe ?” mohon Yoora dengan menyatukan tangannya seperti berdoa. Luhan menggeleng.

“Tidak.” Jawabnya datar.

Yoora mendengus kesal, “Kenapa tidak ?”

“Karena ini privasiku dengannya. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengetahui apa yang kubicarakan.”

“Kapan kau akan ketempat gadis spesialmu sunbaenim ?” tanya Yoora mencoba mencari tahu. Luhan berjalan meninggalkan Yoora tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. Yoora hanya mendengus kesal, kemudian gadis itu berjalan pergi meninggalkan kelas Luhan.

 

***

 

Jongin bersiul pelan, mencoba menghilangkan rasa bosan yang menyerangnya lantaran karena ia menunggu gadis bodoh itu. Sudah sekitar 20 menit ia menunggu Yoora, namun gadis itu tak juga menampakkan batang hidungnya. Jongin hendak bangkit dari kursi taman sekolahnya itu jika saja Yoora tidak memanggilnya.

“Kim Jongin !” teriak Yoora dengan berlari kecil mendekati Jongin. Jongin duduk kembali, laki-laki itu tersenyum kemudian menepuk bangku kosong yang berada disampingnya, memberi tanda agar gadis itu segera duduk disampingnya.

Mianhae.”

Jongin tersenyum tipis, “Gwechana. Kau darimana eoh ?” Yoora segera duduk disamping kemudian menepuk bahu Jongin pelan. “Bubble tea-ku ?”

Jongin mengangguk kemudian memberikan gadis itu bubble tea yang sebelumnya telah dipesannya. “Ige.”

“Aku habis ke kelas Luhan sunbaenim untuk menanyakan janji sebelumnya.” Ujar Yoora sembari meminum bubble tea-nya. Jongin menatap Yoora, “Janji ?”

“Hm, aku berjanji akan mengantarnya ke tempat gadis spesialnya. Tapi, Luhan sunbaenim baru saja membatalkannya. Aku mendesaknya agar dia mau mengajakku, sayangnya sunbaenim tidak mau. Dia bilang jika ingin berbicara secara privasi. Memangnya gadis spesialnya seperti apa ?”

Jongin mengangguk-angguk mengerti, “Sudahlah biarkan saja. Kau tidak perlu tahu, ‘kan ?”

“Tapi aku ingin tahu Kim Jongin.”

Jongin menjitak kepala Yoora pelan, “Sudah kubilang kau tidak perlu tahu, pabo. Hei Shin Yoora, bagaimana jika malam ini kau keluar bersamaku ?”

Eodie ?”

Jongin mengedipkan matanya sebelah, “Rahasia. Oke ?”

“Ini sebuah kencan ?” tanya Yoora penuh selidik. Jongin mengangguk cepat, “Anggap saja seperti itu. Berpakaianlah feminim.”

“Tapi—“

Jongin menahan ucapan gadis itu dengan jari telunjuknya yang ditempelkan tepat bibir gadis itu, “Jika kau membantah aku tidak akan menganggapmu sahabat.”

Arra-arra.” Guman Yoora kesal. Jongin tertawa pelan, “Bel sudah berbunyi sejak tadi, kajja kita masuk kelas.”

Ne !” jawab Yoora dengan tersenyum tipis.

 

***

 

Luhan berjalan pelan menyusuri isi toko bunga itu, entahlah ia bingung jika harus memilih bunga. Karena ia adalah seorang laki-laki itu termasuk dalam faktor kenapa ia tidak bisa memilih sebuah bunga.

“Anda mencari apa Tuan ?” tanya seorang pelayan dengan tersenyum ramah pada Luhan. Luhan hanya menggaruk-garuk tengkuknya yang mungkin tidak gatal sama sekali. “Eum aku ingin mencari bunga untuk seseorang yang sudah meninggal.”

Pelayan itu sempat membulatkan matanya sejenak mendengar penjelasan Luhan kemudian kembali seperti biasa, “Oh anda mencari bunga White Chrysanthemum. Tunggu sebentar, saya akan membawanya untuk anda. Anda ingin—“

“Cukup 10 batang bunga saja.” potong Luhan cepat.

Pelayan itu mengangguk pelan kemudian berjalan meninggalkan Luhan sendirian. Luhan mengeluh panjang, “Jam berapa sekarang ?” tanya Luhan dengan melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.

16.20 KST

Hampir jam 5 sore, ia bahkan belum sempat makan siang dan juga meminum obat yang diberikan ibunya. Luhan tahu akibat jika ia tidak makan dan meminum obat, maka kejadiannya hampir sama seperti tempo hari. Ia bisa saja kesakitan seperti kemarin, bagaimana jika ia kesakitan di tengah pemakaman ? Siapa yang akan membantunya ?

“Tuan, ini bunga yang anda minta. Semuanya 20,000 won.” Ujar pelayan itu, sejenak Luhan tersadar dari imajinasinya. Luhan mengangguk pelan, laki-laki itu segera mengambil dua 10,000 won untuk membayar.

Luhan membungkuk pelan, kemudian berjalan keluar dari toko bunga itu. Sejenak Luhan merasa seseorang tengah memperhatikannya, Luhan menatap sekelilingnya mencoba mencari kebenaran. Sayangnya, tidak ada siapapun yang ia kenal.

“Mungkin hanya perasaanku saja.” Ujar Luhan pelan. Kemudian ia memasuki mobilnya, tak lupa dengan seikat bunga yang baru saja dibelinya.

 

***

 

Shin Yoora sesekali menengok kedalam toko bunga itu mencoba memastika bahwa ia tidak kehilangan jejak Luhan sama sekali. Sebenarnya Yoora sendiri merasa cukup bingung dengan dirinya sendiri, kenapa ia harus mengikuti Luhan sampai sejauh ini ? kenapa dia juga harus menyamar ? Jawaban semua pertanyaan itu adalah karena ia ingin tahu siapa gadis spesial Luhan. Ia tahu, ia begitu keterlaluan. Tapi, rasa penasaran pada dirinya sangat meletup-letup saat ini.

Yoora, menegok kedalam toko bunga sekali lagi, kini Luhan hendak berjalan keluar dari toko bunga itu. Dengan cepat Yoora menengok ke sekelilingnya mencoba mencari tempat persembunyian yang mungkin tidak akan diketahui laki-laki itu.

Tiba-tiba matanya tertuju dengan sebuah taksi yang tengah berhenti, jika ia berlari dengan cepat mungkin Luhan tidak akan melihatnya, lagi pula laki-laki itu belum keluar dari dalam.

Yoora segera berlari dengan cepat, bersembunyi dibelakang taksi itu dengan berjongkok.

Agasshi, apa yang anda lakukan ?” tanya sopir taksi itu di depan Yoora dengan berjongkok, sama seperti dirinya. Yoora mendengus kesal, “Ajusshi, aku akan naik taksimu tapi tolong. Pergilah sebentar, aku sedang bersembunyi.”

“Tapii—“

Ajusshi ! Aku akan pasti akan naik taksimu, percayalah.” Potong Yoora kesal. Sopir taksi itu hanya mengangguk kemudian bangkit dan meninggalkan Yoora sendiri. Yoora menengok kembali ke arah toko bunga itu. Disana Luhan tengah berdiri dengan menelusuri sekelilingnya.

Omona ! Bagaimana jika dia tahu aku mengikutinya ?”

Aniyo Shin Yoora, kau harus berusaha kau tidak mungkin berhenti begitu saja, bukan ?” tanya dirinya sendiri.

Agasshi, tuan muda itu sudah memasuki mobilnya. Anda tidak ingin masuk taksi dan mengejarnya ?” tanya sopir taksi itu yang kini berada di depannya. Yoora bangkit dari posisinya kemudian ia melirik tempat mobil Luhan yang sebelumnya terparkir. Tidak ada.

Kajja ajusshi !” ajak Yoora. Gadis itu segera memasuki taksi itu dan memberi instruksi pada sopir taksi itu. Kemudian, gadis itu mulai mengikuti Luhan kembali.

 

***

 

Luhan menghentikkan mobilnya tepat di depan gerbang pemakaman. Pemakaman yang didatangi Luhan termasuk sepi, karena jauh dari kota dan masih sangat luas. Disana tampak seorang ajusshi penjaga taman tersenyum padanya. Luhan segera turun dari mobilnya, lalu membungkuk dalam.

“Eoh, kau datang disaat yang tepat. Bukankah ini tepat dua tahun gadis itu pergi ?” tanya ajusshi itu dengan berjalan menghampiri Luhan.

Luhan tersenyum simpul, “Ne ajussi. Kau masih ingat denganku ?”

Ajusshi itu memukul bahu Luhan pelan, “Bagaimana aku bisa lupa ? Hanya kau yang sering kemari, tak lupa kau selalu tepat waktu, Luhan-ah.”

“Baiklah ajusshi kurasa aku harus keatas sekarang, senang bertemu dengan anda. Annyeong.” Luhan membungkuk dalam kemudian berjalan pergi meninggalkan Ajusshi itu sendiri.

 

***

 

Luhan terdiam sesaat saat kakinya sudah menapaki tempat yang dituju, laki-laki itu kemudian berjongkok perlahan. Tangan kanannya yang sedari tadi membawa bunga ia taruh tepat di depan nisan yang bertuliskan nama gadis itu.

 

Kim Eunji

 

“Sudah lama juga kau berada disana, ini sudah dua tahun kau meninggalkanku, Eunji-ya. Apa kabar ?” tanya Luhan pelan.

“Kau tahu, aku merasa kesepian jika malam. Biasanya kau akan menyanyikanku sebuah lagu sebelum aku tidur. Sekarang tidak ada yang menyanyikannya.”

“Kau ingat ? 1 hari sebelum kau meninggalkanku, kau menyanyikan lagu Hyorin yang berjudul Goodbye.”

“Kau ingin aku menyanyikannya untukmu ? Jika kau tidak menjawabnya kuanggap kau menjawab ya.”

Sarangi wanneunde

Geudaen tteonandae

Gidaryeonneunde

Deo bol suga eopdae

Neul babocheoreom

Heureuneun nunmuri malhae

Annyeong ijen good bye

 

Sigani seodulleo

Neol naegero deryeowajugil

Dan hanbeonman malhaejugil

Mideojiji annneun iyagireul

 

Eodi inneunji

Naemam aneunji

Bogo sipeunde

(Dasin bol su eomneun gose)

Bam haneure sorichyeo annyeong

Cinta telah datang namun kau meninggalkanku

Aku sudah menunggumu namun aku tak bisa melihatmu

Selalu seperti orang bodoh

Air mata yang mengalir saat ini mengatakan selamat tinggal, good bye

 

Aku harap waktu berjalan cepat

Dan membawaku padamu

Aku juga berharap kau mengatakan cerita yang tak dapat kupercaya sekali lagi

 

Dimana dirimu?

Apakah kau mengerti isi hatiku?

Aku merindukanmu

(di tempat aku tak bisa melihatmu lagi)

Aku berteriak ke langit malam, Annyeong

 

(http://terjemahanlagu-barat.blogspot.com/2014/04/lirik-lagu-hello-good-bye-hyorin-dan.html)

 

“Eunji-ya, kau tahu ada seseorang yang menyerupai-mu, tapi aku berpikir dia tidak mungkin sama denganmu.”

Luhan menarik nafas dalam kemudian mengeluarkannya perlahan, “Nama gadis itu Shin Yoora. Dia mempunyai sifat yang hampir sama denganmu, dia baik jika kau mengenalnya. Sebenarnya, aku takut aku akan melupakanmu dan melihatnya sebagai dirimu.”

“Kau tahu, itu pasti sangat menyakitkan. Untukku dan untuk dia.”

“Tapi, aku akan berusaha untuk menghindarinya. Karena semakin aku mengenalnya aku akan menganggapnya dirimu. Aku takut tidak bisa mengontrol diriku.”

“Kenapa aku merasa kau hidup di dalam tubuh Shin Yoora, Eunji-ya ?”

“Kau tahu, seandainya jika kau masih hidup lalu berdiri bersampingan kalian sepeti saudara kembar.”

“Aku takut Eunji-ya, aku takut aku mulai menyukainya dan melupakanmu.”

“Kumohon bantu aku dengan pilihan sulit ini. Aku mencintaimu.”

Luhan mengusap pelan batu nisan yang bertuliskan nama gadis masa lalunya dengan pelan, laki-laki itu merasa matanya mulai berair.

 

***

 

Luhan berjalan pelan, menuruni anak tangga di pemakaman. Perasaan itu muncul kembali, perasaan dirinya dimana ia merasa diikuti orang lain. Luhan berhenti sejenak, kemudian ia menengok kebelakang mencoba memastikan dengan melihat kebelakang. Tidak ada siapapun.

Luhan mencoba berjalan kembali, kini laki-laki itu merasa benar-benar ada seseorang yang mengikutinya. Ia percaya itu. Luhan kini berhenti berjalan. Tepat saat ini berhenti berjalan, ia mendengar bunyi decitan sepatu kets. ‘Seseorang mengikutiku’ batin Luhan.

Luhan kini mencoba berlari pelan, kini semakin terdengar jelas derap langkah kaki seseorang yang mengikutinya. Kemudian Luhan berhenti berlari. Membuat seseorang yang mengikutinya berhenti berlari sembari mendesis.

“Kenapa harus berhenti sih ?”

Luhan membalikkan badan cepat, kini Luhan dapat melihat siapa yang berani mengikutinya itu. Luhan sempat membulatkan matanya sejenak, kemudian tatapan matanya itu kini menjadi dingin.

Annyeong sunbaenim !” sapa Shin Yoora dengan tersenyum kikuk. Luhan mendekati Yoora dengan cepat membuat gadis itu berjalan mundur. “Apa yang kau lakukan disini, Shin Yoora-ssi ?” tanya Luhan dingin.

Yoora mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba memahami maksud Luhan, “Emm aku—aku—“

“Apa yang kau lakukan disini !? ” tanya Luhan keras. Bentakan Luhan membuat nyali Yoora menciut, ia benar-benar tidak tahu jika Luhan akan semarah ini padanya jika ia mengikuti laki-laki itu.

“Aku mengikuti sunbaenim, aku ingin tahu siapa—“

“Bukankah sudah kubilang jangan ikut !? Bukankah aku bilang aku ingin berbicara secara privasi ?”

Yoora menatap manik mata Luhan yang sekarang menatapnya tajam, “Aku tidak tahu jika gadis spesialmu sudah tidak ada sunbaenim.”

“Bukankah kau sudah tamat SMP ? Kenapa kau tidak mengerti, huh ? Keinginanmu untuk ingin tahu harus kau jaga, dasar idiot !” maki Luhan keras.

Makian Luhan bagai palu yang menghantam kepalanya, gadis itu merasa makian itu kini berputar-putar dikepalanya dengan huruf alfabet yang besar. Gadis itu mencoba menahan agar dirinya tidak menangis dengan mencengkram sisi kemejanya dengan erat, mau tidak mau ia merasa hatinya terasa perih saat laki-laki itu mengatainya seperti itu.

“Aku idiot ?” tanya Yoora dengan menunjuk dirinya sendiri, tangan gadis itu mulai gemetar dengan air mata yang sudah berada di sudut matanya, yang seakan siap kapan pun akan jatuh.

Luhan kemudian berjalan mendekati Shin Yoora, semakin dekat sehingga mungkin hanya berjarak sekitar 5 cm kurang lebih, “Dan terakhir aku tidak menyukai seorang gadis idiot, sepertimu.” Ujar Luhan tepat ditelinga kiri gadis itu.

Luhan membalikkan badan dan berjalan meninggalkan gadis itu. Shin Yoora hanya terdiam lama, membiarkan dirinya meresapi semua ucapan Luhan untuknya. Membiarkan hatinya mulai terasa perih mendengar makian laki-laki itu untuknya. Kemudian buliran air matanya yang sejak tadi berada di sudut matanya mulai jatuh perlahan. Gadis itu tidak menghapus sama sekali linangan air matanya yang mulai membentuk sebuah sungai kecil diwajah cantiknya.

“Apa yang baru saja kau lakukan ?” tanyanya pada dirinya sendiri dengan menangis pelan.

“Dasar idiot !”

“Dasar idiot !”

“Dasar idiot !”

“Dasar idiot !”

“Dasar idiot !”

“Dasar idiot !”

“Dasar idiot !”

“Dasar idiot !”

“Kau idiot Shin Yoora !” teriaknya keras dengan menangis parau. Ini adalah pertama kalinya seseorang mengatainya dengan kasar, dan dia menganggap ucapan laki-laki itu benar. Ia memang idiot, seharusnya ia bisa mengotrol rasa ingin tahunya. Sayangnya akibat mengikuti Luhan, sekarang ia mengetahui privasi mereka berdua.

 

***

 

Kim Jongin menatap jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya, 20.00 KST sedangkan ia mempunyai janji dengan gadis itu pada jam 19.00 KST. Hampir 1 jam tepatnya ia menunggu gadis itu.

“Dimana dia ?” tanya Jongin pada dirinya sendiri. Jongin merogoh saku celana pelan, mencoba mengambil ponselnya yang sejak tadi tidak bergetar sama sekali. Jongin memeriksa ponselnya perlahan, benar saja gadis itu tidak menjawab pesan yang dikirimnya sejak tadi.

Jongin mencoba mengaktifkan GPS-nya untuk melacak Shin Yoora, ia tahu GPS gadis itu tidak pernah dimatikan sehingga mudah untuk dirinya mencari gadis itu.

GPS itu kini mulai menunjukkan tempat dimana Shin Yoora berada, daerah itu terletak jauh sekali dari kota dan dekat dengan sebuah pemakaman. ‘Sedang apa dia disana ?’ batin Jongin.

Jongin bergegas memasuki mobil sportnya yang bewarna putih. Laki-laki itu dengan segera menyalakan gas mobilnya, lalu menekan pedal mobilnya dengan kuat. Saat ini yang Jongin pikirkan adalah tentang gadis itu, Shin Yoora.

Ia bisa saja membunuh orang jika ia tahu gadis itu tengah tidak dalam keadaan baik-baik saja.

 

***

 

Yoora berjalan dengan langkah gontai seakan tidak mempunyai arah tujuan lagi, bahkan gadis itu tidak menanggapi panggilan sopir taksi yang menawarkan tumpangan untuk dirinya. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana cara agar ia meminta maaf pada Luhan, lantaran laki-laki itu pasti sangat marah padanya gara-gara kelakuannya.

Pabo Shin Yoora.” Makinya dengan memukul kepalanya pelan. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian tadi, dimana Luhan mengikutsertakan dirinya saat berbicara dengan gadis ‘itu’.

 

“Nama gadis itu Shin Yoora. Dia mempunyai sifat yang hampir sama denganmu, dia baik jika kau mengenalnya. Sebenarnya, aku takut aku akan melupakanmu dan melihatnya sebagai dirimu.”

“Kau tahu, itu pasti sangat menyakitkan. Untukku dan untuk dia.”

“Tapi, aku akan berusaha untuk menghindarinya. Karena semakin aku mengenalnya aku akan menganggapnya dirimu. Aku takut tidak bisa mengontrol diriku.”

“Kenapa aku merasa kau hidup di dalam tubuh Shin Yoora, Eunji-ya ?”

“Kau tahu, seandainya jika kau masih hidup lalu berdiri bersampingan kalian sepeti saudara kembar.”

“Aku takut Eunji-ya, aku takut aku mulai menyukainya dan melupakanmu.”

 

Yoora berhenti berjalan sejenak, mencoba meresapi ucapan Luhan. “Apa laki-laki itu tidak bisa melupakan gadis yang bernama Eunji itu ? Seberapa mirip aku dengannya ?”

Yoora kembali berjalan sembari berpikir, apa yang harus ia lakukan agar Luhan memaafkannya. Sebenarnya ia benar-benar tahu jika Luhan pasti cepat atau lambat akan mengetahui, jika dirinya sedang diikuti. Tapi, ia tidak pernah berpikir jika laki-laki itu sangat marah sampai harus memakinya seperti itu.

“Shin Yoora !” teriak seseorang dari kejauhan. Gadis itu berbalik menatap siapa yang memanggilnya, sayangnya ia harus melihat lampu jauh mobil sport Jongin yang bewarna putih itu. “Apa yang kau lakukan ?” tanya Jongin yang kini sudah berada disampingnya.

Yoora menggeleng pelang, “Aniyo. Aku hanya berjalan-jalan.”

Jongin memegang kedua bahu Yoora erat, mengguncang-guncang bahu gadis itu agar tersadar. “Kau sedang apa disini, huh ?” tanya Jongin lagi.

Yoora menatap manik mata Jongin yang tampak khawatir padanya, kemudian tanpa aba-aba air matanya jatuh kembali. “Aku mengikuti Luhan sunbae, dan dia tahu—“

“hiks..hikss.” tangis Yoora pecah seketika. Jongin segera memeluk gadis itu erat, ia tidak ingin mendengar gadis itu menangis kembali. Jongin mengusap punggung gadis itu pelan, mencoba menenangkannya perlahan.

“Kau merasa baikan ?”

Yoora mengangguk pelan, “Ne, bagaimana jika kita pergi sekarang Jongin-ah ?” . Jongin mengangguk kemudian menuntun gadis itu masuk kedalam mobilnya.

Dari kejauhan Luhan hanya menatap Yoora dengan sendu, “Eunji-ya, jangan pergi dengan laki-laki lain selain diriku.”

 

***

 

Jongin segera mematikan mesin mobilnya dan keluar. Laki-laki itu kini berjalan dengan cepat, seakan ia sedang diburu oleh sang waktu. Jongin berhenti melangkah saat ia melihat Luhan tengah duduk di depan halaman rumahnya dengan tatapan kosong.

“Luhan.” Panggil Jongin dingin, laki-laki yang dipanggil Luhan itu menatap Jongin dengan tatapan bertanya. Jongin berjalan mendekati laki-laki itu, kini jarak antara mereka hanya sejauh 1 meter saja.

Luhan bangkit dari posisi yang sebelumnya duduk menjadi berdiri mencoba mensejajari Jongin. “Wae ?”

Jongin dengan cepat mencengkram kerah kemeja Luhan dengan kuat, “Apa yang kau lakukan dengan gadis itu ? Huh ? Kenapa dia sampai menangis ?” . Luhan tersenyum kecut mendengar pertanyaan Jongin yang baru saja dilontarkan untuknya.

“Gadis idiot itu yang salah, Kim Jongin.”

“Jangan mengatainya idiot ! Dia tidak idiot !” ujar Jongin dengan mengeratkan kerah Luhan yang mungkin semakin lama akan membuat Luhan tidak bernafas.

“Kau dan dia sama-sama idiot, dia mengikutiku untuk rasa ingin tahunya, kau kemari untuk rasa ingin tahumu juga. Idiot, bukan ?” ujar Luhan dengan sinis.

Jongin melepaskan cengkramanya pada kerah Luhan perlahan, “Terserah kau ingin berbicara apa tentangku, tapi jangan pernah sekali pun mengatai Shin Yoora. Karena aku tidak akan memaafkanmu, walaupun kau adalah sepupuku.”

Luhan mendesis tajam, “Hanya karena rasa cinta, kau merendah ? Lucu sekali.”

Jongin menatap Luhan sinis, “Bukankah kau melakukan hal yang sama pada Eunji noona, saat dulu ?”

“Tidak usah membawa Eunji dalam hal ini, Kim Jongin !”

“Eunji noona meninggal karena dirimu ! Ingat itu, Luhan.” Ujar Kim Jongin dengan berjalan pergi meninggalkan Luhan.

Luhan mengepalkan tangannya kuat, ia tidak menyalahi ucapan Jongin yang diberikan untuknya. Tapi, memang benar gadis itu meninggal karena dirinya.

 

***

 

18 Mei 2014

Yoora berjalan pelan mencoba menyusuri setiap koridor sekolah untuk mencari gadis yang bernama Lee Bona, gadis itu adalah teman semasa SMP Yoora. Gadis itu dulu lumayan cukup dekat dengan dirinya, tapi semenjak mereka berbeda kelas mereka jarang bertemu membuat hubungan mereka renggang.

“Bona-ya !” panggil Yoora dari kejauhan. Gadis yang bernama Lee Bona itu mengalihkan perhatiannya dari buku Biologinya ke arah Yoora gadis itu kini tengah berjalan mendekati dirinya.

Waeyo, Yoora-ya ?” tanya Bona dengan tersenyum tipis. Yoora segera duduk disamping gadis itu tanpa izin. Toh, ini kursi sekolah ini berarti milik siswa-siswi yang berada disini.

“Bisakah aku meminta tolong padamu ?” tanya Yoora serius. Bona tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk, “Baiklah selama aku mampu, tapi kau harus menceritakan inti masalahnya padaku dulu.”

“Baiklah.” Yoora tersenyum, gadis itu kemudian mengawali ceritanya dengan perlahan, sesekali Bona membulatkan matanya mendengar cerita gadis itu. Sampai akhirnya Bona setuju dengan permintaan teman sebangkunya dulu SMP ini.

“Tsk. Kau gila Yoora-ya, tapi untukmu itu tidak masalah.”

Gomawo~”

Bona hanya mengangguk sembari melambaikan tangan ketika gadis itu berjalan menjauhi dirinya.

 

***

 

Yoora berjalan menyusuri koridor sekolahnya, jam pelajaran baru saja selesai. Ia berniat menghampiri Luhan dan meminta maaf pada laki-laki itu. Yoora berjalan semakin cepat saat ia melihat gerombolan kelas 3-1 keluar dari kelas.

“Chanyeol sunbae !” panggil Yoora. Laki-laki yang mempunyai postur tinggi, tegap itu menoleh saat merasa seseorang memanggilnya. “Eoh ? Shin Yoora, bukan ?”

Yoora mengangguk sembari tersenyum, “Ne. Sunbaenim, kau tahu dimana Luhan sunbae ?” Chanyeol tampak menoleh kembali kearah gerombolan lalu menoleh kearah Yoora kembali. Yoora hanya memandang Chanyeol dengan bingung.

“Hari ini tampaknya dia tidak masuk. Mungkin dia sakit.” Ujar Chanyeol dengan mengangkat kedua bahunya pelan. Yoora mengangguk kemudian mengucapkan terima kasih sebelum pergi meninggalkan Chanyeol.

“Apa dia benar-benar tidak masuk ?” tanya Yoora sembari menengok ke arah rumah Luhan yang tampak sepi. Tiba-tiba pintu itu terbuka, menampakkan sang pemilik rumah yang tengah mengunakan sweater tebal dengan syal yang melingkar dengan rapat di lehernya.

“Luhan sunbaenim, sakit ?”

Luhan kini tengah hendak berjalan keluar dari rumah, Yoora segera keluar dari tempat pesembunyiannya dan berlari menghampiri laki-laki itu. “Annyeong sunbaenim !”

Luhan sempat terkejut ketika melihat kedatangan gadis idiot itu yang kini berada di hadapannya, kemudian tatapan Luhan kini berubah menjadi dingin. “Kau sakit sunbaenim ?”

Luhan memutar tubuhnya, laki-laki itu kini berjalan pelan memasuki rumahnya, namun Yoora menahan lengan tangan Luhan pelan. “Luhan-ssi aku benar-benar minta maaf, aku tidak berniat mengganggu privasi kalian berdua.”

Luhan tetap berjalan tanpa memperdulikan gadis itu. “Luhan-ssi, aku benar-benar serius dengan ucapanku.”

Sunbaenim !”

Luhan menutup pagar rumahnya rapat. “Jangan masuk. Atau kupanggil satpam.”

Yoora mendengus kesal, “Luhan-ssi, aku sangat menyesal tentang kejadian kemarin. Kumohon maafkan aku.”

Pintu Luhan tertutup dengan kasar, membuat Yoora tersentak akibat ulah laki-laki itu. “Yak ! Aku serius, aku akan tetap disini sampai kau memaafkanku !”

Dari dalam Luhan yang mendengar ucapan gadis itu hanya tertawa remeh, “Seberapa lama ? Dasar benar-benar idiot.”

 

***

 

Luhan menuruni anak tangga rumahnya dengan pelan, tiba-tiba tengah malam perutnya berbunyi. Setahu dirinya ia sudah makan malam dan minum obat, tapi kenapa perutnya harus berbunyi lagi ?

Perutnya berbunyi lagi, baiklah ternyata memang benar dia merasa lapar. Luhan kini sudah berdiri tepat di depan kulkas rumahnya, Luhan membuka pelan kulkas itu menampakkan isi-isi yang berada di dalam kulkas itu. Hanya ada sebuah roti tawar, sereal, mises, susu, dan selai. Mungkin ia harus makan semuanya, agar perutnya tidak membangunkannya di malam hari.

“Luhan-ssi maafkan aku.”

Luhan terdiam sejenak, “Gadis itu masih disini ?” . Luhan menutup kembali pintu kulkas miliknya,lalu ia kini berjalan pelan menuju depan rumahnya. Lewat jendela rumahnya laki-laki itu mengintip. Benar, gadis itu masih disana dengan menggunakan seragam sekolah yang tadi.

“Ini sudah malam, bagaimana jika orang tuanya mencarinya ?”

“Luhan-ssi maafkan aku.” Ulang Yoora kini dengan mata tertutup , sangat jelas sekali gadis itu terlihat lelah dan sangat mengantuk.

“Dasar idiot.”

Luhan hendak kembali ke dapur namun ia urungkan, tiba-tiba rasa lapar yang tadi ia rasakan tiba-tiba hilang begitu saja. Luhan menaiki anak tangga rumahnya dengan pelan, yang ia inginkan sekarang adalah tidur.

Dan ia berharap esok hari gadis itu sudah tidak berada disana lagi.

 

***

 

Luhan mengeliat pelan, kemudian laki-laki itu menguap. Sinar matahari baru saja menembus tirai kamarnya tipis. Luhan bangkit dari ranjangnya, kakinya menutunnya menuju jendela kamarnya, Luhan menarik tirai kamarnya membiarkan sinar matahari dengan leluasa memasuki kamarnya.

“Lebih baik aku sekolah.”

“Luhan-ssi ! Bagaimana kau tega sekali tidak memaafkanku, aku sudah menunggumu dan kau tidak membuka pintu rumahmu !” teriak gadis itu.

Luhan menggelengkan kepalanya lemas, “Aku tidak ingin sekolah.”

Luhan berjalan kembali ke ranjang kingsize-nya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tak lupa earphone terpasang di kedua telinganya.

“Aku tidak peduli~” ujar Luhan.

 

***

 

Jongin bersiap berdiri untuk meninggalkan jam pelajaran ketiga jika saja Baekhyun tidak memegang bahunya. “Kau mau kemana, Jongin-ah ?”

Jongin menggeleng pelan, “Aku tidak akan kemana-mana.” Baekhyun tersenyum mengejek, “Kau membohongiku huh ? Biar kutebak, kau pasti ingin mencari Shin Yoora. Karena gadis itu sekarang tidak masuk, iya bukan ?”

“Bukan urusanmu.” Ujar Jongin ketus.

“Baiklah aku tidak akan memberitahumu kenapa Yoora tidak masuk sekarang.” Ujar Baekhyun dengan mengamati kuku-kuku cantiknya yang baru saja keluar dari salon. Jongin berdecak kesal, “Baiklah-baiklah, kenapa gadis itu tidak masuk ?”

Baekhyun menggeleng pelan, “Aku tidak akan memberitahumu. Kau sudah jahat padaku.”

“Yak ! Byun Baekhyun, kenapa kau pelit sekali sih ?”

Baekhyun menatap Jongin dengan posisi kepala sedikit miring ke kanan, “Hei, kaulah yang pelit. Antar aku ke salon dulu sebelum kuberitahu.”

“APA ?!” teriak Kim Jongin. Membuat seisi kelas menatap Jongin dengan tatapan bertanya, sedangkan guru Biologi mereka, Kwang songsaenim menatap Jongin dengan tatapan membunuh seakan sudah memperingatkan Jongin agar tidak ramai di dalam kelasnya.

“Kim Jongin, cepat keluar ! Kau adalah salah satu contoh perusak generasi bangsa ** !” bentak Kwang songsaenim. Jongin hendak menyela namun ia urungkan. “Ayo ! Cepat keluar, tunggu apa lagi ?!”

Arraseo songsaenim.” Ujar Jongin dengan membungkuk dalam. Jongin melirik Baekhyun tajam. ‘Awas kau, Byun.’ Batinnya dalam hati.

Baekhyun yang merasa diawasi hanya tersenyum tipis.

 

***

 

Jongin berdecak kesal kembali, entah sudah keberapa kalinya. Baekhyun yang sedang dilayani oleh pegawai salon hanya terkekeh pelan. “Bersabarlah Kim Jongin, butuh sebuah usaha untuk mendapatkan apa yang kau mau.” Titah Baekhyun.

“Hm..”

“Hei, jangan marah padaku. Itu kesalahanmu sendiri, mengapa kau harus berteriak huh ?” tanya Baekhyun yang hanya dijawab gumanan oleh Jongin. “Hm..”

“Baiklah, aku tidak akan mem—“

Arra-arra Baekhyun-ie maafkan aku.”

Baekhyun terkekeh pelan, “Baguslah, aku akan tidur dulu sambil menunggu permintaanku selesai.”

“Yak !” teriak Jongin, sayangnya Baekhyun sudah menggunakan headphone di kedua telinganya membuat Jongin hanya mendesis kesal.

 

***

 

Baekhyun menghitung kembali uang kembalian yang baru saja diberikan kasir salon pada dirinya. “Uang yang diberikan kurang, aku harus kembali.”

Jongin menatap Baekhyun tidak sukan, “Byun, ayolah tidak usah dipermasalahkan. Memangnya kurang berapa ?”

“Kurang 1.500 won.” Ujar Baekhyun dengan mengerucutkan bibirnya seperti bebek. Jongin membulatkan matanya, “Apa ? 1.500 won ? Tidak usah kau pikirkan, ikhlaskan saja.”

Baekhyun menarik lengan Jongin, agar Jongin berdiri tepat di dekatnya, “Hei Kim Jongin, 1.500 won sangat berharga bagi orang yang tidak mampu ! Kau tahu 1.500 bisa disumbangkan dan akan sangat berguna bagi mereka yang membutuhkan, tapi jika salon yang mempunyainya pasti akan dibuat membeli cat kuku, kosmetik, dan lain-lain !” ujar Baekhyun dengan menggebu-gebu.

Jongin menatap Baekhyun gemas, “Jika kau yang mempunyai 1.500 pasti kau tabung lalu jika terkumpul akan kau buat untuk pergi ke salon lagi, bodoh !”

Baekhyun terkekeh pelan, “Ayolah Jongin-ah antar aku.”

Jongin merasa kesabarannya mulai habis, ia sudah cukup lelah hari ini. Saat disekolah ia dihukum oleh Kwang songsaenim, lalu Baekhyun memintanya untuk mengatarnya ke salon dan menunggunya hingga 3 jam lebih ! Dan sekarang dia minta kembali hanya untuk mengambil uang kembalian ?

Jongin mencengkram lengan Baekhyun kuat, “Katakan kenapa Shin Yoora tidak masuk, atau aku akan membantingmu saat ini juga.”

“Ayolah Kim Jongin ancamanmu—“

“Katakan kenapa Shin Yoora tidak masuk, sekarang !” teriak Jongin dengan mencengkram Baekhyun semakin kuat, mau tidak mau membuat Baekhyun meringis pelan.

“Baiklah, aku sempat mendengar percakapannya dengan Lee Bona tentang suatu rencana dan rencana itu menyangkut gadis itu tidak masuk hari ini. Kau bisa bertanya padanya.” Ujanya.

Jongin melepaskan cengkraman tangannya yang menyisakan sebuah bekas merah di lengan Baekhyun. “Brengsek kau, Byun Baekhyun !” makinya.

Baekhyun membungkuk dalam, “Mianhamnida, aku hanya butuh teman untuk ke salon.” Tanpa berpikir panjang Jongin kemudian berlalu pergi meninggalkan Baekhyun sendiri.

“Yak ! Kim Jongin, aku akan pulang dengan siapa ? Hei Kim Jongin !” teriaknya keras membuat orang-orang yang beralalu-lalang disekitarnya menatapnya dengan risih.

Damn you, Jongin !’ umpat Baekhyun dalam hati.

 

TBC

***

 

Hayooo, gimana part ini ? Aku minta maaf banget ya kalau semisal belum ngebuat kalian puas ;__; untuk tanda (**) itu aku kasih tanda gitu gara-gara aku inget guru olahragaku dulu kelas 8 yang ngatai temenku gitu. Hehe.

Oh iya, aku mungkin bakal ngepost part 6A dan 6B, tapi enggak minggu ini lah, wkwk. Karena aku sibuk buat persiapan tes sma jadinya mau megang laptop itu takut dimarahin, sebenarnya udah dimarahin cuman saya nakal jadinya gini x_x.

Insyaallah aku ngepost setelah tanggal 30. Kok lama ? Iya, karena setelah tanggal itu aku benar-benar bebas *sepertiburung* . Doakan saja, semoga saya diterima di sma yang aku tuju ya readerss. Oh ya, hai aku nabila 98 L. Mari kita berteman, kalian bisa mampir diwodpressku yang masih baru jadi belum neko-neko -_-v (alfabet12.wordpress.com). Jangan lupa tinggalkan kritik dan saran kalian yaa. Wait me readers, exactly for my fanfiction! xoxo

 

22 responses to “Butterfly [5]

  1. Keren bgt thor 🙂
    Disini Luhan nya rada jahat ya -_-
    Jadi sebel sendiri, gara” Luhan, Jongin gak jadi nyatain perasaannya ke Yoora -_-
    Next thor 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s