My Cutties Husband (Chapter 2)

Annyeong~ saya hadir bawa fanfic titipan. Happy reading, jangan lupa kasih komentar! ^^

req-mycuttieshusband

Author: Devana Amanda
Judul: My cutties Husband chapter 2
Genre: Marriage Life
Lenght: chapter
Main cast: Byun Baek Hyun, Hyun Ji Ae
Author notes: Haaaiii chapter 2 datang wkwkwk~ author mau ucapin terimakasih buat admin yang udah baik hati mau ngepublish ff ku :3 dan buat readers, makasih buat komentarnya :3 dan mari kita berkenalan!^^
ff ini juga di share di wordpress pribadi author: devanaamanda.wordpress.com ^^

 

Previous : CHAPTER 1

Baek Hyun masuk ke dalam apartemen. Keadaan sudah mulai berubah, tapi ada sedikit suara bising di ruang tengah. Ia melepas sepatunya. Ia menghela napas saat melihat Ji Ae masih menatap layar laptop sambil membuka buku. Meja ruang tengah yang memang tak besar menjadi terlihat makin kecil karena tumpukan buku Ji Ae.  Baek Hyun melihat ponselnya dan menatap jam. Ini sudah jam 12.

Dia kira Ji Ae sudah tertidur. Baek Hyun duduk di sofa, dibelakang Ji Ae. Gadis itu sepertinya masih marah padanya. Baek Hyun menghela napas lalu merebahkan tubuh di sofa.

“Ji Ae, berhenti marah. Aku ‘kan sudah minta maaf tadi…”

Ji Ae berhenti mengetik. Sepertinya memang Baek Hyun benar-benar kelelahan. Ia beranjak dari duduknya. “Aku siapkan air hangat”.

Ji Ae masuk ke kamar mandi. Benar kan dugaannya? Baek Hyun sudah lelah, bahkan hanya mengatakan itu padanya. Tidak lebih. Ia duduk di pinggir tempat tidur. Harusnya hari libur ia menjadi prioritas Baek Hyun, tidak seperti ini. Kembali lagi ke Ji Ae, dia kan memang gadis manja. Baek Hyun akhir-akhir ini juga tidak memberikan perhatiannya, malah lebih sering memarahi Ji Ae karena Ji Ae tidak belajar.

Oke, Ji Ae akan belajar jika ia sudah lulus nanti.

“Baek Hyun, airnya sudah siap”.

Baek Hyun tidak menghiraukan Ji Ae, ia memperhatikan pekerjaan-pekerjaan Ji Ae di buku dan laptop. Ji Ae duduk di samping Baek Hyun, lalu bersandar di bahu Baek Hyun. Baek Hyun tidak terlihat kaget. Ia hanya melihat Ji Ae sekilas, tersenyum lalu kembali melihat pekerjaan Ji Ae. Ji Ae masih menunggu Baek Hyun sampai selesai mengkoreksi.

“Nomor 9 masih salah, hanya satu saja. Aku bau, jadi berhenti bersandar di bahuku”.

Ji Ae menghela napas dan menarik bukunya. Baek Hyun berlalu di kamar mandi. Ponsel Ji Ae berdering keras, ia mengambil ponselnya. Tertera nama Oh Se Hun disana. Ada apa laki-laki ini menelfonnya tengah malam?

“Yeobseo?”.

“Besok pagi aku jemput, oke. Aku ingin meminjam buku fisika, aku belum mengerjakan”.

Mati saja sampai Se Hun menjemputnya. Baek Hyun bisa menceramahi dirinya yang tidak-tidak. Cemburunya mulai muncul.

“Tidak usah, aku bisa berangkat sendiri. Besok aku bawakan”.

“Kau tidak membutuhkan tumpanganku?”.

“Kau berubah profesi menjadi tukang ojek ya? Ini sudah malam, jadi tutup saja telfonmu!”.

Ji Ae menutup telfon sepihak. Ia lihat pekerjaannya lagi. Oh iya, semua teman-temannya bahkan sudah mempersiapkan diri untuk masuk universitas. Mereka sudah membicarakan ini pada orang tua masing-masing. Bagaimana dengan Ji Ae? Dia rasa dia harus membicarakan hal ini pada Baek Hyun. Karena besok ia harus mengumpulkan berkas.

Ia menemukan Baek Hyun sedang mengerjakan pekerjaannya di meja belajarnya. Baek Hyun menepuk kursi sebelahnya, mengisyaratkan Ji Ae untuk duduk. Ji Ae duduk, dan mulai membicarakan inti masalah.

“Baek Hyun, teman-temanku sudah membicarakan masalah universitas. Bagaimana pendapatmu?”.

Baek Hyun sedikit menerawang. Tapi setelah itu ia menatap Ji Ae dengan, lagi-lagi, pandangan imut. Ia menyembunyikan anak rambut Ji Ae dibelakang telinga, lalu mengusap rambut panjangnya.

“Bukannya aku tidak ingin memberikan pendapat. Aku lelah Ji Ae, besok saja ya? Sekarang kau bereskan bukumu lalu tidur, ini sudah hampir jam 2 malam”.

Ji Ae menatap mata Baek Hyun sinis. Dia berkata lelah tapi kenyataannya ia membuka kertas-kertas itu lalu membuka email klien. Begitu ya orang kelelahan?

“Aku bisa memutuskan hal ini sendiri”.

Ji Ae duduk di ruang tengah. Hampir saja ia menangis di depan Baek Hyun. Kali ini ia berhasil menahannya. Lalu dengan siapa ia memutuskan jurusan universitas? Dia memiliki Baek Hyun tapi suami cutties nya itu sibuk sendiri dengan dunianya. Ji Ae hanya butuh pendapat Baek Hyun, tapi kenapa seperti ini?

Oke, Ji Ae juga tidak akan membesarkan masalah ini. Konyol. Ia membuka lagi laptopnya. Mencari bagaimana cara memilih jurusan universitas dengan baik. Lagi-lagi dia bingung. Apa dia tidak usah masuk universitas saja? Bodoh. Tidak mungkin!

Baek Hyun tiba-tiba duduk disampingnya, menatapnya dalam-dalam. Ji Ae berusaha tidak gugup padahal jantungnya meledak-ledak. Ia menutup laptopnya lalu menata buku-buku yang hampir semua terbuka, dan memasukannya kedalam tas. Hampir saja ia beranjak tapi Baek Hyun memanggilnya dengan lembut.

“Duduk sini Ji Ae, aku ingin bicara sebentar”.

Ji Ae bersumpah ia benar-benar terpesona dengan Baek Hyun. Ia duduk disebelah Baek Hyun. “Apa?”.

“Jangan marah, kenapa kau sering sekali marah? Aku sudah katakan besok aku akan memberimu pendapat. Lagipula ujianmu masih cukup lama. Dan masalah tadi siang, aku tidak tahu bagaimana mengganti hari untuk menemanimu seharian”.

“Aku tidak marah”.

“Itu namanya tidak marah? Maafkan aku, ya?”.

Oh, Baek Hyun peka terhadap kebiasaan Ji Ae yang sering marah dengan sebab Baek Hyun terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ji Ae hanya menganggukkan kepala. Sekarang bahkan dia sudah menjadi nomor 2 untuk Baek Hyun. Yang pertama jelas saja pekerjaannya. Ji Ae menggendong tasnya dan masuk ke dalam kamar diikuti oleh Baek Hyun. Laki-laki imut ini hanya bisa menghela napas, dia sudah terbiasa dengan sikap Ji Ae.

Baek Hyun kembali duduk di meja belajar Ji Ae. Ia lebih suka menyelesaikan pekerjaannya di meja Ji Ae daripada di meja kantornya. Menurut Baek Hyun, ia lebih menyukai memandang foto-foto Ji Ae di meja belajar miliknya. Baek Hyun membuka email klien-nya satu persatu, membacanya lalu membuka laporan milik masing-masing klien. Setelah itu membalasnya dengan jelas.

Harusnya tadi dia mengajak Chanyeol agar pekerjaannya cepat selesai.

Baek Hyun mendengar suara Ji Ae yang mendesis. Sepertinya gadis itu tidak bisa tertidur. Baek Hyun menghampiri Ji Ae yang mirip dengan kepompong, karena seluruh tubuhnya terbungkus selimut berwarna biru. Duduk disampingnya, mengusap rambutnya yang berwarna dark brown, membuat gadis itu membuka selimutnya dan duduk di samping Baek Hyun.

“Kenapa? Tidak bisa tidur?”. Ji Ae menganggukkan kepala.

“Ada sesuatu yang mengganjal dipikiranmu? Mungkin itu yang membuatmu tidak bisa tidur dengan nyenyak..”

Jelas saja ada! Kau fikir foto di laptopmu itu tidak membuatku genting?!

Ji Ae diam dan mengangkat kedua kakinya, bersila di pinggir tempat tidur. Ia tidak tahu harus bicara jujur dengan Baek Hyun atau tidak. Dia takut dengan percaya diri ia marah-marah tidak jelas lalu menghakimi Baek Hyun. Jika benar itu mantan kekasihnya, Ji Ae tidak akan malu. Jika hanya sahabat? Ji Ae akan mengubur dirinya hidup-hidup.

Baek Hyun mengusap lagi rambut panjang Ji Ae, menunggu gadisnya mengatakan sesuatu.

“Tidak, kurasa aku tidak memiliki apa-apa dipikiranku”.

“Benarkah? Padahal di otakku tersimpan banyak pertanyaan bagaimana caranya agar kau tidak marah lagi padaku. Berarti aku tidak ada dipikiranmu?”.

Ji Ae diam saat Baek Hyun mengutarakan kalimatnya. Terdengar menyedihkan dan menyindir Ji Ae. Ji Ae memandang wajah imut Baek Hyun. Laki-laki itu memandang cincin pernikahan mereka. Ji Ae tahu, sulit baginya menghadapi pertengkaran kecil yang sewaktu-waktu akan terjadi. Dan ini salah satunya.

Apalagi Baek Hyun. Bukannya dia tidak tahan dengan sikap kekanakan Ji Ae, dia hanya merasa bersalah karena ia rasa Ji Ae belum memaafkannya. Kenapa semua menjadi sulit seperti ini? Masalah apa lagi yang muncul?

“Aku sudah tidak marah. Aku memaafkanmu”.

Baek Hyun tersenyum miris dan menatap Ji Ae, “Tapi aku rasa kau belum benar-benar memaafkanku Ji Ae”.

“Baek Hyun, ini sudah hampir pagi. Kau mau kita bertengkar di pagi buta seperti ini?”.

Baek Hyun bangkit dari duduknya lalu beranjak dari kamar. Ji Ae mengikutinya dari belakang. Kenapa masalah menjadi rumit seperti ini? Baek Hyun mengambil mantelnya. Jujur otaknya panas karena masalah sepele yang tidak penting seperti ini. Biasanya ia tak akan berontak, tapi entah dorongan darimana hatinya merasa sakit.

Hatinya sakit karena ia rasa Ji Ae tidak bisa mengerti dirinya.

“Baek! Jangan pergi pagi buta seperti ini!”.

Baek Hyun berhenti di depan pintu, membalikkan badan.

“Apa pedulimu terhadapku? Kau hanya memikirkan dirimu sendiri! Aku sudah berusaha meminta maaf padamu berulang kali tapi kau bersikap tidak acuh. Otakku panas memikirkan semua hal yang ada pada dirimu”.

“Aku memang gadis egois yang manja. Kau pikir meminta maaf cukup? Kau selalu mengutamakan pekerjaan dan menomor duakan aku! Aku peduli padamu, aku mencintaimu! Jika kau memang menyayangi pekerjaanmu, nikahi saja!”.

*

Baek Hyun menatap ponselnya. Pagi tadi Ji Ae demam tinggi dan memaksa diri untuk tetap masuk sekolah. Baek Hyun khawatir setengah mati. Tapi Ji Ae masih saja sedikit tidak peduli dengan Baek Hyun. Sekarang Baek Hyun semakin khawatir karena gadis kecilnya itu tidak membalas satu pun pesannya. Apa terjadi sesuatu dengan Ji Ae? Ia hanya menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kantor.

Pertengkaran semalam membuat Ji Ae sakit dan pekerjaan Baek Hyun tidak jadi selesai. Mereka berdebat dengan spekulasi masing-masing, dan Baek Hyun sadar mereka sekarang sedikit lebih renggang dari sebelum mereka menikah. Ia tahu tapi karena Ayahnya menaikkan jabatan, Baek Hyun menjadi seorang pekerja yang sangat sibuk. Sekedar makan siang bersama teman-temannya saja jarang.

Suara pintu diketuk terdengar, Baek Hyun mempersilahkan masuk dan terlihat Park Chanyeol membawa map hijau. Pertanda laporan menumpuk akan dimulai. Chanyeol menangkap wajah Baek Hyun yang kelelahan dan lesu. Chanyeol memberikan sekotak kopi siap minum pada Baek Hyun.

“Ada masalah apa?”.

Baek Hyun tersenyum kecut sambil membuka kopi, dia tidak terlalu yakin jika menceritakan hal ini dengan Chanyeol. Laki-laki ini bahkan belum menikah. Di kantornya yang sudah menikah hanya dia dan Lu Han. Kim Junmyeon saja yang notabene sudah- tua, belum menikah.

“Ji Ae sakit karena kami bertengkar jam 2 pagi”.

Chanyeol berhenti meminum kopinya dan menatap Baek Hyun dengan pikiran yang tak bisa ditebak. Laki-laki itu hanya menatap Baek Hyun tanpa memberikan penjelasan apapun. Harusnya Baek Hyun tahu dan berhenti berharap karena Chanyeol bukan seorang pemuda yang waras.

Selanjutnya ada yang mengetuk pintu lagi, Lu Han masuk dan menatap kedua sahabatnya dengan tawa menggemaskan. Pemuda ini duduk di sofa kantor Baek Hyun. Baek Hyun mendekati Lu Han.

“Ada masalah apa? Kelihatannya kau lesu sekali”.

Pertanyaan yang sama diulangi kembali oleh Lu Han, “Dia mengkhawatirkan Ji Ae yang sedang sakit karena mereka bertengkar sampai jam 2 pagi”. Chanyeol membuka suara karena Baek Hyun tidak membuka suaranya. Baek Hyun hanya menghela napas karena memikirkan Ji Ae. Dadanya begitu sesak saat mengingat Ji Ae yang marah dan dalam keadaan sakit. Lu Han sedikit memajukan tubuhnya.

“Boleh aku tahu apa inti permasalahan kalian?”.

Chanyeol tertawa terbahak-bahak, Lu Han dan Baek Hyun mengernyitkan alis. Ada apa dengan laki-laki bodoh ini?

“Kau seperti clinic centre saja”. Lu Han melempar tissue pada Chanyeol. Tatapannya tajam.

“Dia marah karena aku selalu menomorduakan dia dalam pekerjaan. Kau tahu, maksudku- begini, aku bekerja keras agar aku bisa menghasilkan uang yang banyak- ah- Lu Han, kau tahu dia itu shopping holic-“.

Lu Han  menganggukkan kepala, sebenarnya dia juga sering bertengkar dengan Saejin. Bahkan bisa dikatakan bertengkar hebat, tapi Saejin bukan wanita usia 18 tahun. Saejin sudah berusia 21 tahun, hal itu membuat pikirannya dewasa. Apalagi mereka sudah memiliki dua orang putra kembar. Saejin sudah tidak memikirkan hal-hal romantis seperti itu, cukup dua orang putra nya saja.

Disini, Baek Hyun sebenarnya ingin menyenangkan hati Ji Ae. Tapi hal ini salah. Tidak seharusnya juga Baek Hyun terlalu larut dalam hal pekerjaan. Mungkin untuk sekali – duakali Ji Ae akan diam saja, jika dilihat-lihat, Baek Hyun hampir setiap hari mengurus pekerjaan. Sering kali melupakan jam makan siangnya sendiri.

Sebenarnya tidak ada yang perlu dipersalahkan. Ini hanya kesalahpahaman yang harusnya dimengerti oleh pasangan menikah usia muda seperti Baek Hyun dan Ji Ae. Baek Hyun harusnya lebih mengerti bagaimana situasi rumah yang sepertinya kurang lega jika ditambahi bumbu ‘menyelesaikan pekerjaan’. Selain itu pikiran Ji Ae yang masih kekanakan.

“Ini hanya bentuk kesalahpahaman. Tidak seharusnya kau terlalu membela pekerjaanmu. Disisi lain harus ada seseorang yang memberi sedikit pengarahan pada Ji Ae. Ji Ae masih SMA Byun Baek..”

“Aku sudah meminta maaf padanya, Lu. Kau fikir aku sudah berapa kali bersabar untuknya? Aku tahu dia masih SMA tapi.. tidak seharusnya dia seperti itu”.

Lu Han hanya menatap Baek Hyun. Ia harusnya tahu, setiap pernikahan memang selalu dicumbui pertengkaran kecil. Hanya sekedar untuk ujian mereka. Chanyeol bergantian menatap mereka berdua.

“Sabar atas dasar cinta dan menyayangi berbeda Baek Hyun. Pertengkaran kecil itu harusnya bisa membuatmu melihat bagaimana sayangnya Ji Ae untukmu. Jelaskan pada Ji Ae jika kau begini karena menyayanginya. Tidak semata-mata dia egois”.

Baek Hyun mulai sadar, mungkin perkataan Lu Han ada benarnya. Dia mencoba memahami Ji Ae, dan sebaliknya, Ji Ae mamahami Baek Hyun. Baek Hyun menganggukkan kepala lalu mengucapkan terima kasih pada Lu Han.

Setelah Chanyeol dan Lu Han berlalu. Baek Hyun termenung sendiri menatap ponselnya. Hatinya  berkecamuk tidak jelas. Setelah pertengkaran semalam Baek Hyun belum mengucapkan minta maaf sekalipun. Ia kesal dengan dirinya sendiri.

Ia terlonjak saat menerima pesan. Ia membukanya dengan jantung berdebar-debar.

From: Ji Ae
Aku sudah baikan.

Hanya sepenggal kata tapi membuat Baek Hyun sedikit lebih lega dari tadi. Mulai bisa bernafas dengan longgar.

To: Ji Ae
Kau pulang jam berapa? Apa setelah dari sekolah kita ke dokter? Bagaimana jika kau ijin saja dari sekolah untuk pulang?

Baek Hyun berani untuk tidak bekerja untuk Ji Ae. Dia tidak ingin gadis itu demam. Tidak tega. Tapi apa gadis itu mau meminta ijin sekolah untuk pulang? Apalagi dia sudah kelas 12. Jam pulangnya saja hampir sama dengan Baek Hyun. Ponselnya berdering lagi. Hanya berseling dua menit dari pesan yang Baek Hyun kirim.

From: Ji Ae
Aku sudah meminta ijin sekolah untuk pulang lebih cepat. Kau tidak perlu khawatir, aku bisa mengurus diriku sendiri.

Ji Ae menolak ajakan Baek Hyun? Tidak bisa dibiarkan. Jangan-jangan Se Hun temannya yang akan mengantar pulang? Ji Ae ingin mencari masalah baru?

To: Ji Ae
Jangan pergi dari sekolah sebelum aku menjemputmu. Tunggu aku di lobby. Jangan sampai kau keluar dari sekolah satu centi pun.

Baek Hyun melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Dia takut terjadi sesuatu dengan Ji Ae nantinya. Jarak antara kantor dan sekolah Ji Ae terpaut 10 menit. Itu jika kota Seoul tidak dipenuhi kemacetan. Baek Hyun meraba ponselnya, tidak ada balasan pesan dari Ji Ae. Gadis itu membuat Baek Hyun ingin melenyapkan dirinya di gunungan es.

Setelah sampai, Baek Hyun keluar dari mobil dan berjalan ke lobby. Di depan gerbang dua satpam menghadang Baek Hyun. Laki-laki itu mendesis, kau tidak lihat aku sedang mengkhawatirkan istriku?

“Permisi, anda mencari siapa?”.

“Aku kemari untuk menjemput Hyun Ji Ae. Kelas 12 IPA 1. Dia sedang sakit..”

Salah satu penjaga sekolah menunjukkan ke arah kanan sekolah. “Dia baru saja berjalan kaki kesana. Dia memang terlihat pucat. Sebaiknya anda cepat-cepat menyusulnya”.

Baek Hyun menganggukkan kepala lalu berlari ke mobil. Melanjutkan mencari Ji Ae di sepanjang jalan. Dan benar saja, Ji Ae sedang berjalan di depannya. Baek Hyun berhenti, sepertinya Ji Ae memang kaget dengan apa yang dilakukan Baek Hyun. Ia turun dari mobil dan menatap tajam Ji Ae.

“Kau tidak membaca pesanku tadi? Kau berjalan dan tidak menghiraukan perintahku? Kau ingin membuat dirimu sendiri celaka?”. Baek Hyun naik pitam. Sedangkan Ji Ae menundukkan kepala. Antara takut dan kepalanya yang sangat pusing.

“Aku sudah katakan aku bisa mengurus diriku sendiri! Urusi saja pekerjaanmu itu”.

“Ji Ae, jangan mulai membuat perkara baru lagi. Kau harusnya tahu jika aku melakukan hal itu untukmu”.

“Aku tidak membuat perkara baru! Untukku? Bisa kau jelaskan-“.

Tiba-tiba ia berhenti berbicara. Ji Ae mengernyit dan memegang kepalanya. Baek Hyun menangkap lengan Ji Ae. Awalnya Ji Ae menolak. Dan tiba-tiba semua terasa buram dan hitam. Ia terhuyung dan Baek Hyun menangkapnya. Baek hyun membawa Ji Ae ke rumah sakit.

*

Pemuda Oh Se Hun berjalan di sepanjang koridor sekolah. Ia tidak tahu kenapa Ji Ae bisa sakit dan pulang jalan kaki. Kemana Baek  Hyun yang notabene kekasihnya? Se Hun selalu siap untuk mengantar Ji Ae pulang ke apartemen. Ke dokter pun Se Hun siap mengantar. Laki-laki itu menuju kelasnya. Di dalam tidak ada guru yang mengajar. Hari ini dia duduk sendiri. Ya, karena Ji Ae pulang lebih cepat.

Se Hun mendekati Ahn Hee, gadis manis yang sangat polos pengagum Jong In. Apa sih yang melekat pada otak Ahn Hee sampai dia menjadi pengagum Jong In? Apa kharisma yang melekat di tubuh laki-laki berkulit hitam itu? Ahn Hee sedikit terkejut dan mungkin hampir terjungkal karena Se Hun tiba-tiba duduk di depannya memberikan senyum yang indah. Ahn Hee tersenyum kikuk.

“Hai, walaupun kita satu kelas, tapi kita tak pernah saling bicara ya?”.

Ahn Hee tersenyum dan menganggukkan kepala. Sepolos apa gadis ini sampai diajak bicara oleh Se Hun saja malu-malu seperti ini. Se Hun berdehem dan mengalihkan pandangan matanya.

“Kau tinggal dimana memang?”.

Ahn Hee menatap Se Hun yang tengah bermain pensil-pensil nya di meja. Kenapa tiba-tiba Se Hun menanyakan dimana dia tinggal? Se Hun orang baik-baik, ‘kan? Ahn Hee harap Se Hun bukan seorang mafia atau seorang penjahat yang sedang menyamar ‘kan? Ahn Hee semakin takut membabi buta saat Se Hun menatap matanya geli.

Benar-benar membuat Ahn Hee mati seketika.

Ahn Hee tidak pernah tahu bagaimana dirinya bisa terlena pada pesona Se Hun dalam waktu sepersekian detik. Matanya melebihi tatapan dingin Jong In pada dirinya. Ahn Hee tak pernah menatap mata Se Hun sebelumnya. Ahn Hee bahkan mengutuk dirinya jika sampai ia jatuh cinta pada Se Hun. Laki-laki itu terus memandang Ahn Hee, gerakan jantungnya. Semua itu seperti sebuah memori baru yang harus disimpan.

Tak berselang lama, Ahn Hee terlihat gugup dan mengedarkan pandangannya di segala penjuru. Untung saja satu kelas tidak memperhatikan mereka. Jika iya, Ahn Hee berharap dimana tempat ia berpijak meruntuhkan dirinya sampai tidak terlihat. Se Hun itu penggoda, harusnya Ahn Hee tahu.

“Kau gugup? Sama denganku kalau begitu”.

Jong In datang dan menghampiri Se Hun yang tengah menggoda Ahn Hee. Mereka pergi keluar ke gedung baru yang belum dipakai karena menunggu barang-barang seperti meja dan kursi. Jong In membawa bekal dari rumah, sudah seminggu ia membawa bekal-bekal itu dan ia makan bersama Se Hun. Se Hun langsung menyantap makanan buatan bibi Jong In yang sangat lezat.

Namun dari arah berlawanan, Kepala Sekolah datang dengan Kang Sonsaengnim. Jong In memandang mereka aneh. Ada apa? Kepala sekolah menyeret mereka untuk masuk ke dalam ruangan Kepala sekolah. Serta membawa dua bekal nasi dan beberapa lauk pauk disana.

“Mulai kapan kalian mengedarkan barang-barang ini?”.

Se Hun dan Jong In tidak mengerti kemana arah obrolan kepala sekolah. Mereka hanya ingin meneruskan makan siang tanpa suasana seperti ini.

“Kalian tidak menjawab?”.

“Apa maksud Sonsaengnim? Kami bahkan tidak mengerti..”.

“Kau mengedarkan Narkoba disekolah, kan?!”.

Jong In melotot dan hidungnya ikut melotot- ah lupakan. Jong In tidak habis pikir. Kepala sekolah mengira mereka mengedarkan obat-obatan terlarang seperti itu? Disini yang bodoh siapa?!

“Kami tidak mengedarkan! Ini hanya nasi biasa beserta lauk pauk yang biasa. Sonsaengnim bisa mencobanya. Jangankan membeli narkoba, sekedar membeli makanan di kantin saja kami tidak mampu”.

Demi Tuhan, Se Hun akan mengecat tubuh Jong In nanti. Kepala sekolah mengerutkan alis dan melipat kedua tangan di atas meja, “Jika hanya makanan biasa, untuk apa kalian makan sembunyi-sembunyi di gedung baru itu?”.

Jong In mendesah, apa ia harus menjelaskannya?

“Aku mengumpulkan uang jajan agar bisa membeli sebuah kemeja untuk berkencan dengan seorang gadis. Jika aku makan di kantin dengan Se Hun, apalagi satu piring berdua bisa saja aku dan Se Hun akan menjadi bujang lapuk sampai lulus..”

“.. karena tidak akan ada satu pun gadis di sekolah ini menaksir kami. Disamping itu jika makan di depan teman-teman akan dibagi dan jatah kami tidak membuat kenyang.”

Kepala sekolah menasehati dan menganggukkan kepala. Jika memang tidak ke jalur yang negatif, tidak masalah. Sebelum mereka dipersilahkan keluar, Jong In memberikan salah satu lauk pada Kepala sekolah.

“Jika sonsaengnim mau, Sonsaengnim bisa pesan padaku..”

*

Baek Hyun mengantarkan makanan beserta coklat panas pada Ji Ae. Gadis itu menyandarkan punggungnya di tempat tidur. Badannya masih cukup lemas dan demamnya sudah tidak terlalu. Sudah lebih baik dari tadi. Ia tersenyum lemas dan menggumam, mengucapkan terima kasih pada Baek Hyun. Baek Hyun mengusap kepalanya lalu menyodorkan coklat panas untuk Ji Ae.

Ji Ae menerimanya, lalu meniup coklat panas yang berada di dalam mug lucu. Setelah kejadian pingsan tadi, Baek Hyun membawa Ji Ae ke rumah sakit. Ia di diagnosa kelelahan dan harus istirahat sebelum ujian dilaksanakan. Baek Hyun mengambil mug dan menyodorkan bubur panas.

“Kau harus makan banyak-banyak”.

“Hng, terima kasih..”

Baek Hyun berlalu dari kamar menuju ruang tengah. Hari ini dia penat sekali. Beberapa kali ia menghela napas. Ia berjalan ke dapur. Mengambil segelas air putih dan langsung meminumnya sampai habis. Baek Hyun merenggangkan tubuhnya lalu berjalan lagi ke ruang tengah. Menyalakan televisi lalu mengganti beberapa channel televisi. Ini bosan. Sangat bosan.

Ia ingin sekali mengajak Ji Ae pergi, tapi hari ini ia sedang sakit. Ia memutuskan  untuk pergi lagi ke kamar menemani Ji Ae. Saat ia masuk ke dalam kamar, ia tidak menemukan Ji Ae di depan meja belajar atau di kamar mandi. Baek Hyun keluar dari kamar. Ia sebenarnya tahu jika Ji Ae berada di belakangnya dan bersiap-siap memberi kejutan. Baek Hyun diam saja dan mencoba memancing Ji Ae sambil memanggil namanya.

Ji Ae mengendap-ngendap perlahan dan semakin dekat dengan Baek Hyun. Setelah kurang dari 3 endapan bersiap mengagetkan Baek Hyun, Baek Hyun juga membalikkan badan lalu mengagetkan Ji Ae.

“Daa!”.

Maksud Ji Ae ia akan mengangetkan Baek Hyun. Namun malah terbalik. Ji Ae yang berada di ujung tangga terkaget dan hampir terjungkal kebelakang.

Baek Hyun menarik kedua tangannya dan otomatis tubuh Ji Ae mendekat pada tubuh Baek Hyun. Baek Hyun mengamati mata Ji Ae dengan lekat. Sedangkan gadis itu membungkam mulutnya untuk tidak berteriak kembali. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin bercucuran.

Gadis idiot.

“Hey, jika tadi kau jatuh lalu terluka bagaimana?”.

Ji Ae berdehem kecil, tangannya terasa hangat menjalar sampai otak karena tangannya bersatu dengan Baek Hyun. Demi apapun, Ji Ae benar-benar melihat tampan dan cute  dalam satu waktu. Ia mencoba tertawa gugup diiringi matanya yang berpelancar ke penjuru arah. Mencoba memalingkan matanya dari mata Baek Hyun.

“Jangan lakukan itu lagi di depan tangga. Itu akan membuatmu terluka. Dan aku tidak ingin kau terluka..”

Baek Hyun mengatakan kalimat itu dengan lirih dan pelan. Terkesan khawatir dan menggoda. Yeah, menggoda. Ji Ae hanya menganggukkan kepala. Ponselnya berdering kembali, dan itu berada di kantongan celana jeans Baek Hyun. Baek Hyun meraba kantongannya lalu mengeluarkan ponsel Ji Ae.

Ji Ae hanya melirik nama ponselnya, nama Oh Se Hun berada di sana. Baek Hyun mengernyitkan alis lalu mengangkatnya. Ji Ae menunggu Se Hun berbicara.

“Heh gadis tengil, aku membawakan buku catatan untukmu. Aku mencatatnya khusus untukmu. Aku akan ke rumahmu nanti oke? Tapi Ye Sul sudah memberitahu dimana apartemenmu, jadi tidak perlu khawatir. Oiya, kau mau dibawakan apa? Kau sudah sembuh kan?”.

Memangnya siapa yang khawatir dengannya? Batin Ji Ae. Baek Hyun memberikan ponsel pada Ji Ae, namun sambungan telfon dari Se Hun sudah terputus.

Ji Ae tidak bodoh.

Ji Ae tidak tuli.

Dan Ji Ae tidak buta.

Apalagi peka dalam perasaan.

Ia tahu jika Baek Hyun cemburu karena telfon dari Se Hun. Apa? Ke apartemen? Ji Ae menatap mata Baek Hyun yang sekarang lebih sendu. Baek Hyun tersenyum kecut, dan membawa Ji Ae turun ke ruang tamu.

“Aku akan bersembunyi, dan temanilah temanmu yang sudah berbaik hati itu”. Ji Ae gelisah dan membalikkan tubuhnya, “Kau.. serius?”.

Baek Hyun menganggukkan kepala dan kembali ke kamar setelah mendengar ketukan pintu. Ia tahu ini terlalu sakit untuknya. Namun ia memilih diam dan menyimpannya. Ia menyayangi Ji Ae dan tidak ingin membuat gadis itu merasa terkekang olehnya. Baek Hyun duduk di kaca besar di ruang tengah atas. Sulit baginya. Ji Ae belum bisa mengerti keadaan hatinya yang rumit.

Baek Hyun tersenyum kecut. Dikalangan klien kantornya, semua nya kebanyakan memang sudah memiliki istri dan seorang anak berkisar 3-4 tahun. Dan Baek Hyun memiliki istri yang kekanakan, murid SMA dan konyol.

Setidaknya dia bisa membuatku jatuh hati padanya.

Baek Hyun mendengar suara sedikit keributan di ruang tamu. Ia sedikit mengintipnya dan terlihat Ji Ae mengusir Se Hun. Awalnya Baek Hyun cemburu, tapi lambat laun ia tertawa melihat kelakuan Ji Ae.

“Ah! Oh Se Hun bodoh! Pergi dari apartemenku! Jika kau memang ingin ditemani seseorang, lebih baik pergi ke rumah Park Yoon Ah saja!”.

“Apa? Bukannya dia kembaranmu?”.

Ji Ae memukul kepala Se Hun dengan buku yang Se Hun bawa. Tidak besar, tapi cukup sakit untuk terkena pukulannya. “Kau menyamakanku dengan gentong minyak itu?! Se Hun! Pergi pergi pergi, cepaaattt! Aaaaaa! Mmmppp-“.

Mereka berdua terjatuh. Oh Se Hun dan Hyun Ji Ae. Di depan pintu apartemen. Terjatuh di lantai. Oh, lebih tepatnya bibir Se Hun jatuh di bibir Ji Ae. Baek Hyun merasa hatinya benar-benar hancur seketika. Bahkan dia adalah suaminya, dan – belum pernah mencium Ji Ae. Apa-apaan ini semua? Baek Hyun segera turun dari tangga. Baek Hyun tidka bisa mengendalikan hatinya. Sekarang semua terasa hancur- sakit.

Ji Ae dan Se Hun bergegas mengendalikan diri. Mereka terlihat gugup. Kilatan mata tidak suka dari Ji Ae terlihat. Bahkan Se Hun tidak tahu jika saat ia mendorong tubuh Ji Ae ia juga ikut terjatuh. Itu semua diluar kendalinya. Se Hun menundukkan kepala, ia tidak berani menaatap Ji Ae. Dia tidak enak hati.

“Kau berani mencium istriku? Bahkan aku saja belum pernah menyentuhnya?! Kau tidak mengerti perasaanku?! Lepaskan aku Ji Ae!”.

Ji Ae terus menarik lengan Baek Hyun, telinganya memerah. Baek Hyun baru saja memukul Se Hun di pipinya. Se Hun melotot bukan main. Ia tidak tahu jika Ji Ae sudah menikah dengan kekasihnya. Bahkan ia tidak menyangka. Ji Ae terus menarik lengan Baek Hyun, mencoba melerai mereka berdua.

“Baek, sudahlah-“.

“Diam dan masuk! Dan kau, OH – SE HUN, keluar dari apartemenku sekarang juga”.

Ji Ae kaget atas gertakan Baek Hyun, ia mundur dan membiarkan Se Hun pergi begitu saja. Mereka bersahabat sejak lama, dan itu membuat Ji Ae yakin itu tidak mungkin ada unsur kesengajaan. Itu hanya karena mereka bercanda. Setelah menutup pintu, Baek Hyun melenggang masuk ke dalam kamar mendahului Ji Ae. Ji Ae mengikuti Baek Hyun yang tidur memunggungi dirinya.

Ji Ae tidak tahu harus memulai ini semua dari mana. Dia tahu Baek Hyun marah besar. Bahkan ia rasa itu tidak bisa dimaafkan. Tidak bisa diotoriter. Ji Ae mencoba mendekati Baek Hyun, tapi laki-laki itu membalikkan badan lagi. Masih di kamar. Ji Ae terus membuntuti Baek Hyun.

Baek Hyun rasanya ingin sekali menangis.

“Baek Hyun, aku minta maaf..”. Ji Ae berkata dengan lirih. Hatinya juga sama sakitnya dengan Baek Hyun.

“Aku- aku menyakitimu. Tapi itu tidak sengaja, kami bersahabat sejak lama dan itu tidak mungkin terjadi unsur kesengajaan“.

“Dan bersahabat bukan alasan untuk dia tidak sengaja menciummu”.

Ji Ae menghela napas lembut. Ia tertidur di sebelah Baek Hyun yang memunggunginya. Ia mulai melingkarkan tangan kanannya di pinggang Baek Hyun. Sebenarnya laki-laki itu juga terkejut. Tapi ia hanya diam saja. Mereka diam sampai beberapa menit lamanya. Tanpa sepatah kata.

Baek Hyun hanya meratapi nasib dirinya yang merasakan sakit hati dalam benaknya. Dia tahu Ji Ae mencintai dia tapi, sepertinya teman Ji Ae yang bernama Se Hun memang menyukai Ji Ae.

Baek Hyun membalikkan badan dan tangan kanannya berganti memeluk Ji Ae. Gadis itu sedang menangis sesenggukkan. Ia juga merasa kecewa karena first kiss nya bukan berasal dari Baek Hyun, seseorang yang ia cintai. Baek Hyun menghapus air mata Ji Ae dengan ibu jarinya. Setelah itu ia mendekatkan tubuh nya dengan Ji Ae.

Ji Ae tidak bersalah.

“Apa yang kau rasakan?”. Satu kalimat yang dipertanyakan Ji Ae. Baek Hyun mengernyitkan alis. “Aku merasakan sakit. Sakit hati yang berlebihan”.

Ji Ae menggelengkan kepala ia semakin merekatkan kepalanya di dada Baek Hyun, “Itu tidak berlebihan. Kuanggap itu suatu bentuk kecemburuan karena kau mencintaiku. Aku tidak mengharapkan first kiss ku diambil olehnya, Baek..”

“Lalu, kau berharap dari siapa?”.

“Darimu”.

Baek Hyun tersenyum, mendekatkan dahi miliknya juga Ji Ae lalu mengecup bibir Ji Ae pelan dan gadis itu semakin menutup matanya, makin deras mengalir air matanya. Baek Hyun ingin memberikan hal yang spesial karena kejadian tadi. Semakin lama, Baek Hyun semakin mempermanis ciuman. Sampai pada akhirnya, ia menyudahi lalu membelai poni depan Ji Ae.

“Aku memang terlambat memberikan first kiss, tapi aku akan memberikanmu setiap saat berapa kalipun yang kau inginkan”.

*

Se Hun berjalan di koridor sekolah menuju parkir motonya dengan keadan pipi berbalut perban coklat. Gaya berjalannya pun sepertinya terlihat malas. Kepalanya semalam berkecamuk tak menentu. Situasi hatinya berbalut dengan kehitaman yang tak bisa ia raba. Semua berjalan seperti roll film yang tak pernah berhenti berputar. Se Hun tahu dia memang bersalah, tapi itu tidak sengaja.

Seharian tadi ia dan Ji Ae berdiam diri. Hanya sepatah dua kata. Dan kini mereka tidak duduk berdua kembali. Mereka tidak lagi duduk bersama.

Dan salah satu fakta yang lebih mengejutkan adalah, Ji Ae sudah menikah. Apa alasan itu logis di kalangan anak SMA? Seperti di drama-drama murahan, seorang siswi SMA menyembunyikan pernikahannya. Se Hun tahu apa alasan Ji Ae selalu takut pulang terlalu lama dan selalu menolak jika Ye Sul atau Se Hun mengantar ia ke apartemen nya yang baru. Jadi, Baek Hyun itu suaminya?

Se Hun menaiki motor merahnya. Hari ini hatinya buruk. Suasananya tidak seperti biasanya. Lebih diam dan menutup diri dengan pikiran masing-masing. Se Hun melihat Ji Ae menghampirinya. Ia bersila tangan di depan dada, Ji Ae menatapnya sengit.

“Aku minta maaf atas kejadian Baek Hyun memukulmu”. Ji Ae sebenarnya kasihan dengan bocah cedal ini. Tapi apa daya yang ia miliki, dia sudah terlanjur jengkel.

Se Hun tersenyum tipis. Semudah itukah Ji Ae meminta maaf?

“Maaf? Mudah sekali..”

Ji Ae mengernyitkan alis. Apa yang Se Hun mau? Dia sudah meminta maaf karena insiden pemukulan Baek Hyun semalam karena tingkah bodohnya. Se Hun mendekatkan tubuhnya dengan Ji Ae, lalu bibirnya mendekat dengan telinga Ji Ae. Sangat dekat.

“Jadilah  kekasihku..”

WHAATTT THEEEEE?

Ji Ae mendengus kesal. Menatap Se Hun yang mengerling jenaka, membuatnya semakin terlihat bodoh. Ji Ae tersenyum kecut dan menggelengkan kepala. “Kau sudah tahu faktanya, aku sudah memiliki suami Oh Se Hun..”. Saat Ji Ae mengatakan hal ini, ia sedikit berbisik-bisik menjerit tertahan. Se Hun mengendurkan bahunya seolah-olah ia berkata, ‘aku tidak peduli’.

“Aku sudah meminta maaf. Jadi terserah kau saja…”

Se Hun menahan pergelangan tangan Ji Ae. “Kau ingin rahasia  pernikahanmu terbongkar?”.

Ji Ae mengernyitkan alis. Ia menggigit bawah bibirnya. Matanya tidak bisa fokus dalam satu posisi. Apalagi otaknya. Ia pikir ini tidak lucu dan realistis. Dia dan Baek Hyun baik-baik saja sebelum ini semua terjadi. Kehidupan pernikahan yang manis dan menggelikan. Tapi Ji Ae benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Demi neptunus, apapun akan Ji Ae lakukan kecuali melakukan hal bodoh ini.

Se Hun masih pada tempatnya, dan tak lagi menahan pergelangan tangan Ji Ae. Lelaki itu tahu, Ji Ae tidak mungkin menolak ini karena terkait dengan image– nya. Apalagi dia sudah SMA kelas 12 yang sebentar lagi akan lulus ujian. Se Hun harus menunggu jawaban Ji Ae dengan cukup lama sampai gadis itu memutar badannya.

“Kau gila. Kau sahabatku…”

Ya, benar. Se Hun adalah sahabat Ji Ae. Ji Ae menangis. Ia tidak menyangkan sahabat yang paling dekat dengannya setega itu terhadap dirinya. Kenapa ini semua harus terjadi? Kenapa harus Se Hun? Se Hun tidak peduli. Bahkan ia akan lebih egois daripada ini semua.

“Aku sahabatmu. Tapi aku menyukaimu”. Ji Ae menggelengkan kepala. Dia tidak mau sampai kapanpun.

“Aku akan memberimu waktu Hyun Ji Ae. Yang pasti jawaban itu jangan terlalu lama, aku pergi dulu”.

Saat Se Hun pergi melaju, ia berjalan gontai dan berjalan ke depan gerbang. Sayangnya ia tidak menemukan mobil Baek Hyun didepan. Tidak ada. Ia mengecek ponselnya dan menelfon Baek Hyun, hasilnya nihil. Ji Ae duduk di depan sekolah. Ia takut saat ia pulang berjalan kaki nanti, Baek Hyun akan menjemputnya. Walaupun siswi-siswa sekolah sedikit demi sedikit menghilang dari pandangannya.

10 menit.

30 menit.

1 jam.

3 jam.

Tidak ada tanda-tanda Baek Hyun menghubungi dirinya dan ia mulai berjalan pelan-pelan. Apalagi mendung sudah terlihat, sebentar lagi akan turun hujan. Ji Ae tahu, pasti Baek Hyun ada pekerjaan yang sangat sulit ia tinggal. Tapi paling tidak harusnya Baek Hyun memberitahu dirinya kan? Paling tidak ia mengirim pesan. Ji Ae melewati cafe-cafe yang terkenal dengan masakan eropa.

Uh, mengingatnya membuat Ji Ae lapar.

Namun, mobil merah yang terparkir di depan salah satu cafe adalah mobil Baek Hyun. Ji Ae berlari dan menghampiri mobil Baek Hyun. Di dalam mobil kosong. Ji Ae memutar-mutar badannya mencoba mencari Baek Hyun. Bahkan Ji Ae berdiri di depan mobil Baek Hyun bermenit-menit. Karena ia haus, ia memutuskan untuk membeli es krim gelatto. Setelah ia membeli, Ji Ae membayarnya dan mobil Baek Hyun sudah hilang dari tempatnya.

Ji Ae cepat-cepat mengejar mobil Baek Hyun yang belum hilang dari pandangan. Dan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Ji Ae berhenti mengejar, ia duduk di depan halte. Ia menangis. Hatinya teriris dan sepertinya hujan membuatnya tidak terlihat menangis. Es krimnya pun sudah meleleh dengan keadaan menyedihkan. Ji Ae melipat tangannya di dada. Dingin menyusup ke tulang-tulangnya.

Ia merasa ponselnya berbunyi. Ia mendapati Baek Hyun menelfonnya. Dengan tangan bergetar, Ji Ae mengangkatnya.

“Ji Ae, kau dimana? Kau sudah pulang? Aku berada di depan sekolahmu, aku menjemputmu. Maaf aku terlambat karena harus bertemu dengan teman lamaku lalu kami melanjutkan-“.

“Hng, aku tahu. Kau selalu sibuk..”

“Kenapa suaramu? Hei, kau ada dimana? Kau masih diluar? Kenapa suara hujan sangat berisik?”.

“Kau tahu dimana kau parkir tadi? Aku berada di depan halte..”

“Hah? Tunggu aku! Jangan pergi kemana-mana! Ini hujan!”.

Ji Ae menutup ponselnya.

Apa pedulimu terhadapku?

TBC

121 responses to “My Cutties Husband (Chapter 2)

  1. Aku ada baca ini di fb… Tapi baru chapt 1-nya…
    Wah… Aku gak nyangka kalo Sehun suka Jiae… Konfliknya nambah satu…
    Next thor 🙂

  2. huaaaa….kalau beneran jdi istrinya baekyhun mau :o….,tpi kasihan sma ji ae kok baekyhun gtu sih…(kn harus jadi suami yg baik 🙂 ) ..sehun..ah,, jangan buat pernikahan ji ae sma baekyhun rusak,,kn sayang banget…:'(

    fto cwek yang di laptop baekyhun siapa sih?????bikin penasaran…
    next ya…:D…gomawo

  3. Hbungan suami istri yang rumit -_- baekhyun juga sih kyak tergila-gila gitu sama pekerjaan, ji ae jadi kurang belaian *eh kurang kasih syng maksudnya haha sehun jga nyebelin ah pake ngajak pacaran sama org yg udah punya suami.. Ditunggu next chap nya

  4. Hadeuuh mereka berdua bener2 bikin gemes Dan complicated banget, Ji ae pengen Baekhyun itu lebih perhatian tp Baekhyun lg sibuk sm pekerjaan, Ji ae jd tertekan gr2 nikah muda aissshhh 😮

  5. Kok sehun gitu yaaah ? Parah bgt sih
    Hmm ji ae jg emang kekanakan sih ..
    Baek jg sibuk bgt ..
    Haduuuh bingung jadinya hahahhaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s