It’s Not You [Part 6]

It's Not You Part 6

It’s Not You

Author            : Dwi Tesna Andini

Tittle               : It’s Not You

Length            : Chaptered

Rating             : PG-15

Genre             : Romantic, Comedy, Angst

Cast                : Chorong, Donghae, Krystal

 Previous : 5

Author balik lagi nihh, semoga suka… chapter ini sengaja aku panjangin, biar gak nanggung. Hehehee. Keep RCL and happy reading!!!!

* * *

“Masuklah, ini kamar Donghae. Kalian habiskan malam pertama kalian di sini dulu.”

Perempuan paruh baya itu membukakan pintu untuk Chorong. Chorong sempat tertegun melihat kamar lebar yang di dominasi oleh warna putih itu. Di dalamnya terdapat kasur berukuran besar, disampingnya terdapat meja kecil yang menampung lampu tidur. Chorong menarik nafasnya, terasa sekali bau bunga lili mendominasi ruangan itu. Sepertinya ia akan betah lama-lama di sini. Sayangnya Donghae telah memberitahukan bahwa besok mereka sudah harus kembali ke ibu kota. Chorong berfirasat bahwa tinggal di rumah ibu Donghae jauh lebih menyenangkan, setidaknya ibunya lebih memahami perasaannya.

“Ne, terima kasih eomma,”

“Ingat! Buatkan cucu untuk eomma,” bisik ibu Donghae

“Ahhh?” ujar Chorong dengan mata melebar.

Membuatkan cucu? Maksudnya melakukan hubungan intim? Ahh mana mungkin ia melakukan itu. Bukankah perkawinan ini hanya pura-pura. Tapi tidak ada ruginya juga menuruti perintah Ibu Donghae. Chorong melihat ke arah samping. Ternyata ibu Donghae sudah berlalu meninggalkannya. Ia mengangkat gaun pengantin yang masih membalut tubuhnya, kemudian memasuki kamar mereka(?)

Ceklek

Suara pintu kamar mandi terbuka. Ia keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk. Sambil mengelap rambutnya yang basah. Chorong tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat Donghae sudah berada dalam kamar. Untung saja handuk yang ia pakai tidak jatuh. Kalau tidak, ia tidak bisa bayangkan apa yang terjadi.

“Yaa. Kau sedang apa di sini?”

“Ini kan kamarku. Tidak boleh?” respon Donghae jutek. Ia tak kalah kagetnya melihat Chorong hanya di balut oleh kain tebal minimalis itu.

“Iya boleh.” Ia tidak memiliki kosa kata yang tepat untuk membantah Donghae.

“Lalu kenapa kau marah. Hah? Seharusnya aku yang marah karena kau melakukan porno aksi di sini.”

“Aku kan tidak tahu kau akan berada di sini. Lagi pula kau kan sudah tahu aku sedang mandi. Setidaknya kau keluar dulu sampai aku selesai mandi,” sela Chorong.

“Sudah kubilang ini kamarku.jadi aku berhak melakukan apa pun di sini.” jawabnya sambil mengambil handuk yang tergantung di samping lemari.

“Ya kau…”

Ceklek

Belum selesai Chorong membantah Donghae sudah memasuki kamar mandi. Suara omelannya sudah tertelan oleh suara air yang mengguyur badan Donghae.

Chorong merebahkan badannya di kasur. Ia memanjangkan kaki dan tangannya untuk melemaskan sendi-sendinya. Hari ini memang sangat membahagiakan sekaligus melelahkan baginya. Ia menelungkupkan badannya dan berenang di atas kasur. Nyaman sekali!

“Yaaa itu bukan kolam renang.”

Ucapan Donghae membuat Chorong terlonjak. Ia mengangkat badannya dan kembali terlonjak saat melihat Donghae bertelanjang dada.

“Yaa sedang apa kau di sana? Cepat bungkus tubuhmu.” Chorong menutup matanya dengan selimut.

“Ini kan kamarku, jadi aku bebas melakukan apa-apa.” Donghae mengambil piamanya dalam lemari.

“Zzzz”

“Kenapa kau tak merespon, apa kau sedang mengintip?”

“Siapa yang mengintip? Dasar mesum.”

“Tidak usah jual mahal. Bukankah kau menginginkan tubuhku.”

“Ya double mesum.” Chorong mencubit lengan Donghae yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.

“Siapa yang menyuruhmu tidur di situ? Di sofa sana masih luas.” Donghae menunujuk sofa yang tidak jauh dari tempat tidur.

“Aigoo hari ini aku lelah sekali. Rasanya leherku mau patah. Au, sakit.” Chorong memegang lehernya yang sebenarnya tidak sakit.

“Jangan pura-pura. Cepat minggir dari sini.” Donghae menarik tangan Chorong.

“Aku tidak mau,” cegahnya. Tangannya mencengkram ujung atas kasur.

“Ini kamarku.” Bantah Donghae tak mau kalah.

“Kau kan laki-laki seharusnya kau yang mengalah. Dasar IQ jongkok.”

“KAU BILANG APA?”

“Donghae-ssi kalau mau tidur. Silahkan saja tidur di sini,” sambil tersenyum Chorong menepuk-nepuk kasur yang sebenarnya cukup untuk empat orang.

“Aku tidak sudi tidur denganmu,” tolaknya. Ia mengambil bantal dan selimut kemudian beranjak ke sofa.

“Selamat tidur yeobo,” ucap Chorong mesra.

“Yaa berhenti memanggil seperti itu.”

“Selamat tidur IQ jongkok.” Chorong menelungkupkan badannya siap menuju alam mimpi.

“Yaa kau mau cari mati hah?”

“…….”

“Aish.” Donghae menggerutu sendirian. Ia menelungkupkan badannya dengan selimut mencoba untuk tidur.

“……”

Lewat tengah malam, Donghae keluar dari selimutnya. Ia tidak terbiasa tidur di sofa. Badannya terasa mau patah. Berapa kali tubuhnya hampir jatuh ke lantai.

“Chorong-ah apa kau sudah tidur?”

“……”

“Aish.. bisa-bisanya dia enak-enakan tidur sedangkan aku di sini sengsara merajalela,” gerutunya lagi.

Donghae mengambil selimut dan bantalnya. Tubuhnya kini sudah berada dekat Chorong. Untung saja perempuan ini tidak ngorok. Jika iya, barangkali ia sudah menyumpal kupingnya dengan kapas.

Chorong mengerjapkan matanya. Ia masih belum percaya dengan apa yang di hadapannya sekarang. Ia mengucek matanya dengan pungung tangannya. Dia memang tidak salah liat. Lelaki yang dia sayangi, sekarang berada hanya beberapa inci dari wajahnya. Ia bisa merasakan hembusan nafas laki-laki itu.

Chorong tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Ia tetap pada posisinya yang semula sambil fokus menatap Donghae. Apa sebenarnya yang membuat ia tertarik terhadap laki-laki ini. Lebih dari lima tahun matanya seakan dihipnotis oleh pesona Donghae. Memang apa yang menarik darinya. Chorong satu persatu menatap setiap lekuk wajah pria yang matanya masih tertutup itu. Ia mulai menatap alisnya, biasa saja tidak ada yang menarik. Tatapannya kemudian beraih menuju hidung yang mungil namun lancip. Pantas saja ia tampan, hidungnya bisa dikatakan sempurna. Tatapan Chorong terhenti saat melihat ukiran tipis kemerahan itu. Inilah bagian yang ia suka dari Donghae. Chorong memegang dahinya dan tersenyum. Mengingat kembali saat dahinya ditempel oleh bibirnya. Suatu saat nanti bibir itu akan menempel di bibirnya.

Pandangan Chorong terhenti saat mata laki-laki itu terbuka. Mata itu semakin lebar. Mata mereka beradu. Gigi Chorong terkatup rapat. Nafasnya terhenti saat itu juga. Tubuhnya seakan kaku.

Tubuh Donghae terlonjak. Donghae memekik. “Apa yang kau lakukan,” ujarnya sambil menjauh dari tubuh Chorong.

“Kau apalagi, apa yang kau lakukan semalam?”

“Jawab dulu pertanyaanku.”

“Pertanyaanku lebih penting.”

“Dasar gadis keras kepala.”

“Apa kau bilang?”

Donghae mengucek rambutnya. “Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri,” godanya.

“Kau melakukan itu? Kau merampas tahtaku?” Chorong menekuk badannya dengan takut.

Pletak

Donghae memukul jidat Chorong, “Dasar IQ tidur, mana mungkin aku melakukan itu sedangkan pakaian yang melilit badanmu saja masih utuh. Lagi pula mana mungkin aku nafsu dengan gadis kurang gizi sepertimu.”

“Aku juga tambah tak nafsu denganmu, dasar manusia kurcaci.”

Telapak kaki Chorong berhasil mendarat di betis Donghae. Kedua tangannya menempel ke telinga untuk menghindari suara teriakan mahluk di sekitarnya. Ia beranjak ke jendela kemudian membuka tirai yang menutupinya. Matanya menyipit saat sinar matahari masuk ke ruangan. Benar-benar sudah siang. Apa kata mertuanya nanti jika tahu anak mantunya baru bangun jam segini.

* * *

Sore itu mereka pamitan untuk pulang. Padahal rencananya, begitu matahari terbit mereka akan langsung pulang. Selain karena bangun kesiangan, nenek Donghae juga menahan tangan Chorong untuk bermain kartu bersamanya.

“Kami pulang dulu eomma. Ronde kedua kami akan lanjutkan di apartemen saja.”

Suatu benda tiba-tiba saja berhasil menghantam telapak kakinya. Benda itu tak lain adalah sepatu Chorong. Donghae mendekap mulutnya sebelum teriakannya meluap.

Donghae buru-buru membuka pintu mobil untuk Chorong sebelum seluruh tubuhnya menjadi bahan amukan istrinya.

Dalam perjalanan Chorong tak henti-henti menunjukkan kekagumannya melihat pesisir pantai. Ia memang seorang ekstrover. Selalu mengekspresikan perasaannya dengan terbuka. Plus dia adalah sosok yang bermuka tebal, jadi dia tidak malu menyatakan kekagumannya saat melihat pemandangan yang sebenarnya ia pernah lihat berkali-kali. Kadang-kadang ia sampai memekik dan tertawa. Dia benar-benar gembira. Dia selalu menumpahkan perasaannya terus terang.

Berbeda dengan Krystal. Entah kenapa Donghae membandingkannya dengan perempuan yang ia rindukan selama empat musim ini. Krystal tidaklah seperti Chorong. Dia adalah seorang introver.

Meskipun mereka sama-sama bernama Chorong. Namun sifat mereka jauh berbeda. Jika Chorong sibuk meluapkan kekagumannya. Berbeda dengan Krystal ia lebih sering menutupi perasaannya. Bagaimanakah dia sekarang? Apakah dia masih secantik yang dulu?

Chorong kembali memekik saat melihat apartemen Donghae. Satu persatu benda yang dekat dengannya ia pegang setelah itu ia akan menunjukkan kekagumannya.

“Yaa berhentilah bersikap kampungan seperti itu.”

“Aku akan melakukannya hanya di depanmu.”

“Mustahil.”

“Apa perlu aku melakukan pembuktian untuk kedua kalinya?” pancing Chorong.

“Terserah kau sajalah. Kamarmu ada di sini.” Donghae membuka pintu kamar Chorong.

Chorong berlari memasuki kamarnya. Menaiki kasurnya sambil kegirangan. “Wah empuk sekali.”

“Jangan sembarangan masuk ke kamar orang. Kamarku ada di sebelahmu,” ujarnya menunjuk ruangan sebelah.

“Kalau kau sudah selesai bicara, cepat keluar dari sini,” usir Chorong.

“Tanpa kau suruh, aku juga akan keluar.” Donghae menutup pintu Chorong dengan sedikit kasar.

* * *

Chorong muncul tepat saat Donghae membuka pintu kamarnya.

“Kau belum tidur?”

“Seperti yang kau lihat.”

“Mau menemani aku minum?” tawar Chorong.

Donghae hanya mengangkat bahunya.

Di bawah sinar lampu di langit-langit rumah, Donghae sudah duduk di meja keluarga. Sementara Chorong membuka pintu kulkas. Tidak ada persedian makanan di sana. Makanan di sana hanya cukup untuk mereka sarapan besok. Mau tidak mau ia harus membeli keperluan rumah tangga.

“Yaa kenapa melamun di situ. Cepat bawakan aku minuman.”

Aishh dasar bocah beringas, apa dia tidak pernah diajarkan untuk bersabar, pikir Chorong sambil mengambil kola kaleng yang masih tersisa di sana. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Donghae.

“Persediaan makanan kita sudah habis.”

“Lalu?” tanya Donghae santai.

Chorong mulai geram. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Mereka kan sudah berumahtangga dan kewajibannya adalah memberi penyumpal mulut untuk istrinya.

“Apa kau hanya mau makan mie instan, hah?”

“Tidak juga.”

Chorong akhirnya diam, tak mau lagi berdebat dengan Donghae. Percuma berdebat dengannya, dasar otak batu. Bisanya hanya membuat orang makan hati.

“Chorong-ahh..” panggilnya.

“……”

“Aku cuma bercanda. Besok aku antarkan kamu ke super market. Mau tidak?” tawarnya.

Chorong menyipitkan matanya, menatap Donghae, “Akhirnya otakmu berfungsi juga.”

Chorong menyodorkan minuman untuk Donghae.

“Berdebat denganmu, membuatku harus mengeluarkan air liur ekstra.” Donghae mengambil minuman itu. Sebelum membukanya, terlebih dahulu Donghae menempelkan benda dingin itu ke pipi kanannya. Beralih ke lehernya, kemudian ke pipi kiri hingga ke dahinya. Tangannya beralih membuka penutup di atasnya. Minuman bersoda segar itu sudah berhasil masuk ke dahaganya.

Chorong mengambil minumannya dan sebelum membukanya ia menempelkan kaleng itu ke pipi kanannya. Persis seperti yang dilakukan oleh Donghae.

“Yaa, kenapa kau mengikutiku.” Protes Donghae saat menyadari Chorong mengikuti kebiasannya.

“Aku memang selalu melakukan itu sebelum meminumnya.”

Donghae hampir tersedak mendengar pengakuan Chorong.

“Apa?”

Chorong keceplosan. Kalau sampai Donghae tahu bahwa dirinya telah menjadi stalker-nya sejak dulu. Mungkin pria itu akan mengawang di atas awan.

“Aku hanya ingin mengikuti tingkahmu yang konyol,” jawabnya asal.

“Sudah tahu konyol, masih saja diikuti.” Donghae menatapnya sambil tersenyum. Senyumnya begitu menyejukkan. Begitu nyaman. Tak ada lagi surga yang lebih indah dari senyuman itu.

Donghae menggeser kursinya. Dia melangkah ke lemari di samping ruang TV. Apa yang sedang dilakukannya? Donghae menjijit badannya untuk mengambil kertas dan pulpen.

“Buat apa?” tanya Chorong sekembalinya Donghae dari tempat duduk.

“Kita bikin bulir-bulir perjanjian.” Donghae berpikir sejenak kemudian menulis sesuatu.

“Apa ini menyangkut perjanjian pernikahan kita.”

“Cerdas nona lampir,” ujarnya tanpa menoleh ke arah Chorong. Tangannya masih sibuk menulis. Sesekali ia menyemburatkan senyum.

“Ini,” Donghae menyodorkan benda itu kepada Chorong.

Chorong membacanya.

Surat Perjanjian Pernikahan Kontrak

  1. Pernikahan ini berlangsung selama satu tahun.
  2. Tidak boleh melakukan kontak fisik terhadap pasangan.
  3. Tidak boleh mencampuri urusan orang lain.
  4. Berhenti memanggil Donghae dengan sebutan toa, kurcaci maupun IQ jongkok.
  5. Tugas Chorong membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju, dan memasak untuk suaminya.
  6. Salah satu pasangan tidak diperkenankan membocorkan pernikahan kontrak ini kepada pihak lainnya.

Surat ini dibuat sebenar-benarnya dan dalam keadaan normal.

“Aishh kenapa banyak sekali.”

Chorong mencoret bagian yang keempat, kemudian dia menuliskan sesuatu di bawah tulisan Donghae.

“Yaa kenapa kau mencoret bagian yang keempat?” tanyanya setelah kertas itu sudah kembali ke tangannya.

Donghae menyipitkan matanya, “Donghae harus bisa memenuhi kebutuhan materil Chorong selama pernikahan ini berlangsung.”

Donghae menaruh kembali kertas di atas meja kemudian berujar, “kau matre sekali.”

“Itu realistis, Donghae-ssi.”

“Apanya?”

“Dengar ya. Orang yang sukses itu adalah orang yang bisa menikahi orang kaya.”

Donghae melemparkan pena ke wajah Chorong.

“Dasar perut bank. Di otakmu hanya uang dan uang. Besok kalau kita bercerai aku tetap akan menafkahimu sampai kau bosan dengan uang.”

Cerai? Kalimat itu begitu lancar diluncurkan. Benarkah Donghae hanya menganggapnya sebagai pendamping sementara?

* * *

“Ahjussi, berikan aku pepsi kaleng satu,” ujar Chorong saat berada di cafetaria kampus.

Ini adalah hari kelima ia menyandang sebagai mahasiswa baru. Seperti biasa ia tak punya teman di sini.

“Maaf pepsinya sudah habis nona. Apa kau mau memesan yang lain.” penjual minuman itu menunjuk beberapa minuman yang terpajang di belakangnya.

Chorong melirik dagangannya. Tenggorokannya sudah kering dari tadi.

“Aku pesan Cola dingin.”

Penjual minuman itu beralih ke belakang, mengambil minuman yang dimaksud. Sementara Chorong sedang berjongkok, bermaksud mengikat tali sepatunya yang sempat lepas.

“Aku ambil Cola ini,” ujar pria yang sekarang tepat di samping Chorong. Chorong mengadahkan kepalanya ingin melihat siapa pemilik suara itu. Laki-laki itu tak berhenti mengeluarkan keringat. Pria itu mengambil Cola yang dipesan Chorong sebelumnya kemudian menempelkannya di pipi. Donghae, teman sekelas Chorong. Dialah yang berdiri di sampingnya kini. Sosok pria dengan porsi yang menawan.

“Minuman ini punya nona…” suara penjual minuman itu terpotong saat orang yang dimaksud tak terlihat dari pandangannya.

Donghae meneguk minumannya, “Maksud paman, nona yang berada di bawah saya ini.”

Penjual minuman itu mengangguk

Chorong yang dibicarakan kembali menunduk. Ia tak berani menunjukkan wajahnya dalam posisi seperti ini. Chorong pura-pura kembali sibuk dengan tali sepatunya.

Donghae menyodorkan beberapa lembar won, “Aku beli Cola-nya dua, satunya berikan pada nona ini.”

Donghae menundukkan badannya. “Makasih nona,” ucapnya. Tangannya yang lentik menepuk pelan kepala gadis yang wajahnya masih tertutupi oleh rambut.

Tangan Chorong terhenti, persis seperti detak jantungnya yang tiba-tiba berhenti. Panorama di sekitarnya seakan disulap menjadi kebun bunga tulip.

Semenjak itu Chorong sudah mengerti akan kebiasaan Donghae. Pria yang memiliki otak encer itu akan menghampiri penjual minuman setelah ia bermain basket. Chorong sengaja menunggu kedatangan Donghae. Sosok pria yang dinanti akhirnya menampakkan diri juga. Kini ia datang dengan mengenakan kemeja kotak-kotak dengan kancing yang sengaja terbuka menampilkan kaos putih ketat bertuliskan I Love NY.

“Aku ambil Cola ini,” ucapnya menyambar minuman yang sudah tegak di atas etalase. Sebenarnya Cola itu sudah dipesan oleh Chorong. Seperti biasa ia menempelkan Cola itu ke wajahnya. Saat meneguk minuman itu, Donghae tersadar ada gadis yang berdiri di sampingnya. Gadis itu memalingkan wajahnya sehingga yang tampak adalah rambut coklatnya.

“Owh jadi ini milikimu nona?” tanyanya.

Gadis itu hanya mengangguk pelan.

“Akan ku pesankan satu lagi untukmu,” tawar Donghae untuk menebus kesalahannya. Donghae pamit pergi setelah membayar minumannya.

Hampir setiap hari Chorong melakukan aktivitas yang sama, yaitu sebagai penguntit. Meskipun di kelas dia tetap bisa melihat Donghae namun atmosfernya jauh lebih nikmat jika melihatnya di cafetaria. Matanya jauh lebih fokus melihat sosok yang membelakanginya kini.

Chorong mulai meniru kebiasaan Donghae, yaitu menempelkan minuman ke wajahnya. Teori yang dipraktikan Donghae benar-benar berhasil membuat orang menjadi lebih segar.

Chorong meneguk minumannya. Tatapannya tak lepas dari Donghae. Chorong masih menimbang-nimbang kalimat apa yang mesti dilontarkannya saat duduk di sebelah Donghae. Chorong mulai berkicau sendiri.

“Apa kau sudah makan?” ujarnya sambil membuat wajah menggemaskan.

“Ahh jangan. Aku tidak punya uang untuk mentraktirnya. Apa aku ajak dia membahas boyband Infinite. Ahh jangan, mana mungkin dia menyukai itu.”

Chorong mengetuk-ngetuk kepalanya. Berpikir keras seolah ia sedang menjawab soal ujian.

“Ahh kenapa aku tak ajak dia berbincang tentang strategi marketing saja. Kurasa dia senang diajak diskusi.”

Dengan semangat Chorong melangkahkan kakinya. Tangannya melompat bebas ke udara. Langkahnya mulai berhenti. Matanya memandang penuh kekecewaan. Gadis yang bernama Krystal berhasil meruntuhkan niatnya. Kini gadis itu menggeser kursinya dan duduk di sebelah Donghae. Persis seperti apa yang ingin dilakukan Chorong saat ini. Waktu memang sangat berharga, seandainya ia tidak telat lebih dari semenit. Mungkin sekarang ia sudah berada di sisi Donghae.

Chorong kembali duduk di kursinya semula. Matanya tidak terlepas dari dua orang yang berada di depannya. Chorong bisa mendengar gelak tawa dari keduanya. Sesekali Krystal menggamit lengan Donghae, terkadang juga memukulnya pelan. Begitu juga dengan Donghae, ia terlihat menepuk kepala Krystal dengan pelan.

Chorong bisa merasakan ada aura cemburu yang mendominasi perasaannya. Ia meletakkan tangannya di atas kepala. Seharusnya tangan Donghae lah yang hinggap di kepalanya. Krystal si nenek sihir telah berhasil menghancurkan khayalan sang putri.

* * *

Donghae hanya mengikuti langkah Chorong. Tak ada protes darinya, hanya dalam hati dia banyak menggerutu. Mulutnya terus manyun melihat tingkah Chorong yang kerjaannya memilih barang kemudian mengembalikannya lagi. Begitu juga dengan Chorong ia kesal dengan Donghae. Saat ditanya pasti ia akan menjawab “terserah kau.”

Setelah penantian panjang ala Donghae berakhir, kini mereka melangkahkan kaki keluar super market hendak menuju parkiran. Kedua tangan Chorong menjinjing kantong plastik untuk persediaan rumah tangga mereka.

“Kau tidak lihat aku tak kuat menjinjing ini.” Chorong menyodorkan plastik di sebelah tangan kirinya kepada Donghae.

“Cepat ambil ini,” paksanya.

Donghae menyambar kantong plastik dari tangan Chorong, “Lagian kau beli apa saja sehingga banyak seperti ini.”

“Malam ini kau mau makan apa?” tanya Chorong riang.

Donghae berpikir sejenak, “Aku ingin makan spagethi bolognaise.”

“Baiklah, biar aku yang masak.”

Donghae mengerjap-ngerjapkan mata, langkahnya terhenti merasa heran dengan jawaban Chorong yang tak terduga.

“Kau bisa masak?” tanyanya.

“Tentu saja, memangnya kenapa?”

“Bisa dimakan?”

Chorong tertawa renyah, “Aku pastikan masakanku sangat enak, sampai kau tak merasakan kupingmu ada di mana?”

“Istriku memang sempurna,” ujar Donghae sambil mengelus kepala Chorong.

Chorong menundukkan kepalanya. Sentuhan itu membuatnya kembali mengenang masa lalu. Donghae yang merasakan tubuh Chorong semakin ke bawah. Kemudian mengalihkan tangannya dan merangkul Chorong. Jantung Chorong berolahraga lagi.

Donghae menatap wajah Chorong lekat-lekat.

Kenapa dia menatapku seperti itu, aku tak berani menatap matanya. Appa eomma apa yang bisa kulakukan? batin Chorong.

Tatapan Donghae terhenti saat ia merasakan seseorang menabrak dirinya dari depan. Kantong plastik yang dipegangnya jatuh dan isinya telah tercecer di tanah. Chorong tersenyum, akhirnya ia terselamatkan dari tatapan itu.

Donghae mengambil beberapa barang yang terecer di tanah, begitu pula dengan Chorong. Orang yang menabrak tadi juga ikut membantu. Saat tubuhnya mendekat, Donghae dapat mencium bau badannya. Donghae dengan cepat mengangkat tubuhnya, begitu pula dengan orang itu.

Mereka saling tatap, lama sekali. Chorong yang merasa Donghae tak lagi menolong memungut belanjaannya. Mempercepat tangannya mengambil barang tersebut. Setelah selesai, ia mengangkat badannya. Dan…

“Krystal,” ucapnya dengan suara tercekat.

Krystal mengalihkan pandangannya dan berlari.

“Chorong-ssi kau bisa pulang sendiri kan?” tanya Donghae, tubuhnya sudah tak sabar menggapai Krystal. Chorong tak menjawab pertanyaan Donghae. Mulutnya masih kaku untuk digerakkan.

“Sampai ketemu di apartemen,” ucap Donghae. Kini langkahnya sudah menyusul Krystal. Dengan kilat pandangan Chorong sudah tak melihat Donghae lagi. Jalanan tak lagi sesepi hatinya. Angin terasa menghempaskan tubuhnya dari bumi.

Chorong melanjutkan langkahnya menuju halte. Ia merapatkan jaket yang dikenakan. Ia sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Dingin yang mengundang tak dapat ia rasakan. Syarafnya sudah tak bisa bekerja lagi. Yang hanya ia rasakan saat ini adalah rasa sakit di hatinya. Sakit sekali. Nenek sihir kembali lagi menghancurkan impian sang putri.

Butuh tenaga ekstra untuk menyeret kakinya sampai ke halte. Chorong meletakkan kedua plastik itu ke sisinya. Tangannya mencengkram besi tempat duduknya. Kedua kakinya menendang-nendang batu kerikil. Seharusnya kaki itu akan terasa sakit oleh hempasan benda tajam yang mengenainya. Namun ia tak merasakannya sama sekali.

Matanya menatap kosong ke bawah. Batu kerikil itu terlihat seperti berlian akibat kilauan cahaya dari lampu-lampu di tepi jalan. Tak hanya kerikil di sana. Bongkahan batu kecil juga turut menemaninya.

 

To Be Continued

 

7 responses to “It’s Not You [Part 6]

  1. nyesek baget jadi chorong….

    sabar rong!! donghae oppa udah mulai suka kog sama elu 🙂

    keep writing thor n fighting

  2. Hiiih… Kejamnya si donghaee!! Tp ini alurnya asa kecepetan 😥 blom si chorong merasakan kebahagiaan, eeh si kristal udah nongol lagi.. Pfft..
    Ditunggu chapter seanjutnya ya eoon.. Feelnya masih kurang nih antara di donghae ama chorong..

  3. Pingback: It’s Not You [Part 7] | FFindo·

  4. Awalnya yg baik2 sja. Tiba2 datang kristal smuax bgmn? Ih apa sih maunya si donge. D stu sisi dia nikmati perannya jdi suami. D sisi lain masih berharap ma kristal yg ninggalin dia. Sbnarnya status dia ma kristal gmn sih?? Gak ada kata putus kan, brarti masih pacaran dong. Trus chorong gmn dong, ?? Bahagiain dikit dong chorongnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s