Long-terms Memories – Chapter 4

 

Long-terms Memories

 

EnnyHutami’s Fanfiction

 

| Genre : Family, Romance, Friendship |

 

| Lenght : Series | Rating : PG-13 |

 

| Cast : Kim Myungsoo, Kim Jisoo, Jung Soojung, Kim Jongin, Xi Luhan |

 

The time frame can be very brief; even a few seconds.”

 

Chapter 3

-Swinspirit-


Alih-alih menjawab, Kris hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. Sama sekali tak ada niatan untuk menjawab pertanyaan Luhan. Lalu ia menyodorkan kamera itu pada Luhan.

“Kembalikan ini pada Jisoo, dan…,” Kris memberi jarak dengan apa yang akan dikatakan selanjutnya. “Dan, buat Kai memutuskan gadis itu.”

Luhan membelalakan mendengar kalimat yang barusan diucapkan Kris. Itu bukan permintaan—itu perintah. Luhan tidak tahu bahwa Kris bisa mengetahui apapun tentang Jisoo, temasuk Kai yang notabenenya adalah pacar gadis itu.

-Chapter 4-

Jung Soojung berdiri di beranda kamar hotelnya untuk menikmati udara dingin yang berhembus di sana. Wajahnya yang pucat menggambarkan banyak hal yang tengah terjadi belakangan ini padanya, membuatnya merasa frustasi dan tertekan.

Sesi pemotretan hari ini ditunda karena dirinya. Begitu diketahui bahwa penyebab kehilangan kesadarannya karena ia yang terlalu banyak mengonsumsi obat yang bisa membuatnya rileks.

Itu memang benar. Ia terlalu bergantung pada obat itu jika pikirannya sedang kacau.

Kemudian ia menoleh ke belakang begitu terdengar suara managernya. “Soojung-a, jangan berdiri di sana terlalu lama. Lebih baik kau istirahat.”

Perkataan managernya itu pun dituruti. Ia membalikkan badannya dan masuk ke dalan kamar hotelnya, lalu duduk di pinggir ranjangnya dengan kaki terlipat. “Kau mencari apa?” tanya Soojung heran ketika managernya tengah membongkar tasnya.

“Pilmu.” Jawab managernya tanpa melihat ke arah Soojung dan terus merogoh tas Soojung.

“Tidak perlu. Aku tidak akan meminumnya lagi selama di sini, kok.” Balas Soojung dengan santainya. Membuat managernya itu menegapkan badan dan bertolak pinggang.

“Selama di sini, huh?” managernya mengulangi kalimat Soojung sakartis. “Jangan meminumnya lagi. Dan jangan bergantung pada pil itu lagi, mengerti?”

Alih-alih mendengarkan ceramah dari sang manager, Soojung justru menguap dengan santainya lalu menggeser posisi duduknya untuk menarik selimut. Memang beginilah Soojung—ia tidak suka diceramahi. Telinganya seakan terbakar jika ada seseorang yang menceramahinya. Tidak terkecuali orangtuanya ataupun guru di sekolahnya.

“Oh iya, Soojung-a,” panggil sang manager lagi setelah teringat sesuatu. Karena ia tahu bahwa Soojung belum benar-benar tidur, jadi ia melanjutkan. “Apa kau mengenal si photografer baru itu?” tanyanya.

“Tidak. Kenapa?” balas Soojung acuh tak acuh.

“Tidak?” ulang sang manager terheran-heran. “Aku bertanya-tanya apakah dia penggemarmu…,”

“Apa maksudnya?” sela Soojung dengan kening berkerut.

“Dia orang yang pertama kali berlari menghampirimu saat kau ambruk tadi. Dan dia menggendongmu sampai ke mobil.”

Penjelasan dari managernya itu membuat Soojung memutar otaknya. Jadi, kenapa lelaki itu seperti menaruh perhatian padanya? Mulai dari dia yang menghampiri Soojung saat ia tengah mengejar materi di kafe, dan juga tatapan lelaki itu yang tak kunjung dialihkan darinya saat pertemuan resmi mereka.

Apa benar yang dikatakan managernya bahwa lelaki itu hanyalah penggemarnya?

Namun, semua pertanyaan itu tak bisa langsung dijawabnya. Dan ia semakin penasaran saat mengingat bahwa nama lelaki itu adalah Kim Myungsoo. Soojung pernah mendengar nama lelaki itu. Tetapi, dimana? Ia tidak bisa mengingatnya.

Dan ia butuh jawaban dari semua pertanyaanya.


Jisoo telah keluar dari rumah sakit dan kembali masuk sekolah sejak dua hari yang lalu. Sehari setelah itu, kakak lelakinya, Kim Myungsoo, pun juga baru mendarat di Seoul. Terlambat satu hari dari dugaan karena masalah yang dihadapi si model.

Di sekolah, tidak banyak yang berubah. Hanya Tao yang tiba-tiba lebih perhatian padanya. Yah, Jisoo mengerti dengan alasan perubahan Tao si cuek dan pendiam yang hanya irit bicara. Dan mungkin… mungkin hanya perasaannya atau tidak, tetapi ia merasa jika Kai perlahan menjauh darinya.

Ia tidak tahu dari mana asal perasaannya itu, namun memang seperti ada yang aneh dari Kai.

“Apa yang terjadi dengan Jongin?” tanyanya pada Kyungsoo saat jam istirahat di kantin.

“Kai?” Alih-alih memberi jawaban, Kyungsoo justru balik bertanya. “Memang ada apa dengannya?”

Ia memutar bola matanya sembari menghimpit beberapa butir nasi pada sumpitnya. “Seharusnya aku tidak bertanya padamu.” Ujarnya.

“Sungguh. Tidak ada yang aneh dengan Kai.” Kyungsoo menyahut. Lalu, “Memang keanehan apa yang kau inginkan darinya?” Tanyanya memancing.

Jisoo terdiam dan melanjutkan makan. Apakah hanya dirinya yang merasakan atau apa? Jelas ia merasa jika belakangan ini sikap Kai berubah terhadapnya. Lebih dingin dan cuek.


“Kelas selesai. Jangan lupa tugas kalian.” Ujar seorang guru wanita bertubuh sedikit gempal dengan rambut pendek ikalnya sebelum keluar dari kelas dengan membawa beberapa buku materi mengajarnya.

Setelah guru tersebut keluar kelas, Soojung yang kini sudah merubah rambut merah menyalanya menjadi cokelat susu berdiri tanpa menoleh ke arah teman sebangkunya, Xi Luhan. Namun, sebelum ia keluar kelas untuk makan siang di kantin sekolah, seseorang mencegatnya. Kai.

“Makan siang bersamaku?” tawaran Kai membuat sebelah alis Soojung terangkat dan melirik pada Jisoo yang ternyata tengah melihat keduanya dengan pandangan heran dan penasaran.

Dan tiba-tiba saja, sebuah ide yang menjelaskan keadaan antara Kai dengan Jisoo muncul sehingga Soojung mengangguk menyetujui tawaran Kai. “Baiklah.” Sahutnya. Walaupun masih merasa heran akan sikap Kai yang berubah tiba-tiba, sudut bibirnya tertarik ke belakang membentuk senyum simpul.

Sementara itu, Jisoo yang melihat adegan barusan hanya mengerjapkan matanya, tak mempercayai apa yang barusan ia lihat. Ia bertanya-tanya mengapa Kai justru mengajak Soojung makan siang dibandingkan dirinya. Bahkan Kai tak melirik ke arahnya sama sekali!

Astaga… sebenarnya apa yang terjadi pada Kai?

“Kau bertengkar dengannya?” tiba-tiba saja suara khas Luhan terdengar, membuat Jisoo langsung mengangkat wajahnya dan mendapati Luhan berdiri di sebelah kursinya dengan wajah heran.

“Kau bertengkar dengan Kai?” Yiseul, teman sebangku Jisoo yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, mengulang pertanyaan yang barusan ditanyakan Luhan dengan volume suara yang sedikit keras hingga beberapa pasang mata menoleh padanya.

Jisoo langsung melempar pandangan kecilkan-volume-suaramu pada Yiseul, membuat gadis itu langsung merapatkan mulutnya. Lalu ia menoleh kembali pada Luhan. “Tidak. Kami tidak bertengkar.” Jawabnya apa adanya seperti yang ia tahu. “Aku juga tidak mengerti dia kenapa.” Lanjutnya jujur, memberitahu Luhan apa yang membuat otaknya berpikir sejak kemarin.

“Tetapi, Jisoo-ya, sejak kemarin aku merasa sikap Kai padamu berubah.” Yiseul ikut merimbung lagi.

“Kau merasakannya juga?” Jisoo langsung menoleh ke arah Yiseul. Dan Yiseul mengangguk.

Luhan, di tempatnya berdiri, tiba-tiba teringat sesuatu. Setelah ia berbicara dengan Kris, Kai mendatanginya dengan wajah dingin yang tidak biasa laki-laki itu perlihatkan.

“Apa urusanmu dengan Jisoo?” tanya Kai langsung tanpa berbasa-basi.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Luhan bertanya balik.

“Aku bertanya padamu, apa urusanmu dengan Hyeju?” tanya Kai sekali lagi dengan rahang mengeras tanda bahwa dirinya mulai kesal.

“Aku…,” Luhan menggantungkan kalimatnya, tak tahu harus menjawab apa pertanyaan Kai itu.

Sebelum Luhan sempat melajutkan kalimatnya yang menggantung, Kai pun tidak bisa menahan emosinya lebih lama lagi. Ia pun langsung menarik kerah jaket Luhan dan mendorongnya kasar. “Beritahu aku apa rencanamu.” Desis Kai kemudian.

Ya! Xi Luhan!” suara Yiseul membuat Luhan kembali ke masa kini setelah memikirkan kembali kejadian beberapa hari yang lalu, membuat Luhan mengerjap sejenak. Lalu, “Kau melamun?” Yiseul bertanya dengan padangan heran. Pandangan yang sama yang diperlihatkan Jisoo yang kini sudah berdiri di hadapannya.

Luhan pun segera menggelengkan kepalanya. “Aniyo.” Elaknya.

“Tsk,” decak Yiseul.

Lalu, “Kau mau ikut makan siang di kantin, bukan?” Jisoo bertanya menengahi. Dan Luhan menggelengkan kepalanya.

Kemudian ketiganya keluar dari kelas untuk makan siang di kantin sekolah yang biasanya ramai. Sepanjang jalan, Jisoo mencoba menduga-duga apa yang terjadi pada Kai. Walaupun ia terlihat seakan cuek dan tidak peduli, tetapi sesungguhnya ia sangat resah dengan sikap Kai belakangan ini.

Bahkan ia sempat berpikir, apakah Kai sudah bosan dengannya?


“Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” Tanya Soojung dengan pandangan curiga saat dirinya dan Kai duduk satu meja di kantin. Lalu, “Kau ingin memanfaatkanku untuk membuat Jisoo cemburu atau apa?” ia melanjutkan pertanyaannya.

“Tidak seperti yang kau pikirkan.” Jawab Kai seadanya tanpa mengangkat kepalanya dari makanan di hadapannya untuk balas menatap Soojung, yang membuat alis Soojung makin menyatu.

“Lalu a—” Soojung menghentikan kalimatnya sendiri ketika merasakan getaran pada ponsel di sakunya, membuatnya langsung diam untuk melihat pesan singkat yang baru saja masuk.

[Jika kau berterima kasih, traktir aku]

Soojung mendecak tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca di layar ponselnya. Sebuah pesan dari Kim Myungsoo.

Setelah ia sadarkan diri, ia memang diminta untuk menelepon Myungsoo oleh managernya untuk berterima kasih. Namun, alih-alih menelepon, ia justru mengiriminya pesan singkat pada lelaki itu. Itu alasannya dirinya memiliki nomor Myungsoo dan begitu juga sebaliknya. Dan lihat balasan yang baru dibalasnya beberapa jam setelah ia mengirimnya? Menyebalkan.

“Kenapa? Ada masalah?” tanya Kai yang mendengar gerutuan tak jelas Soojung setelah membaca pesan masuknya.

Soojung cepat-cepat menggeleng dan memasukan ponselnya ke dalam saku seragamnya. “Tidak. Bukan apa-apa.” Jawabnya, menolak memberitahu yang sesungguhnya pada Kai. Lalu, “Bagaimana hubunganmu dengan Jisoo?” ia bertanya untuk mengalihkan topik.

“Kenapa tidak menanyakannya pada Jisoo? Kau berteman dengannya.” Balas Kai.

Soojung memutar bola matanya, dan sama sekali tidak berniat untuk menjawab atau menanggapi tanggapan Kai.

“Aku penasaran,” ucap Kai, mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman. “Kenapa kalian berdua bermusuhan—kenapa kau menjauhinya? Apa mungkin… karenaku?”

Soojung mengangkat wajahnya untuk menatap Kai lagi, lalu mengangkat bahunya berpura-pura tak acuh. “Mungkin.” Jawabnya. “Dan beberapa hal yang tidak perlu kau tahu.” Tambahnya sebelum ia berdiri dan meninggalkan Kai sendirian.

Membicarakan dan mengingat kembali hal-hal itu membuat nafsu makan Soojung hilang seketika. Dan Kai, jika dia tahu pertengkaran antara Soojung dan Jisoo adalah karenanya, mengapa dia tetap bertahan dengan Jisoo dan terus membuat Soojung merasa marah pada keduanya?

Sesungguhnya, Soojung bukannya marah, ia hanya merasa semua tidak adil baginya. Semua hal berjalan baik pada Jisoo, namun kenapa tidak dengannya? Alasan pertengkaran ini sebenarnya berawal darinya, Soojung yang merasa iri dengan kehidupan Jisoo yang selalu berjalan dengan baik.


Soojung memanjangkan lehernya ketika ia tengah berada di depan pagar sekolah, mencari sosok Kim Myungsoo yang katanya akan datang menjemputnya, entah untuk apa. Namun, sosoknya tak kunjung terlihat, yang terlihat di matanya hanyalah orang-orang berseragam yang sama dengan seragam yang dikenakannya. Jadi, ia menggerakkan tangannya untuk menelepon managernya, meminta managernya untuk menjemputnya.

Lalu suara klakson mobil yang berhenti tepat di depannya menghentikan kegiatannya, dan membuatnya langsung menoleh.

“Menunggu lama?” tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah Kim Myungsoo ketika kaca mobil turun secara otomatis. Lelaki itu duduk di balik kemudi dengan jas berwarna biru dongker, lengkap dengan kemeja putih dan dasi berwarna senada bermotif.

Dan tanpa menunggu jawaban Soojung, Myungsoo menjulurkan tangannya ke arah pintu mobil di sebelahnya untuk membukanya. “Masuklah.” Ujarnya.

Soojung pun masuk ke dalam tanpa banyak protes, sebelum orang-orang menyadari jika dirinya masuk ke dalam sebuah mobil yang dikendarai seorang lelaki—yang secara fisik memang bisa dibilang sangat tampan, terlebih dengan jas yang dikenakannya.

“Kenapa kau mengenakan jas?” tanya Soojung setelah mobil mulai melaju.

Myungsoo melirik sekilas seraya tersenyum kecil. “Kenapa? Jatuh hati melihatku seperti ini?” balasnya penuh percaya diri, membuat Soojung mendecakan lidahnya.

“Aku bukan gadis murah seperti itu, tuan Kim Myungsoo.” Balas Soojung dengan nada sakartis, tetapi tertawa di ujung kalimatnya entah karena apa. Mungkinkah karena tawa yang dilontarkan Myungsoo saat ia mengucapkan kalimatnya?

“Ah, benar.” Gumam Myungsoo seraya mengangguk-anggukan kepalanya, membuat keduanya tertawa entah apa alasannya.

Lalu, “Kau akan membawaku ke mana? Jam enam nanti aku ada jadwal.” Ucap Soojung seraya melirik arlojinya yang menunjukan angka empat lewat beberapa menit.

“Traktir aku makan.” Sahut Myungsoo tanpa menolehkan pandangannya dari jalan di depannya. Lalu, “Aku belum makan apapun sejak tadi.” Lanjutannya membuat Soojung memutar bola matanya, tetapi menyutujui pada akhirnya.

“Baiklah,” kata Soojung. “Aku tahu restoran yang bisa menjaga rahasia pembelinya.” Ia melanjutkan.

“Rahasia?” tanya Myungsoo heran seraya melirik Soojung lewat kaca spion di atas kepalanya. “Kenapa rahasia? Aku ingin makan di restoran Jepang—”

“Kau ingin menimbulkan skandal?” potong Soojung secepat mungkin dengan suara yang agaknya mengeras.

Myungsoo yang sedikit terlonjak menoleh sejenak ke arah Soojung yang menatapnya dengan pandangan tidak sukanya. Lalu, “Ah… aku lupa siapa yang sedang bersamaku sekarang ini.” Katanya setelah menyadari siapa Soojung. Seorang model yang kini namanya sedang naik daun karena peran yang cukup besar (walaupun bukan pemeran utama atau kedua) di drama yang berating tinggi.

“Baiklah,” kata Myungsoo pada akhirnya. Lalu, “Tunjukkan jalan—”

“Oh? Hujan?” sela Soojung ketika Myungsoo hendak meminta Soojung untuk menunjukkan tempat yang dimaksudnya di GPS.

Myungsoo pun tidak menanggapi gumaman Soojung dan terus fokus pada jalanan di depannya karena hujan yang turun tiba-tiba. Menyadari tentang aktivitas Myungsoo tadi, Soojung pun menoleh dan mencari tujuannya dalam GPS yang terpasang di mobil Myungsoo.


Jisoo berdiri di depan pagar dari sebuah rumah yang hampir seluruhnya tertutup tembok tinggi, rumah yang diketahuinya tempat tinggal Luhan (Luhan bilang ia menyewa rumah tersebut untuk satu tahun ke depan).

Alasan Jisoo datang ke rumah Luhan tak lain adalah Luhan yang meminta Jisoo mengajarinya beberapa materi yang tak Luhan mengerti. Awalnya Luhan berkata akan datang ke rumah Jisoo, tetapi Jisoo menolak dan memilih mereka belajar di rumah Luhan. Seperti sejak dulu, Jisoo memang seorang gadis yang tidak suka temannya datang ke rumahnya, termasuk teman dekatnya.

Kecuali Kai.

Sebenarnya Jisoo awalnya juga tak mengizinkan Kai yang hendak berkunjung ke rumahnya, tetapi diam-diam Kai datang saat dirinya tak ada di rumah. Begitu pulang dari belajar kelompok, Kai pun sudah bergurau dengan Myungsoo di ruang tengah.

Jadi, untuk kali ini pun Jisoo tidak ingin Luhan datang ke rumahnya.

Jisoo menekan bel pada interkom sudah lebih dari tiga kali, namun tak kunjung mendapat jawaban dari dalam rumah. Ia pun bertanya pada dirinya sendiri dalam hati, sebenarnya Luhan ada di rumah atau tidak.

Akhirnya Jisoo mengambil ponselnya untuk menelepon Luhan, memberitahu lelaki China itu jika dirinya sudah berada di depan rumahnya.

Yeo—

Masuk saja. Rumah tidak dikunci.” Sela Luhan sebelum Jisoo menyelesaikan sapaannya, dengan suara serak yang terdengar aneh.

“Baiklah,” ucap Jisoo dengan nada heran, lalu menuruti perintah Luhan agar dirinya masuk ke dalam rumah Luhan setelah memutus teleponnya.

“Luhan?” panggil Jisoo ketika dirinya sudah membuka pintu rumah, tetapi tak mendapati Luhan di ruang tamu. “Luhan-a,” panggilnya sekali lagi seraya masuk ke dalam, tetapi nihil. Tak ada jawaban.

Akhirnya Jisoo memutuskan untuk mencari Luhan di sekeliling di rumah berlantai satu yang tidak terlalu besar ini. Dan begitu ia mendapati sebuah pintu—satu-satunya pintu yang kelihatan normal seperti ruangan, bukan kamar mandi.

“Luhan?” panggil Jisoo sekali lagi seraya melongokkan kepalanya ke dalam.

“Hm…,” terdengar suara Luhan menyahut disusul suara batuk, membuat kening Jisoo berkerut heran. “Jisoo, maaf, aku—”

“Apa yang terjadi padamu?” potong Jisoo seraya masuk ke dalam kamar Luhan melihat lelaki itu yang tengah berusaha bangkit dari tempat tidur, mencoba membantu Luhan bangkit.

“Sesuatu terjadi.” Jawab Luhan dengan suara seraknya, tanpa berniat untuk menjelaskan lebih detail lagi apa yang sebenarnya terjadi.

“Kau kehujanan sepulang sekolah?” tanya Jisoo lagi seraya menarik kursi belajar Luhan yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Luhan menganggukkan kepalanya, lalu bersin.

Aigoo,” decak Jisoo seraya menempelkan punggung tangannya pada kening Luhan yang terasa panas. Lalu, “Kau sudah makan?” tanyanya.

Dengan ragu, Luhan pun menggelengkan kepalanya. “Terakhir makan siang bersamamu dan Yiseul.”

“Astaga Luhan!” seruan Jisoo membuat Luhan mengkerut, lalu Jisoo menunjuk jarum pada arlojinya pada Luhan. “Lihat jam berapa sekarang? Sudah hampir jam delapan malam dan kau belum makan? Kau deman, seharusnya kau makan!”—Jisoo berdiri dan bertolak pinggang—”Akan kubuatkan sesuatu. Ada bahan makanan apa saja di dapur?”

Luhan mengangkat bahunya. “Ada beberapa, mungkin.” Jawabnya.

Jisoo hanya menatap Luhan dengan mulut terkatup rapat, tak tahu harus berkata apa lagi pada Luhan yang terlalu cuek pada makanan padahal tubuhnya terlalu kurus seperti papan, lalu keluar dari kamar Luhan untuk menuju dapur Luhan.

Di dalam kamar, Luhan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, hingga rambutnya yang sudah berantakan menjadi lebih berantakan. Sepulang sekolah, lagi-lagi Kris ingin menemuinya. Perbedaannya, kali ini Kris lah yang menghampiri Luhan ke sekolah. Dan laki-laki itu memberitahu jika tenggat waktu agar Kai dan Jisoo putus tinggal tiga hari lagi. Jika tidak terwujud dalam tiga hari tersebut, Kris lah yang akan turun tangan. Melakukan sesuatu yang mungkin lebih kejam pada Jisoo, dan juga pada Myungsoo.

Dan ini semua terjadi karena kematian kakak tiri Luhan. Kang Hyeju.


“Kenapa kau hujan-hujanan? Tidak membawa payung?” tanya Jisoo seraya menatap Luhan yang tengah menyantap sup tahu buatannya. Yah, karena hanya ada sedikit persediaan di dapur Luhan, Jisoo pun memilih untuk membuat sup tahu yang mudah bahan dan pengerjaannya.

Eo? Mm,” jawab Luhan seraya mengunyah nasinya. Lalu, “Mana kutahu jika akan hujan? Ramalan cuaca pagi tadi tidak mengatakan akan hujan hari ini.” Lanjutnya lebih jelas.

Jika tidak, Jisoo—atau mungkin kau—akan merasakan akibatnya.” Sesaat, suara Kris yang terdengar dingin terngiang-ngiang di benaknya, membuatnya diam sejenak dari kegiatannya mengunyah.

Untungnya, Jisoo tidak menyadari perubahan tersebut dan terus berbicara. “Seharusnya kau menunggu hingga hujan reda, atau menebeng payung denganku. Kalau begini, apa besok kau akan masuk sekolah?”

“Tentu saja.” Jawab Luhan dengan seruan kecil, disusul batuknya, membuat Jisoo langsung menyodorkan air mineral pada Luhan dengan pandangan khawatir.

“Tidak perlu memaksakan diri untuk masuk ke sekolah besok.” Ujar Jisoo ketika Luhan tengah menenggak air mineral yang tadi diberikan Jisoo. Lalu, “Akan kubilang jika kau sakit.”

“Aku tidak apa—”

“Jangan membantahku.” Sela Jisoo, pura-pura marah. Kemudian matanya berkeliling kamar Luhan, dan Luhan memperhatikan itu tanpa mengatakan apa-apa. Lalu, “Kau tinggal sendirian?” ia bertanya.

Luhan mengangguk. “Ayah dan ibuku kembali ke China tahun lalu.” Jawabnya.

Dari tempatnya, Jisoo pun hanya menggumamkan kata ‘oh’ tanpa suara. Lalu berdiri untuk melihat-lihat kamar Luhan. Yang mejadi pusat perhatian Jisoo pertama kali adalah beberapa pigura foto yang diletakkan di atas meja belajar Luhan.

“Ini kau?” tanya Jisoo seraya mengambil pigura foto yang menampilkan Luhan saat kecil, kira-kira berusia lima tahun, dengan seorang wanita dan lelaki yang sudah pasti kedua orangtua Luhan. Di foto tersebut, Luhan sangat menggemaskan dengan tubuh mungilnya, membuat Jisoo tersenyum tanpa sadar.

“Mm,” sahut Luhan.

Lalu Jisoo meletakkan kembali pigura tersebut dan beralih ke pigura lainnya. Di sana terdapat Luhan yang sudah mulai remaja, kira-kira saat itu Luhan berusia empat belas atau lima belas tahun. Namun yang membuat kening Jisoo berkerut adalah laki-laki dan seorang gadis yang terdapat di sana.

“Hyeju eonni?” gumamnya pada diri sendiri. Dan Luhan yang mendengar gumaman tersebut pun menoleh.

Sesuai rencana Luhan, Jisoo pun tahu tentang hubungannya dengan Kang Hyeju. “Kau mengenal Hyeju nuna?” tanya Luhan, berpura-pura dirinya terkejut seperti Jisoo.

Jisoo mengangguk, tetapi wajahnya tak berpaling dari foto Hyeju yang tersenyum manis di dalam sana. Dari foto milik Myungsoo, Hyeju tidak terlihat berbeda. Dan mungkin foto ini diambil saat Hyeju telah berpacaran dengan Myungsoo.

“Hyeju nuna adalah kakak tiriku.” Lanjut Luhan, masih memainkan sandiwaranya, berpura-pura bahwa ia tak tahu apa-apa. Mendengar itu, Jisoo mengerjapkan matanya menatap Luhan yang balas menatapnya dengan tampang polos. Lalu, “Ayahku meninggal, lalu ibu menikahi ayah Hyeju nuna. Hubunganku dengan Hyeju nuna sudah seperti saudara kandung. Dia… sangat baik dan perhatian.”

Hening sejenak. Lalu, “Aku… minta maaf.” Ucap Jisoo, merasa bersalah melihat Luhan yang tiba-tiba merubah raut wajahnya menjadi sedih.

Untuk kali ini, Luhan tidak berpura-pura. Apa yang barusan ia katakan pada Jisoo pun sebuah kenyataan. Dan ia sangat terpukul ketika tahu bahwa Hyeju mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawanya. Saat itu, bukan hanya ayah tirinya yang sedih, bahkan ibunya—yang notabenenya adalah ibu tiri Hyeju—tidak sadarkan diri begitu mendengar kabar tersebut. Pasalnya, Hyeju merupakan gadis yang sangat baik dan perhatian.

Hyeju mampu menerima dengan baik keluarga barunya, dan bersikap seolah itu adalah keluarga kandungnya.

“Kenapa meminta maaf? Memangnya Hyeju nuna meninggal karenamu?” balas Luhan dengan memamerkan senyum getirnya. Jisoo tahu bagaimana perasaan Luhan saat ini meskipun dirinya tidak pernah mengalami hal seperti yang dialami Luhan. Jadi, ia pun menghampiri tempat duduknya kembali dan memegang pundak Luhan, seakan menyalurkan kekuatan dari sana.

Luhan pun hanya menoleh menatap Jisoo dan tersenyum berterima kasih.

Ketika teringat sesuatu, Jisoo pun langsung melepaskan tangannya dari pundak Luhan. Dan, “Besok kau ada waktu?” tanyanya.

Walaupun bingung dengan pertanyaan Jisoo yang tiba-tiba, Luhan pun menganggukkan kepalanya. “Ya. Kenapa?”

Jisoo menarik sudut bibirnya, membentuk lengkung senyum, yang entah mengapa membuat jantung Luhan berdegup aneh. “Main ke rumahku. Akan kukenalkan kau pada kakak laki-lakiku.” Ajaknya. Lalu ia melanjutkan, “Mantan pacar Hyeju eonni.”

-To be continue-

Heyhooo aku datang lagi bersama LTM, adakah yg nungguin LTM?.-. seharusnya, aku publish ini kalo udah kelas, eh malah dipublish sekarang karena gak ada yang bisa dipublish lagi, maafin CW belum kelar aku lanjut T~T sebenernya, aku mau kasih tau beberapa hal. tentu aja kabar baik dan kabar buruk.

Pertama kabar baik nih, alhamdulillah, berkat doa readers-nim semua, aku udah lulus SMA dan udah dapet PTN:3 aku udah diterima di universitas brawijaya lewat undangan lohhh:3 makasih bgt doa kaliaaan:3. dan kabar buruknya, kemungkinan besar aku bakal lama publish CW:( itu karena aku yg mulai sibuk ngurus ini dan itu, lagipula aku kan tinggal di jakarta dan ub itu di malang, jadi rada sulit:( dan juga aku kayaknya kena penyakit para penulis. yep, yg blm nyelesaiin ini, tapi mau buat yg lain/? jadi, kemungkinan aku gak publish sangat besar T~T tapi tenang, setelah tanggal 20 juni nanti, aku bakal nganggur yg bener2 nganggur sampe agustus~ jadi siap buat bikin ff uahaha

Dan, buat siapapun yang kepingin baca GROW UP, aku saranin dateng ke blog pribadiku, ennyhutami.wordpress.com, karena aku gak yakin bakal publish itu di ffindo karna ceritanya yang emang mainstream. walaupun mainstream, tapi tetep aja ada yg beda karna setiap penulis punya ide dan gaya nulis masing2 kan:p

oke, segini aja dari aku. sampe ketemu lain waktu kalo aku publish lagi~~~ PPYONG~~~!!! NANTIKAN COMEBACK BOYFRIEND, OBSESSION<3

Advertisements

19 responses to “Long-terms Memories – Chapter 4

  1. Aigoo…
    Daebakk sekali FF ini :*
    Tapi thor, aku masih rada” bingung sama sifat kai yang tiba-tiba berubah :(. Kenapa ya? 😦
    Oiya thor. Pelis, jangan lama-lama ngepost nya. 😦

    Fighting ajah buat eonni :*

      • Lanjut lagi dong ff nya , aku penasaran banget sama kelanjutannya.
        Udah 3 tahunan gak baca ff lagi, dan tiba tiba inget ff ini karna udah lama aku pikir udah lanjut. tapi ternyata gak lanjut 😥😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s