Pregnant Affair (Chapter 4)

Annyeong~ saya hadir bawa fanfic titipan. Happy reading, jangan lupa kasih komentar! ^^

pregnant-affairhcr poster: kissmedeers

Previous:

TEASER  | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 | CHAPTER 3

 

Tittle : Pregnant Affair || Author : Youngieomma || Cast : Park Chanyeol — Sybil Jung (oc) — Byun Baekhyun — Kim Junmyeon — Zhang Yixing — Wu Yi Fan — Wu Hyera (oc) — Wu Xiao Le (oc-kris son) — Zhang Yui (oc) || Length : Chaptered || Genre : Family, Married Life, Romance

 

Rating : PG+18 (WARNING!! Tidak mengandung konten dewasa, tetapi ada kata-kata yang mungkin TIDAK COCOK untuk remaja dibawah 18 tahun)

Disclaimer : Para pemeran di atas hanya dipinjam untuk keperluan FF ini, MAAF jika ada kata-kata maupun sifat yang bertolak belakang di FF ini.

Notes,

Halo terima kasih untuk komentar-komentar di Chapter 3 ^^ terima kasih telah merespon dengan baik FF ini.

— Author punya kabar baik dan buruk, Alhamdulillah dan Insya Allah Author sedang mengandung anak ke tiga (yang kedua meninggal bulan januari kemarin) sekitar usia 2mgg^^ Nah, meskipun lagi hamil kemarin 8 june 2014 ada yang nonton ke MEIS? Berhubung eomma adalah BLACKJACK jadi kesana untuk nonton meskipun sempet dilarang, pake alasan kalo si janin pengen ketemu Minzy LOL akhirnya di izinkan, dan disana lupa daratan jingkrak2 lupa kalo lagi hamil. Sekarang Eomma lagi dalam kondisi kurang baik, perut kram melulu dan sakit, so, mohon doanya ya teman-teman untuk janinku 🙂

— eh iya, kemarin banyak banget tebak-tebakan para readers di chapter kemarin yang bikin senyum-senyum karena ada beberapa udah ngerti jalan ceritanya walaupun kelihatan masih ragu 😀

Untuk para cast yang syuper banyak itu pasti akan keluar, walaupun gak setiap chapter. Ada yang bilang alurnya kecepatan, sebenernya saya emang membuatnya demikian, inget kan? Perjanjian pernikahan mereka empat tahun, dan itu cukup untuk 20 chapter. LOL, mudah-mudahan gak ada hambatan untuk menulis dan semoga readers gak bosen bacanya.

So, Happy reading guys^^v

——————————————————————————————————————————

PREGNANT AFFAIR

——————————————————————————————————————————

Chapter 04

“ Wedding”

Chanyeol mendengus ketika menyalakan televisi yang masih menyiarkan berita tentang dirinya bersama Sybil dengan judul ‘Skandal Putra Tunggal Park Corps’. Terkadang, media menjadi sangat menyebalkan.

Seminggu telah berlalu dan ia belum sempat menghubungi Sybil. Ia masih terpaku dengan berita-berita di Televisi, Koran dan Majalah. Beberapa wartawan datang dan mencoba mewawancarai ayahnya mengenai skandal tersebut.

Dan dalam seminggu ini pula Chanyeol tidak bisa bertemu sang kekasih, pemuda itu menatap ponsel di tangannya, empat puluh kali sudah ia menelepon. Namun, tetap saja kekasihnya mengelak untuk berbicara di telepon, serta menolak bertemu Chanyeol.

 

From : my xoxo

Berhenti meneleponku Park Chanyeol!

 

Chanyeol menatap sms yang baru saja masuk ke ponselnya, ia tidak bisa tidak tersenyum ketika membaca pesan itu. Ia sungguh menyukai perilaku merajuk kekasihnya.

” Yeol-ah?” Suara ibunya mengalihkan perhatian Chanyeol, kepala wanita tua itu menyembul di balik pintu kamar putih polos milik Chanyeol.

” Masuklah bu..”

Chae Myun menghampiri anaknya, dan duduk di atas tempat tidur.

” Apakah wanita itu benar-benar kekasihmu juga?”

Chanyeol melirik ibunya.

” Kenapa?”

” Hanya saja, kupikir kau hanya berhubungan dengan kekasihmu..”

Chanyeol mendengus.

” Bagus bukan? Ibu tidak perlu khawatir lagi denganku, lagipula, aku akan segera memiliki bayi..” Jawabnya ketus.

” Kau benar-benar ingin menikahi wanita itu?”

Chae Myun menatap anaknya yang masih sibuk dengan ponsel. Chanyeol mengangguk menjawab pertanyaan ibunya.

” Bayi di perutnya, benar-benar anakmu kan?”

Chanyeol berhenti mengetik dan menatap wanita paruh baya di depannya.

” Apakah ibu benar-benar tidak percaya padaku? Karena aku berpacaran dengan seseorang yang tidak bisa memberiku bayi?”

Chae Myun mendengus.

” Tidak, bukan seperti itu.. Tidak apa-apa Chanyeol, ibu hanya terlalu senang mendengar kau akan memiliki seorang bayi laki-laki, dan fakta kau mengencani wanita di saat kau berpacaran dengan kekasihmu..”

” Hanya empat tahun..”

” Eh?”

Chanyeol menatap ibunya.

” Aku hanya akan menikahinya selama empat tahun, ibu dan ayah ingin seorang cucu bukan? Kalian akan segera memilikinya, dalam empat tahun aku akan menceraikan Sybil dan pergi ke New York, aku akan menikahi kekasihku..”

Ibunya membeku mendengar ucapan Chanyeol.

” Apakah kau merencanakan ini dengannya?”

Chanyeol menggeleng.

” Sybil tidak tahu apa-apa, ini rencanaku..”

Ibunya menatap sendu Chanyeol.

” Apakah kau tidak salah mengartikan cinta dengan rasa terima kasih, Yeol-ah?” Ibunya terdiam sebentar, menelan saliva yang terasa pahit ketika mendengar ucapan anak lelakinya tersebut.

” Kau bersama dengannya selama empat tahun, selama itu pula kau di biayai penuh oleh kekasihmu.. Apakah kau tidak salah mengartikan cinta dengan rasa terima kasih?”

Chanyeol tidak berkata apa-apa, hingga pembicaraan berakhir. Ibunya pergi meninggalkan kamar dengan mata yang basah. Pemuda itu menghela, menatap punggung ibunya yang keluar dari kamar.

Ia tidak dapat menjawab.

 

From : my xoxo

Aku akan berangkat ke New York minggu depan. Aku tidak akan datang ke pernikahanmu.. Entah itu empat tahun atau dua tahun, aku tidak bisa menanti selama itu Chanyeol. Kau tahu pepatah ‘cinta ada karena terbiasa’ ? Itu akan benar-benar terjadi padamu dengan wanita tersebut. Aku yakin.

Kemudian, kau akan mencampakanku dan melupakan janjimu setelah empat tahun bersamanya.

 

Lagi-lagi pemuda dengan kuping besar itu menghela membaca pesan yang baru saja sampai di ponselnya..

 

For : my xoxo

Kau tahu aku tidak akan seperti itu, berhentilah merajuk dan temui aku. Aku melakukan ini hanya agar kau diterima dikeluargaku kemudian hari, ayahku menginginkan seorang cucu dan wanita itu bisa memberikannya.

Aku akan menceraikan dia setelah anaknya berusia empat tahun. Kumohon. Mengertilah..

 

Chanyeol memencet tombol send dan menanti jawaban kekasihnya.

Ruang Apartement Sybil sangat sepi ketika Jun Myeon masuk dari pintu depan, gorden-gorden masih di tutup dan gelap mendominasi ruangan tersebut. Beberapa piring kotor bekas semalam Sybil memakan Yangnyeom Tongdak masih berada di meja ruang tamu.

Jun Myeon menghela, berjalan perlahan memasuki ruangan dan membuka seluruh gorden tersebut. Ia menuju kamar Sybil dan menatap wanita itu tengah meringkuk dibalik bed cover tebal. Ia mendekati Sybil yang masih terpejam, menatap lama, menekuri wajah Korea-Amerika wanita tersebut.

” Kau pasti kuat Sybil-ah, aku yakin.. Kau akan melalui hari-hari berat untuk melupakan si brengsek itu.. ” Gumaman itu terdengar pelan, Jun Myeon mengelus wajah Sybil.

Sybil terjaga, keningnya berkerut, mata menyipit karena sinar matahari menerpa wajahnya. Kedua bola mata berwarna biru kehijauan itu berkeliling mencari seseorang, tapi dia hanya sendirian di kamar.

Samar-samar ia mendengar suara pisau beradu dengan talenan kayu dari dapur. Perasaan senang mendadak memasuki hatinya. Apakah itu kekasihnya? Pria itu selalu membuatkan sarapan untuknya dulu, apakah pria itu kembali? Tanpa sadar ia berharap itu adalah ayah dari bayinya, maka dari itu ia turun dari ranjang dan berjalan pelan-pelan menuju pintu.

” Oppa?”

Senyum Sybil memudar ketika ia mendapati Jun Myeon dengan celemek biru langit tengah mencicipi masakan.

” Apakah kau sekarang menghormatiku dengan memanggil Oppa?” Ledek Jun Myeon, Sybil cemberut, ia berjalan menuju kursi kayu meja makan dan duduk disana.

” Apa yang kau lakukan disini Jun-ah?”

Jun menatap terkejut mendengar pertanyaan Sybil.

” Yaaaaa, Jung Sybil begitu dingin terhadapku.. Apakah kau tidak suka aku memasakanmu sarapan?”

Sybil melirik Jun Myeon, berjalan dengan pelan dan memeluk pria itu dari belakang, tersenyum jahil, ia menenggelamkan wajahnya di punggung Jun Myeon yang lebar.

” Terima kasih Jun-ah.. Kau sahabatku yang paling baik..”

Jun Myeon hanya tersenyum sekilas dan mengacak rambut Sybil. Kemudian mereka berjalan menuju meja makan, Jun Myeon membawa mangkuk berisi cream soup serta sepiring roti-roti kering dengan olesan mentega di atasnya itu adalah sarapan kesukaan Sybil setelah donat dan kopi.

” Kau benar-benar akan menikah dengannya?” Jun Myeon membuka pembicaraan, ia menatap Sybil yang tengah mengunyah roti mentega dengan cocolan Cream Soup di hadapannya.

” Iya..”

” Lalu, apa yang kau bicarakan dengan orangtua pria itu seminggu lalu?”

” Jun-ah, namanya Chanyeol.. Kau terus-terusan memanggilnya dengan sebutan ‘pria itu’..” Protes Sybil.

” Oke-oke, Chanyeol.. Jadi, apa yang kau bicarakan dengan orangtua Chanyeol?”

Sybil menenggak segelas susu ibu hamil yang dibuatkan oleh Jun Myeon.

” Sebenarnya, itu hanya ayah Chanyeol. Aku berbicara bersama ayah Chanyeol, ibunya tengah mengunjungi makam kakek Chanyeol untuk memperingati hari kematiannya..”

Jun Myeon mendengus.

” Bisakah kau ke inti cerita, Nona Jungsy?”

” Jadi, ketika ia memasuki ruangan, ayah Chanyeol langsung berbicara dengan panjang lebar. Aku jadi tahu Chanyeol kabur dari rumah dan melepaskan gelar Chaebol serta tinggal bersama kekasih yang selama empat tahun membiayai kuliahnya..”

” Ha? Membiayainya?”

Sybil mengangguk.

” Sepertinya hubungan keluarga mereka tidak baik, ayahnya memasang wajah galak ketika Chanyeol mendadak masuk ke ruang tamu, tapi ia akan memasang wajah lembut ketika berdua denganku.. Aku belum tahu apa alasan Chanyeol meninggalkan rumah..”

Sekarang giliran Jun Myeon yang mengangguk. Sybil menyendok cream soup terakhir ke dalam mulutnya, Jun Myeon kemudian membereskan bekas makan sahabatnya tersebut dan mencuci piring kotor.

” Kau akan memberitahu ayahmu?” Jun Myeon berbicara dengan setengah teriak mengingat kini Sybil sudah berada di ruang tengah menonton Pororo. Mungkin kehamilan mengubah sifat seseorang, entah kenapa Sybil jadi suka menonton film-film kartun.

” Apa kau gila?” Sybil setengah memekik menjawab pertanyaan Jun Myeon.

Jun Myeon menyelesaikan cucian piring dan mendekat ke arah Sybil.

” Kau mengatakan aku gila?”

” Ya, kau gila Jun-ah! Apakah kau pikir ayahku adalah ayah yang normal?”

Jun Myeon duduk di sebelah Sybil.

” Tapi dia ayahmu..”

” Ya ya, kau mengatakannya juga ketika kita bertengkar tentang ‘si pria brengsek’ itu.. Ayahku berada di penjara Jun, dia akan menerima hukuman mati dalam delapan bulan, apa pria tua itu perlu repot-repot mengetahui jika putrinya akan menikah dan tengah hamil?” Sybil berbicara dengan cepat, matanya memerah.

Jun Myeon merutuki dirinya dalam hati. Lagi-lagi ia membuat Sybil marah dan gelisah.

” Baiklah, maafkan aku Sysi-ah.. Ah! Ada apa denganku? Aku selalu membuatmu marah akhir-akhir ini!!” Jun Myeon berteriak frustasi dan tanpa sadar Sybil terkekeh melihat tingkahnya.

” Jun-ah.. Aku akan segera menikah, mungkin, kita tidak akan bisa berbicara seperti ini lagi.. Mungkin aku tidak bisa memelukmu dan bermanja-manja denganmu lagi..”

” Bukannya kau hanya menikah pura-pura dengan pria itu?”

” Tetap saja, apakah Chanyeol akan nyaman jika kau terus duduk seharian di tempatku? Bodoh..”

Jun Myeon menghela.

” Lalu, kapan kau akan menikah dengan pria itu?”

” Chanyeol Jun-ah, namanya Chanyeol.. Dia meneleponku kemarin dan kami janjian untuk bertemu hari ini pukul sepuluh di kantorku..” Jawab Sybil.

” Oke, oke, namanya Chanyeol! Aku akan bersiap-siap berangkat ke Rumah Sakit, apakah kau perlu tumpangan menuju Distrik Jung?” Tanya Jun Myeon kemudian. Sybil menatap perutnya yang kini terlihat bulat dan besar, mungkin akan sangat merepotkan jika ia menyetir sendiri.

” Ya.. Aku ikut denganmu!” Sybil bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar. Bersiap-siap kembali bekerja.

Su Jin dan beberapa pekerja Sybil menatap pria tinggi yang datang dengan kikuk bersama seorang ibu paruh baya.

Sybil terkejut ketika Chanyeol mengatakan jika itu adalah ibunya, Su Jin segera membuatkan teh Earl Grey yang selalu dikeluarkan ketika Ms Shim datang berkunjung ke kantor.

” Apakah ini kantormu sendiri?” Wanita paruh baya tersebut bertanya, menyesap teh dari cangkir porselen dan menatap Sybil yang duduk dengan tidak nyaman di depannya.

” Y-ya.. I-ibu..”

Chae Myun terkekeh mendengar suara gugup Sybil.

” Kau tidak perlu gugup Sybil-ah.. Ibu hanya ingin melihatmu, minggu lalu ayah bercerita dengan penuh semangat pada ibu mengenai dirimu.. Ibu jadi penasaran seperti apa wanita pilihan anak kami hingga membuat ayahnya yang dingin itu terlihat sangat cerah..” Ibu berkata dengan panjang lebar membuat senyum Sybil mengembang. Kemudian, mereka kembali melakukan perbincangan dengan Chanyeol duduk diam mendengarkan.

Sybil memberi tahu Chae Myun jika ia tidak mempunyai anggota keluarga lain selain dua sahabat yang dimilikinya sekarang, nenek dan kakeknya di Korea telah meninggal saat ia berangkat ke London untuk kuliah. Ayahnya —dipenjara— menghilang tanpa jejak, ibunya telah meninggal dan ia tidak mengenal sanak saudara lain.

Chae Myun terkejut mendengarnya, wajah simpati terlihat dan Sybil sedikit terganggu. Chanyeol menangkap ekspresi tersebut, dan refleks menggenggam lembut jemari Sybil. Mencoba menenangkannya.

” Chanyeol sudah menyiapkan seluruh pestanya bukan? Ayah dan ibu fikir, itu akan tepat jika kita lakukan bulan depan.. Bagaimana?”

” Ta-tapi, gaunnya..” Sybil melirik Chanyeol, ia tahu betul Chanyeol belum memilih gaun pengantin. Terakhir kali Chanyeol hanya sibuk memilah-milah Tuxedo.

” Aku sudah memesannya..”

” Eh?” Sybil menatap Chanyeol dengan terkejut.

” Aku sudah memilihkan dan memesan gaun untukmu, kurasa bulan depan kehamilanmu akan masuk 7 bulan kan? Jadi aku memesan gaun mini untukmu.. Kau tidak perlu khawatir..”

Sybil mengangguk kaku mendengar penjelasan Chanyeol. Ia benar-benar tidak mengira jika pemuda itu merencanakan segalanya dengan matang.

” Oh? Mengapa perutmu berbentuk aneh?” Chanyeol bertanya, menunjuk perut Sybil yang terlihat oval dengan bagian sebelah kiri menonjol.

” Ah, sebenarnya sejak kau dan ibu disini, bayiku—maksudku bayi kita tidak berhenti bergerak.. Dan ini menyakitkan..” Ucap Sybil setengah tersenyum, mengelus perutnya.

Chae Myun berdiri, duduk disebelah Sybil. Membuat Sybil kini duduk di antara Chanyeol dan Chae Myun.

” Oh! Apakah kau senang di kunjungi oleh Nenek?”

Chae Myun menyentuh perut besar Sybil dan sebuah perasaan aneh mengalir dari perut menuju dada Sybil, itu berdesir lembut dan gerakan bayinya mulai terasa lagi.

” Aku ingin menyentuhnya..” Chanyeol terlihat bersemangat, menyentuh perut dan merasakan gerakan bayi Sybil.

” Wah! Dia bergerak! Ini luar biasa! Dia benar-benar bergerak! Apakah anak ini benar-benar suka kita mengunjunginya?” Pekik Chanyeol. Chae Myun tertawa.

Sybil menatap kedua orang yang sibuk mengomentari bayinya, perasaan aneh itu kembali menyelusup kedalam hatinya. Sebuah perasaan bahagia yang membuncah, ia senang, sangat senang melihat ekspresi bahagia Chanyeol dan ibunya.

Hanya karena gerakan bayinya kedua orang yang selalu terlihat kaku ketika bersama itu jadi lebih akrab. Chanyeol tertawa lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. Sybil baru pertama kali begini dekat dengan Chanyeol, ia menatap wajah pemuda itu.

Mata besar, hidung dengan tulang panjang, bibir penuh, dagu bulat. Sybil menyusuri tiap senti wajah Chanyeol.

” Kau mendengarku?” Tanya Chanyeol, mengejutkan Sybil.

” Ah, ada apa?”

” Wah, kau tidak mendengar aku berbicara daritadi?” Protes Chanyeol.

” Apakah sangat menyakitkan? Gerakan bayimu?” Chae Myun terlihat khawatir. Sybil menggeleng.

” Tidak bu, aku sedang fokus merasakan gerakannya saja.. Memang apa yang kalian bicarakan?”

” Bulan lahir bayimu..” Jawab Chae Myun kemudian.

” Oh, dokter bilang aku akan melahirkan di bulan Agustus..”

Chae Myun mengangguk.

” Agustus? Itu kan musim panas, wah, kau memilih bulan yang luar biasa untuk lahir..” Chanyeol berkata sambil menunjuk-nunjuk perut Sybil.

Ibu dan Sybil tertawa melihat sikapnya. Mereka kembali berbicara tentang pernikahan dan beberapa kali mengomentari perut Sybil yang berbentuk aneh karena bayinya terus bergerak. Sybil merasa senang, ia merasa memiliki sebuah keluarga.

——————————————————————————————————————————

PREGNANT AFFAIR

——————————————————————————————————————————

Sebulan benar-benar berlalu dengan sangat cepat, Sybil sendiri lupa bagaimana ia dan Chanyeol harus berkali-kali mondar mandir ke aula yang Chanyeol pesan untuk tempat pesta pernikahan di gelar. Bagaimana ia dan Jun Myeon sibuk mengurus kepindahan Apartementnya, Apartement yang ia tempati hanya memiliki satu kamar dan ibu mertuanya tidak menyetujui hal itu. Baginya, bayi harus tidur terpisah dengan orangtua.

Maka dari itu ia pindah satu lantai dari Apartement lamanya dan menempati Apartement yang hanya berbeda dua kamar dari milik Jun Myeon.

Kemudian, Sybil dan ibu mertuanya juga sibuk memilih barang-barang rumah tangga untuk Apartment barunya tersebut. Barang-barang di Apartement Sybil yang lama hanyalah sewaan, jadi ketika ia pindah itu benar-benar ruangan kosong.

” Apakah kau akan membeli beberapa barang untuk bayimu sekarang? Boxnya? Popok? Baju?” Chae Myun berkata ketika mereka melewati Baby Shop tanpa sengaja, kemudian Sybil terkekeh.

Chanyeol terkejut ketika ia memasuki Apartement yang tengah di renovasi, ia mengoceh pada Sybil dan ibunya karena tanpa bicara terlebih dulu telah mengecat kamar untuk bayi, dan membeli box serta lemari pakaian si kecil. Sybil serta ibu mertuanya tertawa berdua dibelakang Chanyeol.

Ada saatnya Sybil juga harus pergi berduaan dengan Chanyeol, ketika ia mengecek aula pernikahan, memeriksakan bayinya ke dokter, dan membeli cincin pernikahan. Namun, berduaan dengan Chanyeol tidak pernah membuat ia merasa canggung.

Perasaannya ketika bersama Chanyeol terasa sangat akrab, itu sama saja ketika ia pergi berduaan dengan Jun Myeon. Chanyeol pria yang benar-benar baik dengan kepribadian menyenangkan dan supel.

Chanyeol seperti seorang sahabat yang telah bertahun-tahun bersama dengan Sybil, ia dapat menenangkan hati Sybil yang gusar, mungkin Chanyeol adalah orang yang peka dan itu membuat Sybil sangat nyaman.

Mereka berdua pergi ke Rumah Sakit di akhir bulan, mengecek perkembangan bayinya.

” Berat badan anda naik drastis Nyonya, apakah anda sering mengkonsumsi gula?” Tanya Dokter.

” Dia selalu memakan dua galon es krim sehabis makan siang dan sebelum makan malam..” Chanyeol menjawab pertanyaan Dokter, Sybil mengerenyit, Chanyeol menoleh dan berbisik.

” Jun Myeon yang mengatakannya padaku..” Ia terkekeh.

” Sebaiknya anda berhenti mengkonsumsi itu sekarang, berat badan bayi anda sudah berlebih.. Aku takut anda tidak bisa melahirkan dengan normal..”

Sybil dan Chanyeol berpandangan. Dokter kemudian menyarankan Sybil untuk mengkonsumsi buah-buahan untuk camilan, ketika ibu Chanyeol mendengarnya, ia mengirimkan empat kardus buah-buahan ke Apartement Sybil, Jun Myeon berdecak kagum melihat ‘kekuatan’ Park Corps.

” Kenapa kau menyetujui pernikahan ini?” Suatu kali Sybil pernah bertanya karena benar-benar penasaran dengan alasan Chanyeol menyetujui ide gilanya.

” Kupikir kita saling menguntungkan bukan? Kau mendapatkan apa yang kau mau, Akta Kelahiran. Aku akan mencoba menghabiskan waktu empat tahun untuk menunggu kekasihku menyelesaikan Studynya.. Begitu kita ke New York, aku akan segera menceraikanmu dan menikah dengan pacarku..”

Sudut bibir Sybil terangkat.

” Apakah kau sekarang menyetujui ideku untuk menutupi pernikahan kalian nanti?”

Chanyeol menggeleng.

” Aku akan menceraikanmu Sybil-ah, benar-benar menceraikanmu.. Dari awal sudah kubilang kan? Ayah – ibuku hanya ingin seorang cucu, jika aku menikah denganmu, mereka akan mendapatkan apa yang mereka mau. Seorang cucu, bayimu. Lalu, aku akan menikah dengan kekasihku yang tidak bisa memberikanku bayi. Itu tidak akan menjadi masalah untuk orangtuaku jika mereka memiliki bayimu..”

” Apakah maksudmu setelah kita bercerai anakku akan tinggal bersamamu? Bersama kekasihmu?”

” Tidak, tidak, hanya saja bayimu sudah mendapatkan marga Park. Itu berarti dia benar-benar menjadi ahli waris Park Corps, dia akan meneruskan perusahaan setelah aku tua atau sebelum aku tua, dia akan belajar bagaimana meneruskan perusahaan ini seperti aku dulu..”

Sybil mengangguk.

” Wahh, anakku akan benar-benar menjadi orang kaya eoh?”

Chanyeol tertawa.

” Iya, kau mendapat jackpot Sybil-ah!”

Keduanya tertawa kemudian.

” Baiklah, empat tahun pasti tidak akan lama untukmu menunggu dia kan, Park Chanyeol? Apalagi kau akan disibukkan dengan bayi ini..” Sybil menunjuk perutnya.

” Oke, call Sybil-ah!”

Perjanjian itu terucap begitu saja, Sybil tidak merasa terluka dan Chanyeol tidak merasa bersalah. Keduanya bertindak seolah itu sangat normal.

Sybil memberitahu berita pernikahannya pada Hyera yang menjerit terkejut karena tidak menyangka seorang Jung Sybil memikirkan pernikahan.

” Apakah dia pria yang menghamilimu? Wah, dia sangat imut..” Hyera berkata ketika Chanyeol berjalan masuk ke dalam cafe untuk menjemput Sybil pergi menuju Aula pernikahan mereka yang harus di cek dekorasinya. Sybil hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Hyera.

Sebulan berlalu, dan hari ini adalah hari pemberkatan pernikahan mereka. Chanyeol menghampiri Sybil di ruang rias.

” Kau baik-baik saja?” Tanyanya. Sybil menatap pria itu dari cermin dan mengangguk.

Chanyeol menunduk, kemudian berbisik pada Sybil.

” Kau harus memasang wajah penuh kebahagiaan, Oke?”

Sybil terkekeh.

” Seharusnya aku yang berbicara seperti itu..” Ujarnya. Chanyeol tersenyum.

” Apakah kekasihmu datang?” Tanya Sybil kemudian. Chanyeol menggeleng.

” Dia telah pergi ke New York, dia masih marah padaku..”

” Maafkan aku..” Sybil berkata lembut. Chanyeol menepuk pundak wanita itu dan berlalu pergi.

Sybil menatap cermin, ia mengenakan gaun pengantin selutut, dan perutnya terlihat sangat bulat. Ia naik drastis di berat badan, 17kg adalah kenaikan angka luar biasa di bulan 7 kehamilan. Ia mengelus perut dibalik gaun pernikahannya.

Sybil tidak pernah bermimpi menikah di tengah perut yang membesar, terlebih, dengan seseorang yang hanyalah kliennya dahulu. Bahkan pria tersebut tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya serta si bayi.

” Kau siap?” Sebuah pertanyaan mengejutkan Sybil dari lamunan, Ayah Chanyeol duduk di kursi roda dengan jas biru gelap.

” Ah, ayah.. Aku siap..” Sybil tersenyum, berusaha bangun dari duduknya dan mendorong kursi roda pria tua itu.

Sybil mendadak gugup ketika mereka sampai di depan pintu, suara MC terdengar dari dalam.

” Tidak perlu gugup, ayah ada disini..” Pria tua itu berbisik, menggenggam tangan Sybil dengan erat. Sybil tersenyum.

Pintu kayu besar itu terbuka, memperlihatkan orang-orang yang sekarang menatap pada Sybil. Sybil mengeratkan pegangannya pada ayah Chanyeol. Ia jalan perlahan menuju altar dimana Chanyeol dengan senyum —palsu— mengembang, menatap lembut padanya dengan tuxedo berwarna putih selaras gaun yang tengah ia pakai.

Pikiran Sybil melayang, apakah perasaannya akan lebih bahagia jika pria yang tengah menanti di Altar itu adalah kekasihnya? Mendadak hatinya gusar, ia ingin menangis, pernikahan ini seharunya terasa membahagiakan untuk dirinya sendiri. Hamil dan menikah dulu tidak pernah terlintas sedikitpun di pikiran bahkan mimpi-mimpi indahnya. Namun ketika itu menjadi sebuah kenyataan, pria yang menunggunya dengan senyum bukanlah kekasih yang ia cintai dan itu sangat menyakitkan.

Ayah menyerahkan tangan Sybil pada Chanyeol yang meraihnya. Sybil tersenyum di balik kerudung putih.

Dalam lima belas menit pemberkatan itu berakhir, keduanya bertukar cincin, Chanyeol mengecup sekilas bibir Sybil dengan sedikit kaku. Dan mereka menatap para tamu dengan senyum lebar, menunduk.

” Ya, Chanyeol-hyeong.. Kau mendahuluiku mendapatkan bayi?” Tepukan di bahu membuat Chanyeol menoleh dan ia terkejut ketika mendapati teman bisnisnya dari Oh Corps berdiri bersama istrinya —yang juga sepupu chanyeol— Park Minjin.

” Kau hamil Minjin-ah?” Tanya Chanyeol.

” Ya oppa, aku hamil empat bulan..” Jawab Minjin malu-malu.

” Wah, kau tidak perlu diragukan ya, Oh Sehun..” Chanyeol menggoda Sehun.

” Kau juga tidak perlu diragukan, tujuh bulan huh? Kau benar-benar luar biasa..”

Keduanya tertawa.

” Ini istriku, Jung Sybil, Korea-Amerika. Sybil, ini sepupuku Park Minjin dan ini suaminya Oh Sehun..” Chanyeol memperkenalkan Sybil pada dua orang di depannya.

” Apakah dia bisa berbahasa korea?” Tanya Sehun.

” Fasih..” Jawab Sybil. Sehun terlihat terkejut dan tertawa kemudian.

” Noona!!!” Panggilan kecil terdengar beberapa meter dari tempat Sybil duduk, Xiao Le dengan jas rapi berlari menuju Sybil.

” Ahh! Xiao Le! Noona sangat merindukanmu!!” Pekik Sybil, menciumi wajah Xiao Le seperti biasanya.

” Ya! Xiao Le! Jangan memeluk Noona terlalu kencang, bayinya akan terkejut..” Hyera setengah memekik dibelakang.

” Hyera! Kau datang? Yi Fan Oppa disini?” Mata Sybil mencari.

” Tidak, dia pergi ke China hari ini untuk urusan bisnis Sybil-ah.. Tapi ia menitipkan ucapan selamat untukmu..”

Sybil mengangguk dan tersenyum.

Pesta melelahkan itu berakhir di pukul 3 sore, Sybil dan Chanyeol segera pulang menuju Apartement baru mereka. Chanyeol cukup terkejut ketika melihat kedalamnya, ia tidak ikut campur tentang urusan Apartement.

Namun, ia kagum dengan desain yang Sybil terapkan, terlihat sederhana namun membuat ruangan tersebut berkelas.

Ternyata Sybil tidak hanya pandai bermain dengan kain, ia juga pandai mengatur rumah, tata letak, interior, segalanya luar biasa.

” Kau tidak masalah kita tidur satu kamar?” Tanya Sybil kemudian, membuka pintu kamar. Chanyeol menatapnya.

” Seharusnya aku yang bertanya..”

Sybil terkekeh.

” Kau benar juga.. Kalau aku tidak masalah.. Kadang-kadang aku juga tidur berdua dengan Jun Myeon..”

” Kalau begitu aku juga tidak masalah.. Ngomong-ngomong bagaimana dengan kamar bayi?” Tanya Chanyeol, ia membuka lemari pakaian, sedikit terkejut karena pakaian-pakaiannya telah berada disana. Terlipat rapi.

” Oh, wallpapernya sudah selesai, aku masih perlu membeli karpet untuk lantainya, beberapa mainan, baju—”

” Baju?”

” Iya baju..”

Chanyeol membuka kemejanya, menghadap lemari.

” Kau sudah membelinya dengan ibu bukan?”

Sybil menatap lemari di depannya, mencari baju tidur.

” Itu tidak cukup Chanyeol, kau kira bayi hanya memakai setengah lusin baju?” Ujarnya.

Chanyeol mendengus, mengganti bajunya dengan cepat.

” Kau mau kemana?” Sybil bertanya ketika Chanyeol jalan menuju kamar mandi.

” Mengganti celana..”

” Ganti disini, aku akan ganti baju di dalam kamar mandi..”

Chanyeol diam dan hanya menatap Sybil masuk ke dalam kamar mandi tersebut.

Ia mengganti celana dan mengamati setiap sudut kamar tersebut, mulai hari ini ia akan tidur bersama oranglain. Padahal selama empat tahun terakhir ia hanya tidur dengan kekasihnya, mendekap tubuh mungil dan mencium pipi kekasihnya sebelum mereka terlelap dalam mimpi.

Namun, sudah hampir dua minggu kekasihnya tidak bisa di hubungi dan Chanyeol merasa gelisah. Ia benar-benar ingin menjelaskan apa yang terjadi pada belahan jiwanya tersebut, namun, si keras kepala itu tidak mau bertemu bahkan mengangkat telepon dari Chanyeol.

Pintu kamar mandi terbuka, Sybil mengenakan babydoll agak transparan dengan rambut basah karena habis keramas dan wajah putih beningnya terlihat segar.

” Kau mandi?” Tanya Chanyeol.

” Tidak, aku mencuci rambutku dan cuci muka.. Sebaiknya kau melakukan hal itu juga, aku tidak suka bau keringat di atas kasur..”

Chanyeol mendengus dan berjalan ke kamar mandi, sepuluh menit, ia keluar dan mendapati Sybil sudah terpejam pulas di balik selimut tebal.

Ia mendekat dan duduk dengan perlahan di atas kasur, mengamati wajah tidur Sybil. Wanita itu begitu cantik dengan wajah campuran, Chanyeol jadi penasaran alasan kekasih Sybil meninggalkannya. Apakah pria itu tidak merasa kasihan pada wanita yang tengah mengandung bayinya sendiri? Chanyeol melirik cincin emas putih di jari manis Sybil, ia teringat airmata Sybil yang jatuh ketika ia membuka kerudung wanita itu.

” Menyakitkan bukan Sybil-ah, menikah dengan pria yang tidak kau cintai.. Begitu juga denganku.. Kuatlah, ini demi bayimu..” Bisik Chanyeol.

Pemuda itu masih menatap Sybil hingga akhirnya kantuk menyerang dan dalam sekejap keduanya telah sama-sama tertidur.

” Chanyeol-ah.. Chanyeol..” Sebuah suara lembut masuk ke telinga pemuda yang masih memejamkan mata itu, membuka matanya perlahan, menatap sesosok wanita berambut panjang di depannya.

” Oh, ada apa Sybil-ah?”

Sybil mengigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang apakah dia harus memberitahu Chanyeol apa yang sedang ia rasakan.

” A-aku lapar..” Kata-kata itu akhirnya keluar dari mulutnya.

Chanyeol melirik jam di atas nakas sebelah tempat tidur. Menghela kemudian.

” Ini pukul satu malam Sybil-ah..”

Sybil memasang wajah sedih, Chanyeol menatap wanita di depannya tersebut kemudian terkekeh.

” Apakah kau selalu makan tengah malam?”

Sybil mengangguk pelan.

” Baiklah, aku akan membuatkan makanan untukmu..” Dengan malas Chanyeol bangkit dari tempat tidur, namun tangan Sybil menahannya, ia menoleh.

” A-aku selalu makan ayam goreng..”

” Ha?”

Sybil berkata dengan pelan sekali lagi.

” Aku selalu makan ayam goreng di malam hari, aku tidak makan-makanan lain..”

Chanyeol menatapnya dalam diam, mencerna ucapan Sybil.

” Apakah kau ingin aku memasak ayam goreng?” Tanya Chanyeol kemudian, Sybil menggeleng.

” Lalu?”

” A-aku ingin Yangnyeom Tongdak..”

Dan Chanyeol duduk kembali di kasur, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ngomong-ngomong kenapa dia jadi ikutan repot memenuhi keinginan makan wanita ini?

Sybil menatap reaksi Chanyeol, ia tahu, Chanyeol mungkin merasa terganggu dengan permintaannya. Tapi, ia benar-benar selalu makan Yangnyeom Tongdak pada jam 1 malam. Apakah seharusnya ia menelepon Jun Myeon?

Suara bel terdengar menggema di dalam ruangan, Sybil dan Chanyeol menoleh. Pukul 1 malam siapa yang datang ke rumahnya?

” Aku akan pergi membelinya, diam disini. Oke?” Akhirnya Chanyeol mengalah, mengambil sweater tebalnya dan berjalan keluar kamar, bel masih berbunyi.

Chanyeol membuka pintu dan mendapati pria bernama Kim Jun Myeon tengah tersenyum lebar dengan hidung memerah karena kedinginan.

” Ada apa?” Tanya Chanyeol.

” Apakah Sybil terbangun? Meminta Yangnyeom Tongdak?”

Chanyeol mengerenyit.

” Ah! Dia pasti terbangun kan? Jungsy! Jungsy! Aku membawakan ayam untukmu!”

Chanyeol menatap Jun Myeon yang seenaknya masuk ke Apartement mereka, Sybil keluar dari kamar dan tersenyum lebar menyambut Jun Myeon, ia memeluk pria itu serta menarik tangan Jun Myeon menuju sofa.

” Wah! Kau membawakannya! Baru saja aku berfikir untuk meneleponmu..” Pekik Sybil riang.

” Ya, aku tahu kau akan meminta Yangnyeom pada pukul 1.. Jadi aku membelinya setelah kembali dari pesta pernikahanmu tadi sore..”

Chanyeol menatap kedua orang yang tengah sibuk berbicara, kemudian ia masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas kasur. Menatap langit-langit. Ia rindu pada kekasihnya.

Melihat Sybil dan Jun Myeon ia jadi teringat kenangannya, makan berdua di tengah malam, mengobrol, atau ketika Chanyeol memetik gitar dan bernyanyi dengan suara berat kekasihnya akan menertawakan. Mengatakan jika ia benar-benar buruk dalam bernyanyi. Menatap matanya, Chanyeol membayangkan kekasihnya tersebut.

” Chanyeol?” Sybil masuk ke dalam kamar, duduk di tepian kasur.

” Kau tidur?”

Chanyeol berbalik, menatap Sybil.

” Maafkan aku membangunkanmu..”

” Mana Jun Myeon hyeong? Dia sudah pergi?” Chanyeol bertanya. Sybil mengangguk dan merebahkan tubuhnya di kasur.

” Bukankah dokter melarangmu makan di tengah malam? Bayimu sudah melebihi berat badan normal di usianya..”

Sybil menoleh, pandangan mereka bertemu.

” Aku tahu, tapi aku sangat lapar..”

Chanyeol menatap perut besar Sybil dan tertawa.

” Boleh aku menyentuh perutmu?” Tanya Chanyeol. Sybil terkejut namun kemudian ia mengangguk. Tangan besar dengan jari-jari panjang itu perlahan mendekat dan menyentuh perut Sybil.

” Kau sedang dalam suasana hati yang buruk ya, Chanyeol?”

” Hm? Kenapa?” Chanyeol menatap wajah Sybil yang berjarak cukup jauh dengannya.

” Tidak, hanya saja, kau ingin menyentuh bayiku..”

Chanyeol terdiam sebentar, kemudian tertawa kecil.

” Kau benar, kau yang mengatakannya kan? Bayimu bisa membuat mood ku kembali baik..”

Sybil hanya terdiam melihat senyum mengembang dari wajah Chanyeol ketika ia mengatakan moodnya sedang tidak baik.

” Apakah dia tertidur? Aku tidak merasakan gerakannya..”

” Hm? Iya, dia tidur sehabis makan.. Aku selalu bangun pukul 1 karena dia terus menerus bergerak di perutku..” Jawab Sybil.

” Apakah rasanya sangat menyakitkan?”

” Hmm, terkadang itu geli, namun beberapa kali aku merasa itu menyakitkan.. Terutama jika ia mendesak naik ke dadaku..”

Chanyeol mengangguk.

” Apakah perutmu benar-benar nyaman untuknya?”

Sybil terkekeh.

” Apakah ada pertanyaan berawalan apakah lain yang akan keluar dari mulutmu, Park Chanyeol?” Sybil mencibir, Chanyeol jadi terkekeh. Keduanya kemudian terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.

” Sybil-ah..”

” Hm?”

” Kenapa kekasihmu tidak menginginkan bayi ini?”

Pertanyaan Chanyeol mengejutkan Sybil, mata wanita itu membulat dan tanpa sadar genangan air asin memenuhi matanya. Itu sangat sensitif baginya.

” Ah, ah, maafkan aku Sybil-ah.. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis..” Ia refleks menghapus airmata Sybil yang mengalir.

” Kupikir kau harus tahu, kau juga menceritakan mengapa kau tidak jadi menikah dengan kekasihmu.. Tapi Chanyeol-ah, aku bukan wanita baik-baik..” Sybil berbicara dengan pelan disela isaknya.

” Aku melakukan seks pertamaku ketika di SMP, aku juga memiliki kebiasaan buruk ketika mabuk.. Hyera yang memberitahuku, aku melakukan seks dengan sembarang pria ketika aku mabuk, tapi aku benar-benar melupakan hal itu esoknya..”

Chanyeol mendengarkan cerita Sybil.

” Aku.. Memang bukan wanita baik-baik, kekasihku selama ini—memiliki istri..”

Mata Chanyeol membulat seketika mendengar ucapan Sybil. Terkejut.

” Itulah alasan mengapa aku tidak bisa menikah dengannya, itulah mengapa aku dibuang olehnya ketika tahu aku hamil.. Chanyeol-ah, aku bukan wanita baik-baik yang bertemu pria baik-baik, aku menjadi wanita penggoda suami orang dan merebutnya..”

Chanyeol menatap Sybil yang terisak, mendengar cerita wanita itu membuat dadanya sesak. Mungkin, itulah alasan Sybil menangis ketika pertama kali bertemu dengannya, hamil dan di tinggalkan, beban wanita itu mungkin sangat berat.

” Ia memintaku untuk aborsi, aku akan melakukannya hari itu, tapi kau tahu tidak Chanyeol? Bayiku meyakinkanku dalam waktu kurang dari lima menit..” Sybil melanjutkan bercerita.

” Saat itu dokter bertanya apakah aku ingin mendengar detak jantungnya dan aku mengangguk, dokter mengatur alat-alat, kemudian aku mendengar detak jantung pertama bayiku.. Iramanya begitu indah, tanpa sadar aku menangis, aku tidak ingin kehilangan debaran indah itu..”

Chanyeol terkekeh melihat perubahan ekspresi dan suara dalam diri Sybil.

” Jadi, karena itu kau mempertahankan bayimu?” Tanya Chanyeol. Sybil mengangguk.

” Tapi, Hyera bilang, anakku mungkin tidak bisa bersekolah jika aku tidak menikah. Jadi, aku mengajak Jun Myeon untuk menikah..”

” Jun Myeon?”

” Ya, tapi Jun Myeon menolak, menceramahiku tentang sucinya sebuah pernikahan..”

” Ah, karena itu kau memilihku?” Ucap Chanyeol.

” Itu benar-benar bukan kesengajaan, aku tidak tahu kau anak tunggal Park Corps, pemilik brand BMW Korea.. Aku juga tidak tahu Rumah Sakit yang kita datangi adalah Rumah Sakit milik Park Corps..”

Chanyeol tertawa lagi.

” Baiklah.. Hari ini kau sudah memberi tahuku terlalu banyak informasi berharga.. Sekarang, tidurlah, besok kita akan ke rumah ibuku, ia bilang akan membawamu ke Gereja dan mengenalkannya pada seluruh jemaat disana..”

” Ge-gereja?”

Chanyeol mengangguk, ” Ada apa?”

” A-aku tidak pernah ke gereja sebelumnya..” Sybil mendesis.

” Kau Budha?” Tanya Chanyeol setengah terkejut. Sybil menggeleng.

” Hindu?”

Sybil menggeleng.

” Islam?”

Sybil menggeleng lagi.

” Lalu apa?”

Sybil terdiam.

” A-aku tidak pernah belajar agama apapun..”

Dan percakapan itu berakhir dengan Chanyeol yang membalik badannya memunggungi Sybil.

——————————————————————————————————————————

PREGNANT AFFAIR

——————————————————————————————————————————

Sybil duduk dengan tidak nyaman pada kursi kayu, ia sedang berada di gereja bersama ibu dan ayah Chanyeol.

Pukul 9 tadi pagi ia terkejut ketika bangun dan mendapati ibu mertuanya duduk di sofa Apartement dengan senyum lebar, dua minggu lalu ia mencoba berkelit dan mencari segala alasan untuk menghindari pergi ke gereja dan melakukan ibadah. Namun, sekarang ia tidak bisa menghindar lagi…

Bukannya Sybil tidak ingin mengenal sebuah agama dengan lebih baik, hanya saja, ia benar-benar tidak ingin ibu mertuanya malu di depan orang banyak ketika mengetahui bahwa anak menantunya seorang Atheis.

Oke Atheis. Sybil benar-benar tidak percaya Tuhan itu ada, ya, dia pernah merasa Tuhan itu ada ketika mendengar detak jantung pertama bayinya. Tapi, dia adalah orang modern yang berfikiran realistis.

Tapi, disinilah ia sekarang mendengarkan khotbah dan pujian-pujian yang dinyanyikan indah oleh para Jemaat. Ibunya memperkenalkan ia pada hampir seluruh Jemaat yang hadir disana ketika acara ibadah telah selesai, Sybil harus menunduk beberapa kali, berdiri, dan tersenyum lebar, memperkenalkan diri pada semua orang yang ia temui.

” Sybil-ah.. Kau harus menyapa pendeta tersebut, ia masih muda, namun sudah sangat disegani oleh para jemaat..” Suara ibu Chanyeol memecah lamunan Sybil, ia tersenyum, bangun dari tempat duduk dan berjalan mendekat pada seorang pria tinggi dan tampan.

” Pendeta Choi, ini anak menantuku.. Namanya Jung Sybil..” Chae Myun berkata lembut pada pendeta tersebut, Sybil mengangguk kemudian, mencoba bersikap sopan.

” Are you Korean?” Tanya pendeta Choi.

” A-ah, I’m half American..” Jawab Sybil kemudian. Pendeta Choi bertanya gereja mana yang sering Sybil kunjungi, namun Sybil tersenyum kaku dan menyebutkan sembarang gereja yang berada di sekitaran Apartementnya.

” Jadi, kau katolik?” Tanya pendeta Choi ketika Sybil menyebutkan salah satu gereja katolik di sekitar Apartementnya.

” Eh?” Sybil terkejut, ia bahkan tidak tahu perbedaannya.

” Sybil-ah, ibu tidak tahu jika kau katolik.. Bagaimana ini?” Tanya Chae Myun.

” A-ah, ti-tidak seperti itu, a-aku..” Sybil jadi sangat gugup, bagaimana ia harus menjawab? Apakah ia harus jujur? Di depan pendeta yang disegani ini? Bukankah itu terlihat tidak sopan?

” Sybil seorang Atheis bu..” Suara berat membuat keempat orang itu menoleh, Chanyeol berjalan mendekat pada Sybil dan menyentuh pundak wanita itu.

” Maafkan aku..” Sybil berbicara dengan pelan pada akhirnya.

Kemudian suara tawa terdengar, Ayah Chanyeol tertawa dengan kencang hingga beberapa jemaat yang masih berada di dalam Gereja menoleh.

” Jadi, itu alasanmu selalu mengelak untuk ikut kami ke Gereja?”

Sybil mengangguk pelan. Chanyeol menatap ayahnnya yang tertawa lebar, seumur hidup, ini benar-benar kali pertama ia melihat ekspresi seperti itu pada ayahnya.

” Tidak apa-apa Sybil-ah, jika kau ingin mempelajarinya, kami akan membantumu.. Namun, jika kau benar-benar tidak ingin, tidak perlu memaksakan diri..” Ayah berkata demikian, suaranya lembut, intonasi yang tidak pernah Chanyeol dengar mampir di telinganya. Apakah itu adalah ayahnya?

” Apakah tidak masalah jika aku Atheis? Kupikir ayah dan ibu akan malu..”

Ibu Chanyeol tersenyum, menggenggam lembut lengan Sybil.

” Tidak masalah, kau sudah dewasa, itu hak mu untuk memilih apa yang kau putuskan Sybil-ah..”

” Jika kau ingin menjadi seorang Protestan, kau bisa melakukan kategisasi sebelum pembaptisan, aku akan membimbingmu..” Pendeta Choi berkata dengan lembut dan Sybil jadi merasa lega. Ia benar-benar bersyukur Chanyeol datang di saat yang tepat.

” K-kenapa kau disini?” Sybil baru menyadari alasan apa yang membawa Chanyeol datang ke Gereja, tadi pagi pemuda itu menolak habis-habisan ketika ibu memaksa ia dan Sybil pergi kesini.

” Kita harus pergi ke Rumah Sakit untuk memeriksakan bayi—kita..”

Sybil ingin tertawa ketika dengan susah payah Chanyeol menyebut ‘bayi kita’ dalam kalimatnya.

” Kalau begitu pergilah Sybil-ah, ibu dan ayah masih akan disini sebentar lagi..”

Kemudian mereka berdua berpamitan pada ayah dan ibu serta pendeta Choi. Keduanya diam di dalam mobil, Sybil sibuk menikmati jalan keluar dari Gereja yang penuh dengan rumput ilalang. Menikmati sinar matahari musim semi di akhir april.

” Bulan ini kandunganmu masuk 8 bulan kan?” Chanyeol membuka pembicaraan membuat Sybil menoleh dan duduk dengan nyaman di tempatnya.

” Kenapa?”

Chanyeol memutar stirnya, masuk menuju jalan tol.

” Kurasa kita harus mulai membeli perlengkapan bayimu, aku membacanya tadi di Internet, ketika usia kehamilan masuk 8 bulan, orangtua bayi harus berbelanja kebutuhannya sebelum bayi dilahirkan..” Ucap Chanyeol. Sybil mengangguk-angguk.

” Tapi, aku tidak tahu harus membeli apa..”

” Coba cek di internet, kau lihat apa yang harus dipersiapkan untuk kelahiran bayi..” Chanyeol memberi ide. Sybil mengeluarkan ponselnya dan sibuk mencari.

” Oh, mereka bilang kita harus mempersiapkan popok, selimut, kasur lantai, box bayi, oh kita sudah memiliki box bayi dan—” Sybil terus membacakan apa yang harus dibeli pada Chanyeol yang mengangguk-angguk, itu hampir duapuluh barang yang mereka perlu beli hanyan untuk seorang bayi.

” Wah, bayimu akan membuatku bangkrut dalam sekejap..” Ledek Chanyeol, Sybil mendelik dan Chanyeol tertawa dengan suara beratnya melihat ekspresi wanita itu.

Sebulan benar-benar terlewat begitu saja dalam pernikahan mereka, Chanyeol dan Sybil adalah partner yang baik dalam urusan pernikahan pura-pura ini.

Sybil bangun pagi-pagi sekali, memasak untuk sarapan dirinya dan Chanyeol seperti seorang istri yang baik, kemudian Chanyeol akan menunggunya berdandan dan bersiap-siap pergi bersama ke tempat kerja seperti seorang suami yang baik.

Sybil akan makan siang bersama Jun Myeon dan pulang lebih dulu bersama sahabatnya itu sebelum Chanyeol pulang.

Kadang-kadang Sybil memasak makan malam jika Chanyeol meminta, tapi lebih banyak Sybil tidur duluan meninggalkan Chanyeol. Dan keduanya akan makan Yangnyeom Tongdak bersama-sama pada pukul 1, entah itu bersama Jun Myeon (yang terkadang datang tanpa di undang) atau berdua saja.

Chanyeol jadi lebih mengerti jadwal tidur Sybil bersama bayinya, kedua orang itu akan tidur pukul 7 malam dan bangun pukul 1.

Setelah makan Sybil akan menatap perutnya yang bergerak-gerak, cekikikan sendiri merasa geli, Chanyeol akan penasaran dan berakhir tertawa berdua melihat perut Sybil berbentuk aneh. Kemudian, Sybil tidur pukul 2 dan bangun pukul 7, berjalan-jalan di taman dan memasak sarapan.

Sybil juga jadi terbiasa dengan kebiasaan Chanyeol yang selalu tidur dengan wajah tertutup oleh selimut, mencari kacamata dan topi ketika ia membuka mata pertama kali.

Hal-hal kecil seperti itu mereka pelajari dalam waktu singkat, Sybil selalu meyakinkan dirinya jika Chanyeol sama dengan Jun Myeon, dan Chanyeol selalu meyakin diri jika Sybil hanyalah orang baik hati yang menolong memberi cucu pada orangtuanya agar ia mudah menikah dengan kekasihnya.

Dokter menatap timbangan Sybil yang hanya tersenyum kaku.

” Anda benar-benar naik 2-3kg setiap bulan Nyonya..” Kata-kata itu seperti menusuk Sybil. Ayam goreng dengan balutan madu manis memang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja di tengah malam.

” Kita lihat bayi anda..” Dokter berkata lagi.

” Oh, ini berbeda dengan USG yang biasanya..” Chanyeol berkata.

” Anda benar tuan Park, ini adalah USG 4D..”

” Empat Dimensi?”

” Anda dan istri dapat melihat dengan jelas bagaimana rupa anak kalian menggunakan 4D..” Dokter memutar alat USG di perut Sybil dan segera suara pekikan terdengar dari mulut Sybil.

” Waaah! Wajahnya! Itu wajah bayiku! Astaga! Astaga!”

” Wah! Luar biasa! Itu bayimu? Itu bayimu Sybil-ah! Itu bayimu! Astaga! Hidungnya! Waaaah..” Chanyeol ikut heboh dan menunjuk-nunjuk monitor USG.

Disana, terlihat dengan jelas bagaimana rupa bayi laki-laki Sybil. Pipinya sangat gembul, hidungnya terlihat mancung, bibirnya mungil dan matanya masih menutup rapat. Bayi itu tidak berhenti bergerak hingga Dokter berkali-kali sulit untuk memotret wajahnya dengan benar, tangan mungilnya menghalangi beberapa kali.

” Anda ingin ini?” Dokter bertanya kemudian pada Chanyeol, menyerahkan selembar foto USG bayi Sybil. Ia menatapnya lama.

” Sybil-ah, ini boleh buatku? Aku ingin menyimpannya di dompet, boleh?” Tanya Chanyeol. Sybil mengangguk dan tersenyum.

” Jangan lupa untuk segera memikirkan sebuah nama untuk bayi anda tuan Park..” Dokter mengatakannya di akhir pemeriksaan.

Chanyeol dan Sybil berjalan menuju parkiran.

” Apakah aku yang harus memberi nama bayimu Sybil-ah?” Tanya Chanyeol kemudian, Sybil memakai sabuk pengaman dan tampak berfikir sejenak.

” Kurasa kau boleh memberinya nama, walaupun kau bukan ayah biologisnya, tapi kau suamiku sekarang.. Lagipula, bayiku akan menyandang marga keluargamu dan menjadi penerus dalam keluargamu.. ”

Chanyeol mengangguk, dan mulai menjalankan mobil putih mewahnya tersebut. Mereka kemudian pergi dari Rumah Sakit, destinasi selanjutnya adalah Baby Shop. Tidak lama, cukup 30 menit dan mereka telah sampai disebuah Baby Shop besar dan mewah. Sybil sempat menghentikan Chanyeol, perlengkapan bayi di toko ini pasti mahal.

Namun, Chanyeol hanya tersenyum dan berkata.

” Ini sebagai hadiah karena kau mau meminjamkan bayimu untuk menjadi bagian dari keluarga kami..”

Sybil kemudian tersenyum dan menuruti Chanyeol membeli peralatan bayinya di tempat itu.

Keduanya berpisah di dalam Baby Shop, Chanyeol memilihkan kereta bayi, kursi penyelamat, kursi makan untuk bayi, roda dan mainannya. Sybil memilih popok, baju, kaos, celana, sepatu dan beberapa perlengkapan pokok bayinya.

Mereka bertemu di kasir dan Sybil sangat terkejut ketika melihat kereta bayi penuh dengan topi. Topi?

” Apa yang kau lakukan dengan topi-topi ini?” Tanya Sybil pada Chanyeol yang sedang mengeluarkan dompet.

” Ini untuk bayimu, dia laki-laki, dia pasti tampan jika memakai topi, sepertiku..”

Sybil terdiam, seperti Chanyeol? Ini saja bukan anak kandungnya, lalu dimana letak kesamaan mereka?

” Dia masih bayi Chanyeol, dia tidak memerlukan topi-topi ini..”

Chanyeol mendelik.

” Dia akan memakainya ketika dewasa!”

Sybil hanya terdiam mendengar ucapan Chanyeol, kemudian, mereka meninggalkan barang-barang itu di toko dan meminta mengirimkan barang-barang tersebut ke Apartement.

Chanyeol membawa bungkusan besar berisi topi-topi itu ke dalam mobilnya dan Sybil hanya terkekeh melihat pria itu penuh semangat.

Mereka kembali masuk ke dalam mobil dan melakukan perjalanan, Chanyeol melewati restoran ayam dan berhenti.

” Kau ingin aku membeli Yangnyeom?” Tanya Chanyeol.

” Tidak, kurasa nanti malam aku tidak akan memakannya..”

Chanyeol menatap bingung Sybil.

” Ada apa?”

” Aku tidak akan melahirkan normal jika bayiku masih besar.. Aku akan berhenti makan es krim dan menghindari gula..”

” Kau benar-benar ingin melahirkan dengan normal?” Tanya Chanyeol kemudian.

Sybil mengangguk, ” Aku pernah membacanya di Internet, melahirkan normal memang menyakitkan tapi semua wanita akan bangga jika melaluinya..”

Chanyeol tertawa kemudian mengacak rambut Sybil. Ponsel Sybil bergetar dan ia seperti teringat sesuatu ketika melihat pesan disana.

” Chanyeol-ah, aku lupa, aku memiliki kelas hamil sore ini..”

” Kelas hamil?”

” Aku mendaftarkan namaku disana kemarin, bagaimana ini?”

Chanyeol terdiam sebentar, Kelas Hamil itu apa? Apakah dimana para ibu hamil belajar? Apakah itu menyenangkan? Ia juga tidak memiliki kegiatan apa-apa hari ini.

” Oke! Ayo kita kesana!”

Chanyeol mulai kembali melanjukan mobilnya, Sybil tersenyum lebar kemudian memencet GPS agar lebih mudah bagi Chanyeol menuju tempat tersebut.

Chanyeol terkejut ketika memasuki ruangan, ada sekitar sembilan ibu hamil menunggu di dalam bersama para suami mereka. Ia tercengang melihat para wanita itu menyerupai labu seperti Sybil.

” Ya, apakah ini pertandingan sumo?” Ledek Chanyeol pada Sybil.

” Kau mau mati?” Sybil mendelik.

Chanyeol terkekeh. Seorang Instruktur perempuan mempersilahkan para peserta masuk, awalnya, Chanyeol hanya duduk di ruang tunggu namun Instruktur itu memanggilnya dan menyuruh ia menemani Sybil ke dalam.

Chanyeol terkejut dan tampak kikuk ketika harus duduk di belakang Sybil, menempelkan tubuhnya dengan wanita itu.

” Selamat sore calon ibu, hari ini kita akan membuka kelas ibu hamil dengan beberapa senam khusus ibu hamil.. Senam ini di khususkan agar ibu hamil mempunyai persiapan untuk melahirkan.. Kita mulai dari senam kegel..” Instruktur itu berbicara panjang lebar, kemudian mulai memperagakan beberapa gerakan.

” Senam ini sangat bagus untuk para ibu yang ingin melahirkan secara normal, senam kegel dapat dilakukan jika anda akan buang air kecil. Stop and go, kalian bisa membuang air kecil sedikit demi sedikit, keluarkan, tahan, keluarkan..”

” Pffft! Kekanakan..” Chanyeol berbisik di telinga Sybil yang menyenggol perut pemuda itu segera.

” Baik, sekarang para calon ibu harap berdiri..” Instruktur itu berdiri tegak di tempatnya, Chanyeol membantu Sybil untuk bangun dan tetap berdiri dibelakang wanita itu.

” Luruskan punggung anda, pelan-pelan, turunkan badan anda, sampai posisi jongkok, tahan 10 detik dan kembali berdiri..”

” Ya! Kau akan membuat Sybil melahirkan dengan segera!” Chanyeol setengah memekik, membuat Sybil terkejut karena suaranya yang lantang dan berat itu menggema. Orang-orang di dalam ruangan memperhatikannya dengan bingung.

” Ya! Apa yang kau katakan?!” Sybil bergumam sambil menunduk.

” Apa? Dia menyuruhmu melakukan itu, wah! Apakah tempat ini memiliki lisensi? Apa-apaan gerakan seperti itu?” Chanyeol mengomel di tempatnya.

” Tuan? Maaf, tapi ini memang sesuai dengan apa yang harus kami ajarkan untuk seluruh ibu hamil.. Ini akan membantunya agar melahirkan dengan mudah..” Instruktur itu menjelaskan dengan lembut pada Chanyeol yang mendengus.

” Baiklah, akan kulihat lagi kalian akan menyuruh ibu hamil melakukan gerakan apalagi..”

Sybil memerah, ia tidak menyangka Chanyeol akan mengomeli instruktur di depan. Ia malu, sangat malu atas tingkah bodoh Chanyeol. Sybil melakukan gerakan tersebut sampai 10 kali dan Chanyeol membantunya untuk kembali berdiri dengan mulut yang tetap mengoceh.

” Sekarang, kita lakukan gerakan memiringkan pinggul. Ini dapat menguatkan otot perut para calon ibu, dan meredakan sakit pinggang.. Posisikan tubuh anda seperti merangkak dengan kepala sejajar punggung kemudian tengadahkan kepala ke atas sambil menarik nafas dan melepasnya perlahan, lakukan 10 kali..”

Chanyeol kali ini tidak berkomentar apa-apa, ia hanya memperhatikan Sybil yang susah payah mencoba posisi merangkak.

” Kemudian, ini adalah pose tailor atau pose kupu-kupu.. Anda bisa duduk dan punggung merapat lurus ke dinding, karena sekarang anda berjauhan dengan dinding, para calon ibu bisa bersandar pada suami masing-masing..”

Chanyeol melotot ketika Instruktur berkata demikian, namun ia tidak bisa menolak ketika Sybil merapatkan tubuhnya pada bagian depan tubuh Chanyeol.

Chanyeol menelan salivanya, dengan jarak sangat dekat seperti itu, ia bisa mencium wangi rambut Sybil dan keringat yang menjadi satu. Aroma parfume menggairahkan menguar dibalik telinga wanita itu.

” Kemudian, telapak kaki saling menyentuh rapat, dan dorong lutut ke arah bawah menyentuh lantai.. Manfaatnya adalah untuk melatih otot paha menghilangkan stress punggung bawah ibu hamil..”

Sybil memulai gerakannya dengan santai dan fokus, namun Chanyeol sama sekali tidak dapat fokus. Para suami oranglain, memeluk istri mereka atau memegang tubuh istri mereka, sedangkan Chanyeol hanya duduk tegak dan kaku disana.

Acara kelas hamil itu berlangsung selama hampir 1 jam, mereka diberikan cukup informasi tentang melahirkan, prosesnya, tanda-tanda akan melahirkan dan sebagainya. Sybil memiliki dua kali pertemuan lagi sebelum ia benar-benar memasuki masa persalinan.

” Instruktur itu bilang, aku harus melakukan senam-senam tersebut juga selama di rumah..” Sybil membuka pembicaraan duluan.

Sebenarnya, Sybil bingung dengan sikap Chanyeol yang mendadak diam dan manis setelah acara senam berakhir. Padahal sebelumnya ia membuat kekacauan dengan protes pada si Instruktur. Selama perjalanan pulang ke rumah 1 jam, dan ketika mereka sampai, mandi, makan malam, Chanyeol juga belum membuka pembicaraan apapun.

” Ya, Chanyeol, kau mendengarku?” Pekik Sybil.

” Ya, ya aku mendengarnya..” Jawab Chanyeol acuh. Sybil mendengus, memasuki kamar bayinya dan meninggalkan Chanyeol di ruang tamu yang sedang sibuk dengan Laptop dan berkas-berkas di meja tamu.

Sybil menatap kamar bayinya yang masih berantakan, barang-barang yang ia dan Chanyeol beli tadi sore baru saja di kirim dan mereka memasukannya dengan sembarang ke kamar itu. Ruangan besar dan lega itu jadi terlihat sangat berantakan.

Sybil perlahan membuka kardus berisi pakaian, ia membuka seluruh plastik pada pakaian itu dan menyimpan mereka di keranjang, menyeret keranjang keluar kamar.

” Apa yang kau lakukan?” Chanyeol melirik Sybil yang sedang menyeret keranjang berisi setumpuk pakaian bayi menuju dapur.

” Aku akan mencucinya, ini pasti kotor saat di toko, bayiku akan mengalami ruam dan gatal jika bajunya tidak steril..” Jawab Sybil, ia memilah sebentar dan memasukkan seluruh baju-baju si kecil pada mesin cuci.

” Hm, aku akan menggunakan air hangat untuk mencucinya..” Gumamnya. Ia kembali masuk ke dalam kamar setelah menyetel mesin cuci.

Menatap barang-barang, ia mulai merobek kardus-kardus dan mengeluarkan isi di dalamnya. Awalnya, Chanyeol enggan membantu, ia baru ingat jika memiliki rapat di pagi hari senin besok.

Namun, mendengar dengusan nafas Sybil yang tampak lelah dan melihat wanita itu mondar-mandir dari kamar ke mesin cuci ia jadi risih juga. Jadi, disinalah dia sekarang, menempel sticker winnie the pooh di box bayi.

” Apakah ini memang harus di tempel? Kau mengotori box bayinya!” Pekik Chanyeol pada Sybil yang berada di dapur.

” Tidak! Itu akan terlihat lucu! Percaya padaku! Lagipula Sticker itu Glow in The dark, bayiku akan senang melihatnya!” Jawab Sybil.

Chanyeol berdecak, namun tangannya tidak berhenti menempeli sticker ke dalam box. Setelah selesai, ia berpaling ke karpet karet berwarna biru langit.

” Ya, Sybil-ah! Apakah tidak masalah kau membeli karpet karet? Ini akan sangat licin jika terkena air, apakah bayimu tidak akan terpeleset?” Tanya Chanyeol lagi.

” Seharusnya kau mengkhawatirkan aku di banding bayiku, dia tidak bisa jalan Chanyeol-ah! Aku akan menggantinya ketika ia sudah bisa berjalan!”

Chanyeol mendengus, namun, ia tetap menggelar karpet itu, mengaturnya sedemikian rupa. Selama satu jam ia berkutat di kamar, Sybil yang baru saja selesai mencuci sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Chanyeol.

Kamar bayinya jadi terlihat sangat indah, beberapa mainan Chanyeol simpan dipojok ruangan dekat jendela, box bayi berada dekat pintu, tempat mengganti popok, kotak bermain, seluruhnya berada pada tempat yang tepat dan juga Chanyeol menyimpan topi-topi yang ia beli di kayu panjang untuk menyimpan buku yang tertempel di tembok, menata topi serapi mungkin dan memasukannya ke dalam plastik.

” Kau tidak buruk Chanyeol-ah..” Puji Sybil kemudian. Chanyeol terkekeh.

” Aku harusnya mendengar kata terima kasih sekarang selain sebuah pujian..”

Sybil meliriknya dan tersenyum.

” Thank you..”

Keduanya saling tersenyum satu sama lain.

” Sybil-ah..”

” Hm?”

” Boleh aku memanggilmu Sysi? Kudengar Jun Myeon beberapa kali memanggilmu demikian..”

” Oke, boleh. Kalau begitu boleh aku memanggilmu Yeol?”

” Oke.. Sysi-ah..”

” Terima kasih, Yeol-ah..”

Malam semakin larut di Seoul. Namun, di ruang tidur Apartement mereka suara Sybil masih terdengar bercerita apapun yang dia tahu dan Chanyeol mendengarkan dalam diam. Duapuluhmenit kemudian suara Sybil tidak terdengar lagi, berubah menjadi dengkuran kecil. Chanyeol melirik jam di nakas, pukul 1 malam.

” Kau berhasil menahan keinginan makan Yangnyeom Tongdak hari ini..” Gumamnya, dan terkekeh. Ia hendak tidur ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.

 

From : my xoxo

Kau sudah tidur? Aku sudah di New York. Dan, tiba-tiba aku menyadari jika aku benar-benar tidak bisa hidup tanpamu. Chanyeol-ah, kau ingin menjelaskannya padaku kan? Kuharap itu penjelasan yang bagus.. Kau ingin aku meneleponmu atau kau akan meneleponku? Atau kau akan pergi ke New York besok pagi?

 

Chanyeol menatap pesan tersebut kemudian tersenyum, menekan tombol call pada ponselnya.

 

 

Continued~~~

Advertisements

170 responses to “Pregnant Affair (Chapter 4)

  1. Unnie lg hamil? Congrats unnie *^^* aku harap Tuhan lindungin janin unnie terus&lindungin unnie jg:DD
    Aku kok tiba” jd mikir ya… Pacar chanyeol kan ga bisa hamil jgn” chanyeol gay/? Ah engga, ga mungkin haha pemikiran aneh muncul gitu aja. Tp bisa aja gitu/? ((abaikan))
    Pacar sybil sebenarnya siapa unnie? >-< duh. Msh penasaran. Yixing kah? '-' udh sampe chap.4 tp blm berhasil nebak wqwq
    Pcy perhatian bgt hihihi pdhal baru awal nikah loh ini~~

  2. Hahhhh yeol pdhl udh mulai terbiasa…tp skrg mulai menuju konflik kyx ya…pcr yeol comeback…
    Aq jd mikir gimana perasaanx sybil..ibu hamil kan biasax lbh sensitif..wlwpn dia ga cinta..tp mungkinkah sybil bakalan ngerasa ga nymn klo tw yeol mulai berhubungan lg sma pcrx

  3. ahhmnis bgt yeol am sysi na
    tpi ohh knpa pcr na yeol hrs msuk lgi d khidupn yeol.
    ohhhhhh mmmmm gggggg…

  4. Kyaaaaaa…
    akhirnya chanyeol sm sybill bsa jalin hubungan suami istri dg baik euyyy…
    mmmmmmmm, mudah2an suatu hari nnt mrk berdua bsa slg mencintai kekk…
    mengaharap bgtzzz,,
    itu knp sih pacarnya chanyeol mnt balikan lgi chanyeol udh nyaman dg sybill tauu…

  5. Keren bgt ini ff nya.. Semua lengkap..
    Tinggal lihat bayi nyasybil seperti apa!!!!
    Semoga ini berakhir happy ending!!!!

  6. akhirnya chanyeol sm sybill bsa jalin hubungan suami istri dg baik
    Tapi masih sama kaya sebelumnya.. Masih penasaran sama cast cast yang belum keluar.. Kkkk aaaaa.. Romance nya agak kurang eomma.. Tapi tetep seruuuu ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s