SEVEN [Chapter 1]

 

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan epep dari author baru. Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini. Happy Reading ~ ^^

Title :

                                                                                                 SEVEN

[CHAP 1 = My True Life is Beginning]

Scriptwriter : kinantiwr.

Main Casts : Choi Junhong || Supporting Cast : Bang Yongguk, Lee Buyi [OC], Park Jimin.

Genre : Mistery, Fantasy, Friendship, Little bit horror, angst and comedy, Romance (soon). || Duration : Chaptered—1 (3600± w.) || Rating : PG.

Disclaimer :

I don’t own anything besides the storyline, oc, and poster. Kesamaan tokoh/alur cerita dapat di pastikan hanya unsur ketidak-sengajaan belaka.

Inspiration :

49Days K-Drama, Novel — 10 Things I must to do before I die.

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

 

Summarizes:
˝7 days, 7 things, 7 promises, 7 feels, and many hopes for number 7.˝

 

 

 

WARNING!

Harap berhati-hati, alur campuran berlaku dan pergantian waktu tidak akan di jelaskan.

Keseluruhan cerita adalah sudut pandang atau point of view (POV) dari Zelo. Adapun jika sedang dalam adegan tanpa Zelo, merupakan sudut pandang dari author/pengamat.

 

 

 

——0o0——

 

 

 

Pernahkah kau merasakan hidup yang benar-benar bisa disebut sebagai kehidupan?

Itulah yang kurasakan, ironisnya adalah bahkan saat aku tau bahwa sebentar lagi aku akan masuk kedalam peti mati. Zelo

 

~~~~~

 

 

 

May, 22nd 2013.

 

 

 

Sore itu benar-benar menyebalkan. Oh sebenarnya bukan karena cuaca atau apapun, tapi karena yeoja itu. Gadis matre bernama Han Yumi, yang—jika saja bisa aku pungkiri—katanya, merupakan kekasihku. Bayangkan saja, seharian ini ia terus merengek minta kuajak dinner di O’Peniville Seafood.

Baiklah, aku sadar aku memang mampu mengajaknya ke restaurant paling mahal dan berkelas di Seoul itu. Tapi dimana sebenarnya letak otak gadis itu? Bahkan tempat itu tidak cocok sama-sekali untuk murid sekolah seperti kami.

 

Ya, aku akui keluargaku adalah salah satu keluarga terpandang di Korea Selatan. Choi Seunghyun, ayahku.  Ia adalah seorang pemilik perusahaan stasiun televisi besar, sementara Ibuku, Park Bin adalah seorang advertising owner yang selalu saja membanggakan iklan-iklannya yang sungguh membuat muak itu.

Ayolah, kembali ke masalah tadi. Aku bukannya tidak mampu, aku hanya malas pergi ke tempat dengan formalitas tinggi seperti itu, dan kurasa… jika Yumi bukan wanita—dan pacarku, tentunya—, mungkin sudah kucekik leher pendeknya itu sampai putus. Astaga, aku berlebihan sekali.

 

 

 

“Hoi, Junhong!!”

 

Seseorang menghampiriku. Ia menepuk pundakku keras sekali dan kuyakini ia melakukannya dengan cara berjinjit. Yah, mengingat tinggi badan kami yang sangat kontras. Dan astaga! Apa yang dia katakan!? Dia menyebutkan nama asliku? Bodoh sekali!

 

“Ya, Park Jimin! Berhenti memanggilku dengan nama menggelikan itu,”

 

Park Jimin, ia teman baikku. Mungkin juga satu-satunya orang yang aku percayai di muka bumi ini. Dan jangan pernah berfikir ia adalah sosok siswa teladan yang bijak dalam menanggapi berbagai keluhanku mengenai iklan-iklan ibuku itu. Bukan rahasia lagi jika aku dengan dia adalah dua orang tampan di sekolah yang selalu membuat onar. Namun jangan salah, Jimin adalah orang yang sangat perhatian dan humoris. Satu aib yang paling penting dari dirinya adalah, he is a playboy but he is single since birth. Great?

 

“Mianhe, aku lupa bahwa kau sangat geli dengan nama aslimu itu. Haha,”

Aku sama sekali tidak berniat membalas ejekannya. Yang kulakukan hanyalah memutar kedua bola mataku dan menatapnya malas, “Ada apa, Jim?” Jawabku kemudian menanggapi ucapannya.

“Ya, aku dengar pacarmu itu mengajakmu makan malam di O’Peniville, bukan? Aigoo, sungguh firasatku tidak enak sekali dan kau harus berhati-hati, Zelo-ya!”

Aku mendelik begitu mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut Jimin, “Memangnya ada apa?” Tanyaku kemudian, tetap terlihat tenang dan lempeng.

 

Ia menghela nafasnya panjang sekali, “Tidak tau, aku merasa sedikit tidak enak hati.”

 

Konyol sekali. Aku hanya bisa men-scroll lagi bola mataku dan tidak menanggapi ucapannya. Ya ampun, berlebihan sekali dia. Lalu kurangkul bahunya dan mengajaknya keluar kelas untuk kembali beraksi sebagai respon lain.

 

                “Sudahlah abaikan saja perasaan-mu itu. Lebih baik kita berjuang saja untuk ujian besok,”

 

 

———

 

 

 

Gadis itu mengernyitkan dahinya, nampak memperhatikan sebuah surat kabar harian sekolah yang memang setiap hari ia dapatkan. Oh tentu saja, bulletin school adalah sarapan khusus di sekolah elite-nya ini. Ia tersenyum kecil sesekali melihat isi koran tersebut. Sampai pada halaman ke-7, halaman yang memuat tentang kriminalitas yang terjadi di dalam sekolah tersebut akan di muat dalam daily bulletin sekolah.

 

LAGI LAGI, TUAN CHOI MEMBUAT ULAH!

Seperti yang biasa terjadi di Yoosam High School.  Zelo [17], anak dari tuan Choi Seunghyun, pemilik perusahaan stasiun televisi besar di Korea Selatan.

Kali ini Zelo bersama temannya lagi, anak kepala sekolah Park Jimin [18] benar benar sudah menjebol ruangan soal dan mengambil beberapa soal bocoran beserta kunci jawabannya. Pihak sekolah yang sudah tau mengenai ulah kedua troublemaker ini pun akhirnya mulai menyelesaikan masalah tersebut dengan memanggil Mr. Choi.

 

 

Lee Buyi, gadis yang tengah menarik sebelah alisnya itu. Ia menarik sudut bibir kirinya ke atas, senyum menyeringai lebih tepatnya. Ia melipat kembali bulletin tersebut dan di masukannya ke dalam loker miliknya. Matanya melirik ke arah jam yang sejak tadi terlampir di tangannya. Sial! Aku sudah hampir terlambat.

 

“Benar-benar manusia tidak berguna. Apa untungnya mengambil bocoran soal seperti itu? Dimana otaknya? Payah!”

 

 

 

———

 

 

 

May, 31st 2013.

 

 

Aku menatap intens kembali lelaki itu, lelaki yang sepertinya tidak lebih tinggi dariku. Ia mengacak rambutnya perlahan dengan tingkah bodohnya. Lalu mulai berjalan lagi mengenakan skateboard yang sejak tadi ia tahan dengan kaki kanannya. Hm, tentu saja menurutku masih mahiran aku ketimbang dia. Mana mungkin ada yang bisa mengalahkanku?

 

 

“Hei, sampai kapan kau hanya akan memperhatikannya seperti itu? Ayo cepat jalankan misimu, dasar bodoh!” Omel seseorang yang tiba tiba saja datang tepat berada di sampingku.

 

Oh astaga, Dark Angel gila itu mengagetkanku lagi! Mungkin jika saja aku ini adalah bagian dari ribuan manusia manusia yang mulai berdesakkan di pasar Myeondong, aku pasti sudah menjerit keras mendengar teriakan secara tiba-tiba yang keluar dari mulut besarnya itu. Tentu saja, apalagi jika bukan karena ia berbayang dan tembus pandang, sama sepertiku.

 

                “Apa lagi sih? Kau kan hanya menyuruhku mengamati lelaki itu saja,” Tuturku padanya.

                “Aish! Bodoh sekali!! Tentu saja kau harus penuhi syarat ke 7-mu itu melalui dia, dasar bodoh! Aigoo, aku bahkan nyaris lupa bahwa beberapa hari yang lalu kau bahkan sudah menjadi murid yang jenius dengan taraf otak setara dengan juara sekolah, Lee Buyi itu.”

 

Aku menatapnya heran. Apa maksudnya lelaki itu untuk penuhi syaratku yang ke 7? Mana mungkin aku datang dengan sosokku yang transparan ini lalu mengagetkannya dengan kata ‘boo’ seperti di film spongebob lalu kemudian menatapnya dengan tatapan memelasku dan berkata, “Hallo, aku adalah arwah dari lelaki tampan bernama Zelo Choi. Mau kah kau membantuku untuk menyelesaikan misi terakhirku agar aku bisa cepat cepat tidur tenang di surga sana?”

Lucu sekali. Aku pasti langsung di sirami garam dan akan ada dukun pengusir roh jahat yang datang ke tempat ini untuk menyuruhku cepat-cepat musnah dari bumi.

 

 

                “Maksudmu, hyung?” Tanyaku tidak mengerti.

Ia hanya menatapku sekilas dan melihat jam pasir mini yang menggantung di leherku. Oh iya, kau mungkin juga harus tau bahwa ternyata selain liontin air mata yang dikenakan Shin Jihyun dalam drama 49Days, maka liontin jam pasir ini adalah simbolku sebagai pengguna ­life tour 7 days. Dan tentu saja, pasir itu adalah tanda sudah berapa lama waktu yang kau lewatkan selama waktu perjanjian.

 

Dan tentu saja, pasir di dalam liontinku sudah turun tak bersisa ke sisi bawahnya.

 

 

                “Kau tau, kau belum melakukan hal yang ke-7 itu, bukan? Maka dari itu, kau tidak akan bisa di terima di surga maupun neraka, Junhong-ah!” Ujarnya. Dahiku mengernyit, jadi walaupun aku sudah mati syarat itu harus tetap kulakukan?

Jadi sejak saat itulah cerita sesungguhnya akan di mulai. Kau juga penasaran bukan bagaimana ceritanya mengalami perjanjian kehidupan angka 7 dan hampir melakukan semua ke-7 syarat kehidupanku tersebut?

 

 

 

———

 

 

 

“Hei, Choi Junhong! Kau mendengarkanku?”

 

 

Samar-samar aku mendengar sebuah suara. Mataku mulai terbuka, dan masih tetap samar-samar, aku melihat sesosok mahluk (oh tidak, dia terlihat seperti manusia, namun ia lebih kabur) yang bahkan tidak aku ketahui apa sebenarnya dia. Dia memakai baju hitam garis-garis seperti narapidana yang baru saja di bebaskan. Konyol sekali. Mana ada narapidana yang berada di tempat seperti ini?

Aku kembali bangkit dan berdiri dari kursiku. Terasa ringan sekali, aku menatap mahluk itu heran, “Hah, tidak pernah ada yang tau nama asliku selain Jimin dan orang tuaku. Kau siapa, dan mengapa kau aneh sekali?”

 

Ia tidak menjawab, dan berbalik memunggungiku. Aigoo! Menyebalkan sekali.

 

Ku perhatikan lagi suasana sekitarku, entah mengapa banyak sekali yang berkumpul di sebuah meja yang berada di ujung sana. Oh, sepertinya dekat mejaku tadi. Alah, persetan dengan semua itu. Sepertinya aku tadi tertidur di kursi dan Yumi yang menjadi ilfeel denganku pun langsung pulang sendiri tanpa kusuruh. Bagus sekali.

 

Aku kembali memperhatikan kerumunan yang mengitari meja tersebut. Namun herannya, aku merasa tidak asing dengan mejanya, dan………………… oh astaga, apa yang di lakukan si Yumi bodoh itu!!?

 

Dia menangis.

 

 

Aku mendekatinya dan memperhatikan keadaan sekitar. Dan Yumi, dia tidak memperhatikanku. Ck, sebenarnya ada apa ini?!

Aku melihat kembali sosok yang sejak tadi di tangisi oleh Han Yumi. Mataku melebar, astaga dadaku sesak sekali hingga rasanya aku sudah melayang. Ya, aku sudah melayang.

 

 

 

Sosok yang tengah memejamkan mata dengan posisi memegang lehernya itu. Itu adalah tubuhku, tubuh seorang Choi Junhong.

 

 

 

———

 

 

 

                “Tuan Choi Junhong, lahir tanggal 15 Oktober tahun 1996. Riwayat kehidupan, buruk. Suka membuat onar di sekolah, suka mengambil kunci jawaban ketika ujian sekolah, suka memphpkan wanita, playboy kelas kakap, tidak menyukai statusnya sebagai anak dari keluarga Choi. Dan satu hal lagi, kau membenci nama lahirmu. Benar begitu, Junhong-ssi?”

 

Aku membelalakan mataku begitu mendengar penuturan dari lelaki di depanku ini. Astaga, dia tembus pandang! Jadi, aku ini benar-benar sudah mati? Jadi ini bukanlah mimpiku saja? Jadi, tubuh yang sejak tadi di tangisi oleh Han Yumi itu benar benar…….. tubuhku?

Lalu mengapa aku masih disini dan tidak langsung di suruh masuk saja ke dalam lift, seperti di drama 49Days?

 

                “Ja-jadi, ka-kau ini……. benar benar scheduler seperti di drama televisi itu? Astaga, jadi cerita itu bukan khayalan belaka?” Tanyaku perlahan padanya. Aku bahkan tidak mengerti bahwa ada lelaki gila seperti ini yang menjadi seorang malaikat. Astaga!

                “Yeah, 100 poin untukmu, tuan Choi. Kau tau, setiap death angel seperti aku ini mempunyai nickname masing masing sesuai dengan riwayat hidupnya. Dan yeah, aku adalah dark angel.”

 

Aku mengernyitkan dahiku. Oh ya ampun, jadi cerita dalam drama tersebut benar benar ada? Aku menatapnya sekali lagi dengan wajah bodohku, yang bahkan selama ini tidak pernah kuperlihatkan kepada orang lain sebelumnya. Bahkan tidak pada Jimin sekalipun.

 

                “Jadi, apa aku seperti Shin Jihyun yang harus melewati perjalaan 49 hari dan mengumpulkan 3 tetes air mata yang tulus dari orang selain keluargaku, begitu?” Tanyaku pada sang dark angel. Ia menatapku sekilas lalu kulihat ia merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk jam pasir yang menggantung di kalung tersebut. Oh dan satu hal fantastis yang kulihat adalah, pasir dalam kalung tersebut tidak ada yang jatuh sama sekali ke sisi bawah-nya.

                “Kau tau, Junhong-ah. Kejadianmu bahkan lebih menyusahkan aku daripada kisah Shin Jihyun. Gara-gara ulahmu yang tersedak oleh kepiting itu, jadwal pencabutan nyawa-ku pada tuan Jang Kijun terlambat hampir setengah jam, dan juga tentu saja ketika takdirnya adalah istri dari Jang Kijun akan shock lalu mengalami stroke dan meninggal dunia beberapa saat setelah tuan Kijun juga terhambat itu semua gara gara kau.” Ocehnya panjang lebar, “Dan parahnya lagi, kau adalah manusia yang tidak di jadwalkan untuk mati hari ini. Harusnya umurmu masih sampai tahun ke 68!” Lanjutnya.

                “WOW, jadi kau tau semua jadwal kematian manusia di muka bumi??” Ujarku takjub, ia menatapku tajam. “Ehm… Jadi, aku benar-benar sudah mati?” Tanyaku perlahan. Pertanyaan bodoh, sekali untuk saat ini.

Dark angel itu mencibir, “Hampir, Junhong-ah. Tapi, kau masih punya kesempatan hidup sekali lagi jika kau mau. Namun tidak sampai 68 tahunmu itu. Melainkan, hanya dalam 7 hari kedepan.”

 

Aku menatapnya tidak percaya. Bicara apa mahluk itu, mana ada kesempatan hidup yang hanya 7 hari, huh?! Itu bukankah sama saja jika kita sakit HIV lalu tau berapa lama lagi kita hidup?

 

                “Kau gila?? Kesempatan hidup macam apa yang hanya 7 hari?! Bahkan Jihyun saja dapat 49 hari dan masih bisa hidup kembali. Oh ini sungguh tidak adil!” Pekikku agak mengeras dan memutar bola mataku perlahan.

 

Lelaki itu mendengus dan menatapku tajam, kemudian ia menjentikkan jarinya. Dan munculah sebuah lift, persis seperti dalam drama itu.

                “2 kali kasus sepertimu sudah terjadi di minggu ini. Karena kau bukan dalam posisi yang menggantikan kematian seperti kasus 49 hari. Kau adalah kecelakaan tunggalmu yang sungguh menyusahkan. Bahkan ini tertera dalam perjanjian bodoh dalam UUK alias undang undang kematian. Aish, aku bisa gila lama lama melihat ini! Kapan aku pensiun?!” Gerutunya sembari menunjukan layar dari smartphone-nya. Aku bahkan baru tau jika ada malaikat yang bisa mengomel dan mengeluh seperti itu. Ck, dasar malaikat gila!

                “Jadi….. kuberi kau satu kesempatan lagi. Kau mau masuk ke dalam lift itu sekarang atau kau mau menerima tawaran 7 hariku? 7 hari dengan 7 misi.” Tawarnya kemudian, membenarkan letak kaca mata hitam yang sejak tadi di pakainya.

 

Aku terus berpikir, apa yang bisa kulakukan dalam waktu seminggu? Apalagi dengan malaikat yang urakan seperti itu. Bisa saja ia memberiku syarat yang aneh aneh, kan??

 

                “Apa yang bisa kulakukan dalam 7 hari?” Tanyaku dan menatapnya intens.

“Hanya 7 hal, Junhong-ah. Namun akan sangat berarti untuk kedepannya. Bagi dirimu sendiri, atau bahkan bagi orang orang di sekitarmu.” Ujarnya lagi.

“Maksudmu?”

“Bisa saja dalam life tour 7 days-mu, kau bisa merubah nasibmu ketika di alam baka kelak. Misalnya, kau menjadi baik hati dan tidak slengekan. Mungkin saja kau bisa masuk surga?” Tutur sang dark angel. Aku hanya sedikit menghembuskan nafasku, yang sama sekali tidak berasa itu. Oh astaga, aku bahkan sama sekali tidak berpikir dimana aku akan di turunkan ketika sudah masuk ke dalam lift tersebut. Apa aku harus menerimanya?

 

Bahkan disaat seperti ini aku merindukan Jimin………… dan orangtuaku. Bahkan ibuku yang super cerewet dan gila itu. Hm…. agak sedikit kurang ajar memang jika aku mengatai gila untuk ibuku sendiri. Tapi jika kau tau apa yang membuatku mengatakan hal seperti ini, mungkin kau juga akan sependapat denganku. Sependapat bahwa ibuku, ia gila.

 

 

 

 

 

Little flashbacks on.

 

 

                “Appa, lusa nanti aku akan ujian akhir. Hm, kurasa peralatan tulisku kurang lengkap. Berikan aku tambahan 5000 won untuk membelinya di toko sekolah,” Tuturku perlahan. Oh jangan lupakan, ini adalah aku ketika berumur 15 tahun.

                “Lalu? Kau mau membeli alat tulis itu disana?” Tanya Choi Seunghyun, ayahku.

                “Oh sungguh tidak mungkin kau masih menggunakan alat tulis ketika sudah ada notebook baru dengan merk new bellezze yang sudah di iklankan di pasaran itu, new bellezze and study hard is a good future.” Ujar Park Bin, eommaku tiba tiba.

                “Oh, ayolah eomma. Ini hanya 5000 won. Berhentilah ngiklan,”

                “Zelo, kau harus dengarkan kata-kata eomma. Jangan membantahnya,” Omel ayahku.

 

Oh sial, aku harus apa untuk mendapatkan 5000 won-ku?

 

                “Ayolah, berikan saja 5000 won-nya,”

                “Tidak, Zelo. Kau harus pakai merk terbaru yang canggih, ingat. New bellezze and study hard is a good future!”

 

Aku menatap mereka bergantian dengan tatapan tidak percaya dan langsung berlalu meninggalkan ruang kerja mereka menuju kamarku tanpa mengatakan sepatah kata-pun.

 

 

 

Little flashbacks off.

 

 

 

 

 

Benar sekali kan kataku, Ibuku gila.

 

 

                “Hm, kalau aku terima kesempatan kehidupanku itu. Syarat apa saja yang akan kau berikan padaku?” Tanyaku kemudian, sebenarnya sudah memantapkan hatiku untuk mengikuti kegiatan angka 7 itu. Ya, aku yakin setidaknya aku harus mengucapkan say goodbye pada Jimin dan tentu saja orang tuaku—mungkin juga pacar pacarku—sebelum aku benar benar masuk ke dalam peti mati yang gelap dan pengap itu.

 

                “Tergantung, Junhong-ah.” Jawabnya. Ia memutar ponselnya, sementara aku mencibir menatapnya.

“Berhentilah memanggilku dengan nama menggelikan itu, dark angel.” Desisku pelan, “Tergantung bagaimana?” Tanyaku akhirnya.

“Well, Zelo-ya. Kau hanya tinggal melakukannya secara urut. Misalkan aku memberimu satu syarat, maka hasil dari hal yang sudah kau lakukan adalah kunci untuk melakukan syarat selanjutnya,”

 

 Mataku membulat. Bagaimana bisa serumit itu? Benar benar payah sekali. Aku menghembuskan nafas kasar dan mengalihkan pandanganku dari dark angel, kemudian sedikit melirik ke arah tubuhku yang sudah mulai di gotong oleh para pengunjung restaurant dan di bawa masuk ke dalam ambulance. Mataku membulat. Aku tidak memperhatikan lagi si dark angel itu. Aku sedikit berlari mengikuti kemana arah mobil itu pergi. Oh baiklah, aku tidak berlari. Aku melayang.

 

 

 

———

 

 

 

                “Jadi, bagaimana keputusanmu setelah melihatnya, Junhong-ah?”

 

Aku menatap kembali kaca transparan itu dengan lekat. Nampak sebuah ruangan bernuansa putih dengan seseorang yang sedang berbaring di atas kasur di dalamnya, ada juga sesosok lelaki paruh baya yang sedang menelfon seseorang dan seorang wanita paruh baya yang sedari tadi sibuk menangis di samping lelaki yang tengah berbaring itu. Bahkan ada seseorang, yang……… oh astaga, benarkah penglihatanku ini?

Dia sedang menatap ke arahku dan si dark angel.

 

Ya, tentu saja lelaki paruh baya itu adalah ayahku dan wanita itu ibuku. Sementara tubuh yang tengah berbaring di atas ranjang, sudah di pastikan itu adalah tubuhku, tubuh seorang Zelo Choi. Dan yang kurasa menatapku itu, lelaki yang sangat sangat familiar. Sahabatku, Park Jimin. Tapi apa benar ia melihatku? Aku kan transparan!

 

                “Entahlah, dark angel. Uhm… kau tau? Aku merasa si Park Jimin itu melihatku, apakah mungkin?” Tanyaku asal. Ia hanya memainkan ponselnya tanpa sedikitpun menatap ke arahku. Dasar malaikat sinting.

                “Tidak mungkin. Kecuali ia anak indigo.” Jawabnya dengan nada bergurau tanpa melirik sedikitpun kepadaku. Aku hanya meruntuk sejadi jadinya. Mimpi apa aku harus bertemu dengan malaikat semenyebalkan ini.

 

Aku tidak mengindahkannya dan kembali menatap si Jimin. Lelaki itu mengalihkan pandangannya. Ini mencurigakan sekali. Tapi, apa benar ia bisa melihatku?

 

                “Kalau aku menerima kesempatan hidup itu, aku harus melakukan 7 hal? Oke, baiklah. Setidaknya hal itu harus mudah. Dan, apa yang kau bilang seseorang dengan kasus sama denganku itu berhasil melakukan semua misnya?”

Dark angel menghembuskan nafasnya panjang sekali dan kembali menatapku, “Ya. Dia bisa melakukan semuanya dengan baik namun hanya sampai syarat ke 4 dalam 7 hari,”

                “Hah? Apa itu artinya ia gagal?”

                “Ah, kau ini banyak tanya sekali sih!? Cepat saja buat keputusanmu segera. Aku ingin bertugas lagi, tau. Lagipula aku juga masih harus mengurusi sebuah kasus yang belum selesai.”

 

Aku hanya bisa men-scroll bola mataku, “Oke, baiklah. Sekarang kau bisa katakana apa misiku yang pertama.” Desisku.

                “Ambilah ini. Ini akan berguna sebagai tanda kapan waktumu berakhir,” Ujarnya sembari memberikan sebuah kalung dengan bandul atau liontin sebuah jam pasir tersebut. Astaga, jadi ini adalah pengganti dari kalung air mata yang di kenakan Shin Jihyun?

                “Kau yakin dengan pasir se-sedikit ini bisa mencangkup hingga 7 hari?” Tanyaku tidak percaya sembari meraih kalung tersebut dan bergidik menatapnya.

                “Aigoo! Kau ini cerewet sekali,” Cecarnya, “Tenang saja, ini sudah di set sampai waktu yang ke tujuh hari. Kau bisa gunakan itu.” Lanjutnya. Ia kembali merogoh saku celana kulit transparan miliknya itu dan mengeluarkan sebuah handphone touchscreen, persis seperti scheduler pada drama 49Days. “Dan kau bisa gunakan ini untuk menghubungiku. Kau pasti sudah tau caranya kan, tuan Choi.”

 

 

 

———

 

 

Yoosam High School pagi itu ribut sekali. Nampak kerumunan manusia berkumpul di ruang tunggu sekolah sembari melihat bulletin harian mereka masing masing. Entah apa yang mereka perhatikan. Sementara itu kerumunan tersebut mulai mengangkat wajah mereka dan mengalihkan pandangannya ketika nampak seorang gadis tengah menghampiri mereka.

Lee Buyi, tentu saja. Satu sekolah mengenalnya sebagai gadis yang sangat cantik, pintar, dan arogan serta perfectionist. Siapa yang tidak ngeri jika berhadapan dengannya? Apalagi dia merupakan murid kesayangan semua guru.

 

                “Ada apa sih?” Tanyanya kepada lelaki yang sejak tadi nampak serius memperhatikan bulletin miliknya.

                “Zelo Choi. Anak dari donator sekolah. Ia katanya sedang kritis sedari kemarin.” Jawab lelaki itu. Buyi melirik ke arah mading. Gila saja, berita itu cepat sekali menyebar luas seperti roket. Ia kemudian merampas bulletin milik lelaki itu tersebut, tentu saja karena ia belum sempat mengambil miliknya di loker. Matanya membulat begitu melihat kertas tebal itu. Dan tentu saja, bukan karena berita tentang si anak tuan Choi. Melainkan tulisan yang berada di sebelah berita itu. Pengumuman tentang cerdas cermat antar sekolah yang akan di adakan tiga hari lagi.

                “Oh astaga. Penting sekali ya lelaki bodoh itu sampai sekolah menjadi gempar seperti ini? Kalian bahkan tidak memperhatikan pengumuman penting yang ada di koran ini. Lihat saja, koran ini harusnya memuat berita utama tentang lomba cerdas cermat itu. Payah,” Komentar Buyi pedas lalu segera berlalu menuju ke arah tempat loker miliknya setelah mengembalikan bulletin itu kepada si lelaki.

 

Sementara kerumunan manusia yang sejak tadi berada di sana dan sibuk menggosipi Zelo langsung tercengang begitu melihat kelakuan dari sang gadis perfectionist itu.

                “Ckck, menusuk sekali omongannya itu.” Komentar yang satu.

                “Ya, Lee Buyi memang terkenal sangat perfectionist.” Timpal yang dua.

                “Tidak salah sih, ia memang cerdas dan cantik. Wajar saja dia begitu.” Desis yang ketiga.

 

 

 

Buyi melangkah ke arah lokernya dan ia langsung terkejut melihat sesosok manusia yang sudah asik menjogrok di depan loker miliknya sambil dengan watadosnya nampak tengah membaca bulletin miliknya.

 

Orang yang paling ia benci sedunia.

 

 

 

———

 

 

 

Perlahan aku mengerjapkan kedua mataku. Sinar putih mulai menyelonong masuk begitu saja ke dalam mataku. Silau sekali. Ketika pandanganku mulai menjelas, aku melihat sekeliling tempat dimana aku berada. Di sampingku ada tas milik ibuku, sementara aku melirik sofa dan melihat sebuah tas sekolah yang sudah nangkring seenaknya disana. Tas sekolah milik Jimin.

 

Pasti dia menginap disini. Astaga, aku harus menemuinya segera untuk menceritakan kejadian ini. Ya, setidaknya hanya Jimin yang harus tau.

 

Tiba tiba saja pasir dalam bandul bergerak hebat sekali, namun tetap saja tidak turun secara brutal. Iya seperti teraduk aduk. Oh tidak, apa aku salah bicara?

 

 

                “Tentu saja kau salah bicara, bodoh! Kau kan tau bahwa dalam life tour 7 days ini, tidak ada yang boleh tau mengenai kejadian ini. Tidak sekalipun sahabatmu sendiri. Aku bisa bisa langsung menarikmu paksa ke dalam lift.” Ujar seseorang yang tiba tiba saja muncul tepat di hadapanku. Siapa lagi kalau bukan si dark angel.

Aku mendengus melihatnya, kemudian menatap kembali bandul itu. Tidak bergetar lagi. Ya aku akui, mungkin itu suatu peringatan untukku agar tidak buka mulut sekalipun pada Jimin.

                “Oke baiklah. Katakan saja semaumu. Kau bahkan belum memberitaukanku apa yang menjadi syarat pertamanya, dasar bodoh.”

 

 

                “Tenang saja, aku sudah tau semuanya. Aku bahkan bisa melihat malaikat bodoh-mu itu, Zelo-ya.”

 

Astaga. Mataku langsung membulat sementara si dark angel langsung tersedak minuman yang sedang di minumnya (aku bahkan heran mengapa ia bisa meminumnya). Park Jimin, dia…. dia melihat si dark angel? Bagaimana bisa?

 

                “Kau pasti kaget. Ya tentu saja kau heran bahwa aku sering memperingatimu jika sesuatu hal akan terjadi. Sebenarnya aku juga benci predikat ini. Namun katakanlah aku seorang anak indigo.” Ujar Jimin kemudian. Aku dan si dark angel bertukar pandangan.

                “Astaga… aku bahkan tidak pernah menyadarinya, Jimin-ah.” Gumamku pelan.

                “Sudahlah lupakan saja. Justru bagus jika ada yang mengetahuinya, bukan? Jadi begini saja, misi pertamamu adalah….. oh tunggu sebentar,”

                “APA LAGI?”

                “Misi ini juga berlaku bagi kau, Jimin-ah! Karena kau tau mengenai hal ini dan kau akan menjadi saksinya. Dan kalian tidak boleh membolos hari ini.” Pekiknya. Si pendek itu melotot, “Kenapa aku di bawa bawa, hah?”

 

                “Pertama, kau harus memutuskan semua pacarmu dan meminta maaf pada semua wanita yang sudah kau sakiti. Kerjakan ini sementara menunggu misi lain.”

 

Aku dan Jimin saling bertukar pandangan. Oh tidak ini mimpi buruk bagiku. Bagaimana mungkin aku bisa menemui semua wanita wanita itu dalam waktu sehari?. Tentu saja karena di pastikan aku hanya bisa melakukan satu hal selama sehari.

 

 

 

Ok Zelo, bersiaplah. Kehidupanmu yang sebenarnya telah di mulai.

 

 

 

 

 

 

 

 

TBC.

 

 

 

 

 

 

 

Heyyo! Aku bawain lagi first chapter dari ff-absurd-nekat buatanku ini. Ya alurnya memang acak acakan karena disini kuterapkan alur campuran. Jadi bisa berupa masa depan lalu loncat lagi ke masa lalu dan gak tentu. Semoga kalian peka ya. Dan sekali lagi, aku say big thanks banget buat kak mesya yang sudah meluangkan waktunya buat mau di titipin ff absurd ini.

Dan please banget, don’t be silent reader. Budidayakan comment karena tanpa komentar, setiap author pasti bisa introspeksi diri dimana letak kesalahannya dan juga author manapun tidak akan mau melanjutkan fanficnya jika readersnya hanya diam, tanpa komentar. Kritik dan saran itu sangat berarti khususnya bagi aku. Mohon pengertiannya ya T__T

 

Oke, sekian cuap cuap dari saya. Thank you^^

6 responses to “SEVEN [Chapter 1]

  1. Keren!!!! Yaampun… Jimin jadi bocah indigo hahahaha /ngakak sebentar/ oke, hm. Dan… Death angelnya… Punya handphone!! Yaampun… Gaul bingitsss!!!.-. Jangan-jangan dia aktif di sosial media juga… /ga/

    Aku suka sama ceritanyaaa unik-unik nyegerinnn /salah, itu mah iklan/ hahha. Aku tunggu part selanjutnya!!!^^ SEMANGAT!!!!’-‘999999999

  2. Eh si aliando muncul hahahha
    Ah hebaaat jimin anak indigoo~! Wkwk beruntung banget dah si zelo, tapi mala petaka banget buat si jimin wkwkk
    Makanya jangan kebanyakan pacaar woo~! Eh salah, makanya jangan ganteng ganteng woooo~! Jadi banyak yg pengen jadi pacar lo kan, zelo huu

    Aku dulu juga pernah bikin ff cast nya zelo bapaknya TOP wkwk xD
    Emang mirip sih mereka *abaikan

  3. Wahh min keren!haha ngakak ajasih bacanya . Secara masa iya zelo bocah tengil bin polos itu suka bikin onar di sekolah , kalo jimin sih masih bisa diterima haha,duh pokoknya ini fic keren , aku nunggu parts selanjutnya!!~

  4. next thor.. pacarnya zelo ada berapa sih? smpe sehari aja gk cukup wkwk
    keep writing thor.. ditunggu next part-nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s