GEE! [Part 3]

GEE POSTER

               GEE : Banyak orang yang membenci sebuah perencanaan yang dibuat oleh orang lain, tanpa persetujuan, bahkan bisa digolongkan dalam sesuatu hal yang memaksa. Tapi, ketika mereka sudah terbiasa dengan hal itu, apapun tentang ketidaksukaan akan menghilang. Itu akan menjadi sebuah hal yang menyenangkan ketika ada sesuatu yang sudah biasa kalian lihat dimata kalian. Sesuatu yang indah sekali, yang membuat kalian terkejut tiap kali melihatnya.

            Perseteruan bahkan sama sekali belum dimulai sejak awal. Ini baru awal-awal yang tidak terlalu buruk untuk dibaca. Sebuah perjalanan hidup tidak selalu buruk.

GEE!

Author : sanacamberlain

 

Genre : Romance, Comedy, Thriller, Mystery, Marriage Life, School Life

 

Cast : Xi Luhan, Park Hana, and Other Cast

 

Rating : PG 17

 

Leight : Chapter

| GEE! THREE|

 

            Hari terakhir yang menyenangkan. Park Hana sebenarnya tidak sengaja mengutip kalimat Luhan. Hanya saja, ia tidak punya ekspresi yang tepat dalam kalimatnya. Hanya itu saja. Ia berusaha bergumam dalam dirinya. Ia tidak suka kalau ia memikirkan laki-laki itu. Gadis itu sudah selesai merapikan pakaiannya dan memasukkannya dalam koper. Setelah itu, ia dipanggil untuk makan pagi bersama yang lain.

            “Hari yang indah, bukan?” tiba-tiba saja Luhan ada disampingnya. Mengagetkannya. Hana menggeram pelan dan meninju perut lelaki itu. Membuat Luhan meringis kecil dan menatap tajam kearah Hana. Namun, yang ditatap tidak mempedulikan dan terus melangkah sampai diruang makan.

            Xi Luhan menatap Park Hana yang duduk didalam kelompok mereka. Lalu tiba-tiba saja lelaki bertubuh besar—yang mencari masalah dihari pertama—yang ia ketahui bernama Wu Yifan itu hampir saja duduk disamping Hana kalau Luhan tidak cepat-cepat duduk disana. Ia tersenyum begitu merasa Yifan menggeram disampingnya. “Maaf, kau tidak beruntung.” Dan semua anak kelompoknya menertawai Luhan yang mereka anggap lucu.

            Yifan menggeram dan memilih duduk dikelompoknya, yang duduk disudut ruangan. Lagi-lagi Luhan tersenyum lalu menoleh kearah Park Hana yang ternyata sedang menatapnya, membuatnya terkejut. “Ah,” erangnya. “Kau membuatku kaget.”

            Hana mendelik sambil tersenyum masam. “Kenapa pula kau duduk disitu?” Hana mulai menyumpit makananya. “Aku lebih nyaman jika Yifan yang duduk disana.” Katanya dingin.

            Luhan mulai menyuapkan makananya. “Karena kita kelompok.” Jawab Luhan datar. Lalu setelah itu hening antara mereka berdua. Kaku sekali.

 

GEE!

 

            Karena hari ini adalah hari terakhir, Park Hana begitu senang sekaligus sedih. Sedih? Mungkin dirinya yang menyedihkan karena harus menerima piagam atau sertifikat dari tempat yang seperti sampah ini. Ngomong-ngomong tentang sampah, bukankah itu mengerikan? Ia masuk kedalam tempat sampah? Sangat tidak etis baginya. Kalau begitu ia mengubahnya dengan tempat yang agak merubahnya walau hanya sedikit. Oke, ayolah, mungkin tempat ini sedikit demi sedikit merubah perilakunya.

            “Jangan terlalu memikirkan aku.”

            Hana menoleh. Ia tergelak. Ada Wu Yifan. Mau apa lelaki itu? Dan ngomong-ngomong sejak kapan laki-laki itu duduk disampingnya. Apakah ia tidak menyadari kalau Luhan sedang pergi meninggalkannya?

            “Park Hana, aku tahu kau merupakan pewaris tahta Yohan.” Hana membelak. Ia masih bersikap biasa, menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Wu Yifan menyeringai. “Ayolah, aku akan merahasiakan ini.”

            Hana menoleh. “Apa?”

            Wu Yifan mendekatkan bibirnya ketelinga gadis itu, membisikan sesuatu. “Kau tahu, kan? Ini merupakan sebuah ancaman.”

            Hana menoleh lagi dan menatap lelaki itu sarkaktis. “Aku tidak peduli apapun yang kau katakan dan aku bukan orang yang pantas kau ancam.”

            Wu Yifan membelak. Terkejut akan hal yang diucapakan Hana. Sedangkan gadis itu kembali melanjutkan menghabiskan makanannya. Alih-alih terdengar sebuah geraman kecil yang keluar dari bibir Yifan, membuat gadis itu agak kaku. Ia melirik kearah dimana Luhan berada, laki-laki itu berada dijarak yang jauh sekali. Ia tampak biasa saja sambil bercanda bersama anggota lain. Hana mendengus. Merasa kesal.

 

GEE!

 

            Perempuan itu membuka pintu. Ia mengambil beberapa langkah lalu membungkuk. “Semua murid akan pulang hari ini.” Ia melaporkan tentang murid-murid Yohan yang sedang berlibur ke Roma. Pria dihadapannya mengambil map merah yang diberikan si perempuan, sang Sekertaris. “Mereka akan berangkat ke Seoul menggunakan pesawat kedua Yohan dan diperkirakan akan tiba di Seoul jam satu malam.” Pria itu berdehem membaca beberapa tulisan yang tertera disana.

            “Segera meminta ke Dapertemen Administrasi untuk seluruh data ini.” Lalu diberikannya lagi pada perempuan dihadapannya.

            Perempuan itu menunduk dan menyerahkan map berwarna biru. “Ini merupakan hasil Park Hana selama di Pusat Rehibilitasi.”

            Park Byul-Hal melirik map biru yang diberikan Seo Yon Ha. “Hanguskan seluruh data itu.” Ia menatap kearah lain. “Aku tidak butuh itu.” Ia mengatupkan matanya. Aku hanya ingin anak-anakku berperilaku layaknya manusia.

            Seo Yon Ha menunduk. “Baik.” Lalu diberikan dua map yang berwarna kuning. “Dua-duanya merupakan hasil investasi dari Perusahaan Hansol dan Perusahaan Hoansu.”

            Park Byul Hal menatap Seo Yon Ha. “Perusahaan Hoansu?” seingatnya, ia sama sekali tidak pernah menerima perusahaan itu untuk bekerja sama dengannya. Hoansu termasuk musuh besarnya. Beberapa tahun yang lalu, perusahaannya hampir saja bangkrut karena perusahaan itu. Dan sekarang, kenapa Perusahaan itu bisa menghasilkan investasi bersama Perusahaannya? “Yon Ha, tolong panggilkan Yixing.” Perintahnya.

            Seo Yon Ha menunduk lalu meninggalkan ruangan itu. Byul Hal menatap map berwarna kuning dihadapannya. Yixing adalah salah satu kepercayaannya, tapi mana mungkin Yixing yang menanda tangani seluruh investasi bersama Hoansu? Bukankah ia sudah menceritakan perihal masa lalu Yohan bersama Hoansu?

            Suara pintu dibuka. Park Byul Hal mengangkat wajahnya. Ada Yixing disana dan sekarang berjalan kearahnya. “Ada apa anda memanggil saya, Tuan?”

            Byul Hal memberikan map kuning yang berisi investasi bersama Hoansu. “Kapan kau menanda tangani ini? Dan kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?”

            Yixing menunduk. “Maafkan saya, Tuan.” Ia menatap Byul Hal. “Hoansu sedang dibatas ancaman kebangkrutan. Dan salah satu staff meminta untuk bekerja sama untuk investasi Perdagangan di China.”

            “Yixing.” Byul Hal mengangkat wajahnya dan menatap Yixing. “Kau tahu, kan? Perihal Hoansu yang berusaha menjatuhkan bursa perdagangan perusahaan ini sepuluh tahun yang lalu?”

            Yixing menunduk sekali lagi. “Maafkan saya, Tuan. Tapi, cobalah anda berpikir, jika kita membantu Hoansu dalam permasalahannya, akan ada banyak sekali perusahaan-perusahaan yang meminta bekerja sama. Selain itu, kita juga bisa memiliki beberapa saham yang sudah dimiliki Hoansu.”

            Byul Hal mengatupkan bibirnya. “Adakan pertemuan dengan Hoansu secepatnya.”

            Yixing menunduk. “Baik, Tuan.”

            Tidak ada lagi pilihan lain selain mempercayai ucapan Yixing. Ia sudah sangat mempercayai bawahannya yang satu itu untuk masalah seperti ini. Walaupun ia lebih mempercayai dirinya sendiri, tapi, entah mengapa, Yixing selalu bisa diandalkan.

            Dan malam ini, ia harus pulang kerumah. Anak perempuannya pasti sudah pulang kerumah.

 

GEE!

 

            “Oh, sudah pulang?”

            Tidak ada lagi kalimat terbaik yang akan diucapakan Park Jung Soo selain kalimat itu yang ditunjukkan pada adiknya yang baru saja memasuki rumahnya, melewatinya begitu saja yang sedang membaca koran. “Tapi aku ragu. Kenapa sifatmu masih sama?”

            Park Hana menghela napas, ia melepaskan kacamata hitamnya dan membalik. “Aku baru saja pulang dan kenapa Kakak tidak menyimpan pertanyaan itu nanti?”

            Park Jung Soo menyimpan korannya dan menatap Hana. Lelaki itu tersenyum dan berjalan kearah Hana. “Aku memberi pertanyaan sekarang untuk kau jawab nanti.” Lalu berlalu meninggalkan Adiknya yang sudah menggeram kesal.

            Park Hana mengatupkan matanya, ia mengepalkan telepak tangan kanannya dan berjalan meninggalkan rumah. “Minggir.” Ujarnya pada pengawal yang sedang berjaga disamping mobilnya.

            Park Hana mengendarai mobilnya dengan kecepatan 60 km/sec. Gadis itu hampir saja gila jika ia memutuskan untuk pergi kekamarnya. Tapi, mungkin sekarang orang-orang akan menganggap mobilnya gila karena berani sekali mengendara dengan kecepatan kurang dari 40. Mata gadis itu sudah memerah, menahan kesal. Ia kesal sekali dengan Kakaknya, dengan apapun yang ada dirumah itu.

            Hana membanting setirnya dan menginjak rem. Ia hampir saja akan menabrak sebuah mobil Alpha berwarna hitam jika tidak cepat-cepat menginjak rem. Gadis itu menghela napas. Beruntung.

            Pintu mobil yang ada dihadapan mobil gadis itu terbuka. Hana membelak, agak takut dengan pemiliknya. Ia mulai berpikir macam-macam tentang reaksi si pemilik mobil. Namun, ketika melihat siapa pemilik mobil sebenarnya, Hana memutar bola matanya. Tidak peduli apakah lelaki itu akan marah-marah atau memakinya. Xi Luhan tidak akan mungkin mengatainya.

            “Park Hana, keluar dari mobilmu.” Gadis itu membelak. Kenapa lelaki itu bisa tahu? Hana tidak bergeming dari tempatnya. Dan juga Luhan semakin memperkeras ketukannya pada pintu mobil. “Kubilang keluar.” Ujarnya mengulang ucapannya dengan nada datar.

            Park Hana mendengus, ia memakai kacamata hitamnya dan membuka pintu mobil. Luhan berangsut mundur sambil melipat kedua tangannya didepan dada. “Kau gila.” Kata lelaki itu masih dengan nada datar.

            Sedangkan yang dikatai berteriak dalam hati, bahwa ia akan mengutuk lelaki itu jadi hewan apapun yang bisa ia injak karena sudah mengatainya. “Apa pedulimu?” balas Hana tak kalah datar, masih dengan suara yang terdengar tenang.

            “Kau.” Luhan menekan kalimatnya sambil menunjuk wajah Park Hana. “Hampir saja merusak mobilku.”

            Park Hana melirik mobil Luhan dari balik kacamata hitamnya. “Aku bahkan akan membunuhmu jika tahu kau adalah pemilik mobil itu.”

            Luhan membelak.

            Park Hana menatap mata lelaki itu dari balik kacamata hitamnya. “Dan jangan sekali-kali lagi menunjukku seperti itu.” Kata gadis itu lalu masuk kedalam mobilnya.

            Luhan merasa ada yang aneh dengan suara Hana. Suara gadis itu bergetar. Akhirnya, lelaki itu membuka pintu mobil Hana dan menarik gadis itu keluar lagi dari mobilnya. Hana sempat berontak, namun, ketika Luhan membuka kacamatanya, keduanya terdiam sambil menatap satu sama lain.

            Hana menangis. Mata gadis itu memerah. “Apa? Kau puas?” Hana menggigit bibir bawahnya. “Kau puas melihatku seperti ini?”

            Tiba-tiba saja Luhan melepaskan genggamannya pada tangan Hana dan membalik. “Aku benar-benar puas.” Aku benar-benar puas melihat keadaanmu. Dan berjalan menuju mobilnya lalu masuk kedalamnya. Ia menatap mata gadis itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan Hana sendirian dipinggir mobilnya. Tapi, aku akan lebih puas jika kau berhenti menangis.

            Hana menggeram, ia berteriak keras dan berjongkok disamping mobilnya sambil menangis. Tidak dipedulikannya lagi berbagai macam tatapan orang-orang ketika melewatinya. Aku hanya ingin menangis sejadi-jadinya.

 

GEE!

 

            Yang benar saja, Xi Luhan mungkin sudah gila sekarang. Ia mengacak-ngacak rambutnya gusar dan membanting tubuhnya keatas sofa. Beberapa menit yang lalu, ia memegang tangan Park Hana dan membuka kacamata gadis itu secara paksa. Apa yang ia lakukan? Kenapa ia bisa seperti itu? Tidak tahu. Ia tidak tahu kenapa bisa berbuat seperti itu. Ayolah, sejak dulu dan sampai detik ini, ia adalah musuh gadis itu. Xi Luhan menghela napas. Mungkin karena tiga hari bersama gadis itu, ia jadi suka memikirkannya. Mungkin saja.

            Luhan beranjak dari tempatnya dan berjalan kearah lemari, mendorong lemari itu hingga ia berada ditempat kerjanya. Luhan duduk diatas kursi kerjanya dan bersandar disana. Tempat ini merupakan titik ternyamannya. Ia selalu merasa benar-benar hidup jika berada diantara semua benda-benda diruangan ini.

            Ponselnya berdering. Dilayar ponselnya, ada nama Kim Min Seok. Ia segera mendekatkan ponselnya ketelinga setelah menerima sambungan telepon. “Hai, budies.”

            “Kau terdengar baik-baik saja.” Terdengar suara Min Seok disana. Luhan mengangkat pundaknya, ia sendiri tidak tahu apakah ia baik-baik saja.

            “Kau akan pulang malam ini?”

            “Ya. Pastikan aku melihatmu jam satu malam dibandara.

            Luhan mengerutkan dahinya. “Kau gila?”

            “Sebentar lagi akan take-off.” Luhan melirik jam ditangannya. Sekarang baru jam sebelas pagi.

            “Baiklah, jam satu pagi.”

            “Oh, benar! Jam satu pagi.” Tawa Min Seok terdengar diujung sana, diikuti tawa-tawa lain. Luhan bisa pastikan, bahwa suara-suara itu milik Sehun, Chanyeol, dan Kyungsoo. Setelah itu, tidak terdengar lagi suara sambungan.

            Luhan menatap keatas, langit begitu biru sekali di bulan Juni. Ia mengulum senyum jahil dan meraih ponselnya. Beberapa hari yang lalu, saat berada ditempat rehibilitasi, Luhan sempat mengambil wajah Hana yang sedang tertidur dengan kamera diponselnya. Rasanya, ia memiliki sesuatu yang baru untuk bermain.

            Ah, Park Hana yang malang.

 

GEE!

 

            Roma, Italia

            Min Seok sedang bermain dengan SNS-nya ketika tidak ada pengumuman mengenai keberangkatan pesawat mereka dari yang seharusnya dijadwalkan. Lelaki itu baru saja akan menutup ponselnya ketika bunyi ponsel yang menandakan ada pembaruan di SNS-nya. Ia menatap layar ponselnya dan mengetuk opsi pembaruan. Min Seok merasakan napasnya terhenti selama satu detik, matanya juga membesar.

            “Apa-apaan?” katanya tak kuat menahan tawa.

          “Hai, ini Park Hana. Kalian tentu tahu siapa Park Hana? Kalian sudah melihat gambarnya? Ia sedang tidur disampingku. Dia sangat menggoda. Kalian semua pasti sangat iri karena menghabiskan waktu di Roma, sedangkan aku menghabiskan waktu bersama The Cruel of Girl. Hahahaha~”

            Dan beberapa detik kemudian, Min Seok mendengar berbagai jeritan yang dikeluarkan dari mulut-mulut para perempuan. Lelaki itu memutar bola matanya. Luhan merencanakan banyak sesuatu.

            “Sekarang berani bertarung?”

            Sehun dan Kyungsoo sudah duduk didepannya. Sedangkan Chanyeol memilih untuk tidur. Min Seok menatap kedua temannya dengan datar.

            “Jadi, bagaimana jika kami yang menang?” Sehun menyeringai.

            Min Seok melambai-lambaikan tangannya. “Permainan anak kecil, aku selalu tidak suka.”

            Kyungsoo tertawa. “Lihat, dia bukan Luhan, Oh Sehun.”

            Sehun mendengus sambil meminum Bubble Tea-nya. “Ya, Kim Min Seok. Ini akan sangat menyenangkan.”

            Min Seok menegakkan badannya. “Baiklah, aku menyerah duluan.” Katanya sambil tertawa.

            Kyungsoo dan Sehun mendengus sambil menendang kaki Min Seok. Membuat lelaki itu menggerang kesakitan sambil menahan tawa. “Kami serius.”

            Min Seok menatap Sehun dan Kyungsoo yang wajahnya sudah memerah karena kesal, lalu tatapannya teralihkan kebelakang, ia melihat Baekhyun yang terlihat putus asa sekali sambil menatap ponselnya. “Baiklah, aku bertarung bahwa Byun Baekhyun dan Park Hana dalam waktu dekat ini akan renggang.”

            Kyungsoo dan Sehun terbahak. “Renggang?” lagi-lagi mereka berdua tertawa. “Kau pikir sejak kapan mereka pacaran?”

            Min Seok menatap Baekhyun yang sekarang tengah berbicara bersama beberapa temannya. “Kalian hanya tidak ingin tahu.”

            Kyungsoo dan Sehun menatap Min Seok. “Itu bahkan pembicaraan lama.” Kata Kyungsoo.

            Min Seok tersenyum sakratis. “Kalian bahkan masih menyukainya sampai sekarang.”

            “Kim Min Seok, tutup mulutmu.” Oh Sehun memekik kecil.

            Min Seok menggelengkan kepalanya. Do Kyungsoo dan Oh Sehun, dasar lelaki malang. “Baiklah, jadi apa taruhannya?”

            Kyungsoo dan Sehun melirik satu sama lain dengan jahil. “Kami bertaruh, dalam waktu dekat ini, Luhan benar-benar akan meniduri Park Hana.” Ujar Sehun, yang disetujui oleh Kyungsoo.

            “Kalian gila.” Min Seok memutar bola matanya yang membuat Kyungsoo dan Sehun tertawa terpingkal-pingkal lagi.

            Min Seok memutar bola matanya dan menggeleng, ia menatap Baekhyun yang juga sedang menatapnya.

            Baekhyun mengalihkan pandangannya dan menatap Kim Jongin. “Mungkinkah…” ia menatap layar ponselnya. “Luhan menyukai Hana?”

            Jongin menatap Baekhyun. “Ayolah, Baekhyun.” Jongin menghela napas sambil memutar bola matanya. Ia sudah menghitung banyak kali tentang ucapan yang akan ia keluarkan sekarang, Jongin menghela napas lagi. Ia kesal sekaligus gemas pada kawannya didepan ini. “Tidak mungkin tiga hari membuat Hana menyukai Luhan. Aku yakin dia bahkan tidak berpikiran seperti itu.”

            Baekhyun menggigit bibirnya. Masih resah akan ucapan Luhan kemarin malam. Apa maksud lelaki itu? “Dan ngomong-ngomong, kenapa See-Jung begitu lama?” tanya Jongin.

Baekhyun mengangkat wajahnya dan menatap Jongin, lalu pandangannya beralih kearah Min Seok, Sehun, dan Kyungsoo berada. Ia menunduk. “Mungkin dia ingin jalan-jalan dulu sebentar.”

 

GEE!

 

            “Sejauh ini, apa alasanmu keluar dari sarang laba-laba?”

            “Mereka mulai membicarakan hal yang tidak penting, membuatku malas dan pergi diam-diam tanpa mereka sadari.”

            “Park Chanyeol, ketika Luhan dan Hana mulai berteman—“

            Chanyeol menoleh, “Kau yakin mereka akan berteman?”

            See-Jung menaikan bahunya. “Tidak tahu.”

            Chanyeol meraih tangan See-Jung yang disembunyikan didalam blazer. “Aku tidak peduli. Lagipula, maupun kau dan aku tidak suka, kan, membicarakan hal mengenai Hana dan Luhan atau apapun?! Itu terdengar seperti kita membuat gosip.”

            See-Jung mengatupkan bibirnya dan mencubit pipi pacarnya. “Park Chanyeol, kau bertambah tinggi saja.”

            Chanyeol mendelik. “Bukan aku yang bertambah tinggi, tapi kau yang memakai sepatu dengan hak setipis itu.”

            See-Jung menunduk dan tertawa. Ia memukul kepala Chanyeol. “Kau benar!” tawanya.

            Chanyeol menggerang dan merangkul leher See-Jung, membuat gadis itu tercekik dan pura-pura kesakitan.

 

GEE!

 

Seoul, Korea Selatan

 

            Bunyi-bunyi sendok dan piring kaca berpadu, membuat suara-suara berisik namun masih tetap tak dipedulikan oleh sang pemilik ruangan. Dalam beberapa menit setelah makan malam dimulai, tidak ada yang mengeluarkan sepatah dua patah kata kecuali Steve Park yang tengah bermain bersama mainan barunya dan sesekali menggerang karena tidak ingin makan.

            “Baekhyun dan See-Jung akan pulang malam ini.” Hana berhenti mengunyah makanannya dan menatap Ayahnya yang duduk dihadapannya. “Aku akan menjemput mereka.”

            “Mereka bahkan bisa pulang sendiri.” Ibunya berujar sebelum memasukan makanan kedalam mulutnya.

            Hana menatap Ibunya. Ia menghela napas. “Ibu berbicara begitu karena tidak pernah memiliki teman-teman.” Hana mengatupkan bibirnya. Wajah gadis itu sudah memerah.

            Ayahnya menyimpan sendok diatas piring dengan agak kasar. Sedangkan Jung Soo melirik kearah Stephanie agar membawa Steve untuk meninggalkan ruangan. Stephanie mematuhi perintah Jung Soo dan segera meninggalkan ruang makan bersama Steve.

            “Hana, berhentilah seperti bersikap kanak-kanak.” Jung Soo juga mulai menyimpan sendoknya. Ia menatap Adiknya dengan wajah memelas, takut-takut jika sudah merasakan atmosfer menakutkan yang selalu dibuat oleh masing-masing orang dirumahnya.

            Hana beralih menatap Jung Soo. “Apa?” ia menggigit bibir bawahnya. “Apa aku bersikap kanak-kanak?”

            “Bermain bersama Baekhyun dan See-Jung, membuat masalah dengan anak-anak disekolah sama saja dengan membuat reputasi sekolah hancur, belum lagi seminggu sebelum Ujian kau membuat satu murid hampir bunuh diri.” Nyonya Park menahan napasnya. “Park Hana, apa Ibu dan Ayah pernah mengajarimu seperti itu?” Ibunya menatap Hana dengan wajah memerah. Ketegangan benar-benar tampak terasa.

            Hana mendengus, ia beralih menatap Ibunya. “Apa aku tidak boleh memiliki teman? Dan walaupun aku membuat reputasi sekolah hancur, nilaiku selalu bagus. Kenapa Ibu tidak pernah melihat tentang nilai-nilaiku?”

            “Seorang Pewaris Tahta tidak perlu memiliki teman.” Ayahnya menjawab. “Park Hana, kenapa kau masih tidak mengerti? Kau adalah Pewaris Tahta.” Ayahnya sudah menahan amarah.

            “Sejak dulu, sejak aku kecil, aku tidak suka di paksa. Aku tidak suka tekanan ataupun ancaman. Dan sampai sekarang, aku belajar begitu keras bukan karena aku akan menjadi Pewaris Tahta.” Matanya sudah berkaca-kaca. Park Hana benar-benar merasa kesal. “Kenapa tidak Kak Jung Soo saja yang jadi Pewaris Tahta? Jika anak bungsu atau anak kedua yang harus menjadi Tahta dalam generasi kami, kenapa aku harus dilahirkan?” Air matanya jatuh. Ia tidak bisa lagi menahan kekesalan yang sudah tersimpan dalam perasaannya.

            Ayahnya menggeram, ia beranjak dari tempatnya. “Dasar anak tidak tau untung!” Park Byul Hal sudah benar-benar marah. Ia menunjuk Hana dengan emosi yang membeludak.

            Yoo Lahim menahan Suaminya agar tidak terlalu emosi. Ia memegang pundak Suaminya sebelum amarahnya kembali tersulut. “Tenangkan dirimu, Sayang.”

            Park Byul Hal menatap Park Hana tajam dengan wajah memerah. Ia membalik. “Urus Adikmu itu, Jung Soo.” Katanya sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.

            Setelah Ibunya dan Ayahnya meninggalkan ruangan makan, Park Hana menunduk dan menyandarkan kepalanya diatas kedua tangan yang sudah dilipat dimeja makannya dan mulai menangis. “Kenapa kalian semua tidak pernah mengerti keinginanku?” ujarnya disela tangisannya.

            Jung Soo melihat Adiknya pilu. Ia berjalan kearah Adiknya dan berjongkok disamping kursi yang diduduki Hana. “Berhentilah menangis.” Ujarnya lembut. Berusaha menenangkan.

            Melewati hal seperti ini, ia jadi teringat dulu, saat Jung Soo berumur tujuh belas tahun, sedangkan Hana, gadis itu masih bayi. Masih suka menangis dan kadang membuat Ayahnya gusar setengah mati.

            Malam itu, ia harus belajar keras karena besok akan ada tes yang diadakan oleh guru Matematikanya. Ia harus belajar keras demi mendapatkan nilai yang bagus, namun, suara Hana membuatnya terganggu. Anak Bayi itu terus menerus menangis. Akhirnya, ia keluar dari kamarnya dan menatap Ibunya yang wajahnya sangat khawatir sekali karena Hana tak kunjung berhenti menangis.

            “Kenapa anak kedua kita harus perempuan?” tiba-tiba Ayahnya berujar, Jung Soo mengalihkan pandangannya. Ayahnya sedang berdiri didinding sambil melipat kedua tangannya. Wajah pria itu kusut sekali. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang sampai sekarang belum mencapai titik temunya.

            “Ayah…” Jung Soo masuk kedalam kamar orang tuanya. “Aku yakin Hana bisa menjadi Pewaris Tahta yang baik.”

            Ayahnya tersenyum pada Jung Soo, seperti biasa. Jung Soo sudah berumur lebih dewasa saat itu dan ia begitu mengerti Peraturan Keluarganya secara turun temurun.

            “Ibu, biarkan aku menggendong Hana.” Tawar Jung Soo. Ibunya tersenyum manis sekali dan memberikan Hana pada Jung Soo dengan hati-hati. “Terima kasih.” Kata Jung Soo pada Ibunya.

            Park Jung Soo menatap Park Hana yang masih menangis. Lelaki itu menghapus air mata Adiknya dengan penuh kasih sayang. “Berhentilah menangis.” Dan beberapa menit kemudian, Park Hana—bayi itu benar-benar berhenti menangis.

            Sejak saat itu, orang tuanya tidak khawatir lagi meninggalkan Hana dirumah sendirian walau banyak sekali pengawal dan pembantu rumah tangga. Ketika ada Jung Soo, disanalah mereka lega akan perlindungan yang akan diberikan Kakak pada Adiknya. Hingga sampai saat ini, Ayah dan Ibunya lebih sering memberikan menyampaikan nasihatnya lewat Jung Soo. Karena anak gadis mereka lebih suka mendengarkan apa yang diucapkan oleh Kakaknya dibanding Orang Tuanya.

 

GEE!

 

            Xi Luhan melirik jam tangannya. Sudah lewat jam dua belas malam. Ia masih dijalan menuju Incheon, sengaja tidak menyetir sendiri demi keselamatannya. Dan malam seperti ini, kota masih sangat ramai. Ngomong-ngomong kapan terakhir ia bersenang-seneng? Dua minggu yang lalu sebelum Ujian Semester dilakukan. Membosankan.

            Luhan mengangguk-nganggukan kepalanya, kakinya ditekan-tekan diatas alas kaki mobil dengan pelan, mengikuti nada lagu yang sengaja ia putar didalam mobil. Perjalanan sudah ia tempuh selama kurang lebih satu jam. Dan perjalanan menuju Bandara Incheon paling lama adalah dua jam. Ia pikir pesawatnya akan datang terlambat dan tidak ada salahnya datang agak terlambat karena ia tidak suka menunggu.

            Ponselnya berdering. Panggilan dari Min Seok. Mereka sepertinya sudah tiba. Ia mendekatkan ponselnya ketelinga dan bergumam.

            “Kau dimana?

            “Sebentar lagi aku akan sampai.” Jawab Luhan.

            “Oke.

            Mobil lelaki itu berhenti didepan pintu keluar penumpang kedatangan Luar Negeri. Ia keluar dari mobilnya dan langsung diberi teriakan beberapa orang yang merupakan siswa Yohan.

            “Padahal baru empat hari aku tidak bertemu Kak Luhan, tapi dia sudah sangat tampan sekali.”

            “Aku merindukan Kakak itu.”

            Berbagai celetukan menghampiri telinga lelaki itu, namun Luhan sama sekali tidak meresponnya. Ia semakin melebarkan senyumnya ketika melihat Sehun dan Kyungsoo melambaikan tangan kearahnya, diikuti Chanyeol lalu Minseok yang baru menyadari kedatangan lelaki itu.

            “Cinta mereka tetap untukmu, Tuan Xi.” Sehun bercanda sambil memeluk Luhan, diikuti gelak tawa Kyungsoo, Chanyeol, dan Minseok.

            “Jadi, bagaimana harimu? Kau bahkan tidak memberi kabar sama sekali.” Kyungsoo bertanya sekaligus menggoda lelaki itu.

            Luhan mengendikan bahunya, terlalu malas menjawab. “Hariku seperti kertas kosong yang tidak berguna jika dibuang begitu saja.” Seperti biasa, ia menggunakan bahasa yang begitu cerdas. Pikir teman-temannya malas sambil tertawa dipaksakan, membuat Luhan memutar bola matanya.

            “Ngomong-ngomong, kau apakan Park Hana?” Luhan menatap Kyungsoo dengan alis bertaut, tak mengerti. Luhan menatap semua temannya yang menampilkan senyum asimetrisnya lalu mengangkat dagu agar Luhan berbalik kebelakang. Lelaki itu menuruti ucapan teman-temannya dan membalik kebelakang.

            Ini kali keduanya, Xi Luhan melihat cara Park Hana berpakaian sesopan itu. Biasanya gadis itu akan memperlihatkan kulit-kulitnya yang putih terekspos dengan memakai pakaian serba terbuka, apalagi ini musim panas. Xi Luhan menatap dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rambut yang diurai sebahu dengan poni yang dibiarkan panjang lalu dibelah dua, dan mata yang biasanya memakai lensa sekarang dibiarkan bebas sehingga gadis itu memakai kacamata. Lalu kaos setengah lengan yang sedikit dilipat dan satu syal berwarna coklat mengikat lehernya dengan celan jins yang indah. Cantik sekali. Batin Xi Luhan.

            Sorakan panjang lebih keras terdengar ketika Baekhyun dan Hana saling berpelukan, See-Jung juga ikut memeluk Hana diikuti Jongin dan Joonmyun yang bercanda ingin memeluk Hana. Luhan tampak seperti orang bodoh sekarang ketika ia melihat pemandangan itu, apalagi ketika Hana menatapnya dan tersenyum mengejeknya.

            “Oh shit.” Sehun berdecak. “Tatapan apa itu?”

            Kyungsoo dan Min Seok tertawa sambil merangkul Luhan.

            “Dia mengejekmu, Xi Luhan.” Ejek Chanyeol tak mau kalah sambil tertawa bersama Sehun.

            Xi Luhan menatap Park Hana tajam, seakan-akan mengintimidasi gadis itu. “Dia hanya iri karena Ibunya lebih menyukaiku dibanding anaknya sendiri.” Ujar Luhan lebih pada dirinya sendiri.

            “Itu hanya penyemangat untuk Park Hana.” Min Seok berujar. “Kurasa.” Lanjutnya.

            “Ayo pulang!” seru Chanyeol. Luhan bergumam dan berjalan diikuti keempat teman-temannya. Ia berjalan melewati Park Hana dan seluruh kawan-kawannya.

            “Wow, reunian yang sangat bagus sekali.” Xi Luhan berhenti didepan Park Hana, memberikan senyum asimetrisnya.

            Park Hana membalik dan menatap lelaki itu tajam. Xi Luhan melebarkan senyumnya. “Tatapan itu membuatku lebih menginginkanmu lagi, Sayang.” Ia menekan kalimat Sayang-nya.

            “Diam kau Xi Luhan.” Ancam Hana dengan suara yang diberatkan dan ditekankan.

            Luhan tertawa pelan, membuat teman-temannya dibelakang ikut tertawa. “Apa?” Luhan mengerutkan dahinya, mengejek Hana. “Kenapa kau takut begitu?”

            Park Hana menggerang kecil sambil mengatupkan bibirnya. “Sudah kubilang untuk diam.”

            Luhan menatap Hana lalu beralih menatap Baekhyun. “Ah, rupanya aku memiliki saingan disini.”

            “Xi Luhan!” teriak Hana mulai kesal. Membuat murid-murid yang melihat mereka tidak berhenti berseru tentang apa yang sebenarnya terjadi.

            Luhan mengangkat tangannya dan memiringkan kepalanya sambil tersenyum, mengejek Park Hana. “Baik. Aku akan diam.” Lalu ia menatap Baekhyun. “Baekhyun, jaga pacarku baik-baik.” Katanya sambil mengedipkan matanya sebelah lalu pergi meninggalkan Park Hana dan beberapa murid yang berseru kaget.

            Keempat teman-temannya tertawa. “Yaampun, kau sudah gila.” Tawa Chanyeol. “Kau lihat ekspresi Park Hana saat menjeritkan nama Luhan?” Chanyeol menutup mulutnya, tak kuasa menahan tawanya.

            Kyungsoo juga tertawa, lebih keras dari biasanya. “Xi Luhan!” serunya mencontoh lagak Park Hana beberapa detik yang lalu. “Aku baru melihat ekspresi Hana seperti itu.”

            Sehun menepuk-nepuk pahanya, lebih tak kuasa menahan tawanya. “Luhan benar-benar yang terbaik.”

            Luhan ikut tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Sedangkan Minseok sama seperti Luhan, hanya tertawa kecil. “Anak nakal.” Ujar Minseok.

            Luhan menggigit bibir bawahnya sambil menggelengkan kepalanya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan menoleh kekiri, sebuah jalanan kecil yang kosong.

            “Kau masih mencarinya?” tanya Minseok.

            Luhan tak menjawab. Ia masih menatap jalanan itu. “Aku mungkin akan mengenalinya ketika suatu saat nanti bertemu dengannya.” Ia mengatupkan bibirnya lalu menghela napas.

            “Tapi yang kau kenali sebagai Wonder Woman itu adalah Park Hana.”

            Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak mungkin dia.”

            Minseok menepuk-nepuk pundak lelaki itu. “Ayo, jangan pikirkan hal itu.”

            Luhan mengangguk lalu melangkah mengikuti ketiga temannya yang sudah memasuki mobil duluan.

 

GEE!

 

            Selama satu jam ini, sejak mereka naik ke mobil, Byun Baekhyun ataupun Park Hana sama-sama menjadi kaku, tidak saling bicara sejak Luhan menatap Baekhyun seperti seorang penghalang bagi hubungannya dengan Hana. Baekhyun meringis, ia menoleh dan menatap wajah Park Hana yang sedang menatap keluar jendela.

            “Aku sama sekali tidak tau soal apa yang dikatakan Luhan dan sekarang kau hanya diam. Dan aku ingin bertanya, kenapa jadi kau yang diam?”

            Park Hana menghela napas dan mengusap wajahnya, ia menoleh kearah Baekhyun. “Aku minta maaf soal itu,” Hana memejamkan matanya. Wajahnya kelihatan gelisah sekali dan Baekhyun sangat tahu sekali jika gadis itu sedang merasa bersalah. “Aku hanya tidak tau menjelaskannya darimana.” Ia menatap mata Baekhyun. “Kumohon, jangan percayai ucapan Luhan.”

            “Kenapa?”

            Hana mengerutkan wajahnya. “Kenapa? Kau bahkan sudah tahu alasannya.”

            Baekhyun menarik tangan Hana, merengkuh badan gadis itu sepenuhnya. Ia memejamkan matanya. “Aku benar-benar lelah sekarang.”

            Park Hana balas memeluk Baekhyun. “Tidurlah.” Ujar Hana lembut. Aku benar-benar minta maaf…

            Dan selama perjalanan itu, Park Hana tidak bisa mengelak bahwa ia benar-benar merindukan Baekhyun. Tubuhnya dingin sekali, ia benar-benar kedinginan, jadi selama perjalanan itu, mereka terus berpelukan. Ada sedikit rasa bersalah yang mengendap diperasaan gadis itu dan jika ia tepis jauh-jauh, itu menjadi sebuah masalah yang ia tinggalkan. Ia tidak suka hal itu.

            “Kau kedinginan?” Baekhyun sepertinya terbangun atau memang tidak tidur? Pikir Hana, gadis itu mengangguk sambil bergumam. Baekhyun meraba pundak Hana, bergetar lalu meraba pelipis gadis itu, suhunya panas. Baekhyun membelak, ia mengangkat tubuh Hana dan melihat wajah gadis itu. Pucat sekali. “Hey, Park Hana. Ada apa denganmu?”

            Hana memeluk Baekhyun, bersandar didada lelaki itu sambil menggeleng. “Aku benar-benar minta maaf.”

            Baekhyun mengatupkan bibirnya, ia mengangkat tangannya untuk memeluk gadis itu, tapi dijauhkan lagi, ada rasa yang menganggu perasaannya.

            “Benar apa yang dikatakan Luhan tadi?”

            Baekhyun merasakan kamejanya yang basah. Ia menunduk. Park Hana menangis. Baekhyun menghela napas, kecewa.

 

TBC

 

.

.

Halo, selalu berterimakasih sudah membaca GEE Part 2 dan juga komentar-komentar yang bersifat membangun, sangat terimakasih. Dan mohon maaf karena FF ini tidak publish tepat waktu, yang seharusnya saya publish satu minggu sekali. Tetap memberi kritik dan saran juga jangan bosan untuk menunggu dari akhir cerita ini. 

 

 

love,

 

 

sanacamberlain

 

29 responses to “GEE! [Part 3]

  1. daebak thor ffnya aku suka banget, makin penasaran sama kelanjutannya, masih belum nebak motif luhan itu sebenarnya apa, aku suka banget pokoknya deh sm ffnya, keep writing aja buat author, and ditunggu next part secepatnya ya thor ^^

  2. Pingback: GEE! [Part 4] | FFindo·

  3. kasian baekhyun, udah hubungannya ga jelas, eh sekarang kaya di php-in lagi, ckck *hug baekhyun*
    aku penasaran deh, sebenernya tujuan sama motifnya luhan itu apa? trus waktu dia ngeliat jalanan yang sepi itu dia nyariin siapa? uh, aku kepo ><
    lanjut dulu deh *teleport*

  4. Sebenarnya apa hubungan Baekhyun dan Hana? Siapa orang masa lalu Luhan?
    Jangan jangan itu Park Hana, ada rahasia yang belum diceritakan kepada Baekhyun.
    Keliahatannya juga Luhan mulai jatuh cinta sama Hana, jadi seperti cinta segitiga ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s