After Kiss (Chapter 2)

After Kiss 2After Kiss

by

Zola Kharisa

Cast: Shin Jisun (OC), Cho Kyuhyun, Lee Donghae, Super Junior’s

Genre: Fantasy, Romance

Rating: PG-15

Length: Short Chaptered

Previous: [Chapter 1]

.

“Apartemenmu luas sekali Kyuhyun-ssi! Bukankah kau hanya tinggal sendirian di sini?” Suara Jisun terdengar kagum ketika kedua insan itu masuk ke dalam sebuah apartemen di kawasan elit Seoul.

Appa-ku yang memberikannya. Padahal aku sama sekali tidak menginginkan apartemen seluas ini,” sahut Kyuhyun seadanya, lalu masuk ke ruangan lain di dalam apartemen itu.

“Ini kamarmu?” tanya Jisun yang ternyata mengikuti Kyuhyun di belakang. Kyuhyun menghela napas, lalu mengambil sesuatu di dalam lemari bajunya.

Ia mendekati Jisun yang terlihat sedang menatap beberapa foto berbingkai yang terpajang di dinding kamarnya. “Mandilah terlebih dahulu. Kau bisa meminjam bajuku kalau kau mau. Ya, walaupun memang sedikit kebesaran.”

Jisun berbalik, lalu mengambil sebuah kemeja putih dan handuk dari tangan Kyuhyun. Kemudian ia mendongak dan tersenyum tipis. “Terimakasih.”

Kyuhyun hanya menjawab dengan gumaman pelan, lalu meninggalkan Jisun sendirian di kamarnya—karena memang satu-satunya kamar mandi adalah di kamarnya. Dan ia merutuki dirinya sendiri, sekarang, karena ia yang meminta model apartemen seperti itu pada Appa-nya dulu. Tanpa memikirkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini bisa terjadi.

Kyuhyun bergegas keluar lalu berjalan ke arah dapur. Ia sendiri sedikit terkejut melihat dirinya yang mau meluangkan waktu hanya untuk memasakkan sesuatu apalagi pada seseorang yang baru dikenalnya. Padahal selama ini ia sudah cukup malas membuat masakan untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain.

Seraya otaknya berpikir, ia mulai membuka isi kulkas. Batinnya cukup lega ketika melihat masih ada beberapa bahan makanan di kulkas miliknya. Walaupun ia memang lebih banyak menghabiskan waktu di dorm, tapi ia selalu menyempatkan diri untuk pulang ke apartemennya dan mengisi kulkasnya yang kosong. Hal itu menjadi sebuah kebiasaan untuknya, hingga saat ini.

Kyuhyun memutuskan untuk membuat ramyeon dan cokelat panas untuk Jisun. Ia merasa gadis itu pasti lapar, sehingga ia berinisiatif untuk membuatkannya makan malam. Ya, walaupun memang bukan makanan yang wah, mengingat Kyuhyun bukanlah hyung-nya yang satu itu—Ryeowook, yang terkenal manis dan pintar memasak.

Tak berselang lama, ramyeon sudah berada di dalam mangkuk, dengan takaran air sebagai kuahnya yang pas. Ia mencicipi sedikit rasa kuahnya. Tidak terlalu buruk, dan lebih baik dibandingkan dengan yang pernah kubuatkan untuk para hyung dulu.

Tepat saat Kyuhyun selesai menaruh ramyeon dan cokelat panas itu di atas meja makan, Jisun keluar dari kamarnya dengan balutan kemeja putih yang cukup kebesaran dan panjang untuknya, sehingga menutupi seluruh tubuh bagian atasnya hingga ke setengah paha.

Kyuhyun yang melihat itu tampak tidak berkedip. Ia memperhatikan sosok Jisun yang nampak gugup ketika Kyuhyun memperhatikannya. Apa ada yang salah terhadapku? Batin Jisun.

“Kyuhyun-ssi, apa ada yang salah?” tanya Jisun bahkan ketika ia sudah berdiri tepat di hadapan Kyuhyun, namja itu masih tampak tidak berkedip. Lalu bagai sebuah sentakan, Kyuhyun tersadar dan buru-buru mengalihkan perhatiannya.

A-Aniyo, aku sudah membuatkanmu makan malam. Memang hanya ramyeon dan cokelat panas, tapi kuharap kau suka.” Kyuhyun mengambil langkah dan duduk di kursi meja makan. Jisun yang melihat itu, lalu mengikuti Kyuhyun dan duduk di seberang namja itu. Matanya menangkap semangkuk mie di depannya, dan segelas coklat panas yang mengepulkan asap tipis. Jisun tersenyum lalu mengucapkan terimakasih pada Kyuhyun.

Kyuhyun tidak menjawab, lebih memilih memperhatikan gadis yang kini tengah menyuapkan sesendok mie ke dalam mulutnya. Tiba-tiba jantungnya berdegup lebih cepat saat melihat Jisun mengunyah mie itu. Kyuhyun seperti merasa sedang menunggu sebuah pengumuman lomba ketika detik demi detik terasa sangat lambat baginya. Ia ingin mengetahui respon gadis itu akan masakannya. Apakah enak atau tidak…

“Ini enak, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun merasa pendengarannya sejenak tuli. “Apa yang kau bilang?”

“Ini enak,” ulang Jisun. “Kuhabiskan semua, ya?”

Tanpa sadar Kyuhyun menarik dua sudut bibirnya ke atas, lalu mengangguk, “Itu memang untukmu.”

“Kau tidak makan?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak lapar.”

Mendengar itu Jisun mengangguk lalu kembali menyantap ramyeon-nya dengan lahap. Hening selama Jisun memakan makanannya, sementara Kyuhyun sudah sibuk dengan berbagai pertanyaan di dalam pikirannya yang akan ia tanyakan nanti pada Jisun. Ia masih butuh penjelasan, sangat malah. Bagaimana bisa gadis di hadapannya sekarang adalah seorang jelmaan kupu-kupu? Oh ayolah, apakah masih ada hal seperti itu di era modern seperti ini?

Jisun mengelap bibirnya dengan ibu jari ketika ia selesai menyantap ramyeon buatan Kyuhyun, lalu diambilnya cokelat panas di samping mangkuk, dan diteguknya dengan perlahan namun pasti.

Desahan lega keluar dari bibir mungil Jisun. Matanya terlihat berbinar seraya menatap mangkuk yang sudah kosong. Seakan-akan ia berharap bahwa ramyeon itu masih tersisa di dalam sana, sehingga ia bisa kembali memakannya lagi.

“Jisun-ssi,”

Jisun mendongak, dan mendapati wajah Kyuhyun yang terlihat serius. Sepertinya ini saatnya ia menceritakan identitas aslinya. Ia tahu itu, pandangan Kyuhyun padanya sudah menjelaskan semua yang ingin dikatakan namja itu.

“Aku akan menceritakannya…,” Jisun menarik napas, “sekarang.”

Kyuhyun mengangguk, mengerti dengan maksud gadis itu. “Sebenarnya… siapa kau?”

Jisun menggeser mangkuk dan gelas yang sudah kosong di depannya ke samping, memberikan ruang untuk kedua tangannya yang terkepal agar dapat bertumpu di atas meja.

“Sebelumnya, aku tidak tahu kau akan percaya padaku atau tidak. Namun kuharap, kau mau mempercayaiku. Semua yang akan aku katakan nanti memang akan terdengar sangat mustahil, apalagi kau mendengarnya di dunia yang sekarang. Di mana kehidupan manusia sebagian besar kini berporos pada kecanggihan teknologi, dan mengesampingkan sesuatu yang berasal dari hati.” Jisun menghela napas, sesaat tatapannya menerawang.

“Aku adalah keturunan seorang bangsawan Prancis dua ratus tahun yang lalu, yang dilahirkan secara paksa, tanpa dasar cinta antara kedua orang tuaku. Ayahku bernama Louis, sedangkan ibuku bernama Josephine. Mereka berdua menikah semata-mata karena paksaan orang tua kedua belah pihak sekaligus untuk menambah kejayaan pada kedua pihak kerajaan. Saat itu, ekonomi Negara Prancis sedang surut, dan untuk bisa mempertahankan para pekerja istana, mereka melakukan pernikahan secara sederhana, dan merakyat. Hal itu dilakukan bukan karena permintaan kedua sejoli yang akan menikah, tetapi atas permintaan orang tua kedua belah pihak. Mereka melakukan itu untuk mendapatkan simpatik rakyat karena keduanya adalah tokoh yang berpengaruh bagi para penduduk di Prancis. Di saat ekonomi Negara Prancis sedang tidak stabil, mereka membutuhkan dukungan rakyat untuk dapat membangun pondasi bangsa dari dua istana yang berbeda agar lebih kuat lagi. Tanpa diiming-imingi imbalan, rakyat yang menyaksikan pernikahan itu lantas dengan sukarela mau menurunkan harga jual pasar pada pemerintahan di kedua istana—yang telah bersatu dengan nama Istana Burg—di Prancis, dan menaikkan harga jual pada luar daerah Prancis. Dengan konsekuensi, setengah dari laba yang dihasilkan para penduduk yang menjual untuk luar daerah Prancis saat itu harus diserahkan pada pemerintahan Istana Burg.”

Kyuhyun tampak mencerna dengan jelas apa yang dikatakan Jisun. Menurutnya, ia seperti belajar tentang sejarah. Namun kali ini, ia merasa sejarah tentang Prancis menjadi jauh berbeda.

“Dua ratus tahun yang lalu?”

Jisun tersenyum tipis, dugaannya tepat kalau Kyuhyun akan menanyakan hal itu terlebih dahulu. “Aku sudah hidup selama dua ratus tahun. Namun aku yang sekarang adalah sebuah reinkarnasi.”

“Lanjutkan ceritamu, aku akan menanyakan apa yang sudah menumpuk di otakku nanti.”

Jisun mengangguk. “Kala itu, Istana Burg mengalami kemakmuran yang luar biasa. Sementara anehnya, rakyat hidup dengan stabil. Awalnya nenek dan kakekku sangat heran karena hal itu tidak akan pernah mungkin terjadi, mengingat laba yang mereka ambil tidak sesuai dengan yang diperjanjikan. Pemerintah mengambil uang laba hampir delapan puluh persen. Meski untung, tetap saja tidak akan bisa menutupi sepenuhnya kekurangan pada harga pasar yang dijual lebih murah kepada pihak istana.

“Sampai tidak lama kemudian, alasan atas keanehan itu terjawab. Charlotte, saudari tiri ibuku, ternyata adalah alasan di balik semua keanehan itu. Charlotte ternyata menggunakan seluruh uang simpanannya untuk kesejahteraan rakyat agar mereka tetap bisa menikmati kehidupan yang layak di balik ketidakadilan keluarganya yang hanya mementingkan harta, dan ingin semakin berjaya lebih dari kekuasaan Inggris kala itu. Semuanya terbukti benar ketika ibuku menemukan Charlotte keluar secara diam-diam dari istana dan pergi menemui setiap pemimpin dari desa-desa dan kota-kota di Prancis untuk diberikan uang sebagai jaminan atas kemakmuran rakyat. Sementara ibuku yang mengikutinya saat itu berpikir kalau Charlotte adalah seorang pemberontak, yang ingin menghancurkan Istana Burg secara perlahan. Karena ibuku tahu, kalau Charlotte sangat tidak suka dengan keluarganya, dan juga… benci begitu tahu orang yang dicintainya, ayahku, ternyata malah dijodohkan dengan ibuku, bukan dengan Charlotte.”

“Lanjutkan sampai selesai, kemampuan menyerapku cukup bagus. Jadi kau tidak perlu memberi jeda.”

Jisun mendengus kecil mendengarnya. Ia tahu Kyuhyun cerdas, namun ia tidak perlu mengatakannya secara gamblang seperti itu.

“Ibuku yang tidak tahu akan maksud sebenarnya Charlotte memberikan uang pada sekumpulan pemimpin itu, menceritakannya pada kepala pelayan istana untuk meminta pendapat. Sementara tanpa diketahui ibuku, kepala pelayan itu mengadu pada nenek dan kakekku. Sehingga mereka yang mendengarnya menjadi murka, keinginannya untuk menjadikan Charlotte sebagai salah satu kandidat pewaris tahta dicabut. Charlotte yang kala itu tidak tahu bagaimana bisa nenek dan kakekku mengetahuinya, langsung dipindahkan secara rahasia ke desa terpencil di pinggir kota. Menghindari konflik antara istana dengan rakyat, apalagi ekonomi istana kini bergantung pada kekuatan rakyat.

“Sepindahnya Charlotte ke pinggir kota, ketidakstabilan ekonomi rakyat terjadi. Namun dengan tak acuhnya, pemerintah masih terus saja memeras rakyat, padahal rakyat sudah memohon-mohon bahkan mengemis agar laba yang diambil tidak banyak. Charlotte yang mendengar kabar itu lantas meminta bantuan seorang kenalannya, bernama Felix, seseorang yang cukup terkenal di Prancis karena kemampuannya yang dapat menggunakan ilmu sihir—atau lebih tepatnya ilmu hitam.

“Charlotte yang sudah tidak tahan karena roda kehidupan Negara Prancis yang begitu memuakkan di matanya, akhirnya meminta pada Felix untuk membuat janin yang tengah di kandung ibuku—aku, agar mendapatkan kutukan. Felix awalnya menolak, mengingat aku adalah seorang pewaris tahta bila kedua orang tuaku meninggal kelak. Namun Charlotte tidak peduli, ia meminta Felix mengutukku menjadi seekor kupu-kupu. Seekor spesies yang cantik, namun sangat dibenci keluargaku—mengingat salah satu anak dari nenek dan kakekku yang seharusnya adalah kakak ibu kandungku meninggal karena terkena sentuhan sayap kupu-kupu beracun. Charlotte juga meminta pada Felix untuk mengutukku di tanggal sembilan, di mana tanggal itu adalah tepat hari kematian kakak ibu kandungku, Christine. Sehingga keluargaku yang berpikir aku hilang, akhirnya mencoba untuk menetralisir masalah. Sementara kupu-kupu—aku dicoba dibunuh dengan berbagai cara, namun dengan keajaiban Tuhan, aku berhasil selamat dari percobaan pembunuhan itu.”

“Lalu, sekarang… kau?”

“Felix terlalu baik untuk mencelakai seseorang. Meskipun ia bisa menggunakan ilmu hitam, ia tidak pernah melakukannya untuk mencelakai orang lain—apalagi itu adalah pewaris tahta kerajaan, di mana kerajaannya itu sendiri pernah membantu dia bangun dari keterpurukannya. Jadi, secara diam-diam, Felix mengutukku menjadi seekor kupu-kupu tepat sembilan hari dari hari kelahiranku. Dan tepat di tanggal sembilan, saat bulan purnama tiba. Ia hanya mengutukku menjadi seekor kupu-kupu dan memberikanku jalan keluar agar aku bisa kembali bereinkarnasi menjadi seorang manusia sementara, dan seutuhnya.”

Kyuhyun mengernyit. “Sementara dan seutuhnya?”

“Felix mengutukku menjadi seekor kupu-kupu tidak hanya memberikanku kesempatan untuk kembali menjadi manusia, tetapi juga memberikanku kelebihan. Semisal aku bisa berbicara dengannya dalam kondisi tubuhku berwujud kupu-kupu. Aku bisa terbang lebih tinggi dan cepat daripada kemampuan kupu-kupu pada umumnya, dan aku bisa membaca pikiran seseorang jika keadaan memang terpaksa.”

“Membaca pikiran?”

“Ya… kalau kau ingin, aku bisa membaca pikiranmu detik ini juga,”

Kyuhyun bergidik mendengarnya. “Jangan pernah mencoba-coba, Shin Jisun.”

Mendengar ancaman itu justru membuat Jisun terkikik. “Tenang saja, selama itu bukanlah hal yang mendesak.”

Kyuhyun menghela napas, sebisa mungkin mencoba mengosongkan pikirannya. “Lalu bagaimana caranya kau bisa menjadi manusia sementara dan seutuhnya?”

“Kurasa Felix akan menjadi salah satu namja yang romantis jika dia memiliki kekasih. Awalnya ia hanya berniat iseng, sampai suatu ketika ia membaca sebuah buku mantera yang di sana tertulis kalau sebuah ciuman akan menjadi lebih manjur ketimbang dengan mantera kutukan lainnya. Jadi, Felix memberikanku cara untuk membebaskanku dari kutukan itu adalah saat jika ada seseorang yang menciumku dengan tulus, maka aku akan bebas dari pengaruh kutukan itu seutuhnya. Sedangkan untuk menjadi manusia sementara, adalah seperti sekarang. Itu terjadi jika aku—atau orang lain—namja yang menciumku namun tidak setulus yang diharuskan.”

Kyuhyun menatap Jisun lekat. “Lalu kau ingin namja itu adalah aku?”

“Tidak juga,” Jisun menjawab. “Untuk mendapatkan seseorang yang bisa kuyakini akan membantuku, Felix mengutukku dengan baik, dengan ciri akan ada tarik menarik seperti magnet jika aku berada di depan orang itu. Dan… itu terjadi ketika aku berada di depanmu.”

Kyuhyun tertegun sejenak. “Jadi kau merasa aku adalah orang yang akan tulus menciummu?”

“Bukan,” Jisun menjawab dengan sabar. “Kau hanya membantuku untuk menemukan orang yang akan tulus menciumku Kyuhyun-ssi. Pengaruh ciumanku tadi di bibirmu hanya berefek selama dua belas jam, setelah itu aku akan kembali menjadi seekor kupu-kupu.”

Tiba-tiba Kyuhyun merasa gugup ketika Jisun membahas ciumannya tadi. Meskipun batinnya tetap membantah kalau itu tidak termasuk dalam hitungan ciuman, mengingat Kyuhyun tidak merasakan apa-apa di bibirnya.

“Jadi maksudmu aku hanya sebagai perantara? Dan aku harus menciummu—“

“Kau tidak perlu menciumku di bibir. Kau bisa menciumku di mana saja, di pipi, dahi, tangan, dan lainnya.”

“Apakah harus?”

“Tentu,” Jisun mengangguk mantap. “Karena hanya kau yang bisa membantuku menjadi manusia sementara. Kuharap kau mau membantuku… Oh ya, satu lagi, kalau kau menciumku saat aku menjadi seekor kupu-kupu, maka aku akan menjadi manusia. Dan sebaliknya, jika kau menciumku saat aku menjadi manusia, maka aku akan menjadi seekor kupu-kupu meskipun itu belum dua belas jam.”

Kyuhyun menimbang sejenak. “Apa ada untungnya untukku?”

Jisun mencibir kecil, ia berpikir Kyuhyun akan menanyakan hal yang lebih berguna. “Aku akan membangunkanmu setiap pagi, menyirami tanaman potmu, memasakkanmu makanan, dan membersihkan apartemenmu. Apa itu cukup?”

Kyuhyun menyeringai. “Sebenarnya kurang cukup jika dibandingkan dengan kau yang akan mendapatkan ciumanku selama kurang lebih dua belas jam. Tapi… tak apalah, setidaknya bebanku sedikit berkurang.”

Jisun menghela napas dan menatap Kyuhyun seolah-olah ingin memakannya. Ternyata gadis-gadis yang sering membicarakan Kyuhyun benar kalau namja itu sebenarnya sangat percaya diri, dan memang sebutan ‘evil magnae’ sangat cocok untuknya.

“Oh ya,” Kyuhyun kembali membuka pembicaraan. “Kau… sudah hidup selama dua ratus tahun? Jadi, apa saja yang kau lakukan selama ini? Wajahmu terlihat lebih muda dariku.”

Jisun merasa senang ketika Kyuhyun sepertinya sudah bisa menerima informasi yang tidak masuk akal di telinganya. Entah apa yang membuatnya mengembangkan senyum saat tahu Kyuhyun terlihat penasaran tentang dirinya.

“Sebenarnya sebelum aku berada di Korea—kau tahu—aku tinggal di Prancis, dua ratus tahun yang lalu. Dan selama dua ratun tahun itu pula, aku menjelajah di berbagai belahan dunia. Dengan sosok kupu-kupuku, dan kemampuan terbang yang tinggi dan cepat, aku bisa singgah dari negara satu ke negara lainnya. Ya… menikmati kota-kota yang megah dan semakin berkembang sesuai dengan zaman. Dan selama dua ratus tahun itu pula aku bereinkarnasi menjadi kupu-kupu yang lebih dewasa. Setiap sepuluh tahun sekali aku akan bereinkarnasi menjadi sosok manusia di umur satu tahun, dan begitu seterusnya. Jadi, kalau dihitung di umur manusia yang sekarang, aku berumur dua puluh tahun.”

“Bukankah di saat sepuluh tahun pertama kau masih berumur satu tahun? Bagaimana kau bisa menjelajah… sendirian?”

“Meskipun di umur manusia aku berumur satu tahun, tapi bukankah di umur kupu-kupuku aku berumur sepuluh tahun? Tentu saja di umurku itu aku sudah bisa menjelajah sendirian, Kyuhyun-ssi. Tidak seperti sekarang di mana anak-anak berumur sepuluh tahun belum bisa melakukan petualangan sendirian—mungkin ada beberapa, dan aku cukup senang mengetahui aku adalah satu dari beberapa anak-anak itu. Ya… walaupun dalam wujud kupu-kupu—yang hanya bisa berkhayal mengenakan pakaian manusia yang terlihat manis dan cantik-cantik itu.” Jisun  mengangkat tangannya sedikit, memperhatikan lengannya yang kini dibalut kemeja putih Kyuhyun.

Kyuhyun menatap Jisun lekat. Sedikit perasaan mengasihani Jisun yang terkena kutukan-apalah-itu, yang membuat masa-masa hidupnya yang seharusnya menjadi manusia harus berakhir dengan wujud seekor kupu-kupu.

Kyuhyun tersadar dari lamunannya saat dilihatnya Jisun menguap. Gadis itu mengantuk. Kyuhyun melirik jam dinding di dekat dapurnya. 23.00. Pantas gadis itu mengantuk, meskipun jelmaan seekor kupu-kupu, gadis itu tetaplah seorang manusia, asli. Dan manusia memang butuh istirahat, dan tidur.

“Kau mengantuk? Tidurlah di kamarku, aku bisa tidur di sofa malam ini.”

Jisun yang hampir memejamkan matanya, menjadi urung melakukannya ketika mendengar suara berat Kyuhyun.

“Lebih baik aku yang tidur di sofa. Aku tahu kau pasti lelah seharian ini Kyuhyun-ssi.”

“Tidak, aku tidak mungkin membiarkan seorang yeoja tidur di sofa. Lebih baik kau tidur di kamarku, lalu kau besok bisa membangunkanku pagi-pagi, aku ada jadwal.”

Jisun menggigit bibir bawahnya sedikit. “Baiklah, gomawo Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun mengangguk dan mau beranjak saat tiba-tiba ia teringat satu hal. “Jisun-ssi,”

Jisun menoleh, ia masih duduk di tempat yang sama, belum berniat beranjak. “Ada apa?”

“Omong-omong, bagaimana kau tahu namaku dan tentang Super Junior?”

Jisun tersenyum tipis. “Kalian sangat terkenal di seluruh penjuru Korea. Jadi, siapa yang tidak mengenal kalian? Aku sudah tinggal di Korea selama satu bulan, dan mengamati kalian lewat wujudku sebagai kupu-kupu. Lagipula, tidak akan ada yang menyadari seekor kupu-kupu akan terpikat pada manusia, bukan?”

Kyuhyun terperangah, lalu dengan canggung mengangguk. Teringat akan pemikirannya beberapa jam yang lalu tentang sosok kupu-kupu yang ditemuinya tadi—Jisun.

“Apa ada yang mau kau tanyakan lagi?” Gadis itu menguap, matanya terlihat lelah. Kyuhyun yang melihatnya menggelengkan kepala. Lantas Jisun berdiri dari kursinya dan akan melangkahkan kakinya sebelum tiba-tiba seseorang menahan pergelangan tangannya. Memberikan sensasi yang belum pernah dirasakan gadis itu sebelumnya. Terdengar berlebihan, memang, tapi itulah faktanya.

“Kau lahir di Prancis, apakah kau mempunyai nama asli? Atau barat?”

Jisun tersenyum, lagi. “Jennifer, namaku Jennifer.”

Jennifer… “Kau ingin aku memanggilmu Jennifer, atau dengan nama Shin Jisun-mu?”

“Panggil saja aku Jisun, karena aku tinggal di Korea sekarang.”

Kyuhyun mengangguk. “Kalau begitu jangan panggil aku dengan akhiran ssi lagi. Itu terdengar terlalu formal untuk seseorang yang kini tinggal di apartemenku.”

Jisun terkejut, lalu akhirnya mengangguk paham. “Berarti kau jangan memanggilku dengan akhiran ssi juga. Baiklah, kita bisa tidur sekarang? Oh, ya bisakah kau lepaskan tanganmu, Kyuhyun?”

Kyuhyun menatap heran Jisun sebelum tatapannya beralih pada tangan kanannya. “Ah, mianhae.” Ia melepaskan genggamannya gugup.

Gwenchana, selamat malam Kyuhyun. Semoga tidurmu nyenyak malam ini.” Jisun tersenyum lagi, lalu berjalan ke arah kamar Kyuhyun. Meninggalkan seorang namja yang masih bergeming di tempatnya dengan pikiran yang mulai melayang entah ke mana.

***

Cahaya matahari tanpa ragu menyusup melewati celah-celah kaca jendela. Membuat seorang gadis yang tengah tertidur dengan nyaman di atas tempat tidur itu mengerjap. Erangan tertahan keluar dari bibir mungilnya, lalu dengan perlahan kedua kelopak matanya terbuka seiring dengan kesadarannya yang mulai terkumpul.

Ia membiasakan penglihatannya pada cahaya matahari yang masih cukup menyilaukan untuk kedua matanya. Lalu ia melirik jam beker pada nakas, dan terperanjat begitu tahu jarum pendeknya sedang menuju ke angka tujuh. Lantas dengan cepat, ia melempar selimutnya asal dan segera melompat dari tempat tidur.

Jisun berjalan mengendap-endap saat dilihatnya tubuh Kyuhyun masih berbaring di atas sofa, dengan suara dengkuran halus yang mengaluni tidurnya. Sementara perasaan tidak enak menyelimuti Jisun sejenak saat dilihatnya kaki panjang Kyuhyun harus ditekuk saat tertidur, manakala sofa tersebut tidak cukup untuk menampung tubuh tinggi Kyuhyun.

Untuk menebus kesalahannya, Jisun berjalan ke arah dapur. Ia berniat menyiapkan sarapan untuk Kyuhyun. Dibukanya kulkas dan melihat-lihat isinya. Ia belum terlalu mengenal masakan Korea, tetapi sepertinya ia tahu beberapa masakan yang mungkin tidak akan terasa baru di lidah Kyuhyun. Lantas ia mengeluarkan beberapa bahan makanan yang kebetulan memang ada di dalam kulkas, namun ia tidak bisa menemukan satu pun sayur di sana. Batinnya menyimpulkan kalau Kyuhyun tidak menyukai sayuran—atau jangan-jangan dia sangat menyukainya, sehingga sayuran-sayuran itu cepat habis.

Namun Jisun lebih memilih jalan tengah dibandingkan sibuk berdebat dengan pikirannya apakah Kyuhyun menyukai sayur atau tidak. Lalu dengan perlahan, ia memulai kegiatan memasaknya.

***

Kyuhyun terbangun saat hidungnya mencium aroma yang sangat khas. Ia mengerjap pelan, sebelum bangkit perlahan dari tidurnya yang cukup nyenyak walaupun tidak terlalu nyaman mengingat kondisi tempat yang ditidurinya.

Aroma yang menggelitik hidung Kyuhyun itu berasal dari arah dapur. Tidak lama untuk menyadari siapa yang tengah memasak saat ini. Jisun sedang berdiri membelakangi Kyuhyun, terdengar bersenandung kecil, dan bagi Kyuhyun yang notabene adalah seorang penyanyi merasa suara Jisun terdengar cukup merdu, meskipun itu hanya sebuah senandung tanpa lirik.

“Kau masak apa?”

Suara Kyuhyun yang serak membuat Jisun tersentak, lalu buru-buru menoleh ke belakang. “Kau membuatku terkejut,”

“Benarkah?” Kyuhyun mengambil langkah dan duduk di kursi meja makan. Tatapannya beralih pada semangkuk sup dengan daging ayam yang dipotong halus, kentang berpotongan kubus kecil, beberapa makaroni, dan mie yang terlihat cukup unik kalau dilihat dari perpaduannya.

“Apa nama sup ini?”

Jisun melepas apron yang digunakannya, lalu menghampiri Kyuhyun sambil membawa secangkir kopi di tangannya.

“Aku menemukannya di Indonesia. Mereka bilang kalau itu diberi nama sup ayam, sederhana, ‘kan? Seharusnya aku tidak memasukkan mie ke dalam situ. Hanya saja, aku tidak menemukan sayuran atau pun telur di dalam kulkasmu, jadi aku menambahkan mie sebagai penggantinya,” jawab Jisun seraya duduk di seberang Kyuhyun dan menaruh cangkir kopi di samping mangkuk sup tersebut.

Kyuhyun mengambil cangkir kopi dan menyeruputnya, lalu tertegun sejenak saat cairan itu perlahan membasahi kerongkongannya. “Kopimu enak, Jisun-ah.”

Jisun hanya menanggapi pujian Kyuhyun dengan senyum. “Kalau begitu habiskan juga sarapanmu, Kyuhyun. Bukankah hari ini kau ada jadwal di KBS?”

Kyuhyun mengangguk, lalu menyendok satu sendok penuh kuah sup. Jisun mengamati dengan saksama Kyuhyun yang kini tengah meniup pelan kuah di dalam sendok itu, dan hatinya menunggu-menunggu reaksi Kyuhyun akan masakan pertamanya.

Seketika Kyuhyun menaruh sendok itu di atas meja, dan menatap Jisun penuh. “Kurasa kau punya bakat menjadi seorang koki,”

Jisun terdiam sesaat lalu tertawa renyah. “Mungkin aku akan mempertimbangkannya nanti.”

***

“Jam berapa kau pulang?”

Kyuhyun menoleh sebentar sambil merapikan penyamarannya. “Kurasa nanti malam. Ada apa?”

Jisun membasahi bibirnya sekilas, dan menatap Kyuhyun ragu. “Hmm, bisakah kau… menciumku sekarang? Ah, aku memang sedang menjadi manusia, tapi itu hanya berefek selama dua belas jam. Dan seandainya dihitung dari kemarin malam, maka saat jam  sembilan nanti aku akan kembali menjadi kupu-kupu. Hmm, aku ingin berwujud manusia lebih lama lagi, Kyuhyun.”

“Bukankah kau akan menjadi kupu-kupu lagi seandainya aku menciummu? Memang jika aku menciummu akan menambah efek yang lebih panjang?”

Jisun mengangguk. “Aku lupa mengatakannya padamu. Tapi, kalau kau mengecup pipi kananku sebanyak tiga kali, efek yang kudapat akan bertambah menjadi dua belas jam lebih panjang. Felix bilang bangsa kupu-kupu yang terkena kutukan akan lebih sensitif pada bagian wajahnya kecuali pipi. A-apa kau keberatan?”

Kyuhyun mencerna sebentar lalu mengangguk canggung. “Jadi… sekarang?”

Jisun mengangguk kaku, entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat seiring dengan wajah Kyuhyun yang mulai mendekat ke arahnya.

Sengatan listrik itu benar-benar nyata ketika Kyuhyun memiringkan wajahnya dan mengecup pipi putih Jisun selama tiga kali berturut-turut. Sedangkan Jisun masih tidak bergeming mengetahui efek yang dia rasakan. Kyuhyun menarik diri dan menyunggingkan senyum canggung pada Jisun.

“Aku berangkat… sekarang.” Tanpa ingin tahu jawaban Jisun—dia terlalu gugup—Kyuhyun langsung berbalik dan membuka pintu apartemen. Membiarkan Jisun bergeming di tempatnya bahkan ketika pintu tertutup.

Bagaimana bisa aku bertahan setiap dua belas jam kalau sebuah ciuman, tidak, bahkan hanya sebuah kecupan singkat dapat berefek seperti ini?

TBC.

NAH, masih bingung soal asal-muasal Jisun? Hahaha, ini emang (mungkin) agak ribet, dan hasil imajinasiku sendiri jadi pasti bakalan jauh banget sama sejarah asli Prancis. Oke, aku berniat buat publish chapter selanjutnya hari senin/selasa, tapi tergantung dari antusiasme pembaca. Chapter selanjutnya akan aku post kalau komentarnya nembus angka 35++. Sippp, sampai jumpa di chapter berikutnya! Terimakasih 😀

46 responses to “After Kiss (Chapter 2)

  1. Kereeen ;-; kenapa bisa sampe kepikiran bikin sejarah sepanjang itu haha.. ada2 aja deh taoi aku suka sama genre fantasy begini.. kayaknya enak juga ya dicium kyuppa 12 jam sekali aaa pengen 😀 aku ke part selanjutnya yaa.. fighting, thornim!

  2. annyeong thor..
    ini berasa nonton serialnya barbie ya thor..ada kutukan2nya, tapi bagus thor, ceritanya ga maksa.
    dan yg bca ff ini pasti pengen jdi jisun biar dpet ciumannya kyuppa tiap 12jam, termasuk aku thoor..^^

  3. menarik, dari mulai sejarah sama kutukan kupu”nya syarat biar jisun jadi manusia juga cukup unik
    fantasy nya gak terlalu berat tapi ff ink bagus 🙂
    i like it ^^
    lanjut yah

  4. Haha jisun ke indonesia juga makanya tau masakan kaya gitu?
    Lucu deh jisun sama kyu jadi kaya pasangan romantis kalau ada orang yg liat dan gak tau klo itu sebuah mantra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s