[FF : Oramanieyo Side Story] First Love (Jun-Hyung & Bo-Ra story)

Title : [Oramanieyo Side Story] First Love (Jun-Hyung & Bo-Ra story)

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, 

Rating : PG 16

 Length : Oneshot

Main Cast :

Yong Jun Hyung (BEAST)

Yoon Bo Ra (SISTAR)

Support Cast    :

Jung Nami (OC)

jang Dongwoo (INFINITE)

Disclaimer :

Cast belong to GOD and their entertaintment,  Ide cerita murni pemikiran author, tidak ada unsur plagiat.

Junhyung-Bora story

 

“because a first love always occupies a special place in your heart.”

-oOo-

“Selamat pagi, Jung Nami.”

 

Suara nyaring Bo-Ra langsung menyapa telinga Nami ketika dirinya menginjakkan kakinya didapur. Aroma roti panggang yang khas dan harum manis dari selai membuat Nami berdiir disamping Bo-Ra. Pagi ini, Bo-Ra sibuk dengan selai strawberry-nya. Sepertinya.

 

“Kau membuatnya sendiri?”tanya Nami memandangi cairan kental berwarna merah terang. Astaga, harum sekali.

 

Bo-Ra mengangguk. “Kita tidak pernah tahu apa yang ditambahkan pada selai-selai di supermarket itu, bukan?” gumamnya menuangkan isi selai yang baru saja rampung kedalam toples.

 

Keduanya pun duduk di meja makan. Bo-Ra menyodorkan Nami sepiring panekuk dengan selai strawberry fresh from the oven buatannnya tadi, lengkap dengan segelas jus jeruk dan susu. Nami terdiam memandangi menu didepannya dengan tatapan bingung. Apa dia bisa menghabiskan sarapan sebanyak ini?

 

Bukan menjadi kebiasaan seorang Jung Nami untuk sarapan dengan porsi yang banyak, seperti ini. Caramel latte atau earl grey tea panas ukuran venti cukup untuknya, tanpa karbohidrat ataupun makanan berat lainnya. Bisa-bisa dia mengantuk saat bekerja.

 

Bo-Ra sendiri dengan panekuk yang lebih banyak dari piring Nami, juga ukuran gelas yang lebih dari milik Nami menikmati sarapannya santai.

 

“Kenapa? Tidak suka dengan selai strawberry?” tanya Bo-Ra melihat Nami yang memandangi sarapannya dengan tatapan bingung. Nami menggeleng.

 

“Ini… terlalu banyak… Tapi aku akan habiskan.”

 

“Astaga !! Aku lupa… Karena baru tinggal empat hari disini, aku lupa menanyakan kebiasaan sarapanmu. Maafkan aku, aduh maafkan aku sungguh aku tidak tahu.”

 

Nami tersenyum tipis. “Tidak apa-apa,” katanya. Nami pun memotong panekuk dan menyuapkan ke mulutnya. Ekspresinya pun langsung berubah, dia juga langsung menatap Bo-Ra.

 

“Enak. Selainya enak. Panekuknya enak.”

 

Mata Bo-Ra membulat sempurna mendengarnya. Dengan tatapan berbinar, Bo-Ra ingin mengatakan kalau Nami bisa meminta dirinya untuk mengajarkan cara membuat selai terenak sedunia ala Bo-Ra, namun Nami mengalihkan perhatiannya ke suara handphone yang berbunyi.

 

Nami pun beranjak mengambil ponselnya. Tanpa melihat layar ponselnya, Nami langsung mengangkat telepon tersebut.

 

“Ya?”

“Jung Nami disana sudah jam berapa? Pagi? Apa sarapanmu bagus?”

 

Nami mendengar suara Jun-Hyung diseberang membuat perasaannya semakin membaik.

 

“Tentu saja. Jangan khawatir, jangan jangan jangan.”

“Bagaimana bisa? Kau tahu sendiri, hari-hariku disini sangatlah hampa.”

“Karena?”

“Kau tidak ada disini, hah.”

“Jangan menyalahkanku, kau yang menyuruhku kesini,”

“Sungyeol, Sungyeol. Bukan aku.”

“Sama saja,”

 

Nami mendengus geli mendengarnya. Dirinya tahu kalau Jun-Hyung tidak suka dengan ide Nami-tidak-ada-disekitarnya atau Nami-pergi-jauh-dan-Jun-Hyung-tidak-bisa-mengantar itu.

 

Saat duduk kembali di meja makan, Bo-Ra menanyakan siapa yang menelpon. “Teman,” ujar Nami kembali melanjutkan teleponnya.

 

“Namanya?” tanya Bo-Ra penasaran. Karena, baru empat hari Nami tinggal disini, teman Nami itu selalu menelponnya setiap hari.

 

“Yong…”

 

“JANGAN BILANG KAU MENYAMAKAN AKU DAN SUNGYEOL???”

 

Teriakan Jun-Hyung yang nyaring membuat Nami menjauhkan telinganya dari ponsel. Bahkan, Bo-Ra saja bisa mendengar suara Jun-Hyung.

 

“Yong Jun-Hyung jangan berteriak, telingaku sakit,”

“Habisnya kau, sih. Aku dan Lee Sungyeol adalah dua makhluk hidup yang berbeda.”

“Iya iya iya iya… Sudah, nanti aku telepon kalau sudah selesai sarapan. Bye honey.”

 

“Yong Jun-Hyung?” tanya Bo-Ra ketika Nami meletakkan ponselnya dimeja. Nami mengangguk.

 

“Maaf, dia agak sedikit….berisik? Maafkan aku maaf,” gumam Nami meminta maaf. Bo-Ra justru tertawa. Sambil menyuapkan sepotong panekuk ke mulutnya, Bo-Ra menggelengkan kepalanya.

 

“Sepertinya temanmu itu perhatian padamu.”
Nami menghela napas pelan. “Yah… Punya teman seperti Jun-Hyung berarti kau punya sosok ayah, teman, sahabat, kakak bahkan mungkin ibu yang cerewet sekaligus.”

 

“Cerewet?”

 

Bo-Ra tertawa mendengarnya. Sementara Nami memikirkan bagaimana nasib bawahan Jun-Hyung menghadapi sikap pria itu jika sedang uring-uringan. Seperti sekarang, mungkin.

 

“Sepertinya menyenangkan berteman dengan Jun-Hyung itu.”

 

“Begitulah.”

 

Mereka pun lanjut menyantap santapan mereka sampai tandas. Setelah meletakkan garpu dan pisaunya, Bo-Ra menaikkan alisnya sedikit, seperti berusaha mengingat sesuatu.

 

“Kau kenapa?” ujar Nami melihat wajah Bo-Ra yang Nampak serius memikirkan sesuatu. Bo-Ra tersenyum, sadar dari alam pikirnya. “Nama Jun-Hyung itu nama yang bagus, ya?”

 

Nama Jun-Hyung tidak asing untuknya. Ada kenangan tersendiri bagi Bo-Ra tentang nama Jun-Hyung itu sendiri. Dan, kenangan ini bermula ketika saat ia masih di bangku sekolah menengah atas.

 

Potongan memori yang diingatnya, yang penuh makna.

 

Tentang sebuah nama.

 

Jun-Hyung.

 

-oOo-

 

 

7 Tahun yang lalu.

Seoul, Hangsang-do High School

 

 

Pagi yang hangat di musim semi. Matahari menyinari bumi dengan indahnya, sinarnya menembus rimbunan pohon-pohon besar yang seakan melindungi sekolah yang masih sepi itu. Pepohonan dan bunga-bunga yang bermekaran disepanjang jalan setapak menuju gerbang sekolah Hangsang-do mempertegas kesan musim semi. Angin semilir yang seringkali berhembus, membawa harum dari bunga-bunga tesebut. Suasana yang indah dipagi hari.

 

Hanya ada segelintir siswa berjalan menuju sekolah. Maklum, jam yang berdiri kokoh beberapa meter dari pintu gerbang menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Masih terlalu pagi untuk sebagian orang, karena kegiatan belajar mengajar dimulai pukul tujuh lewat lima belas.

 

Namun, bagi sebagian orang, suasana yang masih sepi dan tenang inilah saat yang tepat untuk tiba disekolah. Begitulah yang dirasakan Yoon Bo-Ra, yang menikmati suasana saat itu.

 

Bo-Ra!!!”

 

Seseorang menepuk pundak Bo-Ra keras, hampir saja Bo-Ra terjatuh dibuatnya.

 

Orang jenis apa yang mericuh dpagi hari ini? Desis Bo-Ra. Saat menoleh, sosok dibelakangnya, yang tersenyum lebar tanpa dosa kepadanya, dengan merasa tidak bersalah langsung menarik Bo-Ra menuju kelas mereka.

 

“Aku bisa kena serangan jantung di pagi hari dan itu karenau, Jang Dong-Woo,” desis Bo-Ra saat mereka berdua sampai dikelas mereka.

 

Jang Dong-Woo, yang langsung melempar tas ditempat duduknya melempar senyum lebarnya. “Aigo aigo aigo, kita kan baru bertemu setelah libur satu minggu. Masa kau tidak merindukanku?”

 

Bo-Ra tersenyum geli mendengarkannya. Bo-Ra lalu duduk ditempat duduknya, didekat jendela. Sementara Dong-Woo duduk disampingnya.

 

Ada alasan kenapa Bo-Ra duduk didekat jendela. Hal yang selalu menjadi alasannya untuk duduk didekat jendela.

 

Dan itu sudah dua tahun dia melakukannya.

 

Setiap pagi, Bo-Ra memang sengaja berangkat pagi buta supaya tiba sangat awal di sekolah. Selain memang udara pagi disekolahnya menyenangkan, ada seseorang yang selalu duduk dilapangan basket didepan gedung sekolah mereka. Seseorang itu selalu duduk ditempat yang sama, sendirian, sambil menikmati segelas minuman pagi yang mungkin menjadi sarapannya.

 

Orang itulah yang membuat Bo-Ra selalu datang dipagi hari. Ya, Bo-Ra datang secepat mungkin untuk bisa melihat orang itu. Orang itu selalu juga duduk disana saat jam istirahat. Atau saat kosongnya pelajaran. Dan saat itu pula, Bo-Ra selalu memerhatikan orang itu dari kelasnya yang ada dilantai dua.

 

“Apa dia ada?” gumam Dong-Woo.

 

Bo-Ra menggeleng pelan, matanya masih tertuju ditempat yang sama.

 

“Mungkin aku terlalu cepat datang.”

“Biasanya jam segini dia sudah ada,” ujar Dong-Woo lagi.

 

Bo-Ra pun mengalihkan perhatiannya ke buku pelajaran. Mungkin saja dia datang terlambat, gumam Bo-Ra menghibur dirinya sendiri.  Saat matanya menangkap sebuah nama dimejanya, Bo-Ra tersenyum. Otaknya pun otomatis memutar memori tentang nama itu.

 

Yong Jun-Hyung.

 

Malam yang sepi. Yoon Bo-Ra yang baru pulang dari supermarket 24 jam berjalan santai di kegelapan malam tanpa rasa khawatir. Di tangannya menenteng bahan makanan yang habis di rumahnya.

 

Langkah kakinya ringan menyusuri lorong lorong kecil menuju rumahnya. Tiba-tiba, suara derap langkah kaki terdengar dibelakangnya. Bo-Ra pun mulai memelankan langkahnya. Ia terlalu takut untuk menoleh.

 

Langkah itu semakin dekat. Bo-Ra semakin was-was dibuatnya. Bukan hanya seorang, ada banyak suara derap langkah kaki yang didengarnya. Bo-Ra tetap berjalan santai, berusaha meyakinkan dirinya kalau itu bukan apa-apa.

 

“Hai, Nona.”

 

Benar. Sekelompok pria yang tidak dikenalinya langsung menghadangnya dari depan. Bo-Ra sontak menghentikan langkahnya. Matanya menatap tajam ke sekumpulan orang itu.

 

“Kenapa malam-malam begini keluar? Kasihan anak gadis…”

 

Salah seorang dari gerombolan itu, yang bertubuh tinggi dan ceking, berjalan mendekati Bo-Ra. Bo-Ra melangkah mundur menghindari tangan orang itu yang mulai mengarah ketubuhnya.

 

Tidak kehabisan akal, teman orang itu, yang ternyata ada dibelakang Bo-Ra, ikut maju seakan menyergap Bo-Ra. Bo-Ra tidak bisa melangkah kemana-mana. Dirinya kini dikelilingi oleh orang-orang yang tidak dikenalinya.

 

Jantungnya berdegup kencang. Tangannya sudah basah karena keringat. Tubuhnya mulai gemetaran saking takutnya.

 

“Ya Tuhan… Selamatkan aku…”

 

Salah seorang dari gerombolan itu mulai menyentuh tubuh Bo-Ra yang menyebabkan Bo-Ra memekik refleks dan mendorong orang tersebut. Orang tersebut tersungkur ditanah, Bo-Ra cepat-cepat melangkah mundur menjauhi mereka.

 

“Kami tadinya akan memperlakukanmu baik. Dasar gadis yang tidak sopan.”

 

Bo-Ra tetap melangkah mundur menghindari mereka, berharap ada seseorang yang berniat menolongnya. Namun sialnya, Bo-Ra justru berjalan kearah tembok yang menyebabkan dirinya terperangkap.

 

Para gerombolan itu pun langsung mengelilingi Bo-Ra lagi. Dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, mereka menatap Bo-Ra seakan Bo-Ra adalah mangsa mereka.

 

Lelaki yang tadi menyentuh Bo-Ra pun maju mendekati Bo-Ra. Jarak diantara mereka semakin dekat, sampai Bo-Ra bisa mencium bau alkohol dan rokok yang sangat tajam dari napasnya. Bo-Ra tidak bisa berpikir apa-apa lagi.

 

BUG !!!

 

Suara pukulan yang keras muncul dibalik gerombolan itu. Perhatian mereka pun tertuju pada sosok yang masih memukul teman mereka.

 

“Siapa kau?”

 

Sosok itu menoleh. Dengan ringannya dia menghempaskan tubuh anggota gerombolan itu ke tanah, lalu berdiri berjalan mendekati mereka.

 

Bo-Ra jatuh terduduk di tanah. Napasnya sesak, tubuhnya gemetar dan bercucuran keringat. Bo-Ra memerhatikan orang-orang dihadapannya.

 

Tanpa basa-basi, orang yang tadi memukul anggota gerombolan itu, memukul lelaki yang menyentuh Bo-Ra keras sampai orang itu tersungkur di tanah. Tak terima, anggota yang lain pun mulai melancarkan serangannya.

 

Dengan mudahnya, sosok itu menghabisi seluruh gerombolan itu sampai babak belur. Bo-Ra melihat semuanya, tidak bisa mengedipkan matanya. Napasnya pun seakan berhenti melihat adegan yang terjadi dihadapannya.

 

Gerombolan yang kini babak belur itu pun melarikan diri. Tinggallah sosok itu dan Bo-Ra.

 

“Kenapa kau keluar malam begini?” tanya sosok itu sambil mengulurkan tangannya. Bo-Ra meraih tangan itu dan sosok itu membantunya berdiri. Bo-Ra tidak menjawab pertanyaannya. Dia langsung memungut barang belanjaannya yang jatuh, lalu langsung pergi dari tempat itu.

 

Beberapa langkah setelah dia meninggalkan tempat itu, Bo-Ra yang merasa tidak tahu berterimakasih pun menoleh. Sosok itu masih ada disana. Mengamati Bo-Ra dan tetap berdiri pada tempatnya.

 

“Terima kasih,”ujar Bo-Ra seraya membungkuk. Sosok itu hanya membalas dengan anggukan. Bo-Ra pun mencari sesuatu di dalam kantong plastik belanjaannya, dan menariknya keluar.

 

Bo-Ra berjalan mendekat. Ketika jarak mereka sudah cukup dekat, Bo-Ra mengulurkan dua batang cokelat kepada sosok itu sambil tersenyum kaku. “Ini tanda terima kasih dariku.”

 

Sosok itu menatap apa yang ada ditangan Bo-Ra sebentar, lalu mengambilnya. Bo-Ra membungkuk sekali lagi, lalu langsung berlari pulang kerumahnya.

 

Saat dirinya membungkukkan badan, sebenarnya Bo-Ra berusaha mengetahui nama orang itu dan berhasil.

 

Yong Jun-Hyung. Itulah yang tertulis di papan nama di bajunya

 

 

 

“Dia datang! Jun-Hyung Sunbae, Bo-Ra Bo-Ra,” pekik Dong-Woo sambil menepuk pundak Bo-Ra. Bo-Ra memutar kepalanya cepat, menjatuhkan pandangannya ke titik yang tadi dan benar, orang yang mereka maksud ada disana.

 

Dengan raut wajah yang dingin, orang itu duduk dan menegak minumannya. Setelah isi dari kaleng minuman itu habis, orang itu melempar kalengnya ketempat sampah dan kembali ke kelasnya.

 

Bo-Ra dan Dong-Woo mengamati setiap pergerakan orang itu dengan seksama. Saat orang itu telah menghilang dari jarak pandang mereka, Bo-Ra menghela napas. Ia pun mengalihkan pandangannya kembali ke buku pelajaran di meja.

 

Dong-Woo masih menatap jendela lalu menatap Bo-Ra. “Kapan kau berani menyapa Jun-Hyung sunbae?”

 

Bo-Ra menggeleng pelan. Matanya tertuju ke buku, tapi pandangannya kosong. Dong-Woo menyadari hal itu, dengan sengaja menarik buku Bo-Ra dan menyimpannya di laci meja. Bo-Ra sontak memicingkan mata ke Dong-Woo.

 

“Jun-Hyung sunbae sebentar lagi akan lulus. Apa kau tidak menyesal kalau sampai dia lulus, dia tidak tahu namamu?” tanya Dong-Woo. Bo-Ra menatap Dong-Woo kaget. Benar juga, Jun-Hyung sunbae saat ini duduk dikelas tiga, sementara dirinya duduk dikelas dua. Sebentar lagi tahun ajar akan berakhir dan diganti dengan tahun ajar baru. Dan saat itu, Jun-Hyung sunbae yang telah lulus, akan pergi. Bo-Ra tidak akan pernah melihatnya lagi.

 

Bo-Ra menghela napas. Hatinya membenarkan apa yang dikatakan Dong-Woo. Dong-Woo memang benar. Tapi, Bo-Ra bukan orang yang percaya diri untuk menyapa Jun-Hyung. Bo-Ra sadar dia siapa, dirinya juga tahu Jun-Hyung itu siapa.

 

Untuk mendaftar sebagai siswa disekolah mereka, ada dua jalur. Pertama, jalur regular. Namanya memang jalur regular, tapi yang mendaftar di jalur ini hanya orang-orang yang sanggup mengucurkan uangnya. Dengan kata lain, jalur ini diperuntukkan untuk orang kaya. Karena reputasi sekolah ini yang gemilang, banyak para pengusaha menginvestasikan anaknya disini dengan bayaran selangit.  Siswa yang masuk dijalur ini disebut siswa ‘Dewa’.

 

Kedua adalah jalur beasiswa. Para siswa yang berprestasi diseleksi ketat sampai terdaftar jadi siswa, dan biaya selama menjadi siswa ditanggung oleh pihak sekolah dengan syarat nilai tidak boleh turun. Jalur ini tidak mudah dilalui, karena penyeleksiannya yang sampai 6 tahap. Sementara siswa yang ada dijalur ini disebut siswa ‘Otak’.

 

Bo-Ra dan Dong-Woo termasuk siswa ‘otak’. Mereka lulus seleksi yang sangat ketat dan berhasil masuk disekolah ini. Sementara Jun-Hyung masuk kategori siswa ‘Dewa’. Disini letak perbedaan Bo-Ra dan Jun-Hyung.

 

Siswa ‘otak’ dianggap cupu dan dikucilkan di lingkungan sekolah. Hanya yang berani menjilat atau mendekati siswa ‘dewa’ saja yang bisa berkuasa. Sementara siswa ‘dewa’ yang delapan puluh persen dari jumlah keseluruhan siswa ini yang menguasai hampir semua bagian sekolah ini. Kantin, toilet, loker, bahkan baju olahraga mereka pun berbeda. Sangat terlihat jelas bentuk strata yang sangat membedakan antara si miskin dan si kaya.

 

Bo-Ra, si miskin dan Jun-Hyung, si kaya.

 

Bukannya Bo-Ra tidak mencoba untuk dekat dengan Jun-Hyung atau sekedar bisa mengenalnya, semua cara yang memungkinkan sudah dirinya lakukan. Tapi, Jun-Hyung bukan orang sembarangan di sana.

 

Jun-Hyung adalah pewaris tunggal J company milik ayahnya. Orang tuanya adalah salah satu pemegang saham terbesar disekolah ini. Banyak siswi perempuan yang mendekatinya. Setiap hari, selalu dikelilingi oleh penggemar dan pemuja Jun-Hyung. Dari kalangan dewa dan otak, namun kalangan Otak pasti tersingkir oleh kalangan Dewa.

 

Bagaimana caranya mendekati Jun-Hyung tanpa harus berurusan dengan penggemar Jun-Hyung dari kalangan Dewa?

 

Rasanya tidak mungkin. Bo-Ra dulu pernah mengirimi Jun-Hyung keik cokelat buatannya. Dirinya tahu, Jun-Hyung suka cokelat. Namun, keik itu tidak berhasil sampai ketangan Jun-Hyung. Baek Sung-Yeon, siswi yang paling sering ada didekat Jun-Hyung menginjak keik itu dan melemparkannya ke tong sampah. Sejak saat itu, Bo-Ra tidak berniat memberi Jun-Hyung apapun.

 

Hatinya terlalu sakit kalau mengingat perbuatan kalangan Dewa kepadanya.

 

“Kau pasti ingat kejadian itu,” gumam Dong-Woo seakan bisa membaca pikiran Bo-Ra. Dong-Woo memang sangat dekat dengan Bo-Ra. Mereka berasal dari provinsi yang sama. Hanya Dong-Woo teman terakrabnya disekolah ini. Para gadis dari kaum Otak berusaha dekat dengan gadis di kaum Dewa, yang menurut Bo-Ra tidak masuk akal.

 

“Tapi mau bagaimana lagi, kita berbeda dari mereka,” balas Bo-Ra menanggapi perkataan Dong-Woo.

 

Dong-Woo hanya bisa menghela napas mengiyakan.

 

-oOo-

 

“Pesta?”

“Khusus kita.”
“Maksudnya?” alis Jun-Hyung terangkat sebelah. Matanya berusaha mencerna sepucuk undangan yang isinya sangat tidak masuk akal. Pesta… Kaum Dewa?

 

“Ayolah. Hanya kau yang selalu tidak aktif diacara sekolah.” Baek Sungyeon, yang mengantarkan undangan pesta ke Jun-Hyung terus menatap Jun-Hyung dengan tatapan memelas agar Jun-Hyung mau pergi, lebih tepatnya pergi bersamanya.

 

“Maksud kaum dewa ini apa? Maaf, aku bukan dewa.”

“Tapi kau tahu kan, kau itu Kaum Dewa disekolah ini.”

 

Jun-Hyung beranjak berdiri dari bangkunya. Kaum dewa? Kaum apa itu? Kaum yang menghabiskan uang maksudnya? Gumam Jun-Hyung geram. Semua orang dikelasnya memerhatikannya yang tampak kesal.

 

“Pesta Kaum Dewa ini,” seru Jun-Hyung menggenggam undangan dari Sungyeon tadi, “Aku tidak tertarik.” Jun-Hyung merobek undangan sebesar buku tulis itu dengan kesal lalu menginjaknya. Semua penghuni kelas kaget melihat perbuatan Jun-Hyung itu.

 

Setelah semua perbuatannya, Jun-Hyung langsung pergi dari kelasnya. Tidak peduli dengan guru yang ada didepan pintunya.

 

-oOo-

 

Bo-Ra membaca kata per kata yang ada di halaman bukunya dengan lekat. Setelah menyelesaikan satu halaman, tangannya bergerak membalik lembaran kertas dan kembali berkutat dengan halaman selanjutnya. Suasana sunyi di taman sekolah membuat perhatiannya penuh tertuju pada buku itu.

 

Perhatian Bo-Ra berhenti sejenak saat dirinya merasa ada yang duduk disampingnya. Karena penasaran, ia lalu menoleh.

 

Saat itu pula, orang yang duduk disampingnya sedang menatap Bo-Ra. Tatapan mereka bertemu. Mereka saling menatap lama.

 

Bo-Ra kehilangan kata-katanya. Pikirannya kosong mendadak saat melihat sosok itu. Sosok itu yang terasa sangat jauh baginya. Sosok yang kini ada disampingnya.

 

Yong Jun-Hyung.

 

“Kau kenapa?” tanya Jun-Hyung yang merasa Bo-Ra menatapanya aneh. Bo-Ra tetap terdiam menatap Jun-Hyung. Jun-Hyung mengibas-ngibaskan tangannya. “Kau patung atau manusia?”

 

Bo-Ra menggeleng cepat. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha memastikan yang duduk disampingnya memang Yong Jun-Hyung. Setelah yakin, Bo-Ra justru memasang senyum kaku.

 

Jun-Hyung tertawa melihatnya.

 

Bo-Ra menundukkan kepalanya karena malu. Kenapa dia harus memasang senyum kaku dihadapan Jun-Hyung? Sial sekali, umpat Bo-Ra dalam hati.

 

Lama rasanya Bo-Ra menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Saat mengangkat kepalanya, tahu-tahu tangan Jun-Hyung mengulurkan sesuatu padanya. Bo-Ra menatap tangan Jun-Hyung.

 

Sekaleng jus anggur. “Minumlah. Sepertinya kau sudah duduk disini daritadi.” Jun-Hyung bergumam seraya membuka kaleng minumannya sendiri dan menegaknya.

 

Bo-Ra mengambil minuman itu tapi tidak meminumnya. Dia memandangi Jun-Hyung yang sedang menikmati minumannya itu lekat.

 

Deg!

Hatinya berdegup kencang. Bo-Ra langsung mengalihkan perhatiannya kearah lain, takut sampai Jun-Hyung tahu kalau dia sedang diamati.

 

Bo-Ra terus melemparkan pandangannya ke Jun-Hyung. Jun-Hyung tetap pada posisi duduknya, menatap lurus dengan kosong. Sebenarnya, Bo-Ra ingin sekali bertanya. Ya, dia ingin bercakap dengan Jun-Hyung walaupun sebentar. Sebelum Jun-Hyung pergi dan dia tidak akan pernah bertemu dengan Bo-Ra lagi.

 

“Sunbae… apa kau tidak risih?” tanya Bo-Ra terbata-bata.

 

Jun-Hyung menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya.

 

“Maksudmu risih karena ada orang lain yang duduk ditempat favoritku? Tidak.” Jun-Hyung sepertinya bisa membaca pikiran Bo-Ra.

 

“Apa…”

 

“Otak dan Dewa?”

 

Bo-Ra tersentak. Bagaimana bisa Jun-Hyung membaca pikirannya dua kali berturut-turut?

 

“Iya,” jawab Bo-Ra pelan.

 

Jun-Hyung menghela napas mendengarnya.

 

“For God sake, i hate that thing. Bagaimana caranya sekolah ini punya sistem kasta seperti itu? Bahkan membedakan kelas berdasarkan kekayaan. Andai saja aku punya kekuasaan yang cukup, akan kuubah sistem sekolah busuk ini menjadi lebih baik. Mereka tidak berpikir tentang perasaan atau bagaimana? Sial.”

 

“Kau dari kelas mana?” Jun-Hyung memotong penjelasannya sambil menatap Bo-Ra serius.

 

“2F.”

 

“Pantas saja aku tidak pernah melihatmu. Jadi tenang saja, aku justru menentang adanya pengkastaan seperti itu. Jadi, kau tidak perlu takut untuk duduk bersampingan denganku dimanapun itu. Oke?”

 

Jun-Hyung menatap Bo-Ra penuh keyakinan, seperti berusaha meyakinkan Bo-Ra agar tidak takut dan canggung padanya.

 

Bo-Ra mengangguk dan tersenyum. Jun-Hyung pun membalas senyuman itu dengan senyum tipis dibibirnya yang membuat Bo-Ra membeku seketika.

 

Yong Jun-Hyung membalas senyumanku, gumamnya dalam hati.

 

TING!! TING!! TING!!

 

Bel tanda istirahat berakhir pun berdentang nyaring. Bo-Ra langsung bergegas berdiri, mengambil minuman pemberian Jun-Hyung, lalu berlari ke kelasnya.

 

Namun, Bo-Ra menghentikan derap langkahnya dan ingin berterima kasih ke Jun-Hyung. Bo-Ra lalu menoleh kebelakang, namun Jun-Hyung sedang menerima telepon dan terlihat sedang.. mengomel? Mungkin.

 

Bo-Ra mengamati Jun-Hyung lagi. Perlahan, senyum terkembang di wajahnya. Sosok Jun-Hyung yang dikiranya dingin ternyata punya pemikiran yang rasional juga baik.

 

“Bo-Ra !! Bo-Ra !!”

 

Seseorang memanggil namanya. Bo-Ra pun langsung membalikkan badannya dan berlari ke kelasnya.

 

Dirinya tidak bisa berhenti tersenyum memikirkan hal yang barusan terjadi.

 

Sesampainya dikelas, Bo-Ra menatap kaleng minumam pemberian Jun-Hyung. Lagi-lagi, senyum lebar dan sumringah terlukis diwajahnya. Dengan bahagia, Bo-Ra menyimpan kaleng itu didalam tasnya.

 

-oOo-

 

Jun-Hyung memicingkan matanya menatap sosok dihadapannya.  Hampir saja dirinya langsung tertawa keras melihat apa yang dilakukan orang itu. Dengan pelan, Jun-Hyung mengendap-endap berjalan dibelakang orang itu, lalu menepuk pundak orang itu keras sambil meneriakkan namanya.

 

“JANG DONG-WOO!!!!”

 

Dong-Woo yang sedang menyeruput Blueberry smoothies-nya langsung tersentak kaget dan  terbatuk-batuk karena perbuatan Jun-Hyung tadi.

 

“Uhuk… Uhuk… APA… Uhuk…Hyung…”

 

Tanpa merasa bersalah, Jun-Hyung duduk disamping Dong-Woo yang masih nampak terbatuk-batuk lalu langsung mengambil dan menyeruput minuman temannya itu. Raut wajahnya berubah karena rasa minuman yang ternyata enak itu.

 

Jun-Hyung mengangkat gelas minuman itu. “Buatku saja, ya?”

 

Dong-Woo hanya menatap Jun-Hyung dengan tatapan memelas. “Hyung… Itu…. stok terakhir kantin hari ini tahu,” gumamnya pelan menghela napas.

 

“Oh ya?” Jun-Hyung mengerutkan dahinya. Melihat wajah Dong-Woo yang memelas, akhirnya Jun-Hyung beranjak memesankan bocah itu segelas milkshake blueberry, yang ternyata masih ada !!

 

Sambil membawa gelas minuman Dong-Woo, Jun-Hyung menatap penuh amarah ke Dong-Woo yang tersenyum lebar. “Siapa yang bilang ini stock terakhir, hah?” omelnya sembari duduk kembali ke kursi.

Dong-Woo tertawa mendengarnya. “Maaf ya, Hyung.”

 

Jun-Hyung hanya memutar bola matanya menanggapi Dong-Woo yang iseng.

 

Jang Dong-Woo. Hoobae di sekolahnya. Orang terdekat Yong Jun-Hyung di sekolahnya. Sekaligus, satu-satunya siswa dari kaum Otak yang berteman akrab dan tidak canggung menunjukkan pertemanannya di depan umum.

 

Jun-Hyung dan Dong-Woo berteman karena mereka memiliki satu kegemaran yang sama, yaitu menulis lirik lagu. Jenis musik apapun itu, apalagi hiphop. Sekolah mereka selalu memenangkan piala tingkat nasional maupun regional dalam lomba lirik lagu dan rap, baik itu lomba underground atau tidak. Karena hal itu, Dong-Woo bisa masuk ke sekolah tersebut.

 

Dong-Woo menatap Jun-Hyung yang nampak bosan itu lalu ia melontarkan pertanyaan yang sudah seribu kali, dan yakin mungkin lebih dari itu, dia tanyakan ke Jun-Hyung.

 

“Hyung, apa kau sudah punya target ke siapa akan memberikan kancing kedua seragammu?”

 

Dan jawaban Jun-Hyung akan selalu sama.

 

“Dong-Woo… Sudah berapa banyak kau nonton film porno?”

 

Sontak saja Dong-Woo memicingkan mata mendengarnya,. “Apa yang salah dengan pertanyaanku?” lalu menggelengkan kepalanya menatap Jun-Hyung.

 

“Jelas saja, kenapa kau bertanya hal itu? Itu termasuk ‘byuntae’, kau tau?”

 

Dong-Woo menggeleng kepalanya. “Siapa bilang? Hyung kurang membaca saja. Pasti hyung tidak tahu maksudku yang sebenarnya.”

 

Jun-Hyung terdiam sejenak, memikirkan perkataan Dong-Woo. Memang apa maksudnya dengan memberikan ke siapa kancing kedua seragamnya itu?

 

Dengan raut wajah yakin, Dong-Woo mengangguk dan menatap Jun-Hyung. “Hyung memang tidak tahu. Hyung tidak up to date,” katanya membuat Jun-Hyung mengerutkan dahinya.

 

Benar-benar !! Dia tidak tahu apa maksud pertanyaan Jang Dong-Woo, dirinya justru di cap tidak up to date. Dasar anak muda jaman sekarang.

 

Dengan mimik wajah yang cuek, Jun-Hyung tidak memerdulikan tatapan mengejek Dong-Woo. Ia justru semakin ingin tahu maksudnya. “Hey, Jang Dong-Woo, Jang Dong-Woo, beritahu aku lah… Kau tahu kan, aku susah memahami perkataanmu itu, ya kan? Teknik retorika milikmu terlalu tinggi.” Jun-Hyung berusaha membujuk Dong-Woo.

 

“Apanya yang teknik retorika,” gumam Dong-Woo mendecakkan lidah. “Maksud pertanyaannya memang seperti itu. Ke siapa hyung mau memberikan kancing kedua seragammu. Kancing kedua seragam artinya kancing yang terdekat dari hati, berarti kancing tersebut spesial. Dan yang menerimana juga spesial. Hyung kan sudah mau tamat, jadi ke siapa hyung mau memberikan kancing kedua seragam hyung?” Dong-Woo kembali membaca buku dihadapannya, membiarkan Jun-Hyung berpikir sejenak.

 

Jun-Hyung terdiam mendengar penjelasan Dong-Woo. Dia berpikir, apa memang ada tradisi seperti itu?

 

Kalau iya…. Tradisi itu terdengar sangat….

 

“Tidak masuk akal,” gumam Jun-Hyung tiba-tiba membuat Dong-Woo mengangkat kepalanya menatap Yong Jun-Hyung. Jun-Hyung langsung memberikan alasannya dengan wajah sangat serius.

 

“Bagaimana, bagaimana mungkin kancing kedua seragam itu paling berharga, hah? Bagaimana dengan kancing yang lainnya, hah? Mereka harganya sama, aku… dengar, Jang Dong-Woo, aku tidak membeli seragam ini hanya dengan satu kancing, semuanya!!! Itu berarti harganya sama, bukan? Kalau begitu…..”

 

 

Tidak bisa dipercaya, gumam Dong-Woo dalam hati saat mendengarkan penjelasan Jun-Hyung. Dong-Woo meminum minumannya, tetap mendengarkan Jun-Hyung yang mengoceh, lebih tepat mungkin mengomel, dengan pemikiran yang tidak sejalan dengan Jun-Hyung. Mau diapa, memang Jun-Hyung orang yang keras kepala.

 

“Jadi, kau mau melihatku telanjang di hari kelulusan, hah? Tanpa memakai seragam, hah? Kau tahu kan, harga satu kancing itu sama, tidak ada yang spesial ataupun buatan negara manapun. Hey, kau mendengarkanku, tidak?”

 

Dong-Woo mengangguk saja.

 

“Jadi, hyung mau menyerahkannya ke orang lain atau tidak?” ujar Dong-Woo memotong karena mulai lelah mendengar omelan Jun-Hyung yang mengalahkan panjang omelan ibunya itu.

 

Dengan menyilangkan tangannya, Jun-Hyung menggelengkan kepalanya yakin dan mengangguk, menyakini jawabannya adalah benar dan opininya adalah tepat.

 

Dong-Woo menghela napas. “Hyung, kau akan menyesali itu, kau tahu?”

 

Jun-Hyung tidak memerdulikannya.

 

 

-oOo-

 

Hari Kelulusan

 

 

Sorak-sorak siswa siswi yang telah dinyatakan lulus dari sekolah Hang-Sang High School itu memenuhi lapangan sekolah itu. Senyum lebar tergambar di setiap wajah mereka. Ada juga yang sambil menangis karena akan melepas masa-masa mereka bersama temannya, saling memeluk dan mengingatkan untuk tidak melupakan satu sama lain.

 

Karangan bunga memenuhi koridor-koridor, dan buket bunga yang sudah dipersiapkan beberapa siswa sudah digenggam masing-masing. Semua emosi bercampur baur saat itu. Tapi, tidak semua orang merasa sedih-karena-meninggalkan-sekolah-ini. Orang tersebut adalah Yong Jun-Hyung, yang berdiri menyandarkan badannya di tembok, menatap setiap orang yang lewat dihadapannya dengan memakan ice cream.

 

Membosankan, pikirnya. Setelah acara ini, sudah ada undangan dari kaum Dewa untuk berlibur ke Jeju. Pesta perpisahan, katanya. Untuk apa merayakan hal itu?

 

“Jun-Hyung, kau mau lanjut kuliah dimana? Seoul National University? Konkuk University?” tanya seseorang yang berjalan didepannya. Jun-Hyung hanya memandangi orang itu sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

 

Orang tuanya sudah mengatur dimana dia akan kuliah. Dia memang akan melanjutkan kuliah, tapi karena ulahnya baru saja, terlibat perkelahian dengan gangster sampai Jun-Hyung harus masuk ke polisi, yang membuat ayahnya marah, Yong Jun-Hyung tidak akan berkuliah di Seoul ataupun luar negeri lain. Tidak, bisa dibilang di luar negeri, tapi hanya sampai di Jepang. Itupun, bukan di Tokyo. Di Hokkaido, dan bukan di Sapporo. Jauh dari pusat kota, jauh dari Tokyo dan Sapporo, juga Kobe.

 

Bisa gila Yong Jun-Hyung. Apa jadinya dia jika ditempatkan di kampus yang terpencil? Bukannya dirinya akan semakin mengamuk dan menggila?

 

Jun-Hyung hanya bisa pasrah. Bagaimana pun juga, dia tidak ingin mengecewakan ayahnya. Cukup sudah dengan perkelahian gangster, yang notabene ganster sialan itu yang salah. Sampai disitu saja perjalanan Yong Jun-Hyung si Bocah Nakal.

 

Julukannya terkesan konyol.

 

Biar saja, biar Abeoji merasa salah memilihkan universitas terpencil disana. Memang disana bagus, apa? Desisi Jun-Hyung kesal.

 

Dari kejauhan, Jun-Hyung bisa merasakan ada seorang gadis yang sedang menatapnya. Berdiri agak jauh dari dirinya. Tapi, karena kerumunan orang yang padat dihadapannya, Jun-Hyung tidak bisa mengamati gadis itu.

 

Jun-Hyung menatap tempat dimana gadis itu muncul.

 

Gadis itu memang ada !! Sedang menatap Jun-Hyung, memegang segenggam bunga dan memerhatikan sekeliling Jun-Hyung. Mata gadis itu terlihat takut untuk melangkah ke Jun-Hyung.

 

Jun-Hyung menatap gadis itu, saat itu pula gadis itu menatapnya. Pandangan mereka bertemu. Jun-Hyung langsung ingat wajah gadis itu. Gadis yang…..

 

“Yong Jun-Hyung darling.”

 

Suara Park Ji Yoon, teman sekelasnya membuat perhatiannya teralihkan. Dengan dandanan yang tebal, Ji Yoon bergelayut mesra dilengan Jun-Hyung, entah sejak kapan. Jun-Hyung langsung menepis tangan Ji Yoon dan menatapnya risih.

 

“Darling, kau tidak ikut pesta di pulau Jeju nanti?”

 

Jun-Hyung menatap gadis dihadapannya tidak percaya. Darling apanya, sudah berapa kali gadis ini ditolak oleh Jun-Hyung dan masih saja mendekati Jun-Hyung?

 

“Tidak ikut.” Jun-Hyung menjawabnya singkat, lalu sedikit berjinjit untuk mencari gadis yang tadi. Gadis yang memegang buket bunga, yang menatapnya dan takut untuk berjalan kearahnya.

 

“WHAT?? Why, darling??”

 

Park Ji Yoon semakin mendekati Jun-Hyung. Jun-Hyung langsung melepaskan tangan Jiyong dari lengannya, dan berjalan menghindari Jiyong. Jun-Hyung berusaha mencari gadis itu.

 

Tiba-tiba, sekelompok gadis mendekatinya dan mengelilinginya. Jun-Hyung mengerutkan dahinya. Ada apa ini?

“Jun-Hyung sunbaenim.”

“Jun-Hyung.”

“Jun-Hyung Oppa.”

 

Semua teriakan orang itu yang berjalan semakin memperkecil ruang gerak Jun-Hyung.

 

“Apa mau kalian?”

 

“Berikan kancing kedua seragammu itu !”

“Ya, padaku saja.”

“Aku, Oppa. Aku!!”

“Aku, aku pantas menerimanya. Oppa!!”

 

“Hentikan!!!!”

 

Teriakan Jiyong langsung membuat sekeliling Jun-Hyung hening. “Kancing kedua Jun-Hyung hanya untukku seorang.”

 

Dengan tatapan yang imut, menurut Jun-Hyung sok diimutkan, Jiyong meminta kancing Jun-Hyung.

 

Sudah bisa ditebak reaksi Jun-Hyung.

 

Dengan tatapan dingin, dia menatap Jiyong dan berbisik. “Maaf, kancing ini bukan untukmu.”

 

Jun-Hyung langsung berjalan meelewati Jiyong, membuka lingkaran yang tadi mengelilinginya itu.

 

Ia pun fokus mencari gadis yang tadi menjadi perhatiannya. Tapi, gadis itu tidak terlihat dimanapun. Jun-Hyung mencari di dekat lapangan basket, sampai keluar lingkungan sekolah, namun hasilnya nihil. Gadis itu seperti menghilang ditiup angin.

 

 

-oOo-

 

 

“Bagaimana, Bo-Ra?” tanya Dong-Woo begitu melihat Bo-Ra kembali. Bo-Ra, tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya.

 

Dong-Woo memerhatikan Bo-Ra dan menatap buket bunga buatan Bo-Ra sendiri ditangan sahabatnya itu. Dia tahu, Bo-Ra tidak berhasil memberikan bunga itu ke Jun-Hyung. Padahal, Dong-Woo sudah berharap Bo-Ra bisa memberikan bunga itu dan meminta Jun-Hyung memberikan kancing keduanya. Tapi, Bo-Ra gagal.

 

Dong-Woo menepuk pundak Bo-Ra. “Kenapa kau tidak bisa?”

 

Bo-Ra mengangkat kepalanya dan menatap Dong-Woo. “Banyak siswi perempuan mengelilingi Jun-Hyung. Aku kesulitan untuk berjalan kearah Jun-Hyung, belum lagi tatapan teman-teman Jun-Hyung yang menusukdan Jiyong sunbae sudah memperingatkanku…. Aku jadi takut jadi…”

 

“Mau kubantu?” tanya Dong-Woo menawarkan diri. Bo-Ra langsung menolaknya.

 

“Tidak, Tidak boleh ! Aku harus melakukan ini sendiri, kalau aku gagal berarti itu kesalahanku, Dong-Woo.”

 

“Tapi, kau bisa meminta bantuanku. Kau tahu sendiri, kan, aku dan Junhyun sunbaenim itu akrab.”

 

“Tidak, Dong-Woo.” Bo-Ra menatap Dong-Woo kemudian mengangguk. “Aku menyukainya, jadi aku harus berusaha agar dia tahu perasaanku. Aku harus berusaha dengan usahaku sendiri, tanpa meminta bantuan orang lain. Kalau aku meminta bantuanmu, entah kenapa itu terdengar snagat instan bagiku.”

 

Dong-Woo mengerti jalan pikiran Bo-Ra.  Dia lalu mengambil buket buga ditangan Bo-Ra dan menggoyang-goyangkannya. “Bagaimana dengan ini? Apa artinya kau sudah…”

 

“Tadi malam, aku sudah putuskan. Jika aku gagal hari ini, itu berarti aku harus melepaskan Jun-Hyung sunbaenim. Aku harus melupakannya. Aku harus menyerah, karena mungkin dia bukan yang terbaik untukku.” Bo-Ra mengatakannya sambail menatap kedepannya menerawang.

 

“Aku harus belajar untuk melepaskan cinta pertamaku.”

 

Dong-Woo mengangguk. “Kalau soal ini, aku bisa membantumu/”

 

Dengan senyuman yang cerah, Bo-Ra mengangguk mengiyakan.

 

 

-oOo-

 

 

“Kuharap, Jun-Hyung yang kau nantikan bukan Yong Jun-Hyung temanku. Kau tidak tahu betapa cerewetnya dia sampai kau bertemu dengannya nanti,” ujar Nami menganggapi cerita Bo-Ra.

 

Bo-Ra tertawa mendengarnya. “Benarkah? Astaga… Aku tidak menyangka…”

 

Nami menghela napas memikirkan betapa cerewet dan berisiknya Yong Jun-Hyung yang dikenalnya. Dan, dari cerita Bo-Ra, Yong Jun-Hyung kenalan Bo-Ra sangat jauh dari Yong Jun-Hyung kenalannya.

 

“Kau harus melihatnya, dan kau harus.”

 

Bo-Ra mengangguk angguk.

 

Dia merindukan Jun-Hyung sunbaenim….

 

 

-oOo-

 

 

Jun-Hyung menatap layar ponselnya. Nomor tidak dikenal menelponnya. Dengan tenang, Jun-Hyung mengangkatnya.

 

“Yong Jun-Hyung disini.”

 

“Sunbae!!!”

 

Jun-Hyung tidak menjawab. Dia berusaha mengingat suara yang familiar ini.

 

“Jang Dong-Woo?”

 

“Kau benar !!! Woohoo, apa kabar hyung?”

 

“Jang Dong-Woo !!! Kau darimana saja?”

 

“Aku? Ada di Seoul. Menulis lagu, seperti itu. Hyung sendiri?”

 

“Tokyo, masa kau tidak tahu kabarku?”

 

“Memangnya hyung artis Hollywood?”

 

 

Jun-Hyung mendengus marah mendengarnya.

 

 

“Sudahlah. Kenapa kau menelponku?”

 

“Aku ada di depan kantormu sekarang, hyung.”

 

“APA????”

 

 

 

Ttok Ttok

 

“Permisi, tuan Yong. Ada tamu untuk anda.” Sekretarisnya mengetuk pintu dan mengatakannya ke Jun-Hyung. Anak ini tidak bercanda, desisnya.

 

Ketika tamu tersebut masuk, memang benar, tamunya adalah Jang Dong-Woo. Jun-Hyung langsung berdiri dan berjalan menuju Dong-Woo.

 

“Hai Hyu….”

 

PLAK !!

 

Sebuah pukulan mendarat mulus di kepala Dong-Woo. Dong-Woo langsung memegangi kepalanya yang sakit dan mengaduh.

 

“Hyung, kau ini keterlaluan.”

 

“Keterlaluan? Hah? Bukannya kau yang keterlaluan? Tidak mengabariku 5 tahun belakangan, sibuk dengan duniamu, lalu berbohong kalau kau ada di Seoul, begitu?”

 

Dong-Woo tertawa mendengarnya. “Bukan begitu maksudku, tapi Hyung kan sangat sibuk, mana mungkin aku mau mengangganggu?”

 

“Kau tahu kalimat ‘setidaknya beri kabar’? Aku pikir kau sudah mati ditelan paus di lautan.”

 

“Hyung tega sekali,” cibir Dong-Woo diikuti tawa Jun-Hyung.

 

Setelah mempersilahkan duduk dan sekretarisnya menghidangkan Blueberry smoothies kesukaan Dong-Woo, keduanya memulia percakapan.

 

“Hyung, kau baik-baik saja?” tanya Dong-Woo mengamati Jun-Hyung. Jun-Hyung menggeleng pasrah.

 

“Bagaimana bisa aku baik-baik saja saat ini?” tanya Jun-Hyung balik.

 

“Gara-gara Nami Jung ya, Hyung?”

 

Jun-Hyung mengangguk.

 

Dong-Woo sudah mengetahui kasus Jung Nami, teman terdekat Jun-Hyung. Dong-Woo juga sudah tahu bagaimana watak Jun-Hyung apalagi terkait dengan teman terdekatnya. Ia tahu semuanya dari artikel yang tersebar luas di internet.

 

Karena mengkhawatirkan Jun-Hyung, Dong-Woo langsung terbang ke Tokyo dan memastikan kalau seniornya ini tidak stress. Setidaknya, masih bisa menjalankan tugas kantornya seperti biasa.

 

Jun-Hyung menatap Dong-Woo. Seketika dia teringat akan tradisi ‘kancing kedua seragam’ yang Dong-Woo pernah ceritakan kepadanya dulu.

 

“Ya, Jang Dong-Woo.”

 

Dong-Woo menganggukan kepalanya. “Kenapa, hyung?”

 

Jun-Hyung mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Kau…. Kau tahu tradisi kancing kedua seragam konyolmu itu?”

 

Dong-Woo mendengus geli. “Tentu saja, dan itu bukan tradisiku seorang. Kenapa?”

 

“Ke… Ke siapa kau memberikan kancing itu?”

 

Dong-Woo berpikir sejenak. “Kenapa mau tahu, hyung?” balasnya dengan tatapan menggoda. Jun-Hyung rasanya ingin melempari Dong-Woo majalah saat itu juga.

 

“Katakan saja.”

 

“Lee Yejin.”

 

“Yejin… Yejin yang penyanyi itu?” tanya Jun-Hyung dengan raut wajah tidak percaya. Dong-Woo mengiyakan dengan anggukan penuh semangat.

 

“Jangan bilang kalian sekarang……”

 

“Tunangan.” Dong-Woo dengan yakin menjawabnya.

 

Jun-Hyung menganga mendengarnya. Tunangan?

 

“Sejak kapan?” tanya Jun-Hyung berusaha menebak. 5 tahun yang lalu? 4 tahun yang lalu? Atau berapa tahun yang lalu?

 

“Baru satu tahun yang lalu, aku juga baru bertemu dengannya kembali sekitar 3 tahun yang lalu. Dia, yang kuberikan kancing kedua itu ternyata menyukaiku, hyung. Wah, senangnya.”

Dong-Woo menceritakan hal itu dengan sumringah dam bersemu-semu.

 

“Jadi, tradisi itu memang ampuh, ya?”

 

“Hah? Maksud Hyung?”

 

Jun-Hyung pun menceritakannya. Saat kelulusan, dia melihat seorang gadis yang memegang bunga  dan menatapnya, tapi nampak ragu untuk melangkahkan kaki kearah Jun-Hyung.

 

Saat itu, Jun-Hyung tiba-tiba ingin memberikan kancing keduanya utnuk gadis itu. Tidak tahu kenapa, tapi Jun-Hyung sangat ingin memberikannya. Sayangnya, setelah hari kelulusan, Jun-Hyung langsung berangkat ke Hokkaido.

 

Kancing kedua seragamnya itu maish tersimpan rapi di dompetnya. Dan Jun-Hyung menunggu untuk memberikannya kepada gadis itu, apapun yang terjadi.

 

Karena, sejujurnya, Jun-Hyung menunggu gadis itu. Gadis itu berhasil merebut perhatian Jun-Hyung.

 

Dong-Woo yang mendengarkan cerita Jun-Hyung terdiam lama. Dia tahu, siapa sosok gadis itu. Dia tahu betul, karena yang menyuruh gadis itu untuk menyerahkan bunga kepada Yong Jun-Hyung memang dirinya.

 

“Hyung… apa kau merindukan gadis itu? Tidak, apa kau masih ingin memberikan kancingmu?”

 

Jun-Hyung tersenyum sinis. “Walaupun terdengar bodoh, tapi, iya. Apapun yang terjadi, aku harus memberikannya.”

 

Dong-Woo terdiam sesaat. Memikirkan cara agar keduanya bisa bertemu. Karena, akhirnya, dia tahu, perasaan keduanya sama dan tidak ada yang bertepuk sebelah tangan. Walaupun hal ini memakan waktu lebih dari 6 tahun.

 

Dnegan terburu-buru, Dong-Woo meraih ponselnya dan menghubungi salah satui kontak.

 

“Halo? Ah… Apa kabarmu? Apa kau sibuk? Begini, kau kan terkenal dengan hasil desainmu yang waah untuk pernikahan, Yejin memintaku menghubungimu… Bisa?…. tidak lama, tapi kau bisa datang ke Tokyo dalam waktu dekat?….. Ah…. bisa?…. Sungguh?…. Kau pikir aku tidak merindukanmu?… Baiklah, kapan?….. Lusa? Oke oke…. Sampai Jumpa…”

 

“Kau berbicara dengan siapa?” tanya Jun-Hyung setelah Dong-Woo menutup teleponnya.

 

“Teman. Oh ya, Hyung, apa kau sibuk? 3 hari kemudian?”

 

“Tiga hari….. kurasa tidak. Kenapa?”

 

“Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang,” gumam Dong-Woo sambil tersenyum misterius. Jun-Hyung tidak tahu apa maksudnya.

 

Dong-Woo pun membisikkan rencananya ke Jun-Hyung.

 

 

-oOo-

 

3 hari kemudian.

 

Coffee Shop, Tokyo.

 

 

Hal penting apa yang Jang Dong-Woo ingin katakan? Batin Bo-Ra memasuki coffee shop yang dikatakan temannya. Dirinya datang dari Swiss hanya untuk bertemu Jang Dong-Woo, sahabatnya.

 

Bo-Ra langsung memesan Black Tea dan duduk di meja dekat jendela. Sambil menunggu Dong-Woo datang, Bo-Ra meminum tehnya pelan.

 

Dirinya tidak habis pikir hal apa yang ingin Dong-Woo bicarakan sampai memintanya ke Tokyo. Karena loyalitasnya kepada Dong-Woo, Bo-Ra rela mengalami jet lag dan perjalanan yang cukup jauh.

 

Sebenarnya, dia tidak tega meninggalkan Swiss. Apalagi, Jung Nami sendirian disana baru akan memulai terapinya. Untung saja, gurunya mau membantunya sehingga Bo-Ra bisa meninggalkan Nami ‘sebentar’.

 

Bo-Ra menatap pemandangan kota Tokyo yang basah diguyur hujan. Berbagai warna payung memenuhi jalanan, membentuk gelombang warna yang cantik. Perpaduan warna, gelapnya awan, nyala lampu gedung, membuat suasananya nyaman walaupun ini adalah kota besar. Pantas saja, mereka ingin tinggal disini. Kota yang sangat modern dan maju. Tokyo.

 

“Hei, ini tempatku,” ujar seseorang mengalihkan perhatian Bo-Ra. Bo-Ra langsung menoleh dan seketika matanya membulat sempurna begitu melihat sosok itu.

 

Sosok yang membawa segelas Caramel Latte panas, dengan mantel yang membungkus tubuhnya. Tatapannya menatap Bo-Ra tidak percaya. Kedua tatapan mereka bertemu. Bo-Ra sadar, ini bukan mimpi.

 

Annyeong Haseyo, Jun-Hyung Sunbaenim.”

 

 

-oOo-

 

 

Annyeong Haseyo, Jun-Hyung Sunbaenim.”

 

Orang ini mengenalnya? Batin Jun-Hyung dalam hati. Jun-Hyung membalas salam orang itu dan duduk dihadapannya.

 

Jun-Hyung mengenali orang ini….

 

Orang ini persis dengan gadis yang Jun-Hyung tunggu.

 

 

“Sedang menunggu orang?” Jun-Hyung bertanya dengan bahasa Korea. Orang itu mengangguk.

 

“Ne. Jang Dong-Woo. Sunbae sendiri?”

 

Begitu mendengar nama Jang Dong-Woo, Jun-Hyung langsung terbelak. “Kau mengenal Jang Dong-Woo?”

 

Orang itu mengangguk lagi. “Dia yang menyuruhku datang kesini. Kenapa, sunbaenim?”

 

“Kau sekolah di Hangsang-do High School 7 tahun yang lalu? Kelas… 2F?”

 

Orang itu terbelak kaget. “Kenapa sunbae… masih ingat?”

 

Jun-Hyung tertawa. “Tentu saja, aku ingat. Apa kabar?” tanya Jun-Hyung. Orang itu menjawabnya dengan baik-baik saja. Lalu keduanya kehilangan bahan obrolan. Jun-Hyung yang sibuk dengan pemikirannya, dan sosok dihadapannya, yang terlihat kikuk.

 

Trrt… Trrt…

 

Handphone Jun-Hyung berdiri. Jun-Hyung bergegas mengangkatnya dan berjalan menjauhi sosok itu.

 

“Ya, kau, apa-apaan ini? Kau pikir ini kencan buta, hah?”

 

“Tenang dulu, hyung.”

 

“Apanya tenang, kau seperti ibuku saja.”

 

“Hyung, kau masih ingat dengan sosok gadis yang memegangi bunga itu, kan?”

 

Jun-Hyung mengangguk, walaupun tidak terlihat oleh Dong-Woo.

 

 

“Kau tahu sosok yang kau temui sekarang, dialah gadis itu.”

 

 

DEG!

 

Jantung Jun-Hyung tiba-tiba berdegup kencang. Jun-Hyung langsung menutup sambungan teleponnya, dan kembali duduk dihadapan orang itu.

 

“Tunggu, aku ingin kau jujur. Aku ingin bertanya sesua… bukan, sebuah… bukan, sesuatu. Ya, sesuatu….”

 

Sial, kenapa jadi terbata-bata begini, batin Jun-Hyung.

 

“Silahkan.”

 

 

“Kau…. Gadis yang memandangiku saat upacara kelulusanku 7 tahun yang lalu?”

 

 

-oOo-

 

 

DEG !!

 

Bagaimana bisa Jun-Hyung tahu? Batin Bo-Ra.

 

Bo-Ra menatap Jun-Hyung lama. Hatinya tidak karuan sekarang. Takut, malu, senang, sedih menjadi satu.

 

“Apa itu kau?” tanya Jun-Hyung lagi, kali ini menatap dirinya lekat. Bo-Ra tidak berani menatap mata Jun-Hyung yang menatapnya seperti itu. Bo-Ra menundukkan kepalanya.

 

Bagaimana ini? Sudah 7 tahun lewat. Bo-Ra tidak menyangka, akan bertemu dengan Jun-Hyung ditempat dan kondisi seperti ini. Dia tidak tahu harus mengatakan apa, seluruh kata-katanya tersedot habis.

 

 

“Apa itu…”

 

 

“Iya, itu aku, sunbae.” Bo-Ra menjawabnya pelan. Dengan perlahan, dia mengangkat wajahnya menatap Jun-Hyung. Jun-Hyung terdiam lama mendengarnya.

 

Apa dia marah? Malu? Benci kepadaku? Bo-Ra rasanya ingin menangis saja.

 

Hening menyelimuti mereka berdua. Tidak ada yang membuka suara. Semuanya masih tidak percaya dan takut menerima hal baru yang datang dari fakta di masa lalu.

 

“Kau…” Jun-Hyung tercekat mengatakannya. Bo-Ra rasanya ingin memukul kepalanya, kenapa dulu dia melakukan seperti itu?

 

Jun-Hyung menghela napas. ‘Kau orang yang kutunggu.”

 

Eh?

 

Apa dia tidak salah dengar?

 

“Aku menunggumu dari dulu. Kenapa waktu itu kau tidak menghampiriku?” tanya Jun-Hyung.  Bo-Ra mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan perkataan Jun-Hyung.

 

Jun-Hyung tahu Bo-Ra tidak mengerti, lalu dia mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kancing putih cukup besar, dan dia menyodorkannya ke Bo-Ra. Bo-Ra menatap tangan Jun-Hyung kebingungan.

 

“Kau tahu dengan tradisi ‘kancing kedua seragam’ ?”

 

Bo-Ra mengangguk. Perlahan, dia mengerti maksud Jun-Hyung apa. Matanya mulai berkaca-kaca.

 

“Jang Dong-Woo menyuruhku untuk menyerahkan kancing ini kepada orang yang spesial, walaupun itu terdengar konyol. Tapi… Tadinya aku ingin memberikan ke seseorang yang aku kenal. Seseorang dari kelas 2F.”

 

“Terlebih, dia sepertinya ingin menyerahkan buket bunga untukku tapi… dia tidak memberikannya. Saat itu, aku sudah berjanji akan memberikan kancing ini sebelum aku mati, apapun yang terjadi. Ternyata orang itu kau…. Aku tidak mengingatnya. Maaf, ingatanku sedikit rusak.”

 

Bo-Ra tidak bisa membendung tangis bahagianya.

 

“hey, hey? Kenapa kau menangis… astaga aku tidak memukulmu, kan? Aduh.. Bagaimana ini, hey, hey, Yoon Bo-Ra…. Hey…”

 

Mendengar Jun-Hyung menyebut nama lengkapnya, Bo-Ra semakin bahagia. Dia menyeka air matanya.

 

“Sunbae tahu darimana nama lengkapku?”

 

“Dong-Woo. Dong-Woo bocah yang mengatur pertemuan ini.”

 

 

Bo-Ra ingin berterima kasih sebanyak yang ia bisa kepada Dong-Woo saat ini. Benar-benar.

 

“Jadi, kau mau menerima ini?” tanya Jun-Hyung menyodorkan kancingnya.

 

Bo-Ra menatap Jun-Hyung, yang sedang menatapnya dengan tatapan hangat. Dia pun mengambildari tangan Jun-Hyung.

 

“Iya.”

 

 

-oOo-

 

 

“Jadi kau dan Jun-Hyung….. Jun-Hyung-ku sekarang bersama?”

 

Itulah pertanyaan yang pertama kali menyapa Bo-Ra begitu tiba di Swiss. Dengan wajah yang penasaran, Nami bertanya kepada Bo-Ra apakah benar cinta pertama Bo-Ra adalah Yong Jun-Hyung-nya.

 

Bo-Ra mengangguk saja menanggapinya. Nami terdiam sesaat, memahami dan mempelajari kondisinya.

 

Memang, Jun-Hyung pernah mengatakan kalau dia sedang menunggu seseorang. Tapi, apa ini takdir? Psikiater, yang akan menangani proses terapinya, Yoon Bo-Ra adalah orang yang ditunggu Yong Jun-Hyung. Dan cinta pertama Yoon Bo-Ra adalah Yong Jun-Hyung.

 

God play with us?

 

Nami tersenyum lalu menghampiri Bo-Ra. “Dia lelaki yang baik… walaupun agak cerewet dan sentimental,” gumam Nami.

 

“Aku boleh bersamanya?” tanya Bo-Ra lagi.

 

“Tentu. Kau orang yang menyenangkan, cocok dengannya.”

 

-oOo-

Note :

This is my project hahahaa XD sebenarnya sequel buat oramanieyo masih ada satu lagi, tapi karena sibuk jadi baru keluar yang ini. semoga ini berhasil memuaskan pembaca (?) yang kepo kenapa junhyung sama bora bisa bersama. Oh ya, i am planning to remake please stop the time with different character and story. alurnya diubah dikit,tapi ppstt remake gabakal dimuat disini. tapi di wepe lain ^^ dan bakal ber season 2 jadi tetap tungggu karyaku ya. ^^

with love, hayamira. ❤

 

8 responses to “[FF : Oramanieyo Side Story] First Love (Jun-Hyung & Bo-Ra story)

  1. huah..
    Ff paling kusuka dan kutunggu sejak zaman kris-nana (judulnya lupa)
    seneng banget masih ada side story-nya..

  2. aku ketinggaln ini ff astaga gimana the end tiba” ada side storynya juhung coba? 😐
    cobanya side storynya gak dibikin sampe juhung nikah /ngarep
    nice story, di tunggu side story and ff yang lain^^

  3. Oraemaneeeee author-niiiim~ aku jingkrak-jingkrak ngeliat judulnyaaaa kyahahaahahhaha
    Ada side story yg lain? Eeeeh siapa ituuu? Oh god!
    Aku suka narasimu bener-bener tergambar jelas diimajinasi wahaha dan oraemanieyo ini ga terlalu berat kyk story-nya nami, yg penuh dg istilah-istilah kejiwaan. Jd side story yg lain siapa lagi? Nana? Ck aku penasaran sih, soalnya keinget aja itu si Nana ceritanya baik2 aja ama Kris atau engga di imajinasimu
    #keepwritinghwaiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s