[One shot] Story of Polarlight

FF ini ditulis oleh @jhulia_chum, bukan oleh saya (Rasyifa), saya hanya membantu untuk membagikannya di FFindo. Tolong berikan apresiasi kalian ya melalui jejak komentar. Terimakasih~

story-of-polarlight1

Title : Story of Polarlight | Author : Julia Hwang (@jhulia_chum)

Leght : Oneshoot | Genre : Romance, Sad, Friendship | Rating : PG13+

.

Main Cast :

Byun Baekhyun | Stephanie Lee (OC)

Other Cast :

EXO | Kim Jia

Cover by : elevenoliu @CafePoster

 

Disclaimer :

Fanfiction ini adalah fiksi dan bukan merupakan kisah nyata dari para cast yg ada. Baekhyun dan EXO milik Tuhan, agency dan keluarga mereka. Para OC hanya buatan saya semata. Fanfiction ini dibuat atas imajinasi semata dan terinspirasi dari fansites favorite dari Byun Baekhyun, Polarlight ^^ Konsep ff tentang Polarlight eonni sudah pernah di buat oleh Kak Dira dari Hangukffindo dan di post di Indonesian Fanfiction Kpop. Tapi untuk alur cerita, tidak ada kesamaan dari cerita dari Kak Dira ataupun yg lain. Jika memang ada itu hanya unsur ketidaksengajaan !

 

Summary :

“Terimakasih Byun Baekhyun, karena kau selalu memberikan tatapanmu padaku.”

 

Warning for typo!

Happy READING~! ^^

 

~Story of Polarlight~

 

Stephanie POV

Aku mempercepat gerak tubuhku saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi saat ini. Hari ini sekolah sedang libur dan betapa bahagianya aku saat dimana liburan sekolah tepat saat EXO berkunjung ke daerahku di Gwangju dan mengadakan fanmeeting untuk pertama kalinya disini.

Namaku Stephanie. Aku adalah seorang gadis biasa yg sangat mencintai oppadeul EXO, terutama pria bernama Byun Baekhyun yg sejak dulu sudah mencuri hatiku. Aku mengikutinya saat EXO mengeluarkan teaser pertama dan debut di tahun 2012. Di MAMA Era seperti yg orang-orang katakan, aku sudah memiliki ribuan foto Baekhyun yg ada di camera DSLR berwarna putih yg aku miliki. Belum lagi di jaman full album mereka yg pertama, entah berapa foto sudah kukoleksi dan terbanyak itu berisi foto dari Byun Baekhyun seorang.

“Stephanie.. Kapan kau akan berangkat ? Jangan sampai kau ketinggalan bus lagi hari ini.”

Suara Ibu memanggil dari bawah. Aku hanya mendengus dan kembali melanjutkan aktifitasku dengan gerakan tercepat yg aku miliki. Aku memasukkan camera kesayanganku dan beberapa benda lainnya ke dalam ranselku. Baru saja aku ingin memakai kacamataku, tp langsung kuurungkan karena pasti sangat susah memotret bila benda itu menggantung di mataku. Aku memakai sepatu kets berwarna hitam putih yg kumiliki dan memperbaiki sweeter yg kukenakan. Aku menguncir kuda rambutku karena kurasa udara akan sangat panas nanti saat fanmeeting berlangsung. Semua siap, dan aku akan pergi sekarang juga.

.

.

“Kau yakin akan pergi sendiri ?” Ibu bertanya kembali dan mengelus pipiku lembut. Aku tersenyum menatapnya seakan berkata semua akan baik-baik saja.

“Jia tidak ikut denganku. Ia akan pergi ke Seoul untuk menemui kakeknya yg sedang sakit. Jangan khawatir Ibu, aku bisa menjaga diri dengan baik.” Kataku semangat sambil mengedipkan sebelah mataku yg hanya membuat Ibu tertawa saat ini.

Ibu kembali menatapku. Tatapannya begitu dalam dan tersirat keharuan di dalamnya. “Apa kau begitu menyukai mereka ? Dari dulu sampai sekarang kau rela mengejar mereka kemanapun dan dimanapun mereka berada. Terutama untuk pria yg sangat banyak gambarnya di cameramu. Apa kau tidak merasa ? Mereka berbeda jauh denganmu, dan bahkan mungkin, mereka tidak tahu jika kau adalah fans mereka dari sekian banyak fans mereka yg ada di dunia ini.”

Saat ini aku hanya bisa tersenyum, baru saja aku ingin menjawab apa yg ia katakan, ia berkata kembali “Kau harus bisa menjaga kesehatan matamu. Ibu khawatir jika benda itu terus menerus kau pakai dan akan membuat matamu semakin rusak karenanya.” Katanya lagi kali ini sambil menunjuk camera yg berada di dalam ranselku.

Aku memiliki kesehatan mata yg sangat buruk. Saat aku berusia 12 tahun, mata sebelah kiriku tertusuk ranting pohon saat aku bermain bersama ayah di taman dekat rumah. Saat di larikan ke rumah sakit dan mengikuti operasi yg menyakitkan, mata sebelah kiriku akhirnya mengalami cacat total. Aku tidak bisa melihat saat itu juga. Mata kiriku tidak berfungsi sama sekali. Yang ada hanya kegelapan yg menyelimutinya. Dokter sedikit mengoperasi kembali tapi semua gagal. Jika kau lihat, mata kiriku terlihat baik-baik saja tapi sebenarnya itu sudah tidak berfungsi kembali sejak saat itu.

Aku kecewa. Rasanya tuhan sudah tidak adil lagi padaku. Aku pernah berharap, kenapa tidak kedua mataku saja yg cacat, kenapa ia hanya mengambil satu dan membiarkan satunya sehat. Rasanya semua sama saja hingga ayah dengan sabar mengajariku memakai satu mata seumur hidupku. Aku hanya bisa pasrah saat ini dan mulai membiasakan diri. Aku sering memakai kacamata walau kutau kacamata itu tidak berfungsi sama sekali. Tapi, itu hanya tipu daya yg ibu lakukan agar orang-orang tidak tau. Ya.. yg tahu kejadian ini hanya aku, ayah, ibu dan Jia sahabatku.

Walaupun aku mempunyai kekurangan, tapi di sisi lain aku mempunya kelebihan yg membuat orang-orang menyukaiku. Saat berulang tahun yg ke 15, ayah memberikanku sebuah hadiah camera dan mengajariku semua tentang hal potret memotret yg sampai sekarang aku tekuni dengan baik. Ayah dan Jia sangat menyukai hasil bidikan cameraku yg selalu tepat sasaran walaupun hanya dengan satu mata. Sejujurnya, aku sangat susah melihat apapun dengan satu mata karena apapun yg kulihat pasti butuh waktu yg lama untuk benar-benar bisa menebak apa yg sedang berada di hadapanku. Semua terlihat samar dan itu cukup berat, tapi berkat camera yg ayah berikan dan pelatihan ‘khusus’ dari ayah yg pada dasarnya seorang fotografer saat muda dulu, apapun yg kulakukan sekarang itu harus memakai camera yg selalu bergantung di leherku kecuali saat bersekolah, Kwon seongsangnim bisa membunuhku saat itu.

Ketertarikanku pada dunia foto makin besar saat ayah meninggalkan kami, aku dan ibu 3 tahun lalu dan memberikanku amanat sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Seoul karena penyakit jantung akut yg di milikinya. Ia berpesan padaku untuk tetap menjadi gadis yg tegar dan tak pernah putus asa. Untuk selalu bersyukur atas apa yg sudah kumiliki saat ini. Ia juga berkata untuk terus melanjutkan hobiku dan ia ingin aku menjadi fotografer yg handal sepertinya suatu saat nanti. Sampai sekarang, kalimat itu telah menjadi pedoman dalam hidupku.

Aku menepuk bahu ibuku “Aku mencintai mereka, Ibu. Aku akan terus melakukan ini sampai aku mulai lelah. Aku ingin mereka tahu, terutama Baekhyun bahwa aku memiliki banyak foto koleksi mereka. Aku ingin mendapat pujian dari itu dan saat itulah mungkin aku akan berhenti.”

Ibu sedikit shock dengan apa yg baru saja aku katakan padanya “Apa kau yakin dengan perkataanmu ?”

Aku mengangguk mantap “Aku tidak akan mungkin terus menerus mengambil foto mereka dengan satu mata walaupun aku sudah biasa melakukan itu.”

Ibu tiba-tiba memelukku. Bahkan sangat erat hingga sangat sulit rasanya untuk bernafas. Kurasakan bahunya berguncang dan terdengar isakan setelah itu. Ibu menangis.

“Kau anak yg baik. Kau anak yg pintar. Lakukan apa yg menurutmu benar, Stephanie. Ibu akan terus mendukungmu.” Katanya di tenga-tengah tangisannya.

Aku menghusap lembut punggungnya “Ibu jangan menangis. Aku akan baik-baik saja, sungguh. Percayalah padaku!”

“Ibu percaya padamu.”

.

.

.

Berbicara tentang objek foto, aku sangat suka mengambil gambar seseorang yg menurutku punya wajah yg fotogenik dan terlihat bagus di camera. Banyak kpop-kpop idol yg memiliki wajah seperti itu seakaan ia berbicara padaku “Hey.. Kau harus mengambil fotoku! Aku ini sangat tampan tahu.” dan itu aku temukan dari seorang pria, tepatnya seorang idol yg sedang naik daun saat ini dan menggemparkan hampir seluruh dunia karena boygroup yg ia naungi. Coba.. Siapa yg tidak mengenal EXO ? Dan siapa yg tidak mengenal pria cerewet yg memilik suara yg indah bernama Byun Baekhyun ? Kurasa kalian semua tau itu dan anehnya, walau ia seperti itu aku tidak pernah absen dalam mengambil gambarnya dan mencintainya hingga sekarang.

Sejak teaser pertama boyband itu keluar aku sama sekali tidak tertarik untuk melirik mereka. Yang ada di dalam pikiranku hanyalah itu pasti sudah biasa dan Hey.. ini Korea. Negara ini terkenal karena boyband dan girlband yg mereka miliki dan itu mungkin tak terhitung jumlahnya jika kau rajin mengikuti perkembangan beberapa agency yg setiap tahun mungkin mengeluarkan satu hingga dua boyband atau girlband yg anggotanya tidak main-main dalam hal jumlah personilnya.

Contoh saja boyband baru keluaran SM Entertaiment bernama EXO yg debut secara resmi tahun 2012 dengan jumlah personil 12 pria tampan dan berbakat. Aku kadang bingung, darimana mereka bisa mendapat orang-orang sebanyak itu terutama untuk SM sendiri yg terkenal dengan jumlah personil terbanyak dalam satu group. Dan bagaimana pula mereka membagi honor untuk masing-masing orang di dalamnya. Oke ini tidak penting dan jauh dalam pembahasan.

Awalnya aku sama sekali tidak tertarik. Catat! Aku bukan type gadis yg akan menghabiskan hidupku untuk menyukai pria-pria yg tak pernah kutemui ataupun mengenalku dan mengabadikan setiap moment yg mereka miliki untuk kujadikan koleksi pribadi. Tapi semua itu salah! Aku serasa menjilat ludahku sendiri saat melihat satu di antara gerombolan pria-pria itu. Seorang pria yg masuk dalam kategori terpendek dalam group itu dan memiliki senyum menawan saat kau melihatnya. Byun Baekhyun, karenanya aku sekarang menjelma menjadi seorang gadis yg rela melakukan apapun agar bisa bertemu dengannya minimal mengambil gambarnya di manapun dan apapun yg ia lakukan. Jika kau menyebutku Sasaeng Fans ? Aku tidak seburuk itu! Aku masih punya kewarasan dan tidak mungkin melakukan hal gila di luar kemampuanku. Lebih tepatnya aku hanya fans biasa yg kebetulan menyukainya yg adalah seorang idol. Hanya itu.

Aku menyukai wajahnya. Aku menyukai saat ia tersenyum dan menyapa seluruh fans yg mencintainya. Aku menyukai kepribadiannya yg periang dan satu lagi aku sangat menyukai suara indahnya. Dan sejak saat itu, di tahun 2012 saat mereka resmi debut dan melakukan beberapa fanmeeting di berbagai tempat, aku tak pernah absen untuk mengikutinya. Bahkan tempat yg terjauh sekalipun, dan itu saat mereka melakukan perjalanan ke Amerika Serikat dan itu hampir menghabiskan seluruh uang tabunganku dan juga uang ibu. Jika dipikir lagi, ini memang gila tapi aku menyukainya.

Setiap foto yg kuambil entah kenapa selalu tepat sasaran. Maksudku aku merasa beruntung di setiap foto Baekhyun yg kuambil ia selalu melirik ke arah cameraku dan Jia pernah berkata kau adalah gadis beruntung dari sekian banyak orang yg sedang mengambil fotonya. Eyecontact, Baekhyun selalu memberikan eyecontactnya padaku. Entah kenapa pria pendek itu selalu menoleh saat cameraku sudah berada di depan mataku bersiap untuk mengambil gambarnya. Dan hingga sekarang aku bersyukur akan itu.

Kembali ke fanmeeting, bus yg kunaiki telah sampai di salah satu hotel terkenal di Gwangju yg adalah tempat di adakannya fanmeeting EXO saat ini. Tempat itu telah ramai oleh para penggemar-penggemar EXO yg rata-rata adalah seorang gadis-gadis yg ingin melihat 12 pria tampan itu sepertiku. Aku berdiri di dekat salah satu pohon dan menyediri disana. Aku mulai memeriksa cameraku dan bersiap untuk mengambil banyak gambar untuk fanmeeting hari ini dan Baekhyun oppa (dia lebih tua setahun dariku) harus lebih mendominasi.

Kegiatanku tiba-tiba terhenti saat kudengar beberapa orang mulai meriakkan nama-nama anggota EXO dan mulai berlarian menuju tempat fanmeeting di adakan yaitu di depan hotel. Aku tak mau kalah dan langsung berlari secepat mungkin agar dapat tempat terdepan saat itu. Dan aku selalu bersyukur karena badan kecilku, aku mudah menyusup dan tempat terdepan telah kumiliki. Camera telah siap saat 5 anggota EXO sudah mulai bermunculan dan sekarang saatnya Baekhyun oppa muncul.

Klik..

Klik..

Klik..

Klik..

Satu persatu foto darinya telah kuambil dalam berbagi pose. Dan setiap aku melihat hasilnya aku selalu tersenyum puas dan berterimakasih padanya.

“Terimakasih Baekhyun oppa karena kau selalu menatap ke arahku.”

.

.

Fanmeeting itu dilakukan hanya sebentar, kurang lebih satu setengah jam dan hanya di isi kegiatan sapa menyapa dari EXO untuk fans dan dari fans untuk EXO. Jariku tak pernah berhenti menekan tombol bidik di camera dan selalu fokus pada satu orang yg tak jauh dariku. Saat ia tertawa, saat ia sedang minum, saat ia bercanda aku selalu mendapat moment paling pas dan eyecontact tidak pernah absen Baekhyun oppa berikan padaku.

Fanmeet berakhir dan EXO menyanyikan lagu Growl sebagai penutup acara. Aku puas, bahkan sangat puas untuk hari ini. Walaupun masih kurang, aku tetap bangga dengan hasil bidikanku hari ini. Senyum bahagia tak pernah lepas dari wajahku saat melihat foto Baekhyun oppa menghiasi cameraku. Saat aku kembali menunggu bus, dua orang gadis tiba-tiba mendatangiku dan menyapaku.

“Hay.. Kau seorang EXOFans bukan ?” Tanya salah seorang dari mereka. Badannya sedikit berisi dan pipinya sangat cubby tapi aku suka tatapan matanya. Terlihat bersahabat.

“Iya dan ada apa ya ?” Aku menjawab sedikit bingung sambil menggaruk tengkukku yg tidak gatal. Mereka berdua tertawa melihat ekspresiku yg mungkin terlihat sangat lucu bagi mereka saat ini.

“Kami memperhatikanmu selama fanmeet berlangsung tadi. Kulihat saat kau berusaha mengambil gambar beberapa member EXO terutama Baekhyun oppa, ia tak pernah lepas menatap cameramu. Bolehkah aku melihat hasil gambarnya ?”

Seorang gadis lain berkata lagi dan tanpa terasa aku menyerahkan begitu saja camera yg sedari tadi kupegang. Mereka berdua nampak antusias dan mulai mengomentari beberapa foto bidikanku dan begitu menyukainya. Mereka beberapa kali memujiku dan membuatku hanya bisa tersenyum.

“Kau hebat! Hampir semua foto Baekhyun oppa menatap ke arah cameramu. Eyecontact kalian membuat kami iri. Jika kau membuat fansites dan menyebar semua foto ini, kau akan terkenal, chingu. Percayalah! Bahkan Baekhyun oppa bisa saja mengetahuimu nantinya.”

“Benarkah ?” Aku sedikit mengulang apa yg mereka katakan padaku. Jujur aku awalnya bingung dengan maksud mereka.

“Sudah banyak lucky fans yg seperti itu. Bahkan Luhan oppa dan Kris oppa sudah pernah bertemu dengan salah seorang fans mereka karena eyecontact dan fansites mereka yg besar. Kau bisa saja menjadi salah satu dari lucky fans Baekhyun oppa itu.”

Aku hanya bisa mengangguk seperti orang bodoh saat ini. Seketika kata-kata itu terus terngiang di dalam otakku. Bahkan aku tidak menyadari kedua gadis aneh yg tak kutahui namanya itu sudah menghilang dari hadapnku. Aku menatap kembali camera yg kupegang, haruskan aku melakukan apa yg mereka katakan ?

-***-

 

Malam harinya aku hanya duduk termenung di kamarku. Aku bingung melakukan apa malam ini. Biasanya setelah makan malam, aku sering memindahkan semua foto yg ada di cameraku menuju laptop dan terus memandanginya hingga tak sadar aku bahkan sering tertidur dengan laptop menyala di hadapanku.

Di kepalaku masih terngiang perkataan kedua gadis yg kutemui siang tadi. Aku tidak terlalu mengerti apa yg mereka bicarakan. Aku sering mendengar banyak fansites yg sering menyebar foto-foto EXO membuat fans berterimakasih pada mereka karena telah memberikan bidikan terbaiknya untuk koleksi. Adapun yg terbesar seperti pernah yg Jia katakan padaku, dan itu semua berdomisili di Seoul dan Cina. Aku merasakan kepalaku tiba-tiba sangat pening dan mataku seakan ingin cepat tertutup. Jujur aku lelah hari ini. Aku belum sempat makan siang karena ibu sedang bepergian dan lupa menyiapkan makan siang untukku.

Aku melirik jam dengan ukiran lambang EXO yg beberapa bulan kubeli di situs online, masih jam 8 malam tapi kenapa aku cepat sekali mengantuk. Seperti biasa, untuk menghindari kebosanan aku selalu menelepon Jia untuk sekedar berbagi cerita hari ini. Sahabatku itu sangat pandai dalam mencairkan suasana hati yg memang butuh hiburan. Maka tak jarang, ia sering disewa menjadi MC untuk acara-acara besar yg di lakukan sekolah atau tempat lainnya. Kutekan dijit demi dijit nomor yg tertera di ponsel dan langsung menempelkannya di telinga. Panggilan tersambung membuat seulas senyum terukir manis di bibirku.

“Yeboseyo.. Jia-ah!!” Teriakku semangat membuat dia mulai mengomel di ujung telepon karena suaraku.

“….”

“Ne.. Baik. Aku merindukanmu! Kita tidak bertemu dua hari ini. Bagaimana kabar kakekmu ?”

“….”

“Ah.. Ne. Sekarang kau dimana ? Masih di Seoul ?”

“….”

“Mwo ? Kenapa tak bilang dari tadi. Cih! Kau suka sekali membuat kejutan.”

“….”

“Baiklah kutunggu. Annyeong~!”

Sambungan telepon kumatikan dan menghela nafas panjang. Tidak butuh waktu beberapa menit, bel rumahku berbunyi dan aku tau siapa yg berani datang malam-malam begini. Jia, dia sudah pulang dan sekarang ia berada di depan rumahku. Aku bergegas menuruni tangga dan membukakan pintu untuknya. Saat pintu terbuka ia dengan bahagia langsung memelukku dan menatapku penuh harap.

“Ceritakan semua pengalamanmu tadi padaku!”

.

.

“Ide yg bagus. Kenapa itu tak terpikirkan dari dulu ? Ya! Kau harus segera membuatnya! Aku akan membantu.”

Jia nampak antusias saat aku menceritakan pengalamanku tadi di fanmeet EXO dan bertemu seorang fans yg mengagumi hasil fotoku dan menyuruhku membuat fansites agar dapat di kenal Baekhyun oppa. Ia mulai mengotak-ngatik laptopku dan aku hanya diam menatapnya. Ia pasti sedang membuat website dan akan menyebar foto-foto EXO hasil bidikanku.

“Kurasa ini belum saatnya. Aku belum berani melakukannya.” Kataku sedikit takut membuat Jia menatapku tajam seolah ia sedang melubangi sebelah mataku ini. “Aku tidak mau menyebar foto-foto ini. Ini hanya akan menjadi koleksi pribadiku.” Tambahku bersikeras.

Ia menghentikan aktifitasnya di depan laptop dan melipat tangan di dada. Aku benci melihat tatapannya saat ini seolah ia ingin sekali membunuhku sekarang juga.

“Sampai kapan ?” Tanyanya membuat keningku berkerut. “Sampai kapan kau akan menjadi fans asing yg semuanya kau lakukan sendiri. Orang lain perlu tahu dan Baekhyun oppa juga perlu tahu, Stephanie. Pikirkanlah keuntungan yg akan kau dapat saat fansites ini di buat dan semua orang akan mengagumi foto hasil bidikanmu. Kau akan menjadi terkenal, Stephanie! Kau bisa saja akan bertemu Baekhyun oppa nantinya dan betapa beruntungnya jika ia bisa memuji hasil fotomu. Dan sekarang, kau tidak boleh menolak apa yg akan kuperbuat untukmu! Cukup diam dan berikan pendapat. Tenang saja, jika kau tidak bisa mengurus fansites ini sendiri. Aku dengan senang hati akan membantu! Tidak perlu dibayar, ini free untukmu.”

Seketika aku kembali bungkam setelah mendengar apa yg Jia katakan padaku. Kalimat demi kalimat kucoba cerna baik-baik. Kedutan di kepalaku semakin bertambah dan membuatku semakin pusing. Ingin sekali aku membenturkan kepalaku di dinding agar rasa sakit ini hilang. Dan lagi, untuk kesekian kalinya selama aku mengenal Jia, aku tidak bisa melawan dan berakhir dengan diam sambil menatapnya dengan wajah tertekuk.

Entah apa yg ia perbuat, wajahnya tampak sangat serius menatap layar yg tak begitu besar di hadapannya. Bunyi keyboard laptop saling bersahutan tak henti dan tombol mouse yg jika di hitung ia sudah memencetnya puluhan kali. Sangat cepat dan aku masih saja bingung apa yg sedang di perbuat olehnya. Tiba-tiba keningnya berkerut. Wajahnya yg serius tiba-tiba berubah bingung seperti kehilangan ide yg briliant dan membuatnya frustasi. Akhirnya setelah sekian lama ia kembali menatapku.

“Kau mau memberinya nama apa ?”

“Mwo ?” Aku tak mengerti saat ia bertanya dengan wajah penuh harap padaku. Kudengar ia menghembuskan nafas berat.

“Nama, nama untuk fansites mu ini. Cepatlah! Mereka tidak bisa menunggu lama.”

Aku kembali diam dan berkutat dalam pikiranku. Untuk saat ini berpikir pun sangat sulit kulakukan dan Jia dengan tampang tak santainya itu terus menerus menyogokku untuk berpendapat. Kembali aku megingat Baekhyun oppa di sela-sela pikiranku. Aku ingat saat debut, EXO terkenal sebagai group yg memiliki berbagai macam kekuatan super dan Baekhyun oppa mempunyainya, kekuatan Cahaya. Lighting.

Light. Kata itu cukup menarik untuk fansites yg di peruntukkan untuknya. Mengingat pria itu selalu nampak bercahaya di manapun ia berada. Aku kembali berpikir untuk menambahkan kata ‘Polar’ di dalamnya. Polar yg artinya berlawanan arah, dimana Baekhyun dan para fansnya selalu nampak berlawanan dan sangat susah untuk menggapai satu sama lain. Hanya bisa melihat dari jauh saja sudah bersyukur.

“Polar light”

Jia sedikit memiringkan kepalanya “Polarlight ?” dan mengulang apa yg baru saja kukatakan.

“Ya.. Polarlight. Cahaya yg berlawanan. Entah kenapa aku menyukai kalimat itu.”

Jia tersenyum dan mengangguk. Ia kembali berkutat dengan laptopku dan hening kembali menyelimuti kami. Kurasakan mataku semakin berat dan bersiap tertutup, kuharap ini bisa dilanjutkan dalam mimpi. Jujur baru saja angan-angan bermimpi bertemu Baekhyun oppa langsung buyar saat suara besar dan nyaring milik Jia terdengar berteriak seperti di sebelah telingaku. Aku tersentak dan langsung menatapnya dengan jantung memburu.

“Selesai!”

Ia tersenyum bangga dan memperlihatkan hasil kerjanya padaku. Website fansites itu telah selesai. Designnya juga sangat rapi dan indah. Aku menatap laptopku dan Jia bergantian. Ada rasa haru yg menyelimutiku.

“Semua sudah kuatasi dengan baik. Lihat! Semua foto hasil bidikanmu sudah tersusun rapi di dalam fansites ini dan bahkan aku membuat sebuah logo ‘Polarlight’ untuk masing-masing foto agar mereka tahu ini adalah punyamu. Design website sudah kuubah dan menurutku itu sudah sangat cantik dengan foto Baekhyun oppa yg mendominasi semua. Huft! Dan aku juga sudah mempromosikan fansites ini di seluruh sosial media yg kupunya dan lihat saja besok, pasti banyak sekali yg akan mengunjungi fansites ini nantinya.” Jia menghentikan kalimatnya dan merangkulku yg masih tak percaya dengan apa yg ada di hadapanku ini. Aku tak hentinya menatap takjub saat foto-foto hasil bidikanku terpampang jelas di website fansites itu dan bahkan aku mengagumi logo ‘Polarlight’ buatan Jia yg terkesan sangat simple tapi berkesan untukku.

“Sekarang waktunya, Stephanie!” Aku menoleh ke arahnya dengan wajah yg berbinar. Ia merentangkn tangannya seperti sebuah pelukan besar yg peruntukkan untukku dan mengatakan kalimat yg langsung membuatku menangis haru saat itu juga.

“Selamat datang, Polarlight.”

Aku tersenyum lebar dan menangis haru dalam pelukannya. “Terimakasih Kim Jia.”

Stephanie POV End

~Story of Polarlight~

 

Baekhyun POV

Tak terasa EXO telah berumur kurang lebih 2 tahun sejak debut kami di tahun 2012. Tahun 2014 akan datang sebentar lagi dan itu berarti EXO telah berjaya selama 3 tahun. Rasa syukur tak henti-hentinya kami semua panjatkan. Para member, staff, manager dan orang-orang dalam SM Entertaiment. Semua rasanya berat jika kau berada di posisiku saat ini. Tapi semua terbayarkan dengan suksesnya kami sebagai rookie group yg terbilang sukses besar. Mempunyai banyak fans yg tak terhitung jumlahnya, fanbase yg selalu update tentang kami, dan semua itu seperti obat untuk kami, para member EXO sendiri. Semangat mereka yg tiada habisnya, seakan mempotensi kami untuk terus memberikan yg terbaik bagi mereka. Teriakan demi teriakan saat konser maupun saat kami sedang berjalan-jalan pun tak henti-hentinya mereka elu-elukan.

Aku bangga. Bahkan sangat bangga mempunyai orang-orang yg begitu mencintai kami sampai mereka rela menginap di depan hotel kami hanya ingin melihat kami keesokan paginya. Tapi tak jarang rasa kasihan menyelimutiku. Mereka masih muda dan mereka seakan menyerahkan hidup mereka hanya untuk kami, EXO. Saat aku berada di atas panggung, tak jarang aku menemukan banyak sekali gadis-gadis yg datang dengan seragam sekolah masih menempel di tubuh mereka. Apa mereka membolos ? Apa mereka rela membolos demi kami ?

Menurutku itu adalah hal terbdoh yg kutemui. Di jaman ini jika kau tidak bersekolah minimal mendapatkan ijasah SMA kau paling akan berakhir menjadi seorang pengangkat barang di pasar dan itu sangat disayangkan saat ini. Ingin sekali aku bertemu mereka dengan jarak dekat dan berkata

“Jangan serahkan seluruh hidup kalian hanya untuk kami. Kalian butuh kebahagiaan dan lanjutkanlah sekolah kalian.”

Tapi itu tidak akan mungkin mengingat status kami yg sangat berbeda jauh. Aku adalah seorang idol yg di latih untuk menghibur para fans kami dan mereka adalah fans yg harus berada di dekat kami untuk memberikan semangatnya. Kadang aku merasa, ini sangat melelahkan.

Lamunanku seketika buyar saat Sehun dan Chanyeol datang dan menepuk pundakku. Rasanya sangat sakit karena kedua bocah ini menepuk dengan sangat keras.

“Kau sedang apa, Baekhyunie ?” Tanya Chanyeol dengan senyum bodohnya setiap saat yg kadang membuatku muak melihatnya.

“Ya! Apa kalian tidak bisa sehari saja tidak menggangguku ? Aku lelah dan ingin istirahat sekarang.”

Aku sedikit berteriak ke arah mereka membuat kedua pria dengan tinggi yg melebihi kapasitas itu saling menatap bingung. Jujur hari ini aku begitu lelah, ingin sekali aku cepat sampai di dorm dan melakukan ritual yg begitu jarang aku lakukan saat menjadi seorang idol yg kesibukannya melebihi pekerjaan ayah dan ibu dulu. Tidur. Aku hanya butuh itu sekarang dan rasanya untuk saat ini itu sangat susah di jangkau.

“Hyung.. Apa kau sakit ? Kau tidak terlihat sehat hari ini.”

Sehun menyentuh keningku sesaat. Kulirik mereka berdua yg masih terdiam di sampingku dan tersenyum lembut ke arahnya. Wajah mereka tersirat kekhawatiran di dalamnya. Aku tidak bisa melihat mereka seperti itu. Sungguh aku baik-baik saja sekarang.

“Aku hanya butuh tidur, Sehunie. Aku tidak sakit sungguh, tapi hanya sedikit lelah. Lampu-lampu tadi membuat mataku sedikit rusak! Blits camera dari para fans jg membuatku tidak tahan dan ingin sekali pergi dari sana sesegera mungkin!” Aku meyakinkan mereka membuat kedua pria tinggi itu mengangguk serempak seperti anak TK yg mengerti apa yg baru saja guru mereka jelaskan. Tapi anehnya, mereka langsung tertawa mendengar penjelasanku.

“Ya! Bukankah kekuatanmu adalah Cahaya, hyung. Bagaimana kau bisa tidak menyukai Cahaya ? Sepertinya staff salah memilihkanmu itu. Dan menurutku kekuatan yg cocok untukmu adalah kekuatan penyembuh dari Lay hyung. Bukan karena kekuatan penyembuhnya, tapi kau lebih mirip seperti kuda unicorn saat ini.”

Aku bangun dari tempat dudukku dan sedikit berjinjit lalu memukul puncak kepala Sehun dan kembali duduk dengan wajah yg sangat kesal. Kudengar ia hanya mengaduh kesakitan dan aku tidak peduli. Hey.. Berani sekali maknae itu padaku. Apa dia tidak tau, aku sedang tidak menyukai cahaya lampu saat ia bersinar di tempat yg benar-benar gelap, itu bisa merusak mataku dalam sekejap. Apalagi saat aku sedang lelah dan mengantuk.

“Kita akan ke Jepang seminggu lagi, Baek. Kau harus menyiapkan stamina mu untuk fanmeet terbesar disana nantinya. Aku tidak ingin mengecewakan para EXOFans disana.”

Kalimat Chanyeol seketika menjatuhkanku dari jurang yg teramat tinggi dan kembali pada kenyataan. Aku bahkan lupa hari bersejarah itu. Aku menepuk keningku pelan, waktu untuk beristirahat sepertinya tidak akan bisa kudapatkan. Aku mengangguk lemah saat Sehun dan Chanyeol merangkulku agar bangkit dari tempat dudukku saat ini. Mereka berdua memapahku seperti aku orang sakit yg tidak bisa berjalan. Senyum bodoh tak pernah hilang dari wajah mereka berdua.

“Ayo kita kembali ke dorm sekarang!”

Teriak Chanyeol semangat dan kami bertiga pun masuk ke dalam van yg sudah di tempati Kai dan D.O sebelumnya, mereka tertidur pulas sekali. Kurasa mereka juga sangat lelah sama sepertiku. Van kami belum berangkat berbeda dengan van yg di naikin EXO-M , kami masih menunggu Suho sang leader yg masih berkutat dengan beberapa staff di dalam sana.

Aku melemas kembali dan menyangga kepalaku di bahu Chanyeol. Mimpi buruk datang lagi saat Sehun dan Chanyeol kembali berteriak. “Baek.. Kau tau ? Chen akan memberitahukan sesuatu yg keren nantinya saat di dorm.”

Aku mendongak menatapnya “Apa ?” Tanyaku penasaran.

“Chen hyung baru saja bertemu dengan pemilik salah satu fansites terbesar miliknya. Dan dia bilang, pemiliknya adalah seorang gadis muda yg sangat cantik dan..” Sehun menghentikan kalimatnya membuatku semakin penasaran “Sangat kaya!”

Aku tidak bisa mengontrol mataku yg sudah membelalak lebar mendengar apa yg baru saja Sehun katakan. Dia bahkan menunjukkan padaku foto Chen bersama dengan seorang wanita yg memang.. Cantik saat pertama kau melihatnya.

“Kenapa bisa terjadi ?”

Sehun dan Chanyeol mengangkat bahu serempak, kemudian Chanyeol berkata lagi “Chen pernah mencari tahu tentang fansite-fansite yg aktif menyebarkan foto-foto dirinya di manapun ia berada. Dan ia menemukan satu yg terbesar. Ia juga melihat banyak sekali fotonya yg sedang menatap pada camera tersebut dan itu adalah eyecontact yg paling terkenal di kalangan para fans. Dan entah takdir atau apa ia akhirnya bertemu dengan fans itu dan berfoto bersama. Bahkan Chen memuji caranya mengambil gambar. Tepat sasaran dan Chen selalu memberikan eyecontactnya.”

“Eyecontact adalah saat dimana kau selalu menatap ke satu camera di antara ratusan bahkan ribuan camera yg sedang mengambil gambarmu. Entah kenapa kau selalu ingin memberikan tatapanmu padanya walaupun kau tidak tau sebenarnya siapa dia. Apakah dia benar fans setiamu atau hanya para paparazzi semata. Kau bahkan dengan cepat bisa mencari keberadaannya di antara ribuan camera di hadapanmu. Hanya beberapa lucky fans yg mendapatkan itu.” Sehun menambahkan membuatku semakin penasaran. Aku juga ingin seperti Chen. Masalahnya, apa aku punya fans seperti itu ? Aku bahkan tidak tau pada siapa aku selalu memberikan tatapan mata ini.

.

.

.

Malam harinya saat tertidur, aku sekamar dengan Chen. Biasanya teman sekamarku adalah Chanyeol dan entah kenapa ia ingin sekali pindah dengan Kris dan aku berakhir bersama Chen saat ini. Aku masih memingat kata-kata Sehun dan Chanyeol di van tadi dan berpikir untuk menanyakannya pada Chen. Aku menyembulkan kepalaku dari selimut, kulihat di seberang ranjang Chen masih sibuk memainkan ponselnya dan belum tertidur. Dengan rasa penasaran yg teramat tinggi, aku akhirnya memberanikan diri memanggilnya.

“Chen-ah..”

“Mwo ?”

Ia terkejut bukan main saat aku memanggilnya. Ia segera menghidupkan lampu kamar dengan nafas memburu seperti sehabis melihat hantu saja. “Kenapa Baekhyunie ?”

Aku menghela nafas panjang dan menatapnya penuh harap “Kau bisa membantuku..” Aku sedikit menjeda kalimatku membuatnya memiringkan kepala menatapku “Ngg.. Mencari fansiteku seperti kau.. Yang..”

Chen tersenyum sambil mengangguk. Aku memaki diriku dalam hati. Kenapa aku bisa secanggung ini dan itu dengan Chen sendiri. Chen seperti tahu apa yg sedang aku bicarakan tadi, saat ini tiba-tiba mengambil laptopnya dan menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Aku hanya diam dan menurut saja apa yg akan dia lakukan.

Ia membuka google dengan keyword ‘EXO Baekhyun fansites’ dan muncullah banyak artikel tentangku berisi foto-fotoku dengan berbagai pose. Aku sedikit kaget dengan semua itu. Aku bahkan tidak menyadari selama ini, mereka banyak sekali. Chen mulai membuka salah satunya, terletak di paling atas pencaharian dan mempunyai views paling banyak.

“Polarlight”

Aku kembali mengerutkan kening saat mendengar kata yg di ucapkan Chen. Mataku fokus menatap pada layar yg ada di hadapanku. Website yg dibuka Chen sungguh menarik perhatianku. Banyak. Sangat banyak foto-fotoku disana. Dalam berbagai pose, di berbagai tempat dan eyecontact.. Banyak terdapat eyecontact di foto-foto itu yg aku berikan.

“Polarlight. Fansites itu resmi dibuka beberapa bulan yg lalu tapi ia memiliki foto-fotomu sejak MAMA era dan bisa kau lihat, itu semua bahkan sudah mencapai ribuan foto hasil bidikannya.” Aku mendnegar dengan seksama apa yg Chen jelaskan tentang Polarlight itu.

“Banyak fans yg mencari fotomu lewat dia. Dan sampai sekarang tidak ada yg tau siapa Polarlight itu sebenarnya. Yang jelas dia sangat pandai dalam hal fotografer, bisa kau lihat lagi Baek.. Aku menyukai setiap eyecontact yg kau berikan untuknya! Wah.. Jika aku di posisinya aku mungkin adalah orang paling beruntung di dunia.”

Aku tersenyum kecut mendengarnya. Kuteliti lagi setiap foto-foto itu. Aku tersenyum saat berhenti di salah satu foto, aku sedang mempoutkan bibirku dan menatapnya. Aneh. Hampir semua foto itu aku selalu menatapnya. Menatap lensa camera yg aku tidak tahu siapa yg ada di baliknya. Aku juga tidak tahu sejak kapan aku memperhatikan lensa-lensa itu dan dia selalu mendapatkan objek yg pas saat aku menatapnya. Aku makin penasaran. Siapa Polarlight itu sebenarnya. Apa dia seorang wanita ? Atau pria ? Apa dia cantik ? Apa dia kaya ? Dan satu lagi apakah besar cintanya padaku hingga ia rela mengikutiku kemanapun aku berada dan selalu mengambil setiap moment yg aku lakukan dan mengabadikannya pada sebuah gambar atau foto.

Kudengar Chen menguap dan tanpa sadar ia tertidur. Aku tidak berniat untuk mengikuti jejaknya dan semakin menscroll ke bawah lagi dan lagi. Padahal jujur aku sangat sangat mengantuk, tapi rasa penasaran yg besar menghancurkan semuanya. Aku menangkap sesuatu yg sangat menarik, di pojok web aku melihat sebuah logo. Logo Polarlight yg sangat simple dan berkesan bagi yg melihat. Terdapat beberapa tulisan dan angka di dekat tulisan ‘Polarlight’ seperti ‘More precious than’ serta sebuah angka yg terlihat seperti tanggal lahirku ‘920506’. Dan begitu aku melihat sebuah tulisan di bawah logo itu aku tersenyum kembali.

“Terimakasih Byun Baekhyun, karena kau selalu memberikan tatapanmu padaku.”

~Story of Polarlight~

 

Seminggu lebih telah berlalu. Sekarang kami para member EXO telah berangkat menuju Jepang dan akan melakukan fanmeeting pertama kami yg terbesar. Aku selalu, setiap saat bahkan mengecek fansites Polarlight dan selalu menatap takjub setelah halaman awal terbuka. Orang itu tak pernah absen mengambil setiap fotoku, foto terakhirnya adalah saat kami berada di bandara Incheon dan akan terbang menuju Jepang. Ia masih sempat mengambil gambarku ketika pikiran lain muncul. Apa dia akan pergi ke Jepang juga ?

Lamunanku hilang saat Chen mengambil tempat duduk di sebelahku. Ia menoleh padaku lalu tersenyum penuh arti. “Kau sudah mengetahui siapa Polarlight itu ?”

Aku menggeleng pelan dan terus ngescroll layar ponsel dan tetap fokus menatap foto-fotoku sendiri yg Hey.. Aku sendiri merasa bosan dengan diriku, tapi kenapa para fans tidak ? Ada sedikit rasa bangga yg menyelimuti diriku. Ternyata aku juga mempunyai fans fanatik seperti Chen, bukan satu tapi banyak dan salah satunya Polarlight ini. Baru saja Chen akan tidur di tempatnya, ia berkata lagi.

“Jika dia beruntung, dia akan bertemu nantinya denganmu. Fans seperti itu tidak akan pernah jauh dari idolanya.” Dan aku membenarkan ucapan Chen tadi.

.

.

.

Setelah berjam-jam berlalu. Setelah semua persiapan telah matang. Fanmeeting pun di mulai. Baru kali ini EXO mengadakan fanmeet sebesar dan semeriah ini. Fans Jepang menyambut kami begitu antusias dan kami sangat berterimakasih untuk itu. Setelah konser fanmeet berlangsung sekitar 2 jam atau lebih aku tidak tau, kami mengadakan sesi tanda tangan untuk seluruh fans yg datang menonton. Oh.. Sungguh beruntung mereka saat ini.

Saat ada seorang fans wanita meminta tanda tangan padaku. Kulihat tangannya bergetar. Aku mendongak menatapnya tapi rambut panjangnya menutupi setengah wajahnya. Saat kulihat lebih detail, kacamata yg ia pakai berembun. Apa dia menangis ?

“Kau baik-baik saja ?” Aku bertanya memastikan keadaannya yg entah kenapa aku ingin sekali bertanya.

“A-Aku baik-baik saja.” Katanya tergagap dan aku hanya mengangguk. Aku kembali melirik ke arah camera DSLR berwarna putih miliknya, ada satu hal yg membuatku sedikit shock saat melihat sesuatu tertempel, seperti stiker di camera miliknya. Aku perhatikan lagi, itu stiker Polarlight.

Ia dengan cepat mengambil foto yg berisi tanda tanganku dan pergi tanpa mengucapkan salam apapun. Aku ingin sekali bangun dan mengejarnya tapi fans lain seperti gila dan menahanku untuk tetap diam. Apa dia Polarlight ? Apa dia Polarlight selama ini ?

.

Aku berjalan dengan gontai menuju belakang gedung untuk pergi ke kamar kecil disana. Walaupun itu untuk staff dan pengunjung tapi aku sudah tidak tahan lagi dan ingin cepat-cepat mengeluarkan sesuatu yg mengganggu saat ini. Saat hendak masuk, aku mendengar suara tangisan seorang wanita tak jauh dari sana. Aku merinding seketika berharap itu bukan hantu atau sadako yg tiba-tiba muncul dan menghantuiku. Tapi suara tangisan itu semakin terdengar jelas dan membuatku penasaran.

Aku berjalan sedikit dan mengintip dari sebelah tembok dan mendapati seorang gadis tengah duduk sambil menangis menutupi wajahnya. Ada perasaan lega karena itu bukan hantu atau sadako yg tadi sempat membuatku takut. Aku ingin mendekatinya tapi air seni menyebalkan ini terus menerus berdemo untuk di keluarkan. Dengan terpaksa aku meninggalkan gadis malang yg menangis itu dan masuk ke dalam kamar mandi.

Baekhyun POV End

 

-***-

 

Stephanie tak henti-hentinya menangis dan terus menutupi matanya. Kacamatanya yg berembun di lepaskan dan ia buang entah kemana. Saat ini ia sedang memikirkan matanya, kedua matanya tak sengaja terkena asap dari kembang api saat konser fanmeet EXO berlangsung tadi dan itu membuatnya sakit dan sangat perih hingga sekarang. Air mata tak henti-hentinya mengalir dan membasahi wajahnya. Untuk berjalan saja ia sudah tidak mampu lagi karena pandangan sebelah matanya memudar. Ia mencoba menelepon Jia yg menghilang saat konser tapi ponselnya mati.

Ia mencoba bangun. Menggantung kembali kamera berharganya dan berjalan dengan dinding sebagai tumpuan. Demi EXO, demi Baekhyun ia rela menghabiskan tabungannya yg tersisa sedikit untuk pergi ke Jepang bersama Jia. Dan semua itu seolah terganti oleh rasa sakit di matanya dan akhirnya bisa melihat Baekhyun dari jarak yg sangat dekat saat sesi tanda tangan tadi. Ia tak bisa menampik bagaimana bahagianya dia saat Baekhyun menanyakan keadaannya tadi. Ia takut. Ia terlalu gugup dan dia terlalu bahagia dan memaki kembali dirinya saat menjawab pertanyaan Baekhyun dengan bodohnya. Ia bisa saja mengabadikan hal itu dalam sebuah foto bahkan jarak sudah sangat dekat tapi kondisi matanya sudah tidak memungkinkan.

Ia mencoba berjalan dengan satu matanya yg masih terasa perih dan sakit itu. Ia harus kuat. Ia tak boleh kehilangan matanya yg hanya tersisa satu dan impiannya untuk memotret Baekhyun, mendapat pujian darinya bisa sirna saat itu juga. Ia kembali mengerjap dan menunduk saat melihat ada sepatu berada di hadapannya. Bukan sepatu.. tapi seseorang tengah berdiri di hadapannya.

Stephanie tercengang bukan main dan kembali mengucek satu matanya. Kali ini ia harus benar-benar melihat siapa orang yg ada di hadapannya ini. Dan sepertinya Tuhan sedang berpihak padanya saat tiba-tiba mata itu sudah tidak merasakan sakit dan perih lagi. Ia menangis lagi. Entah menangis haru bahagia atau menangis kesakitan. Saat Byun Baekhyun, seseorang yg begitu ia cintai selama ini berada di hadapannya.

Ia segera mengelap semua sisa air matanya dan berterimakasih pada tuhan untuk hal ini. Tuhan mengijinkannya bertemu Baekhyun dan melihatnya dengan jelas. Senyum bahagia tak pernah luntur dari wajah cantiknya. Dan Baekhyun juga tersenyum sambil menatapnya. Ia sedikit menjauhkan jarak antara mereka dan membungkuk dengan hormat pada Baekhyun.

“Annyeong haseyo Baekhyun oppa.” Sungguh Stephanie ingin sekali mengambil gambar moment ini dengan cameranya tapi tidak bisa. Tangannya berubah kaku dan terus berkeringat membuatnya enggan berbuat itu.

Baekhyun tersenyum dan mendekat ke arahnya. Stephanie sudah tidak bisa menahan degupan keras jantungnya saat tiba-tiba lagi, Baekhyun memegang camera yg berada dilehernya dan mengangkatnya tinggi-tinggi dan sedikit membuat Stephanie kesusahan untuk beberapa saat. Baekhyun menunjuk ke arah logo kebanggan Stephanie, Polarlight dan langsung membuat pria tampan itu tertawa seketika.

“Kau Polarlight itu bukan ?”

Ingin sekali Stephanie pingsan saat itu. Kenapa Baekhyun bisa tau tentang Polarlight dan kenapa dia bisa tau dia adalah orang di balik akun Polarlight itu ? Stephanie diam sesaat. Ia seketika membisu dan bingung harus berkata apa.

“Foto-foto mu bagus. Aku sangat menyukainya.” Itu yg Stephanie inginkan sejak dulu. Dimana Baekhyun memuji hasil bidikannya. Gadis itu menangis kembali dan membuat Baekhyun merasa bersalah karena itu.

“Kenapa kau menangis ? Uljima..” Stephanie tertawa sambil menangis menatap Baekhyun yg wajahnya terlihat merasa bersalah.

Stephanie menggeleng “Ma-Maafkan aku oppa. Hanya mataku sedikit perih, jadi sejak tadi aku menangis karena itu.” Kata Stephanie jujur membuat Baekhyun kembali bungkam.

Baekhyun kembali bertanya “Siapa namamu ?”

“Stephanie.” Jawab gadis itu semangat.

“Bolehkan aku melihat hasil fotomu ?” Dengan segera Stephanie melepas camera itu dari lehernya dan menyerahkan pada Baekhyun.

Baekhyun mengotak-atik hasil foto dari Stephanie “Kau berbakat dalam mengambil gambarku.” Pujinya lagi membuat gadis itu tersipu malu.

“Maaf jika ada hasil foto yg kurang bagus, karena..” Stephanie terdiam dan menunduk. “Karena apa ?” Tanya Baekhyun lagi penasaran.

“Aku mempunyai satu kekurangan. Aku hanya bisa melihat dan mengambil gambar dengan satu mataku.”

Baru saja Baekhyun ingin mengeluarkan suaranya, Stephanie lebih dulu memotongnya “Sebelah mataku cacat oppa.”

DEG!

Sengatan listrik menjalar di sekujur tubuh Baekhyun mendengar kenyataan itu. Ia menatap gadis yg sekarang terkekeh kecil di hadapannya ini dengan pandangan takjub dan iba. Ia melihat lagi, di pelupuk mata gadis itu telah tergenang air mata yg bersiap akan keluar. Tanpa diduga juga, Baekhyun memeluk Stephanie. Erat sangat erat dan mengelus lembut belakang kepalanya.

Stephanie menangis lagi. Entah keberapa kalinya ia merasa bahwa ia semakin cengeng sekarang. Ia mulai bingung untuk berkata dan berpikir. Semua seakaan mati rasa. Mungkin sekarang saatnya ia menghentikan semuanya. Tapi ia tidak bisa, ia telalu mencintai Baekhyun dan ia ingin terus menerus mengabadikan apa yg di lakukan pria itu dalam sebuah foto. Tapi Stephanie sudah mengalami titik terberatnya. Ia akhirnya lelah.

“Tetap cintai aku dengan sebelah matamu.” Baekhyun berkata “Aku akan selalu menunggu setiap hasil bidikanmu, Polarlight.”

“Terimakasih Baekhyun oppa.”

Hanya kata itu yg berhasil keluar dari mulut Stephanie. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya tangisan yg ia keluarkan.

“Aku ingin kau membuat seluruh fansku juga merasakannya. Kalian semua adalah orang-orang paling berarti dalam hidupku. Terimakasih juga sudah setia padaku. Terimakasih Stephanie, terimakasih Polarlight.”

.

.

.

.

-END-

Klik untuk membaca Sequel Story of Polarlight

 

Huwaa entah kenapa saya ingin sekali membuat ff dengan konsep Polarlight eonni. Karena baca ff kak Dira, karena foto-foto Polarlight eonni, karena eyecontact Baekhyun ke dia dan karena itu aku ngeship mereka ‘-‘ hoho

Mau ngucapin, terimakasih buat Polarlight eonni untuk foto-foto kece Baekhyunnya :* Tetep stalk Baeki ya eon 😉 Ini ff di dedikasikan untuk eon seorang /lebay/ Maaf jika ini absurd nya kebangetan -_- saya tau ini ff paling hancur yg pernah di buat 😥 Apalagi endingnya yg kacau sekali! Ahh maaf jika itu benar-benar buruk. Waktu nulis juga aku bingung gimana mau buat ending yg bagus tapi jadinya malah kacau begitu -,- Sebelumnya mau curhat /nggak!/ wkt kasus kris saya sangat membenci Polarlight karena dengan tidak merasa bersalah ngebash kris habis-habisan dan dengan tampang tak berdosa lagi dia bilang akunnya kena hack! Masih percaya gitu mbak ? Sory nggak! Tapi saya menghormati beliau karena ya klo bukan karena dya foto baekhyun gak pernah ada yg bagus-bagus kan ‘-‘ jadi saya ingin menjadi netral saja untuk PL eonni :’)

Saya tekankan lagi ini bukan real story, ini cuma ff biasa yg berasal dari imajinasi saya sendiri. Untuk semuanya, terimakasih sudah membaca dan jangan lupa tinggalkan komentar kalian ^^

Terimakasih juga untuk Rasyifa yg udh mau ngepost ff ini di FFIndo, thankyou chingu~! {}

Jangan lupa juga berkunjung ke blog pribadi saya disini ^^

XOXO~

 

51 responses to “[One shot] Story of Polarlight

  1. aku terharu sama perjuangannya stephani :’)
    ff ini kaya beneran loh thor, aku ngerasa si stephani itu kaya polarlight beneran.. dan dia dipeluk baekhyun pula, aahh mauu >v<
    bisa eyecontact-an sama sehun enak kali ya? T.T /ngarep/

  2. Pingback: [Oneshoot] True Love (Sequel Story of Polarlight) | AKG Wartz·

  3. Pingback: INTRO_RASYIFA | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s