Story Of My Love [Chapter 8 : Cinderella]

Previous :

Chapter 7

storyofmylove

SOML

— Chapter 8—

| Author: Shimmerlight |

Main Cast : Kim Soyun, Xi Luhan, Byun Baekhyun

Other Cast : Oh Sehun, Lee Minjung, Do Kyungsoo and EXO Members

Genre :  Romance, School Life, Family

Length: Chapter

Rating : PG-15

Disclaimer : Jalan cerita murni dari hasil imajinasi kami. Apabila ada kesamaan nama tokoh ataupun alur, itu ketidaksengajaan semata. Hargailah usaha author dengan memberikan komentar. Terimakasih 😀

SILENT READERS DIMOHON TIDAK MEMBACA.

© Shimmerlight 2014

“Kalau begitu, anggap saja aku seorang pangeran.”

Pemuda itu memberi isyarat pada Soyun untuk menyambut uluran tangannya.

“Karena hari ini, kau yang menjadi putrinya.”

***

Sehun mengetuk pintu flat Soyun dua kali, meneriakkan nama Soyun dan meminta gadis itu untuk membukakan pintu untuknya. Jarum jam kini membentuk sudut sembilan puluh derajat dengan jarum pendek yang menunjuk pada angka dua belas dan jarum panjang yang menunjuk angka tiga.

00:15

Bukan waktu yang sopan dan layak untuk bertamu, sebenarnya. Tapi Sehun tidak bisa menahan diri untuk menunggu pagi datang, ada banyak hal yang ingin ia ceritakan pada Soyun. Banyak yang harus Soyun ketahui, dan Sehun benar-benar tidak bisa menunggu.

Suara langkah kaki yang terdengar mengarah ke pintu—dengan sedikit berlari—membuat Sehun menghembuskan napasnya lega, karena ternyata sahabatnya itu belum terlelap.

Cklek.

“Ada apa, Oh Sehun, malam-malam begini kau—”

Sehun tidak mendengarkan. Begitu pintu terbuka, yang menjadi fokusnya adalah masuk ke dalam flat Soyun, duduk, dan menceritakan kejadian malam ini, atau mungkin semua yang belum gadis itu ketahui.

Soyun melirik Sehun heran, namun gadis itu tidak banyak bertanya dan segera menutup pintu, lalu mengikuti langkah Sehun masuk ke dalam flat-nya.

Sehun meletakkan barang bawaannya di lantai dan mulai mengeluarkan isinya satu persatu. Dua paket ayam goreng tepung dan dua botol soda ukuran tanggung. Ah, satu lagi, sebuah bungkusan berwarna cokelat, yang Sehun letakkan tepat di samping tempatnya duduk.

Hanya meletakkan, tanpa berniat memberitahu Soyun benda apa itu. Yah, setidaknya belum.

Sehun mempersilahkan Soyun untuk memakan makanan yang memang dibeli Sehun untuk mereka berdua, yang hanya dibalas oleh Soyun dengan anggukan kepala setengah hati—karena pikiran Soyun sekarang tertuju pada satu hal.

Bungkusan cokelat itu.

Sambil makan, Soyun berulang kali melirik bungkusan itu. Ia berusaha mati-matian untuk menahan rasa penasaran yang membuat otaknya kini sibuk berspekulasi tentang isi bungkusan itu.

Soyun menghela napasnya, tampaknya ia gagal menahan perasaannya, karena pada detik berikutnya Soyun mencolek paha Sehun, demi mendapat perhatian pemuda itu.

Dan bertanya, “Hei, apa isi bungkusan itu?”

Tangan Sehun yang hendak memasukkan potongan ayam ke mulutnya mendadak berhenti di udara. Kemudian pemuda itu menolehkan kepalanya, dan menatap Soyun.

“Aku baru saja hendak memberitahumu, tapi ternyata kau langsung menanyakannya.” Sehun terkekeh seraya melanjutkan memakan ayamnya, kemudian mengalihkan pergerakan tangannya untuk membuka botol soda miliknya. Dan setelah botol itu terbuka, Sehun langsung menenggaknya, hanya sekitar lima teguk, dan Sehun kembali meletakkan botol sodanya di lantai.

“Yah, aku tidak tahu harus memulai dari mana, tapi karena tampaknya kau penasaran dengan isi bungkusan ini…” Sehun mengambil bungkusan cokelat di samping tempatnya duduk dan bergerak membuka bungkusan itu. “…lebih baik mulai dari sini saja.”

Soyun mendengarkan Sehun yang sibuk mengoceh, sementara matanya sibuk mengawasi tangan Sehun yang tengah membuka bungkusan cokelat itu. Bungkusan terbuka, Soyun melirik ke arah benda cukup tebal yang kini Sehun angkat ke udara, kemudian membelalakkan matanya kala menyadari benda apa itu.

“Buku…belajar…bahasa isyarat…?” Soyun kini menyipitkan matanya dan mengerutkan keningnya heran. “Tapi…untuk apa, Oh Sehun?”

Sehun tertawa kecil. “Bagaimana menurutmu?” tanya Sehun pada Soyun, yang kini tengah memberinya tatapan bertanya. Namun Sehun berusaha mengabaikan tatapan itu, lalu meminta Soyun untuk memberikan perhatiannya, karena ia akan memulai ceritanya.

Beberapa cerita yang memang tidak—atau belum—ia ceritakan pada Soyun karena masalah waktu. Yah, kesibukan keduanya akhir-akhir ini membuat baik Soyun maupun Sehun jarang menghabiskan waktu bersama, selain di Viva Polo.

Soyun menurut, ia memberikan seluruh perhatiannya pada Sehun. Ia siap mendengar sahabatnya itu bercerita.

Pemuda Oh menghela napasnya panjang, sekali, kemudian ia mulai menuturkan semuanya dari awal; dari saat ia pertama kali bertemu dengan Fei, bagaimana awal ia berkenalan dengan Fei, hingga pertemuannya dengan Kris malam ini.

Apa yang Sehun dengar dari Kris malam ini ia akui membuat perasaannya kini campur aduk.

“Kris bilang, siang itu Fei pergi dari rumah dengan terburu-buru. Gadis itu bahkan tidak mengacuhkan Kris yang berulang kali memanggilnya dan menanyakan ia akan pergi kemana. Ia hanya mengirimi Kris pesan singkat yang mengatakan bahwa ia pergi dengan Park Minwoo, tunangannya.

Awalnya Kris tidak merasa aneh, namun lama-kelamaan ia mulai merasa cemas, karena Fei tidak kembali selama hampir seharian. Ia sudah berulang kali mencoba menghubungi ponsel adiknya itu, tapi ponselnya tidak aktif. Tampaknya Fei sengaja mematikannya.”

Kerongkongan Sehun terasa kering, jadi ia menjeda ceritanya dan mengambil botol minumannya lagi, menenggak isinya, hingga tersisa seperempatnya.

Soyun melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian menganggukkan kepalanya mengerti. “Ah…jadi Fei sudah bertunangan. Lalu, kenapa Kris tidak coba menghubungi Min—siapa namanya? Minwoo?”

Sehun meletakkan botolnya, kemudian melirik Soyun. “Tentu saja sudah. Tapi pemuda itu bilang bahwa ia sama sekali tidak bertemu Fei hari itu.”

“Kris bahkan mencari Fei ke seluruh tempat yang biasa gadis itu kunjungi, tetapi tetap, ia tidak menemukannya.” Sehun menghela napasnya berat. “Sesaat setelah ia kembali ke rumah, barulah Fei pulang. Menurut cerita Kris, keadaan Fei saat itu benar-benar kacau; bibirnya pucat, rambutnya berantakan, bajunya kotor, entahlah Kris sendiri bingung menceritakannya.

Gadis itu melenggang masuk ke kamarnya begitu saja, tanpa mempedulikan bagaimana khawatirnya Kris saat itu, sama sekali. Fei mengunci diri selama dua hari, menolak untuk berkomunikasi dengan siapapun, juga menolak untuk makan.”

Sehun melirik Soyun, memberi gadis itu tatapan yang sulit Soyun gambarkan. Yang berhasil Soyun tangkap hanya raut prihatin, raut yang sama dengan yang terpampang di wajahnya sekarang.

“Kau tahu, Kim Soyun? Selama dua hari ia mengurung dirinya di kamar, Kris—oh bahkan seisi rumah keluarga Wu—mendengar suara tangisan yang terdengar pilu, atau bahkan suara benda yang dibanting keras ke lantai. Terdengar mengerikan. Kris, Tuan Wu, bahkan para pelayan dan dokter sudah mencoba membujuk Fei, namun tidak ada satu pun yang berhasil. Sampai kemudian Kris yang putus asa memohon pada Nyonya Wu untuk pulang ke Korea, meninggalkan bisnisnya untuk putrinya, sebentar saja.

Dan, yah, benar saja. Setelah dibujuk oleh Ibunya, barulah Fei mau membuka pintu—itu pun harus menunggu panggilan kelima dan ketukan di pintu yang entah sudah keberapa kali.”

Wajah Sehun berubah serius, sangat serius. “Satu hal yang gadis itu sampaikan pada Nyonya Wu, sesaat setelah ia bertatap muka dengan Ibunya itu adalah, ia ingin memutuskan pertunangannya dengan Park Minwoo. Saat itu juga.”

Sehun hendak melanjutkan ceritanya, namun Soyun menahannya. “Tunggu, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Tidakkah kau merasa ada sesuatu yang aneh? Apa menurutmu Fei ingin bunuh diri waktu itu…karena tunangannya? Apakah Kris sempat menceritakan sesuatu, tentang apa yang sudah dilakukan tunangannya itu? Sesuatu yang buruk, mungkin?”

Sehun mengangkat kedua bahunya seraya menggeleng ragu. “Entahlah, aku juga sempat menanyakan hal itu pada Kris, namun ia bilang ia sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi saat itu, antara Fei dan tunangannya. Gadis itu tidak menceritakan apapun pada Kris. Kris hanya tahu bahwa ada sesuatu yang buruk, itu saja, karena pancaran mata Fei meredup, dan tampak terluka.”

Soyun membuang napasnya dengan menghembus panjang. Berusaha menetralkan kembali ketegangan dan raut prihatin yang berulang kali Soyun perlihatkan di wajahnya kala ia mendengarkan dengan seksama penuturan dari Sehun, raut yang sama dengan yang Sehun perlihatkan ketika mendengar langsung semua cerita itu dari Kris.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Soyun cepat. “Mendekatinya? Kau sudah yakin dengan perasaanmu? Jangan permainkan hatinya, Oh Sehun. Kalau kau belum yakin, kusarankan kau mundur sebelum kau—”

Sehun meletakkan buku itu di pangkuan Soyun dan menepukkan benda tersebut di paha Soyun sebanyak dua kali, bermaksud menekankan sesuatu, yang membuat Soyun terdiam dan tidak melanjutkan kalimatnya.

Soyun menghela napasnya, kemudian kembali membuka mulutnya.

“Jadi, kau meminjam buku itu dari perpustakaan daerah, agar kau bisa mempelajarinya dan berkomunikasi dengan Fei, begitu? Untuk pendekatan?” Soyun menaikkan sebelah alisnya tinggi. “Tidak cukupkah dengan…kertas dan pulpen seperti saat kau pertama kali berkenalan dengan Fei?”

Dan pertanyaan itu langsung disambut oleh Sehun dengan tawa kecil. “Aku pikir tidak ada yang salah dengan belajar bahasa isyarat, kan, Kim Soyun? Memahami keadaan orang-orang semacam Fei dengan mempelajari bahasa mereka kurasa adalah hal yang—”

“Kau benar-benar jatuh cinta pada Fei, ya, Tuan Oh?”

***

Baekhyun membuka matanya lebar-lebar, dan dengan cepat ia melirikkan indera pengelihatannya itu ke arah jam digital di meja belajarnya.

05:00

Pemuda Byun itu baru kembali dari rumah Jongin pada pukul tiga dini hari tadi, dan dengan ia yang terbangun pada jam lima tepat, maka waktu tidurnya hanya terhitung dua jam, kurang atau lebih.

Baekhyun berusaha memejamkan matanya lagi—secara perlahan, namun alam mimpi enggan menariknya untuk kembali dan membiarkannya terlelap.

Masih dengan posisi berbaring, Baekhyun mulai memutar otaknya untuk mencari tahu apa yang sebaiknya ia lakukan sekarang. Yah, dan akhirnya Baekhyun memutuskan untuk turun dari tempat tidurnya, lalu membiarkan kakinya melangkah kemana pun, menelusuri seisi rumah, mungkin?

Cklek.

Baekhyun melongokkan kepalanya keluar lewat celah pintu. Dan keadaan yang sepi dan gelap membuat bulu kuduk Baekhyun meremang seketika. Baekhyun menelan salivanya dengan susah payah.

“Apa aku harus turun ke bawah? Sepi begi—”

Kruuuuk

Baekhyun melirik perutnya dengan kening yang berkerut. Dan ketika perutnya itu membalas lirikan Baekhyun dengan berteriak sekali lagi, maka Baekhyun menghela napasnya dengan berat.

“Oh, sial.”

.

Tangan Baekhyun sibuk membolak-balik telur dadar yang kini tengah ia goreng di pan. Aroma mentega yang ia gunakan sebagai pengganti minyak membuat perutnya berbunyi kembali, yang kemudian mendapatkan makian singkat dari Baekhyun.

“Diamlah, sebentar lagi makanannya jadi.”

Dan begitulah Baekhyun, kembali sibuk menyiapkan sarapan paginya dengan masakan seadanya, sebisanya. Karena pemuda itu merasa tidak enak hati bila ia harus menyelinap ke kamar Bibi Han dan membangunkan wanita tua itu hanya untuk minta dibuatkan makanan pagi-pagi buta begini. Sungguh, Baekhyun tidak akan tega.

Baekhyun tersenyum kecil. Segera setelah telurnya—dirasa—matang, Baekhyun mematikan kompor dan memindahkan hasil masakannya itu ke piring, kemudian pemuda itu melengkapi piring sarapannya dengan dua potong roti dan keju.

Sambil membawa piringnya, Baekhyun melangkahkan kakinya besar-besar ke arah sofa di depan TV, ia berniat untuk menghabiskan sarapannya sambil menonton TV pagi ini.

Baekhyun meletakkan piringnya di atas meja untuk membebaskan tangannya mencari remote. Matanya kini sibuk mengedar ke sekeliling, yang kemudian ia hentikan di sudut meja. Dengan sebelah alis terangkat, Baekhyun menggerakkan tangannya untuk meraih remote, dan juga benda yang berada di sampingnya.

Kedua ujung bibir Baekhyun terangkat naik, pemuda itu tersenyum.

“Malam ini, ya, Kim Soyun.”

Begitu turun dari busway, Soyun langsung memerintahkan kakinya untuk berlari sekencang mungkin menuju sekolah yang—syukurnya—tidak berjarak jauh dari halte bus. Sebelum turun, ia  sempat mengecek jam tangannya, dan dengan jarum-jarumnya, benda itu menunjukkan pukul tujuh lewat tiga belas menit, dua menit sebelum bel dibunyikan.

Dalam hati, Soyun memaki Sehun berkali-kali. Gara-gara pemuda itu mengajaknya bercerita semalaman—dan baru berakhir sekitar pukul empat pagi, Soyun jadi terlambat bangun dan kini ia harus terburu-buru seperti ini. Yah, salahkan semua itu pada Oh Sehun.

.

Soyun menarik napas sebanyak-banyaknya, kemudian gadis itu menghembuskannya pelan-pelan. Ia sudah berlari, sejak dari halte sampai ke lantai dua. Dan kini ia lelah. Jadi Soyun memutuskan untuk mengambil napas sejenak sebelum melangkahkan kakinya menuju loker dan meletakkan barang-barangnya, lalu masuk ke kelas.

Soyun melirik jam tangannya lagi. Jam tujuh lebih seperempat, tepat. Saat itu lah bel tanda masuk berbunyi dengan nyaring, yang membuat Soyun kemudian menghembuskan napasnya lega. Setidaknya ia sekarang sudah berada di dalam lingkungan sekolah, ia aman.

Merasa cukup beristirahat, Soyun menegakkan tubuhnya yang sempat ia sandarkan pada tembok dan mulai melangkahkan kakinya kembali. Namun, belum jauh ia melangkah, Soyun harus segera menghentikannya, karena akses-nya menuju ke loker kini tertutup.

Tertutup oleh banyaknya orang yang sibuk bergerombol di depan papan majalah dinding sekolah, dan berbicara tentang sesuatu yang tertera di papan tersebut. Entah apa itu.

Soyun yang tampak tertarik kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat.

“Akan ada pesta yang diselenggarakan oleh Bs Corporation nanti malam. Kau tahu, kan?” ujar salah satu siswi yang berada paling dekat dengan Soyun, yang kemudian membuat Soyun menatap gadis itu, menunggu gadis itu melanjutkan penuturannya.

“Pembangunan hotel mereka sukses, dan selesai lebih cepat dari yang diperkirakan. Jadi acara nanti malam akan diadakan dengan cukup mewah. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa hadir…”

Dan yah, Soyun tidak lagi mendengarkan.

Pesta, orang kaya raya, harta, dan segala sesuatu yang mewah bukanlah gayanya. Mendengarnya pun membuat Soyun merasa sedikit muak.

Jadi tanpa mendengar kelanjutannya, Soyun memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

Soyun duduk sendiri, di sudut cafeteria, tempat dimana ia biasa menghabiskan jatah makan siangnya bersama Minjung. Yah, ia sendirian. Soyun sudah mencoba mengajak gadis Lee itu tadi, tapi ia menolak, dengan alasan tidak lapar.

Dan Soyun tentu tidak bisa memaksa Minjung kalau gadis itu sudah berkata begitu. Tidak lapar lalu dipaksa makan? Ia sendiri pun enggan.

Gadis Kim itu tengah sibuk mengunyah makanannya, ketika tiba-tiba ponselnya bergetar.

Ada pesan masuk.

From : Byun Baekhyun

Setelah bel pulang, tunggu aku di depan sekolah.

Soyun menarik kedua ujung bibirnya naik, sedikit, membentuk senyuman kecil. Entah mengapa hatinya terasa sedikit hangat kala ia membaca rangkaian kata yang berisikan sebuah janji bertemu, dari seorang Byun Baekhyun.

Dengan senyum yang masih terpampang di wajah manisnya, Soyun memasukkan ponselnya ke dalam saku rok seragamnya, dan segera menghabiskan makan siangnya, karena sebentar lagi bel akan berbunyi—bel tanda sekolah berakhir, bel pulang.

Soyun memperlebar senyumnya, seraya mengingat janji mereka itu di dalam hati.

Baekhyun melirik jam di atas papan tulis. Sudah lima belas menit berlalu dan ia masih belum bisa menyelesaikan tugas piketnya dengan cepat.

Pemuda Byun itu melakukan pekerjaannya dengan gelisah, otaknya sibuk memikirkan gadis yang—mungkin saja—tengah menunggunya di depan sekolah, seperti yang mereka janjikan.

Ingin sekali Baekhyun mengabari Soyun tentang tugas piketnya, namun bila ia melakukan itu, maka waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya akan terulur panjang, dan tidak selesai nantinya. Karena bukannya fokus, bisa dipastikan dirinya akan sibuk dengan ponselnya.

Jadi Baekhyun mengurungkan niatnya itu dan melanjutkan kembali pekerjaannya.

“Ayo cepat, Byun Baekhyun. Kim Soyun pasti sudah menunggumu.”

.

Soyun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan mendengus kesal. Pasalnya, sudah belasan—bahkan mungkin puluhan menit—ia menunggu pemuda itu untuk menampakkan batang hidungnya, atau minimal mengabarinya tentang keterlambatan ini.

Beserta alasannya.

Dan, yah, menunggu memanglah sebuah pekerjaan yang paling dibenci oleh kebanyakan orang.

Soyun hendak mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Baekhyun. Namun gadis itu segera menahan pergerakannya, ketika sebuah tangan menarik lengannya dengan kuat.

Dengan cepat Soyun menolehkan kepalanya untuk menatap orang tersebut.

Mata Soyun membelalak lebar, kala menyadari siapa yang menariknya, siapa pemuda itu.

Pemuda berwajah tampan yang menjadi favorit-nya di sekolah ini. Pemuda tampan bintang sekolah, ketua osis, kebanggaan semua orang.

Luhan. Xi Luhan.

Susunbae?” panggil Soyun pelan, yang kemudian sukses membuat Luhan menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh menatap Soyun.

“Ikuti saja aku, dan jangan banyak tanya. Oke?” ujar pemuda berwajah tampan itu seraya tersenyum manis.

Senyum yang akhirnya membuat Soyun luluh dan menganggukkan kepalanya mengiyakan.

Baekhyun mengerang kesal. Kini ia sudah berada di depan sekolah—seperti yang dijanjikan sebelumnya—dan menunggu hampir satu jam lamanya. Namun Baekhyun tidak melihat gadis Kim itu sama sekali, bahkan batang hidungnya pun tidak.

Kemana gadis itu?

Baekhyun sudah berulang kali mencoba menghubungi gadis itu via telepon, namun tidak satu pun panggilannya yang tersambung; berada di luar jangkauan, tidak aktif.

Dan, oh, tiba-tiba Baekhyun terpikirkan sesuatu.

Tetapi dengan segera ia menepis pikirannya dengan menggelengkan kepalanya keras-keras. Pemuda itu berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ia pikirkan salah. Dan tidak mungkin.

“Tidak. Dia tidak bersama Luhan hyung.”

“Sudah dapat? Gaun mana yang kau suka?” tanya Luhan tiba-tiba, membuat Soyun terkaget dan sontak membalikkan tubuhnya.

Dan, wow.

Tubuh Luhan yang proporsional, dibalut dengan kemeja putih polos dan dasi hitam yang ia kenakan di lehernya. Di tangannya, Luhan menenteng tuxedo hitam yang tampaknya akan membuat pemuda itu tampak sempurna ketika mengenakannya.

“Soyun?”

Dan, well, panggilan Luhan barusan menyadarkan Soyun dari lamunannya, membuat Soyun sontak mengangkat kepalanya yang tanpa sengaja tertunduk dan kembali menatap wajah Luhan. “Oh, maaf, aku tidak mendengarkan.”

Luhan menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian bergerak maju, mendekati Soyun. “Bagaimana penampilanku? Apakah aku sudah tampan?” tanya Luhan polos. “Kuharap kau memberikan penilaian paling jujur, karena aku sudah berjanji pada Ayah untuk datang dengan penampilan terbaikku.”

Soyun mengangkat kedua alisnya tinggi. “Jadi ini untuk dikenakan ke pesta pembukaan hotel Bs Corporation yang baru?”

Luhan mengangguk seraya membenarkan posisi dasinya.

“Kau mengajakku kemari untuk membantumu memilih pakaian yang tepat digunakan ke pesta itu? Lalu untuk apa aku memilih gaun…?”

Luhan meletakkan tangannya di atas pundak Soyun seraya melemparkan senyum menenangkan, khas Luhan. “Sederhana saja, jadi aku ingin kau menemaniku ke acara tersebut. Yah, bisa dibilang menjadi pendampingku. Bukankah akan lebih lengkap jika aku menghadiri pesta dengan membawa gadisku?” Luhan mengerling pada Soyun. “Bukan begitu, Nona?”

Gadisnya?

Oh pemuda ini pasti sedang bercanda.

Soyun membelalakkan matanya dan menggeleng pelan. “Tidak, tidak, aku tidak mengerti. Ini pestamu, pesta perusahaan keluargamu…lalu untuk apa kau mengajakku?” Soyun menjeda kalimatnya dengan menghela napas panjang, sebelum kembali menatap pemuda itu dengan serius. “Dengarkan aku. Kau adalah Luhan, putra direktur sekolah sekaligus pemilik perusahaan sebesar Bs Corporation. Sedangkan aku? Aku ini hanya—yah, kita tidak sebanding, Lu. Sungguh.”

Luhan mendecakkan lidahnya. “Apa yang kau bicarakan? Hei, semua orang boleh datang, bukan hanya—”

“Para gadis yang sibuk mengoceh di depan papan pengumuman mengatakan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang boleh datang. Jangan berbohong begitu, aku juga tidak berharap hadir disana. Level kita begitu jauh, Luhan, kita—”

“Dan kau mempercayai mereka? Ayolah, pestanya tidak seburuk yang kau pikirkan, Kim Soyun. Ayah bahkan sudah menyiapkan jamuan makan malam spesial untuk para undangan, untukmu. Aku sudah membicarakan ini dengan Ayah dan Ibu, mereka sama sekali tidak keberatan aku membawamu ke pestanya. Aku jamin, kau akan menikmatinya, Kim Soyun.”

Soyun menggeleng. “Tidak, bukan masalah itu, aku hanya takut—”

Luhan menangkup wajah Soyun dengan kedua tangannya. Membuat manik keduanya bertemu dalam jarak yang cukup dekat. “Apa yang kau takutkan? Aku bersamamu, Soyun.”

Dan, oh, Soyun mati kutu. Jantungnya berdegup kencang, tidak beraturan, dan wajahnya…oh Tuhan Soyun yakin wajahnya pasti memerah sekarang.

“Tapi, aku…aku—”

“Tetaplah di sisiku, dan kau akan aman.”

Baekhyun mencoba kembali peruntungannya. Ia mencoba menghubungi ponsel Soyun sekali lagi, berharap yang satu ini tersambung dan diangkat.

TUUUUTTT…

Baekhyun tersenyum kecil.

The number youre calling—”

“Ah sial! Dimana kau? Kenapa ponselmu tidak aktif?” Baekhyun berteriak di dalam mobilnya, seraya mengacak rambutnya kesal.

Ia  terus saja mengomel, memaki-maki Kim Soyun yang mengingkari janji, dan bergumam tidak jelas. Sampai akhirnya ia teringat akan sesuatu—lebih tepatnya, seseorang.

Oh Sehun.

Buru-buru Baekhyun mencari kontak Sehun dalam daftar kontaknya, dan dengan segera menyambungkannya.

TUUUUT…

Halo?

Baekhyun tersenyum lega.

“Oh, halo. Hei, dimana kau sekarang? Apa Soyun sudah pulang?”

Soyun menatap refleksi dirinya di depan cermin seukuran tubuh, memperhatikan penampilannya, serta detail dress yang ia gunakan. Dress tersebut tidak terlalu pendek, setidaknya hanya beberapa senti di atas lutut. Sederhana, namun tampak elegan dikenakan oleh tubuhnya.

“Ternyata kau memang cocok dengan warna biru.” Luhan muncul secara tiba-tiba dari belakang, kemudian pemuda itu meletakkan kedua tangannya di pundak Soyun. “Kalau boleh jujur, kau terlihat cantik sekali sekarang—berkali-kali lipat lebih cantik daripada biasanya.” Puji pemuda itu, pujian yang tentu saja membuat Soyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengembangkan senyum di wajahnya, lebar, dan pipinya pun kini merona merah.

“Terima kasih, tapi tolong jangan berlebihan begitu, Lu.”

Gadis Kim itu menatap lurus cermin di depannya, yang kini memantulkan refleksi dirinya, berdua dengan Luhan yang masih setia memegangi pundaknya—membuat rasa hangat dari tangan pemuda itu tersalurkan, menjalar ke seluruh tubuh Soyun, membuat gadis itu merasa nyaman.

“Sebenarnya aku malas untuk jujur, tapi kau tampan mengenakan tuxedo seperti itu.” Soyun balas memuji Luhan. Kemudian gadis itu membalikkan tubuhnya, menatap Luhan, ingin memperhatikan wajah pemuda itu dengan lebih detail.

Tampan. Sangat tampan. Dengan rambut yang ditata rapi, tuxedo hitam yang membalut tubuh proporsional miliknya, dan…oh entahlah, he looks perfect.

Luhan serta merta tersenyum, tampak menggoda. “Hmm? Apa barusan aku mendengar sebuah pujian? Coba ulangi sekali lagi.”

Soyun melirik Luhan dengan sebelah alis yang terangkat tinggi. Kemudian gadis itu mengangkat jari telunjuknya ke udara, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. “Maaf Tuan Lu, tidak ada pengulangan.”

Luhan menatap gadis di hadapannya, kemudian tertawa—yang kemudian disusul oleh Soyun yang ikut tertawa bersamanya. Entah, menurutnya gadis itu lucu, manis. Dan ketika gadis itu menggodanya dengan mengatakan bahwa pujian itu tidak bisa diulangi, Luhan merasa gemas.

Yah, tampaknya ia jatuh semakin dalam pada pesona gadis itu; pada pesona seorang Kim Soyun.

Hingga akhirnya tawa keduanya mereda, lalu terciptalah atmosfer canggung di antara mereka berdua.

“Mmm…” Soyun bergumam, memecah kecanggungan mereka dengan mengeluarkan suara bervolume kecil yang membuat Luhan menatap Soyun lagi.

“Ada apa?” tanyanya lembut, yang kemudian mendapatkan balasan senyum dari Soyun.

Gadis Kim itu mengalihkan pandangannya ke arah dada Luhan, “Tidak, ini…dasimu.” Dan Soyun segera menggerakkan tangannya untuk bermain di sekitar dasi Luhan, memperbaiki letak dan bentuk dasi pemuda itu—yang tadinya ia rasa kurang pas.

Dan, yah, Luhan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum kala mendapat perlakuan yang manis dari gadis di hadapannya itu.

“Terima kasih.”

Soyun melirik Luhan sekilas, kemudian kembali menurunkan pandangannya.

“Sama-sama.” balas Soyun seraya tersenyum malu. Jujur saja, ia sendiri tak habis pikir, dari mana ia mendapat keberanian seperti itu—memperbaiki dasi Luhan? Oh ayolah, yang barusan itu ia pasti terlihat seperti pekerjaan seorang istri di pagi hari—yang ada di drama-drama, bukan?

Oh, dan Soyun mengutuk otaknya yang berusaha merealisasikan adegan di drama-drama itu dalam kehidupannya.

Melihat gadisnya tampak malu-malu dan salah tingkah, Luhan justru semakin memperlebar senyumnya. Dan untuk memecah keheningan yang tiba-tiba menyelimuti, pemuda itu kemudian memegang pundak Soyun dan membalikkannya, kembali menatap cermin.

“Lihatlah, kita berdua tampak serasi.” Luhan melirik gaun yang Soyun gunakan, tampak menilai. “Karena kau terlihat sangat cantik dengan warna biru itu, haruskah aku mengganti kemejaku dengan warna yang senada?”

Luhan mendekatkan bibirnya ke telinga Soyun, dan berbisik di sana, “Agar kita tampak seperti pasangan sungguhan.”

Soyun melebarkan matanya—terkejut, ia pun tanpa sadar menahan napasnya. Ritme degupan jantungnya tidak jelas, tidak beraturan. Dan, oh, wajahnya…entah sudah seperti apa sekarang.

Jadi gadis itu segera menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikannya.

Ia salah tingkah.

Oh, pemuda itu. Sial, mana boleh ia berkata begitu? Tidakkah ia tahu bahwa jantung ini tidak siap? Tidakkah ia—

“Benarkah jarak tinggi tubuh kita sejauh ini?” tanya Luhan tiba-tiba, membuat Soyun yang tengah sibuk dengan pikirannya—yang sedang memaki Luhan—sontak menolehkan kepalanya pada Luhan, dan mengikuti arah pandang pemuda itu ke cermin di hadapan mereka.

Luhan menunjuk bagian paling atas kepala Soyun, yang dalam cermin ternyata hanya setinggi lehernya. Dan, well, Soyun cukup kaget. Karena yang ia tahu, tinggi-nya sudah mencapai telinga Luhan.

Soyun mengerutkan keningnya. ‘Sial, masa tubuhku ini menciut?

Soyun melirik Luhan, dan ternyata pemuda itu juga tengah menatapnya. Dari ujung rambut, sampai ujung kaki, lagi-lagi dengan tatapan menilai itu. Tatapan yang membuat Soyun merasa agak risih.

“Luhan—”

“Ah, kau lupa sepatumu. Pantas saja kau terlihat pendek.” Luhan menunjuk ke kakinya sendiri. “Lihat, aku sudah mengenakan sepatu dengan sol yang cukup tinggi, sementara kau bertelanjang kaki seperti itu.”

Pemuda itu tersenyum lembut, kemudian menarik tangan Soyun dalam genggamannya. “Ayo, kubantu kau memilih sepatumu.”

.

“Kau suka model yang itu?”

Pertanyaan dari Luhan membuat Soyun—dan pramuniaga yang berdiri disamping Soyun—sontak menoleh pada Luhan. Kemudian Soyun menganggukkan kepalanya yakin.

“Aku suka modelnya,” Soyun mengambil sepatu yang dibawa pramuniaga itu dan membawanya ke sebuah bangku untuk mencoba mengenakannya. “Bagus, kan?”

Luhan mengangguk tanda setuju. Pemuda itu lalu berjalan mengikuti Soyun. “Bagus, aku rasa itu cocok untukmu.”

Soyun segera duduk di bangku yang ditunjuk oleh pramuniaga dengan marga Yoo di nametag-nya, dan hendak mencoba sepatu pilihannya. Ia cukup kaget ketika Luhan dengan tiba-tiba menekuk kakinya dan bersimpuh di depan Soyun, mencoba membantu Soyun mengenakan sepatunya.

“Hei, apa yang kau lakukan?” tanya Soyun dengan nada yang terdengar sedikit panik. Ya, panik. Bagaimana tidak? Luhan sudah cukup mempermainkan ritme jantungnya hari ini, dan pemuda itu lagi-lagi melakukan hal aneh yang romantis namun…yah, Soyun hanya tidak siap.

Luhan menatap Soyun sekilas, tertawa ketika melihat raut panik di wajah gadis itu.

“Aku hanya ingin memakaikan sepatu itu untukmu.” jawab Luhan santai. Ia memegang kaki Soyun dengan tangan kiri dan sepatu pilihan Soyun dengan tangan kanan, lalu memberi isyarat pada gadis Kim itu untuk memasukkan kakinya ke dalam sepatu.

Oh, jawaban macam itu lagi.

Soyun menggeleng cepat. “Tidak perlu, aku bisa memakainya sendiri, Luhan.” balas Soyun seraya menarik kakinya yang Luhan pegang.

Luhan memasang wajah tidak terima. “Tapi aku ingin melakukannya, Kim Soyun. Memangnya ada yang salah dari itu?”

“Ti-tidak, hanya saja—”

Belum sempat Soyun menyelesaikan kalimatnya, Luhan sudah lebih dulu menarik kembali kaki Soyun dan langsung memakaikan sepatu itu. Luhan melakukannya dengan cepat, agar ia tidak lagi mendengar penolakan.

Dan yang bisa Soyun lakukan hanya diam, memperhatikan Luhan yang tampak dengan senang hati memakaikannya sepatu. Ada sesuatu di dalam hatinya, yang membuat gadis itu merasa hangat dan geli, sesuatu yang rasanya menyenangkan.

Yang akhirnya membuat Soyun tersenyum lebar, dan tanpa sadar membiarkan tawanya lolos.

“Lihat dirimu, Luhan. Sekarang kau terlihat seperti pangeran-pangeran dalam dongeng.” ujar Soyun di sela tawanya.

Mendengar itu, Luhan mengangkat wajahnya. “Benarkah?” tanya pemuda itu, yang kemudian ia sambung dengan tawa. “Kurasa aku jauh lebih tampan dan menawan dibanding mereka.” ujarnya dengan penuh percaya diri.

Soyun mendengus. “Percaya diri sekali kau, Lu. Aku kan bilang kau ‘terlihat’ seperti pangeran-pangeran itu, bukan berarti kau pangeran sungguhan.”

Luhan menaikkan kedua alisnya tinggi. “Begitukah? Sayang sekali.”

Detik berikutnya pemuda itu menjentikkan jarinya, seolah baru mendapat ide baru. Lalu ia menyodorkan telapak tangannya pada Soyun. “Kalau begitu, anggap saja aku seorang pangeran.”

Luhan memberi isyarat pada Soyun untuk menyambut uluran tangannya.

“Karena hari ini, kau yang menjadi putrinya.”

Di tempat yang berbeda, Baekhyun mencoba mengenakan tuxedo-nya dengan wajah ditekuk, tampak tidak sedang dalam mood yang bagus. Ia terus memasang raut wajah itu sejak ia keluar dari gerbang sekolah sendirian, tanpa Soyun yang ‘seharusnya’ ada bersamanya.

Raut wajahnya itu membuat beberapa orang di sekitarnya terganggu—atau takut lebih tepatnya. Mereka mengira Baekhyun tidak menyukai tuxedo itu, atau mungkin tidak nyaman. Jadi mereka terus-menerus bertanya.

Apa anda menyukainya, Tuan? Apakah pakaian itu nyaman digunakan?’ dan bla-bla-bla.

Baekhyun berulang kali mengatakan bahwa ia menyukainya, namun karena orang-orang itu terus menanyakan hal yang sama, ia pun merasa muak.

“Bisakah kalian diam? Aku bilang aku suka modelnya, pakaian ini nyaman digunakan. Dan aku baik-baik saja. Berhenti bertanya atau aku akan meminta Ibu untuk memecat kalian.”

Dan, yah, tidak ada lagi yang berani membuka mulutnya setelah itu. Mereka semua membungkam kedua bibir mereka rapat-rapat dan mencoba mengerjakan sesuatu yang lain, yang tidak mengganggu Baekhyun.

Pemuda Byun itu melirik orang-orang yang berprofesi sebagai pramuniaga dan penata gaya itu satu persatu, kemudian menganggukkan kepalanya puas di tengah keheningan yang dikarenakan olehnya.

“Bagus.”

Lalu tanpa basa-basi, Baekhyun melangkahkan kakinya keluar dari butik milik Ibunya tersebut dan langsung masuk ke dalam mobilnya.

Baekhyun mendengus kesal. Ia masih memikirkan Soyun, keberadaan gadis Kim itu.

“Sebenarnya dimana kau?”

Kemudian pemuda itu melirik bangku kosong di sebelahnya, dan sesuatu yang mencoba mengisi kekosongan itu. Sesuatu yang sudah ia persiapkan sejak lama.

“Kuharap kau benar-benar menepati janjimu untuk bersamaku.”

“Ada apa?”

Luhan melirik Soyun yang berjalan di sampingnya. Dari sudut matanya, ia menangkap bahwa gadis itu berjalan dengan tidak nyaman. Dan itu membuatnya khawatir.

Soyun menolehkan kepalanya dengan cepat. “Ah, tidak…” gumamnya sembari menggeleng. “…aku hanya tidak terbiasa mengenakan sepatu seperti ini. Hak-nya cukup tinggi.”

Luhan menghentikan langkahnya, membuat Soyun juga turut melakukan hal yang sama. “Apa kau bisa berjalan?”

Soyun menganggukkan kepalanya. “Seperti yang kau lihat, tentu saja aku bisa.” Soyun menatap kebawah, ke arah sepatunya, kemudian menggerak-gerakkan kakinya dengan gerakan pemanasan—diputar misalnya. “Yah, aku hanya perlu…sedikit waktu. Kalau jalan terlalu cepat, aku takut jatuh.”

Luhan kemudian menarik tangan Soyun dalam genggamannya. Soyun yang cukup kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu tanpa sadar melemparkan tubuhnya semakin dekat pada Luhan, hingga ia bisa mencium aroma parfum maskulin pemuda itu—yang tampaknya akan menempel pada gaunnya juga.

Dengan jarak sedekat ini, dan tangannya yang ada dalam genggaman tangan Luhan, Soyun dapat merasakan detak jantungnya berpacu dengan cepat.

Oh God, tolong buat jantung ini berdetak normal. Bagaimana kalau Luhan mendengar detak jantungku yang memalukan ini? Bagaimana kalau aku gugup lalu berjalan dengan tidak benar dan akhirnya—

Luhan menarik kedua sudut bibirnya ke atas, membentuk senyum manis yang terlihat begitu tulus. Senyuman yang seketika membuat perasaan Soyun kembali menghangat, dan tenang.

“Kupastikan kau tidak akan jatuh.”

Kyungsoo dan Jongin saling berpandangan heran. Di hadapan mereka saat ini ada seorang pemuda berwajah tampan yang tampaknya tidak sedang dalam mood yang baik.

Auranya hitam, kelam, dan menyedihkan. Ah, lalu tiba-tiba berubah merah, tampak penuh dengan emosi.

Hey, what’s wrong with you? Apa seseorang tidak sengaja menyenggol mobilmu lagi?” tanya Kyungsoo yang menatap Baekhyun dengan mata besarnya.

Baekhyun melirik pemuda itu sekilas, kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak.”

“Lalu? Apa karena gadis bernama Kim Soyun itu?” kali ini Jongin yang berbicara. “Kalau iya, ada apa memangnya?”

Baekhyun menolehkan kepalanya pada Jongin, menatap pemuda berkulit tan itu dengan tatapan kagum. “Kau memang cenayang, Kim Jongin.”

Jongin tertawa, dengan cukup keras. “Well, bukan begitu, aku hanya mengerti bahwa masa-masa kita ini dipenuhi dengan hal-hal yang berbau—atau ada hubungannya dengan perempuan. Itu wajar, karena aku normal. Tidak seperti si kecil itu, yang hanya mengerti tentang kebiasaan liar kita saja.”

Kyungsoo menatap Jongin dengan mata yang disipitkan, tampak. “Apa yang salah dari itu? Hei, aku begitu karena aku mengerti kalian, dan aku paham benar kelakuan dan kebiasaan kita.” Kyungsoo mendengus sebelum ia melanjutkan, “Oh, bicara soal kebiasaan liar, bagaimana kalau kita balapan lagi besok? Kutantang kau.”

Jongin menaikkan kedua alisnya, membalas nada menantang Kyungsoo dengan memasang raut meremehkan. “Hey, dude, terakhir kali kita balapan kau hampir menabrak seorang gadis yang sedang menyeberang jalan.”

“Tapi, kan, salah gadis itu menyeberang tapi tidak melihat kanan dan kiri!” balas Kyungsoo tidak terima. “Tapi toh gadis itu selamat, bukan?”

Dan Jongin pun tertawa. “Tentu saja, bodoh, tapi jelas gadis itu selamat bukan karena kau.” Jongin merubah raut wajahnya menjadi sedikit serius. “Lain kali kalau Tuhan mengijinkan, kau harus berterima kasih pada pemuda yang menyelamatkan gadis itu. Ah, pada gadis itu juga kalau perlu. Kalau tidak ada pemuda itu, kau bisa saja membunuh gadis itu—dan itu berarti daftar dosamu bertambah.” Lalu Jongin menutupnya dengan senyum meremehkan, khas Jongin.

Kyungsoo menatap Jongin geram. “Berhenti membicarakan dosaku, dasar kau aborigin! Tutup mulutmu, atau aku adukan pada Ibumu yang ada di lantai dua kalau kau hobi bermain wanita.”

Dan, well, kedua orang itu sibuk melanjutkan adu mulut mereka, melupakan sejenak kehadiran seorang Byun Baekhyun yang sedang dalam keadaan hati yang buruk.

Baekhyun mengambil minuman yang ditawarkan oleh salah seorang pramusaji, kemudian menenggaknya sampai habis, dalam sekali minum.

Lalu pemuda itu menatap ke arah Kyungsoo dan Jongin sekilas, menghela napasnya panjang. Mereka selalu seperti itu, memperdebatkan apa saja, bahkan sampai hal yang tidak penting sekalipun.

Merasa bosan, Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ballroom hotel, dimana suasana sudah mulai ramai karena tamu-tamu ayahnya sudah mulai berdatangan. Baekhyun memperhatikan kerumunan tamu yang baru tiba, berusaha menemukan Luhan yang sama sekali belum ia lihat keberadaannya sejak tadi.

Tuan Kang dan keluarganya, Tuan Kim dan Jongdae, beberapa relasi Ayahnya, dan banyak lagi.

Baekhyun mengarahkan pandangannya ke arah pintu, dan seketika itu juga tubuh pemuda Byun itu menegang. Manik matanya fokus menatap ke satu titik, dimana seorang gadis manis bergaun biru sedang berjalan anggun.

Sayangnya, gadis itu tidak sendiri.

Hotel baru nan megah milik B’s Corportion sudah di depan mata. Soyun dan Luhan baru saja turun dari mobil, dan kini saatnya mereka menyusuri karpet berwarna merah yang membentang di sepanjang jalan masuk ke hotel.

Masuk, dan bergabung dalam pesta.

Luhan baru saja hendak melangkahkan kakinya, namun tiba-tiba Soyun menahannya.

“Lu, seramai inikah?” tanya gadis Kim itu sambil memandang ragu pada kerumunan orang yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berada, dan melirik pada banyaknya mobil yang diparkir di tempat yang telah disediakan.

Luhan melirik Soyun sekilas, kemudian menatap ke arah yang sama dengan Soyun. “Mungkin akan lebih ramai lagi. Tapi…tidak kusangka sudah seramai ini.” Pemuda itu kemudian mengangkat pergelangan tangan kirinya dan melihat jam kulit mahal yang melingkar apik disana. “Ini baru jam tujuh lebih dua puluh menit. Acaranya baru akan dimulai empat puluh menit lagi.”

Soyun mendekatkan tubuhnya pada Luhan dan mencengkram lengan Luhan dengan sedikit keras, berusaha menyampaikan perasaannya. “Luhan, aku takut.” ujar Soyun dengan suara yang terdengar merengek. “Pestanya terlalu besar, aku—”

“Ssst, tetap di sisiku, dan kau aman. Ingat?”

Dan lagi-lagi perasaannya kembali tenang setelah mendengar perkataan Luhan.

Jadi Soyun menatap Luhan, lalu mengangguk dan mengikuti Luhan yang berjalan di sampingnya.

.

Benar saja, bukan hanya diluar, di dalam pun keadaannya tidak kalah ramai. Para tamu undangan tampak menyesaki ballroom megah yang menjadi kebanggaan hotel tersebut. Ruangan serbaguna dengan luas 2.500 meter persegi yang sanggup memuat ribuan orang yang telah ditata ulang menjadi ruang pesta mewah bernuansa emas dengan puluhan lampu kristal di berbagai sudut dan langit-langitnya membuat tempat pesta itu semakin…wow…tampak indah dan berkelas.

Pesta megah yang dilengkapi dengan iringan musik klasik dari orchestra ternama yang mengalun lembut di segala penjuru ruangan. Berbagai petits, cake, dan tarte yang sudah dipotong sebesar satu gigitan, disusun rapi dalam tiga tingkat tea stand seperti dalam jamuan afternoon tea. Hidangan berkelas yang tampak sangat mahal itu pun sudah tersaji nikmat diatas setiap meja yang sengaja disebar di seluruh penjuru ruangan.

Benar-benar mewah, dan Soyun merasa semakin gugup.

Luhan memberi isyarat pada Soyun untuk melingkarkan tangannya pada lengan Luhan, menggamitnya, siapa tahu saja rasa gugup dan tegang Soyun berkurang.

Dan Soyun menurut.

Keduanya berjalan masuk ke hotel dengan keadaan tangan Soyun yang sudah bertengger manis pada lengan Luhan, dan dengan senyum—yang meskipun tampak sedikit canggung—di wajah keduanya.

Beberapa pasang mata menatap ke arah Soyun dan Luhan, memuji betapa cantik dan tampannya mereka. Dan ketika pujian itu sampai ke telinga Luhan, pemuda itu akan memberikan senyuman terbaiknya dan membungkuk dalam seraya mengucapkan terima kasih.

Soyun juga beberapa kali berhasil menangkap pujian tersebut, dan ia merasa senang. Terlepas dari pantas atau tidaknya ia merasa senang seperti itu.

Untuk saat ini, biarlah ia melupakan perbedaan level antara dirinya dengan Luhan, biarlah ia menikmati semua ini.

Karena Luhan berkata, bahwa ia adalah putri untuk hari ini. Ya, hanya untuk hari ini.

.

“Tunggu disini sebentar ya, aku akan mencari Ayah dan Ibu. Kalau kau mau minum, ambil saja di meja yang berada di pojok ruangan itu. Oke?” ujar Luhan seraya tersenyum dan menepuk lembut lengan Soyun. Yang kemudian dibalas Soyun dengan senyum dan anggukan kepala dua kali.

Luhan memperlebar senyumnya. “Good girl, tunggu aku disini, ya? Jangan kemana-mana.”

Dan kemudian Luhan berlalu, meninggalkan Soyun sendirian.

Soyun yang merasa sedikit risih karena posisinya berada agak ke tengah kemudian berusaha menepikan diri. Ke pinggir, berdiri di dekat pilar, di tempat yang—kalau di film-film—merupakan tempat yang memang pantas untuk putri gadungan macam dirinya.

Luhan memintanya untuk menunggu, dan ia tahu bahwa menunggu adalah kegiatan yang membosankan, jadi dengan sengaja Soyun mencoba untuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling, siapa tahu saja ia menemukan sesuatu yang menarik.

Dan tepat saat itulah, ia menangkap sesuatu.

Sesuatu yang hampir saja ia lupakan keberadaannya, sesuatu yang seharusnya ada bersamanya sekarang, sesuatu yang…ah, lebih tepatnya seseorang yang ia tunggu kehadirannya beberapa jam lalu…

Byun Baekhyun.

“B…Baekhyun…?”

Pemuda itu menatap ke arahnya, dengan sorot mata yang sulit diartikan, begitu dingin. Entah sejak kapan.

Soyun terus memperhatikan Baekhyun dalam diam, pemuda itu pun begitu. Dan setelah selama hampir dua menit, ia baru sadar, bahwa sorot mata itu sarat akan sesuatu yang membuat hatinya sakit.

Sorot mata itu, penuh dengan kekecewaan.

Sehun menghela napasnya panjang. Jantungnya berdetak cepat, tidak karuan.

Di atas nampan yang ia bawa, sudah ada Vanilla Latte kesukaan Fei, dan juga cake kecil yang ia pesan dari toko kue yang berada tidak jauh dari tempatnya bekerja.

Fruit cake.

Entahlah, ia tidak terlalu mengerti selera perempuan. Yang pernah ia dengar—dari Soyun—adalah, ‘biasanya gadis suka pada hal-hal manis, semacam kue rasa buah, atau cream,’ meskipun pada kenyataannya Soyun sendiri bukan penggemar berat kue-kue itu. Gadis Kim itu lebih menggemari choux dan pastry.

Dan, berbekal kata-kata Soyun, Sehun nekat membeli fruit cake spesial itu, yang meskipun harganya cukup mahal, karena rasanya yang—menurut beberapa rekan kerjanya—sangat enak.

Sehun menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya pelan-pelan, berusaha menenangkan dan memantapkan dirinya.

Dan setelah merasa mantap, Sehun mulai melangkahkan kakinya mendekati gadis yang kini tengah duduk di meja yang secara tidak langsung ia klaim sebagai miliknya, di bagian sudut café.

“Hai Nona,” sapa Sehun seraya meletakkan nampannya di atas meja. “Latte kesukaanmu, dan fruit cake. Bagaimana? Kau menyukainya?”

Fei mengangkat kedua sudut bibirnya naik, membentuk senyuman yang tidak terlalu lebar tetapi terlihat sangat manis. Lalu gadis itu menganggukkan kepalanya, kemudian mengambil selembar kertas dari dalam tas kecilnya.

Aku suka sekali, terima kasih.’

Tulisnya, yang kemudian membuat Sehun turut mengembangkan senyum di wajahnya.

“Sama-sama.” ujar pemuda Oh itu dengan nada selembut mungkin. Jujur saja, ia ingin berteriak dan memeluk gadis yang duduk di hadapannya itu. Ia senang sekali, senyuman gadis itu adalah salah satu hal yang kini menjadi kesukaannya, apalagi jika senyuman itu diberikan hanya untuknya.

Sehun mendorong fruit cake yang ia bawa, beserta sendoknya, dan menempatkannya di hadapan Fei. “Ini, makanlah. Jujur saja, aku tidak terlalu tahu selera perempuan. Kata mereka—teman-teman kerjaku—ini enak, dan para gadis menyukainya.”

Masih dengan senyum yang terkembang di wajah cantiknya, Fei mengambil sendok kecil yang Sehun sediakan dan mulai menyuapkan potongan fruit cake itu ke mulutnya.

Mata gadis itu berbinar. Tangannya mengacungkan kedua ibu jarinya tinggi.

Dan tanpa gadis itu perlu membuka mulutnya, Sehun tahu bahwa gadis itu menyukainya.

“Senang, kalau kau menyukainya.”

Lalu keduanya larut dalam diam. Sehun sibuk memandangi wajah Fei yang tampak menikmati cake dan latte-nya. Gadis itu menyuap potongan demi potongan cake tersebut dengan perlahan dan tidak terburu-buru. Dan Sehun suka melihatnya.

Sehun larut, lalu mulai tenggelam dalam pesona Fei. Sampai akhirnya ia tersadar, bahwa ada sesuatu yang harus ia sampaikan pada gadis itu—sesuatu yang penting. Akan lebih baik bila ia menyampaikannya dengan lebih cepat, sebelum ia tenggelam terlalu dalam, dan segala rangkaian kata yang telah disusunnya hilang, bersamaan dengan dirinya yang tenggelam.

“Ehm,” Sehun berdeham, berusaha menarik perhatian Fei. Dan sukses, gadis itu menghentikan aktivitasnya dan mengangkat wajahnya, menatap Sehun. Lalu memberinya tatapan bertanya.

Sehun menarik napasnya dalam, kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Dalam hati ia bertekad, bahwa ia harus mengatakannya hari ini juga. Ya, sekarang, atau tidak sama sekali.

Pemuda Oh itu menatap Fei tepat di maniknya, kemudian ia tersenyum lembut.

“Sabtu depan kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu pergi.”

Kyungsoo menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tampak mencari sesuatu.

“Kemana Baekhyun?” tanyanya pada Jongin yang baru kembali dari toilet, yang kemudian dibalas oleh pemuda tan itu dengan kedua bahu yang ia angkat tinggi.

“Entahlah, mungkin mencari Luhan atau Ayah dan Ibunya. Biarkan saja, toh mood-nya sedang tidak baik. Kalau dia berada terlalu lama bersamamu yang hobi memancing emosinya, aku takut nanti dia malah semakin—”

Jongin menggantung kalimatnya ketika kepalanya diputar ke arah kiri oleh Kyungsoo, secara tiba-tiba.

“Kau lihat gadis itu? Gadis cantik yang berdiri di dekat pilar.” bisik Kyungsoo dengan mata yang tak lepas menatap ke arah gadis yang ia maksud. “Tidakkah kau merasa bahwa kita mengenalnya?”

Jongin berusaha mengikuti arah pandang Kyungsoo, mencari gadis mana yang dimaksudkan oleh teman kecilnya itu.

Namun sayang, Jongin tidak menemukan mana gadis yang dimaksud Kyungsoo, karena pemuda itu tidak menyebutkan spesifikasi ciri-ciri gadis itu. Lagipula, menurutnya banyak gadis cantik yang berdiri tidak jauh dari pilar.

“Yang mana, sih? Banyak gadis cantik di sana. Aku tidak menemukan gadis mana yang kau maksudkan.” ujar Jongin dengan nada yang terdengar pasrah. “Beri aku ciri-ciri lain—”

“Yang bergaun biru—”

“Bukankah itu…Kim Soyun?” ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.

Jongin dan Kyungsoo sontak menoleh, dan mendapati Jongdae yang tengah menatap lurus ke satu titik. Detik berikutnya, pemuda Kim itu menoleh pada Kyungsoo.

“Menurutmu juga begitu kan, Kyungsoo-ya?” Jongdae mengarahkan jari telunjuknya pada seorang gadis bergaun biru yang tengah berdiri di dekat pilar. Meskipun wajahnya tertunduk ke bawah, tapi tentu saja, Jongdae mengenalinya.

“Ayo kita pastikan.”

.

“Sedang menunggu seseorang, Nona?”

Soyun dengan cepat menoleh ke arah sumber datangnya suara, dan mendapati Jongin diikuti Kyungsoo dan Jongdae, kini tengah berjalan ke arahnya.

Detik berikutnya terdengar suara tawa, yang kemudian Soyun sadari bahwa itu adalah tawa Kyungsoo. “Wah, pantas saja kau minta ijin libur hari ini, ternyata kau juga datang ke pesta ini.”

“Kau datang bersama siapa? Baekhyun?” kali ini Jongdae yang bicara—bertanya lebih tepatnya.

Untuk sesaat, gadis itu kehilangan kata-katanya. Mungkin ia terlalu terkejut karena bertemu ketiga pemuda itu di sini. Oh, seharusnya ia tidak melupakan bahwa ketiga makhluk ini adalah teman dekat Baekhyun yang sudah pasti diundang pada acara sebesar ini.

Soyun kemudian menatap ketiganya secara bergantian. “A…aku datang bersama—”

“Soyun, ayo kita—hei, kalian.” Luhan melemparkan senyum sekilas pada ketiga sahabat adiknya itu sebelum akhirnya kembali menatap Soyun.

“Ayo, Ibu menyuruhku untuk mengajakmu kesana.” ujar Luhan yang kemudian menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Soyun dan menggiringnya pergi.

Sebelum sempat melangkah lebih jauh, Luhan menyempatkan diri menoleh pada sahabat-sahabat adiknya itu dan melemparkan senyum ramah. “Maaf, kami permisi dulu, ya.”

Dan, yah, Luhan dan Soyun pergi. Meninggalkan Jongin, Jongdae dan Kyungsoo dengan seribu pertanyaan yang kini berlari-lari riang dalam kepala masing-masing.

“Tunggu dulu…” Jongdae menggantungkan kalimatnya. Membuat dua orang di sampingnya sontak menoleh, menatapnya. “Barusan itu…Soyun dan…Luhan hyung?” Jongdae menolehkan kepalanya membalas tatapan Kyungsoo dan Jongin.

“Aku pikir ia pacar Baekhyun, sungguh.” ujar Kyungsoo. “Selama ini Baekhyun kan—”

“Apa ini yang membuat Baekhyun marah?” Jongin melirik kedua sahabatnya. “Tidakkah kalian berpikir begitu? Baekhyun marah karena ini.”

Jongin menghela napasnya berat. “Kurasa Baekhyun kita sedang patah hati.”

Kini Luhan dan Soyun tengah duduk di sebuah meja bersama Nyonya Lee Yoon Hi—atau yang lebih akrab disapa Nyonya Byun, ibu dari Luhan dan Baekhyun. Mereka sedang sibuk berbincang bersama, sembari menunggu pesanan yang sebelumnya telah mereka pesan.

Tadi, setelah memperkenalkan Soyun ke Ibunya, Luhan menunjukkan sikap manisnya lagi, dengan menarikkan sebuah kursi untuk Soyun, dan mempersilahkan gadis itu duduk, disampingnya.

Dan malam ini, Luhan benar-benar harus bersyukur karena Ibunya memenuhi janji untuk tidak menanyakan macam-macam kepada Soyun, sama sekali. Setidaknya beliau tidak menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya akan membuat gadis itu merasa tidak nyaman.

Bahan perbincangan mereka hanya seputar sekolah, dan prestasi-prestasi keduanya di sekolah. Dan Nyonya Byun terlihat bangga ketika mendengar rentetan prestasi milik Soyun, dan Luhan, putranya.

“Ternyata selain cantik, kau juga cerdas, ya.” puji Nyonya Byun dengan senyum ramahnya. Kemudian wanita itu melirik pada Luhan. “Pilihan yang bagus.”

Soyun membalas pujian itu dengan tersenyum malu-malu, sedangkan Luhan membalasnya dengan mengerlingkan sebelah matanya pada sang Ibu.

Melihat betapa ramah Ibu dari Baekhyun dan Luhan itu bersikap pada orang baru, Soyun yang awalnya canggung pun sedikit demi sedikit mulai membiasakan diri; dari yang awalnya tegang, sekarang ia sudah bisa berbicara dan bersikap dengan sedikit santai. Dan dari cara Soyun dan Nyonya Byun berbicara, tampaknya kedua perempuan sudah mulai ‘sedikit’ akrab. Sesekali mereka akan tertawa bersama.

Luhan menarik kedua sudut bibirnya naik, ia suka melihat keakraban keduanya.

“Oh iya, dimana Ayah?” tanya Luhan tiba-tiba, sedikit mengusik obrolan kecil Soyun dengan Nyonya Byun. “Aku tidak melihat Ayah sejak tadi.”

Nyonya Byun mengalihkan perhatiannya pada Luhan, tersenyum sekilas kemudian menunjuk ke salah satu meja dengan dagunya. “Ayahmu sedang bersama teman-teman bisnisnya, seperti biasa.” Wanita itu bergerak sedikit, mempernyaman posisinya. “Luhan, ngomong-ngomong, dimana Baekhyun? Apa dia makan bersama—”

“Aku di sini.”

Baekhyun muncul secara tiba-tiba dari arah belakang Nyonya Byun, dengan raut wajah datar, seperti biasa. Kehadirannya yang tiba-tiba itu tentu saja membuat perhatian dari ketiga manusia yang berada di meja tersebut mengarah padanya.

Baekhyun melirik sekilas, mengabsen anggota keluarganya satu-persatu. Itu bukan kebiasaan Baekhyun, ia melakukannya karena merasa ada yang ganjil. Dan, benar saja, bukan hanya anggota keluarganya yang hadir. Ada Kim Soyun disana, dan gadis itu…berbaur dengan keluarganya.

Kenapa dia ada di sini?

Baekhyun melirik ke arah gadis itu sekali lagi, dan ketika ia sadar dimana gadis Kim itu duduk—di samping Luhan, ia mengangguk paham. Emosinya naik seketika, namun ia berusaha memendamnya, menahannya.

Soyun mencuri lirik ke arah Baekhyun dengan takut-takut. Baginya, raut wajah datar pemuda itu terasa berkali-kali lipat lebih menyeramkan, dan raut kecewa yang masih kentara di wajah pemuda itu membuat Soyun kembali merasa bersalah. Soal janji itu, janji mereka.

Tak mau tampak seperti orang bodoh yang hanya diam termenung, Baekhyun pun mendudukkan dirinya di samping Nyonya Byun, tepat berseberangan dengan Soyun. Membuat ia dan gadis Kim itu mau tak mau harus duduk berhadapan.

Baekhyun melirik Soyun sekilas sebelum akhirnya menoleh pada Ibunya. “Ah, aku lapar sekali.”

Nyonya Byun memasang senyum keibuannya, seraya menoleh pada Baekhyun. “Tadi sudah Ibu pesankan kesukaanmu, smoked salmon eggs benedict. Apa kau mau ganti?”

Baekhyun menggeleng. “Tidak. Aku suka itu.”

.

Dua orang pramusaji datang dengan membawa gelas-gelas minuman. Mereka adalah para pelayan yang ditugaskan untuk menawarkan minuman pada tamu-tamu di sana.

“Minumannya, Tuan, Nyonya?” tawar salah seorang dari mereka. Nyonya Byun mengangguk dan meminta satu botol wine untuk diletakkan di atas meja.

“Ada yang lain, Nyonya?”

Luhan mengangkat sebelah tangannya. “Maaf, bisa aku pesan dua gelas air putih?”

“Baik Tuan, segera saya bawakan.”

Keduanya pun membungkuk sekilas sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan meja dari keluarga Byun, dan kembali ke dapur.

“Kau pesan air putih? Untuk siapa?” tanya Soyun dengan wajah polos, membuat Luhan gemas pada gadis itu.

Luhan tersenyum manis, kemudian mengubah senyumnya itu menjadi tawa kecil seraya menatap Soyun. “Kau tidak minum wine, kan?”

.

Tak berapa lama setelah air putih yang Luhan pesan datang, kini giliran pesanan makanan mereka yang datang.

Semua yang ada di meja itu sudah mulai mengangkat peralatan makan mereka, siap untuk makan. Tapi tidak dengan Soyun. Gadis itu terdiam, matanya fokus menatap makanan tersebut, tuna steak yang ia pesan. Yah, makanan itu terlihat sangat enak, hanya saja…ada satu yang mengganggu. Di bagian atas steak itu bertabur potongan mentimun.

Ia benci mentimun, sangat. Kesalahannya memang, karena tadi ia tidak membaca dengan jelas bahwa nama menu makanan itu: “Tuna steak with cucumber”. Tapi ia kan tidak tahu, ia hanya mengikuti apa yang dipesan Luhan.

Soyun menghela napasnya berat.

Sebenarnya Soyun bisa saja menyingkirkan timun-timun itu ke pinggir, menyisihkannya. Tapi bukankah nanti timun-timun itu akan tampak seperti makanan sisa? Dan bukankah akan terlihat sangat tidak sopan ketika ia dengan sengaja menyisakan makanan dalam jamuan makan malam seperti ini?

Oh tidak, Soyun bimbang.

Luhan yang tampak menyadari ketidaknyamanan Soyun kemudian membuka mulutnya untuk bertanya. “Kenapa tidak dimakan? Apakah kau tidak menyukainya?”

Suara Luhan berhasil menariknya kembali dari pergulatan yang tengah dilangsungkan dalam kepalanya, tentang apa yang harus ia lakukan dengan timun-timun itu.

“Ah, bu…bukan begitu…” jawabnya gugup. Soyun tidak tahu harus menjawab bagaimana. Bila ia jujur tentang timun itu, sudah bisa dipastikan Luhan akan langsung memesankan makanan lain dan itu akan sangat merepotkan. Dan lagi, ia tidak ingin terlihat seperti tamu yang tidak menghargai makanan yang sudah ada di hadapannya.

Di tengah pergulatan pikirannya yang kedua, tiba-tiba ia melihat sebuah tangan yang bergerak-gerak di atas piringnya. Tangan Baekhyun, dan pemuda itu kini tengah mengambil potongan timun-timun yang ada di atas steaknya, dan memindahkan timun-timun itu ke piringnya sendiri.

Semua mata sontak tertuju pada Baekhyun. tidak terkecuali Soyun.

“Baekhyun, apa yang kau lakukan?” tanya sang Ibu dengan nada yang terdengar…ragu? Heran dengan apa baru saja dilakukan putranya—mengambil makanan dari piring orang lain.

Baekhyun melanjutkan memotong makanannya dengan cuek.

“Dia tidak bisa makan timun.” balas pemuda itu tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari piringnya.

Luhan mempersilahkan Soyun untuk berkeliling dan melihat-lihat hotel baru milik perusahan keluarganya ini. Awalnya Soyun menolak dengan alasan takut tersesat, namun Luhan meyakinkan Soyun bahwa hal itu tidak akan terjadi, mengingat banyaknya karyawan yang bekerja di hotelnya, yang tentu saja bisa Soyun tanyai kalau ia benar-benar tersesat nanti.

“Aku ada urusan sebentar, Ayah memintaku untuk bertemu dengan beberapa rekan bisnisnya, dan aku tentu tidak bisa menolak, bukan?”

Dan, yah, Luhan benar. Pemuda itu orang penting, tidak mungkin ia menghabiskan sepanjang pesta hanya untuk menemaninya.

Dan Soyun pun mengiyakan.

“Telepon aku bila kau tersesat,” pesan Luhan sesaat sebelum pemuda itu kembali berbaur ke dalam pesta.

Soyun yang tidak tahu harus kemana hanya melangkahkan kakinya asal. Ia melangkah kemana pun kakinya ingin. Karena toh kata Luhan ia tidak mungkin tersesat.

.

Hampir semua tempat sudah ia kunjungi, dan sampailah ia di sebuah taman kecil yang terletak di dekat kolam renang. Meskipun kecil, taman itu cukup indah, apalagi saat malam seperti sekarang. Mekarnya bunga digantikan dengan cahaya lampu, lampu-lampu kecil yang tersebar di hampir setiap sudut taman.

Romantis? Agaknya bisa dibilang begitu.

Soyun tampak terpesona dengan taman kecil itu, begitu pula dengan kolam lebar yang terbentang di depannya.

Soyun menyibukkan matanya untuk menjelajahi seisi tempat itu, dan saat itulah ia menangkap sesosok manusia yang berdiri dengan angkuh di pinggir kolam, tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

Sosok itu, Soyun merasa mengenalnya. Jadi ia menatap sosok itu lebih lama.

Dan ketika menyadari sosok siapa itu, Soyun menahan napasnya.

Byun Baekhyun.

Awalnya ia ragu, haruskah ia menyapa pemuda itu? Haruskah ia membuka percakapan di antara mereka? Tidak bisakah berpura-pura tidak melihat pemuda itu dan pergi begitu saja?

Tapi pikiran-pikiran itu hilang seketika, setelah ia mengingat kembali raut kecewa yang pemuda itu tampakkan beberapa saat yang lalu. Dan sedikit banyak ia yakin hal itu karena dirinya.

Rasa bersalah itu kembali lagi.

Jadi Soyun memberanikan diri untuk melangkah mendekati pemuda itu, dengan hati-hati.

“Baekhyun,” panggilnya. “Byun Baekhyun, kau kah itu?”

Kategorikanlah pertanyaan itu sebagai basa-basi, karena tanpa ia bertanya pun ia sendiri sudah tahu bahwa itu adalah Byun Baekhyun. Kategorikan pula pertanyaan itu sebagai pancingan, karena ia memang melakukan itu agar Baekhyun menjawabnya.

Namun sayang, pemuda itu hanya diam. Tidak bergerak, dan tidak pula menjawab panggilannya.

Soyun menghela napasnya berat. “Aku tahu kau pura-pura tidak mendengarku.” ujarnya seraya melirik kembali pada Baekhyun.

Dan masih tetap sama, pemuda itu masih diam.

Soyun melangkahkan kakinya semakin dekat pada Baekhyun, hingga kini mereka berdiri bersebelahan di pinggir kolam.

Soyun menolehkan kepalanya menatap Baekhyun, menatap pemuda yang masih dengan angkuh menatap lurus pemandangan di hadapannya. Air kolam yang tenang, dengan taburan lilin-lilin kecil yang menyala, yang diletakkan di atas hiasan berbentuk teratai.

Gadis Kim itu menundukkan wajahnya, menatap sepatunya dengan gelisah. Diamnya Baekhyun membuatnya gugup.

“So-soal makan malam tadi…umm…terima kasih.” ujarnya terbata. “Ma-maaf, aku…”

Soyun menggantungkan kalimatnya. Ia menatap Baekhyun lagi, dan pemuda itu tidak mengubah ekspresi dan posisinya sama sekali. Pemuda itu mengabaikannya, menganggap ia tak ada.

“Apa kau marah padaku?” tanya Soyun langsung. Kali ini ia tidak ingin berbasa-basi, karena tampak sekali kalau pemuda itu marah padanya. Seharusnya ia tidak perlu bertanya, ia sudah tahu, tapi sekali lagi, itu hanya pancingan.

Setelah sekian lama diam dan mengunci mulutnya rapat-rapat, Baekhyun akhirnya menghela napasnya, lalu mulai membuka suara.

“Tidak kusangka kau datang bersama Luhan hyung.”

Soyun tersentak ketika mendengar ucapan Baekhyun. Ini kali pertama keduanya berbicara hari ini, dan kalimat bernada tajam itulah yang ia dengar. Entah mengapa ucapan dan nada itu tidak membuatnya emosi seperti biasa, namun justru membuatnya merasakan sakit di hatinya, sedikit.

Kalimat itu terdengar begitu menusuk, dan sarat dengan kekecewaan.

“A…aku…maafkan aku.” Soyun membuka mulutnya kembali, berusaha menjelaskan. Namun sayang tidak ada satu pun kata yang sukses keluar dari mulutnya dengan tepat. “Aku…bukannya aku—”

“Kupikir kau orang yang akan menepati janji.” Baekhyun menoleh, menatap Soyun tajam. “Ternyata aku salah besar.”

Baekhyun langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, meninggalkan Soyun dengan perasaannya yang bercampur aduk. Ia menatap Baekhyun, punggung Baekhyun, yang bergerak semakin menjauh.

Sebenarnya Soyun ingin menahan pemuda itu dan berbicara lebih lama, menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Namun ia urungkan niatnya, tatapan mata Baekhyun membuat tubuhnya mendadak kaku, seolah aliran darahnya berhenti.

Tatapan itu, adalah tatapan paling menyedihkan yang pernah ia lihat.

Baekhyun meninggalkannya sendiri di sini, dan tidak ada yang bisa ia lakukan selain menghela napasnya berat. Mendadak ia menyesali keinginan hatinya untuk ikut bersama Luhan.

Soyun tidak menyalahkan Luhan karena mengajaknya, dan ia juga tidak menyalahkan Baekhyun yang menjadikan kebersamaannya dengan Luhan sebagai salah satu penyebab kemarahannya. Menurutnya wajar, dan Baekhyun memang pantas marah.

Karena toh mereka sudah berjanji.

Sekali lagi, ia tidak menyalahkan kakak beradik itu. Ia justru menyalahkan hatinya yang menyuruhnya untuk menerima ajakan Luhan, seharusnya ia bisa sabar dan menunggu sebentar lagi. Seharusnya ia bisa dengan tegas menolak ajakan dari Luhan.

Tapi…

“Soyun?” suara Luhan yang tiba-tiba terdengar itu cukup membuat Soyun kaget. Sontak gadis itu menoleh dan menatap Luhan yang kini tengah berjalan menuju ke arahnya. “Aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kau di sini.”

“Udara sangat dingin, lebih baik kau masuk. Para tamu sedang berkeliling sekarang, apa kau mau kutemani melihat-lihat ke dalam?” tanya Luhan ramah.

Soyun menggeleng lemah, kemudian memaksakan sebuah senyuman. “Tidak Lu, terima kasih. Aku di sini saja.”

Luhan menatap Soyun, ia merasa gadis itu sedikit aneh. “Ada apa? Kau bosan?”

“Tidak” jawab Soyun seraya menggeleng pelan. “Aku hanya kurang suka dengan keramaian, makanya aku ingin diam di sini sa—”

“Kalau begitu kita pergi sekarang.” ujar Luhan mantap. Luhan menggerakkan tangannya untuk meraih tangan Soyun, menggenggamnya erat, dan menariknya untuk mengikutinya.

“He…hey, kau mau membawaku kemana?” tanya Soyun dengan sedikit panik. “Acaranya kan belum selesai, Lu.”

Luhan menolehkan kepalanya sekilas seraya tersenyum manis. “Nanti kau juga akan tahu.”

“Baekhyun,” panggil Nyonya Byun pada putranya yang tengah duduk sendirian di sudut ruangan. “Apa kau melihat Luhan?”

Baekhyun menggeleng. “Tidak.” jawabnya singkat, tanpa menatap wajah sang Ibu.

Nyonya Byun mengerutkan keningnya, ia merasa ada yang aneh pada putranya bungsunya itu. “Ada apa, Baekhyun? Kau sedang sakit?” tanya wanita itu hati-hati.

Sekali lagi Baekhyun menggelengkan kepalanya. “Tidak, Bu. Aku baik-baik saja.” ujarnya dengan nada yang sedikit lebih lembut, demi membuat sang Ibu tidak terlalu khawatir akan keadaannya.

Pemuda itu kemudian bangkit dari duduknya dan menatap sang Ibu. “Katakan pada ayah aku pulang duluan. Aku lelah sekali.”

Nyonya Byun menatap putranya, dan memang wajah putranya itu tampak sangat lelah. “Baiklah kalau kau lelah, kau bisa pulang.” Nyonya Byun memberikan senyum khas keibuannya, kemudian wanita itu menepuk pundak Baekhyun lembut. “Hati-hati di jalan, sayang. Sampai bertemu di rumah.”

Baekhyun membalas tatapan Ibunya sekilas, mengangguk sambil melemparkan senyum tipis pada wanita itu.

“Aku pulang dulu,” pamitnya, kemudian  ia melambaikan tangannya dan langsung berjalan keluar dari ballroom itu, meninggalkan pesta, dan seisinya.

Dari tempatnya, wanita yang memiliki nama kecil Yoon Hi menatap punggung anaknya yang bergerak menjauh, dan akhirnya hilang di balik pintu ballroom yang mengarah keluar. Wanita itu menghela napasnya berat.

“Hari ini Baekhyun bersikap aneh. Sepertinya aku tahu alasannya.”

Mata Luhan terfokus pada jalanan yang terbentang di hadapannya. Tapi entah mengapa pikirannya justru melayang jauh kemana-mana.

Di benaknya kini terputar kembali kejadian saat makan malam tadi, di saat Baekhyun dengan sigap menyingkirkan mentimun—sesuatu yang ternyata dibenci Soyun—dari piring gadis itu dan memindahkannya ke piringnya sendiri.

Dan memakannya.

Padahal ia—dan juga Ibunya—jelas tahu bahwa mentimun termasuk dalam daftar hal-hal yang juga Baekhyun benci.

Tapi mengapa ia memaksakan diri begitu?

Luhan menghela napas. Ia tidak tahu bahwa ternyata Baekhyun dan Soyun sedekat itu, terlepas dari ada atau tidaknya hubungan di antara keduanya. Yang membuat Luhan merasa keki adalah karena ternyata Baekhyun tahu, apa yang gadis itu suka, dan tidak suka. Yah, dan Luhan menebak mungkin masih banyak hal-hal lain yang bahkan tentu Luhan tidak tahu.

Ia merasa kalah satu langkah.

Dan jujur saja, ia iri pada Baekhyun.

Luhan mengalihkan perhatiannya dari jalanan, menoleh pada Soyun dan mendapati gadis yang berada di sampingnya itu tengah tertidur.

Senyuman seketika terlukis di wajah tampan Luhan, saat melihat wajah polos gadis Kim itu.

Luhan menatapnya dengan sayang.

“Soyun” panggilnya. Pemuda itu melunturkan senyumannya, ia menggantinya dengan raut sendu. “Sebenarnya…sedekat apa kau dengan Baekhyun?”

.

Soyun membuka matanya, bangun dan baru tersadar bahwa kini dirinya ada di dalam mobil. Mobil Luhan. Ia langsung menolehkan kepalannya ke kiri, tapi sayang, ia tidak menemukan pemuda itu di sampingnya.

Saat ia meluruskan pandangannya ke menembus kaca depan mobil, barulah ia sadar kalau Luhan ada di sana, bersender pada kap mobil, dengan posisi memunggunginya.

Tidak mengulur waktu, Soyun langsung membuka pintu mobil dan menapakkan kakinya keluar. Namun udara dingin yang kurang bersahabat menyambutnya, dan  bulu romanya pun meremang seketika.

Soyun menutup pintu mobil dengan pelan, lalu mulai melangkahkan kakinya untuk menghampiri Luhan.

“Lu.” panggilnya. Luhan langsung menoleh, begitu mendengar sebuah suara yang memanggil namanya dengan lembut.

Luhan memasang senyum termanisnya. “Ah, kau sudah bangun rupanya.” ujarnya lembut, seraya memberi isyarat pada Soyun untuk mendekat ke arahnya.

Gadis itu menurut. Dan ketika jarak mereka tidak jauh lagi, Soyun menolehkan kepalanya menatap Luhan. “Maafkan aku. Tapi…apa aku tertidur lama sekali?” tanyanya takut-takut.

Luhan melirik ke arah jam di tangannya. Jam sebelas lebih lima puluh satu menit. Luhan kembali melirikkan matanya pada Soyun. “Tidak juga. Hanya sekitar…satu setengah jam.” ujarnya, yang kemudian ia sambung dengan tawa kecil.

Mata Soyun melebar kaget, membulat seketika.  “Sa…satu setengah jam? Astaga, maafkan aku.” lirihnya seraya menundukkan wajahnya, ia malu. Bayangkan saja, betapa tidak sopannya ia, tertidur di saat orang yang sedang menyetir—mungkin saja—membutuhkan teman untuk mengobrol, bukan?

Bagaimana wajahnya saat tidur tadi? Burukkah? Apa ia tidur dengan tenang? Atau mungkin ia…mendengkur? Oh tidak, semoga hal itu tidak terjadi. Kalau iya, sekarang ia akan kelimpungan mencari tempat yang cocok untuk meletakkan wajahnya.

Ia malu.

Melihat ekspresi Soyun yang tampak seperti maling yang tertangkap basah, Luhan memperkeras tawanya. “ Hei,bagiku itu tidak masalah. Aku tidak keberatan menunggumu tidur selama itu.” ujarnya di sela-sela tawa.

Kemudian pemuda itu mengelus puncak kepala Soyun dengan sayang, membuat perasaan Soyun kembali tenang, dan rileks.

Tanpa sadar, ia pun kini ikut tertawa bersama Luhan.

“Kau sabar sekali.” pujinya. “Kalau Sehun—sahabatku—ada di posisimu, ia akan langsung membangunkanku dengan cara apapun, sampai aku bangun. Dan setelah itu ia akan memarahiku habis-habisan karena ‘bisa-bisanya’ aku tertidur ketika dalam perjalanan seperti itu.”

Soyun mulai menceritakan beberapa hal yang lucu, tentang persahabatannya dengan Sehun. Pemuda sahabat Soyun, sesuatu yang juga baru ia ketahui hari ini.

“Apa Baekhyun mengenal pemuda bernama Oh Sehun itu?” tanya Luhan ragu.

Namun keraguannya segera dijawab dengan anggukan bersemangat dari Soyun. “Mereka pernah bertemu beberapa kali, namun tampaknya keduanya tidak saling menyukai. Sehun itu…”

Dan, yah, lagi-lagi Luhan merasa kalah langkah dari Baekhyun.

Namun Luhan tidak menampakkan raut kecewanya. Ia masih memasang raut penuh perhatian, dan mendengarkan setiap kata yang terlontar dari bibir Soyun dengan seksama. Ya, hingga akhirnya Soyun berhenti, dengan sendirinya.

Luhan masih memberikan perhatiannya, yang tentu saja membuatnya memperhatikan bahwa gadis itu sudah puluhan kali mengusap tangannya. Ia kedinginan.

Jelas aja, saat ini Seoul sudah sampai di penghujung musim gugur—yang biasanya memang memiliki suhu dingin yang luar biasa, dan mereka sedang berada di luar, malam-malam, waktu-waktu dimana biasanya angin berhembus dengan ganasnya.

Luhan segera melepas jas-nya—sehingga tubuhnya kini hanya dibalut kemeja putih saja, berjalan ke hadapan Soyun, dan segera menyampirkan jas miliknya di pundak gadis itu.

Soyun sadar akan gerakan tiba-tiba itu, dan merasa ada sesuatu—yang hangat—yang disampirkan di pundaknya, sontak langsung mendongak, menatap Luhan yang berada tepat di hadapannya.

“Ah…” gumamnya, cukup kaget dengan perlakuan Luhan yang tiba-tiba.

Luhan menghadirkan senyum malaikatnya. “Pakai saja, Nona. Aku tidak mau kau masuk angin.” ujarnya, seraya membenarkan posisi jas itu agar nyaman dikenakan oleh Soyun.

“Ta-tapi…tidak usah…” Soyun berusaha menolak karena ia merasa tidak enak. Ia hendak melepas jas milik Luhan itu dari pundaknya, namun Luhan buru-buru menahan tangannya.

“Pakailah, aku tidak apa-apa.” balas Luhan dengan suara lembut.

Dan lagi-lagi Soyun luluh. Entah mengapa, Soyun suka sekali kalau Luhan berbicara padanya dengan nada lembut macam itu, hal itu membuatnya merasa…disayang? Yah, seperti itulah.

Soyun tidak lagi membantah. Menuruti apa kata Luhan, gadis itu mengenakan jas milik Luhan untuk menghangatkan tubuhnya, dan kini, ia justru semakin merapatkan jas itu pada tubuhnya. Hingga aroma maskulin milik Luhan menyeruak masuk lewat lubang hidungnya.

Aroma yang membuatnya merasa nyaman, dan terlindungi.

Khas malaikat.

Luhan menyandarkan tubuhnya kembali pada kap mobil. Pemuda itu kemudian menengadahkan kepalanya, menatap langit luas yang terbentang di atasnya dalam diam.

“Ngomong-ngomong,” Soyun ikut menyandarkan tubuhnya pada kap mobil, di samping Luhan. “Kenapa kau membawaku kesini?” tanya Soyun penasaran. “Lihatlah, ini sudah larut sekali dan tidak ada orang di taman ini kecuali kita.”

Mendengar itu, Luhan sontak mengedarkan padangannya ke sekeliling. “Benar juga” gumamnya. “Kalau dilihat-lihat memang hanya ada kita, ya, di sini.”

Soyun menganggukkan kepalanya. “Wajar saja, sudah hampir tengah malam…”

Luhan mendekatkan dirinya pada Soyun, secara perlahan. Dan Soyun yang menyadari hal itu buru-buru menarik dirinya menjauh. “A-ada apa, Lu?”

“Bukankah hanya ada kita berdua di sini?” Luhan mulai mempersempit jarak antara dirinya dengan Soyun, mengapit kedua kaki Soyun diantara kakinya. “Berarti tidak akan ada yang melihat apa yang kita lakukan kan?”

Kedua tangan Luhan mengunci tubuh gadis itu dari kedua sisi. Dan ketika ia yakin bahwa gadisnya itu tidak dapat berkutik lagi, Luhan pelan-pelan mendekatkan wajahnya pada Soyun.

Soyun yang dalam keadaan takut itu terus-terusan memundurkan tubuhnya. Sampai punggung gadis itu menempel pada kap mobil.

“Lu…Luhan…” gumam Soyun terputus-putus. “I…itu…”

“Hmm…?” Luhan semakin mendekatkan wajahnya, hingga hangat napas pemuda itu mengenai wajahnya. “Ada apa, Nona?”

Luhan yang tadinya menumpu tubuhnya dengan posisi tangan yang diluruskan, perlahan mulai menekuk tangannya, membuat jarak antara dirinya dengan Soyun benar-benar sempit.

Jantung Soyun bedegup kencang, dengan ritme yang tidak karuan. Napasnya terengah, akibat menahan kegugupan akibat tingkah pemuda itu.

“Ja…jangan seperti ini…” cicit Soyun, yang kemudian dibalas Luhan dengan seringaian. Ia memasang ekspresi menggoda di wajahnya.

“Ayolah, tidak ada siapa-siapa—”

TIT…TIT…TIT

Tiba-tiba terdengar suara alarm, yang berasal dari jam tangan milik Luhan. Alarm yang menandakan bahwa kini, jam tengah menunjukkan pukul 12 malam, tepat. Juga pertanda bahwa hari telah berganti.

Luhan langsung menghentikan kegiatan ‘menggoda Soyun’-nya, dan menegakkan kembali tubuhnya. Pemuda itu menatap Soyun yang terlihat ketakutan, dan ia pun tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tertawa. Bagaimana tidak? Di hadapannya, gadis yang masih terbaring di kap mobil itu menutup kedua matanya rapat-rapat. Wajahnya memerah, sangat merah, dan tampak gemetar ketakutan. Akibat dari godaannya tadi.

Membiarkan gadis itu pada posisi dan keadaannya, Luhan langsung beranjak menuju ke bagian belakang mobil.

Begitu ia merasa Luhan sudah meninggalkan tempatnya, Soyun langsung sadar dan bangun dari posisinya. Ia memegang dadanya yang masih berpacu kencang, dengan irama yang masih tidak karuan.

Ia tergoda, dan takut disaat yang bersamaan. Ia takut kalau tadi Luhan benar-benar berbuat macam-macam padanya. Ya, Soyun takut. Wajar, karena ia bukan perempuan murahan.

Tidak berapa lama, Soyun melihat Luhan muncul kembali dari balik mobil, dengan membawa sebuah kue tart yang berukuran tidak terlalu besar, beserta lilinnya, yang keseluruhannya sudah dinyalakan.

Happy birthday, Soyun

Happy birthday, Soyun

Happy birthday, Dear Soyun

Happy birthday to you

Soyun nutup mulutnya, ia tak mempercayai apa yang ada di hadapannya saat ini. Luhan, pemuda tampan idola para gadis, yang tahun lalu masih bersarang dalam angan-angannya saja, kini menjadi orang pertama yang merayakan peringatan kelahirannya. Menyanyikan sebuah lagu ulang tahun untuknya mala mini. Hanya untuknya.

Ya, tahun ini, Luhan yang pertama. Di ulang tahunnya yang ketujuh belas.

“Lu…Bagaimana kau…” ujar Soyun dengan susah payah. Pasalnya, kini air mata haru mulai terkumpul di matanya, dan siap jatuh kapan saja.

Luhan menyodorkan kue itu semakin dekat pada Soyun. “Ayo cepat, tiup lilinnya.” Luhan mengerlingkan sebelah matanya pada Soyun. “Don’t forget to make a wish, princess.”

Soyun mengangguk, kemudian ia memejamkan matanya dan mulai merangkai doa yang ingin ia sampaikan pada Tuhan. Tidak lama, dan segera setelah ia membuka matanya kembali, ia meniup lilinnya.

Lilin padam seutuhnya. Luhan kembali tersenyum, kemudian ia meletakkan kue yang ia bawa itu di atas kap mobil.

Luhan merentangkan tangannya lebar, kemudian mulai menarik Soyun ke dalam pelukannya.

“Selamat ulang tahun, Kim Soyun.” bisik Luhan tepat di telinga Soyun. Napasnya yang hangat menjalar, dari telinga, hingga ke seluruh wajah, membuat wajah gadis itu kini merah padam menahan semua perasaan yang terkumpul menjadi satu.

Senang, kaget, haru, dan, yah masih banyak lagi.

Luhan mengeratkan pelukannya. “Terima kasih, Tuhan. Karena telah membiarkan Nona ini lahir ke dunia, dan terima kasih karena telah mempertemukannya denganku,” bisik Luhan lagi. “Katakan padanya, bahwa aku menyayanginya.”

Soyun kaget, ia membulatkan matanya sempurna. Semua yang Luhan lakukan, semua yang Luhan katakan, hari ini, membuatnya berada di awang-awang. Ia bahagia, sangat.

Soyun terhanyut dalam perasaannya. Ia pun mulai menaikkan tangannya, dan balas memeluk Luhan erat. Wajahnya yang merah padam ia sembunyikan di dada Luhan.

Tuhan, buat ia tahu bahwa aku juga menyayanginya…’

Keduanya larut dalam keheningan, masing-masing sibuk menyesapi rasa hangat dari tubuh pasangannya.

Gadis itu terharu akan semua ini, semua perlakuan manis Luhan padanya hari ini. Dan ia baru mengetahui lasan mengapa Luhan benar-benar memperlakukan ia layaknya seorang putri seharian ini. Ya, ternyata karena ini, karena hari ini ulang tahunnya.

“Terima kasih, Luhan. Terima kasih.” ujar gadis Kim itu dengan suara yang terdengar parau. Ya, tanpa sadar, air matanya jatuh dan menetes sembarangan, tanpa sempat ia cegah lagi.

Luhan mengerutkan keningnya, cukup kaget karena mendengar suara parau milik Soyun. “Hei, Nona. K-kau…menangis?”

Soyun menggeleng di dalam pelukan Luhan. “Tidak.” jawabnya berbohong. Dan sayangnya, Luhan tahu akan hal tersebut.

Luhan langsung melepas pelukan mereka. Lalu tangan Luhan bergerak naik dan menangkup wajah gadis Kim itu dengan tangannya.

Benar saja, gadis itu menangis.

Luhan tidak mengatakan apapun, dalam diam, ia berusaha menghapus air mata haru yang masih terus mengalir dari pelupuk mata sang gadis.

Namun melihat gadisnya itu tidak berhenti menangis, Luhan pun memutar otak, mencari cara untuk menghentikannya. Dan kemudian, ia teringat pada kebiasaan sang Ibu.

“Tutuplah matamu.” pinta Luhan, dengan nada lembutnya.

Soyun berkedip dan menatap Luhan ragu. “Untuk apa?”

Luhan tersenyum. “Tutup saja, jangan banyak bertanya.”

Dan tidak ada yang bisa Soyun lakukan selain menuruti permintaan Luhan. Jadi ia menutup matanya, sembari mengira-ngira apa yang akan terjadi selanjutnya.

‘Apakah Luhan akan menciumku?’ tanya Soyun dalam hati. Dan semburat kemerahan pun kembali muncul di wajah Soyun secara tiba-tiba. Yah, memikirkan kemungkinan Luhan akan menciumnya saja sudah membuat perasaan Soyun campur aduk. Apalagi kalau ciuman itu nyata.

Dalam kegelapan, Soyun dapat merasakan wajah Luhan yang bergerak mendekat, semakin dekat, hingga napas pemuda itu kembali menghantam wajahnya.

Dan detik berikutnya, Soyun merasakan bibir Luhan, yang mengecup lembut kedua kelopak matanya.

“Jangan menangis lagi. Kau jelek kalau menangis. Sungguh.” bisik Luhan setelahnya.

Soyun tertegun. Ia dapat merasakan tubuhnya yang membeku seketika. Seketika otaknya kembali memutar sebuah rekaman masa lalu, yang masih tergambar jelas dalam ingatannya.

Ciuman itu…

Ini…anak laki-laki itu…

Luhan…

Luhan yang tidak menyadari perubahan ekspresi di wajah Soyun dengan santai mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

Sebuah kalung.

Hadiah yang memiliki kesan manis untuk para kaum hawa. Soyun pun mungkin akan berjingkrak-jingkrak kalau ia benar-benar dalam kondisi sadar.

Yah, saat ini, emosi akan kenangan masa lalu menguasainya.

Pemuda itu menatap kalung di tangannya sebentar, kemudian tersenyum seraya menggerakkan tangannya untuk segera memakaikan kalung itu pada Soyun. Namun, tanpa ia sangka, gadis itu menahan pergerakan tangannya, menghentikannya.

“Tunggu sebentar,” ujar gadis itu pelan. Nada suaranya sarat akan emosi.

Tangan Soyun bergerak ke belakang lehernya, kemudian ia melepas kalung yang selama ini selalu menggantung apik disana, satu-satunya kenangan yang tersisa antara dirinya, dengan malaikat kecilnya dulu.

Perlahan Soyun menarik tangan Luhan, tangan dimana cincin yang persis seperti miliknya—yang ia jadikan sebagai liontin kalungnya. Kemudian ia mensejajarkan cincin miliknya, dan yang Luhan kenakan di jarinya.

“Kau ingat ini, Lu?” tanya Soyun cepat. “Kau ingat cincin ini?”

Luhan memasang raut terkejut pada wajahnya ketika ia mendapati cincin yang melingkar di jarinya, sama persis dengan cincin yang Soyun gunakan sebagai liontin kalungnya. Ya, sama, bukan hanya mirip.

Soyun mendongak menatap wajah Luhan yang balik menatapnya dengan raut wajah bingung.

 “Kenapa…cincin itu ada padamu?” tanya Luhan. Pemuda itu menatap Soyun dengan kening yang berkerut dalam. “Cincin itu kan…”

“Kau kah anak laki-laki itu?” sela Soyun, suaranya kini mulai bergetar. “Anak laki-laki yang memberikan ini padaku sebelas tahun silam? Anak laki-laki yang datang menolongku ketika hujan turun dengan lebatnya, memintaku untuk berhenti menangis, dan…menciumku, di kelopak mata, sama seperti caramu tadi.”

Soyun menahan napasnya. “Kaukah…anak laki-laki itu, Lu?”

Luhan terdiam, ia tidak sanggup berkata-kata. Otaknya sibuk mencerna sejenak, kata demi kata yang keluar dari bibir gadis itu.

Anak laki-laki. Cincin itu. Sebelas tahun silam. Hujan. Ciuman di kelopak mata.

Soyun kembali menitikkan air matanya, kali ini diikuti dengan isakan halus. “Apa kau benar-benar…tidak… mengingatku?”

Soyun menatap Luhan, tepat di manik matanya. “Padahal aku selalu menunggumu. Sejak hari itu, aku selalu kembali ke taman itu. Aku menunggumu, Luhan. Aku menunggumu. Bukankah saat itu kau bilang kita akan bertemu lagi? Tapi apa? Kau meninggalkanku, Lu. Kau tidak pernah muncul lagi sejak hari itu, tidak sekali pun.”

“Soyun…aku…” Luhan hendak membuka mulutnya untuk menjelaskan sesuatu, namun Soyun memberinya isyarat untuk diam dan mendengarkan. Menunggu ia selesai berbicara tanpa menginterupsi.

“Kemana kau pergi saat itu?! Tidak tahukah kau bahwa aku terus menunggumu?!” kali ini nada bicara Soyun meninggi, menunjukkan betapa emosinya ia, betapa sakitnya ia menahan rindu yang selama sebelas tahun ini ia pendam, sendiri.

Air mata tak hentinya turun dari kedua pelupuk matanya, membuat keadaan gadis itu tampak sangat menderita, tersiksa dengan rasa rindunya.

Luhan menatapnya tak tega. Pasalnya, ini pertama kalinya Luhan melihat Soyun benar-benar dalam keadaan rapuh, ditambah dengan isakan yang dapat mengiris hati Luhan perlahan. Dan tanpa berpikir lagi, Luhan lantas melingkarkan tangannya untuk merengkuh Soyun, menarik gadis itu ke dalam pelukannya lagi.

“Maafkan aku. Maafkan aku, Soyun.” bisiknya lembut, nadanya terdengar penuh dengan penyesalan.

Soyun merasakan dadanya sesak, pelukan Luhan yang mengerat membuatnya sulit bernapas, dan emosi yang ia rasakan kini tak terbendung, membuatnya enggan menerima pelukan dari pemuda itu. Ia pun memberontak.

“Lepas—”

Soyun menghentikan kalimatnya ketika merasakan tubuhnya semakin sesak. Luhan memeluknya semakin erat dan erat, membuatnya semakin kesulitan menghirup udara untuk bernapas. Soyun hendak kembali memberontak ketika Luhan kembali membuka suaranya.

 “Saat itu…bukan maksudku untuk meninggalkanmu seperti itu, Soyun. Sungguh. Maafkan aku…kumohon…” ujar pemuda itu memohon, seraya memejamkan kedua matanya rapat.

“…aku mencintaimu, Kim Soyun.”

 

___TBC___

 

Haloooo, long time no see ya :’D

Maaf karena lagi-lagi baru update setelah satu bulan lebih hehehe. Tapi nggak masalah kan karena seperti biasa, kali ini aku juga mempersembahkan chapter yang sangat panjang XD

Ohiya lagi bahagia nggak karuan nih gara-gara tadi malem hasil Nem UN SMP udah keluar, dan….YEY Alhamdulillah banget aku lulus dengan nem yang lumayan memuaskan haha. Makasih ya buat yang dulu udah doain 😀

Aku ingatkan lagi, jadilah readers yang menghargai karya kami dengan ninggalin Komentar dan Like kalian. Toh menulis komentar nggak lebih susah daripada nulis FF kan? Jadi kenapa masih aja jadi silent readers? Semakin banyak siders juga semakin lama update nya loh ahahahhaha

Oke, sampai ketemu di next chapter yah. See you! ❤

 

636 responses to “Story Of My Love [Chapter 8 : Cinderella]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s