[Ficlet] The Rain and You

Hai, ini bukan FF saya melainkan FF titipan. Setelah membacanya, dimohon memberikan apresiasi dalam bentuk komentar ya. Terima kasih.

The Rain and You

the rain and you 2

Author: Pramudiaah || Cast: Byun Baekhyun and Shin Hayoung (OC/You)

Rating: PG || Genre: Romance (Failed)

“Hujan kembali mempertemukanku dengannya.”

A/N: Sebelumnya pernah diposting di blog pribadi ( http://pramudiaah.wordpress.com ) dengan cast Luhan dan OC. Dan, tolong tinggalkan komentar setelah membaca ya 🙂

———

Tiba-tiba hujan turun dengan begitu deras sore itu, ku langkahkan kakiku dengan cepat untuk mencari tempat yang setidaknya bisa melindungi seragam serta tas punggungku dari air hujan. Akhirnya, aku menemukan sebuah halte dan aku pun berteduh di sana.

Rumahku terletak tak begitu jauh dari halte ini, namun aku tak ingin basah kuyup karena nekat menerobos hujan. Lagipula aku tak membawa alat pelindung, seperti payung atau jas hujan misalnya, jadi aku akan lebih memilih untuk menunggu hingga hujan ini reda.

Sekitar hampir setengah jam aku menunggu namun hujan tak kunjung reda, bahkan justru bertambah kapasitasnya di setiap menit. Aku menghela napas berat mengingat hari sudah semakin malam dan langit pun mulai gelap. Tak ada seorang pun di halte ini dan jalanan juga tampak sepi karena sedang turun hujan, pastilah tak ada seorang pun yang ingin keluar dari rumah di saat seperti ini. Terjebak di halte seperti sekarang membuat membenci hujan. Bedebah.

“Apa kau tak membawa payung?”

Aku terlonjak kaget, lalu baru ku sadari bahwa seorang pemuda kini telah berdiri di sebelahku. Aku tak yakin sejak kapan lelaki itu berdiri di sana, namun yang jelas, sepertinya aku mengenal lelaki ini.

“Namamu kalau tidak salah Shin Hayoung, benar?”

Mendengar pertanyaan lelaki itu, aku mengerjapkan mataku dan menatapnya bingung. Ku rasa wajah lelaki itu cukup familiar dalam ingatanku, namun aku tetap tak yakin apakah aku pernah mengenalnya atau tidak sebelumnya. Lalu sepertinya, ia cukup mengenalku, buktinya ia mengetahui namaku.

“Aku Baekhyun. Bagaimana? Kau berhasil mengingatku?”

Kini aku menghadapkan tubuhku ke arahnya –sebenarnya aku sedikit terkejut. “Baekhyun?” tanyaku memastikan. Mungkin saja aku salah mendengar ketika ia menyebutkan namanya barusan. Omong-omong soal Baekhyun, sepertinya aku pernah mendengar nama itu.

Lelaki itu berdecak. “Sepertinya kau belum berhasil mengingatku. Kita pernah berada di kelas yang sama sewaktu sekolah dasar, kau juga pernah mengirimkan surat cinta untukku, kau tak mengingatnya?”

“Byun. Baek. Hyun?” tanyaku kaget, dan tanpa sadar baru saja aku mengeja namanya dengan hati-hati.

“Kau mengingatku sekarang?” tanyanya lagi, dan ia sedikit tersenyum aneh setelah itu.

Aku terkesiap, mulutku menganga dan kali ini mataku enggan mengerjap. Bagaimana bisa dia tak berubah sedikitpun? Wajahnya tetap saja terlihat tampan, dan –oh, lihatlah senyumnya yang masih tetap manis dan hampir membuatku meleleh setiap kali melihatnya.

“Senang bertemu dengamu.”

Baekhyun mengulurkan tangannya, dan aku pun menjabat uluran tangannya. Meski aku pernah mengenalnya sewaktu sekolah dasar dulu, namun kami tak pernah saling bertemu lagi sejak lulus Sekolah Dasar hingga Sekolah Mengengah Atas sekarang, dan kini rasanya seperti kami baru pertama kali bertemu dan berkenalan.

Entah ini perasaanku saja atau apa, tapi aku merasa jika kini waktu berhenti berjalan dan bumi berhenti berotasi. Aku tahu ini sedikit berlebihan, tapi aku hanya tak mampu lagi menggambarkan bagaimana perasaanku yang kembali terjatuh dalam pesona Baekhyun untuk kedua kalinya.

“Senang bertemu denganmu, lagi.” Balasku kemudian, tak lupa dengan senyuman yang tak kalah manis darinya –menurutku.

Aku akan mencabut ucapanku sebelumnya, aku tak akan membenci hujan yang turun hari ini. Karena hujan ini, aku kembali bertemu dengannya. Dan yeah, aku harap ini adalah awal yang baik.

.

.

Ya, setahun lalu memang adalah awal yang baik.  Karena kini, hari-hariku selalu di penuhi dengan nama Baekhyun dan Baekhyun lagi. Well, meski aku tak memahami bagaimana hubunganku dan Baekhyun sekarang, tapi apapun itu, asalkan aku selalu bersama dengannya, itu tak akan menjadi masalah.

Hari itu, aku dan Baekhyun tengah berjalan kaki di sebuah taman ketika hujan turun dengan tiba-tiba. Pemuda itu langsung menarikku untuk berteduh di bawah sebuah pohon yang besar. Aku tak menyadari jika posisinya terlalu dekat dariku, hingga aku dapat merasakan hangat napasnya yang berhembus di sekitar pipiku. Sontak aku menoleh dan wajahnya tepat berada di depan wajahku, hanya beberapa senti jarak di antara wajah kami.

“Aku menyukaimu.”

“Huh?” tanyaku memastikan. Ya, aku tak mendengar ucapan lirihnya dengan begitu jelas karena terkalahkan dengan suara gemuruh hujan.

“Bukan, tapi aku mencintaimu.”

Aku tercengang. A-apa yang baru saja Baekhyun katakan? Apa aku tak salah mendengar? Apa benar jika baru saja Baekhyun mengatakan ia mencintaiku?

“A-apa?”

“Kau bilang jika hubungan kita tak memiliki kepastian, jadi kupikir, mulai sekarang kita adalah sepasang kekasih –itu pun jika kau juga menyukaiku dan mau menerimaku menjadi kekasihmu.”

Aku mau, tentu saja. Aku menyukaimu, sejak lama. Aku mencintaimu, Baekhyun.

Hingga pada akhirnya aku pun mengangguk.

“Aku juga menyukaimu, aku bersedia menjadi kekasihmu.”

Baekhyun tersenyum senang, lalu perlahan wajahnya berangsur mendekat. Aku tak mampu menerka apa yang hendak Baekhyun lakukan, namun yang jelas aku hanya bisa menutup mataku. Namun tiba-tiba suara petir menggelegar di siang hari itu, membuatku refleks lekas memeluk Baekhyun karena takut.

Aku tahu Baekhyun sedikit mengeluh juga menggerutu karena tak berhasil menciumku, aku terkikik karenanya. Barangkali sekarang memang bukan saat yang tepat, mungkin lain waktu, pikirku.

Dan sekali lagi, entah sejak kapan aku tak membenci hujan, aku justru menyukainya sekarang.

.

.

Di tahun pertama hubungan ku dan Baekhyun, semuanya masih tetap berjalan dengan baik, meski sesekali kami sempat bertengkar karena perbedaan pendapat atau hal yang lain. Namun Baekhyun selalu memiliki seribu cara untuk membuatku memaafkannya.

Seperti malam hari itu misalnya, aku keluar dari mobilnya dengan kesal dan nekat menerobos hujan deras. Aku tak peduli ketika tubuhku mulai kedinginan serta menggigil, karena air hujan yang mengguyur tubuhku dan angin malam yang bertiup kencang. Aku juga tak mempedulikan suara Baekhyun yang memintaku untuk berhenti, aku tetap melangkahkan kakiku terus menjauhi mobil Baekhyun.

Hingga aku merasakan sebuah tangan menarik lenganku, itu tangan Baekhyun.

Aku memandangnya marah. “Aku akan mempercayainya jika kebetulan itu hanya sekali, tapi ini dua kali Baekhyun! Kau bertemu dengan Sunmi secara kebetulan sebanyak dua kali, iya?! Aku tidak lupa jika gadis itu adalah mantan kekasihmu, aku tidak akan pernah lupa! Dan kau akan tetap bilang bahwa hal itu hanyalah sebuah kebetulan?!” Aku berteriak murka, aku hanya mengungkapkan isi hatiku. Aku kecewa menemukan Baekhyun ternyata masih berhubungan dengan mantan kekasihnya, dan diam-diam bertemu di belakangku. Tidakkah ia mengetahui bagaimana perasaanku?

Baekhyun mencengkeram kedua bahuku, kulihat jika kini tubuhnya basah kuyup, sama hal nya seperti diriku. Tapi siapa yang peduli?  Aku bahkan tak peduli.

“Dengar, pertemuanku dengan Sunmi yang pertama aku bersumpah bahwa itu hanya sebuah kebetulan. Pertemuan yang kedua, kami memang-”

“Benar, kan? Kau memang sengaja menemuinya?! Iya, Baekhyun?!” potongku cepat, aku tak sanggup lagi menahan isakanku, air mataku meleleh dan tersamarkan oleh air hujan yang mengguyur tubuhku.

“Tolong dengarkan penjelasanku dulu, dia yang memintaku untuk menemuinya. Dia memintaku untuk kembali menjadi kekasihnya, dia-”

“Dan kau menerimanya? Kau masih mencintainya, hah?!”

“Tidak, aku tidak menerimanya. Karena aku mencintai orang lain, aku mencintaimu, hanya dirimu dan bukan yang lain. Kau kekasihku, Hayoung.”

Aku memejamkan mataku ketika Baekhyun dengan tiba-tiba meraih tengkukku lalu menariknya, kemudian menyapukan bibirnya pada bibirku. Aku memejamkan mataku semakin rapat saat bibir Baekhyun bergerak lambat di bibirku, terus menggodaku hingga mau tak mau aku pun membalasnya. Ciuman pertamaku dan Baekhyun yang terjadi dengan sangat tidak terduga.

Baekhyun merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Aku tak menolak, tak akan pernah sanggup. Dengan begitu mudah lelaki itu memperbaiki luka di hatiku yang di sebabkan oleh dirinya sendiri. Hangatnya pelukan Baekhyun sangatlah kontras dengan cuaca malam ini, bahkan aku tak lagi merasakan dinginnya air hujan yang masih mengguyur tubuh kami.

.

.

Dua tahun berselang, hari itu kami resmi lulus dari SMA masing-masing. Kini saatnya mengucapkan salam perpisahan pada teman-teman, ya, kami akan melanjutkan kuliah di tempat yang berbeda, atau mungkin sebagian dari mereka akan memilih untuk langsung mencari pekerjaan. Sama hal nya seperti aku dan Baekhyun, saatnya aku mengucapkan salam perpisahan padanya.

Baekhyun mendapat tawaran beasiswa di sebuah Universitas di salah satu negara Eropa, Jerman. Aku tahu, dan bahkan sangat tahu jika Baekhyun bercita-cita untuk bekerja dalam bidang perkembangan teknologi mesin pesawat sejak kecil, sejak sekolah dasar. Dan ini adalah saatnya, Universitas itu akan membantu Baekhyun meraih mimpinya tersebut. Namun itu berarti, ia harus meninggalkan Korea untuk waktu yang lama, ia harus meninggalkanku.

“Kau bisa ikut denganku.” Baekhyun menggenggam tanganku, namun aku segar melepasnya dengan perlahan.

Aku menggeleng. “Aku tidak bisa, Baek. Aku juga mempunyai mimpi yang harus ku raih di sini.” Ucapku tanpa melihat ke arahnya, aku hanya melihat ke luar halte, di sana tengah turun hujan.

“Ku mohon, aku tidak akan sanggup dengan hubungan jarak jauh.”

Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, ingin rasanya menangis mendengar ucapan Baekhyun barusan, namun aku berusaha keras menahannya, setidaknya jangan sekarang, jangan di hadapan Baekhyun.

“Aku juga, jadi akan lebih baik jika …” kalimatku terhenti, lantaran napasku yang tercekat, namun aku berusaha keras untuk melanjutkan. “… akan lebih baik jika kita mengakhiri hubungan ini.” Lanjutku pada akhirnya.

Aku bangkit berdiri. “Tolong jangan menghubungiku lagi karena hubungan kita sudah berakhir sekarang.” Setelah mengucapkannya dengan susah payah, aku pun berlari menerobos hujan dan meninggalkan halte, meninggalkan Baekhyun yang meneriakkan namaku.

Namun aku tetap terus berlari, aku menangis -terisak. Aku tak ingin menjadi penghalang Baekhyun meraih mimpinya. Mungkin kami memang ditakdirkan untuk memiliki jalan yang berbeda. Baekhyun harus meraih mimpinya, sementara aku pun juga. Kami tak memiliki lagi jalan untuk tetap bersatu, kami harus berpisah sampai di sini.

Selamat tinggal, Baekhyun.

Aku akan membenci hujan mulai sekarang. Karena aku, meninggalkan Baekhyun di tengah hujan hari ini.

.

.

Kepingan kenangan lima tahun yang lalu itu kembali terlintas di dalam benakku. Barangkali ini di sebabkan oleh situasi dan kondisi yang hampir sama, yang mau tak mau membuatku kembali mengingat kepingan masa lalu itu. Hari ini hujan, ya, aku baru saja pulang dari persidangan –sebut saja aku pengacara- dan hujan tiba-tiba turun disaat langkahku sampai di depan sebuah kedai kopi. Aku pun berteduh di terasnya.

Sudah kubilang, aku membenci hujan sejak saat itu, sejak lima tahun lalu. Di tambah lagi aku tidak membawa payung. Salahkah aku karena mengabaikan ramalan cuaca yang mengatakan jika hari ini akan turun hujan deras? Tentu saja iya, seharusnya aku tak mengabaikannya dan menyelipkan payung lipat ke dalam tas ku. Tapi menyesal pun rasanya tak akan ada artinya, karena kini aku sudah terjebak hujan di kedai ini.

Hujan dan Baekhyun.

Dua hal yang masih melekat jelas di dalam otakku, dan mungkin juga hatiku. Tak sekali dua kali aku menjalin hubungan dengan pria lain semenjak putusnya hubungan kami saat itu, namun tetap tak akan sama seperti ketika menjadi kekasihnya, kekasih Baekhyun. Semua kenangan itu terlalu manis untuk di hapuskan, namun terlalu pahit jika aku mengingatnya. Aku bertindak egois, dan Baekhyun pun juga, hingga pada akhirnya hubungan kami lah yang harus menjadi korbannya. Tidak ada titik terang untuk masalah kami saat itu.

Tapi setidaknya, kini aku berhasil meraih mimpiku untuk menjadi seorang pengacara. Dan hal itu sedikit mengurangi perasaan bersalahku pada hubunganku dan Baekhyun yang kandas karena aku memutuskannya secara sepihak. Tapi tetap saja, aku yang bersalah, dan kini aku merindukannya, sangat merindukannya. Aku merindukan Baekhyun. Salahkah jika aku masih merindukan lelaki itu? Maksudku, apakah aku masih pantas merindukannya setelah aku memutuskan hubungan kami saat itu?

Bohong jika aku membenci hujan, aku tak akan pernah bisa membeci hujan sampai kapanpun. Ya, karena hujan lah yang akan membawaku untuk bernostalgia, hujan membawaku untuk kembali mengingatmu, Baekhyun. Aku selalu merindukannya disaat hujan turun di sepanjang tahunnya.

“Ah, kemejaku basah, sial!”

Hingga sebuah suara yang berasal dari seseorang yang juga tengah berteduh sepertiku berhasil menarikku kembali ke realita yang sesungguhnya.

Aku menoleh ke arah pemuda yang kini berdiri di sebelahku itu, dan ia juga menatapku. Aku mengenalinya, bahkan sangat-sangat mengenalinya. Tubuhku membeku begitu pandangan kami bertemu pada satu garis lurus. Mulutku sedikit terbuka dan mataku enggan mengerjap. Aku syok, aku tak menyangka akan kembali bertemu dengannya. Aku merasa jika waktu berhenti berjalan dan bumi berhenti berotasi –tentu hal ini hanyalah perasaanku saja.

Setelah lima tahun-

-hujan kembali mempertemukanku dan dia.

—-

Canggung. Situasi tak nyaman yang kini lebih mendominasi perbicanganku dan lelaki yang duduk di seberang mejaku. Sesekali aku mencari kesibukan dengan menyesap espresso yang dipesankan olehnya beberapa saat lalu. Ya, kami tak sedang berada di teras kedai kopi, melainkan di dalamnya.

“Bagaimana kabarmu?” Dia, maksudku Baekhyun, kembali membuka pembicaraan dengan berbasa-basi, setelah sebelumnya ia juga melakukan hal yang sama.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”

“Aku tidak baik-baik saja, seharusnya kau mengetahuinya.”

Deg. Dengan gerakan kaku, aku meletakan cangkir espresso ku ke meja dengan perlahan. Aku tak tahu mengapa, namun mendengar Baekhyun mengatakan bahwa dirinya dalam kondisi sedang tidak baik membuat rasa bersalah terbesit di hatiku.

“Tapi sepertinya, kau baik-baik saja.” Balasku hati-hati.

“Di sini,” Baekhyun menunjuk dadanya. “Hatiku hancur karena harus meninggalkanmu. Kenapa kau mengganti nomor ponselmu? Tidakkah kau mengetahui jika aku berusaha menghubungimu setiap saat? Kenapa kau juga berpindah apartemen? Padahal aku selalu berkunjung ke apartemen lamamu ketika pulang ke Korea,” Ujarnya dengan nada yang begitu menyayat hatiku.

“Aku sangat menderita tanpamu. Tidakkah kau mengetahui hal itu?” lanjut Baekhyun lagi, hatiku mencelos mendengarnya.

Aku menundukan kepalaku dalam-dalam. Aku juga menderita tanpamu Baekhyun, aku juga menghadapi masa-masa sulit tanpamu, bahkan mungkin aku hampir mati tanpamu di sisiku.

“Maafkan aku.” Balasku dengan nada parau –ya, aku hampir menangis sekarang.

“Kata maaf tidak akan pernah cukup.”

Aku mendongak menatap Baekhyun dengan mata yang berair. Mungkin Baekhyun memang berniat untuk menghukumku. Ya, ia berhak melakukan hal itu padaku.

“Maaf.” Ujarku lagi. Aku hanya tak tahu lagi apa yang harus ku katakan dan ku lakukan.

“Menikahlah denganku, dan dengan begitu aku memaafkanmu.”

Aku memandang Baekhyun tak mengerti. Apa dia gila? Apa yang baru saja ia katakan?

Tatapan Baekhyun melembut, perlahan tangannya yang berada di atas meja bergerak menyentuh tanganku, lalu menggenggamnya. Aku belum memahami sepenuhnya apa yang tengah Luhan rencanakan dan apa yang hendak ia lakukan padaku.

“Selama ini aku selalu mencarimu, perasaanku padamu tak pernah berubah sedikit pun. Bagaimana denganmu?” tanya Baekhyun lembut.

Haruskah aku mengatakan padanya bahwa selama ini aku selalu menunggunya setiap hari, dan haruskah aku jujur bahwa perasaanku padanya tak pernah berubah sejak saat terakhir aku melihatnya?

“Kau harus tahu bahwa aku hampir mati menunggumu kembali, Baek.”

Mataku mengerjap dan kurasakan air mataku jatuh saat itu juga. Sementara Baekhyun tersenyum lega -juga penuh arti. Aku menunduk dan entah sejak kapan pemuda itu telah berdiri di samping kursiku. Ia menarikku untuk bangkit lalu merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya, dekapan yang selalu ku rindukan setiap harinya. Meski erat dan sesak aku tak peduli, meski semua pasang mata melihat ke arah kami aku tetap tak peduli.

Aku merindukannya sebanyak air hujan yang telah jatuh ke bumi.

.

.

Fin

24 responses to “[Ficlet] The Rain and You

  1. sweet bgt sm kata2 ini ‘Aku merindukannya sebanyak air hujan yang telah jatuh ke bumi.’ rindu bgt berarti yak? wkwk nice, cm g tau knp feelnya agak kurang ngena, mugkin karna castnya diganti ya? hohoho ;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s