(Oneshot) MR-MR

Annyeong, saya hadir bawa fanfic titipan~! Happy reading, jangan lupa kasih komentar. Gomawooo~~ ^^

mr

 

Title       :           MR- MR

Length :           Oneshoot

Author   :          @_nraesky

Rating   :           General

Cast     :

–       Kim Woo Bin

–       Kwon Yu Rin

–       Cho Kyuhyun

–       Yoo Ara

–       Choi Jinri

 

___***___

 

 

Suara kapur yang tengah beradu di papan tulis mengelilingi ruangan kelas musim panas kelas 3—D . Seorang gadis dengan rambut di ikat tinggi ke atas itu mencoba untuk tetap bertahan dengan buku matematika di tangan—nya, kumpulan rumus yang tertera di buku itu sebenarnya sudah hampir membuatnya gila. Gadis itu hanya sibuk membolak-balik tiap halaman, meskipun begitu tidak ada satu pun contoh soal yang bisa di mengerti otak—nya. Sungguh, ia sangat benci Matematika. Mata gadis itu mengerjap-erjap menahan kantuk yang mulai merasuki dirinya, hembusan angin musim panas yang masuk melalui sisi jendela kelas benar-benar menyiksanya, ia benar-benar ingin terjatuh di depan meja untuk tidur sebentar saja , namun kalau mahkluk di depan itu memergokinya… semua akan menjadi gawat…

 

“Kwon Yurin…..” rasa kantuk gadis itu hilang seketika begitu ia mendengar namanya di panggil . Yurin memberanikan diri memandang ke depan, seorang lelaki dengan mata tajam setajam elang dan alis yang menakutkan tengah menatapnya dengan mengayunkan sebuah kapur ke arahnya.

 

PLEK!!!

 

Kapur berwarna putih itu sukses mendarat dengan sempurna di poni gadis bernama —- Yurin.

“Kau tahu kan, tidur di kelas itu termasuk pelanggaran besar. Apalagi sekarang adalah jam kelas—ku” lelaki itu mendekati bangku Yurin yang berada tepat disamping jendela kelas dengan tangan terlipat di depan dada. Yurin mendengus dan merapikan poni—nya yang sudah kotor karena debu kapur.

“Tapi Mr, aku tidak tidur” jawabnya dengan sedikit takut ketika lelaki itu sudah sampai di sisi bangku—nya. Sungguh, ia hanya memejamkan mata sebentar tadi.

“Tapi bagaimanapun, kau tidak memperhatikan pelajaran” lelaki itu mengetukkan spidolnya di meja Yurin dan menekankan setiap kata di kalimatnya. Yurin menggigit bibir bawah—nya, tamat sudah riwayatnya. Yurin sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya………….sudah dapat di pastikan……………..

 

 

*

 

 

Matahari bersinar dengan teriknya, membuat peluh hampir membasahi seluruh seragam Yurin siang itu. Yurin mengatur nafasnya dan berusaha tetap menyeret langkah kakinya untuk tetap berlari mengitari lapangan sekolah yang benar-benar luas. Mata gadis itu melirik ke arah sisi lapangan, nampak seorang lelaki tengah berdiri menatapnya dan mengayunkan lengan—nya , pertanda Bahwa Yurin harus mempercepat laju larinya.

 

Lelaki itu adalah Kim Woo Bin, Guru Matematika baru di kelas—nya yang benar-benar seperti jelmaan seorang setan di mata Yurin. Lelaki itu lulusan Universitas Oxford yang terkenal, dengan mudahnya ia bisa masuk di sekolah Yurin yang memang menganut standar Internasional tingkat Tinggi. Di sekolah ini, seorang Guru tidak akan mendapat sebutan Seongsaenim— karena julukan itu terdengar terlalu kaku dan kuno untuk di gunakan. Murid-murid akan memanggil guru mereka dengan sebutan ‘Mr’ atau ‘ Mrs’. Sekolah Yurin , Seoul International High School memang di kepalai oleh Yayasan Amerika Serikat, tidak heran jika sekolah ini memang menganut budaya yang agak kebarat-barat—an.

 

Sebenarnya, Yurin hampir benci semua mata pelajaran. Tergantung dari apakah guru yang mengajar itu bisa membuatnya tertarik dan menyenangkan. Namun, sudah Yurin pastikan , kalau ia akan benci pelajaran Matematika seumur hidupnya. Dan itu semua karena Mr. Woo Bin. Mr. Woo Bin guru Matematika yang selalu membuat hari—nya serasa berada di neraka. Lihat saja hari ini, hanya karena ia kedapatan tidak sengaja tidur sebentar di kelas Yurin sudah diberikan detensi separah ini. Lari keliling lapangan 50 kali, benar-benar sebuah detensi terkejam yang pernah Yurin alami. Pertama , karena Yurin benci dengan yang nama—nya berlari. Kedua, Yurin benci yang namanya matahari. Apalagi matahari siang ini yang bersinar seperti api dan membakar kulit Yurin yang belum sempat terkena sunblock. Ketiga, Yurin benci berkeringat. Setiap gadis pasti benci itu, apalagi Yurin sering mengalami ruam kulit jika keringat—nya keluar berlebihan. Dan ke-empat, Yurin benci Mr. Woo Bin. Detensi yang sedang di lakukan-nya kali ini benar-benar tidak sebanding. Ia hanya tertidur sebentar, bahkan itu tidak bisa di sebut tidur karena Yurin hanya menutup mata dan tidak kehilangan kesadaran sepenuh—nya, Ia bahkan masih bisa mendengar Suara Ara—teman sebangkunya bergumam tentang susahnya soal no. 2 dengan sangat jelas. Dan sekarang Mr. Woo bin itu menyuruhnya berlari 50 kali memutari lapangan sekolah yang sangat luas. Yurin mendecakk—an bibirnya kesal, bahkan Mr. Kyuhyun—guru Matematika yang mengajari—nya di kelas 2 dulu tidak pernah memberikan—nya detensi separah ini.

 

“Sudah sadar akan kesalahan –mu?” Mr. Woo Bin membuka suaranya yang terdengar serak begitu Yurin sudah sampai di hadapan—nya, gadis itu tersungkur begitu saja ketika ia sudah berhasil mengelilingi lapangan sebanyak 50 kali dalam waktu hampir sejam.

“Sudah—– Mr…..” jawab Yurin dengan suara lemah. Nafas gadis itu tidak beraturan karena kecapaian dan lututnya sudah terlalu lemas saking lelah—nya. Dalam hati gadis itu sibuk merutuki—lelaki di depan—nya ini.

“Besok datang ke ruangan—ku setelah istirahat. Aku akan memberi detensi tambahan” ucap Mr. Woo Bin dengan santai—nya lalu berlalu tanpa menatap sedikit pun ke arah Yurin . Mata Yurin membulat terkejut. Ia masih memiliki detensi tambahan?

“Tapi….. Mr…” Yurin bergegas bangkit tanpa memperbaiki rok—nya , namun sial—nya sosok Mr. Woo bin yang menyebalkan itu sudah menghilang dari pandangan—nya.

“Dasar tidak punya perasaan!” gerutu Yurin sambil menghentakkan kakinya menyentuh tanah. Memangnya detensi kali ini belum cukup apa?

“Gadis manis tidak boleh marah-marah” sebuah suara terdengar, bersamaan dengan menempelnya sebotol Minuman dingin di pipi bulat Yurin membuat gadis itu refleks menoleh dan mendapati Mr. Kyuhyun sudah berdiri di depannya dengan senyum terbaik—nya. Hati Yurin perlahan mencelos, sungguh ia tidak ingat lagi dengan rasa capek yang kunjung menjalar di semua persendiannya.

“Mr. Woo Bin memberi—mu detensi lagi?” Yurin mengangguk seakan seperti orang yang teraniyaya di depan Mr. Kyuhyun.

“Minum ini dan kau akan kembali menjadi segar kembali” Mr. Kyuhyun menyodorkan botol minuman isotonik itu yang disambut dengan malu-malu oleh Yurin. Mr. Kyuhyun memang guru yang baik, tidak salah Yurin menjadikan—nya idola selama hampir setahun lebih. Meski Yurin benci matematika, namun jika Mr. Kyuhyun yang mengajari—nya itu bukan masalah bagi Yurin. Mr. Kyuhyun tidak pernah memberikannya hukuman atau detensi meski Mr. Kyuhyun tahu kalau Yurin tidak pernah memperhatikan pelajaran. Tidak seperti Mr. Woo Bin yang bagaikan setan selalu memaksa Yurin untuk belajar dan memberikan detensi di luar batas kemanusiaan.

 

*

 

Koridor Seoul International High School pagi itu ramai seperti biasa, berbagai murid sibuk berceloteh di sepanjang koridor, hampir sebagian dari mereka memakai bahasa Inggris dalam percakapan mereka. Yurin berjalan dengan langkah gontai untuk mencapai kelas—nya, badannya masih terasa sakit dan pegal karena detensi kemarin. Sepanjang perjalanan Yurin tidak berhenti mengumpat dalam hati untuk membalas Mr.Woo Bin suatu hari nanti. Meskipun itu kedengarannya seperti hal yang mustahil mengingat status Mr. Woo Bin sebagai guru killer di sekolah ini.

 

BRUK!!!

 

Yurin tidak sengaja menabrak seseorang karena tidak fokus dengan langkahnya sedari tadi.

 

“Sorry” Yurin mengangkat wajahnya dan menemukan Choi Jinri, teman sekelasnya itu berdiri di depannya dengan raut wajah yang terlihat kacau. Wajah Jinri sembab seperti habis menangis seharian malam, mata gadis itu bengkak, sungguh ini tidak kelihatan Seperti Choi Jinri gadis paling ceria di kelas.

 

“Jinri—ah are u okay?” Yurin mendekatkan dirinya kepada gadis itu dan bisa Yurin rasakan bahu Jinri bergetar saat tangan Yurin menyentuh pundaknya.

“I am fine. Its not matter” suara Jinri terdengar serak dan terlalu parau , Jinri melepaskan tangan Yurin di kedua bahunya.

“Tapi, kau terlihat sangat berbeda hari ini…” Yurin berusaha menyusul langkah Jinri yang mulai berjalan mendahuluinya.

“Please, leave me alone” ujar Jinri dan berjalan cepat menghindari Yurin. Yurin hanya mengangkat bahunya dengan pasrah. Jinri tidak pernah terlihat seperti ini. Apa Jinri punya masalah?? Ini terlihat aneh mengingat Jinri selalu ceria, bersemangat dan polos setiap hari. Tapi Yurin tidak mau pusing memikirkan—nya, gadis itu segera mempercepat langkahnya menuju kelas.

 

*

 

Pagi ini Jinri tidak masuk di kelas Sosiologi, itu artinya gadis itu membolos lagi hari ini. Yurin menatap bangku Jinri yang kosong, ini sungguh aneh karena setahu Yurin , Jinri tidak pernah sekali pun berani membolos, bahkan untuk absen sakit saja Jinri jarang melakukannya. Sebenarnya sudah 4 hari ini Jinri hampir tidak pernah terlihat di kelas dan mengikuti pelajaran. Yurin pikir Jinri selama 4 hari ini mengalami sakit, namun bukankah tadi pagi Jinri datang ke sekolah? Namun, Jinri ternyata tidak masuk kelas lagi hari ini, padahal ini kan pelajaran Sosiologi, pelajaran Favorit Jinri. Itu artinya Jinri membolos kan??

 

“Kau memikirkan Jinri?” tanya Ara, teman sebangku—nya itu melihat ekspresi wajah Yurin yang sedari tadi menatap bangku Jinri. Yurin mengangguk pelan, “Aku pikir ada yang aneh dari Jinri” sahut Yurin, ia membayangkan wajah sembab Jinri saat menabrak—nya tadi pagi. Ya, ia yakin memang ada yang aneh dengan Jinri. Tapi apa?

 

*

 

Yurin memantapkan langkah—nya memasuki ruang guru setelah menarik nafas panjang untuk bertemu Mr. Woo Bin dan mengetahui detensi yang akan diberikan untuknya. Yurin tidak berhenti berdoa dalam hati supaya Mr. Woo Bin memberikan-nya detensi yang wajar , tidak seperti kemarin.

 

“Kwon Yurin–, tidur di kelas, tidak memperhatikan pelajaran,terlalu banyak bergosip dan agak berisik selama pelajaran berlangsung, tidak pernah mengumpulkan tugas, jawaban soal di papan tulis selalu salah…..” Yurin menggigit bibir bawah—nya mendengar semua perkataan Mr. Woo Bin yang sedari tadi berjalan mondar-mandir dengan santai—nya sambil membuka buku catatan kedisiplinan siswa berwarna hijau muda itu. Yurin ingin melawan setiap perkataan Mr. Woo Bin namun tidak bisa ia lakukan karena semua itu memang benar dan adalah sebuah fakta. Ini benar-benar membuat Yurin malu apalagi hampir semua guru di ruangan ini mulai menatap—nya, termasuk Mr. Kyuhyun.

“Mr. Woo Bin—jangan terlalu keras terhadap murid” Mr. Kyuhyun yang sedari tadi memperhatikan mereka membuka suaranya. Yurin ingin melompat girang dalam hati mendengar—nya, Mr. Kyuhyun membela—nya dari serangan setan ini. Tidak salah memang Yurin menjadikannya guru idola.

“Tidak perlu ikut campur, Kyuhyun—ssi. Murid bodoh seperti ini aku tidak tahu harus di apakan lagi” jawaban yang keluar dari mulut Mr. Woo Bin memang benar-benar ketus dan tidak berpri-kemanusiaan. Yurin ingin sekali melepas sepatu nya dan melemparkannya namun semua itu ia tahan mengingat ia sedang berhadapan dengan guru killer saat ini. Apa yang gadis itu lakukan sedari tadi hanya menunduk dan sesekali meremas ujung rok seragamnya.

“Untuk detensi tambahan mu, kau harus menjadi asistenku untuk berkunjung ke rumah Choi Jinri.” Mr. Woo Bin kmbali ke tempat duduk—nya.

“Choi Jinri?” Yurin memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap sang guru setan yang sekarang ada di depannya.

“Teman—mu itu, sudah 5 hari ini tidak mengikuti hampir seluruh mata pelajaran tanpa keterangan. Kau harus ikut denganku ke rumah—nya, detensi mu akan berakhir jika Choi Jinri bisa kembali masuk sekolah . Mengerti?” ujar Mr. Woo Bin persis seperti menerangkan rumus matematika di kelas , bicaranya tegas , teratur dan santai.

“Mengerti, Mr” Yurin mengangguk paham . Gadis itu bernafas lega , setidaknya ia tidak di suruh membersihkan bola basket di gudang olahraga atau menangkap katak yang lepas di ruang biologi seperti yang dilakukan Sehun minggu lalu karena kedapatan merokok di kelas.

Sementara itu Woo Bin menatap Kyuhyun yang secara tiba-tiba menjadi sibuk dengan buku paket di mejanya ketika ia menyinggung perihal Choi Jinri……

Alis lelaki itu kembali mengerut seperti sedang memikirkan sesuatu yang rumit..

 

*

 

“Yurin—ah, tidak pulang?” Ara menghampirinya ketika ia menemukan sosok gadis itu tengah berdiri di depan pagar sekolah seperti sedang menunggu sesuatu.

“Aku menunggu Mr. Woo Bin. Aku harus ikut kunjungan di rumah Jinri. Detensi—ku tidak akan dicabut kalau Jinri tidak kembali ke sekolah” jawab Yurin menghela nafasnya. Sebenarnya itu bukan masalah besar, tapi mengingat ia pergi bersama Mr. Woo Bin entah mengapa itu seakan menjadi masalah yang sangat besar sebesar gunung himalaya.

“Ah.. bersama Mr. Woo Bin, itu kedengaran menakutkan. Ya, sudah aku pulang dulu ya!” Ara melambaikan tangannya pada Yurin ketika mobil jemputannya sudah tiba. Yurin balas melambaikan tangannya dan mulai melirik jam warna peach di tangan kanannya. Ugh—berapa lama lagi sih ia harus menunggu Mr. Woo Bin?

 

Sebuah motor sport berwarna hitam berhenti secara mendadak di depan Yurin yang masih sibuk menatap jam—di tangannya. Yurin hampir saja berteriak kalau saja pengendara motor itu tidak segera membuka kaca helm—nya. Sulit di percaya, itu adalah Mr. Woo Bin yang kelihatan sangat berbeda dengan motor dan jaket sport—nya.

 

“ Yurin—ssi, cepat naik” Yurin jadi gelagapan sendiri begitu mendengar suara Mr. Woo Bin. Gadis itu akhirnya naik ke atas motor, hampir saja Yurin terjatuh dari duduk—nya karena Mr. Woo Bin melajukan motornya dengan sangat cepat layaknya mantan pembalap professional. Mr. Woo Bin memang masih muda, ia bahkan menjadi guru paling muda di sekolah, usianya baru beranjak 25 tahun, terpaut sedikit lebih muda 5 bulan dari Mr. Kyuhyun. Itulah mengapa ia masih terlihat tampan apalagi dengan motor sport yang mengaggumkan itu. Tunggu dulu, tampan? Yurin menggeleng-gelengkan kepalanya membuang pikiran itu secepat mungkin. Bagaimanapun, Mr. Woo Bin tetaplah seseorang yang menyeramkan dengan segala ke-killeran-nya bagi Yurin.

 

Motor itu berhenti tepat di depan rumah berwarna putih dengan taman yang indah. Yurin tentu tidak asing dengan rumah itu. Itu adalah Rumah Choi Jinri, teman sekelas—nya. Yurin sering berkunjung ke sini, bermain dengan Jinri , sekedar kerja kelompok atau pesta piyama tahun lalu juga diadakan di rumah Jinri.

 

Yurin turun dari motor dan termangu menatap Mr. Woo Bin yang melepas helm di kepalanya dengan gaya yang errrrr…… keren? Yurin menggelengkan kepala—nya lagi, otaknya pasti sedang dalam korslet kali ini. Bagaimana mungkin kau melihat sosok guru paling menyebalkan nan menakutkan di sekolah ini menjadi keren??

 

Mr. Woo Bin berjalan mendekatinya, Yurin berusaha menahan nafas ketika tangan Mr. Woo Bin menyentuh rambut—nya merapikan rambutnya yang acak-acak-an karena diterpa angin tanpa memakai helm.

 

“Kau benar-benar ceroboh, ya” Yurin mendengar Mr.Woo Bin mengucapkan hal itu, Yurin refleks mundur selangkah dan menelan ludahnya. Sungguh debaran jantung—nya seperti sedang melakukan konser di dalam dirinya. Suasana berubah sedikit canggung ketika Mr. Woo bin sudah menarik tangannya.

Mereka akhirnya melangkah masuk memasuki rumah bercat putih itu yang langsung di sambut dengan senyuman hangat ibu Jinri, Ny. Choi. Sepertinya wanita paruh baya itu habis memasak sesuatu, terlihat dari celemek warna biru yang masih terpasang di bajunya.

 

“Annyeong Eomoni” Yurin membungkukkan badannya, memberi salam kepada Ny. Choi yang langsung mengajak mereka ke ruang tamu untuk berbicara.

 

“Saya Kim Woo Bin, guru Matematika Jinri. Wali kelas Jinri, Son Ga In tidak bisa datang karena sedang cuti hamil, jadi saya yang menggantikannya berkunjung kemari” Mr. Woo Bin memperkenalkan dirinya dengan hangat, tidak ada sama sekali aura-aura menakutkan yang biasanya akan muncul saat ia berbicara.

 

“Wah—anda sangat muda dan sudah menjadi guru. Saya sangat terkejut” Ny. Choi sedikit tertawa dan menyodorkan kue yang di bawanya.

 

“Jadi ini soal Jinri? Saya juga bingung, sudah hampir beberapa hari ini gadis itu mengurung diri di kamar. Dia juga tidak mau makan. Dia mengunci diri di kamar, Jinri tidak pernah seperti ini. Tadi pagi saya memaksa—nya untuk ke sekolah kalau dia tidak dalam keadaan sakit. Tapi baru jam 8 dia sudah pulang dan kembali mengunci diri dalam kamar lagi. Jujur saja, saya juga bingung, ada apa dengan anak itu” suara Ny. Choi terdengar kebingungan, Yurin memilih mendengarkannya dalam diam. Ia sendiri merasa ada yang aneh dengan kelakuan Jinri.

 

“Boleh saya bertemu dengan—nya?” tanya Mr. Woo Bin.

 

“Silahkan, tapi Jinri mengunci kamarnya. Kamarnya ada di lantai 2” jawab Ny. Choi dengan ramah.

 

*

 

“Kau temannya kan? Ayo, ketuk” Mr. Woo Bin bersandar di tembok dan memasukkan kedua tangannya di saku celana melirik Yurin yang sudah mencapai tangga teratas. Yurin hanya pasrah, ia menatap pintu berwarna putih dengan tulisan ‘ Jinri’s Room’ itu dan kemudian memberanikan diri mengetuk—nya.

 

“Jinri—ah, ini aku Yurin. Bisa kau buka pintunya?. Kita harus bicara”….

Jinri tersentak di ranjangnya begitu mendengar suara Yurin yang sudah berada di depan pintu kamarnya. Gadis itu segera bangkit ke depan pintunya , berjongkok hanya untuk memastikan ia sudah mengunci pintu kamarnya dengan benar.

 

“Jinri—ah, tolong keluar. Kau membuat semua orang khawatir. Ayolah, Jinri—ah”suara Yurin kembali terdengar, di selingi suara ketukan. Tubuh Jinri bergetar, gadis itu mendudukkan dirinya di depan pintu dan menggigiti kukunya dengan perasaan takut.

 

Yurin menatap Mr. Woo Bin disampingnya, sudah cukup lama ia mengetuk pintu seperti orang gila dan itu semua berakhir secara sia-sia. Mr. Woo Bin melirik kembali ke arah pintu “lakukan lagi” perintahnya sambil memakan permen karet dalam mulutnya. Yurin menghela nafas, ia akhirnya kembali mengepalkan tangannya dan mengetuk pintu bercat putih itu kembali dengan suara lebih keras.

 

“Jinri—ah, ayo keluar. Tidak ada gunanya kau berdiam diri di kamar. Keluar dan ceritakan masalahmu. Mungkin aku bisa membantu. Ayolah, Jinri—ah, biasanya kan kau selalu bercerita padaku.”

 

“PERGI!!!” suara seperti sebuah barang yang habis dibanting terdengar dari arah dalam. Yurin sedikit tersentak dan ia yakin kalau itu adalah suara Jinri.

 

“Jinri—ah” Yurin kembali mengetuk kamar, namun suara bantingan barang terdengar kembali.

 

“KUBILANG PERGI!”

 

Yurin menatap Mr. Woo Bin dengan cemas. Woo Bin membalikkan tubuhnya menatap dinding pintu itu dengan alis yang tertaut dan tatapan yan bahkan Yurin tidak bisa artikan.

 

“Jinri, jangan memendam semuanya sendiri . Kau harus membaginya meskipun itu sulit. Kau harus memberi tahu orang apa yang terjadi sebenarnya, dengan begitu kami bisa membantu menyelesaikan masalahmu. Ingat, Jinri. Kau tidak sendiri” ucapan Mr. Woo Bin itu kedengaran sangat tenang dan teduh bahkan Yurin sampai terperanjat mendengarnya, mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut guru killer ini seperti menemukan sebuah danau di gurun sahara.

 

“Ayo, pulang.” Mr. Woo Bin menatap Yurin yang masih termangu tidak jelas.

“Tapi…. Jinri?” Yurin menunjuk ke arah pintu kamar Jinri yang masih tertutup rapat.

“Biarkan dia. Dia perlu waktu untuk sendiri”……

 

 

*

 

“Jadi Jinri tidak mau keluar dari kamarnya?”tanya Ara penasaran setelah mendengar apa yang baru saja Yurin ceritakan, tentang kunjungannya ke rumah Jinri bersama Mr. Woo Bin kemarin. Yurin mengangguk pelan sambil melonggarkan tali ranselnya, kedua gadis itu tengah berjalan untuk bergegas pulang karena hari ini pelajaran Fisika di kelas mereka mendadak di batalkan, kabarnya Mr. Alex, Guru Fisika mereka itu sibuk mengurus istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan.

 

“Ini benar-benar mencurigakan. Jinri tidak pernah seperti ini sebelumnya. “ Ara meletakkan jari telunjuknya yang panjang tepat di depan dagunya, terlihat seperti seseorang yang tengah berfikir.

 

“Aku juga merasa begitu. Aku ingin membantu Jinri, bagaimana pun dia teman kita. Tapi bagaimana kita bisa membantu kalau kita tidak tahu masalahnya?” Yurin menghela nafasnya berat lalu duduk disalah satu tembok dekat taman yang mengarah ke arah pagar sekolah, sedikit meregangkan kakinya yang terasa pegal berjalan dari tadi karena jarak kelasnya ke sini cukup jauh.

 

“Yurin—ah, kau menunggu supir mu?” tanya Ara ikut duduk di sampin Yurin yang sibuk memandangi sepatunya dari tadi. Yurin menggeleng, sayang sekali, Yoon Ahjussi—supir pribadi keluarganya itu baru saja menelponnya meminta maaf kalau ia tidak bisa menjemput Yurin hari ini karena ia harus memeriksakan diri ke dokter. Semalam lelaki paruh baya itu terserang demam yang cukup parah. Yurin maklum, lagipula ia bisa pulang naik bis atau taksi.

 

“Kalau begitu, kau ikut denganku saja. Sebentar lagi supir—ku datang” tawar Ara.

 

“Boleh, gomawo, Ara—ah” Yurin mengangguk, tidak ada salahnya juga menumpang dengan Ara. Ara adalah teman baik—nya, mereka sudah saling mengenal sejak dibangku sekolah menengah dan lagipula Yurin bisa menghemat uang jajan—nya daripada naik transportasi umum. Tiba-tiba Ara mendadak bangkit dari duduk—nya dengan panik “ Omo! Aku melupakan buku tugas—ku diperpustakaan. Mr. Woo Bin pasti akan memakanku kalau buku itu sampai hilang!” Ara menepuk jidatnya dengan panik, sungguh ia menyesali kebiasaan pelupanya ini.

 

“Ppali! Cepat kau ambil, sebelum perpustakaan tutup” saran Yurin melihat hari yang mulai beranjak sore ini.

 

“Oke, kau tunggu aku ya! Aku pergi dulu” Ara langsung berlari dengan sekuat tenaga memutar arahnya kembali ke area sekolah, lebih tepatnya perpustakaan yang letaknya berada di gedung tengah.

 

Yurin kembali memusatkan penglihatan-nya ke arah sepatu biru yang sedang di kenakannya, sedikit melamun. Pikiran gadis itu masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Jinri sebenarnya. Mengingat saat Jinri berteriak dan membanting barangnya di kamar kemarin, meskipun Yurin tidak melihat kondisi Jinri yang sebenarnya secara langsung namun Itu semua terasa benar-benar seperti bukan seorang Choi Jinri. Jinri yang sehari-harinya sangat periang dan banyak tertawa menjadi seseorang yang pemurung seperti itu adalah hal yang tidak masuk diakal.

 

“Melamun?” sebuah suara mengagetkan gadis yang sejak tadi melamun itu. Yurin refleks bangkit dari duduknya dan tidak sengaja menabrak lelaki yang tengah berdiri didepannya. Secara tidak sengaja pula, Yurin menyenggol Tumpukan berkas yang dibawa lelaki di depannya, yang tak lain adalah Mr. Kyuhyun.

 
“Maaf, Mr. Aku tidak sengaja” Yurin bergegas membantu Mr. Kyuhyun memungut berkasnya yang jatuh berserakan di lantai. Alis Yurin mendadak mengerut bingung begitu mendapati beberapa lembar foto murid gadis sekolahnya terselip di antara beberapa lembar dokumen, dimana diantara banyaknya foto itu juga terselip foto dirinya.

 

“Untuk keperluan album kelulusan” Mr. Kyuhyun terlihat membereskan semua berkasnya dengan tergesa-gesa, bahkan ia tidak membiarkan Yurin membantunya memungut berkas. Raut wajah Yurin yang tadinya bingung pun berangsur berubah.

 

“Belum pulang?” tanya Mr. Kyuhyun kembali memperbaiki posisi kacamatanya.

“Hari ini supir—ku sakit, Mr.” jawab Yurin dengan nada yang polos.

“Bagaimana kalau ikut denganku. Kebetulan aku bawa mobil” tawar Mr. Kyuhyun.

“Tidak usah Mr. aku bisa pulang sendiri” Yurin mengibaskan tangannya , meskipun Mr. Kyuhyun ini adalah guru favoritnya, guru yang selama ini di-idolakannya, namun tentu saja ia enggan untuk pulang bersama.

“Kau tinggal dimana?” tanya Mr. Kyuhyun, sedikit menyentuh ujung hidungnya.

“Gyang—do”jawab Yurin begitu saja, tidak memperhatikan sudut bibir Mr. Cho Kyuhyun yang tertarik membentuk sebuah senyuman yang tidak dapat di artikan.

 

“ Gyang—do? Kalau begitu kita serarah” ujar Mr. Kyuhyun , senyumnya berubah menjadi senyuman lembut yang kembali dapat membuat hati Yurin mencelos melihatnya.

“Jeongmal?” Yurin sedikit terperanjat, ia tidak pernah tahu kalau Mr. Kyuhyun tinggal di kawasan Gyang—do, Yurin tahu Gyang—do itu cukup luas, namun ia tidak pernah melihat Mr. Kyuhyun di daerah itu, jadi ini cukup mengejutkan.

“Hari mulai sore Yurin—ssi. Kau bisa terlambat sampai rumah” ucapan Mr. Kyuhyun kembali membuyarkan lamunan gadis itu. Yurin mulai menatap arloji di tangannya, sudah hampir pukul 5 , dan lagi Ara belum kembali dari perpustakaan.

“Maaf , aku akan merepotkan Mr” ujar gadis itu pada akhirnya.

 

*

 

Woo Bin selesai memeriksa hasil ulangan siswa di kelasnya sore itu, hasilnya terlihat cukup baik, bahkan Kwon Yurin , murid yang selalu mendapatkan nilai terendah di mata pelajaran Matematika itu bisa mendapatkan nilai 70 di test kali ini. Woo Bin tersenyum secara tidak sadar melihat kertas ulangan Kwon YuRin dengan nilai 70 yang menghiasi kertasnya. Gadis itu pasti sudah berusaha dengan sangat keras. Woo Bin tahu Yurin pasti belajar dengan sangat tekun untuk test kali ini , karena pada saat ulangan Woo Bin sendiri-lah yang mengawasinya dan Kwon Yurin tidak pernah luput dari pandangan Woo Bin.

 

Woo Bin meregangkan tangannya , dan bersiap untuk pulang . Tiba-tiba saja seorang gadis berambut pendek sebahu itu muncul didepan meja—nya, dengan wajah tertunduk dan tangan yang meremas jemarinya. Woo Bin terkesiap, menatap gadis yang kelihatan cukup gemetar itu.

 

“Choi Jinri?”

 

Jinri mengangkat wajahnya, sekarang Woo Bin dapat melihat raut wajah Jinri yang terlihat ketakutan dan sembab, seperti sedang menahan tangis karena pipinya yang memerah.

 

“Mr, apa kau benar-benar akan mendengarkanku? Apa kau akan mempercayaiku?” tanya Jinri terdengar dengan suara nya yang bergetar dan parau……

 

*

 

Ara menatap ponselnya sambil berjalan keluar perpustakaan dengan buku Tugas Matematika yang susah payah di temukannya di antara sela- sela buku yang tadi di pinjamnya. Yurin baru saja mengiriminya pesan kalau ia pulang duluan dengan menumpang mobil Mr. Kyuhyun. Ara tidak keberatan, lagipula memang hari sudah mulai beranjak senja, gadis itu harus cepat-cepat pulang. Ara memasukkan bukunya kembali ke tas selempangnya, tiba-tiba saja seorang yang cukup di takutinya sudah berdiri di depannya dengan nafas terengah-engah .

 

“Mr?” Ara cukup kaget mendapati Mr. Woo Bin sudah ada di depannya, lebih mengejutkannya lagi ada Jinri di samping lelaki itu.

 

“Apa kau melihat Kwon Yurin?” tanya Woo Bin dengan tidak sabaran setelah mati-matian mengatur nafasnya. Berlari ke sini bukanlah hal yang mudah mengingat banyaknya tangga yang harus dilalui.

 

“Dia sudah pulang”jawab Ara dengan bingung. Bisa ia lihat raut wajah Woo Bin dan Jinri mendadak berubah lega begitu ia mengatakannya. Memangnya ada apa dengan Yurin?? Gadis itu tidak membuat masalah lagi kan?

 

“Ya, dia baru saja mengirimiku pesan. Dia pulang bersama Mr. Kyuhyun” lanjut Ara.

 

“Apa?” Woo Bin menatap Ara sekarang dengan tatapan yang sangat mengerikan, bahkan Jinri sudah mulai memucat mendengarnya.

“Eottohke , Mr? Aku melihat foto Yurin di salah satu map yang dibawa orang itu. Ia akan jadi yang selanjutnya Mr.” Jinri nampak sangat panik, gadis itu meremas tangannya khawatir. Sementara Ara hanya bisa menatap bingung reaksi 2 orang di depannya ini. Memangnya apa yang sedang terjadi sebenarnya? Ara tidak menyadari sesuatu…….

Ara… gadis itu terlambat mengatakannya.

 

*

Mobil berwarna hitam mengkilap itu melaju menyusuri jalan dengan di iringi musik lagu berirama ballad yang Yurin tidak terlalu mengenali siapa penyanyi—nya. Yang Yurin tahu Mr. Kyuhyun memang menyukai musik dengan jenis seperti ini, sangat berbeda dengan Yurin yang banyak menghabiskan waktunya dengan mendengarkan lagu berirama hip hop favorit—nya, Yurin tidak terlalu menyukai aliran musik sedih , namun ia berusaha menikmati musik yang di putar Mr. kyuhyun.

 

“Aku benar-benar merepotkan, Mr. Aku minta maaf” Yurin membuka suaranya, Mr. Kyuhyun benar-benar baik, pikirnya. Sebenarnya ia masih merasa tidak enak harus membiarkan seorang guru mengantarnya pulang, ia benar-benar murid yang merepotkan.

 

“Gweachana, Tidak perlu sungkan” Mr. Kyuhyun kembali mengeluarkan senyum lembutnya yang membuat hati Yurin kembali mencelos untuk ke sekian kalinya. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah kaca mobil, kening Yurin mengerut. Ini sama sekali bukan arah menuju Gyonggi—do, arah rumahnya.

 

“Mr, maaf, tapi ini arah yang salah” Yurin menatap kembali ke arah Mr. Kyuhyun dengan jari menunjuk ke arah jendela. Mr. Kyuhyun terlihat menyentuh ujung hidungnya lalu berkata “ Oh, aku harus mengambil sebuah barang terlebih dahulu sebelum mengantarmu. Tidak apa kan?” sahut Mr. Kyuhyun. Yurin hanya mengangguk pelan, sama sekali tidak merasa adanya hal yang aneh.

 

“Gwechana, Mr. Ibuku tidak akan marah kalau pun aku pulang terlambat” jawab Yurin sedikit menguap dan menatap kembali ke arah jendela, tanpa gadis itu sadari lelaki di sampingnya menampakkan kembali senyum aneh—nya. Senyum yang tidak pernah ditampakkan oleh seorang Cho Kyuhyun di hadapan orang-orang.

 

 

Mobil berhenti di depan sebuah hotel yang tidak begitu ramai, hanya ada beberapa wanita berpakaian terlalu minim yang keluar dari gedung tersebut. Yurin memperhatikan papan di depan hotel tersebut, gadis itu bisa menebak bahwa sekarang dia berada di kawasan Yangsil—yang letaknya tidak begitu jauh dari arah sekolahnya, ya, seingatnya seperti itu.

Apa ini tempat Mr. Kyuhyun harus mengambil barang?

 

“Kau tidak mau ikut masuk?” suara Mr. Kyuhyun membuyarkan lmunan gadis itu.

“Mungkin aku akan agak lama di dalam, Yurin—ssi pasti akan bosan menunggu di mobil” lanjutnya. Yurin mengangguk mengerti dan mulai melepaskan sabuk pengaman di tubuhnya. Keluar dari mobil gadis itu mengikuti langkah lelaki di depannya untuk ikut masuk ke dalam hotel. Gadis itu sama sekali tidak memiliki pikiran buruk. Entah karena ia yang terlalu berpikiran positif atau terlalu percaya kepada gurunya ini, gadis itu menurut saja ketika Mr. Kyuhyun mempersilahkannya masuk ke sebuah kamar. Yurin hanya merasa sedikit heran dan penasaran, sebenarnya barang apa yang harus di ambil Mr. Kyuhyun hingga harus ke tempat seperti ini?

 

Yurin mendudukkan dirinya dengan nyaman di sebuah sofa yang memanjang sementara Mr. Kyuhyun pamit untuk ke toilet sebentar. Gadis itu melihat ke seluruh sisi ruangan, ini pertama kalinya ia berada di sebuah kamar hotel yang hanya mempunyai sebuah tempat tidur berwarna putih dengan satu bantal yang agak melebar. Yurin mulai menguap setelah melirik jam dinding yang terpasang di atas nya, rupanya hari sudah mulai beranjak malam, lebih tepatnya pukul 7 malam. Yurin mulai menghantuk-hantukkan kakinya di lantai, gadis itu merasa bosan setengah mengantuk. Ia ingin cepat-cepat pulang, segera naik di atas ranjang pink kesayangannya dan tidur terlelap.

 

Secara tiba-tiba ponsel gadis itu berdering, Yurin segera merogoh ke dalam tas—nya mengambil ponselnya yang mulai berkedip pertanda telepon masuk.

 

“Yeoboseyo?” angkatnya , Yurin tidak mengenali siapa yang menelponnya mengingat nomer tersebut tidak terdaftar dalam kontak—nya.

 

“Ya! Kwon Yurin—ssi! Eodiga?”

 

“Mr. W oo Bin?”Yurin terperanjat kaget begitu mendengar suara di ponselnya. Bagaimana mungkin Yurin tidak mengenal suara tajam nan serak yang selalu membentaknya setiap tidak mengerjakan pr ini? Yurin sudah sangat mengenalinya. Yang membuat Yurin heran mengapa Mr. Woo Bin menghubunginya dengan nada panik seperti ini. Dan darimana juga Mr. Woo Bin mendapatkan nomernya.

 

“Katakan dimana kau sekarang” ujar Mr. Woo Bin lagi, suara seraknya yang khas itu membuat Yurin sedikit mencibir.

 

“Aku sedang berada di Hotel Mary D e L’courte, kira-kira di daerah Yangsil. Mr tidak perlu khawatir, aku hanya menemani Mr. Kyuhyun mengambil barang. Memangnya ada apa Mr? Apa Mr akan memberiku detensi tambahan lagi? Yeoboseyo ? Yeoboseyo?” Yurin melirik ke arah ponselnya dan bingo! Ia kehabisan charge, ponselnya lowbatt saat itu juga. Yurin hanya mendengus pelan, lagipula tidak ada hal yang penting juga.

 

Bersamaan dengan itu terdengar suara pintu toilet yang agak sedikit bergeser, Mr. Kyuhyun keluar dengan hanya memakai jubah mandi berwarna putih. Yurin jadi merasa ada yang tidak beres , terlebih lagi dengan Mr. Kyuhyun yang sekarang sudah duduk mendekatinya di sofa. Perasaan Yurin tidak enak, Mr. Kyuhyun terus mendekatinya sementara Yurin terus beringsut karena merasa risih.

 

“Mr, apa Mr sudah mengambil barangnya?” tanya Yurin , bukankah mereka datang kesini untuk mengambil barang?

 

Mr. Kyuhyun tertawa, suara tawanya itu terdengar begitu menakutkan di telinga Yurin, ia tidak melihat Mr. Kyuhyun , guru favoritnya yang baik hati nan lembut lagi, yang ada di hadapannya adalah Cho Kyuhyun, guru Matematika yang mengerikan.

 

“Anak polos, kau benar-benar mudah di tipu” bulu kuduk Yurin merinding, terlebih lagi begitu Kyuhyun sudah mendorongnya untuk terbaring di sofa dan memaksa membuka seragamnya. Tentu saja Yurin sudah paham bahwa ia sudah di jebak , gadis itu meronta tidak membiarkan Kyuhyun membuka seragam—nya. Meskipun dengan tangan gemetaran, gadis itu tetap mencoba untuk melawan, namun tentu kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan pria ini.

 

Yurin sedikit mengambil kesempatan begitu Kyuhyun lengah dan mencoba mencium—nya, ia menendang perut lelaki itu dan mencoba kabur, namun Kyuhyun segera bangkit dan menggapai rambut itu hanya dalam satu tarikan dan mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh ke tempat tidur berwarna putih itu.

Yurin tetap berusaha mempertahankan kehormatan-nya, sekuat tenaga ia tetap melawan meskipun Kyuhyun sekarang sudah menindih tubuhnya, membuka satu persatu kancing seragamnya hingga baju dalam tipis itu kelihatan dengan mudahnya dan berusaha melorotkan rok—nya. Tangis Yurin pecah begitu ia merasakan tangan Kyuhyun mulai menggerayangi tubuhnya, sungguh ia berdoa semoga Tuhan mengirimkan seseorang untuk menolong—nya dari manusia biadab yang berusaha merenggut kesuciannya ini, bagaimanapun Yurin tidak ingin kehilangan kehormatannya dengan cara seperti ini.

 

BRAK!!!

 

Pintu kamar terbuka menampakkan seseorang yang sangat di kenali Yurin, guru Matematika—nya yang menyeramkan, Mr. Woo Bin tengah berdiri menendang pintu itu hingga roboh dan terjatuh, tanpa basa basi lagi lelaki itu langsung mengahajar tubuh Kyuhyun yang berada di atas Tubuh Yurin dan memukulnya tanpa ampun secara membabi-buta. Yurin berusaha bangkit meskipun sekujur tubhnya terasa sangat sakit akibat perlakuan Kyuhyun barusan. Tangis gadis itu pecah, lebih tepatnya terisak melihat dirinya yang sangat menyedihkan dengan seragam yang sudah robek dan rok—nya yang sudah sampai batas pahanya. Gadis itu terisak dan meremas selimut putih itu, sungguh ia tidak menyangka akan mengalami kejadian semengerikan ini dalam hidupnya.

 

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pelan kepalanya, membuat tangis Yurin semakin terdengar keras dan mengalir deras. Kyuhyun sudah terkapar tidak berdaya setelah menerima ratusan pukulan dari Woo Bin, lelaki itu mungki sudah tidak sadarkan diri. Sementara Woo Bin mulai merapikan pakaian Yurin, merapatkan kembali seragam putihnya yang robek sana-sini, dan menaikkan kembali rok gadis itu kembali ke pinggang—nya. Ditatapnya wajah gadis itu yang terus menangis sembab dan terisak, Woo Bin secara perlahan menghapus tangisan yang membasahi wajah gadis itu dengan kedua tangannya dan mengangkat tubuh gadis itu ke dalam gendongannya untuk segera pergi dari ruangan itu.

 

Tangisan Yurin perlahan mereda, bersamaan dengan tubuhnya yang sudah berada dalam gendongan lelaki ini. Yurin sedikit mendongakkan kepalanya, menatap Woo Bin yang berjalan dengan raut wajah teduh, lelaki itu memang masih kelihatan menakutkan namun tidak semenakutkan biasanya.

 

“Mr….” sahut Yurin pelan, sedikit menarik ingus—nya yang mencoba untuk keluar.

 

“Hm,” balas Woo Bin, menatap gadis dalam gendongannya itu dengan raut wajah yang berbeda dari biasanya, raut wajah ramah dan menenangkan yang cukup langka untuk Yurin temukan. Yurin merasakan dadanya bergemuruh saat menatap guru—nya itu.

 

“Gumawo—“ ujar Yurin pelan, sedikit menundukkan wajahnya dan menahan tangisnya untuk tidak keluar lagi. Woo Bin menampakkan senyum yang terulas di bibirnya, lalu kembali mengangkat tubuh gadis itu agar tidak melorot dari pelukannya.

 

“Aissh—ternyata tubuh kurus mu ini berat juga “ ujarnya, memberikan kembali senyum langka nya kepada gadis itu. Yurin hanya terdiam, ternyata guru killer ini bisa tersenyum juga…..

 

*

Berbagai wartawan dari media surat kabar dan televisi itu memenuhi gerbang Seoul International High School, hanya untuk mewancarai korban dari kasus pelecehan seksual dimana pelaku—nya sudah tertangkap dimana itu adalah Cho Kyuhyun, guru Matematika tingkat 2 yang ternyata mempunyai kelainan seksual dan suka meniduri banyak murid perempuan. Dan salah satu korbannya adalah Choi Jinri. Jinri yang terkenal periang itu mendadak berubah menjadi gadis pemurung semua karena Cho Kyuhyun yang telah menodai gadis itu bahkan mengancam—nya untuk tidak mengatakan kepada siapa pun sehingga membuat Jinri mengalami trauma yang sangat berat. Sekarang Jinri sedang berada di kelas, gadis itu menangis sedih tidak mau menemui wartawan. Beruntung saja Jinri mendapatkan banyak kekuatan dari teman-teman sekelasnya dan juga dari guru-guru lain yang selalu mendukung dan menyemangati gadis itu agar Jinri bisa melupakan masalah ini sesegera mungkin.

 

Sementara Yurin hanya bisa bersembunyi di balik tembok dekat sekolah melihat banyaknya kerumunan wartawan di depan sekolahnya. Gadis itu jadi ragu apakah ia harus masuk hari ini. Masuk berarti ia harus menghadapi wartawan itu yang jelas-jelas sudah memburu korban kasus pelecehan dimana Yurin juga menjadi korban dalam kasus ini meskipun ia masih beruntung karena ia tidak di lecehkan sepenuhnya, tidak seperti Jinri. Namun bagaimana pun baik Jinri maupun Yurin memiliki trauma yang sama besarnya.

 

Yurin menutup matanya perlahan dan bersandar di tembok, sungguh ia ingin kembali bersekolah seperti biasanya.

 

Lutut gadis itu melemas membayangkan jika para wartawan itu mengetahui semuanya, melayangkan pertanyaan yang mengingatkan Yurin kembali kepada peristiwa itu. Yurin sekarang menunduk dengan cemas, tidak bisa membayangkannya.

 

Tiba-tiba sebuah tangan meraih gadis itu untuk pergi dari tempat itu. Yurin terkejut Woo Bin meraih tangannya, menuntunnya untuk berjalan masuk ke pekarangan sekolah lewat pintu belakang. Yurin memukul kepalanya sendiri, sebodoh itukah dia sampai lupa bahwa ia bisa masuk lewat pintu belakang?

 

“Gomawo” ujar gadis itu pada akhirnya, ketika mereka berdua sudah sampai di taman bagian belakang. Woo Bin membalikkan tubuhnya menatap gadis di depannya yang terus menunduk memandangi rerumputan yang habis dipangkas. Sungguh, ia merindukan senyum gadis itu yang rasanya sudah lama menghilang.

 

“Kau tidak sendiri di dunia ini. Lupakan semua itu dan hidup normal seperti biasanya, arra?” ujar Woo Bin merapikan rambut gadis itu yang kelihatan sedikit berantakan. Yurin hanya terdiam menatap lelaki yang tengah menyentuh rambutnya ini. Sungguh ia tidak memandang lelaki ini sebagai seseorang yang menyeramkan lagi. Lelaki ini adalah seseorang yang menolongnya, menolong masa depan dan hidupnya.

 

“Dan jangan lupa untuk lebih rajin mengerjakan tugas. Kau tahu, kau lemah di kalkulus” ujar Woo Bin lagi , sedikit tersenyum menatap gadis itu sebellum akhirnya membalkkan tubuhnya untuk kembali berjalan.

 

“Mr….” gumaman Yurin yang sangat pelan itu membuat langkah Yurin terhenti sejenak.

 

“Aku menyukai mu, Mr….” lanjut gadis itu. Woo Bin cukup terkejut mendengarnya, namun akhirnya lelaki itu hanya terkekeh pelan sebelum melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan. Yurin hanya terdiam di tempat—nya, menatap punggung lelaki itu yang mulai beranjak menjauh. Seutas senyum akhirnya terpasang di sudut bibir gadis itu.

 

Yurin tersenyum untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, ia telah menyadari sesuatu dan memantapkan hatinya.

 

“Mr, kau harus menunggu ku sampai kelulusan tiba. Aku akan mendapatkanmu.” ujar gadis itu pada akhirnya.

 

Woo Bin mendengar itu meskipun langkahnya mulai agak menjauh. Lelaki itu hanya tersenyum mendengarnya. Gadis itu masih terlalu polos . Tapi entah mengapa, perkataan Yurin barusan itu bisa membuat Woo Bin merasa cukup senang? Entahlah. Biarkan waktu yang menjawabnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

***END***

 

 

 

Finally, Oneshoot ini selesai juga. Setelah 2 hari berkuat dengan laptop di hari libur sambil menikmati snack, ini semua terasa menyenangkan. Btw, aku lagi ngefans sama yang namanya Kim Woo Bin semenjak nonton School 2013 dan The Heirs makanya dia jadi Main cast di FF ini. Maaf banget kalau harus membuat Jinri nasib—nya ngenes banget disini,{gak tega juga sebenarnya}. Okay, thanks for Reading, see u in another story :3

 

 

20 responses to “(Oneshot) MR-MR

  1. Ya tuhan kyuhyunku… aaaaaaa gak tega klo karakternya kyuhyun kyk gitu… nyesek bgttt… tp please sequel thor… penasaran ama lanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s